Anda di halaman 1dari 646

cover RUPTL2.

pdf 1/15/2009 9:23:44 AM

RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK


RENCANA USAHA
PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PT PLN (PERSERO) 2009 - 2018


PT PLN (PERSERO)
2009 - 2018
C

CM

MY

CY

CMY

PT PLN (Persero)
Direktorat Perencanaan dan Teknologi
Jl. Trunojoyo Blok M I/135
Kebayoran Baru, Jakarta 12160
Tel. 021 - 7251234, 7261122
Fax. 021 - 7221330
http://www.pln.co.id

Sahabat Setia untuk Kemajuan


Rencana usaha
penyediaan tenaga listrik
PT PLN (Persero)
2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Isi

DAFTAR ISI ii

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR LAMPIRAN ix

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral NOMOR 2780 K/21/MEM/2008 xi

Kata Pengantar Direktur Utama xiii

Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 395.K/DIR/2008 xiv

Surat Dukungan Terhadap Konsep Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik


­Nomor 208/DK-PLN/2008 xvi

Pakta Integritas (Letter of Understanding) Nomor 021/DIR/2008 xvii

BAB I. PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 2


1.2 Landasan Hukum 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan 4
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggung-jawabnya 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha 7
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL 8

BAB II. KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA 9

2.1 Kebijakan Pertumbuhan Penjualan dan Beban 10


2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit 11
2.3 Kebijakan Pengembangan Transmisi 12
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi 13

BAB III. KONDISI SARANA KELISTRIKAN SAAT INI 15

3.1 Penjualan Tenaga Listrik 16


3.1.1 Jumlah Pelanggan 17
3.1.2 Rasio Elektrifikasi 17
3.1.3 Pertumbuhan Beban Puncak 18
3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan 19
3.3 Kondisi Sistem Transmisi 21
3.4 Kondisi Sistem Distribusi 23

ii
3.4.1 Susut Jaringan dan Faktor Beban 23
3.4.2 Keandalan Pasokan 23
3.5 Masalah-masalah Mendesak 24
3.5.1 Daerah Krisis 24
3.5.2 Penanggulangan Daerah Krisis 25
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali 25
3.5.4 Masalah Mendesak Sistem Luar Jawa Bali 26

BAB IV. RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2009 – 2018 29

4.1 Kriteria Perencanaan 30


4.1.1 Perencanaan Pembangkit 30
4.1.2 Perencanaan Transmisi 32
4.1.3 Perencanaan Distribusi 33
4.2 Asumsi Dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 34
4.2.1 Pertumbuhan Ekonomi 35
4.2.2 Elastisitas 36
4.2.3 Pertumbuhan Penduduk 38
4.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2009 – 2018 39
4.4 Rencana Pengembangan Pembangkit 41
4.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit 41
4.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan Bakar Batubara
(Perpres No. 71/2006) 43
4.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 44
4.4.4 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) 45
4.4.5 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali 46
4.4.5.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit 46
4.4.5.2 Neraca Daya 47
4.4.5.3 Proyek-Proyek Strategis 49
4.4.5.4 Regional Balance Sistem Jawa Bali 50
4.4.6 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Luar Jawa Bali 51
4.4.6.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit 51
4.4.6.2 Neraca Daya 52
4.4.6.3 Proyek-Proyek Strategis 52
4.4.7 Partisipasi Listrik Swasta 53
4.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar 55
4.5.1 Sistem Jawa Bali 56
4.5.2 Sistem Luar Jawa Bali 58

iii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Isi

4.6 Analisa Sensitivitas 59


4.7 Proyeksi Emisi CO2 61
4.7.1 Emisi CO2 Indonesia 61
4.7.2 Emisi CO2 Sistem Jawa Bali 62
4.7.3 Emisi CO2 di Luar Jawa Bali 63
4.8 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk 63
4.8.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa Bali 64
4.8.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Luar Jawa Bali 65
4.9 Pengembangan Sistem Distribusi 66
4.9.1 Sistem Jawa Bali 66
4.9.2 Sistem Luar Jawa Bali 66

BAB V. KEBUTUHAN DANA INVESTASI 69

5.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia 70


5.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali 71
5.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Luar Jawa-Bali 73
5.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP 74
5.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN 74

BAB VI. KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER 77

6.1 Sasaran Fuel-Mix 78


6.2 Potensi Sumber Energi Primer 79
6.2.1 Batubara 79
6.2.2 Gas Alam 80
6.2.3 Energi Terbarukan 81
6.2.4 Nuklir 82

BAB VII. ANALISIS RISIKO RUPTL 2009 - 2018 85

7.1 Identifikasi Risiko 86

7.2 Pemetaan Risiko 87

7.3 Program Mitigasi Risiko 88

iv
BAB VIII. KESIMPULAN 89

DAFTAR PUSTAKA 91

LAMPIRAN A. SISTEM JAWA BALI 93

LAMPIRAN B. SISTEM LUAR JAWA BALI 263


LAMPIRAN B.1. SISTEM SUMATERA 265
LAMPIRAN B.2. SISTEM KALIMANTAN 381
LAMPIRAN B.3. SISTEM SULAWESI 457
LAMPIRAN B.4. SISTEM MALUKU & PAPUA 521
LAMPIRAN B.5. SISTEM NTB & NTT 569

LAMPIRAN C. ANALISIS RISIKO 615


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Gambar

Gambar 1.1 Proses Penyusunan RUPTL 6


Gambar 1.2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) 8

Gambar 4.1 Pertumbuhan Kebutuhan Listrik, Ekonomi dan Elastisitas Tahun 1995-2007 37
Gambar 4.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN 40
Gambar 4.3 Perbandingan Prakiraan RUPTL 2009-2018, RUPTL 2006-2015
Perubahan, RUPTL 2007-2016 dan Realisasi 2000-2007 41
Gambar 4.4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia 56
Gambar 4.5 Komposisi Produksi Energi per Jenis Pembangkit Sistem Jawa Bali 57
Gambar 4.6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem-Sistem Luar Jawa Bali 58
Gambar 4.7 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) 62
Gambar 4.8 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali 62
Gambar 4.9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem di Luar Jawa Bali 63

Gambar 5.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi Gabungan Indonesia, PLN Saja (Tidak Termasuk IPP) 71
Gambar 5.2 Kebutuhan Dana Investasi Sistem Jawa - Bali 72
Gambar 5.3 Total Kebutuhan Dana Investasi Luar Jawa, PLN Saja (Tanpa IPP) 73
Gambar 5.4 Proyeksi Biaya Pokok Produksi PLN Se-Indonesia 76

Gambar 7.1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL 87

vi
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Tabel

Tabel 1.1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL 6

Tabel 3.1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (Twh) 16


Tabel 3.2 Perkembangan Jumlah Pelanggan (Juta Unit) 17
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) 18
Tabel 3.4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2003 – 2007 18
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa Bali Tahun 2007 19
Tabel 3.6 Kapasitas Terpasang Pembangkit Luar Jawa Bali (MW) Tahun 2007 20
Tabel 3.7 Daftar Sewa Pembangkit di Luar Jawa (MW) 21
Tabel 3.8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa Bali (x1.000) 21
Tabel 3.9 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali 21
Tabel 3.10 Kapasitas Pembangkit dan Trafo Interbus (IBT) 22
Tabel 3.11 Perkembangan Kapasitas Trafo (MVA) Sistem Luar Jawa Bali 22
Tabel 3.12 Perkembangan Saluran Transmisi (kms) Sistem Luar Jawa Bali 23
Tabel 3.13 Rugi Jaringan dan Load Factor (%) 23
Tabel 3.14 SAIDI dan SAIFI PLN 24

Tabel 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 35


Tabel 4.2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dalam RUPTL 2009 - 2018 36
Tabel 4.3 Pertumbuhan Kebutuhan Listrik, Pertumbuhan Ekonomi dan Elastisitas 36
Tabel 4.4 Proyeksi Elastisitas Tahun 2009 - 2018 37
Tabel 4.5 Pertumbuhan Penduduk (%) 38
Tabel 4.6 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan
Beban Puncak Selama Periode 2009 – 2018 39
Tabel 4.7 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan
Rasio Elektrifikasi Periode 2009 – 2018 39
Tabel 4.8 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan
Rasio Elektrifikasi 40
Tabel 4.9 Parameter Kandidat Pembangkit untuk Sistem Jawa Bali 42
Tabel 4.10 Asumsi Harga Bahan Bakar 42
Tabel 4.11 Parameter Kandidat Pembangkit untuk Sistem Luar Jawa Bali 42
Tabel 4.12 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW (Perpres No. 17/2006) 43
Tabel 4.13 Kebutuhan Pembangkit Total Indonesia 45
Tabel 4.14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa Bali 47
Tabel 4.15 Neraca Daya Sistem Jawa Bali 48
Tabel 4.16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2008 50

vii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Tabel

Tabel 4.17 Kebutuhan Pembangkit Sistem Luar Jawa Bali 52


Tabel 4.18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali 53
Tabel 4.19 Daftar Proyek IPP di Luar Jawa Bali 54
Tabel 4.20 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (Gwh) 55
Tabel 4.21 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia Tahun 2008 - 2018 56
Tabel 4.22 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Bahan Bakar Sistem Jawa Bali 57
Tabel 4.23 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa Bali 57
Tabel 4.24 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem-Sistem Luar Jawa Bali 58
Tabel 4.25 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Luar Jawa Bali 2008 s/d 2018 59
Tabel 4.26 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas 60
Tabel 4.27 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar 60
Tabel 4.28 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa Bali 64
Tabel 4.29 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Luar Jawa Bali 65
Tabel 4.30 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa Bali 66
Tabel 4.31 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Luar Jawa Bali 67

Tabel 5.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi Gabungan Indonesia, PLN Saja (Tidak Termasuk IPP) 70
Tabel 5.2 Kebutuhan Dana Investasi Sistem Jawa-Bali 71
Tabel 5.3 Kebutuhan Investasi Distribusi (dalam US$ Juta) 72
Tabel 5.4 Total Kebutuhan Dana Investasi Luar Jawa, PLN Saja (Tanpa IPP) 73
Tabel 5.5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP 74

Tabel 6.1 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar 78
Tabel 6.2 Sasaran Komposisi Produksi Listrik kWh Tahun 2018 Berdasarkan Jenis Bahan Bakar (%) 79
Tabel 6.3 Potensi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan 82

viii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Lampiran

LAMPIRAN A. SISTEM JAWA BALI

A.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 95


A.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 109
A.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 121
A.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 139
A.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 161
A.6 Capacity Balance Gardu Induk 173
A.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 233
A.8 Analisa Aliran Daya Sistem 500 kV 237
A.9 Kebutuhan Investasi 251

LAMPIRAN B. SISTEM LUAR JAWA BALI

LAMPIRAN B1. SISTEM SUMATRA


B.1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 266
B.1.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 281
B.1.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 315
B.1.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 319
B.1.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 341
B.1.6 Capacity Balance Gardu Induk 350
B.1.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 370
B.1.8 Analisa Aliran Daya Sistem 372
B.1.9 Kebutuhan Investasi 376

LAMPIRAN B2. SISTEM KALIMANTAN


B.2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 382
B.2.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 389
B.2.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 417
B.2.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 420
B.2.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 426
B.2.6 Capacity Balance Gardu Induk 428
B.2.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 435
B.2.8 Analisa Aliran Daya Sistem 437
B.2.9 Kebutuhan Investasi 451

LAMPIRAN B3. SISTEM SULAWESI


B.3.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 458

ix
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Lampiran

B.3.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 461


B.3.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 481
B.3.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 485
B.3.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 492
B.3.6 Capacity Balance Gardu Induk 494
B.3.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 503
B.3.8 Analisa Aliran Daya Sistem 505
B.3.9 Kebutuhan Investasi 515

LAMPIRAN B4. SISTEM MALUKU DAN PAPUA


B.4.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 522
B.4.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 527
B.4.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 546
B.4.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 550
B.4.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 554
B.4.6 Capacity Balance Gardu Induk 556
B.4.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 560
B.4.8 Analisa Aliran Daya Sistem 562
B.4.9 Kebutuhan Investasi 564

LAMPIRAN B5. SISTEM NTB DAN NTT


B.5.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 570
B.5.2 Neraca Daya dan Rincian Pengembangan Pembangkit 574
B.5.3 Neraca Energi dan Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar 592
B.5.4 Rencana Pengembangan Penyaluran 596
B.5.5 Peta Rencana Pengembangan Penyaluran 600
B.5.6 Capacity Balance Gardu Induk 602
B.5.7 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 605
B.5.8 Analisa Aliran Daya Sistem 607
B.5.9 Kebutuhan Investasi 609

LAMPIRAN C. ANALISIS RISIKO 615


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Keputusan Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral

xi
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Keputusan Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral

xii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Kata Pengantar Direktur Utama

KATA PENGANTAR

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2009 - 2018 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 03/2005
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pe-
manfaatan Tenaga Listrik, yang menyebutkan bahwa Badan Usaha yang memiliki wilayah usaha
wajib membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

Disamping itu, RUPTL ini juga memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri En-
ergi dan Sumber Daya Mineral Nomor 865.K/30/MEM/2003 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Umum Ketenagalistrikan dan Nomor 2682 K/21/MEM/2008 Tentang Rencana Umum Ketenagalistri-
kan Nasional 2008 - 2027.

Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai Rencana Usaha Peny-
ediaan Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) di seluruh Indonesia untuk kurun waktu 2009 – 2018,
yang dapat menjadi acuan dalam menetapkan strategi dan kebijakan jangka panjang serta sebagai
pedoman dalam penyusunan program kerja tahunan.

Sesuai dengan perkembangannya, RUPTL ini akan dimutakhirkan secara berkala agar informasi
perencanaan yang disajikan dapat lebih sempurna dan bermanfaat bagi berbagai pihak yang me-
merlukannya. ��������������������������������������������������������������
Untuk itu masukan dari pihak-pihak terkait sangat kami hargai.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi dan kontribusi dari se-
mua pihak hingga RUPTL ini dapat diselesaikan penyusunannya.

Jakarta, 16 Desember 2008

DIREKTUR UTAMA



Fahmi Mochtar

xiii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Keputusan Direksi PT PLN (Persoro)

xiv
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Surat Dukungan Konsep RUPTL

xvi
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Pakta Integritas

xvii
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Pakta Integritas

xviii
xix
Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


���������

1.2 Landasan Hukum

1.3 Visi Dan Misi Perusahaan

1.4 Tujuan Dan Sasaran Penyusunan Ruptl

1.5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNG-JAWABNYA

1.6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA

1.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 1 Pendahuluan

1.1 LATAR ��������


BELAKANG

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) disusun untuk menjelaskan rencana
pengembangan sistem di masa mendatang yang menyangkut rencana pengembangan sistem pembangkitan,
penyaluran dan distribusi. RUPTL merupakan pedoman pengembangan sistem kelistrikan PT PLN (Persero)
sepuluh tahun mendatang, sehingga dapat dihindarkan pengembangan sarana kelistrikan di luar RUPTL yang
dapat mempengaruhi efisiensi perusahaan. Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan
sistem yang akan dilakukan oleh PLN sendiri (umumnya berupa proyek transmisi, distribusi, pumped storage­
dan beberapa pembangkit termal dan tenaga air), dan proyek-proyek pembangkit yang akan ditawarkan ke-
pada sektor swasta sebagai independent power producer (IPP).

Selain untuk menjelaskan rencana pengembangan sistem, RUPTL juga dimaksudkan untuk memenuhi amanat
yang ditetapkan dalam UU No. 15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan, Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun
1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik, dan Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2005 ten-
tang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1989. UU dan PP tersebut mengamanatkan kepada pelaku
usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum yang memiliki wilayah usaha wajib membuat RUPTL di
wilayahnya masing-masing dengan mengacu kepada Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

Sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK), PT PLN (Persero) bertanggung jawab memenuhi
kebutuhan tenaga listrik nasional. RUPTL ini disusun dalam rangka memenuhi tanggung jawab tersebut. Kon-
sekuensi dari tugas PKUK ini adalah penetapan target pertumbuhan penyediaan tenaga listrik yang cukup
tinggi, yaitu sebesar kebutuhan nasional. Penetapan target pertumbuhan yang tinggi tersebut disadari akan
mempunyai dampak keuangan yang besar pada Perusahaan, baik biaya investasi (capital expenditure/capex)
maupun biaya operasi (operation expenditure/opex). Itulah sebabnya dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-
proyek pengembangan sistem yang akan dilakukan oleh PLN sendiri (umumnya berupa proyek transmisi,
distribusi, pumped storage dan beberapa pembangkit termal dan tenaga air), dan proyek-proyek pembangkit
yang akan dilakukan oleh sektor swasta sebagai IPP.

Pada RUPTL 2009-2018 ini pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik diperkirakan dengan mempertimbangkan
potensi kebutuhan tenaga listrik yang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan
proyeksi kemampuan penyediaan pasokan tenaga listrik baik oleh PLN maupun swasta.


RUPTL secara berkala akan ditinjau kembali setiap tahun untuk disesuaikan dengan perubahan parameter-
parameter penting yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem kelistrikan, sehingga se-
lalu dapat memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan pegangan dalam
implementasinya.

RUPTL yang merupakan gabungan dari rencana pengembangan sistem Unit-unit Bisnis PLN ini disusun me-
lalui optimasi pengembangan pembangkit dan transmisi, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber
energi setempat dan sumber energi terbarukan.

1.2 LANDASAN HUKUM

RUPTL PT PLN (Persero) tahun 2009-2018 ini dibuat untuk memenuhi amanat yang ditetapkan dalam per-
aturan dan perundangan sebagai berikut:
• UU No.15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan: Usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan oleh Negara
dan diselenggarakan oleh BUMN sebagai PKUK (pasal 7 ayat 1).
• PP No. 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik:
− RUPTL dipergunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi PKUK (pasal 5
ayat 2)
− PKUK wajib membuat RUPTL yang disahkan oleh Menteri ESDM (pasal 5 ayat 3).
• PP No.3 Tahun 2005 tentang Perubahan PP No. 10 tahun 1989:
− RUPTL disusun berdasarkan RUKN (pasal 5 ayat 1).
− PKUK wajib membuat RUPTL di daerah usahanya untuk disahkan oleh Menteri ESDM (pasal 5 ayat 3).
• PP No. 17/1990 tentang Perum Listrik Negara: “Perusahaan yang didirikan dengan PP No. 18/1972 se-
bagaimana telah diubah dengan PP 54/1981 dilanjutkan berdirinya dan ditetapkan sebagai PKUK dan
meneruskan usaha-usaha selanjutnya berdasarkan ketentuan dalam PP ini” (pasal 2)
• PP No. 23/1994 tentang pengalihan bentuk Perum menjadi Persero: Perum Listrik Negara yang didirikan
dengan PP No. 17/1990 dialihkan bentuknya menjadi Persero sebagaimana dimaksud dalam UU No.
9/1969 sebagai PKUK (pasal 1, ayat 1).

Karena RUPTL ini disusun oleh PT PLN (Persero) sebagai PKUK, maka PLN bertanggung jawab
���������������
memenuhi
seluruh kebutuhan tenaga listrik nasional. Konsekuensi dari tugas PKUK ini adalah penetapan target pertum-
buhan yang tinggi, yaitu sebesar kebutuhan nasional. Penetapan target pertumbuhan yang tinggi ini berdam-
pak terhadap keuangan Perusahaan (capex, opex).

RUPTL ini juga mengacu kepada Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang telah ditetapkan
oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dengan Keputusan Menteri Nomor 2682 K/21/MEM/2008 tang-
gal 13 November 2008.


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 1 Pendahuluan

1.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN

Pada Anggaran Dasar PT PLN (Persero) Nomor 38 tahun 1998 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapang­
an usaha PT PLN (Persero) adalah ������������������������������������������������������������������
menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan
umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan
Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-
prinsip perseroan terbatas.

Berkenaan dengan hal-hal tersebut diatas, maka visi PT PLN (Persero) adalah sebagai berikut: “Diakui se-
bagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada
Potensi Insani.”

Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu kepada
visi tersebut maka PT PLN (Persero) akan :
• Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, ang-
gota perusahaan, dan pemegang saham.
• Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
• Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
• Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

1.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL

Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL ini adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sa-
rana kelistrikan PT PLN (Persero) dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih
efisien dan lebih baik, sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan.

Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan
kapasitas dan energi listrik, peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan, mulai dari tahap perencanaan
yang meliputi:
• Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat keandalan
(reserve margin) yang diinginkan.
• Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik, dicerminkan oleh pengurangan penggunaan
bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 2 persen
terhadap total produksi energi listrik pada tahun 2018.
• Mengatasi krisis kelistrikan yang terjadi di beberapa daerah.
• Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi lebih kecil dari 10 persen.


• Tercapainya tara kalor (heat rate) yang membaik sehingga dapat dicapai biaya pokok produksi (BPP) yang
lebih baik dan rasional.
• Tercapainya kualitas listrik yang makin membaik.

1.5 ���������������������������������������
PROSES���������������������������������
PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNG-
JAWABNYA

Penyusunan �����������������������������������������������
RUPTL������������������������������������������
ini dibuat dengan proses sebagai berikut:
• RUKN digunakan sebagai pedoman dan rujukan, khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang
perencanaan ketenagalistrikan, kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik,
kebijakan perlindungan lingkungan, kebijakan tingkat cadangan (reserve margin), asumsi pertumbuhan
ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik.
• PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai penjabaran dari RUKN dan kebijakan
Pemerintah lainnya.
• Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda sebelumnya
dalam Pra-Forum Perencanaan.
• Dengan menggunakan asumsi-asumsi dasar dari Pemerintah seperti kondisi pertumbuhan ekonomi makro
dan elastisitas pertumbuhan listrik dari PLN Pusat, selanjutnya disusun prakiraan beban (demand fore-
cast), rencana pembangkitan, rencana transmisi & gardu induk (GI), rencana distribusi dan rencana dae-
rah yang isolated. Penyusunan ini dilakukan oleh Unit-unit Bisnis dan PLN�����������������������������
Pusat sesuai tanggung-jawab
masing-masing. Demand forecast, perencanaan gardu induk dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN
Distribusi/Wilayah, perencanaan transmisi oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) dan
PLN Wilayah yang mempunyai transmisi, serta rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilaku-
kan oleh PLN Pusat.
• Forum Perencanaan yang didahului dengan Pra - Forum Perencanaan dilaksanakan minimal 1 kali dalam
setahun, dimaksudkan untuk mem-���������������������������������������������������������������
verifikasi dan menyepakati produk perencanaan pengembangan sis-
tem kelistrikan yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN.
• Penggabungan�������������������������������������������������������������������������������������
produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis PLN dan pengesahannya dila-
kukan oleh PLN Pusat, dan RUPTL ini selanjutnya akan menjadi acuan pembuatan Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan (RKAP) tahunan.


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 1 Pendahuluan

Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Proses penyusunan RUPTL

RUPTL PUSAT
RUKN

FORUM
PERENCANAAN FORUM PERENCANAAN
ASUMSI DASAR DAN JAWA-BALI
KEBIJAKAN LUAR JAWA-BALI

PRA FORUM

Pada Pra - Forum Perencanaan, Unit-unit Bisnis PLN melakukan evaluasi terhadap realisasi perencanaan
������������
perioda sebelumnya, dan membahas serta menyepakati asumsi-asumsi dasar. Selanjutnya Unit-unit Bisnis
PLN (Wilayah /Distribusi/ Kitlur/P3B) melakukan simulasi dan analisa perencanaan masing-masing yang harus
diselesaikan dalam waktu dua bulan.

Hasil awal perencanaan Unit-unit Bisnis PLN kemudian dibahas dalam Forum Perencanaan. Forum ini mem-
bahas ulang optimasi regional agar didapat hasil perencanaan yang optimal secara korporasi. Sesudah Forum
Perencanaan selesai, Unit-unit PLN melakukan penajaman rencana pengembangan sistem, dan menyusun
dokumen rencana pengembangan sistem Unit Bisnis. Bersamaan dengan itu PLN Pusat melakukan konsoli-
dasi rencana-rencana pengembangan sistem yang disusun oleh Unit-unit Bisnis PLN, dan menyusun RUPTL
Perusahaan. Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL

Kegiatan Pokok P3B Kitlur Wilayah Kit Distr Pusat


Kebijakan umumdan asumsi + + + + + x
Demand forecasting x x O
Perencanaan Pembangkitan x x, # x* # O, x**
Perencanaan Transmisi x x x O
Perencanaan Distribusi x x O
Perencanaan GI x x x x O
Perencanaan Pembangkitan Isolated x O
Penggabungan x
Halaman 6 RUPTL 2009 - 2018
Keterangan :
X Pelaksana; O Parenting; + Pengguna; # Pemberi data,* Wilayah yang belum ada P3B/Kitlur;
** Untuk Sistem Besar


1.6 RUANG �������������������������
LINGKUP������������������
DAN WILAYAH USAHA

Dalam RUPTL ini wilayah usaha PT PLN (Persero) dibagi menjadi lima region, yaitu: Jawa-Bali, Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara-Maluku-Papua dengan ruang lingkup sebagai berikut:

Sistem Jawa-Bali

Wilayah usaha di pulau Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten, PLN Distribusi DKI
Jakarta & Tangerang, PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi Jawa Timur, PLN Distribusi
Bali dan PLN P3B Jawa Bali. Selain itu terdapat perusahaan-perusahaan pembangkitan, yaitu PT Indonesia
Power, PT PJB dan listrik swasta (IPP). Unit bisnis pembangkitan yang single plant, seperti Pembangkit Muara
Tawar dan Pembangkit Cilegon, tidak menyusun perencanaan sistem.

Sistem Sumatera

Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Riau Kepulauan, Bangka, Belitung, Nias, dilayani oleh
PLN Wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, PLN Wilayah Sumatera Utara, PLN Wilayah Sumatera Barat, PLN
Wilayah Riau, PLN Wilayah Sumatera Selatan-Jambi-Bengkulu, PLN Wilayah Bangka-Belitung dan PLN P3B
Sumatera.

Sedangkan sistem pembangkit di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera
Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan, kecuali beberapa pembangkit skala kecil di
sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah usaha
anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam, sehingga tidak tercakup dalam RUPTL
PT PLN (Persero).

Sistem Kalimantan

Pulau Kalimantan yang terdiri dari empat provinsi dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat, PLN Wilayah
Kalimantan Selatan & Tengah, dan PLN Wilayah Kalimantan Timur. Sementara
����������������������������������
pulau Tarakan merupakan
wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, sehingga tidak tercakup
dalam RUPTL PT PLN (Persero).

Sistem Sulawesi

Wilayah usaha di pulau Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi Utara-Tengah-Gorontalo dan PLN
Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat.

Sistem Nusa Tenggara

Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dan
PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur.


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 1 Pendahuluan

Sistem Maluku dan Papua

Wilayah usaha di provinsi Maluku dan Maluku Utara serta provinsi Papua dilayani oleh PLN Wilayah Maluku &
Maluku Utara, dan PLN Wilayah Papua.

Peta wilayah usaha PT PLN (Persero) diperlihatkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero)

1.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL

Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab I menjelaskan latar belakang, landasan
hukum, visi dan misi perusahaan, tujuan dan sasaran, dan sistematika dokumen. Bab II menjelaskan kebijakan
umum �����������������������������������������������������������������������������������������������
pengembangan�����������������������������������������������������������������������������������
sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan sistem. Bab III menjelaskan
kondisi kelistrikan saat ini. Bab IV menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik, meliputi kriteria perenca-
naan, asumsi dasar, prakiraan kebutuhan listrik (demand forecast) dan rencana pengembangan pembang-
kit, transmisi dan distribusi, serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar. Bab V menjelaskan kebutuhan
investasi. Bab VI menjelaskan ketersediaan energi primer. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah
mitigasinya. Bab VIII memberikan kesimpulan.

Selanjutnya����������������������������������������������������������������������������������������
rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam dua bagian utama, yaitu Rencana
Pengembangan Sistem Jawa Bali pada Lampiran A, dan Rencana Pengembangan Sistem Luar Jawa Bali
pada Lampiran B.


Bab 2 KEBIJAKAN UMUM
PENGEMBANGAN SARANA

2.1 KEBIJAKAN PERTUMBUHAN PENJUALAN DAN BEBAN

2.2 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT

2.3 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI

2.4 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 2 Kebijakan Umum
Pengembangan Sarana

Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2009-2018 ini dibuat dengan memperhatikan �������������
kebijakan����
pe-
rusahaan dalam merencanakan pertumbuhan penjualan, pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi.
Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud.

2.1 KEBIJAKAN PERTUMBUHAN PENJUALAN DAN BEBAN

Pada tahun-tahun dimana kemampuan PLN dalam menyediakan listrik masih terbatas, pertumbuhan penjualan
yang dapat dilayani dibatasi oleh sarana penyediaan ����������������������������������������������������������
tenaga����������������������������������������������������
listrik yang ada. Untuk tahun 2008 dan 2009, diper­
kirakan kemampuan penyediaan tenaga listrik masih terbatas, karena proyek-proyek percepatan pembangkit
batubara sesuai Peraturan Presiden No.71 Tahun 2006 belum seluruhnya selesai. Pertumbuhan penjualan
listrik secara nasional diperkirakan hanya sekitar 6.5% pada tahun 2008 dan 7.6% pada tahun 2009.

Sejalan dengan����������������������������������������������������������������������������������������
����������������������������������������������������������������������������������������������
akan selesainya proyek-proyek PLTU batubara tersebut mulai tahun 2009 dan beberapa pem-
bangkit listrik swasta, pertumbuhan penjualan listrik diperkirakan akan naik signifikan mulai tahun 2009/2010,
antara lain untuk memenuhi permintaan sambungan yang tertunda (suppressed demand).

RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dengan menyambung konsumen residensial
dalam jumlah yang cukup tinggi setiap tahun.

Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2009-2018 ini adalah belum memperhitungkan dampak program de-
mand side management (DSM) dan program energy effciency dalam membuat prakiraan demand hingga lima
tahun ke depan. Untuk lima tahun berikutnya kedua program tersebut diperkirakan mulai memberi dampak
pada kebutuhan tenaga listrik, dalam bentuk penurunan nilai elastisitas. Kebijakan ini diambil untuk mempe-
roleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman, disamping karena implementasi kedua program tersebut
memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif.


�����������������������������������������������������������
Elastisitas akan dijelaskan lebih lanjut pada butir 4.2.2.

10
2.2 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang
direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk menyelesaikan krisis penyediaan tenaga
listrik. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan reserve margin yang
diinginkan, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, termasuk energi terbarukan.

Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik dilakukan secara optimal dengan prinsip biaya penyedi-
aan listrik terendah (least cost), dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang diinginkan. Biaya penyediaan
terendah dicapai dengan meminimalkan net present value semua biaya penyediaan listrik, yaitu biaya kapital/
investasi, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan, dan biaya energy not served. Tingkat keandal­
an sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve
margin). Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana pengembangan
kapasitas.

Namun demikian, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan meman-
faatkan energi terbarukan, pada wilayah-wilayah yang mempunyai potensi energi terbarukan, utamanya panas
bumi dan hidro, kriteria least cost tidak sepenuhnya diterapkan. Pada wilayah tersebut beberapa proyek panas
bumi dan hidro direncanakan untuk dibangun dalam RUPTL ini walaupun biaya pengembangannya lebih tinggi
daripada pembangkit termal konvensional.

Implementasi proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL ini disesuaikan dengan kemam-
puan pendanaan PLN. Mengingat besarnya beban pinjaman yang telah ditanggung PLN berkenaan dengan
pembangunan proyek-proyek percepatan pembangkit batubara PerPres 71/2006, maka untuk beberapa tahun
ke depan PLN tidak dapat sepenuhnya mendanai proyek-proyek pembangkit baru. Dengan demikian Peme­
rintah diharapkan dapat berperan dalam pendanaan sebagian dari proyek-proyek pembangkit baru, dan seba-
gian lagi akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP).

RUPTL ini mengasumsikan tidak ada kendala pasokan gas untuk pembangkit eksisting dan pembangkit baru
mulai tahun 2012, khususnya untuk sistem Jawa Bali, sedangkan untuk luar Jawa Bali pembangkit gas hanya
direncanakan jika ada kepastian pasokan gas. Konsekuensi dari asumsi ini adalah PLN dengan dukungan
Pemerintah akan berupaya maksimal untuk memperoleh pasokan gas sebanyak volume yang dibutuhkan.

Dalam hal pasokan gas tidak diperoleh atau harga gas sangat tinggi, maka pembangkit pemikul beban menen-
gah seperti PLTGU menjadi tidak dapat dikembangkan. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar,


Biaya energy not served adalah nilai penalti yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati kon-
sumen akibat padam listrik

LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV

11
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 2 Kebijakan Umum
Pengembangan Sarana

yaitu PLTU batubara, akan juga dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang
relatif rendah.

Pengembangan PLTU batubara skala kecil merupakan alternatif untuk menggantikan pembangkit listrik yang
menggunakan bahan bakar minyak pada sistem skala kecil untuk menekan biaya operasi sistem. Pengembang­
an PLTU batubara skala kecil ini juga diarahkan untuk menggantikan peranan sebagian PLTD di luar Jawa.
PLTU tersebut dapat dikembangkan baik oleh PLN maupun swasta.

Untuk sistem Jawa-Bali, dalam RUPTL ini PLN akan mulai menggunakan PLTU batubara dengan kapasitas
unit 1.000 MW dengan teknologi supercritical boiler untuk memperoleh efisiensi dan tingkat emisi yang lebih
baik, termasuk untuk proyek IPP. Penggunaan ukuran unit sebesar ini juga didorong oleh semakin sulitnya
memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di pulau Jawa. Pertimbangan lainnya
adalah pada tahun 2012 diperkirakan beban puncak sistem Jawa Bali telah mencapai lebih dari 25 GW.

Secara umum pemilihan lokasi pembangkit harus diupayakan memenuhi prinsip regional balance. Regional
balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang
berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain melalui saluran
transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini, kebutuhan transmisi akan minimal.

Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit di
lokasi yang jauh dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi, sepanjang hal tersebut layak se-
cara teknis dan ekonomis. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut tambang
skala besar di Sumatera Selatan dan menyalurkan sebagian besar listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi
arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission/HVDC).

2.3 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ���������


TRANSMISI

Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara kapa-
sitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria
keandalan tertentu. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai usaha untuk
mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.

Penentuan lokasi GI dilakukan atas pertimbangan keekonomian biaya pembangunan fasilitas sistem transmisi
tegangan tinggi, biaya pembebasan tanah, biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah
dan harus disepakati bersama antara unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola sistem transmisi.

12
Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi, penggunaan tiang, jenis saluran (saluran udara, kabel
bawah tanah) dan perlengkapan (pemutus, pengukuran dan proteksi) dilakukan oleh manajemen unit melalui
analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang, dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih
baik, dengan tetap memenuhi standar SNI, SPLN atau standar internasional yang berlaku.

Pembangunan gardu induk baru (500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV), diarahkan kepada konsep operasi tanpa
adanya operator 24 jam (GITO).

2.4 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI

Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal, yaitu : perbaikan
tegangan pelayanan, perbaikan SAIDI dan SAIFI, penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan
yang tua. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan perbaik­
an sarana pelayanan.

Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton, besi atau kayu), jenis saluran (saluran udara, kabel bawah
tanah), sistem jaringan (radial, loop atau spindle), perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak), termasuk
penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar, ditentukan oleh manajemen unit
melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang
lebih baik, dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku.

13
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018

14
Bab 3 KONDISI SARANA
KELISTRIKAN SAAT INI

3.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK

3.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN

3.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK

15
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

3.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK

Sebelum krisis ekonomi tahun 1997/8 penjualan tenaga listrik PLN dalam beberapa tahun mengalami pertum-
buhan yang cukup tinggi, yaitu tumbuh di atas 10% per tahun. Namun setelah krisis ekonomi, perkembangan
penjualan tenaga listrik mengalami pertumbuhan yang relatif rendah seperti terlihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh)

Wilayah 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata


Indonesia 90,54 100,10 107,03 112,61 121,25
Growth (%) 3,86 10,56 6,93 5,21 7,67 7,57
Jawa - Bali 72,19 79,96 85,39 89,04 95,62
Growth (%) 3,19 10,77 6,79 4,28 7,39 7,28
Sumatera 11,22 12,34 13,28 14,59 15,80
Growth (%) 6,55 9,98 9,86 9,88 8,30 8,92
Kalimantan 3,11 3,37 3,60 3,80 4,09
Growth (%) 6,87 8,36 5,56 5,62 7,49 7,12
Sulawesi 2,84 3,11 3,31 3,57 3,93
Growth (%) 5,40 9,35 6,65 7,64 10,20 8,45
IBT 1,18 1,31 1,45 1,61 1,81
Growth (%) 9,54 11,51 10,57 10,81 12,27 11,29

Realisasi penjualan tenaga listrik PLN pada tahun 2007 ��������������������������������������������������


adalah 121.25 TWh atau tumbuh 7,7% terhadap tahun
sebelumnya. Jika dibandingkan dengan prakiraan 2007 pada RUPTL 2006 – 2015 yaitu sebesar 122,9 TWh,
maka hanya terdapat perbedaan 1,4% terhadap realisasi 2007.

Realisasi penjualan tenaga listrik selama tujuh tahun terakhir mengalami pertumbuhan relatif rendah, yaitu
6,3%/tahun, hal ini terjadi karena :
• Adanya perubahan pola baca meter pada tahun 2002 dan 2003
• Pada periode 2001 – 2004 penambahan kapasitas pembangkit relatif kecil sehingga penjualan dibatasi
• Diterapkannya program ‘Daya Max Plus’ (DMP), tarif multiguna dan program demand side management
(DSM), partisipasi pembiayaan penyambungan.

16
Dari Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa penjualan tenaga listrik PLN selama periode 2003 – 2007 mengalami
peningkatan dari 90,54 TWh pada tahun 2003 menjadi 121,25 TWh pada tahun 2007, atau tumbuh rata-rata
7,6% per tahun. Sedangkan penjualan di wilayah Jawa-Bali pada periode yang sama mengalami kenaikan dari
72,19 TWh menjadi 95,62 TWh, atau tumbuh rata-rata 7,3% per tahun.

Penjualan tenaga listrik di Luar Jawa-Bali pada periode yang sama mengalami peningkatan, yaitu dari 11,22
TWh menjadi 15,80 TWh atau tumbuh rata-rata 8,9% per tahun untuk Sumatra, dari 3,11 TWh menjadi 4,09
TWh atau tumbuh rata-rata 7,1% per tahun untuk Kalimantan, dari 2,84 TWh menjadi 3,93 TWh atau tumbuh
rata-rata 8,5% per tahun untuk Sulawesi dan dari 1,18 TWh menjadi 1,81 TWh atau tumbuh rata-rata 11,3%
per tahun untuk pulau-pulau lainnya. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi karena rasio
elektrifikasi saat ini baru mencapai 60,9%.

Penjualan tenaga listrik antara tahun 2003 – 2007 adalah dalam situasi pasokan yang terbatas (suppressed
demand). Apabila pasokan tidak terkendala, diperkirakan pertumbuhan akan lebih tinggi.

3.1.1 Jumlah Pelanggan

Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2003 – 2007 mengalami peningkatan dari 32,2 juta menjadi 37,3 juta
atau bertambah rata-rata 1,28 juta tiap tahunnya. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor
rumah tangga, yaitu rata-rata 1,18 juta per tahun, dan diikuti sektor komersil dengan rata-rata 75 ribu pelang-
gan per tahun, dan sektor publik rata-rata 30 ribu pelanggan per tahun. Tabel 3.2 menunjukkan perkembangan
jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan dalam tujuh tahun terakhir.

Tabel 3.2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Juta unit]

Jenis Pelanggan 2003 2004 2005 2006 2007


R.Tangga 29.998 31.096 32.175 33.118 34.685
Komersil 1.311 1.382 1.456 1.655 1.611
Publik 0,798 0,842 0,882 0,931 0,922
Industri 0,047 0,047 0,046 0,046 0,047
Total 32.151 33.366 34.559 35.751 37.334
Delta Pelanggan 1.197 1.215 1.193 1.192 1.583

3.1.2 Rasio Elektrifikasi

Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah
rumah tangga yang ada. �������������������������������������������������������������������������������
Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami
kenaikan, yaitu dari 57,5% pada tahun 2004 menjadi 60,9% pada tahun 2007.

Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan pulau lainnya masing-masing meningkat dari 62,3% menjadi 66,3%, dari 54,9% menjadi 56,8%,

17
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

dari 53,1% menjadi 54,5%, dari 51,6% menjadi 53,6% dan dari 30,1% menjadi 30,6%. Pada Tabel 3.3 diper-
lihatkan perkembangan rasio elektrifikasi di setiap wilayah Indonesia.

Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%)

Wilayah 2004 2005 2006 2007


Indonesia 57,5 58,3 59,0 60,9
Jawa-Bali 62,3 63,1 63,9 66,3

Sumatra 54,9 55,8 57,2 56,8


Kalimantan 53,1 54,5 54,7 54,5
Sulawesi 51,6 53,0 53,2 53,6
IBT 30,1 30,1 30,6 30,6

3.1.3 Pertumbuhan Beban Puncak

Pertumbuhan�����������������������������������������������������������������������������������������������
beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.4. Dari tabel
tersebut�������������������������������������������������
dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah,
������������������������������������
yaitu rata-rata 5,1%, dengan load factor
yang terus meningkat, hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi, yaitu rata-rata 6,5%
(lihat tabel 3.1). Perbaikan load factor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada
saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan
baru.

Tabel 3.4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2003 – 2007

Deskripsi Satuan 2003 2004 2005 2006 2007


Kapasitas MW 18.676 19.466 19.466 22.126 22.236
Daya Mampu MW 15.025 15.741 15.741 18.002 18.052
Beban Puncak MW 14.178 14.920 15.352 15.954 16.840
% 5,3 5,2 5,7 3,9 5,6
Faktor Beban % 72 73 75 75 76

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sistem kelistrikan di luar Jawa-Bali mengalami pertumbuhan beban
puncak rata-rata 10,0% dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di ���������������������������������������
Sumatera�������������������������������
yaitu 11,3%. Sedangkan sistem
Kalimantan hanya tumbuh rata-rata 6%, karena pertumbuhan beban masih terkendala oleh keterbatasan pa-
sokan dari pembangkit yang ada.

18
3.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN

Pada��������������������������������������������������������������������������������������������������
tahun 2007 kapasitas terpasang pembangkit PT PLN (Persero) di sistem Jawa-Bali adalah 22.236 MW,
di Sumatera sebesar 4.300 MW dan di sistem lainnya jumlahnya sebesar 2.669 MW.

Sistem Jawa Bali

Selama tahun 2007 dan semester 1 tahun 2008, realisasi penambahan pembangkit di sistem Jawa Bali hanya
sedikit, yaitu PLTP Darajat 110 MW dan PLTP Kamojang 60 MW.

Dengan sedikitnya tambahan pembangkit baru di sistem Jawa Bali, dan terus meningkatnya beban puncak,
maka reserve margin pada tahun 2008 diperkirakan menurun hingga 27%. Ditambah lagi dengan beberapa
permasalahan operasional seperti pasokan BBM dan batubara yang sering tersendat, pasokan gas yang menu­
run, derating dan kerusakan pembangkit, maka kondisi tersebut mengakibatkan pada periode waktu beban
puncak (WBP) di sistem Jawa Bali beberapa waktu yang lalu mengalami kekurangan daya dan energi. Untuk
������
mempertahankan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik terpaksa dilakukan pemadaman.

Rincian kapasitas�����������������������������������������������������������������������������������
��������������������������������������������������������������������������������������������
pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dan pengelolaannya dapat
dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2007

Jenis Jumlah
No. IP PJB PLN IPP
Pembangkit MW %
 1 PLTA 1.103 1.283 150 2.536 11,4
2 PLTU
Batubara 3.400 800 1.320 3.050 8.570 38,5
BBG/BBM 1.000 1.000 4,5
BBM 500 300 800 3,6
3 PLTGU
BBG/BBM 1.180 2.087 740 4.007 18
BBM 1.496 640 2.136 9,6
4 PLTG
BBG/BBM 40 62 150 252 1,1
BBM 806 320 858 1.984 8,9
5 PLTD 76 76 0,3
6 PLTP 360 515 875 3,9
Jumlah 8.961 6.492 2.918 3.865 22.236 100,0

19
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

Sistem Luar Jawa Bali

Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN yang tersebar di sistem Luar Jawa-Bali pada saat ini adalah 6.969
MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.6. Dengan daya terpasang sebesar itu, daya mampu pem-
bangkit hanya sekitar 5.575 MW atau 80% dari kapasitas terpasang. Hal ini disebabkan oleh karena sistem
pembangkitan tersebut masih didominasi oleh PLTD sebesar 2.602 MW (sekitar 37%), dan sekitar 1.600 MW
PLTD tersebut telah berusia lebih dari 10 tahun.Kapasitas pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan
kapasitas 576 MW.

Beban puncak sistem kelistrikan Luar Jawa-Bali, diperkirakan akan mencapai sekitar 5.526 MW pada tahun
2008. Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dengan mempertim-
bangkan cadangan sebesar 30%, maka diperkirakan akan terjadi kekurangan sekitar 1.600 MW.

Tabel 3.6 Kapasitas Terpasang Pembangkit Luar Jawa-Bali (MW) Tahun 2007

Pulau PLN Unit IPP PLTA PLTD PLTG PLTGU PLTM PLTP PLTU Jumlah
NAD 142 2 144
Sumut 0
Sumbar 42 1 43
Riau 161 161
Sumatra
S2JB 78 2 80
Lampung 7 7
Babel 95 95
KITSumut 10 245 87 166 818 8 260 1.594
KITSumsel 351 605 220 315 685 2.176
Kalbar 250 34 284
Kalimantan Kalselteng 30 218 21 130 399
Kaltim 20 237 66 0 323
NTB NTB 147 1 148
NTT NTT 151 1 152
Sulselra 195 126 199 123 23 25 691
Sulawesi
Suluttenggo 46 241 15 40 342
Maluku Maluku 146 146
Papua Papua 181 3 184
Jumlah 576 1.052 2.602 659 884 56 40 1.100 6.969

Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut, hampir seluruh unit usaha PLN telah melakukan sewa
pembangkit dari pihak swasta atau memperoleh bantuan dari Pemerintah Daerah setempat. Sewa pembang-
kit oleh PLN Wilayah di luar Jawa bali akan mencapai hampir 1.100 MW pada tahun 2008 dengan perincian
seperti ditampilkan pada Tabel 3.7.

20
Tabel 3.7 Daftar Sewa Pembangkit di Luar Jawa (MW)

No. PLN Wilayah 2007 2008


1 Babel 23.5 23,5

2 Kalbar 53,0 89,0


3 Kalselteng 34,6 68,8
4 Kaltim 80,5 126,5
5 Kitsumbagsel 88,0 88,0
6 Kitsumbagut 60,0 185,0
7 Maluku 12,5 12,5
8 NAD 8,0 11,0
9 NTB 32,0 63,0
10 NTT 13,0 16,0
11 Papua 32,4 44,2
12 Riau 56,4 102,7
13 S2JB 3,6 3,6
14 Sulselra 26,0 125,0
15 Suluttenggo 42,5 111,1
16 Sumbar 3,0 3,0
Jumlah 569,0 1.072.9

3.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI

Perkembangan����������������������������������������������������������������������������������������������
kapasitas trafo GI dan sarana penyaluran sistem Jawa Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan
pada Tabel 3.8 dan Tabel 3.9.

Tabel 3.8. Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1000)

Level Tegangan Unit 2003 2004 2005 2006 2007


150/20 MVA 23,09 23,83 24,47 25,30 25,79
70/20 MVA 2,93 2,99 27,91 2,88 2,88
Jumlah MVA 26,02 26,81 27,26 28,17 28,17
B.Puncak MW 14,18 14,92 15,35 15,95 16,84

Tabel 3.9 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali

Level Tegangan Unit (x1.000) 2003 2004 2005 2006 2007


500 kV kms 3,53 3,58 3,58 4,92 4,97
150 kV kms 11,06 11,23 11,27 11,31 11,33
70 kV kms 3,76 3,77 3,66 3,40 3,40

Dari Tabel 3.9 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV terus berkurang karena ditingkatkan (uprated)
menjadi 150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.

21
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan trafo GI per sistem tegangan
500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu 5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.10.

Tabel 3.10 Kapasitas Pembangkit dan Trafo Interbus (IBT)

Level Tegangan Satuan(x1.000) 2002 2003 2004 2005 2006 2007


Kit.Sistem 500 kV MW 10,79 10,79 11,65 11,65 12,97 12,97
Trf. 500/150 kV MVA 14,50 15,50 15,50 15,50 17,00 17,00
Kit. Sistem 150 kV MW 7,10 7,52 7,52 7,55 8,89 8,70
Trf. 150/70 kV MVA 3,59 3,44 3,40 3,58 3,58 3,61
Kit. Sistem 70 kV MW 293,00 293,00 293,00 267,00 267,00 267,00
Trf. 150/20 kV MVA 22,46 23,09 23,83 24,47 25,30 25,79
Trf. 70/20 kV MVA 2,93 2,93 2,99 2,79 2,88 2,93

Sistem penyaluran dan distribusi di luar Jawa-Bali dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkem-
bangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dengan selesainya be-
berapa proyek transmisi. Sedangkan�����������������������������������������������������������������������
��������������������������������������������������������������������������������
sistem lainnya, yaitu Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua belum memiliki
saluran transmisi.

Pembangunan�����������������������������������������������������������������
gardu induk meningkat 3,3% per tahun dimana kapasitas terpasang GI
���������������������������
pada tahun 2003 sekitar
6.946 MVA meningkat menjadi 7.916 MVA pada tahun 2007.

Pada Tabel 3.11 ����������������������������������������������������������������������������������������


diperlihatkan���������������������������������������������������������������������������
perkembangan gardu induk di sistem luar Jawa-Bali selama 5 tahun terakhir.

