Anda di halaman 1dari 21

Konduksi Bidang Datar

Oleh :
Kelompok 6
1. Amanda Nugraeni Putri 10411700000025
2. Seren Fegrita Septia karya 10411700000049
3. Ananda Ielza Zuchkruev 10411700000063
4. Muhammad Firman Effendy 10411700000095

Departemen Teknik Kimia Industri


Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2018

1
Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, dan hidahyah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Makalah “Konduksi
Bidang Datar” dengan baik.
Makalah ini diharapkan mampu membantu kami dalam memperdalam mata kuliah
perpindahan panas dan massa. Selain itu, diharapkan dapat menjadi bacaan para pembaca
supaya nantinya berdampak positif bagi kehidupan dengan baik dan bermanfaat menambah
ilmu kepada semuanya.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada para pembaca. Semoga dapat bermanfaat
khususnya bagi kami dan para pembaca.

Surabaya, 18 Maret 2018

Penulis

2
Daftar Isi

Judul ........................................................................................................................... 1
Kata Pengantar ........................................................................................................... 2
Daftar Isi .................................................................................................................... 3

Bab I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang ............................................................................................ 4
I.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
I.3 Tujuan ......................................................................................................... 5
Bab II Pembahasan
II.1 Pengertian Perpindahan Panas ................................................................... 6
II.2 Cara Perpindahan Panas............................................................................. 9
II.3 Hukum-Hukum Dasar Perpindahan Panas ................................................ 10
II.4 Pengertian Konduksi .................................................................................. 15
II.5 Penerapan Konduksi Pada Bidang Datar ................................................... 17
II.6 Menentukan Konduksi Keadaan Tunak Satu Dimensi .............................. 18
II.7 Cara Menentukan Laju Kalor Konduksi Tunak
Pada Sistem Dengan Sumber Kalor .......................................................... 19
Bab III Penutup
III.1 Kesimpulan ............................................................................................... 20
III.2 Saran ......................................................................................................... 20
Daftar Pustaka ............................................................................................................ 21

3
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Keberadaan oven microwave semakin mudah ditemui di rumah-rumah, apalagi
harga microwave sudah terjangkau. Memasak memakai oven microwave menjadi pilihan
karena gampang digunakan dan hemat energi. Namun, banyak yang tidak menyadari bahaya
yang dapat ditimbulkan oleh oven microwave bagi kesehatan Anda. Bahaya tersebut timbul
karena makanan yang dipanaskan dengan menggunakan microwave akan kehilangan
kandungan nutrisi dan vitamin B-12. Karsinogen penyebab kanker juga dapat timbul pada
makanan. Untuk mengetahui penyebab dari sejumlah bahaya yang timbul tersebut, perlu
dilakukan peninjauan terhadapperpindahan panas secara konduksi yang terjadi pada
makanan yang dipanaskan menggunakan microwave, baik dalam keadaan tunak maupun
tak tunak. Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan perpindahan
energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau material. Dari
termodinamika telah kita ketahui bahwa energi yang pindah itu dinamakan kalor atau panas
(heat). Ilmu perpindahan kalor tidak hanya mencoba menjelaskan bagaimana energi kalor
itu berpindah dari suatu benda ke benda lain, tetapi juga dapat meramalkan laju perpindahan
yang terjadi pada kondisi-kondisi tertentu.

I.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang terjadi diatas, dapat diperoleh rumusan masalah seperti
dibawah ini, yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan perpindahan panas?
2. Bagaimana cara perpindahan panas?
3. Apa hukum-hukum dasar perpindahan panas?
4. Apa yang dimaksud dengan konduksi?
5. Apa penerapan konduksi pada bidang datar?
6. Bagaimana cara menentukan konduksi keadaan tunak satu dimensi?
7. Bagaimana cara menentukan laju kalor konduksi tunak pada sistem dengan sumber
kalor?

