Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Saat ini teknologi di dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas

bumi telah berkembang dengan pesat. Hal tersebut sangat diperlukan

mengingat harga minyak dan gas bumi yang semakin meningkat sehingga

perlu dilakukan eksplorasi terhadap sumur minyak baru maupun peningkatan

produksi terhadap sumur minyak yang telah ada sebelumnya.


Sebelum dilakukan pengeboran kita harus melakukan evaluasi formasi

untuk mengetahui karakteristik formasi batuan yang akan di bor. Berbagai

macam metode digunakan untuk mengetahui karakteristik formasi baik

melalui analisis batu inti, analisis cutting, maupun analisis data well logging.

Analisis well logging saat ini banyak digunakan karena biayanya yang relatif

lebih murah dan kualitas datanya yang akurat. Ada beberapa macam metode

untuk memperoleh data log yaitu salah satunya Logging While Drilling

(LWD) dan ada juga untuk Measurement While Drilling (MWD) yang

berperan penting untuk menghantarkan data hasil perhitungan alat-alat logging

(LWD). Untuk itu perlu dilakukan pembahasan mengenai Logging While

Drilling (LWD) dan Measurement While Drilling (MWD). Adapun tujuan

dalam pembuatan makalah ini yaitu untuk menjelaskan pengertian Logging

While Drilling (LWD. Untuk menjelaskan perhitungan dalam teknologi LWD.

Utuk menjelaskan keunggulan dan kelemahan LWD. Untuk menjelaskan

pengertian dan cara kerja Measurement While Drilling (MWD). Dan

memberikan penjelasan lengkap tentang sistem telemetri di dalam pemboran.

1
2

BAB II

TEORI DASAR

2.1 Logging While Drilling (LWD)


2.1.1 Pengertian Logging While Drilling
Logging while drilling (LWD) merupakan suatu metode pengambilan data

log dimana logging dilakukan bersamaan dengan pemboran (Harsono,1997).

Hal ini dikarenakan alat logging tersebut ditempatkan di dalam drill collar.

Pada LWD, pengukuran dilakukan secara real time oleh measurement while

drilling (Harsono,1997).

Alat LWD terdiri dari tiga bagian yaitu: sensor logging bawah lubang bor,

sebuah sistem transmisi data, dan sebuah penghubung permukaan. Sensor

logging ditempatkan di belakang drill bit, tepatnya pada drill collars (lengan

yang berfungsi memperkuat drill string) dan aktif selama pemboran dilakukan

(Bateman,1985). Sinyal kemudian dikirim ke permukaan dalam format digital

melalui pulse telemetry melewati lumpur pemboran dan kemudian ditangkap

oleh receiver yang ada di permukaan (Harsono,1997). Sinyal tersebut lalu

dikonversi dan log tetap bergerak dengan pelan selama proses pemboran.

Logging berlangsung sangat lama sesudah pemboran dari beberapa menit

hingga beberapa jam tergantung pada kecepatan pemboran dan jarak antara

bit dengan sensor di bawah lubang bor (Harsono,1997).

Layanan yang saat ini disediakan oleh perusahaan penyedia jasa LWD

meliputi gamma ray, resistivity, densitas, neutron, survei lanjutan (misalnya

sonik). Tipe log tersebut sama (tapi tidak identik) dengan log sejenis yang
3

digunakan pada wireline logging. Secara umum, log LWD dapat digunakan

sama baiknya dengan log wireline logging dan dapat diinterpretasikan dengan

cara yang sama pula (Darling,2005). Meskipun demikian, karakteristik

pembacaan dan kualitas data kedua log tersebut sedikit berbeda.

Gambar Konsep LWD

2.1.2 Perhitungan yang Disediakan LWD


Teknologi LWD sebenarnya dikembangkan secara sebagian atau

keseluruhan untuk menggantikan wireline logging sehingga umumnya

perhitungan yang tersedia pada LWD sama dengan wireline logging.

Beberapa perhitungan hanya didapatkan pada LWD, berikut adalah daftar dari

perhitungan yang tersedia pada teknologi LWD :


Natural Gamma Ray (GR)
Total Gamma Ray
Spectral Gamma Ray
Azimuthal Gamma Ray
Gamma ray close to drill bit.
Density and Photoelectric Index
Neutron Porosity
Borehole Caliper
4

Ultra sonic azimuthal caliper.


Density Caliper
Resistivity (ohm-m)
Attenuation and phase shift resistivities at different transmitter

spacings and frequencies.