Tabel 3.11 Perkembangan Kapasitas Trafo (MVA) Sistem Luar Jawa-Bali

Region 2003 2004 2005 2006 2007


Sumatera
275/150 kV 80 80 80 160 160
150/20 kV 4.440 5.101 4.390 4.419 4.474
70/20 kV 295 360 355 360 360
Kalimantan
150/20 kV 824 884 934 1.094 1.174
70/20 kV 157 157 157 157 157
Sulawesi
150/20 kV 664 723 813 923 1.045
70/20 kV 486 486 490 532 546
Luar Jawa
275/150 kV 80 80 80 160 160
150/20 kV 5.928 6.708 6.137 6.436 6.693
70/20 kV 938 1.003 1.002 1.049 1.063
Total 6.946 7.791 7.219 7.645 7.916

22
Tabel 3.12 Perkembangan Saluran Transmisi (kms) Sistem Luar Jawa-Bali

Region 2003 2004 2005 2006 2007


Sumatera
275 kV 781
150 kV 4.361 4.361 4.361 8.521 7.739
70 kV 310 310 310 310 334
Kalimantan
150 kV 1.054 1.120 1.120 1.264 1.305
70 kV 123 123 123 123 123
Sulawesi
150 kV 1.044 1.044 1.044 1.769 1.839
70 kV 420 420 420 505 505
Luar Jawa
275 kV 0 0 0 0 781
150 kV 6.459 6.525 6.525 11.554 10.884
70 kV 853 853 853 938 962
Total 7.312 7.378 7.378 12.492 12.627

Tabel 3.12 �����������������������������������������������������������������������������������������


menunjukkan������������������������������������������������������������������������������
bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat 14,63% per tahun dimana panjang
saluran transmisi pada tahun 2003 sekitar 7.312 kms meningkat menjadi 12.627 kms pada tahun 2007.

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI

3.4.1 Susut Jaringan dan Faktor Beban

Realisasi rugi jaringan �����������������������������������������������������������������������������


PLN��������������������������������������������������������������������������
mulai tahun 2003 cenderung menurun ke tingkat 11,5% sejalan dengan usaha-
usaha menekan susut jaringan (lihat tabel 3.13). Sedangkan load factor tahunan dari tahun 2003 hingga 2005
mengalami perbaikan, namun menurun kembali pada tahun 2006 dan 2007.

Load factor dan rugi-rugi jaringan dalam enam tahun terakhir seperti pada Tabel 3.13.

Tabel 3.13 Rugi Jaringan dan Load Factor [%]

2003 2004 2005 2006 2007


Faktor Beban 71.88 72,64 75,48 72.5 72.5
Susut 16,88 11,29 11,54 11.5 11.5

3.4.2 Keandalan Pasokan

Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan faktor SAIDI dan SAIFI jaringan
PLN pada lima tahun terakhir menunjukkan perbaikan. Indeks SAIDI membaik �������������������������������
dari���������������������������
17,48 jam/pelanggan/tahun


SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average Interruption Frequency Index

23
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

pada tahun 2001 menjadi 15,77 jam pada tahun 2005 namun pada tahun 2006 memburuk lagi. Sedangkan
SAIFI juga membaik dari 18,24 kali/pelanggan/tahun menjadi 13,85 kali. Selengkapnya SAIDI dan SAIFI lima
tahun terakhir pada Tabel 3.14.

Tabel 3.14 SAIDI dan SAIFI PLN

2003 2004 2005 2006 2007


SAIDI 10,90 9,43 15,77 27,01 28,94
SAIFI 12,51 11,78 12,68 13,85 12,77

Sumber: Statistik PLN

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK

3.5.1 Daerah Krisis

Ada beberapa daerah��������������������������������������������������������������������������������


��������������������������������������������������������������������������������������
atau sistem kelistrikan di luar Jawa-Bali, baik pada sistem besar maupun sistem iso-
lated, yang pada akhir tahun 2008 mengalami krisis. Definisi krisis yang digunakan dalam RUPTL ini adalah
suatu kondisi sistem dimana kemampuan pasokan dari pembangkit PLN dan IPP tidak dapat memenuhi kebu-
tuhan beban puncak. Hal ini ditandai oleh adanya pembangkit sewa, defisit daya, dan load curtailment. Sistem
kelistrikan besar/menengah yang mengalami kondisi krisis tersebut yaitu:
• Sistem Sumatera Bagian Utara
• Sistem Sumatera Bagian Selatan
• Sistem Barito, Kalselteng
• Sistem Pontianak, Kalbar
• Sistem Mahakam, Kaltim
• Sistem Sulselra
• Sistem Pangkalanbun, Kalselteng
• Sistem Gorontalo
• Sistem Sumbawa, NTB
• Sistem Jayapura, Papua

Sedangkan sistem isolated yang mengalami kondisi krisis antara lain:


• Sistem Takengon, sistem Subulussalam (NAD)
• Sistem Siak Sri Indrapura, sistem Pasir Pangaraian, sistem Tembilahan, sistem Teluk Kuantan dan Sistem
Natuna/Ranai (Riau & Kepulauan Riau)
• Sistem Sanggata, sistem Melak, sistem Tanah Grogot, sistem Petung, sistem Berau, sistem Tanjung Selor,
dan Sistem Malianu (Kaltim)
• Sistem Rote Ndao (NTT)

24
• Sustem Ternate, sistem Tual, sistem Masohi, sistem Tobelo, sistem Soa-Siu, sistem Mako, sistem Subaim,
dan sistem Dofa (Maluku dan Malut)
• Sistem ���������������
Wamena���������
(Papua)

3.5.2 Penanggulangan Daerah Krisis

Kondisi krisis penyediaan tenaga listrik di beberapa daerah di Indonesia pada dasarnya terjadi karena keter-
lambatan penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP. Penyebab keterlam-
batan ada berbagai hal, antara lain kesulitan pendanaan dan kendala pembangunan di lapangan, sehingga
proyek yang sudah dijadwalkan tidak dapat beroperasi tepat waktu.

Langkah-langkah yang telah diambil Pemerintah dan PLN untuk menanggulangi daerah krisis meliputi sewa
pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi listrik dari pembangkit skala kecil, bermitra/
kerjasama operasi pembangkit dengan Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan
PLTU batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi interkoneksi, dan mengamankan kontinuitas
pasokan energi primer.

Kondisi krisis pada sistem besar/menengah ditanggulangi dengan menyewa atau membeli pembangkit seper­
ti PLTD MFO atau HSD , PLTG, PLTMG yang dapat tersedia dalam waktu relatif singkat untuk secepatnya
mengurangi terjadinya pemadaman yang berkepanjangan. Selain itu juga dilakukan usaha membangun jaring­
an 150 kV, seperti yang dilakukan di Sulawesi, yaitu menarik jartingan 150 kV dari sistem Minahasa ke sis­
tem Gorontalo dan juga sistem Kalselteng ke sistem Pangkalanbun sehingga dapat saling membantu dalam
menga­tasi kondisi krisis.

Pada sistem-sistem isolated yang mengalami kondisi krisis, PLN mengupayakan penanggulangannya dengan
menyewa PLTD dan mempercepat interkoneksi dengan sistem besar. Selain itu disisi pelanggan, diupayakan
penerapan Demand Side Management, dan mengendalikan jumlah pelanggan baru/tambah daya.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali

Hal – hal yang mendesak untuk penyelesaiannya pada sistem Jawa-Bali meliputi antara lain :
• Pembangunan PLTGU Muara Tawar Adds-On dengan tambahan kapasitas 1.200 MW selesai pada
2011/2012, akan memasok wilayah Jabotabek, dan memperbaiki kualitas tegangan di GITET Cawang dan
GITET Bekasi yang saat ini rendah pada siang hari.
• Pembangunan pumped storage Upper Cisokan berkapasitas 4x250 MW, direncanakan selesai tahun 2014,
akan mengurangi penggunaan BBM saat puncak setelah selesainya PLTU Percepatan 10.000 MW.
• Mempercepat pembangunan transmisi terkait program percepatan 10.000 MW (pendanaan, ROW, dll).
• Penguatan�������������������������������������������������
pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program :

25
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 3
Kondisi Sarana Kelistrikan Saat Ini

- Mempercepat penyelesaian penambahan interbus transformer (IBT) 500/150kV, yaitu IBT-3 Cawang
1x500 MVA, IBT-3 Gandul 1x500MVA, IBT-4 Cibatu, IBT-1 Muaratawar 1x500MVA dan mempercepat
pembangunan IBT Balaraja 2x500MVA
- Membangun GITET baru di 4 lokasi yaitu: Durikosambi (2012), Tambun (2013), Muarakarang (2014),
Lengkong (2014).
- Membangun ruas SUTET baru yaitu : SUTET Balaraja-Kembangan (2012), Kembangan-Durikosambi
(2012), Durikosambi-Muarakarang (2014).
• Penguatan pasokan subsistem Bali yang terdiri dari beberapa program yaitu :
- Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3,4 (2010).
- Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal (2015).
• Mengupayakan pendanaan SUTET terkait dengan pembangkit PLTU IPP Tanjung Jati B unit 3&4,
2 x 660 MW, yaitu SUTET Tanjung Jati – Ungaran (2012), Ungaran – Mandirancan (2014), dan Mandiran-
can – Cibatu (2012).
• Mengupayakan pendanaan SUTET terkait dengan pembangkit PLTU IPP Paiton Expansion 1x800MW,
yaitu SUTET Paiton – Grati sirkit 3 (2012) dan mempercepat penyelesaian SUTET Grati – Surabaya Se-
latan (2010).

3.5.4 Masalah Mendesak Sistem Luar Jawa Bali

Hal – hal yang mendesak pada sistem Luar Jawa-Bali meliputi antara lain :

Transmisi dan GI

• Transmisi 275 kV Asahan 1 – Simangkok – Galang dan IBT 275/150 kV di Simangkok dan Galang harus
dapat beroperasi seiring dengan beroperasinya PLTA Asahan 1 pada tahun 2010.
• Transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu – Binjai dan IBT 275/150 kV di Binjai harus dapat beroperasi se­
iring dengan beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada tahun 2010.
• Transmisi 150 kV Sengkang – Sidrap dan Sidrap – Maros – Sungguminasa Baru harus dapat beroperasi
seiring dengan beroperasi extension PLTG/PLTGU Sengkang pada tahun 2009.
• Transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar – Serawak diperlukan pada tahun 2011, seiring rencana PLN mem-
beli tenaga listrik dari PLTA Bakun di Serawak. Transmisi ini merupakan kontingensi PLTU Gambut yang
kemungkinan terkendala oleh masalah lingkungan dan pendanaan.
• Trafo overload di sistem-sistem Luar Jawa sebanyak 42 trafo pada tahun 2008, dan sebanyak 32 trafo
pada tahun 2009 .
• Pembangunan IBT 60 MVA 150/70 kV Tomohon karena diperlukan untuk menyalurkan listrik PLTP Lahen-
dong 3 pada tahun 2009.

26
Pembangkitan

• Pembangunan PLTGU Lhokseumawe 120 MW untuk memanfaatkan gas dari Medco. Hal ini dapat duwu-
judkan dengan merelokasi PLTG 20 MW dari crash program PLTG Sumut sebagai tahap awal.
• PLTG Senipah 80 MW
• PLTGU Muarateweh 120 MW untuk memanfaatkan gas marginal yang sudah dialokasikan untuk PLN di
Bangkanai, Kalimantan Tengah.
• PLTG 40 MW di Semberah, Kalimantan Timur.
• Penyelesaian kontrak dengan PT Palu Power.
• PLTP Lahendong 4.

27
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018

28
Bab 4 RENCANA PENYEDIAAN
TENAGA LISTRIK 2009 – 2018

4.1 KRITERIA Perencanaan

4.2 Asumsi dalam prakiraan kebutuhan tenaga listrik

4.3 Prakiraan kebutuhan tenaga listrik 2009 - 2018

4.4 rencana pengembangan pembangkit

4.5 proyeksi neraca energi dan kebutuhan bahan Bakar

4.6 analisis sensitivitas

4.7 proyeksi emisi co2

4.8 pengembangan sistem penyaluran dan gardu induk

4.9 pengembangan sistem distribusi


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

4.1 KRITERIA PERENCANAAN

4.1.1 Perencanaan Pembangkit

Sistem Interkoneksi

Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit yang
memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode pe-
rencanaan, dan memenuhi kriteria keandalan tertentu. �������������������������������������������������������
Konfigurasi termurah diperoleh melalui proses optimasi
suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeli-
haraan dan biaya energy not served. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari pembangkit
yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. Simulasi dan optimisasi dilakukan
�����������������������������������
dengan menggunakan model
yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning).

Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0,274%, atau
ekivalen dengan 1 hari/tahun. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui
kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih kecil dari 0,274%.

Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu���������������
yang nilainya
tergantung pada tingkat ketersediaan (availability) setiap unit pembangkit, jumlah unit, ukuran unit, dan jenis
unit.

Pada sistem Jawa Bali, ��������������


kriteria LOLP < 0,274%
�� ����������������������������
adalah setara dengan reserve margin > 25 - 30% dengan
basis daya mampu netto. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan
adalah sekitar 35%.

Dalam perencanaan sistem jangka panjang yang pada hakekatnya adalah perencanaan investasi, aspek-
aspek seperti kesulitan pendanaan, keterlambatan penyelesaian proyek (project slippage) dan kelangkaan/


��������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Unit hidro yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang berdampak
besar pada LOLP dan ketercukupan energi.

����������������������������������������������
Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.

30
keterbatasan sumber energi primer perlu juga diperhitungkan. Akibatnya besaran reserve margin yang diper-
lukan dalam perencanaan ������������������������������������������������������������������������������
s�����������������������������������������������������������������������������
istem pembangkit jangka panjang di Jawa-Bali ditetapkan lebih besar daripada
sekedar memenuhi kriteria LOLP < 0,274%. Dengan alasan tersebut, reserve margin sistem Jawa Bali dite-
tapkan sebesar 40%.

Dengan argumen yang sama, reserve margin pada sistem-sistem di luar Jawa-Bali ditetapkan pada kisaran
40% - 50% dengan mengingat pula jumlah unit pembangkit yang lebih sedikit, derating yang prosentasenya
lebih besar, dan ketidakpastian penyelesaian proyek pembangkit IPP yang lebih tinggi.

Pembangkit energi terbarukan, khususnya panasbumi dan tenaga air, dalam proses optimisasi diperlakukan
sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan
proyek tersebut.

Pada sistem Jawa Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah
PLTU batubara supercritical 1.000 MW, PLTU batubara 600 MW, PLTU batubara 300 MW, PLTGU gas 750
MW, PLTGU LNG 750 MW, PLTG minyak 200 MW, PLTP 55 MW dan PLTA pumped storage 250 MW. Dalam
optimasi sistem Jawa Bali, PLTA pumped storage baru dikompetisikan sebagai peaking unit mulai tahun 2014
karena mempertimbangkan masa konstruksinya yang membutuhkan waktu 6 tahun.

Pada sistem Luar Jawa Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan adalah PLTU batubara 200 MW,
100 MW, 50 MW dan kelas-kelas yang lebih kecil, serta kandidat PLTGU gas yang kelasnya tergantung pada
ketersediaan pasokan yang ada.

Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan�����������������������


��������������������������������������
proyek-proyek yang se-
dang berjalan dan yang telah committed, baik proyek PLN maupun IPP, dan tidak memperhitungkan semua
pembangkit sewa serta excess power. Selain itu beberapa pembangkit berbahanbakar minyak yang sudah tua,
tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara, direncanakan akan dihapuskan (retired).

Selanjutnya ���������������������������������������������������������������������������������������
penambahan�����������������������������������������������������������������������������
kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit berba-
han bakar batubara, dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir).

Reserve margin yang tinggi untuk sistem di luar Jawa (hingga 50%) dan dengan ���������������������������
jenis����������������������
pembangkit yang dido-
minasi oleh pembangkit beban dasar (geothermal, PLTU batubara) akan menyebabkan capacity factor pem-
bangkit beban dasar menjadi relatif sangat rendah. �����������������������������������������������������������
Situasi tersebut hanya akan terjadi jika semua proyek PLN
dan IPP yang ada di neraca daya benar-benar direalisasi.


����������������������������������������
Lebih diinginkan menggunakan teknologi supercritical.

��������������������������
�������������������������
Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan.

�����������������������������
Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya, dan proyek IPP yang telah
mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA).

31
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Namun pengalaman selama ini mengindikasikan tingkat keberhasilan pelaksanaan proyek-proyek IPP yang
relatif rendah, yaitu sekitar 13% jika memperhitungkan semua proposal IPP, atau sekitar 30% jika hanya mem-
perhitungkan mereka yang telah mempunyai PPA atau HOA. Untuk mengantisipasi hal demikian diperlukan
adanya reserve margin yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi/demand pada tahun-tahun men-
datang.

Dengan demikian neraca daya yang ada dalam RUPTL ini setiap tahun akan dikaji untuk menjadwal-ulang
proyek-proyek pembangkit sesuai dengan perkembangan terakhir yang terjadi.
Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang, simulasi produksi dilakukan dengan menggu-
nakan neraca daya yang telah dimodifikasi ������������������������������������������������������������
dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasi-
nya diperkirakan tidak pasti.

Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated

Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum ��������������
interkoneksi��(isolated) tidak
menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian, namun menggunakan metoda determi-
nisitik. Pada metoda ini, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu cadangan harus lebih besar daripada
jumlah kapasitas pembangkit terbesar pertama dan kedua. Definisi cadangan disini adalah selisih antara ka-
pasitas total pembangkit yang ada dan beban puncak.

4.1.2 Perencanaan Transmisi

Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1, baik statis maupun dinamis. Kri-
teria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam, baik karena mengalami gangguan maupun
dalam pemeliharaan, maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan keseluruhan arus
beban, sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan
���������������������������
apabila terja-
di gangguan hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka tidak menyebabkan
kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator dan kelompok generator lainnya.

Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembang­
kitan dan kebutuhan beban, disamping untuk mengatasi bottleneck, meningkatkan keandalan sistem, dan
memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.

Kebutuhan penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 80%
untuk sistem Jawa Bali dan 70% untuk sistem di luar Jawa Bali.

Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan, kapasitas transmisi
dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat
mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menam-
pung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.

32
Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegang­
an menengah.

4.1.3 Perencanaan Distribusi

Perencanaan������������������������������������������������������������������������
sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut:
• Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan pelayan­an
sesuai standar SPLN 72:1987.
• Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti spindle,
sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2
sumber.
• Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal.
• Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh dan
tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok produksi.

Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada
pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya :
• Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2
Gardu Induk dan 15 feeder,
• Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM, dikoordinasikan dengan re-
closing relay penyulang di GI. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS, dan menyempurnakan metode
pemeliharaan-periodiknya.

Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang cukup,
andal, berkualitas, efisien, dan susut teknis wajar.

Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu :
– Perluasan ���������������������������������������������������������������������������
sistem���������������������������������������������������������������������
distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik
– Mempertahankan/ meningkatkan keandalan (reliability) dan kualitas pelayanan tenaga listrik pada pelang-
gan (power quality).
– Menurunkan susut teknis jaringan
– Rehabilitasi jaringan tua.
– Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan

Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan
beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu
antara lain :
– Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR),
– Luas ��������������������
area yang dilayani,

33
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

– Distribusi beban (tersebar merata, terkonsentrasi, dsb),


– Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan,
– Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan,
– Fasiltas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM, gardu idistribusi/GD, jaringan te-
gangan redah/JTR, automatic voltage regulator/AVR dsb).

4.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA


LISTRIK

Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pertumbuhan ekonomi,
program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN.

Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan jasa.
Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, disamping input-in-
put barang dan jasa lainnya. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan
masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang / peralatan listrik seperti radio, TV, AC,
lemari es dan lainnya. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat.

Faktor kedua adalah�����������������������������������������������������


program elektrifikasi. Mengingat rasio elektrifikasi10 nasional masih relatif rendah, yaitu
baru mencapai 60,9% pada tahun 2007, maka PLN dalam RUPTL ini berencana akan meningkatkan rasio
elektrifikasi ini dengan menambah pelanggan baru residensial rata-rata 2,7 juta per tahun.

Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan dari
captive power menjadi pelanggan PLN. Sebagaimana diketahui, dengan terbatasnya kemampuan PLN untuk
menyambung/memenuhi permintaan pelanggan di suatu daerah, terutama pelanggan industri dan komersil,
maka timbullah apa yang dinamakan captive power. Bilamana kemampuan PLN untuk menyambung di daerah
tersebut telah meningkat, maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya masing-masing bersedia
untuk menjadi pelanggan PLN. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu
daerah/sistem kelistrikan, jadi tidak berlaku umum. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh ting-
ginya harga energi primer untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / komersil, sementara
harga jual listrik PLN relatif sangat murah. Faktor ini diperkirakan akan menjadi pendorong pertumbuhan pen-
jualan listrik PLN yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.

Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan software DKL3.01. Software tersebut
memperhitungkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk sebagai driver pertumbuhan kebutuhan

10
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Rasio elektrifikasi adalah perbandingan antara rumah tangga yang sudah berlistrik dengan jumlah seluruh rumah tangga

34
listrik. Pendekatan yang digunakan merupakan kombinasi antara ekonometri dan analisa kecenderungan se-
cara statistik. Model prakiraan beban ini membagi konsumen dalam empat kategori / kelompok berdasarkan
karakteristik pemakaiannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaannya, yaitu rumah tangga, komer-
sil, industri dan publik.

Kecenderungan penggunaan teknologi peralatan listrik yang semakin efisien di masa depan dan juga adanya
program-program DSM dapat mempengaruhi proyeksi kebutuhan listrik, dan hal tersebut sudah diperhitung-
kan dalam membuat prakiraan kebutuhan listrik mulai tahun 2014.

4.2.1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 7 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik bruto
(PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5,06% per tahun, atau lebih rendah
dibandingkan pertumbuhan 3 tahun terakhir yang mencapai 5,5% – 6,32% seperti diperlihatkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

PDB 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007


PDB (Triliun Rp) 1.390 1.443 1.505 1.577 1.657 1.751 1.847 1.964
Growth PDB (%) 4,90 3,83 4,31 4,78 5,05 5,67 5,50 6,32

Sumber: Statistik Indonesia, BPS

Perekonomian Indonesia pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 6,3%. Proyeksi laju pertumbuhan
ekonomi tahun 2008 semula ditargetkan 6,8%, namun direvisi menjadi 6,4% pada penetapan RAPBN 2008.
Belakangan ini dengan adanya krisis finansial global yang awalnya terjadi di Amerika Serikat dan kini berimbas
pada perekonomian Indonesia, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 akan meng­
alami perlambatan menjadi sekitar 5,8%. Namun dalam perspektif perencanaan jangka panjang, peristiwa-
peristiwa ekstrim yang tidak biasa dan bersifat temporer lazimnya tidak mengubah proyeksi jangka panjang.11

Krisis finansial global yang terjadi mulai tahun 2008 diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu lama dan per-
ekonomian Indonesia pada tahun 2010 diharapkan akan pulih kembali, sehingga diprediksi tidak berpengaruh ba­
nyak terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan memperhatikan perkembangan realisasi tersebut
di atas, serta mengacu pada asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam RUKN 2008 – 2027 sebesar
6,1% per tahun, maka asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam 10 tahun ke depan dalam RUPTL ini
adalah rata-rata 6,2% per tahun seperti diperlihatkan pada Tabel 4.2.

11
Hal ini dikonfirmasi dalam diskusi internal di PLN dengan Danareksa Research Institute pada bulan November 2008.

35
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Tabel 4.2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dalam RUPTL 2009-2018

Wilayah 2008 2009 2010 2011 2012 2014 2016 2018


Indonesia 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4 6,0 6,0 6,0
Jawa Bali 6,2 6,2 6,2 6,2 6,2 5,8 5,8 5,8
Luar Jawa Bali 6,7 6,7 6,7 6,7 6,7 6,3 6,3 6,3

4.2.2. Elastisitas

Pertumbuhan �������������������������������������������������������������������������������������������
kebutuhan����������������������������������������������������������������������������������
listrik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dikenal sebagai elastisitas. Per-
tumbuhan kebutuhan listrik, pertumbuhan ekonomi dan elastisitas selama 7 tahun terakhir dapat dilihat pada
Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Pertumbuhan Kebutuhan Listrik, Pertumbuhan Ekonomi Dan Elastisitas

Keterangan 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007


Sales (%) 11,06 6,77 3,02 3,86 10,56 6,93 5,21 7,67
PDB (%) 4,90 3,83 4,31 4,78 5,05 5,60 5,50 6,32
Elastisitas 2,26 1,77 0,71 0,81 2,09 1,24 0,95 1,21

Penjualan tenaga listrik selama periode 2000 – 2007 tumbuh rata-rata 6,3% per tahun atau lebih rendah dari
realisasi pertumbuhan penjualan tahun 2007. Rendahnya pertumbuhan terjadi pada tahun 2002 dan 2003 se-
bagai akibat perubahan pola baca meter dan tambahan kapasitas pembangkit selama periode tersebut relatif
rendah, sehingga pasokan daya menjadi terbatas dan dibeberapa daerah diluar Jawa Bali terjadi pemadaman
bergilir. Daya max plus (DMP), tarif multiguna dan demand side management (DSM) diterapkan untuk mem-
batasi pemakaian waktu beban puncak (suppressed demand). Diduga beberapa industri/komersil pada waktu
beban puncak mengalihkan penggunaan listrik PLN ke pembangkit sendiri (captive).

Sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dalam produk domestik bruto
atau PDB mengalami pertumbuhan rata-rata 5,06% per tahun atau lebih rendah dari pertumbuhan dalam 3
tahun terakhir. Dengan demikian elastisitas rata-rata selama periode 2000 – 2007 adalah 1.24. Angka elas-
tisitas ini tidak memperhitungkan industri / komersil yang beralih menggunakan pembangkit sendiri akibat
����� Gambar 4.1 diperlihatkan perkembangan antara
keterbatasan pasokan (kondisi suppressed demand). Pada
pertumbuhan kebutuhan listrik, pertumbuhan ekonomi dan elastisitas.

36
Gambar 4.1 Pertumbuhan Kebutuhan Listrik, Ekonomi dan Elastisitas tahun 1995-2007

20.00 20.00

Pertumbuhan
15.00 15.00

kWh jual
10.00 10.00

5.00 5.00
Percent

0.00 0.00
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

-5.00 Elastisitas -5.00

-10.00
Pertumbuhan -10.00

ekonomi
-15.00 -15.00

Naiknya harga BBM menyebabkan biaya produksi listrik meningkat, sehingga banyak pelanggan industri/ko-
mersil yang semula menggunakan pembangkit sendiri kemudian di luar waktu beban puncak mengalihkan
pemakaian listriknya ke PLN yang tarifnya rendah, sehingga pertumbuhan kebutuhan listrik ke depan diperki-
rakan masih akan meningkat.

Penjualan listrik tahun 2008 – 2009 masih dibatasi oleh kemampuan pasokan, karena proyek-proyek pembang-
kit percepatan baru sebagian beroperasi pada tahun 2009, dan sebagian besar akan beroperasi pada tahun
2010 dan 2011. Penjualan yang normal diperkirakan dapat dilakukan mulai tahun 2010 melalui marketing yang
agresif dan melayani daftar tunggu (waiting list), sehingga diperkirakan elastisitas akan meningkat mulai tahun
2010.

Asumsi elastisitas����������������������������������������������������������������������������������������
���������������������������������������������������������������������������������������������������
rata-rata yang digunakan dalam menyusun prakiraan kebutuhan listrik dapat dilihat pada
Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Proyeksi Elastisitas Tahun 2009-2018

Tahun Jawa Bali Luar Jawa Indonesia


2009 1,10 1,56 1,18
2010 1,66 1,59 1,62
2011 1,65 1,58 1,61
2012 1,65 1,54 1,60
2013 1,64 1,53 1,60
2014 1,68 1,63 1,64
2015 1,67 1,63 1,64
2016 1,64 1,62 1,61
2017 1,61 1,61 1,58
2018 1,59 1,61 1,57

37
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Dapat dilihat pada Tabel 4.4. bahwa elastisitas


������������������������������������������������������������������
pada sistem Jawa Bali cenderung menurun setelah tahun
2014, karena diperkirakan makin banyak konsumen listrik yang menggunakan peralatan dengan teknologi
yang lebih efisien, terutama pada sektor industri, komersil dan publik. Rasio elektrifikasi yang semakin tinggi
juga menyebabkan laju penambahan pelanggan baru menjadi semakin melambat. Porsi penggunaan listrik
untuk sektor industri dan bisnis juga diperkirakan semakin membesar, namun dengan laju pertumbuhan yang
semakin rendah karena energy intensity membaik. Penyumbang pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan
didominasi oleh sektor industri manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, sehingga nilai tambah dari peng-
gunaan listrik menjadi semakin baik.

Sedangkan elastisitas pada sistem kelistrikan di Luar Jawa Bali diperkirakan masih akan tinggi, karena ra-
sio elektrifikasi masih rendah dan akan mendorong lebih banyak penyambungan pelanggan baru sekaligus
dalam rangka pemerataan kepada masyarakat untuk bisa menikmati listrik setelah sisi pasokan tersedia dalam
jumlah yang memadahi. Sektor industri dengan orientasi ekspor dan sektor bisnis diharapkan juga semakin
berkembang setelah energi listrik tersedia secara cukup, sehingga porsi penggunaan energi listrik di sektor
tersebut juga akan semakin meningkat. Penyumbang pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan dominasi oleh
sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan dan pertanian yang tidak banyak menggunakan energi listrik
dari PLN.

4.2.3. Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus tahun 2005 (SUPAS 2005) jumlah penduduk Indonesia adalah
sebesar 218.868.791 orang, sedangkan jumlah rumah tangga adalah sebesar 55.127.716 KK. Dengan demiki-
an jumlah orang per rumah adalah rata-rata 4 orang per rumah. Pertumbuhan penduduk 10 tahun ke depan
merujuk pada ”Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1]. Dari proyeksi tersebut, asumsi pertumbuhan
yang digunakan selama sepuluh tahun ke depan adalah rata-rata 1,17% per tahun. Jumlah orang per rumah
diasumsikan menurun dari 3,9 orang menjadi 3,8 orang per rumah. Pada Tabel 4.5 dapat dilihat perkiraan
pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali, luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.

Tabel 4.5 Pertumbuhan Penduduk (%)

Tahun Indonesia Jawa - Bali Luar Jawa


2009 1,25 0,99 1,63
2010 1,23 1,01 1,56
2011 1,22 0,94 1,63
2012 1,20 0,95 1,56
2014 1,16 0,91 1,51
2016 1,12 0,87 1,47
2018 1,07 0,82 1,41

Sumber: ��������������������������������������������
Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1]

38
4.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2009 - 2018
Dengan menggunakan asumsi-asumsi pada butir 4.2, kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan
hasilnya diberikan pada Tabel 4.6. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun
2018 akan menjadi 325,2 TWh, atau tumbuh rata-rata 9,7% per tahun. Sedangkan beban puncak pada tahun
2018 akan menjadi 57.887 MW atau tumbuh rata-rata sebesar 9,5% per tahun.

Tabel 4.6 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan Beban Puncak se-
lama Periode 2009 – 2018

Pertumbuhan
Sales Beban Puncak
Tahun Ekonomi
% TWh MW
2008 6,4 129 23.411
2009 6,4 139 25.171
2010 6,4 153 27.830
2011 6,4 169 30.600
2014 6,0 225 40.530
2016 6,0 272 48.605
2018 6,0 325 57.887

Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2009 adalah sebesar 41,0 juta dan akan bertambah �������������
menjadi 68,1
juta pada tahun 2018 atau bertambah rata-rata 2,7 juta per tahun. Penambahan pelanggan tersebut akan
meningkatkan rasio elektrifikasi dari 64,8% pada tahun 2009 menjadi 95,5% pada tahun 2018. Proyeksi jumlah
penduduk, pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan �����������������������������


Rasio Elektrifikasi ­��������
Periode
2009 – 2018

Penduduk Pelanggan Rasio Elek. Rasio Elek RUKN


Tahun
Juta Juta % %
2009 230,6 41,0 64,8
2010 233,5 43,4 67,6 67,2
2011 236,3 45,9 70,6
2012 239,2 48,6 73,8
2013 242,0 51,5 77,1
2014 244,8 54,4 80,4
2015 247,6 57,5 83,9 79,2
2016 250,3 60,9 87,6
2017 253,1 64,4 91,5
2018 255,8 68,1 95,5

39
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah seperti yang terdapat pada RUKN tahun
2008 - 2027, rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan lebih tinggi 4,7% (lihat
tabel 4.7). Hal ini mengindikasikan niat PLN yang sangat kuat untuk menyediakan listrik bagi seluruh rakyat
Indonesia.

Tabel 4.8 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi

Unit 2008 2009 2010 2012 2014 2018


1.Energy Demand TWh
- Indonesia 128,9 138,7 153,1 186,2 225,4 325,2
- Jawa-Bali 100,9 107,8 119 144,6 174,9 250,9
- Luar Jawa-Bali 28 30,9 34,1 41,6 50,5 74,3
2.Pertumbuhan %
- Indonesia 6,5 7,6 10,4 10,2 9,8 9,4
- Jawa-Bali 5,6 6,8 10,3 10,2 9,7 9,2
- Luar Jawa-Bali 9,9 10,4 10,6 10,2 10,2 10
3.Rasio Elektrifikasi
- Indonesia %
- Jawa-Bali 62,8 64,8 67,6 73,8 80,4 95,5
- Luar Jawa-Bali 68,2 70,2 72,9 78,4 84,2 97,3
53,9 55,9 59,2 66,3 74,2 92,7

Pada periode 2009-2018 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali meningkat dari 107,8 TWh tahun 2009 menjadi
250,9 TWh tahun 2018 atau tumbuh rata-rata sebesar 9,5% per tahun. Untuk luar Jawa Bali pada periode
yang sama meningkat dari 30,9 TWh menjadi 74,3 TWh atau tumbuh rata-rata 10,3% per tahun. ���������
Proyeksi
prakiraan kebutuhan listrik periode 2009 – 2018 ditunjukkan pada Tabel 4.8 dan Gambar 4.2.

Pada Gambar 4.2 dapat����������������������������������������������������������������������������������������


dilihat proyeksi penjualan energi listrik PLN meliputi wilayah-wilayah Jawa-Bali, luar
Jawa-Bali dan total Indonesia.

Gambar 4.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN

TWh
350.00
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00

Indo Jawa-Bali Luar Jawa-Bali

40
, pada Gambar 4.3
Untuk membandingkan hasil prakiraan dan realisasi dari beberapa RUPTL sebelumnya�������
�����������������
diperlihatkan proyeksi penjualan tenaga listrik yang terdapat pada RUPTL 2006 – 2015, RUPTL 2007 – 2016
dan RUPTL 2009 - 2018.

Jika proyeksi beban pada RUPTL 2006 – 2015 Perubahan dibandingkan dengan proyeksi beban pada�������
�����������
RUPTL
2009-2018, maka dapat dilihat adanya pertumbuhan yang lebih tinggi pada RUPTL 2009-2018. Perbedaan ini
disebabkan oleh adanya rencana PLN untuk menyediakan listrik dalam jumlah yang mencukupi bagi semua
calon pelanggan maupun pelanggan lama mulai tahun 2010 setelah proyek pembangkit 10.000 MW selesai
dan masuk ke sistem, sehingga diperkirakan pertumbuhan penjualan akan lebih tinggi dari RUPTL sebelum-
nya.

Gambar 4.3 Perbandingan Prakiraan RUPTL 2009-2018 , RUPTL 2006 – 2015 Perubahan,
RUPTL 2007 – 2016 dan Realisasi 2000 - 2007

TWh
350.0
300.0
250.0
200.0
150.0
100.0
50.0
0.0

Realisasi RUPTL 2009-2018


RUPTL 2006-2015 Perubahan RUPTL 2007-2016

lebih rinci dari proyeksi kebutuhan tenaga listrik di sistem Jawa-Bali dapat dilihat pada Lampiran A
Informasi�������������������������������������������������������������������������������������������
dan sistem luar Jawa-Bali pada Lampiran B.

4.4 RENCANA�������������������������
PENGEMBANGAN PEMBANGKIT

4.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit

Pada sistem���������������������������������������������������������������������������������������
���������������������������������������������������������������������������������������������
Jawa-Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah
PLTU batubara supercritical 1.000 MW, PLTU batubara 600 MW subcritical, PLTU batubara 300 MW subcritical,
PLTGU LNG 750 MW, PLTGU gas alam 600 MW, PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pum-
ped Storage unit 500 MW (mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan). Selain itu terdapat
beberapa PLTP dan PLTA.

41
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Parameter tekno-�������������������������������������������������������������������������������������
ekonomis�����������������������������������������������������������������������������
kandidat-kandidat pembangkit tersebut dan asumsi harga bahan bakar dapat di-
lihat pada Tabel 4.9 dan Tabel 4.10. Khusus untuk PLTA pompa perhitungan optimasi baru dipertimbangkan
mulai tahun 2013 karena masa konstruksi PLTA membutuhkan waktu 5 tahun.

Tabel 4.9 Parameter Kandidat Pembangkit Untuk Sistem Jawa Bali

No Jenis Pembangkit Kapasitas Capital Cost Pembangunan Heat Rate FOR12


MW USD/kW Tahun kcal/kWh %
1 PLTU batubara 1.000 1.400 4 1.911 10
2 PLTU batubara 600 1.190 4 2.388 13
3 PLTGU LNG 750 930 3 1.741 12
4 PLTGU gas 750 930 3 1.800 12
5 PLTG minyak 200 550 2 3.440 15
6 PLTA pompa 250 860 6 - -
7 PLTP 55 1.370 3 - 5

Tabel 4.10 Asumsi Harga Bahan Bakar

Jenis Energi Primer Harga Nilai Kalor


Batubara USD 90/Ton 5.300 kcal/kg
Gas alam USD 6/MMBTU 252.000 kcal/MMBTU
LNG USD 10/MMBTU 252.000 kcal/MMBTU
HSD USD 140 /Barel 11.000 kcal/kg
MFO USD 110/Barel 10.000 kcal/kg
Uranium USD 200/kg

Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di luar Jawa-Bali ������������
cukup berva-
riasi tergantung kepada kapasitas sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya, kandidat PLTU batubara 200 MW
dan 400 MW, PLTG pemikul beban puncak 50 MW, sedangkan sistem Kalimantan, kandidat PLTU batubara 65
MW, PLTG pemikul beban puncak 35 MW. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih kecil
lagi. ��������������������������������������������������������������������������
Kandidat pembangkit untuk sistem Luar Jawa Bali diberikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Parameter Kandidat Pembangkit Untuk Sistem Luar Jawa Bali

No Jenis Pembangkit Kapasitas Capital Cost Masa Konstruksi Heat Rate FOR
MW USD/kW Tahun kcal/kWh %
1 PLTU batubara 65 - 200 1,300 3 2,867- 2,646 10
2 PLTU batubara 7 - 50 1,300 2 3,440 – 2,867 12
3 PLTGU gas 150 1,000 2 2,400 7
4 PLTG minyak 50 – 100 600 2 3,640 – 3,110 5
5 PLTA >10 2,000 3-5 - -
6 PLTMH <10 3,000 2 - -
7 PLTP 10 – 55 1,200 2 - -

12
Mengambil benefit dari ecomomies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi
daripada teknologi subcritical.

42
4.4.2. Program Percepatan Pembangkit Berbahan Bakar Batubara
(Perpres No.71/2006)

Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006, Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk mem-
bangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak kurang lebih 10,000 MW untuk memperbaiki
fuel mix dan sekaligus juga memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Berdasar penugasan
tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit dengan kapasitas dan tahun
operasi diperlihatkan pada Tabel 4.12. Program ini dikenal sebagai “proyek percepatan pembangkit 10.000
MW”, atau fast track projects.

Tabel 4.12. Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW (Perpres No.71/2006)

Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi


PLTU Labuhan 2x315 2009-2010
PLTU Indramayu 3x330 2009-2010
PLTU Suralaya #8 1x625 2010
PLTU Lontar/Teluk Naga 3x315 2010
PLTU Pelabuhan Ratu 3x350 2010
PLTU Rembang 2x315 2009
PLTU Cilacap 1x600 2011
PLTU Pacitan 2x315 2010
PLTU Paiton Baru 1x660 2010
PLTU Tanjung Awar-awar 2x300 2010
PLTU Meulaboh 2x100 2010
PLTU Pangkalan Susu 2x200 2010
PLTU Bengkalis 2x7 2010
PLTU Selat Panjang 2x5 2010
PLTU Tanjung Balai 2x7 2010
PLTU Bangka Baru 2x10 2009
PLTU Air Anyer 2x25 2010
PLTU Belitung Baru 2x15 2010
PLTU Sumbar Pesisir 2x100 2010
PLTU Tarahan Baru 2x110 2010
PLTU Parit Baru 2x50 2010
PLTU Singkawang Baru 2x25 2010
PLTU Pulang Pisau 2x60 2010
PLTU Asam-asam 2x65 2010
PLTU Amurang 2x25 2009
PLTU Gorontalo 2x25 2009
PLTU Ternate 2x7 2010
PLTU Jayapura 2x10 2010
PLTU Timika 2x7 2010
PLTU Ambon 2x15 2010
PLTU Kendari 2x10 2010

43
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

(Lanjutan)
Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi
PLTU Barru 2x50 2010
PLTU Jiranjang 2x30 2009
PLTU Ende 2x7 2010
PLTU Kupang 2x15 2010
PLTU Bonto 2x10 2010

Catatan: Proyek dengan huruf italic statusnya belum kontrak konstruksi pada November 2008.

4.4.3. Program Percepatan Pembangkit Tahap 2

Mengingat pembangkit-pembangkit
���������������������������������������������������������������������������������������
yang termasuk dalam Program Percepatan Pembangkit 10.000 MW (Per-
pres No.71/2006) diperkirakan akan diserap seluruhnya oleh konsumen hingga tahun 2011, maka akan di-
perlukan tambahan kapasitas baru di luar program Perpres No.71/2006 mulai tahun 2012. Program untuk
menambah kapasitas pembangkit mulai tahun 2012 ini selanjutnya disebut Program Percepatan Pembangkit
Tahap 2.

RUPTL 2009-2018 ini telah mengakomodasi Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 dimaksud. Program
Percepatan Pembangkit Tahap 2 direncanakan dengan mempertimbangkan energi terbarukan, namun karena
kesiapan potensi proyek-proyek energi terbarukan belum matang, maka proyek-proyek dalam Program Perce-
patan Pembangkit Tahap 2 masih didominasi oleh PLTU batubara.

Ringkasan Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 adalah sebagai berikut:


• Sistem Jawa-Bali: PLTU batubara 5x1.000 MW, PLTP 1.145 MW dan PLTGU 1.200 MW.
• Luar Jawa-Bali: PLTU batubara 2.616 MW berbagai ukuran, PLTA 174 MW, PLTP 980 MW, dan PLTGU
240 MW.
• Indonesia: PLTU batubara 7.616 MW, PLTA 174 MW, PLTP 2.125 MW dan PLTGU 1.440 MW, total keselu-
ruhan 11.355 MW.

Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk Jawa-Bali sebesar 1.000 MW per unit didasarkan pada pertimbang­
an efisiensi13 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah
akan melampaui 25.000 MW.

Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 11.355 MW tersebut terdiri atas 7.649 MW sebagai proyek
PLN dan 3.708 MW sebagai proyek IPP. Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit
Tahap 2 tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjam­
an baru.

13
Mengambil benefit dari ecomomies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi
daripada teknologi subcritical.

44
Proyek PLTP pada umumnya akan berupa IPP sebagai total project (yaitu sisi uap dan sisi listrik terintegrasi
sebagai satu proyek), kecuali untuk beberapa lokasi WKP14 dimana PLN akan membangun sisi hilirnya. Proyek
yang diperkirakan dapat selesai sebelum tahun 2014 hanya mereka yang merupakan ekspansi WKP eksisting,
dan beberapa lokasi baru yang dipilih oleh stakeholders panas bumi. Sedangkan lokasi yang WKP-nya harus
ditender diperkirakan baru akan selesai setelah tahun 2014.

Pemilihan lokasi PLTP dan penentuan kandidat PLTP didasarkan pada hasil studi JICA dan Direktorat Mineral
Batubara dan Panas Bumi yang berjudul “Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Re-
public of Indonesia”, yang dilaksanakan pada tahun 2006 – 2007. Berdasar master plan tersebut, pada tgl 19
Juni 2008 di Kantor Direktorat Panas Bumi dilaksanakan pembahasan antara PLN dan Pengembang untuk
memilih lokasi-lokasi PLTP yang dapat dikembangkan, dengan memperhatikan kebutuhan demand listrik yang
ada dan kesiapan lokasi PLTP. Lokasi PLTP yang terpilih adalah: Tangkuban Perahu, Cisolok, Ungaran, Bedu-
gul, Kamojang, Salak, Darajat, Patuha,Wayang Windu, Karaha Bodas, Dieng, Ijen, Wilis/Ngebel, Batukuwung,
Endut, Mangunan, Slamet, Arjuno, Iyang Argopuro, Citaman-Karang.

Sedangkan lokasi PLTA yang terpilih untuk masuk dalam Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 adalah
PLTA Bakaru II (2x63 MW) dan PLTA Asahan III (174 MW), karena kedua proyek PLTA ini telah lebih siap untuk
dibangun dibandingkan proyek PLTA lainnya.

4.4.4 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)

Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel 4.13.
Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit-pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (in-
terkoneksi), dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 2.

Tabel 4.13 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
PLN
PLTU 115 2,020 6,293 1,544 1,671 2,548 356 1,000 6 - 2,200 17,753
PLTN - - - - - - - - - - - -
PLTP - - 28 228 367 231 155 - - 6 - 1,015
PLTGU 40 1,000 918 236 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,494
PLTG 170 40 439 5 100 15 - 1,400 245 1,520 - 3,934
PLTD - 48 60 20 10 8 7 11 3 3 5 173
PLTM - 9 2 29 8 13 9 - 0 1 - 70
PLTA - - - 10 280 11 1,026 128 459 922 1,000 3,835
Total 325 3,117 7,740 2,071 3,486 2,825 1,552 3,289 2,963 3,202 4,705 35,274
IPP -
PLTU 50 - 306 2,896 3,069 1,358 2,760 1,340 2,228 2,068 413 16,487
PLTN - - - - - - - - - - - -
PLTP 60 120 - 60 390 685 685 95 250 701 945 3,991
PLTGU - - 220 - - - - - - - - 220
PLTG - 230 208 - - - - - - - - 438
PLTD - - 3 - - - - - 3 - - 6
PLTM - - 18 92 13 - - - - - - 122
PLTA - - 180 145 - 45 45 - 380 110 - 905
Total 110 350 934 3,192 3,472 2,088 3,490 1,435 2,861 2,879 1,358 22,168
PLN+IPP -
PLTU 165 2,020 6,599 4,440 4,740 3,906 3,116 2,340 2,234 2,068 2,613 34,240
14
PLTN
WKP : wilayah kerja
- pertambangan
- - - - - - - - - - -
PLTP 60 120 28 288 757 916 840 95 250 707 945 5,006
PLTGU 40 1,000 1,138 236 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,714
PLTG 170 270 647 5 100 15 - 1,400 245 1,520 - 4,372
PLTD - 48 63 20 10 8 7 11 6 3 5 179
PLTM - 9 20 121 20 13 9 - 0 1 - 192
PLTA - - 180 155 280 56 1,071 128 839 1,032 1,000 4,740
Total 435 3,467 8,674 5,264 6,957 4,913 5,042 4,724 5,824 6,080 6,063 57,442
45
PLTP - - 28 228 367 231 155 - - 6 - 1,015
PLTGU 40 1,000 918 236 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,494
PLTG 170 40 439 5 100 15 - 1,400 245 1,520 - 3,934
PLTD - 48 60 20 10 8 7 11 3 3 5 173
PLTM - 9 2 29 8 13 9 - 0 1 - 70
PLTA Usaha Penyediaan
Rencana - - - 10 280 11 1,026 128 459 922 1,000 3,835
Total 325 3,117 7,740 2,071 3,486 2,825 1,552 3,289 2,963 3,202 4,705 35,274
Tenaga
IPP
Listrik 2009-2018 -
Bab PLTU
4 Rencana Penyediaan
50 - 306 2,896 3,069 1,358 2,760 1,340 2,228 2,068 413 16,487
Tenaga
PLTNListrik 2009- – 2018 - - - - - - - - - - -
PLTP 60 120 - 60 390 685 685 95 250 701 945 3,991
PLTGU - - 220 - - - - - - - - 220
PLTG - 230 208 - - - - - - - - 438
PLTD - - 3 - - - - - 3 - - 6
PLTM - - 18 92 13 - - - - - - 122
PLTA - - 180 145 - 45 45 - 380 110 - (Lanjutan)
905
Tahun
Total 2008110 2009350 2010
934 2011
3,192 2012
3,472 2013
2,088 2014
3,490 2015
1,435 2016
2,861 2017
2,879 2018
1,358 Total
22,168
PLN
PLN+IPP -
PLTU 115
165 2,020 6,293
6,599 1,544
4,440 1,671
4,740 2,548
3,906 356
3,116 1,000
2,340 6
2,234 -
2,068 2,200
2,613 17,753
34,240
PLTN - - - - - - - - - - - - -
PLTP -60 -
120 28 228
288 367
757 231
916 155
840 -95 -
250 6
707 -
945 1,015
5,006
PLTGU 40 1,000 918
1,138 236 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,494
8,714
PLTG 170 40
270 439
647 5 100 15 - 1,400 245 1,520 - 3,934
4,372
PLTD - 48 60
63 20 10 8 7 11 3
6 3 5 173
179
PLTM - 9 2
20 29
121 8
20 13 9 - 0 1 - 70
192
PLTA - - -
180 10
155 280 11
56 1,026
1,071 128 459
839 922
1,032 1,000 3,835
4,740
Total 325
435 3,117
3,467 7,740
8,674 2,071
5,264 3,486
6,957 2,825
4,913 1,552
5,042 3,289
4,724 2,963
5,824 3,202
6,080 4,705
6,063 35,274
57,442
IPP -
PLTU 50 - 306 2,896 3,069 1,358 2,760 1,340 2,228 2,068 413 16,487
PLTN - - - - - - - - - - - -
Tabel
PLTP 4.13 menunjukkan
60 hal-hal sebagai
120 - berikut:
60 390 685 685 95 250 701 945 3,991
PLTGU - - 220 - - - - - - - - 220
– PLTG
Tambahan kapasitas
- pembangkit
230 208 selama- 10 -tahun mendatang
- - untuk- seluruh- Indonesia - adalah
- 57,4 GW438
PLTD - - 3 - - - - - 3 - - 6
atau pertambahan
PLTM - kapasitas
- rata-rata
18 mencapai
92 13 5,7 GW
- per tahun.
- - - - - 122
PLTA - - 180 145 - 45 45 - 380 110 - 905
– Total
Dari kapasitas110 tersebut
350 PLN 934
akan membangun
3,192 3,472 sebanyak
2,088 35,3 GW
3,490 atau 61,5%
1,435 2,861 dari tambahan
2,879 1,358 kapasitas
22,168
PLN+IPP -
keseluruhan.
PLTU
Partisipasi
165 2,020
swasta
6,599
direncanakan
4,440 4,740
sebesar
3,906
22,2 GW
3,116
atau
2,340
38,5%2,234 2,068 2,613 34,240
PLTN - - - - - - - - - - - -
PLTP 60 120 28 288 757 916 840 95 250 707 945 5,006
PLTGU 40 1,000 1,138 236 1,050
PLTU
PLTG
batubara 170
akan mendominasi
270
jenis pembangkit
647 5 100
yang-15 -
akan dibagun,
-
750
yaitu
1,400
2,250
mencapai
245
750
34,2 GW
1,520
1,500
-
8,714
atau 59,5%,
4,372
sementara
PLTD
PLTM
PLTGU-
-
gas menempati
48
9
63
20
urutan 20
121
kedua20dengan13kapasitas
10 8 7
9
8,7 GW
-
11
atau0 15,2%.1 Untuk- energi 179
6 3 5
ter-
192
barukan, yang terbesar adalah panas bumi sebesar 5,0 GW atau 8,7% dari kapasitas total, disusul oleh PLTA
PLTA - - 180 155 280 56 1,071 128 839 1,032 1,000 4,740
Total 435 3,467 8,674 5,264 6,957 4,913 5,042 4,724 5,824 6,080 6,063 57,442
sebesar 4,7 GW atau 8,2%.