4
I.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah perpindahan
panas dan massa, adalah :
1. Untuk mengetahui perpindahan panas
2. Untuk mengetahui cara perpindahan panas
3. Untuk mengetahui hokum-hukum dasar perpindahan panas
4. Untuk mengetahui arti konduksi
5. Untuk mengetahui penerapan konduksi pada bidang datar
6. Untuk mengetahui cara menentukan konduksi kedaaan tunak satu dimensi
7. Untuk mengetahui cara menentukan laju kalor konduksi tunak pada sistem dengan
sumber kalor

5
BAB II
DASAR TEORI

II.1 Perpindahan Panas


Perpindahan panas ialah ilmu untuk meramalkan perpindahan energi yang terjadi
karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau material. Dari termodinamika telah
kita ketahui bahwa energi yang pindah itu dinamakan kalor atau panas (heat). Ilmu
perpindahan kalor tidak hanya mencoba menjelaskan bagaimana energi kalor itu berpindah
dari suatu benda ke benda lain, tetapi juga dapat meramalkan laju perpindahan yang terjadi
pada kondisi-kondisi tertentu. Kenyataan di sini yang menjadi sasaran analisis ialah
masalah laju perpindahan, inilah yang membedakan ilmu perpindahan kalor dari ilmu
termodinamika.
Termodinamika membahas sistem dalam keseimbangan, ilmu ini dapat digunakan
untuk meramal energi yang diperlukan untuk mengubah sistem dari suatu keadaan
seimbang ke keadaan seimbang lain, tetapi tidak dapat meramalkan kecepatan perpindahan
itu. Hal ini disebabkan karena pada waktu proses perpindahan itu berlangsung, sistem tidak
berada dalam keadaan seimbang. Ilmu perpindahan kalor melengkapi hukum pertama dan
kedua termodinamika, yaitu dengan memberikan beberapa kaidah percobaan yang dapat
dimanfaatkan untuk menentukan perpindahan energi. Sebagaimana juga dalam ilmu
termodinamika, kaidah-kaidah percobaan yang digunakan dalam masalah perpindahan
kalor cukup sederhana, dan dapat dengan mudah dikembangkan sehingga mencakup
berbagai ragam situasi praktis (Holman,1983).
Ada tiga macam perpindahan panas, yaitu perpindahan panas radiasi, perpindahan
panas konduksi dan perpindahan panas secara konveksi. Perpindahan panas radiasi adalah
perpindahan tenaga oleh penjalaran (rambatan) foton yang tak terorganisir. Setiap benda
yang terus memancarkan foton-foton secara serampangan di dalam arah dan waktu, dan
tenaga netto yang dipindahkan oleh foton-foton ini diperhitungkan sebagai kalor. Bila
foton-foton ini berada di dalam jangkauan panjang gelombang 0,38 sampai 0,76 µm, maka
foton-foton tersebut mempengaruhi mata kita sebagai sinar cahaya yang tampak (dapat
dilihat). Bertentangan dengan itu, maka setiap tenaga foton yang terorganisir, seperti
transmissi radio, dapat diidentifikasikan secara mikroskopik dan tak dipandang sebagai
kalor (Reynold dan Perkins, 1983).

6
Bila foton-foton yang diradiasikan mencapai permukaan lain, maka fotonfoton
tersebut baik diserap, direfleksikan, maupun diteruskan melalui permukaan tersebut. Tiga
sifat-sifat permukaan yang mengukur kuantitaskuantitas ini adalah:
a. α absorptivitas, bagian radiasi yang masuk yang diserap
b. ρ reflektivitas, bagian radiasi yang masuk yang direfleksikan
c. ᴛ transmittivitas, bagian radiasi yang masuk yang ditransmisikan
Dari pertimbangan-pertimbangan tenaga maka,

Tenaga yang direfleksikan tersebut dapat merupakan difusi (diffuse), dimana


refleksi tak bergantung dari sudut radiasi yang masuk, maupun merupakan spekular
(specular), di mana sudut refleksi menyamai sudut masuk. Kebanyakan permukaan teknik
menunjukkan kombinasi kedua jenis refleksi tersebut.
Fluks radiasi tenaga [ Btu/(h.kaki2) ] dari sebuah permukaan didefinisikan sebagai
daya pancar (emissive power) E. Pertimbangan termodinamika memperlihatkan bahwa E
adalah sebanding dengan pangkat 4 dari temperature absolute.
Untuk sebuah benda dengan α = 1, ρ = ᴛ = 0 ( sebuah benda hitam),

