Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Tinea nigra adalah infeksi jamur kulit asimptomatik, superfisial,


biasanya menyerang kulit palmar (telapak tangan) disebabkan karena Hortae
werneckii (dulu namanya PhaeoanneIlomyces werneckii dan Exophiala
werneckii).

Tinea nigra yang disebabkan Cladosporium werneckii adalah infeksi


jamur superficial yang asimtomatik pada stratum korneum. Kelainan kulit
berupa makula tengguli sampai hitam. Telapak tangan yang biasanya terserang
walaupun telapak kaki dan permukaan kulit lain dapat terkena. Sinonim dari
tinea nigra adalah Keratomikosis nigrikans Palmaris, pitiriasis nigra,
kladosporiosis epidemika, mikrosporosis nigra, tinea nigra.

Tinea nigra Palmaris ini digolngkan dalam Infeksi non dermatofitosis.


Pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar , karena jamur ini tidak
dapat mencerna keratin kulit sehingga hanya menyerang lapisan kulit
bagian luar. Yang termasuk jamur non dermatofitosis antara lain : Pitiriasis
versicolor, Tinea nigra palmaris, Piedra.

Tinea nigra adalah mikosis superfisial yang disebabkan oleh


jamur melanisasi ragi Hortaea werneckii(Horta) Nishimura & Miyaji,
sebelumnya salah dikelompokkan dalam genera seperti Cladosporium,
Cryptococcus, Exophiala dan Phaeoannelomyces ( McGinnis et al 1985 , de
Hoog et al . 2000 ). Infeksi ini jarang terjadi, tanpa gejala, terbatas pada negara
tropis dan subtropis. Biasanya, itu mempengaruhi telapak tangan tapi kadang-
kadang ditemukan di bagian tubuh yang lain. Gejala termasuk plak
hiperkromik, di mana jamur mungkin atau mungkin tidak hidup dalam
komensalisme dengan organisme lain ( Hughes et al. , 1993 , Bonifaz
2001 , Gupta et al., 2003 ). Gangguan ini sejak lama dianggap sebagai infeksi
dan oleh karena itu Hortaea werneckii diklasifikasikan sebagai organisme
Tingkat BioSafety 2 ( Anon 2004 ).Namun, de Hoog & Gerrits van den Ende
( 1992 ) dan Göttlich dkk . (1992) mencatat bahwa tinea nigra bersifat
subklinis, hanya sel keratin mati pada kulit yang dijajah. Tidak ada
keratinolisis yang dapat diamati dan adhesi pada tangan manusia harus
dijelaskan oleh karakter hidrofobik sel ragi. Telah terbukti bahwa habitat alami
jamur terdiri dari lingkungan hypersaline karena perilaku halofiliknya
( Zalar et al . , 1999 , Plemenitaš et al 2008 ).

Tinea Nigra Palmaris merupakan infeksi jamur yang mengenai tangan


atau kaki yang mengalami bercak-bercak putih atau hitam. Penyebabnya
adalah Cladosporium werneckii. Infeksi jamur ini biasanya menyerang telapak
tangan atau kaki yang menimbulkan bercak-bercak warna tengguli hitam ,
tidak ada keluhan yang jelas hanya dari segi estetika kurang sedap dipandang
karena tampak kotor pada tangan dan kaki, kadang-kadang terasa gatal.

B. Rumusan Masalah

1. Etiologi tinea nigra

2. Bagaimana epidemiologi tinea nigra ?

3. Bagaimana morfologi tinea nigra ?

4. Bagaimana diagnosis tinea nigra ?

5. Bagaimana gejala klinis tinea nigra ?

6. Bagaimana pencegahan dan pengobatan tinea nigra ?


C. Tujuan

1. Mengetahui etiologi jamur tinea nigra

2. Mengetahui epidemiologi jamur tinea nigra

3. Mengetahui morfologi jamur tinea nigra

4. Mengetahui diagnosis jamur tinea nigra

5. Mengetahui gejala klinis tinea nigra

6. Mengetahui pencegahan dan pengobatan tinea nigra


BAB II

PEMBAHASAN

A. Etiologi Jamur Tinea Nigra

Umumnya disebabkan oleh Hortae werneckii (PhaeoanneIlomyces


werneckii= Exophiala werneckii, Cladosporium werneckii) yang merupakan
jamur dematiaceous seperti ragi. Arti dematiaceous adalah jamur kapang
(mould/mold) berwarna coklat. Dapat juga disebabkan oleh jamur
dematiaceous yang lainnya yaitu Stenella araguata.

