Anda di halaman 1dari 106

2015

BANGUNAN LEPAS PANTAI STATIS


MODUL PELATIHAN PERANCANGAN

PENYUSUN:

MOCHAMMAD RAMZI

RADITYA DANU RIYANTO

SUPRIYO JAWOTO

YUNI ARI WIBOWO

DEWANGGA YUDISTIRA

DYAN HARYA PRADIPTA


MODUL PERANCANGAN
BANGUNAN LEPAS
PANTAI STATIS (TRB II)

Raditya Danu Riyanto ST, MT


JURUSAN TEKNIK KELAUTAN ITS 2015
1 PENDAHULUAN
1.1 Anjungan Lepas Pantai

Gambar 1. Anjungan Lepas Pantai

Anjungan lepas pantai/Offshore Platform adalah struktur atau bangunan yang dibangun di
lepas pantai untuk mendukung proses eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang (minyak
dan gas bumi). Biasanya anjungan lepas pantai memiliki sebuah rig pengeboran yang
berfungsi untuk menganalisa sifat geologis reservoir maupun untuk membuat lubang yang
memungkinkan pengambilan cadangan minyak bumi atau gas alam dari reservoir tersebut.
Struktur anjungan lepas pantai yang sering dijumpai (khususnya di Indonesia) adalah dalam
bentuk anjungan template (jacket). Jacket platform merupakan salah satu tipe stuktur lepas

pantai yang terpancang. Biasanya, jacket platform dipasang pada perairan dangkal (< 400 ft)

1
Jenis struktur ini tersusun dari substruktur rangka baja (jacket) dan geladak (deck) yang telah
difabrikasi di darat. Struktur bangunan lepas pantai ini tersebar di beberapa daerah di
Indonesia, yaitu di sekitar Pulau Jawa 65%, Kalimantan 25%, dan sisanya terletak di Selat
Malaka, Natuna dan Jatim. Kurang lebih 40% anjungan tersebut berkaki empat, 34% berkaki
tiga dan sisanya adalah monopod.

Offshore Platform Design

Foundation Structural Marine Civil Marine


Oceanography
Engineering Engineering Engineering Engineering

Metocean : - Soil -stress analysis -Installation -Loadout


- Wind Characteristic -Material method -Barge strength
- Vertical and
- Wave selection - site analysis -Towing
lateral pile
- Current -structural -topografi -Launching
capacity
- Tide analysis analysis -Seafastening
- scour

Gambar 2. Bidang yang terlibat dalam perancangan offshore structure


1.2 Pengenalan In-place Analysis
Secara garis besar analisa dalam perancangan struktur Fixed Jacket Platform dibagi menjadi
dua kategori utama, yaitu:
1. In-Place Analyses adalah analisis untuk melihat moda kegagalan Struktur
Terpancang pada saat platform tersebut beroperasi / service. Pada dasarnya,
terdiri dari inplace analysis pada TRB II serta fatigue analysis dan seismic analysis
pada TRB III. Tiga analisis ini yang akan dominan menentukan konfigurasi struktur
yaitu: konfigurasi member, joint, dan material.
2. Pre-Service Analyses adalah analisis untuk Struktur Terpancang pada tahap
instalasi dan persiapan instalasi, atau dalam kata lain, sebelum platform tersebut
belum beroperasi. Analisis yang diperlukan antara lain: loadout pada TRB III,
transportation, launching, upending, dll. Pre-service analysis tidak dominan dalam
menentukan konfigurasi struktur, karena sifat dari pre-service analysis adalah
sesaat, sehingga bisa diakali, misal dengan temporary member.

Inplace analysis adalah analisa pertama yang dilakukan pada Struktur Terpancang.
Tujuannya adalah untuk memastikan apakah struktur bisa menahan beban ketika sedang

beroperasi, baik beban gravitasi (dead load, live load, equipment, dll) maupun beban
2
lingkungan serta dapat bertahan ketika terkena beban lingkungan ekstrim. Pendekatan yang

dilakukan untuk inplace analysis adalah pendekatan static analysis. Static analysis adalah
analisa pada saat struktur dalam keadaan statis /tidak terpengaruh oleh waktu (beban yang

digunakan adalah beban yang terbesar). Kenyataannya, beban lingkungan pada struktur
(contoh: beban gelombang) adalah beban dinamis yang bergerak / mempunyai percepatan,
sehingga akan ada beban dinamis akibat percepatan beban tersebut. Namun dapat
diasumsikan beban gelombang yang dipertimbangkan dalam inplace analysis adalah periode

gelombang 1 tahunan dan 100 tahunan yang mempunyai periode gelombang paling besar,
sehingga ketika mengenai struktur, terlihat seperti statis. Dan juga, karena periode gelombang

besar dan periode natural struktur yang kecil, beban dinamis akan kecil. Namun, walaupun

pendekatan inplace anaysis adalah static analysis, kita bisa mempertimbangkan dynamic
loads dengan menambahkan dynamic amplification factor (DAF) pada beban (yang dianggap)
statis tersebut. Umumnya Inplace analysis mempertimbangkan nilai DAF ini, dan sebagian
inplace analysis tidak memasukkan nilai DAF ini dengan pertimbangan diatas.
Umumnya, ada 3 kondisi dari inplace analysis, yaitu (1). Operating condition, yang

menggunakan beban lingkungan: 1 year environmental return period; (2). Storm / extreme
condition, yang menggunakan beban lingkungan: 100 years environmental return period; dan

(3). Pullout condition, untuk melihat pile tension capacity saat gravitational load minimum dan
lateral loads (yang berasal dari environmental) maximum.

3
2 PENGENALAN STRUKTUR JACKET
Secara Garis besar, struktur utama pada jacket platform terbagi menjadi tiga komponen yanga
masing-masing terdiri dari :
1. Deck
Deck berfungsi untuk menyokong peralatan, pengeboran dan kegiatan di atas air.
Pada umumnya, Deck bisa dibagi menjadi beberapa tingkat sesuai dengan kebutuhan
dan fungsinya, seperti cellar deck, mezzanine deck, main deck dan helideck.
Sedangkan komponen-komponen dari struktur deck adalah main girder, secondary
girder, sub secondary girder, plate, truss, deck legs, dll.

Gambar 3. Contoh tingkatan deck pada KCI Platform

2. Jacket
Jacket berfungsi untuk melindungi pile, melindungi conductor, mentransfer beban
lingkungan ke pile, dan menyokong sub-struktur lainnya seperti boat landing, barge
bumper, dll. Jacket juga pada umumnya dibagi menjadi beberapa elevasi untuk
mengakomodir beban. Sedangkan komponen-komponen dari jacket adalah brace,
conductor guide, truss, dan element lainnya.
3. Pondasi
Pondasi berbentuk tiang pancang (pile) berfungsi untuk menyokong beban-beban
yang mengenai jacket dan deck topside serta beban lingkungan. Pile pada umumnya
diletakkan di dalam kaki jacket dan pancang hingga dasar laut (tanah keras).
komponen-komponen dari pile adalah skirt pile, skirt pile sleeves, dll.
2.1 Kriteria Desain
Kriteria desain untuk setiap anjungan akan berbeda-beda, namun terdapat kriterian utama
yang harus diperhatikan, antara lain :
- Kedalaman laut ( <400 ft )
- Lingkungan (gelombang, angin, arus)
- Seismik (Peak Ground Acceleration)
- Kondisi tanah (soil characteristic)
- Marine growth, dll

4
2.2 Kriteria Operasional
Salah satu kriteria dalam mendesain suatu anjungan adalah menentukan fungsi platform itu
sendiri (drilling, produksi, storage, wellhead, dll) , jumlah sumur yang akan di bor, tipe
pemboran, dll. Selain itu, jumlah ruang deck dan jenis transportasi minyak/gas serta tempat
storage nya. Adapun berdasarkan fungsinya, konstruksi lepas pantai dapat dikategorikan
sebagai berikut:
a. Anjungan Pengeboran (Drilling platform); yakni anjungan yang digunakan untuk
mengebor sumur minyak/gas bumi. Pengeboran tersebut dapat berupa pengeboran
awal (untuk melihat kandungan minyak/gas di sumur tersebut) dan dapat pula berupa
pengeboran lanjutan untuk keperluan eksploitasi.
b. Anjungan Wellhead (wellhead platform) ; yakni anjungan yang digunakan untuk tempat
eksploitasi minyak/gas dari reservoir ke anjungan produksi/pipeline.
c. Anjungan Produksi (Production Platform); yakni anjungan yang digunakan sebagai
tempat untuk memisahkan antara minyak, gas dan air.
d. Anjungan Akomodasi (Living Quarter Platform); yakni anjungan yang digunakan
sebagai tempat tinggal dan transit serta operasional administrasi.
e. Anjungan Instalasi (Instalation Platform); yakni anjungan yang digunakan sebagai
tempat instalasi-instalasi pembantu proses eksploitasi, seperti bengkel dan fasilitas
derek
2.3 Kriteria Lingkungan
Tahap ini adalah penentuan berdasarkan lingkungan dimana platform akan ditempatkan,
meliputi gaya gelombang, arus dan angin. Sedangkan faktor-faktor lingkungan yang harus
diperkirakan sebelumnya adalah kedalaman air, kondisi air, pasang surut, dll.
2.4 Standart Spesifikasi
Spesifikasi standar yang umum digunakan untuk perencanaan dan desain struktur anjungan
lepas pantai statis di indonesia adalah :
 API RP 2A WSD, 21th Edition, ‘Recomended Practice for Planning, Designing, and
Constructing
Fixed Offshore Platforms—Working Stress Design’
 ISO 19900:2013, ‘Petroleum and natural gas industries -- General requirements for
offshore structures’
 ISO 19902:2007, Petroleum and natural gas industries -- Fixed steel offshore
structures
 AISC, 9th edition, ‘Manual of steel construction, Allowable Stress design’
 AWS D1, 1-88, ‘Structural Welding Code-steel’

5
3 PERANCANGAN STRUKTUR
LEPAS PANTAI
3.1 Konsep Perancangan dan Perkembangan Codes
Tugas Rancang Besar II (TRB II) adalah desain bangunan lepas pantai terpancang
serta analisis statis inplace. Lingkup kerja TRB II yaitu perhitungan awal desain,
pemodelan, dan analisis inplace. Terdapat beberapa software yang digunakan dalam
pengerjaan TRB II contohnya GTStrudl, MicroSAS, dan SACS. Namun dalam
aplikasinya di dunia industri, software SACS paling banyak digunakan.
Sebelum melangkah ke modelling dan analisis di software, beberapa perhitungan
harus dilakukan untuk menentukan geometri awal struktur. Design Criteria yang
digunakan di TRB II adalah API RP 2A WSD dan API RP 2A LRFD (sekarang telah
terupdate oleh ISO 19902).

Menurut AISC, definisi LRFD dan ASD adalah sebagai berikut:

1. Load and Resistance Factor Design (LRFD): The nominal strength is multiplied by
a resistance factor and the resulting design strength is then required to equal or
exceed the required strength determined by structural analysis for the
appropriate LRFD load combination specified by the applicable building code.
2. Allowable Strength Design (ASD): The nominal strength is divided by a safety
factor, and the resulting allowable strength is then required to equal or exceed the
required strength determined by structural analysis for the appropriate ASD load
combination specified by the applicable building code.

Gambar 4. . Perbedaan kapasitas maksimum ASD, LRFD dan ULS

6
Pada dasarnya, perbedaan utama antara ASD dan LRFD adalah pada resistance
factor dan safety factor. Perbedaan keduanya adalah pada penentuan kapasitas
maksimal baja di bawah yield stressnya agar tidak terjadi deformasi plastis. Pada
ASD, nominal strength akan dibagi dengan safety factor dan LRFD nominal
strength akan dikali dengan resistance factor. ASD akan menggunakan Stress
sebagai acuan utama untuk safety factor, sedangkan LRFD akan menggunakan
Load (Force dan Moment) dan Resistance (Strength) untuk dikalikan dengan
factor. Beban karakteristik (Characteristic Load) adalah beban actual yang dikali
dengan factor beban, nilainya >1. Sedangkan characteristic resistance adalah
kapasitas actual struktur dikali dengan factor kapasitas nilainya <1. Perbedaan
lainnya terletak pada load combination. Berikut ini adalah perbedaan load
combination ASD VS LRFD

 Perbedaan Kondisi Pembebanan API RP 2A-WSD VS ISO 19902

Pembebanan API RP 2A WSD

Berikut adalah macam pembebanan yang termasuk dalam kriteria desain API RP 2A-WSD.
 Beban Mati (dead load)
Beban mati (dead load) adalah berat dari struktur platform dan berat peralatan serta
komponen struktur yang tidak berubah dari mode operasi. Beban mati tersebut
dikelompokkan sebagai berikut:

1. Berat dari struktur itu sendiri seperti tiang pancang, bangunan atas, deck dan grout.
2. Berat Peralatan yang terpasang secara permanen pada platform.
3. Gaya hidrostatis yang bekerja dibawah garis air termasuk tekanan dan buoyancy.

 Beban Hidup (live load)


Beban hidup adalah beban yang terjadi pada bangunan lepas pantai selama dipaki dan tidak
berubah dari mode operasi yang satu ke mode operasi yang lain, yang termasuk beban hidup
adalah:

1. Berat Peralatan pengeboran dan peralatan produksi.


2. Berat dari living quarter, heliport dan peralatan pendukung yang lain.
3. Berat dari cairan yang terdapat pada tangki penyimpanan.
4. Beban akibat gaya-gaya yang terjadi pada struktur yang beroperasi seperti pengeboran,
material handling, penambatan kapal dan beban helikopter.

7
 Beban Lingkungan
Beban lingkungan adalah beban yang terjadi pada platform yang disebabkan oleh kejadian
alam, antara lain beban gelombang, arus, gempa, es, juga perubahan yang terjadi pada
tekanan hidrostatic dan buoyancy akibat perubahan dari ketinggian air yang disebabkan oleh
pasang surut dan gelombang.

