Anda di halaman 1dari 7

Perawatan Mesin

KEAUSAN

DISUSUN OLEH :
Aslam Arsal D211 14 012
Gusti Ngurah Wira Yudha D211 14 016
Rahmat Agung D211 14 020
Masrin D211 14 024
M. Khairil Aqsha Masdy D211 14 030
Simon D211 14 038
Usman D211 14 039
Willian Pian D211 14
Amrang D211 15
Sarman D211 15
Muh. Reynaldi Mandagie D211 15
Ruri Handoko D211 15
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
GOWA
2017
A. Keausan (Wear)
Keausan merupakan pengikisan bahan permukaan secara bertahap dari
permukaan geser. Ini merupakan proses kompleks dengan banyak variable. Satu-
satunya pengujian dibawah riil dapat memprediksi keausan actual dalam suatu
system tertentu. Beberapa keausan yang terjadi antara lain :
1. Bopeng, berlubang-berlubang, lecet-lecet, atau bintil-bintil yang secara
khas berasal dari tegangan kontak yang tinggi dan kelelahan bahan
permukaan selama kontak gelinding atau geser.
2. Keausan abrasi, kikis mekanis, pemotongan atau goresan seperti
kontaminan yang keras dalam antar muka diantara komponen-komponen
yang berpasangan.
3. Garutan, luncuran berulang degan amplitude sangat kecil yang
menghilangkan bahan permukaan. Akumulasi dari serpihan-serpihannya
cenderung mempercepat prosesnya. Operasi berkelanjutan akan
menghasilkan permukaan yang sama dengan karat dan dapat
menyebabkan retak kecil yang akhirnya menyebabkan kegagalan lelah. Ini
sering terjadi jika komponen-komponen yang dipasang sangat kencang
dikenai beban yang berisolasi atau dikenai getaran.
4. Keausan timpasan yang disebabkan oleh pengikisan bahan yang
dikarenakan bahan keras yang memukul suatu permukaan, mungkin
terbawa oleh udara atau fluida. Fluida berkecapatan tinggi, seperti
pembuangan mesin pencuci bertekanan tinggi, dapat menyebabkan
keausan.
Sekalipun tidak mungkin menentukan pendekatan-pendekatan spesifik
untuk mengurangi keausan, berikut ini adalah hal-hal yang harus dicoba untuk
menjamin operasi yang memuaskan :
1. Pertahankan agar kontak gaya tetap rendah antara permukaan-permukaan
yang bergeser.
2. Pertahankan temperature rendah pada permukaan-permukaan yang
berhubungan.
3. Gunakan permukaan-permukaan kontak yang keras.
4. Haluskan permukaan-permukaan yang berhubungan.
5. Pertahankan pelumasan yang terus-menerus untuk mengurangi gesekan.
6. Pertahankan agar viskositas relative antar permukaan-permukaan tetap
rendah.
7. Tentukan bahan-bahan yang memiliki sifat keausan yang baik.
Banyak penyalur bahan akan melaporkan sifat-sifat bahan mereka ketika
bahan tersebut beroperasi terhadap beban yang sama atau berbeda. Data tersebut
yang diperoleh dengan menguji dalam kondisi laboratorium yang dikendalikan
dengan seksama. Lazimnya satu bagian dari sepasang bahn digerakkan dengan
kecepatan yang diketahui, semisal dengan pemutaran. Bahan yang berpasangan
dipertahankan tetap diam dan dengan beban yang diketahui. Pengukuran berat
yang seksama dilakuakndengan berat yang orisinil dan ukuran-ukuran contoh
dari bahan-bahan yang berpasangan. Setelah waktu operasi yang terukur, contoh
tersebut kembali ditimbang dan diukur untuk menetukankan seberapa banyak
bahan yang telah terbuang. Hasilnya dilaporkan sebagai keausan yang dihitung
dari persamaan berikut :
𝑊
𝐾=
𝐹𝑉𝑇

Dengan
K = factor keausan untuk bahan
W = keausan yang diukur sebagai hilangnya berat atau volume
F = beban yang berlaku
V = kecepatan linier yang relative antara batang-batang yang bergeser
T = waktu operasi
Membandingkan faktor-faktor dalam memilih K untuk berbagai bahan
yang dipertimbangkan dapat membantu perancang dalam memilih bahan.
a. Sifat keausan :
1. Keausan normal.
2. Keausan tidak normal (akibat penggantian minyak pelumas yang tidak
teratur).
b. Keausan tergantung pada :
1. Pembebanan, dimana semakin besar pembebanan semakin tinggi
kemungkinan keausan terjadi.
2. Kecepatan, dimana semakin tinggi semakin tinggi kemungkinan keausan
terjadi.
3. Jumlah minyak pelumas, dimana semakin banyak jumlah minyak pelumas
semakin tinggi kemungkinan keausan terjadi.
4. Jenis miyak pelumas, dimana semakin tinggi viskositasnya semakin rendah
kemungkinan keausan terjadi.
5. Temperature, dimana semakin tinggi temperatur semakin tinggi
kemungkinan keausan terjadi.
6. Kekerasan permukaan, dimana semakin keras permukaan semakin rendah
kemungkinan keausan terjadi.
7. Kehalusan permukaan, dimana semakin halus permukaan semakin rendah
kemungkinan keausan terjadi.
8. Adanya benda asing, dimana semakin banyak adanya benda asing semakin
tinggi kemungkinan keausan terjadi.
9. Adanyan bahan kimia, dimana semakin banyak adanya bahan kimia
semakin tinggi kemungkinan keausan terjadi.
c. Gesekan permukaan dibedakan menjadi :
1. Metal terhadap metal
2. Metal terhadap non-metal
3. Metal terhadap fluida
d. Gesekan permukaan juga dapat dibedakan menjadi :
1. Gesekan luncur (sliding)
2. Gesekan menggelinding (rolling)

