Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa : Devi Merry Kristina Sinaga


NIM : I4052171028
Judul Kasus : Kehamilan Ektopik Terganggu
Tanggal Praktik : 8 Januari – 14 Januari 2018
Ruangan : Ruang Kebidanan/Kandungan RSUD Abdul Azis Singkawang

A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Kehamilan ektopik, adalah kehamilan dengan hasil konsepsi berinflantasi diluar
endometrium rahim. Kehamilan ektopik terganggu (KET), adalah kehamilan
ektopik yang terganggu, dapat terjadi abortus atau pecah, dan membahayakan
wanita tersebut (Pranot dkk, 2013).
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/
melekatnya buah kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga
rahim Sedangkan yang disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu adalah
suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba
(Wibowo, 2007).
Kejadian kehamilan ektopik tidak sama diantara senter pelayanan kesehatan.
Hal ini bergantung pada kejadian salpingitis seseorang. Di Indonesia kejadian
sekitar 5-6 per seribu kehamilan. Patofisiologi terjadinya kehamilan ektopik
tersering karena sel telur yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju
endometrium tersendat sehingga embrio sudah berkembang sebelum mencapai
kavum uteri dan akibatnya akan tumbuh di luar rongga rahim. Bila kemudian
tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan besarnya buah
kehamilan, akan terjadi rupture dan menjadi kehamilan ektopik terganggu
(Hadijanto, 2008).

2. Etiologi
Menurut Sujiyatini dkk (2009) kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada
perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium) ke rahim (uterus). Dari beberapa
studi faktor risiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah :
a) Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan gangguan pada
motilitas saluran telur.
b) Riwayat operasi tuba
c) Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang
d) Kehamilan ektopik sebelumya
e) Aborsi tuba dan pemakaian IUD
f) Kelainan zigot yaitu kelainan kromosom
g) Bekas radang pada tuba menyebabkan perubahan-perubahan pada
endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke
uterus terlambat
h) Abortus buatan

3. Manifestasi Klinik Persalinan


a. Terjadi amenoroe, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari bahkan
beberapa bulan haid tidak teratur.
b. Nyeri abdomen dan sakit tiba-tiba seperti diiris disertai muntah
c. Keluar darah pervagina
d. Defance muscular perut rasa mengeras
e. Muntah, gelisah, pucat.
f. Nadi kecil dan halus serta cepat
g. Pada pemeriksaan dalam, jika digerakkan nyeri pada serviks dan portio.
h. Douglas crise adalah rasa nyeri hebat pada kavum doglasi
i. Kavum doglasi teraba menonjol karena adanya kumpulan darah
j. Adanya pelepasan desidua post cost, dan
k. Pada perkusi abdomen : Shifting dullness adalah adanya perdarahan intra
abdominal. (Pranoto dkk, 2013).

4. Tahap Persalianan
Berdasarkan lokasi terjadinya, menurut Hadijanto (2008) kehamilan ektopik
dapat dibagi menjadi 5 berikut ini :
a) Kehamilan tuba, meliputi >95 % yang terdiri atas Pars ampularis (55%),
Pars ismika (25%), pars fimbriae (17%), dan pars interstisialis (2%).
b) Kehamilan ektopik lain (<5%) antara lain terjadi di serviks uterus, ovarium,
atau abdominal. Untuk kehamilan abdominal lebih sering merupakan
kehamilan abdominal sekunder dimana semula merupakan kehamilan tuba
pars abdominalis (abortus tubaria) yang kemudian embrio/buah
kehamilannya mengalami reimplantasi di kavum abdomen, misalnya di
mesenterium/mesovarium atau di omentum.
c) Kehamilan intraligamenter , jumlahnya sangat sedikit
d) Kehamilan heterotopik, merupakan kehamilan ganda dimana satu janin
berada di kavum uteri sedangkan yang lain merupakan kehamilan ektopik.
Kejadian sekitar satu per 15.000-40.000 kehamilan.
e) Kehamilan ektopik bilateral, kehamilan ini pernah dilaporkan walaupun
sangat jarang terjadi.

