Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Menurut Mustopadidjaja (2003), pertanggungjawaban merupakan ujung dari


siklus anggaran, setelah perencanaan dan pelaksanaan. Inti dalam pertanggungjawaban
adalah evaluasi, evaluasi kinerja, dan akuntabilitas.

Anggaran adalah pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai


selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dlm ukuran finansial. Anggaran adalah
pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu
yang dinyatakan dalam ukuran finansial.

Anggaran suatu daftar atau pernyataan terperinci tentang rencana penerimaan


dan pengeluaran untuk suatu kegiatan untuk jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun.
Ada budget yang disusun berdasarkan atas tahun kalender yaitu mulai 1 januari dan di
tutup tanggal 31 desember dalam tahun yang bersangkutan.

Anggaran merupakan proses perencanaan yang sangat penting dalam hal


keuangan, karena anggaran akan menjadi pedoman dalam mengelola keuangan
negara/daerah pada suatu periode ke depan.

Tanggungjawab keuangan negara adalah kewajiban pemerintah untuk


melaksanakan pengelolaan kegiatan keuangan negara secara tertib, efektif, dan
transparan, dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Salah satu upaya kongkrit untuk mewujudkan transparansi pengelolaan


keuangan negara adalah penyampaian dengan pertanggungjawaban keuangan pemerintah
yang mewujudkan prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikutti standar
akuntasi pemerintah yang telah diterima secara umum.

Dalam UU di tetapkan bahwa laporan pertanggugjawaban pelaksanaan APBN


disampaikan berupa laporan yang setidak tidaknya terdiri dari laporan
realisasi,neraca,laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan yang disusun sesuai
dengan standar akuntasi pemerintah laporan keuangan pemerintah pusat dan telah

1
diperiksa oleh badan pemeriksa keuangan harus kepadaDPR selambat lambat nya 6
bulan setelah berakhirnya tahun anggaranyang yang bersangkutan demikian pulalaporan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa teori pertanggungjawaban?


2. Apa teori anggaran?
3. Bagaimana pertanggungjawaban APBN ?
4. Bagaimana praktik pertanggungjawaban APBN?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui teori petanggungjawaban.


2. Untuk mengetahui teori anggaran.
3. Untuk mengetahui pertanggungjawabn APBN.
4. Untuk megetahui paktik pertanggungjawabn APBN.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Pertanggungjawaban

Menurut Mustopadidjaja (2003), pertanggungjawaban merupakan ujung dari


siklus anggaran, setelah perencanaan dan pelaksanaan. Inti dalam pertanggungjawaban
adalah evaluasi, evaluasi kinerja, dan akuntabilitas. Dalam mempertanggungjawabkan
keuangan Negara yang dipercayakan Rakyat, Pemerintah menggunakan Laporan
Keuangan sebagai alat pertanggung jawaban. Informasi yang terkandung dalam Laporan
Keuangan yang dibuat Pemerintah dipergunakan untuk kepentingan masyarakat umum,
wakil rakyat, serta Pemerintah sendiri.

2.1 Teori Anggaran

 . Defenisi anggaran atau budget menurut Munandar (2001:3) adalah “suatu


rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan
perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku dalam
jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.” Anggaran merupakan alat
untuk merencanakan dan mengendalikan keuangan perusahaan dalam
penyusunannya dilakukan secara periodik.
 Pengertian lain dari anggaran menurut Nafarin (2007:11) menyatakan bahwa
“Anggaran adalah suatu rencana kuantitatif (satuan jumlah) periodik yang
disusun berdasarkan program yang telah disahkan.” Anggaran (budget)
merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan
secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam
satuan uang, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan barang/jasa.
 Sedangkan menurut Garrison dan Noreen (2007:402) mendefenisikan anggaran
sebagai berikut : “Anggaran adalah rencana rinci tentang perolehan dan
penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya untuk suatu periode
tertentu”.

