Anda di halaman 1dari 61

MAKALAH SGD KEPERAWATAN KOMUNITAS III

“Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Kognitif”

Dosen Pembimbing:
Elida Ulfiana, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh Kelompok 4 Kelas A2/A15:


1. Dinda Salmahella (131511133039)
2. Damai Widyandari (131511133054)
3. Ika Septiana Arum Permata Devi (131511133065)
4. Ayu Rahmawati (131511133075)
5. Nopen Trijatmiko (131511133123)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Kesehatan Komunitas III yaitu
makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Kognitif”.
Penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep sebagai PJMA mata ajar
Keperawatan Kesehatan Komunitas 3;
2. Elida Ulfiana, S.Kep., Ns., M.Kep sebagai dosen pembimbing yang
senantiasa memberikan bimbingan dan arahan dalam memberikan materi
dan penyelesaian makalah ini;
3. Teman-teman serta semua pihak yang telah bekerja sama dan membantu
dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ilmiah ini masih banyak kekurangan,
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................2
1.3 Tujuan .................................................................................................2
1.4 Manfaat ............................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kognitif .................................................................................4
2.2 Aspek-Aspek Kognitif ........................................................................4
2.3 Fungsi Kognitif pada Lansia ...............................................................6
2.4 Rentan Respon Kognitif ......................................................................6
2.5 Macam-macam Gangguan Kognitif pada Lansia ................................7
2.6 Akibat Gangguan Kognitif pada Lansia ..............................................8
2.7 Pengkajian Gangguan Kognitif ...........................................................8
2.8 Penatalaksanaan Gangguan Kognitif ................................................15
2.9 Pencegahan Gangguan Kognitif ........................................................22
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
3.1 Pengkajian .........................................................................................23
3.2 Diagnosa Keperawatan......................................................................23
3.3 Intervensi Keperawatan .....................................................................25
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
4.1 Kasus .................................................................................................29
4.2 Pengkajian .........................................................................................29
4.3 Analisa Data ......................................................................................42
4.4 Diagnosa Keperawatan......................................................................43
4.5 Intervensi Keperawatan .....................................................................43
4.6 Implementasi .....................................................................................47
4.7 Evaluasi .............................................................................................53

iii
BAB V KESIMPULAN .......................................................................................55
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................56

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan jumlak penduduk lanjut usia di dunia menurut
perkiraan World Health Organitation (WHO) akan meningkat pada tahun
2025 dibandingkan tahun 1990 dibeberapa Negara seperti China 2210%,
India 242%, Thailand 337% dan Indonesia 440% (Wiwin 2011). Asia
merupakan wilayah yang paling banyak mengalami perubahan komposisi
penduduk dan diperkirakan pada tahun 2025, populasi lanjut usia akan
bertambah sekitar 82%. Penduduk lanjut usia di Indonesia 2008 sebesar
21,2 juta jiwa dengan usia harapan hidup 66,8 tahun, tahun 2010 sebesar 24
juta jiwa dengan usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020
jumlah lansia diperkirakan sebesar 28,8 juta jiwa dengan usia harapan hidup
71,1 tahun (Arita, 2011). Jumlah penduduk lanjut usia di Daerah Istimewa
Yogyakarta mencapai 5 juta jiwa dan jawa tengan mencapai 3 juta. Jumlah
lansia di Puskesmas Weru sebanyak 16.191 orang. Surakarta menunnjukkan
penduduk yang berusia 65 tahun keatas sebanyak 23.496 orang (Badan
Pusat Statistika 2012).
Meningkatnya populasi lansia akan menimbulkan masalah-masalah
penyakit pada usia lanjut. Menurut Departemen Kesehatan tahun 1998,
terdapat 7,2% populasi usia lanjut 60 tahun keatas untuk kasus demensia
dan akan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45% pada
usia diatas 85 tahun (Nugroho, 2008). Demensia merupakan suatu gangguan
fungsi daya ingat yang terjadi perlahan-lahan, serta dapat mengganggu
kinerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari (Alun, 2010). Demensia di
tandai dengan adanya gangguan mengingat jangka pendek dan mempelajari
hal-hal baru, gangguan kelencaran berbicara (sulit menyebutkan nama
benda dan mencari kata-kata untuk diucapkan), keliru mengenai tempat-
waktu-orang atau benda, sulit hitung menghitung, tidak mampu lagi
membuat rencana, mengatur kegiatan, mengambil keputusan dan lain-lain
(Sumijatun, 2005). Beberapa tindakan yang dapat digunakan untuk

1
mengatasi demensia antara lain dengan mengenal kemampuan-kemampuan
yang masih dimiliki, terapi individu dengan melakukan terapi kognitif,
terapi aktivitas kelompok dan senam otak (Stuart & Laraia, 2010).

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari kognitif?
b. Apa saja aspek-aspek kognitif?
c. Apa fungsi kognitif pada lansia?
d. Bagaimana rentan respon kognitif?
e. Apa saja macam-macam gangguan kognitif pada lansia?
f. Bagaimana akibat gangguan kognitif pada lansia?
g. Bagaimana pengkajian gangguan kognitif?
h. Bagaiamana penatalaksanaan gangguan kognitif?
i. Apa saja pencegahan gangguan kognitif?
j. Bagaimana asuhan keperawatan gangguan kognitif pada lansia?

1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Makalah ini dibuat bertujuan untuk memberikan pemahaman
terhadap mahasiswa terkait asuhan keperawatan klien dengan gangguan
kognitif pada lansia dalam mata kuliah keperawatan komunitas III.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari kognitif
b. Mahasiswa mampu menyebutkan aspek-aspek kognitif
c. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi kognitif pada lansia
d. Mahasiswa mampu menjelaskan rentan respon kognitif
e. Mahasiswa mampu menyebutkan macam-macam gangguan kognitif
pada lansia
f. Mahasiswa mampu menjelaskan akibat gangguan kognitif pada
lansia
g. Mahasiswa mampu menyebutkan pengkajian gangguan kognitif
h. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan gangguan kognitif
i. Mahasiswa mampu menyebutkan pencegahan gangguan kognitif

2
j. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan gangguan
kognitif pada lansia

1.4 Manfaat
Manfaat dari perkuliahan diharapkan mahasiswa mampu lebih memahami
mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan kognitif dalam
kesehatan komunitas.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kognitif


Kognitif merupakan suatu proses aktivitas berpikir mencakup semua aspek
persepsi, pengamatan, pemikiran dan ingatan (Dorland, 2002). Fungsi kognitif
merupakan proses mental dalam memperoleh pengetahuan atau kemampuan
kecerdasan, yang meliputi cara berpikir, daya ingat, pengertian, perencanaan,
dan pelaksanaan (Santoso & Ismail, 2009). Gangguan fungsi kognitif
berhubungan dengan fungsi otak, karena kemampuan lansia untuk berpikir akan
dipengerahui oleh keadaan otak (Copel, 2007).

2.2 Aspek-Aspek Kognitif


A. Orientasi
Orientasi mengacu pada personal, tempat dan waktu. Orientasi
terhadap personal yaitu kemampuan menyebutkan namanya sendiri ketika
ditanya. Orientasi tempat dinilai dengan menanyakan negara, provinsi, kota,
gedung dan lokasi dalam gedung.
Sedangkn orientasi waktu dinilai dengan menanyakan tahun,
musim, bulan, hari dan tanggal. Karena perubahan waktu lebih sering
daripada tempat, maka waktu dijadikan indeks yang paling sensitif untuk
disorientasi.
B. Bahasa
Fungsi bahasa merupaka kemampuan yang meliputi 4 parameter, yaitu
kelancaran, pemahaman, pengulangan dan naming.
1) Kelancaran
Kelancaran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan kalimat
dengan panjang, ritme dan melodi yang normal. Suatu metode yang dapat
membantu menilai kelancaran pasien adalah meminta pasien menulis
atau berbicara secara spontan.
2) Pemahaman

4
Pemahaman merujuk pada kemampuan untuk memahami suatu
perkataan atau perintah, dibuktikan dengan mampunya seseorang untuk
melakukan perintah tersebut.
3) Pengulangan
Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu pernyataan atau kalimat
yang diucapkan seseorang.
4) Naming
Naming merujuk pada kemampuan seseorang untuk menamai suatu
objek beserta bagian-bagiannya.
C. Atensi
Atensi merujuk pada kemampuan seseorang untuk merespon stimulus
spesifik dengan mengabaikan stimulus yang lain di luar lingkungannya.
1. Mengingat segera
Aspek ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengingat
sejumlah kecil informasi selama <30 detik dan mampu untuk
mengeluarkannya kembali.
2. Konsentrasi
Aspek ini merujuk pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk
memusatkan perhatiannnya pada satu hal. Fungsi ini dapat dinilai dengan
meminta orang tersebut untuk mengurangkan 7 secara berturut-turut
dimulai dari angka 100 atau dengan memintanya mengeja kata secara
terbalik.
D. Memori
1. Memori verbal yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali
informasi yang diperolehnya.
2. Memori baru yaitu emampuan seseorang untuk mengingat kembali
informasi yang diperolehnya pada beberapa menit atau hari yang lalu.
3. Memori lama yaitu kemampuan untuk mengingat informasi yang
diperolehnya pada beberapa minggu atau bertahun-tahun lalu.
4. Memori visual yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali
informasi berupa gambar.

5
E. Fungsi konstruksi
Aspek ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk membangun dengan
sempurna. Fungsi ini dapat dinilai dengan meminta orang tersebut untuk
menyalin gambar, memanipulasi balok atau membangun kembali suatu
bangunan balok yang telah dirusak sebelumnya.
F. Kalkulasi
Kalkulasi yaitu kemampuan seseorang untuk menghitung angka. Penalaran,
yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan baik buruknya suatu hal,
serta berpikir abstrak (Goldman, 2000 dalam Zulsita, 2011).

2.3 Fungsi Kognitif pada Lansia


Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia meliputi menurunkan
kemampuan fungsi intelektual, efisiensi tranmisi saraf di otak (proses informasi
melambat dan banyak informasi hilang selama transmisi), kemampuan
mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi dari memori, serta
kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan
kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi (Papalia, Olds &
Feldman, 2008).
Hal ini dikarenakan volume dan berat otak yang berkurang, pembesaran
ventrikel dan pelebaran sulkus, hilangnya sel-sel saraf di neokorteks,
hipokampus dan serebelum, penciutan saraf dan dismorfologi, pengurangan
densitas sinaps, kerusakan mitokondria dan penurunan kemampuan perbaikan
DNA (Raz dan Rodrigue dalam Myers, 2008).

2.4 Rentan Respon Kognitif

6
2.5 Macam-Macam Gangguan Kognitif pada Lansia
Macam-macam gangguan kognitif pada lansia yaitu delirium, demensia, dan
gangguan amnestik. Adapun tipe-tipe utama dari delirium, demensia dan
gangguan amnestik dalam DSM-IV-TR, yaitu:
A. Delirium
Delirium merupakan keadaan kebingungan mental yang ekstrim dimana
orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara jelas serta masuk
akal.
1. Delirium Akibat Gangguan Medis Umum
2. Delirium Akibat Intoksikasi Zat
3. Delirium Akibat Putus Zat
B. Demensia
Demensia merupakan keadaan seseorang yang mengalami penurunan
kemampuan daya ingat dan daya pikir yang progresif, serta penurunan
tersebut menimbulkan gangguan terhadap fungsi atau aktivitas sehari-hari.
Gangguan ini ni terjadi secara sangat perlahan selama bertahun-tahun
(Azizah, 2011). Berikut tipe-tipe demensia berdasarkan penyebabnya:
1. Demensia Tipe Alzheimer
2. Demensia Vaskular
3. Demensia Akibat Penyakit HIV
4. Demensia Akibat Trauma Kepala
5. Demensia Akibat Penyakit Parkinson
6. Demensia Akibat Penyakit Huntington
7. Demensia Akibat Penyakit Pick
8. Demensia Akibat Penyakit Creutzfeldt-Jakob
9. Demensia Akibat Kondisi Medis Umum Lainnya
C. Gangguan Amnestik
Gangguan amnestik (biasa disebut amnesia) ditandai oleh penurunan fungsi
ingatan secara dramatis yang tidak berhubungan dengan keadaan delirium
atau demensia. Amnesia meliputi ketidakmampuan untuk mempelajari
informasi baru (defisit ingatan jangka pendek) atau untuk mengingat

7
kembali informasi yang sebelumnya dapat diakses atau kejadian-kejadian
masa lalu dan kehidupan seseorang (defisit jangka panjang).
1. Gangguan Amnestik Akibat Kondisi Medis Umum
2. Gangguan Amnestik yang Persisten Akibat Penggunaan Zat (APA,
2000).

