Anda di halaman 1dari 24

BAB III

SISTEM PENDINGIN BANDAR UDARA

NGURAH RAI-BALI

3.1 Sistem Pendingin

Bandar Udara Ngurah Rai-Bali merupakan Bandar Udara yang bertaraf


internasional, hal ini dapat dilihat dari banyaknya fasilitas penunjang yang
disediakan untuk kenyamanan bagi mereka yang menggunakan jasa ( penumpang
pesawat ) Bandar Udara ini. Oleh karenanya, penanganan semua sistem yang
berhubungan dengan kenyamanan bangunan dan lain-lainnya di Bandar Udara
Ngurah Rai-Bali harus dilaksakan secara profesional dan harus benar-benar
diperhatikan secara serius.

Mengingat keberadaanya, Bandar Udara Ngurah Rai sudah tentu pula


memiliki sistem pengkondisian udara untuk mencapai kenyamanan tersebut.
Bandar Udara ini menggunakan model sistem pengkondisian udara sentral ( AC
Central ) untuk gedung-gedung yang besar dan mempergunakan sistem
pengkondisian split ( AC Split ) untuk ruang-ruang yang kecil yag tidak dapat
dilayani dengan sistem pengkondisian udara sentral ( AC Central )

Ada dua macam sistem pengkondisian udara sentral yang biasa


dipergunakan yaitu sebagai berikut :

1. Open Type

Sistem pendinginan terbuka (open) dimana air pendinginan yang


mendinginkan kondensor selalu ganti dengan air baru dan bersinggungan dengan
udara luar. Seperti sungai, danau atau laut yang dipompa dan dialirkan ke
kondensor dan heat exchanger kemudian dibuang ke saluran pembuangan atau
kembali keasalnya. (gambar 3.1)

2. Closed Type

Sistem pendinginan tertutup adalah sistem instalasi yang


digunakan di Bandar Udara Ngurah Rai, dimana pada sistem ini air tidak
langsung dibuang, melainkan digunakan kembali setelah didinginkan melalui
menara pendingin (cooling tower). (gambar 3.2)

7
Gambar 3.1 : Open cooling system

Gambar 3.2 : Closed cooling system

8
3.2 System Chiller

3.2.1 Gambaran Umum Chiller Centrifugal Close Type

Chiller Air centrifugal Model McQuay adalah unit pendinginan air yang
dikontrol secara otomatis yang secara komplit tercakup sendiri. Tiap unit disusun dan
diuji pabrik secara komplit sebelum pengiriman. Sistem kontrolnya dirangkai awal,
disesuaikan dan diuji. Hanya diperlukan sambungan normal dilapangan seperti pipa,
sambungan listrik, pompa dan lain-lain. Sehingga dapat menyederhanakan
penginstalasian dan meningkatkan reilabilitas. Semua kontrol keselamatan dan
pengoprasian yang diperlukan terpasang dari pabrik dalam panel kontrol. Untuk pompa
yang digunakan adalah tipe sentrifugal (Gambar 3.5).

Dari tiga buah chiller yang ada di CRB II (Central Refrigaation Building II) yang
biasanya digunakan untuk mendinginkan air yang akan di supplay ke beberapa AHU
adalah dua buah, sedangakan satu buah chiller yang lainnya di off-kan, kecuali ketika
chiller dengan sistem open type pada CRB I (Central Refrigration Building I) tidak dapat
bekerja.

Air dingin yang dihasilkan oleh chiller akan dialirkan menuju ke lPTB
(International Pessenger Terminal Board). Air dingin ini akan menyerap kalor dari udara
yang akan dikondisikan. Kemudian keluar dari IPTB, temperatur air akan naik dan air
mengalir kembali ke chiller untuk didinginkan dan siklus tertutup ini akan terus
berlangsung. Karena itulah chiller ini disebut dengan chiller model atau type tertutup
(close type) .

