Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH KEPERAWATAN MUSKULOSKELETAL 1

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN DEFORMITAS


SPINAL : SKOLIOSIS

FASILITATOR:
Laily Hidayati, S.Kep.Ns., M.Kep

Disusun oleh:

Kelompok 2 / Kelas A2 2015

Siska Kusuma Ningsih 131511133037


Lely Suryawati 131511133049
Elly Ardianti 131511133058
Prisdamayanti Ayuningsih 131511133067
Rahmadanti Nur Fadilla 131511133074
Nopen Tri Jatmiko 131511133123

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Muskuloskeletal I yaitu makalah yang
berjudul “Asuhan Keperawatan Klien dengan Kelainan Deformitas Spinal :
Skoliosis”.
Penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Deni Yasmara S.Kep.,Ns., M.Kep. Sp.Kep.MB sebagai PJMA mata ajar
Keperawatan Muskuloskeletal I;
2. Laily Hidayati, S.Kep.Ns., M.Kep sebagai dosen pembimbing yang
senantiasa memberikan bimbingan dan arahan dalam memberikan materi
dan penyelesaian makalah ini;
3. Teman-teman serta semua pihak yang telah bekerja sama dan membantu
dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ilmiah ini masih banyak kekurangan,
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, 07 April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum........................................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus.......................................................................................2
1.4 Manfaat......................................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................4
2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang...................................................4
2.2 Definisi Skoliosis......................................................................................5
2.3 Klasifikasi Skoliosis..................................................................................6
2.4 Etiologi Skoliosis......................................................................................7
2.5 Patofisiologi Skoliosis...............................................................................8
2.6 Manifestasi Klinis Skoliosis......................................................................9
2.7 WOC Skoliosis........................................................................................10
2.8 Pemeriksaan Diagnostik Skoliosis..........................................................11
2.9 Penatalaksanaan Skoliosis.......................................................................12
2.10 Komplikasi Skoliosis...............................................................................14
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS..................................................15
3.1 Pengkajian....................................................................................................15
3.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................17
3.3 Intervensi Keperawatan................................................................................17
BAB 4 ASUHAN KEPERAWATAN KASUS.......................................................21
4.1 Kasus.......................................................................................................21
4.2 Pengkajian...............................................................................................21
4.3 Diagnosa Keperawatan............................................................................26
4.4 Intervensi Keperawatan...........................................................................26
4.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan................................................32

iii
BAB 5 SIMPULAN...............................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................39

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan menurut undang-undang RI no 36 tahun 2009 adalah keadaan
sehat baik secara fisik, mental dan spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. Sehat berarti seseorang harus diberi kesempatan seluas-luasnya
untuk mengembangkan kemampuan yang dibawa sejak lahir (potensial
genetik) menjadi realitas fenotipik (phenotypic ralities). Hal ini sangat terkait
dengan pola kependudukan serta lingkungan yang mempengaruhinya.
Sebagaimana dilihat, piramida kependudukan di Indonesia pada saat ini
menunjukkan besarnya jumlah anak-anak umur 0 – 15 tahun yaitu 28,9% dari
jumlah seluruh penduduk (Badan Pusat Statistik, 2012).
Skoliosis menurut National Institute of Arthitis and Musculoskeletal and
Skin Disease (NIAMS) USA merupakan kelainan muskuloskeletal yang
digambarkan dengan bengkoknya tulang belakang ke arah samping. 80-85%
kasus yang dijumpai merupakan type idiopatik skoliosis yang ditemukan pada
masa pubertas, pada perempuan ditemukan lebih banyak dari pada laki-laki,
bisa diakibatkan dari faktor keturunan (Mujianto, 2013).

Skoliosis adalah deformitas tulang belakang berupa deviasi vertebra ke


arah samping atau lateral (Soetjaningsih, 2004). Menurut Rahayussalim
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi
pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan
skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih
jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luarbiasa pada tulang belakang
akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan
sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan
struktur lainnya (Rahayussalim, 2007).

Di Indonesia penderita scoliosis dalam mendapatkan pelayanan medik


khusus sangat terbatas misalnya penderita-penderita yang pernah didiagnosa
scoliosis oleh dokter, tetapi tidak semua dapat mengikuti program latihan.
Hati merupakan organ terbesar di dalam tubuh manusia. Di dalam hati terjadi
proses-proses penting bagi kehidupan kita, yaitu proses penyimpanan energi,
pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk ke
dalam tubuh kita, sehingga dapat kita bayangkan akibat yang akan timbul
apabila terjadi kerusakan pada hati.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi tulang belakang?


1.2.2 Apa definisi skoliosis?
1.2.3 Bagaimana klasifikasi skoliosis?
1.2.4 Apa etiologi skoliosis?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi skoliosis?
1.2.6 Bagaiamana WOC skoliosis?
1.2.7 Bagaimana manifestasi klinis skoliosis?
1.2.8 Apa pemeriksaan diagnostik skoliosis?
1.2.9 Bagaimana penatalaksanaan skoliosis?
1.2.10 Apa komplikasi dari skoliosis?
1.2.11 Bagaimana asuhan keperawatan teoritis dari skoliosis?
1.2.12 Bagaimana asuhan keperawatan kasus dari skoliosis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan makalah ini diharapkan setelah


perkuliahan mahasiswa mampu memahami mengenai konsep dasar
Skoliosis dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat
bagi klien dengan Skoliosis.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa dapat menjelaskan anatomi dan fisiologi tulang


belakang.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan definisi skoliosis.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan klasifikasi skoliosis.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi skoliosis.
5. Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi scoliosis.
6. Mahasiswa dapat menjelaskan WOC scoliosis.
7. Mahasiswa dapat menjelaskan manifestasi klinis scoliosis.
8. Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan diagnostik scoliosis.
9. Mahasiswa dapat menjelaskan penatalaksanaan skoliosis.
10. Mahasiswa dapat menjelaskan komplikasi dari skoliosis.
11. Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan keperawatan teoritis dari
skoliosis.
12. Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan keperawatan kasus dari
skoliosis.
1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini, antara lain:

1.4.1 Dapat digunakan sebagai acuan bagi penulis serta rekan perawat yang
lain dalam praktik memberikan asuhan keperawatan pada klien yang
mengalami Skoliosis.
1.4.2 Dapat digunakan sebagai pedoman untuk memberikan penyuluhan
kepada masyarakat dengan tujuan untuk menangani penyakit
Skoliosis.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang
Tulang belakang adalah susunan terintegrasi dari jaringan tulang,
ligamen, otot, saraf dan pembuluh darah yang terbentang mulai dari dasar
tengkorak (basis cranii), leher, dada, pinggang bawah hingga panggul dan
tulang ekor. Fungsinya adalah sebagai penopang tubuh bagian atas serta
pelindung bagi struktur saraf dan pembuluh-pembuluh darah yang
melewatinya.
Tulang belakang tersusun dari tulang-tulang pendek berupa ruas-ruas
tulang sejumlah lebih dari 30 buah. Tulang-tulang tersebut berjajar dari
dasar tengkorak sampai ke tulang ekor dengan lubang di tengah-tengah
setiap ruas tulang (canalis vertebralis), sehingga susunannya menyerupai
seperti terowongan panjang. Saraf dan pembuluh darah tersebut berjalan
melewati canalis vertebralis dan terlindung oleh tulang belakang dari segala
ancaman yang dapat merusaknya.

Antara setiap ruas tulang belakang terdapat sebuah jaringan lunak


bernama diskus intervertebra, yang berfungsi sebagai peredam kejut (shock
absorption) dan menjaga fleksibilitas gerakan tulang belakang, yang cara
kerjanya mirip dengan shock breaker kendaraan kita. Di setiap ruas tulang
juga terdapat 2 buah lubang di tepi kanan dan kiri belakang tulang bernama
foramen intervertebra, yaitu sebuah lubang tempat berjalannya akar as well
as free slots at piggy saraf dari canalis vertebra menuju ke seluruh tubuh.
Saraf-saraf tersebut keluar melalui lubang itu dan mempersarafi seluruh
tubuh baik dalam koordinasi gerakan maupun sensasi sesuai daerah
persarafannya.

2.2 Definisi Skoliosis

Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan,


mengandung arti kondisi patologi. Merupakan deformitas tulang belakang
yang menggambarkan deviasi vertebra ke arah lateral dan rotasional.
Skoliosis didefinisikan sebagai kelengkungan tulang belakang ke arah lateral
yang memiliki sudut Cobb lebih dari 10˚. Kelengkungan yang abnormal
tersebut bisa terjadi karena kelainan kongenital, kelainan pembentukan
tulang atau kelainan neurologis, tapi pada sebagian kasus bersifat idiopatik.
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana
terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau
kanan.Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun
apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa
pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga
dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti
jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya.
Skoliosis adalah penyimpangan tulang belakang ke lateral dari garis
tengah atau terjadi lengkungan yang abnormal pada vertebra kearah lateral.
(Suratun, 2008) Kongenital skoliosis adalah suatu kondisi perubahan
kurvatura spina kearah lateral yang disebabkan oleh anomali dari
perkembangan tulang belakang. (Helmi, 2013)
2.3 Klasifikasi Skoliosis

a. Nonstruktural
Nonstruktural adalah skoliosis yang bersifat reversibel (dapat
dikembalikan ke bentuk semula), dan tanpa perputaran (rotasi) dari
tulang punggung. Terdiri dari :
1) Skoliosis postural : Disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang
buruk.
2) Spasme otot dan rasa nyeri, yang dapat berupa :
− Nyeri pada spinal nerve roots : skoliosis skiatik.
− Nyeri pada tulang punggung : dapat disebabkan oleh inflamasi
atau keganasan.
− Nyeri pada abdomen : dapat disebabkan oleh apendisitis.
3) Perbedaan panjang antara tungkai bawah
− Actual shortening
− Apparent shortening :
a) Kontraktur adduksi pada sisi tungkai yang lebih pendek
b) Kontraktur abduksi pada sisi tungkai yang lebih panjang
b. Sruktural
Struktural adalah skoliosis yang bersifat irreversibel dan dengan rotasi
dari tulang punggung
1) Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
80% dari seluruh scoliosis
− Bayi : dari lahir – 3 tahun
− Anak-anak : 4 – 9 tahun
− Remaja : 10 – 19 tahun (akhir masa pertumbuhan)
− (iV) Dewasa : > 19 tahun
2) Osteopatik
Kongenital (didapat sejak lahir)
a) Terlokalisasi :
- Kegagalan pembentukan tulang punggung (hemivertebrae)
- Kegagalan segmentasi tulang punggung (unilateral bony bar)
b) General :
- Osteogenesis imperfecta
- Arachnodactily
c) Didapat
- Fraktur dislokasi dari tulang punggung, trauma
- Rickets dan osteomalasia
- Emfisema, thoracoplasty
3) Neuropatik
Kongenital :
a) Spina bifida
b) Neurofibromatosis
Didapat :
a) Poliomielitis
b) Paraplegia
c) Cerebral palsy
d) Friedreich’s ataxia
e) Syringomielia

2.4 Etiologi Skoliosis


a. Kelainan fisik
Ketidakseimbangan pertumbuhan tulang dan otot yang yang
mengakibatkan kecendrungan untuk terjadinya suatu Scoliosis. Ketidak
seimbangan otot sekitar tulang belakang yang mengakibatkan distrosi
spinal atau perbedaan otot pada saat pertumbuhan. Selain itu dapat
disebabkan pula oleh gangguan pada tulang kaki, pinggul atau tulang
belakang. Tapi, beberapa orang yang bahunya miring belum tentu karena
Scoliosis, melainkan sekadar kebiasaan saja.
b. Gangguan pada kelenjar Endokrin
Ketidakseimbangan pada hormon yang dihasilkan oleh kelenjar
endokrin, seperti pituitary dan adrenal sebagai pendorong pertumbuhan
otot dan tulang.
c. Faktor Keturunan
Kelainan Scoliosis dapat ditimbulkan oleh gen, artinya bahwa
seorang anak dari penderita Scoliosis memiliki kemungkinan mengidap
Scoliosis.
d. Masalah pada Saraf
Masalah pada saraf juga dapat menyebabkan timbulnya Scoliosis.
Misalnya, karena pembentukan urat saraf tulang belakang yang tidak
normal dan terdapat benjolan di sepanjang perjalanan saraf.
e. Kebiasaan atau sikap tubuh yang buruk
Kesalahan dalam posisi duduk atau pun dalam posisi tidur secara
terus menerus akan menyebabkan deformasi pada tulang belakang,
terutama pada periode pertumbuhan. Faktor ini pula yang dapat
menyebabkan bertambahnya ukuran kurva pada penderita Scoliosis.
Seseorang yang berjalan miring demi mencegah rasa sakit sebagai akibat
kelumpuhan atau luka karena kecelakaan, juga dapat menyebabkan
Scoliosis. Faktor kebiasaan atau kesalahan dalam suatu posisi, seperti
posisi duduk maupun posisi tidur adalah faktor pembentukan Scoliosis
pada seorang anak, karena kebiasaan seperti itu seringkali tidak disadari.