Ciri khas pertukaran enegi radiasi yang penting lagi adalah sifatnya yang menyebar
secara merata ke segala arah. Karena itu hubungan geometric antara kedua permukaan
akan mempengaruhi pertukaran energi radiasinya. Hubungan geometri dapat diterangkan
dan dihitung dengan memperhatikan faktor bentuk FA (Reynold dan Perkins, 1983).
Perpindahan panas konveksi bila sebuah fluida lewat di atas sebuah permukaan
padat panas, maka tenaga dipindahkan kepada fluida dari dinding oleh panas hantaran.
Tenaga ini kemudian diangkut atau dikonveksikan (convected), ke hilir oleh fluida, dan
didifusikan melalui fluida oleh hantaran di dalam fluida tersebut. Jenis proses perpindahan
tenaga ini dinamakan perpindahan tenaga konveksi (convection heat transfer) (Stoecker
dan Jones, 1982) .

7
Jika proses aliran fluida tersebut diinduksikan oleh sebuah pompa atau sistem
pengedar (circulating system) yang lain, maka digunakan istilah konveksi yang dipaksakan
(forced convection). Bertentangan dengan itu, jika aliran fluida timbul karena daya apung
fluida yang disebabkan oleh pemanasan, maka proses tersebut dinamakan konveksi bebas
(free) atau konveksi alami (natural). Persamaan dasar untuk menghitung laju perpindahan
panas konveksi yaitu,

Dimana : q = Laju perpindahan panas (W)


h = Koefisien perpindahan panas konveksi (W/ m2.K)
A = Luas Penampang ( m2)
Tw = Temperatur Dinding (0C)
Tf = Temperatur Fluida (0C)
Banyak parameter yang mempengaruhi perpindahan kalor konveksi di dalam
sebuah geometri khusus. Parameter-parameter ini termasuk skala panjang sistem (L),
konduktivitas termal fluida (k), biasanya kecepatan fluida (V), kerapatan (􀁧), viskositas
(􀁧), panas jenis (Cp), dan kadang-kadang faktor lain yang berhubungan dengan cara-cara
pemanasan (temperatur dinding uniform atau temperatur dinding berubah-ubah). Fluks
kalor dari permukaan padat akan bergantung juga pada temperatur permukaan (Ts) dan
temperatur fluida (Tf), tetapi biasanya dianggap bahwa (ΔT = Ts – Tf) yang penting. Akan
tetapi, jika sifat-sifat fluida berubah dengan nyata pada daerah pengkonveksi (convection
region), maka temperatur-temperatur absolute Ts dan Tf dapat juga merupakan faktor-
faktor penting didalam korelasi. Jelaslah bahwa dengan sedemikian banyak variable-
variabel penting,maka korelasi spesifik akan sulit dipakai, dan sebagai konsekuensinya
maka korelasi-korelasi biasanya disajikan dalam pengelompokkan-pengelompokkan tak
berdimensi (dimensionless groupings) yang mengizinkan representasi-representasi yang
jauh lebih sederhana. Juga faktor-faktor dengan pengaruh yang kurang penting, seperti
variasi sifat fluida dan distribusi temperatur dinding, seringkali diabaikan untuk
menyederhanakan korelasi-korelasi tersebut (Stoecker dan Jones, 1982).

