Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MATA AJAR KEPERAWATAN KRITIS I

“Keperawatan Bencana Kerusuhan Sosial”

Fasilitator:
Sriyono, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. MB.

Disusun Oleh:
Kelompok 5 A2 2015
Agi Putri Alfiyanti (131511133046)
Elly Ardianti (131511133058)
Heny Oktora Safitri (131511133068)
Asti Pratiwi (131511133069)
Fara Anggita Rosa (131511133104)
Talia Puspita Adianti (131511133118)
Dewita Pramesti S. (131511133125)
Nadia Nur Mar’atus S (131511133137)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan
hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Keperawatan
Bencana Kerusuhan Sosial” dengan baik dan tepat waktu. Adapun pembuatan
makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan nilai tugas dari mata kuliah
Keperawatan Kritis I. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk
memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya ilmu
keperawatan.

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan


yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama
penyusunan makalah ini sehingga semua dapat terselesaikan dengan baik dan
lancar. Secara khusus rasa terimakasih tersebut penulis sampaikan kepada:

1. Sriyono, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. MB. selaku dosen mata kuliah
Kritis I serta dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan
dorongan dalam penyusunan makalah ini.
2. Rekan-rekan di jurusan S-1 Pendidikan Ners, Universitas Airlangga, yang
juga telah banyak membantu penulis.

Penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun


terhadap kekurangan dalam makalah agar selanjutnya penulis dapat memberikan
karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pengetahuan pembaca.

Surabaya, 28 Agustus 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................................2
1.3 Tujuan.................................................................................................................................3
1.3.1 Tujuan Umum.............................................................................................................3
1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................................................3
1.4 Manfaat...............................................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................4
2.1 Definisi Kerusuhan Sosial..................................................................................................4
2.2 Penyebab Kerusuhan Sosial................................................................................................4
2.3 Dampak dari Kerusuhan Sosial..........................................................................................9
2.4 Pencegahan ........................................................................................................................9
2.5 Peran Perawat dalam Manajemen Kejadian Bencana.......................................................10
2.6 Fase Siklus Bencana.........................................................................................................13
2.6.1 Fase Mitigasi.............................................................................................................13
2.6.2 Fase Preperedness.....................................................................................................14
2.6.3 Fase Akut Respon......................................................................................................14
2.6.4 Fase Rehabilitasi.......................................................................................................15
BAB III PENUTUP...............................................................................................................17
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................................17
3.2 Saran.................................................................................................................................17
Daftar Pustaka......................................................................................................................18

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dilihat dari perspektif multikulturalisme (pandangan seseorang tentang ragam
kehidupan di dunia, menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan
politik), keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya Indonesia merupakan
suatu kekayaan bangsa yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
memberikan kontribusi positif bagi upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Namun, pada situasi tertentu, kondisi banyaknya penduduk yang sangat heterogen
dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan, jika terdapat kondisi ketimpangan
pembangunan, ketidakadilan serta kesenjangan sosial, ekonomi, kemiskinan dan
juga dinamika kehidupan politik yang tidak terkendali. Kondisi tersebut
menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan konflik.
Era globalisasi ini kehidupan Bangsa Indonesia tengah mengalami ancaman
peristiwa konflik dan ancaman yang cukup memprihatinkan. Sebab, pada akhirnya
konflik dan kerusuhan itu akan selalu bermuara pada satu hal yang selalu
dijadikan alasan atau kambing hitam munculnya konflik dan kerusuhan tersebut,
yaitu masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Trend konflik ini
semakin mengkhawatirkan pasca era reformasi 1998. Pada media 2012,
Kemendagri merilis jumlah konflik sosial pada tahun 2010 sebanyak 93 kasus.
Kemudian menurun pada tahun 2011 menjadi 77 kasus. Namun kemudian
meningkat pada tahhun 2012 menjadi 89 kasus hingga akhir Agustus
(Antaranews, 2012 dalam http://digilib.unila.ac.id/16383/15/BAB%20I.pdf).
Staf Ahli Menteri Sosial bidang Kehumasan dan Tatakelola Pemerintah Sapto
Waluyo (2014) dalam http://digilib.unila.ac.id/16383/15/BAB%20I.pdf
mengatakan bahwa daerah rawan konflik sosial disebabkan kondisi ekonomi yang
tertinggal. Ada enam daerah diprediksi paling rawan pada tahun 2014 ini meliputi
Papua, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, dan Jawa Tengah.
Sebagian besar kondisi ekonominya tertinggal dibanding daerah lain. Namun, ada
juga daerah maju tapi interaksi hubungan) sosial antarkelompok sangat kaku,
sehingga mudah meletup hanya karena masalah kecil.