3
2.3 Pertanggungjawaban APBN

Pertanggungjawaban keuangan negara sebagai upaya konkrit untuk


mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara. Sebagaimana
diamanatkan dalam UUD 1945 bahwa Presiden memegang kekuasaan Pemerintahan
menurut Undang-Undang Dasar. Dalam melaksanakan tugas kepemerintahannya,
Presiden (dalam hal ini Pemerintah) memerlukan dana untuk pembiayaannya dalam
bentuk APBN. Pada hakekatnya APBN tersebut merupakan mandat yang diberikan oleh
DPR RI kepada Pemerintah untuk melakukan penerimaan pendapatan negara dan
menggunakan penerimaan tersebut untuk membiayai pengeluaran dalam melaksanakan
kepemerintahannya mencapai tujuan-tujuan tertentu dan dalam batas jumlah yang
ditetapkan dalam suatu tahun anggaran tertentu. APBN ditetapkan tiap-tiap tahun dengan
Undang-Undang dan setiap Undang-Undang menghendaki persetujuan bersama DPR RI
dengan Presiden. Sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, Pemerintah
berkewajiban memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN yang telah
disetujui oleh DPR (pasal 30 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan
ketentuan dalam setiap Undang-Undang APBN).

Mandat yang diberikan oleh DPR itu harus dipertanggungjawabkan. Sebelum


terbitnya Undang-Undang No.17 tahun 2003, pertanggungjawaban atas pelaksanaan
APBN diwujudkan dalam bentuk Perhitungan Anggaran Negara (PAN). Dalam
menyusun PAN ini, Menteri Keuangan ditugasi untuk Mempersiapkan PAN berdasarkan
laporan keuangan departemen-lembaga. Hal ini mengacu pada pasal 69 ICW yang
menyatakan bahwa Pemerintah membuat suatu Perhitungan Anggaran dengan
menyebutkan tanggal penutupannya. Setelah terbitnya Undang-Undang No.17 tahun
2003 pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN berubah dari PAN menjadi Laporan
Keuangan. Laporan Keuangan ini disusun dengan menggunakan standar akuntansi
pemerintahan yang mengacu pada international public sector accounting standard
(IPSAS).

4
 Landasan Hukum

Sesuai dengan pasal 30 UU nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan ketentuan dalam Undang-Undang APBN tahun anggaran bersangkutan, Presiden
berkewajiban untuk menyampaikan rancangan undang-undang tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN berupa Laporan Keuangan.

Batas waktu penyampaian Laporan Keuangan kepada DPR tidaklah sama dari
suatu tahun anggaran dibandingkan dengan tahun anggaran lainnya. Misalnya dalam
tahun anggaran 2004 batas waktu penyampaian Laporan Keuangan adalah 9 bulan, mulai
tahun anggaran 2005 batas waktunya diperpendek menjadi 6 bulan.

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban keuangan


dari Pemerintah atas pelaksanaan APBN, selain yang disebut di atas, diatur juga dalam
pasal 23 ayat 5 UUD’45, pasal 55 ayat 1 Undang-Undang No. 1 tahun 2004 dan pasal 2
ayat 1 Undang- Undang No.15 tahun 2004.

 Prosedur Penyusunan Ruu Pertanggung Jawaban Pelaksanaan

APBN Sebagaimana telah dinyatakan di atas bahwa sesuai pasal 55 dari


Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Menteri Keuangan
selaku Pengelola Fiskal bertugas menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat untuk
disampaikan kepada Presiden dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan
APBN. Sebelumnya Menteri/Pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna
Barang Menteri Keuangan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan
Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan yang dilampiri laporan
keuangan Badan Layanan Umum pada kementerian negara/lembaga masing-masing
kepada Menteri Keuangan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran
berakhir. Sebagai entitas pelaporan, laporan keuangan kementerian Negara/lembaga
tersebut sebelumnya telah diperiksa BPK dan diberi opini atas laporan keuangan.

Oleh Menteri Keuangan laporan-laporan atas pertanggungjawaban pengguna


anggaran/pengguna barang tersebut dikonsolidasikan menjadi Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat sebagai bagian pokok dari RUU tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN yang akan disampaikan Presiden kepada DPR. DPR melalui alat

5
kelengkapannya yaitu komisi akan membahas RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan
APBN dengan pihak pemerintah. Pembahasan dilakukan dengan memperhatikan hasil
pemeriksaan semester dan opini BPK. Berdasar hasil pembahasan tersebut, DPR
memberikan persetujuannya dan menyampaikan persetujuan atas RUU tersebut kepada
Pemerintah untuk diundangkan.

Bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN disusun dan


disajikan sesuai standar akuntansi pemerintah sebagaimana ditentukan dalam Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) yang disusun oleh suatu komite yang independen,
yaitu Komite Standar Akuntansi Pusat dan Daerah, dan ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari Badan Pemeriksa
Keuangan. Saat ini telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
tentang Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP).

Tujuan Laporan Keuangan, sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010, adalah


untuk menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai
akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik
dengan :

 menyediakan informasi tentang sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya


keuangan
 menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk
membiayai seluruh pengeluaran
 menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan
dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai.
 menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh
kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya
 menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan
berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun
jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman
 menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan,
apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang
dilakukan selama periode pelaporan.

6
Menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, komponen pokok yang terdapat dalam
Laporan Keuangan Pemerintah adalah sebagai berikut :

 Laporan Realisasi APBN


Laporan realisasi APBN mengungkap berbagai kegiatan keuangan pemerintah
untuk satu periode yang menunjukkan ketaatan terhadap ketentuan perundang-
undangan melalui penyajian ikhtisar sumber, alokasi dan penggunaan sumber
daya yang dikelolanya. Laporan realisasi anggaran akan memberikan informasi
mengenai keseimbangan antara anggaran pendapatan, anggaran belanja dan
pembiayaan dengan realisasinya. Unsur yang dicakup secara langsung dalam
Laporan Realisasi Anggaran, terdiri dari Pendapatan (LRA), Belanja, Transfer,
dan Pembiayaan (financing). Selain itu juga disertai informasi tambahan yang
berisi hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran seperti kebijakan fiscal
dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran
dan realisasinya, dan daftar yang memuat rincian lebih lanjut mengenai angka-
angka yang dianggap perlu untuk dijelaskan
 Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan perubahan saldo anggaran lebih menyajikan informasi kenaikan atau
penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
 Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai asset
baik lancar maupun tidak lancar, kewajiban jangka pendek maupun kewajiban
jangka panjang, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Neraca tingkat
Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi dari neraca tingkat
Kementerian/Lembaga. Dalam neraca tersebut harus diungkapkan semua pos
asset dan kewajiban yang didalamnya termasuk jumlah yang diharapkan akan
diterima dan dibayar dalam jangka waktu dua belas bulan setelah tanggal
pelaporan dan jumlah uang yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam
waktu dua belas bulan.
 Laporan Operasional
Laporan operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah
ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/ daerah untuk
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan. Unsur

7
yang dicakup secara langsung dalam Laporan Operasional, terdiri dari
Pendapatan (LO), Beban, Transfer, dan Pos-pos Luar Biasa.
 Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas
operasional, investasi aset non keuangan, dana cadangan, pembiayaan, dan
transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan,
pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah selama periode tertentu. Laporan
arus kas ditujukan untuk memberikan informasi mengenai arus masuk dan ke
keluar kas dari pemerintah dalam suatu periode laporan. Laporan Arus Kas
diperlukan untuk memberi informasi kepada para pengguna laporan untuk
menilai pengaruh dari aktivitas-aktivitas tersebut terhadap posisi kas pemerintah.
Disamping itu, informasi tersebut juga dapat digunakan untuk mengevaluasi
hubungan antara aktivitas operasi, investasi, pembiayaan, dan non anggaran.
 Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan
ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 Catatan Atas Laporan Keuanga
Catatan Atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari
angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan Laporan
Perubahan Ekuitas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi
tentang kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pelaporan dan informasi
lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

 Perjalanan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (Lkpp)


 Laporan keuangan Pemerintah Pusat tahun 2004 – 2008 diberikan opini
Disclaimer oleh BPK. Ada permasalahan yang menyebabkan LKPP diberikan
opini Disclaimer antara lain :
 Pembatasan lingkup pemeriksaan BPK dalam bidang perpajakan dan biaya
perkara di Mahkamah Agung.