Resistivity at the drill bit.
Deep directional resistivities
Sonic
Compressional Slowness(tc)
Shear Slowness (ts)
Borehole Images
Density Borehole Image
Resistivity Borehole Image
Formation Tester and Sampler
Formation Pressure
Formation Fluid Sample
Nuclear Magnetic Resonance (NMR)
Seismic While Drilling (SWD)
Drillbit-SWD
VSP-WD (Vertical Seismic Profile While Drilling)

Peralatan LWD

Electromagnetic-wave resistivity (EWR)


resistansi gelombang elektromagnetik atau Electromagnetic-wave resistivity

(EWR) telah menjadi Alat standar logging while drilling (LWD).

Sistem pengukuran resistivitas


Tujuan utama dari sistem pengukuran resistivitas adalah untuk mendapatkan

nilai true resistivity formation (Rt) dan untuk mengukur kedalaman invasi

filtrat cairan pemboran ke dalam formasi. Parameter kritis dalam pengukuran

sedangkan pengukuran pengeboran (MWD) adalah waktu pemaparan formasi

atau formation exposure time (FET), perbedaan waktu antara kondisi kritis

dan sensor penguat yang mengukur formasi. Sistem MWD memiliki

keuntungan dalam mengukur Rt setelah FET yang relatif pendek, biasanya 30

sampai 300 menit. Interpretasi kesulitan terkadang dapat disebabkan oleh


5

variabel FET, dan log harus selalu mengandung setidaknya satu kurva

paparan formasi. Demikian pula, kerapatan data LWD bergantung pada

tingkat penetrasi (ROP). log berkualitas baik biasanya memiliki tanda

"centang" di setiap lintasan untuk memberi indikasi variasi kerapatan dengan

memperhatikan kedalaman. Sistem resistivitas awal menekankan perbedaan

antara kurva fase dan atenuasi, dan menyarankan bahwa kurva satunya adalah

kurva "dalam" (radius penyelidikannya) dan kurva lain adalah "medium".

Kesulitan dengan interpretasi ini dalam praktik menghasilkan pengembangan

perangkat yang menghasilkan perbedaan penyelidikan kedalaman dari jarak

tambahan. Identifikasi dan penyajian profil invasi, terutama pada lubang

horisontal, dapat menyebabkan pemahaman mekanisme reservoir yang lebih

besar. Banyak aplikasi di mana log LWD telah menggantikan log wireline

yang terjadi di sumur dengan sudut deviasi tinggi. Tren ini mengarah pada

penekanan pada LWD untuk beberapa masalah interpretasi spesialis tertentu.


LWD Induction tools
Untuk memperluas pemasaran resistivitas LWD ke lingkungan oil-base mud

(OBM), pengukuran propagasi tipe induksi diperkenalkan pada awal tahun

1980an. Perangkat komersial pertama adalah alat resistivitas gelombang

elektromagnetik (EWR) dari NL Information Services (kemudian

digabungkan dengan Sperry-Sun). Tak lama setelah ini, Schlumberger

memperkenalkan alat resistivitas ganda atau Compensated Dual Resistivity

(CDR). Semua alat propagasi LWD dijalankan dengan alat sinar gamma

untuk estimasi litologi dan korelasi. Data log ditransmisikan secara

bersamaan dengan menggunakan mud pulse telemetry. Memori downhole dan


6

baterai memungkinkan data mentah dan olahan disimpan untuk pengambilan

nanti.
Karena CDR adalah alat sederhana yang mengukur atenuasi dan pergeseran

fasa, ini digunakan untuk mendemonstrasikan konsep dasar dari pengukuran

propagasi. Pengukuran induksi konvensional dilakukan dengan susunan koil

pemancar dan penerima yang seimbang dari operasi yang beroperasi pada

rentang frekuensi kilohertz dan pengukuran elektronik. Karena sulit untuk

merancang jenis pengukuran ini pada drill colar berbahan baja dengan

menggunakan teknologi pada awal tahun 1980an, pengukuran propagasi

frekuensi yang lebih tinggi dianggap lebih praktis untuk LWD. Frekuensi 2

MHz dipilih karena merupakan frekuensi terendah dimana pengukuran

propagasi akurat dapat dilakukan pada drill colar pada saat itu.

Logging Akustik

Pengukuran caliper ultrasonik saat pengeboran dilakukan terutama untuk

memperbaiki pengukuran neutron dan densitas. Caliper transduser terdiri dari

dua atau lebih tumpukan kristal piezoelektrik yang ditempatkan di dinding

drill colar. Transduser ini menghasilkan sinyal akustik frekuensi tinggi, yang

tercermin dari permukaan di dekatnya (idealnya, dinding bor). Kualitas

refleksi ditentukan oleh ketidakcocokan impedansi akustik antara sinyal asli

dan sinyal yang dipantulkan. Seringkali, terdapat kesulitan dalam

mendapatkan pengukuran caliper di sumur dengan berat cairan pengeboran

tinggi. Dibandingkan dengan wireline mechanical caliper, caliper ultrasonik

menyediakan pembacaan dengan resolusi yang jauh lebih tinggi. Acoustic

velocity data penting untuk berbagai litologi untuk korelasi dengan informasi
7

seismic. Data tersebut berguna untuk indicator porositas di area tertentu.

