Anda di halaman 1dari 68

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis karena letaknya
yang berada di antara 6°LU-11°LS. Kondisi suhu udara di atas kepulauan
Indonesia senantiasa berkisar sepanjang tahun rata-rata di atas 18oC
(Bambang Utoyo, 2009). Karakteristik wilayah tropis lainnya yaitu
mengalami musim panas sepanjang tahun serta radiasi matahari yang rata-rata
tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan kerentanan masalah kulit terutama yang
berhubungan dengan kelenjar keringat (ekrin) dan kelenjar minyak (sebasea).
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya
dari lingkungan hidup manusia, merupakan organ yang esensial dan vital
serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (Wasita atmadja dalam
Djuanda, et al. 2007). Kulit terdiri atas tiga lapisan, yang masing-masing
tersusun dari berbagai jenis sel dan fungsi yang bermacam-macam. Dalam
lapisan pertama yakni epidermis, terdapat kelenjar keringat (ekrin) dan
kelenjar minyak (sebasea). Beberapa masalah kulit yang umum terjadi
diantaranya adalah acne, rosacea, dan miliariasis
Acne adalah gangguan yang umum terjadi akibat terlalu aktifnya
kelenjar sebasea yang terlalu banyak mengeluarkan minyak (sebum) ke dalam
kulit. Hal ini ditandai dengan terjadinya pembentukan bintil-bintil hitam,
bintil-bintil putih, dan jerawat (Trident Referensi Publishing, 2009).
Rosacea adalah kondisi kronis seperti jerawat yang diderita satu dari
seratus orang yang biasanya berkulit wajah terang (Anita Naik, 2003).
Rosaceae merupakan kelainan dengan etiologi yang tidak diketahui,
berhubungan dengan vaskularisasi wajah, kemerahan pada wajah, dan
terbentuknya papula dan pastula inflamasi secara sekunder yang terutama
terdapat pada pipi, dagu, dan dahi bagian tengah.
Miliariasis merupakan istilah pada lesi yang terjadi akibat obstruksi
dan ruptur kelenjar keringat (Julia McMillan, dkk, 2006). Miliariasis adalah
gangguan umum dari kelenjar keringat ekrin yang sering terjadi dalam
kondisi peningkatan panas dan kelembaban.
Dengan semakin meningkatnya cuaca ekstrem akhir-akhir ini kita
memerlukan perhatian khusus terutama dalam menjaga dan merawat kulit
yang merupakan pertahanan barier tubuh kita. Asuhan keperawatan yang
tepat sangat diperlukan untuk mengatasi masalah yang muncul akibat acne,
rosacea dan miliariasis. Penatalaksanaan acne, rosacea dan miliariasis telah
banyak dikembangkan saat ini. Selain tim medis yang mendiagnosa dan
menangani secara kuratif, peran perawat juga diperlukan untuk memberikan
asuhan keperawatan yang efektif dan komprehensif, mengingat kulit adalah
bagian yang sangat diperhatikan baik secara visual maupun sentuhan, dan
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi kelenjar keringat (ekrin) dan kelenjar
minyak (sebasea)?
2. Apa definisi acne, rosacea dan miliariasis?
3. Apa saja etiologi acne, rosacea dan miliariasis?
4. Bagaimana patofisiologi acne, rosacea dan miliariasis?
5. Apa saja manifestasi klinis sehingga seseorang dikatakan menderita acne,
rosacea dan miliariasis?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada acne, rosacea dan miliariasis?
7. Bagaimana penatalaksanaan acne, rosacea dan miliariasis?
8. Apa saja komplikasi yang terjadi pada klien dengan acne, rosacea dan
miliariasis?
9. Bagaimana prognosis pada klien dengan acne, rosacea dan miliariasis?
10. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan acne, rosacea dan
miliariasis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menyusun asuhan keperawatan tentang gangguan
kelenjar ekrin dan sebasea berupa acne, rosacea, dan miliariasis dengan
baik dan benar.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologis kelenjar keringat
(ekrin) dan kelenjar minyak (sebasea)
2. Mengetahui dan memahami definisi acne, rosacea dan miliariasis
3. Mengetahui dan memahami etiologi acne, rosacea dan miliariasis
4. Mengetahui dan memahami patofisiologi acne, rosacea dan
miliariasis
5. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis sehingga seseorang
dikatakan menderita acne, rosacea dan miliariasis
6. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik pada acne,
rosacea dan miliariasis
7. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan acne, rosacea dan
miliariasis
8. Mengetahui dan memahami komplikasi yang terjadi pada klien
dengan acne, rosacea dan miliariasis
9. Mengetahui dan memahami prognosis pada klien dengan acne,
rosacea dan miliariasis
10. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan klien dengan acne,
rosacea dan miliariasis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit


Kelengkapan atau aksesori epidermis yaitu kelenjar keringat ekrin
(eccrine) dan apokrin (apocrine), rambut dan kelenjar sebasea serta kuku.

Gambar 2. Kelenjar keringat (Didit, 2011)

Kelenjar keringat ekrin penting dalam pengaturan suhu tubuh. Setiap


orang mempunyai sekitar dua sampai tiga juta kelenjar keringat ekrin yang
hampir menutupi seluruh permukaan tubuh. Ada banyak pada telapak tangan
dan kaki. Kelenjar keringat terdiri dari gulungan (koil). Koil mensekresi air,
elektrolit, laktat, urea dan amonia. Koil menghasilkan keringat yang isotonik,
tetapi natrium diserap kembali dalam duktus sehingga keringat yang sampai di
permukaan bersifat hipotonik. Kelenjar keringat dikendalikan oleh sistem
saraf simpatis dan asetilkolin sebagai neurotransmitter. Kelenjar keringat
apokrin banyak ditemukan di area aksila dan anogenital. Kelenjar apokrin
khusus adalah wax gland (kelenjar lilin) di telinga dan kelenjar susu di
payudara. Kelenjar apokrin menghasilkan sekret berminyak yang mengandung
protein, karbohidrat, lemak dan amonia. Kelenjar ini menjadi aktif pada saat
pubertas. Sekresinya dikontrol oleh serabut saraf adrenergik.

3
Gambar 3. Kelenjar sebasea (Hadijah, 2011)

Kelenjar sebasea dan sebum. Kelenjar sebasea atau kelenjar minyak


menghasilkan minyak kulit (sebum) yang berguna untuk meminyaki kulit dan
rambut agar tidak kering. Kelenjar sebasea terletak lebih dekat ke permukaan
kulit daripada kelenjar keringat. Kelenjar sebasea terdapat di setiap tempat
pada kulit mulai dari tangan sampai kaki dan bermuara pada saluran folikel
rambut dan dapat bersama kelenjar keringat apokrin di beberapa tempat.
Bentuk kelenjar minyak berupa kantong-kantong yang mengalirkan sekresinya
melalui satu saluran bersama yang bermuara pada saluran folikel rambut. Sifat
sekresi kelenjar minyak adalah holokrin, yaitu mesekresikan bersama-sama
dengan sel-sel yang dilepaskan dari dindingnya (hncurnya sel-sel kelenjar)
(Tranggono dan Latifah, 2007).
Kelenjar sebasea termodifikasi yang membuka langsung di permukaan
kulit terdapat pada salah satunya yaitu mukosa pipi. Kelenjar ini dalam jumlah
banyak saat bayi lahir karena pengaruh hormon ibu, kemudian segera
mengalami atrofi dan tidak membesar lagi sampai pubertas. Pada masa
pubertas mengalami pembesaran kelenjar dan tebentuknya sebum yang
dirangsang oleh hormon androgen, hormon pertumbuhan dan hormon tiroid.
Mantel lemak kulit atau sebum di permukaan kulit merupakan lapisan
lemak yang sebagian besar berasal dari kelenjar sebasea dan sebagian kecil
berasal dari lemak sel-sel epidermis yang disebut “mantel lemak” kulit, yang
terdiri dari trigliserida, asam-asam lemak, squalene, wax, cholesterol dan
ester-esternya, fosfolipid dan parafin. Bahan utama dalam lemak di kelenjar
sebasea adalah squalene sedangkan lemak epidermis adalah cholesterol
(Tranggono dan Latifah, 2007).
Mekanisme Ekskresi Keringat
Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus. Hipotalamus dapat
menghasilkan enzim bradikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar
keringat. Jika pusat pengatur suhu mendapat rangsangan, misalnya berupa
perubahan suhu pada pembuluh darah, maka rangsangan tersebut diteruskan
oleh saraf simpatetik ke kelenjar keringat. Selanjutnya kelenjar keringat akan
menyerap air garam dan sedikit urea dari kapiler darah dan kemudian

4
mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat. Keringat akan
menguap dan menyerap panas tubuh sehingga suhu tubuh kembali normal
(Sudjadi dan Laila, 2006).

5
BAB III
ACNE
3.1 Definisi
Acne berasal dari bahasa yunani yaitu akne yang berarti sebuah titik.
Sekitar 80% dari semua orang pernah mengalami timbulnya bintik-bintik.
Acne bisa sangat ringan, tetapi juga dapat menjadi parah, besar dan tidak
sedap dipandang mata.
Acne adalah gangguan yang umum terjadi akibat terlalu aktifnya kelenjar
sebasea yang terlalu banyak mengeluarkan minyak (sebum) ke dalam kulit.
Hal ini ditandai dengan terjadinya pembentukan bintil-bintil hitam, bintil-
bintil putih, dan jerawat (Trident Referensi Publishing, 2009).
Acne vulgaris merupakan suatu gangguan kronis pada duktus pilosebasea
dengan peningkatan produksi sebum, hiperkornifikasi duktus, hubungan
simbiosis yang tidak lazim dengan mikroorganiisme komensal
(Propionobacterium acnes), dan inflamasi kulit.
Acne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea
yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri
(Wasitaatmadja, 2007).
Jerawat atau acne vulgaris adalah penyakit yang terjadi akibat
terganggunya aliran sebum oleh benda asing sehingga terbentuk pimple yang
diikuti infeksi ringan. Benda asing itu sendiri dinamakan comedo. Dengan
demikian, pangkal penyakit ini adalah adanya sebum yang terlalu banyak
diproduksi. Kelainan ini biasa muncul pada saat pubertas atau dewasa muda
yang mana kelenjar tersebut mulai aktif. Acne biasanya terjadi di wajah yaitu
di dahi, pipi, dan hidung. Selain itu jerawat juga dapat terjadi di dada dan
punggung. Acne menyebabkan semacam luka di kulit, penyembuhan dan
penanganan yang kurang baik dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut
di bekas lokasi jerawat (Wibowo, 2008)
Klasifikasi Acne
Ada banyak morfologi jerawat yaitu komedo, papula, pustula dan kista
(nodul inflamasi pada lemak) (the American Academy of Family Physicians,
2004).
Komedo adalah bintik-bintik kecil berwarna hitam pada kulit khususnya
wajah yang dihasilkan dari akumulasi sebum dan kotoran sehingga
menyumbat pori-pori. Awalnya komedo ini berupa kumpulan sebum yang
tampak seperti nodul putih di bawah kulit, akan tetepi karena ada interaksi
dengan oksigen di udara menyebabkan reaksi kimia terjadi dan membuat pori-
pori beserta isinya menghitam. (Jevuska, 2012)

Gambar 4. Komedo

6
Papula adalah lesi yang padat, menonjol dan teraba kecil karena
diameternya kurang dari 1 cm. Papula terangkat di atas permukaan kulit dapat
berupa soliter atau multipel (Astarina, 2015)

Gambar 5. Papula (Soekimin dan Alferraly, tth)

Pustula adalah lesi yang menonjol dansirkumskripta berdiameter kurang


dari 1cm dan berisi materi purulen yang membuat pustula menjadi putih
kuning (Kowalak, 2011)

Gambar 6. Pustula (Soekimin dan Alferraly, tth)


Kista (nodul inflamasi pada lemak) penonjolan pada permukaan kulit yang
mana rongganya berisi cairan baik nanah, darah, atau cairan.

Gambar 7. Cystic Acne

Menurut Price Wilson ( 2005 ), acne dibedakan menjadi :


1. Acne Ekskoriata
Terjadi pada individu yamg memanipulasi jerawat secara obsesif,
yang dapat menimbulkan jaringan parut yang banyak sekali
2. Acne konglobata
Bentuk acne kistik yang paling berat dengan kista profunda,
komedo multiple dan jaringan parut yang nyata, keadaan ini dapat
disertai dengan demam dan malaise dan pasien perlu dirawat di
Rumah sakit

7
3. Acne Koloidalis
Acne koloidalis memiliki jaringan parut dengan keloid multiple di
tempat-tempat terdapat lesi acne

Pada tahun 1990, American Academy of Dermatology mengembangkan


skala penilaian klasifikasi untuk acne vulgaris. Skala penilaian ini dibagi
menjadi jerawat ringan, sedang, dan berat. Berikut contoh gambar pada setiap
skala:
a) Skala ringan ditandai dengan adanya beberapa papula, pustula, dan
tidak ada nodul

Gambar 7. Jerawat ringan: Klien ini memiliki papula eritematosa


sedikit dan pustula terkadang disertai adanya komedo (Feldman, et al.
2004).

b) Skala sedang ditandai dengan klien dengan jerawat sedang atau


moderat memiliki beberapa banyak papula dan pustula, bersama
dengan beberapa beberapa nodul.

Gambar 8. Jerawat moderat: Klien ini memiliki banyak papula


eritematosa dan pustula, serta jaringan parut yang menonjol
(Feldman, et al. 2004).

c) Sedangkan klien dengan jerawat parah memiliki papula dan pustula


yang luas, serta banyak nodul.

8
Gambar 9. Jerawat berat: Klien ini memiliki pustula luas, papula
eritematosa, dan beberapa nodul dalam yang sangat meradang (Feldman, et al.
2004).

