Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MANAJEMEN FARMASI

STUDI KASUS PT. TRIA JAYA ABADI


PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF)

OLEH:
NI KETUT PUTRI AYU PURWANINGSIH (1408505008)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pedagang Besar Farmasi atau PBF merupakan perusahaan berbentuk badan
hukum yang memiliki ijin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat
dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai dengan peraturan perundang-
undangan (Menkes RI, 2011). Dalam menjalankan perusahaan, petunjuk teknis
dan standar prosedur operasional mengenai Pedagang Besar Farmasi telah diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 dan
telah dilakukan perubahan pada beberapa pasalnya yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang
Pedagang Besar Farmasi.
Pedagang Besar Farmasi dapat dikatakan sebagai distributor yang bergerak
dalam penyaluran barang yang berkaitan dengan kefarmasian (Menkes RI, 2011).
PBF sebagai tempat yang menyediakan dan menyimpan perbekalan farmasi yang
meliputi obat, bahan obat, dan alat kesehatan. Perbekalan farmasi didistribusikan
ke sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi : apotek, rumah sakit,
toko obat berizin dan sarana pelayanan kesehatan masyarakat lainnya. PBF wajib
membuat laporan dengan lengkap pada setiap proses pengadaan, penyimpanan,
penyaluran, perbekalan farmasi sehingga dapat di pertanggungjawabkan apabila
dilakukan pemeriksaan.
Setiap bahan obat dan/atau obat yang didistribusikan oleh PBF harus sesuai
dengan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB), sehingga untuk mencapai hal
tersebut diperlukan adanya suatu sistem manajemen untuk menjamin segala
proses operasionalnya dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan.
Manajemen berperan dalam memastikan proses produksi, distribusi, dan
penjualan berlangsung dengan baik sehingga mendatangkan hasil pekerjaan yang
produktif karena pengawasan berlangsung secara efektif, pekerjaan atau usaha
memiliki deskripsi yang jelas, proses operasional yang berjalan terstruktur dan
tepat sasaran serta sesuai dengan strategi yang direncanakan. Berdasarkan hal
tersebut maka permasalahan-permasalahan yang muncul saat atau setelah suatu

1
kegiatan dapat diminimalisir. Prinsip manajemen dapat dimanfaatkan dalam
mengatur dan mengintegrasikan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari
dan dalam berbagai perusahaan termasuk pada Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten
serta sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya
suatu sistem pengaturan atau manajemen secara terstruktur dalam mewujudkan
pelayanan yang berkualitas sesuai dengan CDOB.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimanan manajemen operasional PBF di PT. Tria Jaya Abadi?
1.2.2 Bagaimanan manajemen pembelian dan persediaan PBF di PT. Tria Jaya
Abadi?
1.2.3 Bagaimanan manajemen teknologi informasi PBF di PT. Tria Jaya Abadi?
1.2.4 Bagaimanan manajemen pemasaran PBF di PT. Tria Jaya Abadi?
1.2.5 Bagaimanan manajemen keuangan PBF di PT. Tria Jaya Abadi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui manajemen operasional PBF di PT. Tria Jaya Abadi.
1.3.2 Untuk mengetahui manajemen pembelian dan persediaan PBF di PT. Tria
Jaya Abadi.
1.3.3 Untuk mengetahui manajemen teknologi informasi PBF di PT. Tria Jaya
Abadi.
1.3.4 Untuk mengetahui manajemen pemasaran PBF di PT. Tria Jaya Abadi.
1.3.5 Untuk mengetahui manajemen keuangan PBF di PT. Tria Jaya Abadi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Operasional

