Anda di halaman 1dari 5

Gambaran Umum Teori Akuntansi

Mengapa roket membutuhkan banyak energi untuk meluncur? Mengapa manusia berjalan diatas
dua kaki? Untuk menjawab kedua pertanyaan ini, kita cenderung melihat pada teori gravitasi dan
teori evolusi. Teori-teori ini umumnya ada untuk menjunjung tinggi kekuatan penjelasan dan
prediksi mereka, tapi apa yang memberikan mereka otoritas? Apa itu teori? Selain itu, apa relevansi
teori akuntansi terhadap akuntansi.

Dalam dunia finansial yang sempurna tidak ada permintaan penerbitan laporan keuangan dan teori
akuntansi. Semua informasi tentang nilai aset, pendapatan, dan biaya dapat diketahui untuk saat ini
maupun masa mendatang. Akan tetapi kita tidak hidup dalam kondisi ekonomi seperti itu. Kita hidup
dalam kondisi dimana terdapat permintaan akan informasi finansial untuk menambah pengetahuan
dan mengurangi ketidakpastian tentang nilai sekarang dan nilai di masa depan.

Dalam teori akuntansi, permasalahan utama berkaitan dengan pengukuran. Secara umum,
bagaimana aset dan liabilitas diukur? Dengan nilai historis, nilai penjualan, nilai biaya jika membeli
sekarang, atau berdasarkan nilai sekarang dari cash flows masa mendatang? Apakah kita dapat
mengakuinya secara internal atau harus ada pengakuan dari pihak eksternal? Selanjutnya, apa
dampak implementasi perbedaan sistem pengukuran dalam ekonomi atau pasar untuk setiap
stakeholder?

Istilah “teori” dapat digunakan dalam beberapa cara sehingga memiliki beberapa arti. Dalam teks
klasik pada teori akuntansi, Hendriksen menjelaskan definisi “teori” dan “teori akuntansi” yang
sesuai dengan pembahasan sebagai berikut:

1. .… dengan seperangkat prinsip hipotetis, konseptual dan pragmatis membentuk kerangka


umum referensi untuk bidang penyelidikan.

2. .… penalaran logis dalam bentuk seperangkat prinsip luas yang (1) memberikan kerangka
umum referensi dimana praktik akuntansi dapat dievaluasi dan (2) mengarahkan pengembangan
praktek dan prosedur baru.

Teori dapat digambarkan hanya sebagai penalaran logis yang mendasari pernyataan keyakinan.
Apakah teori ini diterima tergantung pada:

· Seberapa baik menjelaskan dan memprediksi realitas

· Seberapa baik teori itu dibangun

· Bagaimana penerimaan implikasi dari teori untuk scientist, professional dan sosial.

Penting untuk memahami bahwa teori akuntansi tidak terpisah dari realita. Faktanya, tujuan
utamanya adalah untuk menjelaskan praktik akuntansi saat ini dan untuk menyediakan dasar untuk
pengembangan dalam praktek tersebut.

Teori Akuntansi pada dasarnya merupakan suatu konsep modern jika dibandingkan dengan, teori-
teori yang berasal dari, katakanlah, matematika atau fisika. Chambers berpandangan bahwa
akuntansi telah berkembang dalam mode khusus untuk sesuatu maksud dari pada sistematis dari
teori terstruktur:

“Accounting has frequently been described as a body of practices which have been developed
in response to practical needs rather than by deliberate and systematic thinking.”
Banyak resolusi akuntansi yang telah dikembangkan untuk menyelesaikan masalah tertentu saat
masalah itu muncul. Oleh karena itu, teori yang mendasari resolusi mereka juga telah berkembang
secara masif namun tidak terstruktur. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dalam praktek.
Contoh ketidakkonsistenan tersebut meliputi praktek saat mengambil devaluasi aset yang belum
direalisasi ke laba rugi, tapi mengambil kenaikan yang belum direalisasi untuk cadangan, dan
pengukuran beberapa aset pada nilai pasar saat ini sementara yang lain diukur pada biaya. Selama
bertahun-tahun, pembuatan standar akuntansi telah diusahakan untuk mengatasi masalah
ketidakkonsistenan dengan mengembangkan kerangka (teoritis) konseptual yang akan mengarah
pada perbaikan yang lebih konsisten seperti barang.