Tabel 1. Consensus conference on Acne clasification


Klasifikasi Komedo Papula/Pustula Nodul
Ringan <25 <10 -
Sedang >25 10-30 <10
Berat - >30 >10

Tabel 2. Klasifikasi derajat acne berdasarkan jumlah dan tipe lesi


(Cunliffe, 2001).
Derajat Komedo Papul/ Nodul, Inflamasi Jaringan
Pustula kista, sinus parut
Ringan <10 <10 - - -
Sedang <20 >10-50 - + ±
Berat >20-50 >50-100 ≤5 ++ ++
Sangat Berat >50 >100 >5 +++ +++
(-) tidak ada, (±) bisa ditemukan, (+) ada, (++) cukup banyak, (+++)
banyak sekali

3.2 Etiologi
Menurut Corwin (2009), penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi
banyak faktor yang berpengaruh.
1. Pembentukan sebum
Pembentukan sebum dirangsang oleh androgen, terutama
testosterone. Pembentukann tajam androgen pada perempuan dan
laki-laki selama pubertas merupakan penyebab munculnya acne
dengan tinkat keparahannya.
2. Bakteria
Mikroba yang terlihat pada terbentuknya acne adalah
Corynebacterium acnes, staphylococcus epidermidis, dan
Pityrosporum ovale. Dari ketiga mikroba ini, yang terpenting yakni

9
C. acnes, yang bekerja secara tak langsung. Dan di perparah
dengan hygiene yang kurang.
3. Herediter
Faktor herediter sangat berpengaruh pada besar dan aktifitas
kelenjar palit (glandula sebacea). Apabila kedua orang tua
mempunyai parut bekas acne, kemungkinan besar anaknya akan
menderita acne.
4. Hormon
Hormon androgen, hormon ini memegang peranan yang penting
karena kelenjar palit sangat sensitif terhadap hormon ini. Hormon
androgen berasal dari testis dan kelenjar anak ginjal (adrenal).
Hormon estrogen, pada keadaaan fisiologik, estrogen tidak
berpengaruh terhadap produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan
kadar gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis. Hormon
gonadotropin mempunyai efek menurunkan produksi sebum.
Progestrogen, dalam jumlah fisiologik, tak mempunyai efek
terhadap aktivitas kelenjar lemak. Produksi sebum tetap selama
siklus menstruasi, akan tetapi kadang-kadang progesteron dapat
menyebabkan acne premenstrual.
5. Diet
Banyak penelitian belum dapat menyimpulkan adanya hubungan
antara acne dengan asupan total kalori dan jenis makanan, walapun
beberapa penderita menyatakan acne bertambah parah setelah
mengkonsumsi beberapa makanan tertentu seperti coklat dan
makanan berlemak. Ada beberapa penelitian yang menemukan
bahwa produk olahan susu memperberat acne. Produk olahan susu,
mungkin juga makanan lain, mengandung hormon 5 α reduktase
dan prekursor DHT lain yang merangsang kelenjar sebasea. Selain
itu, acne dipengaruhi oleh hormon dan growth factors, terutama
insulin-like growth factor (IGF-1) yang bekerja pada kelenjar
sebasea dan keratinosit folikel rambut. Produk olahan susu
mengandung enam puluh growth factors, salah satunya akan
meningkatkan IGF-1 langsung melalui ketidakseimbangan
peningkatan gula darah dan kadar insulin serum. Makanan dengan
indeks glikemik tinggi juga meningkatkan konsentrasi insulin
serum melalui IGF-1 dan meningkatkan DHT sehingga
merangsang proliferasi sebosit dan produksi sebum (Kurokawa et
al, 2009).
6. Iklim
Cuaca yang panas dan lembab memperburuk acne. Hidrasi pada
stratum koreneum epidermis dapat merangsang terjadinya acne.
Pajanan sinar matahari yang berlebihan dapat memperburuk acne.

10
7. Lingkungan
Acne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah
industri dan pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.
8. Stres
Acne dapat kambuh atau bertambah buruk pada penderita stres
emosional.
9. Obat- obatan
Kortikosteroid oral kronik yang dipakai untuk mengobati penyakit
lain (seperti lupus eritematosus sistemik) dapat
menimbulkan pustule di permukaan kulit wajah, dada dan
punggung. Obat kontrasepsi oral dapat menyembuhkan acne tapi
pada sebagaina orang justru memperparah acne. Obat-obat
golongan lain yang memperberat acne bromide, yodida, defenitoin,
litium, hidrasit asam isonikotinat
10. Kosmetika
Pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu secara terus menerus
dalam kurun waktu lama, dapat menyebabkan suatu bentuk acne
ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup dengan beberapa
lesi. Papulopustular pada pipi dan dagu. Bahan yang sering
menyebabkan acne ini terdapat pada berbagai krim muka seperti
bedak dasar (foundation), pelembab (moisturiser), krem penahan
sinar matahari (sunscreen), krem malam (night cream) yang
mengandung bahan-bahan seperti lanolin, petrolatum, dan bahan
kimia murni (butil stearat, lauril alkohol, asam oleik).

3.3 Patofisiologi
Ada empat hal yang menjadi kunci patogenesis munculnya jerawat, yaitu:
hiperproliferasi keratinosit folikuler, produksi sebum yang berlebihan,
kolonisasi Propionibacterium acne, sertaproses inflamasi (Graham-Brown &
Burns, 2005).
Pertumbuhan kelenjar sebasea dan produksi sebum ada di bawah pengaruh
hormon androgen. Pada penderita acne terdapat peningkatan konversi hormon
androgen yang normal beredar dalam darah (testosteron) ke bentuk metabolit
yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron). Hormon ini mengikat reseptor
androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil
sebum (Harahap, 2000).
Acne juga mungkin berhubungan dengan perubahan komposisi lemak.
Sebum yang bersifat komedogenik tersusun dari campuran akualen, lilin, ester
dari sterol, kolesterol, lipid polar, dan trigliserida. Pada penderita acne,
terdapat kencederungan mempunyai kadar skualen dan ester lilin yang tinggi,
sedangakan kadar asam lemak terutama asam linoleik rendah. Mungkin hal ini
ada hubungannya dengan terjadinya hiperkeratinisasi pada saluran
pilosebasea. Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya

11
penumpukan korneosit (Harahap, 2000). Bertambahnya erupsi korneosit di
saluran pilosebasea, pelepasan korneosit yang tidak adequat, atau kombinasi
keduanya menyebabkan penumpukan korneosit dalam saluran pilosebasea.
Penumpukan korneosit dan sebum menyebabkan munculnya gambaran
komedonal (Bauman, 2009).
Kenaikan jumlah sebum berarti terjadi pula kenaikan kadar trigliserida,
yang merupakan salah satu komponen penyusun sebum. Trigliserida dipecah
oleh Propionibacterium acne menjadi asam lemak bebas yang bersifat iritatif
dan komedogenik. Asam lemak bebas menyebabkan peningkatan kolonisasi
Propionibacterium acne di kulit. Kenaikan sekresi sebum tidak disertai
kenaikan kadar asam linoleat dalam sebum. Defisiensi asam linoleat dalam
epitel folikel menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi
barrier dari epitel, yang kemudian membuat dinding komedo mudah tertembus
mediator inflamasi (Bauman, 2009).

3.4 Manifestasi Klinis


Menurut corwin (2009)
1. Lesi berupa komedo terbuka atau tertutup
Komedo tertutup lebih nudah diraba daripada dilihat. Komedo ini berupa
paula yang sangat kecil dengan titik atau penonjolan di tengah. Lesi ini
paling banyak terdapat di dahi dan pipi. Sedikit sekali terjadi peradangan
atau bahkan tidak ada. Komedo terbuka adalah folikel rambut tertutup dan
melebar, tetapi tidak jelas apa penyebab bercak-bercak hitam yang khas
itu. Lesi peradangan yang sembuh akan meninggalkan banyak bintik
hitam, terutama pada bahu dan tubuh bagian atas. Adanya komedo hitam
bersifat patognomonik (menimbulkan gejala atau keluhan) untuk acne
pada usia muda.
2. Papula dan Pustul
Pada sebagian besar pasien akne, timbul papula dan pustula. Papula dan
pustula dikenal baik sebagai bintik kecil berwarna merah atau pustula
berwarna dasar kemerahan. Keluhannya adalah rasa gatal atau sampai
terasa sakit. Papula cepat sekali timbul , sering hanya dalam beberapa jam
kemudian biasanya berkembang menjadi pustula. Sesudah beberapa hari
akan hilang. Seringkali lesi bisa muncul kembali di tempat yang benar-
benar sama.

3. Nodul, kista
Dengan semakin bertambah parahnya keadaan dan semakin parahnya
peradangan, maka semakin bertambah besarlah lesi yang yang dapat diraba
dan dilihat yang berakibat pada terbentuknya nodul dan kista yang sangat
dalam. Pada kebanyakan pasien hanya timbul beberapa saja, tapi pada

12
beberapa orang bisa sangat banyak, keadaan ini disebut acne konglobata.
Lesi tersebut sering sangat menganggu dan juga bertahan jauh lebih lama
dibandingkan kebanyakan kelainan kulit superfisial yang lain, beberapa
lesi akan menjadi kronis dan akibatnya bisa terbentuk kista yang
permanen.
4. Jaringan parut (Scar)

5. Lesi terdapat di wajah, punggung dan bahu


6. Pada wanita sering meningkat pada sebelum atau selama periode haid
sewaktu kadar estrogen rendah
Menurut Graham (2002), distribusi khas acne yaitu:
1. Wajah, setiap bagian wajah bisa terkena
2. Leher, terutama bagian belakang
3. Dada bagian depan, berbentuk V terbalik mulai dari bahu sampai
xifisternum
4. Bahu
5. Telinga
6. Acne yang berat bisa meluas ke bawah tangan , sepanjang seluruh bagian
tengah punggung, dan terus ke bokong

3.5 Pemeriksaan Diagnostik


1. Diagnosa akne ditegakkan atas dasar klinis dan pemeriksaan ekskohleasi
sebum, yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan komedo ekstraktor
(sendok Unna). Sebum yang menyumbat folikel tampak sebagai massa
padat seperti lilin atau massa lebih lunak seperti nasi yang ujungnya
kadang berwarna hitam (Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
2. Pemeriksaan hispatologis mamperlihatkan adanya gambaran yang tidak
spesifik berupa sebukan sel radang kronis di sekitar folikel pilosebasea
dengan massa sebum di dalam folikel. Pada kista, radang sudah
menghilang diganti dengan jaringan ikat pembatas massa cair sebum yang
bercampur dengan darah, jaringan mati, dan keratin yang lepas
(Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
3. Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai peran
pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan di laboratorium
mikrobiologi yang lengkap untuk tujuan penelitian, namun hasilnya sering
tidak memuaskan (Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).

13
4. Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit (skin surface
lipids) dapat pula dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne vulgaris kadar
asam lemak bebas (free fatty acid) meningkat dan karena itu pada
pencegahan dan pengobatan digunakan cara untuk menurunkannya
(Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
5. Pemeriksaan penunjang hanya diindikasikan apabila dicurigai adanya
sindrom Cushing atau viriliasi. Ultrasonografi pelvis dapat menunjukkan
ovarium polikistik (Davey 2005).

3.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan akne meliputi usaha untuk mencegah terjadinya erupsi
(preventif) dan usaha untuk menghilangkan jerawat yang terjadi (kuratif).
Kedua usaha tersebut harus dilakukan bersamaan mengingat bahwa kelainan
ini terjadi akibat pengaruh berbagai faktor (multifaktoral), baik faktor internal
dari dalam tubuh sendiri, maupun faktor eksternal yang kadang-kadang tidak
dapat dihindari oleh penderita (Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
Pencegahan
a. Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan
perubahan isi sebum dengan cara:
1) Diet rendah lemak dan karbohidrat. Meskipun hal ini
diperdebatkan efektivitasnya, namun bila pada anamnesis
menunjang hal ini dapat dilakukan.
2) Melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit
dari kotoran dan jasad renik yang mempunyai peran pada
etiopatogenesis akne vulgaris.
b. Menghindari faktor pemicu terjadinya akne, misalnya:
1) Hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olahraga sesuai kondisi
tubuh, hindari stres.
2) Penggunaan kosmetika secukupnya, baik banyaknya maupun
lamanya.
3) Menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalnya minuman keras,
pedas, rokok, lingkungan tidak sehat dan sebagainya.
4) Menghindari polusi debu, pemencetan lesi yang dapat
memperberat erupsi yang telah terjadi.
c. Memberikan informasi yang cukup pada penderita mengenai penyebab
penyakit, pencegahan dan cara maupun lama pengobatannya serta
prognosisnya. Hal ini penting agar penderita tidak underestimate
terhadap usaha penatalaksanaan yang dilakukan yang akan membuat
putus asa atau kecewa.

Pengobatan
1. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan
komedo, menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi,
terdiri atas:

14
a. Bahan iritan yang dapat mengelupas kulit (peeling), misalnya
sulfur (4-8%), resorsinol (1-5%), asam salisilat (2-5%). Digunakan
pula asam alfa hidroksi (AHA), misalnya asam glikoat (3-8%).
Efek samping obat iritan dapat dikurangi dengan cara pemakaian
berhati-hati dimulai dengan konsentrasi yang paling rendah.
b. Antibiotika topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam
folikel yang berperan dalam etiopatogenesis akne vulgaris,
misalnya oksi tetrasiklin (1%), eritromisin (1%), klindamisin (1%).
c. Antiperadangan topikal, salep atau krim kortikosteroid kekuatan
ringan atau sedang (hidrokortison 1-2,5%) atau suntikan intralesi
kortikosteroid kuat (triamsinolon asetonid 10 mg/cc) pada lesi
nodulo-kistik.

2. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktivitas
jasad renik di samping dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan
produksi sebum, dan mempengaruhi keseimbangan hormonal, terdiri
atas:
a. Anti bakteri sistemik: tetrasiklin (250mg-1,0gr/hari), eritromisin
(4x250mg/hari), doksisiklin (50mg/hari), trimetropin
(3x100mg/hari).
b. Obat hormonal untuk menekan produksi androgen dan secara
kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar sebasea,
misalnya estrogen (50mg/hari selama 21 hari dalam sebulan) atau
antiandrogen siproteron asetat (2mg/hari). Pengobatan ini ditujukan
untuk penderita wanita dewasa akne vulgaris beradang yang gagal
dengan terapi lain. Kortikosteroid sistemik diberikan untuk
menekan peradangan dan menekan sekresi kelenjar adrenal,
misalnya prednison (7,5 mg/hari) atau deksametason (0,25-
0,5mg/hari).
c. Vitamin A dan retinoid oral. Vitamin A digunakan sebagai
antikeratinisasi (50.000-150.000 ui/hari) sudah jarang digunakan
sebagai obat akne karena efek sampingnya. Iso tretinoin (0,5-
1mg/kgBB/hari) merupakan derivat retinoid yang menghambat
produksi sebum sebagai pilihan pada akne nodulokistik atau
konglobata yang tidak sembuh dengan pengobatan lain.
d. Obat lainnya misalnya antiinflamasi non-steroid ibuprofen
(600mg/hari), dapson (2x100mg/hari), seng sulfat (2x200mg/hari).

15
3. Bedah kulit
Tindakan bedah kulit kadang-kadang diperlukan terutama untuk
memperbaiki jaringan parut akibat akne vulgaris meradang yang berat
yang sering menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertrofik
maupun yang hipotrofik. Jenis bedah kulit yang dipilih disesuaikan
dengan jenis dan kondisi jaringan parut yang terjadi.
a. Bedah skalpel dilakukan untuk meratakan sisi jaringan parut yang
menonjol atau melakukan eksisi elips pada jaringan parut
hipotrofik yang dalam.
b. Bedah listrik dilakukan pada komedo tertutup untuk mempermudah
pengeluaran sebum atau pada nodulo-kistik untuk drainase cairan
isi yang dapat mempercepat penyembuhan.
c. Bedah kimia dengan asam triklor asetat atau fenol untuk meratakan
jaringan parut yang berbenjol.
d. Bedah beku dengan bubur CO2 beku atau N2 cair untuk
mempercepat penyembuhan radang.
e. Dermabrasi untuk meratakan jaringan parut hipo dan hipertrofi
pasca akne yang luas.

3.7 Komplikasi
Komplikase akne dapat meliputi (Kowalak, et al. 2011):
1. Akne konglobata.
2. Pembentukan parut (jika kondisi jerawat parah).
3. Kehilangan kepercayaan diri.
4. Abses atau infeksi sekunder oleh bakteri.

3.8 Prognosis
Umumnya prognosis penyakit baik. Akne vulgaris umumnya sembuh
sebelum mencapai usia 30-40an. Jarang terjadi akne vulgaris yang menetap
sampai tua atau mencapai gradasi sangat berat sehingga perlu dirawat-inap di
rumah sakit (Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).

16
3.9 WOC
Keratinisasi abnormal Unit polisebasea Bakteri
pubertas
Pada follicular epithelium

Penumpukan sebum + Propionibacterium


↑ hormon
keratin acnes
endrogen ↑ produksi keratin

↑proliferasi & Produksi protease,


Follicular plugging
kolonisasiP. acnes hyaluronidase, lipase
↑kerja kel.
sebasea
Obstruksi folicel
sebasius Skin Injury
↑ sebum
Interaksi host-patogen

Penumpukan Obstruksi folicel ACNE Inflammatory acne


sebum sebasius

 Papula
Non-Inflammatory Acne Inflamasi  Pustular
 Nodular
Perubahan pada kulit dan
Komedo Terbentuknya
wajah : Lesi, jar. Parut
pus
Hiperpigmentasi Lesipadajaringan

Black head (tertutup) MK : Gangguan MK : Gangguan rasa MK : Kerusakan


White Head (Terbuka) Citra Tubuh Nyaman -Nyeri Integritas kulit

MK: Hipertermia

17
BAB IV
Asuhan Keperawatan Acne

4.1 Pengkajian
1. Identitas klien
Acne sering dijumpai pada remaja dan dewasa muda, dan berawal pada
masa pubertas. Acne biasanya lebih sering dan parah pada anak laki-laki.
Orang dewasa, terutama wanita, dapat mengalami acne rekuren.
Acne umum terjadi pada masa remaja, sebanyak 1% pria dan 5%
wanita membutuhkan terapi sampai berusia 40 tahun.
Onset biasanya terjadi saat menginjak remaja. Puncak keparahan acne
terjadi lebih dini pada anak perempuan daripada anak laki-laki. Pada
beberapa orang gangguan ini bisa berlangsung lebih lama, dengan lesi
yang terus berkembang hingga usia dewasa.
Identitas meliputi:
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Usia
d. Pekerjaan
e. Alamat, dan lain-lain

2. Keluhan utama
Seborea, komedo, papula, pustule, nodul, kista, dan jaringan parut
yang tersebar pada muka, leher, punggung, dan dada.
Komedo, papula dan pustule pada bahu, hidung, dagu, dada bagian
atas dan punggung. Dalam kasus yang berat, seluruh wajah mungkin
terlibat dan lesi mungkin menyembuh dengan pembentukan jaringan parut.
Kulit biasanya berminyak.
Biasanya keluhan yang dirasa paling mengganggu yaitu adanya rasa
nyeri dan kurangnya rasa percaya diri.

3. Riwayat penyakit sekarang


Klien menceritakan tanda atau gejala atau perubahan yang dialami dan
sejak kapan munculnya acne itu sendiri.
Lesi acne bervariasi tergantung pada waktu. Sebagian besar pesien
menyadari adanya fluktuasi yang besar baik dalam hal jumlah maupun
tingkat keparahan bintik-bintik, sedangkan pada gadis remaja, hal itu
seringkali berhubungan dengan siklus menstruasi. Keadaan ini sering
manjadi bertambah buruk karena adanya tekanan psikologis.

4. Riwayat penyakit dahulu


Perlu ditanyakan pernah menderita acne atau tidak pada saat anak-
anak. Acne yang khas kadang-kadang timbul pada bayi dan anak-anak
(terutama laki-laki), biasanya usia 3-12 bulan. Walaupun lesi ini
mengihilang sesudah 4-5 tahun, anak remaja sering kembali mendapatkan
gangguan acne yang sangat parah.

18
5. Riwayat kesehatan keluarga
Sebagian individu mungkin secara genetis rentan terhadap acne, yang
mungkin berkaitan dengan sensitivitas berlebihan kelenjar sebasea
terhadap androgen.

6. Pola hidup (Life style)


Pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu, secara terus-menerus
dalam waktu yang lama dapat menyebabkan suatu bentuk acne ringan
yang terutama terdiri dari komedo tertutup dengan beberapa lesi pada pipi
dan dagu.
Kebiasaan jarang menjaga kebersihan kulit juga dapat memicu
timbulnya acne.

7. Pengkajian psikososial
Dalam bukunya, Graham-Rowbin (2005) menjelaskan bahwa adanya
acne dapat membuat hidup menjadi tidak menyenangkan, dan acne sering
sekali terjadi pada orang-orang yang berusia belasan dan dua puluhan
tahun, yang merupakan kelompok umur yang paling tidak siap
menghadapi dampak psikologis acne.
Bagian wajahlah yang paling sering terkena, dan bagi remaja wajah
bernilai penting, yang berkaitan dengan pengembangan citra dirinya.
Dampak psikologis dari acne tidak selalu berhubungan dengan derajat
keparahan sebagaimana yang dianggap orang-orang. Seorang anak muda
bisa menghabiskan waktunya merengungi nasibnya dengan berlama-lama
di depan cermin, tidak peduli apakah yang tampak di sana hanya beberapa
bintik atau ratusan.

8. Pemeriksaan fisik
a. Warna
Bila muncul komedo, warnanya tergantung dari tipenya, yaitu
tertutup (whitehead) dan terbuka (blackhead). Komedo tertutup lebih
mudah diraba dan dilihat. Sedangkan komedo tertutup adalah folikel
rambut yang tertutup dan melebar, tetapi tidak jelas apa penyebab
bercak-bercak hitam yang khas itu.
Pada sebagian besar klien acne, timbul papula dan pustula. Papula
dan pustula dikenal baik sebagai bintik-bintik merah atau pustula
dengan dasar yang kemerahan.
Bila sembuh, lesi dapat meninggalkan eritema dan hiperpigmentasi
pasca inflamasi.

b. Moisture
Kelembapan kulit yang dikaji adalah tingkat hidrasi kulit terhadap
basah dan minyak. Tanda fisik pertama yang perlu diperhatikan adalah
wajah dan tubuh bagian atas menjadi sangat berminyak akibat
peningkatan produksi sebum

19
Walaupun hal ini normal terjadi pada masa pubertas, tetapi pada
akne produksi sebum sangat berlebihan.

c. Temperatur
Dikaji dengan dorsal tangan. Pada area yang terdapat lesi, suhunya
lebih tinggi daripada area kulit yang lainnya. Hal ini disebabkan karena
adanya proses inflamasi pada lesi tersebut.

d. Texture
Palpasi tekstur kulit dengan menekan secara lembut dengan ujung
jari . Pada acne, ada lesi superficial yang biasanya muncul 5 sampai 10
hari dan tidak menimbulkan bekas, tapi lesi yang lebih besar biasanya
sampai berminggu-minggu dan menimbulkan bekas.

e. Turgor
Cara mengkajinya adalah dengan mengukur seberapa lama kulit
dan jaringan dibawahnya kembali ke bentuk awal setelah ditarik.
Biasanya pada kasus acne, turgor kulit normal yaitu < 3 detik.

f. Edema
Edema adalah penumpukan cairan yang berlebihan dalam jaringan.
Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperature,
bentuk, mobilisasi. Biasanya pada kasus acne, tidak ditemukan edema.

g. Odor
Biasanya apabila lesi acne dipencet, akan mengeluarkan cairan
yang berbau.

h. Lesi
Akan terbentuk lesi (polimorf). Lesi yang khas adalah komedo.
Bila terjadi peradangan akan terbentuk papula, pustula, nodul, dan
kista. Bila sembuh, lesi dapat meninggalkan eritema dan
hiperpigmentasi pasca inflamasi, bahan dapat terbentuk sikatrik seperti
cetakan es yang atrofik dan keloid. Lesi terutama timbul di daerah
yang banyak mempunyai kelenjar palit, seperti muka, punggung, leher,
dada, bahu, dan telinga.

4.2 Analisa Data


Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: Klien mengeluh Androgen merangsang Nyeri akut
nyeri pada area acne. prosuksi sebum
Wajah klien tampak
meringis. Folikel rambut terutama
yang mengandung
DO: kelenjar sebasea besar
P: Nyeri dirasakan saat (pada wajah, leher,

20
acne telah memerah. dada, dan punggung)
Q: Tumpul menjadi tersumbat
R: Pada area
terbentuknya acne. Di dalam folikel ini,
S: 5 (1-10) bakteri anaerob obligat
T: Sewaktu-waktu (Propionibacterium
acnes) mengadakan
proliferasi

Organisme ini bereaksi


pada sebum,
mengeluarkan zat-zat
kimia yang
menyebabkan
peradangan

Zat-zat kimia tersebut


bocor ke dermis di
sekitarnya

Tubuh memberikan
respon inflamasi yang
intensif

Nyeri akut

DS: Klien mengatakan Terbentuknya Kista Kerusakan integritas


adanya komedo dan kulit
kulit tidak rata Setelah sembuh
DO:
-Tampak ada jaringan Terbentuk sikatrik
sikatrik seperti cetakan seperti cetakan es yang
es yang atrofik dan atrofik dan keloid
keloid.
- Terdapat kista Kerusakan integritas
kulit

DS: Klien mengatakan Terbentuknya seborea, Risiko infeksi


adanya kemerahan pada komedo, papula,
kulit pustule, nodul
DO: Tampak
kemerahan pada kulit Inflamasi
disekitar acne
Klien cenderung
memanipulasi lesi

21
Risiko infeksi

DS: Klien mengeluh Acne Gangguan body image


tidak percaya diri
dengan penampilannya Perubahan tampilan
saat ini. wajah

DO: Seorang anak Rasa percaya diri


muda bisa terganggu
menghabiskan
waktunya merenungi Gangguan citra tubuh
nasibnya dengan
berlama-lama di depan
cermin

4.3 Diagnosa
a. Kerusakan integritas kulit b.d terbentuknya sikatrik seperti cetakan es
yang atrofik dan keloid
b. Nyeri akut b.d terbentuknya seborea, komedo, papula, pustule, nodul,
inflamasi secara sekunder.
c. Risiko infeksi b.d peradangan akut akibat manipulasi lesi.
d. Gangguan citra tubuh b.d rasa malu dan frustrasi terhadap tampilan
diri.