2.5 Patofisiologi Skoliosis

Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini


berawal dari adanya syaraf-syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang
menarik ruas-ruas tulang belakang. Tarikan ini berfungsi untuk menjaga
ruas tulang belakang berada pada garis yang normal. Yang bentuknya
seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal diantaranya kebiasaan
duduk yang miring membuat syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini
terus berulang menjadi kebiasaan maka syaraf itu bahkan mati. Ini
berakibat pada ketidakseimbangan tarikan pad aruas tulang belakang. Oleh
karena itu, tulang belakang yang menderita skoliosis itu bengkok atau
seperti huruf S atau huruf C.

2.6 Manifestasi Klinis Skoliosis

Ketidaklurusan tulang belakang ini akhirnya akan menyebabkan


nyeri persendian di daerah tulang belakang pada usia dewasa dan kelainan
bentuk dada, hal tersebut mengakibatkan :
a. Penurunan kapasitas paru, pernafasan yang tertekan, penurunan level
oksigen akibat penekanan rongga tulang rusuk pada sisi yang cekung.
b. Pada skoliosis dengan kurva kelateral atau arah lengkungan ke kiri,
jantung akan bergeser kearah bawah dan ini akan dapat mengakibatkan
obstruksi intrapulmonal atau menimbulkan pembesaran jantung kanan,
sehingga fungsi jantung akan terganggu.
Di bawah ini adalah efek skoliosis terhadap paru dan jantung meliputi :
1) Efek Mild skoliosis (kurang dari 20˚ tidak begitu serius, tidak
memerlukan tindakan dan hanya dilakukan monitoring)
2) Efek Moderate skoliosis (antara 25 – 40˚), tidaklah begitu jelas , namun
suatu study terlihat tidak ada gangguan, namun baru ada keluhan kalau
dilakukan exercise.
3) Efek Severe skoliosis (> 40˚) dapat menimbulkan penekanan pada paru,
pernafasan yang tertekan, dan penurunan level oksigen, dimana
kapasitas paru dapat berkurang sampai 80%. Pada keadaan ini juga
dapat terjadi gangguan terhadap fungsi jantung. Efek Very Severe
skoliosis (Over 100˚). Pada keadaan ini dapat terjadi trauma pada pada
paru dan jantung, osteopenia and osteoporosis.
2.7 WOC Skoliosis
Posisi duduk Faktor Neuromuskular
Faktor Genetik
yang salah Hormonal
Kelumpuhan/le
Kerja otot pada Kekurangan Defisiensi mah saraf
ruas tulang asam folat
belakang pada ibu hamil Sekresi Otot melemah
melatonin
Ketegangan Risiko tinggi pada malam
hari Ruas tulang
otot sambungan
belakang tidak
spinal pada
seimbang
bayi Kekurangan
Perkembangan
otot tulang progresivitas
belakang Tulang skoliosis Bengkok kea rah
terganggu belakang tidak dominan
normal
Otot lemah

Ruas tulang
belakang lemah

Tulang
belakang
melengkung
miring ke salah
satu sisi
SKOLIOSIS

Deviasi lateral Kelelahan Perubahan Gangguan citra


corpus spinal tulang dan sendi bentuk tulang tubuh
belakang
Derajat deviasi Kaku otot Ditandai
semakin ke arah Ruas tulang dengan klien
lateral Menghambat belakang ingin cepat di
untuk bergerak berubah susunan operasi
MK: Gangguan Menekan
rasa nyaman Gangguan Strukturnya vertebra MK: Ansietas
mobilitas fisik tidak simetris
Penekanan pada
saraf sekitar
MK:Risiko pola napas
tidak efektif Merangsang mediator
MK: Nyeri
kimia (nyeri)
2.8 Pemeriksaan Diagnostik Skoliosis

Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke


depan sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi.
Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi
atau refleks. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:

a. Skoliometer
Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai.
Cara pengukuran dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan
posisi membungkuk, kemudian atur posisi pasien karena posisi ini akan
berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh kurva
dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk lebih
jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer
pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca
angka derajat kurva.
Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila hasil yang
diperoleh lebih besar dari 50, hal ini biasanya menunjukkan derajat
kurvatura > 200 pada pengukuran cobb’s angle pada radiologi sehingga
memerlukan evaluasi yang lanjut.
b. Rontgen tulang belakang
Foto polos harus diambil dengan posterior dan lateral penuh
terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk
menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai maturitas
skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan memperlihatkan
rotasi vertebra, pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang
mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah;
ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri
vertebra diperoleh kembali.
Cobb Angle diukur dengan menggambar garis tegak lurus dari
batas superior dari vertebra paling atas pada lengkungan dan garis tegak
lurus dari akhir inferior vertebra paling bawah. Perpotongan kedua garis
ini membentuk suatu sudut yang diukur.
Maturitas kerangka dinilai dengan beberapa cara, hal ini penting
karena kurva sering bertambah selama periode pertumbuhan dan
pematangan kerangka yang cepat. Apofisis iliaka mulai mengalami
penulangan segera setelah pubertas; ossifikasi meluas ke medial dan
jika penulangan krista iliaka selesai, pertambahan skoliosis hanya
minimal. Menentukan maturitas skeletal melalui tanda Risser, dimana
ossifikasi pada apofisis iliaka dimulai dari Spina iliaka anterior superior
(SIAS) ke posterior medial. Tepi iliaka dibagi kedalam 4 kuadran dan
ditentukan kedalam grade 0 sampai 5.
Derajat Risser adalah sebagai berikut :
Grade 0 : tidak ada ossifikasi
Grade 1 : penulangan mencapai 25%,
Grade 2 : penulangan mencapai 26-50%,
Grade 3 : penulangan mencapai 51-75%,
Grade 4 : penulangan mencapai 76%,
Grade 5 : menunjukkan fusi tulang yang komplit.
c. MRI ( jika di temukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen )
d. Mielografi
Untuk melihat kondisi kolumna vertebralis dan rongga intervertebra,
saraf spinal,dan pembuluh darah.
e. Computed tomography
Untuk mendeteksi terjadinya masalah musculoskeletal terutama
kolumna vertebralis.