8
II.2 Cara-cara Perpindahan Panas
Perpindahan panas dapat didefenisikan sebagai berpindahnya energi dari satu
daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara daerah–daerah tersebut. Hal
ikhwal aliran panas bersifat universal yang berkaitan dengan tarikan gravitasi. Secara
umum ada tiga cara perpindahan panas yang berbeda yaitu : konduksi (conduction; dikenal
dengan istilah hantaran), radiasi (radiation) dan konveksi (convection; dikenal dengan
istilah ilian). Jika kita berbicara secara tepat, maka hanya konduksi dan radiasi dapat
digolongkan sebagai proses perpindahan panas, karena hanya kedua mekanisme ini yang
tergantung pada beda suhu.
Sedang konveksi, tidak secara tepat memenuhi definisi perpindahan panas, karena
untuk penyelenggaraanya bergantung pada transport massa mekanik pula. Tetapi karena
konveksi juga menghasilkan pemindahan energi dari daerah yang bersuhu lebih tinggi ke
daerah yang bersuhu lebih rendah, maka istilah “perpindahan panas dengan cara konveksi”
telah diterima secara umum.
A. Konduksi/Hantaran (Conduction)
Konduksi adalah proses dengan mana panas mengalir dari daerah yang bersuhu
tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah di dalam satu medium (padat, cair atau
gas) atau antara medium - medium yang berlainan yang bersinggungan secara
langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang cukup besar menurut teori kinetik.
Suhu elemen suatu zat sebanding dengan energi kinetik rata – rata molekul – molekul
yang membentuk elemen itu. Energi yang dimiliki oleh suatu elemen zat yang
disebabkan oleh kecepatan dan posisi relative molekul – molekulnya disebut energi
dalam. Perpindahan energi tersebut dapat berlangsung dengan tumbukan elastik
(elastic impact), misalnya dalam fluida atau dengan pembauran (difusi/diffusion)
elektron – elektron yang bergerak secara cepat dari daerah yang bersuhu tinggi
kedaerah yang bersuhu lebih rendah ( misalnya logam). Konduksi merupakan satu –
satunya mekanisme dimana panas dapat mengalir dalam zat padat yang tidak tembus
cahaya.
B. Radiasi/Pancaran (Radiation)
Radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari benda yang bersuhu tinggi ke
benda yang bersuhu rendah, bila benda – benda itu terpisah didalam ruang, bahkan
bila terdapat ruang hampa diantara benda – benda tersebut. Semua benda
memancarkan panas radiasi secara terus menerus. Intensitas pancaran tergantung pada
suhu dan sifat permukaan . Energi radiasi bergerak dengan kecepatan cahaya (3x108

9
m/s) dan gejala – gejalanya menyerupai radiasi cahaya. Menurut teori
elektromagnetik, radiasi cahaya dan radiasi termal hanya berbeda dalam panjang
gelombang masing – masing.
C. Konveksi/Ilian (Convection)
Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi
panas, penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting
sebagai mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat, cairan atau
gas. Perpindahan panas secara konveksi diklasifikasikan dalam konveksi bebas (free
convection) dan konveksi paksa (forced convection) menurut cara menggerakkan
alirannya. Bila gerakan mencampur berlangsung semata – mata sebagai akibat dari
perbedaan kerapatan yang disebabkan oleh gradien suhu, maka disebut konveksi
bebas atau alamiah (natural). Bila gerakan mencampur disebabkan oleh suatu alat dari
luar seperti pompa atau kipas, maka prosesnya disebut konveksi paksa. Keefektifan
perpindahan panas dengan cara konveksi tergantung sebagian besarnya pada gerakan
mencampur fluida . akibatnya studi perpindahan panas konveksi didasarkan pada
pengetahuan tentang ciri – ciri aliran fluida.

II.3 Hukum-Hukum Dasar Perpindahan Panas


Hukum-hukum dasar perpindahan panas pada konduksi, konveksi dan radiasi
adalah sebagai berikut:
A. Konduksi
Hubungan dasar untuk perpindahan panas dengan cara konduksi diusulkan
oleh ilmuan perancis , J.B.J. Fourier, tahun 1882. Hubungan ini menyatakan bahwa
qk, laju aliran panas dengan cara konduksi dalam suatu bahan, sama dengan hasil
kali dari tiga buah besaran berikut :
1. k, konduktivitas termal bahan.
2. A, luas penampang dimana panas mengalir dengan cara konduksi yang harus
diukur tegak lurus terhadap arah aliran panas.
3. dT/Dx, gradien suhu terhadap penampang tersebut, yaitu perubahan suhu T
terhadap jarak dalam arah aliran panas x.
Untuk menuliskan persamaan konduksi panas dalam bentuk matematik, kita
harus mengadakan perjanjian tentang tanda. Kita tetapkan bahwa arah naiknya jarak
x adalah arah aliran panas positif. Persamaan dasar untuk konduksi satu dimensi
dalam keadaan tunak (steady) ditulis :

10
(2-1)

Untuk konsistensi dimensi dalam pers. 1-1, laju aliran panas qk dinyatakan
dalam Btu/h*), luas A dalam ft2 dan gradien suhu dT/dx dalam F/ft. Konduktivitas
termal k adalah sifat bahan dan menunjukkan jumlah panas yang mengalir
melintasi satuan luas jika gradien suhunya satu. Jadi akan dijelaskan dengan
gambar seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.1. sketsa yang melukiskan perjanjian tentang tanda untuk aliran panas
konduksi.