1
Prediksi yang diliris Kementrian sosial dan Jawa Pos Nasional Network
(JPNN) (2014 dalam http://digilib.unila.ac.id/16383/15/BAB%20I.pdf)
menunjukkan bahwa daerah yang paling banyak konflik adalah Papua dan Jawa
Barat. Melihat dari jumlah terjadinya konflik sosial yang begitu sering, pada 2014
lalu, Kemensos juga melancarkan program keserasian sosial di 50 wilayah rawan
konflik sosial dan program penguatan kearifan lokal di 30 daerah.
Konflik yang mungkin terjadi dapat berupa konflik horizontal maupun
vertikal. Konflik horizontal adalah konflik antara individu maupun kelompok
yang biasa terjadi diantara individu atau kelompok yang memiliki status sosial
yang sama, sedangkan konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara individu
atau kelompok yang memiliki kekuasaan, kewenangan dan status sosial berbeda.
Dampak yang dirasakan masyarakat berkenaan dengan konflik sosial cukup
kompleks, diantaranya dapat mengakibatkan hilangnya rasa aman, menciptakan
rasa takut masyarakat, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, korban jiwa
dan trauma psikologis (dendam, kebencian dan perasaan permusuhan), sehingga
menghambat terwujudnya kesejahteraan umum. Kementrian sosial dan JPNN
(2014 dalam http://digilib.unila.ac.id/16383/15/BAB%20I.pdf) merilis daerah
rawan konflik sosial di pulau Jawa meliputi, Banten, Tangerang, Jakarta, Sliyeg,
dan Indramayu. Beberapa kajian menunjukkan bahwa konflik akan selalu
diawali dengan adanya potensi yang mengendap kemudian dapat berkembang
memanas menjadi ketegangan emosi dan akhirnya pecah memuncak
menjadi konflik fisik akibat adanya faktor pemicu konflik. Konflik sosial
merupakan masalah yang cukup mengkhawatirkan bila tidak dilakukan
serangkaian upaya untuk pencegahan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah definisi dari kerusuhan sosial?
1.2.2 Apa saja penyebab kerusuhan sosial?
1.2.3 Bagaimana dampak dan akibat dari kerusuhan sosial?
1.2.4 Bagaimana pencegahan kerusuhan sosial?
1.2.5 Bagaimana penanggulangan dari kerusuhan sosial?
1.2.6 Apa saja fase siklus bencana?

2
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Setelah perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan dan melakukan
pencegahan untuk meminimalisir kerusuhan sosial.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami definisi dari kerusuhan
sosial.
2. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami penyebab kerusuhan
sosial.
3. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami dampak dan akibat dari
kerusuhan sosial.
4. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami pencegahan kerusuhan
sosial.
5. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami penanggulangan dari
kerusuhan sosial.
6. Mahasiswa dapat mengerti, dan memahami fase siklus bencana.

1.4 Manfaat
1.4.1 Makalah ini diharapkan mampu memberikan gambaran secara
mendalam tentang kerusuhan sosial.
1.4.2 Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi dan informasi
bagi para pembaca khususnya tentang pencegahan kerusuhan sosial.