Pada chiller ini terdapat satu buah kompresor yang terhubung pada untuk
kondensor dan evaporator Chiller standar menggunakan refrigrant R-134a mengurangi
ukuran dan berat paket tersebut jika dibandingkan dengan refrigrant tekanan negative.
Karena R-134a beroprasi pada suatu tekanan positif selama keseluruhan masa
pengoperasian maka tidak diperlukan adanya sistem pembersih (purger).

3.2.2 Spesifikasi Chiller Tipe Close PT. (Persero) Angkasa Pura I

Untuk pendinginan dan pengkondisian udara ruangan - ruangan di area terminal


nasional (PTB) yang dikelola oleh PT. (Persero) Angkasa Pura I mempergunakan jenis
Ac sentral atau sering disebut dengan Mesin Water Chiller yang berlokasi di gedung
CRB II (Central Refrigeration Building II ). Mesin Chiller Yang ada pada CRB II ada 3
buah mesin chiller (CH 1, CH 2 dan CH 3) bermerk McQuay, namun dengan dua tipe
berbeda. Adapun spesifikasi dari mesin chiller tersebut adalah sebagai berikut :

9
Untuk CH 1 dan CH 2

 Merk : McQuay, USA


 Tahun pasang : 1999
 Tipe : Centrifugal PEH 100 JAW 718
 Kapasitas pendingin : 520 T/R
 Pendinginan : Water cooled
 Refrigerant : R-134a

Untuk CH 3

 Merk : McQuay, USA


 Tahun pasang : 2002
 Tipe : Centrifugal WSC 087 MAT 508
 Kapasitas pendingin : 520 T/R
 Pendinginan : Water cooled
 Refrigerant : R-134a

Berikut merupakan contoh gambar chiller merk McQuay

Gambar 3.3 : Tampak samping Chiller McQuay

10
Gambar 3.4 : Tampak depan chiller McQuay

Gambar 3.5 : Pompa sentrifugal

Bagian-bagian utama dari mesin chiller adalah sebagai berikut :

11
1. Kompresor
Kompresor yang digunakan pada mesin chiller ini adalah jenis sentrifugal
dengan kontruksi semi hermatik.
2. Kondensor
Untuk kondensor yang digunakan adalah kondensor jenis water colled atau
berpendingin air
3. Katup ekspansi
Katup yang diperguakan adalah dengan jenis thermostatic internal equalizer atau
pilot ekspantion valve yang menggerakan atau mengontrol katup ekspansi utama.
4. Evaporator
evaporator yang digunakan adalah jenis pendingin air, dengan konstruksi shall,
tube dan pipa, dimana air dingin terletak di dalam pipa dan refrigerantnya
terletak di dalam tabung.

3.2.3 Siklus Kerja Chiller


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, refrigrant yang dipakai oleh chiller
adalah R-134a. Pada chiller ada dua buah siklus kerja yang menggunakan air sebagai
fluida kerja.
Siklus yang pertama ialah siklus dimana air melewati evaporator pada chiller dan
beban (Load) yang akan dilayaninya. Siklus ini jugalah yang akan menunjukan model
close type seperti yang dijelaskan sebelumnya. Beban (Load) yang dimaksud ialah
IPTB. Sedangkan air dingin yang memasuki IPTB didinginkan dievaporator chiller. Air
yang tadinya lebih panas (Setelah keluar dari IPTB) didinginkan kembali setelah
evaporator memindahkan kalor dari air ke refrigerant R-134a.
Siklus kedua ialah siklus dimana air melewati condensor pada chiller dan colling
tower. Pada condenser, air ini digunakan untuk mendinginkan refrigrant yang tadinya
memanas setelah mendapatkan kalor dari evaporator pada siklus yang pertama. Setelah
keluar dari kondensor, air mengalami kenaikan temperatur dan kemudian dipompa
masuk ke cooling tower untuk mendapatkan tahap pendinginan (cooling stage).
Chiller MC Quay juga dilengkapi dengan sistem pendingin motor kompresor.
Motor listrik didinginkan oleh refrigrant yang diambil dari kondensor, refrigran berupa
cair mengalir dari kondensor menuju filter dier melalui sebuah saluran kecil, diteruskan
ke nozel penyempit dan disemprotkan ke motor stator dan rotor selanjutnya kembali
menuju katup ekspansi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 3.6.