5. Patofisiologi
Sujiyatini dkk (2009) menyebutkan terdapat gangguan mekanik terhadap ovum
yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat
kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari
vaskularisasi tuba. Ada kemungkinan akibat dari hal ini :
a) Kemungkinan “tuba abortion”, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke
ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi
pada kehamilan ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga
peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari
dinding tuba.
b) Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai
akibat dari distensi berlebihan tuba.
c) Faktor abortus ke dalam lumen tuba. Ruptur dinding tuba sering terjadi bila
berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat
terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal.
Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang
sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.
6. Pathway

Faktor predisposisi Proses pembuahan Terjadi keterlambatan


kehamilan ektopik: menstruasi haid
- Faktor tuba
- Faktor uterus
- Faktor ovum
- Faktor homonal Tumbuh disaluran Hasil konsepsi mati
tuba dan direabsorbsi

Abortus ke dalam Rupture dinding Spontan


lumen tuba tuba

Terjadi perdarahan Trauma ringan


karena pembukaan koetus dan Ansietas
pembuluh darah oleh pemeriksaan vaginal
vili kurialis

Pelepasan mudqoh Terjadi perdarahan Operasi


(embrio yang masih
berbentuk gumpalan
daging)

Resiko syok
Pelepasan tidak (hipovolemi)
sempurna

Tuba membesar dan Mengalir ke rongga


Perdarahan terus kebiruan perut melalui ostium
berlangsung (hepatosalping) tuba

Kekurangan
Nyeri Darah berkumpul di
volume cairan
kavum douglas

(Nurarif dan Kusuma, 2015)


7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang (Sujiyatini dkk, 2009):
a) Pemeriksaan laboratorium: kadar hemoglobin, leukosit, tes kehamilan bila
baru terganggu.
b) Dilatasi kuretase
c) Kuldosintesis yaitu suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah di
dalam cavum douglasi terdapat darah. Teknik kuldosintesis :
(1) Baringkan pasien pada posisi litotomi
(2) Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptic
(3) Pasang speculum dan jepit bibir belakang porsio dengan unam serviks.
Lakukan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak.
(4) Suntikan jarum spinal no.18 ke cavum douglasi dan lakukan pengisapan
dengan semprit 10 ml.
(5) Bila pada penghisapan keluar darah, perhatikan apakah darahnya
berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan
kecil yang merupakan tanda hematokel retrouterina.
d) Ultrasonografi berguna pada 5-10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di
luar uterus.
e) Laparoskopi atau laparotomi sebagai pendekatan diagnosis terakhir.

8. Penatalaksanaan
Penanganan KET pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi
perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa
yang menjadi sumber pardarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki
dan dalam rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan
demikian, beberapa hal yang harus dipertimbagkan yaitu kondisi penderita,
keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil
ini menetukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba
yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar
hCG (kuantitatif).
Peningkatan kadar hCG yang berlangsung terus menerus menandakan masih
adanya jaringan ektopik yang belum terangkat. Penanganan pada kehamilan
ektopik dapat pula dengan transfuse, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada
infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah dikeluarkan
dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus
dirawat inap di rumah sakit (Sujiyatini dkk, 2009).