Kondisi Pembebanan

Struktur platform harus didesain untuk beberapa jenis kondisi pembebanan, sebagai berikut:
1. Kondisi normal operasional dengan dead load dan maksimum live load.
2. Kondisi normal operasional dengan dead load dan minimum live load.
3. Kondisi ekstrim dengan dead load dan maksimum live load.
4. Kondisi ekstrim dengan dead load dan minimum live load.

ISO 19902
ISO 19902 memiliki perhitungan berbasiskan API RP 2A – LRFD sehingga menggunakan
faktor keselamatan yang menyatakan kekuatan ultimate dari material. Dimana kekuatan
material dikalikan dengan suatu faktor lebih besar dari satu. Hasil perkalian antara kekuatan
dengan faktor tersebut dalam penggunaannya harus lebih besar dari hasil perkalian antara
beban dan faktor beban.

Pembebanan ISO 19902


Berikut adalah macam pembebanan yang termasuk dalam kriteria desain ISO 19902.

 Beban Mati 1 (Permanent Action 1), G1


G1, adalah beban yang terjadi pada struktur oleh berat dari struktur itu sendiri dengan
peralatan dan komponen lainnya, yang termasuk G1:
1. Berat struktur di udara termasuk berat tiang pancang, grout dan solid ballast.
2. Berat peralatan dan komponen yang lain yang terpasang secara permanen pada struktur.
3. Gaya hidrostatis yang bekerja pada struktur di bawah garis air termasuk internal dan
external pressure.
4. Berat air yang terperangkap dalam struktur.
 Beban Mati 2 (Permanent Action 2), G2

8
G2, adalah beban yang terjadi pada struktur yang disebabkan oleh peralatan dan komponen
lain, yang mana berubah pada operasi satu ke mode operasi yang lain. Yang termasuk dalam
beban ini adalah:
1. Berat dari peralatan pengeboran dan produksi yang dapat ditambahkan atau dipindahkan
dari struktur.
2. Berat dari tempat tinggal, heliport, peralatan selam dan peralatan lain yang ditambahkan
atau dipindahkan dari struktur.
 Beban Hidup 1 (Variable Action 1), Q1
Q1 adalah beban yang terjadi pada struktur yang disebabkan oleh berat consumable supplies
dan cairan dalam pipa, tangki, dan berat transportable vessels dan containers yang digunakan
untuk mengirim pasokan, dan berat personil dan barang mereka. Apabila diperlukan, berat
marine fouling dan ice harus termasuk di Q1. Nominal berat (Q1) dihitung dari berat nominal
dari material yang paling berat dan kapasitas paling besar pada mode pengoperasian.

 Beban Hidup 2 (Variable Action 2), Q2


Q2 adalah jangka pendek beban yang bekerja pada struktur saat operasi seperti
pengangkatan drill string, pengangkatan crane, machine operations, vessel mooring dan
beban helicopter. Nilai nominal harus beban yang disebabkan oleh rata-rata kapasitas
maksimum dari peralatan yang dimaksud dan harus termasuk efek dinamis dan tumbukan.

 Beban Lingkungan
Beban lingkungan adalah beban yang terjadi pada platform yang disebabkan oleh kejadian
alam, antara lain beban gelombang, arus, gempa, es, juga perubahan yang terjadi pada
tekanan hidrostatic dan buoyancy akibat perubahan dari ketinggian air yang disebabkan oleh
pasang surut dan gelombang.
 Kondisi Pembebanan
Secara umum persamaan untuk menentukan design action (Fd) adalah seperti di bawah ini:

Tabel 1. Faktor Partial Action Berdasarkan Situasi

Faktor Partial Action


Situasi Desain
fG fG fQ fQ f fe

Hanya beban mati dan


1,3 1,3 1,5 1,5 0,0 0,0
hidup

9
Faktor Partial Action
Situasi Desain
fG fG fQ fQ f fe

Situasi operasi dengan


kondisi angin, gelombang, 1,3 1,3 1,5 1,5 f 0,0
dan arus yang sesuai

Kondisi ekstrim ketika efek


beban karena beban mati 1,1 1,1 0,0 0,0 0,0 f
dan hidup tambahan

Kondisi ekstrim ketika efek


beban karena beban mati 0,9 0,9 0,8 0,0 0,0 f
dan hidup berlawan

(Sumber: ISO 19902, 2007)

Pada perkembangan API WSD yang terutama membahas tubular joint, banyak sekali
perubahan-perubahan mendasar yang dilakukan. Dimulai dari API 3rd tahun 1972, beberapa
rekomendasi diperkenalkan untuk mempertimbangkan efek punching shear terhadap
kekuatan tubular joint. Pada API 4th, beberapa factor seperti β (d/D) diperkenalkan untuk
mempertimbangkan efek-efek geometris dari tubular joint. Pada API 9th tahun 1977,
diferensiasi bentuk seperti joint T/Y, K dan X dilakukan karena hasil penelitian memberikan
hasil yang berbeda secara signifikan terhadap respon dari joint-joint tersebut.

Perkembangan pesat dunia offshore dari tahun 1977 sampai 1983 memberikan efek yang
besar terhadap perkembangan API RP 2A-WSD sebagai rules yang paling banyak digunakan.
Banyak penelitian yang melibatkan prototype dari tubular joint (dengan ukuran sebenarnya)
sampai pada batas failure-nya untuk mempelajari perilaku dari joint-joint tersebut. Penelitian
ini berujung pada disusunnya API RP 2A-WSD 14th yang memperkenalkan punching shear
stress dengan persamaan dan factor-faktor yang sudah disempurnakan.

Guidance ini tidak mengalami perubahan yang mendasar sampai pada API 21st, walaupun
pada 20th edition terdapat tambahan bab load transfer through the chord. Pada masa
penggunaan API 14th sampai 21st (1983-2002) terdapat banyak sekali studi numerik dan
eksperimen untuk mengembangkan pengetahuan tentang perilaku tubular joint. Dari tahun
1994-1996, MSL Engineering, sebuah perusahaan engineering di Amerika, membuat sebuah

10
almanak besar tentang tubular joint dan mengumpulkan semua studi tentang hal ini. Usaha
MSL Engineering ternyata di-follow up oleh API dan University of Illinois untuk membuat
tubular joint strength provision yang kelak digunakan sebagai cikal bakal dari ISO code.

Usaha ini nantinya akan mengembangkan API RP 2A-LRFD 1st edition (yang berbasis API
RP 2A-WSD 20th) menjadi ISO 19902 (karena ISO berbasis LRFD). Karena hal ini pula lah,
API tidak meng-update lagi metode LRFD nya. Sementara itu, perubahan radikal juga
dilakukan pada API WSD dengan banyaknya update dari studi yang dilakukan oleh BS untuk
membuat ISO 19902. Jadi pada intinya, ISO dan API WSD saling mengupdate satu sama lain.

Supplement 3 dari API WSD 21st (tahun 2007) merupakan update dari studi yang dilakukan
oleh BS untuk membuat ISO 19902 yang belum terupdate pada dokumen terbarunya.
Supplement 3 API WSD 21st memberikan update sebagai berikut:

1. DIberikannya toleransi untuk tubular joint tidak terpaku pada 2/3 limit dari tensile stress
(0.6 x σy) menjadi 0.8 x σy.
2. Penambahan pada detailing practice.
3. Dihilangkannya desain dengan pendekatan punching shear.
4. Formulasi baru dari Qu dan Qf.
5. Perubahan pada persamaan bace load interaction.

3.2 Prosedur Perencanaan


Dalam mendesain dan merencanakan suatu bangunan lepas pantai akan melibatkan banyak
hal. Untuk kasus TRB II di semester ini diperlukan prosedur yang berkaitan dengan cara
mendesain secara sederhana. Berikut prosedur perencanaan suatu struktur anjungan lepas
pantai :
1. Tahap Awal
Tahap awal dari perencanaan offshore structure adalah pengumpulan data terlebih
dahulu. Berikut contoh data-data yang akan diberikan oleh dosen koordinator :
Kriteria Umum:
API RP 2A-
1 Recommended Practice
LRFD, AISC 9th
2 Material Struktur ASTM
3 Tipe Platform Wellhead
4 Jumlah kaki jacket 6
5 Kedalaman perairan (LWL) (feet) 65
6 Orientasi Platform (+)15,00
7 Desain life (year) 20

Kriteria Desain Deck:

11
1 Jumlah deck: 3
2 Luasan Deck: (tentatif)
Luasan Mezanine Deck 1200 ft2
Luasan Cellar deck 1800 ft2
Luasan Main deck 1800 ft2
Sub cellar deck -
3 a. Beban Hidup Area Deck Kondisi Operasi
Mezanine Deck 100 psf
Cellar deck 100 psf
Main deck 100 psf
Sub cellar deck -
b. Beban Hidup Area Deck Kondisi Badai
Mezanine Deck 75 psf
Cellar deck 75 psf
Main deck 90 psf
Sub cellar deck -
4 Jumlah crane 1
5 a. Beban Crane Kondisi Operasi
Beban vertikal 135,0 kips
Beban momen 19500,0 kips-in
b. Beban Crane Kondisi Badai
Beban vertikal 65,5 kips
Beban momen 0,0 kips-in
6 Beban Angin
Kondisi Operasi 45 mph
Kondisi Badai 75 mph
7 Beban Peralatan Dry (Perpipaan, dll)
Main Deck 60 psf
Cellar Deck 50 psf
Mezanine deck 60 psf
Sub cellar deck
8 Helideck 1
Type Sikorsky
Rules API RP 2L
9 Work over rig (WOR)
Dead load Normal cond. 325 kips
Dead load Extreem cond. 325 kips
Operating Load Normal 275 kips
Operating Extreem Normal 0 kips

12
Kriteria Desain Jacket
10 a. Beban Gelombang & Arus Kondisi Operasi
Tinggi gelombang maximum 18 ft
Periode gelombang 10 det
Total pasang surut 5.5 ft
Kecepatan arus (permukaan) 4 knot
Kecepatan arus (dasar laut) 0.5 knot
b. Beban Gelombang & Arus Kondisi Badai
Tinggi gelombang maksimum 32 ft
Periode gelombang 12 det
Kecepatan arus (permukaan) 5.5 knot
Kecepatan arus (dasar laut) 0.7 knot
Storm surge 0.5 ft
2 Marine Growth
Menambah OD tubular member 2inch
Corrotion Allowance
3 API RP 2A-LRFD

Hydrodynamic Coefficient
4 API RP 2A-LRFD

5 Shielding Effect Coefficient API RP 2A-LRFD


6 Blockage Factor API RP 2A-LRFD
7 Scouring Effect Tollerance 3 ft
8 Riser
Jumlah 9
Diameter luar 1x8'' 2x6" 2x16"
Ketebalan 0,25"
conductor
jumlah 8
diameter luar 3x24",1x18"
Wall Thickness 5/8"
10 Data Tanah A
11 Bater 1 : 8 XYZ
12 Barge bumper 1

13
2. Tahap Desain
- Menentukan layout equipment,
- Pembuatan layout deck dan elevasi deck serta jacket
- Menghitung plat, main & secondary girder
- Menghitung Material Take-off yang terdapat di deck
- Menghitung dimensi deck leg dan deck truss
- Menghitung dimensi pile dan daya dukung tanah
- Menghitung dimensi jacket leg dan brace,
- Menghitung cathodic protection (jika diperlukan)
- Menghitung Material Take-Off yang terdapat di platform
- Menghitung beban manual : beban angin, arus, gelombang, matrix pembebanan

3. PEMODELAN STRUKTUR:
- Model geometri, member property, supports
- Offset, excentrisitas, dan penyempurnaan model geometris
- Pemodelan beban, analisa geometri, Verifikasi Model Geometris
- Running pembebanan, check hasil Analisis hasil: tegangan member, tegangan joint,
displacement Summary output, Check ulang hasil
Namun pada modul ini akan lebih difokuskan kepada pengenalan bagaimana cara
merencanakan dari data awal sampai tahap desain. untuk memberikan wawasan yang
mendalam mengenai hal tersebut.
3.3 Desain Struktur jacket platform
 Menentukan Layout equipment
Konsep Struktur pada dasarnya adalah jenis, tataletak (layout) dan geometri struktur.
Pemilihan konsep struktur merupakan tahapan pertama yang amat penting bagi
keberhasilan struktur anjungan untuk melakukan fungsi utamanya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses seleksi konsep struktur, yaitu (McClelland & Reifel,1986):
a. Fungsi utama
b. Ukuran
c. Kedalaman
d. Ukuran deck dan ketersediaan tempat.
Pembuatan layout equipment perlu memperhatikan posisi, dimensi, dan berat
equipment yang akan diletakkan di deck. Perlu diperhatikan juga framing yang akan
digunakan untuk menahan beban equipment dan jarak antar equipment. Hal-hal diatas
berguna untuk mendapatkan dimensi, ruang dan penentuan framing deck yang akan

14
direncanakan berikut adalah contoh layout dari sebuah wellhead platform milik
CNOOC.

Gambar 4. Layout perletakan equipment di cellar deck.


 Menentukan layout Deck & deck leg
Secara fungsi, deck dibagi menjadi beberapa tingkat, yaitu :
a. Main deck, berfungsi sebagai tempat sistem pengeboran beberapa modul lainnya
seperti living quarter, compressor, fresh water tank, toilet, dll
b. Cellar deck, berfungsi sebagai tempat sistem diletakkan dibagian bawah seperti
pompa, christmass tree, generator, battery box, dll
c. Deck tambahan (mezzanine deck, sub cellar deck, dll) sebagai tambahan
peralatan apabila dibutuhkan seperti storage/tempat penyimpanan, dll
Menentukan konfigurasi deck perlu mempertimbangkan kebutuhan luas, jumlah deck,
layout equipment dll. Komponen utama struktur deck terdiri dari deck leg, rangka
utama (truss), deck beam, deck plate, dll
 Menentukan elevasi deck
Deck pada level terbawah harus memadai dan aman dari rencana tinggi gelombang
maximum serta harus diberikan celah udara (air gap). Gelombang rencana yang
digunakan adalah gelombang dengan periode ulang 100 tahunan.