12
Blower

T3 T4 T1 T2

Gambar 3.6 : Sistem water chiller

13
Keterangan :
 Tempertur air masuk evaporator ( T1 ) = 9.6oC
 Tempertur air keluar evaporator ( T2 ) = 5.5oC
 Tempertur air masuk kondensor ( T3 ) = 32.2oC
 Tempertur air keluar kondensor ( T4 ) = 35.4oC

3.3 Cooling Tower


3.3.1 Cooling Tower Secara Umum
Untuk mesin chiller yang menggunakan pendinginan air (water colled) dimana
fungsinya untuk mendinginkan kondensor maka cooling tower sangat mutlak diperlukan
untuk mendinginkan air bekas pendinginan kondensor.
Air bekas pendinginan kondensor ini setelah dipakai tidak dibuang, melainkan
disirkulasi kembali ke mesin chiller. Air yang hilang karena menguap harus diganti,
yaitu dengan memasukkan air tambahan (make up water) kedalam sitem air pendingin.
Cooling tower merupakan ruangan dimana air panas disemprotkan atau
dipancarkan kebawah, sementara itu udara atmosfir dialirkan melalui atau berlawanan
dengan arah jatuhnya air bekas pendinginan kondensor. Dengan cara demikian air bekas
pendinginan kondensor dapat diinginkan itu didinginkan sehingga air tersebut dapat
diturunkan temperaturnya ( Gambar 3.7).

3.3.2 Spesifikasi cooling tower


Pada PT. Angkasa Pura I (persero) menggunakan 6 buah cooling tower dengan
merk KUKEN, berikut spesifikasinya :
 Type : Cross Flow
 Kapasitas : 757 m3/h
 Motor : 380V atau 7,5 kW
 Tahun : 2013

14
Berikut merupakan gambar bagian-bagian Cooling Tower merk Kuken :

1. Cooling Tower tipe Cross Flow ditunjukkan pada gambar 3.7

2. Blower cooling tower ditunjukkan pada gambar 3.8

3. Motor blower ditunjukkan pada gambar 3.9

4. Upper basin cooling tower ditunjukkan pada gambar 3.10

5. Make Up Water Tank ditunjukkan pada gambar 3.11

6. Lower basin cooling tower ditunjukkan pada gambar 3.12

7. Pipa saluran dari cooling tower ke chiller ditunjukkan pada gambar 3.13

8. Tangki chemical ditunjukkan pada gambar 3.14

9. Pompa injeksi ditunjukkan pada gambar 3.15

Gambar 3.7 : Cooling tower type cross flow merk Kuken


Cooling tower type cross flow ini berfungsi sebagai tempat air yang akan didinginkan
dengan menggunakan blower atau tempat pemisahan kalor.

15
Gambar 3.8 : Blower cooling tower
Bagian ini berfungsi sebagai penghisap udara panas dalam cooling tower

Gambar 3.9 : Motor blower

16
Bagian ini berfungsi sebagai penggerak blower

Gambar 3.10 : Upper basin cooling tower


Bagian ini adalah bak penampungan air panas dari condenser

Gambar 3.11 : Make Up Water Tank


Alat ini berfungsi sebagai pensuplai atau penambahan air cooling tower dalam system
saat proses berlangsung

17
Gambar 3.12 : Lower basin cooling tower
Bagian ini berfungsi sebagai bak penampung hasil pendinginan cooling tower yang
kemudian akan kembali menuju condenser