Shear-wave velocity dapat diukur dan digunakan untuk menghitung property

mekanikal batuan.
NMR LWD
Nuclear magnetic resonance (NMR) telah lama diterapkan di laboratorium,

dan selama beberapa dekade terakhir, alat NMR downhole telah

dikembangkan. Logging NMR adalah logging whle driling (LWD). NMR-

LWD menawarkan alternatif nonradioaktif untuk pengukuran porositas,

alternatif NMR untuk wireline di sumur berisiko tinggi dan biaya tinggi, dan

memungkinkan analisis fluida resolusi tinggi di thin-beds dan reservoir

berlapis. Alat logging yang beroperasi di lingkungan pengeboran dirancang

untuk dapat melakukan pengukuran disaat posisi drill string statis, sliding,

berotasi, ditengah (terpusat) satau tidak terpusat. Pengukuran alat LWD

bersifat omnidirectional atau azimut, tergantung pada perancangan alat.

Penggabungan magnetometer memungkinkan binning data ke dalam sektor

azimuthal. Pengukuran omnidirectional dapat dihasilkan dari data azimuthal,

namun tidak sebaliknya. Meskipun servis LWD-NMR saat ini hanya

menyediakan data omnidirectional, paten telah dikeluarkan untuk alat dengan

kemampuan azimuthal.

2.1.3 Keunggulan dan Kelemahan LWD


A. Keunggulan LWD
Menurut Darling (2005), alat LWD mempunyai sejumlah keunggulan

yaitu:
Data yang didapat berupa real-time information
8

Informasi tersebut dibutuhkan untuk membuat keputusan penting

selama pemboran dilakukan seperti menentukan arah dari mata bor

atau mengatur casing.


Informasi yang didapat tersimpan lebih aman
Hal ini karena informasi tersebut disimpan di dalam sebuah memori

khusus yang tetap dapat tetap diakses walaupun terjadi gangguan pada

sumur.
Dapat digunakan untuk melintas lintasan yang sulit
LWD tidak menggunakan kabel sehingga dapat digunakan untuk

menempuh lintasan yang sulit dijangkau oleh wireline logging seperti

pada sumur horizontal atau sumur bercabang banyak (high deviated

well).
Menyediakan data awal apabila terjadi hole washing-out atau invasi
Data LWD dapat disimpan dengan menggunakan memori yang ada

pada alat dan baru dilepas ketika telah sampai ke permukaan atau

ditransmisikan sebagai pulsa pada mud column secara real-time pada

saat pemboran berlangsung (Harsono,1997).


Memiliki kapabilitas di formasi yang keras
Dapat melakukan logging pada banyak arah

B. Kelemahan LWD
Darling (2005) menyebutkan sejumlah kelemahan dari LWD yang

membuat penggunaannya menjadi terbatas yaitu :


Mode pemboran: Data hanya bisa ditransmisikan apabila ada lumpur

yang dipompa melewati drillstring.


Daya tahan baterai: tergantung pada alat yang digunakan pada string,

biasanya hanya dapat bekerja antara 40-90 jam


Ukuran memori: Sebagian besar LWD mempunyai ukuran memori

yang terbatas hingga beberapa megabit. Apabila memorinya penuh

maka data akan mulai direkam di atas data yang sudah ada
9

sebelumnya. Berdasarkan sejumlah parameter yang direkam, memori

tersebut penuh antara 20-120 jam


Kesalahan alat: Hal ini bisa menyebabkan data tidak dapat direkam

atau data tidak dapat ditransmisikan.


Kecepatan data: Data ditransmisikan tanpa kabel, hal ini membuat

kecepatannya menjadi sangat lambat yaitu berkisar antara 0,5-12 bit/s

jauh dibawah wireline logging yang bisa mencapai 3 Mb/s.

Gambar skematik dari alat string LWD dengan beberapa sensor

2.2 Measurement While Drilling (MWD)


10

MWD adalah proses mengambil data beberapa parameter fisik sumur

sembari membor sumur dan secara real-time. Meskipun terdapat banyak jenis

pengukuran yang dilakukan saat pengeboran, istilah MWD mengacu pada

pengukuran yang dilakukan dengan alat elektromekanik yang terletak di unit

lubang bawah (BHA).