4.4.5. Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali

4.4.5.1. Garis Besar Penambahan Pembangkit

Pada Tabel 4.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu
sepuluh tahun mendatang di sistem Jawa-Bali.

Tabel 4.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:


– Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan untuk seluruh Jawa Bali adalah 40,9 GW atau
pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 4 GW per tahun.
– Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 27 GW atau 66% dari tambahan kapasitas kes-
eluruhan. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 13,9 GW atau 34%.
– PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 23,9 GW atau
58%, sementara PLTGU gas menempati urutan kedua dengan kapasitas 8,1 GW atau 20%. Untuk energi
terbarukan, yang terbesar adalah panas bumi sebesar 3,1 GW atau 7,6% dari kapasitas total, disusul oleh
PLTA sebesar 3,1 GW atau 7,6%.

46
Tabel 4.14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali [MW]

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
PLN
PLTU - 1,890 4,540 900 1,000 2,000 - 1,000 - - 2,000 13,330
PLTN -
PLTP -
PLTGU - 1,000 678 150 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,128
PLTG - - - - - - - 1,400 - 1,200 - 2,600
PLTA - - - - - - 1,000 - 62 922 1,000 2,984
Total - 2,890 5,218 1,050 2,050 2,000 1,000 3,150 2,312 2,872 4,500 27,042
IPP -
PLTU - - 130 1,570 1,560 960 2,320 1,000 1,800 1,200 - 10,540
PLTN -
PLTP 60 110 - - 225 415 505 40 140 640 945 3,080
PLTGU -
PLTG - 150 - - - - - - - - - 150
PLTA - - - - - - - - 30 110 - 140
Total 60 260 130 1,570 1,785 1,375 2,825 1,040 1,970 1,950 945 13,910
PLN+IPP -
PLTU - 1,890 4,670 2,470 2,560 2,960 2,320 2,000 1,800 1,200 2,000 23,870
PLTN - - - - - - - - - - - -
PLTP 60 110 - - 225 415 505 40 140 640 945 3,080
PLTGU - 1,000 678 150 1,050 - - 750 2,250 750 1,500 8,128
PLTG - 150 - - - - - 1,400 - 1,200 - 2,750
PLTA - - - - - - 1,000 - 92 1,032 1,000 3,124
Total 60 3,150 5,348 2,620 3,835 3,375 3,825 4,190 4,282 4,822 5,445 40,952

4.4.5.2. Neraca Daya

Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2018 berjumlah 40.952
MW, atau rata-rata sekitar 4.000 MW per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN ber-
jumlah 27.042 MW (66%) dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13.910 MW (34%). Jadwal dan kebutuhan
masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada Tabel 4.15.

47
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Tabel 4.15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali


No. Pasokan dan Kebutuhan 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Kebutuhan
Sales GW h 100,942 107,810 118,952 131,168 144,598 159,357 174,874 191,830 210,156 229,755 250,920
Pertumbuhan % 5.6 6.8 10.3 10.3 10.2 10.2 9.7 9.7 9.6 9.3 9.2
Produksi GW h 117,354 124,694 137,313 151,186 166,500 183,340 201,020 220,325 241,174 262,465 286,644
Faktor Beban % 76.0 75.5 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0
Beban Puncak Bruto MW 17,627 18,854 20,900 23,012 25,343 27,906 30,597 33,535 36,708 39,949 43,629
2 Pasokan MW
Kapasitas Terpasang 22,236 21,936 21,503 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327
PLN 18,371 18,071 17,638 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462
IPP 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865
Retired 0 -300 -433 -176 0 0 0 0 0 0 0
3 Tambahan Kapasitas
3.1 PLN
Ongoing Project MW - 2,890 5,218 900 - - - - - - -
Rencana
Upper Cisokan PS PS - - - - - - 1,000 - - - -
Muara Tawar Add-On 2,3,4 PLTGU - - - 150 1,050 - - - - - -
Bojanegara (LNG Terminal) PLTGU - - - - - - - 750 750 750 -
PLTGU Baru PLTGU - - - - - - - - 1,500 - 1,500
PLTG Baru PLTG - - - - - - - 1,400 - 1,200 -
PLTU Baru PLTU - - - - 1,000 2,000 - 1,000 - - 2,000
Kesamben PLTA - - - - - - - - - 37 -
Kalikonto-2 PLTA - - - - - - - - 62 - -
Matenggeng PS PS - - - - - - - - - 885 -
Grindulu PS PS - - - - - - - - - - 1,000
3.2 IPP
Ongoing Project MW 60 260 130 910 - - - - - - -
Rencana
Banten PLTU - - - - - - 660 - - - -
Madura PLT U - - - - 100 100 - - - - -
Bali Timur (Infrastruktur) PLTU - - - - - 200 - - - - -
Sumatera Mulut Tambang PLTU - - - - - - - - 1,800 1,200 -
PLTU Jawa Tengah (Infrastruktur) PLTU - - - - - - 1,000 1,000 - - -
Paiton #3-4 Exp (IPP) PLTU - - - - 800 - - - - - -
Tanjung Jati B Exp (IPP) PLTU - - - 660 660 - - - - - -
PLTU Jabar (Ex. Tj Jati A) PLTU - - - - - 660 660 - - - -
Panas Bumi PLTP - - - - 225 415 505 40 140 640 945
Rajamandala PLTA - - - - - - - - 30 - -
Jatigede PLTA - - - - - - - - - 110 -
4 Jumlah Pasokan 22,296 25,146 30,061 32,505 36,340 39,715 43,540 47,730 52,012 56,834 62,279
5 Cadangan % 26 33 44 41 43 42 42 42 42 42 43

Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2011), tambahan pembangkit dari proyek-proyek yang saat ini
sedang dalam tahap pembangunan (proyek on-going) berjumlah 10.368 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN
berjumlah 9.008 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No.71/2006 dan sisanya sebesar 1.368
MW adalah proyek IPP.

Dalam jangka menengah (2012 – 2014) tambahan pembangkit yang berupa proyek PLN berjumlah 4.825
MW, dimana tambahan sebesar 4.200 MW adalah proyek Program Percepatan Tahap II, sedangkan proyek
IPP berjumlah 7.645 MW, dimana 3.145 MW merupakan proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2.
Dengan demikian total proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 di Jawa Bali berjumlah 7.345 MW.

Dalam jangka panjang (2015 – 2018) jumlah penambahan kapasitas pembangkit adalah 17.739 MW, yang
terdiri dari pembangkit PLN sebesar 12.834 MW dan IPP sebesar 4.905 MW.

Sampai tahun 2009 penambahan kapasitas pembangkit terdiri dari pembangkit yang dalam tahap pembangun­
an (on going project), yaitu PLTU Labuhan 600 MW, PLTU Teluk Naga 300 MW, PLTU Jabar Selatan 300 MW,
PLTU Jabar Utara 300 MW, PLTU Rembang 600 MW, PLTU Jatim Selatan 300 MW, PLTU Tanjung Awar-awar,
beberapa proyek IPP yang sudah dalam pelaksanaan, PLTP Drajat III 110 MW, PLTP Kamojang IV 60 MW,
PLTP Wayang Windu 110 MW.

48
Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali terlihat dengan jelas pada tabel
4.14 dimana PLN tidak lagi merencanakan pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak, kecuali be-
berapa pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan menggunakan bahan bakar
minyak atau LNG jika tersedia. Disamping PLTG peaker tersebut akan dibangun juga tiga buah PLTA Pump
Storage sebagai pemikul beban puncak, yaitu Upper Cisokan di Jawa barat dengan kapasitas 1.000 MW,
Matenggeng di perbatasan Jawa barat dengan Jawa Tengah sebesar 885 MW dan Grindulu di Jawa Timur
sebesar 1.000 MW.

Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering Muara Karang dan Priok dan
Muara Tawar Blok 5) akan dibangun PLTGU dengan kapasitas 6.450 MW yang akan menggunakan bahan
bakar gas alam dan LNG, termasuk diantaranya PLTGU Muara Tawar Add-on blok 2, 3, 4 dengan total kapa-
sitas 1.200 MW, dan PLTGU LNG Bojanegara 3 x 750 MW. Munculnya kebutuhan PLTGU sebesar 6.450 MW
tersebut adalah dengan asumsi tersedia pasokan gas.

Sejalan dengan tindakan korporasi PLN yang akan mengembangkan dan membangun LNG receiving termi-
nal secara konsorsium bersama dengan BUMN lain, maka PLTGU Bojanegara yang dalam proses simulasi
pengembangan pembangkit optimal direncanakan berbahan bakar gas alam, diubah menjadi pembangkit ber-
bahan bakar LNG. Harga LNG yang lebih tinggi daripada harga gas alam akan menyebabkan produksi energi
atau capacity factor PLTGU ini rendah, dan hal ini akan dibahas lebih lanjut pada butir 4.4.4.3 mengenai
proyek-proyek strategis dan butir 4.5 mengenai proyeksi neraca energi dan kebutuhan bahan bakar.

Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban dasar akan dibangun PLTU batubara supercritical kelas 1.000
MW oleh PLN dan IPP, serta beberapa PLTP yang direncanakan akan dibangun oleh IPP.

Disamping itu PLN merencanakan untuk membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera – Jawa
yang akan menyalurkan listrik sebesar 3.000 MW dari PLTU mulut tambang di Sumatera Selatan ke Jawa.

Dalam rencana pengembangan pembangkit sistem Jawa-Bali, PLTN kelas 1.000 MW juga dibuka sebagai
salah satu kandidat proyek, tujuannya untuk mendapatkan suatu sistem tenaga listrik dengan konfigurasi pem-
bangkitan yang lebih beraneka ragam, sehingga tidak terlalu bergantung / mengandalkan pada satu sumber
energi primer-dalam hal ini batu bara. Namun simulasi menunjukkan bahwa PLTN tidak dapat bersaing dengan
kandidat pembangkit beban dasar lainnya karena tingginya harga kapital dari teknologi ini.

4.4.5.3. Proyek-proyek Strategis

Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut :
• PLTGU Muara Tawar Add-on (1.200 MW). Proyek ini sangat strategis karena disamping masa pemba­
ngunannya tercepat dibandingkan proyek lainnya (diperkirakan dapat beroperasi tahun 2011 dan 2012),

49
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

pembangkit ini juga berlokasi sangat dekat dengan pusat beban, dan dapat memperbaiki kualitas tegang­
an. Namun kelayakan proyek ini mensyaratkan adanya pasokan gas alam yang cukup.
• PLTA Pompa Upper Cisokan (1,000 MW). Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan biaya
operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik, antara lain berfungsi
sebagai pengatur frekuensi, sebagai spining reserve (cadangan putar) dan membantu memperbaiki sta-
bilitas sistem.
• PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC Sumatera – Jawa. Proyek ini sangat
strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Jawa
dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatera Selatan. Pilihan proyek ini juga didorong oleh
semakin sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa.
• PLTGU Bojanegara dan LNG receiving terminal. Sejalan dengan kenaikan harga-harga energi primer
akhir-akhir ini, harga LNG telah meningkat sangat tinggi, yaitu di atas US$10/mmbtu. Pada harga tersebut,
PLTGU bahanbakar LNG akan sulit berkompetisi melawan PLTU batubara yang dioperasikan untuk meng­
isi intermediate load. Namun proyek ini berpotensi memberikan manfaat operasional, yaitu gasnya dapat
disalurkan melalui pipa ke teluk Jakarta untuk mengoperasikan PLTGU Muara Karang, Priok dan Muara
Tawar yang pasokan gas alamnya belum mencukupi dan justru terus menurun akibat depletion. Peran
PLTGU-PLTGU tersebut sangat strategis karena berlokasi di pusat beban, dan tidak dapat digantikan
peranannya oleh pembangkit-pembangkit lain yang berlokasi di luar Jakarta.

4.4.5.4. Regional Balance Sistem Jawa Bali

Apabilia dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat, Jawa Tengah dan
Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.16, maka pengembangan proyek pembangkit baru
sebaiknya berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance.

Tabel 4.16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2008

Regional Balance Jawa Bagian Barat Jawa Tengah Jawa Timur dan Bali
Kapasitas Terpasang (MW) 11.459 3.675 7.102
Tambahan Kapasitas (MW) 60 - -
Total (MW) 11.519 3.675 7.102
Beban Puncak (MW) 9.626 2.656 4.156
Reserve (%) 20 38 70

Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian barat sebelah timur (seputar Karawang, Indramayu,
Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah barat (seputar Tegal, Pemalang, Pekalongan).

Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum mengalami kendala penyaluran lis-
trik ke arah barat karena adanya transmisi 500 kV jalur selatan. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit
baru tidak mempertimbangkan regional balance, maka pada masa yang akan datang diperkirakan akan mun-

50
cul kendala penyaluran. Penerapan regional balance dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari
keperluan untuk membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau Jawa.

Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran A.

4.4.��������������������������������������������������������������
6�������������������������������������������������������������
. Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Sistem Luar Jawa Bali

Sistem PLN di luar Jawa Bali terdiri dari 5 sistem interkoneksi, yaitu: (1) Sistem Sumatera, (2) Sistem Kaliman-
tan Barat, (3) Sistem Kalimatan Selatan-Timur, (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawei Selatan.

Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat tiga sistem isolated yang cukup besar dengan be-
ban puncak di atas 50 MW, yaitu Bangka, Lombok, Tanjung Pinang dan Palu, dan terdapat beberapa sistem
isolated dengan beban puncak di atas 10 MW, yaitu Jayapura, Sorong, Ambon, Ternate, Kupang, Sumbawa,
Bima, Luwuk, Gorontalo, Kendari, Kolaka, Bau-Bau, Bontang, Sampit, Pangkalan Bun, Sintang, Ketapang,
Belitung, Rengat, Tanjung Balai Karimun, Sungai Penuh, Takengon, Meulaboh.

4.4.�����������������������������������������������������
6.1. Garis Besar Penambahan Pembangkit Luar Jawa Bali

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2018 diperlukan tambahan kapasitas pem-
bangkit sebesar 16,490 MW termasuk committed & ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 4.17.

Dari tabel 4.16 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2018 di luar Jawa-Bali yang
dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8,2 GW (50%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak
8,3 GW (50%), yaitu hampir sama banyak dengan pembangkit yang dibangun oleh PLN.

Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil khususnya Indonesia bagian timur
yang besar bebannya belum cukup tinggi untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil.

Pengembangan pembangkit panas bumi PLTP diproyeksikan cukup besar, yaitu 1.926 MW dan juga PLTA
sebesar 1.616 MW. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan.

Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2019-2018 ini adalah
PLT Bayu dan PLT Surya (photo voltaic) dalam skala relatif kecil.

51
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Tabel������������������������������������������������������
4.17 Kebutuhan Pembangkit Sistem Luar Jawa-Bali [MW]

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
PLN
PLTU 115 130 1,753 644 671 548 356 6 200 4,423
PLTP 28 228 367 231 155 6 1,015
PLTGU 40 240 86 366
PLTG 170 40 439 5 100 15 245 320 1,334
PLTD 48 60 20 10 8 7 11 3 3 5 173
PLTM 9 2 29 8 13 9 0 1 70
PLTA 10 280 11 26 128 397 851
Total 325 227 2,522 1,021 1,436 825 552 139 651 330 205 8,232
IPP -
PLTU 50 176 1,326 1,509 398 440 340 428 868 413 5,947
PLTP 10 60 165 270 180 55 110 61 911
PLTGU 220 220
PLTG 80 208 288
PLTD 3 3 6
PLTM 18 92 13 122
PLTA 180 145 45 45 350 765
Total 50 90 804 1,622 1,687 713 665 395 891 929 413 8,258
PLN+IPP -
PLTU 165 130 1,929 1,970 2,180 946 796 340 434 868 613 10,370
PLTP - 10 28 288 532 501 335 55 110 67 - 1,926
PLTGU 40 - 460 86 - - - - - - - 586
PLTG 170 120 647 5 100 15 - - 245 320 - 1,622
PLTD - 48 63 20 10 8 7 11 6 3 5 179
PLTM - 9 20 121 20 13 9 - 0 1 - 192
PLTA - - 180 155 280 56 71 128 747 - - 1,616
Total 375 317 3,326 2,644 3,122 1,538 1,217 534 1,542 1,258 618 16,490

4.4.�����
6.2. Neraca Daya

Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran B.

4.4.6.3. Proyek – Proyek Strategis

Beberapa proyek kelistrikan strategis di luar Jawa- Bali meliputi antara lain:
– Penyelesaian sistem transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian
Utara,
– PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2012, sangat strategis untuk
memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara,
– PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke
sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC,
– Beberapa PLTU batubara klas 100 MW – 200 MW, baik oleh PLN sebagai proyek Percepatan maupun oleh
IPP, tersebar di berbagai sistem untuk memperbaiki fuel mix,
– Beberapa pembangkit panas bumi di Sumatera dan Sulawesi Utara.
– Impor tenaga listrik dari Serawak ke Kalimantan Barat terkait dengan pengembangan PLTA Bakun oleh
Serawak, diperkirakan PLN akan membeli listrik mulai tahun 2011 jika pembangunan PLTU Gambut di
Kalimantan Barat oleh swasta terkendala.
– Interkoneksi Batam – Bintan dengan kabel laut 150 kV diperkirakan tahun 2010 jika pembangunan PLTU
Tanjung Kasam di Batam selesai.

52
4.4.�����������������������������
7 Partisipasi Listrik Swasta

Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang sangat besar,
yaitu mencapai 40%. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 4.18 dan Tabel 4.19.

Pada kedua tabel tersebut, yang dimaksud dengan proyek berjalan adalah proyek IPP yang secara resmi telah
mendapat pendanaan (financial closure). Sedangkan proyek IPP dalam rencana meliputi mereka yang telah
mempunyai PPA, atau HOA, atau belum mempunyai keduanya namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini
sebagai kebutuhan sistem. Proyek IPP yang statusnya belum mempunyai PPA/HOA akan diadakan oleh PLN
melalui proses tender kompetitif.

Untuk membuat PLN Wilayah lebih tanggap dalam mengatasi permasalahan kelistrikan di wilayahnya, PLN
mengeluarkan kebijakan untuk mendelegasikan proses pengadaan IPP ke Unit Bisnis (PLN Wilayah) untuk
IPP dengan kapasitas maksimum 50 MW dan terhubung dengan sistem 20 kV. Namun demikian perencanaan
pengembangan sistem di PLN Wilayah tetap harus mengacu kepada RUPTL.

Tabel 4.18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali

Kapasitas Tahun Kapasitas Tahun


Nama Pembangkit Nama Pembangkit
(MW) Operasi (MW) Operasi
Proyek Berjalan 1 x 70 2013
PLTP Wayang Windu
PLTP Kamojang 4 1 x 60 2008 1 x 50 2017

PLTP Wayang Windu 1 x 110 2009 1 x 30 2012

PLTU Cirebon 1 x 660 2011 PLTP Karaha Bodas 1 x 110 2014

PLTU Celukan Bawang 3 x 130 2010-2011 1 x 110 2018

Proyek Dalam Rencana 1 x 55 2012

PLTU Paiton 3-4 Expansion 1 x 800 2012 PLTP Dieng 1 x 55 2017

PLTU Tanjung Jati B Expansion 2 x 660 2011-2012 1 x 55 2018

PLTU Banten 1 x 660 2014 PLTP Ijen 1 x 30 2014

PLTU Madura 2 x 100 2012-2013 PLTP Wilis/Ngebel 1 x 110 2014

PLTU Bali Timur Infrastruktur 2 x 100 2013 1 x 55 2017


PLTP Batu Kuwung
PLTU Jawa Tengah 2 x 1000 2014-2015 1 x 110 2018

PLTU Sumatera Mulut Tambang15 5 x 600 2016-2017 1 x 110 2017


PLTP Endut
PLTU Jabar (ex Tj Jati A) 2 x 660 2013-2014 1 x 110 2018

PLTGU Cikarang Listrindo 150 2009 1 x 30 2017


PLTP Mangunan
PLTP Cibuni 10 2013 1 x 55 2018

PLTP Dieng 60 2014 1 x 55 2017


PLTP Slamet
PLTP Patuha 180 2013 1 x 110 2018

PLTP Bedugul 1 x 10 2010 2 x 55 2017


PLTP Arjuno
1x60 2011 2018
PLTP Kamojang
1x40 2013 1 x 55 2017
PLTP Iyang Argopuro
PLTP Salak 1x40 2013 1 x 220 2018

1x20 2012 1 x 10 2017


PLTP Darajat PLTP Citaman Karang
1x55 2013 1 x 10 2018

15
PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem Jawa Bali karena sebagian besar produksinya akan ditransfer ke
Jawa dengan menggunakan transmisi HVDC

53
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Tabel 4.19 Daftar Proyek IPP di Luar Jawa Bali

Kapasitas Tahun Kapasitas Tahun


Nama Pembangkit Nama Pembangkit
(MW) Operasi (MW) Operasi
Proyek Berjalan PLTA Merangin 350 2016
PLTP Sibayak 1 x 10 Mid 2008 PLTM Batu Balai, Manna 2x2 2011
PLTA Asahan 1 2 x 90 2010 PLTM Pakkat 2x5 2011
PLTM Parluasan 2 x 2.1 2009 PLTP Sarulla 330 2011
PLTU Lampung Tengah 2x6 2010 PLTM Manggani 1 x 1.17 2011
PLTU Bangka 2 x 10 2010 PLTU Air Anyer 2x6 2010
PLTU Tanjung Pinang 2 x 10 2010 PLTU Cangkang, Bangka 1x5 2010
PLTM Hutaraja 2 x 2.2 2009 PLTU Baru (Bangka) 2 x 15 2013
PLTU Embalut 2 x 25 2008 PLTU Cangkang, Belitung 2x7 2010
PLTU Pontianak 2 x 25 2011 PLTU Belitung 2x6 2010
PLTU Tanah Grogot 2x7 2010 PLTU Sintang 2 x 10 20,112,012
PLTU Ketapang 2x6 2010 PLTU Kota Baru 2x6 2015, 2016
PLTG Sengkang (eksp. 1) 1 x 60 2008 PLTU Pangkalan Bun 2x7 2010
PLTU Gorontalo 2x6 2010 PLTG Senipah 80 2010
PLTM Ranteballa 2 x 1.2 2010 PLTG Menamas 20 2019
Proyek Dalam Rencana PLTU Kaltim Infrastructur 2 x 60 20,122,013
PLTG Keramasan 2 x 50 2010 PLTU Nunukan 2x6 2011, 2012
PLTU Gn Megang (add on) 1 x 40 2010 PLTU Melak 3x5 2011-2014
PLTU Rengat 2x7 2010 PLTU Berau 3 x 10 2010, 2015
PLTU Kalianda 2x6 2010 PLTU Gambut, Pontianak 3 x 67 2011-2013
PLTU Tembilahan 2x7 2010 PLTU Pontianak Kmitraan 2 x 25 2011
PLTU Tj. Balai Karimun 2x6 2010 PLTU New Sulsel 2 x 100 2018
PLTU New Sumut 3 x 200 2017, 2018 PLTU Sulsel – 1 2 x 100 2013, 2014
PLTU Sumut Infrastructure 2 x 100 2012 PLTU Bau Bau 2x7 2010
PLTU NAD 1 x 30 2010 PLTU PJPP II 2 x 15 2011, 2012
PLTU Sumsel - 4 2 x 113.5 2011, 2012 PLTU Molotabu 2 x 10 2010, 2011
PLTU Sumsel - 1 2 x 100 2011, 2012 PLTA Poso 3 X 65 2010
PLTU Sumsel - 2 2 x 100 2012, 2013 PLTA Malea 2 x 45 2015, 2016
PLTU Sumsel - 5 2 x 150 2014, 2015 PLTU Kendari 2 x 10 2010
PLTU Sumsel HVDC16 400 2016, 2017 PLTU Kendari (rencana) 2 x 15 2015, 2016
PLTU Riau Mulut Tambang 2 x 150 2016, 2017 PLTU Sulut 2 x 55 2015, 2016
PLTP Sibayak 1 x 10 2009 PLTU New Sulut 55 2018
PLTP Sorik Merapi 1 x 55 2012 PLTU Sulut Infrastructure 2 x 25 2011, 2012
PLTP Sarulla 3 x 110 2010-2012 PLTU Labuhan 2x6 2010
PLTP Pusuk Bukit 2 x 55 2014, 2015 PLTU Lombok 2 x 25 2011, 2012
PLTP Simbolon 2 x 55 2015, 2016 PLTP Ulumbu 2x3 2011, 2012
PLTP Sipaholon 1 x 30 2012 PLTU Ambon 2x6 2010, 2011
PLTP Rajabasa 2 x 55 2012, 2013 PLTU Ternate 2x6 2011
PLTPWai Ratai 2 x 55 2014, 2015 PLTU Jayapura 2 x 10 2011
PLTP G. Talang 1 x 55 2017 PLTU Jayapura (rencana) 2 x 10 2016, 2017
PLTP Kerinci 1 x 20 2011

16
PLTU Sumsel HVDC sebesar 400 MW merupakan kapasitas yang disalurkan ke sistem Sumatra dari kapasitas total 3,600 MW

54
4.5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN
BAKAR

Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.3 dan konfigurasi pembangkit pada butir 4.4,
selanjutnya dilakukan simulasi produksi energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP, dan hasilnya diper-
lihatkan pada Tabel 4.20 dan Gambar 4.4.

Tabel 4.20 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Total Indonesia (GWh)
Tahun BBM Gas LNG Batubara Hydro PS PLTP Jumlah
2008 36.618 25.790 66.088 11.020 8.105 147.622
2009 29.461 32.538 75.526 10.827 8.526 156.880
2010 8.115 36.736 108.029 12.251 8.687 173.818
2011 4.327 35.950 127.235 13.113 11.206 191.832
2012 3.051 39.502 136.814 14.808 16.945 211.120
2013 2.340 45.327 148.173 14.911 21.847 232.598
2014 2.706 45.063 163.799 14.952 862 27.971 255.353
2015 3.229 45.931 1.936 181.974 16.196 841 29.440 279.546
2016 3.712 49.895 4.832 196.174 19.623 772 31.048 306.056
2017 4.543 50.673 7.443 212.513 20.871 1.411 35.972 333.426
2018 5.554 54.828 8.544 229.370 20.919 2.304 43.283 364.802

Pada Tabel 4.20 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang punggung sistem pembangkit­
an Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun mendatang, disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit
energi terbarukan, sementara pembangkit berbahanbakar minyak direncanakan semakin jauh berkurang. Hal
ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi konsumsi BBM.

Pada tahun 2007 konsumsi BBM masih sebesar 18,5%, dan direncanakan menurun menjadi 4,7% pada 2010
dan 1,2% pada 2018. Sementara itu kontribusi batubara akan meningkat dari 49,7% pada tahun 2007, akan
naik menjadi 61,2% pada tahun 2010, dan 64,1% pada 2018. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun
2007 adalah 18,1%, akan meningkat menjadi 21,1% pada tahun 2010, dan 17,2% pada tahun 2018.

55
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Gambar 4.4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Total Indonesia (GWh)

400,000

350,000

300,000

250,000
GWh

200,000

150,000

100,000

50,000

-
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

HYDRO GEOTHERMAL NUCLEAR BATUBARA GAS LNG MFO HSD Pum p Storage

Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi dalam penyediaan listrik yang
semakin besar secara signifikan.

Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 4.20 diperlukan bahan bakar dengan volume yang diperlihatkan
pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia Tahun 2008 – 2018

No. FUEL TYPE 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 HSD ( x 1000 kL ) 6,797.2 5,651.1 1,912.3 960.9 701.7 547.1 642.1 806.7 949.0 1,239.3 1,550.7
2 MFO ( x 1000 kL ) 3,954.6 2,657.0 513.1 151.7 130.9 125.0 135.9 144.4 155.9 165.7 183.6
3 GAS (bcf) 246.4 334.3 361.5 353.1 380.2 418.3 416.3 424.2 457.3 465.0 501.2
4 LNG (bcf) - - - - - - - 16.8 41.8 64.4 73.9
5 COAL (10^6 TON) 32.5 35.8 52.4 61.8 65.7 69.9 77.4 84.9 91.8 99.8 107.1

4.5.1 Sistem Jawa-Bali

Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2008 - 2018 berdasarkan jenis
bahan bakarnya diberikan pada Tabel 4.22 dan Gambar 4.5.

Dalam kurun waktu 2008-2018, kebutuhan batubara meningkat 289% dan kebutuhan gas alam meningkat
280%, sedangkan kebutuhan BBM menurun 91%.

Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan pemerintah me­
ngenai diversifikasi energi, yaitu mengurangi pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan
gas.

56
Tabel 4.22 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem Jawa-Bali (GWh)

No. FUEL TYPE 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 HSD 15,675 15,793 2,987 1,394 943 174 260 489 628 985 1,277
2 MFO 9,271 4,969 565 381 363 365 355 365 366 355 361
3 GAS 19,805 23,385 26,671 25,240 29,856 36,396 36,795 37,847 42,497 43,587 47,789
4 LNG - - - - - - - 1,936 4,832 7,443 8,544
5 BATUBARA 60,001 67,214 93,805 110,879 120,313 128,548 140,932 156,439 168,208 179,443 190,229
6 HYDRO 5,534 5,273 5,273 5,273 5,273 5,273 5,273 5,273 5,630 5,987 5,987
Pump Storage - - - - - - 862 841 772 1,411 2,304
7 GEOTHERMAL 7,808 8,044 8,013 8,031 9,800 12,965 17,327 17,645 18,780 23,675 30,982
8 NUCLEAR - - - - - - - - - - -
TOTA L 118,094 124,678 137,314 151,199 166,548 183,721 201,806 220,835 241,713 262,888 287,473

Gambar 4.5 Komposisi Produksi Energi per Jenis Pembangkit Sistem Jawa-Bali

350,000

300,000

250,000

200,000
GWh

150,000

100,000

50,000

-
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

HYDRO GEOTHERMAL NUCLEAR BATUBARA GAS LNG MFO HSD Pum p Storage

Pada Tabel 4.22 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya, yaitu 66,2% dari seluruh produk-
si pada tahun 2018. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 7.808 GWh pada tahun 2008
menjadi 30.982 GWh pada tahun 2018, atau meningkat hampir 4 kali lipat. Sedangkan pangsa tenaga air
relatif tidak berubah karena potensi hidro di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk dikembangkan. Produksi listrik
dari gas alam mengalami peningkatan sejak tahun 2008 menjadi 2,4 kali pada tahun 2018. Hal ini disebabkan
karena pasokan gas alam untuk PLTGU diasumsikan ada dengan volume yang cukup.

Tabel 4.23 Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali

No. FUEL TYPE 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 HSD ( x 1000 kL ) 4,491.6 3,840.9 825.3 338.4 236.3 64.6 97.6 187.6 245.7 390.6 516.9
2 MFO ( x 1000 kL ) 2,616.1 1,501.3 163.4 109.5 104.2 104.7 102.0 104.8 105.0 102.0 103.5
3 GAS (bcf) 179.4 232.1 255.7 243.3 279.7 326.5 331.8 341.2 381.1 391.1 427.7
4 LNG (bcf) - - - - - - - 16.8 41.8 64.4 73.9
5 COAL (10^6 TON) 29.2 31.2 44.1 52.2 55.8 58.1 63.9 69.8 75.3 80.4 84.3

Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 4.23. Vo­
lume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2018. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana
pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.

57
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

4.5.2 Sistem Luar Jawa-Bali

Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik, maka komposisi produksi
listrik per jenis energi primer diproyeksikan pada tahun 2018 akan menjadi 50,6% batubara, 9,1% gas alam,
19,3% hidro, 5,1% minyak dan 15,9% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 4.24 dan Gambar 4.6.
Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku & Pa­
pua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran B.

Tabel 4.24 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem-Sistem Luar Jawa-Bali (GWh)

No. FUEL TYPE 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 HSD 8,026 5,743 3,580 2,419 1,645 1,727 1,966 2,228 2,529 2,966 3,619
2 MFO 3,646 2,957 983 133 100 75 125 146 189 236 297
3 GAS 5,985 9,153 10,065 10,710 9,646 8,932 8,268 8,085 7,398 7,086 7,039
4 LNG
5 BATUBARA 6,087 8,312 14,224 16,356 16,501 19,624 22,866 25,534 27,966 33,070 39,141
6 HYDRO 5,486 5,554 6,978 7,840 9,535 9,638 9,679 10,923 13,993 14,884 14,932
Pump Storage
7 GEOTHERMAL 298 482 674 3,174 7,146 8,882 10,644 11,794 12,268 12,297 12,301
8 NUCLEAR
TOTA L 29,527 32,202 36,505 40,633 44,573 48,877 53,548 58,711 64,343 70,538 77,329

Gambar 4.6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem-Sistem Luar Jawa-Bali (GWh)

90,000

80,000

70,000

60,000

50,000
GWh

40,000

30,000

20,000

10,000

-
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

HYDRO GEOTHERMAL BATUBARA GAS MFO HSD

58
Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2018 diberikan pada Table 4.25.

Tabel 4.25 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Luar Jawa-Bali 2008 s/d 2018

No. FUEL TYPE 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 HSD ( x 1000 kL ) 2,305.6 1,810.3 1,087.0 622.5 465.5 482.5 544.6 619.1 703.3 848.7 1,033.8
2 MFO ( x 1000 kL ) 1,338.5 1,155.7 349.8 42.2 26.8 20.3 33.8 39.6 50.9 63.6 80.1
3 GAS (bcf) 67.1 102.2 105.8 109.8 100.5 91.7 84.5 83.0 76.2 73.9 73.5
4 LNG (bcf)
5 COAL (10^6 TON) 3.4 4.6 8.3 9.6 9.9 11.7 13.5 15.0 16.5 19.4 22.9

Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 4.24 yang terus menurun sesungguhnya masih jauh di bawah ke-
butuhan, hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN. Sebagai contoh, pa-
sokan gas untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena depletion. Idealnya
gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat pembangkit.

Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan
bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik. Kebutuhan
��������������������������������������������������������
batubara pada tahun 2008 sekitar 3,4 juta ton
akan meningkat tajam menjadi 22.9 juta ton pada tahun 2018, atau hampir sepuluh kali lipat untuk 10 tahun
mendatang.

4.6 ANALISIS SENSITIVITAS

RUPTL 2009 – 2018 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem kelistrikan dengan skenario tunggal,
karena diperlukan adanya rencana program pengembangan kapasitas pembangkit, transmisi dan distribusi
yang pasti. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi di sektor ketenagalistri-
kan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan kapasitas.

Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa variabel ketidakpastian yang di luar
kendali PLN, misalnya harga bahan bakar, harga EPC proyek, proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik,
dan lain-lain. Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana pengembangan
sistem kelistrikan, maka dalam RUPTL ini telah dilakukan analisis sensitivitas.

Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada, analisis sensitivitas dalam RUPTL ini hanya dibuat untuk
perubahan harga bahan bakar. Hal ini dilakukan karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling
volatile dan dapat berubah secara cepat dan lebar, sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih terbatas.
Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis
risiko pada Bab 7.

59
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 Cases di luar base Case17 untuk sistem Jawa Bali, karena
sistem ini merupakan sistem terbesar di Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di
wilayah-wilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas diberikan pada Tabel 4.26.

Tabel 4.26 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas

HARGA
Case
Crude OilUS$/barel CoalUS$/ton GasUS$/mmbtu LNGUS$/mmbtu
Base Case 140 90 6 10
Case 1 70 90 6 10
Case 2 140 80 6 10
Case 3 140 100 6 10
Case 4 140 90 7 10

Tabel 4.27 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar

No. Case Study Unit Base Case Case-1 Case-2 Case-3 Case-4
1 Fuel Price
Crude USD/bbl 140 70 140 140 140
Coal USD/ton 90 90 80 100 90
Gas USD/MMBtu 6 6 6 6 7
LNG USD/MMBtu 10 10 10 10 10
2 Obj. Function 10^3 USD 55,324,374 54,915,412 52,569,788 57,959,382 56,463,970
% 100 99 95 105 102
3 Capacity Addition MW
Coal 13,000 13, 000 21,000 12,000 21, 000
CCPP 8,250 8,250 1,500 9,000 1, 500
GTPP 3,000 3,000 1,800 3,400 1, 800
Jumlah 24,250 24, 250 24,300 24,400 24, 300

Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak penurunan harga minyak mentah terhadap rencana pengem-
bangan sistem, Case 2 untuk melihat dampak penurunan harga batubara, Case 3 untuk melihat pengaruh
kenaikan harga batubara, dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas.

Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa penurunan harga minyak dari US$140 menjadi separohnya
tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis, kapasitas dan jadwal), dan hanya menurunkan nilai objective
function biaya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.27. Hal
������������������������������������������������
ini dapat dimengerti karena porsi pemakaian
BBM memang sangat kecil, yaitu hanya 0,5% dari fuel mix pada tahun 2018, dengan demikian RUPTL ini tidak
sensitif terhadap perubahan harga minyak.

Sementara penurunan harga batubara sedikit saja dari $90 menjadi $80 pada Case 2 akan menambah ka-
pasitas PLTU batubara dari 13.000 MW (base Case) menjadi 21.000 MW (Case 2), dengan mengambil alih

17
Base Case adalah Case yang diadopsi dalam RUPTL 2009 – 2018 ini.

60
pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU dan PLTG). Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif
terhadap penurunan harga batubara. Namun banyaknya PLTU batubara akan menyebabkan pembangkit
yang seharusnya memikul beban dasar menjadi beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian dari-
padanya akan mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.

Sebaliknya jika harga batubara naik sedikit dari $90 menjadi $100 (Case 3), maka kapasitas PLTU batubara
hanya akan sedikit menurun dari 13.000 MW (base Case) menjadi 12.000 MW dan peranannya digantikan
dengan pembangkit berbahan bakar gas. Tidak sensitifnya RUPTL ini terhadap kenaikan harga batubara
adalah karena harga gas yang sudah relatif tinggi, sehingga pembangkit gas tidak dapat bertambah banyak
untuk menggantikan batubara.

Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4), maka kapasitas pembangkit batubara akan naik
tajam dari 13.000 MW (base Case) menjadi 21.000 MW. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensi-
tif terhadap kenaikan harga gas. ���������������������������������������������������������������
Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana combined cycle
plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit lainnya. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6, maka
combined cycle tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $90, dan peranan
pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara.

4.7 PROYEKSI EMISI CO2

Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2009-2018, sebagaimana dapat dilihat pada butir 2.2 mengenai
kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit dan butir 4.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit, be-
lum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya. Namun demikian, RUPTL ini tidak
mengabaikan aspek emisi CO2. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetap-
kan masuk dalam sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah. Penggunaan
teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi
emisi CO2 dari pembangkitan tenaga listrik.

Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam
ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC18.

4.7.1 Emisi CO2 Indonesia

Gambar 4.7 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan
dengan fuel mix seperti pada gambar 4.4. Dari gambar 4.7 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan
meningkat dari 116 juta ton menjadi 270 juta ton pada tahun 2018. Dari 270 juta ton emisi tersebut, 228 juta
ton (84.5%) berasal dari pembakaran batubara.

18
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories.

61
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

Gambar 4.7 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (gabungan Indonesia)

280,000
Emisi x1000 tCO2

210,000

140,000

70,000

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun
Batubara Gas LNG HSD MFO

Average grid emission factor19 untuk Indonesia pada tahun 2008 adalah 0,787 kgCO2/kWh, akan membaik
sehingga average grid emission factor pada tahun 2018 menjadi 0,741 kgCO2/kWh.

4.7.2 Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali

Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada gambar 4.8. Emisi naik dari 94 juta ton menjadi
213 juta ton, atau naik 2,2 kali lipat. Grid emission factor membaik dari 0,798 kgCO2/kWh menjadi 0,744
kgCO2/kWh. Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam, panas bumi dan peng-
gunaan teknologi supercritical.

Gambar 4.8 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali

220,000
Emisi x1000 tCO2

165,000

110,000

55,000

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun
Batubara Gas LNG HSD MFO

19
Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh]

62
4.7.3 Emisi CO2 di Luar Jawa-Bali

Gambar 4.9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar di Luar Jawa Bali

60,000

55,000
Emisi x1000 tCO2

50,000

45,000

40,000

35,000

30,000

25,000

20,000

15,000

10,000

5,000

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun
Batubara Gas HSD MFO

Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Luar Jawa Bali diperlihatkan pada gambar 4.9. Emisi naik
dari 22 juta ton menjadi 57 juta ton, atau naik 2,6 kali lipat. Namun grid emission factor membaik dari 0,745
kgCO2/kWh menjadi 0,732 kgCO2/kWh. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari
pemanfaatan panas bumi dan hidro.

4.8 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU


INDUK

Pada periode 2009-2018 pengembangan sistem penyaluran masih berupa pengembangan sistem dengan
tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali serta tegangan 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Luar
Jawa-Bali. Pembangunan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara
kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Disamping itu juga sebagai
usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru
maupun expansion, menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik. Khusus untuk pasokan ke
sistem Jakarta, pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan menggunakan jalur transmisi 150 kV atau
70 kV. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan
sebagai transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru.

63
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

4.8.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali

Pada Tabel 4.28 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.

Tabel 4.28 : Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali

KEBUTUHAN TRANSMISI JAWA-BALI 2008-2018


Satuan kms

TRANSMISI 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total

500 kV AC 159 127 4 329 920 606 444 100 60 340 3,089

500 kV DC 350 350

150 kV 564 3,497 1,403 1,120 727 482 560 282 644 276 12 9,567

70 kV 14 80 10 22 126

TOTAL 578 3,735 1,541 1,146 1,056 1,402 1,166 726 1,094 336 352 13,132

KEBUTUHAN TRAFO JAWA-BALI 2008-2018


Satuan MVA

TRAFO 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total

500/150 kV 1,666 4,666 3,000 2,000 1,000 4,000 3,500 3,000 6,000 1,000 29,832

150/70 kV 160 490 160 100 910

150/20 kV 1,820 4,800 7,920 4,036 3,570 3,480 3,330 3,690 5,370 5,160 1,980 45,156

70/20 kV 60 460 190 90 90 80 80 150 190 130 100 1,620


TOTAL 3,706 10,416 11,270 6,126 4,660 7,560 6,910 6,840 11,560 5,290 3,180 77,518

Dari Tabel 4.27 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2018 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang
3.089 kms. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Ci-
lacap dan PLTU Suralaya Baru (tahun 2009, 2010), PLTU IPP Tanjung Jati Expansion dan Paiton Expansion
(2012), PLTU IPP Ex Tanjung Jati A dan PLTU Jawa Tengah Infrastructure dan PLTU Indramayu (2013, 2014),
Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali (2015), PLTGU baru (2016) dan pumped storage
(2017, 2018). Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 4.27 merupakan perkuatan grid yang
tersebar di Jawa, utamanya seputar Jabotabek.

Transmisi 500 kV DC pada Tabel 4.27 adalah transmisi HVDC interkonesi Sumatera – Jawa, di sini hanya
diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa, selebihnya diperhitungkan
sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatera.

Pengembangan transmisi 150 kV yang sangat besar pada tahun 2009 dan juga 2010 serta 2011 adalah meru-
pakan transmisi yang terkait dengan program percepatan pembangkit 10,000 MW. Pengembangan trafo-trafo
distribusi 150/20 kV dimaksudkan untuk mengakomodasi pertumbuhan beban.

Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi, bahkan di sistem 70 kV di Jawa Barat
banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10,000 MW. Rencana

64
pada Tabel 4.27 hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok konsumen besar dan
saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafo-trafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga
hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur.

4.8.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem


���������������������
Luar Jawa Bali

Dengan program yang sedang berjalan, secara umum pengembangan sistem transmisi hingga tahun 2016
tidak akan banyak mengubah topologi jaringan. Pengembangan lebih banyak dilakukan untuk memenuhi
pertumbuhan dalam bentuk penambahan kapasitas trafo. Pengembangan untuk meningkatkan reliability dan
debottlenecking hanya terdapat di beberapa sistem, antara lain rencana pembangunan sirkit kedua pada be-
berapa ruas transmisi di sistem Sumbagut, sistem Kaltim, Suluttenggo dan Kalsel.

Program interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diasumsikan terjadi pada tahun 2008, namun
masih perlu di simulasi dengan load flow analysis. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan
transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi),
yaitu di sistem Sumbar-Riau, Sumbagsel, Kalimantan dan Sulawesi.

Rencana pengembangan sistem penyaluran hingga tahun 2016 diproyeksikan sebesar 20.241 MVA untuk
pengembangan Gardu Induk (275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 18.284 kms pengembangan jaringan transmisi
dengan perincian pada Tabel�����
4.29.

Tabel 4.29 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Luar Jawa-Bali

KEBUTUHAN TRANSMISI LUAR JAWA-BALI 2008-2018


Satuan kms

TRANSMISI 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total

500 kV - - - - - - - - 1,040 - - 1,040


275 kV - - 5,122 - - - 2,872 - 2,508 - - 10,502
150 kV 1,098 2,277 5,502 2,908 2,179 714 618 897 531 273 8 17,005
70 kV 105 - 1,006 272 90 - 186 660 170 90 - 2,579
TOTAL 1,203 2,277 11,630 3,180 2,269 714 3,676 1,557 4,249 363 8 31,126

KEBUTUHAN TRAFO LUAR JAWA-BALI 2008-2018


Satuan MVA

TRAFO 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total

500/275 kV - - - - - - - - 1,000 - - 1,000


275/150 kV - 1,500 4,000 - - - 1,350 - 1,500 - - 8,350
150/20 kV 1,746 2,100 2,280 1,050 1,360 1,050 890 1,410 1,500 1,006 450 14,842
70/20 kV 80 110 390 130 80 - 100 160 120 60 60 1,290
TOTAL 1,826 3,710 6,670 1,180 1,440 1,050 2,340 1,570 4,120 1,066 510 25,482

Pada tabel 4.28 dapat dilihat bahwa transmisi 70 kV akan banyak dikembangkan di Luar Jawa Bali yang akan
mencapai hampir 2,600 km sirkit dan 1,290 MVA trafo 70/20 kV di wilayah Indonesia Timur, yaitu Papua, Ma-
luku, Sulawesi, NTT dan NTB.

65
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 4 Rencana Penyediaan
Tenaga Listrik 2009 – 2018

4.9 PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI

4.9.1 Sistem Jawa-Bali

Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat diproyeksikan
seperti pada Tabel 4.30.

Tabel 4.230 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali

Tahun Satuan 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total

JTM kms 6,580 7,217 9,469 9,134 9,441 9,965 10,545 10,638 11,316 12,012 10,942 107,259
JTR kms 8,520 9,103 11,654 12,022 13,011 13,911 13,860 14,799 15,783 16,835 17,650 147,149
Trafo MVA 1,143 1,338 1,740 1,791 1,959 2,173 2,178 2,421 2,550 2,878 3,039 23,210
pelanggan ribu pelanggan 1,063 1,111 1,339 1,407 1,478 1,553 1,530 1,603 1,579 1,638 1,713 16,012

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2008 sampai dengan 2018 untuk sistem Jawa Bali diperlu-
kan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 107.259 kms, jaringan tegangan rendah 147.149 kms,
kapasitas trafo distribusi 23.210 MVA dan jumlah pelanggan 16 juta . Dengan
���������������������������������������
kata lain diperlukan penambahan
rata-rata per tahun sebesar 10.725 kms jaringan tegangan menengah, 14.715 kms jaringan tegangan rendah,
2.321 MVA gardu distribusi dan 1,6 juta jumlah pelanggan�.

4.9.2 Sistem Luar Jawa Bali

Rencana pengembangan sistem distribusi untuk wilayah usaha PLN di luar Jawa Bali dapat dilihat pada
Tabel 4.��
31.

Kebutuhan fisik sistem distribusi seluruh PLN Luar Jawa Bali hingga tahun 2018 adalah sebesar 67.754 kms
jaringan tegangan menengah, 74.868 kms jaringan tegangan rendah, 7.666 MVA tambahan kebutuhan trafo
distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung
tambahan sekitar 9.034 juta pelanggan.