BAB 2

3
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kerusuhan Sosial


Kerusuhan atau Konflik Sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-
hara/kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu
yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu.
Kerusuhan sosial juga memiliki pengertian sebagai suatu rangkaian tindakan
seseorang atau sekelompok massa berupa pengrusakan dan pembakaran sarana dan
fasilitas umum, sosial, ekonomi, hiburan, agama-agama, dan lain-lain.
2.2 Penyebab Kerusuhan Sosial
Konflik kerusuhan yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagai macam
sebab. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antar manusia, sehingga
sulit untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. Hal ini
dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik, tetapi pada
kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik, demikian hal
sebaliknya. Kadang sesuatu yang sifatnya sepele bisa menjadi sumber konflik
antara manusia. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa
individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah
menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain
sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial,
konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu
masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan
kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri. Kesimpulannya sumber konflik itu sangat
beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. Oleh karena kita tidak bisa menetapkan
secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu,
apalagi hanya didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional. Pada umumnya
penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut:
1. Perbedaan Pendapat
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat di mana masing-
masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau mengakui
kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka
dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan, bahkan berujung pada
konflik dan sebagainya.
2. Salah Paham

4
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik.
Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi
karena terjadi kesalahpahaman, yang diterima sebaliknya dalam arti salah
paham oleh individu yang lain.
3. Ada Yang Dirugikan
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau
masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang
yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan
membenci.
4. Perasaan Sensitif
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan
orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak
lain dianggap merugikan.
5. Perbedaan individu
Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab
terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber
konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah
individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan
yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan
akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor
penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial,
seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika
berlangsung pentas musik di lingkungan permukiman, tentu perasaan
setiap warganya akan berbeda - beda. Ada yang merasa terganggu karena
berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
6. Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi
yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-
pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang
berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang
dapat memicu konflik.
7. Perbedaan Kepentingan Antara Individu atau Kelompok
Manusia memiliki peranan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan,
masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-
beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk
tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan

5
kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat
menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari
kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para
petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi
mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu,
pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan
uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan
adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas
terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan
kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di
masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula
menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula
dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu,
misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi
karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh
menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan
pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang
serta volume usaha mereka.
8. Perubahan-Perubahan Nilai yang Cepat dan Mendadak dalam Masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika
perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan
tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada
masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang
mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada
masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat
berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah
itu seperti nilai kegotong royongan berganti menjadi nilai kontrak kerja
dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan
kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam
organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi
individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung
tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal
kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika

6
terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan
prosesproses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan
terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan
kehiodupan masyarakat yang telah ada.

Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih, 2007) mengemukakan konflik


disebabkan antara lain oleh:

a. perebutan sumber daya


b. pembalasan dendam
c. atribusi dan kesalahan dalam berkomunikasi

Soetopo (2001) juga mengemukakan beberapa faktor yang dapat


mempengaruhi timbulnya konflik, antara lain:

a. ciri umum dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik


b. hubungan pihak-pihak yang mengalami konflik sebelum terjadi konflik
c. sifat masalah yang menimbulkan konflik
d. lingkungan sosial tempat konflik terjadi
e. kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik
f. strategi yang biasa digunakan pihak-pihak yang mengalami konflik
g. konsekuensi konflik terhadap pihak yang mengalami konflik dan terhadap
pihak lain
h. tingkat kematangan pihak-pihak yang berkonflik.

Sedangkan Handoko (1998) menyatakan bahwa sumber-sumber konflik adalah


sebagai berikut:

a. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa


yang sulit dimengerti, atau informasi yang dan tidak lengkap, serta gaya
individu manajer yang tidak konsisten.
b. Struktur: pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan-
kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan, persaingan untuk
memperebutkan sumber-sumber daya yang terbatas, atau saling
ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan kerja untuk
mencapai tujuan mereka.

Berbeda pula dengan pendapat Mangkunegara (2001) bahwa penyebab konflik


dalam organisasi adalah:

7
a. koordinasi kerja yang tidak dilakukan
b. ketergantungan dalam pelaksanaan tugas
c. tugas yang tidak jelas (tidak ada diskripsi jabatan)
d. perbedaan dalam orientasi kerja
e. perbedaan dalam memahami tujuan organisasi
f. perbedaan persepsi
g. sistem kompetensi intensif (reward)
h. strategi permotivasian yang tidak tepat.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang sumber konflik sebagaimana


dikemukakan oleh beberapa ahli, dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat
berasal dari dalam (internal) dan luar (ekternal) diri individu. Dari dalam diri
individu misalnya adanya perbedaan tujuan, nilai, kebutuhan serta perasaan yang
terlalu sensitif. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan,
persaingan, serta langkanya sumber daya yang ada di sekitar yang berpengaruh.
Dalam berbagai hal kaitannya dengan negara, Kerusuhan memang ada d setiap
Negara, bahkan di negara indonesia sering kali terjadi tindakan kerusuhan. Bisa
dari lingkup masyarakat, pemerintahan, Agama atau Etnis, dan juga dalam suatu
olahraga.