Gambar 3.13 : Pipa saluran dari cooling tower ke chiller

18
Gambar 3.14 : Tangki chemical
Alat ini berfungsi sebagai penampungan chemical yang akan diijeksikan ke cooling
tower.

Gambar 3.15 : Pompa injeksi


Alat ini berfungsi untuk menginjeksi chemical ke cooling tower

19
3.3.3 Sistem Sirkulasi Air Pada Cooling Tower
Sistem sirkulasi cooling tower yaitu, dimana air pendingin kondensor pada mesin
chiller yang keluar dari kondensor, bersuhu tinggi keluar menuju cooling tower. Pada
cooling tower air akan dibuang panasnya (didinginkan) keudara bebas dengan bantuan
kisi-kisi (filling) dan aksial fan yaitu dengan menyedot air yang jatuh melalui kisi-kisi.
Air dingin yang didinginkan dari cooling tower akan disedot oleh pompa dan
akan menuju pada chiller. Demikian sirkulasi berjalan selama sistem berjalan ke
kondensor normal.

3.4 Water Treatment

Water Treatment adalah sebuah system yang difungsikan untuk mengolah air
dari kualitas air baku (influent) yang kurang bagus agar mendapatkan kualitas air
pengolahan (effluent) standart yang di inginkan/ditentukan. Metode yang digunakan
dalam water treatment ini adalah dengan mengijeksikan chemical (Bahan Kimia) ke
dalam pipa saluran cooling tower menggunakan pompa ( Gambar 3.14 ) dan tangki
sebagai penampungan chemical ( Gambar 3.15 ). Di Bandara Ngurah Rai ada dua jenis
bahan kimia yang digunakan untuk mengolah air baku yaitu :

1. BM Solution CL-328

Chemical ini berfungsi untuk mencegah terjadinya korosi di dalam pipa


saluran pada mekanisme chiller.

2. BM Solution CL-6500

Chemical ini berfungsi sebagai anti lumut pada cooling tower

Dosis penggunaan chemical :


1. Untuk chemical BM Solution CL-328 24 liter/hari untuk 6 cooling tower
2. Untuk chemical BM Solution CL-6500 12 liter/hari untuk 6 cooling tower

20
3.5 Pemeliharaan Dan Perawatan
3.5.1 Bagan Hubugan Antara Berbagai Bentuk Pemeliharaan

Pemeliharaan

Pemeliharaan Pemeliharaan
Terencana Tak Terencana

Pemeliharaan
Pemeliharaan Pemeliharaan
Darurat
Preventif Korektif

Pemeriksaan Penggantian Reparasi Overhaoul


termasuk komponen minor yang terencana
penyetelan minor, yaitu tidak
dan pekerjaan yang ditemukan
pelumasan timbul waktu
langsung dari pemeriksaan
pemeriksaan

'lihat,

rasakan,

dengar

Pemeriksaan Pemeriksaan
waktu berjalan waktu berhenti

21
3.6 Sistem Pemeliharaan Dan Perawatan

Sistem pemeliharaan dan perawatan sangat penting dilakukan pada setiap


perusahaan khususnya dalam memberikan berupa jasa pelayanan di karenakan dapat
menjaga reputasi perusahaan baik itu di mata masyarakat maupun bagi pengguna jasa
pelayanan. Salah satu contohnya yaitu pemeliharaan dan perawatan pada mesin
khususnya pada sistem pendingin.

Untuk menjaga kualitas produksi yang dihasilkan dan disesuaikan dengan


standarisasi yang sudah ditentukan maka sistem pemelihara dan perawatan sangat perlu
di lakukan guna memberikan pelayanan secara optimal. Kegiatan perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian pada sistem ini berfungsi untuk menjaga kondisi mesin
dengan cara melakukan pemeliharaan dan perbaikan atau penyesuaian agar mesin dapat
menghasilkan suatu kondisi operasi atau produksi yang optimal sesuai dengan standar
operasi telah ditetapkan.

