Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN


PERMANGANAT

Oleh:

1. Alen Agustarizal 1607115956


2. Assi Syura 1607123888
3. Isabella Amalia Denisa Putri 1607123544
4. Jihad Refola Davida 1607116161
5. Muhammad Hasbu Nazar 1607122482
6. Oktiani Putri 1607123136

DOSEN:
Elvi Yenie ST.,M.Eng

ASISTEN:
Mutiara Zikron

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Melakukan titrasi permanganometri
2. Menentukan nilai permanganat

1.2 Latar Belakang


Titrasi redoks (reduksi-oksidasi) merupakan jenis titrasi yang paling banya
k jenisnya, diantaranya: permanganometri, dikromatometri, cerimetri, iodimetri, i
odatometri, bromometri, bromatometri, dan nitrimetri. Terbaginya titrasi ini dikar
enakan tidak ada satu senyawa (titran) yang dapat bereaksi dengan semua senyaw
a oksidator dan reduktor sehingga pastinya akan melibatkan senyawa reduktor dan
oksidator, karena titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi diantaranya
titran dan analit. Jadi kalau titrannya oksidator maka sampelnya adalah oksidator (
Underwood, 1998).
Permanganometri merupakan metode titrasi yang didasarkan atas reaksi ok
sidasi-reduksi. Untuk keperluan titrasi ini maka digunakan senyawa permanganat.
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara b
erbeda-beda, tergantung dari pH larutannya. Kekuatan sebagai oksidator juga berb
eda-beda sesuai dengan reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu. Reaksi yang
bermacam-macam ini disebabkan oleh keragaman valensi mangan (Underwood, 1
998).
KMnO4 merupakan zat pengoksida yang penting. Untuk analisis kimia bia
sanya digunakan pada larutan asam dimana senyawa tersebut direduksi menjadi M
n2+(aq). Pada analisi besi dengan MnO4-, contoh disiapkan dengan cara yang sama u
ntuk reaksi dan dititrasi dengan MnO4-, Mn2+ mempunyai warna pink (merah mu
da) sangat pucat yang dapat dilihat dengan mata telanjang. MnO4- berwarna sanga
t cerah (ungu). Pada titik akhir titrasi larutan yang dititrasi mempunyai warna akhi
r pink (merah muda) dengan hanya penambahan satu tetes lagi MnO4-. MnO4- dap
at digunakan untuk menentukan kadar besi (Petrucci, 1999). Untuk mempelajari
metode permanganometri lebih lanjut maka perlu dilakukannya praktikum ini (pe
nentuan kadar zat organik secara permanganometri).