2.3 Dampak Kerusuhan Sosial

Dampak Dari Kerusuhan Sosial/ Konflik Sosial

1. Hancurnya kesatuan kelompok. Jika konflik yang tidak berhasil


diselesaikan menimbulkan kekerasan atau perang, maka sudah barang
tentu kesatuan kelompok tersebut akan mengalami kehancuran.
2. Adanya perubahan kepribadian individu. Artinya, di dalam suatu
kelompok yang mengalami konflik, maka seseorang atau sekelompok
orang yang semula memiliki kepribadian pendiam, penyabar menjadi
beringas, agresif dan mudah marah, lebih-lebih jika konflik tersebut
berujung pada kekerasan.
3. Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Antara nilai- nilai dan
norma sosial dengan konflik terdapat hubungan yang bersifat
korelasional, artinya bisa saja terjadi konflik berdampak pada
hancurnya nilai-nilai dan norma sosial akibat ketidak patuhan anggota
masyarakat akibat dari konflik
2.4 Penanganan

8
Upaya-Upaya Untuk Mengatasi Konflik
Secara sosiologi, proses sosial dapat berbentuk proses sosial yang bersifat
menggabungkan (associative processes) dan proses sosial yang menceraikan
(dissociative processes). Proses sosial yang bersifat asosiatif diarahkan pada
terwujudnya nilai-nilai seperti keadilan sosial, cinta kasih, kerukunan, solidaritas.
Sebaliknya proses sosial yang bersifat dissosiatif mengarah pada terciptanya nilai-
nilai negatif atau asosial, seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan,
pertentangan, perpecahan dan sebagainya. Jadi proses sosial asosiatif dapat
dikatakan proses positif. Proses sosial yang dissosiatif disebut proses negatif.
Sehubungan dengan hal ini, maka proses sosial yang asosiatif dapat digunakan
sebagai usaha menyelesaikan konflik.
Adapun bentuk penyelesaian konflik yang lazim dipakai, yakni konsiliasi,
mediasi, arbitrasi, koersi (paksaan), détente. Urutan ini berdasarkan kebiasaan
orang mencari penyelesaian suatu masalah, yakni cara yang tidak formal lebih
dahulu, kemudian cara yang formal, jika cara pertama membawa hasil.
Menurut Nasikun, bentuk-bentuk pengendalian konflik ada enam yaitu:
1. Konsiliasi (conciliation)
Pengendalian semacam ini terwujud melalui lembaga-lembaga
tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan
pengambilan keputusan-keputusan diantara pihak-pihak yang
berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka
pertentangkan.
2. Mediasi (mediation)
Bentuk pengendalian ini dilakukan bila kedua belah pihak yang
bersengketa bersama-sama sepakat untk memberikan nasihat-
nasihatnya tentang bagaimana mereka sebaiknya menyelesaikan
pertentangan mereka.
3. Arbitrasi berasal dari kata latin arbitrium, artinya melalui
pengadilan, dengan seorang hakim (arbiter) sebagai pengambil
keputusan. Arbitrasi berbeda dengan konsiliasi dan mediasi. Seorang
arbiter memberi keputusan yang mengikat kedua belah pihak yang
bersengketa, artinya keputusan seorang hakim harus ditaati. Apabila
salah satu pihak tidak menerima keputusan itu, ia dapat naik banding
kepada pengadilan yang lebih tinggi sampai instansi pengadilan
nasional yang tertinggi.