2.6 Akibat Gangguan Kognitif pada Lansia


1. Menurunnya kemampuan berkonsentrasi terhadap stimulus (misalnya,
pertanyaan harus diulang).
2. Proses pikir yang tidak tertata, misalnya tidak relevan atau inkoheren.
3. Menurunya tingkat kesadaran.
4. Gangguan persepsi, Ilusi, halusinasi.
5. Gangguan tidur, tidur berjalan dan insomnia atau ngatuk pada siang hari.
6. Meningkat atau Menurunnya aktivitas psikomotor.
7. Disorientasi, tempat, waktu, orang.
8. Gangguan daya ingat, tidak dapat mengingat hal baru, misalnya nama
beberapa benda setelah lima menit.

2.7 Pengkajian Gangguan Kognitif


1) Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)
 Untuk mendeteksi adanya tingkat kerusakan intelektual
 Terdiri dari 10 pertanyaan tentang: orientasi, riwayat pribadi, memori
dlm hubungannya dg kemampuan perawatan diri, memori jauh dan
kemampuan matematis.
 Rusak/salah nilai 1
 Tidak rusak/benar nilai 0
Benar Salah Nomor Pernyataan
1 Tanggal berapa hari ini?
2 Hari apa sekarang?
3 Apa nama tempat ini?
4 Dimana alamat anda?
5 Berapa alamat anda?
6 Kapan anda lahir?
7 Siapa presiden Indonesia?
8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya?

8
9 Siapa nama ibu anda?
10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan
3 dari setiap angka baru, semua secara
menurun
Jumlah
Interpretasi
Salah 0 – 3 : fungsi intelektual utuh
Salah 4 – 5 : fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6 – 8 : fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9 – 10 : fungsi intelektual kerusakan berat
2) Mini-Mental State Exam (MMSE)
a. Menguji aspek kognitif dari fungsi mental: orientasi, registrasi,
perhatian, kalkulasi, mengingat kembali dan Bahasa
b. Pemeriksaan bertujuan untuk melengkapi dan nilai, tetapi tdk dapat
digunakan untuk tujuan diagnostik.
c. Berguna untuk mengkaji kemajuan klien
No Aspek Nilai Nilai Kriteria
kognitif maksimal klien
1. Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar
- Tahun
- Musim
- Tanggal
- Hari
- Bulan
2. Orientasi 5 Dimana sekarang kita
Registrasi berada?
- Negara
- Propinsi
- Kabupaten
- Kecamatan
- Desa
3 Sebutkan 3 nama objek
(kursi, meja, kertas)
kemudian ditanyakan
kepada klien, menjawab
1. kursi
2. meja
3. kertas
3. Perhatian dan 5 Meminta klien berhitung
kalkulasi mulai dari 100, kemudian
dikurangi 7 sampai 5 tingkat
1. 100, 93, …

9
4. Mengingat 3 Meminta klien untuk
menyebutkan objek poin 2 :
1. meja
2. kursi
3. kertas
5. Bahasa 9 Menanyakan kepada klien
tentang benda (sambal
menunjuk benda tersebut)
1. jendela
2. jam dinding
Meminta klien untuk
mengulangi kata berikut
“taka da jika, dan, atau,
tetapi”
Klien menjawab : - , dan,
atau, tetapi
Minta klien untuk mengikuti
perintah berikut yang terdiri
dari 3 langkah
Ambil bollpoint ditangan
anda, ambil kertas, menulis
saya mau tidur
1. ambil bollpoint
2. ambil kertas
3. –
Perintahkan klien untuk hal
berikut (bila aktivitas sesuai
perintah nilai 1 point)
“tutup mata anda”
1. klien menutup mata
Perintahkan pada klien
untuk menulis atau kalimat
dan menyalin gambar rumah
Total 30
Skor:
Nilai 24 – 30 : Normal
Nilai 17 – 23 : probable gangguan kogniitif
Nilai 0 – 16 : Definitif gangguan kognitif

3) Clock Drawing Test (CDT)


Pemeriksaan awal yang berguna untuk mengetahui adanya disfungsi
kognisi, dengan cara menggambar jam dinding. Hal yang perlu diperhatikan
yaitu bentuknya bulat, posisi angka tepat dan letak jarum jam benar.

10
Pemeriksaan ini dilakukan pada klien demensia yang buta huruf atau
pendidikan tidak tamat SD.
Petunjuk untuk menggambar jam
Langkah 1 : Berikan selembar kertas pada pasien dan berilah lingkaran
pada kertas tersebut sesuai dengan ukuran kertas. Berikan nomor halaman
diatas
Langkah 2 : Instruksikan pasien untuk menggambar angka didalam
lingkaran untuk membuat lingkaran terlihat seperti bagian depan jam,
kemudian gambarlah jarum jam yang menunjukkan angka pukul 11 lewat
10 menit.
Penilaian:
Nilai jam yang dibuat berdasarkan 6 poin sistem penilaian
Skor Kesalahan Contoh
1 “sempurna” tidak ada kesalahan
2 Minor visuospatial a. Sedikit kesalahan jarak pada waktu nya
errors b. Menggambar waktu diluar lingkaran
c. Kertas diputar ketika menuliskan
angka, sehingga beberapa angka
terlihat terbalik
d. Menggambar garis (titik) di dalam
lingkaran (jari-jari) untuk
menyesuaikan jarak antar angka
3 Gambar yang tidak a. Menit jarum jam ke angka 10
akurat dari pukul 11 b. Menuliskan “pukul 11 lewat 10 menit”
lebih 10 menit , c. Tidak dapat membuat penunjuk waktu
ketika dilihat
sempurna atau
hanya menunjukkan
kesalahan yang
sedikit
4 kekacauan yang a. kesalahan jarak spasi yang sedang
sedang dari waktu, b. menghilangkan angka
seperti ketelitian c. mengulang lingkaran atau melanjutkan
tanda penunjuk dari yang sebelumnya 12 ke 13, 14, 15, dll.
pukul 11 lewat 11 d. kanan-kiri pemutaran : angka digambar
menit adalah hal berl;wanan dengan jarum jam
yang mustahil e. Disgraphia : tidak bisa menulis angka
secara benar
5 level keparahan dari lihat contoh skoring nomer 4
kekacaun seperti
penjelasan dalam
penilaian

11
6 ketidakwajaran a. tidak ada upaya untuk menggambar
gambar dari jam b. tidak ada kemiripan dengan jam secara
keseluruhan
c. menulis kata/nama

Skor/nilai tertinggi yang menggambarkan angka yang lebih besar dari


kesalahan dan penurunan yang lebih. Nilai lebih dari 3 menunjukkan
penurunan kognitif, apabila nilainya 1 atau 2 berarti normal.

4) Inventaris Depresi Beck (IDB)


 Alat pengukur status efektif digunakan untuk membedakan jenis depresi
yg mempengaruhi suasana hati.
 Berisikan 21 karakteristik : alam perasaan, pesimisme, rasa kegagalan,
kepuasan, rasa bersalah, rasa terhukum, kekecewaan terhdp seseorang,
kekerasan trhdp diri sendiri, keinginan utk menghukum diri sendiri,
keinginan utk menangis, mudah tersinggung, menarik diri,
ketidakmampuan membuat keputusan, gambaran tubuh, gangguan tidur,
kelelahan, gangguan selera makan, kehilangan berat badan.
 Berisikan 13 hal tentang gejala dan sikap yg berhubungan dg depresi.
Score Uraian
A. Kesediaan
3 Saya sangat sedih /tidak bahagia dimana saya tak dapat
menghadapinya
2 Saya galau / sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat keluar
darinya
1 Saya merasa sedih atau galau
0 Saya tidak merasa sedih
B. Pesimisme
3 Saya merasa bahwa masa depan adalah sia-sia dan sesuatu
tidak dapat membaik
2 Saya merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang
kedepan
1 Saya merasa berkecil hati mengenai masa depan
0 Saya tidak begitu pesimis atau kecil hati tentang masa depan
C Rasa Kegagalan
3 Saya merasa benar-benar gagal sebagai orang tua (suami/istri)
2 Bila melihat kehidupan belakang, semua yang dapat saya lihat
hanya kegelapan
1 Saya merasa telah gatal melebihi orang pada umumnya
0 Saya tidak merasa gagal

12
C. Ketidakpuasan
3 Saya tidak puas dengan segalanya
2 Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun
1 Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan
0 Saya tidak merasa tidak puas
E. Rasa Bersalah
3 Saya merasa seolah-olah sangat butuk atau tak berharga
2 Saya merasa sangat bersalah
1 Saya merasa buruk/tak berharga sebagai bagian dari waktu
yang baik
0 Saya tidak merasa benar-benar bersalah
F. Tidak Menyukai Diri Sendiri
3 Saya benci diri saya sendiri
2 Saya muak dengan diri saya sendiri
1 Saya tidak suka dengan diri saya sendiri
0 Saya tidak merasa kecewa dengan diri saya sendiri
G. Membahayakan Diri Sendiri
3 Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai
kesempatan
2 Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri
1 Saya merasa lebih baik mati
0 Saya tidak mempunyai pikiran-pikiran mengenai
membahayakan diri sendiri
H. Menarik Diri dari Sosial
3 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan
tidak peduli pada mereka semuanya
2 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan
mempunyai sedikit perasaan pada mereka
1 Saya kurang berminat pada orang lain dari pada sebelumnya
0 Saya tidak kehilangan minat pada orang lain
I . Keragu-raguan
3 Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2 Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan
1 Saya berusaha mengambil keputusan
0 Saya membuat keputusan yang baik
J. Perubahan Gamaran Diri
3 Saya merasa bahwa saya jelek atau tampak menjijikkan
2 Saya merasa bahwa ada perubahan-perubahan yang permanen
dalam penampilan saya dan ini membuat saya tak menarik
1 Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tak menarik
0 Saya tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk dari pada
sebelumnya
K. Kesulitan Kerja
3 Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2 Saya mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk
melakukan sesuatu

13
1 Saya memerlukan upaya tambahan untuk mulai melakukan
sesuatu
0 Saya dapat bekerja kira-kira sabaik sebelumnya
L. Keletihan
3 Saya sangat Lelah untuk melakukan sesuatu
2 Saya merasa lelah untuk melakukan sesuatu
1 Saya merasa lelah dari yang biasanya
0 Saya tidak merasa lelah dari biasanya
M. Anoreksia
3 Saya tidak lagi mempunyai napsu makan sama sekali
2 Napsu makan saya sangat memburuk sekarang
1 Napsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0 Napsu makan saya tidak buruk dari yang biasanya
Penilaian
0 – 4 Depresi tidak ada atau miimal
5 – 7 Depresi ringan
8 – Depresi sedang
15
16 > Depresi berat
Dari Beck AT, Beck RW : Screening depressed patiens in family
practice (1972)

5) Skala Depresi Geritrik Yesavage


No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan Ya Tidak
anda?
2 Apakah anda telah meninggalkan banyak kegiatan Ya Tidak
dan minat atau kesenangan anda?
3 Apakah anda merasa kehidupan anda kosong? Ya Tidak
4 Apakah anda sering merasa bosan? Ya Tidak
5 Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap Ya Tidak
saat?
6 Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi Ya Tidak
pada anda?
7 Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar Ya Tidak
hidup anda?
8 Apakah anda sering merasa tidak berdaya? Ya Tidak
9 Apakah anda lebih senang tinggal dirumah daripada Ya Tidak
keluar dan menjalankan sesuatu yang baru?
10 Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah Ya Tidak
dengan daya ingat anda dibanding kebanyakan
orang?
11 Apakah anda piker bahwa hidup anda sekarang ini Ya Tidak
menyenangkan?
12 Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan Ya Tidak
anda saat ini?