15
API RP 2A merekomendasikan air gap sebesar 5 ft di atas puncakgelombang ekstrim,
selain itu haus juga memperhatikan tinggi pasang dan storm surge dari lokasi perairan.
Berdasarkan hal tersebut maka elevasi deck untuk level terendah adalah :
Elevasi deck terbawah = Hpasang air laut + 0.5 Hgelombang max + air gap + storm surge

Selanjutnya untuk menentukan elevasi antar deck perlu memperhatikan tinggi


equipment tertinggi serta disediakan clearance yang kurang lebih sekitar 3 ft. Selain
itu juga perlu ditambahkan dengan tinggi girder yang digunakan dan tebal plat
sehingga dapat dituliskan persamaan untuk mendapatkan elevasi antar deck adalah :
Elevasi antar deck = Hequipment + clearance ( ±3ft) + Hgirder + Tebal plat

Gambar 5. Layout desain deck wellhead platform milik CNOOC

16
Main deck

Cellar deck

Walkway deck

Dummy
pile
(6-7
Gambar 6. Layout elevasi platform OD)

 Menentukan Deck Framming


Deck framming berfungsi untuk mentransfer beban-beban dari area deck ke deck leg,
dari deck leg ke pondasi. Sistem yang biasa digunakan adalah dengan menyalurkan
beban melalui plat deck dan girder deck menuju ke sistem rangka longitudinal yang
tersusun dari elemen-elemen tubular. Penentuan ukuran awal plat deck dilakukan
dengan menggunakan beban merata maksimum pada deck. Pelat pada deck didesain
untuk dapat menerima beban yang bekerja diatasnya. Dalam desain plat harus
diperhatikan kemungkinan korosi, tegangan dan lendutannya, lendutan dapat dihindari
dengan mempertebal plat atau memperpendek bentang.
 Menentukan desain jacket
Jacket adalah tiang-tiang disekitar sumur eksplorasi yang berguna untuk melindungi
pompa-pompa, sumur pengeboran dan lain-lain. Jacket dipasang mulai dari garis
mudline sampai deck substruktur. Kaki jacket mengarahkan pile sewaktu
pemancangan pile. Jacket termasuk elemen struktur yang berguna untuk melindungi
pile dari beban lingkungan secara langsung. Jacket mengalirkan beban lingkungan ke
setiap pile secara merata melalui bracing. Jacket juga didesain untuk menahan beban
tumbukan kapl yang berlabuh, tempat sistem proteksi berupa katodic protection,
sistem navigasi, dll

17
 Menentukan struktur rangka jacket
Kaki-kaki jacket saling dihubungkan dan diikat oleh tiga jenis bracing, yaitu :
a. Bracing diagonal vertikal
b. Bracing diagonal bidang horizontal
c. Bracing diagonal bidang horizontal
Sistem bracing memiliki 3 fungsi :
a. Membantu memindahkan beban-beban horizontal ke pondasi
b. Memberikan kesatuan struktural selama fabrikasi dan instalasi
c. Menyokong anoda korosi dan kepala konduktor dan meneruskan gaya-gaya
gelombang ke pondasi
 Tipe-tipe bentuk bracing
Brace yang berbentuk vertikal, horizontal, dan diagonal bersama kaki jacket
membentk suatu sistem kekakuan tersendiri. Sistem kekakuan ini menjalarkan beban
dan gaya dari platform ke pondasi. Berikut tipe-tipe bentuk bracing :
a. Bentuk pola K brace
Tipe ini mempunyai jumlah titik pertemuan batang (joint) yang lebih sedikit, tidak
simetris dan tidak mempunyai redundansi, biasanya di pakai pada lokasi yang
tidak membutuhkan kekakuan tinggi serta terpengaruh beban seismik yang kecil
b. Bentuk pola V brace
Tipe ini jumlah jointnya sedikit dan memiliki redundansi kecil, tidak mempunyai
sistem transfer beban yang baik dari satu level ke level yang lain.
c. Bentuk pola N brace
Tipe ini tidak mempunyai sistem redudansi, kegagalan buckling pada salah satu
batang tekan dapat menyebabkan kegagalan pada batang lain
d. Bentuk pola V dan X brace
Tipe ini digunakan pada lokasi yang tidak dalam, mempunyai bentuk simetris,
redundansi dan daktilitas cukup
e. Bentuk pola X brace
Mempunyai kekakuan horizontal, daktilitas dan redundansi yang tinggi, memiliki
jumlah joint lebih banyak sehingga butuh banyak pengelasan, dan banyak
digunakan pada lokasi lau dalam dan daerah rawan gempa
3.4 Pembebanan Struktur
Platform atau anjungan adalah struktur yang didesain khusus untuk kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi minyak dan gas bumi di lepas pantai. Struktur ini menjadi subjek terhadap berbagai
macam pembebanan, dimana menurut API RP 2A beban yang dapat diterima oleh struktur
anjungan lepas pantai adalah sebagai berikut :

18
1. Beban gravity
Beban gravity adalah beban gabungan antara beban mati dan beban hidup.
2. Beban mati
Beban mati struktur adalah berat struktur itu sendiri, semua perlengkapan yang
permanen dan perlengkapan struktur yang tidak berubah selama beroperasinya
struktur. beban mati terdiri dari :
a. Beban platform sendiri
b. Beban equipment
c. Beban framing
d. Beban appurtenance (anode, tangga, safety net, stiffners, dll)
3. Beban Hidup
beban hidup adalah beban yang mengenai struktur dan berubah selama operasi
platform berlangsung. Beban hidup terdiri dari :
a. beban perlengkapan pengeboran dan perlengkapan produksi yang bisa dipasang
dan dipindahkan dari platform
b. berat dari tempat tinggal (living quarter), heliport, dan peralatan penunjang lainnya.
c. Berat dari suplai kebutuhan dan benda cair lainnya untuk mengisi tangki
penyimpanan
d. Gaya yang mengenai struktur selama operasi seperti pengeboran, penambatan
kapal, beban helikopter
e. Beban yang diangkut oleh crane yang diletakkan di atas deck
4. Beban lingkungan
Beban lingkungan adalah kondisi yang timbul di mana struktur bangunan lepas pantai
itu akan dioperasikan. Kondisi lingkungan itu diperoleh pada saat peninjauan lokasi
dan dilakukan secara berkala untuk mendapatkan data atau informasi yang lebih
akurat. Data tersebut mewakili gejala alam yang mungkin timbul selama
pengoperasian bangunan lepas pantai dalam bentuk angka. Kondisi lingkungan di
mana struktur bangunan lepas pantai akan dioperasikan, harus dibedakan dalam dua
kategori, yaitu Kondisi Lingkungan Normal atau kondisi yang diperkirakan sering
terjadi dan Kondisi Lingkungan Ekstrim.
Salah satu kondisi lingkungan yang utama adalah kedalaman perairan. Dalam banyak
hal, data ini merupakan tolok ukur berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam
penentuan konfigurasi struktur bangunan lepas pantai. Muka air pasang dan muka air
surut juga merupakan parameter penting yang mempengaruhi kedalaman perairan.

19
Terdapat beberapa gejala alam yang merupakan bagian dari beban lingkungan yang
dialami oleh struktur bangunan lepas pantai di lokasi pengoperasian, antara lain
Gelombang, Angin dan Arus.

Gelombang
Gelombang merupakan sumber utama dari beban lingkungan yang diderita oleh
anjungan lepas pantai. Dalam perancangan konstruksi bangunan lepas pantai,
karakteristik gelombang yang digunakan adalah pada kondisi lingkungan normal,
terutama untuk menentukan parameter gelombang rata-rata; sedangkan kondisi
lingkungan ekstrim yang diperkirakan terjadi pada perulangan periode 100 tahun.
Parameter-parameter yang diperoleh dari gelombang adalah tinggi gelombang,
periode gelombang, panjang gelombang dan elevasi puncak gelombang serta
parameter lainnya yang mendukung.

Angin
Parameter angin yang utama adalah kecepatan angin. Data angin yang diperoleh
harus disesuaikan dengan kecepatan angin pada ketinggian standar (ketinggian
acuan/referensi) yaitu 10m atau 33ft di atas permukaan air rata-rata dengan interval
waktu yang ditentukan. Terdapat dua tipe kecepatan angin, yaitu Gust (kecepatan
angin rata-rata dalam interval waktu kurang dari satu menit) serta Sustained
(kecepatan angin rata-rata dalam interval waktu satu menit atau lebih). Namun penting
pula diperhatikan frekuensi dan lama berlangsungnya kecepatan angin di lokasi.

Arus
Seperti halnya angin, parameter utama dari arus adalah kecepatannya. Selain itu, arah
terpaan arus juga merupakan variabel penting yang berguna dalam perencanaan
pengoperasian anjungan lepas pantai. Perhitungan arus memiliki banyak pengaruh
terhadap penentuan letak dan arah kedudukan sandaran kapal serta gaya dinamis
yang diderita anjungan lepas pantai.

5. Beban Appurtenance (Perlengkapan tambahan)


Beban appurtenance adalah beban perlengkapan yang diperlukan untuk safety dan
keperluan kelayakan pada platform. Beban appurtenance diantaranya ; beban tangga
(200-250 kg atau 1.5 kN), beban haindrail (0.4 - 0.5 kN/m), walkways (4.378lb/ft), dll

20
3.5 Contoh Bentuk Aplikasi Platform di Indonesia

Gambar 7. IDA A Platform milik CNOOC di Laut jawa

21
Gambar 8. Bukit Tua Platform milik PETRONAS di utara Gresik

22
Gambar 9. Platform di Selat Madura

23
4 METODOLOGI
PERANCANGAN
4.1 Perhitungan Topside Structure
Deck flooring atau lantai pada dek, yaitu berupa pelat baja yang di support dengan
girder dan grating. Pada desain untuk deck flooring ada dua jenis tipe untuk model
girdernya, yaitu tipe flush dan stack.

1. Tipe Flush

Plate

Secondary Girder

Main Girder

Gambar 10. Framing Tipe Flush

Tipe flush, merupakan tipe lantai dengan balok menerus. Dimana balok yang memiliki profil
lebih kecil biasanya secondary girder akan di potong dan nantinya akan disambungkan pada
yang memiliki profil lebih besar biasanya main girder dengan di las.

2. Tipe Stack

24
Gambar 11. Framing Tipe Stack

Tipe stack, merupakan tipe lantai dengan balok ditumpuk. Dimana balok yang memiliki profil
lebih besar biasanya main girder menumpuk balok yang memiliki profil lebih kecil biasanya
secondary girder. Kemudian tumpukan tadi di las.

 Tahapan menentukan deck flooring


1. Menghitung Free Span
Free span adalah jarak antar tiap girder atau bentangan yang tidak ter-support.

Gambar 12. Layout Dasar Sebuah Platform

25
Di atas contoh layout cellar deck yang memiliki luas 2800 ft2, dengan lebar 56 ft dan panjang
50 ft. Untuk jarak free span antar secondary girder 3,5 ft, free span antar main deck 36 ft dan
42 ft, dan jarak kantilever overhang 7 ft.

26
2. Menghitung Envelope
Metode envelope yang digunakan dalam perhitungan distribusi beban pada girder adalah
metode yang diterapkan pada equipment yang beban terbagi karena adanya persimpangan
antara secondary girder dan main girder.

Pada gambar layout di bawah terlihat bahwa equipment terletak pada persimpangan antara
main deck dan secondary girder, sehingga digunakan metode envelop untuk menghitung
distribusi beban yang terjadi baik pada main girder maupun secondary girder. Bagian dari
equipment yang bewarna kuning menunjukan bahwa beban tersebut adalah beban yang
diterima oleh main girder, sedangkan yang bewarna merah adalah beban yang diterima oleh
secondary girder.

Main girder

Main girder

Bagian yang ter-envelop

Gambar 13. Ilustrasi Perhitungan Tributary Area

Cara perhitungan:

a. Dari ujung equipment buatlah sudut 45o, kemudian tarik garis lurus sampai
girder.
b. Menghitung distribusi beban envelop adalah
𝐿𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎
𝐿𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑝𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛
× 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑝𝑚𝑒𝑛𝑡

3. Menghitung Tebal Pelat Lantai

27
qtotal

3.5 ft

Gambar 14. Perhitungan Tebal Pelat Lantai

a. Menghitung beban total yang bekerja pada span per in.


Beban total yang termasuk untuk menghitung tebal pelat lantai adalah beban hidup (live
load) dan beban perpipaan.

b. Menghitung Momen Max


(𝐿)2
Mmax = 𝑞𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 × 12
Dimana,
qtotal = beban total
L = jarak dari beban ke titik yang ditinjau

c. Menghitung tegangan ijin


Untuk menghitung tegangan ijin sesuai dengan AISC ASD dan baja yang digunakan A36.

𝜎𝑎 = 0,6 x 𝜎𝑦

Dimana,

𝜎𝑎 = tegangan ijin sesuai AISC ASD

𝜎𝑦 = tegangan yield baja yang digunakan

d. Menghitung modulus penampang (S)


𝑀𝑚𝑎𝑥
S= 𝜎𝑎
Dimana,
𝑀𝑚𝑎𝑥 = Momen maksimal yang terjadi
𝜎𝑎 = tegangan ijin sesuai AISC ASD

28
e. Menghitung tebal pelat
𝐼
𝑆=𝐶
dimana,
𝑏.ℎ 3 ℎ
𝐼 = 12
dan 𝐶 = 2
I = inersia
C = centroid
h = tebal pelat

f. Kemudian setelah mendapat nilai t, cari nilai t pada AISC bab 2 pada tabel di bawah ini
yang mendekati nilai t sesuai perhitungan.
Tabel 2. Ketebalan Pelat dan Beratnya Menurut AISC

g. Setelah nilai t dari AISC didapat kemudian cek kembali untuk nilai t tersebut untuk
mendapatkan nilai modulus penampang (S) dari tebal pelat tersebut yang nantinya
digunakan untuk mencari nilai tegangannya (s).
h. Kemudian bandingkan nilai dari tegangan (s) perhitungan dengan tegangan (s) ijin, jika
nilai tegangan (s) perhitungan lebih kecil daripada tegangan (s) ijin maka tebal pelat
tersebut sudah memenuhi.