Data-data yang dapat diperoleh adalah :
1. Properti formasi: resistivity, porosity & density (ini disebut juga LWD:

Logging-While-Drilling).
2. Survey trayektori lubang sumur: inklinasi, azimut & "tool-face".
3. Data "drilling mechanics": "weight-on-bit" & "torque-on-bit".

Semua sistem MWD biasanya memiliki tiga subkomponen utama:


1. Sistem tenaga
2. Sistem telemetri
3. Sensor directional/ berarah

Seperangkat sensor/transmitter/receiver yg dipasang pada MWD tools (di

atas drill bit) akan mengukur temperatur, pressure, inklinasi, dan sebagainya.

Data tersebut lalu dikirim ke permukaan yang umumnya memakai prinsip

mud-pulse telemetry (mengirim sinyal analog lewat kolom lumpur di dalam

lubang sumur). Data tersebut juga disimpan dalam memory di dalam tool utk

diretrieve nanti di permukaan. Di permukaan, ada seperangkat

sensor/transduser yg akan menangkap mud-pulse tersebut lalu oleh komputer

dikonversi menjadi data digital, dikirim ke komputer lain untuk diolah,

direcord dan ditampilkan untuk interpretasi. Meski demikian, metode telemetri

mengalami kesulitan dalam menerima data downhole dalam jumlah besar,

sehingga definisi/penentuan MWD diperluas untuk memasukkan data yang

tersimpan dalam memori alat dan akan direcover saat alat dikembalikan ke

permukaan Cara telemetry lainnya adalah memakai kabel wireline.


11

Kelebihan utama MWD adalah operator dapat mengetahui berbagai

properti sumur dan formasi secara real-time pada saat drilling.

Gambar MWD Tools


12

Figure. New Generation of MWD Tools, Measurements at the Bit

2.2.1 Sistem Telemetri dalam Pengeboran


Sistem telemetri adalah sistem penyampaian informasi jarak jauh melalui

media dan sumber telemetri yang berbeda-beda. Sistem ini adalah sistem

terbaik yang bisa digunakan untuk menyampaikan informasi dari dalam

sumur bor ke komputer yang berada di permukaan. Mud-pulse telemetry

merupakan metode standar dalam MWD komersial dan sistem LWD. Sistem

akustik yang mentransmisikan drillpipe mengalami atenuasi kira-kira 150 dB

per 1000 m dalam cairan pengeboran. Beberapa upaya telah dilakukan untuk

membangun drillpipe khusus dengan hardwire integral. Meskipun

menawarkan tarif data yang sangat tinggi, metode telemetri hardwire integral

memerlukan:
1. Drill pipe khusus yang mahal
2. Penanganan spesial
13

3. Ratusan sambungan listrik yang semuanya harus tetap dapat

diandalkan dalam kondisi yang tidak ramah lingkungan (harsh)

Transmisi elektromagnetik berfrekuensi rendah digunakan dalam sistem

MWD dan LWD secara terbatas. Kadang kala digunakan saat udara atau busa

digunakan sebagai fluida pengeboran. Kedalaman dari telemetri

elektromagnetik yang dapat ditransmisikan dibatasi oleh konduktivitas dan

ketebalan formasi di atasnya. Repeater atau penguat sinyal yang diposisikan

dalam drillstring dapat memperpanjang kedalaman dari mana sistem

elektromagnetik dapat mentransmisikan dengan baik.

Perhitungan di dalam sumur bor dapat terkirim ke permukaan secara

langsung melalui suatu sistem yang disebut telemetri. Alat Measurement

While Drilling (MWD) yang ada di dalam sumur berperan penting untuk

menghantarkan data hasil perhitungan alat-alat logging (LWD) agar bisa

diterima dan diproses di komputer di permukaan.

Alat MWD mengirimkan data ke permukaan dengan membuat pulsa

tekanan terhadap lumpur bor yang ada di dalam pipa bor. Selanjutnya suatu

sensor pulsa tekanan yang ditempatkan di pangkal pipa bor di permukaan

sumur akan menerima pulsa tersebut dan merubah wujud energi dari tekanan

menjadi energi listrik untuk dikirimkan selanjutnya ke komputer di unit

logging yang kemudian dapat diterjemahkan ke dalam binari digital yang

sesuai dengan kode-kode binari yang telah diprogram sebelumnya, bisa

diterjemahkan ke dalam suatu data dalam bentuk bermacam-macam seperti

kurva (log), numerik, dan gambar (image).