9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu (Sujiyatini dkk, 2009):
a) Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah
lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, ini merupakan
indikasi operasi.
b) Infeksi
c) Sterilitas
d) Pecahnya tuba fallopi
e) Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya embrio.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1) Pengumpulan Data
Anamnesa :
1. Menstruasi terakhir.
Riwayat menstruasi yang lengkap diperlukan untuk menetukan taksiran
persalinan (TP).TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir
(HPHT).Untuk menentukan TP berdasrkan HPHT dapat digunakan
rumus Naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurang tiga, tahun
disesuaikan.
2. Adanya bercak darah yang berasal dari vagina.
3. Nyeri abdomen: kejang, tumpul.
4. Jenis kontrasepsi.
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibatkan buruk pada janin, ibu,
atau keduanya.Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didaptkan pada
saat kunjungan pertama.Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran
dan berlanjut saat kehamilan yang tidak dikatahui dapat berakibat buruk
pada pembentukan organ seksual janin.
5. Riwayat gangguan tuba sebelumnya
Kondisi kronis (menahun/terus-menerus) seperti diabetes melitus,
hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh
karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi dan trauma pada
persalinan sebelumnya harus didokumentasikan.
6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik lengkap pada ibu hamil diperlukan untuk mendeteksi
masalah fisik yang dapat dipengaruhi kehamilan.
1) Tekanan darah
Posisi pengambilan tekanan darah sebaiknya ditetapkan, karena
posisi akan mempengaruhi tekanan darah pada ibu hamil. Sebaiknya
tekanan darah diukur pada posisi duduk dengan posisi sejajar posisi
jantung. Pendokumentasian perlu dicatat posisi dan tekanan darah
yang didapatkan.
2) Nadi
Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit.Takikardia bisa
terjadi pada keadaan cemas, hipertiroid dan infeksi.Nadi diperiksa
selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan detak
jantung. Nadi diperiksa untuk menentukan masalah sirkulasi
tungkai, nadi seharusnya sama kuat dan teratur.
3) Pernapasan
Frekuensi pernapasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per
menit.Takipnea terjadi karena adanya infeksi pernapasan atau
penyakit jantung. Suara napas harus sama bilateral, ekspansi paru
simetris dan lapangan paru bebas dari suara napas abdominal.
4) Suhu
Suhu normal selama hamil adalah 36,2-37,60 C. Peningkatan suhu
menandakan terjadi infeksi dan membutuhkan perawat medis.
5) Sistem Kardiovaskular
a. Bendungan vena
Pemeriksaan sistem kardiovaskular adalah observasi terhadap
bendungan vena, yang bisa berkembang menjadi varises.
Bendungan vena biasanya terjadi pada tungkai, vulva dan
rectum.
b. Edema pada ekstremitas
Edema pada tungkai merupakan refleksi dari pengisian darah
oada ekstermitas akibat perpindahan cairan intravaskular keruan
intertesial.Ketika dilakukan penekanan dengan jari atau jempol
menyebabkan terjadinya bekas tekanan, keadaan ini disebut
pitting edema.Edema pada tangan dan wajah memerlukan
pemeriksaan lanjut karena merupakan tanda dari hipertensi pada
kehamilan.
6) Sistem musculoskeletal
a. Postur tubuh
Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi selama
kehamilan. Keadaan ini mengakibatkan regangan pada otot
punggung dan tungkai.
b. Tinggi badan dan berat
Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai data dasar untuk
dapat menentukan kenaikan berat badan selama kehamilan.Berat
badan sebelum konsepsi kurang dari 45 kg dan tinggi badan
kurang dari 150 cm ibu beresiko melahirkan prematurdan berat
badan lahir rendah. Berat badan sebelum konsepsi lebih dari 90
kg dapat mengakibatkan diabetes pada kehamilan, hipertensi
pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi
postpartum. Rekomendasi kenaikan berat badan selama
kehamilan berdasarkan indeks masa tubuh.