2.9 Penatalaksanaan Skoliosis

Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :


a. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan
b. Mempertahankan fungsi respirasi
c. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis
d. Kosmetik

Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai “The three O’s”
adalah:

a. Observasi
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu
<25o pada tulang yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah
berhenti pertumbuhannya. Rata-rata tulang berhenti tumbuh pada saar
usia 19 tahun. Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang
punggung pada waktu-waktu tertentu. Foto kontrol pertama dilakukan 3
bulan setelah kunjungan pertama ke dokter. Lalu sekitar 6-9 bulan
berikutnya bagi yang derajat <20>20.
b. Orthosis
Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal
dengan nama brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah :
1) Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar
30-40 derajat.
2) Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat.
Jenis dari alat orthosis ini antara lain:
a) Milwaukee
b) Boston
c) Charleston bending brace
Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika
digunakan secara teratur 23 jamdalam sehari hingga 2 tahun
setelah menarche.

Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan


progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23
jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. Brace tidak
efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun
neuromuskular. Jika kelengkungan mencapai 40 atau lebih,
biasanya dilakukan pembedahan.
c. Operasi
Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya
operasi padaskoliosis adalah :
1) Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa
2) Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45
derajat pada anak yang
3) Sedang tumb
4) Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis.

2.10 Komplikasi Skoliosis

Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, penderita perlu dirawat


seawal mungkin. Tanpa perawatan, tulang belakang menjadi semakin
bengkok dan menimbulkan berbagai komplikasi seperti :
a. Kerusakan paru-paru dan jantung.Ini boleh berlaku jika tulang
belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang rusuk akan
menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar
bernafas dan cepat capai. Justru, jantung juga akan mengalami
kesukaran memompa darah. Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah
mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia.
b. Sakit tulang belakang.Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak,
berisiko tinggi mengalami masalah sakit tulang belakang kronik. Jika
tidak dirawat, penderita mungkin akan menghidap masalah sakit sendi.
Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila
penderita berumur 50 atau 60 tahun.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Pengkajian
1. Anamnesa
a. Data Demografi
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, diagnosa masuk,
pekerjaan dll.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasanya dirasakan oleh pasien dengan skoliosis
adalah berupa nyeri punggung dan tulang belakang melengkung secara
abnormal ke arah samping.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Kaji nyeri punggung pada pasien dengan menggunakan metode PQRST
( Faktor pemicu, kualitasnya, daerah, skala dan waktu). Pada pasien
skoliosis, kebanyakan pada punggung bagian atas tulang belakang
membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, tulang
belakang membengkok ke kiri sehingga bahu kanan lebih tinggi dari
bahu kiri. Pinggung kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul
kiri.Pada skoliosis yang berat (dengan kelengkungan >60) perubahan
progresif pada rongga toraks dapat menyebabkan perburukan
pernapasan dan kardiovaskular (Sandra, 2001).
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Hal yang perlu dikaji apakah pasien pernah mengalami kondisi
osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit arthritis dan infeksi
(Sandra, 2001).
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Karena skoliosis bisa disebabkan karena kongenital (bawaan) yang
dalam hal ini berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan
tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu maka perlu dikaji
adakah anggota keluarga pasien yang pernah/ mempunyai kelainan
yang sama.
2. Pemeriksaan Fisik

a. B1 (Breathing)
Secara umum pasien skoliosis tidak mengalami gangguan pernapasan
kecuali jika ia telah sampai pada skoliosis berat (>60 derajat). Pada
pasien dengan skoliosis berat akan didapatkan pasien tidak leluasa
untuk bernapas (Suratun dkk, 2008).
b. B2 (Blood)
Tidak ditemukan gangguan kecuali jika nyeri sudah tidak bisa
ditoleransi lagi.
c. B3 (Brain)
Tidak ditemukan masalah.
d. B4 (Bladder)
Tidak ditemukan masalah.
e. B5 (Bowel)
Tidak ditemukan masalah.
f. B6 (Bone)
Look :
Pada pasien dengan skoliosis akan tampak pakaian yang dipakai tidak
pas/ menggantung, cara berjalan tidak seimbang, postur tubuh miring ke
samping, tulang belakang melengkung ke lateral dan ketinggian bahu
tidak sama (Suratun dkk, 2008).

Feel :

Biasanya pada pasien skoliosis, mereka akan mengeluh nyeri punggung


akibat postur tubuh yang miring ke samping dan akan meningkat jika
skoliosis semakin berat (Suratun dkk, 2008).

Move :

Pasien dengan skoliosis akan mengeluh kesulitan dalam bergerak, cara


berjalan tidak seimbang dan keterbatasan kemampuan untuk bangkit
dari kursi (Suratun dkk, 2008).

3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan pola napas (00032) yang berhubungan dengan
penekanan paru
b. Nyeri kronis (00133) pada punggung yang berhubungan dengan posisi
tubuh miring ke lateral
c. Hambatan mobilitas fisik (00085) yang berhubungan dengan postur tubuh
yang tidak seimbang.
d. Gangguan citra tubuh (00118) atau konsep diri yang berhubungan dengan
postur tubuh yang miring ke lateral
3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa NOC NIC
Domain 4: Status Respirasi (0415) Monitoring Respirasi (3350)
Aktivitas/
1. Status RR (Respiratory rate) 1. Monitor pola, irama,
Istirahat Kelas
normal (5). kedalaman serta usaha klien
4: Respons 2. Irama napas norma (5).
saat respirasi.
Kardiovaskular/ 3. Kemampuan dan kedalaman 2. Catat perubahan pergerakan
Pulmonar Pola inspirasi normal (5).
dada, perhatikan kesimetrisan,
4. Tidak ada suara napas
napas tidak apakah menggunakan otot
tambahan (5).
efektif (00032) 5. Jalan napas paten (5). bantu napas.
6. Saturasi oksigen normal(5). 3. Monitor pernapasan cuping
hidung.
4. Monitor kepatenan jalan napas.
Target rating: 5. Monitor saturasi oksigen.
6. Auskultasi suara napas.
1: Tidak pernah; 7. Memantau pembacaan
ventilator mekanik, mencatat
2: Jarang;
kenaikan tekanan inspirasi dan
3: Kadang-kadang; penurunan volume tidal hingga