9
4. Perwasitan
Di dalam hal ini kedua belah pihak yang bertentangan bersepakat
untuk memberikan keputusan-keputusan tertentu untuk
menyelesaikan konflik yang terjadi diantara mereka.
2.5 Peran Perawat dalam Manajemen Kejadian Bencana
Perawat dalam asuhan keperawatan memiliki tanggung jawab peran dalam
membantu mengatasi ancaman bencana baik selama tahap preimpact,
impact/emergency, dan postimpact.
Peran perawat bisa dikatakan sebagai multiple, yaitu:
1. Sebagai bagian dari penyusun rencana
2. Pendidik
3. Pemberi asuhan keperawatan
4. Bagian dari tim pengkajian kejadian bencana

Peran perawat

a. Peran dalam pencegahan primer


Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra bencana
ini, antara lain:
a) Mengenali instruksi ancaman bahaya
b) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan saat fase emergency (makanan,
air, obat-obatan, pakaian dan selimut, serta tenda)
c) Melatih penanganan pertama korban bencana
d) Berokordinasi dengan dinas pemerintahan, organisasi lingkungan,
palang merah nasional maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan
dalam memberikan penyuluhan dan stimulasi persiapan menghadapi
ancaman bencana kepada masyarakat.
Pendidikan kesehatan diarahkan kepada:
a) Usaha pertolongan diri sendiri
b) Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong
anggota keluarga dengan kecurigaan fraktur tulang, perdarahan,
dan pertolongan pertama luka bakar
c) Memberikan beberapa alamat dan nomor telepon darurat seperti
dinas kebakaran, rs dan ambulans.
d) Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa
(misalnya pakaian seperlunya, portable radio, senter, baterai)
e) Memberikan informasi tempat-tempat altenatif penampungan atau
posko-posko bencana.
b. Peran perawat dalam keadaan darurat (Impact Phase)

10
Biasanya pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan
tepat setelah keadaan stabil. setelah bencana mulai stabil, masing-masing
bidang tim survey mulai melakukan pengkajian cepat terhadap kerusakan-
kerusakan. begitu juga perawat sebagai bagian dari tim kesehatan, perawat
harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan tindakan
pertolongan pertama. ada saat dimana “seleksi” pasien untuk penanganan
segera (emergency) akan lebih efektif (Triase)
Triase tersebut meliputi:
a) Merah: merupakan paling penting dan prioritas utama. keadaan yang
mengancam kehidupan sebagian besar pasien mengalami hipoksia,
syok, trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan
kehilangan kesadaran, luka bakar derajat I-II.
b) Kuning: penting, perioritas kedua. perioritas kedua meliputi injury
dengan efek sistemik namun belum jatuh dalam keadaan syok karena
dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih bisa bertahan selama 30-60
menit. luka tersebut meliputi fraktur tulang multipel, fraktur terbuka,
cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat II.
c) Hijau: prioritas ketiga, yang termasuk kategori ini adalah fraktur
tertutup, luka bakar minor, minor laserasi, kontusio, abrasion, dan
dislokasi.
d) Hitam: meninggal. korban bencana yang tidak dapat diselamatkan dari
bencana. ditemukan sudah dalam keadaan meninggal.
c. Peran perawat didalam posko pengungsian dan posko bencana
a) Menfasilitasi jadwal kunjungan, konsultasi medis dan cek kesehatan
sehari-hari
b) Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian
c) Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan
penanganan kesehatan di Rumah sakit
d) Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
e) Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus
bayi, peralatan kesehatan
f) Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit
menular maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri
dan lingkungannya berkoordinasi dengan perawat jiwa
g) Mengidentifikasi reasi psikologis yang muncul pada korban (ansietas,
depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan mengisolasi

