Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipospadia adalah kelainan congenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah
ventral dan sebelah proksimal ujung penis. Pada hipospadia tidak didapatkan prepusium
ventral sehingga prepusium dorsal menjadi berlebihan (dorsal hood) dan sering disertai
dengan korde (penis angulasike ventral). Kadang-kadang didapatkan stenosis meatus
uretra, dan anomaly bawaan berupa testis maldesensus atau hernia inguinalis. Letak
meatus uretra bisa terletak pada glandular hingga perineal. Pravalensi hipospadia secara
umum sangat bervariasi dari 0,37 sampai 41/10000 bayi. Kejadian hipospadia telah
dilaporkan di beberapa Negara seperti Inggris, Wales, Swedia, Norwegia, Denmark,
Finlandia, Spanyol, New Zealand, Australia dan Cekoslavika. Penelitian di Amerika
melaporkan kejadian yang lebih tinggi pada kulit putih daripada kulit hitam, sedangkan di
Finlandia kejadiannya lebih rendah yaitu 5/10000 dibandingkan dengan negara-negara
Skandinavia lainnya yaitu 14/10000 bayi-bayi (Vos, 1999). Kejadian seluruh hipospadia
yang bersmaan dengan kriporkismus adalah 9%, tetapi pada hipospadia posterior sebesar
32% (Schwartz, 2008). Jumlah pasien di RSUD Dr. Soetomo per 2013 sekitar 50 pasien.

Epispadia adalah suatu anomaly congenital yaitu meatus uretra terletak pada
permukaan dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-
laki. Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomaly saluran
kemih. Inkontinensia urine timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%)
karena perkembangan yang salah dari spingter urinarius. Perbaikan dengan pembedahan
dilakukan untuk memperbaiki inkontinensia, memperluas uretra ke glans. Prepusium
digunakan dalam proses rekonstruksi, sehingga bayi baru lahir dengan epispadia tidak
boleh di sirkumsisi. Pada epispadia, meatus uretra tidak meluas ke ujung penis karena
tidak adanya dinding dorsal uretra. Pada kedua keadaan tersebut, derajat rekonstruksi
uretra yang dibutuhkan bergantung pada letak lubang uretra di batang penis. Rekonstruksi
uretra dapat dilakukan dengan menggunakan selubung kulit yang ditanam, flap kulit, atau
tandar bebas. Selama penyembuhan pengeluaran urine biasanya dialihkan.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi Hipospadia dan Epispadia?
2. Apa klasifikasi Hipospadia dan Epispadia?
3. Apa etiologidari Hipospadia dan Epispadia?
4. Bagaimana manifestasi klinik Hipospadia dan Epispadia?
5. Bagaimana patofisiologi dari Hipospadia dan Epispadia?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik Hipospadia dan Epispadia?
7. Bagaimana penatalaksanaan Hipospadia dan Epispadia?
8. Apa komplikasi dari Hipospadia dan Epispadia?
9. Bagaimana asuhan keperawatann Hipospadia dan Epispadia?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan definisi Hipospadia dan Epispadia
2. Menjelaskan klasifikasi Hipospadia dan Epispadia
3. Menjelaskan etiologi dari Hipospadia dan Epispadia
4. Menjelaskan patofisiologi Hipospadia dan Epispadia
5. Menjelaskan manifestasi klinikdari Hipospadia dan Epispadia
6. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik Antepartum Bleeding
7. Menjelaskan penatalaksanaan Hipospadia dan Epispadia
8. Menjelaskan komplikasi dari Hipospadia dan Epispadia
9. Menjelaskan asuhan Keperawatan Hipospadia dan Epispadia.

1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan pengetahuan mengenai kasus Hipospadia dan Epispadia dan
penerapan konsep keperawatan pada kasus Hipospadia dan Epispadia.
2. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnose keperawatan pada
kasus Hipospadia dan Epispadia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipospadia

2.1.1 Definisi Hipospadia

Hipospadia berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti “dibawah” dan
“spadon” yang berarti keratan yang panjang. Hipospadia merupakan suatu kelainan
bawaan dimana meatus uretra eksternus (lubang kencing) terletak di bagian bawah dari
penis dan letaknya lebih kearah pangkal penis dibandingkan normal. Hipospadia adalah
kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah ventral penis dan
sebelah proksimal ujung penis (Muttaqin & Sari, 2011).

Hipospadia merupakan kelainan kelamin sejak lahir. Beratnya hipospadia


bervariasi, mulai dari yang ringan sampai berat. Pada kasus paling ringan, lubang uretra
terletak didekat ujung penis yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat
terjadi jika lubang uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal penis, dan
kadang pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini sering berhubungan kordi,
yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang menyebabkan penis melengkung
kebawah saat ereksi. (Muslihatum, 2010).

2.1.2 Klasifikasi Hipospadia

Menurut letak orifisium uretra eksternum,hipospadia dibagi menjadi


beberapa tipe sebagai berikut:
1. Tipe Sederhana/ Tipe Anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe
ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini
bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak
sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe Penil
Terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe
ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan

3
kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga
penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada
kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap,
mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada
bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk
tindakan bedah selanjutnya.
3. Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida,
meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun (Purnomo, 2011).

Gambar 2.1 Hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra

4
Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi chordee, Browne
1936 dalam Purnomo (2011), membagi hipospadia dalam tiga bagian besar,
yaitu:
1. Hipospadia anterior terdiri atas tipe granular, subkoronal, dan penis distal.
2. Hipospadia medius terdiri atas: midshaft dan penis proksimal.
3. Hipospadia posterior terdiri atas: penoskrotal, skotal, dan perineal.

Gambar 2.2. Hipospadia berdasarkan letak muara uretra

2.1.3 Etiologi Hipospadia


Menurut Basuki (2011), etiologi hipospadia yaitu :
1. Faktor Genetik
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi
pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen
tersebut tidak terjadi.
2. Faktor Hormon
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau bias juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila
reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang

5
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
4. Embriologi
Secara embriologis hipospadia disebabkan oleh sebuah kondisi dimana bagian
ventral lekuk uretra gagal untuk menutup dengan sempurna.Diferensiasi uretra
bergantung pada hormone androgen Dihidrotestosteron (DHT) dengan kata lain
hipospadia dapat disebabkan oleh defisiensi produk testosterone, konversi
testosterone menjadi DHT yang tidak adequate, atau defisiensi local pada
hormone androgen. (Heffner, 2005)

2.1.4 Patofisiologi Hipospadia

Hipospadia merupakan cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa embrio
selama perkembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Hipospadia di mana lubang
uretra terletak pada perbatasan penis dan skortum. Penyebab dari Hipospadia belum
diketahui secara jelas dan dapat dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh
hormonal. Pada usia gestasi minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada
minggu ke VII terjadi agenesis pada mesoderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk,
bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul hipospadia.

Pada embrio berumur 2 minggu, baru terdapat dua lapisan ektoderm dan
entoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang
kemudian bermigrasi ke perifer, yang memisahkan ektoderm dan entoderm. Di bagian
kaudal ektoderm dan entoderm tetap bersatu membentuk membrana kloaka. Pada
permulaan minggu ke 6, terbentuk tonjolan antara umbilical cord dan tail yang disebut
genital tuberkel. Dibawahnya pada garis tengah terbentuk lekukan dimana bagian
lateralnya ada dua lipatan memanjang yang disebut genital fold. Selama minggu ke 7,
genital tuberkel akan memanjang dan membentuk glans. Ini adalah bentuk primordial
dari penis bila embrio adalah laki-laki. Bila wanita akan menjadi klitoris (Mary, 2005).

6
Perkembangan uretra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15
minggu, uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral
penis. Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui
glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila
penyatuan digaris tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka
tidak pada ujung penis. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, menyebabkan
lengkungan (kurvatura) pada penis. Pada orang dewasa, chordee tersebut akan
menghalangi hubungan seksual, infertilisasi (hipospadia penoskrota atau perineal),
menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur aliran urine
dan sering terjadi kriptorkidisme.

7
2.1.5 WOC Hipospadia

Embriologi Lingkungan Genetik Hormonal

Minggu ke-2 Konsumsi Terpapar zat Mutasi gen Tidak ada


terbentuk sayur buah polutan yang yang sintesis
lapisan mengandung bersifat mengkode androgen
ectoderm dan pesttisida tetragonik sintesis
endoderm androgen
Penghentian diri
Dipisahkan oleh lekukan di Androgen perkembangan
tengah yaitu mesoderm yang tidak terbentuk sel-sel penghasil
kemudian bermigrasi ke Mutasi androgen
perifer dan bagian kaudal
membentuk membrane kloaka Defisiensi uretra
pada penis tidak Penurunan
terbentuk secara androgen
Perkembangan
terjadinya fusi dari sempurna
Pada minggu ke-6
terbentuk tuberkel garis tengah lipatan Testosteron tidak
genital uretra tidak lengkap dapat diubah jadi
dihidrotestosteron
Tuberkel genital
Dibagian tengah bawah membentuk lipatan Gangguan
terdapat lekukan dimana uretra di bagian pembentukan
sisi lateralnya ada 2 anterior, skrotum tubukel genital
lipatan memannjang menonjol dan
genital fold bergerak ke kaudal

Minggu ke-7 genital Genital fold


tuberkel membentuk membentuk sisi-
glans laki-laki= sisi sinus
penis, perempuan= urogenital
klitoris

Genital fold HIPOSPADIA EPISPADIA


gagal bersatu di
atas sinus
urogenital
8
uretrokutanTerb Integritas
ordee
entuknya Fistula KulitMK:
uretrokutan Kerusakan
Integritas Kulit
atau dasar penisMeatus
uretra terletak di bagian
punggung, bawah, atau
dasar penis uretraRisiko
komplikasi ke
merembes ke
structure uretra
perinal

Penatalaksanaan area sekitar Penatalaksanaan

Post op uretroplastyCho lancarKe


OpPre
Integritas rdectomy dan luaran
Op
KulitMK: uretroplasty urine
pembedahanKurangnya Kerusakan pasca bedah tidak
jaringanTerputu lancar
pengetahuan orang tua Integritas Kulit
snya kontinuitas
mengenai kondisi, K:
jaringan
prognosis penyakit, dan Port de entry Retensi
prosedur pembedahan Urin
medulla
Risiko Infeksi spinalMerangsa
AnsietasMK: ng saraf nyeri di
Ansietas radix dorsal
medulla spinal
MK: Nyeri

9
2.1.6 Manifestasi Klinis Hipospadia
Menurut Suriardi (2006;142) Manisfestasi klinis dari hipospadia adalah
1. Terbuka uretral pada saat lahir, posisi ventral atau dorsal.
2. Adanya chordee (penis melengkung ke bawah ) dengan atau tanpa ereksi.
3. Adanya lekukan pada ujung penis.
4. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yan6g menyerupai meatus uretra eksternus.
5. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian
punggung penis.
6. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
7. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.Tunika dartos, fasia Buch dan korpus
spongiosum tidak ada.
8. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
9. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
10. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
11. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar,
mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.
12. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan
mengangkat penis keatas.
13. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
14. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik Hipospadia

Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadia.


Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengigat hipospadia sering
disertai kelainan pada ginjal. (Suriadi 2001). Sedangkan dibuku lain ( Emil, 2008 : 361 )
menyebutkan pemeriksaannya bisa menggunakan :
1. X-Ray
2. Excretory urography

10
3. Urethroscopy dan cystoscopy
Pemeriksaan fisik genitalia bayi laki-laki menurut (Wilson,2011)
1. Genitalia laki-laki
2. Ukuran/bentuk
3. Penis
4. Kulup/prepusium
5. Pembukaan Uretra
6. Kantong skrotum
7. Testis

Inspeksi :
Genitalia, bentuk dan ukuran penis yang sesuai. Penis harus berada di garis tengah
Pemeriksaan :
1. Pegang prepusium (kulup) ke depan untuk memeriksa meatus sentral.
2. Jangan menarik kulup karena kulup menempel pada glans penis dan harus
menutupinya dengan sempurna
3. Periksa apakah bayi sudah berkemih dan bagaimana jenis alirannya
4. Urin tidak boleh menyemprot dan kulup tidak boleh terisi urin sewaktu berkemih
5. Dengan meraba sepanjang kanalis inguinalis, kita dapat merasakan ada tidaknya
testis di dalam kanalis inguinal.
6. Palpasi untuk memastikan bahwa testis berada di dalam kantung skrotum, dimulai
dari puncak kedua skrotum kearah bawah dengan ibu jari dan jari telunjuk
7. Testis yang tidak turun harus dicatat

2.1.8 Penatalaksanaan Hipospadia


a. Penatalaksanaan Medis
Beberapa abnormalitas hipospadia sangat sedikit sehingga tidak banyak hal yang
dilakukan. Kebanyakan penangan dari hipospadia adalah dengan pembedahan.
Pembedahan ini dilakukan dengan membuat lubang kencing pada ujung penis dan
melakukan sirkumsisi pada saat itu juga. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah
hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan eatus uretra di

11
tempat yang normal atau dekat dengan normal sehingga arah aliran urin ke depan dan
dapat melakukan koitus dengan normal. Operasi harus dilakukan sejak dini dan
sebelum operasi dilakukan, bayi atau anak tidak boleh sirkumsisi karena kulit depan
penis digunakan untuk pembedahan nanti. Penanganan yang tepat dapat dilihat pada
aliran urin, yaitu anak dapat berkemih saat berdiri.Selain itu, penanganan yang tepat
jika anak bebas dari nyeri ketika penis ereksi. Berikut adalah tahap pembedahan yang
dilakukan pada hipospadia:
1. Tahap 1
Pembedahan tahap pertama mencakup pembuangan jaringan ikat (chordee
release), pembuatan lubang kencing pada ujung kepala penis sesuai dengan
bentuk anatomi yang baik dan membuat saluran kencing baru (tunneling) di dalam
kepala penis yang dindingnya dibentuk dari kulit tudung (preputium) kepala penis.
Operasi tahap pertama ini menentukan hasil akhir operasi hipospadia secara
keseluruhan; operasi tahap pertama yang baik akan menghasilkan bentuk estetik
penis yang anatomis – penis lurus dan lubang kencing tepat di ujung kepala penis
dan bebas dai risiko striktura.
2. Tahap 2
Pembedahan tahap kedua dilakukan setelah proses penyembuhan pembedahan
tahap pertama tuntas, paling dini 6 bulan setelah pembedahan pertama.
Pembedahan tahap kedua membentuk saluran kencing baru (urethroplasty) di
batang penis yang menghubungkan lubang kencing abnormal, saluran kencing di
dalam kepala penis, dan lubang kencing baru di ujung penis. Jika teknik
pembedahan dilakukan dengan baik maka risiko komplikasi kebocoran saluran
kencing dapat diminimalkan.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting sehingga
sirkumsisi dapat di hindari; kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan.
2. Beri kesempatan orang tua untuk mengungkapkan perasaannya tentang masalah
struktural anak.
3. Persiapkan orang tua dan anak untuk menjalani prosedur bedah yang diinginkan.
Perbaikan dengan pembedahan dilakukan untuk memperbaiki kemampuan anak

12
berdiri selama berkemih, untuk memperbaiki bentuk penis, dan untuk memelihara
keadekuatan seksual. Hal ini biasanya dilakukan antara usia 6 dan 12 tahun
dengan satu atau dua tahap perbaikan.
4. Jelaskan hasil bedah kosmetik yang diharapkan; orang tua dan anak dapat merasa
sangat kecewa dengan kecacatan fisik ini.
5. Pantau asupan dan haluaran cairan dan pola urine, anjurkan banyak minum,
pertahankan kepatenan, dan awasi tindakan pencegahan infeksi jika anak
dikateterisasi.
6. Persiapkan orang tua dan anak untuk pengalihan urine, jika perlu, sementara
meatus baru dibuat.
7. Ajarkan orang tua bagaimana merawat kateter menetap, jika perlu. (Muscari,
2005).

2.1.9 Komplikasi Hipospadia

a. Komplikasi yang dapat terjadi pada hipospadia antara lain:


1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordeenya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin,
2009).
2. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin
dalam jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu (Ramali
& Pamoentjak, 2005).
3. Saat dewasa akan mengalami kesulitan berhubungan seksual apabila tidak
segera dioperasi.
4. Infertilitas.
5. Risiko hernia inguinal karena riwayat hipospadia dapat meningkatkan resiko
terjdinya hernia inguinal.
6. Gangguan psikososial pada anak karena merasa malu akibat bentuk penis
yang berbeda dengan teman-temannya (Suriadi, 2001).

13
b. Komplikasi pascaoperasi yang mungkin dapat terjadi :
1. Edema yang terjadi akibat reaksi jaringan yang besarnya dapat bervariasi,
juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit, yang biasanya
dicegah dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari pascaoperasi.
2. Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fistula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan
sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu
tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5%—10%.
5. Residual chordee/rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan scar
yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang
Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau alat
berongga) terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang dilanjut.(Ramali &
Pamoentjak, 2005).

2.2 Epispadia
2.2.1 Definisi epispadia

Epispadia merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan adanya lubang


uretra disuatu tempat pada bagian permukaan dorsum penis, kelainan ini terjadi pada laki-
laki maupun perempaun, tetapi lebih sering terjadi pada laki-laki (Dorland, 2011).

Menurut Kamus Keperawatan halaman 217 dikutip oleh Nurhamsyah (2012),


epispadia merupakan malformasi kongenital dimana uretra bermuara pada pada
permukaan dorsal penis. Kelainan ini biasanya tidak berdiri sendirian, namun disertai
dengan anomali saluran kemih.

Epispadia merupakan suatu kelainan kongenital pada laki-laki, dimana lubang


uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi

14
terbuka. Epispadia adalah kelaianan bawaan dari alat kelamin eksternal dan bawah
saluran kemih akibat perkembangan yang tidak lengkap dari permukaan dorsal penis atau
klitoris dan dinding atas dari uretra yang karena terbuka. Akibatnya meatus uretra
eksternal memiliki lokasi yang tidak biasa di titik variabel antara kandung kemih dan
puncak kepala penis.

2.2.2 Klasifikasi Epispadia

Epispadia dikelompokkan berdasarkan letak meatus kemih di sepanjang batang


penis (Price, 2005):

1. Epispadia glandular (padaglans bagaian dorsal)

Epispadia glandular merupakan malformasi terbatas pada kelenjar, meatus


terletak pada permukaan, alur dari meatus di puncak kepala penis. Ini adalah
jenis epispadia kurang sering dan lebih mudah diperbaiki.

2. Epispadia penis (antara simfisis pubis dan sulkus koronarius)

Epispadia penis adalah derajat pemendekan lebih besar dengan meatus uretra
terletak di titik variabel anatara kelenjar dan simfisis pubis.

3. Epispadia penopubis (pada permukaan antara penis dan pubis)

15
Epispadia penopubis adalah varian yang lebih parah dan lebih sering. Uretra
terbuka sepanjang perpanjangan seluruh hingga leher kandung kemih yang
lebar dan pendek.