Kegiatan pemeliharaan ini mencangkup perencanaan, pelaksanaan dan


pengendalian pemeliharaan. Tujuan dari adanya pemeliharaan alat atau mesin ini adalah

 Agar tercapai kemampuan operasi/produksi dari mesin sesuai dengan rencana


dan standar yang telah ditetapkan.
 Menjaga kualitas hasil produksi agar tidak mengganggu kegiatan operasi dan
produksi.
 Menjamin investasi mesin agar dapat mencapai umur ekonomis dan teknis
yang telah ditetapkan.
 Untuk menekan biaya pemeliharaan serendah mungkin tanpa mengurangi
kualitas operasi dan produksi.
 Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan keselamatan
pekerja maupun orang lain

Untuk mencapai tujuan pemeliharaan tersebut, maka kegiatan pemeliharaan di


dalam beberapa tahap yaitu:

3.6.1 Perencanaan Pemeliharaan


Perencanaan pemeliharaan merupakan tahap awal yang sangat menentukan arah
dan lingkup serta keberhasilan pelaksanaan dari pemeliharaan tersebut. Isi dari rencana
pemeliharaan meliputi :

22
 Jenis pemeliharaan yang akan dilakukan, lingkup pekerjaan serta jadwal
pelaksanaannya.
 Uraian pekerjaan serta jangka waktu yang diperlukan masing masing pekerjaan.
 Material pemeliharaan dan peralatan kerja yang diperlukan.
 Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan.
 Jumlah anggaran pemeliharaan dan anggaran tunai serta jadwal realisi
penggunaannya.

Penyusunan rencana pemeliharaan harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga


sesuai antara yang satu dengan yang lain. Untuk mendapatkan rencana yang realistis
diperlukan data atau informasi yang akurat dan lengkap, serta kemampuan untuk
mengevaluasi berbagai kegiatan perencanaan, sehingga tidak terjadi pengadaan material
yang terlalu dini ataupun terlambat.

3.6.2 Pelaksanaan Pemeliharaan


Pemeliharaan harus dilaksanakan sesuai dengan rencana fisik dan rencana biaya
yang ada, kecuali terjadi kerusakan yang mendadak. Pelaksanaannya dikerjakan sesuai
dengan manual dan buku petunjuk dari pabrik, agar diperoleh hasil yang baik yang
ditunjukkan oleh unjuk kerja unit yang optimal setelah selesai pelaksanaan
pemeliharaan.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka personil yang melakukan
pemeliharaan harus mempunyai pengetahuan teknis, keterampilan dan pengalaman yang
memadai mengenai peralatan yang dipelihara serta mampu bertanggung jawab atas hasil
pekerjaannya sehingga pelaksanaan pemeliharaan dapat berjalan sesuai dengan apa yang
direncanakan.

3.6.3 Pengendalian Pemeliharaan


Untuk memperoleh hasil pelaksanaan pemeliharaan yang optimal, perlu
melakukan pengendalian yang meliputi :
 Mengukur hasil kerja.
 Membandingkan dengan standar
 Dan melakukan koreksi terhadap rencana termasuki merubah rencana bila
terpaksa.

23
Manfaat yang dapat diperoleh dari pengendalian pemeliharaan adalah sebagai
berikut :

 Dengan memperhatikan masalah yang timbul, maka diperoleh feed back untuk
memperbaiki kegiatan berikutnya.
 Memperlancar jalannya pemeliharaan
 Pemeliharaan dapat berjalan dengan efisien dan efektif serta dapat selesai tepat
waktu.

3.7 Jenis Jenis Pemeliharaan


Hubungan antar berbagai bentuk pemeliharaan dapat dilihat pada Bagan
Hubugan Antara Berbagai Bentuk Pemeliharaan namun secara garis besar pemeliharaan
dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pemeliharaan terencana dan pemeliharaan tak
terencana.