11
diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang napsu makan, insomnia,
fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot)
h) Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat
dilakukan dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi
bermain
i) memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog
dan psikater
j) Konsultasikan bersama supervise setempat mengenai pemeriksaan
kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi
d. Peran perawat dalam fase postimpact
a) Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, social,
dan psikologis korban.
b) Selama masa pebaikan perawat membantu masyarakat untuk kembali
pada kehidupan normal.
c) Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin memerlukan jangka
waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat keadaan
dimana kecacatan terjadi.
2.6 Fase Siklus Bencana
2.6.1 Fase Mitigasi
Mitigasi (mitigation); yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi
dampak buruk dari suatu ancaman atau bencana. Upaya mitigasi dalam
kerusuhan sosial adalah untuk mencegah semakin memburuknya akibat yang
ditimbulkan oleh kerusuhan sosial seperti adanya korban jiwa, kerusakan
bangunan dan trauma. Diperlukan berbagai upaya sebagai jalan tengah yang
berupa perundingan. Terdapat 8 bentuk perundingan, yaitu:
1. Toleransi. Sikap saling menghargai, menghormati serta memahami
keberadaan, pendirian, serta keyakinan pihak lain.
2. Konfersi. Sikap bersedia menerima keberadaan serta pendirian pihak
lain
3. Kompromi. Kedua belah pihak bersepakat untuk saling mengalah,
memberi dan menerima.
4. Konsiliasi. Upaya yang dilakukan guna mencapai kesepakatan bersama
antara dua pihak melalui pihak ketiga.
5. Mediasi. Proses perundingan yang dilakukan dengan melibatkan pihak
ketiga yang netral.
6. Arbritasi. Kedua belah pihak yang berkonflik memilih pihak ketiga
sebagai upaya penyelesaian konflik.
7. Ajudikasi. Konflik diselesiakan melalui pengadilan.

12
8. Genjatan senjata. Penghentian peperangan dalam jangka waktu tertentu
sambil mencari jalan damai
2.6.2 Fase Preparedness
Kesiapsiagaan (Preparedness) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk mengantisipasi bancana atau ancaman melalui pengorganisasian dan
langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Upaya preparedness dalam
mengatasi kerusuhan sosial adalah dengan mengadakan kegiatan yang
bermanfaat untuk kedua belah pihak selain mengurangi kerusuhan sosial
namun juga untuk membrdayakan masyarakat untuk saling membutuhkan dan
menguntungkan satu sama lain. Contohnya: dalam kerusuhan antar suku yang
terjadi akibat perbedaan cara pandang dalam melakukan kegiatan dapat
dilakukan pertemuan antar kepala suku agar tidak terjadi konflik dan saling
melibatkan kedua belah pihak untuk bekerjasaa dengan melakukan kegiatan
secara bergantian maupun bersandingan dimana pihak satu dengan pihak yang
lain tidak merasa dirugikan
2.6.3 Fase Akut Respon
Fase akut respon merupakan fase dimana dilakukan berbagai aksi darurat
yang nyata segera pada saat kejadian bencana untuk mengontrol dampak
negatif dari bencana. Aktivitas yang dilakukan meliputi pencarian,
penyelamatan, dan evakuasi korban; menjamin keamanan dilokasi bencana;
pengkajian terhadap kerugian akibat bencana; pembagian dan penggunaan
alat perlengkapan pada kondisi darurat; pemenuhan kebutuhan dasar; dan
menyediakan tempat pengungsian.

2.6.4 Fase Rehabilitasi


Tahap ini bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan
infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap tanggap
darurat, seperti rehabilitasi bangunan ibadah, bangunan sekolah, infrastruktur
sosial dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat diperlukan.
Sasaran utama dari tahap rehabilitasi ini adalah untuk memperbaiki pelayanan
publik hingga pada tingkat yang memadai. Dalam tahap rehabilitasi ini, juga
diupayakan penyelesaian berbagai permasalahan yang terkait dengan aspek
psikologis melalui penanganan trauma korban bencana.
Fase Rehabilitasi Bencana Kerusuhan Sosial meliputi sebagai berikut:

13
a. Perbaikan lingkungan: bencana telah memberikan bekas khusus
bagi keadaan fisik, sosial, dan psikologi korban. Sebelum masa
perbaikan perawat membantu masyarakat untuk kembali pada
kehidupan normal yaitu dengan perbaikan lingkungan.
b. Pemulihan sosial psikologis: kegiatan mengkatifkan kembali
elemen masyarakat untu dapat dapat menjalankan fungsi sosial
secara normal. Intervensi psikologis berupa pemverian
pertolongan untuk meringankan beban psikologis masyarakat dan
mencegah terjadinya dampak psikologis lebih lanjut yang
mengarah pada gangguan mental. Bantuan konseling dan
konsultasi keluarga dapat dilakukan untuk melepaskan ketegangan.
Selain itu pendampingan pemulihan trauma menggunakan metode
terapi psikologis kepada individu yang mengalami trauma.
Pelatihan pemulihan kondisi psikologis juga diberikan untuk
pemuka komunitas, relawan, dan pihak-pihak yang ditokohkan
untuk memberikan dukungan psikologis pada masyarakatnya.
Capaian yang diharapkan adalah masyarakat dapat menerima
kejadian bencana, terbebas dari ketegangan, tidak terjadi gangguan
tidur atau gangguan lain yang diakibatkan bencana, dab dapat
menjalankan aktivitas sehari-hari seperti sebelum terjadi bencana.
c. Pelayanan kesehatan: ditujukan untuk membantu masyarakat yang
terkena dampak bencana untuk memulihkan kondisi kesehatan.
Pelayanan kesehatan dapat membantu pemulihan melalui
perawatan lanjut korban bencana yang sakit dan terluka,
menyediakan obat-obatan, menyediakan peralatan kesehatan,
menyediakan tenaga medis dam paramedis, memfungsikan kembali
sistem pelayanan kesehatan termasuk sitem rujukan.
d. Rekonsiliasi dan resolusi konflik: Rekonsiliasi adalah merukunkan
kembali pihak yang berselisih, sedangkan resolusi adalah
memposuskan perbedaan pendapat dan mencari solusi untuk
menyelesaikan masalah. Mediator biasanya adalah tokoh
masyarakat.
e. Pemulihan fungsi pelayanan publik: berlangsungnya kembali
berbagai pelayanan publik yang mendukung kehidupan sosial

14
ekonomi wilayah yang terkena bencana salah satunya pelayanan
kesehatan. Dalam hal ini puskesmas pembantu, puskesmas, RSU,
dan klinik bersalin dapat kembali melakukan pelayanan kesehatan.

15
BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1 Kasus
Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di Gereja S jalan surabaya pada hari
minggu, 26 Agustus 2018 jam 07.00 pagi. Belum diketahui berapa orang yang
menjadi korban.
3.2 Skenario
Pada tanggal 26 Agustus 2018, terjadi sebuah ledakan di gereja S jalan
surabaya. Sumber ledakan diduga terjadi akibat bom bunuh diri di depan pintu
masuk gereja. Ledakan terjadi 1x dan terdengar hingga radius 200m. Beberapa
sumber mengatakan bahwa kemungkinan ledakan bom bunuh diri tersebut
dilakukan oleh dua orang yang berboncengan sepeda motor menuju gereja. Satu
pelaku yang dibonceng terlihat membawa ransel yang diduga berisi bom.
Jumlah korban akibat ledakan bom sekitar10 orang terluka, 3 orang tewas,
dan 3 orang dalam keadaan kritis. Beberapa korban dilarikan ke posko dan rumah
sakit.
Dampak yang dikibatkan bom bunuh diri yaitu 3 gedung, 1 rumah, dan 1
gereja mengalami kerusakan. Warga sekitar takut akan adanya bom susulan
sehingga keamanan area sekitar mulai diperketat. Polisi dikerahkan untuk
mengevakuasi korban dan warga sekitar tempat ledakan. Selain itu petugas juga
ditugaskan untuk menyelidiki adanya unsur bom susulan. Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga datang untuk melakukan audit disekitar
lokasi kejadian.
3.3 Pembagian Zona saat Bencana (triase)
Sistem klasifikasi zona diperkenalkan pada edisi tahun 1999 NEC sebagai
alternatif sistem klasifikasi divisi yang lebih sesuai dengan standar Klasifikasi
area berbahaya IEC. Sistem ini memisahkan daerah-daerah berbahaya ke dalam
tiga zona: Zone 0, Zone 1, dan Zona 2.
Zona 0 menunjukkan area yang sudah terjadi ledakan dan terkena dampak dari
ledakan.
Zona 1 menunjukkan area sekitar ledakan yang tidak terkena dampak namun harus
waspada.
Zona 2 menunjukkan are yang jauh dari lokasi ledakan dan aman.
3.4 Penanganan Pertama
Saat terjadi ledakan merupakan fase akut respon dimana dilakukan berbagai aksi
darurat yang nyata segera pada saat kejadian bencana untuk mengontrol dampak