66
Tabel 4.���������������������������������������������������������
31�������������������������������������������������������
Kebutuhan Fasilitas Distribusi Luar Sistem Jawa-Bali

Pulau 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Jumlah
Sumatera
JTM kms 2731 2,822 2,975 3,103 3,067 3,043 3,015 3,060 3,040 3,022 3,096 32,974
JTR kms 2538 2,533 3,108 3,191 3,375 3,405 3,574 3,443 3,436 3,490 3,615 35,708
Trafo MVA 286 327 348 372 376 384 397 413 444 466 486 4,299
Pelanggan 10^3 427 425 440 458 468 484 508 536 566 599 631 5,543
Kalimantan
JTM kms 1136 1,110 1,172 1,269 1,311 1,393 1,405 1,501 1,590 1,693 1,791 15,372
JTR kms 1214 1,260 1,319 1,415 1,469 1,565 1,589 1,673 1,787 1,871 1,984 17,146
Trafo MVA 92 87 102 106 118 122 124 129 143 144 153 1,320
Pelanggan 10^3 101 102 119 126 134 141 147 156 168 177 188 1,558
Sulawesi
JTM kms 517 681 811 894 968 1,048 1,160 1,252 1,357 1,464 1,515 11,665
JTR kms 387 818 891 950 1,055 1,215 1,300 1,340 1,435 1,536 1,587 12,513
Trafo MVA 101 94 101 108 119 136 146 150 161 172 178 1,465
Pelanggan 10^3 70 83 92 95 99 102 106 110 114 118 122 1,110
IBT
JTM kms 683 862 880 656 593 613 636 660 695 710 756 7,743
JTR kms 708 896 999 806 755 788 824 861 902 945 1,015 9,501
Trafo MVA 41 52 58 48 46 48 51 54 57 61 65 582
Pelanggan 10^3 80 91 91 69 62 64 67 70 73 76 81 823
Luar Jawa
JTM kms 5068 5,475 5,837 5,922 5,939 6,097 6,215 6,473 6,681 6,889 7,158 67,754
JTR kms 4847 5,508 6,317 6,362 6,653 6,973 7,288 7,317 7,560 7,842 8,201 74,868
Trafo MVA 521 561 609 633 657 690 719 746 805 843 882 7,666
Pelanggan 10^3 678 701 742 748 762 792 828 872 920 970 1,022 9,034

67
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018

68
Bab 5 KEBUTUHAN DANA
INVESTASI

5.1 ProyekSI kebutuhan investasi INDONESIA

5.2 ProyekSI kebutuhan investasi JAWA BALI

5.3 ProyekSI kebutuhan investasi LUAR JAWA BALI

5.4 kebutuhan investasi KELISTRIKAN PLN DAN IPP

5.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 5 Kebutuhan Dana Investasi

5.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIAI


NVESTASI
Untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan pada
Bab 4 diperlukan dana investasi sebesar US$ 58.49 miliar sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 5.1 dan
������������������������������������������������
Gambar 5.1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi
untuk proyek listrik swasta/IPP.

Tabel 5.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi


Gabungan Indonesia, PLN Saja (tidak termasuk IPP)
Juta US$
Item 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
Fc 2,403.7 3,116.3 3,413.5 2,737.6 2,254.6 1,588.9 1,556.4 1,784.5 2,043.4 1,426.9 784.0 23,109.7
Pembangkit Lc 1,005.2 1,181.0 1,156.4 858.5 658.4 565.0 785.9 819.1 807.4 505.7 215.8 8,558.5
Total 3,408.9 4,297.3 4,569.8 3,596.2 2,913.0 2,153.9 2,342.3 2,603.6 2,850.8 1,932.6 999.8 31,668.2
Fc 1,431.3 1,874.2 1,140.2 812.9 1,045.9 1,487.1 1,164.6 1,284.5 663.7 243.1 52.3 11,199.9
Penyaluran Lc 554.4 527.3 290.7 236.8 362.5 379.6 366.9 329.4 139.0 45.7 6.7 3,239.0
Total 1,985.7 2,401.5 1,430.9 1,049.7 1,408.4 1,866.7 1,531.5 1,614.0 802.7 288.8 59.1 14,438.9
Fc - - - - - - - - - - - -
Distribusi Lc 703.0 761.6 959.9 974.5 1,029.0 1,109.9 1,193.0 1,260.3 1,375.1 1,496.6 1,520.4 12,383.4
Total 703.0 761.6 959.9 974.5 1,029.0 1,109.9 1,193.0 1,260.3 1,375.1 1,496.6 1,520.4 12,383.4
Fc 3,834.9 4,990.5 4,553.7 3,550.6 3,300.5 3,076.0 2,721.0 3,069.0 2,707.1 1,670.0 836.4 34,309.6
Total Lc 2,262.6 2,469.9 2,406.9 2,069.8 2,049.9 2,054.5 2,345.7 2,408.9 2,321.5 2,048.1 1,743.0 24,180.9
Total 6,097.6 7,460.3 6,960.6 5,620.4 5,350.4 5,130.5 5,066.7 5,477.9 5,028.6 3,718.0 2,579.4 58,490.5

Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya tantangan yang sangat besar
dalam menyediakan dana tersebut.

Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari luar ne-
geri (two step loan), namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan seba-
liknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat, baik obligasi lokal maupun global. Proyek percepatan
pembangkit 10,000 MW direncanakan untuk dibiayai dari pinjaman luar negeri yang diusahakan sendiri oleh
PLN de­ngan garansi Pemerintah. Akhir-akhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga
keuangan multilateral (IBRD, ADB) dan bilaterial (JBIC/JICA) untuk mendanai proyek-proyek kelistrikan yang
besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatera – Jawa dengan skema two step
loan lagi.

70
Gambar 5.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi Gabungan Indonesia,
PLN Saja (tidak termasuk IPP)

8000

6000

Distribusi
Juta USD

4000 Penyaluran
Pembangkit

2000

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun

5.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI

Pengembangan pembangkitan, transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2018 di sistem Jawa
Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 39.7 milyar dengan disbursement tahunan sebagaimana di-
perlihatkan pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.2.

Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2018 adalah sebesar US$ 21,653 juta atau
sekitar US$ 2,000 juta per tahun. Disbursement proyek pembangkitan yang sangat besar pada tahun 2008-
2010 adalah terkait dengan proyek percepatan pembangkit tahap I di pulau Jawa dengan kapasitas sebesar
7.330 MW serta proyek PLTGU Muara Tawar Add-on. Sedangkan disbursement pada tahun berikutnya relatif
lebih rendah karena adanya proyek-proyek IPP yang cukup besar sampai tahun 2017, baru setelah itu porsi
investasi PLN kembali besar. Kecilnya investasi pada 2 tahun terakhir juga disebabkan oleh belum diperhitung-
kannya disbursement proyek pembangkit yang akan beroperasi setelah tahun 2018.

Tabel 5.2 Kebutuhan Dana Investasi Sistem Jawa – Bali

Disbursements
Juta US$
Item 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
Fc 1,847.9 2,013.3 1,722.8 1,216.0 1,119.0 792.4 1,034.8 1,577.0 1,801.0 1,196.3 671.0 14,991.4
Pembangkit Lc 744.0 763.1 754.2 596.1 454.2 438.1 704.9 781.0 759.5 468.5 199.1 6,662.5
Total 2,591.8 2,776.5 2,477.0 1,812.0 1,573.2 1,230.4 1,739.7 2,357.9 2,560.5 1,664.7 870.1 21,653.8
Fc 926.2 996.5 681.6 614.3 864.9 1,169.3 832.7 790.9 471.2 218.5 48.4 7,614.4
Penyaluran Lc 289.6 206.1 162.6 190.1 256.0 249.0 213.7 181.6 103.1 42.7 6.4 1,900.9
Total 1,215.8 1,202.6 844.2 804.4 1,120.8 1,418.3 1,046.4 972.6 574.3 261.1 54.8 9,515.4
Fc - - - - - - - - - - - -
Distribusi Lc 464.4 494.0 663.6 665.7 703.8 766.0 831.3 873.0 963.6 1,061.2 1,066.9 8,553.3
Total 464.4 494.0 663.6 665.7 703.8 766.0 831.3 873.0 963.6 1,061.2 1,066.9 8,553.3
Fc 2,774.1 3,009.8 2,404.5 1,830.3 1,983.9 1,961.6 1,867.4 2,367.9 2,272.1 1,414.8 719.4 22,605.8
Total Lc 1,498.0 1,463.2 1,580.4 1,451.9 1,413.9 1,453.1 1,749.9 1,835.6 1,826.2 1,572.3 1,272.4 17,116.8
Total 4,272.1 4,473.0 3,984.8 3,282.1 3,397.8 3,414.8 3,617.3 4,203.5 4,098.3 2,987.1 1,991.8 39,722.5

71
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 5 Kebutuhan Dana Investasi

Gambar 5.2 Kebutuhan Dana Investasi Sistem Jawa – Bali

5000
4500
4000
3500
3000 Distribusi
Juta USD

2500 Penyaluran
2000 Pembangkit
1500
1000
500
0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun

Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. Proyek percepatan pembangkit Per-
pres No.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan
Pemerintah. Proyek Muara Tawar Add-on senilai US$ 1 milyar sedang diusulkan untuk didanai dengan ekspor
kredit. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender
multilateral. Namun proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi sumber
pendanaan yang pasti, dan PLN pada saat ini tengah mengkaji kemampuannya dalam membuat pinjaman
baru, dan hal ini akan dijelaskan pada butir 5.5.

Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 9.5 milyar dan US$ 8.5
milyar. Proyek penyaluran pada tahun 2009-2011 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepat­
an pembangkit. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN, obligasi, APBN, pinjaman luar negeri
(two step loan), kredit ekspor dan sumber lainnya. Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.

Dalam pengembangan sistem distribusi terdapat proyek JTM, JTR, trafo, penyambungan pelanggan dan
sistem SCADA seperti diperlihatkan pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3 Kebutuhan Investasi Distribusi (dalam US$ juta)

Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan SCADA Jumlah


2008 164.1 62.5 82.9 86.1 68.9 464.4
2009 193.3 62.8 103.9 90.8 43.2 494.0
2010 285.6 73.9 145.3 114.1 44.8 663.6
2011 265.8 77.5 152.0 122.7 47.8 665.7
2012 268.0 83.6 173.2 131.9 47.1 703.8
2013 283.5 89.7 199.2 142.1 51.6 766.0
2014 331.0 89.6 210.9 143.7 56.0 831.3
2015 317.6 96.3 242.2 154.7 62.2 873.0
2016 362.9 102.2 276.5 156.2 65.9 963.6
2017 389.2 109.7 323.5 166.4 72.3 1,061.2
2018 334.2 115.6 359.0 179.6 78.4 1,066.9
Jumlah 3,195.1 963.3 2,268.5 1,488.3 638.1 8,553.3

5.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI


72
5.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI luar JAWA-BALI

Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2008 s/d 2018
untuk luar Jawa Bali adalah sebesar US$ 18,8 milyar atau rata-rata US$ 1,8 milyar per tahun, tidak termasuk
proyek IPP, seperti pada Tabel 5.4 dan Gambar 5.3.

Tabel����������������������������������������������������������������������
5.4 Total Kebutuhan Dana Investasi Luar Jawa, PLN Saja (Tanpa IPP)

Disbursements
Juta US$
Item 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
Fc 555.8 1,102.9 1,690.6 1,521.7 1,135.6 796.6 521.6 207.5 242.4 230.6 113.0 8,118.3
Pembangkit Lc 261.2 417.9 402.2 262.5 204.2 126.9 81.0 38.2 47.9 37.2 16.7 1,896.0
Total 817.1 1,520.8 2,092.8 1,784.1 1,339.8 923.5 602.6 245.7 290.3 267.8 129.7 10,014.4
Fc 505.0 877.7 458.6 198.7 181.1 317.8 331.9 493.6 192.5 24.6 3.9 3,585.5
Penyaluran Lc 264.8 321.2 128.1 46.7 106.5 130.6 153.1 147.8 35.9 3.1 0.3 1,338.1
Total 769.8 1,198.9 586.7 245.3 287.6 448.4 485.1 641.4 228.4 27.7 4.3 4,923.6
Fc - - - - - - - - - - - -
Distribusi Lc 238.6 267.6 296.3 308.9 325.2 343.9 361.7 387.3 411.5 435.5 453.6 3,830.0
Total 238.6 267.6 296.3 308.9 325.2 343.9 361.7 387.3 411.5 435.5 453.6 3,830.0
Fc 1,060.8 1,980.6 2,149.2 1,720.3 1,316.7 1,114.4 853.6 701.1 435.0 255.2 116.9 11,703.8
Total Lc 764.7 1,006.7 826.6 618.0 635.9 601.4 595.8 573.3 495.3 475.8 470.7 7,064.1
Total 1,825.5 2,987.3 2,975.8 2,338.3 1,952.6 1,715.8 1,449.4 1,274.4 930.3 730.9 587.6 18,767.9

Gambar 5.3�����������������������������������������������������������������
Total Kebutuhan Dana Investasi Luar Jawa, PLN Saja (Tanpa IPP)

3000

2500

2000
Distribusi
Juta USD

1500 Penyaluran
Pembangkit
1000

500

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Tahun

Kebutuhan investasi di luar Jawa Bali untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2018 adalah sebesar US$
10,0 milyar. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 2010 sebesar US$ 2,1
milyar yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.71/2006. Sedangkan disbursement proyek
pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi
sistem-sistem di Luar Jawa Bali, terutama di sistem Sumatera.

73
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 5 Kebutuhan Dana Investasi

Proyek transmisi di Luar Jawa Bali didominasi oleh pengembangan transmisi 275 kV untuk ���������������������
interkoneksi seluruh
Sumatra, di samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan serta beberapa
wilayah lain seperti NTT dan NTB.

5.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP

Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara keseluruhan,
termasuk listrik swasta/IPP, adalah US$ 83,7 milyar selama tahun 2008-2018. Disbursement dana tersebut
diperlihatkan pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

Disbursements
Juta US$
Item 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Total
Fc 3,031.7 4,478.3 5,746.2 5,414.2 4,818.6 3,719.7 3,546.5 3,440.6 3,601.0 2,584.9 1,295.4 41,677.2
Pembangkit Lc 1,306.2 1,723.4 1,925.8 1,756.2 1,588.4 1,391.8 1,514.8 1,362.3 1,340.0 909.3 371.2 15,189.5
Total 4,337.9 6,201.7 7,672.0 7,170.4 6,407.0 5,111.4 5,061.3 4,803.0 4,941.0 3,494.3 1,666.6 56,866.7
Fc 1,431.3 1,874.2 1,140.2 812.9 1,045.9 1,487.1 1,164.6 1,284.5 663.7 243.1 52.3 11,199.9
Penyaluran Lc 554.4 527.3 290.7 236.8 362.5 379.6 366.9 329.4 139.0 45.7 6.7 3,239.0
Total 1,985.7 2,401.5 1,430.9 1,049.7 1,408.4 1,866.7 1,531.5 1,614.0 802.7 288.8 59.1 14,438.9
Fc - - - - - - - - - - - -
Distribusi Lc 703.0 761.6 959.9 974.5 1,029.0 1,109.9 1,193.0 1,260.3 1,375.1 1,496.6 1,520.4 12,383.4
Total 703.0 761.6 959.9 974.5 1,029.0 1,109.9 1,193.0 1,260.3 1,375.1 1,496.6 1,520.4 12,383.4
Fc 4,462.9 6,352.6 6,886.4 6,227.2 5,864.5 5,206.8 4,711.1 4,725.2 4,264.7 2,828.0 1,347.7 52,877.1
Total Lc 2,563.6 3,012.2 3,176.4 2,967.5 2,979.9 2,881.3 3,074.7 2,952.1 2,854.1 2,451.7 1,898.4 30,811.9
Total 7,026.6 9,364.8 10,062.8 9,194.7 8,844.4 8,088.1 7,785.7 7,677.3 7,118.8 5,279.7 3,246.1 83,689.0

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan dana in-
vestasi yang sangat besar, yaitu rata-rata hampr US$ 8 milyar per tahun.

5.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN


PLN

Butir 5.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan dipenuhi,
dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).

5.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan

K����������������������������������������������������������������������������������������������������
ebutuhan investasi PLN sebesar US$ 58,5 milyar sampai dengan tahun 2018 akan dipenuhi dari berbagai
sumber pendanaan, yaitu APBN sebagai penyertaan modal Pemerintah (ekuiti), pinjaman baru, dan dana in-
ternal. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap, sedangkan dana pinjaman
dapat berupa pinjaman two-step loan, pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi, obligasi nasional
maupun internasional, pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri.

74
5.5.2 Pengembalian Pinjaman

PLN mempunyai banyak kewajiban jangka panjang berupa pengembalian pinjaman dari leasing, IPP debt,
rupiah bond, global bond, ECA / kredit ekspor, government loan dan two step loan. Kewajiban pengembalian
pinjaman ini telah diperhitungkan dalam proyeksi keuangan PLN secara korporasi dan menentukan kemam-
puan PLN dalam membuat investasi baru yang diindikasikan dalam indikator-indikator keuangan.

5.5.3 Indikator Keuangan

Kemampuan PLN untuk berinvestasi dapat dilihat dari beberapa indikator kunci keuangan, misalnya proyeksi
pendapatan, proyeksi EBITDA dan EBITDA Margin, dan rasio hutang terhadap aset. Selanjutnya untuk mem-
berikan gambaran mengenai biaya produksi pada masa mendatang, berikut ini juga akan ditunjukkan proyeksi
biaya pokok produksi listrik yang akan dilakukan oleh PLN.

Dalam membuat proyeksi indikator keuangan ini digunakan tambahan asumsi dasar berikut: (i) tingkat bunga
pinjaman baru 8% untuk pinjaman luar negeri dan 12% untuk pinjaman lokal, (ii) Tahun 2009 tidak ada kenaikan
tarif listrik, dan tahun 2010 ada kenaikan tarif sebesar 30%, (iii) kurs Rp 9,400/US$ tahun 2009, Rp 9,300/US$
tahun 2010 dan Rp 9,200/US$ sampai dengan 2015, iv) marjin usaha 4,5%20 pada tahun 2009 dan marjin 5%
mulai tahun 2010.

Proyeksi Penjualan dan Subsidi

Pendapatan PLN dari penjualan listrik diproyeksikan akan terus meningkat sejalan dengan penjualan kWh
dan kenaikan tarif 30% pada tahun 2010. Namun karena kenaikan tarif tersebut belum dapat sepenuhnya me-
nutup seluruh biaya pokok produksi, maka subsidi Pemerintah juga diproyeksikan masih cukup besar. Besar
pendapatan PLN dari penjualan listrik pada tahun 2015 diperkirakan Rp 21���������������������������������
1 triyun, dan subsidi Pemerintah
sekitar Rp 51 trilyun setelah memperhitungkan margin 4,5% pada tahun 2009 dan 5% mulai tahun 2010.
Pendapatan total dari penjualan dan subsidi tersebut akan memperkuat kemampuan PLN dalam menyediakan
dana internal (APLN) untuk melakukan investasi pengembangan usaha kelistrikan.

Proyeksi EBITDA dan EBITDA Margin

EBITDA PLN pada tahun-tahun mendatang diproyeksikan akan terus membaik, khususnya mulai tahun 2010,
demikian pula halnya dengan dan EBITDA Margin21. Perbaikan indikator tersebut terjadi karena pendapatan
PLN yang terus meningkat dan mampu memperbaiki efisiensi operasi perusahaan. Dengan asumsi tarif tahun
2010 naik 30%, serta dengan menggunakan mekanisme perhitungan subsidi pelanggan sebagaimana yang
berlaku untuk perhitungan pada tahun 2006, perusahaan akan mampu mencetak EBITDA marjin sekitar 23%
pada tahun 2015.

20
Marjin ������������������������������
terhadap biaya pokok penjualan
21
EBITDA
����������������������������������������������������
Margin adalah rasio antara EBITDA dan revenue

75
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 5 Kebutuhan Dana Investasi

Proyeksi Rasio Debt terhadap Aset


PLN diperkirakan akan mampu membuat pinjaman sebagaimana disebutkan pada butir 5.5.1 dengan tetap
menjaga rasio hutang terhadap aset pada tingkat yang wajar, yaitu di bawah 60% hingga tahun 2015.

5.5.4 Biaya Pokok Produksi

Biaya pokok produksi


��������������������������������������������������������������������������������������
(BPP) juga akan terus mengalami perbaikan seiring dengan perubahan komposisi ener­gy
mix yang lebih baik. BPP tahun
�������������������������������������������������������������������������������
2008 yang diperkirakan mencapai Rp 1.347 /kWh akan menjadi Rp 1.069 /kWh
pada tahun 2015. Penurunan BPP yang signifikan diperhitungkan terjadi pada tahun 2010 saat proyek percepa-
tan 10,000 MW selesai.

Gambar 5.4 Proyeksi Biaya Pokok Produksi PLN se-Indonesia

1,600
Bunga
1,400
Biaya Pokok Penyediaan (Rp/kWh)

1,347
Penyusutan
1,200
1,076
1,069
Kepegawaian &
1,038
1,000 952 998 Administrasi.
906 931

800 Pemeliharaan

600 Pembelian IPP

400 Bahan Bakar

200

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

76
Bab 6 KETERSEDIAAN ENERGI
PRIMER

6.1 Sasaran Fuel mix

6.2 POTENSI SUMBER ENERGI PRIMER


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 6 Ketersediaan Energi Primer

6.1. SASARAN FUEL MIX

Fuel mix 1999-2007

Tabel����������������������������������������������������������������������������������������������������
6.1 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN (Persero) dalam sembilan tahun terakhir.
Konsumsi batubara terus meningkat, namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan
gas yang depleted dari sumbernya, dan karena infrastrukturnya belum tersedia cukup untuk memenuhi ke-
butuhan pembangkit listrik PLN.

Tabel 6.1 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar

Tahun BBM GAS Batubara


juta kl bcf juta ton
1999 4,70 237 11,41
2000 5,02 229 13,14
2001 5,40 222 14,03
2002 7,00 193 14,06
2003 7,61 184 15,26
2004 8,51 176 15,41
2005 9,91 143 16,90
2006 9,98 158 19,09
2007 10,69 171 21,47

Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terak���������������


hir ini adalah fuel-mix yang terjebak pada pemakai­
an minyak yang harganya tinggi, namun produksi listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik
termasuk pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN selaku PKUK. Dalam tahun 2007 komposisi produksi
kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM ���������������������������������������������������������
34%, batubara 40%, gas alam 14%, panas bumi 3% dan hidro
9%. Dalam RUPTL ini komposisi fuel mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada
Tabel 6.2.

78
Tabel 6.2 Sasaran Komposisi Produksi Listrik kWh Tahun 2018
Berdasarkan Jenis Bahan Bakar����
(%)

Tahun BBM Batubara Gas Hydro PLTP


2007 34 40 14 9 3
2018 2 63 17 6 12

Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada tabel 6.2, RUPTL 2009-2018 merencanakan proyek pembangkit
seperti dijelaskan pada Bab 4. Target fuel mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari
pembangkit listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara, panas bumi dan PLTG gas.���������
��������
Pembang-
kit yang akan dibangun antara lain adalah proyek percepatan 10,000 MW yang akan menurunkan konsumsi
BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik. Disamping itu konversi
pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN te-
rus mengupayakan tambahan kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa
kendala. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak dikembangkan di Sumatera, Jawa,
Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Pembangunan PLTD berbahan bakar BBM tidak lagi dikembang-
kan dan diganti dengan PLTU batubara skala kecil, kecuali pada sistem kelistrikan yang kecil dan terpencil.
Program pengembangan dan pembangunan terminal LNG berikut pipa penyaluran ke pembangkit-pembangkit
PLN di sekitar Jakarta juga dimaksudkan untuk menjaga security of supply gas alam kepada pembangkit-
pembangkit tersebut.

6.2. POTENSI ��������������������


SUMBER ENERGI PRIMER

6.2.1. Batubara

Menurut RUKN 2008 -202����������������������������������������������������������������������������������


7, potensi batubara di Indonesia adalah 93,056 juta ton yang tersebar terutama di
Kalimantan sebesar 54,405 juta ton dan di Sumatera Selatan sebesar 47,085 juta ton. Mengingat pemakaian
batubara tipikal sebuah PLTU 1000 MW adalah sebanyak 3.2 juta ton per tahun, maka dapat dimengerti bah­
wa potensi batubara Indonesia merupakan sumber daya yang layak diandalkan sebagai bahan bakar utama
pembangkit listrik di Indonesia.

Pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara di seluruh Indonesia dalam 10 tahun ke depan
diperkirakan sebesar 34,240 MW. Sekitar 30% dari kapasitas tersebut akan berupa pembangkit mulut tambang
yang memanfaatkan batubara berkalori rendah����������������������������������������������������������
dimana sebagian besar berada di Sumatra. Namun mengingat
kebutuhan sistem tenaga listrik di Sumatra relatif masih kecil dan Sumatra juga dianugerahi dengan sumber
daya alam lainnya, seperti panas bumi dan tenaga air, maka sebagian besar tenaga listrik dari mulut tambang
akan dikirim ke pulau Jawa yang kebutuhan listriknya sangat besar dan semakin sulit mendapatkan lahan
untuk membangun PLTU skala besar baru.

79
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 6 Ketersediaan Energi Primer

Pembangkit berbahan bakar batubara dirancang untuk memikul beban dasar karena harga bahan bakar ini
relatif paling rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya. Namun pembakaran batubara menghasil-
kan emisi karbon dioksida yang menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahan bakar batubara harus memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Penggunaan tek­
nologi supercritical boiler adalah sangat dianjurkan karena menghasilkan emisi yang lebih sedikit untuk setiap
kWh listrik yang dihasilkannya, disamping penggunaan electrostatic precipitator dan flue gas desulphurization
yang juga sangat dianjurkan. Teknologi batubara bersih (clean coal technology) yang lebih maju, seperti IGCC
(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage) belum direncanakan dalam
RUPTL ini.

Walaupun emisi CO2 belum diperhitungkan secara internal di dalam model optimisasi pengembangan pembang-
kit, namun RUPTL 2009-2018 ini telah memasukkan sejumlah besar proyek PLTP dan hidro, disamping meng-
gunakan pembangkit supercritical di sistem Jawa Bali. Mengenai hal ini dapat dilihat kembali pada butir 4.6.

Kendala utama yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah security of supply. Security of supply batubara
sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah mengenai domestic market obligation (DMO) dan batasan harga
dalam negeri disamping kesiapan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dermaga dan alat transportasi yang
masih terbatas khususnya persiapan untuk proyek percepatan 10,000 MW. Kenaikan harga minyak mentah
dunia hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan harga batubara di pasar
dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Pada saat yang sama harga batubara berkualitas
tinggi telah menembus angka US$ 100 per ton, dan harga tinggi ini telah mendorong produsen batubara
Indonesia untuk mengekspor batubaranya ke pasar dunia, terutama ke Cina dan India. Masalah kesiapan
infrastruktur memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara yang tersedia di
tambang dapat sampai ke pembangkit sesuai rencana.

Walaupun kesulitan pasokan dan harga tinggi batubara domestik telah menimbulkan permasalahan yang
cukup besar pada PLN, namun perencanaan pembangkitan dalam RUPTL ini masih tetap mengandalkan
PLTU batubara, karena alternatif energi primer lainnya belum tersedia dalam jumlah dan harga yang kompetitif
terhadap batubara.

6.2.2. Gas Alam

Walaupun Indonesia tidak diperhitungkan sebagai pemilik cadangan gas terbesar dalam skala dunia, namun
cadangan gas alam di Indonesia cukup besar, yaitu diperkirakan 164.99 Tscf yang tersebar terutama di kepu-
lauan Natuna (Riau Kepulauan) sebesar 53.06 Tscf , Sumatera Selatan 26.68 Tscf, dan di Kalimantan Timur
sebesar 21.49 Tscf serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan cadangan di Natuna.

80
Kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga listrik terkendala oleh adanya sumber-sumber gas alam In-
donesia yang telah terikat dengan kontrak jangka panjang dengan pembeli luar negeri, dan adanya kompetisi
penggunaan gas untuk kepentingan di luar kelistrikan, seperti industri pupuk dan industri petrokimia lainnya.

Seperti halnya dengan batubara, harga gas alam juga ter�������������������������������������������������


kait secara ketat dengan harga minyak mentah, se­
hingga pada 2 tahun terakhir ini harga gas alam juga telah naik sangat tajam. Pada tahun 2005 harga gas alam
di pasar energi nasional adalah sekitar US$ 3/mmbtu, namun pada semester 1 tahun 2008 harga gas alam
telah naik menjadi US$ 6/mmbtu dan setiap saat naik terus sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah.

Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah belum siapnya pipa transmisi
gas alam ataupun fasilitas pendukung dari sumber-sumbernya ke pusat pembangkit yang sebagian besar
berlokasi di pulalu Jawa.

Untuk itu kebijakan pemerintah mengenai penggunaan gas alam di dalam negeri sangat diperlukan guna
meningkatkan efisiensi bauran energi secara nasional.

Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan untuk memikul beban mene­
ngah. Pasal-pasal perjanjian pada beberapa kontrak pasokan gas alam beberapa pembangkit dioperasikan
untuk berkontribusi mengisi beban dasar.

Kendala dalam memperoleh pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan batu-
bara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga PLTU batubara di masa depan juga berpe­
ran sebagai pemikul beban menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-70%). Kondisi operasi
semacam ini menuntut keluwesan pengoperasian PLTU yang dapat dipenuhi oleh PLTU dengan teknologi
supercritical.

6.2.3 Energi Terbarukan

Mengacu kepada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, antara lain oleh JICA bersama
Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panasbumi pada tahun 2007 berjudul Master Plan Study for Geo-
thermal Power Development in the Republic of Indonesia dan Hydro Power Potential Study oleh PLN pada
tahun 1982, potensi energi terbarukan untuk pembangkitan tenaga listrik cukup besar.

Menurut Master Plan Study panas bumi tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi
adalah 9,000 MW tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal sebesar 12,000 MW. Dalam RUPTL ini ter-
dapat cukup banyak proyek PLTP yang akan dikembangkan, terutama di Sumatra, Jawa dan Sulawesi Utara.
Tahun proyek PLTP tersebut beroperasi tergantung pada kesiapannya, pada umumnya bervariasi antara tahun
2014 dan 2018, kecuali pengembangan PLTP existing yang dapat diperluas dengan cepat.

81
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 6 Ketersediaan Energi Primer

RUPTL ini juga memuat cukup banyak proyek-poyek PLTA, yaitu mencapai sekitar 4,740 MW hingga tahun
2018.

Sedangkan potensi tenaga air keseluruhan menurut studi Hydro Power tersebut adalah 75.000 MW. Potensi
biomasa juga sangat besar (49.810 MW), dan energi alternatif lainnya seperti tenaga matahari, angin, dan
ombak juga tersedia. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat dilihat pada tabel 6.3.

Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan PLTP dan PLTA adalah kesulitan dana investasi dan kenyata-
an bahwa banyak dari potensi PLTP dan PLTA berlokasi di hutan lindung dan bahkan hutan konservasi.

Tabel-6.3 Potensi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan



Jenis Satuan Potensi Developed %
PLTP MW 27,140 827 3.047
PLTA MW 75,000 4,125 5.500
PLT Surya GW 1,200 0.001
PLT Angin MW 9,290 1 0.006
Biomassa MW 49,810 445 0.9
Biogas MW 680
Gambut 10^6 BoE 16,880
Tidal MW 240,000

6.2.4 Nuklir

Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini terjadi karena dalam proses
optimisasi p�������������������������������������������������������������������������������������������������
emilihan kandidat pembangkit, ternyata pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersa-
ing dengan jenis pembangkit lainnya, seperti PLTU batubara kelas 1,000 MW supercritical.

Kesulitan terbesar dalam perencanaan PLTN adalah tidak jelasnya biaya kapital dan biaya O&M yang terkait
dengan spent fuel disposal, dan biaya decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama
antara PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya pembangunan PLTN sebe-
sar $ 1,700/kW (EPC saja) atau $ 2,300/kW (setelah memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama kon-
struksi). Angka tersebut kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2008), biaya
pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 4,000 hingga US$ 5,500 /kW.

Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan program tenaga nuklir pada banyak
negara di dunia. Harga uranium yang pada tahun 2006 adalah sekitar US$ 30 per lb, saat ini telah mencapai
US$ 130/lb. Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi keekonomian PLTN meng­
ingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan uranium dalam jumlah sedikit, namun tetap saja kenaikan harga
uranium dunia ini perlu terus dipantau.

82
Namun demikian dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi primer
lainnya seperti batubara dan gas alam, maka PLTN merupakan salah satu opsi sumber energi yang sangat
menarik untuk ikut memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC, biaya pengelolaan spent fuel dan
biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas.

Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk PLTN tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan kee-
konomian, namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik, keselamatan, sosial, budaya dan lingkungan.
Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut, program pembangunan PLTN hanya dapat
diputuskan oleh Pemerintah.

83
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018

84
Bab 7 ANALISIS RISIKO RUPTL
2009 - 2018

7.1 Indentifikasi risiko

7.2 PEMETAAN risiko

7.3 PROGRAM MITIGasi risiko


Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 7 Analisis Risiko Ruptl 2009 - 2018

Analisis risiko RUPTL 2009-2018 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan yang
dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan
datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL.

Analisis risiko mencakup identifikasi risiko, pemetaan risiko, dan rekomendasi program mitigasi untuk risiko-
risiko tersebut. Bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemeta-
an risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Bagian kedua
menjelaskan hasil pemetaan risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko yang perlu
dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut.

Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri, uraian analisis risiko pada bab ini akan dilakukan berdasarkan
issue-issue utama RUPTL, yaitu proyeksi kebutuhan/permintaan tenaga listrik, pengembangan pembangkit,
transmisi dan distribusi, serta proyeksi kebutuhan energi primer dan kebutuhan investasi, baik oleh PLN mau-
pun oleh swasta.

7.1 IDENTIFIKASI RISIKO


Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut :

A. Risiko pengembangan ketenagalistrikan

1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN


Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan, pendanaan pembangunan, keterlambatan penyelesai­
an pembangunan proyek, cost over-run, kesalahan desain, keselamatan ketenagalistrikan, perfor-
mance instalasi, dampak lingkungan dan sosial.
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP
Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN�.
3. Risiko permintaan listrik
Kesalahan��������������������������������������������������������������������������������������
dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko pertumbuhan
ekonomi).
4. Risiko�������������������������������������
ketersediaan dan harga energi primer
Meliputi������������������������������������������������������������������
risiko ketersediaan energi primer dan risiko harga energi primer.

86
B. Risiko Keuangan

1. Risiko likuiditas, meliputi r���������������������������������������������������������������������������


isiko likuiditas kas yaitu kelancaran �������������������������������������
penerimaan���������������������������
subsidi, risiko pencairan
dana pinjaman untuk investasi, dan risiko likuiditas aset.

C. Risiko Operasional

1. Risiko produksi/operasi, seperti kekurangan/kelangkaan energi primer, ������������������������������


kerusakan peralatan/fasilitas
operasi, kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan, risiko akibat
kesalahan manusia
2. Risiko bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a.l. sabotase)
3. Risiko lingkungan, berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada kese-
hatan, juga limbah, polusi dan kebisingan
4. Risiko regulasi, meliputi risiko tarif listrik, risiko kepastian subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor
ketenagalistrikan
Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.

7.2 PEMETAAN RISIKO

Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi, kesembilan risiko tersebut memiliki
karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan
metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa lalu, dan p��

ngalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu.

Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran
operasional perusahaan.

Gambar 7.1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL

Keterangan :
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP
3. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik
4. Risiko ketersediaan dan harga energi primer
5. Risiko likuiditas
6. Risiko produksi/operasi
7. Risiko bencana
8. Risiko lingkungan
9. Risiko regulasi

87
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 7 Analisis Risiko Ruptl 2009 - 2018

Berdasarkan pemetaan risiko di atas, risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat
probabilitas dan dampaknya, yaitu:
- Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko, yaitu risiko dengan tingkat probabilitas keja-
dian tinggi dan dampakya juga tinggi. Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan
proyek-proyek PLN, kerterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.
- Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko, yaitu risiko dengan probabilitas kejadian rendah
tetapi bila terjadi menimbulkan dampak yang tinggi. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah keterse-
diaan dan harga energi primer, risiko permintaan tenaga listrik serta risiko bencana.
- Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko, yaitu risiko dengan probabilitas keja-
dian yang tinggi tetapi dampak yang ditimbulkannya rendah. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah
risiko produksi/operasi.
- Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko, yaitu daerah dengan probabilitas rendah dan
dampak yang ditimbulkannya juga rendah. Termasuk
�������������������������������������������������������������
ke dalam area ini adalah risiko regulasi dan risiko
lingkungan.

7.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO

Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena metoda dan sarana mitigasi terus
berkembang. Namun demikian, pokok-pokok program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi
risiko diuraikan sebagai berikut.
1. Mitigasi risiko pembangunan
2. Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik
3. Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer
4. Mitigasi risiko likuiditas
5. Mitigasi risiko produksi/operasi
6. Mitigasi ��������������
risiko��������
bencana
7. Mitigasi������������������
risiko lingkungan
8. Mitigasi risiko regulasi
Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.

88
Bab 8 KESIMPULAN
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Bab 8 Kesimpulan

Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6,1% per tahun
dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2007, proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun
2018 diperkirakan akan mencapai 325,1 TWh, atau mengalami pertumbuhan rata-rata 9,4% selama 11 tahun
mendatang. Beban puncak pada tahun 2018 diproyeksikan akan mencapai 57.887 MW.����������������
Untuk memenuhi
kebutuhan tenaga listrik tersebut, diprogramkan pembangkit listrik untuk periode 2008 - 2018 sebesar 57.442
MW, diantaranya yang akan dibangun oleh PLN sebesar 35.274 MW dan IPP sebesar 22.168 MW.

Selaras dengan pengembangan pembangkit ini, diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 44,257 kms,
yang terdiri atas 3.129 kms SUTET 500 kV AC, 1.150 kms transmisi 500 kV HVDC, 10.502 kms transmisi 275
kV, 26.572 kms SUTT 150 kV, 2.705 kms SUTT 70 kV. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar
103,000 MVA yang terdiri atas 63,818 MVA trafo 150/20 kV, 70/20 kV, dan 39.182 MVA trafo interbus IBT
500/150 kV, 275/150 kV, 150/70 kV, serta 3.600 MVA HVDC trafo konverter. Untuk mengantisipasi pertum-
buhan penjualan energi listrik untuk periode 2008 - 2018 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah
175.013 kms, tegangan rendah 222.018 kms dan kapasitas trafo distribusi 30.877 MVA.

Kebutuhan investasi pembangkit, penyaluran dan distribusi selama periode 2008 – 2018 untuk memenuhi
kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 83,69 milyar (termasuk
IPP) yang terdiri dari investasi pembangkit sebesar US$ 56,57 milyar, investasi penyaluran sebesar US$ 14,10
milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 12,38 milyar.

Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN mempunyai kemampuan untuk membiayai proyek-
proyek kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL, dengan pembiayaan yang bersumber dari dana
internal dan eksternal, sepanjang asumsi-asumsi dipenuhi, antara lain kenaikan tarif listrik sebesar 30% pada
tahun 2010 dan mendapat margin PSO sebesar 4% pada tahun 2009 serta margin PSO sebesar 5% pada
tahun-tahun selanjutnya.

90
DAFTAR PUSTAKA
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 – 2027, Departemen Energi Dan Sumber Daya
Mineral, November 2008
2. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025, Bappenas, BPS, UN Population Fund, 2005
3. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 – 2005, BPS, 2008 dan update dari website BPS
4. R�����������������������������������������������������������������������������
encana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2007 – 2016 Perubahan, PT PLN (Persero),
2007
5. Rencana Penyediaan Tenaga Listrik 2008 – 2017 dari beberapa Unit Bisnis PLN, PLN Wilayah, Distribusi,
P3B , 2008
6. Draft Energy Outlook 2008, Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008
7. Statistik 2007, PT PLN (Persero), 2008
8. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006, Pengkajian Energi UI, 2006
9. Berita Resmi Statistik, BPS, Februari 2008
10. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero), Direktorat Perencanaan dan Teknologi, 2008
11. Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2007 – 2011, PT PLN (Persero), 2007

92
LAMPIRAN A

sISTEM jAWA - bALI


a.1 pROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK

a.2 nERACA DAYA DAN RIINCIAN PENGEMBANGAN PEMBANGKIT

A.3 NERACA ENERGI DAN PROYEKSI KEBUTUHAN BAHAN BAKAR

A.4 RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN

A.5 PETA RENCANA PENGEMBANGAN PENYALURAN

A.6 CAPACITY BALANCE GARDU INDUK

A.7 KEBUTUHAN FISIK PENGEMBANGAN DISTRIBUSI

A.8 ANALISA ALIRAN DAYA SISTEM 500 kV

A.9 KEBUTUHAN INVESTASI

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2009-2018


Lampiran A.1
PROYEKSI KEBUTUHAN
TENAGA LISTRIK
SISTEM JAWA BALI
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

96
Seluruh Indonesia
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Seluruh Indonesia
========================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
========================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 227,779.1 230,632.7 233,477.4 236,331.3 239,174.3 242,013.8 244,814.9 247,572.4 250,342.1 253,088.9 255,792.9
Lampiran A.1

- Growth Rate (%) 1.28 1.25 1.23 1.22 1.20 1.19 1.16 1.13 1.12 1.10 1.07
Tenaga Listrik 2009-2018

Growth of GDP (%) 6. 4 6.4 6.4 6.4 6.4 6.4 6.0 6.0 6.0 6.0 6.0
Rencana Usaha Penyediaan

Electrification Ratio (%) 62.8 64.8 67.6 70.6 73.8 77.1 80.4 83.9 87.6 91.5 95.5
136.6 150.8 166.4 183.4 202.1 222.0 243.8 267.4 292.8 320.3
Energy Sales (GWh) 128,911.1 138,685.1 153,093.9 168,890.6 186,179.5 205,188.3 225,374.5 247,489.1 271,464.6 297,241.8 325,186.6
- Growth Rate (%) 6.5 7. 6 10.4 10.3 10.2 10.2 9.8 9.8 9. 7 9.5 9.4
-- Residential 50,019.5 53,736.3 58,983.0 64,761.1 71,039.0 77,919.4 85,315.6 93,420.2 102,278.1 111,973.9 122,307.3
-- Commercial 21,804.4 23,650.4 26,131.4 28,915.3 31,970.4 35,348.3 38,925.6 42,877.8 47,301.3 52,141.7 57,490.5
-- Public 8,066.6 8,773.8 9,778.1 10,874.8 12,091.3 13,450.4 14,911.3 16,537.9 18,179.1 19,993.5 22,003.3
-- Industrial 49,020.6 52,524.6 58,201.3 64,339.4 71,078.7 78,470.2 86,221.9 94,653.1 103,706.1 113,132.8 123,385.4

Power Contracted (MVA) 59,134.2 61,814.7 64,962.9 68,245.9 71,680.0 75,314.9 78,982.4 82,898.5 87,035.7 91,376.1 95,897.7
-- Residential 29,062.0 30,399.9 32,121.8 33,937.8 35,869.6 37,931.7 40,026.6 42,296.9 44,715.0 47,257.8 49,917.4
-- Commercial 11,411.5 11,951.5 12,488.8 13,077.8 13,667.1 14,285.7 14,910.8 15,567.1 16,278.5 17,021.8 17,806.1
-- Public 4,148.1 4,348.4 4,575.5 4,802.6 5,043.6 5,299.1 5,564.2 5,845.6 6,122.3 6,418.6 6,739.7
-- Industrial 14,512.5 15,114.9 15,776.8 16,427.6 17,099.7 17,798.4 18,480.7 19,188.9 19,919.9 20,677.9 21,434.4

Number of Customer 39,134,586 40,968,058 43,352,401 45,882,234 48,574,766 51,450,702 54,364,684 57,523,121 60,885,706 64,425,906 68,126,796
-- Residential 36,354,093 38,056,725 40,303,760 42,689,590 45,231,090 47,948,077 50,699,289 53,685,555 56,870,755 60,223,986 63,725,867
-- Commercial 1,694,486 1,776,044 1,861,171 1,950,207 2,043,076 2,140,480 2,239,507 2,343,737 2,451,309 2,563,618 2,681,964
-- Public 1,035,955 1,083,030 1,132,915 1,185,661 1,241,512 1,300,648 1,362,010 1,427,474 1,494,718 1,566,708 1,644,589
-- Industrial 50,052 52,259 54,554 56,776 59,088 61,497 63,878 66,355 68,923 71,595 74,376
1.07 1.10 1.10 1.10 1.10 1.10 1.10 1.10 1.09 1.09
Total Production (GWh) 3) 150,293.9 160,831.9 177,109.5 194,991.2 214,634.9 236,278.1 259,235.9 284,363.1 311,577.9 339,843.9 371,679.8
Energy Requirement (GWh) 144,557.3 154,692.2 170,346.0 187,540.1 206,429.3 227,241.4 249,319.9 273,485.6 299,659.8 326,847.4 357,431.8
Station Use (%) 2) 3. 8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8 3.8
T&D Losses (%) 1) 10.7 10.2 10.0 9.8 9.7 9.6 9.5 9.4 9.3 8.9 8.9
PS GI&Dis (%) 1) 0. 2 0.2 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1
Load Factor (%) 73.3 72.9 72.6 72.7 72.8 72.9 73.0 73.1 73.2 73.2 73.3
Peak Load (MW) 23,411 25,171 27,830 30,600 33,637 36,982 40,530 44,407 48,605 52,970 57,887

=========================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Jawa-Bali
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Jawa-Bali
============================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
============================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 135,235.5 136,580.7 137,954.4 139,250.8 140,578.1 141,894.0 143,180.5 144,478.3 145,737.2 146,978.4 148,188.4 149,360.3 150,476.6
- Growth Rate (%) 1.02 0.99 1.01 0.94 0.95 0.94 0.91 0.91 0.87 0.85 0.82 0.79 0.75
Growth of GDP (%) 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8
Electrification Ratio (%) 68.2 70.2 72.9 75.6 78.4 81.4 84.2 87.3 90.5 93.8 97.3 99.7 100.0

Energy Sales (GWh) 100,941.8 107,810.1 118,952.5 131,168.1 144,598.1 159,357.4 174,874.1 191,830.0 210,155.9 229,754.6 250,920.0 271,489.9 293,755.2
- Growth Rate (%) 5.6 6.8 10.3 10.3 10.2 10.2 9.7 9.7 9.6 9.3 9.2 8.2 8.2
-- Residential 36,006.9 38,277.5 41,922.2 45,895.5 50,249.7 55,021.5 60,112.2 65,677.3 71,768.5 78,432.4 85,454.3 92,217.9 99,537.1
-- Commercial 16,343.4 17,524.2 19,313.2 21,288.4 23,469.5 25,878.6 28,381.3 31,131.6 34,243.5 37,667.1 41,433.8 45,174.9 49,251.0
-- Public 5,468.1 5,934.0 6,643.3 7,436.6 8,324.1 9,317.0 10,371.8 11,545.5 12,680.2 13,925.9 15,293.5 16,437.0 17,665.7
-- Industrial 43,123.3 46,074.4 51,073.8 56,547.6 62,554.8 69,140.3 76,008.8 83,475.5 91,463.7 99,729.2 108,738.5 117,660.0 127,301.4

Power Contracted (MVA) 44,170.1 45,910.2 47,858.9 49,893.5 52,017.0 54,232.8 56,412.2 58,716.9 61,104.8 63,589.4 66,174.5 69,519.3 72,447.1
-- Residential 20,195.4 21,036.8 22,053.1 23,121.6 24,244.7 25,425.0 26,606.9 27,883.1 29,219.3 30,621.4 32,092.7 33,315.5 33,877.6
-- Commercial 8,535.1 8,841.0 9,158.7 9,488.4 9,830.4 10,185.0 10,530.3 10,887.4 11,276.3 11,679.2 12,096.6 12,585.2 13,147.8
-- Public 2,860.6 2,982.2 3,109.0 3,241.2 3,379.0 3,522.6 3,664.8 3,812.7 3,942.8 4,077.1 4,215.7 4,365.1 4,520.1
-- Industrial 12,579.0 13,050.2 13,538.1 14,042.3 14,563.0 15,100.2 15,610.2 16,133.7 16,666.4 17,211.7 17,769.5 19,253.5 20,901.5

Number of Customer 26,298,321 27,409,620 28,761,899 30,182,889 31,676,196 33,245,620 34,805,342 36,491,054 38,251,697 40,099,106 42,037,648 43,644,546 44,358,473
-- Residential 24,515,855 25,558,220 26,839,007 28,185,854 29,602,265 31,091,935 32,573,383 34,178,072 35,860,201 37,626,557 39,481,425 40,980,565 41,581,643
-- Commercial 1,061,042 1,101,439 1,143,344 1,186,813 1,231,905 1,278,680 1,324,508 1,371,950 1,418,455 1,466,515 1,516,181 1,582,998 1,652,974
-- Public 682,666 709,728 737,787 766,884 797,059 828,355 859,188 891,109 921,422 952,673 984,892 1,021,934 1,060,527
-- Industrial 38,758 40,234 41,760 43,338 44,967 46,651 48,263 49,922 51,618 53,361 55,149 59,049 63,330

Total Production (GWh) 3) 117,353.5 124,693.8 137,313.1 151,186.2 166,500.4 183,339.5 201,020.3 220,324.6 241,174.1 262,465.5 286,644.2 310,142.7 334,660.5
Energy Requirement (GWh) 112,659.4 119,706.1 131,820.6 145,138.7 159,840.4 176,005.9 192,979.5 211,511.6 231,527.2 251,966.8 275,178.5 297,737.0 321,274.1
Station Use (%) 2) 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0
T&D Losses (%) 1) 10.2 9.8 9.6 9.5 9.4 9.3 9.2 9.1 9.1 8.8 8.8 8.8 8.6
PS GI&Dis (%) 1) 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2
Load Factor (%) 76.0 75.5 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0
Peak Load (MW) 17,627 18,854 20,900 23,012 25,343 27,906 30,597 33,535 36,708 39,949 43,629 47,206 50,938
=============================== ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============

97
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

98
PLN Distribusi DKI Jaya & Tangerang
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik PLN Distribusi DKI Jaya & Tangerang
========================= ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ==========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
========================= ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ========== ==========

Total Population (10^3) 14,147.3 14,357.8 14,564.8 14,761.2 14,957.9 15,152.0 15,343.4 15,530.6 15,710.5 15,887.5 16,060.7
Lampiran A.1

- Growth Rate (%) 1.52 1.49 1.44 1.35 1.33 1.30 1.26 1.22 1.16 1.13 1.09
Growth of GDP (%) 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

Electrification Ratio (% ) 86.1 87.2 88.3 89.3 90.3 91.3 92.8 94.4 95.9 97.5 99.2