Bahan yang mempunyai konduktivitas termal yang tinggi dinamakan


konduktor (conductor), sedangkan bahan yang konduktivitas termalnya rendah
disebut isolator (insulator). Seperti pada contoh gambar dibawah ini adalah
konduktivitas dari paling tinggi dan yang rendah, yaitu :
Tabel 1-1. Orde Besaran Konduktivitas Termal k

11
Untuk kasus sederhana aliran panas keadaan stedi melalui dinding datar
(plane), gradien suhu dan aliran panas tidak berubah dengan waktu dan sepanjang
lintasan aliran panas luas penampangnya sama. Jika k tidak bergantung pada T,
setelah integrasi kita mendapat rumus berikut untuk laju konduksi panas melalui
dinding :
(2-2)
(2-2)

L/Ak setara dengan tahanan termal (thermal resistance) Rk yang diberikan


oleh dinding kepada aliran panas dengan cara konduksi dan kita memperoleh.

(2-3)

Kebalikan dari tahanan termal disebut konduktansi termal (thermal


conductance);
(2-4)
(2-4)

Dari penjelasan diatas, dapat dijelaskan dengan penggunaan gambar seperti


dibawah ini, yaitu :

12
Gambar 2.2. Distribusi suhu untuk konduksi keadaan stedi melalui dinding datar.

B. Radiasi
Jumlah energi yang meninggalkan suatu permukaan sebagai panas radiasi
tergantung pada suhu mutlak dan sifat permukaan tersebut. Radiator sempurna atau
benda hitam (black body) memancarkan energi radiasi dari permukaannya dengan
laju qr yang diberikan oleh :

qr = σ A1 T14 Btu / hr
(2-5)

Btu/h, jika A1 luas permukaan dalam ft persegi, T1 suhu permukaan dalam


derajat rankine (R) dan σ konstanta dimensional dengan nilai 0,1714 x 10-8 Btu/h
ft2 R4. dalam satuan SI laju aliran panas qr mempunyai satuan watt, jika luas
permukaan A1 dalam m2 , suhu mutlak dalam derajat Kelvin, dan σ5,67 x 10 -8
watt / m2 k4 besaran σ dinamakan konstanta Stefan – Boltzmann. Jika benda hitam
tersebut beradiasi ke sebuah penutup yang sepenuhnya mengurungnya dan yang
permukaanya juga hitam, yaitu menyerap semua. Energi radiasi yang datang
padanya , maka laju bersih perpindahan panas radiasi diberikan oleh.

13
qr = σ A1 (T14 - T24) (2-6)

Dimana T2 adalah suhu permukaan penutup dalam derajat Fahrenheit


mutlak. Jika pada suhu yang sama dengan benda hitam benda nyata memancarkan
sebagian yang konstan dari pancaran benda hitam pada setiap panjang gelombang,
maka benda itu disebut benda kelabu (gray body). Laju bersih perpindahan panas
dari benda kelabu dengan suhu T1 ke benda hitam dengan suhu T2 yang
mengelilinginya adalah :

qr = σ A1 ε1 (T1 4 - T2 4) (2-7)

Dimana έ1 adalah emitansi (emittance) permukaan kelabu dan sama dengan


perbandingan pancaran (emission) dari permukaan kelabu terhadap pancaran dari
radiator sempurna pada suhu yang sama. Jika kedua benda tersebut bukan radiator
sempurna dan jika kedua benda itu mempunyai hubungan geometrik tertentu satu
sama lain, maka perpindahan panas bersih diantara kedua benda tersebut diberikan
oleh :

qr = σ A1 ε1-2 (T14 - T24)


(2-8)

C. Konveksi
Laju perpindahan panas dengan cara konveksi antara suatu permukaan dan
suatu fluida dapat dihitung dengan hubungan :

qc = hc A ΔT
(2-9)

Dimana qc = laju perpindahan panas dengan cara konveksi, Btu/h;


A = luas perpindahan panas, ft2;xv
ΔT = beda antara permukaan suhu Ts dan suhu fluida T∞ dilokasi yang
ditentukan (biasanya jauh dari permukaan), F;
Hc = Konduktansi termal satuan konveksi rata – rata (sering disebut koefisien
permukaan perpindahan panas atau koefisien perpindahan panas konveksi), Btu/h
ft2 F.