4: Sering; sesuai.
8. Catat perubahan pada SaO2,
5: Selalu SvO2, CO2 tidal, dan perubahan
pada nilai ABG.
9. Monitor adanya dispneu atau
kejadian yang dapat
memperburuk.
Domain 12: Kontrol Nyeri (1605) Manajemen nyeri (1400)
Kenyamanan
1. Mampu mengontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
Kelas1:
(tahu penyebab nyeri, secara komperhensif termasuk
Kenyamanan
mampu menggunakan lokasi, karakteristik, durasi,
Fisik Nyeri
teknik non farmakologi frekuensi, kualitas, dan faktor
Kronis (00133)
untuk mengurangi nyeri) presipitasi.
2. Observasi reaksi non verbal
(5).
2. Melaporkan bahwa nyeri dari ketidaknyamanan.
3. Kontrol lingkungan yang dapat
berkurang dengan
mempengaruhi nyeri seperti
menggunkan manajemen
suhu rungan, pencahayaan, dan
nyeri (4).
3. Mampu mengenai nyeri kebisingan.
4. Ajarkan tentang teknik non
(skala, intensitas, frekuensi
farmakologi seperti relaksasi
dan tanda nyeri) (5).
4. Menyatakan rasa nyaman nafas dalam, relaksasi benson.
5. Koloborasi pemberian terapi
setelah nyeri berkurang
non farmakologi.
(4).
5. Tanda vital dalam rentang
normal (4).
Target rating:
1: Tidak pernah;

2 : Jarang;

3 : Kadang-kadang;

4 : Sering;

5 : Selalu

Domain 4: Suggested outcome (1200) Exercise Therapy (0221)


1. Bantu klien untu ambulasi awal
Aktivitas/
1. Menerima diri secara verbal
untuk mendorong mobilisasi
Istirahat Kelas2:
(5). sesuai kemampuan klien.
Aktivitas/ 2. Sikap yang
menerima 2. Latih atau ajarkan penggunaan
Latihan penampilan diri (5). alat bantu berjalan jika
3. Menyesuaikan terhadap
Gangguan
diperlukan.
Mobilitas Fisik kondisi tubuh (5). 3. Bantu pasien untuk posisi atau
(00085) pergerakan secara optimal
Target rating: (Lakukan ROM pasif atau aktif).

1 : Tidak pernah;

2 : Jarang;

3 : Kadang-kadang;

4 : Sering;

5 : Selalu
Domain 6: Citra tubuh (00118) Peningkatan citra tubuh (5220)
Presepsi Diri
1. Mampu berkomunikasi 1. Anjurkan untuk
Kelas 3: Citra
terbuka (5). mengungkapkan perasaan dan
tubuh. Citra 2. Memiliki kepercayaan diri
masalahnya.
tubuh (00118) (5). 2. Beri lingkungan yang terbuka
3. Menunjukan verbal yang
atau yang mendukng pada
sudah menerima kondisi (4).
pasien.
4. Mampumenjaga kontak
3. Diskusikan persepsi pasien
mata dengan orang lain (5).
tentang diri dan hubungannya
dengan perubahan dan
bagaimana pasien melihat
Target rating:
dirinya dalam pola/peran
1 : Tidak pernah; fungsi biasanya.
4. Bantu pasien untuk
2 : Jarang;
mengidentifikasi gaya koiping
3 : Kadang-kadang; yang positif.
5. Beri harapan yang realistik dan
4 : Sering;
buat sasaran jangka pendek
5 : Selalu untuk memudahkan
pencapaian.
6. Beri penghargaan untuk tugas
yang dilakukan.
7. Beri dorongan untuk
melakukan komunikasi dengan
orang terdekat dan memerlukan
sosialisasi dengan keluarga
serta teman.
8. Dorong /berikan kunjungan
oleh orang yang menderita
skoliosis, khususnya yang
sudah berhasil dalam
rehabilitasi.
BAB 4
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Kasus

Nn. A 20 tahun dirawat di Rumah Sakit Universitas Airlangga pada


tanggal 25 Maret 2018 dengan keluhan sesak ketika melakukan aktivitas dan
kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama. Perawat
melakukan anamnesa, didapatkan hasil sebagai berikut: Orangtua Nn. A
mengatakan nenekNn. A juga mengalami kondisi seperti ini. Hasil observasi
terlihat bahu dan pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. Dan
terkadang merasakan nyeri punggung. Klien mengatakan terkadang malu
bergaul dengan teman-teman karena kondisinya. Hasil rontgen tulang
belakang menunjukkan tulang belakang melengkung secara abnormal
kearah samping sebesar 45 %. Klien direncanakan dilakukan tindakan
pembedahan. Diagnosa medis klien adalah skoliosis.
4.2 Pengkajian