1.3 Tinjauan Pustaka


1.3.1 Pengertian Permanganometri
Permanganat adalah sebuah nama umum untuk senyawa kimia yang
mengandung ion manganat (VII) ion, (MnO4-). Karena mangan mempunyai
bilangan oksidasi sebesar +7, maka ion permanganat (VII) merupakan oksidator
kuat. Ion ini mempunyai bentuk geometri tetrahedral. Larutan permanganat
biasanya berwarna ungu dan bersifat netral dan sedikit mempunyai sifat
alkalinitas (Hardjadi, 1990).
Kalium permanganat memiliki nama lain yaitu chameleon mineral, CI
77755, kristal condy’s dan cairox. Merupakan kristal yang berwarna ungu menjadi
kristal perunggu dan stabil. Apabila kontak dengan senyawa yang mudah menyala
akan menyebabkan kebakaran dan dijauhkan dari senyawa pereduksi, asam kuat,
material organik, peroksida, alkohol dan senyawa kimia logam aktif. Kalium
permanganat merupakan oksidator kuat (Hardjadi, 1990).
Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering
digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri
terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan
ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies
ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.
Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi
jamur. Meskipun demikian, penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati
karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya.
Oleh karena itu, harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK
secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin. Potasium
permanganat tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet.
Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan
tersdisosiasi dalam air membentuk ion permanganat (MnO4-) dan juga mangan
oksida (MnO2) bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh
karena itu, efek utama bahan ini adalah sebagai oksidator.
Dilaporkan bahwa permanganat merupakan bahan aktif beracun yang
mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka
melalui proses oksidasi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa mangan oksida
membentuk kompleks protein pada permukaan epithelium, sehingga
menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga membentuk kompleks
protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya menyebabkan mereka
mati.
Pada reaksi redoks terdapat reduktor dan oksidator dimana reduktor adalah
zat yang dalam reaksi mengalami oksidasi, zat yang mampu mereduksi zat lain
dan zat yang dapat memberikan elektron kepada zat lain sedangkan oksidator
adalah zat yang dalam reaksi mengalami penurunan bilangan oksidasi, zat yang
mampu mengoksidasi zat lain, zat yang menangkap elaktron dari zat lain (Keenan,
1986).
Reaksi kimia dapat digolongkan kedalam reaksi redoks atau bukan redoks.
Istilah dari redoks berkaitan dengan peristiwa reduksi dan oksidasi. Pengertian
reaksi reduksi dan oksidasi itu telah mengalami perkembangan. Pada awalnya
reaksi reduksi dan oksidasi berkaitan dengan pelepasan dan pengikatan oksigen,
oksidasi sebagai pengikat oksigen sedangkan reduksi dikaitkan dengan pelepasan
oksigen. Pada perkembangan selanjutnya oksidasi dan reduksi dikaitkan dengan
penangkapan dan pelepasan elektron dan dengan perubahan bilangan oksidasinya
(Underwood, 1998).
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi
oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi
dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi
dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi
dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe +, asam
atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang
tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri
seperti:
1. Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai
oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4
berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat
inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion
logam yang bersangkutan.
2. Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah
disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan
baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan
sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4
(Vogel, 1990).
Prinsip dari titrasi permanganometri adalah berdasarkan reaksi
oksidasi dan reduksi. Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan
pada reaksi redoks. Dalam reaksi ini, ion MnO4- bertindak sebagai
oksidator. Ion MnO4- akan berubah menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam.
Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau
besi dalam suatu sampel. Pada permanganometri, titran yang digunakan
adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan
tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer
serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus
tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda
yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan
untuk menunjukkan kelebihan pereaksi. Kalium permanganat
distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen
(III) oksida standar-standar primer. Reaksi yang terjadi pada proses
pembakuan kalium permanganat menggunakan natrium oksalat adalah:
5C₂O₄⁻ + 2MnO4⁻ + 16H⁺ 10CO₂ + 2Mn2+ + 8H₂O
Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan
kelebihan permanganat (Rahayu, 2012).
1.3.2 Kalium Permanganat
Kalium permanganat adalah oksidator kuat. Tidak memerlukan indikator.
Kelemahannya adalah dalam medium HCl. Cl- dapat teroksidasi, demikian juga
larutannya, mempunyai kestabilan yang terbatas. Biasanya digunakan pada
medium asam 0,1 N :
MnO₄⁻ + 8 H⁺ + 5e⁻ ↔ Mn2⁺ + 4 H₂O E° = 1,51 V
Reaksi oksidasi terhadap H2C2O4 berjalan lambat pada temperatur ruang.
Untuk mempercepat perlu pemanasan. Sedangkan reaksinya dengan As (III)
memerlukan katalis. Titik akhir permanganat tidak permanen dan warnanya dapat
hilang karena reaksi :
2 MnO₄⁻ + 3 Mn2⁺ + 2 H₂O ↔ 5 MnO₂ + 4 H⁺
ungu tidak berwarna
Larutan dalam air tidak stabil dan air teroksdasi dengan cara:
4 MnO₄⁻ + 2 H₂O ↔ 4 MnO₂ + 3 O₂ + 4 OH⁻
Penguraiannnya dikatalisis oleh cahaya, panas, asam-basa, ion Mn (II) dan MnO2.
MnO2 biasanya terbentuk dari dekomposisinya sendiri dan bersifat autokatalitik.
Untuk mempersiapkan larutan standar KMnO4, harus dihindarkan adanya MnO2.
KMnO4 dapat distandarkan terhadap Na2C2O4.
2 MnO₄⁻ + 5 H₂C₂O₄ + 6 H⁺ ↔ 2 Mn2⁺ + 10 CO₂ + 8 H₂O
Hal ini digunakan untuk analisis Fe (II), H₂C₂O₄ , Ca dan banyak senyawa lain
(Khopkar, 1985).
Kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang
ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam
air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat
sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu/dua jam
lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol
kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan
pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan
sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa
banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang
akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat
adalah agen unsur pengoksidasi, yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn (II)
menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan :
3Mn2⁺ + 2MnO₄⁻+ 2H₂O 5MnO₂ + 4H⁺
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi
cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Tindakan
pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat.
Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan permanganat. Jejak-jejak
dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi
antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air,
mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-
kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan
penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan
MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap
dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa
bulan. Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting
dalam titrasi-titrasi permanganat (Underwood, 1998).
Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah
(II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan. Sebelum
dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II).
reduksi dapat dilakukan dengan reduktor Jones atau dengan timah (II) klorida.
Reduktor Jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat
tidak ada ion klorida yang masuk. Jika larutannya mengandung asam klorida
seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih
memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan
perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning
dari ion besi (Underwood, 1998).