14
Tabel 1-2 Orde Besaran Koefisien Perpindahan Panas Konveksi hc

Dengan mempergunakan pers. 1-9, kita dapat mendefenisikan konduktansi


termal Kc untuk perpindahan – panas konveksi sebagai

(2-10)

Dan tahanan termal terhadap perpindahan – panas konveksi Rc yang sama


dengan kebalikan konduktansi, sebagai

(2-11)

II.4 Pengertian Konduksi


Perpindahan kalor konduksi adalah perpindahan tenaga sebagai kalor melalui
sebuah proses medium stasioner , seperti tembaga, air, atau udara. Di dalam benda-
benda padat maka perpindahan tenaga timbul karena atom-atom pada temperatur yang
lebih tinggi bergetar dengan lebih bergairah, sehingga atom-atom tersebut dapat
memindahkan tenaga kepada atom-atom yang lebih lesu yang berada di dekatnya
dengan kerja mikroskopik, yakni kalor. Di dalam logam-logam, elektron-elektron bebas
juga membuat kontribusi kepada proses hantaran kalor. Di dalam sebuah cairan atau
gas, molekul-molekul juga giat (mudah bergerak), dan tenaga juga dihantar oleh
tumbukan-tumbukan molekul (Reynold dan Perkins, 1983).

15
Energi termal dihantarkan dalam zat padat menurut salah satu dari dua modus
berikut : melalui getaran kisi ( lattice vibration) atau dengan angkutan melalui elektron
bebas. Dalam konduktor listrik yang baik, dimana terdapat elektron bebas yang
bergerak di dalam struktur kisi bahan-bahan, maka elektron, di samping dapat
mengangkut muatan listrik, dapat pula membawa energi termal dari daerah bersuhu
tinggi ke daerah bersuhu rendah, sebagaimana halnya dalam gas. Energi dapat pula
berpindah sebagai energi getaran dalam struktur kisi bahan. Namun, pada umumnya
perpindahan energi melalui getaran ini tidaklah sebanyak dengan cara angkutan
elektron. Karena itu penghantar listrik yang baik selalu merupakan penghantar kalor
yang baik pula, seperti halnya tembaga, aluminium dan perak. Sebaliknya isolator
listrik yang baik merupakan isolator kalor (Holman,1983).
Nilai kondukitivitas thermal suatu bahan menunjukkan laju perpindahan panas
yang mengalir dalam suatu bahan. Konduktivitas thermal kebanyakan bahan 10
merupakan fungsi suhu, dan bertambah sedikit kalau suhu naik, akan tetapi variasinya
kecil dan sering kali diabaikan.
Jika nilai konduktivitas thermal suatu bahan makin besar, maka makin besar
juga panas yang mengalir melalui benda tersebut. Karena itu, bahan yang harga k-nya
besar adalah penghantar panas yang baik, sedangkan bila k-nya kecil bahan itu kurang
menghantar atau merupakan isolator.

16
Tabel 2.1. Nilai Konduktivitas Bahan

II.5 Penerapan Konduksi Pada Bidang Datar


Jika pada suatu benda terjadi perpindahan panas dari bagian bersuhu tinggi ke bagian
bersuhu rendah. Menurut Fourier, kecepatann aliran panas (Q) akan sebanding dengan luas
permukaan yang dilalui (A), sebanding dengan beda suhu kedua permukaan dinding (dT)
dan berbanding terbalik dengan tebal dinding :
Jika dimasukkan konstanta kesebandingan k, maka diperoleh:

Q = -k A (2-12)

Konstanta k disebut konduktivitas termal benda, sedangkan tanda minus (-)


diberikan karena panas mengalir ke tempat yang lebih rendah.Nilai konduktivitas termal
menunjukkan seberapa cepat panas mengalir dalam bahan tertentu. Jika suatu bahan