2.2.3 Etiologi Epispadia

Menurut (J Corwin Elizabeth, 2009), penyebab dari epispadia antara lain:

1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon


Hormone yang berperan adalah hormone androgen, dimana hormone ini mengatur
organogenesis kelamin pria atau dapat juga karena reseptor hormone androgennya
sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Maka hormon androgen yang
telah terbentuk cukup akan tetapi karena reseptornya tidak cukup maka tidak
memberikan suatu efek yang semestinya.
2. Genetik atau idiopatik
Hal ini disebabkan karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi
karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
gen tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya factor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

2.2.4 Patofisiologi Epispadia

Epispadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Pada
anak laki-laki yang terkena, penis biasanya luas, dipersingkat dan melengkung ke arah
perut (chordee dorsal). Pada anak laki-laki normal, meatus terletak di ujung penis, namun
anak laki-laki dengan epispadia, terletak di atas penis. Dari posisi yang abnormal ke
ujung, penis dibagi dan dibuka, membentuk selokan. Epispadia digambarkan seolah-olah
pisau dimasukkan ke meatus normal dan kulit dilucuti di bagian atas penis. Klasifikasi
epispadias didasarkan pada lokasi meatus pada penis. Hal ini dapat diposisikan pada
kepala penis (glanular), di sepanjang batang penis (penis) atau dekat tulang kemaluan
(penopubic). Posisi meatus penting dalam hal itu memprediksi sejauh mana kandung

16
kemih dapat menyimpan urin (kontinensia). Semakin dekat meatus (dasar atas penis),
semakin besar kemungkinan kandung kemih tidak akan menahan kencing.
Dalam kebanyakan kasus epispadia penopubic, tulang panggul tidak tumbuh
bersama-sama di depan. Dalam situasi ini, leher kandung kemih tidak dapat menutup
sepenuhnya dan hasilnya adalah kebocoran urin. Kebanyakan anak laki-laki dengan
epispadi penopubic dan sekitar dua pertiga dari mereka dengan epispadias penis memiliki
inkontinensia urin stres (misalnya dengan batuk atau aktivitas yang berat). Pada akhirnya,
mereka mungkin membutuhkan bedah rekonstruksi pada leher kandung kemih. Hampir
semua anak laki-laki dengan epispadias glanular memiliki leher kandung kemih yang
baik. Mereka dapat menahan kencing dan melatih BAK normal. Namun, kelainan penis
(membungkuk ke atas dan pembukaan abnormal) masih memerlukan operasi perbaikan.
Epispadia jauh lebih jarang pada anak perempuan, dengan hanya satu dari
565.000. Mereka yang terpengaruh memiliki tulang kemaluan yang dipisahkan dengan
berbagai derajat. Hal ini menyebabkan klitoris tidak menyatu selama perkembangan,
sehingga menjadi dua bagian klitoris. Selanjutnya, leher kandung kemih hampir selalu
terpengaruh. Akibatnya, anak perempuan dengan epispadias selalu inkontinensia urin
stres (misalnya dengan batuk atau melakukan aktivitas yang berat). Untungnya, dalam
banyak kasus, perawatan bedah dini dapat menyelesaikan masalah ini.

17
2.2.5 WOC Epispadia

Embriologi Lingkungan Genetik Hormonal

Minggu ke-2 Konsumsi Terpapar zat Mutasi gen Tidak ada


terbentuk sayur buah polutan yang yang sintesis
lapisan mengandung bersifat mengkode androgen
ectoderm dan pesttisida tetragonik sintesis
endoderm androgen
Penghentian diri
Androgen perkembangan
Dipisahkan oleh lekukan di tidak terbentuk sel-sel penghasil
tengah yaitu mesoderm yang Mutasi androgen
kemudian bermigrasi ke
perifer dan bagian kaudal Defisiensi uretra
pada penis tidak Penurunan
membentuk membrane kloaka
terbentuk secara androgen
Perkembangan
terjadinya fusi dari sempurna
Pada minggu ke-6
garis tengah lipatan Testosteron tidak
terbentuk tuberkel
uretra tidak lengkap dapat diubah jadi
genital
dihidrotestosteron
Tuberkel genital
Dibagian tengah bawah
membentuk lipatan Gangguan
terdapat lekukan dimana
uretra di bagian pembentukan
sisi lateralnya ada 2
anterior, skrotum tubukel genital
lipatan memannjang
menonjol dan
genital fold
bergerak ke kaudal

Minggu ke-7 genital Genital fold


tuberkel membentuk membentuk sisi-
glans laki-laki= sisi sinus
penis, perempuan= urogenital
klitoris

Genital fold HIPOSPADIA EPISPADIA


gagal bersatu di
atas sinus
urogenital

18
Terbentuknya MK:
chordeech
Fistula Kerusakan

Meatus uretra terletak di


bagian punggung, bawah,

Risiko komplikasi
ke structure
Urin merembes
ke perinalUrin

Penatalaksanaan Iritasi di area Penatalaksanaan


sekitarIritasi di

Post op Chordectomy Keluaran


Pre
dan urine
MK:
tidak
Kerusakan Luka pasca
Kurangnya
bedahLuka Terputusnya
pengetahuan orang tua
mengenai kondisi, kontinuitas MK:
prognosis penyakit, dan Port de entry Retensi
prosedur UrinM
Merangsang
MK: Risiko
saraf nyeri di
MK: InfeksiMK:
radix dorsal

MK: Nyeri

19
2.2.6 Manifestasi Klinis Epispadia

Menurut (Price, 2005), tanda dan gejala epispadia adalah sebagai berikut:

1. Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal.


2. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri.
3. Meatus uretra meluas dan perluasan alur dorsal dari meatus terletak di atas glans.
4. Prepusium menggantung dari sisi ventral penis.
5. Terdapat penis yang melengkung kea rah dorsal, tampak jelas pada saat ereksi.
6. Penis pipih, kecil dan mungkin akan melengkung ke dorsal akibat adanya chordae.
7. Terdapat lekukan pada ujung penis.
8. Inkontinensia urin timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%)
karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius.

2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik Epispadia

Pemeriksaan diagnostik untuk epispadia yaitu:

1. Radiologis (IVP)
2. USG system kemih-kelamin
3. Pembedahan.

2.2.8 Penatalaksanaan Epispadia

Penatalaksanaan pada pasien dengan epispadia adalah dengan pembedahan,


pembedahan ini dilakukan bertujuan agar penis menjadi lurus dengan meatus uretra di
tempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan
dapat melakukan coitus dengan normal. Selain itu perbaikan dengan pembedahan
dilakukan untuk memperbaiki inkontinensia, membuang chordee, dan memperluas uretra
ke glans. Ada beberapa tahap pembedahan menurut (Price, 2005):

a. One Stage Uretroplasty

Merupakan Teknik operasi sederhana yang sering dilakukan untuk epispadia tipe
distal. Tipe distal ini meatusnya terletak di anterior atau midle. Meskipun sering

20
hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat, sehingga banyak dokter
lebih memilih untuk melakukan 2 tahap.

b. Operasi epispadia 2 tahap

Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunnelling dilakukan untuk meluruskan
penis supaya posisi meatus letaknya lebih proksimal (mendekati letak normal),
memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap
selanjutnya yaitu dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran kencing buatan/uretra)
sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukanteknik operasi yang terbaik. Satu tahap
maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien.

2.2.9 Komplikasi Epispadia

Komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat epispadia (Corwin, 2009), adalah sebagai
berikut:

1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordeenya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan.

2. Pada episapadia apabila lubang uretra di dorsalnya luas, maka dapat terjadi
ekstrofi (pemajanan melalui kulit) kandung kemih.

3. Edema atau pembengkakan yang trjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat
bervariasi, juga terbentuknya hematom/kumpulan darah dibawah kulit, yang
biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 samai 3 hari pasca operasi.

4. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi


dari anastomosis rambutvdalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran
kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas.

5. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai


parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada saat ini angka kejadian yang
dapat diterima adalah 5-10%.

21
6. Residual chordee/rekuren chorde, akibat dari riliskorde yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan erekai artificial saat operasi atau pembentukan skar yang
berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.

7. Diverticulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

2.2.10 Pencegahan Epispadia

Pencegahan epispadia dapat dilakukan dengan mencegah adanya pemaparan


lingkungan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma psikis saat wanita
dalam keadaan hamil. Karena penyebab dari epispadia adalah bisa karena kelainan
kongenital yang berkaitan dengan sekresi hormone, genetik dan lingkungan yang
menyebabkan pembentukan meatus uretra pada janin abnormal.

22
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Asuhan Keperawatan Umum Hipospadia


A. Pengkajian
a. Anamnesa
1. Kaji identitas pasien
Identitas pasien, terdiri dari nama, alamat, tempat tanggal lahir, tanggal masuk
rumah sakit, data obyektif/data subyektif, dan informasi lain yang penting tentang
pasien.Secara keseluruhan kelainan hipospadia ditemukan dan terjadi pada anak laki-
laki.
2. Kaji riwayat masa lalu
Pada masa kehamilan minggu ke 10 sampai ke 14 terjadi hambatan penutupan
uretra penis yang mengakibatkan orifium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian
ventral penis antara skrotum dan glands penis.
3. Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil
Penggunaan dietilbestrol (DES) antara minggu kedelapan dan enam belas
kehamilan sebagai pengobatan untuk mencegah terjadinya abortus spontan menjadi
resiko terjadinya hipospadia pada anak.
4. Kaji keluhan utama
Keluhan yang sering terjadi pada anak dengan hipospadia antara lain:anak tidak
bisa mengarahkan aliran urinnya, anak tidak dapat berkemih dengan posisi berdiri
(terjadi pada anak dengan hipospadia penoskrotalatau perineal), meatus uretra
terbuka lebar.
5. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, dysuria,
drinage.
6. Mental
a. Sikap pasien sewaktu diperiksa
b. Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan
c. Tingkat kecemasan
d. Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien

23
b. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan genetalia
Saat dilakukan inspeksi bentuk penis lebih datar dan ada lekukan yang dangkal
dibagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus, pada kebanyakan
penderita penis melengkung ke bawah(chordee) yang tampak jelas pada saat
ereksi, preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis tetapi menumpuk
dibagian punggung penis,testis tidak turun ke kantong skrotum. Letak meatus
uretra berada sebelah ventral penis dan sebelah proximal ujung penis.
2. Palpasi abdomen
Palpasi Abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada
ginjal, karena kebanyakan penderita hipospadia seringdisertai dengan kelainan
pada ginjal.
3. Perhatikan kekuatan dan kelancaran aliran urin
Pada hipospadia aliran urin dapat membelok kearah bawah atau menyebar dan
mengalir kembali sepanjang batang penis. Anak dengan hipospadia penoskrotal
atau perineal berkemih dalam posisi duduk. Pada hipospadia glanduler atau
koronal anak mampu untuk berkemih dengan berdiri, dengan sedikit mengangkat
penis ke atas.

c. Pemeriksaan Penunjang
1. Uretroscopy dan cystoscopy
Pemeriksaan uretroscopy dan cystoscopy dilakukan untuk memastikan organ-
organ seks interna terbentuk secara normal.
2. Excretory urography
Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas
congenital pada ginjal dan ureter.
3. Pemeriksaan penunjang lain
Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna meskipun jarang dilakukan
adalah pemeriksaan radiologis urografi (IVP,sistouretrografi) untuk menilai
gambaran saluran kemih secara keseluruhan dengan bantuan kontras.