2
Manajemen operasional diartikan sebagai suatu rangkaian aktivitas yang
menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi
output. Keberhasilan suatu manajemen operasional dapat didukung oleh beberapa
faktor yaitu mampu bersaing dalam diferensiasi (keunikan), bersaing dalam biaya,
serta bersaing dalam memberikan respon kepada konsumen (Heizer, 2011).
Keberhasilan suatu sistem manajemen operasional memerlukan satu atau lebih
input, mengubah dan menambah nilai input tersebut, sehingga dapat memberikan
satu atau lebih output bagi konsumen. Input terdiri atas sumber daya manusia
(tenaga kerja), modal (peralatan dan fasilitas), pembelian bahan baku dan jasa,
tanah, energi. Sedangkan outputnya adalah barang dan jasa (Hatani, 2008).
Manajemen operasional mencakup pengelolaan atau pelaksanaan semua faktor
produksi yang meliputi SDM atau tenaga kerja, sarana dan prasarana, serta
strategi pelaksanaan.
Manajemen operasional yang diterapkan di PT. Tria Jaya Abadi adalah
sebagai berikut:
1. Pemilihan lokasi PBF
Salah satu faktor penting dalam kelancaran jalannya suatu perusahaan
adalah pemilihan lokasi yang tepat untuk membangun gedung PBF. Lokasi yang
dipilih sedapat mungkin strategis, sehingga akan memudahkan dalam proses
distribusi produk. PT. Tria Jaya Abadi berlokasi di Jalan Raya Batu Tabih,
Klungkung. Lokasi ini sangat strategis, sehingga mampu menjangkau daerah
distribusi yang cukup luas khususnya untuk wilayah Bali Timur seperti Gianyar,
Bangli, Karangasem dan terutama Klungkung. Dalam menjalanka suatu
perusahaan
2. Struktur organisasi
Dalam menjalankan manajemen operasional dibutuhkan adanya struktur
organisasi dengan pembagian tugas yang jelas. Setiap individu dalam organisasi
harus menjalankan tugasnya dengan baik dan selalu berkoordinasi jika
menemukan suatu permasalahan. Struktur organisasi menggambarkan fungsi
dalam suatu organisasi yang mana setiap orang dibagi berdasarkan divisi dan
keahliannya masing-masing. Struktur organisasi di PT. Tria Jaya Abadi adalah
sebagai berikut :

3
Gambar 1. Struktur organisasi PBF di PT. Tria Jaya Abadi.

Berdasarkan struktur organisasi di atas Penanggung Jawab PBF (seorang


apoteker) mempunyai garis koordinasi dengan Branch Manager, sedangkan
Supervisor Logistik, Supervisor Administrasi, Supervisor Sales bertanggung
jawab langsung kepada Branch Manager bukan kepada Penanggung Jawab. Tugas
Penanggung Jawab di sini sebagai penanggung jawab terhadap segala hal-hal
eksternal misalnya: pembuatan laporan yang dikirim ke Dinas Kesehatan Propinsi
maupun Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. Apoteker adalah tenaga
kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan praktik
kefarmasian termasuk penyimpanan dan pendistribusian obat. Penangggung jawab
PBF bertanggung jawab mengawal sediaan farmasi dimana jaminan kemanan,
khasiat, dan mutu sediaan farmasi dituntut dari proses awal sampai akhir.
3. Denah bangunan
Bangunan kantor dan gudang Pedagang Besar Farmasi harus berlokasi
sesuai dengan peruntukannya. Bangunan untuk penyimpanan harus dapat
menjamin mutu dan keamanan obat dan bahan obat tersebut. Bangunan harus
cukup luas sesuai kebutuhan, tetap kering dan bersih, bebas dari barang-barang
yang tidak diperlukan. Bangunan harus memiliki sirkulasi udara yang baik dan
penerangan yang cukup untuk dapat melaksanakan kegiatan dengan aman dan
benar. Tersedia ruang terpisah dan terkunci untuk penyimpanan produk tertentu
(narkotika, psikotropika). Ruangan atau tempat yang digunakan untuk menyimpan

