Anda di halaman 1dari 10

EVALUASI SISTEM ANTRIAN STASIUN TIMBANGAN I

DI PG. KEBON AGUNG, MALANG

The Queuing System Evaluation of Weighing-Bridge I at Kebon Agung Sugar Factory,


Malang

Mohammad Aminul Majid. 1; Ir. Usman Effendi, MS.2; Arif Hidayat, STP, M.AIT.3
1) Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian – Fakultas
Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya
2&3) Staf Pengajar Jurusan Teknologi Industri Pertanian-Fakultas Teknologi Pertanian,

Universitas Brawijaya
Jl. Veteran no. 1, Malang 65145
e-mail : 1aminulmajid@yahoo.com; 2usman_eff@brawijaya.ac.id; 3Hidayat_ub@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kinerja sistem antrian serta menetapkan
alternatif pemecahan masalah antrian yang terjadi di stasiun timbangan I PG. Kebon Agung.
Penelitian dilakukan dengan menganalisa kondisi awal model antrian di stasiun timbangan I PG.
Kebon Agung dengan diperoleh data yakni (M/M/1) : (FCFS/∞/∞) dengan tingkat kedatangan
truk (λ) mengikuti distribusi poisson sebesar 131 truk/jam, tingkat pelayanan staff (µ) sebesar 86
truk/jam, jumlah rata-rata truk dalam sistem adalah 1127 truk dan waktu tunggu di dalam sistem
selama 8 jam 53,73 menit kemudian menganalisa dan menguji performansi dari beberapa
alternatif pemecahan yang ada. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan alternatif terbaik yakni
dengan percepatan waktu pelayanan karena memiliki biaya total penerapan sistem antrian
terendah yakni Rp. 33.126.063/musim giling, disamping juga karena nilai faktor utilisasinya yang
paling mendekati 1, yakni 0,708.

Kata Kunci : Rendemen, Sistem Antrian, Stasiun Timbangan I.

ABSTRACT
The research aims to evaluate queuing system performance and to determine queuing solution
that happened in weighing-bridge station I of Kebon Agung Sugar Factory. The study was conducted by
analyzing the early conditions of the queueing model in weighing-bridge station I of Kebon Agung Sugar
Factory with the data obtained are (M/M/1) : (FCFS/∞/∞), the arrival rate (λ) with poisson distribution is
131 trucks/hour, the service rate is 86 trucks/hour, the average number of trucks in the system is 1127
trucks and the waiting time in the system is 8 hour 53,73 minutes. Then by anaylizing and testing some
solutions performances. Based on the result study, the best solution is acceleration service time caused it
has the lowest value of the cost of queuing system implementation = Rp. 33.126.063/season, in the other
sides has the value of the utilization factor is the most closest to 1, 0.708.

Keywords : Rendement, Queuing system, Weighing-bridge Station I.