29
4. Menghitung Properties Secondary Girder Cellar Deck
a. Untuk menentukan properties beam pada secondary girder, kita harus menentukan
luasan span yang menerima beban terbesar pada konfigurasi di cellar deck
b. Menghitung beban total, yang termasuk beban total adalah beban hidup, beban
perpipaan, beban pelat dan beban perlatan.
c. Menghitung Momen max. dengan persamaan seperti di bawah ini.

Tabel 3. Diagram Momen Pada Fixed Ends Beam

Contoh gambar cara perhitungan cellar deck:

Gambar 15. Contoh Perhitungan Cellar DEck

d. Menghitung Tegangan ijin menggunakan AISC ASD seperti menghitung tegangan ijin
pada tebal pelat. Untuk mendapatkan nilai modulus penampang.
e. Menentukan Properties Beam
Untuk menentukan properties beam digunak AISC ASD tabel W shape dengan mencari
nilai modulus penampang yang lebih dekat dengan nilai modulus penampang
perhitungan.
30
f. Kemudian cek kempali properties yang di pilih dengan mencari nilai tegangan. Jika nilai
tegangannya lebih kecil daripada tegangan ijin maka properties tersebut dapat dipilih.
5. Menghitung Properties Main Girder Cellar Deck
a. Untuk menentukan properties beam pada main girder, kita akan menetukan luasan
span yang menerima beban terbesar pada konfigurasi di cellar deck dan menghitung
berat secondary girder.
b. Menghitung beban total yang terdiri dari beban hidup, beban perpipaan, beban pelat,
dan beban total, serta berat secondary girder karena ditumpu oleh main girder.
c. Kemudian menghitung momen max yang terjadi. Contoh gambar cara perhitungan
seperti di bawah ini:

Gambar 16. Perhitungan Satu Span Pada Girder

d. Menghitung Tegangan ijin menggunakan AISC ASD seperti menghitung tegangan


ijin pada tebal pelat. Untuk mendapatkan nilai modulus penampang.
e. Menentukan Properties Beam
Untuk menentukan properties beam digunak AISC ASD tabel W shape dengan
mencari nilai modulus penampang yang lebih dekat dengan nilai modulus
penampang perhitungan.
f. Kemudian cek kempali properties yang di pilih dengan mencari nilai tegangan. Jika
nilai tegangannya lebih kecil daripada tegangan ijin maka properties tersebut dapat
dipilih.

31
4.2 Material Take Off Seleksi Dan Optimasi Penempatan Equipment Yang
Akan Ditempatkan Pada Deck.
1. Seleksi Equipment yang akan ditempatkan pada masing-masing deck

Berdasarkan pada Tugas Rancang Besar II, mahasiswa diberikan daftar equipment yang
biasa dipakai dalam industri minyak dan gas secara umum. Akan tetapi tidak semua
equipment dipakai untuk diletakkan pada platform. Dalam hal ini diperlukan seleksi mana
equipment yang akan dipakai, disesuaikan dengan jenis dan fungsi masing-masing platform
yang akan dibuat. Contoh sederhananya adalah wellhead platform membutuhkan konduktor
untuk keperluan transportasi hidrokarbon dari reservoir ke atas deck, sedangkan production
platform tidak membutuhkan konduktor dikarenakan fungsinya sebagai platform pengolah
hidrokarbon yang telah diambil dari wellhead platform menjadi produk minyak/gas. Contoh
lainnya adalah, jika production platform membutuhkan separator sebagai pemisah fase gas,
cair dan padat dari hidrokarbon, maka wellhead platform tidak membutuhkan separator
karena tugas dari platform tersebut hanya mentransportasikan hidrokarbon dari reservoir
untuk dibawa keatas platform.

Berikut ini merupakan contoh seleksi equipment yang akan dipakai untuk wellhead platform:

I. CELLAR DECK
No. Description Jumlah Berat Ukuran
(Kip)
1 Gas Cooler 1 15.68 OD 38'' x 20'-0''
2 Emergency generator 1 20.16 22'-0'' x 9'-0'' x 10'-11''
3 Battery box 2 1.79 2'-3'' x 2'-3'' x 1'-9''
4 Vertical separators 2 36.77 OD 54'' x 8'-4''
5 Maintenance building 1 44.80 12'-3'' x 6'-4'' x 8'-0''
6 Switch gear 1 7.84 5'-0'' x 2'-2'' x 8'-10''
7 Switch gear building 1 5.04 26'-0'' x 24'-0'' x 14'-0''
8 Switch gear building 1 6.72 7'-0'' x 18'-0'' x 13'-6''
9 Diesel fuel tank 1 58.24 10'-0'' x 10'-0'' x 10'-0''
10 Toilet 1 2.24 4'-0'' x 6'-0'' x 8'-0''
11 Transformer-1 1 92.00 16'-6' x 12'-10'' x 12'-0''
12 Transformer-2 1 12.00 9'-0'' x 5'-0'' x 6'-9''
15 Vertical air receiver 1 1.20 OD 38'' x 6'-4''

32
II. MAIN DECK
No. Description Jumlah Berat (Kip) Ukuran
1 Battery box 2 1.79 2'-3'' x 2'-1' x 1'-9''
2 Air compressor package 1 3.36 5'-8'' x 3'-6'' x 6'-0''
3 Load break switch 1 1.19 4'-6'' x 2'-5'' x 6'-5''
4 Container room-1 1 23.52 34'-0'' x 10'-0'' x 20'-0'
5 Container room-2 1 23.52 34'-0'' x 10'-0'' x 20'-0'
6 Process control room 1 9.24 16'-0'' x 14'-0'' x 12'-0''
7 Transformer 3 19.23 12'-6'' x 8'-0'' x 8'-0''
8 Instrument storage 1 5.60 8'-0'' x 6'-8'' x 6'-6''
9 Fresh water tank 1 7.09 11'-6'' x 8'-0'' x 10'-0''
10 Air receiver 1 1.20 OD 36'' x 75''
11 Ansul drum chemical skid 1 2.47 9'-3'' x 5'-2'' x 4'-5''
12 Mechanical storage 1 7.84 8'-2'' x 8'-1'' x 8'-9''
13 Life capsule 1 2.69 …
14 Communication microwave 1 5.38 10'-4'' x 10'-0'' x 9'-10''
15 Communication tower 1 17.92 10'-5'' x 10'-5'' x 100'-0''
16 Fuel tank 1 13.44 5'-7'' x 4'-5'' x 4'-7''
17 Power instrument storage 1 4.44 8'-2'' x 8'-2'' x 9'-0''
18 Toilet 1 2.24 5'-0'' x 4'-0'' x 8'-0''

2. Penempatan equipment di atas masing-masing deck yang berdasarkan pada


keamanan dan estetika

Equipment tertentu tidak bisa ditempatkan bersebelahan dikarenakan interaksi antara


keduanya bisa beresiko menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti ledakan dll.
Seperti contoh equipment diesel fuel tank tidak dapat didekatkan dengan equipment yang
mempunyai sistim perapian atau akan memperbesar potensi kebakaran dan ledakan.
Selain alasan keamanan, penempatan juga harus mengacu pada pertimbangan estetika,
dikarenakan diatas platform tersebut memungkinkan adanya aktifitas personil, oleh
karena itu penempatan equipment harus mempertimbangkan aspek-aspek keamanan,
mobilitas dan kenyamanan personil. Contohnya adalah memberikan jalur lalu lintas
personil yang efisien, menjauhkan fresh water tank dari diesel fuel tank agar tidak
terkontaminasi, dsb.

33
Sebagai pedoman dalam melakukan distribusi peletakan equipment di atas deck yang
optimum berdasarkan faktor keamanan dan estetika, dapat menggunakan buku
karangan Subrata K. Chakrabarti yang berjudul “Handbook of Offshore Engineering”
pada Chapter 10 sebagai referensi.

3. Penempatan equipment berdasarkan pada pertimbangan Centre of Gravity (COG)


untuk stabilitas struktur
Optimasi COG bertujuan untuk menjadikan struktur sestabil mungkin, menjadikan
distribusi beban yang berada di atas deck rata dan tidak menitik beratkan pada sisi-
sisi tertentu. Titik COG adalah suatu titik pada keseluruhan struktur dimana berat
semua bagian benda terpusat pada titik tersebut. Jadi semakin mendekati x=0, y=0,
z=0, maka struktur tersebut akan semakin stabil. Formulasi untuk memperhitungkan
COG adalah:

Keterangan
xo = absis (x) dari titik berat benda
yo = ordinat (y) dari titik berat benda
zo = aplikat (z) dari titik berat benda
mi = massa partikel ke-i
xi = absis titik tangkap dari partikel ke-i
yi = ordinat titik tangkap dari partikel ke-i
zi = aplikat titik tangkap dari partikel ke-i

34
Jadi semakin mendekati nol nilai xo, yo, dan zo maka semakin stabil strukturnya. Oleh karena
itu diperlukan penempatan equipment yang ideal, dan merata dengan tetap
mempertimbangkan faktor keamanan dan estetika.

Contoh layout distribusi peletakan equipment pada cellar deck berdasarkan contoh seleksi
equipment pada bab sebelumnya:

35
MATERIAL TAKE OFF (MTO)

MTO adalah istilah yang biasa dipakai dalam engineering dan konstruksi yang mengacu pada
daftar bahan/material dengan spesifikasi jumlah dan jenisnya, untuk membangun struktur
secara keseluruhan yang dirancang berdasarkan komponen-komponen tersebut.
Pengaplikasian dalam tugas rancang besar ini adalah menggabungkan seluruh beban yang
mengenai top side dari semua komponen struktur untuk menentukan COG nya. Proses ini
dilakukkan setelah mendapatkan spesifikasi, jumlah dan koordinat dari plat dan girder. Prinsip
perhitungannya sama seperti halnya mencari titik berat seperti yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya. Berikut ini adalah contoh perhitungan MTO pada cellar deck:

36
Karena topside terdiri dari main deck, cellar deck, helideck & mezzanine deck (bila ada), maka
keempat COG dari keempat deck tersebut harus digabungkan.

4.3 Perhitungan Beban Lingkungan


 Beban Arus
Beban arus termasuk beban lingkungan yang berpengaruh pada platform terutama
pada bagian jacket. Arus yang ditinjau adalah beban arus di permukaan dan di dasar
laut.

Permukaan

LwL

Dasar laut

Gambar 17. Profil Arus

37
Tahapan yang digunakan untuk menghitung beban arus, baik di permukaan dan di dasar laut
adalah sebagai berikut:

a. Menghitung beban arus dengan persamaan:


1
𝐹 = . 𝜌. 𝐶𝐷 . 𝑉 2
2

dimana:
𝐹 = Gaya
𝜌 = massa jenis air (lb/ft2)
𝐶𝐷 = koefisien drag
𝑉 = kecepatan arus (ft/s))
𝐷 = diameter luar jacket (ft)

Untuk nilai koefisien drag (CD) sesuai API RP 2A-WSD adalah sebagai berikut:

b. Menghitung beban arus total


Menghitung beban arus total dengan cara menjumlahkan beban arus di
permukaan dan beban arus dasar laut.

 Beban Angin
Beban angin adalah beban yang mempengaruhi platform yang tidak tertutup air
terutama pada bagian topside.

Tahapan perhitungan beban angin adalah sebagai berikut:


a. Menghitung ketinggian tiap dek dan titik tertinggi dari topside dari MSL.
b. Menghitung titik tangkap gaya angin pada setiap dek dengan cara menghitung
selisih antara dek yang ditinjau dengan dek di atasnya. Contohnya ada seperti
gambar di bawah ini:

38
Wind Projected Area

128.16 ft
Main Deck

98.16 ft
Mezzanine
deck
58.79 ft
Cellar Deck

22.04 ft
71.25 ft 22.83 ft
0 ft

Gambar 18. Contoh Perhitungan Beban Angin

c. Menghitung nilai kecepatan paqda elevasi 30 ft, dengan menggunakan the one-
seventh power law. Persamaannya adalah sebagai berikut:
𝑧 1⁄7
𝑉𝑧 = 𝑉30 . [ ]
30
dimana:
𝑉30 = kecepatan angin saat ketinggian 30 ft
𝑧 = ketinggian yang ditinjau (ft)
30 = ketinggian referensi (ft)

d. Setelah mendapatkan nilai dari titik tangkap dan kecepatan angin pada saat
ketinggian 30 ft, digunakan persamaan di bawah ini untuk mendapatkan nilai
bebannya:

1
𝐹𝐷 = 𝐶𝑠 . . 𝜌. 𝑉𝑧 2 . 𝐴
2
dimana :
𝐶𝑠 = shape coefficients
𝜌 = massa jenis
𝑉𝑧 = kecepatan angin pada ketinggian z
𝐴 = Area yang tegak lurus terhadap arah datangnya angin

untuk nilai shape coefficients, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

39
 Beban gelombang

Beban gelombang merupakan salah satu faktor yang penting dalam perhitungan beban
lingkungan yang mengenai struktur yang akan dirancang. Secara umum langkah-langkah
yang dilakukan dalam penentuan beban gelombang yaitu sebagai berikut

1. Menentukan teori gelombang


2. Menentukan frekuensi gelombang
3. Menghitung panjang gelombang
4. Menentukan profil gelombang
5. Menghitung kecepatan air horizontal dan vertikal

Untuk lebih jelasnya langkah-langkah tersebut akan dijelaskan di bawah ini

1. Menentukan teori gelombang

Pada umumnya data yang diberikan pada trb II mempunyai data dengan kedalaman
kurang dari 40 m, jadi dapat digunakan rumus yang terdapat pada API RP 2A, dengan teori
gelombang 2D Tapp diambil dari grafik Doppler Shift

Gambar 19. Penentuan Apparent Wave Height

40
Perhitungan yang dilakukan dengan memasukkan nilai V1/gT, dengan V1= kecepatan arus, g
= kecepatan gravitasi, dan T= Periode gelombang. Yang kemudian digunakan untuk
mendapatkan nilai Tapp yang nantinya menjadi penentu teori gelombang mana yang akan
digunakan, Tapp yaitu periode gelombang ketika telah mengenai struktur.