4.4 Intervensi
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawat Tujuan dan Intervensi
an/ Kriteria Hasil
Masalah
Kolaborasi
Kerusakan NOC : NIC : Pressure Management
integritas kulit Tissue Integrity :  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
berhubungan Skin and  Hindari kerutan pada tempat tidur
dengan Mucous  Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Perubahan status Membranes  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
metabolik Wound Healing :  Monitor kulit akan adanya kemerahan
(hormon) primer dan  Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan
sekunder  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Setelah  Monitor status nutrisi pasien
dilakukan  Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
tindakan  Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan
keperawatan  Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka,
selama….. karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan nekrotik, tanda-
kerusakan tanda infeksi lokal, formasi traktus
integritas kulit  Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka
pasien teratasi  Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP, vitamin
dengan kriteria  Cegah kontaminasi feses dan urin

22
hasil:  Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril
 Integritas kulit  Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka
yang baik bisa
dipertahankan
(sensasi,
elastisitas,
temperatur,
hidrasi,
pigmentasi)
 Tidak ada
luka/lesi pada kulit
 Perfusi jaringan
baik
 Menunjukkan
pemahaman
dalam proses
perbaikan kulit
dan mencegah
terjadinya sedera
berulang
 Mampu
melindungi kulit
dan
mempertahankan
kelembaban kulit
dan perawatan
alami
 Menunjukkan
terjadinya proses
penyembuhan
luka

23
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawat Tujuan dan Intervensi
an/ Kriteria Hasil
Masalah
Kolaborasi
Nyeri akut NOC : NIC :
berhubung  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
an dengan:  pain control, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
kerusakan  comfort level  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
jaringan Setelah  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dilakukan dukungan
tinfakan  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
keperawatan ruangan, pencahayaan dan kebisingan
selama ….  Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pasien tidak  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
mengalami  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,
nyeri, dengan distraksi, kompres hangat/ dingin
kriteria hasil:  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ……...
 Mampu mengontrol  Tingkatkan istirahat
nyeri (tahu penyebab  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
nyeri, mampu lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari
menggunakan tehnik prosedur
nonfarmakologi untuk  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
mengurangi nyeri, pertama kali
mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri
 Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
 Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
 Tanda vital dalam
rentang normal
 Tidak mengalami
gangguan tidur

24
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawat Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
an/
Masalah
Kolaborasi
Risiko NOC : NIC :
infeksi  Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
berhubun  Knowledge : Infection control  Batasi pengunjung bila perlu
gan  Risk control  Cuci tangan setiap sebelum dan
dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesudah tindakan keperawatan
Faktor risiko selama…… pasien tidak mengalami infeksi  Gunakan baju, sarung tangan
Kerusakan dengan kriteria hasil: sebagai alat pelindung
jaringan dan  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi  Ganti letak IV perifer dan
peningkatan  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah dressing sesuai dengan petunjuk
paparan timbulnya infeksi umum
lingkungan  Jumlah leukosit dalam batas normal  Gunakan kateter intermiten untuk
 Menunjukkan perilaku hidup sehat menurunkan infeksi kandung
 Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam kencing
batas normal  Tingkatkan intake nutrisi
 Berikan terapi
antibiotik:.................................
 Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Monitor adanya luka
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

25
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawata
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
n/ Masalah
Kolaborasi
Gangguan NOC: NIC :
body image  Body image Body image enhancement
berhubungan  Self esteem - Kaji secara verbal dan nonverbal
dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. respon klien terhadap tubuhnya
penyakit gangguan body image - Monitor frekuensi mengkritik dirinya
pasien teratasi dengan kriteria hasil: - Jelaskan tentang pengobatan,
 Body image positif perawatan, kemajuan dan prognosis
 Mampu mengidentifikasi kekuatan personal penyakit
 Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh - Dorong klien mengungkapkan
 Mempertahankan interaksi sosial perasaannya
- Identifikasi arti pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
- Fasilitasi kontak dengan individu lain
dalam kelompok kecil

26
BAB V
ROSACEA

5.1 Definisi
Rosacea adalah kondisi kulit non-jaringan parut tahan lama dari wajah
yang sering salah didiagnosis sebagai jerawat dewasa. Ini bervariasi dalam
tingkat keparahan dan tidak selalu memburuk dengan waktu (Paul M.
Friedman, MD, 2015).
Rosasea adalah Penyakit kulit yang menyebabkan Flusing ( kemerahan )
di wajah. Dibagian yang terkena , terjadi dilatasi kronik kapiler superficial
dan hipertropi folikel sebasea, erupsi populopustula merupakan komplikasi
tersering (Brooker, 2005).
Rosasea adalah penyakit kulit yang biasanya terjadi pada seseorang
antara usia 40 dan 60 tahun ditandai dengan adanya eritema yang jelas dan
pustule dan papula superfisial pada bagian tengah wajah. (Price, 2005)
Rosacea adalah ruam wajah umum dewasa. Rosacea memiliki tiga tahap.
Pada tahap pertama wajah akan memerah. Kemerahan ini seringkali terjadi
setelah terpapar udara dingin atau iritan seperti sabun. Seiring waktu,
pembuluh darah kecil mengembang sehingga membuat kemerahan lebih
nyata. Banyak klien akan mengembangkan sensasi kulit terbakar dan terasa
kaku. Kulit terasa seperti terbakar ketika terpapar sinar matahari ringan,
tersenyum, mengerutkan kening, atau menyipitkan mata. Pada tahap kedua,
kemerahan mencakup area yang lebih besar dari wajah. Sedikit
pembengkakan, jerawat, dan pustula berkembang. Hal ini terutama terlihat di
hidung, pertengahan dahi, dan dagu. Pori-pori wajah yang menonjol dapat
berkembang. Tahap ketiga ditandai dengan pembengkakan hidung, tengah
wajah dan mungkin telinga. Tahap ini dikenal sebagai rhinofima. Kebanyakan
klien sampai ke tahap ketiga dari rosacea (Astarina, 2015).

5.2 Etiologi
Etiologi yang tidak diketahui menjadikan beberapa faktor presipitasi yang
dapat memicu timbulnya rosaseae yaitu kopi, makanan pedas, alkohol dan
cuaca buruk. Kelainan ini bisa timbul karena kerusakan kosmetik jangka
panjang pada hidung terlihat ada pembesaran disertai perubahan warna –
rinofima).
Penyebab Rosacea kurang dipahami. Para ahli percaya bahwa ada
penyebab vaskular atau pembuluh darah adalah komponen yang signifikan
terhadap penyebab rosacea (Paul M. Friedman, MD, 2015).
Menurut Friedman (Paul M. Friedman, MD, 2015) ada beberapa faktor
yang dapat memperburuk rosacea, yaitu:
a) Paparan cuaca - matahari, dingin, angin

27
b) Makanan pedas, minuman panas atau makanan, keju, coklat dan
alkohol
c) Obat-obatan (menghindari obat-obatan yang memperluas pembuluh
darah, dan steroid topikal)
d) Kosmetik (menghindari berminyak, kering, atau produk wangi)
e) Stres, kecemasan, malu dan tawa
f) Menopouse

5.3 Patofisiologi
Rosacea dimulai dengan timbulnya erythema di wajah, pipi dan hidung.
Flushing dan kemerahan di wajah adalah gejala paling umum. Papula,
pustula, cysts, dan pembesaran pembuluh darah pada wajah (telangiectasia)
juga muncul pada kasus rosacea. Rosacea kronis bisa menimbulkan penebalan
kulit distal pada hidung secara ireguler dan bulat (rhinophyma), dengan
warna-merah keunguan dan folicle yang melebar (Monahan, et. al, 2007).
Rosacea adalah penyakit kronis yang etiologinya tidak diketahui yang
mempengaruhi pusat wajah dan leher. Berdasarkan manifestasi klinisnya
(flushing, inflamasi kronis, fibrosis). Penyakit ini tidak mematikan, namun
setidaknya sudah 13 juta orang terkena oleh penyakit yang tidak bisa
disembukan ini. Hal ini dikarakteristikkan oleh dua komponen yang tampak
yaitu perubahan pembuluh darah meliputi eritema yang hilang timbul atau
menetap dan kemerahan dan erupsi dari pembentukan acne dengan papula,
pustula, kista dan hiperplasia sebum. Tidak ada korelasi antara jumlah
ekskresi sebum dan keparahan dari rosacea. Onset paling banyak terjadi antara
umur 30-50 tahun. Kasus pediatrik juga telah dilaporkan. Walaupun
perempuan terkena 3x lebih sering dibanding laki-laki tetapi penyakit ini lebih
parah ketika terjadi pada laki-laki. Rosacea lebih umum terjadi pada kulit yang
terang, individu yang berkulit putih tetapi juga mungkin terjadi pada tipe kulit
gelap. Diperkirakan 10% masyarakat Swedia mengalami rosacea (Arndt,
2002).
Terdapat spekulasi bahwa cacat dalam jalur saraf aferen trigeminal
berkontribusi atas kecenderungan kemerahan pada wajah. Seiring berjalannya
waktu, setelah serangan kemerahan berulang, pembuluh menjadi ektatis dan
ada vasodilatasi permanen. Cairan panas diperkirakan meningkatkan eritema
dan kemerahan ketika mereka memanaskan jaringan mukosa mulut, mengarah
ke pertukaran panas yang berlawanan dengan arteri karotid. Sinyal lebih lanjut
dari tubuh karotid kemudian diteruskan ke hipotalamus (termostat tubuh),
dimana sinyal tubuh untuk mengusir panas melalui pembilasan dan
vasodilatasi karena peningkatan dirasakan dalam suhu inti tubuh.

5.4 Manifestasi Klinis


Menurut Jhonson (2012) manifestasi yang muncul diantaranya adalah:
1. Tipe Eritematotelangiektasis (Erythematotelangiectatic type):
a) Flushing dan kemerahan di tengah wajah
b) Pembuluh darah terlihat rusak
c) Kulit bengkak

28
d) Kulit tampak sensitif
e) Kulit terasa menyengat dan terbakar
f) Kulit bersisik kering dan kasar
2. Tipe papulopustular (Papulopustular rosasea):
a) Kulit yang sangat merah dengan inflamasi persisten yang
dikarakterkan oleh papula kecil
b) Kulit berminyak
c) Kulit sensitif
d) Pembuluh darah rusak yang terlihat
e) Edem dapat muncul
3. Rosasea phymatous (phymatous rosasea):
a) Tekstur kulit bergelombang
b) Kulit tebal di hidung
c) Kulit tebal di dagu, dahi, pipi, dan telinga
d) Pori-pori besar
e) Pembuluh darah terlihat rusak
4. Rosasea okular (Ocular rosasea):
a) Mata merah dan berair
b) Mata yang terasa berpasir
c) Terbakar atau menyengat sensasi di mata
d) Mata kering dan gatal
e) Mata yang sensitif terhadap cahaya
f) Pembuluh darah rusak pada kelopak mata

5.5 Pemeriksaan Diagnostik


Tidak ada tes diagnostik yang spesifik sebab diagnosis utamanya
didasarkan atas gambaran klinik saja. Kultur bakteri dapat dilakukan jika
dicurigai terdapat infeksi Staphylococcus aureus dan secara khusus infestasi
Demodex folliculorum. (Wolff & Johnson 2012)

5.6 Penatalaksanaan
1. Pengobatan non medikamentosa
Klien rosasea memiliki dasar kulit yang rentan terhadap bahan kimia
dan cedera fisik, jadi hindari agen yang menyebabkan iritasi, seperti sabun,
kosmetik, parfum dan iritasi lainnya. Tabir surya dianjurkan pada
penderita rosasea, karena dapat menahan sinar UVA dan UVB dengan
(sun protection factors) SPF 15 atau lebih tinggi. Klien harus diberikan
edukasi tentang bagaimana penggunaan tabir surya tersebut dan konseling
penggunaan kosmetik. Massase fasial dahulu dianjurkan dilakukan, namun
hasilnya tidak jelas. Diet rokok, alkohol, kopi, pedas dapat dilakukan
untuk mengurangi rangsangan eritem. Bedah kulit, skalpel atau dermabrasi
dilakukan untuk rinofima dan bedah listrik untuk telangiektasis
(Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).

29
2. Topikal
Antibiotik topikal kadang-kadang efektif seperti tetrasiklin,
klindamisin dan eritromisin, dalam bentuk salap 0.5-2.0%. Eritromisin
lebih baik hasilnya dibandingkan yang lainnya (Wasitaatmaja dalam
Djuanda, et al. 2007).
Metronidazol 0,75% gel atau krim aman dan efektif untuk lesi papul
dan pustul tetapi tidak mempengaruh eritema, telangiektasis atau flushing
(Barankin & Freiman 2006).
Imidazol mempunyai efek anti inflamasi, pada bakteri gram positif dan
dapat ditoleransi dengan baik pada penderita rosasea dengan kulit yang
sensitif. Ketokonazol dalam bentuk krim dipakai 1-2kali/hari (Harahap
2000).
Isotretinoin krim 0.2% juga dapat diberikan dan memberikan efek
yang baik. Antiparasit juga dapat diberikan untuk membunuh D.
folikulorum, misalnya lindane, krotamitone, atau benzoil benzoat.
Pemberian kortikosteroid kekuatan rendah (krim hidrokortison 1%) hanya
dianjurkan pada stadium berat (Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).

3. Pengobatan sistemik
Obat-obat yang diberikan yaitu seperti tetrasiklin, dosis yang diberikan
4x250 mg selama 3-4 minggu sebelum makan, diturunkan perlahan-lahan
dengan dosis 250 mg/1-2hari, eritromisin(4x250 mg/hari),
doksisiklin(50mg/hari), dan minosiklin,dosis yang sama dengan dosis akne
vulgaris, memberikan efek yang baik karena efek antimikroba dan anti-
inflamasinya. Kemudian dosis diturunkan bila keadaan membaik
(Wasitaatmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
Isotretinoin (13-cis-retinoic acid) merupakan suatu retinoid sintetis
derivate dari retinol (Vitamin A) yang terutama digunakan peroral dalam
terapi akne vulgaris nodulokistik refraktori. Isotretinoin juga diberikan
untuk penderita rosasea yang resisten terhadap antibiotik, tetapi
pemakaiannya perlu dipertimbangkan karena dapat menyebabkan kelainan
pada mata. Dosis isotretinoin 0.5-1.0/kgBB. Penggunaannya harus diamati
secara ketat (Wasita atmaja dalam Djuanda, et al. 2007).
Metronidazol oral biasanya efektif untuk semua tipe rosasea, terutama
yang tidak respon terhadap tertasiklin, karena memiliki efek samping
metronidazol digunakan sebagai obat pilihan kedua dan tidak dianjurkan
pada wanita hamil. Dosis metronidazol 2x500 mg/hari diberikan selama 6
hari, efektif baik stadium awal maupun lanjut (Wasita atmaja dalam
Djuanda, et al. 2007).
Kortikosteroid tidak boleh diberikan kecuali pada akne fulminans.
Pada keadaan ini kortikesteroid peroral dapat diberikan dalam jangka
pendek. Dosis 1 mg/hari selama 1 minggu untuk menekan reaksi,
kemudian diikuti dengan pemberian isotretinoin (Harahap 2000).