PENDAHULUAN Pengolahan data dilakukan di Laboratorium
Sebagai pabrik gula swasta yang mulai Komputasi dan Analisis Sistem, Jurusan
berdiri pada tahun 1905 di Malang dan telah Teknologi Industri Pertanian, Fakultas
beberapa kali mengalami peningkatan Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya,
kapasitas giling sejak tahun 2005, Pabrik Malang.
Gula (PG) Kebon Agung masih belum juga Penelitian ini difokuskan pada sistem
mampu mengatasi adanya permasalahan antrian di stasiun timbangan I milik PG.
antrian truk yang menunggu untuk dilayani Kebon Agung, Malang saja dengan analisis
di stasiun timbangan I. Hal ini dikarenakan biaya total antrian yang diperhitungkan
belum adanya keseimbangan antara laju hanyalah truk dengan muatan tebu saja.
kedatangan truk sebagai sumber masukan Asumsi yang digunakan selama penelitian :
(input) dengan jumlah fasilitas pelayanan 1). Kondisi fasilitas pelayanan di stasiun
yang dalam hal ini ialah stasiun timbangan. timbangan I PG. Kebon Agung dianggap
Tebu tebangan yang terlalu lama tidak berjalan dengan baik dan tidak ada masalah.
tergiling akan menurunkan bobot dan 2). Pada perhitungan biaya antrian, biaya
rendemennya (Sunaryo, 2006). Waktu penggunaan lahan tidak turut
tunggu dari tebang sampai giling idealnya diperhitungkan.
adalah 24 jam, lebih dari itu tebu akan Metode penelitian yang digunakan
mengalami inversi menjadi gula reduksi. adalah metode deskriptif dengan
Selain itu juga akan terbentuk dextran. Untuk pendekatan studi kasus. Tahapan penelitian
menghindari kehilangan gula selama proses yang dilakukan yaitu, Survey Pendahuluan;
tebang angkut, hendaknya proses ini Identifikasi Masalah; Pendefinisian Sistem;
dijalankan dengan optimal sehingga tidak Penentuan batasan masalah, asumsi,
memakan waktu lama, paling tidak sebelum variabel dan parameter; Pengumpulan data;
36 jam tebu harus digiling (Anonymous, Pengolahan data, analisis dan pembahasan;
2009a). serta penyusunan Kesimpulan.
Terjadinya antrian di stasiun timbangan Variabel yang digunakan dalam
akan mengakibatkan menurunnya kualitas penelitian ini adalah :
tebu yang akan digiling karena waktu 1. Jumlah kedatangan pelanggan, yaitu
tunggu truk tebu yang semakin lama. Oleh jumlah pelanggan (truk) yang masuk
karena itu perlu dievaluasi kinerja atau dalam antrian.
performansi dari sistem antrian di stasiun 2. Waktu pelayanan, yaitu waktu yang
timbangan I sehingga didapat sebuah usulan digunakan operator (tenaga kerja) untuk
alternatif untuk mengatasi permasalahan melayani (menimbang berat truk).
antrian di stasiun timbangan tersebut agar
Parameter yang digunakan dalam
kelancaran persediaan tebu tetap terjaga dan
penelitian adalah :
tidak menurunkan kualitas tebu akibat
a) Tingkat pelayanan staff
menunggu terlalu lama untuk digiling.
Tujuan dari penelitian ini adalah b) Kemungkinan fasilitas pelayanan
mengevaluasi kinerja sistem antrian dalam keadaan menganggur/idle
timbangan I milik PG. Kebon Agung, c) Rata-rata truk didalam sistem
Malang dan menetapkan alternatif d) Rata-rata truk apabila terjadi antrian
pemecahan masalah sistem antrian tersebut. e) Rata-rata waktu yang dibutuhkan truk
didalam sistem
BAHAN DAN METODE f) Rata-rata waktu yang dibutuhkan truk
Penelitian dilakukan di PG. Kebon apabila terjadi antrian
Agung, jalan Raya Pakisaji, kecamatan g) Jumlah fasilitas pelayanan
Pakisaji, kabupaten Malang. Waktu
Teknik pengumpulan data yang
Pelaksanaan penelitian mulai bulan Juni
digunakan dalam penelitian adalah studi
2011 sampai dengan bulan Desember 2011.
literatur, wawancara, studi dokumen atau
catatan organisasi, Pengamatan Langsung.
Data-data yang diperlukan dalam penelitian
antara lain:
1. Waktu yang dibutuhkan pekerja untuk
menyelesaikan pelayanan (waktu
pelayanan).
2. Waktu antar kedatangan tiap truk
3. Jumlah truk yang datang tiap hari
4. Waktu bongkar untuk tiap truk

Kedatangan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Kondisi Awal Antrian di Stasiun
Timbangan I PG. Kebon Agung,
Data yang diperlukan dalam
Malang
perhitungan didapatkan dari pengukuran
tingkat pelayanan penimbangan truk
dilakukan dengan menghitung waktu baku Pengukuran Performa No.
Hasil
dari pelayanan penimbangan truk dan data Antrian
waktu antara kedatangan truk satu dengan Jumlah Server (Fasilitas
truk lainnya di stasiun timbangan I. Waktu 1 1
pengamatan ditentukan mulai pukul 08.00 Pelayanan)
WIB sampai 14.00 WIB. Rentang waktu ini Rata-rata kedatangan truk
131
dipilih karena pada jam tersebut merupakan 2 tiap jam
jam sibuk dari kedatangan truk. Rata-rata pelayanan fasilitas
86
Metode pengumpulan dan pengolahan 3 tiap jam
data dilakukan dengan melalui beberapa Rata-rata truk didalam sistem 1127
tahapan yaitu, pengukuran data, pengujian 4 truk
keseragaman data, pengujian kecukupan (L)
dan pengujian distribusi data. Rata-rata truk apabila terjadi 1126
5 antrian (Lq) truk
Rata-rata waktu yang
8,8955
6 dibutuhkan truk didalam
jam
sistem (W)
Rata-rata waktu yang
8,8838
7 dibutuhkan truk apabila terjadi
jam
antrian (Wq)
Kemungkinan fasilitas
0,0104
8 pelayanan dalam keadaan
%
menganggur/idle
Data Ekstrim Dihilangkan
Kemungkinan fasilitas dalam 99,9896
9 keadaan sibuk %