24
Pemeriksaan ini biasanya baru dilakukan bila penderita mengeluh sulit berkemih.
Selain itu jugadilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui keadaan
ginjal,mengingat hipospadi sering disertai dengan kelainan pada ginjal.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Pre-operasi
a. Domain 11. Keamanan/Perlindungan. Kelas 2. Cedera Fisik. Kerusakan Integritas
Kulit (00046).
b. Domain 9. Koping/Toleransi Stres. Kelas 2. Respons Koping. Ansietas
berhubungan dengan Perubahan Besar (mis., status ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, fungsi peran, status peran) (00146).
2. Post – operasi
a. Domain 11. Keamanan/Perlindungan. Kelas 1. Risiko Infeksi (00004).
b. Domain 12. Kenyamanan. Kelas 1. Kenyamanan Fisik. Nyeri Akut berhubungan
dengan Agens Cedera Fisik (mis., abses, amputasi, luka bakar, terpotong,
mengangkat berat, prosedur bedah, trauma, olahraga berlebihan) (00132).
C. Intervensi Keperawatan
a. Pre-operasi:

1. Risiko kerusakan integritas kulit


NOC NIC

Tujuan: Setelah dilakukan 1. Kaji kulit anak untuk melihat tanda


tindakan keperawatan iritasi dan kerusakan seperti
selama 3x24 jam, pasien kemerahan, edema, dan abrasi setiap
tidak memperlihatkan tanda 4 – 8 jam.
atau gejala kerusakan kulit 2. Lakukan perawatan kulit yang tepat,
termasuk mandi dengan
Kriteria hasil : menggunakan sabun, pelembab,
1. Klien tidak menunjukkan masase, perubahan posisi,
adanya kemerahan dan penggantian linen dan pakaian
iritasi. kotor.
2. Klien menunjukkan 3. Anjurkan untuk segera mengganti
integritas kulit yang celana bila basah.
baik, yang dibuktikan 4. Jelaskan mengenai pentingnya
dengan tidak adanya menjaga kebersihan area perineal

25
lecet, warna kulit dan ajarkan cara membersihkannya.
normal. 5. Anjurkan anak dan/atau orangtuanya
untuk membersihkan area perineal
dengan air hangat setelah BAB .dan
dikeringkan dengan handuk
6. Ajarkan pada klien dan keluarga
mengeni tanda-tanda klinis
kerusakan integritas kulit.

2. Ansietas berhubungan dengan dengan Perubahan Besar (mis., status ekonomi,


lingkungan, status kesehatan, fungsi peran, status peran).
NOC NIC

Tujuan: Setelah dilakukan 1. Jelaskan pada anak dan orangtua


tindakan keperawatan tentang prosedur bedah dan
selama 1x24 jam,kecemasan perawatan pasca operasi.
orang tua menjadi hilang. 2. Evaluasi tingkat pemahaman
keluarga tentang penyakit.
3. Motivasi klien dan orangtuanya
Kriteria Hasil: orangtua untuk mengekspresikan masalah dan
mengalami penurunan rasa berikan kesempatan untuk bertanya
cemas yang ditandai oleh dan jawab dengan jujur.
ungkapan pemahaman 4. Libatkan klien dan keluarga dalam
perencanaan keperawatan dan
tentang prosedur bedah.
berikan kenyamanan fisik.

b. Post-operasi:
1. Nyeri berhubungan dengan agens cedera fisik
NOC NIC

Tujuan: setelah dilakukan 1. Kaji nyeri dengan pendekatan


asuhan keperawatan 1x24 PQRST.
jam, klien tidak merasa 2. Monitor tanda-tanda vital.
nyeri. 3. Lakukan manajemen nyeri
keperawatan:
a. Atur posisi fisiologis.
Kriteria hasil: b. Berikan lingkungan tenang dan
batasi pengunjung.
1. Klien tidak menangis. c. Ajarkan teknik relaksasi

26
2. Klien dapat tidur sesuai pernapasan dalam.
kebutuhan. d. Ajarkan teknik distraksi pada
3. Ekspresi wajah rileks. saat nyeri.
4. Skala nyeri menurun. e. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgesik

2. Risiko infeksi
NOC NIC

Tujuan: Setelah dilakukan 1. Kaji lebar luka, letak luka.


tindakan keperawatan selama 2. Kaji faktor yang dapat
2 x24 jam,diharapkan tidak menyebabkan infeksi.
muncul tanda-tanda infeksi. 3. Bersihkan lingkungan dengan benar
4. Ganti balut setiap hari.
5. Kolaborasi untuk pemberian
Kriteria hasil: Tidak ada antibiotik dan anti pendarahan.
tanda-tanda infeksi seperti
(rubor, tumor, kalor, dolor,
fungiolesa).

3.2 Asuhan Keperawatan Umum Epispadia

A. Pengkajian
a) Anamnesa

1. Identitas Pasien

Meliputi nama, usia, jenis kelamin (paling banyak terjadi pada laki-laki),
pendidikan, agama, alamat, tanggal MRS.

2. Keluhan utama

Merupakan alasan utama mengapa pasien dating kerumah sakit, biasanya pada
epispadia mengeluh BAK keluar dari atas.

3. Riwayat Kesehatan

27
a. Riwayat Kesehatan Dahulu

Kaji adanya gangguan hormon androgen yang mengatur organogenesis


kelamin pria atau dapat juga karena reseptor hormone androgennya sendiri
di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada terutama saat kehamilan ibu.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Sebelum Operasi:

Pasien mengeluh sejak lahir lubang penis berada di atas, bila psien BAK
pancaran urin tidak keluar dari ujung penis melainkan dari atas, saat BAK
pasien tidak menangis, warna urin kunng jernih tidak ada darah dan tidak
ada demam.

Setelah Operasi

Adanya rasa nyeri, kaji lokasi , karakter, durasi, dan hubungan dengan
urinasi biasanya karena luka pembedahan, factor-faktor yang memicu rasa
nyeri dan yang meringankannya.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Kaji adanya riwayat penyakit ginjal atau kandung kemih dalam keluarga,
seperti adanya factor genetic terjadi karena gagalnya sintesis androgen yang
diderita keluarga. Hal ini bisanya terjadi karena mutasi pada gen yang
mengkode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi gen tersebut tidak
terjadi.

b) Pengkajian Keperawatan
1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pada umumnya tidak terjadi gangguan pada pemeliharaan kesehatan yang
dikarenakan epispadia. Namun biasanya terganggu saat akan melakukan
BAK saja.
2. Pola nutrisi/ metabolic
Nafsu makan pasien baik, an tidak mengalami pola nutrisi/metabolic

28
3. Pola eliminasi
Pasien tidak mengalami gangguan pola eliminasi, namun saat buang air
kecil urinnya memancar ke atas.\
4. Pola aktivitas dan latihan
Pasien lebih suka beraktivitas di dalam rumah.
5. Pola istirahat dan tidur
Tidak mengalami ganggguan pada tidurnya
6. Pola kognitif dan perceptual
Lubang penis berada di atas mempengaruhi perasaan pasien.
7. Pola persepsi diri
Pasien merasa malu dengan dirinya
8. Pola seksual dan reproduksi
Terjadi perubahan dalam menvcapai kepuasan seks krena gangguan saat
penetrasi dan ejakulasi saat berhubungan seksual, perubahan minat
terhadap diri sendiri, persepsi keterbatasan akibat lubang penis yang
berada di atas.
9. Pola peran dan hubungan
Peran hubungan pasien dengan orang lain biasanya terganggu karena
keadaannya.
10. Pola manjemen koping stress
Pasien terlaihat cemas saat mau dilakukan operasi, ada rasa takut sebelum
dilakukan pembedahan.
11. Nilai dan keyaknian
Tidak ada gangguan pada pasien.

B. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Keadaan umum:baik

Derajad kesadaran: comos mentis

2. Tanda-tanda vital

29
 Tekanan darah

Sebelum pembedahan: >120/80 mmHg

Setelah pembedahan: normal (120/80 mmHg).

 Nadi

Sebelum pembedahan: >100x/menit

Sesudah pembedahan: normal (60-100x/ menit).

 Pernapasan

Sebelum pembedahan: 16-20x/ menit

Setelah pembedahan: >24x/menit

 Suhu: normal (36,5-37,50C)

3. Kulit

Kulit putih kecoklatan, kering, kelainan kulit tdak ada, hiperpigmentasi tidak ada.