Setelah didapatkan Tapp, kemudian dilakukan pengecekan teori gelombang yang akan
digunakan, hal ini diperlukan untuk perhitungan selanjutnya.

2. Menentukan angka gelombang

Dilakukan perhitungan dengan menggunakan iterasi untuk mendapatkan nilai tanh (kh)
dengan asumsi awal tanh(kh) = 1

ω2
k =
g.tan h(kh)
Dengan

w = frekuensi gelombang

g = percepatan gravitasi

h = kedalaman air

k = angka gelombang

41
Digunakan nilai tan h (kh) yang nilai iterasinya sama untuk beberapa kali iterasi, dan
kemudian dicari nilai angka gelombang dari hasil tersebut.

3. Menghitung panjang gelombang

Panjang gelombang dicari dan dilakukan pengecekan angka gelombang dengan angka
gelombang hasil iterasi yang dilakukan pada tahap sebelumnya.

gT2 tanh (kh)


λ =

Dengan

Λ = angka gelombang

g = percepatan gravitasi

T = periode gelombang

h = kedalaman perairan

k = angka gelombang

dilakukan perhitungan manual angka gelombang dengan rumus di bawah ini dan
kemudian di bandingkan dengan nilai angka gelombang di hasil iterasi


k =
λ
Kemudian dilakukan pengecekan pada tinggi gelombang dan harus sesuai dengan
syarat yang diberikan tersebut

H
< (kh)2
h
H
< 1
λ

4. Menentukan profil gelombang

Dengan, menentukan nilai h/λ terlebih dahulu, sehingga bisa didapatkan profil
gelombang.

h
λ
42
Free surface water deflection (η) = (1/k) Σ Fn cos n (kx-ωt)

Dengan, Fn adalah parameter profil gelombang:

F1 = a
F2 = a2 F22 + a4 F24
F3 = a3 F33 + a5 F35
F4 = a4 F44
F5 = a5 F55
Dari perbandingan kedalaman dan panjang gelombang diatas kemudian mencari nilai
F22, F24, F33, F35, , F44, F55 dari pembacaan tabel 3.6 (dawson). Langkah berikutnya
adalah mencari nilai wave height parameter related to the wave height (yang disimbolkan
dengan huruf “a”) dengan persaman:

43
kH = 2[a+a3F33+a5(F35+F55)]
a = (kH/2)-a3F33 - a5(F35+F55)
a = (0,019x16/2)-a3 0,435 - a5 (1,438+0,420)
a = 0,150761 - a3 0,435 - a5 (1,438+0,420)

Dengan menggunakan metode iterasi, mula-mula nilai a harus disumsikan terlebih


dahulu menggunakan formula:

a=kH/2

nilai a diatas digunakan untuk variabel a di sisi kanan dari persamaan diatas, kemudian
proses iterasi dilanjutkan untuk mendapatkan nilai a, contoh:

iterasi a (awal) a (perhitungan)


1 0,117777661 0,1500
2 0,1500 0,1492
3 0,1492 0,1492
4 0,1492 0,1492
5 0,1492 0,1492

Proses iterasi berlangsung sampai nilai a perhitungan sama dengan nilai awal,
kemudian ditentukan nilai a yang dicari. Kemudian masukkan nilai a tersebut untuk mencari
nilai-nilai dari F1, F2, F3, F4, F5

Kemudian menghitung nilai Free surface water deflection (η)= (1/k) Σ Fn cos n (kx-ωt),
dengan kondisi maksimum, (kx-ωt)=00 dan kondisi minimum, (kx-ωt)=900

Kemudian mencari nilai η total dari masing-masing variabel Fn (F1, F2, F3, F4, F5) untuk
masing-masing kondisi maksimum dan kondisi minimum.

44
5. Menghitung kecepatan air horizontal dan vertikal

Perhitungan kecepatan air gorizontal dan vertikal sesuai dengan rumus berikut :

U=

V=

Dengan parameter h/ λ kemudian digunakan untuk mencari nilai G11 hingga G55 untuk
kemudian didapatkan nilai G1, G2, G3, G4, dan G5. Nilai Gn sesuai dengan rumus di bawah
ini

G1 = aG11+a3G13+a5G15
G2 = 2(a2G22+a4G24)
G3 = 3(a3G33+a5G35)
G4 = 4 a4G44
G5 = 5 a5 G55

Kemudian mencari nilai y yang menjadi salah satu parameter dalam perhitungan kecepatan
air

y = d + η max

Mencari nilai Rn dan Sn yang pada perhitungan U dan V digunakan untuk mencari nilai
percepatan horizontal (ax) dan percepatan vertikal (ay)

Rn :
R1 = 2 U1-U1U2-V1V2-U2U3-V2V3
R2 = 4 U2-U12+V12-2U1U2-2V1V3
R3 = 6 U3-3U1U2+3V1V2-3U1U4-3V1V4
R4 = 8 U4-2U22+2V22-4U1U3+4V1V3
R5 = 10 U5-5U1U4-5U2U3+5V1V4+5V2V3

Sn :
S0 = -2 V1 U1
S1 = 2V1-3U1V2-3U2V1-5U2V3-5U3V2

45
S2 = 4V2-4U1V2-4U2V1
S3 = 6V3-U1V2+U2V1-5U1V4-5U4V1
S4 = 8V4-2U1V3+2U3V1+4U2V2
S5 = 10V5-3U1V4+3U4V1-U2V3+U3V2

Setelah itu mencari kecepatan gelombang c dengan menggunakan rumus

[g/k(1+a2C1+a4C2)tanh
c = kh]0,5

Nilai C1 dan C2 didapatkan dari tabel 3.8 (Dawson) dengan menggunakan parameter
kedalaman (h) dan panjang gelombang (λ) untuk mendapatkan nilai tersebut.

6. Menghitung gaya yang timbul akibat teori gelombang

Pada perhitungan yang dilakukan ini teori gelombang yang digunakan yaitu teori gelombang
stokes, maka persamaan yang dilakukan untuk mencari gaya drag dan gaya inersia sebagai
berikut

Fd = CD D 4 5 m
2

2k 3
 A
m1 n 1
mn cos mt cos nt

 CI D 2 2 5
Fi =
4k 2
n 1
Bn sin nt

Untuk mendapatkan nilai dari Fd dan Fi perlu diketahui dahulu nilai koefisien Amn dan Bn.
Yang didapatkan dari persamaan (Dawson hal 119)

Menghitung koefisien Bn (Dawson)

B1 = 1 G1G 2 S 3 1 G3G3 S 5
V1  V3 V5
6 G3 S1S 2 10 G5 S 2S 3
46
B2 = 1 G12 1 G1G3 S 4
V2 2
ky  V4
2 S1 4 G4 S1S 3

B3 = 3G 2 3 G1G 4 S 5
V3 V1  V5
2S 2 10 G5 S1S 4

B4 = G 22 G1G3 S 2
V4  2
ky  V2
2S 2 G2 S1S 3

B5 = 5G 2G3 S1 5G1G 4 S 3
V5 V1  V3
2G1 S 2S 3 6G3 S1S 4
Sedangkan untuk persamaan Amn sebagai berikut

A11 = G12/S12 x S2V3/4XG2 + ky/2


A22 = G22/S22 x S4V4/4X2G4 + ky/2
A41 = G4G1/2S4S1 x S5V5/5G5 + S3V3/3G3
A31 = G3G1/2S3S1 x S4V4/4G4 + S2V2/2G2
A21 = G2G1/2S2S1 x S3V3/3G3 + S1V1/1G1
A32 = G3G2/2S3S2 x S5V5/5G5 + S1V1/1G1
Nilai B dan Amn di jumlah untuk kemudian dilakukan perhitungan gaya drag dan gaya inersia
tersebut, dengan menggunakan nilai koefisien sesuai dengan api untuk silinder

Smooth

Cd = 0.65

Cm = 1.6

Rough

Cd = 1.05

Cm = 1.2

47
4.4 Perancangan Jacket Structure

4.4.1 Tubular Member Design


Tubular member adalah elemen utama dalam desain jacket structure. Tubular member dipilih
karena member ini tidak memiliki sumbu kuat dan sumbu lemah. Tubular member pada jacket
structure ditinjau sebagai frame system yang terdiri dari vertical, horizontal, dan diagonal
member. Tubular member harus mampu menahan beban yang bekerja, yang harus kita tinjau
sebagai kesatuan frame. Berdasarkan AISC 9th commentary C, stabilitas struktur frame
dihitung dengan konsep effective length KL. K adalah faktor jenis tumpuan. Pada API 2007,
K faktor secara praktis didefinisikan pada table di bawah ini.

Effective length sangat praktis digunakan. Dalam tataran konsep yang paling dasar, kita hanya
perlu engineering sensing untuk menentukan tipe tumpuan yang akan kita gunakan.

Table 1. Faktor K dan Tipe Tumpuan (AISC 9th)

48
Table 2. K Faktor pada API 2007

a. Mendesain Deck Leg

Beban-beban yang bekerja pada deck ditransfer gayanya menuju pile melalui deck leg. Deck
leg merupakan tubular member yang berhubungan langsung dengan deck. Beban yang
bekerja pada deck leg yang paling besar adalah axial compression dan bending moment.
Berdasarkan API 2007, kekuatan deck leg harus dicek dengan persamaan berikut:

Dimana: - Fa = Axial Load.

- 0.6 x Fy = Allowable Axial Stress


- Fbx dan fby = In plane dan out plane bending.

49
Gambar 20. Perhitungan Axial Compression dan Moment

Perhitungan axial compression dan bending moment terbesar adalah dari distribusi beban
yang ditumpu pada sejumlah kakinya. Pada gambar di atas, ditunjukkan bahwa sebuah deck
dengan 6 kaki dan distribusi bebannya terhadap Centre of Gravity-nya. Kita gunakan prinsip
kesetimbangan moment untuk menentukan kaki yang menerima beban paling besar.

P1 x L1 = P2 x L2
P3 x L3 = P2 x L2
P4 x L4 = P2 x L2
P5 x L5 = P2 x L2
P6 x L6 = P2 x L2
L2
P6 = P2 x
L6
L2
P5 = P2 x
L5
L2
P4 = P2 x
L4
L2
P3 = P2 x
L3
L1
P1 = P2 x
L2

b. Mendesain Jacket Leg

Jacket leg adalah tubular member yang melindungi pile dan berfungsi sebagai chord pada
tubular joint. Jacket leg, secara practical dihitung dengan persamaan berikut ini:
50
OD jacket = OD pile+ 2T.jacket + 2ξ
ξ = clearance min 1.5 in

Ketebalan Jacket

ξ OD PILE

Gambar 21. Cross Section Jacket dan Pile

c. Bracing Design

Bracing design berkaitan erat dengan desain tubular joint. Kita akan bahas bracing design
setelah mengetahui desain tubular joint berikut ini.

4.4.2 Tubular Joint Design Based On Api Rp-2a 2007


Yield stress yang digunakan untuk desain haruslah kurang dari 0.8 dari tensile strength jika
tensile strength-nya kurang dari sama dengan 72 ksi (500 MPa)

𝜎𝑦 = 0.8 × 𝜎𝑢

a. Joint Classification

Tubular joint diklasifikasikan berdasarkan axial load yang bekerja pada brace, terdapat 3 tipe
utama yaitu X, K dan Y. Pembagian klasifikasi ini didasarkan pada tipe gaya axial dan
konfigurasi gaya pada tiap plane (uni-plane). Berikut ini adalah contoh dari beberapa
klasifikasi joint:

51
52
b. Simple Joint
i. Nomenclature

Dalam desain tubular joint, terdapat beberapa istilah yang lazimnya digunakan, berikut ini
adalah ilustrasi dari simple joint dan parameter bentuk yang digunakan:

ii. Validity Range

Kriteria validitas sebuah tubular joint ditentukan dengan batas-batas dari nilai parameter
bentuk sebagai berikut:

53
iii. Basic Capacity

Simple tubular joint, tanpa overlapping, penegar, gusset, grout dan diaphragm, di desain
dengan kapasitas axial dan moment sebagai berikut:

(Plus 1/3 increase untuk kondisi ekstrim)

Dimana:

 Pa = Allowable capacity for brace axial loads


 Ma = allowable capacity for brace bending moment
 Fyc = the yield stress of the chord member at the joint (or 0.8 of the
tensile strength, if less)
 FS = Safety factor = 1.60

Untuk joint yang terdiri dari beberapa tipe K, Y dan X, kapasitas Pa ditentukan dari rerata nilai
Pa per partisi joint yang diberi factor.

iv. Strength factor Qu

Strength factor Qu ditentukan dari Table 4.3-1 pada API 2007.

v. Chord Load Factor Qf

Qf merupakan load factor yang digunakan untuk mempertimbangkan juga nominal loads yang
ada pada chord.

Dimana A:

(Ketika 1/3 increase digunakan, Nilai FS pada persamaan 4.3-2 dan 4.3-3 menjadi FS = 1.20)

Dimana:

 Pc dan Mc = resultan dari gaya-gaya yang bekerja pada chord.