Pre-theory

Sebelum formalisasi sistem double-entry di tahun 1400-an, sangat sedikit informasi tentang teori
yang mendasari praktik akuntansi. Selama periode perkembangan dari sistem double-entry
penekanan utama adalah pada praktek. Sebelum 1494, seorang biarawan Fransiskan, Fra Pacioli,
menulis buku pertama untuk mendokumentasikan sistem akuntansi double-entry seperti yang kita
kenal sekarang. Judul karyanya adalah Summa de Arithmetica Geometria Proportioni et
Proportionalita (Ulasan aritmatika, geometri, dan Proporsi). Selama 300 tahun setelah 1494
mengikuti Pacioli, perkembangan akuntansi terkonsentrasi memperbaiki praktik. Hal ini disebut
sebagai ‘periode pra-teori’. Goldberg menegaskan:

“No theory of accounting was devised from the time of Pacioli down to the opening of the
nineteenth century. Suggestions of theory appear here and there, but not to the extent
necessary to place accounting on a systematic basis.”

Sampai tahun 1930-an, perkembangan teori akuntansi agak random dan tidak jelas, berkembang
karena mereka dibutuhkan untuk membenarkan praktik-praktik tertentu. Namun, perkembangan di
tahun 1800-an menyebabkan formalisasi praktek ke dalam buku pelajaran dan metode
pembelajaran. Pengenalan undang-undang perpajakan dan masalah “tething” yang terkait dengan
kelahiran korporasi menyebabkan munculnya peraturan pemerintah tentang pelaporan.
Selanjutnya, beberapa pemerintahan dan perusahaan membuat kebijakan ekonomi berdasarkan
angka akuntansi. Juga selama periode ini, teori ekonomi maju pesat dan mulai dikaitkan dengan
permintaan untuk informasi akuntansi. Perkembangan ini terjadi terutama di Inggris yang kemudian
bergeser ke Amerika Serikat.

Pragmatic accounting

Periode 1800-1955 sering disebut sebagai “general scientific period”. Penekanannya adalah pada
penyediaan suatu framework, berdasarkan pengamatan pada praktik, untuk menjelaskan apa yang
dilakukan akuntan dan mengapa mereka melakukannya. Analisis empiris bergantung pada
pengamatan dunia nyata daripada hanya mengandalkan logika.Focus utama akuntansi pada saat itu
adalah penggunaan nilai historis dan aplikasi prinsip konservatisme. Metode ilmiah diinterpretasikan
berdasarkan dari empiris.

Pada tahun 1936 American Accounting Association (AAA) merilis Pernyataan Tentatif Prinsip
Akuntansi yang Mempengaruhi Laporan Korporat, tahun 1938 American Institute of Certified
Practising Accountants (AICPA) membuat kajian independen dari prinsip akuntansi dan merilis
Sebuah Pernyataan Prinsip Akuntansi (ditulis oleh. Sanders, Hatfield dan Moore). Pada tahun yang
sama, AICPA membentuk Accounting Procedures Commitee, yang menerbitkan serangkaian buletin
penelitian akuntansi. Dasar dari buletin ini (dan publikasi teori akuntansi yang pada saat itu)
dirangkum dalam pengantar Buletin No 43.

“Empat puluh-dua buletin diterbitkan selama periode 1939-1953. Delapan dari laporan ini
adalah terminologi dan 34 lainnya adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh komite
prosedur akuntansi yang diarahkan kepada segmen dari praktik akuntansi di mana
permasalahan banyak membutuhkan solusi dan dimana bisnis dan profesi akuntansi sangat
concerned pada masa itu.”

Sebagai hasil dari pendekatan sporadis untuk pengembangan prinsip-prinsip akuntansi, AICPA
membentuk Dewan Prinsip Akuntansi dan menunjuk direktur riset akuntansi pada tahun 1959.
Secara keseluruhan, periode ini fokus pada praktik ‘titik pandang’ akuntansi dan, sementara
penelitian memperoleh momentum selama periode ini, teori untuk menjelaskan praktik menjadi
lebih rinci dan kompleks.