17
memiliki nilai konduktivitas termal yang besar, maka bahan tersebut merupakan
penghantar panas yang baik, sedangkan jika nilai konduktivitas termalnya kecil, maka
bahan itu merupakan penghantar yang buruk atau isolator.
Konduksi dinding datar yang dibahas ini merupakan konduksi dalam keadaan
tunak (steady state) atau keadaan mantap (stabil), yaitu jika suhu tidak berubah terhadap
waktu, maka penyelesaiannya hanya dengan mengintegrasikan persamaan :

Q = -k A
(2-13)
Q X = - k A (T2 –T1) = k A (T1 – T2)

Q = dengan R panas

Keterangan :
Q = kecepatan aliran panas (W)
T1 -T2 = perbedaan suhu pada kedua permukaan dinding (suhu awal – suhu akhir
(0C)
X = tebal dinding (m)
K = konduktivitas termal (W/(m.°C)
A = luas permukaan dinding (m2)
I = arus listrik

II.6 Menentukan Konduksi Keadaan Tunak Satu Dimensi


Persamaan dasar untuk menganalisis panas konduksi adalah Hukum Fourier,yang
mana didasarkan pada pengamatan eksperimen :

(2-14)

18
II.7 Cara Menentukan Laju Kalor Konduksi Tunak Pada Sistem Dengan Sumber Kalor
Dinding datar dengan sumber kalor Suatu bidang datar dengan sumber panas
mempunyai ketebalan 2L pada arah x dan diasumsikan dimensi di kedua arah yang lain
cukup bsar sehingga aliran panas dianggap satu dimensi. Panas yang tergenerasi per unit
volume adalah q dan konduktivitas termal tidak berubah tehadap suhu Persamaan aliran
panas pada keadaan tunak, adalah:
Dengan kondisi batas,
(2-13)
T = To pada x = 0

Dan
(2-14)
T = Tw pada x = ± L

Penyelesaian persamaan aliran kalor dengan kondisi batas di atas akan


menghasilkan persamaan distribusi suhu sepanjang arah x, yaitu:

T = Tw pada x = L (2-15)

Maka suhu di dinding:


(2-16)

19
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan
Dari penjelasan makalah diatas tentang “Konduksi Bidang datar”, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Konduksi adalah perpindahan tenaga sebagai kalor melalui sebuah proses medium
stasioner , seperti tembaga, air, atau udara. Di dalam benda-benda padat maka
perpindahan tenaga timbul karena atom-atom pada temperatur yang lebih tinggi
bergetar dengan lebih bergairah, sehingga atom-atom tersebut dapat memindahkan
tenaga kepada atom-atom yang lebih lesu yang berada di dekatnya dengan kerja
mikroskopik, yakni kalor.
2. Konduksi pada bidang datar, jika pada suatu benda terjadi perpindahan panas dari
bagian bersuhu tinggi ke bagian bersuhu rendah. Menurut Fourier, kecepatann aliran
panas (Q) akan sebanding dengan luas permukaan yang dilalui (A), sebanding
dengan beda suhu kedua permukaan dinding (dT) dan berbanding terbalik dengan
tebal dinding.

III.2 Saran
Penjelasan makalah diatas diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam
perkuliahan mata kuliah “Perpindahan Panas dan Massa” dan untuk menambah ilmu atau
wawasan bagi pembaca. Saran dalam penulisan makalah ini adalah ketelitian dan
kesesuaian penjelasan dengan topik diulas secara lebih rinci dan baik sehingga pembaca
dapat membaca dengan mudah dan memahami tanpa kesulitan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Buchori, L. (tanpa tahun), Perpindahan Panas (Heat Transfer), (Online), (tekim.undip.ac.id/


images/download/PERPINDAHAN_PANAS.pdf)
Kanthi, A. 2012. Konduksi mantap satu-dimensi, (Online), (http://www.scribd.com/
doc/99541335/Bab-II-Edit-Baru)
Hewitt, G. F., Shires, G. L., and Bott, T. R. (1994) Process Heat Transfer, CRC Press, Boca
Raton, Florida
Purwadi, PK. Metode Alternating Direction Implicit Pada Penyelesaian Persoalan Perpindahan
Kalor Konduksi Dua Dimensi Keadaan Tak Tunak. SIGMA, Vol. 3, No.1
http://www.extron.com/company/article.aspx?id=thermalmgt1_ts
http://alexrh2010.files.wordpress.com/2011/04/thermalconductivity_thumb.jpg?w=370&h=2
60

21