54
 Py = kapasitas axial yield dari chord
 Mp = kapasitas plastic bending dari chord

C1, C2, C3 = Coefficient dengan nilai ditentukan oleh Table 4.3-2 pada API

 Chord axial loads bernilai positif untuk tension


 Chord inplane bending bernilai positif untuk bending yang memberikan nilai positif
pada joint footprint
vi. Strength Check

Joint interaction ratio IR untuk axial dan bending moment, dihitung melalui persamaan berikut
di bawah ini:

4.4.3 Mendesain System Bracing


System bracing didesain dengan memperhatikan faktor-faktor seperti yang telah dijelaskan
pada Bab ini.

a. Perhitungan maximum unbraced length

Unbraced length adalah panjang maksimal dari sebuah member yang tidak disupport oleh
system bracing. Harga maksimal dari max unbraced length dihitung dari rasio KL/r dengan
range harga:

60 < < 90

55
Contoh perhitungan horizontal brace:

k = 1 (untuk jacket leg )


r = 0.35 x ODjacket (jari - jari girasi ) (example OD = 38 in)
= 13.3 in
maka,

kxL = 75 Ketentuan ukuran Brace


r
L = 75 x r
k
= 997.5 in

= 83.125 ft
Perhitungan di atas menunjukkan bahwa panjang unbrace length
maksimum sebesar 83.125 ft

b. Menentukan properties brace

Harga dari parameter geometri brace harus sesuai dengan validity range yang ditentukan oleh
API 2007.

56
Contoh perhitungan ukuran bracing:

Horizontal Brace:

D= 38 inch β= 0.5
T= 1 inch ϒ= 25
t= 0.8 inch τ= 0.8
d= 19 inch θ= 90

Diagonal Brace:

D= 38 inch β= 0.6
T= 1 inch ϒ= 25
t= 0.9 inch τ= 0.9
d= 22.8 inch θ= 90

Ukuran di atas merupakan preliminary design yang bisa berubah seiring dengan perubahan
beban dan analisis yang dilakukan. Bisa terjadi kemungkinan struktur sambungan mengalami
redesign baik itu penambahan maupun pengurangan.

57
5 SACS 5.6
5.1 Pengantar SACS 5.6
Gambar dibawah merupakan tampilan workspace mula-mula pada software SACS 5.6. Dalam
melakukan pemodelan strukur secara visual mempergunakan precede-graphical interactive
modeler yang berada pada deretan program launcher, seperti gambar dibawah:

Function Program
Tab Launcher

precede-graphical
interactive Analysis Generator

Folders& Files
Browser

Gambar 2.1 SACS Workspace

5.2 Pengenalan Tooltab yang terkait: Joint, Member, Property & Display

Yang akan dijelaskan dibawah ini merupakan tools basic yang umumnya dipergunakan untuk
melakukan pemodelan strukturfixed jacket sesuai pengerjaan tugas perancangan struktur
lepas pantai statis (TRB 2):

5.2.1 Joint

58
Gambar 2.2.1 Fasilitas pada tooltab joint

 Joint properties:

Untuk mengetahui koordinat joint, nama joint, fixity joint, dll pada joint yang di pilih, cara =
meng-klik joint pada toolbar > klik joint properties > pilih dan klik joint yang ingin diinginkan

 Find:

Untuk melacak atau mencari joint yang diinginkan, Cara = meng-klik joint pada toolbar> klik
find> masukkan nama joint yang ingin di cari

 Distance :

Untuk mengetahui jarak antara joint satu dengan joint yang lain (sumbu x, y, maupun z), cara
= meng-klik joint pada toolbar> klik distance> klik salah satu joint kemudian klik joint yang lain

 Angle :

Untuk mengetahui sudut antara 3 joint yang berlainan, cara = meng-klik joint pada toolbar >
klik angle> klik 3 joint yang berlainan

 Add :

Untuk menambah joint absolute sesuai keinginan, cara = meng-klik joint pada toolbar> klik
add> masukkan koordinat joint sesuai keinginan (bisa mengganti fixity/tumpuan yang
dibutuhkan) >ok/apply

 Relative :

Untuk menambah joint berdasarkan acuan joint yang diinginkan, cara = meng-klik joint pada
toolbar> klik relative> masukkan koordinat joint sesuai keinginan (bisa mengganti
fixity/tumpuan yang dibutuhkan) >ok/apply

 Intersection :

59
Untuk menambah jointpada perpotongan antara line 1 dan line 2, cara = meng-klik joint pada
toolbar> klik intersection> klik joint pada line 1 dan 2 yang berpotongan >ok/apply

 Relative to a line :

Untuk menambah joint berdasarkan reference joint yang diingkan, cara = meng-klik joint pada
toolbar> klik relative to a line > masukkan koordinat joint reference 1 dan 2 sesuai keinginan
> pilih operation type ( terhadap sumbu x, y, z, angle atau length) > masukkan nilai
coordinate(untuk sumbu x, y, z), length (untuk length) atau angle dalam degree (untuk angle)
>ok/apply

 Absolute :

Untuk memindah joint absolute sesuai keinginan berdasarkan koordinat yang dimasukkan,
cara = meng-klik joint pada toolbar > klik absolute> masukkan koordinat joint sesuai keinginan
(bisa mengganti fixity/tumpuan yang dibutuhkan) >ok/apply

 Relative :

Untuk memindah joint berdasarkan acuan joint yang diinginkan, cara = meng-klik joint pada
toolbar> klik relative> masukkan koordinat joint bisa salah satu saja sesuai keinginan (bisa
mengganti fixity/tumpuan yang dibutuhkan) >ok/apply

 Intersection:

Untuk memindah jointpada perpotongan antara line 1 dan line 2, cara = meng-klik joint pada
toolbar> klik intersection> klik joint pada line 1 dan 2 yang berpotongan >ok/apply

 Relative to a line :

Untuk memindah joint berdasarkan reference joint yang diingkan, cara = meng-klik joint pada
toolbar > klik relative to a line> masukkan koordinat joint reference 1 dan 2 sesuai keinginan
> pilih operation type ( terhadap sumbu x, y, z, angle atau length) > masukkan nilai
coordinate(untuk sumbu x, y, z), length (untuk length) atau angle dalam degree (untuk angle)
>ok/apply

 Delete :

untuk menghapus joint pada tampilan preceed, cara = meng-klik joint pada toolbar> klik
delete> masukkan joint yang ingin di hapus >ok/apply

 Translate/rotate :

60
Untuk memindahkan joint secara translasi maupun rotasi, cara = meng-klik joint pada toolbar>
klik translate/rotate> masukkan joint yang ingin di pindah > masukkan koordinat perpindahan
dari titik awal (untuk translasi) atau masukkan sudut perpindahan (untuk rotasi >ok/apply

 Rename/merge :

Rename untuk mengganti nama joint yang diinginkan, sedangkan merge untuk menumpuk 2
joint menjadi 1, cara = = meng-klik joint pada toolbar> klik rename/merge> masukkan joint
yang ingin di ganti namanya atau ditumpuk >ok/apply

 Fixities:

Untuk mengganti jenis fixities pada joint tertentu, cara = meng-klik joint pada toolbar> klik
fixities> masukkan joint yang ingin di ganti fixities> pilih jenis fixities yang baru >ok/apply

 Automatic Design :

Fitur otomatis yang dipergunakan untuk memberikan gap antara percabangan brace pada
kord/jacket leg yang umumnya (menurut ketentuan API RP2 WSD) adalah 2 inch. Dengan
fitur ini maka ada perpindahan (offset) otomatis pada brace

5.2.2 Member

Gambar 22. Fasilitas pada tooltab member

 Member properties:

untuk mengetahui koordinat member, nama member, release member, offset, buckling option,
dll pada member yang di pilih, cara = meng-klik member pada toolbar> klik member
properties> pilih dan klik member yang ingin diinginkan

 Find :

Untuk melacak atau mencari member yang diinginkan, Cara = meng-klik member pada
toolbar> klik find> masukkan nama member yang ingin di cari > klik find

 Angle :

61
Untuk mengetahui sudut antara 2 member yang berlainan, cara = meng-klik member pada
toolbar> klik angle> klik 2 member yang berlainan

 Add :

Menambah member sesuai keinginan, cara = meng-klik member pada toolbar> klik add> klik
2 joint yang bakal diberikan member sesuai keinginan > masukkan group label sesuai
keinginan misal : SGD (secondary girder) atau MGD (main girder), dll >ok/apply

 Wishbone :

Sebuah virtual member yang berguna untuk mentransfer beban lateral (pada sb x dan y) dari
jacket ke pile, cara : meng-klik member pada toolbar> klik add> masukkan wishbone joint,
coincident join dan ref joint 1 dan 2, misal : joint 1 dan 2 menumpuk, joint 3 dan 4 menumpuk
maka wishbone joint =1, coincident joint = 2, ref join 1 dan 2 = 3 & 4 > masukkan group label>
ok

 Divide :

Ratio : untuk membagi member berdasarkan rasionya, contoh : 1:2, 1:4, dll

Length : untuk membagi member berdasarkan panjang dari salah satu joint

X, Y, Z coordinate : untuk membagi member bersarakan sumbunya

Equal part : untuk membagi member sama besar, misal : dibagi 2, 3, dst

Perpendicular : membagi member berdsarkan titik perpotongannya

Intersection : untuk membagi member yang saling berpotongan

Existing joint : untuk membagi member berdasarkan joint yang diseberangnya

 Combine:

Untuk menyatukan member yang tidak terhubung menjadi satu, cara = klik toolbar member>
klik combine> pilih dua member yang ingin digabung >apply/ok

 Delete:

untuk menghapus member yang tidak diperlukan, cara = klik toolbar member> klik delete>
pilih member yang ingin dihapus >apply/ok

 Offsets:

62
Untuk menggeser member sehingga permukaannya sama, cara = klik toolbar member> klik
offset> pilih member yang ingin di offset> pindahkan sesuai koordinat sumbu x, y, dan z
>apply/ok

5.2.3 Property

Gambar 23. Fasilitas pada tooltab property

 Member Group:

Untuk mengidentifikasi/mengelompokkan member yang memiliki properties


(ukuran/besar/bentuk) sama, cara : klik toolbar property > klik member group > masukkan
section label (sesuai nama membernya) > klik add> pilih group type > masukkan ukuran atau
bentuknya (apabila girder dapat dilihat di library sacs pada menu disamping edit) > masukkan
kelengkapan yang lain >apply

 Member section :

untuk menciptakan atau membetuk ukuran property sesuai kebutuhan misalakan memberi
propertigirder, cara= klik member section > masukkan group label > klik add> pilih grounp
type (tubular/wideflange/box, dll) > masukkan ukurannya >apply/ok

 Plate Group :

Untuk mengidentifikasi/mengelompokkan plate yang memiliki properties


(ukuran/besar/bentuk) sama, cara: klik toolbar property > klik plate group > masukkan section
label (sesuai nama platenya) > klik add> masukkan ukuran atau bentuknya > masukkan
kelengkapan yang lain apabila diperlukan >apply

63
5.2.4 Display

Isometric View

Gambar 24. Fasilitas pada tooltab display

 Joints/members/plates : untuk menampilkan joint di jendela preecede

 Joint/member goup/ member section : untuk menampilkan nama/label tiap member

dan joint

 Local coord axis : untuk memunculkan sumbu koordinat tiap member

 Plane :

1. 3 section : untuk menampilkan gambar secara isometrik

2. XY plane : untuk menampilkan gambar terhapa sumbu X dan Y saja

3. XZ plane : untuk menampilkan gambar terhapa sumbu X dan Z saja

4. YZ plane : untuk menampilkan gambar terhapa sumbu Y dan Z saja

5.3 Pemodelan Struktur Menggunakan SACS 5.6


Pemodelan struktur FJP (Fixed Jacket Platform) pada precede dapat dilakukan dengan 2

Cara:

1. Menggunakan Structure Definition Wizard (SDW)

2. Start from blank model

64
Gambar 25. Tampilan awal precede-graphical interactive

Pada tutorial kali ini akan digunakan start blank model untuk melakukan pemodelan struktur.
Perbedaan antara kedua cara tersebut adalah SDW menawarkan fitur semi otomatis dalam
melakukan pemodelan struktur jacket sedangkan blank model adalah pemodelan dengan
cara manual. Tentu kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-
masing disesuaikan dengan kebutuhan pengguna software.