8
 Pelaksanaan sistem akuntansi yang belum sempurna sehingga berdampak pada
angka-angka yang disajikan pada LKPP.
 Pengelolaan dan pelaporan rekening Pemerintah dan BMN yang belum
memadai.
 Penyimpangan terhadap penerapan ketentuan keuangan Negara seperti adanya
PNBP di KL yang tanpa didukung oleh peraturan pemerintah dan penggunaan
langsung atas PNBP tanpa melaporkannya dalam laporan realisasi anggaran.
 Ketidaktaatan dalam pengeluaran anggaran dan pengeluaran negara yang
belum jelas pertanggungjawabannya, terutama untuk dana dekonsentrasi dan
tugas pembantuan

Berbagai upaya perbaikan terus dilakukan antara lain dengan :

 Penyempurnaan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan beserta aplikasinya


dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 171 Tahun
2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
 Sosialisasi, pembinaan, dan bimbingan teknis mengenai sistem akuntansi pada
seluruh KL dan satker-satker yang bersangkutan.
 Pelaksanaan penertiban rekening pemerintah pada seluruh KL, dengan
menyusun pedoman tentang Pengelolaan Rekening Pemerintah dan
membentuk Tim Penertiban Rekening Pemerintah.
 Pelaksanaan penertiban BMN, yang meliputi inventarisasi, penilaian, dan
sertifikasi BMN pada seluruh KL. Sampai dengan akhir tahun 2008 telah
selesai lebih dari 50% dari total seluruh satker.
 Penyelenggaraan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah
dalam rangka peningkatan kualitas SDM di bidang akuntansi dan pelaporan
keuangan di seluruh KL. Pada tahun 2008 telah dilatih sebanyak 7.181
pegawai.
 Inventarisasi PNBP pada seluruh KL, menetapkannya dalam PP tentang Jenis
dan Tarif PNBP, dan melakukan sosialisasi pada seluruh KL tentang
pengelolaan PNBP.
 Penyusunan peraturan mengenai pertanggungjawaban dana dekonsentrasi/
tugas pembantuan, termasuk penerapan sanksi yang tegas.

9
2.4 Prktik Pertanggung Jawaban APBN

Pelaporan dan Pertanggungjawaban Anggaran

Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang


menyusun pertanggungjawaban pelaksanaan APBN di lingkungan kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya berupa Laporan Keuangan yang meliputi Laporan
Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) yang
dilampiri Laporan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) pada kementerian
negara/lembaga masing-masing. Laporan Keuangan kementerian negara/lembaga oleh
menteri/pimpinan lembaga disampaikan kepada Menteri Keuangan selambat-lambatnya
dua bulan setelah tahun anggaran berakhir. Kemudian Menteri Keuangan menyusun
rekapitulasi laporan keuangan seluruh instansi kementerian negara. Menteri Keuangan
selaku Bendahara Umum Negara juga menyusun Laporan Arus Kas. Selain itu, Menteri
Keuangan sebagai wakil Pemerintah Pusat dalam kepemilikan kekayaan negara yang
dipisahkan menyusun ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara. Semua laporan
keuangan tersebut disusun oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagai wujud
laporan keuangan pemerintah pusat disampaikan kepada Presiden dalam memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Presiden menyampaikan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Audit atas laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan selambat-lambatnya dua
bulan setelah laporan keuangan tersebut diterima oleh BPK dari Pemerintah.

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 30


menyebutkan bahwa Presiden menyampaikan Rancangan Undang-undang tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang
telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, selambat-lambatnya enam bulan setelah
tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-tidaknya meliputi
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan, serta dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan
lainnya. Mengenai bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN
disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah.

10
 Struktur APBN

APBN terdiri dari sektor pendapatan negara dan belanja negara.

Anggaran Pendapatan Negara terdiri dari :

 Produk Domestik BrutoAdalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan
seluruh masyarakat di suatu negara selama satu tahun, termasuk barang dan jasa
yang dihasilkan warga negara asing yang ada di wilayah negara tersebut.
 Produk Nasional BrutoAdalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan
masyarakat suatu negara selama satu tahun, termasuk barang dan jasa yang
dihasilkan masyarakat negara tersebut yang berada di Negara lain.
 Produk Nasional NetoAdalah jumlah nilai barang dan jasa yang diperoleh dengan
cara mengurangi GNP dengan penyusutan (depresiasi).
 Pendapatan Nasional NetoAdalah jumlah seluruh pendapatan yang diterima
masyarakat sebagai balas jasa faktor produksi selama satu tahun setelah dikurangi
pajak tidak langsung (indirect tax).
 Pendapatan PerseoranganAdalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap
orang dalam masyarakat.
 Pendapatan Bebas
adalah pendapatan yang sudah menjadi hak mutlak bagi penerimanya. Jadi,
pendapatan bebas adalah pendapatan yang sudah siap untuk dibelanjakan.