3.7.1 Pemeliharaan Terencana


Pemeliharaan terencana adalah proses pemeliharaan yang diatur dan
diorganisasikan untuk mengatasipasi perubahan yang terjadi terhadap peralatan yang
digunakan yang sudah ditentukan sebelumnya sesuai dengan tahun anggaran yang ada.
Pemeliharaan terencana yang mendekati jatuh tempo akan degenerate menjadi work
order. Pemeliharaan terencana terdiri dari :
 Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan preventif (pencegahan) adalah pemeliharaan yang dilakukan pada
selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin sesuai dengan
ketentuan yang berlaku pada buku pedoman (instruction manual). Tujuan dari
meliharaan ini yaitu untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan bila suatu ponen
pada peralatan tidak memenuhi kondisi normal.
Pekerjaan dalam pemeliharaan secara preventif meliputi pemeriksaan yang
berdasarkan pada lihat, rasakan dan dengar dapat penyetelan minor pada selang waktu
yang telah ditentukan serta penggantian komponen minor yang ditemukan sehingga
perlu diganti pada saat pemeriksaan. Pemerikasaan juga dapat dilakukan pada saat mesin
mulai dinyalakan maupun saat di matikan agar dapat diketahui sejauh mana mesin atau
peralatan tersebut dapat bekerja sehingga dapt diketahui masalah yang akan timbul pada
alat tersebut.
Apabila pemeliharaan preventif dapat dikelola dengan baik maka apa yang
direncanakan akan berjalan sesuai yang direncanakan dikarenakan pada sistem ini dapat
diketahuai atau mendapatkan informasi tentang kapan mesin atau peralatan yang
digunakan akan diganti sebagian komponennya. Dengan cara ini kemungkinan masalah

24
yang timbul dapat di cegah sedini mungkin dan tidak berkepanjangan sehingga
menghasilkan produksi yang bekualitas dan secara optimal.

 Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang bertujuan untuk mengatasipasi
jika ada kerusakan darurat atau mesin yang rusak pada saat digunakan dengan demikian
akan segera dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat jalannya produksi yang sedang
berjalan. Pemeliharaan korektif meliputi reparasi minor (perbaikan) terutama untuk
rencana jangka pendek, yang mungkin timbul pada saat pemeriksaan, juga bila terjadi
overhaul tahunan atau dua tahunan.
Pemeliharaan korektif hampir sama dengan pemeliharaan darurat atau juga
pemeliharaan berhenti karena teriadi kerusakan, pemeliharaan darurat dilakukan pada
saat ada tanda tanda kerusakan sedangkan pemeliharaan berhenti karena mesin rusak
dilakukan perbaikan pada saat saat mesin berhenti atau tidak berproduksi. suatu
perluasan yang direncanakan dalam rincian untuk jangka panjang sebagai hasil
pemeriksaan pencegahan

3.7.2 Pemeliharaan tak terencana


Pemeliharaan tak terencana adalah perencanaan yang tidak direncanakan atau
secara tiba-tiba karena suatu peralatan yang akan segera digunakan. Sering kali terjadi
bila suatu peralatan yang baru di gunakan sampai rusak tanpa ada perawatan berarti baru
kemudian dilakukan perbaikan apabila digunakan hal inilah yang disebut pemeliharaan
yang tak terencana sehingga tidak dianggarkan dalam tahun anggaran yang sedang
berjalan, namun akibat gangguan atau kerusakan mesin yang tidak terduga ini harus
dikerjakan dalam tahun anggaran tersebut.
Pemeliharaan tak terencana juga bisa di sebut pemeliharaan darurat karena
pemeliharaan darurat dilakukan pada saat ada tanda tanda kerusakan pada suatu
peralatan ataupun mesin saat berproduksi secara tiba tiba disebabkan oleh mutu material
yang tidak memenuhi standard dan cara pengoperasian dan pemeliharaan yang tidak
sesuai dengan buku petunjuk. Pemeliharaan tak terencana jelas akan mengganggu proses
produksi dan biasanya biaya yang harus dikeluarkan akan lebih banyak sehingga pada
proses ini sangat penting diperhatikan bila perlu harus di tanggulangi dengan cara
pemeliharaan secara rutin sehingga dapat meminimkan proses ini yang akan terjadi.