4. Kepala

Bentuk normal, rambut normal, warna hitam, sukar dicabut.

5. Wajah

Edema tidak ada

6. Mata

Normal

7. Hidung

Sebelum operasi: napas cuping hidung tidak ada, skret tidak ada, darah tidak ada

Setelah operasi napas cuping hidung (+), skret tidak ada, darah tidak ada

30
8. Mulut

Normal

9. Telinga

Daun telinga dalam batas normal, secret tidak ada.

10. Tenggorok

Sebelum operasi: uvula di tengah, secret (-)

Sesudah operasi: uvula di tengah, secret (+)

11. Leher

Normal

12. Toraks

Bentuk: normal

Inspeksi: iktus kordis tidak tampak

Palpasi: tidak terjadi kardiomegali

Perkusi: pekak

Auskultasi: bunyi jantung normal, regular, dan tidak ada bising jantung

 Pulmo

Inspeksi: pengembangan dada kanan dan kiri normal

Palpasi: fremitus raba dada kanan dan kiri normal

Perkusi: sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi: normal

13. Abdomen

Inspeksi: simetris
31
Auskultasi: normal

Perkusi: timpani

Palpasi: hepar dan lien tidak teraba

14. Genitalia dan anus:

Sebelum operasi: lubangh penis berada di dorsal penis

Sesudah operasi: lubang penis pada posisi normal.

Anus: saat diinspeksi tidak ada tanda-tanda hemoroid, tidak tampak tanda-tanda
tumor dan tidak terdapat jejas.

C. Diagnosa Keperawatan

1. Domain 11. Keamanan/Perlindungan. Kelas 2. Cedera Fisik. Kerusakan Integritas


Kulit (00046).
2. Domain 3. Eliminasi dan Pertukaran. Kelas 4. Fungsi Urinarius. Retensi Urin
(00023).
3. Domain 9. Koping/Toleransi Stres. Kelas 2. Respons Koping. Ansietas
berhubungan dengan Perubahan Besar (mis., status ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, fungsi peran, status peran) (00146).
4. Domain 11. Keamanan/Perlindungan. Kelas 1. Risiko Infeksi (00004).
5. Domain 12. Kenyamanan. Kelas 1. Kenyamanan Fisik. Nyeri Akut berhubungan
dengan Agens Cedera Fisik (mis., abses, amputasi, luka bakar, terpotong,
mengangkat berat, prosedur bedah, trauma, olahraga berlebihan) (00132).
D. Intervensi
NO Diagnosa Keperawatan NOC (Kriteria Hasil) NIC (Intervensi)

1. Domain 11. Setelah dilakukan Pengecekan Kulit


Keamanan/Perlindungan. asuhan keperawatan (3590):
Kelas 2. Cedera Fisik. 3x 24 jam 1. Periksa kulit dan
Kerusakan Integritas diharapkan: selaput lender
Kulit (00046). Integritas jaringan: terkait dengan

32
kulit dan membrane adanya kemerahan,
mukosa (1101): kehangatan ekstrim,
1. Suhu kulit normal. edema, atau
2. Elastisitas normal. drainase.
3. Pigmentasi 2. Periksa kondisi luka
abnormal tidak ada. operasi dengan
4. Lesi pada kulit tidak tepat.
ada. 3. Monitor warna dan
Konsekuensi suhu kulit.
Imobilitas: Fisiologi 4. Monitor kulit untuk
(0204: adanya kekeringan
1. Retensi urin tidak yang berlebihan dan
ada kelembapan.
2. Pasien tidak demam 5. Ajarkan pada
3. Status nutrisi pasien keluarga/pemberi
baik. asuhan mengenai
tanda-tanda
kerusaan kulit
dengan tepat.
Perawatan Luka
(3660):
1. Angkat balutan
dan plester
perekat.
2. Monitor
karakteristik luka,
termasuk drainase,
warna, ukuran, dan
bau.
3. Oleskan salep
yang sesuai

33
dengan kulit/lesi.
4. Berikan balutan
yang sesuai
dengan jenis luka.
5. Periksa luka setiap
kali perubahan
balutan.
6. Bandingkan dan
catat setiap
perubahan luka.
7. Anjurkan pasien
dan keluarga pada
prosedur
perawatan luka.

2. Domain 3. Eliminasi dan Setelah dilakukan Irigasi kantong kemih


Pertukaran. Kelas 4. asuhan keperawatan (0550):
Fungsi Urinarius. Retensi 3x24 jam diharapkan: 1. Tentukan apakah
Urin (00023). Eliminasi Urin (0503): akan melakukan
1. Pola eliminasi pada irigasi terus
pasien tidak menerus atau
terganggu. berkala.
2. Pasien dapat 2. Jelaskan tindakan
mengosongkan yang akan
kantong kemih dilakukan kepada
sepenuhnya. pasien.
3. Retensi urin tidak 3. Siapkan peralatan
ada. irigasi yang steril,
Status Kenyamanan dan pertahankan
(2010): Teknik steril setiap
1. Kesejahteraan fisik kali tindakan.

34
pasien terpenuhi. 4. Bersihkan
2. Pasien bisa sambungan kateter
menngunakan baju atau ujung-Y
yang nyaman. dengan kaas
3. Pasien mampu alkohol.
melakukan 5. Monitor dan
perawatan pribadi pertahankan
dan kebersihan. kecepatan alian
yang tepat.
6. Catat jumlah cairan
yang digunakan,
karakteristik cairan,
jumlah cairan yang
keluar, dan respon
pasien sesuai
dengan prosedur
tetap yang ada.
Kateterisasi Urin
(0580):
1. Jelaskan prosedur
dan rasonalisasi
kateterisasi.
2. Pasang alat dengan
tepat.
3. Berikan privasi dan
tutupi pasien dengan
baik untuk
kesopanan (hanya
mengekspos area
genitalia).
4. Pastikan

35
pencahayaan yang
tepat untuk
visualisasi anatomi
yang tepat.
5. Isi bola kateter
sebelum
pemasangan kateter
untuk memeriksa
ukuran dan
kepatenan kateter.
6. Pertahankan Teknik
aseptic yang ketat.
7. Pertahankan
kebersihan tangan
baik sebelum,
selama, dan setelah
insersi atau saat
memanipulasi
kateter.
8. Posisikan pasien
dengan tepat.
9. Bersihkan daerah
sekitar meatus
uretra dengan
larutan antibakteri,
saline steril, atau air
steril.
10. Masukkan dengan
lurus atau retensi
kateter ke dalam
kandung kemih.

36
11. Gunakan ukuran
kateter terkecil yang
sesuai.
12. Pastikan bahwa
kateter yang
dimasukkan cukup
jauh ke dalam
kandung kemih
untuk mencegah
trauma pada
jaringan uretra
dengan inflasi
balon.
13. Hubungkan retensi
kateter ke kantung
sisi tempat tidur
drainase atau pada
kantung kaki.
14. Monitor intake dan
output.
15. Ajarkan pasien dan
keluarga mengenai
perawatan kateter
yang tepat.

3. Domain 9. Setelah dilakukan Bimbingan antisipasif


Koping/Toleransi Stres. asuhan keperawatan (5210):
Kelas 2. Respons 2x24 jam, 1. Berikan informasi
Koping. Ansietas diharapkan: mengenai haapan-
berhubungan dengan Tingkat Kecemasan harapan yang
Perubahan Besar (mis., (1211): realistis terkait

37
status ekonomi, 1. Pasien dapat dengan perilaku
lingkungan, status beristirahat dengan pasien.
kesehatan, fungsi peran, tenang. 2. Bantu klien untuk
status peran) (00146). 2. Perasaaan gelisah memutuskan
pada pasien tidak bagaimana masalah
ada. dipecahkan.
3. Wajah tegang pada 3. Gunakan contoh
pasien tidak ada.. kasus untuk
4. Peningkatan meningkatkan
tekanan darah kemampuan
tidak ada. pemecahan masalah
5. Gangguan tidur pasien dengan cara
tidak ada. yang tepat.
Koping (1302): 4. Libatkan keluarga
1. Pasien mampu maupun orang-
mengidentifikasi orang terdekat
pola koping yang pasien jika
efektif. memungkinkan.
2. Pasien Pengurangan
melakukan kecemasan (5820):
modifikasi gaya 1. Gunakan
hidup untuk pendekatan yang
mengurangi tenang dan
stress. meyakinkan.
3. Pasien 2. Berikan informasi
menggunakan faktual terkait
perilaku yang diagnosis,
sesuai dengan perawatan dan
kesukaan pasien prognosis.
untuk 3. Berada di sisi pasien
mengurangi untuk meningkatkan

38
stress. rasa aman dan
4. Pasien mampu mengurangi
menggunakan ketakutan.
strategi koping 4. Dengarakan pasien.
yang efektif. 5. Puji/kuatkan
perilaku yang baik
secara tepat.
6. Berikan aktivitas
pengganti yang
bertujuan untuk
mengurangi
tekanan.
7. Dukung
penggunaan
mekanisme koping
yang sesuai.
Peningkatan
koping(5230):
1. Bantu pasien dalam
mengidentifikasi
tujuan jangka pendek
dan jangka Panjang
yang tepat.
2. Bantu pasien unutk
memecahkan msalah
dengan cara yang
konstruktif.
3. Gunakan pendekatan
yang tenang dan
memberikan jaminan.
4. Dukung keterlibatan

39
keluarga dengan cara
yang tepat.
5. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
strategi-strategi
positif untuk
mengatasi
keterbatasan dan
mengelola kebutuhan
gaya hidup maupun
perubahan peran.
Terapi relaksasi
(6040):
1. Ciptakan
lingkungan yang
tenang dan tanpa
distraksi dengan
lampu yang redup
dan suhu
lingkungan yang
nyaman, jika
memungkinkan.
2. Dapatkan perilaku
yang menunjukkan
terjadinya relaksasi,
misalnya bernapas
dalam, menguap,
pernapasan perut,
atau bayangan yang
menenangkan.
3. Tunjukkan dan

40
praktikkan Teknik
relaksasi pada
pasien.
4. Dorong pasien
untuk mengulang
praktik relaksasi
jika memungkinkan.
5. Evaluasi dan
dokumentasikan
respon terhadap
terapi relaksasi.