30
5.7 Komplikasi
Rinofima sering terdapat pada rosasea yang hebat dan mungkin
merupakan satu-satunya gejala. Sering ditemukan pada laki-laki dan
merupakan suatu pembengkakan yang menonjol dan tidak rata pada
hidung. Jaringan parut dapat terbentuk pada kasus yang parah, dan rasa
percaya diri dapat terganggu meski kondisi tidak buruk (Corwin, 2009).

5.8 Prognosis
Rosasea umumnya presisten, berangsurbertambah berat melalui episode
akut. Namun adapula yang remisi secara spontan(Wasitaatmaja dalam
Djuanda, et al. 2007).
Rosacea jika tidak dirawat dapat menjadi semakin banyak dan semakin
memburuk. Pada banyak orang rosacea terjadi dengan siklus dimana akan
menjadi banyak pada periodenya. Kemudian berkurang dan kembali
bertambah. Karena rosacea tidak memiliki penyembuh, perawatan dapat
mengontrol dan mengurangi tanda dan gejala.

31
5.9 WOC
Iklim Makanan Obat Infeksi Lainnya Genetik
(devisiensi
Perubahan Makanan bradikinin Demodek hormonal)
suhu hawa pedas, kopi, folliculum
dingin/panas, the, alkohol Flare
radiasi sinar
matahari Flushing Dilatasi pembuluh darah wajah dan
diikuti peradangan

Merusak pembuluh darah kulit


dan jaringan ikat dermal

Degenerasi elastotik pada dermis

Penyanggap ada dermis menurun

Vasodilatasi pembuluh darah dan


teleangiektasis

ROSACEA

Erythemato Papulo pustular rosasea Phymatous rosasea Ocular rosasea


telangiectatic

Inflamasi Penebalan pada wajah Mata kering/ berair,


Wajah terbakar
terasa terbakar dan
Papula pada muka gatal
Perih

MK: gangguan
integritas kulit MK: gangguan citra Sensitive terhadap
diri cahaya

Gangguan penglihatan

MK: Gangguan persepsi


sensori

32
BAB VI
Asuhan Keperawatan Rosacea

6.1 Pengkajian
1. Identitas klien
Menurut Graham-Bown (2005) dalam bukunya menjelaskan bahwa
yang paling sering terkena rosasea adalah wanita usia pertengahan,
walaupun juga dapat menyerang laki-laki tanpa memandang usia.
Identitas meliputi:
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Usia
d. Pekerjaan
e. Alamat, dan lain-lain

2. Keluhan utama
Kulit kemerahan (eritema), disertai papul dan pustule terutama pada
dahi, hidung, pipi, dan dagu.
Kemerahan pada wajah dan terbentuknya papula dan pustule inflamasi
secara sekunder, yang terutama terdapat pada pipi, dagu, dan dahi bagian
tengah.

3. Riwayat penyakit sekarang


Tidak didapatkan adanya komedo. Wajah mudah menjadi merah akibat
kepanasan atau alkohol. Pada laki-laki bisa timbul kelainan yang hebat
pada hidung, yaitu hyperplasia sebasea yang luas yang dikenal dengan
nama rinofima.
Wajah dapat kembali merah terang, bahkan jika terpajan sedikit sinar
matahari atau alkohol, dan papul serta pustule dapat timbul.
Pada keratosis piliaris tonjolan kecul seperti duri keluar dari mulut
folikel rambut, terutama pada lengan bagian luar dan bahu. Lesi bisa
tampak di wajah, terutama pada anak-anak, dan kadang-kadang pustular.

4. Riwayat penyakit dahulu


Rosacea tidak berhubungan dengan jerawat dan kista jerawat. Tetapi
orang-orang yang memiliki rosacea mungkin juga memiliki jerawat.
Jerawat dan rosacea sering diobati dengan obat-obatan yang sama.

5. Riwayat kesehatan keluarga


Terdapat kecenderungan genetis pada populasi berkulit terang
khususnya yang rentan, mengalami rosasea.
Sering didapatkan adanya riwayat keluarga.

33
6. Pola hidup (Life style)
Sering mengkonsumsi kopi, makanan pedas, dan alkohol dapat
memicu timbulnya rosasea. Selain itu, penggunaan kosmetik yang tidak
cocok dengan kulit juga dapat memicu timbunya rosasea.
Rosasea berhubungan dengan sensitivitas yang tinggi terhadap sinar
matahari. Kondisi tersebut dapat timbul dan hilang terutama diperburuk
oleh minuman panas dan beralkohol.

7. Pengkajian psikososial
Orang yang mengidap rosasea mudah sekali wajahnya memerah ketika
terkena panas matahari. Sehingga mereka memerlukan dukungan dan
pendekatan khusus agar mereka tidak sampai menarik diri dari
lingkungannya.

8. Pemeriksaan fisik
a. Warna
Menurut National Rosacea Society, rosacea merupakan gangguan
kulit yang bersifat kronik terutama pada bagian wajah, sering ditandai
dengan kemerah-merahan di sekitar hidung dan pipi.

b. Moisture
Kelembapan kulit yang dikaji adalah tingkat hidrasi kulit terhadap
basah dan minyak.
Tidak ada korelasi antara jumlah ekskresi sebum dan keparahan
dari rosacea.

c. Temperatur
Dikaji dengan dorsal tangan.
Pada area yang terdapatlesi, suhunya lebih tinggi daripada area
kulit yang lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya proses inflamasi
pada lesi tersebut.

d. Texture
Palpasi tekstur kulit dengan menekan secara lembut dengan ujung
jari.
Rosacea kronis bisa menimbulkan penebalan kulit distal pada
hidung secara ireguler dan bulat (rhinophyma), dengan warna-merah
keunguan dan folicle yang melebar.
Fibrosis merupakan langkah penting ke dalam edema limfatik yang
dapat dilihat pada banyak klien rosacea.

e. Turgor
Cara mengkajinya adalah dengan mengukur seberapa lama kulit
dan jaringan dibawahnya kembali ke bentuk awal setelah ditarik.
Biasanya pada kasus rosacea turgor kulit tidak normal.

34
f. Edema
Edema adalah penumpukan cairan yang berlebihan dalam jaringan.
Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperature,
bentuk, mobilisasi.
Edema dapat menghilang atau menetap antara episode rosasea.
Pada tahap lanjut (stadium III) terlihat eritema, papul, pustule, nodus,
dan edema.

g. Odor
Dari berbagai penelitian, diketahui bahwa bau menyengat
berhubungan dengan gangguan fungsi barrier kulit.

h. Lesi
Tempat predileksi rosasea adalah di sentral wajah, yaitu hidung,
pipi, dagu, kening, dan alis. Kadang-kadang meluas ke leher bahkan
pergelangan tangan atau kaki. Lesi umumnya simetris .
Gejala utama rosasea adalah eritema, telangektasia, papul, edema,
dan pustule. Komedo tidak ditemukan dan bila ada mungkin kombinasi
dengan acne (komedo solaris, acne kosmetika). Adanya eritema dan
telangektasia adalah persisten pada setiap episode dan merupakan
gejala khas rosasea. Papul kemerahan pada rosasea tidak nyeri,
berbeda dengan acne vulgaris, dan hemisferikal. Pustul hanya
ditemukan pada 20% penderita, sedang edema dapat menghilang atau
menetap antara episode rosasea.

6.2 Analisa Data


Data Etiologi Masalah
Keperawatan
DS: Klien mengeluh rasa Ketidakstabilan Kerusakan
tidak nyaman pada wajah vaskularisasi wajah integritas kulit

DO: Tampak ada papul di Terbentuknya lesi di


wajah. wajah

Kerusakan integritas kulit

DS: Klien mengeluh tidak Rosasea Gangguan citra


percaya diri dengan tubuh
penampilannya saat ini. Hipertrofi kelenjar sebasea

DO: Tampak perubahan Penebalan hidung


aktual akibat rinofima. (rinofima) yang muncul
permanen

Rasa percaya diri

35
terganggu

Gangguan citra tubuh

DS: Klien mengeluh Okular rosasea Risiko cidera


pandangannya kabur
Konjungtivitis
DO: Tampak Hyperemia
konjungtiva intra palpebra, Inflamasi
mata kering atau berair,
mata teriritasi Hyperemia konjungtiva
intra palpebra, mata kering
atau berair, mata teriritasi,
sensasi rasa terbakar,
gatal, sensitive terhadap
cahaya

Pandangan kabur dan


penglihatan terganggu

Risiko Cedera

6.3 Diagnosa Keperawatan


1. Kerusakan integritas kulit b.d adanya lesi
2. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
3. Risiko cedera b.d gangguan penglihatan

6.4 Intervensi
Dx : Kerusakan integritas kulit
NOC NIC
Tissue integrity : skin and Pressure management
mucous membrane - Anjurkan klien menggunakan
Wound healing : primer dan pakaian longgar
sekunder - Hindari kerutan pada tempat
Kriteria Hasil : tidur
- Integritas kulit yang baik bisa - Jaga kebersihan kulit agar
dipertahankan tetap bersih
- Tidak ada luka/lesi pada kulit - Mobilisasi klien setiap dua
- Perfusi jaringan baik jam sekali
- Menunjukkan pemahaman - Monitor kulit adanya
dalam proses perbaikan kulit kemerahan
- Mampu melindungi kulit dan - Oleskan lotion pada daerah
menjaga kelembaban kulit yang tertekan
- Monitor status nutrisi klien

36
Dx : Gangguan citra tubuh
NOC NIC
Body image Body image enhancement
Self esteem - Kaji secara verbal dan non-
Kriteria Hasil : verbal respon klien terhadap
- Citra tubuh positif tubuhnya
- Mampu mengidentifikasi - Monitor frek. mengkritik
kekuatan personal dirinya
- Mendiskripsikan secara - Jelaskan tentang pengobatan,
factual perubahan fungsi perawatan, kemajuan dan
tubuh prognosis penyakit
- Mempertahankan interaksi - Dorong klien mengungkapkan
social perasaannya
- Fasilitasi kontak dengan
individu lain dalam
kelompokm kecil

Dx : Risiko cedera
NOC NIC
Frekuensi terjatuh berkurang Manajemen Lingkungan
Pengendalian risiko - Memantau dan memanipulasi
Kriteria Hasil : lingkungan fisik untuk
- Mengembangkan strategi memfasilitasi keamanan.
pengendalian risiko yang
efektif
- Klien dan keluarga akan
mempersiapkan lingkungan
yang aman

37
BAB VII
MILIARIASIS

7.1 Definisi
Miliariasis merupakan istilah pada lesi yang terjadi akibat obstruksi dan
ruptur kelenjar keringat (Julia McMillan, dkk, 2006).
Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai
dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai
sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup
pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan
pakaian dan juga kepala.
Klasifikasi Miliariasis
Berdasarkan lokasi obstruksinya, miliariasis dapat dibagi menjadi
beberapa jenis, yaitu (E.C natahusada, 2007):
1. Miliariasis Rubra : sumbatan terletak di dalam epidermis
2. Miliariasis Kristalina : sumbatan berada di stratum korneum
3. Miliariasis Profunda : sumbatan ada di dalam dermo-epidermal
junction

7.2 Etiologi
Miliariasis diduga disebabkan oleh penyumbatan saluran keringat, yang
menghasilkan kebocoran keringat ekrin ke epidermis atau dermis.
Secara umum miliariasis disebabkan oleh penyumbatan kelenjar atau
saluran keringat oleh , debu, dan kosmetik. Kelenjar keringat yang belum
berkembang sempurna dan tidak ada penyebab genetic yang berperan.
Penyebab lain yang menimbulkan miliariasis antara lain:
a. Peningkatan aktivitas yang menyebabkan produksi dari keringat
meningkat dan terakumulasi di permukaan kulit.
b. Penggunaan pakaian yang tidak mampu menyerap keringat dengan
baik, juga penggunaan beban yang menghalangi aliran keringat.
c. Mengkonsumsi obat yang menimbulkan keringat seperti bethanecol
dan obat yang dapat menyebabkan folikular diferensiasi, misalnya
isotretionis
d. Pengaruh lingkungan yang sangat panas sehingga menyebabkan
produksi keringat bertambah. Lingkungan yang lembab juga
berpotensi menyebabkan miliariasis.
e. Bakteri Staphylococcus Epidermitis dan Staphylococcus Aureus.
Bayi baru lahir belum memiliki kelenjar keringat yang berkembang
sempurna sehingga mudah pecah bila berkeringat sehingga menyebabkan
rentan terkena miliriasis. Penyebab biang keringat pada bayi (Mutaqin 2011),
yaitu :

38
a. Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas
dan lembab.
b. Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat
menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
c. Bayi mengalami panas atau demam.
d. Bayi terlalu banyak beraktifitas sehingga banyak mengeluarkan
keringat.
7.3 Patofisiologi
Kelenjar keringat diperlihat dalam bentuk tubular yang dibagi menjadi 2
bagian.
1. Bagian yang bergelung di subdermis dalam menyekresi keringat
2. Bagian duktus yang berjalan keluar melalui dermis dan epidermis kulit.
Seperti juga pada kelenjar lainnya, bagian sekretorik kelenjar keringat
menyekresi cairan yang disebut dengan secret primer /secret prekusor,
kemudian konsemtrasi zat dalam cairan tersebut dimodifikasi sewaktu cairan
mengaliri duktus. Sekret prekusor adalah hasil sekresi aktif dari sel-sel epitel
yang melapisi bagian yang bergelung dari kelenjar keringat. Serabut saraf
simpatis kolinergik berakhir pada /dekat sel-sel kelenjar yang megeluarkan
secret tersebut. Komposisi secret prekusor mirip dengan yang terdapat dalam
plasma, namun tidak mengandung protein plasma. Konsentrasi natrium sekitar
142 mEq/L dan klorida sekitar 104 mEq/L, dengan konsentrasi zat terlarut
dlain yang lebih kecil bila dibandingkan di dalam plasma. Sewaktu larutan ini
mengalir di bagian duktus kelenjar, larutan ini mengalami modifikasi melalui
reabsorbsi sebagian besar ion natrium dan klorida (Price & Wilson, 2005).
Tingkat reabsorbsi bergantung pada kecepatan berkeringat. Apabila
kelenjar keringat hanya sedikit dirangsang, cairan prekusor mengalir melalui
duktus dengan lambat. Dalam hal ini, pada dasarnya semua ion natrium dan
klorida direabsorbsi, dan konsentrasi maisng-masing ion ini menurun menjadi
5mEq/L. Hal ini mengurangi tekanan osmotic cairan keringat tersebut hingga
nilai yang sangat rendah sehingga sebagian besar cairan kemudian juga
direbsorbsi, yang memekatkan sebagian besar kandungan unsure lainnya. Oleh
karena itu pada kecepatan berkeringat yang rendah, kandungan unsure seperti
urea, asam laktat, dan ion kaium biasanya konsentrasinya sangat
tinggi. Sebaliknya apabila kelenjar keringat dirangsang dengan kuat oleh
system saraf simpatis, secret prekusor dibentuk dalam jumlah yang banyak,
dan duktus kini hanya mereabsorbsi natrium klorida dalam jumlah yang lebih
sedikit dari setengahnya, konsentrasi ion-ion natrium dan klorida kemudian
biasanya meningkat (pada orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan
iklim) sampai tingkat maksimum sekitar 50 sampai 60 mEq/L, sedikit lebih
rendah dari setengah konsentrasinya di dalam plasma (Price & Wilson, 2005).