Penyebab penyakit ini adalah Cladosporium wernwckii di Amerika Utara


dan Selatan, sedangkan di Asia dan Afrika organisme ini disebut
Cladosporium mansonii.
B. Epidemiologi Jamur Tinea Nigra

Penyakit ini jarang terjadi. Kasus tinea nigra terjadi secara sporadik
dibeberapa bagian belahan dunia terutama didaerah pantai negara-negara tropis
dan subtropis seperti misalnya : Kepulauan Karibia, Amerika Tengah dan
Selatan, Asia, Afrika dan Australia. Penyakit ini paling sering menyerang
anak-anak dan dewasa muda, berumur kurang dari 19 tahun, pada wanita 3 kali
lebih sering dibandingkan pada pria dan hampir sebagian besar infeksi
dilaporkan terjadi pada individu imunokompeten.

Cara Penularan

Jamur penyebab berada saprofit di tanah, limbah, sampah/tumbuh-


tumbuhan busuk dan humus. Juga tumbuh di kayu dan cat pada lingkungan
lembab dan tirai kamar mandi. Lesi diduga terjadi melalui inokulasi langsung
pada kulit yang sebelumnya mengalami trauma minor. Dapat terjadi
autoinokulasi. Dicurigai dapat penularan dari manusia ke manusia, yang
biasanya jarang terjadi, tapi ada yang menyanggahnya

C. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan :

 Anamnesis dan gambaran klinis yang khas.


 Pemeriksaan langsung dengan KOH 10-20 % tampak miselium yang
terdiri atas hifa bercabang banyak, berukuran besar diameter sampai 6
µm, septa berdinding tebal, berwarna kecoklatan, dan tampak budding
cells berbentuk bulat memanjang. Bagian akhir hifa biasanya hialin
(tidak berwarna). Hasil pemeriksaan langsung ini sudah dapat
menyokong/ memastikan diagnosis tinea nigra.
 Bila dilakukan kultur pada medium Sabouraud's dextrose agar (DA)
dengan sikloheksimid dan khlorampenicol3 tumbuh 7 sampai ± 14 hari.
Mula-mula berwarna putih, lembab dan seperti ragi (yeast) kemudian
koloni menjadi hijau kecoklatan atau hitam. Permukaannya kemudian
sering menjadi abu-abu atau kehijauan. Permukaan bawah koloni
berwarna hitam. Pemeriksaan mikroskopik pada kultur dini tampak sel
seperti ragi, sering bentuk dua-dua (2 sel dipisahkan septum).
Kemudian tampak hifa bersepta, berlekuk dan berwarna gelap dan
tumbuh konidia oval di sepanjang hifa. Pigmentasinya tidak sama.
 Pada pemeriksaan histopatologi dengan pengecatan hematoksilin eosin
(HE) atau GMS (Gomori methenamine silver) tampak penebalan
stratum korneum dan parakeratosis. Tampak hifa bercabang berwarna
coklat di lapisan atas stratum korneum. Stratum lusidum tidak terkena
dan tidak ada tanda-tanda inflamasi.
 Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat dipakai untuk mempercepat
identifikasi H. werneckii.

Diagnosis Banding

Tinea nigra dapat menyerupai dermatitis kontak, tinea versikolor,


hiperkromia, nevus pigmentosus, dan kulit yang terkena zat kimia, misalnya
perak nitrat. Pitiriasis versikolor, Akral lentigo melanoma maligna, Junctional
nevus, Sifilis sekunder, Hiperpigmentasi pasca inflamasi, lesi pigmentasi
Penyakit Addison’s, bahan pewarna perak nitrat, Tattto, Pinta.