16
negatif dari bencana. Aktivitas yang dilakukan meliputi pencarian, penyelamatan,
dan evakuasi korban; menjamin keamanan dilokasi bencana; pengkajian terhadap
kerugian akibat bencana; pembagian dan penggunaan alat perlengkapan pada
kondisi darurat; pemenuhan kebutuhan dasar; dan menyediakan tempat
pengungsian.
3.5 Tenaga kesehatan yang akan diturunkan
Ketika terjadi terorisme tenaga kesehatan yang akan diturunkan yaitu:
1. Tim Reaksi Cepat : Tim ini diharapkan dapat segera bergerak dalam waktu
0-24 jam setelah informasi bencana, terdiri atas:
1). Pelayanan Medik
a. Dokter umum/BSB
b. Perawat Ahli
c. Tenaga Disaster Victim Identification (DVI)
d. Sopir ambulans
2). Petugas komunikasi
2. Tim RHA
Tim yang dapat diberangkatkan bersamaan dengan Tim Reaksi Cepat atau
menyusul dalam waktu kurang dari 24 jam, terdiri atas:
1) Dokter umum
3. Tim Bantuan Kesehatan
Tim yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah Tim Reaksi
Cepat dan Tim RHA kembali dengan laporan hasil kegiatan mereka di
lapangan, terdiri atas:
1) Dokter umum
2) Apoteker dan asisten apoteker
3) Perawat (D3/S1 keperawatan)
3.6 Posko bantuan
Beberapa tujuan keberadaan Posko dalam melayani korban bencana
adalah: Pertama, membantu menyalurkan segala bentuk bantuan terutama
kesehatan. Kedua, mendorong keikutsertaan masyarakat sekitar untuk turut
terlibat dalam membantu para korban ledakan. Ketiga, menyajikan informasi
kepada pihak-pihak yang berkepentingan terkait segala hal yang menyangkut
kondisi dan situasi lokasi kejadian.
Dalam mendirikan Posko, para relawan kemanusiaan harus
mempertimbangkan aspek strategis Posko. Tim atau petugas Posko wajib
memiliki struktur organisasi standar; harus ada Penanggungjawab, Koordinator
Lapangan, staf administrasi, data-dokumentasi, logistik-bantuan, distribusi serta
petugas piket.

3.7 Proses Evakuasi

17
Sesaat setelah terjadi ledakan, polisi dan penjinak bom melakukan evakuasi
tempat kejadian dan evakuasi korban menuju tempat evakuasi. Para korban
dibawa ke posko bantuan untuk dilakukan triase. Polisi akan mengamankan area
dan memasang police line agar lokasi tidak dilalui warga. Selanjutnya akna
dilakukan penyisisran atau audit lokasi kejadian.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kerusuhan atau Konflik Sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-
hara/kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu
yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu.
Dampak dari kerusuhan sosial adalah mengakibatkan hancurnya kesatuan
kelompok, adanya perubahan kepribadian individu, dan mengakibatkan hancurnya
nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Oleh sebab itu, jika terdapat permasalahan
maka selesaikanlah dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain

18
maupun lingkungan sekitar. Adapun bentuk penyelesaian konflik yang lazim
dipakai yaitu konsiliasi, mediasi, arbitrasi, koersi (paksaan), détente.
4.2 Saran
Diharapkan hasil dari makalah ini mampu memberikan wawasan dan
pengetahuan mengenai keperwatan bencana kerusuhan sosial serta mampu untuk
memahami fase-fase dari bencana dan bagaimana cara menangggulanginya.

Daftar Pustaka

BNPB. 2008. Peraturan Kepala BNPB Nomor 11 tahun 2008: Pedoman

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana. Diakses dari

www.gitews.org pada tanggal 26 Agustus 2018.

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan,

Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005

Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003

19
Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2010

Setiadi, Elly M dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan

Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya,

Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011

Turkanto. 2006. Splinting & Bandaging. Kuliah Keperawatan Kritis. Surabaya:

PSIK Universitas Airlannga.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan

http://www.metro.polri.go.id/kondisi-kamtibmas-masyarakat-jakarta/kerusuhan-

sosial. [20 September 2013]

http://digilib.unila.ac.id/16383/15/BAB%20I.pdf. Diakses pada Sabtu, 25 Agustus

2018 pukul 22.3 WIB.

20