Energy Sales (GWh) 29,182.6 31,038.7 34,000.9 37,248.0 40,807.5 44,709.7 48,720.0 53,093.3 58,194.0 63,784.0 69,910.2
- Growth Rate (%) 4.5 6.4 9.5 9.5 9.6 9.6 9.0 9.0 9.6 9.6 9.6
-- Residential 9,889.2 10,483.6 11,428.4 12,458.1 13,580.3 14,803.3 16,047.6 17,396.2 18,969.7 20,685.4 22,556.2
-- Commercial 8,529.9 9,027.8 9,817.3 10,674.8 11,605.9 12,616.9 13,639.1 14,742.4 16,194.5 17,788.7 19,538.8
-- Public 2,029.7 2,191.4 2,453.4 2,747.1 3,076.1 3,444.7 3,836.9 4,274.1 4,642.8 5,042.8 5,476.8
-- Industrial 8,733.8 9,335.9 10,301.8 11,368.0 12,545.1 13,844.8 15,196.3 16,680.6 18,387.0 20,267.1 22,338.3

Power Contracted (MVA) 13,429.2 13,939.6 14,469.6 15,019.7 15,590.8 16,183.8 16,797.7 17,435.0 18,125.0 18,842.0 19,587.1
-- Residential 4,751.0 4,922.3 5,099.7 5,283.5 5,473.9 5,671.1 5,898.9 6,135.9 6,382.4 6,638.7 6,905.3
-- Commercial 4,332.4 4,484.2 4,641.0 4,803.2 4,970.7 5,143.9 5,310.6 5,482.5 5,698.5 5,922.9 6,156.0
-- Public 1,187.3 1,244.0 1,303.5 1,365.9 1,431.4 1,500.0 1,568.3 1,639.8 1,696.4 1,754.8 1,815.2
-- Industrial 3,158.5 3,289.2 3,425.3 3,567.1 3,714.8 3,868.8 4,019.8 4,176.9 4,347.8 4,525.6 4,710.6

Number of Customer 3,477,319 3,603,137 3,733,476 3,868,499 4,008,371 4,153,266 4,318,251 4,489,778 4,669,480 4,856,347 5,050,664
-- Residential 3,173,240 3,287,663 3,406,183 3,528,944 3,656,098 3,787,801 3,939,978 4,098,250 4,262,862 4,434,066 4,612,127
-- Commercial 240,474 248,897 257,604 266,604 275,906 285,519 294,772 304,310 316,300 328,755 341,693
-- Public 52,891 55,419 58,070 60,850 63,765 66,822 69,865 73,049 75,570 78,174 80,865
-- Industrial 10,714 11,158 11,619 12,100 12,602 13,124 13,636 14,169 14,749 15,352 15,980

Total Production (GWh) 3) 32,378.3 34,236.4 37,339.1 40,787.4 44,647.1 48,863.1 53,187.7 57,898.9 63,392.2 69,405.9 75,989.3
Energy Requirement (GWh) 32,378.3 34,236.4 37,339.1 40,787.4 44,647.1 48,863.1 53,187.7 57,898.9 63,392.2 69,405.9 75,989.3
Station Use (%) 2) - - - - - - - - - - -
T&D Losses (%) 1) 9.53 9.00 8.60 8.34 8.26 8.16 8.06 7.96 7.86 7.76 7.66
PS GI&Dis (%) 1) 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34
Load Factor (%) 82.4 82.5 82.6 82.7 82.8 82.9 82.9 83.0 83.1 83.2 83.3
Peak Load (MW) 4,483 4,735 5,159 5,632 6,157 6,731 7,320 7,960 8,707 9,523 10,416

============================ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
PLN Distribusi Jawa Barat
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik PLN Distribusi Jawa Barat

========================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
========================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 45,977.9 46,792.5 47,632.8 48,458.1 49,302.3 50,149.0 50,992.2 51,851.7 52,709.6 53,568.6 54,422.2
- Growth Rate (%) 1.81 1.77 1.80 1.73 1.74 1.72 1.68 1.69 1.65 1.63 1.59
Growth of GDP (%) 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8
Electrification Ratio (%) 65.8 68.6 71.5 74.5 77.7 81.1 84.1 87.3 90.5 93.9 97.4

Energy Sales (GWh) 34,663.6 37,054.3 40,858.1 44,968.8 49,445.6 54,312.1 59,540.6 65,187.2 71,109.2 77,074.3 83,252.9
- Growth Rate (%) 7.2 6.9 10.3 10.1 10.0 9.8 9.6 9.5 9.1 8.4 8.0
-- Residential 10,742.2 11,408.2 12,412.6 13,483.6 14,647.0 15,910.8 17,387.3 19,000.8 20,733.7 22,624.9 24,419.6
-- Commercial 2,670.3 2,943.4 3,244.0 3,575.0 3,939.5 4,340.7 4,757.0 5,212.9 5,704.3 6,241.6 6,828.8
-- Public 1,010.7 1,127.4 1,256.1 1,398.1 1,554.5 1,726.8 1,908.0 2,106.4 2,320.9 2,555.3 2,811.4
-- Industrial 20,240.4 21,575.4 23,945.3 26,512.2 29,304.7 32,333.9 35,488.3 38,867.1 42,350.3 45,652.5 49,193.1

Power Contracted (MVA) 13,054.9 13,665.2 14,307.5 14,982.1 15,689.9 16,431.9 17,149.4 17,897.8 18,661.6 19,456.8 20,284.2
-- Residential 5,864.4 6,219.5 6,597.9 7,000.7 7,429.1 7,884.7 8,337.7 8,817.3 9,316.3 9,844.0 10,402.1
-- Commercial 1,517.9 1,565.2 1,615.0 1,667.2 1,721.7 1,778.5 1,834.2 1,891.9 1,950.8 2,011.8 2,074.8
-- Public 491.6 510.8 530.7 551.1 572.1 593.8 615.2 637.1 659.3 682.2 705.7
-- Industrial 5,180.9 5,369.6 5,563.9 5,763.2 5,967.0 6,174.9 6,362.5 6,551.5 6,735.1 6,918.7 7,101.6

Number of Customer 8,201,722 8,699,397 9,227,416 9,787,646 10,382,067 11,012,783 11,627,370 12,276,850 12,951,223 13,663,253 14,415,069
-- Residential 7,759,305 8,240,382 8,751,286 9,293,866 9,870,086 10,482,031 11,078,283 11,708,893 12,364,122 13,056,462 13,788,029
-- Commercial 227,149 235,171 243,468 252,049 260,923 270,102 279,050 288,286 297,673 307,357 317,346
-- Public 204,157 212,307 220,691 229,317 238,191 247,323 256,297 265,513 274,866 284,469 294,329
-- Industrial 11,111 11,536 11,971 12,415 12,867 13,327 13,741 14,157 14,561 14,964 15,365

Total Production (GWh) 3) 37,769.8 40,017.9 44,102.1 48,513.1 53,314.0 58,542.4 64,157.4 70,219.1 76,573.5 82,970.3 89,602.3
Energy Requirement (GWh) 37,694.3 39,937.9 44,013.9 48,416.1 53,207.4 58,425.3 64,029.1 70,078.7 76,420.4 82,804.3 89,423.1
Station Use (%) 2) 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2
T&D Losses (%) 1) 8.04 7.22 7.17 7.12 7.07 7.04 7.01 6.98 6.95 6.92 6.90
PS GI&Dis (%) 1) - - - - - - - - - - -
Load Factor (%) 82.9 83.1 83.3 83.5 83.7 83.8 84.0 84.2 84.4 84.6 84.7
Peak Load (MW) 5,198 5,496 6,044 6,634 7,275 7,971 8,717 9,520 10,359 11,201 12,071

========================== ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============

99
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

100
PLN Distribusi Jawa Tengah & DIY
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik PLN Distribusi Jawa Tengah & DIY

============================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
============================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 35,610.2 35,749.0 35,890.6 36,008.0 36,131.1 36,248.9 36,355.7 36,463.0 36,556.1 36,642.7
Lampiran A.1

- Growth Rate (%) 0.42 0.39 0.40 0.33 0.34 0.33 0.29 0.30 0.26 0.24
Tenaga Listrik 2009-2018

Growth of GDP (%) 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 5.8 5.8 5.8 5.8
Rencana Usaha Penyediaan

Electrification Ratio (%) 68.4 70.1 72.8 75.7 78.7 81.8 84.8 87.9 91.2 94.6

Energy Sales (GWh) 14,154.1 15,126.1 16,955.1 19,006.4 21,307.2 23,888.0 26,614.1 29,653.3 32,988.2 36,697.4
- Growth Rate (%) 4.8 6.9 12.1 12.1 12.1 12.1 11.4 11.4 11.2 11.2
-- Residential 6,855.1 7,300.9 8,136.5 9,067.5 10,105.1 11,261.2 12,470.2 13,808.9 15,324.7 17,006.6
-- Commercial 1,544.1 1,656.6 1,869.2 2,109.4 2,380.6 2,686.9 3,013.9 3,381.0 3,738.7 4,133.8
-- Public 1,102.5 1,183.5 1,336.6 1,509.5 1,705.0 1,925.9 2,161.8 2,426.8 2,712.2 3,031.1
-- Industrial 4,652.4 4,985.1 5,612.9 6,320.0 7,116.6 8,014.0 8,968.2 10,036.7 11,212.6 12,525.9

Power Contracted (MVA) 6,868.2 7,101.3 7,398.7 7,708.7 8,031.9 8,368.8 8,699.2 9,042.8 9,398.5 9,768.5
-- Residential 4,191.0 4,327.3 4,524.2 4,730.1 4,945.4 5,170.4 5,391.2 5,621.4 5,866.8 6,122.9
-- Commercial 878.5 910.5 943.7 978.1 1,013.8 1,050.9 1,087.2 1,124.9 1,158.7 1,193.5
-- Public 521.2 540.4 560.2 580.8 602.2 624.4 646.1 668.6 690.9 714.0
-- Industrial 1,277.5 1,323.2 1,370.6 1,419.6 1,470.4 1,523.1 1,574.7 1,628.0 1,682.1 1,738.1

Number of Customer 6,920,490 7,147,227 7,468,634 7,804,511 8,155,510 8,522,312 8,882,143 9,257,179 9,654,881 10,069,659
-- Residential 6,497,306 6,708,563 7,013,915 7,333,140 7,666,865 8,015,749 8,358,014 8,714,862 9,095,343 9,492,364
-- Commercial 209,397 217,027 224,941 233,151 241,667 250,502 259,162 268,130 276,189 284,482
-- Public 208,860 216,532 224,490 232,744 241,305 250,186 258,893 267,908 276,861 286,108
-- Industrial 4,928 5,104 5,287 5,476 5,672 5,875 6,074 6,280 6,489 6,705

Total Production (GWh) 3) 15,206.6 16,233.5 18,176.9 20,354.2 22,793.8 25,527.3 28,410.2 31,620.7 35,139.4 39,048.9
Energy Requirement (GWh) 15,206.6 16,233.5 18,176.9 20,354.2 22,793.8 25,527.3 28,410.2 31,620.7 35,139.4 39,048.9
Station Use (%) 2) - - - - - - - - - -
T&D Losses (%) 1) 6.92 6.82 6.72 6.62 6.52 6.42 6.32 6.22 6.12 6.02
PS GI&Dis (%) 1) - - - - - - - - - -
Load Factor (%) 65.4 65.7 66.0 66.3 66.7 67.0 67.3 67.7 68.0 68.4
Peak Load (MW) 2,656 2,821 3,143 3,503 3,903 4,349 4,816 5,334 5,898 6,521

============================== ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Proyeksi Kebutuhan
PLN Tenaga Listrik
Distribusi PLN Distribusi
Jawa Timur Jawa Timur
=========================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
=========================== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 35,989.9 36,128.0 36,269.5 36,387.3 36,510.5 36,628.5 36,734.5 36,840.4 36,932.3 37,015.0
- Growth Rate (%) 0.41 0.38 0.39 0.32 0.34 0.32 0.29 0.29 0.25 0.22
Growth of GDP (%) 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2 5.8 5.8 5.8 5.8
Electrification Ratio (%) 64.0 65.7 68.4 71.2 74.1 77.1 80.1 83.6 87.3 91.2

Energy Sales (GWh) 20,454.5 21,936.3 24,114.3 26,509.8 29,144.7 32,043.3 35,054.9 38,351.7 41,634.6 45,198.9
- Growth Rate (%) 5.1 7.2 9.9 9.9 9.9 9.9 9.4 9.4 8.6 8.6
-- Residential 7,441.8 7,941.6 8,672.3 9,470.0 10,340.8 11,291.5 12,267.4 13,327.3 14,355.0 15,461.6
-- Commercial 2,461.2 2,676.4 2,996.4 3,353.8 3,752.9 4,198.7 4,673.0 5,199.8 5,672.9 6,188.8
-- Public 1,155.5 1,248.5 1,386.2 1,539.3 1,709.4 1,898.4 2,097.9 2,318.6 2,528.5 2,757.3
-- Industrial 9,396.1 10,069.8 11,059.4 12,146.8 13,341.6 14,654.6 16,016.6 17,506.0 19,078.2 20,791.1

Power Contracted (MVA) 9,483.0 9,824.8 10,244.5 10,682.2 11,138.8 11,615.1 12,083.7 12,608.9 13,135.7 13,685.3
-- Residential 4,731.1 4,890.0 5,119.9 5,360.5 5,612.4 5,876.0 6,135.5 6,443.8 6,767.6 7,107.7
-- Commercial 1,262.9 1,318.2 1,375.7 1,435.6 1,497.9 1,562.9 1,627.3 1,694.2 1,750.5 1,808.6
-- Public 571.6 594.6 618.5 643.4 669.4 696.4 723.1 750.9 775.7 801.3
-- Industrial 2,917.4 3,022.0 3,130.4 3,242.7 3,359.1 3,479.8 3,597.8 3,719.9 3,841.9 3,967.8

Number of Customer 6,959,269 7,197,566 7,533,310 7,884,626 8,252,234 8,636,887 9,015,616 9,461,816 9,925,328 10,411,670
-- Residential 6,434,867 6,650,984 6,963,637 7,290,913 7,633,492 7,992,085 8,344,997 8,764,370 9,204,768 9,667,245
-- Commercial 322,840 336,957 351,658 366,966 382,907 399,506 415,976 433,091 447,473 462,323
-- Public 190,199 197,855 205,823 214,118 222,753 231,743 240,631 249,867 258,124 266,649
-- Industrial 11,362 11,769 12,192 12,629 13,082 13,552 14,012 14,488 14,962 15,453

Total Production (GWh) 3) 22,219.2 23,803.0 26,138.0 28,703.4 31,522.3 34,619.8 37,832.7 41,346.1 44,837.0 48,623.1
Energy Requirement (GWh) 22,219.2 23,803.0 26,138.0 28,703.4 31,522.3 34,619.8 37,832.7 41,346.1 44,837.0 48,623.1
Station Use (%) 2) - - - - - - - - - -
T&D Losses (%) 1) 7.93 7.83 7.73 7.63 7.53 7.43 7.33 7.23 7.13 7.03
PS GI&Dis (%) 1) 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
Load Factor (%) 68.9 69.1 69.3 69.5 69.7 69.9 70.1 70.4 70.6 70.8
Peak Load (MW) 3,681 3,932 4,305 4,713 5,160 5,651 6,157 6,708 7,253 7,842

============================ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============

101
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

102
PLN Distribusi Bali
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik PLN Distribusi Bali
========================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========
Calendar Year 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
========================= =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== =========== ===========

Total Population (10^3) 3,510.2 3,553.4 3,596.7 3,636.2 3,676.3 3,715.6 3,754.7 3,792.6 3,828.7 3,864.6 3,899.5
- Growth Rate (%) 1.25 1.23 1.22 1.10 1.10 1.07 1.05 1.01 0.95 0.94 0.90
Lampiran A.1

Growth of GDP (%) 6.6 6.6 6.6 6.6 6.6 6.6 6.2 6.2 6.2 6.2 6.2
Tenaga Listrik 2009-2018

Electrification Ratio (%) 72.3 73.4 76.0 78.7 81.5 84.4 87.2 90.1 93.0 96.1 99.3
Rencana Usaha Penyediaan

Energy Sales (GWh) 2,487.0 2,654.7 3,024.1 3,435.1 3,893.1 4,404.3 4,944.5 5,544.5 6,229.9 7,000.1 7,865.5
- Growth Rate (%) 4.7 6.7 13.9 13.6 13.3 13.1 12.3 12.1 12.4 12.4 12.4
-- Residential 1,078.6 1,143.1 1,272.4 1,416.3 1,576.4 1,754.6 1,939.6 2,144.1 2,385.4 2,653.9 2,952.5
-- Commercial 1,138.0 1,220.0 1,386.3 1,575.4 1,790.6 2,035.4 2,298.3 2,595.6 2,933.1 3,314.2 3,744.5
-- Public 169.8 183.3 210.9 242.6 279.1 321.2 367.1 419.7 475.8 539.3 611.2
-- Industrial 100.6 108.2 154.4 200.7 246.9 293.2 339.4 385.1 435.6 492.7 557.3

Power Contracted (MVA) 1,334.8 1,379.2 1,438.7 1,500.7 1,565.5 1,633.2 1,699.6 1,768.8 1,840.6 1,915.4 1,993.2
-- Residential 658.0 677.7 711.4 746.8 783.9 822.8 861.1 901.1 942.9 986.7 1,032.5
-- Commercial 543.4 563.0 583.3 604.3 626.2 648.8 671.0 693.9 717.8 742.5 768.0
-- Public 88.9 92.4 96.1 99.9 103.9 108.0 112.1 116.4 120.5 124.7 129.1
-- Industrial 44.5 46.2 47.9 49.7 51.6 53.6 55.5 57.4 59.4 61.5 63.6

Number of Customer 739,520 762,294 799,062 837,607 878,014 920,373 961,962 1,005,430 1,050,785 1,098,177 1,147,700
-- Residential 651,137 670,627 703,986 738,992 775,724 814,268 852,111 891,697 933,106 976,419 1,021,725
-- Commercial 61,181 63,386 65,672 68,043 70,501 73,051 75,548 78,132 80,820 83,598 86,470
-- Public 26,559 27,615 28,713 29,855 31,044 32,281 33,503 34,772 36,001 37,273 38,588
-- Industrial 642 666 692 718 745 773 800 829 857 887 918

Total Production (GWh) 3) 2,674.2 2,852.9 3,243.0 3,673.9 4,141.6 4,685.4 5,260.1 5,898.4 6,627.6 7,446.9 8,367.5
Energy Requirement (GWh) 2,674.2 2,852.9 3,243.0 3,673.9 4,141.6 4,685.4 5,260.1 5,898.4 6,627.6 7,446.9 8,367.5
Station Use (%) 2) - - - - - - - - - - -
T&D Losses (%) 1) 7.00 6.95 6.75 6.50 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00 6.00
PS GI&Dis (%) 1) - - - - - - - - - - -
Load Factor (%) 65.1 66.1 67.1 68.1 69.1 70.1 71.1 72.1 73.1 74.1 75.1
Peak Load (MW) 469 492 551 616 684 763 844 933 1,035 1,147 1,271

========================= ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============ ============
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan Lampiran A.1

PENJELASAN Lampiran A.1


PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Proyeksi Kebutuhan Listrik Sistem Jawa – Bali

Proyeksi kebutuhan sistem Jawa – Bali disusun berdasarkan proyeksi kebutuhan listrik di masing-masing PLN
Distribusi, yaitu PLN Distribusi Jawa Barat & Banten, PLN Distribusi DKI Jakarta & Tangerang, PLN Distribusi
Jawa Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi Jawa Timur serta PLN Distribusi Bali, dengan memperhitung-
kan dinamika pertumbuhan ekonomi setempat, peningkatan rasio elektrifikasi serta adanya perbaikan tingkat
efisiensi (penurunan susut distribusi) di masing-masing regional sistem distribusi.

Kebutuhan listrik sistem Jawa Bali pada tahun 2009 sebesar 107.8 TWh akan naik menjadi 250.9 TWh pada
tahun 2018, atau tumbuh rata-rata sebesar 9.54% per tahun. Perkiraan ini sudah termasuk sistem kecil yang
masih terpisah dari sistem besar Jawa - Bali.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga listrik di Jawa-Bali sebagian besar atau 35% memenuhi
kebutuhan konsumen di Jawa Barat dan Banten, sekitar 29% di DKI Jakarta & Tangerang, 20% memenuhi
kebutuhan konsumen di Jawa Timur, 14% untuk konsumen di Jawa Tengah & DI Yogyakarta serta 3% untuk
konsumen di Bali, dengan proyeksi kebutuhan listrik sesuai Tabel  A.1.1.

Tabel A.1.1 Kebutuhan tenaga listrik per wilayah kerja PLN Distribusi (GWh)

Tahun DKI Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali Jumlah
2009 31,039 37,054 15,126 21,936 2,655 107,810
2010 34,001 40,858 16,955 24,114 3,024 118,952
2011 37,248 44,969 19,006 26,510 3,435 131,168
2012 40,807 49,446 21,307 29,145 3,893 144,598
2013 44,710 54,312 23,888 32,043 4,404 159,357
2014 48,720 59,541 26,614 35,055 4,945 174,874
2015 53,093 65,187 29,653 38,352 5,545 191,830
2016 58,194 71,109 32,988 41,635 6,230 210,156
2017 63,784 77,074 36,697 45,199 7,000 229,755
2018 69,910 83,253 40,823 49,069 7,865 250,920

Beban puncak sistem Jawa Bali pada tahun 2009 sebesar 18.85 GW akan naik menjadi 43.63 GW pada tahun
2018 atau rata-rata naik sebesar 2,600 MW per tahun setara dengan tumbuh 9.49% per tahun.

Beban puncak tersebut merupakan kontribusi beban di wilayah kerja PLN Distribusi Jawa Barat & Banten 28%,
PLN Distribusi DKI Jakarta & Tangerang 24%, PLN Distribusi Jawa Timur 19,5%, PLN Distribusi Jawa Tengah
& DI Yogyakarta 16,5% dan PLN Distribusi Bali sebesar 3%.

103
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan Lampiran A.1

Proyeksi beban puncak sistem distribusi pada periode 2009-2018 per wilayah kerja PLN Distribusi dan perkem-
bangan beban puncak sistem Jawa Bali ditunjukkan pada Tabel A.1.2.

Tabel A.1.2 Beban puncak per wilayah kerja PLN Distribusi (MW)

Tahun DKI Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali Jumlah
2009 4,735 5,496 2,821 3,932 492 18,854
2010 5,159 6,044 3,143 4,305 551 20,900
2011 5,632 6,634 3,503 4,713 616 23,012
2012 6,157 7,275 3,903 5,160 684 25,343
2013 6,731 7,971 4,349 5,651 763 27,906
2014 7,320 8,717 4,816 6,157 844 30,597
2015 7,960 9,520 5,334 6,708 933 33,535
2016 8,707 10,359 5,898 7,253 1,035 36,708
2017 9,523 11,201 6,521 7,842 1,147 39,949
2018 10,416 12,071 7,211 8,478 1,271 43,629

Jumlah pelanggan yang tersambung di sistem Jawa Bali pada tahun 2009 sejumlah 27,4 juta pelanggan, akan
bertambah menjadi 42,0 juta pelanggan pada tahun 2018 atau jumlah calon pelanggan yang akan disambung
pada periode tersebut rata-rata 1,57 juta pelanggan per tahun.
Sistem Jawa Bali akan melayani pelanggan secara tersebar dengan porsi jumlah pelanggan terbanyak berada
di wilayah kerja PLN Distribusi Jawa Barat & Banten yaitu 34%, disusul PLN Distribusi Jawa Timur sebanyak
26%, kemudian PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta 25%, PLN Distribusi DKI Jakarta & Tangerang
12% dan PLN Distribusi Bali sebanyak 3%.

Proyeksi jumlah pelanggan pada periode 2009-2018 per wilayah kerja PLN Distribusi di Jawa - Bali sesuai
Tabel A.1.3.

Tahun DKI Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali Jumlah
Tabel A.1.3
2009 Proyeksi jumlah
3,603,137 pelanggan
8,699,397 per wilayah
7,147,227 kerja PLN Distribusi
7,197,566 762,294 27,409,620
2010 3,733,476 9,227,416 7,468,634 7,533,310 799,062 28,761,899
2011 3,868,499 9,787,646 7,804,511 7,884,626 837,607 30,182,889
2012 4,008,371 10,382,067 8,155,510 8,252,234 878,014 31,676,196
2013 4,153,266 11,012,783 8,522,312 8,636,887 920,373 33,245,620
2014 4,318,251 11,627,370 8,882,143 9,015,616 961,962 34,805,342
2015 4,489,778 12,276,850 9,257,179 9,461,816 1,005,430 36,491,054
2016 4,669,480 12,951,223 9,654,881 9,925,328 1,050,785 38,251,697
2017 4,856,347 13,663,253 10,069,659 10,411,670 1,098,177 40,099,106
2018 5,050,664 14,415,069 10,502,244 10,921,970 1,147,700 42,037,648

Daya kontrak pelanggan sistem Jawa Bali pada tahun 2009 hampir 45.910 MVA, diproyeksikan pada tahun
2018 akan tumbuh menjadi 66.276 MVA atau akan ada penambahan daya kontrak rata-rata sebesar 2.210
MVA per tahun.

104
Jumlah daya terkontrak paling banyak berada di wilayah kerja PLN Distribusi Jawa Barat & Banten sebesar
31%, PLN Distribusi DKI Jakarta & Tangerang sebesar 30%, disusul PLN Distribusi Jawa Timur sebesar 21%,
kemudian PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta 15%, dan PLN Distribusi Bali sebesar 3%.

Proyeksi daya terkontrak pada periode 2009-2018 per wilayah kerja PLN Distribusi di Jawa - Bali sesuai Tabel
A.1.4.

Tabel A.1.4 Proyeksi daya kontrak per wilayah kerja PLN Distribusi (MVA)

Tahun DKI Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Bali Jumlah
2009 13,940 13,665 7,101 9,825 1,379 45,910
2010 14,470 14,307 7,399 10,244 1,439 47,859
2011 15,020 14,982 7,709 10,682 1,501 49,894
2012 15,591 15,690 8,032 11,139 1,566 52,017
2013 16,184 16,432 8,369 11,615 1,633 54,233
2014 16,798 17,149 8,699 12,084 1,700 56,430
2015 17,435 17,898 9,043 12,609 1,769 58,753
2016 18,125 18,662 9,399 13,136 1,841 61,161
2017 18,842 19,457 9,768 13,685 1,915 63,668
2018 19,587 20,284 10,153 14,259 1,993 66,276

1. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik DKI Jakarta &


Tangerang

DKI Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan mempunyai posisi dan peran yang sangat
strategis dan sentral. Keberadaan kawasan bisnis dan pusat-pusat industri, masih akan terus dikem-
bangkan sebagai satu kesatuan yang menyertai keberadaan dan dinamika sebagai Ibukota, membutuh-
kan tenaga listrik dalam jumlah besar. Oleh karena itu, kecukupan dan kehandalan pasokan listrik mutlak
diperlukan.

1.1. Asumsi

− Pertumbuhan ekonomi diasumsikan rata-rata sebesar 6% per tahun dan tidak dipengaruhi oleh
gejolak yang bersifat jangka pendek seperti krisis finansial global.
− Pertumbuhan penduduk diproyeksikan 1,3% per tahun
− Susut distribusi ditargetkan akan turun menjadi 7,7% pada tahun 2018
− Rasio elektrifikasi ditargetkan mencapai hampir 100% pada tahun 2018
− Elastisitas, rasio pertumbuhan listrik terhadap pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 1,5

1.2. Proyeksi Kebutuhan Listrik DKI Jakarta & Tangerang

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan dengan menggunakan asumsi tersebut di­atas,
kebutuhan listrik dihitung dengan software DKL 3.01 dan diperoleh proyeksi kebutuhan listrik 2009 –

105
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan
Lampiran
Lampiran
A.1 A.1

2018 meliputi energi terjual dan energi siap dikirim, beban puncak sistem distribusi dan jumlah pelanggan
tersam­bung dan daya kontrak.

2. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik Jawa Barat &


Banten

Jawa Barat & Banten mempunyai jumlah populasi terbesar di sistem Jawa Bali, dengan keberadaan
industri-industri besar yang tersebar di banyak kawasan, membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar
dengan tingkat keandalan yang memadai. Kebutuhan listrik paling besar diserap oleh konsumen industri
yang mencapai porsi 59%, disusul konsumen rumah tangga yang mencapai sekitar 30% dan bisnis serta
publik masing-masing 8% dan 3%. Mengingat posisi Banten yang berdekatan dengan DKI Jakarta, maka
industri disana pun akan semakin berkembang pesat. Oleh karena itu, ketersediaan pasokan listrik dalam
jumlah yang cukup dan handal sangat diperlukan.

2.1. Asumsi

− Pertumbuhan ekonomi di asumsikan rata-rata sebesar 6% per tahun dan tidak dipengaruhi oleh
gejolak yang bersifat jangka pendek seperti krisis finansial global.
− Pertumbuhan penduduk diproyeksikan 1,7% per tahun
− Susut distribusi ditargetkan bisa turun menjadi 6,9% pada tahun 2018
− Rasio elektrifikasi ditargetkan mencapai 97% pada tahun 2018
− Elastisitas, rasio pertumbuhan listrik terhadap pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 1,5.

2.2. Proyeksi Kebutuhan Listrik Jawa Barat & Banten 2009-2018

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan dengan menggunakan asumsi tersebut di atas,
kebutuhan listrik dihitung dengan software DKL 3.01, diperoleh proyeksi kebutuhan listrik 2009 – 2018.

3. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik Jawa Tengah & DI


Yogyakarta

Jawa Tengah & DI Yogyakarta lebih merupakan daerah untuk pemukiman, hal ini tercermin dari tingkat
penggunaan energi listriknya. Konsumsi listrik lebih banyak diserap oleh sektor rumah tangga yang men-
capai 46%, kemudian disusul kelompok industri sebesar 34%, sektor bisnis dan publik masing-masing
sebesar 11% dan 8%. Mengingat masih banyak masyarakat yang akan dilistriki, maka kebutuhan listrik
di Jawa Tengah & DI Yogyakarta masih cukup besar. Oleh karena itu, ketersediaan pasokan listrik dalam
jumlah cukup dan handal sangat diperlukan.

106
3.1. Asumsi

− Pertumbuhan ekonomi di asumsikan rata-rata sebesar 6% per tahun dan tidak dipengaruhi oleh
gejolak yang bersifat jangka pendek seperti krisis finansial global.
− Pertumbuhan penduduk diproyeksikan 0,3% per tahun
− Susut distribusi ditargetkan turun menjadi 5,9% pada tahun 2018
− Rasio elektrifikasi pada tahun 2009 sebesar 70%, ditargetkan pada tahun 2018 bisa mencapai
98%
− Elastisitas, rasio pertumbuhan listrik terhadap pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 1,87 meng-
ingat adanya upaya untuk melistriki lebih banyak pada tahun-tahun mendatang.

3.2. Proyeksi Kebutuhan Listrik Jawa Tengah & DI Yogyakarta 2009-2018

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan dengan menggunakan asumsi tersebut diatas,
kebutuhan listrik dihitung dengan software DKL 3.01, diperoleh proyeksi kebutuhan listrik 2009 – 2018.

4. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik Jawa Timur

Jawa Timur dengan populasi penduduk terbesar nomor dua setelah Jawa Barat & Banten, merupakan
daerah yang potensial untuk tetap dikembangkan sebagai daerah industri dan perdagangan mengingat
posisi geografis dan ketersediaan infrastruktur yang cukup memadai. Konsumsi listrik sektor industri
menyerap porsi terbesar, mencapai 46%, disusul sektor rumah tangga sebesar 36%, sektor komersial
sebesar 12% dan kelompok pelanggan publik 6%. Mengingat industri masih akan terus berkembang dan
banyak masyarakat yang akan dilistriki, maka kebutuhan listrik di Jawa Timur masih cukup besar. Oleh
karena itu, ketersediaan pasokan listrik dalam jumlah cukup dan handal sangat diperlukan.

4.1 Asumsi

− Pertumbuhan ekonomi di asumsikan rata-rata sebesar 6% per tahun dan tidak dipengaruhi oleh
gejolak yang bersifat jangka pendek seperti krisis finansial global.
− Pertumbuhan penduduk diproyeksikan 0,3% per tahun.
− Susut distribusi ditargetkan turun menjadi 6,9% pada tahun 2018.
− Rasio elektrifikasi pada tahun 2009 sebesar 66%, ditargetkan pada tahun 2018 mencapai 95%.
− Elastisitas, rasio pertumbuhan listrik terhadap pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 1,5 meng-
ingat adanya upaya untuk melistriki lebih banyak pada tahun-tahun mendatang, baik untuk industri
maupun rumah tangga.

107
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan
Lampiran
Lampiran
A.1 A.1

4.2 Proyeksi Kebutuhan Listrik Jawa Tengah & DI Yogyakarta 2009-2018

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan dengan menggunakan asumsi tersebut di atas,
kebutuhan listrik di hitung dengan software DKL 3.01, diperoleh proyeksi kebutuhan listrik 2009 – 2018.

5. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik Bali

Pulau Bali adalah daerah tujuan wisata dunia dan merupakan salah satu andalan bagi Indonesia untuk
mendapatkan devisa. Jutaan wisatawan asing dan domestik setiap tahunnya berkunjung ke Bali. Hotel
dan kawasan bisnis tumbuh cepat dan dinamis. Hal ini tercermin dari konsumsi listrik yang didominasi
kelompok pelanggan komersial yang menempati porsi terbesar, yaitu 46%, disusul sektor rumah tangga
sebesar 43%, sektor publik sebesar 7% dan sektor industri 4%. Mengingat industri pariwisata akan terus
dikembangkan termasuk fasilitas pendukungnya dan banyak masyarakat yang akan dilistriki, maka kebu-
tuhan listrik di Bali masih besar. Oleh karena itu, ketersediaan pasokan listrik dalam jumlah yang cukup
dan handal sangat diperlukan.

5.1 Asumsi

− Pertumbuhan ekonomi di asumsikan rata-rata sebesar 6,4% per tahun dan tidak dipengaruhi oleh
gejolak yang bersifat jangka pendek seperti krisis finansial global.
− Pertumbuhan penduduk diproyeksikan rata-rata 1% per tahun.
− Susut distribusi ditargetkan menjadi 6% pada tahun 2018.
− Rasio elektrifikasi pada tahun 2009 sebesar 73%, ditargetkan pada tahun 2018 mencapai 99%.
− Elastisitas, rasio pertumbuhan listrik terhadap pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 2 mengingat
adanya upaya untuk melistriki lebih banyak pada tahun-tahun mendatang, baik untuk pelanggan
bisnis maupun rumah tangga.

5.2 Proyeksi Kebutuhan Listrik Jawa Tengah & DI Yogyakarta 2009-2018

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan dengan menggunakan asumsi tersebut diatas,
kebutuhan listrik dihitung dengan software DKL 3.01, diperoleh proyeksi kebutuhan listrik 2009 – 2018.

108
Lampiran A.2
NERACA DAYA &
RINCIAN PENGEMBANGAN
PEMBANGKIT SISTEM JAWA BALI
110
Grafik Neraca Daya Sistem Jawa-Bali
Grafik Neraca Daya Sistem Jawa-Bali

43%
65,000

Kapasitas Terpasang PLTP IPP


PLTP PLN PLTU IPP
Lampiran A.2

60,000 PLTU PLN PLTU PLN Baru Pumped Storage


PLTGU IPP PLTGU PLN
Tenaga Listrik 2009-2018

PLTG IPP PLTG PLN 42%


Rencana Usaha Penyediaan

PLTA IPP PLTA PLN


PLTN PEAK DEMAND FORECAST
55,000
42%
PLTG
50,000 42%

42% PLTGU
45,000

42%
40,000
43% PLTU PERCEPATAN 2
35,000
41%

44%
30,000

33%
PLTU PERCEPATAN 1
25,000 PLTU IPP
26%
PLTP IPP
20,000

Kapasitas Terpasang
15,000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

2
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [1/4]
No. Pasokan dan Kebutuhan 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Kebutuhan
Sales GWh 100,942 107,810 118,952 131,168 144,598 159,357 174,874 191,830 210,156 229,755 250,920
Pertumbuhan % 5.6 6.8 10.3 10.3 10.2 10.2 9.7 9.7 9.6 9.3 9.2
Produksi GWh 117,354 124,694 137,313 151,186 166,500 183,340 201,020 220,325 241,174 262,465 286,644
Faktor Beban % 76.0 75.5 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0 75.0
Beban Puncak Bruto MW 17,627 18,854 20,900 23,012 25,343 27,906 30,597 33,535 36,708 39,949 43,629
2 Pasokan MW
Kapasitas Terpasang 22,236 21,936 21,503 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327 21,327
PLN 18,371 18,071 17,638 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462 17,462
IPP 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865 3,865
Retired 0 -300 -433 -176 0 0 0 0 0 0 0
3 Tambahan Kapasitas
3.1 PLN
Ongoing Project MW - 2,890 5,218 900 - - - - - - -
Rencana
Upper Cisokan PS PS - - - - - - 1,000 - - - -
Muara Tawar Add-On 2,3,4 PLTGU - - - 150 1,050 - - - - - -
Bojanegara (LNG Terminal) PLTGU - - - - - - - 750 750 750 -
PLTGU Baru PLTGU - - - - - - - - 1,500 - 1,500
PLTG Baru PLTG - - - - - - - 1,400 - 1,200 -
PLTU Baru PLTU - - - - 1,000 2,000 - 1,000 - - 2,000
Kesamben PLTA - - - - - - - - - 37 -
Kalikonto-2 PLTA - - - - - - - - 62 - -
Matenggeng PS PS - - - - - - - - - 885 -
Grindulu PS PS - - - - - - - - - - 1,000

111
112
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [1/4]
lanjutan
No. Pasokan dan Kebutuhan 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

3.2 IPP
Ongoing Project MW 60 260 130 910 - - - - - - -
Lampiran A.2

Rencana
Tenaga Listrik 2009-2018

Banten PLTU - - - - - - 660 - - - -


Rencana Usaha Penyediaan

Madura PLTU - - - - 100 100 - - - - -


Bali Timur (Infrastruktur) PLTU - - - - - 200 - - - - -
Sumatera Mulut Tambang PLTU - - - - - - - - 1,800 1,200 -
PLTU Jawa Tengah
(Infrastruktur) PLTU - - - - - - 1,000 1,000 - - -
Paiton #3-4 Exp (IPP) PLTU - - - - 800 - - - - - -
Tanjung Jati B Exp (IPP) PLTU - - - 660 660 - - - - - -
PLTU Jabar (Ex. Tj Jati A) PLTU - - - - - 660 660 - - - -
Panas Bumi PLTP - - - - 225 415 505 40 140 640 945
Rajamandala PLTA - - - - - - - - 30 - -
Jatigede PLTA - - - - - - - - - 110 -
4 Jumlah Pasokan 22,296 25,146 30,061 32,505 36,340 39,715 43,540 47,730 52,012 56,834 62,279
5 Cadangan % 26 33 44 41 43 42 42 42 42 42 43
Daftar Ongoing Project Pembangkit [2/4]
Sistem Jawa-Bali
Daftar Ongoing Project Pembangkit [2/4] Sistem Jawa-Bali

No. Nama Pembangkit 2008 2009 2010 2011


Ongoing Project
PLN
Muara Karang PLTGU - 500 /Juni 194 /Juli -
Muara Tawar PLTGU - - 241 /Juni -
Priok Extension PLTGU - 500 /Des 243 /Nov -
Suralaya #8 PLTU - - 625 /Mar -
Labuan PLTU - 600 /Jun-Sep - -
Teluk Naga/Lontar PLTU - - 945 /Feb-Mei-Agt -
Pelabuhan Ratu PLTU - - 1,050 /Feb-Mei-Agt -
Indramayu PLTU - 660 /Sep-Des 330 /Mar -
Rembang PLTU - 630 /Sep-Des - -
Pacitan PLTU - - 630 /Feb-Mei -
Paiton Baru PLTU - - 660 /Mar -
Tj. Awar-awar PLTU - - 300 /Okt 300 /Jan
Tj Jati Baru / Cilacap Baru PLTU - - - 600 /Agt
Total Ongoing Project PLN - 2,890 5,218 900
IPP
Kamojang #4 - Operasi PLTP 60 /Jan - - -
Wayang Windu PLTP - 110 /Mar - -
Cikarang Listrindo PLTG 150 /Jul
Cirebon PLTU - - - 660 /Nov
Bali Utara/Celukan Bawang PLTU - - 130 250 /Mid
Total Ongoing Project IPP 60 260 130 910
Total Ongoing Project 60 3,150 5,348 1,810

113
Jadwal Proyek Pembangkit Panas Bumi [3/4]

114
Jadwal Proyek Pembangkit Jawa-Bali
SistemPanas Bumi [3/4] Sistem Jawa-Bali

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Proyek Panas Bumi
IPP
Cibuni PLTP - - - - - 10 - - - - -
Lampiran A.2

Patuha PLTP - - - - - 180 - - - - -


Tenaga Listrik 2009-2018

Bedugul PLTP - - - - 10 - - - 55 55 55
Rencana Usaha Penyediaan

Gunung Tangkuban Perahu PLTP - - - - - - 110 - - - -


Cisolok - Cisukarame PLTP - - - - - - 30 - 55 55 -
Ungaran PLTP - - - - - - 55 - 30 55 55
Kamojang PLTP - - - - - 60 - 40 - - -
Salak PLTP - - - - - 40 - - - - -
Darajat PLTP - - - - 20 55 - - - - -
Wayang Windu PLTP - - - - 110 70 - - - 50 -
Karaha Bodas PLTP - - - - 30 - 110 - - - 110
Dieng PLTP - - - - 55 - 60 - - 55 55
Ijen PLTP - - - - - - 30 - - - -
Wilis/Ngebel PLTP - - - - - - 110 - - - -
Batukuwung PLTP - - - - - - - - - 55 110
Endut PLTP - - - - - - - - - 110 110
Mangunan PLTP - - - - - - - - - 30 55
Slamet PLTP - - - - - - - - - 55 110
Arjuno PLTP - - - - - - - - - 55 55
Iyang Argopuro PLTP - - - - - - - - - 55 220
Citaman-Karang PLTP - - - - - - - - - 10 10
Total Proyek Panas Bumi - - - - 225 415 505 40 140 640 945
Jadwal Penghapusan (Retirement) [4/4]
Sistem Jawa-Bali 2008-2018
Jadwal Penghapusan (Retirement) [4/4] Sistem Jawa-Bali 2008-2018

Pembangkit 2009 2010 2011


Retired
1 Sunyaragi PLTG 40
2 Cilacap PLTG 55
3 Gilitimur PLTG 40
4 Pemaron PLTG 98
5 Tambak Lorok PLTU 100
6 Priok PLTU 100
7 Perak PLTU 100
8 Muara Karang PLTU 300
9 Bali PLTD 38 38
Total Retired 300 433 176

115
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Lampiran A.2

Rincian Proyek Pembangkit


Sistem
Rincian Proyek Jawa-Bali
Pembangkit 2008-2018
Sistem Jawa-Bali 2008-2018
Ka pa sita s T a hun Sumbe r
No N a ma Proye k Pe nye le ngga ra Je nis Sta tus
(MW ) Ope ra si D a na
1 Muara Karang Repowering PLN PLTGU 500 2009 On Going JBIC
2 Priok Extension PLN PLTGU 500 2009 On Going JBIC
3 Labuhan PLN PLTU 600 2009 On Going Perpres
4 Indramayu PLN PLTU 660 2009 On Going Perpres
5 Rembang PLN PLTU 630 2009 On Going Perpres
6 Muara Karang Repowering PLN PLTGU 194 2010 On Going JBIC
7 Muara Tawar Repowering PLN PLTGU 241 2010 On Going JBIC
8 Priok Extension PLN PLTGU 243 2010 On Going JBIC
9 Suralaya PLN PLTU 625 2010 On Going Perpres
10 Teluk Naga/Lontar PLN PLTU 945 2010 On Going Perpres
11 Pelabuhan Ratu PLN PLTU 1,050 2010 On Going Perpres
12 Indramayu PLN PLTU 330 2010 On Going Perpres
13 Pacitan PLN PLTU 630 2010 On Going Perpres
14 Paiton PLN PLTU 660 2010 On Going Perpres
15 Tj. Awar-awar PLN PLTU 300 2010 On Going Perpres
16 Muara Tawar Add-On 2,3,4 PLN PLTGU 150 2011 Committed JBIC
17 Tj. Awar-awar PLN PLTU 300 2011 On Going Perpres
18 Tj. Jati Baru/Cilacap PLN PLTU 600 2011 On Going Perpres
19 Muara Tawar Add-On 2,3,4 PLN PLTGU 1,050 2012 Committed JBIC
20 Cilacap Baru PLN PLTU 1,000 2012 Plan Plan
21 Cilacap Baru PLN PLTU 1,000 2013 Plan Plan
22 Indramayu Baru PLN PLTU 1,000 2013 Plan Plan
23 Upper Cisokan Pumped Storage PLN PLTA 250 2014 Plan Plan
24 Upper Cisokan Pumped Storage PLN PLTA 250 2014 Plan Plan
25 Upper Cisokan Pumped Storage PLN PLTA 250 2014 Plan Plan
26 Upper Cisokan Pumped Storage PLN PLTA 250 2014 Plan Plan
27 Kesamben PLN PLTA 37 2017 Plan Plan
28 Kalikonto PLN PLTA 62 2016 Plan Plan
29 Indramayu PLN PLTU 1,000 2015 Plan Plan
30 LNG Bojanegara PLN PLTGU 750 2015 Plan Plan
31 Baru PLN PLTG 1,400 2015 Plan Plan
32 LNG Bojanegara PLN PLTGU 750 2016 Plan Plan
33 Baru PLN PLTGU 1,500 2016 Plan Plan
34 Matenggeng PS PLN PLTA 885 2017 Plan Plan
35 Baru PLN PLTG 1,200 2017 Plan Plan
36 LNG Bojanegara PLN PLTGU 750 2017 Plan Plan
37 Grindulu PS PLN PLTA 1,000 2018 Plan Plan
38 Baru PLN PLTGU 1,500 2018 Plan Plan
39 Baru PLN PLTU 2,000 2018 Plan Plan
40 Kamojang #4 Swasta PLTP 60 2008 Operasi Plan
41 Cikarang Listrindo Swasta PLTG 150 2009 On Going IPP
42 Wayang Windu Swasta PLTP 110 2009 On Going IPP
43 Bali Utara/Celukan Bawang Swasta PLTU 130 2010 On Going IPP
44 Cirebon Swasta PLTU 660 2011 On Going IPP
45 Bali Utara/Celukan Bawang Swasta PLTU 250 2011 On Going IPP
46 Tanjung Jati B Exp Swasta PLTU 660 2011 On Going IPP
47 Bedugul Swasta PLTP 10 2012 Plan IPP
48 Darajat Swasta PLTP 20 2012 Plan IPP
49 Wayang Windu Swasta PLTP 110 2012 Plan IPP
50 Karaha Bodas Swasta PLTP 30 2012 Plan IPP
51 Dieng Swasta PLTP 55 2012 Plan IPP
52 Madura Swasta PLTU 100 2012 Plan IPP
53 Tanjung Jati B Exp Swasta PLTU 660 2012 Committed IPP
54 Paiton 3-4 Exp Swasta PLTU 800 2012 Committed IPP
55 Kamojang Swasta PLTP 60 2013 Plan IPP
56 Rajamandala Swasta PLTA 30 2016 Plan IPP
57 Cibuni Swasta PLTP 10 2013 Plan IPP
58 Patuha Swasta PLTP 180 2013 Plan IPP
59 Salak Swasta PLTP 40 2013 Plan IPP
60 Darajat Swasta PLTP 55 2013 Plan IPP
61 Wayang Windu Swasta PLTP 70 2013 Plan IPP
62 Madura Swasta PLTU 100 2013 Plan IPP
63 Jabar (Ex. Tj Jati A) Swasta PLTU 660 2013 Plan IPP
64 Bali Timur (Infrastruktur) Swasta PLTU 200 2013 Plan IPP
65 Jatigede Swasta PLTA 110 2017 Plan IPP

116
Rincian Proyek Pembangkit
Sistem
Rincian Proyek Jawa-Bali
Pembangkit 2008-2018
Sistem Jawa-Bali 2008-2018
lanjutan
Ka pa sita s T a hun S umbe r
No N a ma P roye k P e nye le ngga ra Je nis S ta tus
(MW ) Ope ra si D a na
66 Dieng Swasta PLTP 60 2014 Plan IPP
67 G. Tangkuban Perahu Swasta PLTP 110 2014 Plan IPP
68 Cisolok-Cisukarame Swasta PLTP 30 2014 Plan IPP
69 Ungaran Swasta PLTP 55 2014 Plan IPP
70 Karaha Bodas Swasta PLTP 110 2014 Plan IPP
71 Ijen Swasta PLTP 30 2014 Plan IPP
72 Wilis/Ngebel Swasta PLTP 110 2014 Plan IPP
73 Jabar (Ex. Tj Jati A) Swasta PLTU 660 2014 Plan IPP
74 Jawa Tengah (Infrastruktur) Swasta PLTU 1,000 2014 Plan IPP
75 Anyer Swasta PLTU 660 2014 Plan IPP
76 Kamojang Swasta PLTP 40 2015 Plan IPP
77 Jawa Tengah (Infrastruktur) Swasta PLTU 1,000 2015 Plan IPP
78 Sumatera Mulut Tambang (BT+MR) Swasta PLTU 1,800 2016 Plan IPP
79 Bedugul Exp Swasta PLTP 55 2016 Plan IPP
80 Cisolok-Cisukarame Swasta PLTP 55 2016 Plan IPP
81 Ungaran Swasta PLTP 30 2016 Plan IPP
82 Sumatera Mulut Tambang (BT+MR) Swasta PLTU 1,200 2017 Plan IPP
83 Bedugul Exp Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
84 Cisolok-Cisukarame Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
85 Ungaran Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
86 Wayang Windu Swasta PLTP 50 2017 Plan IPP
87 Dieng Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
88 Batukuwung Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
89 Endut Swasta PLTP 110 2017 Plan IPP
90 Mangunan Swasta PLTP 30 2017 Plan IPP
91 Slamet Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
92 Arjuno Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
93 Iyang Argopuro Swasta PLTP 55 2017 Plan IPP
94 Citaman-Karang Swasta PLTP 10 2017 Plan IPP
95 Bedugul Exp Swasta PLTP 55 2018 Plan IPP
96 Ungaran Swasta PLTP 55 2018 Plan IPP
97 Karaha Bodas Swasta PLTP 110 2018 Plan IPP
98 Dieng Swasta PLTP 55 2018 Plan IPP
99 Batukuwung Swasta PLTP 110 2018 Plan IPP
100 Endut Swasta PLTP 110 2018 Plan IPP
101 Mangunan Swasta PLTP 55 2018 Plan IPP
102 Slamet Swasta PLTP 110 2018 Plan IPP
103 Arjuno Swasta PLTP 55 2018 Plan IPP
104 Iyang Argopuro Swasta PLTP 220 2018 Plan IPP
105 Citaman-Karang Swasta PLTP 10 2018 Plan IPP
Jumla h 40,952

117
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan
Lampiran
Lampiran
A.2 A.2

PENJELASAN Lampiran A.2


NERACA DAYA DAN
TAMBAHAN KAPASITAS SISTEM JAWA BALI

Neraca Daya

Neraca daya sistem Jawa Bali pada Lampiran A.2 mempunyai reserve margin yang cukup besar, yaitu sekitar
40% sebagaimana dijelaskan pada butir 4.1.1. Cadangan sebesar 44% pada tahun 2010 terjadi karena penye­
lesaian hampir serentak beberapa pembangkit baru dari program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap
I. Namun reserve margin yang tinggi tersebut hanya berlangsung selama satu tahun dan selanjutnya akan
menurun kembali ke tingkat yang lebih rendah.