Alternatif Pemecahan Masalah Antrian di


Stasiun Timbangan I

Dalam menganalisa sebuah sistem


antrian, ada tiga komponen utama yang
menyusun sistem tersebut yaitu, kedatangan
atau input; sistem antrian itu sendiri; dan Pelatihan tersebut bertujuan untuk
fasilitas pelayanan (Subagyo, 2000). memperlancar petugas timbangan dalam hal
Penentuan alternatif pemecahan masalah mengoperasikan komputer dan mencetak
antrian dapat diketahui dengan mempelajari struk timbangan. Pemahaman terhadap
sistem antrian yang terjadi di stasiun perangkat lunak dan perangkat keras yang
timbangan I PG. Kebon Agung, Malang. digunakan akan mempermudah petugas
Ada empat kemungkinan alternatif timbangan untuk bertindak lebih cepat
pemecahan masalah antrian di stasiun dalam memberikan pelayanan
timbangan yaitu (Willig, 1999) : penimbangan.
1. Tingkat kedatangan truk ke stasiun Dari Tabel 2 diketahui bahwa jumlah
timbangan I tiap jamnya diatur rata-rata truk dalam sistem (L) dan jumlah
sedemikian rupa sehingga dapat rata-rata truk apabila terjadi antrian (Lq)
menyesuaikan dengan kemampuan berturut-turut adalah 2 truk dan 1 truk.
fasilitas dalam melayani truk yang Waktu tunggu rata-rata truk didalam sistem
datang ke stasiun timbangan I. (W) dan waktu tunggu rata-rata truk ketika
2. Mempercepat waktu pelayanan truk terjadi antrian (Wq) adalah sebesar ± 0,0170
sehingga dapat meningkat dan jam dan ± 0,0116 jam. Kemungkinan fasilitas
mendekati atau bahkan menyamai dalam keadaan menganggur/idle (Po)
tingkat kedatangan truk tiap jamnya. sebesar 29,7786 % sedangkan kemungkinan
ketika truk datang terjadi antrian (Pw)
3. Menambah fasilitas pelayanan, yang
adalah sebesar 70,2214 %.
diharapkan dapat memecah antrian
yang terjadi di stasiun timbangan I agar
tidak terjadi penumpukan truk dan Tabel 2. Hasil Analisis Sistem Antrian
waktu pelayanan truk yang lebih cepat. Setelah Percepatan Pelayanan.
4. Kombinasi antara alternatif. No Pengukuran Performa Antrian Hasil
Dari keempat alternatif diatas yang Jumlah Server (Fasilitas
mungkin dapat diterapkan di stasiun 1 1
timbangan I PG Kebon Agung, Malang Pelayanan)
adalah alternatif kedua, ketiga dan keempat. Rata-rata kedatangan truk tiap
131
Alternatif pertama sulit untuk 2 jam
diimplementasikan mengingat tingkat Rata-rata pelayanan fasilitas
185
kedatangan truk di stasiun timbangan I 3 tiap jam
bersifat acak atau random. Apabila ingin Rata-rata truk didalam sistem
mengatur kedatangan truk tersebut 4 2 truk
diperlukan juga pengaturan sistem-sistem (L)
lain di luar stasiun timbangan I. Rata-rata truk apabila terjadi
1 truk
5 antrian (Lq)
Percepatan Waktu Pelayanan Rata-rata waktu yang
0,0170
6 dibutuhkan truk didalam sistem
jam
Mempercepat pelayanan penimbangan (W)
truk adalah salah satu alternatif yang dapat Rata-rata waktu yang
diterapkan untuk memecahkan masalah 0,0116
7 dibutuhkan truk apabila terjadi
antrian yang terjadi di stasiun timbangan I jam
antrian (Wq)
dengan tujuan memperkecil waktu
pelayanan sehingga tingkat pelayanan tiap Kemungkinan fasilitas
29,7786
jamnya dapat mendekati bahkan menyamai 8 pelayanan dalam keadaan
%
tingkat kedatangan truk tiap jamnya. Hal ini menganggur/idle
dapat dilakukan dengan memberikan Kemungkinan fasilitas dalam 70,2214