14
13 Apakah anda merasa anda penuh semangat? Ya Tidak
14 Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada Ya Tidak
harapan?
15 Apakah anda piker bahwa orang lain lebih baik Ya Tidak
keadaannya daripada anda?
Skor

a. Instrumen yg disusun secara khusus untuk memeriksa depresi


b. Terdiri atas 15 pertanyaan dengan jawaban YA atau TIDAK
c. Beberapa nomor jawaban YA dicetak tebal, dan beberapa nomor yang
lain jawaban TIDAK dicetak tebal
d. Yang dicetak tebal nilai 1 → bila dipilih
e. Skor 0 – 4 : not depressed
f. Skor 5 – 9 : Mild depression
g. Skor > 10 : Severe depression

2.8 Penatalaksanaan Gangguan Kognitif


1) Nutrisi
Makanan yang dianjurkan untuk lansia dengan gangguan kognitif yaitu ikan
laut yang kaya omega 3, daging tanpa lemak, kacang-kacangan (minimal 1
hari 1 genggam), sayur dan buah yang berwarna hijau dan merah (brokoli,
bayam, wortel, tomat, anggur, dan delima). Sedangkan, makanan yang harus
dihindari adalah makanan cepat saji (junk food), jeroan, gajih dan kulit,
goreng-gorengan, dan makanan dengan bahan additif (pengawet, pemanis,
pewarna, dan lain-lain). Hindari pula konsumsi alkohol dan kebiasaan
merokok.
2) Manajemen stres
Manajemen stres bertujuan untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak
sampai ke tahap yang paling berat.
Beberapa manajemen stres yang dapat dilakukan pada lansia dengan
gangguan kognitif antara lain:
1. Istirahat dan tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres
karena istirahat dan tidur yang cukup (6 – 7 jam per hari) akan

15
memulihkan keletihan fisik dan kebugaran tubuh. Tidur yang cukup juga
dapat memperbaiki sel-sel yang rusak.
2. Lakukan hobi yang disukai
Lansia yang mengalami gangguan kognitif perlu diterapkan
penatalaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan minat atau kemauan
klien, hal tersebut sangat berguna untuk melatih memori atau ingatan
pada lansia yang mulai menurun. Beberapa kegiatan yang dapat
dilakukan dalam terapi ini misalnya: menjahit, membuat anyaman dan
kegiatan kreativitas lainnya.
3. Terapi psikofarmaka.
Terapi ini menggunakan obat-obatan untuk mengatasi stres yang dialami
melalui pemutusan jaringan antara psiko, neuro, dan imunologi,
sehinggga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi
kognitif efektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh
yang lain. Obat yang biasanya digunakan adalah obat anticemas dan
antidepresi.
4. Psikoterapi.
Terapi ini menggunakan teknik psiko yang di sesuaikan dengan
kebutuhan seseorang. Terapi ini meliputu psikoterapi suportif dan
psikoterapi reedukatif. Psikoterapi suportif memberikan motivasi dan
dukungan agar pasien memiliki rasa percaya diri, sedangkan psikoterapi
reedukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang,
selain itu ada pula psikoterapi rekonstruktif dengan cara memperbaiki
kembali kepribadian yang mengalami goncangan dan psikoterapi
kognitif dengan memulihkan fungsi kognitif pasien (kemampuan
berpikir rasional).
5. Terapi psikoreligus.
Dalam hal ini, terapi menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi
permasalahan psikologis. Terapi psikoreligius diperlukan karena dalam
mengatasi atau mempertahankan kehidupan,seseorang harus sehat secara
fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
6. Berbicara dan berinteraksi dengan orang-orang terdekat

16
Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita
tetap memiliki orientasi.
7. Peningkatan strategi koping
Peningkatan strategi koping berfokus pada emosi dengan cara mengatur
respons emosional terhadap stres melalui prilaku individu, misalnya
meniadakan fakta yang tidak menyenangkan, mengendalikan diri,
penilaian secara positif, dan menerima tanggung jawab. Selain itu,
strategi koping yang berfokus pada masalah dilakukan dengan
mempelajari cara atau keterampilan yang dapat menyelesaikan masalah,
seperti keterampilan menetapkan dukungan sosial.
8. Teknik relaksasi (Hidayat, 2006).
Ketegangan fisik merupakan salah satu faktor yang dapat berkontribusi
terjadinya gangguan kognitif pada lansia. Namun, ketegangan fisik dapat
diredakan dengan menggunakan teknik relaksasi (Westbrook, Kennerley
& Kirk, 2007). Ada beberapa pendekatan relaksasi yang berkembang
untuk lansia, antara lain:
a) Relaksasi progresif
Relaksasi progresif merupakan teknik relaksasi yang memanfaatkan
kumpulan otot tubuh untuk ditegangkan dan dilemaskan. Perbedaan
antara otot yang tegang dan lemas menjadi esensi dari relaksasi yang
dilakukan.
b) Relaksasi pernapasan perut
Relaksasi pernapasan perut dapat membantu lansia menyadari
perubahan dalam pernapasan ketika merasakan ketegangan.
Pemilihan pendekatan relaksasi yang digunakan dalam terapi harus
didasarkan pada kondisi lansia (Westbrook, Kennerley & Kirk, 2007).
c) Biofeedback
Teknik ini menggunakan alat untuk menurunkan cemas dan
memodifikasi respon perilaku.
d) Flooding

17
Lansia akan diekspose pada stimuli yang paling memicu cemas (tidak
dilakukan secara berangsur – angsur) dengan menggunakan
bayangan/imajinasi.
3) Aktivitas dan Olahraga
A. Olahraga yang teratur adalah salah suatu cara meningkatkan daya tahan
dan kekebalan fisik maupun mental. Olahraga yang dilakukan tidak harus
sulit. Olahraga yang sederhana, seperti jalan pagi yang dilakukan dua kali
seminggu selama 30 – 60 menit. Setelah berolahraga, diamkan tubuh
yang berkeringat sejenak lalu mandi untuk memulihkan kesegaranya.
B. Lakukan kegiatan sehari-hari
Pembuatan rencana kegiatan harian dapat memperbaiki lingkaran
masalah yang akan timbul dari kegiatan yang dilakukan individu sehari-
hari. Selain itu, hal ini juga berfungsi sebagai sarana merancang kegiatan
yang lebih sehat secara fisik maupun psikologis. Kegiatan yang dapat
dimasukkan melputi kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
perasaan positif dalam kehidupan lansia sehari-hari (Westbrook,
Kennerley &Kirk, 2007).
C. Restrukturisasi Kognitif atau Pikiran
Dalam restrukturisasi kognitif atau pikiran, individu diajak untuk
berpikir kembali dengan menjawab beberapa pertanyaan. Restrukturisasi
kognitif atau pikiran biasanya dilakukan dengan strategi A-B-C-D-E,
yaitu:
a) A (Antecedent), merupakan peristiwa aktual yang mendasari
munculnya perasaan dan atau pikiran tertentu.
b) B (Beliefs), merupakan keyakinan yang muncul sebagai hasil dari
pikiran, biasanya berupa pikiran negatif.
c) C (Consequences), merupakan konsekuensi berupa perasaan yang
muncul dari suatu pikiran tertentu.
d) D (Dispute), merupakan usaha menantang pikiran yang sudah muncul
sebelumnya dengan menggunakan pikiran alternative tertentu.
e) E (Evaluation), merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap perasaan
setelah menantang pikiran negative (Beck, 1995 dalam Oei, 2011).

18
D. Memberikan latihan – latihan yang dapat menstimulasi otak, seperti teka
teki silang, brain gym, puzzle, dan lain-lain (Santoso&Ismail, 2009).
Brain gym adalah serangkaian gerakan sederhana yang digunakan
untuk meningkatkan kemampuan belajar dengan menggunakan
keseluruhan otak (Dennison, 2009). Puzzle merupakan media sederhana
yang dimainkan dengan bongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan
pasangannya, yang dapat merangsang kemampuan otak (Misbach,
Muzamil, 2010). Teka teki silang merupakan sebagai media rekreasi otak
karena selain mengasah kemampuan kognitif, meningkatkan daya ingat,
memperkaya pengetahuan, dan bersifat menyenangkan (Triatmono,
2011).
Senam otak adalah latihan low impact yang memerhatikan aspek
keseimbangan, memori, dan koordinasi otak, termasuk fungsi gerak.
Gerakan senam otak yang mampu meningkatkan fungsi kognitif,
meliputi:
1. Gerakan Silang.
Kaki dan tangan digerakkan secara berlawanan. Bisa ke depan,
samping atau belakang. Agar lebih ceria Anda bisa menyelaraskan
gerakan dengan irama music.
2. Olengan Pinggul.
Duduk di lantai. Posisi tangan di belakang, menumpu di lantai dengan
siku ditekuk. Angkat kaki sedikit lalu olengkan pinggul ke kiri dank e
kanan dengan rileks.
3. Pengisi Energi.
Duduk nyaman di kursi, kedua lengan di bawah dan dahi diletakkan
di atas meja (menunduk di atas meja). Tangan ditempatkan di depan
bahu (tangan kanan di bahu kanan, tangan kiri di bahu kiri), jari-jari
menghadap sedikit ke dalam. Ketika menarik napas rasakan napas
mengalir ke garis tengah seperti pancuran energi, mengangkat dahi,
kemudian tengkuk dan terakhir punggung atas. Diafragma dan dada
tetap terbukan dan bahu tetap rileks.
4. Menguap Berenergi.