Normative accounting

Periode 1956-1970 dilabeli “masa normatif”. Hal ini disebut periode normatif karena itu adalah
periode ketika teori akuntansi berusaha untuk membangun ‘norma’ untuk ‘best accounting practice’.
Selama periode ini, peneliti kurang peduli tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam praktik dan
lebih peduli dalam mengembangkan teori-teori tentang apa yang seharusnya terjadi.

Teori normatif terkenal karena mengadopsi tujuan (yang ideal) dan kemudian menentukan cara
untuk mencapai tujuan terebut. Mereka memberikan resolusi tentang apa yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan. Fokus utama dari teori normatif akuntansi selama 1956-1970 adalah
dampak dari perubahan harga pada nilai aset dan perhitungan laba.

Dua kelompok mendominasi periode normatif – para kritikus akuntansi biaya historis dan
pendukung kerangka kerja konseptual. Ada beberapa overlap antara kedua kelompok, terutama
ketika kritikus biaya historis berusaha untuk mengembangkan teori akuntansi di mana pengukuran
aset dan penentuan pendapatan yang bergantung pada inflasi dan/ atau pergerakan harga tertentu.

Kerangka kerja konseptual adalah teori akuntansi yang terstruktur. Kerangka tersebut dimaksudkan
untuk mencakup semua komponen pelaporan keuangan dan sebagai panduan dalam praktik.
Sebagai contoh, pada tahun 1965 Goldberg ditugaskan oleh AAA untuk menyelidiki sifat akuntansi.
Hasilnya adalah penerbitan An Inquiry into the Nature of Accounting yang bertujuan untuk
mengembangkan kerangka teori akuntansi dengan menyediakan diskusi tentang sifat dan makna
akuntansi. Satu tahun kemudian, AAA merilis A Statement of Basis Accounting Theory, dengan tujuan
untuk memberikan pernyataan terintegrasi tentang teori akuntansi dasar untuk pendidik, praktisi
dan pihak lain yang tertarik dalam akuntansi.

Periode normatif mulai hilang pada awal tahun 1970, dan kini telah digantikan oleh periode ‘teori
ilmiah tertentu’, atau ‘era positif’ (1970-). Dua faktor utama yang menyebabkan runtuhnya periode
normatif adalah:

· Unlikelihood of acceptance dari teori normatif tertentu

· Aplikasi prinsip ekonomi finansial, menyebabkan peningkatan ketersediaan data dan metode
pengujian

Karena teori akuntansi normatif menetapkan bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan, mereka
didasarkan pada opini subjektif dari akun apa yang harus dilaporkan, dan cara terbaik untuk
melakukannya. Pendapat mengenai tujuan yang tepat dan metode akuntansi bervariasi antara
individu, dan sebagian besar ketidakpuasan terhadap pendekatan normatif adalah bahwa
pendekatan ini tidak memberikan sarana untuk menyelesaikan perbedaan- perbedaan pendapat.
Henderson, Peirson dan Brown menjabarkan 2 kritik utama dari teori normatif pada awal tahun
1970:

· Teori normatif tidak membutuhkan pengujian hipotesis.

· Teori normatif didasarkan pada penilaian suatu nilai

Asumsi yang mendasari beberapa teori normatif belum teruji dan itu tidak jelas apakah memiliki
fondasi yang kuat atau memiliki asumsi tentang kebutuhan akuntansi. Secara pragmatis, cukup sulit
untuk mendapatkan penerimaan secara umum (general acceptance) untuk teori akuntansi
normative tertentu.

Positive accounting

Ketidakpuasan terhadap teori normatif, dikombinasikan dengan meningkatnya akses terhadap data
empiris dan pengakuan meningkatnya argumen ekonomi dalam literatur akuntansi menyebabkan
pergeseran ke bentuk baru dari empirisme yang beroperasi dibawah label ‘teori positif’.