pelatihan kepada petugas timbangan pada 9 keadaan sibuk %
kemampuan penggunaan komputer.
Penambahan Fasilitas Pelayanan Rata-rata waktu yang
0,0271
6 dibutuhkan truk didalam
jam
Hal ini dilakukan dengan menganalisa sistem (W)
model antrian berdasarkan perubahan Rata-rata waktu yang
jumlah fasilitas pelayanan. Penambahan 0,0155
7 dibutuhkan truk apabila terjadi
jumlah fasilitas pelayanan menjadi dua dari jam
antrian (Wq)
sebelumnya hanya satu fasilitas pelayanan
Kemungkinan fasilitas
saja menjadikan model antrian yang dipakai 13,3538
adalah (M/M/2) : (FIFO/∞/∞). Input yang 8 pelayanan dalam keadaan
%
digunakan sama dengan kondisi awal sistem menganggur/idle
antrian yaitu : tingkat kedatangan (λ) sebesar Kemungkinan fasilitas dalam 66,5650
131 truk/jam, tingkat pelayanan (μ) 86 9 %
truk/jam, distribusi waktu kedatangan keadaan sibuk
Poisson dan pelayanan Eksponensial serta
jumlah sumber populasi tak terhingga. Penambahan Fasilitas Pelayanan dan
Mempercepat Waktu Pelayanan
Berdasarkan perhitungan Tabel 3, dapat
diketahui bahwa rata-rata jumlah truk dalam Alternatif ketiga merupakan gabungan
sistem (L) dan dalam antrian (Lq) setiap kali dari alternatif pertama yaitu dengan
terjadi antrian berturutturut adalah 4 truk mempercepat waktu pelayanan sehingga
dan 2 truk. Rata-rata waktu menunggu truk kemampuan fasilitas pelayanan dalam
dalam sistem (W) dan dalam antrian (Wq) melayani truk yang datang setiap jamnya
berturut-turut adalah ± 0,0271 jam dan ± meningkat serta alternatif kedua yaitu
0,0155 jam. dengan menambah jumlah fasilitas
Probabilitas tidak ada truk dalam sistem (Po) pelayanan menjadi dua fasilitas pelayanan
sebesar 13,3538 %, probabilitas menunggu dari sebelumnya hanya satu fasilitas
dalam antrian (Pw) sebesar pelayanan saja sehingga model antrian yang
66,5650 %. dipakai adalah (M/M/2) : (FIFO/∞/∞)
dengan input yang digunakan adalah sama
Tabel 3. Hasil Analisis Sistem Antrian dengan alternatif kedua.
Setelah Penambahan Fasilitas Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui
Pelayanan. bahwa rata-rata jumlah truk dalam sistem (L)
dan dalam antrian (Lq) setiap kali terjadi
antrian berturut-turut adalah 1 truk dan 0
Pengukuran Performa
No Hasil truk. Rata-rata waktu menunggu truk dalam
Antrian sistem (W) dan dalam antrian (Wq) berturut-
turut adalah ± 0,0062 jam dan ± 0,0008 jam.
Jumlah Server (Fasilitas
Probabilitas tidak ada truk dalam sistem (Po)
1 2
sebesar 47,4555 %, probabilitas menunggu
Pelayanan)
dalam antrian (Pw) sebesar 18,5489 %.
Rata-rata kedatangan truk tiap
131
2 jam
Tabel 4. Hasil Analisis Sistem Antrian
Rata-rata pelayanan fasilitas
86 Setelah Penambahan Fasilitas
3 tiap jam
Pelayanan dan
Rata-rata truk didalam sistem
Mempercepat
4 4 truk
(L) Waktu Pelayanan
Rata-rata truk apabila terjadi
2 truk Pengukuran Performa
5 antrian (Lq)
No Hasil
Antrian
Jumlah Server (Fasilitas meningkatkan biaya total pelayanan menjadi
1 2 Rp. 147.593,51/hari dan pada alternatif
Pelayanan) ketiga yang merupakan gabungan dari
Rata-rata kedatangan truk tiap kedua alternatif sebelumnya didapat biaya
131
2 jam total pelayanan menjadi Rp.
Rata-rata pelayanan fasilitas 161.926,83/hari.
185
3 tiap jam