4
obat dan bahan obat yang memerlukan kondisi khusus perlu ditambahkan sarana
penunjang yang memadai (Dirjen Binfar, 2011). Pada ruang penyimpanan
disediakan area khusus untuk obat-obat yang bersifat radio aktif ataupun obat
yang memerlukan penanganan khusus. Bangunan memiliki beberapa ruang seperti
ruang kerja apoteker, gudang penyimpanan obat, ruang administrasi, ruang
tunggu, ruang penerimaan obat, ruang makan dan toilet. Selain itu bangunan
diusahakan memiliki ventilasi yang cukup, perlengkapan pemadam kebakaran,
pencahayaan yang cukup, serta sumber air dan sanitasi yang baik (BPOM, 2012).
4. Perizinan PBF
Perizinan PBF diperoleh dengan mengajukan permohonan kepada Direktur
Jendral, dengan tembusan kepada kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan kepala
BPOM yang ditandatangani oleh direktur PBF. Paling lama 6 hari sejak
diterimanya tembusan surat permohonan kemudian dilakukan verifikasi
kelengakapan administratif oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Kepala BPOM
bertugas dalam melakukan audit pemenuhan persyaratan CDOB. Apabila telah
memenuhi persyaratan CDOB maka hasil analisis akan direkomendasikan kepada
Direktur Jendral dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Direktur Jendral kemudian akan menerbitkan ijin PBF dengan tembusan ke
Kepala Badan, kepala dinas kesehatan provinsi, kepala dinas kabupaten/kota, dan
kepala BPOM (Kemenkes RI, 2014).
5. Sarana dan prasarana penunjang
Kelancaran operasional perusahaan khususnya PBF tidak terlepas dari
sarana dan prasarana pendukungnya. Sarana yang diperlukan meliputi rak untuk
membedakan penyimpanan sediaan obat solid, semisolid, maupun cair. Kulkas
untuk menyimpan sediaan yang harus disimpan di bawah suhu ruang. AC (air
conditioner) untuk pengaturan suhu gudang yang mana suhu gudang harus tetap
dijaga agar berada diantara 15-25oC sesuai dengan ketentuan dalam pedoman
CDOB. Keakuratan suhu sangat diperlukan dalam penyimpanan sediaan obat,
sehingga diperlukan pula termometer. Selain itu, dibutuhkan lemari khusus
dengan untuk menyimpan vaksin. Lemari khusus tersebut harus dilengkapi
dengan alat pengatur suhu sehingga vaksi tetap berada pada suhu rendah dan
stabil (Danar, 2013).

5
Sarana lainnya yang diperlukan adalah transportasi yang memadai untuk
proses distribusi barang. Agar dapat memenuhi target yaitu distribusi barang untuk
wilayah Bali Timur maka diperlukan jumlah sarana transportasi yang cukup.
Berdasarkan sifat dari produk yang didistribusikan maka pendistribusian produk
khususnya obat dan/atau bahan obat digunakan sarana transportasi yang
memenuhi syarat salah satunya berupa mobil box yang tertutup yang mana
mampu melindungi produk dari paparan cahaya matahari secara langsung serta
paparan udara secara terus-menerus yang menyebabkan produk dapat mengalami
kerusakan baik pada kemasan ataupun zat aktif yang ada di dalamnya.

2.2 Manajemen Pembelian dan Persediaan


Pembelian merupakan rangkaian proses pengadaan barang dalam suatu
perusahaan. Pengadaan meliputi kegiatan untuk menyediakan perbekalan sesuai
dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu
maupun tempat dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Persediaan meliputi segala macam barang yang menjadi objek pokok aktivitas
perusahaan yang tersedia untuk di olah dalam proses produksi atau di jual.
Persediaan adalah bagian utama dalam neraca dan seringkali merupakan perkiraan
yang nilainya cukup besar yang melibatkan modal kerja yang besar. Tanpa adanya
persediaan barang dagangan, perusahaan akan menghadapi resiko dimana pada
suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan dari para pelanggannya.
Sistem dalam PT. Tria Jaya Abadi terkait proses pembelian dan persediaan
obat di PBF harus memperhitungkan faktor-faktor sebagai berikut :
- Waktu pembelian yang tepat
Pembelian dilakukan sebelum barang habis total. Pembelian dapat dilakukan
apabila jumlah persediaan diawal tersisa 20%. Tanggal kadaluarsa obat
harus diperhatikan agar tidak menimbulkan kerugian apabila stok obat
tersebut masih banyak dalam tempat penyimpanan.
- Produsen yang tepat
Sebagai produsen hendaknya mampu menghasilkan sediaan farmasi yang
paling sering dicari oleh para konsumen. Maka dari itu, untuk
mempertahankan eksistensi dari perusahaan, dipilih suatu produsen yang
produktif dan menghasilkan produk unggulan yang banyak menarik minat
konsumen sehingga akan menguntungkan bagi perusahaan.
6
- Barang yang tepat
Perencanaan yang matang perlu dilakukan agar nantinya pembelian barang
sesuai dengan kebutuhan pelayanan di perusahaan. Pembelian produk obat
dari suatu industri farmasi perlu diutamakan pada pembelian obat yang lebih
diminati konsumen. Pembelian dengan jumlah yang tidak tetap, disesuaikan
dengan kebutuhan tergantung situasi dan kondisi. Pengawasan stok obat
atau barang melalui kartu stok sangat penting, dengan demikian dapat
diketahui persediaan yang telah habis dan yang kurang laku.