5.3.1 Prinsip dasar pemodelan


Prinsip pemodelan struktur secara visual pada SACS adalah dengan memberikan properti
material pada sebuah member (berupa garis) yang dibuat dengan cara menghubungkan satu
titik (joint) ke titik lain, contoh:
Memodelkan sebuah kerangka kubus sama sisi berukuran 10x10x10 ft dengan properti
rangka tubular berdiameter 1 ft dengan ketebalan 0,1 ft

Joint Member Property

Gambar 26. Ilustrasi Prinsip Pemodelan SACS

65
5.3.2 Pemodelan struktur jacket & piles
Seperti yang telah disampaikan pada bab sebelumnya dalam mendesain sebuah struktur FJP
diperlukan data geometri struktur berupa elevasi dan properti tubular dan girderyang lengkap
dan konkrit, umumnya berupa data excel dan CAD (bila mengacu pada TRB 2). Sehingga
akan mudah dalam menempatkan koordinat joint dan memberi properti pada struktur.
Langkah pertama membuat joint dan member untuk jacket, menggunakan tools pada tab
joint&member yang akan diilustrasikan oleh gambar dibawah:

Gambar 27. Ilustrasi membuat joint sumbu XY pada titik absolut

Mula-mula membuat 4 joint yang mengacu pada koordinat absolut (0,0,0) blank display
menggunakan tool ADD pada tab joint, 4 joint ini menggambarkan jarak antara deckleg/luasan
jacket bagian paling atas berdasarkan sumbu XY. Diasumsikan titik Z=0 merupakan titik
elevasi MSL (Mean Sea Level)

Gambar 28. Ilustrasi membuat joint sumbu XYZ pada titik absolut

66
Kemudian membuat joint-joint lainnya berdasarkan elevasi/koordinat dimana nantinya
terdapat percabangan bracedan unbrace, joint-joint yang telah dibuat disarankan untuk diberi
label spesifik untuk menunjukkan bahwa joint tersebut merupakan joint untuk jacket (misal:
001J)

Gambar 29. Ilustrasi membuat member

Kemudian memberi member dengan cara menghubungkan joint satu dengan joint lainnya,
perlu adanya konsistensi dalam arah penghubungan joint, misal bawah-atas dan kiri-kanan
(berdasarkan tampilan standar isometric view)

Gambar 30. Ilustrasi membuat brace

67
Kemudian membuat brace (misal brace model X) menggunakan bantuan tool intersection
untuk memberi joint pada perpotongan member brace, karena dua buah member yang
berpotongan harus diperantarakan dengan joint di perpotongannya agar tidak error saat di
running
Langkah kedua membuat joint dan member untuk pile, koordinat joint disesuaikan dengan
data elevasi pile. Mayoritas joint-joint pada pile akan memiliki koordinat yang sama dengan
jacket sehingga perlu diberikan penamaan joint yang spesifik (misal: 001P), langkah
pembuatan joint & member pada pile kurang lebihnya sama dengan langkah pertama. Untuk
ujung paling bawah dari pile akan diberi fixity FIXED atau PILEHD (bila ada data tanah)
dengan cara: Joint > joint properties >klik joint yang diinginkan>pilih fixity > ok/apply .

Gambar 31. Ilustrasi membuat joint & member pile

Langkah ketiga membuat wishbone, wishbone merupakan sebuah member virtual untuk
menstransfer beban lateral (pada sumbu x dan y) dari jacket ke pile, cara pengoperasian tool
pembuat wishbone sudah dijelaskan di penjelesan sebelumnya, caranya buka tab member >
klik wishbone, ilustrasi gambarnya seperti dibawah:

68
Gambar 32. Ilustrasi membuat wishbone

Langkah keempat melakukan grouping pada member, proses ini bertujuan untuk
mengelompokkan member-member yang mempunyai properti sama sehingga ketika nantinya
diberi properti tidak perlu meng-input properti pada member satu-persatu, karena sudah di
grouping. Caranya buka tabmember>member properties

69
Gambar 33. Ilustrasi membuat member group

Langkah kelima memberi properti pada member, proses ini adalah proses untuk memberi
properti pada member menurut grup nya masing-masing, pada jacket, bracedan pile
umumnya menggunakan properti tubular dengan diameter dan ketebalan sesuai perhitungan.
Sedangkan untuk wishbone diberi properti: OD = ID jacket, t = ID jacket – OD pile. Caranya
buka tabproperty>member group>pilih group member yang akan diberi property lalu add
propertinya (diameter dan ketebalan untuk tubular, atau buka library untuk girder).

70
Gambar 34. Ilustrasi memberi properti pada member group

Langkah keenam melakukan offset, proses offset pada struktur jacket bertujuan untuk
memberi gap antara brace sebesar 2 inchi (menurut API RP2WSD) secara otomatis pada
semua brace di layar aktif, dengan cara buka tab joint >automatic design >pilih gapping option
> move brace sebesar 2 inchi >apply/ok

71
Gambar 35. Ilustrasi proses memberi gap antar brace

Langkah terkahir melakukan pengecekan model menggunakan MISC, pilih tab MISC > check
model >lihat hasil koreksi otomatis dari SACS. Bila ada yang salah dengan model seperti ada
member yang tidak punya identitas atau joint yang belum terhubung maka akan ada
pemberitahuan.

72
Gambar 36. Ilustrasi pengecekan model menggunakan MISC

5.3.3 Pemodelan struktur top side/deck


Proses pembuatan topside/deck pada prinsipnya mempunyai proses dan prosedur yang
hampir sama dengan membuat jacket, perbedaannya adalah struktur deck/top side relatif
lebih rumit, propertinya mayoritas adalah menggunakan girder tipe W (single webb), tools
yang digunakan lebih bervariasi seperti:
 Tool pembuat joint menggunakan joint add relative, jadi tidak harus
berpedoman pada titik absolut (0,0,0), tapi dapat direlatifkan pada suatu
joint tertentu agar lebih mudah (akan diilustrasikan pada gambar dibawah)
 Properti yang digunakan pada deck adalah girder bukan tubular (akan
diilustrasikan pada gambar dibawah)
 Offset yang digunakan adalah untuk meratakan main girder dan secondary
girder menjadi rata di atas atau menjadi flush, cara: member >offset > ambil
semua member girder> pilih top of steel (akan diilustrasikan pada gambar
dibawah)

73
Gambar 37. Ilustrasi penggunaan joint relativedalam pemodelan topside/deck

Gambar 38. Ilustrasi konfigurasi joint dan member pada deck

74
Gambar 39. Ilustrasi proses top of steel pada girder

5.3.4 FAQ

Q: Kenapa perlu adanya konsistensi dalam arah penghubungan joint, misal bawah-

atas dan kiri-kanan (berdasarkan tampilan standar isometric view) dalam membuat

member?

A: Dalam beberapa kasus, kosistensi penghubungan joint dalam membuat member

menjadi penting:

 Kasus 1: ketika akan me-rotate struktur secara global, bila pembuatan

member dibuat secara tidak konsisten arah penggabungan jointnya, maka

hasil rotate akan menjadi kacau, karena acuan penggabungan joint A joint

B pada member berbeda-beda, sementara yang menjadi acuan rotate

hanya salah satu joint saja (joint A/joint B)

 Kasus 2: pada saat equipment loading pada sebuah member, acuan titik

dengan koordinat 0 (nol) berada pada Joint A, bila tidak ada kosistensi,

maka pembebanan akan membingungkan untuk menentukan dimana

acuan joint A (titik 0)

75
5.4 LOADING SACS 5.6
5.4.1 Topside Loading
Seperti dijelaskan pada bab 2, berikut ini adalah cara untuk input pembebanan pada topside

a) Dead Load

Beban mati struktur adalah berat struktur itu sendiri. semua perlengkapan yang permanen

dan perlengkapan struktur yang tidak berubah selama beroperasinya struktur. Beban mati

terdiri dari :

 Beban platform di udara.

 Beban perlengkapan yang permanen.

 Gaya hidrostatik di bawah permukaan garis air, termasuk tekanan dan gaya angkat.

Langkah –langkah dalam memasukkan beban mati adalah Load -> Self Weight -> lalu isi

sesuai gambar.

Gambar 40. Self Weight input

b) Beban peralatan (Envelope Method)

Ada 2 Metode ini sering digunakan dalam menentukan pembagian distribusi beban pada

setiap girder yang menumpu beban peralatan tersebut. Metode pertama menggunakan beban

pada member dengan member load sedangkan yang kedua adalah dengan member area.

Metode “member load” digunakan pada properti yang ditumpu oleh satu arah girder,

76
sedangkan pada metode “member area” digunakan pada properti yang ditumpu oleh dua arah

girder.

b.1) Adapun langkah – langkah pada metode “member load” adalah sebagai berikut :

1. Siapkan data peralatan atau equipment

2. Gambar layout peralatan tersebut pada autocad

Gambar 3.2 Penginputan metode “Member Load”

3. Hitung jarak dan panjang equipment dari bawah ke atas atau kiri ke kanan

tergantung dari pembuatan member diawal

4. Hitung luas setiap equipment (A)

5. Cari luas arsiran yang berada di setiap girder (Ag)

6. Cari pembagian beban pada setiap girder (Wg) dengan rumus

𝐴𝑔
𝑊𝑔 = 𝑊
𝐴
7. Misal pada contoh diatas luas arsiran keseluruhan properti diatas adalah 319 ft2.

Arsiran 1 =55 ft2, 2=110 ft2, 3=154 ft2, dan bebannya adalah 10 kips. Dengan rumus

diatas didapat

77
55
𝑊1 = 319 10 = 1,724 kips , W2 = 3,448 kips , W3 = 4,828 kips

8. Kemudian input data pada SACS dengan langkah – langkah sebagai berikut

Load -> Members (tab element) -> input data sesuai hasil perhitungan

Gambar 41. Loading Dengan Member Load

Pilih member yang akan diberi beban lalu pada load catagory pilih “Distributed total (Add)”,

lalu isi pada kolom “Distance to beginning of load”, “Load length if not to member end” dan

“Total applied load” sesuai dengan data yang didapat. Pada “Total applied load” berat diisi

bernilai negatif, karena berat equipment memiliki gaya ke bawah.

b.2) Adapun langkah – langkah pada metode “Member Area” adalah sebagai berikut :

1. Siapkan data peralatan atau equipment

2. Gambar layout peralatan tersebut pada autocad

78
3. Misalkan pada contoh equipment dibawah, cari jarak titik bawah kiri dan atas kanan

dari equipment terhadap titik x=0, y=0 dan tinggi (Z) pada deck yang ingin diberi

equipment.

Gambar 42. Input beban Live Loads

Penting untuk dicatat apabila pada sumbu x yang diinput apabila berada disebelah

kiri dari titik x=0 dan y=0 maka bernilai negatif (-) dan apabila berada dikanandari

titik x=0 dan y=0 maka bernilai positif (+)

4. Kemudian input data pada SACS dengan langkah – langkah sebagai berikut

Lalu Load -> Member area (tab Pressure) -> Input data seperti gambar

79
Gambar 43. Pressure Loads

LL corner adalah titik “Lowest Left”/ bawah kiri dari suatu equipment, LR corner

adalah adalah titik “Lowest Right”/ bawah kanan dari suatu equipment, sedangkan

Rectangle bisa diartikan sebagai titik kanan atas dari equipment tersebut.

5. Pada “member to load” diganti menjadi “Along area local x and y” dan “Load input

type” diganti menjadi “Total load”

6. Lalu pada “Total area load (Kips)” diisi berat dari equipment tersebut bernilai

negatif.

Metode Member Area bisa juga digunakan dalam memasukkan “Live Load”. Tetapi

pada pemberian Live Load “Load input type” dipilih “constant” lalu pada kolom

“constant presurre” diisi sesuai dengan data live load sesuai data.

c) Piping Load

Piping Load merupakan beban perpipaan yang berada diatas deck.

Langkah – langkahnya dalam input piping load hampir sama dengan Live Load.

80
Load -> Member area (tab pressure) -> input data seperti gambar diatas dengan hanya

mengganti Load condition, Load ID dan pressure

d) Crane load

Crane Load ini masuk dalan beban joint.

Langkah pertama yang dilakukan pada pembebanan crane adalah membuat joint

tambahan setinggi ±10 ft. Hal ini dilakukan untuk mengatasi momen crane agar tidak

mengenai langsung pada member disekitar pile yang diberi beban crane.

Langkah – langkah dalam input crane load adalah

Load -> Joint (tab element) -> input data seperti gambar

Gambar 44. Beban Joint

81
5.4.2 Environmental Loading
1. Memodelkan Seastate Condition

Seastate condition yang dimaksudkan pada tutorial ini adalah kondisi yang menjelaskan
tentang kedalaman laut (water depth), ketinggian dasar laut (mudline elevation), kerapatan
massa jenis air (water weight density), kerapatan massa jenis struktur (structure weight
density).
>>Environment  Seastate Option <<

Gambar 45. Seastate Option

2. Memodelkan Beban Gelombang dan Beban Arus

a. Beban Gelombang

Beban gelombang dimodelkan sebagai data karakteristik gelombang (tinggi gelombang

signifikan (Hs), periode gelombang (T), arah gelombang datang dan tipe gelombang).

Arah pembebanan (beban gelombang, arus, dan angin) bergantung pada bentuk bidang

struktur terhadap arah mata angin. Jika bentuk bidang simetris (dapat dilihat dari jumlah

kaki jacket : 4, 6, 8, dst) maka arah pembebanan berjumlah 8 arah (0o. 45o, 90o, 135o,

180o, 225o, 270o dan 315o. Jika bentuk bidang asimetris (dapat dilihat dari jumlah kaki

82
jacket : 3 buah) maka arah pembebanan berjumlah 12 arah (0o. 30o, 60o, 90o, 120o, 150o,

180o, 210o, 240o, 270o, 300o dan 330o.

>>Environment  Seastate<< (tandai checklist “wave”)

Gambar 46. Wave Load Input

83
b. Beban Arus

Beban arus dimodelkan sebagai data kecepatan arus tiap elevasinya.

>>Environment  Seastate<< (tandai checklist “current”)

Gambar 47. Current Load Input

3. Memodelkan Beban Angin

Beban angin dimodelkan sebagai beban joint.

5.4.3 Load Combination


Beban-beban yang telah dimasukkan lalu dikombinasikan berdasarkan kondisi pembebanan

yang ada. Sebagai contoh dalam kasus analisis inplace, kondisi pembebanan dibagi menjadi

2 bagian, yaitu kondisi operasi dan badai. Dalam mengombinasikan beban, hal yang perlu

diperhatikan ialah mengklasifikasikan beban yang tergolong dalam kondisi operasi maupun

dalam kondisi badai. Kemudian dimasukkan nilai kontingensi (faktor) yang menggambarkan

beban kondisi pemodelan dibandingkan dengan beban kondisi sebenarnya. Agar lebih mudah

dalam pengolahan data, sebaiknya dibuat matriks pembebanan yang menjelaskan beban-

beban yang dimasukkandalam pemodelan.