D. Gejala Klinis

Kelainan kulit telapak tangan berupa bercak-bercak tengguli hitam dan


sekali-sekali bersisik. Penderita umumnya berusia muda di bawah 19 tahun
dan penyakitnya berlangsung kronik sehingga dapat dilihat pada orang dewasa
di atas umur 19 tahun. Perbandingan penderita wanita 3x lebih banyak
daripada pria. Faktor-faktor predispodidi penyakit belum diketahui kecuali
hiperhidrosis. Kekurangan respon imun penderita rupanya tidak berpengaruh.
Masa inkubasi 10-15 hari hingga 7 minggu, dapat beberapa tahun sampai
20 tahun. Lesi khas berupa satu makula berbatas jelas, berwarna coklat
kehitaman, tidak berskuama dan asimptomatik (tidak gatal, tidak nyeri). Lesi
mula-mula kecil kemudian dapat melebar secara sentrifugal atau bersatu
dengan lesi lainnya membentuk tepi yang tidak beraturan atau polisikllis.
Pigmentasi tidak merata, paling gelap didapatkan pada bagian tepi. Tidak
didapatkan eritema atau tanda-tanda inflamasi lain. Karena asimtomatis
menyebabkan tidak terdiagnosis dalam waktu yang lama. Lesi umumnya
terbatas pada satu telapak tangan, namun dapat mengenai jari tangan, telapak
kaki, pergelangan tangan, dada dan leher, wajah tidak pernah terkena.

E. Pencegahan & Pengobatan

Tidak ada pencegahan khusus.

Prognosis

Baik. Bila diobati dengan benar, penyakit akan sembuh dan tidak kambuh lagi,
kecuali bila terpajan ulang dengan jamur penyebab. Resolusi spontan sangat
jarang terjadi. Bila tidak diobati oleh karena asimptomatik akan menjadi
kronis.

Pengobatan

Obat topikal :

 Obat keratolitik : Salep Whitfield(=AAV II, berisi asidum salisilikum


6%, asidum benzoikum 12% dalam vaselin album ) dioleskan pagi dan
malam. Salep AAV I (half strengh Whitfield ointment) tidak efektif.
 Krim asam Undesilenik 2-3 minggu12
 Krim Imidazol : mikonazol,3,10,11 klotrimazol11 , ketokonazol3
dioleskan 2 x sehari.
 Krim Terbinafin
 Asam Retinoid14
 Ciclopirox14.

Obat topikal dilanjutkan selama 2-4 minggu sesudah sembuh klinis untuk
mencegah kambuh, minimal 3 minggu pengobatan. Dianjurkan dikerok /
dikupas dengan penempelan cellophane tape (selotip) terlebih dahulu, baru
diolesi obat topikal.

Obat oral

Indikasi obat oral adalah bila setelah pengobatan topikal yang adekuat tidak
sembuh.10 Obat yang dapat diberikan :

1. Ketokonazol 200 mg/ hari selama 3 minggu.

2. Itrakonazol.

Pengobatan dengan oral Griseofulvin tidak efektif.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tinea nigra palmaris adalah penyakit infeksi jamur superfisial yang