2.3 Manajemen Teknologi Informasi


Pengelolaan informasi baik untuk kebutuhan internal maupun eksternal di
PT. Tria Jaya Abadi diterapkan melalui sistem pelayanan dengan memanfaatkan
teknologi informasi berbasis komputer. Pemanfaatan teknologi informasi
menggunakan sistem yang baik merupakan solusi paling tepat dalam upaya
meningkatkan kualitas pelayanan, koordinasi, efisiensi, responsibilitas,
pengawasan serta penyediaan informasi secara cepat, tepat dan akurat.
Tersedianya fasilitas berupa komputer akan memudahkan PT. Tria Jaya Abadi
dalam proses administrasi yang meliputi pencatatan dan pelaporan terhadap
seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan sediaan farmasi, baik yang
diterima, disimpan, maupun didistribusikan. Adanya pencatatan dapat menjadi
bukti bahwa pengelolaan sediaan farmasi telah dilakukan, sebagai sumber data
untuk melakukan pengaturan dan pengendalian, serta sebagi sumber data untuk
pembuatan laporan. Namun setiap sistem memiliki suatu kelemahan, data dalam
komputer bisa saja mengalami masalah (error) baik disebabkan oleh operator atau
pengguna maupun sistem itu sendiri. Untuk mencegah kemungkinan buruk
tersebut dibutuhkan adanya network yang menghubungkan setiap perangkat
komputer di PT. Tria Jaya Abadi sehingga back up data tersedia di setiap
komputer.
Penerapan teknologi informasi di PT. Tria Jaya Abadi dalam pemasokan
barang dari produsen dan fasilitas kefarmasian dapat dilakukan dengan
menerapkan sistem pemesanan produk secara online baik ke produsen (industri)
atau ke fasilitas kefarmasian. Hal ini akan mempersingkat rantai pemasokan

7
karena memungkinkan pihak PBF mengetahui jumlah produk yang diperlukan
untuk dipasok dan didistribusikan tanpa harus langsung ke pihak produsen atau
konsumen. Melalui teknologi informasi pemantauan terhadap peredaran obat-obat
palsu dapat dilakukan. Sisstem akan membantu dalam memperjelas migrasi obat-
obat karena keluar masuknya produk akan terpantau dengan baik. Pemantauan
migrasi obat ini akan membantu dalam mengurangi peredaran obat-obat palsu.
Selain itu, dengan adanya sistem informasi yang terintegrasi maka lebih
memudahkan untuk promosi PBF secara online sehingga customer akan lebih
mengenal PT. Tria Jaya Abadi melalui promosi-promosi menarik seperti gratis
produk tertentu atau diskon sekian persen untuk pembelian barang dalam jumlah
besar.

2.4 Manajemen Pemasaran


Manajemen Pemasaran merupakan suatu analisis, perencanaan, penerapan,
dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan
maksud untuk mencapai tujuan tujuan dari perusahaan. Tipe pemasaran ada dua
yaitu pemasaran eksternal dan pemasaran internal. Pemasaran eksternal adalah
pemasaran yang dilakukan untuk orang-orang luar dapat dilakukan melalui
promosi yang dilakukan melalui media sosial atau dengan media cetak seperti
baliho, spanduk atau berupa poster yang dapat di pasang dipinggir jalan.
Sedangkan untuk pemasaran internal adalah pemasaran yang dilakukan untuk
ruang lingkup yang kecil atau intern.
Permasalahan yang terjadi dalam manajemen pemasaran dalam suatu
perusahaan PBF adalah banyaknya saingan atau kompetitor sehingga dibutuhkan
suatu strategi untuk menarik konsumen. PT. Tria Jaya Abadi akan memberikan
kelonggaran atau tenggang waktu pembayaran sejak barang didistribusikan,
namun tetap dalam jangka waktu yang wajar. Kepada konsumen yang telah
menjadi pelanggan tetap atau telah menjalin kerja sama yang baik dengan pihak
PBF selaku distributor, maka akan diberikan bonus produk secara gratis dengan
syarat dan ketentuan berlaku. Strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan
dilakukan melalui berbagai promosi seperti dengan cara memasang iklan,