B. Jenis-jenis keausan
a. Keausan Adhesive
Disebabkan adanya gesekan antara permukaan kerja yang telah
“terlas”akibat terjadinya panas apabila lapisan minyak pelumas pecah
(putus).
Lapisan (film) pelumas pecah dikarenakan :
 Kenaikan temperature tinggi
Gambar 1 menunjukkan hubungan antara temperature dan
viskositas minyak pelumas. Dari gambar diketahui bahwa viskositas
minyak menjadi spearuhnya jika temperatur naik dari 50oC menjadi
70oC

Gambar 1. Suhu tergantung dari viskostas bahan pelumas


 Tekanan kerja tinggi
Gambar 2 menunjukkan kalau beban mesin naik pada kecepatan
konstan, maka tekana gas yang bekerja pada ring piston akan naik
dan viskositasnya akan turun pada temperatur yang tinggi, sehingga
lapisan minyak pelumas akan menjadi tipis dan keausannya
bertambah
Gambar 2. Efek kondisi operasi motor bensin terhadap keausannya pada
kecepatan 4500 rpm konstan
 Kecepatan luncur tinggi
Gambar 3 menunjukkan pengaruh kecepatan gerak pada keausan,
bila kecepatan tinggi, mak naiknya keausan lebih tinggi, kalau
kecepatan naik, maka tabalnya lapisan minyak menjadi lebih tipis
disebabkan viskositas minyak akan menjadi rendah karena kenaikan
temperatur dari selinder dan piston yang dominan, selain itu ring
piston juga menmpuh jarak yang lebih panjang.

Gambar 3. Efek kondisi operasi motor bensin terhadap keausannya pada


tekanan efektif 6 kp/cm3 konstan
Jenis-jenisnya :
 Kelupas (galling), misal : pada permukaan roda gigi
 Gores (scuffing), misal : pada piston
 Luka-luka gores (scoring), misal : pada bantalan luncur
 Pelengketan (seizing), misal : antara poros engkol dan bantalan luncur
b. Keausan Abrasive
Disebabkan adanya partikel-partikel asing yang terdapat diantara dan
permukaan yang sedang bergesekan. Partikel-partikel ini mula-mula
menekan dan masuk kedalam logam kemudian merobek partikel-partikel
logam tersebut dalam bentuk goresan-goresan. Partikel-partikel asing
tersebut antara lain : serbuk-serbuk logam, debu oksida logam, dan serbuk-
serbuk lain.

(a) (b)
Gambar 4. (a) Kenaikan keausan disebabkan debu. (b) Kenaikan Keausan
dikarenakan debu bercampur dengan bahan bakar atau bahan pelumas

c. Keausan korosif
Bahan bakar minyak mengandung hydrogen (H 13-15%) dari beratnya,
kalau hydrogen terbakar maka akan timbul uap air (H2O) yang sembilan ali
volumenya dari hydrogen.
Kalau bahan bakar bensin uapnya akan mengkondesasi disekitar 50
derajat celcius dan airnya melekat pada dinding silinder. Sehingga air ini
adalah penyebab karat dan keausan kimiawi dari besi, seperti terlihat pada
gambar 5 dimana suhu air pendingin harus lebih tinggi dari 60 derajat celcius
begitupula dengan dinding silinder, karena itu uapnya tidak berkondensasidan
tidak ada karat, karena itu dipergunakan thermostat pendingin yang
berlebihan.
Gambar 5. Efek alkalis terhadap korosi
d. Keausan tegangan kontak
Disebabkan adanya tegangan kontak bidang yang terjadi secara berulang
antara dua bidang kerja yang berpasangan, misal pada roda gigi, bantalan dan
lain sebagainya. Tegangan kontak dapat menyebabkan keretakan yang
memisahlan suatu partikel dari badan utama material mesin tersebeut.
Penyebab :
 Tegangan bidang kontak yang tinggi secara berulang dan
menimbulkan kelelahan
 Gerakan luncur dengan kecepatan tinggi disertai gerakan
menggelinding

C. Pengaruh Keausan
Jika keausan terjadi pada :
 Bantalan, akan menimbulkan getaran dengan amplitude dan frekuensi
yang berlainan
 Alat-alat ukur, akan mengurangi ketelitian
 Alat-alat produksi, akan mengurangi kualitas dan kapasitas
 Silinder motor torak, akan mengakibatkan penurunan daya dan
penambahan pemakaian bahan bakar
 Plunger (torak pompa) rem, akan terjadi kebocoran sehingga rem tidak
bekerja lagi