3.8 Maintenance
Dalam tahapan maintenance pada seluruh mesin-mesin yang berkaitan dengan
sistem pengkondisian udara dilakukan setiap hari dengan mengecek keseluruh mesin
yang ada di setiap sudut bandara, apabila ada kerusakan akan ditangani langsung saat itu

25
juga, apakah masih bisa dipakai atau harus diganti. Ini bertujuan agar sistem selalu dapat
berfungsi dengan normal sehingga sistem pengkondisian udara dapat beroprasi dengan
maksimal.
3.8.1 Uraian maintenance pada chiller

Bagian Pekerjaan yang dilakukan Periode


Chiller Perawatan
1. Kompresor  Pengecekan data operasional kompresor. Harian
 Pengecekan keseimbangan arus listrik Harian
 Pengecekan terminal Harian
( apabila ada kerusakan/indikasi tidak berfungsi
normal segera ganti dengan sparepart yang baru )
2.Sistem  Pengecekan temperatur oli ( 53-55 )0C Harian
pelumasan  Pengecekan tekanan oli (150-154) Kpa. Harian
 Pengecekan level oli (80-90)% Harian
 Pengecekan warna oli, bila telah berubah warna Harian
kehitaman segera gati oli dengan yang baru. Harian
Harian
 Pengecekan terhadap gejala kebocoran oli.
Harian
 Bersihkan kotak pelumas bila telah kotor. Harian
3. Kondenser  Pembersihan tube kondenser jika approach sudah Tahunan
tinggi ( standar 0.0-3.0)
 Pengcekan pressure drop air pada kondenser. Harian
4. Evaporator  Pembersihan tube evaporator jika approach sudah
tinggi ( standar 0.0-3.0) Tahunan
Harian
 Pengecekan pressure drop air pada evaporator.
5. Kontrol  Pengecekan oprasional pemanas oli (catat Harian
keamanan temperatur setting dan arus listrik yang mengalir).
operasional  Pengecekan tombol pengatur aliran air pada Harian
kondensor.
 Pengecekan aktivasi data oprasional kompresor. Harian
Harian
 Pengecekan aktivi kompresor fitting dan terminal.
Harian
 Pengecekan aktivasi piping fitting Harian
 Cek kebersihan dan kondisi visual chasing dan Harian
insulation.
6. Starter  Pengecekan koneksi elektrik Harian

26
Gambar berikut merupakan proses cleaning condenser :

Gambar 3.16 : Proses cleaning tube kondenser

Gambar 3.17 : Flashing setelah cleaning tube condensor

27
Gambar 3.18 : Tube sebelum di cleaning

Gambar 3.19 Tube setelah di cleaning

28
3.8.2 Uraian maintenance pada cooling tower

Bagian cooling tower Pekerjaan yang dilakukan Periode


perawatan
1. Perawatan umum  Pembersihan cassing dan body cooling Harian
tower
 Injeksi chemical Harian
 Pengcekan kondisi fisual seperti:
Harian
- Kondisi V belt
- Kondisi panel starter
- Pengecekan pelumasan dan gemuk pada
bearing.
- Pengecekan bearing dari suara berisik
dan getaran yang berlebih.
2. Pengecekan system  Pengecekan temperatur air masuk.
Harian
operasional  Pengcekan temperatur air keluar. Harian
 Pengecekan tekenan air masuk. Harian
 Pengecekan tekenan air keluar. Harian
 Cek kondisi katup pengatur aliran air dan Harian
gas agar terhindar dari kebocoran.
3. Filter  Pembersihan filter cooling tower, bila
Mingguan
filter rusak langsung ganti dengan filter
yang baru.
4. Drain sistem  Pengcekan dan pembersihan valve drain Mingguan
pada coling tower.
 Pengecekan dan pembersihan pipa drain Mingguan
cooling tower.

29
Berikut merupakan proses cleaning body cooling tower :

Gambar 3.20 : Pembersihan body cooling tower

Gambar 3.21 : Pembersihan upper basin cooling tower

30