39
Keringat mengalir melalui tubulus kelenjar begitu cepatnya, sehingga
sedikit air yang direabsorbsi. Oleh karena itu, konsentrasi unsure terlarut
lainnya dari keringat hanya sedikit meningkat, urea menjadi sekitar dua kali
dari plasma, asam laktat sekitar 4 kali dari plasma, dan kalium sekitar 1,2
kali. Bila orang belum menyesuaikan diri dengan iklim panas, ia akan
mengalami kehilangan natrium klorida di dalam keringat dalam jumlah yang
bermakna. Kehilangan elektrolit akan jauh lebih sedikit, meskipun
kemampuan berkeringat telah ditingkatkan, bila orang telah terbiasa dengan
iklim tersebut (Price & Wilson, 2005).
Penyebab dari miliariasis salah satunya adalah kelembaban kulit dan panas
yang tinggi sehingga menyebabkan keringat yang berlebihan. Selain itu juga
bisa karena penggunaan pakaian, perban, dan obat transdermal patch yang
mengakibatkan akumulasi keringat di bagian permukaan kulit dan lapisan
overhydration dari corneum. Beberapa orang memiliki sensitifitas yang tinggi,
contohnya bayi yang saluran ekrinnya belum sempurna. Overhydration dari
stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan penyumbatan
sementara dari acrosyringium (Price & Wilson, 2005).
Ketika kondisi lembab panas berlanjut, kulit akan mengkompensasinya
dengan memproduksi keringat yang banyak, tetapi pada suatu kondisi keringat
tidak dapat dikeluarkan ke permukaan karena penyumbatan duktus. Sumbatan
ini menyebabkan kebocoran keringat ke permukaan kulit baik di dalam dermis
ataupun epidermis dengan relative anhidrosis. Pada miliariasis crystalline, titik
kebocoran hanya menunjukkan sedikit peradangan dan tidak ada lesi.
Sedangkan di miliariasis rubra, kebocoran keringat ke lapisan subcomeal
menghasilkan spongiotic vesikula dan sel inflamasi kronis periductal
menyusup pada papiler dermis dan epidermis bawah. Miliariasis profunda
terbentuk dari keringat dalam papiler dermis yang menghasilkan substansial
masuk ke dalam periductal limfositik spongiosis dari saluran intra epidermis
(Price & Wilson, 2005).
Golongan bakteri kulit seperti Stapilococcus epidermidis dan
Staphylococcusa ureus dapat menjadi paatogenesis miliariasis. Klien dengan
miliariasis mempunyai 3x lebih banyak bakteri per satuan luas kulit sebagai
subyek control sehat. Antimikroba merupakan penanganan yang tepat untuk
mengatasi miliariasis akibat eksperimental. Acid-Schiff berkala-positif bahan
tahan diastase telah ditemukan di plug intraductal yang konsisten dengan
substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Penelitian
menyebutkan bahwa hanya Staphylococcus epidermis galur yang
menghasilkan EPS dan dapat menimbulkan miliariasis (Price & Wilson,
2005).

40
7.4 Manifestasi Klinis
a. Miliariasis Kristalina
Jenis ini mempunyai tanda khas, yakni vesikula (kelainan kulit yang
lebih tinggi dari permukaan kulit, berisi cairan dan ukurannya tidak lebih
dari 1 cm) kecil-kecil jerih seperti kristal dengan diameter 1-2mm,
menyerupai titik-titik air pada kulit dan tanpa eritem. Biasanya tanpa
simptom dan diketahui secara kebetulan pada waktu pemeriksaan fisik.
Sering terjadi pada daerah integrinosa seperti ketiak dan leher serta badan.
Vesikula mengelompok, mudah pecah pada waktu mandi atau karena
gesekan ringan (Harahap, 2000).

b. Miliariasis Rubra
Ini merupakan bentuk klinik yang sangat penting dan ditandai dengan
rasa gatal dan eritem. Lesinya berupa papula (kelainan kulit yang lebih
tinggi dari permukaan kulit , padat, berbatas jelas, dan ukurannya tidak
lebih dari 1 cm) eritematus dengan puncak dan pusatnya berupa vesikula.
Lesinya ekstrafolikuler, ini membedakan dengan folikulitis. papulanya
steril atau terinfeksi sekunder pada miliariasis yang meluas dan kronis.
Miliariasis rubra tidak mengenai muka dan bagian volar kulit, tetapi
mengenai permukaan kulit yang istirahat, terutama pada punggung dan
leher. Rasa gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar, biasanya timbul
bersamaan dengan rangsang yang menimbulkan keringat. Miliariasis rubra
yang luas dan berat dapat menyebabkan hiperpireksia dan lelah karena
panas (Harahap, 2000).

c. Miliariasis Profunda
Penyakit ini memiliki tanda berupa papula keputih-putihan dengan
diameter 1-3 mm. Biasanya pada punggung tetapi juga bagian pada
ekstremitas. Ini merupakan vesikula yang letaknya lebih dalam (di dalam
dermis), sehingga bersifat kronis dan tampak sebagai papula.
Tidak ada eritem dan gatal. Kalau luas miliariasis ini akan
mengganggu keluarnya keringat, sehingga menimbulkan hiperhidrosis
kompensasi di wajah. Jika banyak kelenjar keringat yang tidak berfungsi,
sehingga keringat yang harusnya keluar tidak terjadi, maka penderita perlu
tempat yang dingin. Penderita ini bisa menjadi lemah, dipsnea, takikardi
bahkan suhu tubuh bisa naik (Harahap, 2000).
7.5 Pemeriksaan Diagnostik
Miliariasis mempunyai banyak perbedaan secara klinis, oleh karena itu,
beberapa tes laboratorium cukup diperlukan.
a. Pemeriksaan Sitologik
1. Pada miliariasis kristalina, pemeriksaan sitologik untuk kandungan
vesikel tidak didapatkan sel-sel radang atau sel giant multinukleat
(seperti yang terdapat pada vesikel dari penyakit herpes).

41
2. Pada miliariasis pustulosa, pemeriksaan sitologik memperlihatkan
adanya kandungan dari sel-sel radang dan coccus gram positif. Tidak
seperti eritema toksik neonatorum, eosinofil tidak terlalu menonjol
pada miliariasis pustulosa.

b. Pemeriksaan Histopatologik
1. Pada miliariasis kristalina, terdapat vesikel intrakorneal atau
subkorneal yang berhubungan dengan saluran keringat dan sumbatan
keratin.
2. Pada miliariasis rubra, vesikel spongiotik terdapat di dalam stratum
spinosum, di bawah sumbatan keratin dan infiltrat radang kronis
terdapat di sekitarnya dan di dalam vesikel serta mengelilingi dermis,
infiltrasi limfositik perivaskuler dan vasodilatasi terlihat pada dermis
superfisial. Dengan perwarnaan khusus dapat terlihat coccus gram
positif di bawah dan di dalam sumbatan keratin. Pada saluran keringat
intraepidermal diisi dengan substansi amorf yang Periodic Acid Schiff
(PAS) positif dan diastase resistant.
3. Pada miliariasis profunda, terlihat sumbatan pada daerah taut
dermoepidermal dan pecahnya saluran keringat pada dermis bagian
atas dan juga adanya edema intraseluler periduktal pada epidermis
(spongiosis) serta infiltrat radang kronis.
4. Pada miliariasis pustulosa, terdapat campuran infiltrat dengan sel-sel
mononuklear dan lekosit polimorfonuklear dan sumbatan ekrin pada
taut dermoepidermal dengan gangguan pada sistem ekrin dermal.

c. Pemeriksaan Patologi Klinik


Pada pemeriksaan ini, tidak didapatkan hasil pemeriksaan yang abnormal.

7.6 Penatalaksanaan
Berdasarkan klasifikasi yang ada, penatalaksanaan untuk miliariasis
meliputi: (Natahusada dalam Djuanda 2007)
a. Miliariasis kristalina : Pengobatan tidak diperlukan, cukup menghindari
panas yang berlebih, mengusahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis, dan
menyerap keringat.
b. Miliariasis rubra: mengenakan pakaian yang tipis dan yang dapat
menghisap keringat. Dapat diberikan bedak salisil 2% dibubuhi mentol ¼ -
2%. Losio Faberi dapat pula digunakan. Untuk memberikan efek
antipruritus dapat ditambahkan mentholum atau camphora pada losio
faberi.
c. Miliariasis profunda: menghindari panas dan kelembaban yang berlebihan,
mengusahakan regulasi suhu yang baik dan pakaian yang tipis. Dapat
diberikan Losio Calamin dengan atau tanpa mentol 0,25%, dapat pula
resorsin 3% dalam alkohol.
Secara umum jika seseorang mengalami biang keringat, hal yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut :

42
a. Mengurangi pembentukan keringat berlebih, caranya dengan
menghindari cuaca yang terlalu panas.
b. Menjaga kulit tetap dingin, biasanya dengan mandi atau memakai
losion khusus untuk biang keringat.
c. Selalu gunakan pakaian yang lembut dan dapat menyerap keringat.
d. Perbaiki sirkulasi udara dan ventilasi rumah.
Pengobatan yang dapat dilakukan dengan melakukan bedak tabur atau
losion khusus biang keringat. Losion atau bedak tabur biasanya mengandung
calamin yang berfungsi untuk memberikan sensasi dingin dan lembut pada
kulit sehingga mengurangi rasa gatal dan bekerja sebagai anti bakteri untuk
mencegah infeksi yang ditimbulkan karena garukan. Losion atau bedak tabur
juga mengandung menthol yang memberikan sensasi dingin. Bedak tabur atau
losion ini penggunaannya adalah dioleskan atau ditaburkan pada bagian tubuh
yang mengalami biang keringat dua kali sehari setiap habis mandi dan kulit
sudah dibersihkan.

7.7 Komplikasi
Komplikasi yang tersering dari Miliariasis adalah
a. Infeksi sekunder. Infeksi sekunder dapat terjadi berupa impetigo atau
multiple diskret abses. Garukan juga dapat mengakibatkan luka dan infeksi
sekunder.
b. Intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas. Dikenal sebagai
periporitis staphylogenes dengan tidak keluarnya keringat bila terpapar
suhu panas. Dapat menimbulkan lemah, fatique, pusing bahkan pingsan.

7.8 Prognosis
Miliaris bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi bila terdapat prognosis yang
berat lakukan rujukan dan kolaborasi dengan tenaga medis lainnya (Price &
Wilson 2005).

43
7.9 WOC Bacteri Ventilasi
Bacteri Pakaian pada
Perubahan Aktivitas Obat- Staphylococcus ruangan kurang
Stapylococcus bayi yang
iklim berlebih obatan aureus
epidemidis terlalu ketat
dan tebal
aureus

Keringat berlebihan

Pengumpulan keringat di permukaan kulit

Penyumbatan sementara di acrosyringium

Kebocoran keringat dalam perjalanannya ke permukaan kulit (anhidrosis relatif)

Miliara Crystallina Miliariasis Miliara Profunda


Rubra
Kebocorandi lapisan Kebocoran keringat ke Keluarnya keringat ke dermis papiler
corneum/di bawahnya lapisan subricorneal

Menghasilkan vesikula spongiostic & Menghasilkan suatu substansial


Peradangan / lesi
sel inflamasi kronis periductal
Menginfiltrasi limfosit periduktal &
berisi cairan dan ukurannya spongiosis dari kultur intra epidermis
tidak lebih dari 1 cm Menginfiltrasi di papiler dermis dan
epidermis bawah
Menimbulkan lesi
tanpa eritem
Terjadi lesi
papula keputih-
putihan dengan
Lesinya berupa papula &
diameter 1-3 mm
ekstrafolikuler
lemah

rasa gatal
dipsnea
dan eritem

rasa panas seperti takikardi


terbakar terbakar
Suhu meningkat

44
Anak Digaruk untuk
Orang Tua mengurangi gatal

Lesi yang ditimbulkan


Kurangnya pengetahuan Bayi rewel meninggalkan bekas Terjadi luka
BAB VIII
Asuhan Keperawatan Miliariasis
Orangtua tampak khawatir Susah tidur Kulit tampak kehitaman Luka mengalami peradangan
8.1 Pengkajian
MK : Kurang 1. Identitas klienPola Tidur
MK : Gangguan MK : Kerusakan
1) Nama MK : Risiko Infeksi
Pengetahuan Integritas Kulit
2) Jenis kelamin (tidak ada kencenderungan terhadap jenis kelamin
tertentu)
3) Usia (pada umumnya menyerang anak-anak)
4) Agama
5) Alamat

2. Keluhan utama
Pada muka, leher, punggung terdapat eritema, rasa gatal dan terdapat
papula berwarna keputihan.

3. Riwayat penyakit sekarang


Tanyakan sejak kapan klien merasakan keluhan gatal dan munculnya
bintik-bintik merah serta tindakan apa saja yang dilakukan klien untuk
menanggulanginya, memiliki riwayat penyakit alergi atau tidak.