14

Setiap tipe alat MWD memiliki tipe sensor penerima pulsa tekanan yang

berbeda, bergantung dari jenis pulsa yang dikirimkan. Pulsa ini bisa berupa

pulsa negatif, pulsa positif dan pulsa berkesinambungan. Sistem ini bisa lebih

dipelajari lebih detil melalui fisika getaran dan gelombang. Begitu pula

dengan media yang digunakan untuk menghantarkan pulsa tekanan tersebut

(lumpur bor) juga bisa dipelajari lebih detil melalui termodinamika, dinamika

fluida dan fisika bumi, yaitu tentang karakterisasi lumpur dan lingkungan

pengeboran (berat jenis, viskositas, yield point, suhu, dan lain-lain).

Alat MWD bisa menghasilkan pulsa tekanan dengan adanya berputar dan

berhentinya suatu alat turbin modulasi sesuai dengan program yang telah

dilakukan oleh operator saat alat MWD ada dipermukan. Perputaran turbin

modulasi ini menghasilkan bentuk pulsa tekanan tertentu pada lumpur bor

dan karena sifat fisis gelombang maka pulsa ini akan berjalar sampai energi

berubah menjadi bentuk energi lainnya. Hal ini juga berpengaruh pada kuat

atau lemahnya sinyal MWD yang diterima oleh sensor pulsa tekanan di

permukaan. Karena faktor media penjalaran gelombang yang dihasilkan

MWD akan sangat berpengaruh pada hasil yang diterima oleh sensor di

permukaan, disamping itu faktor-faktor lain yang menentukan kuatnya sinyal

MWD antara lain kedalaman pengeboran, jenis turbin modulasi, kuatnya

aliran lumpur, tekanan lumpur di permukaan, dan gangguan (noise) di media

penjalaran yang bisa berasal dari motor bor, kabel listrik, gangguann piston

pompa.
Tipe lain dari sistem telemetri adalah pemakaian gelombang

elektromagnetik. Prinsip kerja sistem ini tentu sama saja dengan prinsip kerja
15

pulsa tekanan, tapi tentu peralatan yang dipakai berbeda, dan sistem kerjanya

juga sedikit berbeda. Faktor yang berpengaruh juga berbeda, misalnya

seberapa jauh gelombang ini bisa menjalar pada media yang ada di bawah

permukaan, apa saja yang bisa mengurangi besarnya energi gelombang

elektromagnetik saat menjalar melalui media tertentu, dan sebagainya. Sistem

telemetri lain yang kita kenal misalnya adalah gelombang radio, ini hampir

belum pernah dipakai pada alat MWD karena karakter fisis gelombang radio

yang tidak memungkinkan untuk dipakai sebagai sarana telemetri untuk

menghantarkan data-data hasil perhitungan di dalam sumur bor.


Deteksi sinyal telemetri dilakukan oleh satu atau lebih transduser yang

terletak pada rig stand-pipe. Data diekstrak atau diambil dari sinyal oleh

peralatan komputer di permukaan yang ditempatkan baik di unit selip (skid

unit) atau di lantai bor. Penguraian data yang berhasil sangat bergantung pada

rasio signal-to-noise. terdapat korelasi erat antara ukuran sinyal dan

kecepatan data telemetri; semakin tinggi kecepatan data, semakin kecil

ukuran pulsanya. Sebagian besar sistem modern memiliki kemampuan untuk

memprogram ulang parameter telemetri alat dan memperlambat kecepatan

transmisi data tanpa tripping out (mencabut) dari lubang; Namun,

memperlambat laju data berdampak buruk pada kepadatan data log.


Sumber signal-noise paling banyak berasal dari pompa lumpur yang

sering menghasilkan noise dengan frekuensi tinggi. Interferensi di antara

frekuensi pompa menyebabkan suatu harmonisa suara, namun suara latar

belakang ini dapat disaring dengan teknik analog. Sensor kecepatan pompa

bisa menjadi metode yang sangat efektif untuk mengidentifikasi dan


16

menghilangkan suara pompa dari data mentah sinyal telemetri. frekuensi

rendah dalam volume lumpur sering dihasilkan oleh motor pengeboran.

Kedalaman dan jenis lumpur juga mempengaruhi amplitudo dan lebar sinyal

yang diterima. Secara umum, lumpur berbasis minyak (OBM) dan lumpur

berbasis pseudo-oil lebih kompresibel daripada lumpur berbasis air. Oleh

karena itu, mereka menyebabkan kerugian sinyal terbesar. Namun demikian,

sinyal telah diambil tanpa masalah yang signifikan dari kedalaman hampir

9144 m (30.000 kaki) dalam cairan yang dapat dikompres.