19
5. Bukalah mulut seperti hendak menguap, lalu pijatlah otot-otot di
sekitar persendian rahang. Lalu menguaplah dengan bersuara untuk
melepaskan otot-otot tersebut.
6. Luncuran Gravitasi.
Duduk di kursi, posisi kaki lurus kebawah dan silangkan kaki.
Tundukkan badan dengan lengan kedepan bawah (searah kaki). Buang
napas ketika badan membungkuk kebawah dan ambil napas ketika
badan tegak ke atas. Lakukan dengan posisi kaki berganti-ganti.
7. Pompa Betis.
Lakukan gerakan mendorong dengan tangan bertumpu pada sandaran
kursi atas, sambil menekan tumit ke bawah.
8. Mengaktifkan Tangan.
Luruskan satu tangan ke atas di samping telinga.Buang napas perlahan
sementara otot-otot diaktifkan dengan cara mendorong tangan ke
empat jurusan (depan , belakang, dalam dan luar), sementara tangan
lainnya menguatkan dorongan tersebut.
9. Tombol Imbang.
Sentuhkan 2 jari ke bagian belakang telinga (tangan kanan untuk
telinga kanan), pada lekukan di belakang telinga, sementara tangan
yang lain menyentuh pusar, selama kurang lebih 30 detik. Lakukan
secara bergantian. Selama melakukan gerakan tersebut, dagu rileks
dan kepala dalam posisi normal menghadap ke depan.
4) Aktivitas Rekreasi
Terapi reakreasi ialah suatu bentuk terapi yang mempergunakan media
reakresi (bermain, berdarmawisata, menonton TV, melakukan hobi yang
disukai, dan sebagainnya). Terapi bertujuan untuk mengurangi
ketergangguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang
kegiatan reakresi yang ingin dan telah dilakukan, sehingga perilaku yang
baik diulang dan yang buruk dihilangkan. Terapi rekreasi juga merupakan
terapi yang menggunakan kegiatan pada waktu luang, dengan tujuan pasien
dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan menyenangkan. Terapi
rekreasi bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup,

20
menurunkan rasa bosan, dan melihat pemandangan. Misalnya: mengikuti
senam lansia, posyandu lansia, bersepeda, rekreasi ke kebun raya bersama
keluarga, mengunjungi saudara,dll.
5) Suplemen
Kurangnya vitamin B12 dapat menyebabkan penurunan/gsngguan memori.
Selain mengkonsumsi banyak ikan, daging, telur atau susu, maka sebagai
penatalaksanaan terapi suplemen dapat diberikan vitamin B komplek dan
minyak ikan. Vitamin C & E berfungsi sebagai antioksidan yang dapat
melindungi neuron dan pembuluh darah untuk mencegah penurunan
memori (demensia) ke tingkat yang lebih parah.
6) Terapi Medis
Asosiasi Demensia Alzheimer Indonesia (2003) sebagian besar kasus
demensia tidak dapat disembuhkan.
a. Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan
antikoliesterase (Donepezil, Rivastigmine, Galantamine, dan Memantine)
b. Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet (Aspirin,
Ticlopidine, Clopidogrel) untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga
memperbaiki gangguan kognitif.
c. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan
dengan stroke.
d. Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-
depresi seperti Sertraline dan Citalopram.
e. Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa
menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakan obat anti-psikotik
(Haloperidol, Quetiapine dan Risperidone.
7) Terapi Reminiscence (Terapi Kenangan)
Reminiscence therapy adalah teknik yang digunakan untuk
mengingat dan membicarakan kehidupan seseorang, (Stinson, 2006). Proses
kenangan memberikan kesempatan kepada lansia untuk membicarakan
masa lalu dan konflik yang dihadapi. Proses ini memberikan lansia perasaan

21
aman dalam menyatukan kembali ingatan masa lalu dan menumbuhkan
penerimaan diri yang akan berguna untuk tujuan ke depan.
Terapi ini digunakan untuk lansia yang mengalami gangguan
kognitif, kesepian dan pemulihan psikologis (Ebersole et.al, 2001).
Reminiscence therapy dapat diberikan pada lansia secara individu, keluarga
maupun kelompok. Pelaksanaan kegiatan terapi secara kelompok memberi
kesempatan kepada lansia untuk membagi pengalamannya pada anggota
kelompok lain, meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi
dalam kelompok serta efesien dalam hal biaya maupun efektif dalam waktu.

2.9 Pencegahan Gangguan Kognitif


Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya gangguan
kognitif diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak, seperti:
1) Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol
dan zat adiktif yang berlebihan.
2) Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan
setiap hari.
3) Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
(mengikuti kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama)
4) Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang
memiliki persamaan minat atau hobi
5) Mengurangi stres dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam
kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

22
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEOROTIS

3.1 Pengkajian
A. Anamnesa
1. Identitas Klien
Nama, umur, agama, alamat asal, status perkawinan, jenis kelamin, dan
tanggal pengkajian.
2. Data Keluarga
Nama, hubungan, pekerjaan dan alamat.
3. Status Kesehatan Sekarang
Riwayat penyakit yang harus dikaji yaitu keluhan utama yang berkaitan
dengan riwayat penyakit kronik, obat-obatan, adanya operasi, trauma,
inflamasi prostat, gangguan hormonal, atau penyakit saraf lainnya.
4. Age Related Changes (Perubahan terkait proses penuaan)
a) Fungsi fisiologis:
Berat otak menurun sekitar 10 % pada umur 30 sampai 70 tahun.
Semakin bertambahnya usia neuron tidak dapat beregenerasi. Selain
itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk proses
konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan
gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan belajar),
gangguan sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir, emosi
dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area
yang terkena (kortikal atau subkortikal), karena manifestasinya dapat
berbeda.
b) Potensi pertumbuhan psikososial dan spiritual
Psikososial: sering menyangkal, menganggap dirinya sehat dan tidak
ada gangguan kognitif.
Spiritual: aktivitas ibadah tetap dilakukan dan tidak ada hambatan.
5. Risk Factor (Faktor Risiko)
a. Penyakit

23
Adanya penyakit degeneratif pada otak, gangguan vaskular, gangguan
nutrisi, metabolik dan toksisitas yang dapat menyebabkan sel-sel
neuron korteks serebri mengalami kerusakan. Sehingga jumlah
neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal ataupun
subkortikal. Keadaan patologis dari hal tersebut akan memicu keadaan
konfusio akut demensia (Boedhi-Darmojo, 2009).
b. Lingkungan
Demensia dapat dipicu oleh lingkungan dengan stimulasi tinggi
(seperti pola dekorasi yang rumit dan asing, lingkungan yang bising,
lingkungan dengan cahaya berlebih) dan lingkungan yang tidak
konsisten
c. Gaya hidup
Gaya hidup tidak sehat seperti kebiasaan merokok, mengonsumsi
alcohol, pennggunaan napza, dan penggunaan zat additive dapat
menjadi factor risiko terjaidnya demensia.
d. Psikososial
Stress, depresi, kurangnya sistem pendukung, merasa diasingkan oleh
keluarga, kurangnya interaksi dengan social dapat menyebabkan
demensia.
e. Efek samping obat
Penggunaan obat antikolinergik baik dalam jangka panjang selama 3
tahun atau lebih memiliki resiko 1,5x lebih besar menderita demensia.
f. Perilaku kurang pengetahuan
Orang yang berisiko demensia jika ia kurang mengasah kemampuan
otak di usia muda seperti membaca buku dan melatih berhitung.
6. Negative Function Consequences
a) Kemampuan ADL : pada demensia lanjut kemampuan ADL
pada lansia akan menurun
b) Aspek kognitif : klien sering lupa dan emosinya tidak
terkontrol
c) Tes keseimbangan : tidak ada gangguan

24
d) GDS : untuk skrining status mental dari lansia.
Gangguan kognitif pada lansia dapat menimbulkan efek depresi dan
psikosis.
e) Status Nutrisi : pada demensia lanjut klien akan mengalami
penurunan nafsu makan dan berat badan.
f) Fungsi social lansia : klien dengan demensia akan bersikap acuh
tak acuh, menarik diri, dan gelisah

3.2 Diagnosa Keperawatan


1) Domain 5: Presepsi/Kognisi. Kelas 4. Kognisi. Konfusi Akut b.d Demensia
(00128)
2) Domain 5: Presepsi/Kognisi. Kelas 4. Kognisi. Kerusakan memori b.d
gangguan neurologis (00131)
3) Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 1. Tidur/Istirahat. Insomnia b.d
ketakutan (00095).

3.3 Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Domain 5: Setelah diberikan tindakan Manajemen Demensia
Presepsi/Kognisi. keperawatan diharapkan 1. Sertakan anggota keluarga
Kelas 4. Kognisi. klien mampu mengenali dalam perencanaan,
Konfusi Akut b.d perubahan dalam berpikir pemberian dan evaluasi
Demensia (00128) dengan Kriteria Hasil: perawatan.
 Klien mampu 2. Identifikasi pola-pola perilaku
mengingat peristiwa biasa untuk ADL.
yang baru terjadi. 3. Tentukan jenis dan tingkat
 Klien mampu fungsi kognitif.
mengenali anggota 4. Monitor fungsi kognitif.
keluarganya. 5. Monitor nutrisi dan berat
 Klien tidak kesulitan badan.
melakukan ADL. 6. Berikan ruangan/lingkungan
 Klien mampu yang aman.
menemukan jalan 7. Berikan perhatian/hubungan
yang lazim dikenal. yang positif tanpa syarat.
 Keluarga klien 8. Berikan pasien orientasi yang
memahami tentang umum dan sesuai
tanda dan gejala mengunakan isyarat/petunjuk
Demensia. yang tepat (mis: tanda,

25
 Keluarga memahami dekorasi ruang, dll) agar
tahapan demensia. pasien tidak kesulitan.
 Klien dan keluarga 9. Tidak membuat pasien
memahami strategi frustasi dengan menanyakan
kompensasi akan pertanyaan orientasi tidak bisa
kehilangan memori. dijawab.
 Klien memahai 10. Monitor dengan hati-hati
strategi untuk penyebab fisiologis terjadinya
mengingat lokasi. bingungan yang meningkat
 Klien dan keluarga yang mungkin akut dan
mengetahui dan reversible.
memahami rencana
untuk perawatan
ditahap-tahap
selanjutnya dari
demensia.

2. Domain 5: Setelah dilakukan Latihan memori


Presepsi/Kognisi. tindakan keperawatan, 1. Stimulasi ingatan dengan cara
Kelas 4. Kognisi. diharapkan kemampuan mengulangi pemikiran pasien
Kerusakan memori klien meningkat yang terakhir diekspresikan
memori b.d dengan kriteria hasil: 2. Implementasikan 26usic26
gangguan  Mengingat informasi mengingat yang tepat,
neurologis yang terbaru secara misalnya visual imagey, alat
(00131) akurat tidak terganggu yang membantu ingatan,
 Mengingat informasi permainan ingatan, tanda-
yang sudah lama secara tanda ingatan, mengulang
akurat tidak terganggu informasi
 Tidak ada kesulitan 3. Kenangkan kembali mengenai
mengingat peristiwa pengalaman pasien, dengan
yang baru terjadi cara tepat
 Tidak ada kesulitan 4. Sediakan pengingat dengan
mengingat nama menggunakan gambar, dengan
 Tidak ada kesulitan cara yang tepat
mengenali anggota 5. Beri latihan orientasi, misalnya
keluarga pasien berlatih mengenai
 Tidak ada kesulitan informasi pribadi dan tanggal,
memproses informasi dengan cara tepat
6. Monitor perilaku pasien
 Tidak ada kesulitan
selama terapi
mengikuti perintah
kompleks Stimulasi Kognitif
1. Tawarkan stimulasi lingkungan
 Mengidentifikasi
melalui kontak dengan banyak
tempat saat ini tidak
personil.
terganggu
2. Hadirkan secara berkala
 Mengidentifikasi hari 3. Rangsang memori dengan
dan tanggal dengan mengulang pemikiran terakhir
benar tidak terganggu klien

26
 Konsentrasi tidak 4. Orientasikan klien terhadap
terganggu waktu, tempat, dan ruang
 Orientasi kognisi tidak 5. Dorong penggunaan program
terganggu multi stimulasi (misalnya,
bernyanyi dan mendengarkan
musik, aktivitas-aktivitas
kreatif, latihan, percakapan,
interaksi social, atau
pemecahan masalah) untuk
meningkatkan kapasitas
kognisi.
6. Tempatkan objek dan foto yang
familiar di sekitar klien
7. Gunakan alat bantu memori:
ceklis, jadwa, dan catatan
peringatan
8. Tingkatkan atau ulang
informasi
9. Minta klien untuk mengulang
informasi
3. Domain 4: Setelah dilakukan Peningkatan Tidur
Aktivitas/Istirahat. tindakan keperawatan 1. Tentukan pola tidur/aktivitas
Kelas 1. selama 3 x 24 jam, pasien
Tidur/Istirahat. insomnia pada klien 2. Perkiraan tidur/siklus bangun
Insomnia b.d berkurang dengan kriteria pasien di dalam perawatan
ketakutan hasil: perencanaan
(00095). 1. Tidak ada gangguan 3. Monitor pola tidur pasien, dan
pola tidur/bangun catat kondisi fisik (misalnya,
2. Tidak ada kesulitan apnea tidur, sumbatan jalan
memulai tidur nafas, nyeri/ketidaknyamanan,
3. Kualitas tidur tidak dan frekuensi BAK) dan/atau
terganggu psikologis (misalnya,
4. Tidur rutin tidak ketakutan atau kecemasan)
terganggu keadaan yang mengganggu
5. Jam tidur tidak tidur
terganggu 4. Monitor partisipasi dalam
kegiatan yang melelahkan
selama terjaga untuk
mencegah penat yang
berlebihan
5. Sesuaikan lingkungan
(misalnya, cahaya, kebisingan,
suhu, kasur, dan tempat tidur)
untuk meningkatkan tidur
6. Bantu menghilangkan stress
sebelum tidur
7. Bantu pasien untuk membatasi
tidur siang dengan

