Anda di halaman 1dari 5

Binti Shofiatul Jannah 136020300111014

Chapter 7

APLIKASI PENGUKURAN
1. PENDAHULUAN Walau ada tekanan, pergeseran praktik akuntansi ke arah perspektif pengukuran (Measurement perspective) menemui dua permasalahan yang mencemaskan, yaitu a. Reliabilitas, yaitu kemanfaatan atau keputusan atas laporan keuangan berbasis nilai saat ini dikompromikan jika terlalu banyak reliabilitas dikorbankan untuk relevansi yang lebih besar. b. Skeptikisme manajemen tentang RRA, yaitu jika ada untung dan rugi belum terealisasi dari perubahan nilai saat ini yang terkandung di laba bersih. c. Manajer, inverstor, dan auditor mungkin lebih baik akuntansi konservative pada akuntansi nilai wajar di beberapa keadaan. Di beberapa tahun terakhir, sudah adanya standar berorientasi pengukuran baru, dengan lebih banyak pada horizon. Ada dua dasar pengukuran nilai saat ini, yaitu a. Nilai wajar (fair value), berdasarkan harga jual pasar pada asset atau jumlah utang yang harus dibayar perusahaan. b. Nilai dalam Penggunaan (Value in Use), dapat diukur. Perlu dicatat bahwa akuntansi nilai saat ini mengubah sifat alami laporan laba rugi. Akuntansi berbasis biaya historis (historical cost), pendapatan bersih (net income) adalah hasil dari selisih biaya dan pendapatan, dengan pendapatan diakui ketika mempertimbangkan untuk direalisasi. Berdasarkan Nilai dalam Penggunaan (Value in Use), pendapaatan bersih adalah pertambahan bunga, perubahan tambah atau kurang dalam estimasi manajemen. Pendekatan neraca (posisi keuangan) telah melekat pada akuntansi nilai saat ini, laporan laba rugi, pada dasarnya inti komponen pendapatan. Pada chapter 7 akan mereview dan mengevaluasi contoh-contoh standar berorientasi pengukuran yang digambarkan pada gambar berikut ini.

2. CONTOH PENGUKURAN BERTAHAN LAMA a. Piutang Dagang dan Utang Dagang Piutang Dagang dinilai saat jumlah yang diharapan yang bisa diterima atau dibayar. Karena jangka waktu pembayaran singkat, factor diskonto tidak berarti. Jadi dasar penilaian yang tepat adalah Present Value. b. Arus Kas yang ditetapkan dengan kontrak Penilaian didasarkan pada present value jika kontrak memberikan estimasi reliable tentang jumlah dan waktu arus kas dan tingkat bunga mendatang. Contohnya adalah perusahaan menerbitkan utang jangka panjang dan menggunakan compound interest method untuk amortisasi premium atau diskonto, itu dapat ditunjukkan bahwa hasil net book value terhadap debt equal the present value terhadap bunga masa depan dan prinsip pembayaran, diskonto pada tingkat bunga efektif dari utang yang diterbitkan saat waktu penerbitan. Tentu saja, berdasarkan akuntansi biaya historis, persamaan current value dan book value adalah kehilangan sebagai relevan tingkat bunga dan atau perubahan tingkat kredit (piutang) perusahaan. c. The Lower-of-Cost-or-Market Rule (LoCoM) Secara tradisional diaplikasikan di inventoris. The Lower-of-Cost-or-Market Rule dapat dibenarkan di jangka waktu conservative. d. Revaluasi pilihan untuk property, pabrik, dan peralatan Sebagai alternative untuk biaya historis, tangible capital asset dapat dievaluasi di fair value, hal ini dapat direliabel, fair value harus selalu up to date, sehingga tidak untuk membedakan secara materi dari fair value di data neraca. Revaluasi ini mungkin meningkat atau menurun membawa nilai. 2

e. Uji batas property, pabril, dan peralatan Uji batas (ceiling test) membantu melindungi auditor dari legal liability, karena mereka memiliki kekuatan disesuaikan asset bahwa sebaliknya diatas nilai, berkontribusi terhadap meningkatnya kondisi konservative didokumentasikan oleh Basu (1997). IAS 36, jika book value > recoverable amount, Recoverable amount > fair value less costs to sell or value in use FASB, SFAC 144 ada dua prosedur, yaitu Menentukan aktiva tetap tidak pas (impaired), jika book value melebihi jumlah dari undiscounted harapan masa depan aliran kas bersih langsung. Menentukan fair value dibawah prosedur di SFAS 157, dimana fair value berdasarkan pada tertinggi dan terbaik menggunakan asset oleh pasar. f. Pension dan other post-employment benefit