Sistem tenaga pada peralatan MWD


Sistem tenaga di MWD umumnya dapat diklasifikasikan sebagai salah

satu dari dua jenis: baterai atau turbin. Kedua jenis sistem tenaga

memiliki kelebihan dan kewajiban yang melekat dan berkaitan. Dalam

banyak sistem MWD, kombinasi dari kedua jenis sistem tenaga ini

digunakan untuk memberi tenaga pada alat MWD sehingga daya tidak

terganggu saat kondisi aliran fluida pengeboran intermitent atau secara

berkala. Baterai dapat memberikan daya ini terpisah dari sirkulasi fluida

pemboran, dan diperlukan saat logging berlangsung, saat tripping

(berjalan) masuk atau keluar dari lubang.

Sistem baterai
Baterai lithium-thionyl chloride biasa digunakan pada sistem MWD

karena merupakan kombinasi yang sangat baik dari kepadatan energi

tinggi dan kinerja superior pada suhu saat MWD sedang bekerja. Baterai

tersebut menyediakan sumber tegangan stabil sampai mendekati akhir

masa pakainya, dan tidak memerlukan peralatan elektronik yang rumit


17

untuk memenuhi pasokan. Baterai ini, bagaimanapun, telah membatasi

output energi seketika, dan mungkin tidak sesuai untuk aplikasi yang

membutuhkan pengosongan arus tinggi. Meskipun baterai ini aman pada

suhu yang lebih rendah, jika dipanaskan di atas 180 C, baterai ini dapat

mengalami reaksi yang cepat, dan cepat meledak dengan kekuatan yang

signifikan. Akibatnya, ada pembatasan pengiriman baterai lithium-

thionyl chloride di pesawat penumpang. Meskipun baterai ini sangat

efisien selama masa servisnya, baterai ini tidak dapat diisi ulang, dan

pembuangannya telah diatur sesuai dengan peraturan lingkungan yang

ketat.

Sistem Turbin

Sumber pembangkit tenaga kedua yang melimpah, tenaga turbin,

menggunakan aliran fluida pengeboran yang berada di rig. Gaya rotasi

ditransmisikan oleh rotor turbin ke alternator melalui poros (shaft)

umum, menghasilkan arus bolak-balik tiga fasa (AC) dari frekuensi

variabel. Sirkuit elektronik memperbaiki AC menjadi arus searah yang

dapat digunakan (DC). Rotor turbin untuk peralatan ini harus dapat

menerima berbagai macam laju alir untuk menerima semua kondisi

pemompaan lumpur yang mungkin terjadi. Demikian pula, rotor harus

mampu menoleransi puing-puing dan bahan sirkulasi yang hilang atau

lost circulation material (LCM) yang masuk dalam cairan pengeboran.

Sensor berarah
18

Meskipun dalam keadaan normal, sensor directional memberikan survei yang

dapat diterima, pada pengaplikasiannya terdapat ketidakpastian di bottomhole

dapat merepotkan. Namun terdapat tren terbaru untuk mengebor sumur yang

lebih lama dan lebih kompleks dengan cara memusatkan perhatian pada

kebutuhan akan model kesalahan standar. Sumber kesalahan utama

diklasifikasikan menjadi:
1. Kesalahan sensor
2. Interferensi magnetic dari BHA (bottom Hole Assembly)
3. Tool misalignment
4. Ketidakpastian medan magnet
Seiring dengan ketidakpastian dalam kedalaman yang diukur,

ketidakpastian survei bottomhole merupakan salah satu penyumbang

kesalahan dalam kedalaman absolut. Perhatikan bahwa semua metode

koreksi azimuth real-time memerlukan data mentah untuk dikirim ke

permukaan, yang memaksakan beban pada saluran telemetri.

Ketahanan alat
Sebagian besar alat MWD dapat beroperasi terus menerus pada

suhu sampai 150 C, dengan beberapa sensor tersedia dengan rating

hingga 175 C. Temperatur alat MWD dapat 20 C lebih rendah daripada

suhu formasi yang diukur dengan log wireline, karena efek pendinginan

sirkulasi lumpur, sehingga suhu tertinggi yang ditemui oleh alat MWD

adalah yang diukur saat berlari ke dalam lubang di mana volume cairan

pengeboran belum beredar untuk waktu yang lama. Dalam kasus tersebut,

disarankan untuk memutus sirkulasi secara berkala saat berlari di lubang.

Menggunakan labu Dewar untuk melindungi sensor dan elektronika dari


19

suhu tinggi biasa terjadi pada wireline, di mana waktu pemaparan

downhole biasanya singkat, namun dengan menggunakan termos untuk

perlindungan suhu tidak praktis di MWD karena waktu pemaparan yang

lama pada suhu tinggi yang harus dialami.