c. Pengukuran pelviks
Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan untuk menentukan
diameternya yang berguna untuk persalinan per vaginaan.
7) Abdomen
Kontur, ukuran dan tonus otot abdomen perlu dikaji. Tinggi fundus
diukur jika fundus bisa dipalpasi diatas simfisis pubis.Kandung
kemih harus dikosongkan sebelum pemeriksaan dilakukan untuk
menentukan keakuratannya. Pengukuran metode Mc. Donal dengan
posisi ibu berbaring.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu.
Pada ruptur tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba
dan intesitas yang kuat disertai dengan perdarahan yang
menyebabkan ibu pingsan dan masuk kedalam syok. Intensitas nyeri
berkisar antar 9-10 nyeri hebat
8) Sistem neurologi
Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila ibu tidak
memiliki tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya
masalah.Pemeriksaan reflek tendo sebaiknya dilakukan karena
hiperfleksi menandakan adanya komplikasi kehamilan.
9) Sistem integument
Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat menandakan
anemis, jaundice menandakan ganguan pada hepar, lesi
hiperpigmentasi seperti closma gravidarum, sreta linea nigra
berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat. Penempangan
kuku berwarna merah muda menandakan pengisian kapiler dengan
baik.
10) Sistem endokrin
Pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar, pembesaran yang
berlebihan menandakan hipertiroid dan perlu pemeriksaan lebih
lanjut.
11) Sistem gastrointestinal
a. Mulut
Membran mukosa berwarna merah muda dan lembut .bibir bebas
dari ulserasi, gusiberwarna kemerahan, serta edema akibat efek
peningkatan estrogen yang mengakibatkan hiperplasia.Gigi
terawat dengan baik, ibu dapat dianjurkan kedokter gigi secara
teratur karena penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang
memicu terjadinya persalinan prematur.Trimester kedua lebih
nyaman bagi ibu untuk melakukan perawatan gigi.
b. Usus
Stestokop yang hangat untuk memeriksa bising usus lebih
nyaman untuk ibu hamil.Bising usus bisa berkurang karena efek
progesteron pada otot polos, sehingga menyebabkan
konstipasi.Peningkatan bising usus terjadi bila menderita diare.
12) Sistem urinarius
Pengumpulan urine untuk pemeriksaan dilakukan dengan cara urine
tengah. Urine diperiksa untuk mendeteksi tanda infeksi saluran
kemih dan zat yang ada dalam urine yang menandakan suatu
masalah.
a. Protein
Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika protein ada dalam
urine, hal ini menandakan adanya kontaminasi sekret vagina,
penyakit ginjal, serta hipertensi pada kehamilan.
b. Glukosa
Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa dikatakan
normal pada ibu hamil. Glukosa dalam jumlah yang besar
membutuhkan pemeriksaan gula darah
c. Keton
Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan aktivitas yang
berat atau pemasukan cairan dan makanan yang tidak adekuat
d. Bakteri
Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan infeksi saluran
kemih yang bisanya terjadi pada ibu hamil.
13) Sistem reproduksi
a. Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi putting dan pengeluaran
kolostrum perlu dicatat. Adanya benjolan dan tidak simetris pada
payudara membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
b. Organ reproduksi eksternal
Kulit dan membran mukosa perineum, vulva dan anus perlu
diperiksa dari eksiorisasi, ulserasi, lesi, varises dan jarinagn parut
pada perineum
c. Organ reproduksi internal
 Serviks berwarna merah muda pada ibu yang tidak hamil dan
berwarna merah kebiruan pada ibu hamil yang disebut tanda
Chadwik. Adanya nyeri ayun, dengan menggerakkan porsio
dan serviks ibu akan merasa sangat nyeri.
 Vagina : mengalami peningkatan pembuluh darah karena
pengaruh esterogen sehingga tampak makin merah dab kebiru
biruan.
 Ovarium (indung telur) : dengan terjadinya kehamilan,
indung telur mengandung korpus luteum gravidarum akan
meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang
sempurna pada umur 16 minggu.