1.3.3 Prinsip Titrasi Permanganometri


Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks.
Dalam reaksi ini, ion MnO4- bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah
menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk
menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sampel (Hardjadi, 1990).
Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat.
Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali
digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai
pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan
suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi.
Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi (Hardjadi,1990).
KMnO4 merupakan zat pengoksida yang penting. Untuk analisis kimia
biasanya digunakan pada larutan asam, dimana senyawa tersebut direduksi
menjadi Mn2+(aq). Pada analisis besi dengan MnO4-, contoh disiapkan dengan cara
yang sama untuk reaksi dan dititrasi dengan MnO4-(aq). Mn2+ mempunyai warna
pink (merah muda) sangat pucat yang dapat dilihat dengan mata telanjang. MnO4-
berwarna sangat cerah (ungu). Pada titik akhir titrasi larutan yang dititrasi
mempunyai warna akhir pink (merah muda) pekat dengan hanya penambahan satu
tetes lagi MnO4-. MnO4- kurang cocok untuk titrasi pada larutan alkali sebab hasil
reduksi MnO2 yang tidak larut mengaburkan titik akhir titrasi (TAT). Titrasi lain
yang menggunakan MnO4- meliputi penentuan nitrit, H2O2 dan kalsium (setelah
mengendap sebagai oksalat). Pada kimia organik MnO4- digunakan untuk
mengoksidasi alkohol dan hidrokarbon tidak jenuh. Mangan dioksida, MnO2,
digunakan pada sel kering, pada kaca dan lapisan keramik, dan sebagai katalis
(Petrucci, 1999).
Pori-pori dalam batu didih akan membantu penangkapan udara pada
larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan (ini akan menyebabkan
timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu didih). Tanpa batu didih, maka
larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated pada bagian tertentu, lalu tiba-
tiba akan mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan letupan/ledakan.

1.3.4 Kelebihan dan Kekurangan Titrasi Permanganometri


Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena
reaksi ini tidak memerlukan indikator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4 sudah
berfungsi sebagai indikator, yaitu ion MnO4- berwarna ungu, setelah direduksi
menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan disebut juga sebagai autoindikator. Sumber-
sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain:
1. Larutan pentiter KMnO4 pada buret.
Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4
pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada
titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang
seharusnya adalah larutan yang berwarna merah rosa.
2. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4.
Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi
antara MnO4- dengan Mn2+.
MnO4-+3Mn++2H2O 5MnO2+4H+
3. Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4
yang telah ditambahkan asam sulfat dan telah dipanaskan mungkin akan
terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian
terurai menjadi air.
H2C2O4+O2 H2O2+2CO2
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi
berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau
penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta
bahwa banyak pereaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan
lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini, sebagai contoh,
permanganat adalah agen unsur pengoksida yang cukup kuat (Hardjadi, 1990).