Tekanan di downhole area tidak terlalu berpengaruh pada sistem

MWD. Sebagian besar alat dirancang untuk dapat menahan tekanan

hingga 20.000 psi, dengan alat khusus, diberi nilai 25.000 psi. Kombinasi

dari tekanan hidrostatik dan sistem backpressure jarang mendekati batas

ini.
Kelebihan MWD
Dapat mengetahui temperature di bawah permukaan
Dapat mengetahui volume aliran lumpur
Dapat menghitung inklinasi dan azimuth dengan tepat (setiap 30 feet

sampai 500 feet)


Type and severity of any vibration downhole
Dapat mengetahui tipe &tingkat kekerasan formasi dari getaran yang

terdeteksi
20

BAB III
PEMBAHASAN
Salah satu permasalahan yang umum dijumpai dalam kegiatan pemboran adalah

lemahnya analisa formasi dan lemahnya pengetahuan untuk mengetahui kondisi-

kondisi yang tidak terduga di bawah permukaan bumi. Hal ini menyebabkan

berbagai efek negative selama kegiatan pemboran dan tentunya dapat

menyebabkan kegiatan pemboran terhambat. Salah satu efek negative yang dapat

terjadi ialah pipa terjepit dan kesalahan penentuan titik pemboran. Permasalahan

pipa terjepit ini senantiasa dapat diminimalisir apabila kondisi formasi batuan

sudah dianalisa dengan baik selama kegiatan pemboran. Salah satu perkembangan

teknologi yang berkaitan dengan penilaian formasi adalah Logging While

Drilling. Logging While Drilling merupakan analisa formasi batuan yang

dilaksanakan selama kegiatan pemboran berlangsung. Pada dasarnya metode

LWD ini relative mirip dengan metode Wireline Logging yang mana memberikan

hasil berupa data log dengan proses penganalisaan yang sama dengan data log.

Parameter utama yang terukur melalui teknologi ini adalah karakteristik-

karakteristik dari formasi batuan meliputi densitas batuan, tingkat porositas

batuan, resistivitas batuan, serta tekanan formasi. Terdapat beberapa aspek yang

membedakan antara LWD dan Wireline Logging aspek utamanya ialah

pengukuran parameter yang dilakukan untuk LWD bersifat Real Time yaitu

pengukuran dilakukan secara langsung pada saat proses pemboran dan untuk

wireline logging pengukuran dilakukan setelah pemboran. Untuk LWD tentunya

dapat digunakan untuk mengukur pada formasi- formasi yang relative sulit

sekalipun hal ini dikarenakan pengukuran yang dilakukan tidak menggunakan


21

kabel melainkan melalui lumpur pemboran sebagai media penghantar informasi.

Di sisi lain proses penghantaran informasi dari LWD cenderung lebih lambat

dibandingkan Wireline Logging. Salah satu yang mendasari hal ini adalah adalah

karena wireline logging menggunakan kabel sebagai media penghantar informasi.

Salah satu pengaplikasian metode ini dalam kegiatan pemboran ialah kita dapat

mengetahui kondisi- kondisi tekanan formasi yang mengalami perubahan secara

signifikan. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa proses penembusan telah

mencapai zona- zona yang relative menengah sehingga dapat memicu terjadinya

fenomena kick atau blow out. Tentunya hal tersebut sangat bersifat baik dan

positif, terlebih fenomena blow out dapat menyebabkan kerugian yang begitu

besar. Selain itu pemanfaatan metode ini dapat digunakan untuk mengetahui

kondisi formasi batuan terutama jenis batuan. Apabila kita menjumpai jenis

batuan shale dalam formasi batuan, terutama ialah jenis shale yang cenderung

dapat mengembang ketika berinteraksi dengan air tentu kita dapat

menanggulanginya sehingga pengembangan clay tersebut dapat diminimalisir dan

fenomena pipa terjepit dapat di hindarkan. Keuntungan lainnya dari peralatan

LWD ini yaitu proses penyimpanan data yang direkam oleh alat terdapat pada

bagian memori yang disimpan pada bagian bawah peralatan. Sehingga saat

kegiatan pemboran berhenti, data- data mengenai parameter yang telah diukur

tidak akan hilang. Namun di sisi lainnya ini menjadi kerugian dari peralatan LWD

karena system penggunaan baterai yang digunakan pada rangkaian peralatan.

Untuk waktu ketahanan baterai relative bervariasi namun umumnya daya tahan

baterai dapat berlangsung hingga 90 jam. Oleh karena itu terdapat beberapa
22

keunggulan maupun kerugian yang bisa menjadi aspek pertimbangan untuk dapat

memilih metode penganalisaan formasi baik itu Logging While Drilling maupun

Wireline Logging dan tentunya semuanya kembali terhadap tingkat keekonomian

yang dipertimbangkan dari proses pemboran tersebut.

Konteks metode berikutnya adalah Measurement While Drilling, dimana

measurement while drilling ini senantiasa memiliki metodologi pengukuran yang

relative sama dengan logging while drilling. Namun pada dasarnya parameter

terukur dari metode measurement while drilling ialah mengenai sudut inklinasi

dan azimuth. Sudut inklinasi merupakan tingkat kemiringan dari kegiatan

pemboran terhadap sumbu tegak. Sedangkan azimuth merupakan arah direktori

terhadap mata angin pada kegiatan pemboran umumnya dinytakan dalam north

( utara ) dan south ( selatan ). Selain itu parameter yang terukur melalui metode

MWD ini meliputi weight on bit atau beban pada bit serta Torque on Bit yaitu

torsi yang diberikan pada bit. Salah satu keunggulan metode pengukuran pada

MWD ini adalah pengukuran yang dilakukan secara real time. Pengaplikasian

metode ini dalam kegiatan pemboran adalah untuk meminimalisir kesalahan

pemboran yang dilakukan terutama terhadap target yang telah ditentukan pada

penyusunan program. Penentuan sudut inklinasi ini senantiasa bermanfaat untuk

pemasangan casing pemboran dimana terdapat range tertentu yang senantiasa

dapat menyebabkan casing pemboran tidak dapat dipasang karena tingkat

kemiringan sudut yang terlalu tinggi. Fenomena ini dikenal dengan Dogleg

Severity. Metode penghantaran informasi yang dilakukan melalui komponen

peralatan MWD ini terbagi kedalam dua jenis meliputi Mud Pulse Telemetry dan
23

Elektomagnetik Telemetry. Mud Pulse Telemetry merupakan metode

penghantaran informasi yang menggunakan lumpur sebagai media

penghantaranya, sedangkan elektromagnetik Telemetry menggunakan komponen

drillstring bawah permukaan sebagai media penghantarnya. Umumnya pada

proses aplikasinya komponen peralatan measurement while drilling ini senantiasa

diletakkan dalam non magnetic drill collar. Non magnetic drill Colar merupakan

salah satu tipe dari drill collar yang dapat tahan terhadap pengaruh medan magnet

di bawah permukaan bumi. Sehingga pembacaanya dapat dilakukan dengan tepat.

Salah satu hal yang dapat menyebabkan kesalahan pada directional drilling ini

adalah adanya kesalahan pembacaan arah untuk konteks azimuth yang diakibatkan

karena medan magnet dibawah permukaan bumi. Oleh karena itu pada dasarnya

kegiatan pemboran apabila dikombinasikan dengan metode MWD dan LWD akan

memberikan banyak efek positif terutama untuk meminimalisir berbagai

permasalahan pada kegiatan pemboran yang berlangsung baik itu pemboran

vertical maupun pemboran directional. Namun semua kembali terhadap masalah

keekonomian yang diharapkan selama kegiatan pemboran, tentunya melalui aspek

utama tersebut berbagai metode yang tersedia dapat di evaluasi dengan baik.

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan paparan materi mengenai Logging While Drilling dan

Measurement While Drilling, dapat ditarik kesimpulan bahwa:


24

Logging while drilling (LWD) adalah teknik untuk menyampaikan alat

logging sumur kedalam dasar lubang sebagai bagian dari bottom hole

assembly (BHA).
Alat LWD bekerja dengan MWD system untuk mengirimkan sebagian

atau keseluruhan hasil perhitungan ke lokasi permukaan melalui

drilling mud pulser, sementara alat LWD tools masih ada didalam

sumur yang biasa disebut "Real Time Data.


Teknologi LWD dikembangkan dari teknologi logging sebelumnya

sebagai was developed originally as an perangkat tambahan dari

teknologi MWD sebelumnya untuk memenuhi atau mengganti

sebagian operasi wireline logging operation.


Sistem Telemetri adalah sistem penyampaian informasi jarak jauh

melalui media dan sumber telemetri yang berbeda-beda dan

merupakan sistem terbaik yang bisa digunakan untuk menyampaikan

informasi dari dalam sumur bor ke komputer yang berada di

permukaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Logging_while_drilling
http://en.wikipedia.org/wiki/Measurement_while_drilling
CRAIN'S PETROPHYSICAL HANDBOOK
http://barkun.wordpress.com/2012/03/30/aplikasi-well-logging-dalam-

evaluasi-formasi-3/
25

http://kiosbukugema.blogspot.com/2012/10/sebuah-perkenalan-terhadap-

sistem.html
http://petrowiki.org/Measurement_while_drilling_(MWD)
http://petrowiki.org/Logging_while_drilling_(LWD)