 Anggaran Belanja Negara terdiri dari :


 Belanja Pemerintah Pusat
Adalah belanja yang digunakan untuk kegiatan pembangunan pemerintah pusat yang
dilaksanakan baik di pusat maupun di daerah. Belanja ini terdiri dari : belanja
pegawai, belanja barang, subsidi BBM, subsidi non BBM, belanja hibah dan lain-lain.
 Belanja Pemerintah Daerah
Adalah belanja yang digunakan untuk kegiatan pembangunan daerah yang kemudian
akan masuk dalam APBD daerah yang bersangkutan. Belanja daerah terdiri dari :
a. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai

11
kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dana Bagi Hasil
bersumber dari pajak dan sumber daya alam.
b. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber
dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam
rangka pelaksanaan Desentralisasi.
c. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber
dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan
tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan
Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
d. Dana Otonomi khusus seperti untuk Aceh dan Papua. Dana Penyesuaian dan
Dana Otonomi Khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai
pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah, sebagaimana ditetapkan dalam
undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi
Papua, dan penyesuaian Otonomi Khusus bagi Provinsi yang menerima DAU
lebih kecil dari tahun anggaran sebelumnya.

Pelaporan dan Pencatatan APBN

Bersamaan dengan tahapan pelaksanaan APBN, K/L dan Bendahara Umum


Negara melakukan pelaporan dan pencatatan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP) sehingga menghasilkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) yang terdiri atas Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus
Kas (LAK), dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Laporan Keuangan
kementerian negara/lembaga yang disusun oleh menteri/pimpinan lembaga
disampaikan kepada Menteri Keuangan selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun
anggaran berakhir. Kemudian Menteri Keuangan menyusun rekapitulasi laporan
keuangan seluruh instansi kementerian negara. Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara juga menyusun Laporan Arus Kas. Semua laporan keuangan tersebut
disusun oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagai wujud laporan
keuangan pemerintah pusat disampaikan kepada Presiden dalam memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Presiden menyampaikan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran

12
berakhir. Audit atas laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan selambat-
lambatnya dua bulan setelah laporan keuangan tersebut diterima oleh BPK dari
Pemerintah. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal
30 menyebutkan bahwa Presiden menyampaikan Rancangan Undang-undang tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang
telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, selambat-lambatnya enam bulan
setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat setidak-
tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan
Catatan atas Laporan Keuangan, serta dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan
negara dan badan lainnya. Mengenai bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah.

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003


tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2015 tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016, sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2016, Pemerintah
menyampaikan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) berupa laporan keuangan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR). Untuk melaksanakan amanat tersebut, dengan memanjatkan puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami atas nama Pemerintah Republik
Indonesia menyajikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun
2016.LKPP Tahun 2016 merupakan LKPP yang disusun berdasarkan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang berbasis akrual sesuai dengan Lampiran I
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan. Laporan keuangan ini terdiri dari 7 (tujuh) laporan, yaitu: (a) Laporan
Realisasi APBN ; (b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih; (c) Neraca; (d)
Laporan Operasional; (e) Laporan Arus Kas; (f) Laporan Perubahan Ekuitas; dan
(g) Catatan atas Laporan Keuangan.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan


Negara, sebelum disampaikan kepada DPR, LKPP Tahun 2016 disampaikan terlebih
dahulu kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diauditpaling lambat 3
(tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. LKPP Tahun 2016 yang kami
sajikan ini berstatus sebagai laporan keuangan yang telah diperiksa (Audited).