4. Domain 11. Setelah dilakukan Kontrol infeksi


Keamanan/Perlindungan. asuhan keperawatan (6540):
Kelas 1. Risiko Infeksi 3x 24 jam, 1. Batasi jumlah
(00004). diharapkan: pengunjung.
Keparahan Infeksi 2. Anjurkan pasien
(0703): dan kelurga
1. Kemerahan tidak mengenai teknik
ada. mencuci tangan
2. Pasien tidak dengan tepat.
demam. 3. Cuci tangan
3. Nafsu makan sebelum dan
pasien baik. sesudah kegiatan
Kontrol Risiko (1902): perawatan pasien.
1. Pasien mampu 4. Lakukan tindakan-
mengidentifikasi tindakan
faktor resiko. pencegahan yang
2. Pasien mampu bersifat universal.
mengenali faktor 5. Gunakan
resiko yang ada di kateterisasi

41
lingkungan. intermiten untuk
3. Pasien dan mengurangi
keluarga mampu kejadian n infeksi
menyesuaikan kandung kemih.
strategi kontrol 6. Ajarkan pasien dan
resiko. keluarga mengenai
4. Pasien mampu tanda dan gejala
menjalankan infeksi dan kapan
strategi kontrol harus
resiko yang sudah melaporkannya
ditetapkan kepada penyedia
5. Pasien mampu perawatan
mengenali kesehatan.
perubahan status 7. Dorong intake
kesehatan. nutrisi yang tepat.
Perlindungan infeksi
(6550):
1. Monitor adanya
tanda dan gejala
infeksi sistemik dan
local.
2. Monitor kerentanan
terhadap infeksi.
3. Batasi jumlah
pengunjung yang
sesuai.
4. Periksa kulit dan
selaput lender untuk
adanya kemerahan,
kehangatan ekstrim,
atau drainase.

42
5. Tingkatkan asupan
nutrisi yang cukup.
6. Ajarkan pasien dan
keluarga bagaimana
cara menghindari
infeksi.

5. Domain 12. Setelah dilakukan Manajemen Nyeri


Kenyamanan. Kelas 1. asuhan keperawatan (1400):
Kenyamanan Fisik. Nyeri 3x24 jam, 1. Kendalikan factor
Akut berhubungan diharapkan: lingkungan yang
dengan Agens Cedera Kontrol Nyeri (1605): dapat
Fisik (mis., abses, 1. Pasien mampu mempengaruhi
amputasi, luka bakar, meggunakan respon pasien
terpotong, mengangkat tindakan terhadap
berat, prosedur bedah, pengurangan nyeri ketidaknyamanan
trauma, olahraga tanpa analgesik. (misalnya suhul,
berlebihan) (00132). 2. Pasien mampu ruangan,
melaporkan pencahayaan, sura
perubahan terhadap bising).
gejala nyeri pada 2. Kurangi atau
professional eliminasi factor-
kesehatan. faktor yang dapat
3. Pasien mampu mencetuskan atau
melaporkan nyeri meningkatkan nyeri
yang terkontrol. (ketakutan
Tingkat Nyeri (2102): kelelahan, keadaan
1. Nyeri yang monoton atau
dilaporkan tidak kurang
ada. pengetahuan).
2. Ekspresi nyeri wajah 3. Pilih dan

43
pada pasien tidak implementsikan
ada. tindakan yang
3. Pasien bisa beragam (misalnya
beristirahat dengan farmakologi,
tenang. nonfarmakologi,
interpersonal) untuk
memfasilitasi
penurunan nyeri
sesuai dengan
kebutuhan.
4. Ajarkan prinsip-
prinsip manajemen
nyeri.
5. Dukung
istirahat/tidur yang
adekuat untuk
membantu
penurunan nyeri.
Manajemen
lingkungan (6480):
1. Ciptakan
lingkungan yang
aman bagi pasien.
2. Sesuaikan suhu
lingkungan dengan
kebutuhan pasien,
jika suhu tubuh
berubah.
3. Berikan musik
pilihan.

44
BAB 4

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

KASUS EPISPADIA

An. R berusia 4 tahun dibawa oleh ibunya ke RS UNAIR pada tanggal 25 Februari 2018
dengan keluhan gangguan berkemih sejak bayi yaitu lubang kencing tidak seperti
umumnya, lubang uretranya terletak pada dorsal penis. Ibu An. R terlihat cemas dengan
kondisi anaknya. Setelah dilakukan pemeriksaan medis An. R mengalami kelainan
urinarius yaitu lubang uretra berada di dorsum (di atas) penis. Diagnosa medis epispadia.
Pada tanggal 1 Maret 2018 An. R menjalani operasi pada penis, pada hari pertama post
operasi An. R mengatakan terasa nyeri pada luka, sering terbangun pada malam hari
karena nyeri, An. R tampak meringis kesakitan. Ibu An. R mengatakan An. R hanya dapat
tidur 6 jam per hari. Ibu An. R juga mengatakan An. R mengalami penurunan nafsu
makan. Saat dipalpasi badan An. R teraba hangat. Klien terlihat kesusahan saat berubah
posisi, An. R juga terbatas untuk berjalan. Dari hasil pengkajian TTV, Suhu 37,60C, Nadi
100x/menit, RR 22x/menit, TD 120/80mm/Hg.

A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a. Biodata :
Nama : An. R
Usia : 4 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : PAUD
Pekerjaan : Pelajar
Status pernikahan : Belum menikah

45
Alamat : Surabaya
Diagnosa medis : Epispadia
Tanggal masuk RS : 25 Februari 2018
b. Keluhan Utama
Pre operasi : lubang uretra terletak pada dorsal penis
Post operasi : nyeri pada luka operasi.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


Ibu klien mengatakan anaknya mengalami gangguan berkemih sejak bayi yaitu
lubang kencing tidak seperti umumnya. Setelah dilakukan pemeriksaan medis An.
R mengalami kelainan urinarius yaitu lubang uretra berada di dorsum (di atas)
penis. Pada tanggal 1 Maret 2018 An. R menjalani operasi pada penis, hari
pertama post operasi An. R mengatakan terasa nyeri pada luka, sering terbangun
pada malam hari karena nyeri, An. R tampak meringis kesakitan. Ibu An. R
mengatakan An. R hanya dapat tidur 6 jam per hari. Ibu An. R juga mengatakan
An. R mengalami penurunan nafsu makan. Saat dipalpasi badan An. R teraba
hangat. Klien terlihat kesusahan saat berubah posisi, An. R juga terbatas untuk
berjalan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat riwayat penyakit keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breath):
RR 22 x/menit
b. B2 (Blood):
TD : 120/80 mmHg, Nadi : 100x/menit, Suhu 37,6oC
c. B3 (Brain):
Compos mentis, GCS 456, nyeri pada luka, sering terbangun di malam hari karena
nyeri
d. B4 (Bladder):

46
Gangguan berkemih sejak bayi yaitu lubang kencing tidak seperti umumnya,
lubang uretra terletak pada dorsal penis
e. B5 (Bowel):
Nafsu makan menurun
f. B6 (Bone):
Klien terlihat kesusahan saat berubah posisi, terbatas untuk berjalan.

B. ANALISA DATA
Pre Operasi :
No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1 Ds : - Pada tanggal 1 Maret lubang uretranya terletak pada Risiko kerusakan integritas
2018 An. R menjalani dorsal penis (epispadia) kulit
operasi pada penis
Do : - tindakan pembedahan pada
daerah penis

kulit mengalami luka insisi

Risiko kerusakan integritas


kulit

2 Ds : Ibu An. R mengatakan lubang uretranya terletak pada Ansietas b.d Perubahan
cemas dengan kondisi dorsal penis (epispadia) besar (status kesehatan)
anaknya sekarang
Do : Ibu An. R terlihat tindakan pembedahan pada
cemas dengan kondisi daerah penis
anaknya
Ansietas

47
Post Operasi :
No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1 Ds: hari pertama post lubang uretranya terletak pada Nyeri akut b.d Agen
operasi An. R mengatakan dorsal penis (epispadia) cedera fisik (prosedur
terasa nyeri pada luka, pembedahan)
sering terbangun pada tindakan pembedahan pada
malam hari karena nyeri, daerah penis
An. R tampak meringis
kesakitan.
Ibu An. R mengatakan An. kerusakan jaringan daerah
R hanya dapat tidur 6 jam penis
per hari.
Do: Saat dipalpasi badan pelepasan histamine dan
An. R teraba hangat. Klien bradikinin
terlihat kesusahan saat
berubah posisi, An. R juga Nyeri Akut
terbatas untuk berjalan.
Dari hasil pengkajian TTV,
Suhu 37,60C, Nadi
100x/menit, RR 22x/menit,
TD 120/80mm/Hg.
2 Ds: Ibu An. R juga tindakan pembedahan pada Ketidakseimbangan nutrisi:
mengatakan An. R daerah penis kurang dari kebutuhan
mengalami penurunan nafsu tubuh b.d Ketidakmampuan
makan. kerusakan jaringan daerah makan
Do : badan An. R teraba penis
hangat. Klien terlihat
kesusahan saat berubah pelepasan histamine dan
posisi, An. R juga terbatas bradikinin
untuk berjalan. Dari hasil
pengkajian TTV, Suhu Nyeri Akut