84
LOAD COMBINATION FOR OPERATING AND STORM CONDITION

OPERATING

0 60 90 150 180 240 270 330

60 600 600 600 600 600 600 600

ID Jenis 01 2 3 4 5 6 7 8

0 Plate Weight 1 1 1 1 1 1 1 1

1 Self Weight 1 1 1 1 1 1 1 1

2 LL Main Deck operasi 1 1 1 1 1 1 1 1

4 PL Main Deck 1 1 1 1 1 1 1 1

5 LL Mezzanine Deck operasi 1 1 1 1 1 1 1 1

7 PL Mezzanine Deck 1 1 1 1 1 1 1 1

8 LL Cellar Deck operasi 1 1 1 1 1 1 1 1

10 PL Cellar Deck 1 1 1 1 1 1 1 1

11 Main Deck Equipment 1 1 1 1 1 1 1 1

12 Mezzanine Deck Equipment 1 1 1 1 1 1 1 1

13 Cellar Deck Equipment 1 1 1 1 1 1 1 1

Crane Operasi (Vertical and

14 Moment) 1

15 Environment Load Operating 0° 1

Environment Load Operating

16 60° 1

85
Environment Load Operating

17 90° 1

Environment Load Operating

18 150° 1

Environment Load Operating

19 180° 1

Environment Load Operating

20 240° 1

Environment Load Operating

21 270° 1

Environment Load Operating

22 330° 1

32 Helikopter 1 1 1 1 1 1 1 1

86
Memodelkan matriks pembebanan dalam SACS 5.6 adalah sebagai berikut:

>> Load Combine <<

Gambar 48. Load Combination

Penting untuk diketahui :

Hal-hal yang membedakan antara kondisi operasi dan badai terletak pada besaran

gaya yang bekerja (gelombang signifikan, kecepatan arus dan angin), selain itu ada

pada faktor kontingensi pembebanan dan nilai faktor allowable stress.

Nilai faktor allowable stress untuk :

a. Kondisi operasi = 1

b. Kondisi badai = 1,33

Cara memasukkan nilai faktor allowable stress adalah sebagai berikut : yaitu

dengan menyeleksi kondisi beban kemudian memasukkan faktor allowable

stressnya.

87
>> Options Allowable Stress/Mat Factor <<

Gambar 49. Alowable Stress Modifiers (AMOD)

4. Menyeleksi Beban

Jika semua beban telah dimasukkan, maka langkah selanjutnya ialah menyeleksi

beban yang akan diberikan pada model bergantung pada kondisi pembebanan.

>> Options Load Condition Selection << (tandai checklist “wave”)

Gambar 50. Load Condition Selection (LCSEL)

88
5.4.4 Environment Properties
Pada input environment properties kita memasukkan parameter lingkungan yang berupa

marine growth, koefisien drag dan koefisien massa yang berpengaruh pada struktur

a. Marine growth

Marine Growth dapat menambah beban gelombang yang terjadi pada silinder.

Dikarenakan marine growth menambah besarnya diameter dan kekasaran permukaan dari

tubular member, sehingga massa dari struktur akan bertambah. Hal ini harus dipertimbangkan

dalam desain (API RP 2A WSD, 2005). Kekasaran permukaan diwakili oleh Harga koefisien

drag (Cd) dan koefisien inersia (Cm) dari member. Sehingga kita sesuaikan surface

roughness dari member dalam kategori smooth atau rough berdasarkan harga Cd dan Cm

nya. Berikut langkah-langkah yang dilakukan untuk memasukkan nilai marine growth pada

SACS :

1. Klik pada Tab Environment – klik Marine Growth

89
Gambar 51. Marine Growth

2. Akan keluar jendela Marine Growth Data, kosongkan harga Mudline Elevation

Override. Mudline Elevation Override dapat diisi jika elevasi dasar laut tidak bernilai

sama seperti elevasi yang ada pada Environment/Option.

3. Masukkan elevasi marine growth, pada kolom Bottom dan Top (Perlu dicatat bahwa 0

adalah dasar laut dan positif ke atas). Kemudian masukkan harga ketebalan Marine

Growth pada kolom Thickness (akan ditambahkan secara double terhadap diameter

luar dari member). Berat jenis Marine Growth diisi pada kolom Density= 77 lb/ft3. Isi

Roughness = 0.0001 inci dan harga Cd=1.05 dan Cm = 2.0 (rough member).

Jika diinginkan untuk memasukkan harga marine growth yang terdistribusi linier, maka dapat

dilakukan dengan memasukkan 2 baris, dengan mengosongkan kolom Top. Kemudian

dengan mem-variasikan dari kedua elevasi tersebut maka akan membentuk distribusi yang

miring (diinterpolasi secara linier). Distribusi marine growth yang tidak beraturan terhadap

90
variasi kedalaman dapat dimasukkan menggunakan dengan teknik ini dengan mengisikan

beberapa baris.

b. Koefisien Drag dan Koefisien Inersia

Koefisien drag merupakan bilangan yang menunjukkan besar kecilnya tahanan fluida

yang diterima oleh suatu benda. Nilai koefisien drag juga berpengaruh pada geometri struktur.

Pada API telah dituliskan untuk nilai koefisien drag dan inersia pada geometri lingkaran yang

pada struktur yaitu tubular member jacket. Smooth merupakan koncisi dimana marine growth

tidak ada, sedangkan rough merupakan kondisi dimana marine growth ada dan

diperhitungkan dalam analisa.

Berikut langkah-langkah untuk menginputkan koefisien Drag dan koefisien Inersia pada sacs:

1. Klik Environment – Drag/Mass Coefficient

Sehingga keluar Jendela Mass and Drag Coefficient Table seperti berikut.

91
Gambar 52. Cd/Cm Definition

Pada Table Type pilih User Defined, pada Tab Clean dan Foul isi diameter, Cd dan

Cm seperti berikut:

Gambar 53. Nilai Cd/Cm

Clean : member tanpa Marine Growth

Foul : member dengan Marine Growth

Untuk diameter yang lain, SACS akan secara otomatis melakukan interpolasi linier

harga Cd dan Cm. Pada kasus ini harga Cd dan Cm akan bernilai konstan.

92
5.5 SACS Datagen
SACS datagen merupakan salah satu fitur dari SACS yang digunakan untuk menginputkan
dan memodelkan secara script. Pada datagen ini kita dapat menambahkan beberapa perintah
langsung melalui bahasa pemrogaman yang sesuai. Pada opsi “Define File Type” kita dapat
memilih file apa yang akan kita buat, terdapat beberapa pilihan, yaitu untuk analisa statis
terdapat “SACS Model File” jika kita ingin memodelkan jacket secara script bahasa
pemrogaman, dengan nama file berawalan sacinp.namafile. yang digunakan untuk TRB III
yaitu pilihan SACS model file, dengan kondisi lingkungan sudah tergabung pada model file
dan Joint Can Input File untuk mengecek UC pada beberapa titik joint yang di inputkan. Pada
“Define File Units” digunakan untuk menentukan satuan yang digunakan ketika kita
menginputkan suatu nilai. Setiap perintah yang dapat di inputkan dapat dilihat daftarnya di
“Insert Input Line”. Sedangkan untuk “comment block” digunakan untuk mendefinisikan suatu
baris sebagai comment, sehingga tidak akan terbaca perintahnya, hanya dapat dilihat pada
datagen. Untuk “Uncomment Block” untuk mengembalikan fungsi dari sebuah baris agar
dapat dibaca. Tampilan sebuah sacs model file pada datagen.

Gambar 54. Tampilan SACS Datagen

Setiap input line yang kita masukkan pada sebuah baris, maka akan muncul beberapa opsi
yang dapat di inputkan, opsi-opsi tersebut dapat dilihat pada Line Assistant sebelah kanan
dan memudahkan kita untuk memasukkan nilai dari perintah yang kita inginkan. Ketika kita
membuat model tidak menggunakan structure definition wizard maka kita perlu memasukkan
input line LDOPT yaitu seastate options untuk mendefinisikan beberapa ketentuan seperti
kedalaman laut, elevasi tanah (mudline elevation) densitas air (watter weight density),

93
densitas struktur (Structure weight Density), koordinat vertical yang dijadikan acuan. Selain
itu juga perlu memasukkan input line OPTIONS, untuk mendefinisikan satuan (working units),
code check yang digunakan untuk melakukan analisa statis nanti.

Selain itu ada beberapa perintah juga yang dapat dipelajari dari manual, seperti member yaitu
untuk mendfinisikan member yang kita buat, kemudian group untuk mendefinisikan properties
dari member grup tubular, sedangkan SECT untuk mendefinisikan member yang berupa profil
I, W, atau profil lainnya.

5.5.1 JOINT CAN


Jcninp merupakan input pada joint can yang akan ditinjau agar dapat dikeluarkan hasilnya
pada output. Joint yang dimasukkan merupakan joint yang berada di bawah permukaan air
dimana pengaruh dari lingkungan dapat memberikan dampak pada struktur. Input joint can ini
akan dimasukkan ketika kita akan running analisa statis

Langkah untuk melakukan cek UC akibat punching shear adalah sebagai berikut:

1. Buatlah file jcninp (joint can input) baru dengan klik Data File>>Create New Data File.

2. Perhatikan format penulisan joint can di bawah ini.

Gambar 55. Joint Can Input

3. Masukkan joint selection (pemilihan joint) yang akan di analisa yaitu yang berada di
bawah permukaan air.
4. Dapat juga dilakukan per setiap elevasi untuk memudahkan dalam menyeleksi joint-
joint mana yang berpengaruh.

94
Gambar 56. Joint yang Harus Dicek Strength-nya

5. Pada joint can datagen masukkan joint yang akan dijadikan input joint can pada joint-
joint yagn menghubungkan brace dengan chord.
 Klik pada menu joint kemudian klik joint properties
 Masukkan nama joint pada sebelah kanan joint select pada tiap elevasi
datagen joint input
 Masukkan semua tubular joint yang memiliki percabangan untuk semua
elevasi jacket
6. Save jcninp tersebut

95
5.6 RUNNING DAN POST PROCESSING
5.6.1 Running
Proses mengeluarkan output analisis yang ingin kita lakukan disebut proses running. Pada
SACS 5.6 terdapat beberapa proses running pada bagian Analysis Generator. Seperti
ditunjukkan pada gambar 13.1.

Gambar 57. Tampilan Analysis Generator Dengan Beberapa Analysis

Sebelum melakukan running dimohonkan anda untuk memperhatikan inisial bagi segala
output dari hasil running pada File ID untuk memudahkan saat anda mencari file, contohnya
seperti ditunjukkan pada tanda berwarna merah pada gambar diatas.

Pada TRB 2 ini kita hanya akan melakukan Static Analysis maka pada Analysis Type kita pilih
Static dan subtypeBasic Static Analysis,

Gambar 58. Tampilan Pilihan Static Analysis

96
Kemudian klik start wizard dan pilih file sacinp yang akan di run maka akan muncul kotak
dialog seperti gambar dibawah ini:

Gambar 59. Kotak Dialog Pemilihan sacinp

Pada analysis options ini ada perlu memperthatikan adalah Element Check dan Report jika

pada file sacinp anda belum mengatur hal ini maka disini anda dapat menentukan code

yang akan anda gunakan, seperti gambar dibawah ini:

Gambar 60. Kotak Dialog Analysis Option

97
Hal kedua yang harus anda perhatikan adalah Tubular Joint Check, anda dapat mencentang
pilihan ini jika anda memiliki file joint can kemudian masukkanlah.

Setelah anda menyetujui semua pilihan pada analysis option maka running siap dilakukan.

Kemudian output dari hasil running ini adalah saclst dan psvdb (postvue database), untuk
mengetahui nilai UC (unity check) pada setiap member maupun joint anda bisa langsung
membuka file saclst.

5.6.2 PSI (Pile Soil Interaction)


Langkah untuk penginputan PSI pada SACS adalah:
1. Pastikan pada SACS model pile joint terbawah fixity-nya dibuat “PILEHD”. Lalu buatlah
file psiinp (joint can input) baru dengan klik data file>>create new data file lalu pilih pile
soil interaction

2. Perhatikan format penulisan joint can dibawah ini:

A. Group Member pada member terbawah yang pada joint terbawahnya terdapat fixity
“PILEHD”

B. Nama member yang pada joint terbawahnya terdapat fixity “PILEHD”

C. Nilai Pile OD dan Wall Thickness pada model

D. Nilai Elastic Modulus, Shear Modulus dan Yield Stress pada member tersebut

E. Niali kedalam pile yang ingin dimasukkan kedalam tanah dalam feet

F. Soil data ID (nama data tanah) sesuai dengan penginputan data tanah.

G. Available End Bearing, luas pile (bagian yang diarsir)

98
Gambar 61. Thickness Pile

3. Pada PSI biasanya terdapat 3 bagian penting : T-Z Data, Q-Z Data dan P-Y Data

Perhatikan format penginputanPSI di bawah ini.

99
Input T-Z Data

C
a. Jumlah nilai T-Z yang ingin diinputkan pada setiap kedalaman

b. Nilai Z-Factor (yaitu perbandingan Pile OD data dengan Pile OD model, misal pada

Pile OD data 42 in sedangkan pada Pile OD model 36 in jadi nilai Z-Factor sebesar

= 42/36 = 1.167)

c. Soil Table ID (Nama data tanah)

d. Jumlah gaya T-Z yang ingin diinputkan

e. & H Kedalaman sesuai dengan data

f. Nilai T-faktor (yaitu perbandingan satuan antara data dengan model, misal pada data

satuannya pond/in2 dan pada PSI Kips/in jadi nilai T-faktor adalah 0,001)

g. Penginputan nilai T dan Z sesuai dengan data

100
Input Q-Z Data

101
Untuk penginputan nilai Q-Z hampir sama dengan T-Z

102
Input P-Y Data

Untuk penginputan P-Y data hampir sama dengan T-Z Data, tetapi ada beberapa tambahan

yaitu :

A. Nilai Torsional Linier Stifness Value

B. P-Y Curve Scalling pada data pilih ‘Yes’

C. Nilai Pile OD pada model

4. Lalu save data PSI dengan nama “psiinp.(namafile)

103
6 DAFTAR PUSTAKA

104