Pembangkit yang direncanakan beroperasi tahun 2010 yaitu PLTU Teluk Naga/Lontar (945 MW), PLTU Pelabu-
han Ratu (1.050 MW), PLTU Pacitan (630 MW), dan PLTU IPP Bali Utara/Celukan Bawang (380 MW).

Tambahan PLTU baru di sistem Jawa Bali selanjutnya direncanakan dengan ukuran unit 1.��������������
000�����������
MW dengan
teknologi supercritical seperti PLTU Cilacap Baru tahun 2012, PLTU Indramayu Baru tahun 2013 dan PLTU
Jawa Tengah (Infrastruktur) tahun 2014 dan 2015. Pemilihan ukuran unit 1.000 MW dengan teknologi super-
critical didasarkan pada pertimbangan:
− Beban puncak pada tahun 2012 diproyeksikan telah mencapai 25.000 MW, sehingga prosentase ukuran
unit 1,000 MW hanya sebesar 4% dari beban puncak (unit size yang ideal adalah ≤ 10% beban puncak).
− Semakin sulitnya mendapatkan lahan untuk lokasi PLTU batubara skala besar di Jawa.
− Teknologi supercritical merupakan teknologi boiler dengan efisiensi yang tinggi, sehingga dapat mengu-
rangi emisi CO2 sebagai hasil pembakaran batubara.

PLTU IPP di pulau Madura dengan kapasitas 2 x 100 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2012 dan
2013 untuk memenuhi pertumbuhan demand di Madura. Dengan selesainya jembatan Suramadu diperkirakan
pertumbuhan beban pulau Madura akan naik signifikan, sehingga pasokan daya dari Jawa ke pulau Madura
melalui kabel laut 150 kV dan melalui jembatan Suramadu diperkirakan tidak memadai lagi. Pembangkit di pu-
lau Madura akan berperan mengisi kemungkinan keterbatasan pasokan daya ini. Sebetulnya opsi yang lebih
baik untuk pulau Madura adalah dengan membangun saluran udara tegangan ekstra tinggi 500 kV dari Jawa
menyeberang ke Madura, namun opsi ini masih perlu studi lebih mendalam. Selain itu, adanya pembangkit
di pulau Madura juga dapat melepaskan beban di Madura dari sistem kelistrikan Surabaya Kota, yang pada
tahun mendatang diperkirakan akan berbeban sangat berat (lihat Lampiran A.8 Analisis Aliran Daya).

Pengembangan PLTP (panas bumi) direncanakan untuk dikembangkan sebagai proyek IPP, sehingga PLN
hanya membeli produksi listriknya. Agar rencana ini dapat berjalan dengan baik diperlukan regulasi yang lebih
memadai dengan prinsip win-win solution baik bagi pengembang maupun PLN.

118
Tambahan Kapasitas Pembangkit

Daya �������������������������������������������������������������������������������������������������
mampu netto sistem Jawa Bali tahun 2008 adalah 20.581 MW atau 92% dari kapasitas terpasang untuk
memikul perkiraan beban puncak 16.480 MW. ����������������������������������������������������������
Angka tersebut menunjukkan bahwa cadangan netto hanya 25%
sehingga keandalan sistem Jawa-Bali kurang memadai. Sebagaimana telah dibahas pada butir 4.1.1 mengenai
perencanaan pembangkitan, reserve margin yang dikehendaki adalah sekitar 40% untuk memperoleh tingkat
keandalan LOLP < 1 hari per tahun dengan mempertimbangkan pula project slippage dan derating.

Tambahan��������������������������������������������������������������������������������������������
kapasitas sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2018 diproyeksikan sebesar 41.000 MW dengan
rincian sebagai berikut (Tabel-2).

Tabel A.2.1 Tambahan Kapasitas Pembangkit sampai 2018


Status PLN Swasta Jumlah
Committed 1,460 1,460
On Going 9,008 1,960 10,968
Rencana 18,034 10,430 28,464
Jumlah 27,042 13,850 40,892

Ongoing project PLN sebesar 9.008 MW terdiri atas proyek percepatan sebesar 7.330 MW dan proyek repo­
wering Muara Karang, Tanjung Priok dan Muara Tawar 1.678 MW.

Tabel A.2.1 menunjukkan bahwa pembangkit yang masih tahap rencana adalah cukup besar, yaitu sekitar
29.000 MW atau 70% dari kebutuhan.

Dengan adanya tambahan tersebut, maka kapasitas terpasang sistem Jawa Bali pada tahun 2018 akan menjadi
62.279 MW yang terdiri atas pemikul beban dasar 38.225 MW, pembangkit medium 14.661 MW dan pemikul
beban puncak 9.443 MW untuk memasok beban puncak sistem pada tahun yang sama sebesar 43.629 MW.

Proyek-proyek strategis PLN yang perlu direalisasikan tepat dapat dilihat pada butir 4.4.4.3.

Program Percepatan Pembangkit Tahap 2

Sebagaimana dijelaskan dalam butir 4.4.3 bahwa setelah selesainya proyek percepatan pembangkit PerPres
71/2006 selanjutnya diperlukan tambahan kapasitas pembangkit lagi yang dikenal sebagai program percepa-
tan pembangkit tahap 2. Rincian pembangkit tersebut bisa dilihat pada Tabel A.2.2.

 Rencana Operasi Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali oleh PT PLN (Persero) Penyalur dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali
 Setelah memperhitungkan retirement dari pembangkit termal sebesar 909 MW

119
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan
Lampiran
Lampiran
A.2 A.2

Tabel tersebut menunjukkan bahwa proyek percepatan tahap 2 di sistem Jawa Bali diprogramkan sebesar
7.345 MW terdiri atas PLTU batubara 5.000 MW, PLTP 1.145 MW dan PLTGU 1.200 MW. Proyek IPP yang
masuk dalam proyek percepatan pembangkit tahap 2 ini hanya terbatas pada proyek PLTP, namun demikian
kepastian mengenai proyek mana yang akan dikembangkan oleh PLN atau oleh swasta akan tergantung pada
kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjaman baru sebagaimana dijelaskan pada butir 5.5.

Tabel A.2.2 Daftar Usulan Proyek Percepatan Tahap 2


Nama
2011 2012 2013 2014
No. Pembangkit Jenis Jumlah

1 Cilacap Baru PLTU 1,000 1,000 2,000

2 Indramayu PLTU 1,000 1,000

3 Jawa Tengah PLTU 2,000 2,000


Muara Tawar
4 Addon PLTGU 150 1,050 1,200

5 Bedugul PLTP 10 10

6 Cibuni PLTP 10 10
Gunung T.
7 Perahu PLTP 110 110

8 Cisolok PLTP 30 30

9 Ungaran PLTP 55 55

10 Kamojang PLTP 60 60

11 Salak PLTP 40 40

12 Darajat PLTP 20 55 75

13 Wayang Windu PLTP 110 70 180

14 Karaha Bodas PLTP 30 110 140

15 Patuha PLTP 180 180

16 Dieng PLTP 55 60 115

17 Ijen PLTP 30 30

18 Wilis/Ngebel PLTP 110 110


  Jumlah   150 2,275 2,415 2,505 7,345

Penentuan kandidat PLTP didasarkan pada hasil kesepakatan dalam rapat pada tanggal 19 Juni 2008 di
Kantor Direktorat Panas Bumi antara PLN dan Pengembang dengan memperhatikan kebutuhan demand listrik
yang ada dan kesiapan lokasi PLTP.

 Termasuk proyek Muara Tawar Add On sebesar 1.200 MW

120
Lampiran A.3
NERACA ENERGI DAN PROYEKSI
KEBUTUHAN BAHAN BAKAR
SISTEM JAWA BALI

A.3.1 Proyeksi neraca energi sistem jawa bali

A.3.2 proyeksi kebutuhan energi primer sistem jawa bali


Proyeksi Neraca Energi

122
Sistem Jawa - Bali
Proyeksi Neraca Energi Sistem Jawa - Bali
Penjelasan

Pumped
Tahun HSD MFO Gas Alam LNG Batubara Hydro Geothermal Jumlah
Storage
Lampiran

2008 15,675 9,271 19,805 0 60,001 5,534 0 7,808 118,094


2009 15,793 4,969 23,385 0 67,214 5,273 0 8,044 124,678
Lampiran

2010 2,987 565 26,671 0 93,805 5,273 0 8,013 137,314


Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

2011 1,394 381 25,240 0 110,879 5,273 0 8,031 151,199


A.3.1 A.3

2012 943 363 29,856 0 120,313 5,273 0 9,800 166,548


2013 174 365 36,396 0 128,548 5,273 0 12,965 183,721
2014 260 355 36,795 0 140,932 5,273 862 17,327 201,806
2015 489 365 37,847 1,936 156,439 5,273 841 17,645 220,835
2016 628 366 42,497 4,832 168,208 5,630 772 18,780 241,713
2017 985 355 43,587 7,443 179,443 5,987 1,411 23,675 262,888
2018 1,277 361 47,789 8,544 190,229 5,987 2,304 30,982 287,473
Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Proyeksi Kebutuhan Energi
Sistem Primer
Jawa - Bali Sistem Jawa - Bali

Tahun HSD MFO Gas LNG Batubara


10^3 kl 10^3 kl Bcf Bcf Juta ton
2008 4,491.60 2,616.12 179.38 29.15
2009 3,840.87 1,501.29 232.14 31.19
2010 825.31 163.37 255.70 44.11
2011 338.43 109.48 243.27 52.17
2012 236.27 104.17 279.68 55.80
2013 64.56 104.69 326.53 58.15
2014 97.55 102.04 331.79 63.90
2015 187.60 104.82 341.22 16.75 69.84
2016 245.69 105.00 381.11 41.80 75.26
2017 390.61 102.04 391.11 64.39 80.39
2018 516.93 103.52 427.71 73.91 84.27
Lampiran A.3.2
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

123
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan Lampiran A.3

PENJELASAN Lampiran A.3


KEBUTUHAN ENERGI PRIMER

Produksi Energi
Selaras��������������������
dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan pengembangan pembangkit, maka pro-
duksi energi berdasarkan jenis energi primer di Sistem Jawa-Bali adalah seperti pada Tabel 4.2.1 di butir 4.5.1
dan diperlihatkan kembali pada Lampiran A.3.2. Apabila dinyatakan dalam prosentase, maka peranan (%)
masing-masing energi primer adalah diperlihatkan pada Tabel A.3.1.

Tabel A.3.1. Produksi Listrik berdasarkan jenis Energi Primer (%)

Pumped
Tahun HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Geoth. Jumlah
Storage
2008 13.27 7.85 16.77 50.81 4.69   6.61 100.00
2009 12.67 3.99 18.76 53.91 4.23   6.45 100.00
2010 2.18 0.41 19.42 68.31 3.84   5.84 100.00
2011 0.92 0.25 16.69 73.33 3.49   5.31 100.00
2012 0.57 0.22 17.93 72.24 3.17   5.88 100.00
2013 0.09 0.20 19.81 69.97 2.87   7.06 100.00
2014 0.13 0.18 18.23 69.84 2.61 0.43 8.59 100.00
2015 0.22 0.17 17.14 0.88 70.84 2.39 0.38 7.99 100.00
2016 0.26 0.15 17.58 2.00 69.59 2.33 0.32 7.77 100.00
2017 0.37 0.14 16.58 2.83 68.26 2.28 0.54 9.01 100.00
2018 0.44 0.13 16.62 2.97 66.17 2.08 0.80 10.78 100.00

Produksi energi pada Lampiran A.3.2 dialokasikan per unit pembangkit berdasarkan merit order dengan meng-
gunakan ProSym dengan asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut:
− Harga bahan bakar HSD = USD 140/barrel, MFO=USD 110 /barrel, gas alam = USD 6 /mmbtu, LNG =
USD 10/mmbtu dan batubara = USD 90/ton.
− Ketersediaan gas alam untuk pembangkit PLTGU setelah tahun 2011.
− Ketersediaan batubara tidak terbatas.

Tabel�����������������������������������������������������������������������������������������������
A.3.1 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Peranan BBM tahun 2008 masih cukup tinggi, yaitu sekitar 21%, namun secara bertahap akan menurun
dan pada tahun 2018 menjadi hanya 0,6%. Penurunan ini dapat diwujudkan apabila bahan bakar terse-
dia dalam jumlah seperti yang direncanakan dan hal ini harus diusahakan secara maksimal dalam rangka
menekan biaya pokok produksi.

124
b. Volume pemakaian gas alam meningkat, namun secara persentase tetap pada kisaran 17% dari total
energy mix.
c. Batubara memegang peranan makin besar, yaitu meningkat dari 51% pada tahun 2008, menjadi 70%
pada tahun 2018.
d. Kontribusi������������������������������������������������������������������������������������
panas bumi pada tahun 2018 menjadi sebesar 10,8% karena hingga sepuluh tahun menda-
tang direncanakan penambahan kapasitas panas bumi oleh IPP sekitar 3.000 MW atau setara dengan 21
TWh. Agar tambahan kapasitas sebesar itu dapat terwujud, maka beberapa hal harus dilakukan, seperti
penerbitan regulasi yang mendukung iklim investasi, tender WKP panas bumi yang baik oleh Pemda,
dan lain-lain. Jika proyek panas bumi oleh IPP ini terlambat, maka produksi energi dari batubara akan
meningkat.

Kebutuhan Bahan Bakar

Kebutuhan energi primer di sistem Jawa-Bali dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2018 yang telah ditampil-
kan pada Tabel 4.22 di butir 4.5.1 diperlihatkan kembali pada Tabel A.3.2 berikut ini.

Tabel A.3.2. Proyeksi Kebutuhan Energi Primer

HSD MFO Gas LNG Batubara


Tahun  Bcf Juta ton
10^3 kl 10^3 kl Bcf

2008 4,491.60 2,616.12 179.38 29.15


200�9 3,840.87 1,501.29 232.14 31.19
2010 825.31 163.37 255.70 44.11

2011 338.43 109.48 243.27 52.17

2012 236.27 104.17 279.68 55.80

2013 64.56 104.69 326.53 58.15

2014 97.55 102.04 331.79 63.90

2015 187.60 104.82 341.22 16.75 69.84

2016 245.69 105.00 381.11 41.80 75.26

2017 390.61 102.04 391.11 64.39 80.39

2018 516.93 103.52 427.71 73.91 84.27

Bahan Bakar Gas

Tantangan terbesar yang dihadapi PLN dalam penyediaan energi primer saat ini adalah mengamankan pa-
sokan gas alam. Tantangan tersebut terkait dengan sumber-sumber gas yang ada, harga gas, ketepatan
waktu, dan infrastruktur penyaluran gas. Di sistem kelistrikan Jawa-Bali terdapat 9,145 MW pembangkit yang
didesign untuk beroperasi dengan menggunakan gas, namun pembangkit tersebut belum dapat sepenuhnya
beroperasi dengan gas karena pasokan gas sangat terbatas dan dengan demikian terpaksa dioperasikan
dengan menggunakan BBM.

125
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan Lampiran A.3

Pada tahun-tahun mendatang direncanakan akan ada tambahan kapasitas PLTGU dari proyek sebagai berikut:
a. Ongoing project repowering Muara Karang 750 MW, Muara Tawar Blok 5 sebesar 225 MW, dan repower-
ing Priok 750 MW.
b. Muara Tawar Add On dengan kapasitas 1.200 MW pada tahun 2011/12

Dengan���������������������������������������������������������������������������������������������
akan beroperasinya proyek tersebut, maka kapasitas pembangkit berbahan bakar gas pada tahun
2011 menjadi 11.740 MW.

Tabel A.3.2 menunjukkan bahwa kebutuhan gas alam pada tahun 2008 adalah hanya 179 bcf atau setara
dengan 490 mmscfd.

Pasokan gas berdasarkan kontrak saat ini adalah sebagai berikut:


a. Tambak Lorok
− Petronas 93 mmscfd, tahun 2011
− SPP 50 mmscfd, tahun 2010
b. Muara Karang dan Tanjung Priok
− PGN 30 mmscfd selama tiga tahun sejak tahun 2009
− BP 135 mmscfd saat ini dan menjadi 100 mmscfd sejak tahun 2009 hingga 2016
c. Muara Tawar
− Pertamina 30 mmscfd hingga tahun 2009
− PGN 50 mmscfd hingga tahun 2012
− Jambi Merang 85 mmscfd sejak tahun 2009
− Medco 49 mmscfd sejak tahun 2009, menurun hingga 19 mmscfd tahun 2017
− Medco 20 mmscfd dari tahun 2009 hingga tahun 2013
− PGN 150 mmscfd dari tahun 2008 s/d 2010.
d. Cilegon
− CNOOC 80 mmscfd kontrak jangka panjang
− PGN 30 mmscfd sejak tahun 2009
e. Gresik
− Kodeco 123 mmscfd sampai tahun 2013
− Hess 100 mmscfd dan menurun hingga 37 mmscfd
− KEI 30 mmscfd sejak tahun 2010
− MKS 11 mmscfd sampai dengan tahun 2013
− WNE 20 mmscfd sejak tahun 2010
f. Grati
− Santos, 60 mmscfd hanya 2 tahun sejak tahun 2010
− KEI, 70 mmscfd selama 3 tahun sejak tahun 2010.

Selain�����������������������������������������������������������������������������������������
itu PLN sedang mengupayakan pembangunan terminal LNG sebagai perusahaan patungan antara
PLN, PGN dan Pertamina dengan harapan LNG dapat terealisasi pada tahun 2015.

126
Sebagaimana disebutkan pada butir 2.2, pasokan gas untuk pembangkit di Jawa diasumsikan tidak terkendala
setelah tahun 2012. Apabila pasokan gas diasumsikan mulai ada lebih awal dan ada batasan produksi mini-
mum karena kontrak take or pay (TOP), maka kebutuhan gas akan berubah menjadi seperti Tabel A.3.3.

Tabel A.3.3. Proyeksi Kebutuhan Gas


Jika pasokan gas lebih awal dan TOP (mmscfd)
Tahun Kebutuhan Pasokan Surplus/defisit
2009 697 858 161
2010 1,068 1,058 -10
2011 1,002 1,001 -1
2012 1,210 911 -299
2013 1,206 779 -427
2014 1,138 600 -538
2015 1,244 1,077 -167
2016 1,418 1,059 -359
2017 1,516 936 -580
2018 1,620 909 -711

Dari Tabel A.3.3 terlihat bahwa sejak tahun 2012 pasokan gas masih sangat kurang dari jumlah yang dibutuh-
kan, untuk itu perlu diupayakan sumber-sumber gas baru dan pembangunan LNG terminal dengan kapasitas
hingga 1.000 mmscfd.

Rincian kebutuhan dan pasokan gas diberikan pada Tabel A.3.4 yang diperoleh dari simulasi produksi dengan
prinsip merit order.

Tabel A.3.4 Rincian Pasokan dan Kebutuhan Gas


Jika pasokan gas lebih awal dan TOP (mmscfd)

No. Nama Pembangkit 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
1 Muara Karang
PLTGU Blok-1 33 1 1 55 55 56 59 60 61 61
PLTGU Repowering 68 68 60 61 62 69 71 75 74
PLTU 87
2 Tanjung Priok
PLTGU BlokI 28 0 63 63 64 68 69 69 69
PLTGU Blok II 28 0 63 63 64 68 69 69 69
PLTGU Repowering 64 64 74 74 76 82 84 86 86
Sub-Jumlah 176 134 134 315 316 321 344 352 361 360
Supply (Contract) 130 130 130 100 100 100 100 100
Surplus-Defisit -46 -4 -4 -215 -216 -221 -244 -252 -361 -360
3 Muara Tawar
PLTGU Blok 1 76 80 89 59 61 61 66 67 71 71
PLTGU Blok 2 15 62 22 68 68 68 70 69 71 69
PLTGU Blok 3 26 95 34 68 68 68 70 69 71 69
PLTGU Blok 4 26 95 34 68 68 68 70 69 71 69
PLTGU Blok 5 19 19 18 18 18 18 18 18 18
Sub-Jumlah 143 351 199 283 284 282 293 291 303 296
Supply (Contract) 384 354 204 204 154 128 118 110 104 85
Surplus-Defisit 241 3 5 -79 -130 -154 -175 -181 -199 -211
4 Gresik
PLTGU Blok 1-3 187 169 169 195 189 127 129 128 130 128
PLTU 119 119 84 84 71 75 81 91 105
Sub-Jumlah 187 288 288 279 273 198 203 209 221 233
Supply (Contract) 234 284 284 284 272 119 106 96 79 71
Surplus-Defisit 47 -4 -4 5 -1 -79 -97 -113 -142 -162

127
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018
Penjelasan Lampiran A.3

Lanjutan
No. Nama Pembangkit 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
5 Tambak Lorok
PLTGU Blok 1-2 21 52 105 105 105 105 105 105 105 105
PLTU 37 0 32 32 32 32 32 32 32 32
Sub-Jumlah 58 52 138 138 138 138 138 138 138 138
Supply (Contract) 50 143 143 143 143 143 143 143 143
Surplus-Defisit -58 -2 5 5 5 5 5 5 5 5
6 Grati
PLTGU 18 62 62 46 47 51 56 59 61 62
PLTG 26 71 71 38 38 38 38 37 39 39
Sub-Jumlah 45 133 133 85 86 89 94 97 100 101
Supply (Contract) 130 130 70
Surplus-Defisit -45 -3 -3 -15 -86 -89 -94 -97 -100 -101
7 Cilegon 89 110 110 110 110 110 110 110 110 110
Supply (Contract) 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110
Surplus-Defisit 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 New Site 99 98 198
9 Bojonegara 62 123 184 185
Sub-Jumlah 62 222 283 382
Supply (LNG) 500 500 500 500
Surplus-Defisit 438 278 217 118
10 Jumlah
Demand 697 1,068 1,002 1,210 1,206 1,138 1,244 1,418 1,516 1,620
Supply 858 1,058 1,001 911 779 600 1,077 1,059 936 909
Surplus/defisit 161 -10 -1 -299 -427 -538 -167 -359 -580 -711

Batubara

Kebutuhan batubara cukup pesat peningkatannya selaras dengan peningkatan kapasitas PLTU batubara baik
proyek PLN maupun proyek IPP. Kebutuhan tahun 2008 sekitar 30 juta ton, meningkat menjadi sekitar 85 juta
ton tahun 2018 atau meningkat hampir 3 kali lipat.

Kebutuhan tersebut masih akan lebih besar lagi apabila proyek PLTP sekitar 3.000 MW (setara dengan 21
TWh) mengalami keterlambatan dan pengaruhnya akan meningkatkan kebutuhan batubara sekitar 10 juta ton.
Apabila keterlambatan PLTP ini terjadi maka kebutuhan batubara pada tahun 2018 akan menjadi 95 juta ton.

128
Lampiran A.4
RENCANA PENGEMBANGAN
PENYALURAN SISTEM JAWA BALI

A.4.1 RENCANA PENGEMBANGAN TRANSMISI

A.4.2 RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK


130
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [1/5]
RENCANA PENGEMBANGAN TRANSMISI
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [1/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
1 Region Jakarta dan Banten AGP - Mampang Senayan 150 1xCU800 6 1.23 1.90 3.12 2008 APLN - UAI07 Baru Rekonfigurasi
2 Region Jakarta dan Banten Depok III Inc. (Gndul-Cmgis) 150 2xZebra 5 0.39 0.11 0.49 2008 APLN JBN Baru
Lampiran A.4.1

3 Region Jakarta dan Banten ITP Semen Cibinong 150 1xZebra 13 1.31 0.45 1.76 2008 APLN - UAI07 Baru 2nd cct
4 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru Kembangan 150 1xCU800 22 4.50 6.95 11.45 2008 KE-III LOT-8 Baru
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

5 Region Jakarta dan Banten Tambun Poncol II 150 2xZebra 26 1.97 0.55 2.52 2008 APLN JBN Baru
6 Region Jakarta dan Banten Angke Ancol 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
7 Region Jakarta dan Banten Antasari/CSW II Duren Tiga 150 1xCU800 16 3.27 5.06 8.33 2009 APLN_Percepatan Baru
8 Region Jakarta dan Banten Balaraja Inc.(Slya-Gdl) 500 4xDove 1 0.22 0.11 0.33 2009 APLN JBN Baru
9 Region Jakarta dan Banten Balaraja New Balaraja 150 2xTACSR 20 1.39 0.39 1.77 2009 APLN JBN Baru
10 Region Jakarta dan Banten Bintaro Petukangan 150 1xTACSR520 20 0.62 1.82 2.44 2009 APLN - UAI07 Rekonduktoring
11 Region Jakarta dan Banten Bintaro Serpong 150 1xTACSR520 20 0.62 1.82 2.44 2009 APLN - UAI07 Rekonduktoring
12 Region Jakarta dan Banten Bintaro II Bintaro 150 1xCU1000 14 4.29 6.64 10.93 2009 APLN_Percepatan Baru
13 Region Jakarta dan Banten Bogor Baru Sentul 150 2xZTACIR 320 20 1.24 3.63 4.87 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
14 Region Jakarta dan Banten Bogor baru Cibinong 150 2xTACSR520 100 6.21 18.17 24.37 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
15 Region Jakarta dan Banten Cawang Duren Tiga 150 TACSR2x410 10 0.87 2.76 3.63 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
16 Region Jakarta dan Banten Cibinong Sentul 150 2xZTACIR 320 18 1.12 3.27 4.39 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
17 Region Jakarta dan Banten Cikupa Balaraja 150 2xTDRAKE 23 3.12 0.99 4.11 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
18 Region Jakarta dan Banten Duren Tiga Kemang 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2009 APLN_Percepatan Baru
19 Region Jakarta dan Banten Durikosambi Petukangan 150 2xTDrake 52 7.16 2.27 9.43 2009 JBIC Mkrng-rep
20 Region Jakarta dan Banten Gandul Serpong 150 2xTACSR410 40 5.51 1.74 7.25 2009 APLN_Percepatan Baru
21 Region Jakarta dan Banten Jabar Selatan PLTU Lembursitu II 150 4xTACSR520 22 2.73 7.99 10.72 2009 APLN_Percepatan Baru
22 Region Jakarta dan Banten Jabar Selatan PLTU Cibadak Baru II 150 4xTACSR520 140 8.69 25.44 34.12 2009 APLN_Percepatan Baru
23 Region Jakarta dan Banten Labuan PLTU Saketi II 150 2xZebra 46 3.55 0.99 4.53 2009 APLN_Percepatan Up rating
24 Region Jakarta dan Banten Labuan PLTU Menes II 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2009 APLN_Percepatan Baru
25 Region Jakarta dan Banten Mangga Besar Ketapang 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2009 APLN_Percepatan Baru
26 Region Jakarta dan Banten Manggarai Gedungpola 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2009 APLN_Percepatan Baru
27 Region Jakarta dan Banten Menes II Asahimas 150 2xZebra 110 8.48 2.36 10.84 2009 APLN_Percepatan Baru
28 Region Jakarta dan Banten Miniatur 150 Gandaria 150 150 2xZebra 19 1.48 0.41 1.89 2009 APLN JBN Uprating
29 Region Jakarta dan Banten Muaratawar Inc. (Bkasi-Kdsapi) 150 2xTACSR410 20 2.76 0.87 3.63 2009 APLN_Percepatan Baru
30 Region Jakarta dan Banten Plumpang Inc.(Piok-Pgsan) 150 2xTACSR410 1 0.14 0.04 0.18 2009 JBIC Priok Reh
31 Region Jakarta dan Banten Saketi II Rangkasbitung II 150 2xZebra 59 4.55 1.26 5.81 2009 APLN_Percepatan Uprating
32 Region Jakarta dan Banten Suralaya New Suralaya Old 500 4xGannet 3 0.61 0.31 0.91 2009 APLN_Percepatan Baru 1skt.
33 Region Jakarta dan Banten Suralaya New Suralaya Old 150 2xZebra 3 0.23 0.06 0.30 2009 APLN_Percepatan Baru
34 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Duren Tiga 150 1xCU800 9 1.84 2.85 4.69 2009 KE-III lot-5 Baru
35 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru Cengkareng 150 1xTACSR520 14 0.43 1.27 1.71 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
36 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga PLTU Tangerang Baru 150 2xTACSR410 52 7.16 2.27 9.43 2009 APLN_Percepatan Baru
37 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga PLTU Teluk Naga 150 4xTACSR410 40 6.97 22.04 29.01 2009 APLN_Percepatan Baru
38 Region Jakarta dan Banten Ubrug II Lambur Situ II 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2009 APLN_Percepatan Uprating
39 Region Jakarta dan Banten Bogor Kota (IPB) Kedung Badak 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2010 APLN_Percepatan Baru
40 Region Jakarta dan Banten Bojanegara New Suralaya 500 4xDove 15 3.35 1.68 5.03 2010 APLN JBN Baru (75,1 M)
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [2/5]
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [2/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
41 Region Jakarta dan Banten Bojanegara Balaraja 500 4xDove 48 10.43 5.24 15.67 2010 APLN JBN Baru (128 M)
42 Region Jakarta dan Banten Ciawi II Cibadak Baru II 150 2xZebra 52 4.01 1.11 5.12 2010 APLN_Percepatan Uprating
43 Region Jakarta dan Banten Ciawi II Bogor Baru 150 2xZebra 17 1.30 0.36 1.65 2010 APLN_Percepatan Uprating
44 Region Jakarta dan Banten Cibatu Cileungsi 150 2xTACSR410 60 8.27 2.61 10.88 2010 APLN_Percepatan Baru
45 Region Jakarta dan Banten Depok II Depok III 150 1xZebra 12 0.61 0.21 0.81 2010 APLN Uprate
46 Region Jakarta dan Banten G.Sahari/Mangga Besar I Kemayoran 150 1xCU800 12 2.45 3.79 6.25 2010 APLN_Percepatan Baru
47 Region Jakarta dan Banten Gambir Lama Kebon Sirih 150 1xCU800 4 0.82 1.26 2.08 2010 APLN_Percepatan Baru
48 Region Jakarta dan Banten Gandaria 150 Depok III 150 2xZebra 56 4.35 1.21 5.56 2010 APLN JBN Uprating
49 Region Jakarta dan Banten Gandul Petukangan 150 2xTDRAKE 28 3.88 1.23 5.11 2010 APLN_Percepatan Rekonduktoring
50 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin Inc. (Pdklp-Jtngn) 150 2xZebra 24 1.85 0.51 2.36 2010 KE-III Baru
51 Region Jakarta dan Banten Kedung Badak II Depok III 150 2xZebra 46 3.55 0.99 4.53 2010 ADB - B3 Uprating
52 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading Incomer (Priok-Plpng) 150 TACSR2x410 2 0.17 0.55 0.73 2010 KE-III Baru
53 Region Jakarta dan Banten Lautan Steel Inc. (Blrja-CHabitat) 150 2xZebra 0 0.02 0.01 0.03 2010 APLN Baru
54 Region Jakarta dan Banten Lembursitu II Cianjur 150 2xZebra 64 4.93 1.37 6.30 2010 APLN_Percepatan Uprating
55 Region Jakarta dan Banten Lippo/Curug Inc. (Cldug-Ckupa) 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2010 APLN JBN Baru
56 Region Jakarta dan Banten Milenium Inc. (Blrja-CHabitat) 150 2xZebra 0 0.02 0.01 0.03 2010 APLN Baru
57 Region Jakarta dan Banten Pelabuhan Ratu 150 Ubrug 150 150 1xTACSR520 50 1.55 4.54 6.09 2010 APLN_Percepatan Baru
58 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah Gandul 150 1xCu800 14 2.86 4.43 7.29 2010 KE-III lot-6 Baru
59 Region Jakarta dan Banten Rangkasbitung II Kopo 150 2xZebra 52 4.01 1.11 5.12 2010 ADB - B2 Baru
60 Region Jakarta dan Banten Tanah Tinggi Inc. (Gmblm-Plmas) 150 1xCU1000 4 1.23 1.90 3.12 2010 KE-III Baru
61 Region Jakarta dan Banten Grogol II Grogol 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2011 APLN JBN Baru
62 Region Jakarta dan Banten Kebon Sirih Gambir Lama 150 1xCU800 4 0.82 1.26 2.08 2011 APLN_Percepatan Baru
63 Region Jakarta dan Banten Lengkong Serpong 150 2xZebra 40 3.08 0.86 3.94 2011 APLN_Percepatan Rekonduktoring
64 Region Jakarta dan Banten New Muarakarang Durikosambi 150 2xTDrake 26 3.58 1.13 4.71 2011 JBIC Mkrng-rep
65 Region Jakarta dan Banten Serang Cilegon 150 2xZebra 45 3.47 0.96 4.43 2012 APLN_Percepatan Rekonduktoring
66 Region Jakarta dan Banten Muarakarang Angke 150 TACSR2x410 10 0.87 2.76 3.63 2013 APLN Rekonduktoring
67 Region Jakarta dan Banten Lembursitu III Lembursitu II 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2014 APLN_Percepatan Uprating
68 Region Jakarta dan Banten Lipokarawaci II Lipokarawaci 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 APLN_Percepatan Uprating
69 Region Jawa Barat Bandung Selatan Kamojang 150 2xZebra 54 4.16 1.16 5.32 2008 IBRD IFB-3A Rekonduktoring
70 Region Jawa Barat Drajat Garut 150 2xZebra 50 3.85 1.07 4.93 2008 IBRD IFB-3B Baru
71 Region Jawa Barat Garut Tasikmalaya 150 2xZebra 82 6.32 1.76 8.08 2008 IBRD IFB-3B Baru
72 Region Jawa Barat Kamojang Drajat 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2008 IBRD IFB-3A Baru
73 Region Jawa Barat Poncol II Miniatur 150 150 2xZebra 30 2.34 0.65 2.99 2008 APLN JBN Up rating
74 Region Jawa Barat Wayang Windu Sentosa 70 Ostrich 14 0.51 0.20 0.71 2008 APLN Baru(ex bongkaran)
75 Region Jawa Barat Wayang Windu Incomer 150 2xZebra 40 3.08 0.86 3.94 2008 IBRD IFB-3A Baru
76 Region Jawa Barat Cianjur Cigereleng 150 2xHawk 138 7.83 2.72 10.55 2009 APLN-UAIO09 Rekonduktoring
77 Region Jawa Barat Cikarang Lippo Inc. (Gdmkr-Cbatul) 150 1xZebra 10 0.50 0.17 0.68 2009 APLN_Percepatan Baru
78 Region Jawa Barat Cikedung Inc. (Jtbrg - Hrgls) 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2009 APLN_Percepatan Baru
79 Region Jawa Barat Cikijing Mandirancan 150 2xZebra 60 4.63 1.29 5.91 2009 APLN_Percepatan Baru
80 Region Jawa Barat Daeuhkolot/Cigereleng II Inc. (Bdsln-Krcdg) 150 2xZebra 2 0.19 0.05 0.24 2009 APLN_Percepatan Baru

131
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [3/5]

132
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [3/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
81 Region Jawa Barat Jabar Utara PLTU Kosambi Baru 150 2xTACSR410 98 13.50 4.27 17.77 2009 APLN_Percepatan Baru
82 Region Jawa Barat Jabar Utara PLTU Sukamandi 150 2xTACSR410 98 13.50 4.27 17.77 2009 APLN_Percepatan Baru
83 Region Jawa Barat Jatiluhur Padalarang 150 1xTACSR520 89 2.76 8.08 10.85 2009 APLN_Percepatan Rekond. (T.1-56)
84 Region Jawa Barat Padalarang Bandung Utara 150 2xZebra 26 2.00 0.56 2.56 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
85 Region Jawa Barat Patuha Lagadar 150 2xZebra 70 5.40 1.50 6.90 2013 APLN JBN Baru
Lampiran A.4.1

86 Region Jawa Barat Sukamandi 150 Kosambi baru 150 2xTACSR410 74 10.19 3.22 13.42 2009 APLN_PERCEPATAN Rekonduktoring
Tenaga Listrik 2009-2018

87 Region Jawa Barat Tanggeung Cianjur 70 Ostrich 80 5.80 2.26 8.07 2009 APLN JBN Baru
Rencana Usaha Penyediaan

88 Region Jawa Barat Aryawinangun Palimanan 70 1xHawk 10 0.41 0.15 0.56 2010 APLN UAI09 Rekonduktoring
89 Region Jawa Barat Bekasi Utara/Tarumaneg Inc. (Bkasi-Ksbru) 150 1xZebra 2 0.10 0.03 0.14 2010 APLN_Percepatan Baru
90 Region Jawa Barat Braga (GIS) Cigereleng 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2010 APLN_Percepatan Baru
91 Region Jawa Barat Cibabat II Inc. (Cbbat - Cbrem) 150 2xHawk 12 0.68 0.24 0.92 2010 APLN_Percepatan Baru
92 Region Jawa Barat Cibabat III Inc. (Pdlrgt - Lgdar) 150 2xHawk 12 0.68 0.24 0.92 2010 APLN_Percepatan Baru
93 Region Jawa Barat Dago Pakar Inc.(Bdutr-Ubrng) 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2010 ADB - B2 Baru
94 Region Jawa Barat Jatiluhur II Inc. (Ksbru-Pdlrg) 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2010 APLN UAI08 Baru
95 Region Jawa Barat Kadipaten 150 Inc. (Rckek-Mdcan) 150 2xZebra 14 0.54 0.15 0.69 2010 APLN UAI08 Baru
96 Region Jawa Barat Kanci Inc. (Sragi-Brbes) 150 1xZebra 12 0.61 0.21 0.81 2010 APLN_Percepatan Baru
97 Region Jawa Barat Karang Nunggal Tasikmalaya New 150 1xHawk 32 1.30 0.47 1.77 2010 APLN_Percepatan Baru
98 Region Jawa Barat Kiaracondong II Inc. (Krcdg-Ubrng) 150 2xZebra 16 1.23 0.34 1.58 2010 APLN_Percepatan Baru
99 Region Jawa Barat Malangbong II New Tasikmalaya 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2010 APLN_Percepatan Uprating
100 Region Jawa Barat New Tasikmalaya Ciamis 150 2xZebra 36 2.78 0.77 3.55 2010 IBRD IFB-3A Rekonduktoring
101 Region Jawa Barat New Ujungberung Bandung Utara 150 2xZebra 40 3.08 0.86 3.94 2010 APLN UAI08 Rekonduktoring
102 Region Jawa Barat Sukamandi 150 Pabuaran 150 2xTACSR410 50 6.89 2.18 9.07 2010 APLN_Percepatan Rekonduktoring
103 Region Jawa Barat Sukatani Gobel Inc. (Bkasi-Ksbru) 150 1xZebra 20 1.01 0.34 1.35 2010 APLN_Percepatan Baru
104 Region Jawa Barat Teluk Jambe Cibatu 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2010 APLN Baru
105 Region Jawa Barat New Ujung Berung Rancakasumba 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2011 APLN_Percepatan Baru
106 Region Jawa Barat New Ujung Berung Ujung Berung 150 4xZebra 34 4.73 1.40 6.14 2011 APLN_Percepatan Baru
107 Region Jawa Barat Bandung Timur II Ujungberung 150 1xZebra 21 1.05 0.36 1.41 2011 APLN Uprating
108 Region Jawa Barat Lagadar Padalarang 150 2xZebra 32 2.47 0.69 3.15 2011 APLN Rekonduktoring
109 Region Jawa Barat Lagadar Cigereleng 150 2xZebra 32 2.47 0.69 3.15 2011 APLN Rekonduktoring
110 Region Jawa Barat Mandirancan Rancaekek 150 2xZebra 200 15.42 4.28 19.70 2011 ADB 1983-INO Rekond. 15 km new
111 Region Jawa Barat Rancaekek Ujung Berung 150 2xZebra 25 1.93 0.54 2.46 2011 ADB 1983-INO Rekonduktoring
112 Region Jawa Barat Ujungberung Inc. (Mdcan-Bdsln) 500 4xDove 4 0.87 0.44 1.31 2011 APLN_Percepatan Baru
113 Region Jawa Barat Padalarang Cibabat 150 2xZebra 18 1.39 0.39 1.77 2012 APLN Rekonduktoring
114 Region Jawa Barat Bengkok II Dagopakar 150 1xZebra 6 0.30 0.10 0.41 2015 APLN Uprating
115 Region Jawa Tengah & DIY Bumi Semarang Baru Incomer 150 2xHawk 3 0.17 0.06 0.23 2008 APLN JBN Baru
116 Region Jawa Tengah & DIY Masaran Inc. (Palur-Srgen) 150 1xHawk 1 0.04 0.01 0.06 2008 APLN JBN Baru
117 Region Jawa Tengah & DIY Mranggen Inc.(Ungar-Pwddi) 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2008 APLN JBN Baru
118 Region Jawa Tengah & DIY Pedan Kentungan 150 2xZebra 76 5.88 1.63 7.51 2008 ADB PXXV lot 2A1 Baru
119 Region Jawa Tengah & DIY Purbalingga Inc.(Rwalo-Mrica) 150 2xHawk 4 0.23 0.08 0.31 2008 APLN JBN Baru
120 Region Jawa Tengah & DIY Brebes Sunyaragi 150 TACSR2x410 44 3.86 12.19 16.05 2009 APLN_Percepatan Baru
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [4/5]
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [4/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
121 Region Jawa Tengah & DIY Brebes Kebasen 150 2xACSR 330 29 1.95 0.63 2.58 2009 APLN_Percepatan Baru
122 Region Jawa Tengah & DIY Bumiayu Kebasen 150 2xHawk 87 4.90 1.70 6.60 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
123 Region Jawa Tengah & DIY Bumiayu Kalibakal 150 2xHawk 72 4.08 1.42 5.50 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
124 Region Jawa Tengah & DIY Jekulo Kudus 150 2xTACSR410 22 3.09 0.98 4.06 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
125 Region Jawa Tengah & DIY Jekulo Pati 150 2x2xHawk 33 1.88 0.66 2.54 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
126 Region Jawa Tengah & DIY Kebasen Pemalang 150 2xHawk 57 3.20 1.11 4.32 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
127 Region Jawa Tengah & DIY Pati Rembang 150 2x2xHawk 66 3.74 1.30 5.04 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
128 Region Jawa Tengah & DIY Pekalongan Batang 150 2x2xHawk 33 1.86 0.65 2.50 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
129 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang Pekalongan 150 2x2xHawk 61 3.48 1.21 4.69 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
130 Region Jawa Tengah & DIY Rembang Blora 150 2xTACSR410 58 8.02 2.54 10.55 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
131 Region Jawa Tengah & DIY Rembang PLTU Rembang 150 2xTACSR410 44 6.06 1.92 7.98 2009 APLN_Percepatan Baru
132 Region Jawa Tengah & DIY Wleri Batang 150 THawk 62 1.63 4.55 6.18 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
133 Region Jawa Tengah & DIY Wonogiri Wonosari 150 2xTACSR410 63 8.68 2.75 11.42 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
134 Region Jawa Tengah & DIY Wonosari Palur 150 2xTACSR410 15 4.20 1.33 5.53 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
135 Region Jawa Tengah & DIY Wonosari Solo Baru 150 2xTACSR410 9 1.21 0.38 1.60 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
136 Region Jawa Tengah & DIY Wonosobo Secang 150 2xTACSR 240 96 14.03 5.04 19.07 2009 APLN - UAI07 Rekonduktoring
137 Region Jawa Tengah & DIY Bala Pulang/Kebasen II Inc. (Kbsen-Bmayu) 150 2xHawk 2 0.11 0.04 0.15 2010 APLN_Percepatan Baru
138 Region Jawa Tengah & DIY Kudus Purwodadi 150 2xHawk 63 3.56 1.24 4.80 2010 APLN - UAI09 Rekonduktoring
139 Region Jawa Tengah & DIY New Rawalo Inc.(Rwalo-Lmnis) 150 2xTACSR410 6 0.83 0.26 1.09 2010 APLN_Percepatan Baru
140 Region Jawa Tengah & DIY New Rawalo Rawalo Old 150 2xZebra 6 0.46 0.13 0.59 2010 APLN UAI08 Baru
141 Region Jawa Tengah & DIY Purwodadi Ungaran 150 2x2xHawk 114 6.46 2.25 8.70 2010 APLN_Percepatan Rekonduktoring
142 Region Jawa Tengah & DIY Temanggung Wonosobo 150 THawk 22 0.58 1.61 2.19 2010 APLN - UAI08 Rekonduktoring
143 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran Krapyak-Weleri 150 2xHawk 62 3.51 1.22 4.73 2010 ADB - B2 Keten LARP dari ADB
144 Region Jawa Tengah & DIY Pedan Wonosari 150 2x2xHawk 37 2.09 0.73 2.82 2011 APLN - UAI08 Rekonduktoring
145 Region Jawa Tengah & DIY Purwodadi Kudus 150 2x2xHawk 63 3.56 1.24 4.80 2011 APLN Rekonduktoring
146 Region Jawa Tengah & DIY Wates Purworejo 150 THawk 46 1.21 3.38 4.59 2011 APLN Rekonduktoring
147 Region Jawa Tengah & DIY Pedan Klaten 150 2x2xHawk 25 1.44 0.50 1.94 2012 APLN - UAI08 Rekonduktoring
148 Region Jawa Tengah & DIY Pracimantoro/Muntoronad Inc.(Pctan-Wngri) 150 TACSR2x410 10 0.87 2.76 3.63 2012 APLN_Percepatan Baru
149 Region Jawa Timur & Bali Gilimanuk Pemaron 150 2xHawk_2 100 3.77 0.72 4.49 2008 APLN - UAI07 Baru Sirkit ke 2
150 Region Jawa Timur & Bali Sekarbungu Kedinding 150 1xCU800 12 2.45 3.79 6.25 2008 APLN_Percepatan Baru
151 Region Jawa Timur & Bali Babat Tuban 150 2xTACSR410 60 8.27 2.61 10.88 2009 APLN_Percepatan Up rating
152 Region Jawa Timur & Bali Bambe/Bringkang Karangpilang 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2009 APLN_Percepatan Baru
153 Region Jawa Timur & Bali Banaran Suryazigzag 150 TACSR 330 25 2.02 0.72 2.74 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
154 Region Jawa Timur & Bali Buduran II/Sedati Inc.(Bngil-Waru) 150 2xZebra 3 0.19 0.05 0.25 2009 APLN_Percepatan Baru
155 Region Jawa Timur & Bali Celukan Bawang PLTU Incomer (Pmron-Glnuk) 150 2xHawk 6 0.34 0.12 0.46 2009 APLN Baru
156 Region Jawa Timur & Bali Cerme Inc. (Sgmdu-Lmgan) 150 TACSR 240 2 0.15 0.05 0.20 2009 APLN - UAI08 Baru
157 Region Jawa Timur & Bali Grati Gondangwetan 150 TACSR2x410 37 3.22 10.19 13.42 2009 APLN UAI08 Rekonduktoring
158 Region Jawa Timur & Bali Jatim Selatan PLTU Pacitan II 150 1xTACSR520 72 2.23 6.54 8.77 2009 APLN_Percepatan Baru
159 Region Jawa Timur & Bali Jatim Selatan PLTU Wonogiri 150 2xTACSR410 100 13.83 4.37 18.21 2009 APLN_Percepatan Baru
160 Region Jawa Timur & Bali Jombang Jayakertas 150 2xZebra 35 2.70 0.75 3.45 2009 KE-III lot 11 Baru

133
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]

134
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
161 Region Jawa Timur & Bali Kabel Jawa Madura Suramadu 150 1xCU800 6 1.23 1.90 3.12 2009 APLN SKI07 Baru
162 Region Jawa Timur & Bali Kalisari Surabaya Selatan 150 2x429 (zebra) 10 0.77 0.21 0.99 2009 KE-III lot 11 Baru (lot 11)
163 Region Jawa Timur & Bali Kapal Padangsambian 150 TACSR 240 15 1.12 0.40 1.52 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
164 Region Jawa Timur & Bali Kedinding Kalisari 150 ACSR 2x340 40 2.73 0.89 3.62 2009 KE-III Baru
165 Region Jawa Timur & Bali Ketapang Gilimanuk 150 TACSR 330 3 0.28 0.10 0.38 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
Lampiran A.4.1

166 Region Jawa Timur & Bali Kraksaan Probolinggo 150 TACSR 330 60 4.89 1.75 6.64 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
Tenaga Listrik 2009-2018

167 Region Jawa Timur & Bali New Ngimbang Babat 150 2x429 (zebra) 40 3.08 0.86 3.94 2009 APLN Baru
Rencana Usaha Penyediaan