27
menyediakan aktivitas yang
meningkatkan kondisi terjaga,
dengan tepat
8. Anjurkan pasien bagaimana
melakukan relaksasi otot
autogenic atau bentuk non-
farmakologi lainnya untuk
memancing tidur
9. Atur rangsangan lingkungan
untuk mempertahankan siklus
siang-malam normal

28
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Kasus
Ny. N berusia 75 tahun dirawat di Panti Werdha Rosella sejak 5 bulan
yang lalu. Klien sering lupa menaruh barang-barangnya. Selain itu, klien sering
tersesat dan tidak dapat menemukan kamarnya sendiri ketika berjalan-jalan di
sekitar panti. Anak pasien (Ny. S) menitipkan Ny. N ke panti karena sibuk kerja
dan tidak ada yang mengurus Ny. N saat dirumah. Ny. S juga mengatakan
terkadang pasien lupa bahkan tidak mengenalinya saat datang menjenguk Ny.
N. Diketahui bahwa klien akhir-akhir ini sulit tidur di malam hari dan sering
terbangun ditengah-tengah tidur malamnya. Dulunya Ny. N bekerja sebagai
guru SD dan setelah pensiun klien lebih sering menghabiskan waktunya
dirumah, sehingga jarang berinteraksi dengan tetangga bahkan dengan teman-
temannya dulu. Klien dulunya sangat suka merajut, namun semakin
bertambahnya usia klien semakin jarang melakukan hobbynya tersebut.
Menurut Ny. S, ayah Ny. N juga menderita demensia. Sewaktu muda
klien lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji dan tidak pernah
mengontrol pola makannya. Klien saat ini mengkonsumsi obat hipertensi
(metaprolol) dan tidak pernah mengkonsumsi alkohol. Nafsu makan klien baik,
tidak terjadi penurunan BB dengan BB 65 kg dan TB 160 cm. Hasil
pemeriksaan TTV yaitu TD: 145/90, nadi: 95x/menit, suhu 37 0C, RR:
16x/menit. Berdasarkan diagnosis medis diketahui bahwa Ny. N mengalami
Demensia.

4.2 Pengkajian
Nama wisma: Panti Werdha Rosella Tanggal Pengkajian: 21 Maret 2018
1. Identitas Klien
Nama : Ny. N
Umur : 75 tahun
Agama : Islam
Alamat asal : Surabaya

29
Tanggal datang : 21 Oktober 2017.
Lama Tinggal di Panti: 5 bulan
2. Data Keluarga
Nama : Ny. S
Hubungan : Anak kandung dari Ny. N.
Pekerjaan : Wirausaha
Alamat : Surabaya, Telp : 083831021XXX

3. Status Kesehatan Sekarang


Ny. N berusia 75 tahun dirawat di Panti Werdha Rosella sejak 5
bulan yang lalu. Klien sering lupa menaruh barang-barangnya. Selain
itu, klien sering tersesat dan tidak dapat menemukan kamarnya sendiri
ketika berjalan-jalan di sekitar panti. Anak pasien (Ny. S) menitipkan
Ny. N ke panti karena sibuk kerja dan tidak ada yang menguru Ny. N
saat dirumah. Ny. S juga mengatakan terkadang pasien lupa bahkan
tidak mengenalinya saat datang menjenguk Ny. N. Diketahui bahwa
klien akhir-akhir ini sulit tidur di malam hari dan sering terbangun
ditengah-tengah tidur malamnya.
Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:
Keluarga hanya mengingatkan Ny. N ketika lupa dan membimbing Ny.
N saat tersesat disuatu tempat
Obat-obatan:
Klien saat ini mengonsumsi obat anti hipertensi (metaprolol)
4. Perubahan Terkait Proses Penuaan
1. Kondisi Umum Ya Tidak
Kelelahan : 
Perubahan BB : 
Perubahan nafsu makan : 
Masalah tidur : 
Kemampuan ADL : 

30
KETERANGAN : Klien akhir-akhir ini sulit tidur di malam
hari dan sering terbangun ditengah-tengah
tidur malamnya.

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka : 
Pruritus : 
Perubahan pigmen : 
Memar : 
Pola penyembuhan lesi : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan abnormal : 
Pembengkakan kel limfe : 
Anemia : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan

4. Kepala
Ya Tidak
Sakit kepala : 
Pusing : 
Gatal pada kulit kepala : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan

5. Mata
Ya Tidak
Perubahan penglihatan : 
Pakai kacamata : 

31
Kekeringan mata : 
Nyeri : 
Gatal : 
Photobobia : 
Diplopia : 
Riwayat infeksi : 
KETERANGAN : Klien mengalami presbiopi dan memakai
kacamata sejak 20 tahun lalu

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan pendengaran : 
Discharge : 
Tinitus : 
Vertigo : 
Alat bantu dengar : 
Riwayat infeksi : 
Kebiasaan membersihkan telinga : 
Dampak pada ADL : Tidak memperngaruhi ADL
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : 
Discharge : 
Epistaksis : 
Obstruksi : 
Snoring : 
Alergi : 
Riwayat infeksi : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
8. Mulut, tenggorokan
Ya Tidak

32
Nyeri telan : 
Kesulitan menelan : 
Lesi : 
Perdarahan gusi : 
Caries : 
Perubahan rasa : 
Gigi palsu : 
Riwayat Infeksi : 
Pola sikat gigi : Klien dapat melakukan sikat gigi tanpa
bantuan, namun jadwal untuk sikat gigi
perlu diingatkan.
9. Leher
Ya Tidak
Kekakuan : 
Nyeri tekan : 
Massa : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
10. Pernafasan
Ya Tidak
Batuk : 
Nafas pendek : 
Hemoptisis : 
Wheezing : 
Asma : 
KETERANGAN : Klien terkadang merasa ngos-ngosan ketika
beraktivitas
11. Kardiovaskuler
Ya Tidak
Chest pain : 
Palpitasi : 
Dipsnoe : 
Paroximal nocturnal : 

33
Orthopnea : 
Murmur : 
Edema : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
12. Gastrointestinal
Ya Tidak
Disphagia : 
Nausea / vomiting : 
Hemateemesis : 
Perubahan nafsu makan : 
Massa : 
Jaundice : 
Perubahan pola BAB : 
Melena : 
Hemorrhoid : 
Pola BAB : Pasien BAB 1 kali sehari
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
13. Perkemihan
Ya Tidak
Dysuria : 
Frekuensi : Normal
Hesitancy : 
Urgency : 
Hematuria : 
Poliuria : 
Oliguria : 
Nocturia : 
Inkontinensia : 
Nyeri berkemih : 
Pola BAK : Klien tidak ingat frekuensi BAK dalam
sehari, namun tidak ditemukan gangguan
dalam sistem berkemih.

34
KETERANGAN : Pasien tidak menggunakan Diappers.
14. Reproduksi(perempuan)
Lesi : 
Discharge : 
Postcoital bleeding : 
Nyeri pelvis : 
Prolap : 
Riwayat menstruasi : Pasien sudah mengalami menopause
Aktifitas seksual : 
Pap smear : 
KETERANGAN : Tidak ditemukan masalah keperawatan
15. Muskuloskeletal
Ya Tidak
Nyeri Sendi : 
Bengkak : 
Kaku sendi : 
Deformitas : 
Spasme : 
Kram : 
Kelemahan otot : 
Masalah gaya berjalan : 
Nyeri punggung : 
Pola latihan : Klien suka berjalan-jalan disekitar panti,
namun klien sering tersesat dan tidak dapat
menemukan kamarnya
Dampak ADL : Klien dapat memenuhi ADL
KETERANGAN : Keluyuran

16. Persyarafan
Ya Tidak
Headache : 
Seizures : 

35
Syncope : 
Tic/tremor : 
Paralysis : 
Paresis : 
Masalah memori : 
KETERANGAN : Klien sering lupa menaruh barang-
barangnya hingga tersesat untuk
menemukan kamarnya sendiri

5. Potensi Pertumbuhan Psikososial Dan Spiritual


Psikososial YA Tidak
Cemas : 
Depresi : 
Ketakutan : 
Insomnia : 
Kesulitan dalam : 
mengambil keputusan
Kesulitan konsentrasi : 
Mekanisme koping : Klien menerima kondisinya saat ini.

Spiritual
 Aktivitas ibadah:
Klien masih menjalankan ibadah secara teratur
 Hambatan:
Tidak ada hambatan dalam melakukan ibadah

6. Additional Risk Factor


Dulunya Ny. N bekerja sebagai guru SD dan setelah pensiun klien lebih
sering menghabiskan waktunya dirumah, sehingga jarang berinteraksi
dengan tetangga bahkan dengan teman-temannya dulu. Klien dulunya sangat
suka merajut, namun semakin bertambahnya usia klien semakin jarang
melakukan hobbynya tersebut.

36
Menurut Ny. S, ayah Ny. N juga menderita demensia. Sewaktu muda
klien lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji dan tidak pernah
mengontrol pola makannya. Klien saat ini mengkonsumsi obat hipertensi
(metaprolol) dan tidak pernah mengkonsumsi alkohol.

7. Negative Function Consequences


a. Kemampuan ADL : kemampuan ADL menurun
b. Aspek Kognitif : klien sering lupa lupa menaruh barang-
barangnya serta sering tersesat dan tidak dapat menemukan kamarnya
sendiri ketika berjalan-jalan di sekitar panti.
c. Tes Keseimbangan : tidak ada gangguan
d. GDS : tidak ada indikasi stres
e. Status Nutrisi : baik
f. Fungsi social lansia : jarang berinteraksi dengan tetangga bahkan
dengan teman-temannya dulu.

8. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel).
No Kriteria Skor Skor
yang
didapat
1 Makan 0 = tidak mampu 10
5 = dengan bantuan (memaotong makanan,
mengoleskan selai , dll atau
membutuhkan menu makanan tertentu,
misal makana cair, bubur)
10 = mandiri
2 Mandi 0 = dependen 0
5 = mandiri
3 Berpakaian 0 = dependen 10
5 = butuh bantuan
10 = mandiri (mengancingkan, memakai
resleting, menalikan renda/tali)

37
4 Berhias 0 = butuh bantuan dalam perawatan pribadi 0
5 = mandiri (mencuci wajah. Keramas, gosok
gigi, bercukur)
5 Kontrol Bowel 0 = inkontiensia/ membutuhkan bantuan 10
(BAB) enema untuk BAB
5 = sesekali BAB tidak sadar (occasional
accident)
10 = Kontrol BAB baik
6 Kotrol Bladder 0 = inkontiensia atau memakia kateter dan 10
(BAK) tidak mampu merawat kateter dan baik
5 = sesekali BAK tidak sadar (occasional
accident)
10 = Kontrol BAK baik
7 Penggunaan 0 = Tidak mampu 5
toilet (mencuci, 5 = butuh bantuan, tetapi bisa melakukan
menyeka, sesuatu dengan mandiri
menyiram) 10 = mandiri
8 Naik turun 0 = Tidak mampu 0
tangga 5 = dengan bantuan
10 = mandiri
9 Mobilisasi di 0 = tidak mampu mobilisasi atau 15
permukaan datar berjalan/kursi roda < 45,72 m (50 yard)
5 = mandiri dengan kursi roda > 45,72 m
(50 yard), mampu memosisikan kursi
roda di pojok ruangan
10 = berjalan dengan bantuan 1 orang >
45,72 m (50 yard)
15 = berjalan mandiri (mungkin dengan
bantuan alat, pegangan) sejauh > 45,72
m (50 yard)
10 Berpindah ( dari 0 = tidak mampu berpindah, tidak dapat 15
kursi ke tempat duduk dengan seimbang
tidur dan 5 = dengan bantuan lebih banyak (1 aau 2
sebaliknya orang yang membantu)
10 = dengan bantuan lebih sedikit

38
15 = mandiri
TOTAL SKOR 75

Interpretasi: ketergantungan sedang (Lewis, Carole & Shaw, Keiba, 2006)

9. MMSE (Mini Mental Status Exam)


Nama : Ny. N
Tgl/Jam: 21 Maret 2018
No Aspek Nilai Nilai Kriteria
Kognitif maksimal Klien
1 Orientasi 5 3 Menyebutkan dengan benar :
Tahun: 2018 (klien dapat menyebutkan)
Hari: ....... (klien lupa, tidak dapat
menyebutkan)
Musim : kemarau (klien dapat
menyebutkan)
Bulan: maret (klien dapat menyebutkan)
Tanggal: ....... (klien lupa, tidak dapat
menyebutkan)
2 Orientasi 5 3 Dimana sekarang kita berada?
Negara: Indonesia (klien dapat
menyebutkan)
Panti: ……… (klien lupa, tidak dapat
menyebutkan)
Propinsi: ……… (klien lupa, tidak dapat
menyebutkan)
Wisma/Kamar: kamar no. 35 (klien dapat
menyebutkan)
Kabupaten/kota : surabaya (klien dapat
menyebutkan)
3 Registrasi 3 2 Sebutkan 3 nama obyek (kursi, botol
minum, kertas), kemudian ditanyakan
kepada klien, klien dapat menjawab:
1. Kursi
2. Kertas

39
4 Perhatian 5 0 Meminta klien berhitung mulai dari 100
dan kemudia kurangi 7 sampai 5 tingkat.
kalkulasi Jawaban:
Klien tidak dapat menyebutkan semua
angka
5 Mengingat 3 0 Minta klien untuk mengulangi ketiga
obyek pada poin ke- 3 (tiap poin nilai 1):
Klien lupa dan tidak dapat menyebutkan
semua objek
6 Bahasa 9 5 Menanyakan pada klien tentang benda
(sambil menunjukan benda tersebut).
1). Menunjukkan buku (klien dapat
menyebutkan)
2). Menunjukkan kertas (klien dapat
menyebutkan)
3). Minta klien untuk mengulangi kata
berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :
Klien hanya dapat mengucapkan ”dan”

Minta klien untuk mengikuti perintah


berikut yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda (klien
dapat melakukan)
5). Lipat dua (klien tidak dapat
melakukan)
6). Taruh dilantai. (klien dapat
melakukan)
Perintahkan pada klien untuk hal berikut
(bila aktifitas sesuai perintah yang
dituliskan di kertas nilai satu poin)
7). “Tutup mata anda” (klien dapat
melakukan)

40
8). Perintahkan kepada klien untuk
menulis kalimat (klien tidak melakukan)
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang
saling bertumpuk (klien tidak melakukan)

Total nilai 30 13
Interpretasi hasil : gangguan kognitif berat
Kesimpulan: Ny. Y mengalami gangguan kognitif:

10. Fungsi sosial lansia


APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

No Uraian Fungsi Skor

1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga ADAPTATION 2


(teman-teman) saya untuk membantu pada waktu
sesuatu menyusahkan saya

2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya PARTNERSHIP 1


membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah dengan saya

3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya GROWTH 2


menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas / arah baru

4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya AFFECTION 0


mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-
emosi saya seperti marah, sedih/mencintai

5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE 0


meneyediakan waktu bersama-sama

41
Kategori Skor: TOTAL 5
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skor 2 2). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skor 0
Intepretasi: Disfungsi sedang

Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

4.3 Analisa Data


No Data Etiologi Masalah
Keperawatan
1. DS: Genetik, Hipertensi, Pola Kerusakan
- Anak Ny. N (Ny. S) makan tidak sehat memori
mengatakan terkadang ↓
pasien lupa bahkan tidak Degenerasi sel-sel otak
mengenalinya saat ↓
datang menjenguk Ny. Fungsi kognitif
N. terganggu
DO: ↓
- Klien sering lupa Demensia
menaruh barang- ↓
barangnya Perubahan berpikir,
- klien sering tersesat dan emosi, memori
tampak kebingungan ↓
menemukan kamarnya Kerusakan memori
sendiri ketika berjalan-
jalan di sekitar panti.
- TTV yaitu TD: 145/90,
nadi: 95x/menit, suhu 37
0
C, RR: 16x/menit.

2. DS:- Genetik, Hipertensi, Pola Keluyuran


DO: makan tidak sehat
- klien sering tersesat dan ↓
tidak dapat menemukan Degenerasi sel-sel otak
kamarnya sendiri ketika ↓
berjalan-jalan di sekitar Fungsi kognitif
panti. terganggu
- TTV yaitu TD: 145/90, ↓
nadi: 95x/menit, suhu 37 Demensia
0
C, RR: 16x/menit. ↓
Perubahan berpikir,
emosi, memori

Timbul gejala sun
downing (disorientasi

42
waktu, tidak tenang,
berkeliaran)

Keluyuran
3. DS:- Genetik, Hipertensi, Pola Insomnia
DO: makan tidak sehat
- klien akhir-akhir ini ↓
tampak sulit tidur di Degenerasi sel-sel otak
malam hari dan sering ↓
terbangun ditengah- Fungsi kognitif
tengah tidur malamnya terganggu
- TTV yaitu TD: 145/90, ↓
nadi: 95x/menit, suhu 37 Demensia
0
C, RR: 16x/menit. ↓
Perubahan berpikir,
emosi, memori

Disorientasi waktu,
kebingungan pada malam
hari

Insomnia

4.4 Diagnosa Keperawatan


1. Domain 5: Presepsi/Kognisi. Kelas 4. Kognisi. Kerusakan memori b.d
gangguan neurologis (00131)
2. Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 3. Keseimbangan energi. Keluyuran
b.d gangguan kognitif (000154)
3. Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 1. Tidur/Istirahat. Insomnia b.d
ketakutan (00095).

4.5 Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Domain 5: Setelah dilakukan Latihan memori
Presepsi/Kognisi. tindakan keperawatan 1. Stimulasi ingatan dengan cara
Kelas 4. Kognisi. selama 3 x 24 jam, mengulangi pemikiran pasien yang
Kerusakan kemampuan memori terakhir diekspresikan
memori b.d klien meningkat 2. Implementasikan teknik mengingat
gangguan dengan kriteria hasil: yang tepat, misalnya visual imagey,
neurologis 1. Mengingat alat yang membantu ingatan,
(00131) informasi yang

43
terbaru secara permainan ingatan, tanda-tanda
akurat tidak ingatan, mengulang informasi
terganggu 3. Kenangkan kembali mengenai
2. Mengingat pengalaman pasien, dengan cara
informasi yang tepat
sudah lama secara 4. Sediakan pengingat dengan
akurat tidak menggunakan gambar, dengan cara
terganggu yang tepat
3. Tidak ada 5. Beri latihan orientasi, misalnya
kesulitan pasien berlatih mengenai informasi
mengingat pribadi dan tanggal, dengan cara
peristiwa yang tepat
baru terjadi 6. Monitor perilaku pasien selama
4. Tidak ada terapi
kesulitan Manajemen demensia
mengingat nama 1. Sertakan anggota keluarga dalam
5. Tidak ada perencanaan, pemberian, dan
kesulitan evaluasi perawatan yang diinginkan.
mengenali anggota 2. Tentukan jenis dan tingkat deficit
keluarga kognitif dengan menggunakan alat
6. Tidak ada pengkajian yanga terstandar
kesulitan 3. Sediakan lingkungan dengan
memproses stimulasi yang rendah (misalnya,
informasi lingkungan yang tenang, redup, pola
7. Tidak ada dekorasi yang sederhana; musik
kesulitan yang menenangkan)
mengikuti perintah 4. Identifikasi dan singkirakan potensi
kompleks bahaya di lingkungan pasien
8. Mengidentifikasi 5. Pilih aktivitas kelompok dan
tempat saat ini aktivitas mandiri yang diarahkan
tidak terganggu pada kemampuan kognitif dan minat
9. Mengidentifikasi klien
hari dan tanggal 6. Gunakan symbol tertulis untuk
dengan benar tidak membantu pasien menemukan
terganggu kamar mandi atau kamarnya sendiri
10. Konsentrasi tidak Stimulasi Kognitif
terganggu 1. Tawarkan stimulasi lingkungan
11. Orientasi kognisi melalui kontak dengan banyak
tidak terganggu personil.
2. Hadirkan secara berkala
3. Rangsang memori dengan
mengulang pemikiran terakhir klien
4. Orientasikan klien terhadap waktu,
tempat, dan ruang
5. Dorong penggunaan program multi
stimulasi (misalnya, bernyanyi dan
mendengarkan musik, aktivitas-
aktivitas kreatif, latihan,

44
percakapan, interaksi social, atau
pemecahan masalah) untuk
meningkatkan kapasitas kognisi.
6. Tempatkan objek dan foto yang
familiar di sekitar klien
7. Gunakan alat bantu memori: ceklis,
jadwa, dan catatan peringatan
8. Tingkatkan atau ulang informasi
9. Minta klien untuk mengulang
informasi
Terapi Reminiscence
1. Pilih setting yang nyaman
2. Tentukan metode reminiscence
yang paling efektif untuk dilakukan
(misalnya, autobiograph yang
terekam, buku untuk menulis,
diskusi dan bercerita)
3. Gunakan alat peraga (misalnya,
musik untuk pendengaran, foto
album untuk visual, parfum untuk
penciuman) untuk menstimulasi
ingatan.
4. Dukung ekspresi verbal terkait
dengan perasaan positif dan
negative mengenai kejadian masa
lalu.
5. Tanyakan pertanyaan terbuka
mengenai masa lalu dan kejadian
hidup
6. Dukung penulisan kejadian masa
lalu
7. Gunakan album foto klien atau buku
gambar untuk menstimulasi memori
klien
8. Berikan umpan balik positif bagi
klien.
2. Domain 4: Setelah dilakukan Manajemen Demensia: Keluyuran
Aktivitas/Istiraha tindakan keperawatan 1. Identifikasi pola biasa dari perilaku
t. Kelas 3. selama 3 x 24 jam, berkeliaran [pasien]
Keseimbangan tindakan keluyuran 2. Identifikasi dan singkirkan potensi
energi. klien berkurang bahaya bagi pasien di lingkungan
Keluyuran b.d dengan kriteria hasil: sekitar pasien
gangguan 1. Tidak ada keluyuran 3. Pasang kunci pengaman yang rumit
kognitif (000154) yang tidak aman pada pintu keluar
2. Tidak ada kesulitan 4. Gunakan simbol daripada hanya
menemukan jalan ke tanda-tanda tertulis untuk
tempat yang lazim membantu pasien menemukan
dikenal