1.3.5 Standar-standar Primer untuk Permanganat


1. Natrium Oksalat
Senyawa ini, Na2C2O4 merupakan standar primer yang baik untuk
permanganat dalam larutan asam. Senyawa ini dapat diperoleh dengan tingkat
kemurnian tinggi, stabil pada saat pengeringan, dan nonhigroskopis. Reaksinya
dengan permanganat agak sedikit rumit dan berjalan lambat pada suhu ruangan,
sehingga larutan biasanya dipanaskan sampai sekitar 60°C. Bahkan pada suhu
yang lebih tinggi reaksinya mulai dengan lambat, namun kecepatannya meningkat
ketika ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak sebagai katalis, dan
reaksinya disebut autokatalitik, karena katalisnya diproduksi di dalam reaksi itu
sendiri. Ion tersebut dapat memberikan efek katalitiknya dengan cara bereaksi
dengan cepat dengan permanganat untuk membentuk mangan berkondisi oksidasi
menengah (+3 atau +4), di mana pada gilirannya secara cepat mengoksidasi ion
oksalat, kembali ke kondisi divalen. Persamaan untuk reaksi antara oksalat dan
permanganat adalah
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
Selama beberapa tahun analisis-analisis prosedur yang disarankan oleh
McBride, yang mengharuskan seluruh titrasi berlangsung perlahan pada suhu
yang lebih tinggi dengan pengadukan yang kuat. Belakangan, Fowler dan Bright
menyelidiki secara menyeluruh reaksinya dan menganjurkan agar hampir semua
permanganat ditambahkan secara tepat ke larutan yang diasamkan pada suhu
ruangan. Setelah reaksinya selesai, larutan tersebut dipanaskan sampai 60°C dan
titrasi diselesaikan pada suhu ini. Prosedur ini mengeliminasi kesalahan apa pun
yang disebabkan oleh pembentukan hidrogen peroksida (Underwood, 1998).

2. Besi
Kawat besi dengan tingkat kemurnian yang tinggi dapat dijadikan sebagai
standar primer. Unsur ini larut dalam asam klorida encer, dan semua besi (III)
yang diproduksi selama proses pelarutan direduksi menjadi besi (II). Oksidasi dari
ion klorida oleh permanganat berjalan lambat pada suhu ruangan. Namun
demikian, dengan kehadiran besi, oksidasi akan berjalan lebih cepat. Meskipun
besi (II) adalah agen pereduksi yang lebih kuat daripada ion klorida, ion yang
belakangan disebut ini teroksidasi secara bersamaan dengan besi. Kesulitan
semacam ini tidak ditemukan dalam oksidasi dari As2O3 ataupun Na2C2O4 dalam
larutan asam klorida (Underwood, 1998).
Sebuah larutan dari mangan (II) sulfat, asam sulfat dan asam fosfat,
disebut larutan “pencegah”, atau larutan Zimmermann-Reinhardt, dapat
ditambahkan ke dalam larutan asam klorida dari besi sebelum dititrasi dengan
permanganat. Asam fosfat menurunkan konsentrasi dari ion besi (III) dengan
membentuk sebuah kompleks, membantu memaksa reaksi berjalan sampai selesai,
dan juga menghilangkan warna kuning yang ditunjukkan oleh besi (III) dalam
media klorida. Kompleks fosfat ini tidak berwarna, dan titik akhirnya lebih jelas
(Underwood, 1998).
BAB II

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat- Alat yang Digunakan

NO
GAMBAR KETERANGAN
.