168 Region Jawa Timur & Bali New Ngimbang Mliwang 150 2x429 (zebra) 150 11.56 3.21 14.78 2009 APLN Baru
169 Region Jawa Timur & Bali Ngimbang Inc. (Sbrat-Ungar) 500 4xDove 4 0.87 0.44 1.31 2009 APLN JBN Baru
170 Region Jawa Timur & Bali Paciran/Brondong Lamongan 150 1xZebra 44 2.22 0.76 2.98 2009 APLN JBN Baru
171 Region Jawa Timur & Bali Pacitan II Ponorogo 150 2xTACSR410 124 17.14 5.42 22.56 2009 APLN_Percepatan Uprating
172 Region Jawa Timur & Bali Padangsambian Pesanggaran 150 TACSR 240 21 1.53 0.55 2.07 2009 APLN_Percepatan Rekonduktoring
173 Region Jawa Timur & Bali Paiton New Paiton Old 150 1xCU240 1 1.22 0.18 1.40 2009 APLN_Percepatan Up rating
174 Region Jawa Timur & Bali Paiton New Paiton Old 500 4xGannet 6 1.22 0.61 1.83 2009 APLN_Percepatan Baru 1skt.
175 Region Jawa Timur & Bali Perak Ujung 150 1xDove 10 0.44 0.15 0.60 2009 IBRD IFB 6 Baru
176 Region Jawa Timur & Bali Sambi Kerep/Tandes II Inc.(Waru-Gresik) 150 1xCU800 4 0.82 1.26 2.08 2009 APLN_Percepatan Baru
177 Region Jawa Timur & Bali Simogunung/Gsari Inc.(Swhan-Waru) 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2009 KE-III Baru
178 Region Jawa Timur & Bali Surabaya Selatan Grati 500 4xDove 145 31.54 15.85 47.39 2009 KE-III lot-14 Baru
179 Region Jawa Timur & Bali Tanjung Awar-awar PLTU Tuban 150 2xTACSR410 22 3.03 0.96 3.99 2009 APLN_Percepatan Baru
180 Region Jawa Timur & Bali Tulung Agung II Kediri 150 2xZebra 80 6.17 1.71 7.88 2009 KE-III lot 11 Baru
181 Region Jawa Timur & Bali Wlingi II Kediri 150 2xZebra 67 5.20 1.44 6.64 2009 KE-III lot 11 Baru
182 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi Gilimanuk 150 1xCU300 10 15.81 2.31 18.11 2010 APLN_Percepatan Sirkit keIII
183 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi Ketapang 150 TACSR 330 16 1.30 0.46 1.76 2010 APLN_Percepatan Rekonduktoring
184 Region Jawa Timur & Bali Blimbing II Inc. (Pier-Pakis) 150 2xZebra 14 1.08 0.30 1.38 2010 APLN Baru
185 Region Jawa Timur & Bali Celukan Bawang PLTU Kapal 150 2xTACSR410 140 19.29 6.10 25.39 2010 APLN_Percepatan Baru
186 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo II Manisrejo 150 2xTACSR410 59 8.13 2.57 10.70 2010 APLN_Percepatan Uprating
187 Region Jawa Timur & Bali Purwosari/Sukorejo II Inc. (Pier-Pakis) 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2010 APLN_Percepatan Baru
188 Region Jawa Timur & Bali Waru Darmo Grand 150 TACSR 330 21 1.73 0.62 2.34 2010 APLN SKI07 Rekonduktoring
189 Region Jawa Timur & Bali Driyorejo Miwon 70 Acsr 330 2 0.09 0.03 0.12 2011 APLN Rekonduktoring
190 Region Jawa Timur & Bali Gianyar Amplapura 150 TACSR 330 68 5.47 1.95 7.42 2011 APLN Reconductoring
191 Region Jawa Timur & Bali Gilimanuk Negara 150 TACSR 330 76 6.15 2.19 8.34 2011 APLN Rekonduktoring
192 Region Jawa Timur & Bali Kapal Gianyar 150 TACSR 330 38 3.11 1.11 4.22 2011 APLN_Percepatan Reconductoring
193 Region Jawa Timur & Bali New Kapal Inc.(Kapal-Antsri) 150 TACSR 330 20 1.62 0.58 2.19 2011 APLN_Percepatan Reconductoring
194 Region Jawa Timur & Bali New Porong Ngoro 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2011 APLN Baru
195 Region Jawa Timur & Bali Antosari Kapal 150 TACSR 330 47 3.77 1.35 5.12 2012 APLN Reconductoring
196 Region Jawa Timur & Bali Negara Antosari 150 TACSR 330 89 7.18 2.56 9.74 2012 APLN Reconductoring
197 Region Jawa Timur & Bali Pesanggaran Sanur 150 TACSR 330 148 11.97 4.27 16.24 2013 APLN Reconductoring
Jumlah 7,068 668 400 1,068
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
198 Region Jakarta dan Banten Asahimas II Asahimas 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2014 UNALLOCATED Baru
199 Region Jakarta dan Banten Bogor II Inc. (Bgbru-Cnjur) 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2011 UNALLOCATED Baru
200 Region Jakarta dan Banten Cibinong II Cimanggis 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2011 UNALLOCATED Baru
201 Region Jakarta dan Banten Ciledug II Ciledug 150 1xCU1000 10 3.07 4.74 7.81 2011 UNALLOCATED Baru
202 Region Jakarta dan Banten Dukuatas II Taman Rasuna Said 150 2xZebra 12 0.93 0.26 1.18 2011 UNALLOCATED Baru
203 Region Jakarta dan Banten Kebon Sirih II Inc.(Angke-Karet) 150 2xZebra 6 0.46 0.13 0.59 2011 UNALLOCATED Baru
204 Region Jakarta dan Banten Miniatur II Jatirarangon 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2011 UNALLOCATED Baru
205 Region Jakarta dan Banten Puncak Ardi Mulya II Inc.(Ckande-PAM) 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2011 UNALLOCATED Baru
206 Region Jakarta dan Banten Semen Sukabumi Incomer (Cnjur-Lbstu) 70 Ostrich 20 0.73 0.28 1.01 2011 UNALLOCATED Baru
207 Region Jakarta dan Banten Tangerang Barui II Tangerang Baru 150 1xCU1000 40 12.27 18.97 31.24 2011 UNALLOCATED Baru
208 Region Jakarta dan Banten Balaraja Kembangan 500 Cable 500 kV 40 24.54 37.94 62.48 2012 UNALLOCATED Baru
209 Region Jakarta dan Banten Durikosambi Inc. (Kmbng-Gndul)) 500 4xZebra 1 0.22 0.11 0.33 2012 UNALLOCATED Baru
210 Region Jakarta dan Banten Bekasi II Tambun 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2012 UNALLOCATED Baru
211 Region Jakarta dan Banten Cimanggis II Cimanggis 150 2xZebra 16 1.23 0.34 1.58 2012 UNALLOCATED Baru
212 Region Jakarta dan Banten Cipinang II Cipinang 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2012 UNALLOCATED Baru
213 Region Jakarta dan Banten Daanmogot/Durikosambi I Inc.(Dksbi-Mkrng) 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2012 UNALLOCATED Baru
214 Region Jakarta dan Banten Duren Tiga II Inc. (Gndul-Cwang) 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2012 UNALLOCATED Baru
215 Region Jakarta dan Banten Kemayoran II Kemayoran 150 1xCU1000 30 9.20 14.23 23.43 2012 UNALLOCATED Baru
216 Region Jakarta dan Banten Muarakarang Durikosambi 500 4xZebra 20 4.34 2.18 6.53 2014 UNALLOCATED Baru
217 Region Jakarta dan Banten Citra Habitat II Citra Habitat 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2013 UNALLOCATED Baru
218 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi II Kandang Sapi 150 1xCU1000 30 9.20 14.23 23.43 2013 UNALLOCATED Baru
219 Region Jakarta dan Banten Lengkong II Lengkong 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2013 UNALLOCATED Baru
220 Region Jakarta dan Banten Penggilingan II Pulogadung 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2013 UNALLOCATED Baru
221 Region Jakarta dan Banten Semanggi Barat Inc. (Mpang-Karet) 150 2xCU800 2 8.18 1.26 9.44 2013 UNALLOCATED Baru
222 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said II Taman Rasuna Said 150 1xCU1000 20 6.14 9.48 15.62 2013 UNALLOCATED Baru
223 Region Jakarta dan Banten Bogor X Tj. Pucut 500 DC HVDC SUTT 300 65.17 32.74 97.92 2016 UNALLOCATED Baru
224 Region Jakarta dan Banten Tanjung Pucut Ketapang 500 DC HVDC CABLE 50 255.00 45.00 300.00 2016 UNALLOCATED Baru
225 Region Jakarta dan Banten Banten PLTU Cilegon Baru 500 4xZebra 52 11.25 5.65 16.91 2014 UNALLOCATED Baru
226 Region Jakarta dan Banten Cibadak Baru II Inc. (Bgbru-Cbdak) 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
227 Region Jakarta dan Banten Danayasa II Mapang 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
228 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin II Jatiwaringin 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
229 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading Kelapagading II 150 1xCU800 30 6.14 9.48 15.62 2014 UNALLOCATED Baru
230 Region Jakarta dan Banten Lengkong Inc. (Blrja-Gndul) 500 4xDove 4 0.87 0.44 1.31 2014 UNALLOCATED Baru
231 Region Jakarta dan Banten Mangga Besar III Mangga Besar II 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2014 UNALLOCATED Baru
232 Region Jakarta dan Banten Manggarai II Taman Rasuna Said 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2014 UNALLOCATED Baru
233 Region Jakarta dan Banten Muarakarang III Muarakarang II 150 1xCU1000 10 3.07 4.74 7.81 2014 UNALLOCATED Baru
234 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah II Pondok Indah 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
235 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru II Senayan Baru 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
236 Region Jakarta dan Banten Sepatan II Sepatan 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
237 Region Jakarta dan Banten Serang II Inc. (Srang-Clbru) 150 1xZebra 14 0.71 0.24 0.95 2014 UNALLOCATED Baru
238 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga II Teluk Naga 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2014 UNALLOCATED Baru

135
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]

136
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
239 Region Jakarta dan Banten Gambir Lama II Kemayoran 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2015 UNALLOCATED Baru
240 Region Jakarta dan Banten Kandangsapi II Kandangsapi 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2015 UNALLOCATED Baru
241 Region Jakarta dan Banten Kebonsirih III Kebonsirih II 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2015 UNALLOCATED Baru
242 Region Jakarta dan Banten Kracak II Kedung Badak 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2015 UNALLOCATED Baru
243 Region Jakarta dan Banten Pengilingan III Marunda 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2015 UNALLOCATED Baru
Lampiran A.4.1

244 Region Jakarta dan Banten Tangerang Barui III Tangerang Baru II 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2015 UNALLOCATED Baru
Tenaga Listrik 2009-2018

245 Region Jakarta dan Banten Batu Kuwung PLTP Menes 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2016 UNALLOCATED Baru
Rencana Usaha Penyediaan

246 Region Jakarta dan Banten Bogor III Inc. (Bgbru-Sntul) 150 2xZebra 16 1.23 0.34 1.58 2016 UNALLOCATED Baru
247 Region Jakarta dan Banten Cileungsi II Cibinong 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2016 UNALLOCATED Baru
248 Region Jakarta dan Banten Citaman PLTP Endut 150 2xHawk 20 1.13 0.39 1.53 2016 UNALLOCATED Baru
249 Region Jakarta dan Banten Endut PLTP Serang 150 2xDove 40 2.55 0.83 3.39 2016 UNALLOCATED Baru
250 Region Jakarta dan Banten Gandaria II Gandaria 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2016 UNALLOCATED Baru
251 Region Jakarta dan Banten Gandul II (Inc.(Cwang-Gndul) 150 2xDrake 10 0.77 0.24 1.01 2016 UNALLOCATED Baru
252 Region Jakarta dan Banten Grogol III Grogol II 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2016 UNALLOCATED Baru
253 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi III Kandang Sapi II 150 1xCU800 20 4.09 6.32 10.41 2016 UNALLOCATED Baru
254 Region Jakarta dan Banten Legok II Legok 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2016 UNALLOCATED Baru
255 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah III Bintaro 150 1xCU800 30 6.14 9.48 15.62 2016 UNALLOCATED Baru
256 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said III Taman Rasuna Said II 150 1xCU800 30 6.14 9.48 15.62 2016 UNALLOCATED Baru
257 Region Jakarta dan Banten Tanah Tinggi II Tanah Tinggi 150 1xCU1000 30 9.20 14.23 23.43 2016 UNALLOCATED Baru
258 Region Jakarta dan Banten Tigaraksa II Tigaraksa 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2016 UNALLOCATED Baru
259 Region Jakarta dan Banten Bogor Kota II Inc. (Bgbru-Ciawi) 150 2xZebra 16 1.23 0.34 1.58 2017 UNALLOCATED Baru
260 Region Jakarta dan Banten Cipinang III Cipinang II 150 1xCU1000 20 6.14 9.48 15.62 2017 UNALLOCATED Baru
261 Region Jakarta dan Banten Citra Habitat III Citra Habitat II 150 1xCU1000 20 6.14 9.48 15.62 2017 UNALLOCATED Baru
262 Region Jakarta dan Banten Durikosambi III New Durikosambi 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2017 UNALLOCATED Baru
263 Region Jakarta dan Banten Muarakarang IV Muarakarang III 150 1xCU1000 6 1.84 2.85 4.69 2017 UNALLOCATED Baru
264 Region Jakarta dan Banten Priok Timur II Priok Timur 150 1xCU1000 30 9.20 14.23 23.43 2017 UNALLOCATED Baru
265 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga III Teluk Naga II 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2017 UNALLOCATED Baru
266 Region Jawa Barat Arjawinangun II Sunyaragi 150 2xZebra 42 3.24 0.90 4.14 2011 UNALLOCATED Baru
267 Region Jawa Barat Cirebon (Kit) Inc.(Sragi-Kbsen) 150 TACSR2x410 12 0.52 1.65 2.18 2011 UNALLOCATED Baru
268 Region Jawa Barat Indramayu PLTU Mandirancan 500 4xZebra 120 26.07 13.10 39.17 2018 UNALLOCATED Baru
269 Region Jawa Barat Karaha Bodas PLTP Garut 150 2xDove 20 1.28 0.42 1.69 2012 UNALLOCATED Baru
270 Region Jawa Barat Tambun II Tambun 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2011 UNALLOCATED Baru
271 Region Jawa Barat Tambun III Inc.(Pncol-Gdria) 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2011 UNALLOCATED Baru
272 Region Jawa Barat Indramayu PLTU Cibatu 500 Kap 3000 MW 270 58.66 29.47 88.12 2013 UNALLOCATED Baru
273 Region Jawa Barat Cikumpay II Cikumpay 150 1xZebra 12 0.61 0.21 0.81 2012 UNALLOCATED Baru
274 Region Jawa Barat Lagadar II Incomer (Cnjur-Cgerlg) 150 4xDove 4 0.87 0.44 1.31 2012 UNALLOCATED Baru
275 Region Jawa Barat Padalarang II Padalarang 150 2xZebra 18 1.39 0.39 1.77 2012 UNALLOCATED Baru
276 Region Jawa Barat Rajamandala PLTA Inc (Cgrlg-Cnjur) 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2016 UNALLOCATED Baru
277 Region Jawa Barat Rengasdengklok II Kosambi baru 150 1xHawk 80 3.26 1.17 4.43 2012 UNALLOCATED Baru
278 Region Jawa Barat Subang II Cikmpay 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2012 UNALLOCATED Baru
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
279 Region Jawa Barat Cianjur II Inc. (Cnjur-Cgrlg) 150 1xHawk 4 0.16 0.06 0.22 2013 UNALLOCATED Baru
280 Region Jawa Barat Cisokan PS Incomer (Cibng-Sglng) 500 4xGannet 30 6.52 3.27 9.79 2014 UNALLOCATED Baru
281 Region Jawa Barat Cisolok PLTP Pelabuhan Ratu 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2014 UNALLOCATED Baru
282 Region Jawa Barat Jababeka II Jababeka 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2013 UNALLOCATED Baru
283 Region Jawa Barat Jatigede PLTA Inc (Rckek-Sragi) 150 2xHawk 20 1.13 0.39 1.53 2017 UNALLOCATED Baru
284 Region Jawa Barat Mandirancan Cibatu 500 4xZebra 400 86.90 43.66 130.56 2013 UNALLOCATED Baru
285 Region Jawa Barat Matenggeng PS Rawalo 500 4xDove 60 13.03 6.55 19.58 2017 UNALLOCATED Baru
286 Region Jawa Barat New Lagadar Lagadar 150 4xZebra 20 2.78 0.83 3.61 2013 UNALLOCATED Baru
287 Region Jawa Barat New Tambun Tambun 150 2xZebra 2 0.15 0.04 0.20 2013 UNALLOCATED Baru
288 Region Jawa Barat Pinayungan II Pinayungan 150 2xZebra 46 3.55 0.99 4.53 2013 UNALLOCATED Baru
289 Region Jawa Barat Tambun Inc. (Mtwar-Cibng-Cwang 500 4xDove 20 4.34 2.18 6.53 2013 UNALLOCATED Baru
290 Region Jawa Barat Tangkuban Parahu PLTP Bandung Utara 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2014 UNALLOCATED Baru
291 Region Jawa Barat Tanjung Jati A PLTU Mandirancan 500 Kap 3000 MW 100 21.72 10.91 32.64 2013 UNALLOCATED Baru
292 Region Jawa Barat Majalaya II Rancakasumba 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2014 UNALLOCATED Baru
293 Region Jawa Barat Panyadap II Inc. (Kmjng-Ckska) 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2014 UNALLOCATED Baru
294 Region Jawa Barat Rancaekek II Rancaekek 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2014 UNALLOCATED Baru
295 Region Jawa Barat Kosambi Baru II Inc.(Bkasi-Ksbru) 150 1xHawk 14 0.57 0.20 0.78 2015 UNALLOCATED Baru
296 Region Jawa Barat Lembang Dago 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2015 UNALLOCATED Baru
297 Region Jawa Barat Babakan II Inc.(Kanci-Ubrng) 150 2xZebra 28 1.08 0.30 1.38 2016 UNALLOCATED Baru
298 Region Jawa Barat Dawuan II Inc. (Ksbru - Jtlhr) 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2016 UNALLOCATED Baru
299 Region Jawa Barat Garut II Garut 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2016 UNALLOCATED Baru
300 Region Jawa Barat Kiaracondong III Kiaracondong II 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2016 UNALLOCATED Baru
301 Region Jawa Barat Sumedang Baru Ujungberung 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2016 UNALLOCATED Baru
302 Region Jawa Barat Cangkring II Sunyaragi 150 1xZebra 10 0.50 0.17 0.68 2017 UNALLOCATED Baru
303 Region Jawa Barat Sukamandi II Inc. (Ksbru-PLTUJabarut 150 2xZebra 4 0.31 0.09 0.39 2017 UNALLOCATED Baru
304 Region Jawa Barat Teluk Jambe II Inc.(Tljbe-Cibatu) 150 2xZebra 30 2.31 0.64 2.96 2017 UNALLOCATED Baru
305 Region Jawa Tengah & DIY Cilacap PLTU Rawalo 500 4xZebra 60 13.03 6.55 19.58 2010 UNALLOCATED Baru
306 Region Jawa Tengah & DIY Gedongrejo/Palur II Inc.(Palur-Jajar) 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2010 UNALLOCATED Baru
307 Region Jawa Tengah & DIY New Rawalo Gombong 150 2xZebra 6 0.46 0.13 0.59 2010 UNALLOCATED Baru
308 Region Jawa Tengah & DIY Rawalo Inc (Pedan-Tasik) 500 4xGannet 4 0.87 0.44 1.31 2010 UNALLOCATED Baru
309 Region Jawa Tengah & DIY Tanjung Jati Sayung 150 2xTACSR520 100 6.21 18.17 24.37 2011 UNALLOCATED Baru
310 Region Jawa Tengah & DIY Tanjung Jati B PLTU Ungaran 3,4 500 4xZebra 200 43.45 21.83 65.28 2012 UNALLOCATED Baru
311 Region Jawa Tengah & DIY Pekalongan II Pekalongan 150 2xZebra 20 1.54 0.43 1.97 2013 UNALLOCATED Baru
312 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang Inc. (Ungar-Mdcan) 500 4xDove 10 2.17 1.09 3.26 2013 UNALLOCATED Baru Double Phi
313 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang New Pemalang 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2013 UNALLOCATED Baru
314 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran PLTP Ungaran 150 2xDove 40 2.55 0.83 3.39 2014 UNALLOCATED Baru
315 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran Mandirancan (Lanjutan T 500 4xZebra 400 86.90 43.66 130.56 2014 UNALLOCATED Baru
316 Region Jawa Tengah & DIY Kalibakal II Kalibakal 150 2xZebra 12 0.93 0.26 1.18 2014 UNALLOCATED Baru
317 Region Jawa Tengah & DIY Tambaklorok II Tambaklorok 150 2xZebra 10 0.77 0.21 0.99 2014 UNALLOCATED Baru
318 Region Jawa Tengah & DIY PLTU Jateng Inf. Pemalang 500 Kap 3000 MW 80 17.38 8.73 26.11 2014 UNALLOCATED Baru Double Phi
319 Region Jawa Tengah & DIY Jajar II Inc. (Jajar-Pedan) 150 2xZebra 12 0.93 0.26 1.18 2015 UNALLOCATED Baru

137
138
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
Rencana Pengembangan Sistem Penyaluran [5/5]
No Region Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang Prakiraan Biaya Tahun Sumber Dana Keterangan
kV kms Fx Lx Jumlah Operasi
320 Region Jawa Tengah & DIY Jepara II Jepara 150 2xHawk 10 0.57 0.20 0.76 2015 UNALLOCATED Baru
321 Region Jawa Tengah & DIY Pati II Pati 150 1xHawk 20 0.82 0.29 1.11 2015 UNALLOCATED Baru
322 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan II Sanggrahan 150 2xZebra 80 6.17 1.71 7.88 2015 UNALLOCATED Baru
323 Region Jawa Tengah & DIY Tanjung Angin PLTU Dbphi (Pedan-Rawalo) 500 Kap 3000 MW 120 26.07 13.10 39.17 2018 UNALLOCATED Baru
324 Region Jawa Tengah & DIY Mangunan PLTP Mrica 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2016 UNALLOCATED Baru
Lampiran A.4.1

325 Region Jawa Tengah & DIY Slamet PLTP Rawalo 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2016 UNALLOCATED Baru
Tenaga Listrik 2009-2018

326 Region Jawa Tengah & DIY Cepu PLTGU Inc. (Tj Jati-Mdcan) 500 Kap 3000 MW 100 21.72 10.91 32.64 2016 UNALLOCATED Baru
Rencana Usaha Penyediaan

327 Region Jawa Tengah & DIY Pandeanlamper II Pandeanlamper 150 1xCU800 10 2.05 3.16 5.21 2017 UNALLOCATED Baru
328 Region Jawa Tengah & DIY Bantul Dbphi (Rawalo-T.Angin) 500 4xGannet 20 4.34 2.18 6.53 2018 UNALLOCATED Baru
329 Region Jawa Tengah & DIY Muria Cibatu 500 DC HVDC SUTT 1,060 230.28 115.69 345.97 2019 UNALLOCATED Baru
330 Region Jawa Tengah & DIY Muria Tambun 500 DC HVDC SUTT 1,060 230.28 115.69 345.97 2019 UNALLOCATED Baru
331 Region Jawa Timur & Bali Bedugul Baturiti 150 2xHawk 40 2.26 0.79 3.05 2012 UNALLOCATED Baru
332 Region Jawa Timur & Bali Sidoarjo/Porong II Bangil 150 2xZebra 24 1.85 0.51 2.36 2010 UNALLOCATED Baru
333 Region Jawa Timur & Bali Ijen PLTP Banyuwangi 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2014 UNALLOCATED Baru
334 Region Jawa Timur & Bali New Banyuwangi Genteng 150 2xZebra 60 4.63 1.29 5.91 2012 UNALLOCATED Baru
335 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo II New Tulungagung 150 2xAcsr 330 131 8.94 2.91 11.86 2012 UNALLOCATED Baru
336 Region Jawa Timur & Bali Paiton Grati 3rd 500 4xZebra 88 38.23 19.21 57.44 2012 UNALLOCATED Baru
337 Region Jawa Timur & Bali Bali Timur PLTU Inc.(Gnyar-Ampla) 150 TACSR 330 10 0.81 0.29 1.10 2012 UNALLOCATED Baru
338 Region Jawa Timur & Bali Kesamben PLTA Banaran 150 1xHawk 40 1.63 0.59 2.22 2017 UNALLOCATED Baru
339 Region Jawa Timur & Bali Sanur II Inc.(Psgrn-Sanur) 150 TACSR 330 10 0.81 0.29 1.10 2013 UNALLOCATED Baru
340 Region Jawa Timur & Bali Madura PLTU Inc.(Spang-Pksan) 150 TACSR 330 10 0.81 0.29 1.10 2013 UNALLOCATED Baru
341 Region Jawa Timur & Bali Kalikonto PLTA Bumi Cokro 150 1xHawk 40 1.63 0.59 2.22 2016 UNALLOCATED Baru
342 Region Jawa Timur & Bali Willis/Ngebel PLTP Pacitan II 150 2xHawk 60 3.40 1.18 4.58 2014 UNALLOCATED Baru
343 Region Jawa Timur & Bali Grindulu PS Kebonagung 500 4xDove 80 17.38 8.73 26.11 2018 UNALLOCATED Baru
344 Region Jawa Timur & Bali Kapal JB Crossing Paiton 500 4xDove 424 92.11 86.28 178.39 2015 UNALLOCATED Baru
345 Region Jawa Timur & Bali Grati Kdiri 1st 500 4xZebra 120 52.14 26.19 78.33 2013 UNALLOCATED Baru
346 Region Jawa Timur & Bali Kebonagung Inc. (Grati-Kediri) 1st 500 4xGannet 20 4.34 2.18 6.53 2014 UNALLOCATED Baru
347 Region Jawa Timur & Bali Ngoro Inc. (Piton-Kdiri) 2nd 500 4xGannet 20 4.34 2.18 6.53 2015 UNALLOCATED Baru
348 Region Jawa Timur & Bali Tanjung Pelang PLTU Kediri 500 4xGannet 200 43.45 21.83 65.28 2019 UNALLOCATED Baru
349 Region Jawa Timur & Bali Arjuno PLTP Mojokerto 150 2xHawk 20 1.13 0.39 1.53 2016 UNALLOCATED Baru
350 Region Jawa Timur & Bali Iyang Argopuro PLTP Probolinggo 150 2xDove 30 1.91 0.63 2.54 2016 UNALLOCATED Baru
351 Region Jawa Timur & Bali Turen II Inc. (Kbagn-Pakis) 150 2xZebra 40 3.08 0.86 3.94 2017 UNALLOCATED Baru
352 Region Jawa Timur & Bali New Nusa Dua Nusa Dua 150 TACSR 330 12 0.97 0.35 1.32 2018 UNALLOCATED Baru
353 Region Jawa Timur & Bali Iyang Argopuro PLTP Probolinggo 150 2xDove 30 1.91 0.63 2.54 2016 UNALLOCATED Baru
354 Region Jawa Timur & Bali Turen II Inc. (Kbagn-Pakis) 150 2xZebra 40 3.08 0.86 3.94 2017 UNALLOCATED Baru
355 Region Jawa Timur & Bali New Nusa Dua Nusa Dua 150 TACSR 330 12 0.97 0.35 1.32 2018 UNALLOCATED Baru
8,466 1,805 1,002 2,806
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
1 Region Jakarta dan Banten Kemayoran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD IFB-2B Ext. Trf-3
2 Region Jakarta dan Banten Puncak Ardi Mulya 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2008 APLN Ext.
3 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru (GIS) 150/20 60 1 60 11.03 1.23 12.26 2008 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
4 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru (GIS) 150/20 60 2 120 11.23 1.03 12.26 2008 KE-III lot 8 GIS Baru
5 Region Jakarta dan Banten Angke 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 IBRD IFB-2A Uprate 30
6 Region Jakarta dan Banten Antasari/CSW II (GIS) 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2009 APLN_Percepatan GIS Baru
7 Region Jakarta dan Banten Balaraja 500/150 500 1 500 52.03 5.92 57.95 2009 IBRD IFB-1 GITET Baru
8 Region Jakarta dan Banten Balaraja New 150/20 60 1 60 7.28 1.32 8.60 2009 IBRD IFB-2B GI Baru
9 Region Jakarta dan Banten Bintaro II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru
10 Region Jakarta dan Banten Cawang (GIS) 500/150 500 1 500 25.49 15.51 41.00 2009 APLN_Percepatan Ext. IBT-3
11 Region Jakarta dan Banten Ciawi 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2009 APLN - UAI08 Uprate 10 eks. PNCOL
12 Region Jakarta dan Banten Cibinong 150/70 100 1 100 5.30 3.30 8.60 2009 IBRD Ext.
13 Region Jakarta dan Banten Cilegon 500/150 166 1 166 15.63 2.67 18.30 2009 KE-III lot 3 Spare u Clgon
14 Region Jakarta dan Banten Cilegon 500/150 500 1 500 15.63 2.67 18.30 2009 APLN - UAI08 Spare u Clgon
15 Region Jakarta dan Banten Gandul 500/150 500 1 500 16.26 2.06 18.32 2009 APLN_Percepatan Ext. IBT-3
16 Region Jakarta dan Banten Karet Lama 150/70 100 1 100 2.16 1.34 3.50 2009 APLN - UAI08 Ext.
17 Region Jakarta dan Banten Kracak 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2009 APLN - UAI08 Uprate 10
18 Region Jakarta dan Banten Lippo Karawaci 150/20 60 2 120 7.52 1.08 8.60 2009 APLN_Percepatan Ext.
19 Region Jakarta dan Banten Menes II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru Up-rate
20 Region Jakarta dan Banten Saketi II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru Up-rate
21 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said (GIS) 150/20 60 2 120 23.06 2.11 25.17 2009 KE-III lot 5 GIS Baru
22 Region Jakarta dan Banten Abadi GunaPapan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN Ext.
23 Region Jakarta dan Banten Balaraja 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext.Trf-3
24 Region Jakarta dan Banten Balaraja New 500/150 500 1 500 11.56 7.04 18.60 2010 ADB Ext. IBT-2
25 Region Jakarta dan Banten Bogor Kota (GIS) 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
26 Region Jakarta dan Banten Ciawi II 150/20 60 2 120 5.78 1.02 6.80 2010 APLN_Percepatan GI Baru
27 Region Jakarta dan Banten Cibadak Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN Ext. Trf-3
28 Region Jakarta dan Banten Cibinong 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 IBRD IFB-2A Uprate 30
29 Region Jakarta dan Banten Cibinong 150/70 100 1 100 5.67 3.53 9.20 2010 IBRD IFB-2A Ext.
30 Region Jakarta dan Banten Ciledug 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
31 Region Jakarta dan Banten Cileungsi II/Jonggol 150/20 60 1 60 16.92 3.02 19.94 2010 APLN_Percepatan GI Baru
32 Region Jakarta dan Banten Cimanggis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD IFB-2B Ext. 3rd X-mer
33 Region Jakarta dan Banten Cimanggis/Puncak Ardi Mulya 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN - UAI08 Ext. Trf-3
34 Region Jakarta dan Banten Cipinang (GIS) 150/20 60 1 60 3.15 0.35 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
35 Region Jakarta dan Banten Citrahabitat 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD IFB-2A Ext, 2nd X-mer
36 Region Jakarta dan Banten Danayasa (GIS) 150/20 60 1 60 3.15 0.35 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext . Trf-3
37 Region Jakarta dan Banten Depok III/Rawadenok 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN Ext. Trf-2
38 Region Jakarta dan Banten Durentiga (GIS) 150/20 60 1 60 3.15 0.35 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
39 Region Jakarta dan Banten Durikosambi 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
40 Region Jakarta dan Banten Gandaria 150 (GIS) 150/20 60 3 180 25.99 2.39 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
Lampiran A.4.2
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

139
140
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
41 Region Jakarta dan Banten Grogol (GIS) 150/20 60 1 60 10.00 1.69 11.69 2010 APLN_Percepatan Ext.Trf-3
42 Region Jakarta dan Banten Gunung Sahari/Mangga Besar I 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
43 Region Jakarta dan Banten Jatake 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD Ext. Trf-4
44 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2010 KE-III lot 6 GI Baru
45 Region Jakarta dan Banten Kandangsapi (GIS) 150/20 60 1 60 10.51 1.18 11.69 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-2
Lampiran A.4.2

46 Region Jakarta dan Banten Kebonsirih (GIS) 150/20 60 1 60 10.51 1.18 11.69 2010 APLN_Percepatan Ext.Trf-2
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

47 Region Jakarta dan Banten Kedung Badak II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2010 ADB - B5 GI Baru
48 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading (GIS) 150/20 60 2 120 19.36 1.74 21.10 2010 KE-III lot 6 GIS Baru
49 Region Jakarta dan Banten Kopo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN - UAI08 Ext. Trf-2
50 Region Jakarta dan Banten Lautan Steel 150/20 60 3 180 7.30 1.30 8.60 2010 APLN GI Baru
51 Region Jakarta dan Banten Legok 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
52 Region Jakarta dan Banten Lembursitu II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru Up-rate
53 Region Jakarta dan Banten Manggabesar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD Ext.3rd X-mer (eks.Mkrng)
54 Region Jakarta dan Banten Muarakarang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext.Trf-3
55 Region Jakarta dan Banten MuaraKarang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD IFB-2B Ext. Trf-3
56 Region Jakarta dan Banten Pasar Kemis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 IBRD IFB-2B Ext
57 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah (GIS) 150/20 60 2 120 25.99 2.38 28.37 2010 KE-III lot 6 GIS Baru
58 Region Jakarta dan Banten Priok Timur 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 KE-III Ext. (lot 1)
59 Region Jakarta dan Banten Rangkasbitung II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2010 ADB - B4 GI Baru Up-rate
60 Region Jakarta dan Banten Sentul 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-2
61 Region Jakarta dan Banten Sepatan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN - UAI09 Ext. Trf- eks.DKSBI)
62 Region Jakarta dan Banten Serang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 APLN - UAI08 Uprate 30
63 Region Jakarta dan Banten Tanah Tinggi (GIS) 150/20 60 2 120 23.09 2.08 25.17 2010 KE-III lot 8 GIS Baru
64 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-2
65 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN Ext. Trf-2
66 Region Jakarta dan Banten Tigaraksa 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN_Percepatan Ext. Trf-2
67 Region Jakarta dan Banten Bogor II 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2011 APLN_Percepatan GIS Baru
68 Region Jakarta dan Banten Lengkong 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 IBRD IFB-2B Ext.
69 Region Jakarta dan Banten Miniatur GIS 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 IBRD IFB-2B Ext.3rd X-mer
70 Region Jakarta dan Banten Penggilingan (GIS) 150/20 60 1 60 10.52 1.18 11.70 2011 APLN Ext. Trf-3
71 Region Jakarta dan Banten Puncak Ardi Mulya II 150/20 60 1 60 26.09 2.29 28.38 2011 APLN_Percepatan GIS Baru
72 Region Jakarta dan Banten Daanmogot/Durikosambi II (GIS 150/20 60 2 120 57.54 5.18 62.72 2012 APLN_Percepatan GIS Baru
73 Region Jakarta dan Banten Karet Lama 150/70 100 1 100 2.16 1.34 3.50 2018 APLN - UAI08 Ext.
74 Region Jawa Barat Cianjur 150/70 60 1 60 2.28 1.22 3.50 2008 ADB - B1 Ext.
75 Region Jawa Barat Cibatu 500/150 500 1 500 16.26 2.34 18.60 2008 APLN_Percepatan Ext. IBT-3 ex. MDCAN
76 Region Jawa Barat Dawuan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 KE III Lot 3 Uprate 20
77 Region Jawa Barat Fajar Surya.W 150/20 30 1 30 2.57 0.43 3.00 2008 IBRD Uprate 30 (ke Scang)
78 Region Jawa Barat Ganda Mekar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD IFB-2B Ext. 3rd X-mer
79 Region Jawa Barat Haurgeulis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD IFB-2A Ext, 2nd X-mer
80 Region Jawa Barat Jatibarang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD IFB-2A Ext, 2nd X-mer
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
81 Region Jawa Barat Poncol II 150/20 60 2 120 17.10 3.03 20.13 2008 APLN JBN GI Baru
82 Region Jawa Barat Babakan 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2009 APLN_Percepatan Uprate 10
83 Region Jawa Barat Banjar 150/70 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2009 APLN - UAI08 Ex. Cnjur
84 Region Jawa Barat Cangkring 70/20 30 1 30 2.58 0.42 3.00 2009 APLN_Percepatan Eks.
85 Region Jawa Barat Cibatu 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext.
86 Region Jawa Barat Cigereleng 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext. Trf-4
87 Region Jawa Barat Cikarang Baru Lippo 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru
88 Region Jawa Barat Cikasungka 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext.
89 Region Jawa Barat Cikedung 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru
90 Region Jawa Barat Cikijing 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru
91 Region Jawa Barat Cikumpay 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext. Trf-3
92 Region Jawa Barat Cirata Baru 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2009 APLN_Percepatan Ext.
93 Region Jawa Barat Daeuhkolot/Cigereleng II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2009 APLN_Percepatan GI Baru
94 Region Jawa Barat Garut 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext
95 Region Jawa Barat Kadipaten 150/70 100 1 100 2.16 1.34 3.50 2009 APLN - UAI08 Ext.
96 Region Jawa Barat Kuningan 70/20 30 1 30 2.58 0.42 3.00 2009 APLN_Percepatan Ext.
97 Region Jawa Barat Lagadar 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 IBRD Uprate 30
98 Region Jawa Barat Mandirancan 500/150 500 1 500 15.99 2.31 18.30 2009 APLN - UAI08 IBT-2
99 Region Jawa Barat Muaratawar 500/150 500 1 500 16.27 2.35 18.62 2009 APLN_Percepatan IBT-1
100 Region Jawa Barat Padalarang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 IBRD IFB-2A Uprate 30
101 Region Jawa Barat Pangandaran 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2009 APLN_Percepatan uprate 10
102 Region Jawa Barat Rancaekek 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext. T4
103 Region Jawa Barat Rancakasumba/(Panyadap 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 KE III Lot 3 Ex.
104 Region Jawa Barat Subang 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext 3rd x-mer
105 Region Jawa Barat Tambun 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 30
106 Region Jawa Barat Tanggeung 70/20 30 1 30 7.22 1.38 8.60 2009 APLN - DIST GI Baru
107 Region Jawa Barat Tasikmalaya 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 15
108 Region Jawa Barat Ujung Berung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext. ek. Ciledug
109 Region Jawa Barat Bekasi Utara/Tarumajaya/ (GIS 150/20 60 2 120 26.04 2.34 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
110 Region Jawa Barat Braga (GIS) 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
111 Region Jawa Barat Cibabat II (GIS) 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
112 Region Jawa Barat Cibeureum 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 IBRD IFB-2A Ext 2nd ex. RCKSBA
113 Region Jawa Barat Dago Pakar 150/20 60 2 120 7.29 1.31 8.60 2010 ADB - B4 GI Baru
114 Region Jawa Barat Jatiluhur II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN UAI08 GI Baru
115 Region Jawa Barat Kanci 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
116 Region Jawa Barat Karang Nunggal 150/20 30 1 30 7.28 1.32 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
117 Region Jawa Barat Kiaracondong II (GIS) 150/20 60 2 120 26.00 2.38 28.38 2010 APLN_Percepatan GIS Baru
118 Region Jawa Barat Malangbong Baru 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru Up-rate
119 Region Jawa Barat Muaratawar 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
120 Region Jawa Barat Parakan 70/20 20 1 20 2.58 0.42 3.00 2010 APLN Ext. Ek. Sumedang

141
Rencana Pengembangan Gardu Induk

142
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
121 Region Jawa Barat Patuha 150/20 30 1 30 7.29 1.31 8.60 2010 APLN GI Baru (Kit)
122 Region Jawa Barat Santosa 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2010 APLN - UAI07 Ext. ek. Mlbng
123 Region Jawa Barat Sukamandi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 APLN - UAI07 Ext. Trf-2 (Dr RJTD)
124 Region Jawa Barat Sukatani /Gobel 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
125 Region Jawa Barat Sumadra 70/20 10 1 10 3.00 0.50 3.50 2010 APLN Ext. ek Mlbng
Lampiran A.4.2

126 Region Jawa Barat Sumedang 70/20 20 1 20 3.02 0.48 3.50 2010 APLN Ext. ek Mlbng
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

127 Region Jawa Barat Tasik Malaya 500/150 500 1 500 15.99 2.31 18.30 2010 APLN - UAI08 IBT -2
128 Region Jawa Barat Kadipaten 150 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2011 APLN GI Baru
129 Region Jawa Barat Ujungberung 500/150 500 1 500 52.23 5.75 57.98 2011 APLN_Percepatan GITET Baru
130 Region Jawa Tengah & DIY Bumi Semarang Baru 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2008 APLN JBN GI Baru
131 Region Jawa Tengah & DIY Jepara 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 30 (ke Tjati)
132 Region Jawa Tengah & DIY Kalibakal 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 20
133 Region Jawa Tengah & DIY Kebasen 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext
134 Region Jawa Tengah & DIY Kudus 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 30
135 Region Jawa Tengah & DIY Masaran 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2008 APLN JBN GI Baru
136 Region Jawa Tengah & DIY Medari 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2008 APLN - UAI07 Eks. Kentungan
137 Region Jawa Tengah & DIY Mranggen 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2008 APLN JBN GI Baru
138 Region Jawa Tengah & DIY Pedan 500/150 166 1 166 13.21 2.26 15.48 2008 IBRD - IFB 1 Spare
139 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 30
140 Region Jawa Tengah & DIY Purbalingga 150/20 30 1 30 7.29 1.31 8.60 2008 APLN JBN GI Baru
141 Region Jawa Tengah & DIY Rembang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 20
142 Region Jawa Tengah & DIY Bumiayu 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 16
143 Region Jawa Tengah & DIY Cepu 150/20 30 1 30 3.00 0.50 3.50 2009 APLN - UAI08 Uprate 16 eks. KUDUS
144 Region Jawa Tengah & DIY Klaten 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext.
145 Region Jawa Tengah & DIY Mangkunegaran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 KE-III LOT-3 AO6 Ext.
146 Region Jawa Tengah & DIY Mojosongo 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APBN 2007 Uprate 30
147 Region Jawa Tengah & DIY Pedan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext, 2 nd X-mer
148 Region Jawa Tengah & DIY Purwodadi 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 30
149 Region Jawa Tengah & DIY Purworejo 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 IBRD - 2A Uprate 30 (ex.Gndul)
150 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 KE-III lot-3 A06 Uprate 30
151 Region Jawa Tengah & DIY Temanggung 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2009 APLN - UAI08 Ext. eks. BRNGI
152 Region Jawa Tengah & DIY Bala Pulang/Kebasen II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
153 Region Jawa Tengah & DIY Blora 150/20 30 1 30 7.36 1.24 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 16
154 Region Jawa Tengah & DIY Bringin 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
155 Region Jawa Tengah & DIY Dieng 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2010 APLN - UAI09 Ext.
156 Region Jawa Tengah & DIY Gedongrejo/Palur II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
157 Region Jawa Tengah & DIY Gombong 150/20 60 1 60 7.36 1.24 8.60 2010 APLN_Percepatan Ext.
158 Region Jawa Tengah & DIY Kentungan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext.
159 Region Jawa Tengah & DIY Lomanis 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 20
160 Region Jawa Tengah & DIY Majenang 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
161 Region Jawa Tengah & DIY Pandeanlamper 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 16
162 Region Jawa Tengah & DIY Pati 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 20
163 Region Jawa Tengah & DIY Pekalongan 150/20 60 1 60 7.37 1.23 8.60 2010 APLN_Percepatan Uprate 31,5
164 Region Jawa Tengah & DIY Rawalo 500/150 500 1 500 56.77 5.96 62.73 2010 APLN_Percepatan GITET Baru
165 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan 150/20 60 1 60 4.78 0.80 5.58 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
166 Region Jawa Tengah & DIY Secang 150/20 30 1 30 2.39 0.40 2.79 2010 APLN_Percepatan Uprate 16 (Ex. Fajar)
167 Region Jawa Tengah & DIY Semanu 150/20 60 1 60 6.76 1.14 7.91 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
168 Region Jawa Tengah & DIY Simpang Lima (GIS) 150/20 60 1 60 10.52 1.18 11.70 2010 APLN_Percepatan Ext.Trf-3
169 Region Jawa Tengah & DIY Solo Baru/Solo Baru 150/20 60 1 60 6.76 1.14 7.91 2010 APLN_Percepatan Ext.
170 Region Jawa Tengah & DIY Sragen 150/20 60 2 120 8.06 1.35 9.40 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
171 Region Jawa Tengah & DIY Tambaklorok 150/20 60 1 60 6.76 1.14 7.91 2010 APLN_Percepatan Ext.
172 Region Jawa Tengah & DIY Wonosobo 150/20 60 1 60 4.78 0.80 5.58 2010 APLN_Percepatan Uprate 16
173 Region Jawa Tengah & DIY Batang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2011 KE-III Lot 10 Ext
174 Region Jawa Tengah & DIY Bawen 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 APLN - UAI09 Uprate 30
175 Region Jawa Tengah & DIY Jajar 150/20 60 1 60 4.03 0.67 4.70 2011 APLN_Percepatan Uprate 16
176 Region Jawa Tengah & DIY Kaliwungu 150/20 30 1 30 3.00 0.50 3.50 2011 APLN - UAI09 Uprate 16 eks. Krapyak
177 Region Jawa Tengah & DIY Kebumen 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 APLN - UAI09 Uprate 30
178 Region Jawa Tengah & DIY Kedungombo 150/20 16 1 16 3.00 0.50 3.50 2011 APLN - UAI09 Uprate 6.3 eks. Krapyak
179 Region Jawa Tengah & DIY Randugarut (GIS) 150/20 60 1 60 10.52 1.18 11.70 2011 APLN Ext. Trf-2
180 Region Jawa Tengah & DIY Sayung 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2011 KE III Lot-10 Uprate 30
181 Region Jawa Tengah & DIY Tanjung Jati 150/20 30 1 30 5.12 0.87 5.99 2011 APLN_Percepatan Eks. Ex. Jepara
182 Region Jawa Tengah & DIY Tanjung Jati B 500/150 500 2 1,000 55.86 6.87 62.73 2011 IPP Ext. IBT-1
183 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2011 APLN - UAI08 Uprate 16 eks. TBROK
184 Region Jawa Tengah & DIY Wirobrajan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 APLN - UAI09 Ext.
185 Region Jawa Tengah & DIY Pracimantoro/Nguntoronadi 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2012 APLN_Percepatan GI Baru
186 Region Jawa Tengah & DIY Wonosari 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 APLN UAI09 Ext.
187 Region Jawa Timur & Bali Altaprima 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 APLN - UAI07 Ext. ek.Tndes
188 Region Jawa Timur & Bali Babadan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext-TRF-3
189 Region Jawa Timur & Bali Blimbing 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2008 APLN_Percepatan Uprate 10
190 Region Jawa Timur & Bali Bondowoso 150/20 20 1 20 3.00 0.50 3.50 2008 APLN - UAI07 Ex.stbdo
191 Region Jawa Timur & Bali Buduran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext.
192 Region Jawa Timur & Bali Driyorejo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Ext.
193 Region Jawa Timur & Bali Kapal 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 20
194 Region Jawa Timur & Bali Kediri 500/150 500 1 500 51.74 6.21 57.95 2008 IBRD - IFB-4 IBT -2
195 Region Jawa Timur & Bali Manisrejo 150/70 100 1 100 4.61 3.99 8.60 2008 IBRD - IFB 5/PT.ASP Uprate 35-100MVA
196 Region Jawa Timur & Bali Mranggen 70/20 30 1 30 2.58 0.42 3.00 2008 APLN_Percepatan Ext. ek. SKRJO
197 Region Jawa Timur & Bali New Kuta 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2008 APLN JBN GI Baru
198 Region Jawa Timur & Bali Nusa Dua 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 KE-III Lot 3 A06 Uprate 20 (lot 3)
199 Region Jawa Timur & Bali Paiton 500/150 500 1 500 16.49 1.81 18.30 2008 APLN - UAI07 Spare
200 Region Jawa Timur & Bali Pesanggaran 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2008 IBRD IFB-5 Uprate 30

143
144
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
241 Region Jawa Timur & Bali Segoromadu 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 20
242 Region Jawa Timur & Bali Sekarputih 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 KE-III Lot 3 A06 Ext.
243 Region Jawa Timur & Bali Sekarputih 150/70 100 1 100 3.00 0.50 3.50 2009 APLN - UAI07 Ext.
244 Region Jawa Timur & Bali Sengkaling 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate 30
245 Region Jawa Timur & Bali Situbondo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 APLN_Percepatan Ext.
Lampiran A.4.2

246 Region Jawa Timur & Bali Sumenep 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2009 APLN - UAI07 Uprate20
Tenaga Listrik 2009-2018

247 Region Jawa Timur & Bali Surabaya Selatan 500/150 500 2 1,000 55.80 6.93 62.73 2009 IBRD - IFB-4 GITET Baru
Rencana Usaha Penyediaan