1) Anamnesa
a. Identitas Klien
Nama : Nn. A
Umur : 20tahun
Jenis kelamin : perempuan
Status perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Karangrejo Surabaya
Tanggal masuk RS : 25 Maret 2018
b. Keluhan Utama
Klien mengeluh sesak ketika melakukan aktivitas, nyeri punggung dan
kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien dengan keluhan sesak ketika melakukan aktivitas, kelelahan pada
tulang belakang setelah duduk atau berdiri lamadannyeri
punggungsejak 1 bulan yang lalu. Hasil observasi terlihat bahu dan
pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. Klien mengatakan
terkadang malu bergaul dengan teman-teman karena kondisinya. Hasil
rontgen tulang belakang menunjukkan tulang belakang melengkung
secara abnormal kearah samping sebesar 45 %.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Nenek Nn. A memiliki penyakit yang sama dengan klien. (Skoliosis)
f. Riwayat Psikospiritual
1) Pola koping : Klien tidak dapat menerima keadaan penyakitnya.
(merasa malu)
2) Harapan klien tentang penyakitnya : Klien berharap cepat sembuh
dan dapat kembali beraktivitas secara normal.
3) Faktor stressor : Klien ingin cepat sembuh.
4) Konsep diri : Klien merasa terganggu karena penyakit yang
dideritanya.
5) Pengetahuan klien : Klien menyatakan bahwa tidak mengetahui
penyakit yang dideritanya.
6) Hubungan dengan anggota keluarga : Baik.
7) Hubungan dengan masyarakat : Klien kurang berinteraksi dengan
masyarakat.
8) Kegiatan keagamaan : Klien rajin ibadah.
g. Kebutuhan Dasar
1) Pola Makan :
− Sebelum MRS: Klien makan 3x sehari, nafsu makan klien
meningkat. BB 55kg.
− Setelah MRS: Nafsu makan menurun 2x sehari porsi kecil. BB
50kg.
2) Pola Minum
Klien minum 6-8 gelas sehari.
3) Pola Eliminasi
− BAK : klien buang air kecil lancar 3-5x sehari.
− BAB :klien BAB 1 x sehari, konsistensi lunak dan tidak ada
keluhan saat BAB, warna feses kuning dan tidak dijumpai
kelainan.
4) Pola Tidur
Klien tidur tidak teratur karena nyeri yang dirasakan.
5) Pola Personal Hygiene
− Sebelum masuk rumah sakit klien mandi dengan frekuensi 2
kali/hari, pagi dan sore hari.
− Di rumah sakit klien hanya di seka oleh keluarga 2 kali sehari
pada pagi dan sore hari.
− Oral hygiene sebelum sakit 2 kali sehari setiap setelah mandi
pada pagi dan sore.
− Oral hygiene setelah sakit 2 kali sehari setiap setelah diseka
pada pagi dan sore.
− Cuci rambut sebelum sakit selalu mencuci rambut ketika
mandi pada pagi dan sore hari.
− Setelah sakit tidak pernah mencuci rambut setelah klien masuk
rumah sakit.
6) Pola Istirahat
Sebelum sakit klien tidur siang 3 jam, dan tidur malam 8 jam,
dengan kebiasaan sebelum tidur berdoa.
2) Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Pernapasan
Klien merasa sesak, pernapasan cepat dan pendek dengan frekuensi
25x / menit.
b. Sistem Kardiovaskuler
Saat pemeriksaan TD = 120/80, Frekuensi jantung 70 x / menit,
tidak ada gangguan berarti.
c. Sistem Genitourinaria
Normal
d. Sistem Muskoskeletal
Kekuatan otot berkurang, pola aktivitas terganggu. Hasil observasi
terlihat bahu dan pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. Nyeri
punggung(+).
e. Sistem Gastrointestinal
Tidak ditemukan kelainan, mual (-), nyeri epigastrum (-).
f. Sistem Neurologi
Kehilangan memori (-), komunikasi lancar dan jelas, orientasi
terhadap orang baik, waktu dan tempat baik, emosi dapat
dikendalikan, tenang, tremor (-).
g. Sistem Endokrin
Riwayat DM (-) dan riwayat makan berlebih (-), belum pernah
dideteksi akibat gangguan metabolisme lainnya.
h. Sistem Pendengaran
Pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
i. Sistem Penglihatan
Penglihatan klien baik, tidak menggunakan alat bantu / kacamata.
3) Pemeriksaan Diagnostik
Hasil rontgen tulang belakang menunjukkan tulang belakang
melengkung secara abnormal kearah samping sebesar 45 %.
4) Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH
KEPERAWATAN
DS : Skoliosis Pola napas tidak efektif
- Klien mengeluh
kelelahan pada tulang Kelelahan tulang dan sendi
belakang setelah duduk
atau berdiri lama.
Kaku otot
- Klien mengeluh sesak
bila beraktivitas
DO : Menghambat untuk bergerak
- Klien tampak napasnya
pendek
Gangguan mobilitas fisik
TD 120/80 mmhg
Suhu : 36,5oC
Nadi : 70x/menit Pola napas tidak efektif

RR : 25x/menit

DS : Skoliosis Nyeri Akut


- Klien mengeluh nyeri
punggung setelah Perubahan bentuk tulang belakang
duduk atau berdiri
lama Ruastulangbelakangberubahsusunan
DO :
- Klien terlihat meringis Strukturnya tidak simetris

menahan sakit
- Klien merasakan nyeri Menekan vertebra
sejak 1 bulan yang lalu
Penekanan pada saraf sekitar
Skala nyeri:
P : setelah duduk atau
Merangsang mediator kimia (nyeri)
berdiri lama
Q : intermiten
Nyeri Akut
R : bagian punggung
S:6
T : tidak menentu

DS Skoliosis Gangguan citra tubuh


- Klien mengatakan malu
bergaul dengan teman- Perubahan bentuk tulang belakang
teman.

Ruas tulang belakang berubah


DO susunan
- Ekspresi wajah tampak
murung
- Terlihat bahu dan
Strukturnya tidak simetris
pinggul kiri dan kanan
tidak sama tingginya. Gangguan citra tubuh
- Hasil rontgen tulang
belakang menunjukkan
tulang belakang
melengkung secara
abnormal kearah
samping sebesar 45%
4.3 Diagnosa Keperawatan

1. PolaNapasTidakEfektif. Kategori: Fisiologis. Subkategori: Respirasi


(D.0005).
2. NyeriAkut. Kategori: Psikologis. Subkategori: NyeridanKenyamanan
(D.0077).
3. Gangguan Citra Tubuh. Kategori: Psikologis. Subkategori: Integritas
Ego (D.0083).

4.4 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa NOC NIC


1. PolaNapasTidak Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas
Efektif. Kategori: keperawatan selama 3 x 24 (3140)
Fisiologis. jam pasien menunjukkan
1. Monitor respirasi dan
Subkategori: keefektifan pola nafas,
status O2.
Respirasi dibuktikan dengan kriteria 2. Pertahankan jalan nafas
(D.0005). hasil: yang paten.
3. Observasi adanya tanda
1. Suara nafas yang
tanda hipoventilasi.
bersih, tidak ada 4. Monitor adanya
dyspnea, mampu kecemasan pasien
bernafas dengan
terhadap oksigenasi.
5. Monitor vital sign.
mudah, tidak ada
6. Informasikan pada pasien
pernafasan cuping
dan keluarga tentang
hidung.
tehnik relaksasi untuk
2. Irama nafas, frekuensi
memperbaiki pola nafas.
pernafasan dalam
7. Monitor pola nafas.
rentang normal yaitu
14-20x/mnt, tidak ada Manajemen Alergi (6410)
suara nafas abnormal.
1. Identifikasi alergi yang
3. Tanda Tanda vital
dalam rentang normal diketahui dan reaksi yang

(tekanan darah (120/80 tidak biasa.