1 Erlenmeyer 250ml

2 Gelas beker 100ml

3 Gelas ukur 10ml


Corong
4

5 Pipet tetes

6 Termometer

7 Kertas saring
8 Buret + Statif

9 Alat pemanas

2.2 Bahan- Bahan yang Digunakan

NO. GAMBAR KETERANGAN

1 Air sungai hitam

2 H2SO4 0,01N
3 Asam oksalat 4N

4 KMnO4 0,01N

5 Keramik
2.3 Prosedur Percobaan

2.3.1 Persiapan Bahan

A. Asam Sulfat, H2SO4 4N yang bebas zat organik


a) Dipindahkan 111 ml H2SO4 pekat sedikit demi sedikit ke dalam 250 ml air
suling dalam gelas piala sambil didinginkan dan encerkan sampai 500 ml
dalam labu ukur 500 ml.
b) Dipindahkan kembali ke dalam gelas piala dan tetesi dengan larutan
KMnO4 sampai berwarna merah muda.
c) Dipanaskan pada temperatur 80oC selama 10 menit bila warna merah
hilang selama pemanasan, tambah kembali larutan KMnO4 0,01 N sampai
warna merah muda stabil.

B. Kalium Permanganat, KMnO4 0,1 N


Dilarutkan 3,16 g KMnO4 dengan air suling dalam labu ukur 1000 ml.
Simpan dalam botol gelap selama 24 jam sebelum digunakan.

C. Kalium Permanganat, KMnO4 0,01 N


Dipipet 10 ml KMnO4 0,1 N masukkan ke dalam labu ukur 100 ml,
tepatkan dengan air suling sampai tanda tera.

D. Asam Oksalat, (COOH)2.2H2O 0,1 N


Dilarutkan 6,302g (COOH)2.2H2O dalam 1000 ml air suling atau larutkan
6,7 g natrium oksalat, (COONa)2.2H2O dalam 25 ml H2SO4 6N, dinginkan
dan encerkan sampai 1000 ml dalam labu takar.

E. Asam Oksalat 0,01 N


Dipipet 10 ml larutan asam okslat 0,1 N masukkan ke dalam labu ukur 100
ml, tepatkan dengan air suling sampai tanda tera.

2.3.2 Uji nilai permanganat dengan tahapan sebagai berikut:


a) Dipipet 50 ml contoh uji masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan
tambahkan 3 butir keramik (pengganti batu didih).
b) Ditambahkan KMnO4 0,01 N 3 tetes ke dalam contoh uji hingga warna
menjadi merah muda
c) Ditambahkan 2,5 ml asam sulfat 4 N bebas zat organik
d) Dipanaskan di atas pemanas listrik pada suhu 105oC ± 2oC, bila terdapat
bau H2S, pendidihan diteruskan kembali selama beberapa menit
e) Dipipet 10 ml larutan KMNO4 0,01 N
f) Dipanaskan hingga mendidih selama 10 menit
g) Dipipet 10 ml larutan baku asam oksalat 0,01 N
h) Dititrasi dengan kalium permanganat 0,01 N hingga warna menjadi merah
muda
i) Dicatat volume pemakaian KMnO4.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil dan Pengamatan

Tabel 3.1.1 Hasil Pengamatan

3.1.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Air sungai hitam

No. Perlakuan Pengamatan

1 50 ml sampel air sungai hitam Warna coklat bening keruh


dalam erlenmeyer
2 Ditambahkan 3 buah keramik Tidak terjadinya perubahan

3 Ditambahkan 3 tetes KMnO4 Larutan berubah warna menjadi


coklat pudar
4 Ditambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N Larutan berubah warna menjadi
coklat lebih pudar
5 Dipanaskan pada suhu 105oC Larutan berwarna bening
beberapa menit
6 Larutan ditambahkan 10 ml Warna larutan berubah menjadi
KMnO4 0,01 N ungu kemerahan
7 Larutan dipanaskan lagi selama Larutan berubah warna menjadi
10 menit ungu pekat dan keruh
8 Ditambahkan 10 ml Asam Warna tidak berubah yaitu coklat
Oksalat 0,01 N keunguan dan keruh
9 Larutan dititrasi dengan KMnO4 Larutan berubah warna menjadi
0,01 N merah rose