8
menjalin kerjasama dengan pihak terkait, dan menerapkan berbagai promo
menarik. Pengiklanan sendiri tidak hanya dilakukan pada media cetak ataupun
media eletronik, namun bias dilakukan dengan bantuan internet untuk
mempermudah dalam proses publikasi. Selain itu, dibutuhkan pula sistem berbasis
online dalam bentuk e-catalog untuk pemesanan barang ke pihak PBF, sehingga
proses pemebelian sampai distribusi dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Terakhir adalah penerapan sistem konsinyasi atau menitipkan barang atau produk
ke retailer yang menjalin kerjasama dengan PT. Tria Jaya Abadi. Retailer hanya
perlu membayar sesuai dengan jumlah produk yang laku, sedangkan produk sisa
dapat dilakukan retur atau penukaran dengan produk lain. Melalui beberapa
strategi pemasaran tersebut diharapkan dapat menjadikan PBF ini sebagai
distributor pilihan bagi customer.
2.5 Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan merupakan suatu kegiatan perencanaan,
penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan
penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Fungsi
utama dari manajemen keuangan adalah merencanakan, mencari dan
memanfaatkan dana dengan berbagai cara untuk memaksimalkan daya guna
(efficiency) dari operasi-operasi perusahaan. Perencanaan keuangan dibutuhkan
untuk memenuhi berbagai tujuan perusahaan seperti meningkatkan investasi
dalam usaha, perubahan imbalan untuk para wirausaha, meningkatkan
kemampuan laba dalam usaha, dapat memberikan harapan terhadap pertumbuhan
usaha, dan meningkatkan efisiensi usaha.
Setiap manajemen membutuhkan perencanaan yang matang serta perlu
dipersiapkan tindakan antisipasi jika dalam pelaksanaannya tidak berjalan sesuai
rencana. Manajemen keuangan dimaksudkan untuk menyegarkan kondisi
keuangan perusahaan dengan mengontrol pemasukkan dan pengeluaran
perusahaan melalui penekanan perputaran biaya yang tidak perlu dan tetap
berorientasi pada keuntungan atau laba perusahaan sehingga harus benar-benar
dikontrol pengeluaran yang tidak perlu. Salah satu pengeluaran PBF meliputi
pengadaan produk PBF seperti pengadaan obat-obatan, alat-alat kesehatan,