Tujuan teori akuntansi positif adalah menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi. Sebuah
contoh dari teori akuntansi positif akan menjadi teori yang mengarah ke apa yang dikenal sebagai
‘bonus plan hypothesis’. Teori ini bergantung pada manajer sebagai pemaksimal-kekayaan yang lebih
suka memiliki kekayaan lebih, meskipun dengan mengorbankan para pemegang saham. Jika manajer
dibayar sebagian dengan bonus berdasarkan laba akuntansi yang dilaporkan, para manajer memiliki
insentif untuk menggunakan kebijakan akuntansi yang memaksimalkan laba/ pendapatan dilaporkan
dalam periode ketika mereka menerima bonus. Teori ini mengarah pada prediksi (hipotesis) bahwa
manajer yang menerima bonus menggunakan metode akuntansi income-increasing lebih dari
manajer yang tidak menerima bonus. Teori tersebut penting karena menjelaskan efek ekonomi, atau
kekayaan, akuntansi dan mengapa akuntansi penting bagi stakeholder seperti pemegang saham,
kreditur dan manajer yaitu semua yang kekayaan pribadinya dipengaruhi oleh keputusan akuntansi.

Dengan menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi, Watts dan Zimmeiman menganggap
bahwa teori positif membingungkan ketika dikaitkan dengan pilihan teknik akuntansi. Mereka
berpendapat bahwa teori akuntansi positif membantu dalam memprediksi reaksi dari investor di
pasar (seperti pemegang saham) terhadap tindakan manajemen dan informasi akuntansi yang
dilaporkan. Salah satu manfaat dari penelitian tersebut adalah bahwa hal itu memungkinkan
regulator untuk menilai konsekuensi ekonomi dari berbagai praktik akuntansi. Permasalahan dari
teori ini adalah maksimalisasi kekayaan menjadi jawaban dari semua pertanyaan.

Literatur positif melibatkan hipotesis yang berkembang tentang realitas yang kemudian diuji dengan
mengamati realitas, biasanya berdasarkan asumsi maksimalisasi kekayaan. Pendekatan ini dikritik
yang sebagian besar didasarkan sempitnya pendekatan karena terkonsentrasi pada agency theory
dan asumsi efisiensi pasar.

Pendekatan ini mengakibatkan kebangkitan, terutama di tahun 1980- an, dalam penelitian perilaku.
Penelitian Perilaku terutama berkaitan dengan implikasi sosiologis yang lebih luas tentang angka
akuntansi dan tindakan pelaku utama seperti manajer, pemegang saham, kreditur, dan pemerintah
karena mereka bereaksi terhadap informasi akuntansi. Teori akuntansi Perilaku cenderung berfokus
pada pengaruh psikologis dan sosiologis pada individu dalam penggunaan dan/ atau penyusunan
akuntansi.

Recent developments

Kepentingan baik akademik dan profesional dalam pengembangan teori telah cenderung selaras di
masa lalu. Peneliti Akademis dan profesional dalam teori akuntansi cenderung untuk mengambil
pendekatan yang berbeda. Penekanan penelitian akademisi tetap di bidang teori akuntansi positif,
sedangkan profesional berupaya untuk menyatukan teori praktik akuntansi dan membuatnya lebih
bermanfaat, peneliti akademis berusaha untuk lebih memahami peran dan dampak dari informasi
akuntansi. Pendekatan positif dan normatif tidak bertentangan, karena pemahaman tentang
dampak akuntansi merupakan faktor penentu standar akuntansi yang dipertimbangkan dalam
mengembangkan panduan untuk praktik akuntansi.

Pada bulan Desember 1987, Australian Accounting Research Foundation (AARF) merilis ED 42A-D,
“Usulan Pernyataan Konsep Akuntansi” , yang menguraikan tujuan, karakteristik kualitatif dan
aturan untuk definisi dan pengukuran aktiva dan kewajiban. Hal ini kemudian diikuti oleh ED 46A-B
pada Maret 1988, yang menguraikan konsep entitas pelaporan dan memberikan definisi pengukuran
dan pengakuan beban. Pada tahun 1990, AARF resmi menerapkan dasar kerangka konseptual dalam
‘Statement of Accounting Concepts’, (SAC) 1 2, dan 3 diikuti pada tahun 1992 dengan SAC 4.