45
3. Tidak ada ruangan, kamar mandi, atau area
disorientasi waktu, lain
tempat, orang 5. Sediakan lingkungan fisik dan
4. Melangkah sesuai rutinitas sehari-hari yang konsisten
rute yang diberikan 6. Dorong aktivitas fisik di waktu
5. Ketika tidak siang hari
ditemani, tetap 7. Berikan satu arahan sederhana pada
bertahan di area suatu waktu
yang aman Orientasi realita
6. Bergerak hanya 1. Gunakan pendekatan yang tenang
disekitar ruang dan tidak terburu-buru ketika
sendiri dan public berinteraksi dengan klien
7. Menunjukkan 2. Gunakan pendekatan yang konsisten
aktivitas yang (misalnya, pendekatan yang baik)
bertujuan 3. Bicara jelas dengan kecepatan suara,
8. Tidak menunjukkan volume, dan intonasi suara yang
kegelisahan tepat
4. Hindari membuat klien frustasi
dengan tuntutan yang membutuhkan
kapasitas lebih (misalnya,
pengulangan pertanyaan yang tidak
bisa dijawab klien, berfikir abstrak
ketika klien hanya bisa berfikir
konkrit, aktivitas-aktivitas yang
tidak bisa dilakukan, pengambilan
keputusan di luar kemampuan klien)
5. Informasikan klien mengenai orang,
tempat dan waktu jika dibutuhkan
6. Hadirkan kenyataan dengan sikap
yang [tetap] memepertahankan
harga diri klien (misalnya,
memberikan penjelasan bergantian,
hindari argumentasi, dan hindari
untuk menyakinkan klien)
7. Libatkan klien dalam aktivitas-
aktivitas konkrit “disini dan saat ini”
(misalnya, aktivitas-aktivitas sehari-
hari) yang berfokus pada sesuatu
diluar dirinya yang konkrit dan
berorientasi pada realita
8. Hindari situasi yang tidak familiar
jika memungkinkan
9. Siapkan pasien mengenai perubahan
rutinitas biasa dan siapkan
lingkungan sebelum perubahan
terjadi
10. Gunakan petunjuk lingkungan
untuk menstimulasi memori,

46
reorientasi dan meningkatan
perilaku yang sesuai
11. Monitor perubahan orientasi,
fungsi kognisi dan perilaku serta
kualitas hidup klien
3. Domain 4: Setelah dilakukan Peningkatan Tidur
Aktivitas/Istiraha tindakan keperawatan 1. Tentukan pola tidur/aktivitas pasien
t. Kelas 1. selama 3 x 24 jam, 2. Perkiraan tidur/siklus bangun pasien
Tidur/Istirahat. insomnia pada klien di dalam perawatan perencanaan
Insomnia b.d berkurang dengan 3. Monitor pola tidur pasien, dan catat
ketakutan kriteria hasil: kondisi fisik (misalnya, apnea tidur,
(00095). 1.Tidak ada gangguan sumbatan jalan nafas,
pola tidur/bangun nyeri/ketidaknyamanan, dan
2.Tidak ada kesulitan frekuensi BAK) dan/atau psikologis
memulai tidur (misalnya, ketakutan atau
3.Kualitas tidur tidak kecemasan) keadaan yang
terganggu mengganggu tidur
4.Tidur rutin tidak 4. Monitor partisipasi dalam kegiatan
terganggu yang melelahkan selama terjaga
5.Jam tidur tidak untuk mencegah penat yang
terganggu berlebihan
5. Sesuaikan lingkungan (misalnya,
cahaya, kebisingan, suhu, kasur, dan
tempat tidur) untuk meningkatkan
tidur
6. Bantu menghilangkan stress
sebelum tidur
7. Bantu pasien untuk membatasi tidur
siang dengan menyediakan aktivitas
yang meningkatkan kondisi terjaga,
dengan tepat
8. Anjurkan pasien bagaimana
melakukan relaksasi otot autogenic
atau bentuk non-farmakologi
lainnya untuk memancing tidur
9. Atur rangsangan lingkungan untuk
mempertahankan siklus siang-
malam normal

4.6 Implementasi
No Diagnosa NIC Implementasi
Keperawatan
1. Domain 5: Latihan memori Latihan memori
Presepsi/Kognisi. 1. Stimulasi ingatan dengan 1. Menstimulasi ingatan
Kelas 4. Kognisi. cara mengulangi dengan cara mengulangi
Kerusakan memori pemikiran pasien yang pemikiran pasien yang
terakhir diekspresikan terakhir diekspresikan

47
b.d gangguan 2. Implementasikan teknik 2. Menerapkan teknik
neurologis (00131) mengingat yang tepat, mengingat yang tepat,
misalnya visual imagey, dengan mengulang
alat yang membantu informasi
ingatan, permainan 3. Mengenang kembali
ingatan, tanda-tanda mengenai pengalaman
ingatan, mengulang pasien, dengan cara tepat
informasi 4. Menyediakan pengingat
3. Kenangkan kembali dengan menggunakan
mengenai pengalaman gambar, dengan cara yang
pasien, dengan cara tepat tepat
4. Sediakan pengingat 5. Memberi latihan orientasi,
dengan menggunakan misalnya pasien berlatih
gambar, dengan cara mengenai informasi
yang tepat pribadi dan tanggal,
5. Beri latihan orientasi, dengan cara tepat
misalnya pasien berlatih 6. Memantau perilaku pasien
mengenai informasi selama terapi
pribadi dan tanggal, Manajemen demensia
dengan cara tepat 1. Menyertakan anggota
6. Monitor perilaku pasien keluarga dalam
selama terapi perencanaan, pemberian,
Manajemen demensia dan evaluasi perawatan
1. Sertakan anggota yang diinginkan.
keluarga dalam 2. Menentukan jenis dan
perencanaan, pemberian, tingkat defisit kognitif
dan evaluasi perawatan dengan menggunakan alat
yang diinginkan. pengkajian yanga
2. Tentukan jenis dan terstandar
tingkat deficit kognitif 3. Menyediakan lingkungan
dengan menggunakan alat dengan stimulasi yang
pengkajian yanga rendah (misalnya,
terstandar lingkungan yang tenang,
3. Sediakan lingkungan redup, pola dekorasi yang
dengan stimulasi yang sederhana; musik yang
rendah (misalnya, menenangkan)
lingkungan yang tenang, 4. Mengidentifikasi dan
redup, pola dekorasi yang singkirakan potensi bahaya
sederhana; musik yang di lingkungan pasien
menenangkan) 5. Memilih aktivitas
4. Identifikasi dan kelompok dan aktivitas
singkirakan potensi mandiri yang diarahkan
bahaya di lingkungan pada kemampuan kognitif
pasien dan minat klien
5. Pilih aktivitas kelompok 6. Menggunakan symbol
dan aktivitas mandiri tertulis untuk membantu
yang diarahkan pada pasien menemukan kamar

48
kemampuan kognitif dan mandi atau kamarnya
minat klien sendiri
6. Gunakan symbol tertulis Stimulasi Kognitif
untuk membantu pasien 1. Menawarkan stimulasi
menemukan kamar mandi lingkungan melalui kontak
atau kamarnya sendiri dengan banyak personil.
Stimulasi Kognitif 2. Menghadirkan secara
1. Tawarkan stimulasi berkala
lingkungan melalui 3. Merangsang memori
kontak dengan banyak dengan mengulang
personil. pemikiran terakhir klien
2. Hadirkan secara berkala 4. Mengorientasikan klien
3. Rangsang memori dengan terhadap waktu, tempat,
mengulang pemikiran dan ruang
terakhir klien 5. Mendorong penggunaan
4. Orientasikan klien program multi stimulasi
terhadap waktu, tempat, (misalnya, bernyanyi dan
dan ruang mendengarkan musik,
5. Dorong penggunaan aktivitas-aktivitas kreatif,
program multi stimulasi latihan, percakapan,
(misalnya, bernyanyi dan interaksi social, atau
mendengarkan musik, pemecahan masalah) untuk
aktivitas-aktivitas kreatif, meningkatkan kapasitas
latihan, percakapan, kognisi.
interaksi social, atau 6. Menempatkan objek dan
pemecahan masalah) foto yang familiar di sekitar
untuk meningkatkan klien
kapasitas kognisi. 7. Menggunakan alat bantu
6. Tempatkan objek dan foto memori: ceklis, jadwa, dan
yang familiar di sekitar catatan peringatan
klien 8. Meningkatkan atau ulang
7. Gunakan alat bantu informasi
memori: ceklis, jadwa, 9. Meminta klien untuk
dan catatan peringatan mengulang informasi
8. Tingkatkan atau ulang Terapi Reminiscence
informasi 1. Memilih setting yang
9. Minta klien untuk nyaman
mengulang informasi 2. Menentukan metode
Terapi Reminiscence reminiscence yang paling
1. Pilih setting yang efektif untuk dilakukan
nyaman (misalnya, autobiograph
2. Tentukan metode yang terekam, buku untuk
reminiscence yang paling menulis, diskusi dan
efektif untuk dilakukan bercerita)
(misalnya, autobiograph 3. Menggunakan alat peraga
yang terekam, buku untuk (misalnya, musik untuk
menulis, diskusi dan pendengaran, foto album
bercerita) untuk visual, parfum untuk

49
3. Gunakan alat peraga penciuman) untuk
(misalnya, musik untuk menstimulasi ingatan.
pendengaran, foto album 4. Mendukung ekspresi
untuk visual, parfum verbal terkait dengan
untuk penciuman) untuk perasaan positif dan
menstimulasi ingatan. negative mengenai
4. Dukung ekspresi verbal kejadian masa lalu.
terkait dengan perasaan 5. Menanyakan pertanyaan
positif dan negative terbuka mengenai masa
mengenai kejadian masa lalu dan kejadian hidup
lalu. 6. Mendukung penulisan
5. Tanyakan pertanyaan kejadian masa lalu
terbuka mengenai masa 7. Menggunakan album foto
lalu dan kejadian hidup klien atau buku gambar
6. Dukung penulisan untuk menstimulasi
kejadian masa lalu memori klien
7. Gunakan album foto klien 8. Memberikan umpan balik
atau buku gambar untuk positif bagi klien.
menstimulasi memori
klien
8. Berikan umpan balik
positif bagi klien.
2. Domain 4: Manajemen Demensia: Manajemen Demensia:
Aktivitas/Istirahat. Keluyuran Keluyuran
Kelas 3. 1. Identifikasi pola biasa 1. Mengidentifikasi pola
Keseimbangan dari perilaku berkeliaran biasa dari perilaku
energi. Keluyuran [pasien] berkeliaran [pasien]
b.d gangguan 2. Identifikasi dan 2. Mengidentifikasi dan
kognitif (000154) singkirkan potensi singkirkan potensi bahaya
bahaya bagi pasien di bagi pasien di lingkungan
lingkungan sekitar pasien sekitar pasien
3. Pasang kunci pengaman 3. Memasang kunci
yang rumit pada pintu pengaman yang rumit pada
keluar pintu keluar
4. Gunakan simbol daripada 4. Menggunakan simbol
hanya tanda-tanda daripada hanya tanda-
tertulis untuk membantu tanda tertulis untuk
pasien menemukan membantu pasien
ruangan, kamar mandi, menemukan ruangan,
atau area lain kamar mandi, atau area
5. Sediakan lingkungan lain
fisik dan rutinitas sehari- 5. Menyediakan lingkungan
hari yang konsisten fisik dan rutinitas sehari-
6. Dorong aktivitas fisik di hari yang konsisten
waktu siang hari 6. Mendorong aktivitas fisik
7. Berikan satu arahan di waktu siang hari
sederhana pada suatu
waktu