2. Diagnosa dan Intervensi


a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x8 jam,
diharapkan volume cairan tubuh adekuat dengan kriteria hasil:
 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB,BJ urine
normal HT normal
 Tekanan darah,nadi,suhu tubuh dalam batas normal
 Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
Rencana Tindakan Keperawatan:
1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
R: Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan
2) Monitor status hydrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
R: Hipotensi (termasuk postural), takhikardia, demam dapat
menunjukan respon terhadap dan/atau efek kehilangan cairan
3) Monitor vital sign
R: Hipotensi (termasuk postural), takhikardia, demam dapat
menunjukan respon terhadap dan/atau efek kehilangan cairan
4) Kolaborasi pemberian cairan IV
R: Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan
untuk memperbaiki kehilangaan/anemia.
5) Monitor status nutrisi
R: Mengetahui pemasukan nutrisi pada pasien
b. Resiko syok (hipopolemi) berhubungan dengan hipotensi
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x8 jam, diharapkan tidak
terjadi syok dengan kriteria :
 Nadi dalam batas yang diharapkan
 Irama jantung dalam batas yang diharapkan
 Frekuensi nafas jantung dalam batas yang diharapkan
Rencana tindakan keperawatan:
1) Monitor status sirkulsi BP,warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR,
dan ritme, nadi perifer dan capilary refill time
R: Mengetahui aliran darah yang mengalir pada tubuh
2) Monitor suhu dan pernafasan
R: Hipotensi (termasuk postural), takikardia, demam dapat menunjukan
respon terhadap dan/atau efek kehilangan cairan
3) Monitor input dan output
R: Mengetahui pemasukan dan pengeluaran
4) Monitor tanda awal syok
R: Untuk mencegah dan mengantisipasi komplikasi
5) Monitor inadekuat oksigenasi jaringan
R: Mengatahui kelancaran sirkulasi
6) Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas
R: Untuk menghindari syok
c. Risiko tinggi terhadap infeksi maternal berhubungan dengan
prosedur invasif, pemeriksaan vagina berulang, kontaminasi fekal,
membran amniotik ruptur.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x8 jam, diharapkan tidak
terjadi infeksi dengan kriteria :
 Menggunakan teknik untuk meminimalkan risiko infeksi
 Bebas dari tanda-tanda infeksi tidak terjadi demam, cairan amniotik
jernih, tidak berwarna dan tidak berbau)
Rencana Tindakan Keperawatan :
1) Lakukan pemeriksaan vagina awal ; ulangi bila pola kontraksi atau
perilaku klien menandakan kemajuan persalinan bermakna
(R/Pengulangan pemeriksaan vagina berperan dalam insiden infeksi
saluran asenden)
2) Tekankan pentingnya mencuci tangan yang baik dan tepat
(R/Menurunkan risiko yang memerlukan/menyebarkan agen)
3) Gunakan teknik aseptik selama pemeriksaan vagina (R/Membantu
mencegah pertumbuhan bakteri ; membatasi kontaminan dari
pencapaian ke vagina)
4) Berikan/anjurkan perawatan perineal setelah eliminasi ;
setiap 4 jam dan sesuai indikasi, ganti pembalut/linen bila basah
(R/Menurunkan insiden infeksi saluran asenden)
5) Pantau suhu, nadi, pernapasan sesuai indikasi
(R/Dalam 4 jam setelah membran ruptur, insiden korioamnionitis
meningkat secara progresif sesuai waktu ditunjukkan dengan
peningkatan tanda-tanda vital)
6) Berikan cairan oral dan parenteral sesuai indikasi
(R/Mempertahankan hidrasi dan rasa umum terhadap kesejahteraan)
7) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaktik IV jika diindikasikan
(R/ Antibiotik dapat melindungi perkembangan korioamnionitis
pada klien berisiko)
DAFTAR PUSTAKA

Hadijanto, B. (2008). Perdarahan pada Kehamilan Muda In: Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC Jilid 2. Jogjakarta: Mediaction.
Pranoto, Ibnu, dkk. (2013). Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Wibowo, B. (2007). Kelainan dalam Lamanya Kehamilan. Dalam; Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Sujiyatini, dkk. (2009). Asuhan Patologi Kebidanan. Jakarta: Nuha Medika.