2. Dokumentasikan semua
mmHg), nadi (60-
informasi mengenai
100x/mnt), pernafasan
(14-20x/mnt)). alergi dalam rekam
medis, sesuai dengan
prosedur.
3. Kelola obat-obatan untuk
mengurangi atau
meminimalkan respon
alergi.
4. Instruksikan pasien untuk
menghindari bahan yang
menyebabkan alergi.
5. Instruksikan pasien
bagaimana merawat
kemerahan, muntah,
diare atau masalah
pernapasan yang
berhubungan dengan
paparan dari bahan yang
membuat alergi.
6. Instruksikan pasien
untuk mencegah
penggunaan bahan yang
menyebabkan respon
alergi.
2. Nyeri Akut. Setelah dilakukan tindakan Pemberian analgesik (2210)
1. Tentukan lokasi,
Kategori: keperawatan selama 3 x 24
karakteristik, kualitas,
Psikologis. jam rasa nyeri klien
dan keparahan nyeri
Subkategori: teratasi dengan kriteria
sebelum mengobati
Nyeri dan hasil:
pasien.
Kenyamanan
Kontrol Nyeri (1605) 2. Cek perintah pengobatan
(D.0077). 1. Dapat mengenali meliputi obat, dosis, dan
kapan nyeri terjadi. frekuensi obat analgesik
2. Dapat menggunakan
yang diresepkan.
tindakan pengurangan 3. Cek adanya riwayat
[nyeri] tanpa alergi obat.
analgesic. 4. Evaluasi kemampuan
3. Dapat mengenali apa
pasien untuk berperan
yang terkait dengan
serta dalam pemilihan
gejala nyeri (gejala
analgetik, rute dan dosis,
nyeri pneumonia :
dan keterlibatan pasien,
sesak pada dada, sakit
sesuai kebutuhan.
kepala). 5. Monitar tanda vital
Tingkat nyeri (2102)
sebelum dan setelah
1. Tidak ada nyeri yang
memberikan analgesik
dilaporkan (3-4 hari).
2. Tidak ada ekspresi narkotik pada pemberian
nyeri pada wajah (3-4 dosis pertama kali atau
hari). jika ditemukan tanda-
3. Frekuensi nafas {RR
tanda yang tidak
normal : 16-20x/menit
biasanya.
(akan normal kembali Manajemen nyeri (1400)
1. Lakukan pengkajian
pada waktu 2 hari)}.
Tanda-Tanda Vital nyeri komprehensif yang
(0802) meliputi lokasi,
1. Suhu tubuh normal
karakteristik,
{suhu tubuh normal :
onset/durasi, frekuensi,
36-37,50C (akan
kualitas, intensitas atau
normal kembali pada
beratnya nyeri dan faktor
waktu 1-2 hari)}.
pencetus.
2. Tingkat penafasan
2. Berikan informasi
normal {RR normal : mengenai nyeri seperti
16-20x/menit (akan penyebab nyeri, berapa
normal kembali pada lama nyeri akan
waktu 2 hari)}. dirasakan, dan antisipasi
3. Irama pernafasan
dari ketidaknyamanan
normal (akan normal
akibat prosedur.
kembali pada waktu 3. Ajarkan prinsip-prinsip
2-3 hari). manajemen nyeri.
4. Tekanan darah normal
4. Dorong pasien untuk
{TD sistolik normal : memonitor nyeri dan
<120, diastolik
normal : <80 }. menangani nyerinya
5. Tekanan nadi normal
dengan tepat.
{nadi normal : 60- 5. Ajarkan penggunaan
100x/menit (akan teknik non farmakologi
normal kembali pada (seperti biofeedback,
waktu 1 hari)}. TENS, hypnosis,
6. Inspirasi normal {2:3
relaksasi, bimbingan
dari ekspirasi (akan
antisipatif, terapi music,
normal kembali pada
terapi bermain, terapi
waktu 2-3 hari)}.
aktivitas, akupressur,
Pengetahuan:
aplikasi panas/dingin dan
Manajemen Nyeri (1843)
1. Mengetahui faktor- pijatan, sebelum, sesudah
faktor penyebab dan dan jika memungkinkan,
faktor yang ketika melakukan
berkontribusi. aktivitas yang
2. Melakukan hypnosis.
menimbulkan nyeri
3. Dapat menyusun
sebelum nyeri terjadi
strategi pencegahan
atau meningka, dan
nyeri.
bersamaan dengan
tindakan penurun rasa
nyeri lainnya).
Monitor tanda-tanda vital
(6680)
1. Monitor tekanan darah,
nadi, suhu, dan status
pernapasan dengan tepat.
2. Monitor tekanan darah
setelah pasien minum
obat jika memungkinkan.
3. Monitor dan laporkan
tanda dan gejala
hipotermia dan
hipertermia.
4. Identifikasi
kemungkinan penyebab
perubahan tanda-tanda
vital.
3. Gangguan Citra Setelah diberikan asuhan Peningkatan Citra Tubuh
Tubuh. Kategori: keperawatan selama 3 x24 1. Monitor frekuensi kalimat
Psikologis. jam diharapkan gangguan yang mengkritik diri
Subkategori: citra tubuh klien teratasi sendiri.
Integritas Ego dengan kriteria hasil : 2. Bantu klien untuk
(D.0083). mengenali tindakan yang
Adaptasi terhadap
akan meningkatkan
Disabilitas Fisik
penampilannya.
3. Fasilitasi hubungan klien
1. Mampu beradaptasi
dengan individu yang
dengan keterbatasan
mengalami perubahan
fungsional
citra tubuh yang serupa.
Citra Tubuh 4. Identifikasi dukungan
kelompok yang tersedia
1. Puas dengan
untuk klien
penampilan tubuh.
2. Mampu Harga Diri
menyesuaikan dengan
1. Anjurkan klien untuk
perubahan fungsi
menilai kekuatan
tubuh.
pribadinya.
Harga Diri 2. Anjurkan kontak mata
dalam berkomunikasi
1. Merasa dirinya
dengan orang lain.
berharga.
3. Fasilitasi lingkungan dan
2. Memiliki tingkat
aktifitas yang akan
kepercayaan diri yang
meningkatkan harga diri
baik.
klien.
3. Mampu
4. Monitor tingkat harga diri
mempertahankan
kontak mata dengan klien dari waktu ke waktu
orang lain. dengan tepat.