3.1.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Air PDAM

No. Perlakuan Pengamatan

1 50 ml sampel air sungai hitam Warna coklat bening keruh


dalam erlenmeyer

2 Ditambahkan 3 buah keramik Tidak terjadinya perubahan

3 Ditambahkan 3 tetes KMnO4 Larutan berubah warna menjadi


pink muda
4 Ditambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N Larutan berubah warna menjadi
bening keruh
5 Dipanaskan pada suhu 105oC Larutan berwarna bening
beberapa menit
6 Larutan ditambahkan 10 ml Warna larutan berubah menjadi
KMnO4 0,01 N ungu terang
7 Larutan dipanaskan lagi selama Larutan berubah warna menjadi
10 menit coklat pekat
8 Ditambahkan 10 ml Asam Warna tidak berubah yaitu coklat
Oksalat 0,01 N pudar
9 Larutan dititrasi dengan KMnO4 Larutan berubah warna menjadi
0,01 N merah rose

3.1.2 Tabel titrasi

No. Titrasi ke Volume titran


1 1 ( air sungai hitam) 3,3 ml
2 2 ( air PDAM ) 2 ml

3.2 Pembahasan

Pada percobaan ini terdapat dua sampel yang digunakan. Yang pertama
adalah air Sungai Hitam di jalan Srikandi, Pekanbaru. Air sungai hitam yang akan
di jadikan sampel guna untuk mengukur dan menentukan nilai permanganat.
Sampel air sungai ini diambil pada tanggal 06 Desember 2017 pukul 17.50 WIB
dengan kondisi cuaca yang berawan. Cara pengambilan sampel adalah dengan
memasukkan botol kedalam sungai tetapi botol tidak ditenggelamkan. Mulut botol
diarahkan kearah yang berlawanan dengan arah arus sungai. Sampel air sungai
berwarna coklat bening. memiliki bau dan tidak ada endapan. Sampel yang kedua
yaitu sampel air PDAM, yang didapat dari kelompok yang melakukan praktikum
percobaan BPC.

Prinsip dari titrasi permanganometri adalah berdasarkan reaksi oksidasi dan


reduksi. Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks.
Dalam reaksi ini, ion MnO4- bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah
menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk
menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sampel. Pada permanganometri,
titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah
diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat
encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus
tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas
kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk
menunjukkan kelebihan pereaksi. Kalium permanganat distandarisasikan dengan
menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar
primer ( Rahayu, 2012)

Sampel air yang digunakan sebanyak 50 ml dimasukkan kedalam masing-


masing erlenmeyer, lalu diberi 3 buah keramik pada masing-masing erlenmeyer
sebagai pengganti batu didih. Digantinya batu didih dengan keramik kecil yang
sudah dipecakan karena unsur yang ada pada keramik sama dengan yang dimiliki
batu didih. Batu keramik digunakan untuk meratakan panas sehingga panas
menjadi homogen keseluruh cairan yang ada pada erlenmeyer dan juga agar cairan
yang dipanaskan tidak melewati titik didih. Pori-pori dalam batu didih akan
membantu penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan
larutan (ini akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu
didih). Tanpa batu didih, maka larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated
pada bagian tertentu, lalu tiba-tiba akan mengeluarkan uap panas yang bisa
menimbulkan letupan/ledakan.

Sampel air yang digunakan sebanyak 50 ml lalu ditambahkan 3 tetes larutan


KMnO4 0.01 N. Pada sampel air sungai hitam Larutan berubah warna menjadi
coklat pudar. Warna larutan berubah menjadi coklat pudar karena penambahan
KMnO4 0.01 N yang berwarna ungu serta sampel yang berwarna coklat, sehingga
warna coklat pudar yang didapat merupakan warna dari KMnO4 itu sendiri serta
warna sampel . pada sampel air PDAM warna larutan berubah menjadi warna
merah muda Warna larutan berubah menjadi merah muda karena penambahan
KMnO4 0.01 N yang berwarna ungu, sehingga warna merah muda yang didapat
merupakan warna dari KMnO4 itu sendiri. Penambahan KMnO4 0.01 N ini
bertujuan unuk mengoksidasi zat organik yang terdapat di dalam air sampel.