Rata-rata truk didalam sistem 2. Biaya Menunggu
4 1 truk Biaya menunggu (cost of waiting)
(L) mencakup biaya kehilangan kesempatan
Rata-rata truk apabila terjadi sopir truk untuk mengangkut tebu dari
0 Truk
5 antrian (Lq) kebun akibat menunggu di stasiun
Rata-rata waktu yang timbangan I. Total biaya menunggu
0,0062 didapatkan dari perkalian antara jumlah
6 dibutuhkan truk didalam
jam rata-rata individu dalam sistem dengan
sistem (W)
biaya kehilangan kesempatan sopir truk
Rata-rata waktu yang
0,0008 untuk mengangkut tebu per satuan waktu
7 dibutihkan truk apabila terjadi
jam ditambah dengan biaya upah sopir truk
antrian (Wq) selama menunggu per satuan waktu.
Kemungkinan fasilitas Berdasarkan perhitungan yang ada,
47,4555
8 pelayanan dalam keadaan didapatkan hasil total biaya menunggu
%
menganggur/idle sebelum perbaikan dilakukan adalah sebesar
Kemungkinan fasilitas dalam 18,5489 Rp. 62.373.443,67/hari. Tingginya biaya
9 keadaan sibuk % menunggu disebabkan karena lamanya
waktu yang diperlukan truk yang mengantri
untuk dilayani yaitu selama 8 jam 53,73
Biaya Penerapan Sistem Antrian di
menit. Ketika percepatan waktu pelayanan
Stasiun Timbangan I
dilakukan, waktu yang diperlukan truk yang
mengantri untuk dilayani turun menjadi 1,02
Sistem antrian yang diterapkan di menit. Menurunnya waktu tunggu truk yang
stasiun timbangan I memiliki biaya mengantri ini akan berdampak pada
pelayanan dan biaya menunggu. turunnya biaya menunggu yang terjadi
menjadi Rp. 119.200,35/hari. Pada
1. Biaya Pelayanan penambahan fasilitas pelayanan dari semula
Biaya pelayanan di stasiun timbangan I satu fasilitas menjadi dua fasilitas pelayanan,
mencakup biaya investasi awal pengadaan biaya menunggu turun menjadi Rp.
peralatan/fasilitas pelayanan dan biaya 190.019,71/hari. Penurunan biaya
upah petugas pelayanan timbangan. Total menunggu ini disebabkan karena waktu
biaya pelayanan didapatkan dari perkalian menunggu truk yang mengantri didalam
antara jumlah fasilitas pelayanan dengan gaji sistem turun jumlahnya menjadi hanya 1,626
petugas timbangan per satuan waktu, menit. Biaya akan semakin turun pada
ditambah dengan biaya pengadaan fasilitas. alternatif ketiga yaitu gabungan alternatif
Berdasarkan perhitungan yang ada, pertama dan kedua menjadi Rp.
didapatkan hasil biaya total pelayanan 43.473,15/hari karena waktu tunggu juga
sebelum perbaikan adalah sebesar Rp. turun menjadi hanya 22,32 detik.
57.666,67/hari. Sedangkan, untuk biaya
pelayanan dengan mempercepat fasilitas 3. Biaya Total Sistem Antrian Sebelum dan
pelayanan adalah sebesar Rp. Sesudah Perbaikan
64.833,33/hari. Penambahan fasilitas
pelayanan dari semula hanya satu menjadi Biaya total sistem antrian diperoleh dari
dua buah fasilitas pelayanan akan penjumlahan total biaya pelayanan dan total
biaya menunggu. Biaya total penerapan kedua, biaya total penerapan sistem antrian
sistem antrian sebelum dan sesudah akan turun menjadi Rp. 37.821.998/musim
perbaikan dilakukan dapat dilihat pada giling. Menurut Suprapto (1998),
Tabel 5. penambahan atau perbaikan fasilitas
pelayanan akan dapat mempercepat waktu
pelayanan dan mengurangi jumlah individu
Tabel 5. Biaya Total Penerapan Sistem Antrian Selama Satu Musim Giling di Stasiun Timbangan I