48
37,60C, Nadi 100x/menit,
RR 22x/menit, TD Mempengaruhi nafsu makan
120/80mm/Hg.
Ketidakseimbangan nutrisi:
kurang dari kebutuhan tubuh
3 Ds: - lubang uretranya terletak pada Hambatan mobilitas fisik
Do: Klien terlihat dorsal penis (epispadia) b.d Intoleransi aktivitas
kesusahan saat berubah
posisi, An. R juga terbatas post oprasi pada daerah penis
untuk berjalan. Dari hasil
pengkajian TTV, Suhu Hambatan mobilitas fisik
37,60C, Nadi 100x/menit,
RR 22x/menit, TD
120/80mm/Hg.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operasi :
1. Domain 11: Keamanan/Perlindungan. Kelas 2. Cedera Fisik. Risiko kerusakan
integritas kulit (00047)
2. Domain 9: Koping/Toleransi Stress. Kelas 2. Respon Koping. Ansietas b.d
Perubahan besar (status kesehatan) (00146)
Post operasi :
1. Domain 12: Kenyamanan. Kelas 1. Kenyamanan Fisik. Nyeri akut b.d Agen cedera
fisik (prosedur pembedahan) (00132)
2. Domain 2: Nutrisi. Kelas 1. Makan. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh b.d Ketidakmampuan makan (00002)
3. Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 2. Aktivitas/Olahraga. Hambatan mobilitas fisik
b.d Intoleransi aktivitas (00085)

D. INTERVENSI
Pre Operasi :

49
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Domain 11: Setelah dilakukan 1. Kaji kulit anak untuk
Keamanan/Perlindungan. tindakan keperawatan melihat adanya iritasi
Kelas 2. Cedera Fisik. tidak ada kerusakan dan kerusakan seperti
Risiko kerusakan pada kulit, dengan kemerahan, edema, dan
integritas kulit (00047) kriteria hasil: abrasi setiap 4 – 8 jam.
1. Tidak adanya 2. Lakukan perawatan kulit
kemerahan dan iritasi yang tepat, termasuk
pada kulit mandi harian dengan
2. Tidak ada kelemahan menggunakan sabun
otot. pelembab, masase,
3. Tidak adanya lesi pengubahan posisi dan
pada kulit penggantian linen serta
4. Warna kulit normal. pakaian kotor.
5. Keluarga memahami 3. Anjurkan untuk segera
aktivitas perawatan mengganti celana bila
kulit yang rutin dan basah
efektif 4. Jelaskan mengenai
pentingnya menjaga
kebersihan area perineal
dan ajarkan cara
membersihkannya
5. Anjurkan anak untuk
membersihkan area
perineal dengan air
hangat setelah BAK dan
dikeringkan dengan
handuk
6. Ajarkan pada klien dan
keluarga mengeni tanda-
tanda klinis kerusakan

50
integritas kulit

2. Domain 9: Setelah dilakukan 1. Jelaskan pada anak dan


Koping/Toleransi Stress. tindakan keperawatan orang tua tentang
Kelas 2. Respon Koping. kecemasan klien dan prosedur bedah dan
Ansietas b.d Perubahan keluarga berkurang, perawatan pre dan pasca
besar (status kesehatan) dengan kriteria hasil : operasi yang diharapkan.
(00146) - Rasa cemas 2. Evaluasi tingkat
berkurang pemahaman keluarga
- Keluarga memahami tentang penyakit
prosedur bedah klien 3. Akui masalah klien dan
- Klien dan keluarga dorong mengekspresikan
merasa tenang masalah dan berikan
kesempatan untuk
bertanya
4. Libatkan klien dan
keluarga dalam
perencanaan
keperawatan
5. Berikan kenyamanan
bagi klien dan keluarga

Post Operasi :
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Domain 12: Setelah dilakukan tindakan Pain management (1400)
Kenyamanan. Kelas 1. keperawatan nyeri klien 1. Gunakan skala nyeri
Kenyamanan Fisik. berkurang, dengan kriteria sebelum nyeri bertambah
Nyeri akut b.d Agen hasil : parah
cedera fisik (prosedur 1. Onset nyeri diketahui 2. Melakukan penilaian yang
pembedahan) (00132) 2. Klien dapat komprehensif dari rasa sakit

51
menyebutkan faktor meliputi lokasi,
penyebab nyeri karakteristik, onset / durasi,
3. Klien dapat frekuensi, kualitas,
menggunakan teknik intensitas atau keparahan
penurunan nyeri nyeri, dan mempercepat
4. Nyeri berkurang skala efektif
0 3. Berikan obat analgesik
5. Wajah klien tidak untuk mengurangi nyeri
menahan nyeri 4. Ajarkan teknik non-
farmakologi (seperti
hypnosis, relaksasi,
imaginasi terbimbing, terapi
music, terapi aktivitas,
distraksi, terapi bermain,
terapi aktivitas).
5. Mengontrol faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon klien
terhadap ketidaknyamanan
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
6. Memonitor kepuasan klien
dengan manajemen nyeri
pada selang waktu tertentu
7. Berikan HE pada klien dan
keluarga tentang
pengolahan nyeri dan gejala
dalam konteks pribadi
2 Domain 2: Nutrisi. Setelah dilakukukan Manajemen nutrisi (1100)
Kelas 1. Makan. tindakan asuhan 1. Tentukan status gizi klien

52
Ketidakseimbangan keperawatan, diharapkan dan kemampuan klien
nutrisi : kurang dari nafsu makan klien untuk memenuhi
kebutuhan tubuh b.d meningkat, dengan kriteria kebutuhan gizi.
Ketidakmampuan hasil : 2. Beri obat-obatan sebelum
makan (00002) Status nutrisi (1004) makan (misalnya
1. Asupan gizi klien baik penghilang mual /
2. Asupan makanan klien antiemetic)
baik 3. Monitoring kalori dan
3. Asupan cairan klien asupan makanan.
baik 4. Monitor kecenderungan
4. Rasio berat terjadinya penurunan
badan/tinggi badan nafsu makan dan berat
klien normal badan.
Bantuan Peningkatan Berat
Nafsu makan (1014) Badan (1240)
1. Hasrat/keinginan untuk 1. Timbang klien pada jam
makan membaik yang sama setiap hari.
2. Intake makanan normal 2. Monitor mual muntah
3. Intake nutrisi normal 3. Berikan obat-obatan untuk
4. Intake cairan normal meredakan mual dan nyeri
sebelum makan.
4. Monitor asupan kalori
setiap hari.
5. Dukung peningkatan
asupan kalori.
6. Sediakan variasi makanan
yang tinggi kalori dan
bernutrisi tinggi. (diet
TKTP)

3 Domain 4: Setelah diberikan tindakan Activity Therapy (4310)

53
Aktivitas/Istirahat. keperawatan, klien dapat 1. Kaji adanya faktor yang
Kelas 2. bergerak atau berpindah menyebabkan kelelahan
Aktivitas/Olahraga. secara mandiri dengan 2. Monitor nutrisi dan
Hambatan kriteria hasil: sumber energi yang
mobilitas fisik b.d Mobility (0208) adekuat
Intoleransi 1. Dapat menggerakkan 3. Monitor klien akan adanya
aktivitas (00085) tubuh tanpa kesulitan kelelahan fisik dan emosi
2. Berpindah dengan secara berlebihan
mudah 4. Mengobati nyeri dan luka
3. Tidak mengalami post operasi
kesulitan berjalan 5. Monitor respon
kardiovaskuler terhadap
aktivitas (takikardi,
disritmia, sesak nafas,
daiporesis, pucat,
perubahan hemodinamik)
6. Bantu klien untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas
yang diinginkan
7. Bantu untuk memilih
aktifitas konsisten yang
sesuai dengan kemampuan
fisik, psikologi, dan sosial
8. Bantu klien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan

E. IMPLEMENTASI

54
No Diagnosa Keperawatan Intervensi Implementasi
1. Domain 11: 1. Kaji kulit anak untuk 1. Mengkaji kulit anak untuk melihat adanya
Keamanan/Perlindungan. melihat adanya iritasi dan iritasi dan kerusakan seperti kemerahan,
Kelas 2. Cedera Fisik. kerusakan seperti edema, dan abrasi setiap 4 – 8 jam.
Risiko kerusakan kemerahan, edema, dan 2. Melakukan perawatan kulit yang tepat,
integritas kulit (00047) abrasi setiap 4 – 8 jam. termasuk mandi harian dengan menggunakan
2. Lakukan perawatan sabun pelembab, masase, pengubahan posisi
kulit yang tepat, termasuk dan penggantian linen serta pakaian kotor.
mandi harian dengan 3. Menganjurkan untuk segera mengganti celana
menggunakan sabun bila basah
pelembab, masase, 4. Menjelaskan mengenai pentingnya menjaga
pengubahan posisi dan kebersihan area perineal dan ajarkan cara
penggantian linen serta membersihkannyaAnjurkan anak untuk
pakaian kotor. membersihkan area perineal dengan air hangat
3. Anjurkan untuk setelah BAK dan dikeringkan dengan handuk
segera mengganti celana 5. Mengajarkan pada klien dan keluarga
bila basah mengeni tanda-tanda klinis kerusakan
4. Jelaskan mengenai integritas kulit
pentingnya menjaga 6. Mengajarkan pada klien dan keluarga
kebersihan area perineal mengeni tanda-tanda klinis kerusakan
dan ajarkan cara integritas kulit
membersihkannyaAnjurkan
anak untuk membersihkan
area perineal dengan air
hangat setelah BAK dan
dikeringkan dengan handuk
5. Ajarkan pada klien
dan keluarga mengeni
tanda-tanda klinis
kerusakan integritas kulit
6. Ajarkan pada klien