4. Riwayat penyakit dahulu


Apakah klien pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya atau
penyakit kulit lainnya.

5. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan


- Perubahan iklim (sering terjadi pada orang yang berpindah dari iklim
dingin ke panas)
- Aktivitas yang berlebih yang dapat menjadi faktor pencetus
- Pemakaian pakaian yang terlalu ketat dan tidak menyerap keringat

6. Pemeriksaan fisik
a. Warna
Bintik-bintik merah kecil pada kulit akibat sumbatan kelenjar
keringat.

b. Moisture
Kelembapan kulit yang dikaji adalah tingkat hidrasi kulit terhadap
basah dan minyak. Biasanya kulit cenderung kering.

c. Temperatur

45
Dikaji dengan dorsal tangan. Pada miliaris, kadang timbul rasa
panas seperti terbakar. Penderita ini bisa menjadi lemah, dipsnea,
takikardi bahkan suhu tubuh bisa naik.

d. Texture
Palpasi tekstur kulit dengan menekan secara lembut dengan ujung
jari. Tekstur kulit terasa tidak halus karena adanya bintik-bintik kecil.

e. Turgor
Cara mengkajinya adalah dengan mengukur seberapa lama kulit
dan jaringan dibawahnya kembali ke bentuk awal setelah ditarik.
Biasanya turgor cenderung normal.

f. Edema
Edema adalah penumpukan cairan yang berlebihan dalam jaringan.
Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperature,
bentuk, mobilisasi. Kalau luas miliariasis ini akan mengganggu
keluarnya keringat, sehingga menimbulkan hiperhidrosis kompensasi
di wajah.

g. Odor
Tidak berbau.

h. Lesi
Penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat.
Sumbatan ini dapat diakibatkan oleh debu maupun radang pada kulit
bayi. Butiran-butiran yang terperangkap akan mendesak keluar ke
permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil pada kulit.
1. Miliariasis Kristalina
Vesikula (kelainan kulit yang lebih tinggi dari permukaan kulit,
berisi cairan dan ukurannya tidak lebih dari 1 cm ) kecil-kecil jerih
seperti kristal dengan diameter 1-2mm, menyerupai titik-titik air
pada kulit dan tanpa eritem.

2. Miliariasis Rubra
Lesinya berupa papula (kelainan kulit yang lebih tinggi dari
permukaan kulit, padat, berbatas jelas, dan ukurannya tidak lebih
dari 1 cm) eritematus dengan puncak dan pusatnya berupa
vesikula. Lesinya ekstrafolikuler, ini membedakan dengan
folikulitis. Papulanya steril atau terinfeksi sekunder pada
miliariasis yang meluas dan kronis.

3. Miliariasis Profunda

46
Berupa papula keputih-putihan dengan diameter 1-3 mm.
Biasanya pada punggung tetapi juga bagian pada ekstremitas . ini
merupakan vesikula yang letaknya lebih dalam (di dalam dermis),
sehingga bersifat kronis dan tampak sebagai papula.

8.2 Analisa Data


Data Etiologi Masalah
Keperawatan
DS: Klien mengeluh adanya rasa Miliariasis Kerusakan
nyeri atau perih pada kulit dan terasa integritas kulit
gatal Sumbatan dipermukaan
kulit
DO: Adanya papula pada permukaan
kulit, kulit berwarna kemerahan Adanya bintik-bintik
berisi cairan jernih dan
mudah pecah dengan
penekanan

Kerusakan integritas
kulit

DS:Klien mengeluh adanya rasa nyeri Miliariasis Gangguan


atau perih pada kulit dan terasa gatal pola tidur
Sumbatan dipermukaan
DO:Klien demam, adanya papula kulit
pada permukaan kulit, kulit berwarna
kemerahan Adanya bintik-bintik
berisi cairan jernih dan
mudah pecah dengan
penekanan

Pruritus

Perubahan rasa nyaman

Gangguan pola tidur

DS:Klien mengeluh adanya rasa nyeri Miliariasis Kurang


atau perih pada kulit dan terasa gatal pengetahuan
DO: Adanya papula pada permukaan Sumbatan dipermukaan
kulit, kulit berwarna kemerahan kulit

Adanya bintik-bintik

47
berisi cairan jernih dan
mudah pecah dengan
penekanan

Orang tua panik &


cemas

Kurang informasi

Kurang pengetahuan

DS:Klien terus menggaruk-garuk lesi. Miliariasis Risiko infeksi


DO:Tampak luka mengalami
peradangan Sumbatan dipermukaan
kulit

Adanya bintik-bintik
berisi cairan jernih dan
mudah pecah dengan
penekanan

Pruritus

Digaruk untuk
mengurangi gatal

Terjadi luka

Luka mengalami
peradangan

Risiko infeksi

8.3 Diagnosa Keperawatan


1. Kerusakan integritas kulit b.d kelembaban, agen farmasi, faktor mekanik,
perubahan metabolisme
2. Gangguan pola tidur b.d rasa tidak nyaman
3. Kurang pengetahuan b.dinformasi yang kurang
4. Resiko infeksi b.d perubahan integritas kulit
8.4 Intervensi
DIAGNOSA NOC NIC
Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan agar daerah yang
kulit b.d kelembaban, keperawatan 2x24 jam gangguan terdapat bintik dan kemerahan
agenfarmasi, faktor integritas kulit, pruritus teratasi tetap bersih & kering
mekanik, perubahan b. Anjurkan klien menggunakan

48
metabolisme Kriteria hasil: pakaian longgar dan menyerap
a. Bintik-bintik hilang/berkurang keringat
b. Pruritus/gatal hilang/berkurang c. Monitor perubahan warna
c. Kulit tidak kemerahan kulit.
d. Kolaborasi pemberian obt
topikal lanolin anhidrous

e. Kolaborasi untuk melakukan


dermabrasi untuk membuat jalan
bagi lapisan kulit baru dan halus
untuk menggantikan kulit yang
sudah dirawat
f. Kolaborasi pemberian anti
histamine untuk anti pruritus

Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan Sleep enhancement


b.d rasa tidak nyaman keperawatan 2x24 jam pola tidur a. Determinasi efek-efek
klien membaik medikasi terhadap pola tidur
b. Jelaskan pentingnya tidur yang
Kriteria Hasil : adekuat pada keluarga dan
a. Jumlah jam tidur dan pola tidur klien
dalam batas normal c. Fasilitasi untuk
Neonatus : 16 jam mempertahankan aktivitas
Bayi: 12-14 jam sebelum tidur
Dewasa: 6-7,5 jam d. Ciptakan lingkungan yang
nyaman
b. Mampu mengidentifikasi hal- e. Kolaborasi pemberian salep
hal yang meningkatkan tidur hidrofilik untuk pemberian
sejuk.
Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji tingkat pengetahuan Klien
b.d informasi yang keperawatan 1x24 jam klien dan dan keluarga.
kurang (proses dan keluarga klien dapat mengetahui b. Gambarkan tanda dan gejala
tatalaksana penyakit) proses dan tatalaksana penyakit. yang biasa muncul pada
penyakit dengan cara yang
Kriteria Hasil : tepat.
a. Klien dan keluarga c. Jelaskan tentang proses
menyatakan pemahaman penyakit dengan cara yang
tentang penyakit, kondisi dan tepat.
prognosis dan program d. Eksplorasi kemungkinan
pengobatan sumber atau dukungan.
b. Klien dan keluarga mampu e. Berikan HE kepada keluarga
menjelaskan kembali apa yang Klien (pemakaian pakaian
dijelaskan perawat/tim yang tipis dan mudah
kesehatan lainnya menyerap keringat)
c. Klien dan keluarga mampu
melaksanakan prosedur yang

49
dijelaskan secara benar
Resiko infeksi b.d Pengendalian risiko Infection control
perubahan integritas Kriteria Hasil : a. Jaga kebersihan lingkungan
kulit a. Tidak ada tanda atau gejala infeksi klien yang digunakan.
(kalor, dolor, tumor, rubor, fungsio b. Instruksikan keluarga untuk
Laesa ) menjaga hygiene diri klien
c. Ajarkan cara cuci tangan yang
benar untuk menjaga kuku
tetap bersih
d. Pantau tanda/gejala infeksi
e. Kaji faktor yang
mempengaruhi infeksi
f. Kolaborasi untuk memberikan
terapi antibiotic

50
BAB IX
Asuhan Keperawatan Kasus (ACNE)

Sdr. Q laki-laki usia 17 tahun datang ke poli penyakit kulit dan kelamin
mengeluh terdapat bercak kemerahan di area wajah, leher, punggung sejak 2
minggu yang lalu. Ditemukan lesi dengan bentuk bervariasi, kebanyakan lesi
berupa masa besar berbentuk kubah berwarna merah, kadang mengeluarkan pus
dan mengeluh nyeri skala 3 (dari skala 1-10). Klien juga sering memencet lesinya
tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Klien mengatakan sedang dalam persiapan
ujian di sekolahnya dan klien mengatakan malu dengan kondisinya saat ini. Klien
sangat suka goreng-gorengan dan makanan berminyak lainnya. Klien sudah
menggunakan berbagai obat yang dijual bebas di pasaran, namun belum
menunjukkan hasil. Klien tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk
mengatasi masalah yang dialaminya. Hasil pemeriksaan TTV didapatkan tekanan
darah 120/80 mmHg, suhu 37 C, nadi 88x/menit dan RR 18x/menit.
Pengkajian Kasus
A. Identitas Klien
Nama : Sdr. Q
Umur : 17 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :-
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Status Perkawinan : Belum menikah
Alamat : Kali Judan
Tgl Pengkajian : 12 – 03 – 2016
Diagnosa Medis : Acne
B. Keluhan utama : acne di wajah, leher dan punggung
C. Riwayat penyakit sekarang : sekitar 2 minggu bercak kemerahan
muncul pada wajah, leher, dan punggung. Klien sering memencet lesi
tanpa mencuci tangan, sehingga sebelum datang ke poli lesi mulai
mengeluarkan nanah. Klien sudah mencoba berbagai obat yang dijual
bebas untuk mengatasi jerawat namun tidak ada perbaikan.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan bahwa belum pernah diperiksa ke rumah sakit,
klinik atau puskesmas dan tidak memiliki riwayat alergi.
E. Riwayat Penyakit Keluarga

51
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang
sama
1. POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI
a. Nutrisi
Makan tidak teratur ±1-2x sehari. Makan selalu habis dalam 1
porsi. Pasien mengatakan tidak mempunyai pantangan terhadap
makanan, pasien minum 6-7 gelas ( ±1500-1700cc) setiap hari,
suka makan gorengan.

b. Eliminasi
Pasien mengatakan BAB 1x sehari pada waktu pagi dengan
konsistensi lembek, warna kuning, bau khas dan tidak ada keluhan
dalam BAB.
Klien BAK ± 2-6x sehari dengan warna kuning, bau khas, dan
pasien tidak ada kesulitan dalam BAK.

c. Istirahat dan Tidur


Pasien mengatakan tidur selama 7jam mulai tidur pukul 22.00 WIB
dan bangun pukul 05.00 WIB. Pasien jarang tidur siang.
.
d. Aktifitas Fisik
Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang
lain maupun alat bantu dan setiap sore rajin main Voley.

a. Personal Hygiene
Pasien mandi 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, keramas 2 kali
dalam seminggu, ganti baju 1 kali sehari, dan tidak ada gangguan
apapun.

2. DATA PSIKOSOSIAL
a. Status Emosi
Emosi pasien stabil.

b. Konsep Diri
1. Body Image : pasien malu terhadap keadannya
2. Self Ideal : pasien merasa diperlakukan dengan
baik oleh perawat dan mendapat perhatian yang cukup dari
keluarga
3. Self Eksterm : pasien mengatakan ingin jerawat di
wajahnya hilang

52
4. Role : pasien sebagai siswa SMA
5. Identity : pasien bernama Sdr. “Q” dengan usia
17 tahun yang beralamatkan di Kalijudan

c. Interaksi Sosial
Hubungan pasien dengan perawat serta pasien lain dalam satu
ruangan baik. Pasien juga kooperatif dan dapat berinteraksi baik
dengan tenaga kesehatan serta hubungannya dengan keluarga juga
baik.

d. Spiritual
Pasien beragama Islam, dan rajin sholat 5 waktu.

3. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Keadaan umum baik

b. Kesadaran
CM (Composmentis) 4-5-6

c. Tanda-Tanda Vital
TD : 120/80 mmHg S : 37°C
N : 80 x/menit RR : 18 x/menit

d. Kepala
1. Kulit Kepala
Bersih, tidak ada lesi, tidak ada tumor, rambut warna hitam,
tidak ada nyeri tekan .
2. Wajah
Inspeksi : ada bercak kemerahan dan pustula di area wajah
terutama pada daerah pipi dahi dan dagu. Berminyak, pus
berbau
palpasi : ada pus keluar apabila jerawat ditekan
3. Mata
Simetris, konjungtiva tidak anemis, fungsi penglihatan baik.
4. Hidung
Bentuk simetris tidak ada polip, tidak ada keluhan dan
kelainan pada hidung.
5. Telinga

53
Bentuk simetris, tidak menggunakan alat
bantu pendengaran.
6. Mulut
Mukosa bibir lembab dengan gigi bersih, tidak ada
perdarahan dan pembengkakan gusi.

e. Leher
Inspeksi : ada bercak kemerahan dan pustula.
Palpasi : Tidak terdapat pembesaran tiroid.

b. Dada dan Thorak


Inspeksi : bentuk simetris, ada bercak kemerahan dan pustula
pada punggung
Palpasi : pus keluar dari lesi apabila ditekan pada punggung
Perkusi : suara jantung pekak, suara paru sonor
Auskultasi : bunyi paru vesikuler, bunyi jantung normal S1, S2
Tunggal

c. Abdomen
Inspeksi : simetris, datar
Palpasi : ada nyeri tekan terhadap abdomen (ulu hati)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus ± 8x/menit

d. Ekstremitas
Ekstremitas atas : Kulit tangan normal, kuku tangan pendek,
Akral hangat, perabaan nadi kuat, CRT < 2
detik
Ekstremitas bawah : Kulit kaki normal, kuku kaki pendek, Akral
hangat, perabaan nadi kuat, CRT < 2 detik

Analisa Data Kasus


Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: Klien mengeluh Inflammatory acne Kerusakan Integritas Kulit
terdapat bercak
kemerahan di area Terbentuknya papula,
wajah, leher, punggung. pustule

DO: Terlihat adanya Lesi pada jaringan


pustula di daerah
wajah, leher, punggung Kerusakan integritas kulit

54
Derajat : Berat,
ditemukan inflamasi
dan jaringan parut
DS : klien mengatakan Penyumbatan duktus Nyeri akut
lesi terasa nyeri polisebasea

DO : Pertumbuhan bakteri pada
P : jerawat yang sumbatan dan lesi yang
meradang terbentuk
Q :Nyeri akut ↓
R : pada daerah wajah, Reaksi inflamasi
leher, punggung ↓
(tempat jerawat) Terbentuk pustula
S : skala nyeri 3 ↓
T : nyeri hilang timbul Keluar pus

Nyeri
DS: Androgen merangsang Risiko Infeksi
-klien mengatakan produksi sebum
terkadang ↓
memencetnya lesinya. Folikel rambut terutama
yang mengandung kelenjar
DO: sebasea besar (pada wajah,
TD : 120/80 mmHg leher, dada, dan
punggung) menjadi
N : 88 x/menit tersumbat
T : 37,6’C ↓
RR : 22x Timbul lesi
-Tampak kemerahan ↓
pada kulit disekitar Manipulasi pada lesi
acne (memencet lesi)
-ada lesi ↓
-keluar pus saat lesi Di dalam folikel ini,
ditekan bakteri anaerob obligat
-klien sering memencet (Propionibacterium acnes)
lesi tanpa mencuci mengadakan proliferasi
tangan ↓
reaksi inflamasi

Risiko infeksi

55
DS: Klien mengatakan Acne Gangguan body image
malu dengan
kondisinya saat ini. Perubahan pada kulit dan
wajah
DO:
-klien terlihat sering Malu dengan kondisi
merenung, menyendiri tubuhnya
dan sering menutupi
wajahnya Gangguan citra tubuh

DS : Klien mengatakan keterbatasan sumber Kurang


sudah menggunakan informasi
pengetahuan
berbagai obat yang
dijual bebas di pasaran,
namun belum
menunjukkan hasil
DO : klien tampak
bingung

Diagnosa Kasus
1. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan perubahan status
metabolik (hormon)
2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan faktor resiko kerusakan jaringan
dan peningkatan paparan lingkungan
4. Gangguan body image berhubungan dengan penyakit
5. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi

56
Intervensi Kasus

Diagnosa Rencana keperawatan


Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Masalah
Kolaborasi
Kerusakan NOC : NIC : Pressure Management
integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Mucous Anjurkan pasien untuk menggunakan
berhubungan dengan Membranes pakaian yang longgar
Perubahan status Wound Healing : primer dan sekunder Hindari kerutan pada tempat tidur
metabolik (hormon) Setelah dilakukan tindakan Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
keperawatan selama….. kerusakan kering
integritas kulit pasien teratasi dengan Kaji lingkungan dan peralatan yang
kriteria hasil: menyebabkan tekanan
 Integritas kulit yang baik bisa Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman
dipertahankan (sensasi, elastisitas, luka, karakteristik,warna cairan, granulasi,
temperatur, hidrasi, pigmentasi) jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal,
 Tidak ada luka/lesi pada kulit formasi traktus
 Perfusi jaringan baik Ajarkan pada keluarga tentang luka dan
 Menunjukkan pemahaman dalam proses perawatan luka
perbaikan kulit dan mencegah terjadinya Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP,
sedera berulang vitamin
 Mampu melindungi kulit dan Cegah kontaminasi feses dan urin
mempertahankan kelembaban kulit dan Lakukan tehnik perawatan luka dengan
perawatan alami steril
 Menunjukkan terjadinya proses  Berikan helth education tentang kebersihan
penyembuhan luka kulit dan Diit

57
Kolaborasi dalam pemberian obat topikal /
sistemik (tetrinoin / retinol untuk
menurunkan keratinisasi, benzol peroksida
untuk menurunkan preparat acne) atau
hormonal.

58
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Masalah
Kolaborasi
Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
dengan  pain control, komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
kerusakan  comfort level durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
jaringan Setelah dilakukan tinfakan keperawatan presipitasi
selama …. Pasien tidak mengalami  Observasi reaksi nonverbal dari
nyeri, dengan kriteria hasil: ketidaknyamanan
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
nyeri, mampu menggunakan tehnik dan menemukan dukungan
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,  Kontrol lingkungan yang dapat
mencari bantuan) mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan pencahayaan dan kebisingan
menggunakan manajemen nyeri  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
frekuensi dan tanda nyeri) menentukan intervensi

 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
berkurang napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
 Tanda vital dalam rentang normal hangat/ dingin
 Tidak mengalami gangguan tidur  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Berikan informasi tentang nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
dari prosedur

59
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali

60
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi
Masalah Kriteria Hasil
Kolaborasi
Risiko infeksi NOC : NIC :
berhubungan dengan  Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
Faktor risiko  Knowledge : Infection  Batasi pengunjung bila perlu
Kerusakan jaringan control  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
dan peningkatan  Risk control  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
paparan lingkungan Setelah dilakukan  Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
tindakan umum
keperawatan  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung
selama…… pasien kencing
tidak mengalami  Tingkatkan intake nutrisi
infeksi dengan  Berikan terapi antibiotik
kriteria hasil:  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
 Klien bebas dari tanda  Pertahankan teknik isolasi k/p
dan gejala infeksi  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas,
 Menunjukkan drainase
kemampuan untuk  Monitor adanya luka
mencegah timbulnya  Dorong masukan cairan
infeksi  Dorong istirahat
 Jumlah leukosit dalam
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
batas normal
 Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
 Menunjukkan perilaku
hidup sehat
 Status imun,
gastrointestinal,

61
genitourinaria dalam
batas normal

62
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi
Masalah Kriteria Hasil
Kolaborasi
Gangguan body NOC: NIC :
image  Body image Body image enhancement
berhubungan  Self esteem - Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien terhadap
dengan penyakit Setelah dilakukan tubuhnya
tindakan - Monitor frekuensi mengkritik dirinya
keperawatan selama - Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan
…. gangguan body prognosis penyakit
image - Dorong klien mengungkapkan perasaannya
pasien teratasi - Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu
dengan kriteria hasil: - Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil
 Body image positif
 Mampu
mengidentifikasi
kekuatan personal
 Mendiskripsikan
secara faktual
perubahan fungsi tubuh
 Mempertahankan
interaksi sosial

63
Diagnosa Rencana keperawatan
Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi
Masalah Kriteria Hasil
Kolaborasi
Kurang NOC: NIC :
Pengetahuan  Kowlwdge : disease  Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
Berhubungan process  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
dengan  Kowledge : health berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara
keterbatasan Behavior yang tepat.
informasi Setelah dilakukan  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
tindakan penyakit, dengan cara yang tepat
keperawatan selama  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
…. pasien  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang
menunjukkan tepat
pengetahuan tentang  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan
proses penyakit cara yang tepat
dengan kriteria
 Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan
hasil:
pasien dengan cara yang tepat
 Pasien dan keluarga
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
menyatakan
pemahaman tentang  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
penyakit, kondisi,
prognosis dan program  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan
pengobatan cara yang tepat
 Pasien dan keluarga

64
mampu melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
 Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya

65
BAB X
PENUTUP
10.1 Simpulan
Acne adalah gangguan yang umum terjadi akibat terlalu aktifnya kelenjar
sebasea yang terlalu banyak mengeluarkan minyak (sebum) ke dalam kulit.
Hal ini ditandai dengan terjadinya pembentukan bintil-bintil hitam, bintil-
bintil putih, dan jerawat (Trident Referensi Publishing, 2009).
Rosacea adalah kondisi kronis seperti jerawat yang diderita satu dari
seratus orang yang biasanya berkulit wajah terang (Anita Naik, 2003).
Miliaris merupakan istilah pada lesi yang terjadi akibat obstruksi dan
ruptur kelenjar keringat (Julia McMillan, dkk, 2006).
Miliariasis adalah gangguan umum dari kelenjar keringat ekrin yang sering
terjadi dalam kondisi peningkatan panas dan kelembaban.
Ketiga penyakit tersebut merupakan masalah umum yang terjadi di
masyarakat khususnya negara tropik seperti Indonesia. Baik acne, rosacea, dan
miliaris menimbulkan ketidaknyamanan bagi penderitanya, khususnya acne,
dan rosacea yang akan menimbulkan gangguan citra diri. Begitu juga bagi
pasien miliaris yang kebanyakan masih bayi akan membuat rasa gerah dan
gangguan saat beristirahat. Sebagai perawat, penting untuk tidak mengkaji
atau memfokuskan masalah pada penatalaksanaan saja, tetapi juga mengkaji
dampak masalah kulit tersebut bagi aspek psikososial pasien.
10.2 Saran
Acne, rosacea, dan miliariasis merupakan gangguan kulit yang umum
terjadi di masyarakat khususnya negara tropis seperti Indonesia. Oleh karena
itu kami sebagai penulis berharap khususnya bagi mahasiswa keperawatan
untuk mengerti dan memahami tentang gangguan-gangguan tersebut agar
dapat memberikan asuhan keperawatan secara baik dan tepat.

66
Daftar Pustaka

Arthur, Pasaribu. 2007. Memandikan Dan Merawat Kulit Bayi. Jakarta: Pustaka
Mina
Brown, RG dan Tony Burns. 2005. Dermatologi ed 8. Jakarta: EMS.
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga
Daly, Selene. 2016. Journal : Nursing in general practice.
http://hdl.handle.net/10147/559191. diakses pada tanggal 20 Mei 2016 pada
tanggal 16.00 WIB
Djuanda, A, Hamzah, M & Aisah, S. 2007. Akne, Erupsi Akneiformis, Rosasea,
Rinofima dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Dochterman,JM, Gloria, M, et al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC)
Sixth Edition. Philadhelpia: Mosby Elsevier
Goldberg, David J & Berlin, Alexander L. 2012. Acne and Rosacea
Epidemiology, Diagnosis, and Treatment. London: Manson Publishing.
Graham-Brown, Robin. 2005. Dermatologi. Jakarta : Erlangga
Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
Harmanto, Ning. 2006. Ibu Sehat dan Cantik dengan Herbal. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Indraprasta, Shakti. 2012. Penelitian Retrospektif : Profil Penyakit Rosacea RSUD
Dr. Soetomo Surabaya. http://obstetri-
ginekologi.fk.unair.ac.id/index.php/BIKK/article/viewFile/1561/1209 diakses
pada tanggal 20 Mei 2016 pukul 17.00 WIB
Kowalak, JP, Welsh, W & Mayer, B (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta:
EGC
Moorhead , S, Marion, J, et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC)
Fifth Edition. Philadhelpia: Mosby Elsevier
Movita, Theresia. 2013. Acne Vulgaris, CDK-203/vol.40 n0.4. Jakarta: Ikatan
Dokter Indonesia
NANDA International. 2015. Nursing Diagnoses Definitions and Classification
2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell Publishing.
Price, SA & Wilson, LM (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Jakarta : EGC

67
Latifah, Sofia. 2015. Journal : Stress in Acne Vulgaris. http://jukeunila.com/wp-
content/uploads/2016/02/24.pdf . diakses pada tanggal 20 Mei 2016 pukul
16.30 WIB
Sudjadi, Bagod dan Siti Laila. 2006. Biologi Sains Dalam Kehidupan. Surabaya:
Yudhistira.
Tranggono, Retno Iswari. Latifah, Fatma. 2007. BUKU PEGANGAN ILMU
PENGETAHUAN KOSMETIK. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Wibowo, Daniel S. 2008. Anatomi Tubuh Manusia Halaman 26-29. Jakarta :
Grasindo.
Wolff K & Johnson RA. 2009. Rosacea. Disorders of Sebaceous and Apocrine
Glands. In: Wolff K, Johnson RA, editors. Fitzpatrick’s Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology. 6th ed. New York: McGraw-Hill
Companies.
Zaengline, et al. 2016. Guidlines Of Care For The Management Of Acne Vulgaris.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0190962215026146 diakses
pada tanggal 20 Mei 2016 pukul 17.30 WIB.
Zoubulis, C.C. 2014. Guidlines For The Treatment Of Hidradenitis
Suppurativa/Acne Inversa. www.huidziekten.nl/richtlijnen/european-
guideline-hidradenitis-suppurativa-2014.pdf diakses pada tanggal 20 Mei 2016
pukul 17.00 WIB

68