Biaya Penerapan Biaya


Total Biaya Penerapan
Pelatihan/musim
Sistem/musim giling
Kondisi Sistem/bulan giling*
(Rp)
(Rp) (Rp)
Kondisi Awal 11.237.599.861 11.237.599.861
Percepatan Pelayanan 33.126.063 850.000 33.976.063
Penambahan Fasilitas Pelayanan 60.770.380 60.770.380
Percepatan Pelayanan &
36.971.998 850.000 37.821.998
Penambahan Fasilitas Pelayanan
Keterangan : * Biaya pelatihan hanya diterapkan pada bu lan pertama.
Diasumsikan 1 musim giling = 6 bulan

Kondisi awal antrian di stasiun yang ada dalam sistem antrian.


timbangan I PG. Kebon Agung, Malang Penambahan fasilitas atau perbaikan
mengikuti penerapan model antrian fasilitas akan meningkatkan biaya pelayanan
(M/M/1) : (FCFS/∞/∞). Dari Tabel 5 dapat tapi sebaliknya biaya menunggu akan turun
diketahui sistem antrian tersebut (Nafees, 2007).
memerlukan biaya total penerapan sistem Alternatif perbaikan yang diterapkan
sebesar Rp 11.237.599.861/musim giling. terhadap sistem antrian di stasiun
Pada alternatif pertama yaitu dengan timbangan I akan menyebabkan biaya
mempercepat waktu pelayanan, biaya total pelayanan meningkat dan biaya menunggu
penerapan sistem antrian di stasiun menurun jika dibandingkan dengan biaya
timbangan I turun menjadi Rp. pelayanan dan biaya menunggu pada
33.976.063/musim giling. Hal ini kondisi awal. Pada alternatif pertama
dikarenakan adanya perubahan kertas SPTA dengan mempercepat fasilitas pelayanan,
yang digunakan dan adanya peningkatan biaya pelayanan akan meningkat dari
waktu pelayanan petugas timbangan akibat semula Rp. 57.666,67/hari menjadi Rp.
pemberlakuan implementasi SOP proses 64.833,33/hari. Pada saat yang sama, biaya
penimbangan. Alternatif kedua, yaitu menunggu turun dari Rp.
dengan menambah fasilitas pelayanan, total 62.373.443,67/hari menjadi Rp.
biaya penerapan sistem antrian turun 119.200,35/hari. Percepatan waktu
menjadi Rp. 60.770.380/musim giling. pelayanan akan mempercepat waktu
Adanya penambahan fasilitas pelayanan pelayanan sehingga dapat menurunkan rata-
yang semula hanya satu menjadi dua buah rata waktu tunggu dalam sistem dan
fasilitas menyebabkan model antrian yang mengurangi jumlah rata-rata individu dalam
diterapkan berubah menjadi (M/M/2) : sistem. Penurunan waktu tunggu truk dalam
(FCFS/∞/∞) yang juga akan berakibat sistem akan menurunkan biaya tunggu dan
meningkatkan tingkat pelayanan yang akan perbaikan pelayanan akan meningkatkan
diberikan. jumlah biaya pelayanan.
Pada alternatif ketiga yaitu dengan Penambahan fasilitas pelayanan dapat
menggabungkan alternatif pertama dan menurunkan waktu tunggu truk dalam
sistem dari semula 8 jam 53,73 menit menjadi Kinerja Sistem Antrian
hanya 1,626 menit. Penurunan ini akan
berakibat pada turunnya biaya menunggu Kinerja sistem antrian yang baik adalah
menjadi Rp. 190.019,71/hari, tetapi biaya apabila kondisi steady state dapat terpenuhi.
pelayanan meningkat menjadi Rp. Kondisi steady state adalah kondisi dimana
147.593,51/hari karena kebutuhan untuk terjadi keseimbangan antara laju kedatangan
menambah fasilitas pelayanan dari semula dengan tingkat pelayanan yang dapat
hanya satu menjadi dua fasilitas pelayanan. diberikan oleh fasilitas pelayanan
Waktu tunggu truk didalam sistem akan (Balachandran, 1993). Rasio antara tingkat
turun menjadi hanya 22,32 detik pada kedatangan dan tingkat pelayanan disebut