Setelah itu ditambahkan asam sulfat 4 N sebanyak 2,5 ml kedalam larutan itu,
penambahan asam sulfat ini berfungsi untuk mereduksi KMnO4. Penambahan
asam sulfat penting supaya reaksi berada dalam suasana asam sehingga MnO4-
tereduksi menjadi Mn2+dan merubah warna sampel air sungai hitam dari
berwarna coklat pudar menjadi sedikit lebih bening dan warna sampel air PDAM
dari berwarna merah muda menjadi bening. Jika larutan dalam keadaan netral
atau sedikit basa maka KMnO4 akan tereduksi menjadi MnO2 berupa endapan
coklat yang akan mempersulit penentuan titik akhir titrasi. Oleh karena itu,
digunakan asam kuat yang dapat mengionisasi sempurna dan dapat berfungsi
untuk menciptakan suasana asam yang stabil, bukan sebagai indikator karena
KMnO4 bersifat autoindikator. Dalam hal ini dipilih asam sulfat (H2SO4) sebagai
pencipta suasana asam yang paling baik dan juga berfungsi mengikat air yang
akan dipanaskan supaya menguap.

Setelah ditambahkan H2SO4 4N dilakukan pemanasan di atas pemanas listrik


pada suhu 105oC. Pemanasan dilakukan untuk mempercepat reaksi permanganat
atau reaksi yang melibatkan KMnO4, karena reaksi permanganat lambat pada
suhu kamar.

Kemudian ditambahkan 10 ml KMnO4 0,01 N, penambahan KMnO4 0,01 N


setalah dipanaskan ini berfungsi untuk mengoksidasi sisa zat organik yang
terdapat dalam air. Dilakukannya pendidihan selama 10 menit yang membuat
kedua larutan dalam erlenmeyer menjedi berwarna ungu pekat dan keruh.
Berdasarkan prinsip penetapan dalam SNI 06-6989.22-2004 zat organik akan
dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dengan prosedur lamanya pendidihan selama 10
menit, sehingga dalam waktu pendidihan selama 5 menit ada kemungkinan zat
organik yang terdapat didalam sampel air masih belum dioksidasi secara
sempurna oleh KMnO4 berlebih dan mengakibatkan hasil yang didapat lebih
rendah dari kadar yang seharusnya. Zat organik dapat dipastikan telah dioksidasi
dengan sempurna oleh KMnO4 berlebih dengan lamanya pendidihan yang telah
sesuai dengan prosedur yang ditetapkan yaitu 10 menit (Haitama, 2016).

Kemudian ditambahkan 10 mL larutan baku asam oksalat 0,01 N. Fungsi dari


penambahan asam oksalat adalah untuk mereduksi sisa KMnO4 0,01 N yang
sebelumnya telah digunakan untuk mereduksi zat organik ke dalam larutan.

Kemudian dititrasi dengan KMnO4 0,01 N, ini menitrasi kelebihan asam


oksalat. Satu tetes kalium permanganat memberikan warna merah muda yang
jelas pada volume dari larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah
titrasi.Warna ini dipergunakan untuk mengidentifikasi kelebihan reaktan tersebut.
Pada praktikum kali ini, penambahan KMnO4 pada sampel air sungai hitam
menghasilkan warna coklat yang sedikit pudar dan pada sampel air PDAM
menghasilkan warna coklat keunguan.

Dari hasil titrasi I pada Erlenmeyer 1 yaitu sampel air sungai hitam diperoleh
volume titran sebanyak 2 ml dan pada titrasi II Erlenmeyer 2 yaitu sampel air
PDAM diperoleh volume titran sebesar 3,3 ml. Setelah dilakukan perhitungan,
nilai permanganat yang didapat dari sampel air Sungai Hitam adalah sebesar
20,856 mg/l dan nilai permanganant dari sampel air PDAM adalah sebesar 12,64
mg/l.