13
Sehubungan dengan penyajian LKPP Tahun 2016 ini, perlu kami kemukakan hal-hal
sebagai berikut:

1. Laporan Realisasi APBN memberikan informasi tentang realisasi


pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Berdasarkan laporan ini, realisasi
Pendapatan Negara dan Hibah untuk tahun yang berakhir sampai dengan 31
Desember 2016 adalah sebesar Rp1.555,93 triliun, atau 87,11 persen dari yang
ditetapkan dalam APBN-PTA 2016. Sementara itu, realisasi Belanja Negara adalah
sebesar Rp1.864,27 triliun, atau 89,50 persen dari yang dianggarkan dalam
APBN-P TA 2016, sehingga terjadi Defisit Anggaran sebesar Rp308,34 triliun.
Realisasi Pembiayaan Neto adalah sebesar Rp334,50 triliun, dan Sisa Lebih
Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp26,16 triliun.
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasi kenaikan atau
penurunan Saldo Anggaran Lebih(SAL) selama tahun 2016. Berdasarkan laporan
tersebut, SAL awal tahun 2016 adalah sebesar Rp107,91 triliun, Penyesuaian SAL
awal sebesar Rp354,73 miliar, penggunaan SAL pada tahun 2016 adalah
sebesar Rp19,01 triliun, SiLPA selama Tahun 2016 adalah Rp26,16 triliun,
kemudian dikurangi Penyesuaian SAL sebesar Rp2,22 triliun, sehingga saldo akhir
SAL adalah Rp113,19 triliun.
3. Neraca menyajikan informasi tentang posisi aset, kewajiban, dan ekuitas
Pemerintah Pusat per 31 Desember2016. Neraca tersebut menginformasikan
bahwa nilai Aset adalah sebesar Rp5.456,88 triliun dan Kewajiban sebesar
Rp3.889,94 triliun, sehingga Ekuitas Pemerintah Per 31 Desember 2016 adalah
sebesar Rp1.566,93triliun;
4. Laporan Operasional (LO) menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang
menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh Pemerintah untuk
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. Laporan Operasional tersebut
menginformasikan bahwa Pendapatan-LO dari Kegiatan Operasional untuk
Tahun 2016 adalah sebesar Rp1.664,65 triliun, dan Beban dari Kegiatan
Operasional adalah sebesar Rp1.872,33 triliun. Di samping itu terdapat
surplus dari Kegiatan Non Operasional sebesar Rp67,95 triliun. Berdasarkan
data di tas, defisit LO adalah sebesar Rp139,72 triliun. Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat Tahun2016(Audited)

14
5. Laporan Arus Kas menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas
dari Kas Umum Negara untuk tahun yang berakhir sampai dengan 31
Desember 2016. Laporan Arus Kas tersebut menginformasikan bahwa saldo
awal Kas Bendahara Umum Negara (BUN), Kas Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN), dan Kas Badan Layanan Umum (BLU)
sebesar Rp192,28 triliun, penyesuaian saldo awal sebesar minus Rp4,52 triliun,
sehingga saldo kas BUN, KPPN dan BLU setelah penyesuaian adalah sebesar
Rp187,76 triliun. Kenaikan Kas sepanjang tahun 2016 adalah sebesar Rp7,16
triliun, dikurangi penggunaan SAL pada tahun 2016 sebesar Rp19,01 triliun,
ditambah dengan penyesuaian pembukuan sebesar minus Rp1,84 triliun sehingga
penurunan kas setelah penyesuaian adalah Rp13,68 triliun. Total Saldo Akhir
Kas BUN, KPPN ,dan BLU adalah sebesar Rp174, 07 triliun, ditambah Kas
di Bendahara Pengeluaran Rp262,94 miliar, Kas di Bendahara Penerimaan
Rp134,04 miliar, Kas Lainnya dan Setara Kas Rp3,18 triliun, ditambah Kas
BLU yang belum disahkan Rp6,32miliar dan dikurangi Kas pada BLU yang
telah Didepositokan Rp3,92 triliun, sehingga saldo akhir Kas dan Setara Kas
adalah Rp173,73triliun.
6. Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan
ekuitas selama 1 (satu) tahun. Laporan Perubahan Ekuitas tersebut
menginformasikan bahwa ekuitas awal tahun 2016 adalah Rp1.669,79 triliun,
perubahan ekuitas selama Tahun 2016 terdiri dari penyesuaian ekuitas awal sebesar
minus Rp1,53 triliun, Defisit-LO sebesar Rp139,72 triliun, Koreksi-Koreksi
Yang Langsung Menambah/mengurangi ekuitas sebesar Rp37,07 triliun,
Transaksi Antar Entitas sebesar minus Rp72,40 miliar, Reklasifikasi
Kewajiban ke Ekuitas Sebesar Rp1,39 triliun, sehingga Ekuitas Akhir adalah
sebesar Rp1.566,93 triliun.
7. Catatan atas Laporan Keuangan disajikan dengan maksud agar pengguna
laporan keuangan dapat memperoleh informasi yang memadai tentang hal-hal
yang termuat dalam laporan keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi
uraian tentang kebijakan fiskal, kebijakan akuntansi, dan penjelasan pos-pos
laporan keuangan, daftar rinci atau uraian atas nilai pos yang disajikan dalam
Laporan Realisasi APBN, Laporan Perubahan SAL, Neraca,Laporan Operasional,
Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan Ekuitas.