50
Orientasi realita 7. Memberikan satu arahan
1. Gunakan pendekatan sederhana pada suatu
yang tenang dan tidak waktu
terburu-buru ketika Orientasi realita
berinteraksi dengan klien 1. Menggunakan pendekatan
2. Gunakan pendekatan yang tenang dan tidak
yang konsisten terburu-buru ketika
(misalnya, pendekatan berinteraksi dengan klien
yang baik) 2. Menggunakan pendekatan
3. Bicara jelas dengan yang konsisten (misalnya,
kecepatan suara, volume, pendekatan yang baik)
dan intonasi suara yang 3. Berbicara jelas dengan
tepat kecepatan suara, volume,
4. Hindari membuat klien dan intonasi suara yang
frustasi dengan tuntutan tepat
yang membutuhkan 4. Mengindari membuat
kapasitas lebih klien frustasi dengan
(misalnya, pengulangan tuntutan yang
pertanyaan yang tidak membutuhkan kapasitas
bisa dijawab klien, lebih (misalnya,
berfikir abstrak ketika pengulangan pertanyaan
klien hanya bisa berfikir yang tidak bisa dijawab
konkrit, aktivitas- klien, berfikir abstrak
aktivitas yang tidak bisa ketika klien hanya bisa
dilakukan, pengambilan berfikir konkrit, aktivitas-
keputusan di luar aktivitas yang tidak bisa
kemampuan klien) dilakukan, pengambilan
5. Informasikan klien keputusan di luar
mengenai orang, tempat kemampuan klien)
dan waktu jika 5. Menginformasikan klien
dibutuhkan mengenai orang, tempat
6. Hadirkan kenyataan dan waktu jika dibutuhkan
dengan sikap yang [tetap] 6. Menghadirkan kenyataan
memepertahankan harga dengan sikap yang [tetap]
diri klien (misalnya, memepertahankan harga
memberikan penjelasan diri klien (misalnya,
bergantian, hindari memberikan penjelasan
argumentasi, dan hindari bergantian, hindari
untuk menyakinkan argumentasi, dan hindari
klien) untuk menyakinkan klien)
7. Libatkan klien dalam 7. Melibatkan klien dalam
aktivitas-aktivitas konkrit aktivitas-aktivitas konkrit
“disini dan saat ini” “disini dan saat ini”
(misalnya, aktivitas- (misalnya, aktivitas-
aktivitas sehari-hari) aktivitas sehari-hari) yang
yang berfokus pada berfokus pada sesuatu
sesuatu diluar dirinya diluar dirinya yang konkrit

51
yang konkrit dan dan berorientasi pada
berorientasi pada realita realita
8. Hindari situasi yang tidak 8. Menghindari situasi yang
familiar jika tidak familiar jika
memungkinkan memungkinkan
9. Siapkan pasien mengenai 9. Menyiapkan pasien
perubahan rutinitas biasa mengenai perubahan
dan siapkan lingkungan rutinitas biasa dan siapkan
sebelum perubahan lingkungan sebelum
terjadi perubahan terjadi
10. Gunakan petunjuk 10. Menggunakan petunjuk
lingkungan untuk lingkungan untuk
menstimulasi memori, menstimulasi memori,
reorientasi dan reorientasi dan
meningkatan perilaku meningkatan perilaku
yang sesuai yang sesuai
11. Monitor perubahan 11. Memonitor perubahan
orientasi, fungsi kognisi orientasi, fungsi kognisi
dan perilaku serta dan perilaku serta kualitas
kualitas hidup klien hidup klien
3. Domain 4: Peningkatan Tidur Peningkatan Tidur
Aktivitas/Istirahat. 1. Tentukan pola 1. Menentukan pola
Kelas 1. tidur/aktivitas pasien tidur/aktivitas pasien
Tidur/Istirahat. 2. Perkiraan tidur/siklus 2. Memperkirakan
Insomnia b.d bangun pasien di dalam tidur/siklus bangun pasien
ketakutan (00095). perawatan perencanaan di dalam perawatan
3. Monitor pola tidur perencanaan
pasien, dan catat kondisi 3. Memonitor pola tidur
fisik (misalnya, apnea pasien, dan catat kondisi
tidur, sumbatan jalan fisik (misalnya, apnea
nafas, tidur, sumbatan jalan
nyeri/ketidaknyamanan, nafas,
dan frekuensi BAK) nyeri/ketidaknyamanan,
dan/atau psikologis dan frekuensi BAK)
(misalnya, ketakutan atau dan/atau psikologis
kecemasan) keadaan (misalnya, ketakutan atau
yang mengganggu tidur kecemasan) keadaan yang
4. Monitor partisipasi mengganggu tidur
dalam kegiatan yang 4. Memonitor partisipasi
melelahkan selama dalam kegiatan yang
terjaga untuk mencegah melelahkan selama terjaga
penat yang berlebihan untuk mencegah penat
5. Sesuaikan lingkungan yang berlebihan
(misalnya, cahaya, 5. Menyesuaikan lingkungan
kebisingan, suhu, kasur, (misalnya, cahaya,
dan tempat tidur) untuk kebisingan, suhu, kasur,
meningkatkan tidur dan tempat tidur) untuk
meningkatkan tidur

52
6. Bantu menghilangkan 6. Membantu menghilangkan
stress sebelum tidur stress sebelum tidur
7. Bantu pasien untuk 7. Membantu pasien untuk
membatasi tidur siang membatasi tidur siang
dengan menyediakan dengan menyediakan
aktivitas yang aktivitas yang
meningkatkan kondisi meningkatkan kondisi
terjaga, dengan tepat terjaga, dengan tepat
8. Anjurkan pasien 8. Menganjurkan pasien
bagaimana melakukan bagaimana melakukan
relaksasi otot autogenic relaksasi otot autogenic
atau bentuk non- atau bentuk non-
farmakologi lainnya farmakologi lainnya untuk
untuk memancing tidur memancing tidur
9. Atur rangsangan 9. Mengatur rangsangan
lingkungan untuk lingkungan untuk
mempertahankan siklus mempertahankan siklus
siang-malam normal siang-malam normal

4.7 Evaluasi
1) Domain 5: Presepsi/Kognisi. Kelas 4. Kognisi. Kerusakan memori b.d
gangguan neurologis (00131)
S: -Klien dapat mengulangi informasi yang baru diberikan
-Klien perlu bantuan dalam mengulangi informasi lama yang sudah
diberikan
-Klien dapat mengingat peristiwa yang baru terjadi
O: -Klien dapat menyebutkan nama dan mengenali anggota keluarga
-Klien tampak kesulitan memproses informasi dan hanya bisa mengikuti
perintah sederhana
-Klien dapat mengidentifikasi tempat, hari dan tanggal saat ini dengan
benar
A: Masalah belum teratasi
P: Observasi dan lanjutkan intervensi
2. Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 3. Keseimbangan energi. Keluyuran
b.d gangguan kognitif (000154)

53
S: - Klien mengatakan sering berjalan-jalan di sekitar lingkungan panti
- Klien terkadang dapat mengatakan tempat yang akan dituju
O: -Klien mulai jarang berkeluyuran
-Klien terkadang masih tampak kebingungan mencari kamarnya sendiri
-Klien dapat mengidentifikasi tempat, hari dan tanggal saat ini dengan
benar
-Klien dapat menyebutkan nama dan mengenali anggota keluarga
-Klien masih belum bisa berjalan-jalan sesuai rute yang diberikan
A: Masalah belum teratasi
P: Observasi dan lanjutkan intervensi
3. Domain 4: Aktivitas/Istirahat. Kelas 1. Tidur/Istirahat. Insomnia b.d
ketakutan (00095)
S: Klien mengatakan sudah tidak mengalami kesulitan untuk memulai tidur
di malam hari
O: -Pola dan kualitas tidur klien mulai membaik
-Kebutuhan tidur klien tercukupi, klien dapat tidur 7 – 8 jam per hari
-Klien jarang terbangun dari tidurnya di malam hari
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi

54
BAB V
KESIMPULAN

Kognitif merupakan suatu proses aktivitas berpikir mencakup semua aspek


persepsi, pengamatan, pemikiran dan ingatan. Gangguan fungsi kognitif
berhubungan dengan fungsi otak, karena kemampuan lansia untuk berpikir akan
dipengerahui oleh keadaan otak. Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia
meliputi menurunkan kemampuan fungsi intelektual, efisiensi tranmisi saraf di otak
(proses informasi melambat dan banyak informasi hilang selama transmisi),
kemampuan mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi dari memori,
serta kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan
kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Hal tersebut dikarenakan volume dan berat otak yang berkurang,
pembesaran ventrikel dan pelebaran sulkus, hilangnya sel-sel saraf di neokorteks,
hipokampus dan serebelum, penciutan saraf dan dismorfologi, pengurangan
densitas sinaps, kerusakan mitokondria dan penurunan kemampuan perbaikan
DNA. Akibat yang terjadi pada gangguan kognitif meliputi, menurunnya
kemampuan berkonsentrasi terhadap stimulus (misalnya, pertanyaan harus
diulang), proses pikir yang tidak tertata (misalnya tidak relevan atau inkoheren),
menurunya tingkat kesadaran, gangguan persepsi, Ilusi, halusinasi, gangguan tidur
(misalnya, tidur berjalan dan insomnia atau ngatuk pada siang hari), meningkat atau
menurunnya aktivitas psikomotor, disorientasi (meliputi, tempat, waktu,orang),
gangguan daya ingat (misalnya, tidak dapat mengingat hal baru, misalnya nama
beberapa benda setelah lima menit).

55
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of


mental disorders (4th ed-TR). Washington, DC: American Psychiantric
Association Press.

Artinawati. S. (2014). Asuhan keperawatan gerontik. Bogor: In Media.

Azizah, M.L. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Bauml, J, Frobose, T, Kraemer, S, Rentrop, M, Pitschel- Walz, G, 2006.


Psychoeducation: A Basic Psychotherapeutic Interventions for Patients with
Schizophrenia and Their Families. Schizophrenia Bulettin, vol.32 no. 51 pp.

Copel. 2007. Kesehatan Jiwa & Psikiatri Pedoman Klinis Perawat. Jakarta: EGC.

Dennison. (2009). Brain Gym (senam Otak) Edisi Bahasa Indonesia (Cetakan keX).
Ahli Bahasa: Ruslan dan Rahayu M. Jakarta: Grasindo.

Departemen kesehatan Republik Indonesia. 2013. Buletin jendela data dan


Informasi Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buletin/bul
etin-lansia.pdf

Dorland, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta:


EGC.

Efendi, F., & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

K. Laidlaw, L. W. Thompson, L. Dick-Siskin, & D. Gallagher-Thompson. 2003.


Cognitive behaviour therapy with older people. England: John Wiley &
Sons.

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Situasi Dan Analisis Lanjut Usia.


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
lansia.pdf.

56
Maryam, R. Siti, dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika.

Maryam dkk. (2012). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika.

Muzamil, Misbach, 2010. Media Puzzle, [online].


(https://www.academia.edu/9717051/

Myers JS. 2008. Factors Associated with Changing Cognitive Function in Older
Adults, Implications for Nursing Rehabilitation. Medical Library Proquest.

Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: EGC.

Papilia, D. E, Olds, S.W., & Feldman, R. D. (2008). Adult Development and Aging.
New York: McGraw-Hill.

Papalia, D.E, Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2004). Human Development (9th ed).
New York: McGraw Hill

Potter, A., & Perry, A.G. (2009). Fundamental Keperawatan, Ed. 7, Buku 1.
Jakarta: Salemba Medika.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2011. Gambaran Kesehatan
Usia Lanjut
DiIndonesia.http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdati
n/buletin/buletin-lansia.pdf.

Santoso, H. dan Ismail, A. (2009). Memahami krisis lanjut usia. Jakarta: Gunung
Mulia.

Sutarti, Endang. 2014. Menuju Lansia Paripurna.


http://www.bkkbn.go.id/ViewArtikel.aspx?ArtikelID=123

World Health Organization. 2016. Definition Of An Older Or Elderly Person.


http://www.who.int/healthinfo/survey/ageingdefnolder/en/

57