Tabel 6. Perbandingan Model Antrian Sebelum dan Sesudah Perbaikan


Percepatan Percepatan,
Sebelum Penambahan
Kondisi Waktu Penambahan
Perbaikan Fasilitas Pelayanan
Pelayanan Fasilitas Pelayanan
Rata-rata jumlah truk dalam
1127 truk 2 truk 4 truk 1 truk
sistem (L)
Rata-rata jumlah truk dalam
1126 truk 1 truk 2 truk 0 truk
antrian (Lq)
Waktu rata-rata truk dalam 8 jam 53,73
1,02 menit 1,626 menit 22,32 detik
sistem (W) menit
8 jam
Waktu rata-rata truk dalam
53,028 41,76 detik 55,8 detik 2,88 detik
antrian (Wq)
menit
Probabilitas tidak ada truk
0,0104 % 29,7786 % 13,3538 % 47,4555 %
dalam sistem (Po)
Probabilitas menunggu dalam
99,9896 % 70,2214 % 66,5650 % 18,5489 %
antrian (Pw)
alternatif ketiga yaitu dengan mempercepat dengan faktor utilisasi (ρ). Jika nilai ρ > 1, hal
waktu pelayanan dan menambah fasilitas ini berarti bahwa tingkat kedatangan lebih
pelayanan menjadi dua buah. Turunnya besar dari tingkat pelayanan. Jika hal ini
waktu tunggu akan mengakibatkan biaya terjadi bisa dipastikan akan terjadi antrian
menunggu turun menjadi hanya Rp. yang akan selalu bertambah panjang (Tamin,
43.473,15/hari sedangkan biaya pelayanan 2003).
akan meningkat menjadi Rp. Apabila ρ lebih besar dari 1, maka,
161.926,83/hari. sistem antrian yang ada akan berhadapan
dengan konsumen potensial yang tidak
Perbandingan Model Antrian Sebelum dan terbatas (Infinite). Juga apabila ρ sama
Sesudah Perbaikan dengan 1, dengan kedatangan acak dan
kedatangan dari pelayanan acak, panjang
Perbandingan model antrian sebelum dari antrian akan menjadi tidak terbatas
dan sesudah perbaikan dilakukan dengan (Infinite) (Ashley, 2000). Faktor utilisasi pada
membandingkan kondisi awal sistem antrian perhitungannya sama dengan kemungkinan
dengan kondisi setelah perbaikan. pelanggan yang datang harus menunggu
didalam antrian
yang dapat dilihat pada Tabel 6.
(Markland, 1987).
Berdasarkan perhitungan diperoleh
Pemilihan Alternatif Terbaik Berdasarkan faktor utilitas sistem antrian sebelum
perbaikan adalah sebesar 1,523. Alternatif
pertama yaitu dengan mempercepat waktu timbangan I mengikuti distribusi
pelayanan diperoleh faktor utilitas sistem eksponensial dengan tingkat pelayanan staff
antriannya adalah sebesar 0,708, sedangkan (µ) sebesar 86 truk/jam. Jumlah ratarata truk
alternatif kedua dengan menambah fasilitas dalam sistem adalah 1127 truk dan waktu
pelayanan diperoleh faktor utilitas sistem tunggu di dalam sistem selama 8 jam 53,73
antriannya sebesar 0,762. Pada alternatif menit.
ketiga yaitu dengan menggabungkan Alternatif pertama yang diusulkan
alternatif pertama dan kedua didapatkan adalah dengan mempercepat waktu
nilai faktor utilitasnya adalah sebesar 0,354. pelayanan. Tingkat pelayanan staff (µ)
Dari ketiga alternatif yang diusulkan, meningkat menjadi 185 truk/jam. Jumlah
alternatif pertama yakni dengan rata-rata individu dalam sistem turun
mempercepat waktu pelayanan merupakan menjadi 2 truk dan waktu tunggu rata-rata di
alternatif terbaik karena memiliki biaya total dalam sistem turun menjadi 1,02 menit.
penerapan sistem antrian yang paling kecil Alternatif kedua menambah fasilitas
yakni Rp. 33.126.063/musim giling, pelayanan menjadi dua buah sehingga,
disamping juga karena nilai faktor utilitas model antrian yang diterapkan menjadi
sistem antriannya sebesar 0,708. Apabila (M/M/2) : (FCFS/∞/∞). Jumlah rata-rata
tingkat kedatangan pelanggan dan tingkat individu dalam sistem menjadi 4 truk.
pelayanan sama maka kondisi stady state Waktu tunggu rata-rata di dalam sistem
didalam antrian dapat terpenuhi dengan 1,626 menit. Alternatif ketiga, yaitu dengan