menyerang telapak kaki dan tangan, menimbulkan gambaran khas berupa
warna coklat-kehitamanpada kulit.
Penyebabnya ialah Cladosporium werneckii, biasanya menyerang anak-
anak. Jenis kelamin yaitu pria sama dengan wanita semua bangsa dapat dikenai
penyakit ini. Lebih mudah berkembang pada daerah tropis beriklim panas
dengan kelembaban tinggi, lebih mudah menyerang orang dengan kebersihan
yang kurang dan higiene yang ren-dah.
Lingkungan yang kotor dengan udara lembab dan panas mempermudah
penyebaran penyakit. Mulai dengan bintik-bintik hitam kecoklatan pada
telapak kaki atau tangan, yang makin lama makin besar hingga mcncapai
ukuran uang logam. Kadang-kadang terasa nyeri atau sedikit gatal
pada telapak kaki dan tangan.
Diagnosa bisa ditegakkan dengan :
1. Sinar Wood : fluoresensi kuning kchijauan.
2. Biakan kerokan kulit dalam media agar Sabouraud: tcrlihat per-tumbuhan
jamur.
3. Preparat langsung kerokan kulit dengan KOH 10%: dapat terlihat spora dan
hifa pada epidermis.
Pengobatan menggunakan Salep yang mengandung asam salisilat 3-5%
dan asam benzoat 5-10% banyak menolong. Preparat imidazol 1-2% dalam
krim atau salep berkhasiat baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rippon J.W. Medical Mycology, Edisi ke 3. Philadelphia: WB Saunders Co,


1988.

2. Hay R.J. Ashbee H.R. Mycology. Dalam: Burns T, Breathnach S, Cox N,


Griffiths C. editor. Rook’s Textbook of Dermatology. Edisi ke 8. Oxford :
Wiley-Blackwell, 2010: 36.14 – 36.15.

3. Verma S & Heffernan MP. Superficial fungal infection : Dermatophytosis,


onychomycosis, Tinea nigra, Piedra. Dalam ; Wolff K, Goldsmith LA. Katz
SI, Gilchrest BA, Paller AS & Leffell DJ, editor. Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine. Edisi ke 7. New York : Mc Graw Hill 2008 : 1807 -1821

4. Crissey J.Th., Lang H., Parish L.C. Manual of Medical Mycology.


Massachusetts: Blackwell Science, 1995.

5. Larone D.H. Medically important fungi. A guide to identification. Edisi ke


2. New York: Elsevier, 1987.

6. Richardson M.D and Warnock D.W. Fungal Infection. Edisi ke 3. Oxford:


Blackwell Scientific Publications, 2003.

7. Sutton D.A, Rinaldi M.G, Sanche S.E. Dematiaceous fungi. Dalam:


Anaissie E.J, McGinnis M.R, Pfaller M.A.editor. Clinical Mycology.Edisi ke-
2. USA: Churchill Livingstone Elsevier 2009: 334-335, 347.

8. Faergemann J.N. Pityriasis (Tinea) vesicolor, Tinea Nigra and Piedra.


Dalam: Jacobs PH and Nall L. editor. Antifungal Drug Therapy. New York :
Marcel Dekker, 1990: 23-9.

9. Cemizares 0, Herman R.R.M. Clinical tropical Dermatology. Edisi ke 2.


Boston: Blackwell Scientific, 1992.

10. Sawitri, Zulkarnain I, Suyoso S. Tinea Nigra Palmaris, A case report.


Dalam Abstracts The 15th Congress of The Asia Pacific Society for Medical
Mycology. Bali, 1997: 114.

11. James WD, Berger TG & Elston DM. Andrews’Diseases of the skin.
Clinical Dermatology. Edisi ke 10 Philadelphia : Saunders Elsevier, 2006.
12. Clayton YM, Moore MK. Superficial fungal infection. Dalam : Harper J,
Oranje A dan Prose N editor. Textbook of Pediatric Dermatology edisi ke 2.
Massachusetts : Blackwell Publishing 2006 : 542-569.

13. Paller AS & Mancini AJ. Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology. Edisi ke
3. Philadelphia : Elsevir Saunders, 2006.

14. Mendoza N, Arora A, Arias C.A, Hernandez C.A, Madkam V, Tyring S.K.
Cutaneous and Subcutaneous Mycosis. Dalam : Anaissie E.J., McGinnis M.R.,
Pfaller M.A. editor. Clinical Mycology. Edisi ke-2. USA : Churchill
Livingstone Elsevier 2009 : 509-523.
Tugas kelompok

MAKALAH MIKOLOGI
JAMUR TINEA NIGRA

OLEH :

NURISLAMIAH

(PO714203151032)

PRODI DIV
ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN
KESEHATAN MAKASSAR