Nilai baku mutu zat organik (KMnO4) yang ditetapkan pada Peraturan
Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 adalah sebesar 10 mg/l. Hal ini
menunjukkan bahwa air sampel Sungai hitam dan air sampel PDAM melebihi
nilai baku mutu air minum, sehingga tidak layak dikonsumsi dan membutuhkan
pengolahan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Volume KMnO4 0,01 N yang digunakan pada titrasi pertama adalah


sebanyak 2 ml.
2. Volume KMnO4 0,01 N yang digunakan pada titrasi kedua adalah
sebanyak 3,3 ml.
3. Nilai permanganat yang didapat dari sampel air Sungai hitam dan sampel
air PDAM riau adalah sebesar 12,64 mg/L dan 20,856 mg/L, artinya
sampel tersebut telah melewati ambang batas baku mutu yang telah
ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 yaitu 10
mg/L.

4.2 Saran

1. Pada saat melakukan percobaan gunakan perlengkapan keselamatan di


laboratorium dengan baik dan benar.
2. Menjaga alat dan bahan dengan baik, agar tidak ada kerusakan dan
kesalahan yang terjadi selama melakukan pratikum.
3. Pada saat pengukuran suhu, termometer tidak boleh menyentuh dasar
beaker glass untuk menghindari kesalahan pada pembacaan suhu.
4. Pratikan hendaknya menutup beaker glass dengan alumunium foil saat
memanaskan larutan KMnO₄ agar cepat mendidih dan larutan KMnO₄
tidak berkurang jumlahnya karena menguap.
DAFTAR PUSTAKA

Hardjadi. 1990. Ilmu Kima Analitik Dasar. Jakarta: PT Gramedia.

Keenan, W dan Charles. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Khopkar. 1985. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Petrucci, R.H. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Rahayu, Nurhayati. 2012. KIMIA. Jakarta: Gagas Media.

Underwood, A. L dan R.A. Day. J. R. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif


edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Vogel. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman
LAMPIRAN I

PERHITUNGAN

1. Titrasi sampel air sungai hitam

Diketahui:

a (volume KMnO4 yang dibutuhkan pada titrasi) = 3,3 ml

b (normalitas KMnO4) = 0,01 N

c (normalitas asam oksalat) = 0,01 N

d (volume sampel air) = 50 ml

Ditanya:

Nilai permanganat (KMnO4)= ……… ?

Penyelesaian :

[ (10−a)b − (10×c) ] 1 × 31,6 × 1000


KMnO4 mg/ l =
d

[ (10−3,3)0,01 − (10×0,01) ] 1 × 31,6 × 1000


=
50

[ (6,7)0,01 − (0,1) ] 1 × 31,6 × 1000


=
50

[0,033] 1 × 31,6 × 1000


=
50

= 20,856 mg/L

2. Titrasi sampel air PDAM Riau

Diketahui:

a (volume KMnO4 yang dibutuhkan pada titrasi) = 2 ml

b (normalitas KMnO4) = 0,01 N


c (normalitas asam oksalat) = 0,01 N

d (volume sampel air) = 50 ml

Ditanya:

Nilai permanganat (KMnO4)= ……… ?

Penyelesaian :

[ (10−a)b − (10×c) ] 1 × 31,6 × 1000


KMnO4 mg/ l =
d

[ (10−2)0,01 − (10×0,01) ] 1 × 31,6 × 1000


=
50

[ (8)0,01 − (0,1) ] 1 × 31,6 × 1000


=
50

[0,02] 1 × 31,6 × 1000


=
50

= 12,64 mg/L
LAMPIRAN II

DOKUMENTASI

NO. GAMBAR KETERANGAN

Pengambilan sampel air pada


1
sungai hitam

Larutan dimasukan kedalam gelas


2
ukur

Larutan sampel air sungai hitam


3 (kiri) dan larutan sampel air
PDAM (kanan)
Larutan sampel diberi pecahan
4
keramik masing-masing 3 buah

Sampel dipanaskan sampai 105


5
derjat celcius

Larutan sampel ditambahkan 10


6
ML larutan KmNO4 0,001N

Sampel dipanaskan kembali


7
selama 10 menit
Sampel setelah dipanaskan
8 terdapat perbedaan dari kedua
sampel

Sampel dititraSi dengan KmNO4


9
0,01N

Hasil dari titrasi, warna berubah


10
menjadi gelap