55
dan keluarga mengeni
tanda-tanda klinis
kerusakan integritas kulit

Domain 9: 1. Jelaskan pada anak dan 1. Menjelaskan pada anak dan orang tua
Koping/Toleransi Stress. orang tua tentang tentang prosedur bedah dan perawatan
Kelas 2. Respon Koping. prosedur bedah dan pre dan pasca operasi yang diharapkan.
Ansietas b.d Perubahan perawatan pre dan pasca 2. Mengevaluasi tingkat pemahaman
besar (status kesehatan) operasi yang keluarga tentang penyakit
(00146) diharapkan. 3. Mengakui masalah klien dan dorong
2. Evaluasi tingkat mengekspresikan masalah dan berikan
pemahaman keluarga kesempatan untuk bertanya
tentang penyakit 4. Melibatkan klien dan keluarga dalam
3. Akui masalah klien dan perencanaan keperawatan
dorong 5. Memberikan kenyamanan bagi klien dan
mengekspresikan keluarga
masalah dan berikan
kesempatan untuk
bertanya
4. Libatkan klien dan
keluarga dalam
perencanaan
keperawatan
5. Berikan kenyamanan
bagi klien dan keluarga

Domain 12: Pain management (1400) Pain management (1400)


Kenyamanan. Kelas 1. 1. Gunakan skala nyeri
Kenyamanan Fisik. Nyeri sebelum nyeri 1. Menggunakan skala nyeri sebelum nyeri
akut b.d Agen cedera bertambah parah bertambah parah
fisik (prosedur 2. Melakukan penilaian 2. Melakukan penilaian yang komprehensif

56
pembedahan) (00132) yang komprehensif dari dari rasa sakit meliputi lokasi, karakteristik,
rasa sakit meliputi onset / durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
lokasi, karakteristik, atau keparahan nyeri, dan mempercepat
onset / durasi, frekuensi, efektif
kualitas, intensitas atau 3. Memberikan obat analgesic untuk
keparahan nyeri, dan mengurangi nyeri
mempercepat efektif 4. Mengajarkan teknik non-farmakologi
3. Berikan obat analgesik (seperti hypnosis, relaksasi, imaginasi
untuk mengurangi nyeri terbimbing, terapi music, terapi aktivitas,
4. Ajarkan teknik non- distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas).
farmakologi (seperti 5. Mengontrol faktor lingkungan yang dapat
hypnosis, relaksasi, mempengaruhi respon klien terhadap
imaginasi terbimbing, ketidaknyamanan seperti suhu ruangan,
terapi music, terapi pencahayaan dan kebisingan
aktivitas, distraksi, 6. Memonitor kepuasan klien dengan
terapi bermain, terapi manajemen nyeri pada selang waktu
aktivitas). tertentu Berikan HE pada klien dan keluarga
5. Mengontrol faktor tentang pengolahan nyeri dan gejala dalam
lingkungan yang dapat konteks pribadi
mempengaruhi respon
klien terhadap
ketidaknyamanan
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
6. Memonitor kepuasan
klien dengan
manajemen nyeri pada
selang waktu tertentu
Berikan HE pada klien
dan keluarga tentang

57
pengolahan nyeri dan
gejala dalam konteks
pribadi
Domain 2: Nutrisi. Kelas Manajemen nutrisi (1100) Manajemen nutrisi (1100)
1. Makan. 1. Tentukan status gizi 1. Menentukan status gizi klien dan
Ketidakseimbangan klien dan kemampuan kemampuan klien untuk memenuhi
nutrisi : kurang dari klien untuk memenuhi kebutuhan gizi.
kebutuhan tubuh b.d kebutuhan gizi. 2. memberi obat-obatan sebelum makan
Ketidakmampuan makan 2. Beri obat-obatan (misalnya penghilang mual / antiemetic)
(00002) sebelum makan 3. Memonitoring kalori dan asupan makanan.
(misalnya penghilang 4. Memonitor kecenderungan terjadinya
mual / antiemetic) penurunan nafsu makan dan berat badan.
3. Monitoring kalori dan Bantuan Peningkatan Berat Badan (1240)
asupan makanan. 1. menimbang klien pada jam yang sama setiap
4. Monitor kecenderungan hari.
terjadinya penurunan 2. Memonitor mual muntah
nafsu makan dan berat 3. Memberikan obat-obatan untuk meredakan
badan. mual dan nyeri sebelum makan.
Bantuan Peningkatan 4. Memonitor asupan kalori setiap hari.
Berat Badan (1240) 5. Mendukung peningkatan asupan kalori.
1. Timbang klien pada jam 6. Menyediakan variasi makanan yang tinggi
yang sama setiap hari. kalori dan bernutrisi tinggi. (diet TKTP)
2. Monitor mual muntah
3. Berikan obat-obatan
untuk meredakan mual
dan nyeri sebelum
makan.
4. Monitor asupan kalori
setiap hari.
5. Dukung peningkatan
asupan kalori.

58
Sediakan variasi makanan
yang tinggi kalori dan
bernutrisi tinggi. (diet
TKTP)
Domain 4: Activity Therapy (4310) Activity Therapy (4310)
Aktivitas/Istirahat. Kelas 1. Kaji adanya faktor yang 1. Mengkaji adanya faktor yang menyebabkan
2. Aktivitas/Olahraga. menyebabkan kelelahan kelelahan
Hambatan mobilitas fisik 2. Monitor nutrisi dan 2. Memonitor nutrisi dan sumber energi yang
b.d Intoleransi aktivitas sumber energi yang adekuat
(00085) adekuat 3. Memonitor klien akan adanya kelelahan
3. Monitor klien akan fisik dan emosi secara berlebihan
adanya kelelahan fisik 4. Mengobati nyeri dan luka post operasi
dan emosi secara 5. Memonitor respon kardiovaskuler terhadap
berlebihan aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas,
4. Mengobati nyeri dan daiporesis, pucat, perubahan hemodinamik)
luka post operasi 6. Membantu klien untuk mengidentifikasi dan
5. Monitor respon mendapatkan sumber yang diperlukan untuk
kardiovaskuler terhadap aktivitas yang diinginkan
aktivitas (takikardi, 7. Membantu untuk memilih aktifitas
disritmia, sesak nafas, konsisten yang sesuai dengan kemampuan
daiporesis, pucat, fisik, psikologi, dan sosial
perubahan 8. Membantu klien untuk mengembangkan
hemodinamik) motivasi diri dan penguatan
6. Bantu klien untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
7. Bantu untuk memilih
aktifitas konsisten yang

59
sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi, dan sosial
8. Bantu klien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan

F. EVALUASI
1. MK : Risiko kerusakan integritas kulit (00047)
S: Klien tidak mengeluh adanya kerusakan kulit setelah tindak operasi
O: Kulit daerah bekas operasi normal
A: Kategori outcome tercapai dan intervensi berhasil
P: Hentikan intervensi
2. MK : Ansietas b.d Perubahan besar (status kesehatan) (00146)
S:Orang tua klien mengatakan sudah tidak cemas lagi dengan tindakan pembedahan yang
akan dilakukan pada anaknya
O: Orang tua klien nampak tenang
A: Kategori outcome tercapai dan intervensi berhasil
P: Hentikan intervensi
3. MK: Nyeri akut b.d Agen cedera fisik (prosedur pembedahan) (00132)
S: Klien tidak mengeluh kesakitan pada area bekas operasi dan sudah mampu tidur nyenyak
O: Klien lebih terlihat lebih segar dan sudah bisa tersenyum
A: Kategori outcome tercapai dan intervensi berhasil
P: Hentikan intervensi
4. MK : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d Ketidakmampuan makan (00002)
S: Orangtua klien mengatakan anaknya sudah mau makan
O: Klien sudah terlihat bugar dan BB klien mengalami peningkatan
A: Kategori outcome tercapai dan intervensi berhasil
P: Hentikan intervensi

60
5. MK: Hambatan mobilitas fisik b.d Intoleransi aktivitas (00085)
S: Klien tmengatakan sudah tidak kesusahan berjalan
O: Klien terlihat tidak kesusahan saat berubah posisi, uga terbatas untuk berjalan
A: Kategori outcome tercapai dan intervensi berhasil
P: Hentikan intervensi

61
BAB 5

KESIMPULAN

Hipospadia adalah suatu keadaan dengan lubang uretra terdapat padapenis bagian
bawah, bukan diujung penis. Beratnya hipospadi bervariasi, kebanyakan lubang uretra
terletak didekat ujung penis yaitupada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih
berat terjadi jikaluubang uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal
penis,dan kadang pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini seringberhubungan
kordi, yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang menyebabkan penis melengkung
kebawah saat ereksi. Hipospadia merupakan cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada
masa embrio selama perkembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Epispadia
merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan adanya lubang uretra disuatu tempat
pada bagian permukaan dorsum penis, kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun
perempaun, tetapi lebih sering terjadi pada laki-laki. Pencegahan epispadia dapat dilakukan
dengan mencegah adanya pemaparan lingkungan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma
fisik dan trauma psikis saat wanita dalam keadaan hamil.
Kedua gangguan tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah keperawatan. Peran
perawat yaitu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dan dapat membantu
mempertimbangkan berbagai keputusan dan tindakan klinis agar masalah keperawatan klien
dapat teratasi.

62
BAB 6

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi (3 ed.). Jakarta: EGC.

Dorland, W.A Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland Ed. 28. Jakarta: EGC

Emil A. Tanagho, MD. 2008. Smith’s General Urology edisi 17. a LANGE medical book

Herdman, T., & S.Kamitsuru. (2014). NANDA International Nursing Diagnoses: Definition and
Classification, 2015-1017. Oxford: Wiley Blackwell.

Muscary, M. E. (2005). Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Muttaqin, A., & Sari, K. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:
Salemba Medika.

Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed.6. Jakarta: EGC

Purnomo, B. B. (2011). Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: CV Sagung Seto.

Suriadi & rita yuliani. 2001. Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta: KDT

63