nilai faktor utilitas adalah sama dengan 1 menggabungkan kedua alternatif
(Ashley, 2000). sebelumnya, model antrian yang diterapkan
Salah satu hal yang penting dalam adalah (M/M/2) : (FCFS/∞/∞) dengan
menilai kualitas dari pelayanan tidak hanya tingkat pelayanan staff (µ) sebesar 85
bergantung pada lokasi dari fasilitas truk/jam. Jumlah rata-rata individu dalam
pelayanan dan jam buka pelayanan tetapi sistem menjadi 1 truk. Waktu tunggu rata-
juga waktu tunggu minimum yang rata di dalam sistem turun menjadi hanya
diperlukan untuk menerima pelayanan 22,32 detik. Dari ketiga alternatif yang
(Sridhar, 2009). Lamanya waktu menunggu diusulkan, alternatif pertama dengan
didalam sistem juga paling kecil yaitu hanya percepatan waktu pelayanan merupakan
22,32 detik sehingga akan dapat mengurangi alternatif yang terbaik karena memiliki biaya
bahkan menghilangkan kemungkinan truk total penerapan sistem antrian terendah
yang meninggalkan antrian. Waktu tunggu yakni Rp. 33.126.063/musim giling,
yang semakin kecil akan meningkatkan disamping juga karena nilai faktor
kepuasan dari sopir truk sehingga sopir truk utilisasinya yang paling mendekati 1, yakni
tidak akan keluar dari antrian (Sridhar, 0,708.
1998). Berkurang atau hilangnya tingkat
kemungkinan truk keluar dari antrian akan
dapat meningkatkan keuntungan yang akan Saran
diperoleh perusahaan karena berkurang Perlu dilakukan penerapan Standar
atau hilangnya tingkat kemungkinan Operasional Prosedur secara lebih terinci
kehilangan pendapatan dari truk yang pada proses penimbangan serta diperlukan
keluar dari antrian (Norman, 2008). penelitian lanjutan meliputi antrian
emplasement dan antrian bongkar untuk
Kesimpulan mengurangi antrian truk secara keseluruhan.
Model antrian yang diterapkan di
stasiun timbangan I PG. Kebon Agung Daftar Pustaka
adalah (M/M/1) : (FCFS/∞/∞).
Kedatangan truk mengikuti distribusi Anonymous. 1994. Meningkatkan
poisson dengan tingkat kedatangan truk (λ) Produktivitas Tebu dengan
sebesar 131 truk/jam dan pelayanan stasiun
Campuran Blotong dan Abu. Bina
Sarana Tani. PG. Krebet Baru. . 2009c. bab10a.
Malang. http://sutanto.staff.uns.ac.id/files/2
009/03/bab10a.pdf. Diakses tanggal
Anonymous. 1996. Majalah 13 Maret 2011.
Gula Indonesia. Edisi
Bulan Oktober Volume XXI/4. Arkeman Y. Dkk. Strategi Peningkatan
P3GI : Halaman 8-10. Daya Saing Industri Gula di Jawa.
Jurnal Tek. Ind. Pert. Vol. 11 (1) : Halaman
. 2000. Pembudidayaan Tebu di 31.
Lahan Sawah dan Tegalan. Penebar
Swadaya. Jakarta. Ashley, D.W. 2000. Introduction to
Waiting Line Models. In: Allen Kent,
. 2005. Pembuatan Gula Tebu. Ed. Encyclopaedia of library and
http://www.foodinfo.net/id/produ information science. Vol. 60
cts/sugar/history.htm. Diakses
tanggal 13 Maret 2009. Balachandran. 1993. Excellence on services:
Focus on people, marketing and
_______. 2007. Tanaman Penghasil Gula. quality. Business Book publishing
http://www.pustakadeptan.go.id/p House. Bombay.
ublication/bt071025.pdf. Diakses
tanggal 15 Agustus 2010. Bhatti, S. A. 1998. Operations Research – an
Introduction. Department of
. 2009a. Penebangan Tebu dan Computer Science. Quad-e-Azam
Pasca Panen. University.
http://disbunjatim.or.id/penangang
anantebupascapanen.htm. Diakses Bronson, R. 1996. Teori dan Soal-soal
tanggal 29 Maret 2009. Operation Research.
Erlangga.
. 2009b. Jenis-jenis gula dan Jakarta.
berbagai produk terkait.
http://www.foodinfo.net/id/produc Dharma, J. L. 2001. Model Antrian. Integral
ts/sugar/types.h tm. Diakses tanggal Volume 6 no.2 bulan Oktober, 2001:
29 Maret 2011. Halaman 2.