9
fasilitas berupa sarana dan prasarana, biaya pendistribusian, serta kontribusi untuk
tenaga kerja (SDM).
Penerapan manajemen keuangan di PBF PT. Tria Jaya Abadi ini meliputi
beberapa aspek diantaranya planning, budgeting, controlling, auditing, dan
reporting. Aspek perencanaan (planning) meliputi Perencanaan Arus Kas dan
Rugi Laba. Perencanaan keuangan meliputi pemasukan baik dari dana sendiri
maupun dari investor, rencana pengeluaran, perhitungan rugi-laba selama proses
operasional sehingga dapat disusun strategi yang tepat kedepannya dalam
mengoperasikan perusahaan. Berkaitan dengan ketersediaan dana (budgeting)
maka perlu dilakukan penyususnan anggaran, sehingga akan membantu dalam
menyusun perencanaan penerimaan dan pengalokasian anggaran biaya sehingga
alokasi dana dapat dilakukan secara efisien (tepat sasaran) dan mampu
memaksimalkan dana yang dimiliki. Pengendalian (controlling) keuangan
dimaksudkan untuk menjamin bahwa alokasi dana telah sesuai atau tepat sasaran.
Kontrol dilakukan melalui evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem
keuangan perusahaan. Pemeriksaan (auditing) keuangan dilakukan sesuai dengan
kaidah standar akuntansi dan tidak terjadi penyimpangan. Audit dilakukan untuk
mengevaluasi keuangan perusahaan terutama tentang pemasukkan, pengeluaran,
dan laba-rugi, sehingga apabila terjadi penyimpangan pada keuangan dapat
ditemukan dan segera ditindak lanjuti. Aspek terakhir yaitu pelaporan (reporting)
keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban baik terhadap pelaksanaan
operasional dan pengalokasian dana selama proses operasional berlangsung.
Laporan keungan menyediakan informasi secara rinci tentang kondisi
keuangan perusahaan dan analisa rasio laporan keuangan yang dapat dijadikan
sebagai evaluasi apakah harus ada penekanan pada keuangan akibat kerugian atau
perluasan usaha atau penambahan pemasokan akibat diterimanya suatu laba
usaha. Beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam pebuatan suatu laporan
keuangan adalah aktiva (jumlah sumber daya yang dimiliki perusahaan),
kewajiban (meliputi transaksi dan peristiwa ekonomi yang mempengaruhi kinerja
perusahaan dalam satu periode waktu tertentu), dan ekuitas (jumlah modal yang
dimiliki oleh perusahaan). Melalui sistem manajemen keuangan tersebut,
diharapkan akan mampu memberi kontribusi positif dalam regulasi dana
perusahaan sehingga PBF dapat terus memperoleh laba.
10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Manajemen operasional PBF di PT Tria Jaya Abadi meliputi pemilihan
lokasi PBF, denah bangunan, perizinan PBF, sarana dan prasarana
penunjang, serta dan pembuatan struktur organisasi, dimana peran apoteker
di PBF sebagai penangggung jawab yang bertugas untuk mengawal sediaan
farmasi dimana jaminan kemanan, khasiat, dan mutu sediaan farmasi
dituntut dari proses awal sampai akhir.

11
3.1.2 Manajemen pembelian dan persediaan PBF di PT Tria Jaya Abadi dilakukan
dengan menerapkan sistem manajemen dengan mempertimbangan secara
matang waktu pembelian, pemilihan produsen yang tepat, dan pemilihan
barang yang tepat.
3.1.3 Manajemen teknologi informasi PBF di PT Tria Jaya Abadi dilakukan
dengan menerapkan sistem komputerisasi untuk pemcatatan seluruh
rangkaian kegiatan dalam pengelolaan sediaan farmasi, baik yang diterima,
disimpan, maupun didistribusikan. Teknologi informasi dengan
komputerisasi juga dimanfaatkan untuk membangun sistem pemesanan
seacara online, pemantauan peredaran obat palsu, dan promosi perusahaan
secara online.
3.1.4 Manajemen pemasaran PBF di PT Tria Jaya Abadi dilakukan dengan
memberikan tenggang waktu secara wajar kepada konsumen terhadap
pembayaran, bonus produk dengan syarat dan ketentuan berlaku, promosi
melalui pemasangan iklan mengenai perusahaan, sistem berbasis online
dalam bentuk e-catalog untuk pemesanan barang ke pihak PBF, serta
penerapan sistem konsinyasi.
3.1.5 Manajemen keuangan PBF di PT. Tria Jaya Abadi ini meliputi beberapa
aspek diantaranya planning, budgeting, controlling, auditing, dan reporting
diharapkan akan mampu memberi kontribusi positif dalam regulasi dana
perusahaan sehingga PBF dapat terus memperoleh laba.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2012. Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI. No. HK.03.1.34.11.12.7542 tahun 2012 tentang
Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik. Jakarta: Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Danar, Mutia Ghariza. 2013. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Pedagang
Besar Farmasi (PBF) Tramedifa Jl. Cipinang Muara I No. 23C, Pondok
Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur Periode 18 Februari 28 Maret 2013.
Laporan. Depok: Universitas Indonesia .

12
Dirjen Binfar RI. 2011. Pedoman Pembinaan Pedagang Besar Farmasi. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI.

Hatani, L.A., 2008. Buku Ajar Manajemen Operasional. Kendari: Bagian


Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo.

Heizer, J. dan B. Render. 2011. Operation Management. 10th Edition. Pearson


Prentice.

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia No.


1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Pedagang Besar Farmasi. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 34 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1148/Menkes/Per/Vi/2011 Tentang Pedagang
Besar Farmasi. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

13