15
Pemerintah akan terus berupaya meningkatkan kualitas LKPP dan
pengelolaan keuangan negara, dengan melakukan perbaikan, antara lain:

1. Meningkatkan kualitas Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara


dan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang masih
mendapat opini audit “Wajar Dengan Pengecualian” atau “Tidak
Menyatakan Pendapat”.
2. Melanjutkan program pelatihan akuntansi dan pelaporan keuangan dalam
rangka peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi pegawai di
kementerian negara/lembaga.

3. Melaksanakan pembinaan secara intensif terkait Implementasi Akuntansi


Pemerintahan Berbasis Akrual pada seluruh instansi Pemerintah Pusat.
4. Mengimplementasikan single database dalam penyusunan LKKL melalui
Aplikasi E-Rekon-LK untuk meminimalkan terjadinya suspen.
5. Menindaklanjuti rekomendasi BPK dengan menyusun action plan yang
dilengkapi dengan time line penyelesaian yang jelas, melakukan
pembahasan dengan BPK, serta menyampaikan monitoring tindak lanjut
secara periodik.
6. Menerapkan dan menyusun statistik keuangan pemerintah (Government
Finance Statistics) yang mengacu pada Manual Statistik Keuangan
Pemerintah sehingga dapat menyajikan konsolidasian fiskal dan statistik
keuangan pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan analisis kebijakan
dan kondisi fiskal, serta analisis perbandingan antarnegara.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpilan

Menurut Mustopadidjaja (2003), pertanggungjawaban merupakan ujung dari


siklus anggaran, setelah perencanaan dan pelaksanaan. Inti dalam pertanggungjawaban
adalah evaluasi, evaluasi kinerja, dan akuntabilitas.

Anggaran adalah pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai


selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dlm ukuran finansial. Anggaran adalah
pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu
yang dinyatakan dalam ukuran finansial.

Pertanggungjawaban keuangan negara sebagai upaya konkrit untuk


mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara. Sebagaimana
diamanatkan dalam UUD 1945 bahwa Presiden memegang kekuasaan Pemerintahan
menurut Undang-Undang Dasar. Dalam melaksanakan tugas kepemerintahannya,
Presiden (dalam hal ini Pemerintah) memerlukan dana untuk pembiayaannya dalam
bentuk APBN. Pada hakekatnya APBN tersebut merupakan mandat yang diberikan oleh
DPR RI kepada Pemerintah untuk melakukan penerimaan pendapatan negara dan
menggunakan penerimaan tersebut untuk membiayai pengeluaran dalam melaksanakan
kepemerintahannya mencapai tujuan-tujuan tertentu dan dalam batas jumlah yang
ditetapkan dalam suatu tahun anggaran tertentu. APBN ditetapkan tiap-tiap tahun dengan
Undang-Undang dan setiap Undang-Undang menghendaki persetujuan bersama DPR RI
dengan Presiden. Sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, Pemerintah
berkewajiban memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN yang telah
disetujui oleh DPR (pasal 30 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan
ketentuan dalam setiap Undang-Undang APBN).

17
DAFTAR PUSTAKA

http://www.djpbn.kemenkeu.go.id/portal/id/pelaporan-dan-pencatatan-apbn.html
https://ramaputra.wordpress.com/tag/laporan-pertanggungjawaban-pelaksanaan-apbn/

http://www.djpbn.kemenkeu.go.id/portal/id/data-publikasi/publikasi-cetak/laporan-keuangan-
pemerintah-pusat-lkpp.html

18