3. INSTRUMEN KEUANGAN a. Asset keuangan dan utang didefinisikan berikut ini, yaitu Kas Instrument ekuitas dari perusahaan lain Hak kontraktual: menerima kas atau asset keuangan lain dari perusahaan lain dan mengubah instrument keuangan dengan perusahaan lain di bawah kondisi yang menguntungkan. Kewajiban kontraktual: mengantarkan kas atau asset keuangan lain ke perusahaan lainnya dan mengubah asset keuangan atau utang keuangan dengan perusahaan lain di bawah kondisi yang tidak menguntungkan. b. Penilaian sekuritas utang dan ekuitas IAS 39 mengklasifikasikan asset keuangan kedalam empat kategori, yaitu Tersedia untuk dijual Pinjaman dan piutang Held to maturity Asset keuangan di fair value melalui untung dan rugi. Berdasarkan IAS 39 ada dua kategori dari financial liabilities, yaitu Financial liabilities di fair value melalui untung dan rugi. Kategori ini termasuk untuk trading. Financial liabilities lainnya dinilai pada value atau biaya amortisasi. c. Instrument derivative 3

Derivative adalah kontrak, nilai yang tergantung pada beberapa pokok yang mendasari harga, tingkat bunga, foreign exchange rate, atau variabel lain. Karakteristik dari instrument derivative adalah mereka pada umumnya memerlukan atau izin penyelesaian kas. Instrument derivative mungkin tidak membutuhkan initial net investment. Jika derivative diperdagangkan pada pasar bekerja dengan rational baik, fair value diukur pada market value nya. Jika tidak diperdagangkan, nilai model derivative dapat digunakan.

4. HEDGING-LINDUNG NILAI Perusahaan menerbitkan instrument keuangan dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah mereka mengelola struktur modal dengan convertible debt atau dengan menerbitkan zerocoupon debt untuk mengelola cash flow. Tetapi alasan utama perusahaan dalam financial derivative adalah membantu mengelola risiko. IAS 39 dan SFAS 133 menjelaskan langkah pendekatan pengukuran untuk instrument derivative, yaitu Gain dan losses pada hedge fair value termasuk dalam curent net income. Hedge cash flow adalah fair valued, dengan unrealized gain and losses termasuk dalam comprehensive income lainnya sampai transaksi net income. Kritetia untuk hedge adalah instrument derivative yang harus highly effective dalam menutup kerugian di fair value terhadap item hedge. Salah satu cara mengestimasi hubungan diatas adalah dengan metode cumulative dollar offset.

5. AKUNTANSI UNTUK ASET TAK BERWUJUD Adalah capital asset yang tidak memiliki wujud fisik, seperti trademark, franchise, kekuatan pekerja yang baik, lokasi, restructure, teknologi infomrasi, nama internet, dan goodwill. Beberapa intangible banyak dihitung seperti property, pabrik, dan perlengkapan. Jika dibeli atau self-development dengan alasan tertentu terhadap keuntungan masa depan dan biaya dapat ditentukan reliable, mereka dinilai at cost dan diamortisasi lebih dari masa guna hidupnya. Intangible asset adalah asset penting untuk perusahaan dan untuk beberapa perusahaan, tediri dari sebagian besar nilai perusahaan. tapi penting untuk disadari bahwa ada jika mereka tidak pada neraca. a. Akuntansi untuk membeli Goodwill Ketika satu perusahaan memerluakan lainnya dalam kombinasi bisnis, tujuan metode akuntansi untuk transaksi memerlukan asset berwujud dan tidak berwujud dan liabilities perusahaan dinnilai pada fair value untuk tujuan konsolidasi laporan keuangan. Goodwill kemudian berbeda 4

antara jumlah bersih pada fair value dan total pembelian harga dibayar dengan keperluan perusahaan. b. Self-developed Goodwill Tidak seperti membeli goodwill, tidak teridentifikasi transaksi tetap untuk menentukan biaya self-developed goodwill.konsekuensinya, biaya mungkin menciptakan goodwill, seperti R&D. Goodwill lain yang dikembangkan dari biaya ini menunjukkan sebagai abnormal earning di laporan keuangan berikutnya. Pengakuan ini ketinggalan, alasan utama mengapa harga saham merespon pengumuman pendapatan. Pasar melihat net income dengan hati-hati untuk petunjuk earning power masa depan. c. The Clean surplus model revisited Pendekatan lain untuk menilai goodwill adalah menggungakan the clean surplus model revisited.

6. REPORTING ON RISK a. Risiko Beta Cara biasa untuk mengestimasikan beta adalah dengan analisis regresi berdasarkan pada model pasar. Tapi beta adalah subjek untuk risiko estimasi, pada daarnya jika tida stasioner informasi laporan keuangan mungkin membantu di sini, karena beta dan laporan keuangan tertentu berdasarkan risiko pengukuran berhubungan. Selanjutnya, pengukuran ini dapat mengindikasikan arah dan besarnya perubahan dalam risiko daripada model pasar, yang mana akan memerlukan beberapa waktu untuk data baru untuk reestimasi. Dividen payout adalah rasio dari saham cash dividen terhadap net income. Laverage adalah rasio terhadap sekuritas utang pada total asset. Earning variability adalah standard deviasi pada harga atau pendapatan perusahaan lebih dari periode. b. Mengapa perusahaan mengelola specific Risk? Ada beberapa alasan perusahaan mengelola dan melaporkan risiko specific perusahaan, yaitu Estimasi risiko Perusahaan merencanakan pengeluaran modal besar yang mungkin berharap untuk menjamin kas tersedia ketika dibutuhkan Manajer mungkin menggunakan derivative untuk spekulasi Legal liability