248 Region Jawa Timur & Bali Tarik 70/20 20 1 20 2.59 0.42 3.01 2009 APLN - UAI07 Ext.Bkran KTSNO
249 Region Jawa Timur & Bali Trenggalek 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2009 APLN_Percepatan Uprate10
250 Region Jawa Timur & Bali Tulungagung II 150/20 60 1 60 2.97 0.53 3.50 2009 APLN JBN GI Baru
251 Region Jawa Timur & Bali Wlingi II 150/20 30 1 30 7.30 1.30 8.60 2009 KE-III Lot 10 GI Baru
252 Region Jawa Timur & Bali Bangil (GIS) 150/70 60 1 60 7.01 4.69 11.70 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
253 Region Jawa Timur & Bali Blimbing II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
254 Region Jawa Timur & Bali Gondang Wetan 150/20 60 1 60 4.78 0.80 5.58 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
255 Region Jawa Timur & Bali Grati 500/150 500 1 500 16.33 1.97 18.30 2010 APLN - UAI08 Baru IBT-2
256 Region Jawa Timur & Bali Krian 500/150 500 1 500 15.99 2.31 18.30 2010 APLN - UAI08 Ext. BT-3
257 Region Jawa Timur & Bali Nganjuk 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2010 APLN - UAI07 Uprate30
258 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo II 150/20 60 2 120 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
259 Region Jawa Timur & Bali Purwosari/Sukorejo II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2010 APLN JBN GI Baru
260 Region Jawa Timur & Bali Sanur 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 KE-III Lot 3 A06 Ext
261 Region Jawa Timur & Bali Sidoarjo 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2010 APLN_Percepatan GI Baru
262 Region Jawa Timur & Bali Turen 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2010 APLN - UAI07 Uprate20
263 Region Jawa Timur & Bali Ujung 150/20 60 1 60 4.78 0.80 5.58 2010 APLN_Percepatan Uprate 30
264 Region Jawa Timur & Bali Bulukandang 150/20 60 1 60 6.76 1.14 7.91 2011 APLN_Percepatan Ext.
265 Region Jawa Timur & Bali Celukanbawang PLTU 150/20 30 1 30 7.28 1.32 8.60 2011 APLN GI Baru
266 Region Jawa Timur & Bali Kebonagung 150/20 60 1 60 4.78 0.80 5.58 2011 APLN_Percepatan Uprate 30
267 Region Jawa Timur & Bali New Porong 150/20 60 2 120 5.74 1.01 6.75 2011 APLN_Percepatan GI Baru
Jumlah 26,138 2,072.63 324.16 2,396.79
Rencana Pengembangan Gardu Induk
RENCANA PENGEMBANGAN GARDU INDUK
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
1 Region Jakarta dan Banten Millenium/Citra habitat 2 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2010 UNALLOCATED GI Baru
2 Region Jakarta dan Banten Cikande 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext
3 Region Jakarta dan Banten Pelabuhan Ratu 150 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2010 UNALLOCATED GI Baru
4 Region Jakarta dan Banten Puncak Ardi Mulya 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
5 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext. Trf-3
6 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext
7 Region Jakarta dan Banten Asahimas II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
8 Region Jakarta dan Banten Cibinong II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
9 Region Jakarta dan Banten Cimanggis II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
10 Region Jakarta dan Banten Depok Baru II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
11 Region Jakarta dan Banten Depok III/Rawadenok 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2011 UNALLOCATED Ext. IBT-2
12 Region Jakarta dan Banten Dukuh Atas II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
13 Region Jakarta dan Banten Gandaria 150 (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext. trf-3
14 Region Jakarta dan Banten Grogol II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
15 Region Jakarta dan Banten Kebonsirih II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
16 Region Jakarta dan Banten Lembursitu II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext. Trf-3
17 Region Jakarta dan Banten Miniatur II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
18 Region Jakarta dan Banten Muarakarang II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
19 Region Jakarta dan Banten Penggilingan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
20 Region Jakarta dan Banten Sentul 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
21 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
22 Region Jakarta dan Banten Tigaraksa 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
23 Region Jakarta dan Banten Millenium/Citra habitat 2 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
24 Region Jakarta dan Banten Antasari/CSW II (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
25 Region Jakarta dan Banten Bekasi II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
26 Region Jakarta dan Banten Bunar 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2012 UNALLOCATED Uprate 10
27 Region Jakarta dan Banten Ciawi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
28 Region Jakarta dan Banten Cipinang II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
29 Region Jakarta dan Banten Depok III/Rawadenok 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext. Trf-3
30 Region Jakarta dan Banten Durentiga II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
31 Region Jakarta dan Banten Kandangsapi (GIS) 150/20 60 1 60 3.20 0.30 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
32 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading (GIS) 150/20 60 1 60 3.15 0.35 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
33 Region Jakarta dan Banten Kemayoran II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
34 Region Jakarta dan Banten Lippo Karawaci 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
35 Region Jakarta dan Banten Manggarai 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
36 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext
37 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
38 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
39 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
40 Region Jakarta dan Banten Bintaro II 150/20 60 1 60 2.31 1.19 3.50 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-2

145
146
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
41 Region Jakarta dan Banten Bogor Kota (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
42 Region Jakarta dan Banten Ciledug II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
43 Region Jakarta dan Banten Cilegon Lama 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
44 Region Jakarta dan Banten Gunung Sahari/Mangga Besar II GI 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
45 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-3
Lampiran A.4.2

46 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
Tenaga Listrik 2009-2018

47 Region Jakarta dan Banten Kebonsirih II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
Rencana Usaha Penyediaan

48 Region Jakarta dan Banten Legok 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
49 Region Jakarta dan Banten Lengkong II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
50 Region Jakarta dan Banten Muarakarang II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
51 Region Jakarta dan Banten Pelabuhan Ratu 150 kV 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-2
52 Region Jakarta dan Banten Semanggi Barat (GIS) 150/20 60 2 120 26.42 2.38 28.80 2013 UNALLOCATED GIS Baru
53 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
54 Region Jakarta dan Banten Sepatan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
55 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
56 Region Jakarta dan Banten Bogor X 500/150 DC 0 1 0 425.00 75.00 500.00 2016 UNALLOCATED GITET DC Baru
57 Region Jakarta dan Banten Muara Enim 500/150 DC 0 1 0 425.00 75.00 500.00 2016 UNALLOCATED GITET DC Baru
58 Region Jakarta dan Banten Abadi Guna Papan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
59 Region Jakarta dan Banten Balaraja New 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext. Trf-3
60 Region Jakarta dan Banten Bekasi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
61 Region Jakarta dan Banten Cibadak Baru II 150/20 60 2 120 26.38 2.42 28.80 2014 UNALLOCATED GIS Baru
62 Region Jakarta dan Banten Cilegon Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
63 Region Jakarta dan Banten Danayasa II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
64 Region Jakarta dan Banten Grogol II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
65 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
66 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading II 150/20 60 2 120 26.38 2.42 28.80 2014 UNALLOCATED GIS Baru
67 Region Jakarta dan Banten Lembursitu III 150/20 60 1 60 2.97 0.53 3.50 2014 UNALLOCATED GI Baru
68 Region Jakarta dan Banten Durikosambi GIS 500/150 500 2 1,000 107.89 12.11 120.00 2012 UNALLOCATED GITET Baru
69 Region Jakarta dan Banten Lengkong 500/150 500 2 1,000 52.10 5.85 57.95 2014 UNALLOCATED GITET Baru
70 Region Jakarta dan Banten Lippo Karawaci II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
71 Region Jakarta dan Banten Mangga Besar III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
72 Region Jakarta dan Banten Manggarai II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
73 Region Jakarta dan Banten Muarakarang III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
74 Region Jakarta dan Banten Penggilingan II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext
75 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.Trf-3
76 Region Jakarta dan Banten Saketi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
77 Region Jakarta dan Banten Sepatan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
78 Region Jakarta dan Banten Serang II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
79 Region Jakarta dan Banten Tanah Tinggi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.Trf-3
80 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
81 Region Jakarta dan Banten Tiga Raksa II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
82 Region Jakarta dan Banten Antasari/CSW III 150/20 60 2 120 26.38 2.42 28.80 2015 UNALLOCATED GIS Baru
83 Region Jakarta dan Banten Bunar II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
84 Region Jakarta dan Banten Cimanggis II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
85 Region Jakarta dan Banten Daanmogot/Durikosambi II (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
86 Region Jakarta dan Banten Durikosambi 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2015 UNALLOCATED IBT-3
87 Region Jakarta dan Banten Gambir Lama II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
88 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
89 Region Jakarta dan Banten Kebon Sirih III 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
90 Region Jakarta dan Banten Kracak II 150/20 60 1 60 7.31 1.29 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
91 Region Jakarta dan Banten Penggilingan III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
92 Region Jakarta dan Banten Priok Timur 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.Trf-2
93 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
94 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext. trf-2
95 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
96 Region Jakarta dan Banten Balaraja New 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-4
97 Region Jakarta dan Banten Bogor III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
98 Region Jakarta dan Banten Cibadak Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
99 Region Jakarta dan Banten Cibinong II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
100 Region Jakarta dan Banten Cileungsi II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
101 Region Jakarta dan Banten Cipinang II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
102 Region Jakarta dan Banten Durentiga II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
103 Region Jakarta dan Banten Durikosambi 500/150 500 1 500 25.17 3.63 28.80 2016 UNALLOCATED IBT-4
104 Region Jakarta dan Banten Gandaria II 150/20 60 1 60 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
105 Region Jakarta dan Banten Gandul II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
106 Region Jakarta dan Banten Grogol III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
107 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi III 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
108 Region Jakarta dan Banten Kedung Badak II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
109 Region Jakarta dan Banten Kembangan 500/150 500 1 500 25.17 3.63 28.80 2016 UNALLOCATED IBT-3
110 Region Jakarta dan Banten Legok II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
111 Region Jakarta dan Banten Mangga Besar III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
112 Region Jakarta dan Banten Menes II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
113 Region Jakarta dan Banten Muarakarang III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
114 Region Jakarta dan Banten Penggilingan III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
115 Region Jakarta dan Banten PLTP Batu kuwung 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
116 Region Jakarta dan Banten PLTP Citayam Karang 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
117 Region Jakarta dan Banten PLTP Endut 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
118 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
119 Region Jakarta dan Banten Rangkasbitung II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
120 Region Jakarta dan Banten Salira Indah 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.

147
148
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
121 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
122 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said III 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
123 Region Jakarta dan Banten Tanah Tinggi II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
124 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
125 Region Jakarta dan Banten Bekasi III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
Lampiran A.4.2

126 Region Jakarta dan Banten Bogor II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
Tenaga Listrik 2009-2018

127 Region Jakarta dan Banten Bogor Kota II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
Rencana Usaha Penyediaan

128 Region Jakarta dan Banten Ciledug II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
129 Region Jakarta dan Banten Cimanggis III 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
130 Region Jakarta dan Banten Cimanggis II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
131 Region Jakarta dan Banten Cipinang III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
132 Region Jakarta dan Banten Citra habitat III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
133 Region Jakarta dan Banten Durikosambi III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
134 Region Jakarta dan Banten Jatiwaringin II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
135 Region Jakarta dan Banten Kebon Sirih III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
136 Region Jakarta dan Banten Kelapa Gading II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
137 Region Jakarta dan Banten Kemayoran II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
138 Region Jakarta dan Banten Lengkong II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
139 Region Jakarta dan Banten Manggarai II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
140 Region Jakarta dan Banten Muarakarang GIS 500/150 500 3 1,500 106.96 13.04 120.00 2014 UNALLOCATED GITET Baru
141 Region Jakarta dan Banten Muarakarang IV 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
142 Region Jakarta dan Banten Penggilingan IV 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
143 Region Jakarta dan Banten Pondok Indah III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
144 Region Jakarta dan Banten Priok Timur II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
145 Region Jakarta dan Banten Semanggi Barat (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
146 Region Jakarta dan Banten Sepatan II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
147 Region Jakarta dan Banten Tangerang Baru III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
148 Region Jakarta dan Banten Teluk Naga III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
149 Region Jakarta dan Banten Tiga Raksa II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
150 Region Jakarta dan Banten Abadi Guna Papan II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext. trf-2
151 Region Jakarta dan Banten Antasari/CSW III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
152 Region Jakarta dan Banten Dukuh Atas II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
153 Region Jakarta dan Banten Grogol III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
154 Region Jakarta dan Banten Kandang Sapi III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
155 Region Jakarta dan Banten Lippo Karawaci II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
156 Region Jakarta dan Banten Penggilingan IV 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
157 Region Jakarta dan Banten Senayan Baru III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
158 Region Jakarta dan Banten Taman Rasuna Said III 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
159 Region Jawa Barat Majalaya 70/20 20 1 20 2.59 0.41 3.00 2009 UNALLOCATED Ext.
160 Region Jawa Barat Cianjur 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
161 Region Jawa Barat Cibatu 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2010 UNALLOCATED Ext. IBT-4
162 Region Jawa Barat Kosambi Baru 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2010 UNALLOCATED Ext.
163 Region Jawa Barat Peruri 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
164 Region Jawa Barat Sunyaragi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
165 Region Jawa Barat Tegal Herang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
166 Region Jawa Barat Arjawinangun II 150/20 60 2 120 7.35 1.25 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
167 Region Jawa Barat Bandung Timur II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
168 Region Jawa Barat Cikumpay II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
169 Region Jawa Barat Daeuhkolot/Cigereleng II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
170 Region Jawa Barat Jababeka II 150/20 30 1 30 7.31 1.29 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
171 Region Jawa Barat Jatiluhur II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext
172 Region Jawa Barat New Ujung Berung 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
173 Region Jawa Barat Pabuaran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
174 Region Jawa Barat Padalarang II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
175 Region Jawa Barat Pameungpeuk 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
176 Region Jawa Barat PLTP Karaha Bodas 150/20 0 1 0 7.22 1.38 8.60 2011 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
177 Region Jawa Barat Poncol II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext
178 Region Jawa Barat Tambun II 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2011 UNALLOCATED GI Baru
179 Region Jawa Barat Teluk Jambe 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
180 Region Jawa Barat Bekasi Utara/Tarumajaya/ (GIS) 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
181 Region Jawa Barat Ciamis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
182 Region Jawa Barat Cianjur II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
183 Region Jawa Barat Dago pakar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
184 Region Jawa Barat Kamojang 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2012 UNALLOCATED Uprate 30
185 Region Jawa Barat Lagadar II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
186 Region Jawa Barat Majalaya 70/20 10 1 10 1.34 0.22 1.56 2012 UNALLOCATED Ext.
187 Region Jawa Barat Mandirancan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
188 Region Jawa Barat Mekarsari 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
189 Region Jawa Barat New Lagadar 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
190 Region Jawa Barat Pinayungan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
191 Region Jawa Barat PLTA Rajamandala 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2012 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
192 Region Jawa Barat Rancaekek II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
193 Region Jawa Barat Rengasdengklok 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru uprate
194 Region Jawa Barat Rengasdengklok II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
195 Region Jawa Barat Subang II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
196 Region Jawa Barat Sumadra 70/20 30 1 30 3.18 0.51 3.69 2012 UNALLOCATED Ext.
197 Region Jawa Barat Tasikmalaya 150/20 30 1 30 2.39 0.40 2.79 2012 UNALLOCATED Uprate 30
198 Region Jawa Barat Bandung Selatan II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
199 Region Jawa Barat Banjar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
200 Region Jawa Barat Cangkring 70/20 30 1 30 2.58 0.42 3.00 2013 UNALLOCATED Ext.

149
150
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
201 Region Jawa Barat Cikasungka II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
202 Region Jawa Barat Garut 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Uprate 30
203 Region Jawa Barat Haurgeulis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
204 Region Jawa Barat Kanci 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
205 Region Jawa Barat Kosambi Baru II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
Lampiran A.4.2

206 Region Jawa Barat Maligi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
Tenaga Listrik 2009-2018

207 Region Jawa Barat Parung Mulya 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
Rencana Usaha Penyediaan

208 Region Jawa Barat Patuha 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
209 Region Jawa Barat PLTA Jatigede 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
210 Region Jawa Barat PLTP Cisolok 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
211 Region Jawa Barat PLTP Cisolok Sukarame 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
212 Region Jawa Barat PLTP Tangkuban Perahu 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
213 Region Jawa Barat Rancakasumba II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
214 Region Jawa Barat Tambun 500/150 500 2 1,000 55.82 6.91 62.73 2013 UNALLOCATED GITET Baru
215 Region Jawa Barat Tambun II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
216 Region Jawa Barat Tasikmalaya New 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
217 Region Jawa Barat Ujung Berung 500/150 500 2 1,000 16.29 2.51 18.80 2013 UNALLOCATED Ext. IBT-2
218 Region Jawa Barat Arjawinangun II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
219 Region Jawa Barat Babakan 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2014 UNALLOCATED Uprate 10
220 Region Jawa Barat Cibabat II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
221 Region Jawa Barat Garut II 150/20 60 1 60 7.31 1.29 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
222 Region Jawa Barat Kiarapayung 150/20 30 1 30 2.39 0.40 2.79 2014 UNALLOCATED Uprate 30
223 Region Jawa Barat Kuningan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
224 Region Jawa Barat Majalaya II 150/20 60 1 60 7.32 1.28 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
225 Region Jawa Barat Panyadap II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
226 Region Jawa Barat Sukamandi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
227 Region Jawa Barat Sumedang 70/20 20 1 20 1.94 0.31 2.25 2014 UNALLOCATED uprate 10
228 Region Jawa Barat Tasikmalaya II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
229 Region Jawa Barat Bengkok II 150/20 60 1 60 7.31 1.29 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru Up-rate
230 Region Jawa Barat Jatibarang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
231 Region Jawa Barat Kadipaten 150 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
232 Region Jawa Barat Karang Nunggal 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
233 Region Jawa Barat Lembang 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
234 Region Jawa Barat Saguling 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2015 UNALLOCATED Ext. IBT-1
235 Region Jawa Barat Santosa 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
236 Region Jawa Barat Subang II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
237 Region Jawa Barat Tambun III 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
238 Region Jawa Barat Tanggeung 70/20 30 1 30 3.18 0.51 3.69 2015 UNALLOCATED Ext.
239 Region Jawa Barat Babakan II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru uprate
240 Region Jawa Barat Bandung Timur II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-3
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
241 Region Jawa Barat Ciamis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
242 Region Jawa Barat Ciawi Baru II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
243 Region Jawa Barat Cibabat III 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
244 Region Jawa Barat Cibeureum 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-3
245 Region Jawa Barat Cibinong 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2016 UNALLOCATED IBT-3
246 Region Jawa Barat Cigereleng II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
247 Region Jawa Barat Cikasungka 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
248 Region Jawa Barat Cikasungka II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
249 Region Jawa Barat Dawuan II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
250 Region Jawa Barat Depok 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2016 UNALLOCATED IBT-3
251 Region Jawa Barat Fajar Surya.W 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2016 UNALLOCATED Ext.
252 Region Jawa Barat Kiara condong III 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru
253 Region Jawa Barat Kiaracondong II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
254 Region Jawa Barat Kuninagan II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
255 Region Jawa Barat Muaratawar 500/150 500 2 1,000 31.20 4.80 36.00 2016 UNALLOCATED IBT-3 & 4
256 Region Jawa Barat Padalarang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Uprate 30
257 Region Jawa Barat Pangandaran 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2016 UNALLOCATED uprate 10
258 Region Jawa Barat Parakan 70/20 10 1 10 1.34 0.22 1.56 2016 UNALLOCATED uprate 10
259 Region Jawa Barat Rancaekek 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2016 UNALLOCATED IBT-3
260 Region Jawa Barat Sukatani/Gobel 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
261 Region Jawa Barat Sumedang Baru 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2016 UNALLOCATED GI Baru uprate
262 Region Jawa Barat Tambun 500/150 500 1 500 16.43 2.37 18.80 2016 UNALLOCATED IBT-3
263 Region Jawa Barat Tasikmalaya II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
264 Region Jawa Barat Banjar 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate 30
265 Region Jawa Barat Braga 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
266 Region Jawa Barat Cangkring II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru uprate
267 Region Jawa Barat Cikijing 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
268 Region Jawa Barat Cikumpay II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
269 Region Jawa Barat Daeuhkolot/Cigereleng II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
270 Region Jawa Barat Jababeka II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
271 Region Jawa Barat Jatiluhur II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
272 Region Jawa Barat Lagadar II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
273 Region Jawa Barat Majalaya II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
274 Region Jawa Barat Malangbong Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
275 Region Jawa Barat Mandirancan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
276 Region Jawa Barat New Lagar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
277 Region Jawa Barat New Ujungberung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
278 Region Jawa Barat Peruri 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
279 Region Jawa Barat Rancaekek II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
280 Region Jawa Barat Sukamandi II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru

151
152
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
281 Region Jawa Barat Sumadra 70/20 10 1 10 1.99 0.33 2.32 2017 UNALLOCATED Ext.
282 Region Jawa Barat Tegalherang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
283 Region Jawa Barat Teluk Jambe II 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
284 Region Jawa Barat Cikarang Lippo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
285 Region Jawa Barat Cikedung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
Lampiran A.4.2

286 Region Jawa Barat Pameungpeuk 70/20 20 1 20 2.58 0.42 3.00 2018 UNALLOCATED Ext.
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

287 Region Jawa Barat Pangandaran 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2018 UNALLOCATED uprate 10
288 Region Jawa Barat Rengasdengklok 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
289 Region Jawa Barat Cibatu HVDC Converter Station 500/150 DC 0 1 0 500.00 0.00 500.00 2019 UNALLOCATED GITET DC Baru
290 Region Jawa Barat Tambun HVDC Converter Station 500/150 DC 0 1 0 500.00 0.00 500.00 2019 UNALLOCATED GITET DC Baru
291 Region Jawa Tengah & DIY Jekulo 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2010 UNALLOCATED Uprate 20
292 Region Jawa Tengah & DIY New Rawalo 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2010 UNALLOCATED GI Baru
293 Region Jawa Tengah & DIY Purworejo 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2010 UNALLOCATED Ext .
294 Region Jawa Tengah & DIY Rawalo 150/20 60 1 60 25.69 4.31 30.00 2010 UNALLOCATED Uprate 16
295 Region Jawa Tengah & DIY Banyudono 150/20 60 1 60 25.67 4.33 30.00 2012 UNALLOCATED Uprate 20
296 Region Jawa Tengah & DIY Jepara 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
297 Region Jawa Tengah & DIY Kalibakal 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2012 UNALLOCATED Uprate 20
298 Region Jawa Tengah & DIY Kudus 150/20 30 1 30 3.10 0.40 3.50 2012 UNALLOCATED Ext .
299 Region Jawa Tengah & DIY Mojosongo 150/20 30 1 30 3.12 0.38 3.50 2012 UNALLOCATED Uprate 30
300 Region Jawa Tengah & DIY Pati 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
301 Region Jawa Tengah & DIY Purwodadi 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2012 UNALLOCATED Ext .
302 Region Jawa Tengah & DIY Wonogiri 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2012 UNALLOCATED Uprate 30
303 Region Jawa Tengah & DIY Bantul 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
304 Region Jawa Tengah & DIY Blora 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Uprate 16
305 Region Jawa Tengah & DIY Bringin 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
306 Region Jawa Tengah & DIY Gedongrejo/Palur II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
307 Region Jawa Tengah & DIY Godean 150/20 30 1 30 0.51 0.09 0.60 2013 UNALLOCATED Ext.
308 Region Jawa Tengah & DIY Kalisari 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
309 Region Jawa Tengah & DIY Majenang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Uprate 20
310 Region Jawa Tengah & DIY Pandeanlamper 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Uprate 16
311 Region Jawa Tengah & DIY Pedan 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-3
312 Region Jawa Tengah & DIY Pekalongan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
313 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang 500/150 500 1 500 52.45 5.50 57.95 2013 UNALLOCATED GITET Baru
314 Region Jawa Tengah & DIY PLTP Ungaran 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
315 Region Jawa Tengah & DIY PLTP Willis/Ngebel 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
316 Region Jawa Tengah & DIY Semen Nusantara 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
317 Region Jawa Tengah & DIY Tambaklorok 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Uprate 30
318 Region Jawa Tengah & DIY Gombong 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2014 UNALLOCATED Uprate 20
319 Region Jawa Tengah & DIY Kalibakal II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
320 Region Jawa Tengah & DIY Lomanis 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
321 Region Jawa Tengah & DIY Masaran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
322 Region Jawa Tengah & DIY Sayung 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2014 UNALLOCATED Uprate 16
323 Region Jawa Tengah & DIY Simpang Lima 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
324 Region Jawa Tengah & DIY Tambaklorok Baru 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
325 Region Jawa Tengah & DIY Wates 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
326 Region Jawa Tengah & DIY Banyudono 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
327 Region Jawa Tengah & DIY Cepu 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 16
328 Region Jawa Tengah & DIY Gedongrejo/Palur II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
329 Region Jawa Tengah & DIY Jajar II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
330 Region Jawa Tengah & DIY Jepara II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
331 Region Jawa Tengah & DIY Klaten 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 30
332 Region Jawa Tengah & DIY Palur 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
333 Region Jawa Tengah & DIY Pati Baru 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
334 Region Jawa Tengah & DIY Pemalang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
335 Region Jawa Tengah & DIY Rembang 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 30
336 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 30
337 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 30
338 Region Jawa Tengah & DIY Sanggrahan II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2015 UNALLOCATED GI Baru
339 Region Jawa Tengah & DIY Solo Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
340 Region Jawa Tengah & DIY Weleri 150/20 30 1 30 3.10 0.40 3.50 2015 UNALLOCATED Ext .
341 Region Jawa Tengah & DIY Wonosobo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
342 Region Jawa Tengah & DIY Kaliwungu 150/20 30 1 30 2.67 0.33 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate 16
343 Region Jawa Tengah & DIY Krapyak 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
344 Region Jawa Tengah & DIY Medari 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2016 UNALLOCATED Ext .
345 Region Jawa Tengah & DIY Mojosongo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
346 Region Jawa Tengah & DIY Mrica 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Uprate 30
347 Region Jawa Tengah & DIY Pedan 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-4
348 Region Jawa Tengah & DIY PLTP Arjuno 150/20 0 1 0 7.22 1.38 8.60 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
349 Region Jawa Tengah & DIY PLTP Mangunan 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
350 Region Jawa Tengah & DIY PLTP Selamet 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
351 Region Jawa Tengah & DIY Pracimantoro/Nguntoronadi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
352 Region Jawa Tengah & DIY Purwodadi 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
353 Region Jawa Tengah & DIY Purworejo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
354 Region Jawa Tengah & DIY Randu Garut 150/20 30 1 30 3.10 0.40 3.50 2016 UNALLOCATED Ext .
355 Region Jawa Tengah & DIY Rawalo 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-2
356 Region Jawa Tengah & DIY Rawalo 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate 30
357 Region Jawa Tengah & DIY Semanu 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate 30
358 Region Jawa Tengah & DIY Sragen 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
359 Region Jawa Tengah & DIY Srondol 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
360 Region Jawa Tengah & DIY Tambaklorok II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.

153
Rencana Pengembangan Gardu Induk

154
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
361 Region Jawa Tengah & DIY Temanggung 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2016 UNALLOCATED Ext .
362 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-3
363 Region Jawa Tengah & DIY Batang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
364 Region Jawa Tengah & DIY Bawen 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2017 UNALLOCATED Uprate 20
365 Region Jawa Tengah & DIY Gombong 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2017 UNALLOCATED Uprate 20
Lampiran A.4.2

366 Region Jawa Tengah & DIY Kebasen 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
Tenaga Listrik 2009-2018

367 Region Jawa Tengah & DIY Pandeanlamper II 150/20 60 1 60 7.30 1.30 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
Rencana Usaha Penyediaan

368 Region Jawa Tengah & DIY Pedan 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2017 UNALLOCATED Ext .
369 Region Jawa Tengah & DIY Pudak Payung 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2017 UNALLOCATED Ext .
370 Region Jawa Tengah & DIY Purbalingga 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
371 Region Jawa Tengah & DIY Solo Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
372 Region Jawa Tengah & DIY Ungaran 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2017 UNALLOCATED Ext .
373 Region Jawa Tengah & DIY Bantul 500/150 500 2 1,000 51.57 6.38 57.95 2018 UNALLOCATED IBT-1 & 2
374 Region Jawa Tengah & DIY Klaten 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2018 UNALLOCATED Ext .
375 Region Jawa Tengah & DIY Masaran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
376 Region Jawa Tengah & DIY Purworejo 150/20 60 1 60 3.08 0.42 3.50 2018 UNALLOCATED Ext .
377 Region Jawa Tengah dan DIY Muria HVDC Converter Station 500/150 DC 0 1 0 500.00 0.00 500.00 2019 UNALLOCATED GITET DC Baru
378 Region Jawa Timur & Bali Buduran II/Sedati 150/20 60 2 120 7.32 1.28 8.60 2009 UNALLOCATED GI Baru
379 Region Jawa Timur & Bali Petrokimia 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2009 UNALLOCATED Ext.
380 Region Jawa Timur & Bali Amplapura 150/20 30 1 30 2.39 0.40 2.79 2010 UNALLOCATED Uprate 20
381 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2010 UNALLOCATED Uprate20
382 Region Jawa Timur & Bali Dolopo 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2010 UNALLOCATED Ext
383 Region Jawa Timur & Bali Genteng 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
384 Region Jawa Timur & Bali Kedinding 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2010 UNALLOCATED Uprate 30
385 Region Jawa Timur & Bali Kraksaan 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2010 UNALLOCATED Ext.
386 Region Jawa Timur & Bali Kupang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
387 Region Jawa Timur & Bali Lawang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
388 Region Jawa Timur & Bali Manyar 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2010 UNALLOCATED Uprate 30
389 Region Jawa Timur & Bali PLTP Bedugul 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2010 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
390 Region Jawa Timur & Bali SelorejoPLTA 70/20 20 1 20 1.72 0.28 2.00 2010 UNALLOCATED Ext.
391 Region Jawa Timur & Bali Surabaya Selatan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
392 Region Jawa Timur & Bali Tuban 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2010 UNALLOCATED Uprate 30
393 Region Jawa Timur & Bali Ubud/Payangan 150/20 30 1 30 2.56 0.44 3.00 2010 UNALLOCATED Ext. Trf-2
394 Region Jawa Timur & Bali Wlingi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2010 UNALLOCATED Ext.
395 Region Jawa Timur & Bali Cerme 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
396 Region Jawa Timur & Bali Jombang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
397 Region Jawa Timur & Bali Mliwang 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
398 Region Jawa Timur & Bali Negara 150/20 30 1 30 1.71 0.29 2.00 2011 UNALLOCATED Uprate 15
399 Region Jawa Timur & Bali Paiton 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
400 Region Jawa Timur & Bali Pare 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
401 Region Jawa Timur & Bali Pier 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
402 Region Jawa Timur & Bali PLTP Ijen 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2011 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
403 Region Jawa Timur & Bali Sekarputih 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
404 Region Jawa Timur & Bali Simpang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
405 Region Jawa Timur & Bali Trenggalek 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2011 UNALLOCATED Uprate20
406 Region Jawa Timur & Bali Undaan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2011 UNALLOCATED Ext.
407 Region Jawa Timur & Bali Driyorejo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
408 Region Jawa Timur & Bali Gianyar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext Trf-3
409 Region Jawa Timur & Bali Jayakertas 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext
410 Region Jawa Timur & Bali Kalisari 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
411 Region Jawa Timur & Bali Kapal 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2012 UNALLOCATED Uprate 30
412 Region Jawa Timur & Bali Kebonagung 500/150 500 2 1,000 51.27 6.68 57.95 2014 UNALLOCATED GITET Baru
413 Region Jawa Timur & Bali New Banyuwangi 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2012 UNALLOCATED GI Baru
414 Region Jawa Timur & Bali Nusa Dua 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2012 UNALLOCATED Uprate 30
415 Region Jawa Timur & Bali Padang Sambian 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext. Trf-2
416 Region Jawa Timur & Bali Rungkut 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
417 Region Jawa Timur & Bali Sengguruh PLTA 70/20 20 1 20 3.01 0.49 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
418 Region Jawa Timur & Bali Wonokromo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2012 UNALLOCATED Ext.
419 Region Jawa Timur & Bali Bangkalan 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2013 UNALLOCATED Uprate 30
420 Region Jawa Timur & Bali Baturiti 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2013 UNALLOCATED Uprate 30
421 Region Jawa Timur & Bali Bojonegoro 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
422 Region Jawa Timur & Bali Bondowoso 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
423 Region Jawa Timur & Bali Jember 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
424 Region Jawa Timur & Bali Kediri 500/150 500 1 500 16.05 2.75 18.80 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-4
425 Region Jawa Timur & Bali Kediri 500/150 500 1 500 16.05 2.75 18.80 2013 UNALLOCATED Ext. Trf-3
426 Region Jawa Timur & Bali Kubu (Bali Timur) PLTU 150/20 30 1 30 7.28 1.32 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
427 Region Jawa Timur & Bali Kupang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
428 Region Jawa Timur & Bali Magetan 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
429 Region Jawa Timur & Bali New Sanur 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2013 UNALLOCATED GI Baru
430 Region Jawa Timur & Bali Pakis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
431 Region Jawa Timur & Bali Pemaron 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
432 Region Jawa Timur & Bali Perak 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2013 UNALLOCATED Uprate 30
433 Region Jawa Timur & Bali PLTA Kesamben 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
434 Region Jawa Timur & Bali PLTA Kalikonto 150/20 0 1 0 2.52 0.48 3.00 2013 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
435 Region Jawa Timur & Bali Sekarputih 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
436 Region Jawa Timur & Bali Siman 70/20 20 1 20 3.01 0.49 3.50 2013 UNALLOCATED Ext
437 Region Jawa Timur & Bali Tanggul 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
438 Region Jawa Timur & Bali Wlingi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2013 UNALLOCATED Ext.
439 Region Jawa Timur & Bali Babat 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
440 Region Jawa Timur & Bali Gilimanuk 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.

155
156
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
441 Region Jawa Timur & Bali Gilitimur 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
442 Region Jawa Timur & Bali Lamongan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2014 UNALLOCATED Uprate 30-60 MVA
443 Region Jawa Timur & Bali Mojoagung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
444 Region Jawa Timur & Bali Negara 150/20 30 1 30 1.71 0.29 2.00 2014 UNALLOCATED Uprate 30
445 Region Jawa Timur & Bali New Kapal 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2014 UNALLOCATED GI Baru
Lampiran A.4.2

446 Region Jawa Timur & Bali New Kuta 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

447 Region Jawa Timur & Bali Ngawi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
448 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
449 Region Jawa Timur & Bali Rungkut 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
450 Region Jawa Timur & Bali Trenggalek 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
451 Region Jawa Timur & Bali Tulungagung II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2014 UNALLOCATED Ext.
452 Region Jawa Timur & Bali Altaprima 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
453 Region Jawa Timur & Bali Antosari 150/20 30 1 30 1.71 0.29 2.00 2015 UNALLOCATED Uptrate 10
454 Region Jawa Timur & Bali Balongbendo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
455 Region Jawa Timur & Bali Banaran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
456 Region Jawa Timur & Bali Bangil 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate30
457 Region Jawa Timur & Bali Blitar Baru 70/20 30 1 30 2.58 0.42 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate20
458 Region Jawa Timur & Bali Buduran 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
459 Region Jawa Timur & Bali Bumicokro 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
460 Region Jawa Timur & Bali Gembong 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
461 Region Jawa Timur & Bali Gianyar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext Trf-3
462 Region Jawa Timur & Bali Gondangwetan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
463 Region Jawa Timur & Bali Kapal 500/150 500 1 500 52.45 5.50 57.95 2015 UNALLOCATED GITET Baru
464 Region Jawa Timur & Bali Kasih Jatim 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
465 Region Jawa Timur & Bali Lumajang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
466 Region Jawa Timur & Bali Ngagel 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2015 UNALLOCATED Uprate
467 Region Jawa Timur & Bali Ngoro 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
468 Region Jawa Timur & Bali Ngoro 500/150 500 2 1,000 51.97 5.98 57.95 2015 UNALLOCATED GITET Baru
469 Region Jawa Timur & Bali Nusa Dua 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 30
470 Region Jawa Timur & Bali Pakis 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
471 Region Jawa Timur & Bali Pamekasan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
472 Region Jawa Timur & Bali Pemaron 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2015 UNALLOCATED Ext
473 Region Jawa Timur & Bali Perak 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
474 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
475 Region Jawa Timur & Bali Sawahan 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 50
476 Region Jawa Timur & Bali Sawahan 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2015 UNALLOCATED Uprate 50
477 Region Jawa Timur & Bali Sidoarjo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext. Trf-2
478 Region Jawa Timur & Bali Surabaya Selatan 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2015 UNALLOCATED Ext. Trf-3
479 Region Jawa Timur & Bali Surabaya Selatan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
480 Region Jawa Timur & Bali Turen 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2015 UNALLOCATED Ext.
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
481 Region Jawa Timur & Bali Amplapura 150/20 30 1 30 2.57 0.43 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate 20
482 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate30
483 Region Jawa Timur & Bali Caruban 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2016 UNALLOCATED Uprate 10
484 Region Jawa Timur & Bali Celukanbawang PLTU 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
485 Region Jawa Timur & Bali Gunungsari/Simogunung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
486 Region Jawa Timur & Bali Jombang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
487 Region Jawa Timur & Bali Karangkates 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
488 Region Jawa Timur & Bali Karangpilang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
489 Region Jawa Timur & Bali Kebonagung 500/150 500 1 500 16.94 1.86 18.80 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-3
490 Region Jawa Timur & Bali Kedinding 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
491 Region Jawa Timur & Bali Kediri Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
492 Region Jawa Timur & Bali Kertosono II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
493 Region Jawa Timur & Bali Krian 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
494 Region Jawa Timur & Bali Lawang 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Uprate
495 Region Jawa Timur & Bali Manyar 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
496 Region Jawa Timur & Bali Mranggen 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
497 Region Jawa Timur & Bali New Kapal 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
498 Region Jawa Timur & Bali Ngimbang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
499 Region Jawa Timur & Bali Paciran/Brondong 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Uprate30
500 Region Jawa Timur & Bali Padang Sambian 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext. Trf-3
501 Region Jawa Timur & Bali Petrokimia 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
502 Region Jawa Timur & Bali PLTP Iyang Argopuro 150/20 0 1 0 7.05 1.35 8.40 2016 UNALLOCATED Accosiated Kit Baru
503 Region Jawa Timur & Bali Polehan 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2016 UNALLOCATED Uprate 10
504 Region Jawa Timur & Bali Probolinggo 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
505 Region Jawa Timur & Bali Rungkut 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
506 Region Jawa Timur & Bali Segoromadu 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
507 Region Jawa Timur & Bali Sengguruh PLTA 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2016 UNALLOCATED Uprate20
508 Region Jawa Timur & Bali Simpang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
509 Region Jawa Timur & Bali Situbondo 150/20 30 1 30 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
510 Region Jawa Timur & Bali Sukolilo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
511 Region Jawa Timur & Bali Tulungagung PLTA 70/20 30 1 30 2.54 0.40 2.94 2016 UNALLOCATED Uprate 20
512 Region Jawa Timur & Bali Ubud/Payangan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2016 UNALLOCATED Ext
513 Region Jawa Timur & Bali Ujung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
514 Region Jawa Timur & Bali Undaan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
515 Region Jawa Timur & Bali Waru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2016 UNALLOCATED Ext.
516 Region Jawa Timur & Bali Babat 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate30
517 Region Jawa Timur & Bali Balongbendo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
518 Region Jawa Timur & Bali Banaran 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate 30
519 Region Jawa Timur & Bali Bangkalan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate 30
520 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate30

157
158
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Lanjutan
No. Region Lokasi Rasio Unit Size Jumlah Kapasitas Perkiraan Biaya M USD Tahun Sumber Dana Keterangan
MVA Unit MVA Fx Lx Jumlah Operasi
521 Region Jawa Timur & Bali Blitar Baru 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2017 UNALLOCATED Uprate20
522 Region Jawa Timur & Bali Bringkang/Bambe 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
523 Region Jawa Timur & Bali Bulukandang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
524 Region Jawa Timur & Bali Dolopo 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
525 Region Jawa Timur & Bali Gembong 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
Lampiran A.4.2

526 Region Jawa Timur & Bali Jayakertas 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

527 Region Jawa Timur & Bali Jember 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
528 Region Jawa Timur & Bali Kalisari 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
529 Region Jawa Timur & Bali Kasih Jatim 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
530 Region Jawa Timur & Bali Kraksaan 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
531 Region Jawa Timur & Bali Manisrejo 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2017 UNALLOCATED Uprate 20
532 Region Jawa Timur & Bali Mranggen 70/20 30 1 30 2.59 0.41 3.00 2017 UNALLOCATED Uprate 10
533 Region Jawa Timur & Bali New Kuta 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
534 Region Jawa Timur & Bali New Porong 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext. Trf-2
535 Region Jawa Timur & Bali New Sanur 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
536 Region Jawa Timur & Bali Ngagel 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
537 Region Jawa Timur & Bali Ponorogo II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
538 Region Jawa Timur & Bali Sampang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext
539 Region Jawa Timur & Bali Sedati/Buduran II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
540 Region Jawa Timur & Bali Sengkaling 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
541 Region Jawa Timur & Bali Sidoarjo 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext. Trf-3
542 Region Jawa Timur & Bali Sukorejo 70/20 30 1 30 3.02 0.48 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
543 Region Jawa Timur & Bali Sumenep 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
544 Region Jawa Timur & Bali Tulungagung II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2017 UNALLOCATED Ext.
545 Region Jawa Timur & Bali Turen II 150/20 60 2 120 7.31 1.29 8.60 2017 UNALLOCATED GI Baru
546 Region Jawa Timur & Bali Babadan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2018 UNALLOCATED Uprate 50
547 Region Jawa Timur & Bali Babat 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
548 Region Jawa Timur & Bali Banyuwangi 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
549 Region Jawa Timur & Bali Baturiti 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2018 UNALLOCATED Uprate 30
550 Region Jawa Timur & Bali Bondowoso 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
551 Region Jawa Timur & Bali Darmogrand 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
552 Region Jawa Timur & Bali Kediri Baru 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
553 Region Jawa Timur & Bali Kertosono II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
554 Region Jawa Timur & Bali Mojoagung 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
555 Region Jawa Timur & Bali Mojoagung 150/20 60 1 60 2.57 0.43 3.00 2018 UNALLOCATED Uprate 30
556 Region Jawa Timur & Bali New Kapal 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
557 Region Jawa Timur & Bali New Nusa Dua/Pecatu 150/20 60 1 60 7.29 1.31 8.60 2018 UNALLOCATED GI Baru
558 Region Jawa Timur & Bali Ngimbang 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
559 Region Jawa Timur & Bali Pacitan II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
560 Region Jawa Timur & Bali Rungkut 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
561 Region Jawa Timur & Bali Sengguruh PLTA 70/20 30 1 30 3.01 0.49 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
562 Region Jawa Timur & Bali Siman 70/20 20 1 20 3.01 0.49 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
563 Region Jawa Timur & Bali Tuban 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
564 Region Jawa Timur & Bali Ubud/Payangan 150/20 60 1 60 3.00 0.50 3.50 2018 UNALLOCATED Ext
565 Region Jawa Timur & Bali Wlingi II 150/20 60 1 60 2.99 0.51 3.50 2018 UNALLOCATED Ext.
Jumlah 51,380 5,531.84 644.56 6,176.40
Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik 2009-2018

Penjelasan Lampiran A.4

PENJELASAN Lampiran A.4


RENCANA PENGEMBANGAN
SISTEM PENYALURAN JAWA BALI

Rencana pengembangan sistem penyaluran di sistem Jawa Bali meliputi:


1. Pengembangan sistem penyaluran 500 kV
• Program penambahan trafo IBT 500 MVA 500/150 kV di lokasi yang masih dapat dikembangkan di
delapan lokasi, yaitu: Cawang, Gandul, Cilegon, Cibatu, Mandirancan, Pedan, Kediri, dan Paiton.
• Pembangunan GITET baru berikut transmisi terkait di sistem Jawa Bali, yaitu: Durikosambi, Muara-
karang, Lengkong, Tambun, Rancaekek, Rawalo, Bantul, Surabaya Selatan, Ngimbang, Kebon
Agung, Ngoro.
• Pembangunan transmisi 500 kV baru terkait dengan proyek pembangkit, yaitu: Suralaya Baru-
Balaraja, Balaraja-Kembangan, Banten–Cilegon, Upper Cisokan-incomer Saguling/Cibinong, In-
dramayu-Cibatu, Tanjung Jati A-Mandirancan, PLTU Jateng infrastruktur-Pemalang, Cilacap-Rawa-
lo, Tanjung Jati B-Mandirancan, Matenggeng-Rawalo, Cepu- incomer Tanjung Jati B/Mandirancan,
Paiton-Grati sirkit 3 dan Pelang-Kebon Agung.
• Pembangunan transmisi 500 kV Paiton-Kapal termasuk overhead line 500 kV menyeberangi selat
Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali.
• Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3,000 MW Sumatra-Jawa untuk menyalurkan listrik
dari PLTU Mulut Tambang di Sumatra Selatan ke stasiun konverter Parung.
2. Pengembangan sistem penyaluran 150 kV
• Pembangunan GI baru dan program penambahan trafo distribusi 150/20 kV dalam rangka memenuhi
pertumbuhan kebutuhan listrik sebagaimana terdapat pada Lampiran A.6 mengenai capacity­ ba­
lance gardu induk. Sedangkan penambahan trafo distribusi 70/20 kV merupakan program relokasi
trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur.
• Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan, PLTU
IPP dan PLTP IPP.
• Perkuatan transmisi 150 kV eksisting di lokasi tersebar di sistem Jawa Bali dalam rangka memenuhi
kriteria keandalan (N-1).

159
Lampiran A.5
PETA RENCANA
PENGEMBANGAN PENYALURAN
SISTEM JAWA BALI
A.5.1 JARINGAN SISTEM 500 KV JAWA-BALI (EXISTING & RENCANA PENGEMBANGAN)

A.5.2 LOKASI PEMBANGKIT BARU NON BBM (PROGRAM PERCEPATAN 6.900 MW)

A.5.3 LOKASI PEMBANGKIT BARU

A.5.4 TOPOLOGI JARINGAN REGION DKI & BANTEN

A.5.5 TOPOLOGI JARINGAN REGION JAWA BARAT

A.5.6 TOPOLOGI JARINGAN REGION JATENG & DIY

A.5.7 TOPOLOGI JARINGAN REGION JAWA TIMUR & BALI

A.5.8 TOPOLOGI JARINGAN SUB-SISTEM BALI


162
Jaringan Sistem 500 kV Jawa-Bali
Jaringan Sistem 500 kV Jawa-Bali (Existing & Rencana Pengembangan)
(Existing & Rencana Pengembangan)

SLAYA MTWAR
P P

CLGON P BJNGR

KMBNG BKASI
Lampiran A.5.1

TJATI
Tenaga Listrik 2009-2018

BRAJA CWANG CBATU


Rencana Usaha Penyediaan

TJGJT

GNDUL
CIBNG
DEPOK
CRATA
GRSIK
CSKAN SGLNG MDCAN

UNGAR PWDDI
BDSLN
RCKEK PMLNG NGBNG
SBSLN
SBBRT
TASIK
GRATI
RWALO

PEDAN PITON
CLCAP KDIRI

Keterangan :
GITET 500 kV
KAPAL
Pembangkit 500 kV
Rencana GITET 500 kV

SUTET Existing 500 kV


Lokasi pembangkit Baru Non BBM (Program Percepatan 6.900 MW)

Lokasi pembangkit Baru Non BBM


PLTU Suralaya Ext PLTU Teluk Naga (Program Percepatan 6,900 MW)
1x 600 MW, 2010 3x 300 MW, 2011

PLTU Jabar Utara


SLAYA MTWAR 3x 300 MW, 2009

CLGON
PLTU Rembang
BJNGR
2x300 MW, 2009
KMBNG BKASI
PLTU Tj Awar-Awar
TJATI 3x300 MW, 2009
BRAJA CWANG CBATU
GNDUL

LBUAN
DEPOK CIBNG

CIRATA

MDCAN
GRSIK
CSKAN SGLNG

RCKEK
PWDDI
BDSLN

UNGAR NGBNG
PLTU Labuhan PLTU Paiton Baru
SBBRT
2x300 MW, 2009 SBSLN 1x600 MW, 2010
TASIK

GRATI

RWALO PITON
PEDAN
CLCAP KDIRI

PLTU Jabar Selatan


3x300 MW, 2011
PLTU Tj. Jati Baru
1x600 MW, 2011
Keterangan :
GITET 500 kV

Pembangkit 500 kV
PLTU Jatim Selatan
Rencana GITET 500 kV 2x300 MW, 2011
SUTET Existing 500 kV
Lampiran A.5.2
Tenaga Listrik 2009-2018
Rencana Usaha Penyediaan

163
164
LOKASI PEMBANGKIT BARU
LOKASI PEMBANGKIT BARU
PLTGU LNG BJNGR
Lampiran

PLTU TJATI A
3,000 MW
2x600 MW
PLTU Suralaya Ext PLTU Indramayu
A.5
LampiranA.5.3

1 x 625 MW 3x330 MW (2009) PLTU Tj Jati B


Tenaga Listrik 2009-2018

2x660 MW
Rencana Usaha Penyediaan

PLTGU Cepu PLTU Paiton 3-4


PLTU Indramayu PLTU Jateng 3,000 MW
PLTU Teluk Naga 800 MW
2x1,000 MW 2x1,000 MW
3 x315 MW
SLAYA
BJGRA
B JGRA Madura PLTU Bali Timur
U 2008 22006 PLTU Cirebon
GU 2x100 MW
GU U GU 1x600 MW 2 x 100 MW
CLGON BLRJA KMBNG
MRTWR
2006 CWANG GU PLTU Rembang
U CBATU 2x315 MW, 2009 PLTU Bali Utara
LKONG BKASI U TJATI.A/C
2015 2013
GNDUL U 3 x 130 MW
TJATI
PLTU Tanjung Awar-awar
A CRATA
CIBNG A T. Jati B SCPP 2011 2x350 MW
DEPOK U U
2006 SGLNG U U
U A PMLNG T.AWAR
PLTU Labuhan CSKAN BDSLN MDCAN 2013 2012 U
2x300 MW (2009) 2016
RCKEK GRSIK MADURA
2010 UNGAR
SBBRT G PLTU Paiton Baru
A 2012
TSMYA
NGBNG SBLTN 1x660 MW
RWALO 2007 2006/7
2011
PLTU Pelabuhan Ratu JAWA
3x350 MW G CLCAP PITON
U
GU
2011 GRATI U
Upper Cisokan PS PEDAN
KBAGUNG
4x250 MW 2014
HVDC U A
3,000 MW KDBRU
U NGORO 2015 GU
2015
Central Java Matenggeng PS BALI
KAPAL
1x600 MW 2015
4x400MW PLTU Jatim Selatan
1x1,000 MW 2x315 MW
Grindulu PS
4x250MW PLTU Pelang
2x1,000 MW

PLAN IPP on going PERCEPATAN PENANGG KRISIS


20,000 MW 3,000 MW 7430 MW 590 MW
TOPOLOGI JARINGAN REGION DKI & BANTEN

HVDC Ke Sumatra
SLAYA
P PENDO
SLIRA
MTSUI
PENI TELUK JAKARTA
CLGON LONTAR MTWAR
KKSTL P P P TGBRU P
CLBRU CNKNG MKRNG PRIOK
P P
PLTU SRANG
ANYER P JTAKE
TGRNG KSBRU
POLYP
ASAHI CKNDE CLDUG DUKSB CWANG
KMBNG BKASI JBEKA