4. Mampu
berkomunikasi secraa
terbuka kepada orang
lain.

4.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

No Diagnosa Implementasi Evaluasi


1. PolaNapasTidakEfektif. Manajemen Jalan Nafas S : Klien mengatakan
Kategori: Fisiologis. masih susah bergerak
1. Mengajarkan pasien
Subkategori: Respirasi
bagaimana cara O : Klien tampak
(D.0005)
mengatur pola nafas dan napasnya pendek
nafas dalam. - TD 120/80
2. Mengobservasi adanya
mmhg
tanda tanda - Suhu : 36,5oC
- Nadi :
hipoventilasi.
3. Memonitor vital sign. 70x/menit
4. Menginformasikan pada - RR : 25x/menit
pasien dan keluarga A : Masalah belum
tentang tehnik relaksasi teratasi
untuk memperbaiki pola
P : Lanjutkan
nafas.
intervensi
5. Mengidentifikasi alergi
yang diketahui dan
reaksi yang tidak biasa.
6. Mendokumentasikan
semua informasi
mengenai alergi dalam
rekam medis, sesuai
dengan prosedur.
7. Dokumentasi.

Managemen Alergi
1. Memonitor pola nafas
pasien.
2. Memonitor respirasi
dan status O2.
3. Memonitor adanya
kecemasan pasien
terhadap oksigenasi.
4. Menginformasikan pada
pasien dan keluarga
tentang tehnik relaksasi
untuk memperbaiki pola
nafas.
5. Memonitor vital signs.
6. Menginstruksikan
pasien untuk
menghindari bahan
yang menyebabkan
alergi.
7. Menginstrusikan pasien
bagaimana merawat
kemerahan, muntah,
diare atau masalah
pernapasan yang
berhubungan dengan
paparan dari bahan
yang membuat alergi.
8. Mengintrusikan pasien
untuk mencegah
penggunaan bahan yang
menyebabkan respon
alergi.
9. Dokumentasi.
2. Nyeri Akut. Kategori: Pemberian Analgesik S : Klien mengatakan
1. Menentukan lokasi,
Psikologis. Subkategori: masih nyeri pada
karakteristik, kualitas,
Nyeri dan Kenyamanan punggungnya
dan keparahan nyeri
(D.0077)
sebelum mengobati O : Ekspresi wajah

pasien. klien meringis


2. Mengecek perintah
A : Masalah belum
pengobatan meliputi
teratasi
obat, dosis, dan
frekuensi obat analgesic P : Lanjutkan

yang diresepkan. intervensi


3. Mengecek adanya
riwayat alergi obat
terhadap pasien dengan
cara skin test IC.
4. Mengevaluasi
kemampuan pasien
untuk berperan serta
dalam pemilihan
analgetik, rute dan
dosis, dan keterlibatan
pasien, sesuai
kebutuhan.
5. Memantau tanda vital
sebelum dan setelah
memberikan analgesik
narkotik pada
pemberian dosis
pertama kali atau jika
ditemukan tanda-tanda
yang tidak biasanya.
Manajemene Nyeri
1. Melakukan pengkajian
nyeri komprehensif
yang meliputi lokasi,
karakteristik,
onset/durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas atau
beratnya nyeri dan
faktor pencetus.
2. Memberikan informasi
mengenai nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi
dari ketidaknyamanan
akibat prosedur.
3. Mengajarkan prinsip-
prinsip manajemen
nyeri.
4. Mengajarkan
penggunaan teknik non
farmakologi kepada
klien dan keluarga
(seperti biofeedback,
TENS, hypnosis,
relaksasi, bimbingan
antisipatif, terapi music,
terapi bermain, terapi
aktivitas,dll).
5. Dorong pasien untuk
menggunakan obat-
obatan penurun nyeri
yang adekuat.
Monitor tanda-tanda vital
1. Memantau tekanan
darah, nadi, suhu, dan
status pernapasan
dengan tepat.
2. Memantau tekanan
darah setelah pasien
minum obat.
3. Memantau, dan
mendokumentasikan
tanda dan gejala
hipotermia dan
hipertermia.
4. Mengidentifikasi
kemungkinan penyebab
perubahan tanda-tanda
vital.
3. Gangguan Citra Tubuh. Peningkatan Citra Tubuh S : Klien mengatakan
Kategori: Psikologis. 1. Memantau frekuensi malu bergaul dengan
Subkategori: Integritas kalimat yang mengkritik teman-temannya
Ego (D.0083) diri sendiri.
O : Ekspresi wajah
2. Membantu klien untuk
klien tampak murung
mengenali tindakan
yang akan A : Masalah teratasi

meningkatkan sebagian

penampilannya. P : Lanjutkan
3. Memberikan fasilitas intervensi
hubungan klien dengan
individu yang
mengalami perubahan
citra tubuh yang serupa.
4. Mengidentifikasi dan
memberikan dukungan
kelompok yang tersedia
untuk klien

Harga Diri
1. Menyarankan klien
untuk menilai kekuatan
pribadinya.
2. Menyarankan klien
untuk tetap
mempertahankan kontak
mata dalam
berkomunikasi dengan
orang lain.

3. Memberikan fasilitas
lingkungan dan aktifitas
yang akan
meningkatkan harga diri
klien.

4. Memantau tingkat harga


diri klien dari waktu ke
waktu dengan tepat.

BAB 5
SIMPULAN
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang berupa deviasi vertebra
ke arah samping atau lateral (Soetjaningsih, 2004). Menurut Rahayussalim
Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi
pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan
skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih
jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luarbiasa pada tulang belakang
akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan
sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan
struktur lainnya (Rahayussalim, 2007).

Skoliosis dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kelainan


fisik, gangguan pada kelenjar endokrin, faktor keturunan, masalah pada
syaraf dan kebiasaan atau sikap tubuh yang buruk. Skoliosis dapat
menimbulkan penekanan pada paru, pernafasan yang tertekan, dan penurunan
level oksigen, dimana kapasitas paru dapat berkurang sampai 80%. Pada
keadaan ini juga dapat terjadi gangguan terhadap fungsi jantung. Pemeriksaan
diagnostik yang dapat dilakukan antara lain rontgen, CT scan dan MRI.
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis yaitu meliputi mencegah
progresifitas dan mempertahankan keseimbangan, mempertahankan fungsi
respirasi, mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. et al. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC)


Sixth Edition. Missouri: Mosby Elsevier.
Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 3. EGC: Jakarta.

Helmi, Zairin Noor. 2013. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:


Salemba Medika

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). Nursing Diagnoses Definitions


and Classifications (NANDA) 2015-2017. Oxford: Willey Blackwell.
Moorhead, Sue et al. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth
Edition. Missouri: Mosby Elsevier.
Suratun, dkk. 2008. Klien Gangguan Muskuloskeletal: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC