Anda di halaman 1dari 14

A.

Pengesaan Allah
http://belajarsemangatdi1456.blogspot.com/2013/01/pengertian-tauhid-dan-macam-
macamnya.html
B. PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM-MACAM TAUHID
C.
D. Tauhid menurut bahasa adalah meng-Esakan. Sedangkan menurut syariat adalah
meyakini keesaan Allah. Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang
membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada
dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya.
Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya. Dalilnya dari firman-firman Allah, di
samping dalil-dalil aqliyah :
E. “Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu
sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula,
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa
dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
F. (QS 42:11)
G. Seluruh alam semesta ini diciptakan oleh Allah, dan tidak ada pelaku yang bertindak
sendiri dan merdeka sepenuhnya selain Allah.
H. Di bawah ini akan dibahas macam-macam tauhid, diantaranya Tauhid Rububiyah,
Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ Wa Sifat.
I.
J.
K. 1. Tauhid Rububiyah.
L. Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan
meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk-Nya. Dan alam
semesta ini diatur oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tak disekutui oleh
siapa dan apapun dalam pengelolaan-Nya. Allah menciptakan semua makhluk-Nya di
atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musrik yang
menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya. Jadi
jenis tauhid ini diakui semua orang. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk
mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Adapun orang yang
paling dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih
tetap meyakini-Nya.
M. Alam semesta dan fitrahnya tunduk dan patuh kepada Allah. Sesungguhnya alam
semesta ini (langit, bumu, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat,
serta manusia) seluruhnya tunduk dan patuh akan kekuasaan Allah. Tidak satupun
makhluk yang mengingkari-Nya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-
masing, serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna. Penciptanya sama sekali
tidak mempunyai sifat kurang, lemah, dan cacat. Tidak satupun dari makhluk ini yang
keluar dari kehendak, takdir, dan qadha’-Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas
izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua
adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, dan dikendalikan-
Nya.
N. Allah Ta’ala berfirman
O. “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah : 1)
P. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi”
(Mutafaqqun ‘Alaih)
Q.
R. Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal ini berarti siapa yang
mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta,
pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak
ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Dan itulah
yang disebut Tauhid Uluhiyah. Jadi tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid
uluhiyah. Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid
rububiyah. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.
S.
T. 2. Tauhid Uluhiyah.
U. Tauhid Uluhiyah yaitu ibadah. Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan
perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar,
kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan
inabah (kembali atau taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul. Disebut
demikian, karena tauhid uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya,
“Allah” yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga karena tauhid
uluhiyah merupakan pondasi dan asas tempat dibangunnya seluruh amal. Juga disebut
sebagai tauhid ibadah karena ubudiyah adalah sifat ‘abd (makhluknya) yang wajib
menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepada-Nya.
V. Allah Ta’ala berfirman
W. “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 163)
X. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada
mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah”
(Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari,“Sampai mereka mentauhidkan Allah”.
Y.
Z. Manusia ditentukan oleh tingkatan din. Din sendiri berarti ketaatan. Di bawah ini adalah
tingkatan din :
AA.  Islam
BB. Islam menurut bahasa adalah masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’,
Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepada-Nya, taat, dan
membebaskan diri dari syirik dan pengikutnya.
CC.  Iman
DD. Iman menurut bahasa berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan
menurut syara’, iman berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan
perbuatan dengan anggota badan.
EE.  Ihsan
FF. Ihsan menurut bahasa berarti kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan
terpuji. Sedangkan menurut syara’ adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda
Nabi yang artinya “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika
engkau tidak bias melihay-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu
Taimiyah berkata “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas kepada Allah dan
perbuatan baik yang dicintai oleh Allah”.
GG.
HH. Rasulullah menjadikan din itu adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Maka jelaslah bahwa din
itu bertingkat, dan sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lainnya. Tingkatan yang
pertama adalah Islam, tingkatan yang kedua adalah Iman, dan tingkatan yang paling
tinggi adalah Ihsan.
II.
JJ. 3. Tauhid Asma’ Wa Sifat.
KK. Tauhid Asma’ Wa Sifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya,
sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an dan Sunah Rasul-Nya. Maka barang
siapa yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan
menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari
maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta
terhadap Allah dan Rasulnya.
LL. Allah Ta’ala berfirman
MM. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat” (Q.S. Asy-Syuura : 11)
NN. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada
setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-
Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.
OO.
PP.
QQ. Sifat-sifat Allah dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
RR.  Sifat Dzatiyah
SS. Sifat Dzatiyah yaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini berpisah
dengan dzat-Nya. Seperti berilmu, kuasa atau mampu, mendengar, bijaksana, melihat,
dll.
TT.  Sifat Fi’liyah
UU. Sifat Fi’liyah adalah sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti bersemayam di
atas ‘Arasy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir malam, dan dating pada
Hari Kiamat.
VV.
WW. Tauhid asma’ wa sifat ini juga berpengaruh dalam bermuamalah dengan Allah.
Di bawah ini contoh-contohnya :
XX.  Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifat-Nya, juga mengetahui arti dan
maksudnya secara benar maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan
Rabbnya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk, patuh, dan khusyu’ kepada-Nya,
takut dan mengharapkan-Nya, serta bertawassul kepada-Nya.
YY.  Jika ia mengetahui jika Rabbnya sangat dahsyat azab-Nya maka hal itu akan
membuatnya merasa diawasi Allah, takut, dan menjauhi maksiat terhadap-Nya.
ZZ.  Jika ia mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun, Penyayang, dan Bijaksana
maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya
bersangka baik kepada Rabbnya dan tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya.
AAA.  Manusia akan mencari apa yang ada di sisi-Nya dan akan berbuat baik
kepada sesamanya.
BBB.
CCC.
DDD.
EEE. DAFTAR PUSTAKA
FFF. Shalih.2010.Kitab Tauhid I.Jakarta:Darul Haq.
http://makalah18.blogspot.com/2010/02/makalah-tentang-tauhid.html
Pengertian Tauhid
Tauhid secara bahasa berasal dari kata "wahhada - yuwahhidu" yang artinya menjadikan
sesuatu satu/tunggal/esa (menganggap sesuatu esa). Secara istilah syar'i, tauhid berarti
mengesakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur dan mengikhlaskan (memurnikan)
peribadahan hanya kepada-Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya serta
menetapkan Asma'ul Husna (Nama-nama yang Bagus) dan Shifat Al-Ulya (sifat-sifat yang
Tinggi) bagi-Nya dan mensucikan-Nya dari kekurangan dan cacat.
2.2 Macam – Macam Tauhid

a) Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatanNya,dengan meyakini
bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk, pemberi rizki bagi etiap
manusia,binatang dan makhluk lainnya. Dia adalah penguasa alam dan pengatur semesta, Dia
yang mengangkat dan menurunkan, yang memuliakan dan menghinakan, yang Maha kuasa atas
segala sesuatu, yang mengatur rotasi siang dan malam, yang menghidupkan dan mematikan.

Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaanNya, Dia menyatakan pula
tentang keesaanNya dalam RububiyahNya atas segala alam semesta. Allah menciptakan
makhluknNya diatas fitrah pengakuan terhadap rububiyahNya. Bahkan orang – orang musyrik
yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyahNya. Tauhid
rububiyah ini diakui oleh semua orang, tidak ada umat manapun yang menyangkalnya. Bahkan
hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang
lainNya

http://jakhinjj.blogspot.com/2016/04/makalah-tauhid-rububiyah-uluhiyah-asma.html

Tauhid Rububiyah
Kata at-tauhid berasal dari kata wahhada, yuwahhidu, tauhidan.
Kata wahhadameliputi makna kesendirian sesuatu
dengan dzat, sifat atau af’alnya (perbuatannya), dan tidak adanya sesuatu yang menyerupainya
dan menyertainya dalam hal kesendiriannya.[2]
Secara bahasa rububiyah berasal dari kata Rabb. Kata Rabb digunakan dengan
penggunaan yang haqiqi dan juga digunakan untuk yang lain secara majazi atau idhafi,dan
tidak untuk yang lain. Rububiyah adalah kata yang dinisbatkan kepada salah satu nama Allah
SWT, yaitu “Rabb”. Nama ini mempunyai beberapa arti, antara lain: al-Murabbi (pemelihara),
al-Nashir (penolong), al-Malik (pemilik), al-Muslih (yang memperbaiki), al-Sayyid (tuan), dan
al-Wali (wali). Sedangkan menurut istilah tauhid rububiyah berarti “percaya bahwa hanya
Allah-lah satu-satunya pencipta, pemilik, pengendali alam raya yang dengan takdirnya Ia
menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan sunnah-sunnah-Nya. Dan
karena Allah adalah Rabb yang hak bagi semesta alam, maka Dia sajalah yang khusus dengan
ketuhanan tanpa yang lain, wajib mengesakan-Nya dalam ketuhanan, dan tidak menerima
adanya sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan, yaitu sifat ketuhanan tidak mungkin ada pada yang
lain dari makhluk-Nya.
Tauhid rububiyah adalah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam dunia
beserta isinya ini hanyalah Allah sendiri tanpa bantuan siapapun. Dunia ini ada yang
menjadikan yaitu Allah SWT. Allah maha kuat tiada kekuatan yang menyamai af’alAllah.
Maka timbullah kesadararan bagi mahluk untuk mengagungkan Allah. Mahluk harus bertuhan
hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Maka keyakinan inilah yang disebut dengan
tauhid rububiyah. Jadi tauhid rububiyah adalah tauhid yang berhubungan dengan ketuhanan.
Sebagaimana telah dikatahui bahwa iman kepada wujud Allah, ke-Esaan,
sertarububiyyah-Nya atas seluruh mahluknya merupakan perkara yang memang hati telah
tercipta dan jiwa telah terbentuk untuknya, juga telah sepakat atasnya seluruh umat, sebab
Allah sangat jelas dan sangat nyata sehingga tidak memerlukan dalil untuk membuktikan
wujudnya. Firman Allah SWT:
‫قا لت رسلهم افى ا هلل شك فا طر ا لسموات وا الرض‬
“Berkata para rasul mereka: ‘Apakah ada keraguan-keraguan terhadap Allah, pencipta langit
dan bumi…?”. (QS. Ibrahim: 10).

Allah pencipta alam beserta isinya, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:
‫ذا لكم ا هلل ربكم ال ا له اال هو خا لق كل شيء فعبدوه وهو على كل شيء وكيل‬
“Yang memiliki sifat-sifat demikian itu ialah Allah tuhan kamu, tidak ada tuhan selain dia,
pencipta segala sesuatu maka sembahlah dia, dialah pemelihara segala sesuatu”.(QS. Al-
An’am: 102).

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya kata rububiyah meyakini bahwa Allah SWT
sebagai tuhan satu-satunya yang menguasai dan mengurus serta mengatur alam semesta.
Tauhid rububiyah akan rusak apabila kita mengakui bahwa yang mengurus alam ini ada dua
tuhan ataupun lebih. Seperti dipercayai oleh bangsa persi pada zaman dahulu. Adapun Al-
Qur’an menetapkan ke-Esaan Allah dalam menjadikan alam (tauhid rububiyah)dengan
berbagai dalil dan akal yang logis. Memang Al-Qur’an mengokohkan ke-EsaanAllah
sebagaimana Al-Qur’an mengokohkan adanya Allah.

2. Tauhid Uluhiyah
Kata Uluhiyah berasal dari kata alaha – ya’lahu – ilahan – uluhah yang bermakna
menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan. Sehingga ta’alluh diartikan sebagai
penyembahan yang disertai rasa kecintaan dan pengagungan. Tauhid uluhiyah adalah
keyakinan yang teguh bahwa hanya Allah yang berhak disembah disertai dengan pelaksanaan
pengabdian atau penyembahan kepadanya saja dan tidak mengalihkannya kepada yang
selainnya. Ungkapan yang paling detail tentang makna ini adalah ucapansyahadat yaitu Laa
Ilaaha Illallaah yang maknanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Dengan kata lain tauhid uluhiyah adalah mengiktikadkan bahwa Allah sendirilah yang
berhak disembah dan berhak dituju oleh semua hamba-Nya, atau dengan kata lain
tauhid uluhiyah adalah percaya sepenuhnya bahwa Allah berhak menerima semua peribadatan
mahluk, dan hanya Allah sajalah yang sebenarnya yang harus disembah.
Manusia bersujud kepada Allah. Allah tempat meminta, Allah tempat mengadu
nasibnya, manusia wajib mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Semua yang bersifat
kebaktian kepada Allah tanpa perantara (wasilah). Allah melarang kita menyembah selainnya,
seperti menyembah batu, menyembah matahari dan lain sebagainya. Dan itu semua adalah
perbuatan syirik yang sangat besar dosanya dan sangat dibenci Allah, bahkan Allah tidak akan
mengampuni dosa musyrik itu.
Dengan kata lain yang dimaksud tauhid uluhiyah adalah meyakini bahwa tidak ada
tuhan selain Allah SWT. firman Allah SWT:
‫وا لهكم ا له واحد الا له االهوا لرحمن ا لرحيم‬
“Dan tuhanmu adalah tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan selain dia, yang maha pemurah
lagi maha penyayang”. (QS. Al-Baqoroh: 163).

Singkatnya, keyakinan tentang Allah. Allah sebagai tuhan satu-satunya,


baik dzatmaupun sifatnya, dan perbuatan itulah yang disebut tauhid uluhiyah. Uluhiyah kata
nisbatnya dari kata Al-Illah yang berarti tuhan yang wajib ada, yaitu Allah,
sedangkanuluhiyah berarti Allah sebagai satu-satunya tuhan.
Satu adalah Esa pada Dzat-Nya, berarti bahwa dzat Allah SWT tidak tersusun dari bagian-
bagian, hal itu disebabkan karena dzat Allah SWT itu bukan benda fasik. Tidak seperti benda-
benda fisik dan benda-benda lainnya.
Kemudian dengan keyakinannya dia bermuamalah kepada Allah dengan ihlas, beribadah
dan menghambakan diri hanya kepadanya, serta berdo’a dan berseru hanya kepadanya, ia juga
mengimani bahwa Allah pengatur segala urusan, pencipta segala mahluk, pemilik asmaul
husna dan sifat-sifat sempurna.
Jadi tauhid Uluhiyah ialah kita percaya bahwa Allah lah satu-satunya tuhan yang wajib
disembah dan tiada sekutu baginya. Untuk membedakan antara
tauhid Rububiyahdan Uluhiah secara singkatnya adalah tauhid uluhiyah hanya dimiliki oleh
orang-orang mu’min saja, sedangkan tauhid rububiyah semua orang mempercayainya,
sekalipun dia adalah orang kafir.
Tauhid uluhiyah merupakan konsekuensi tauhid rububiyah. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul
Muhsin al-Badr hafizhahullah menjelaskan, “Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang
hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya
serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya’: 92). Allah ta’ala juga
berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah:
21)”.[3]
Iman terhadap rububiyah Allah belum bisa memasukkan ke dalam Islam.
Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada
Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).
Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah
kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka,
namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” [4]
Ini artinya, menganggap bahwa keyakinan Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara
alam semesta sebagai intisari tauhid adalah jelas sebuah kekeliruan. Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid
rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang
disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka
menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka
merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan
dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal
sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan
Allah ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya, dan
meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid
sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah
semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan
tidak mempersekutukan-Nya”.[5]
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan, “Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa
pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali
apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan
benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan…” [6]
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memaparkan, “Mengapa para nabi tidak
berkonsentrasi pada penetapan tauhid rububiyah dan dakwah kepadanya? Sebab tauhid
rububiyah adalah sesuatu yang telah mereka akui. Mereka tidaklah mengingkarinya, dan tidak
ada seorang pun yang berani mengingkari tauhid rububiyah selamanya, kecuali karena
kesombongan semata. Karena pada hakikatnya tidak ada seorang pun yang meyakini -
selamanya- bahwa alam semesta menciptakan dirinya sendiri. Bahkan, kaum Majusi
Tsanuwiyah sekalipun; yang berkeyakinan bahwa alam semesta ini memiliki dua pencipta.
Meskipun demikian, mereka tetap meyakini bahwa salah satu diantara keduanya lebih
sempurna. Mereka meyakini bahwa tuhan cahaya menciptakan kebaikan, sedangkan tuhan
kegelapan menciptakan keburukan. Sementara mereka mengatakan bahwa tuhan cahaya adalah
tuhan yang baik dan bermanfaat. Adapun tuhan kegelapan adalah tuhan yang buruk…”
“…Intinya, tidak akan anda temukan selamanya seorang pun yang berkata bahwa alam semesta
ini diciptakan tanpa adanya Sang pencipta, kecuali orang yang sombong. Sedangkan orang
yang sombong semacam ini adalah termasuk golongan orang musyrik. Adapun masalah
[tauhid] uluhiyah, maka itulah permasalahan yang menjadi sumber pertikaian dan pertentangan
antara para rasul dengan umat mereka.” [7]
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Diantara perkara
yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan
belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah.
Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb
[Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Sang Pencipta dan Penguasa
alam semesta]- akan tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam
syirik ibadah!!” [8]
Tatkala para ulama salaf sangat memperhatikan masalah tauhid ibadah, sesungguhnya
mereka melakukan itu semata-mata untuk mengikuti bagaimana Allah dan Rasul-
Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya. Karena tauhid rububiyah adalah
perkara yang fitrah ada pada manusia, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang telah
tercabut fitrah darinya dan terbutakan mata hatinya… Adapun salafiyun -dengan manhaj
mereka ini- berbeda dengan kaum Mutakallimin dari kalangan Asya’irah dan selainnya yang
melalaikan masalah tauhid ini dan tidak mencurahkan segenap upaya mereka untuk
mengokohkan dan mengajarkan hal itu kepada umat manusia. Bahkan, puncak perjuangan
mereka hanyalah berdalil untuk menetapkan keberadaan al-Khaliq, padahal ini semuanya telah
terpatri di dalam fitrah manusia yang suci. Sebagaimana sudah kami isyaratkan baru saja. Oleh
sebab itu untuk menetapkan hal itu tidaklah memerlukan upaya yang rumit. Apalagi sampai
menjadikan segala upaya hanya untuk mencapai tujuan itu. Yang demikian itu terjadi kepada
mereka disebabkan mereka menganggap bahwa hakikat ilahiyah adalah kemampuan untuk
mencipta. Oleh sebab itu mereka berjuang untuk memberikan penjelasan kepada manusia
bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta. Kelalaian inilah yang pada akhirnya
menjerumuskan mereka ke dalam berbagai kotoran bid’ah dalam ibadah dan sebagian praktek
kemusyrikan, akibat mengesampingkan tauhid ibadah.[9]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang
paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan
gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Karena tauhid uluhiyah adalah cabang keimanan yang tertinggi maka
mendakwahkannya merupakan dakwah yang paling utama. Syaikh Abdul Malik
Ramadhani hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah
da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah
kepada derajat keimanan yang tertinggi.” [10]

3. Asma wa Shifat
Iman kepada asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah yang telah disebutkan dalam Al-
Qur’an dan Al-Hadis yaitu mengimani semua asma-asma dan sifat-sifat Allah secara utuh
tanpa menyamakannya dengan sifat dan nama manusia. Allah berfirman:
‫يعلم ما بين ايد يهم وما خلفهم واليحيطون به علما‬
“Dia mengetahui apa yang ada dihadapan mereka dan apa yang ada dibelakang mereka
sedang ilmu-ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaha: 110).

Manhaj Ahlussunah Waljamaah dalam bab asma dan sifat-sifat Allah adalah
mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang telah ditetapkannya untuk dirinya atau yang telah
ditetapkan oleh Rasulullah SAW.[11] Tanpa tahrif atau ta’wil yaitu merubah lafazh Nama dan
Sifat, atau merubah maknanya. Ta’thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah.
Takyif yaitu menerangkan keadaan yang ada padanya sifat. Tamtsil sama dengan Tasybih,
yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya.
Hal itu sejalan dengan apa yang telah digariskan Allah melalui firmannya:
‫ليس كمثله شيء وهوا لسميع ا لبصير‬
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya dan dia maha pendengar lagi maha
penyayang. (QS. Asy-Syura: 11)

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata:
Rasulullah SAW bersabda:

“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barang siapa yang menghitungnya
(membacanya) maka ia akan masuk surga.

Terdapat kesepakatan diantara para ulama salaf bahwa wajib mengimani semua nama-
nama Allah. Misalnya Al-Qadir (yang maha kuasa) mengandung makna bahwa kita harus
percaya bahwa Allah maha kuasa untuk melakukan segala hal, dan bahwa kekuasaan-Nya
adalah sempurna dan segala hal yang ada di alam berasal dari kekuasaan-Nya.
Dalam teologi islam terdapat pertentangan mengenai masalah apakah tuhan
mempunyai sifat atau tidak. Sifat, dalam arti sesuatu yang mempunyai wujud tersendiri.
Sebagian aliran mengatakan ada dan sebagian lain mengatakan tidak. Disinggung Muhammad
Abduh dalam risalah ia menyebut sifat-sifat tuhan. Mengenai masalah apakah sifat itu
termasuk esensi tuhan ataukah lain dari esensi tuhan. Ia jelaskan bahwa hal itu terletak diluar
kemampuan manusia untuk mengetahuinya. Tetapi sungguhpun demikian ia kelihatannya lebih
cenderung kepada pendapat bahwa sifat termasuk esensituhan walaupun ia tidak tegas
mengatakan demikian.
Al-Qur’an menawarkan terhadap orang-orang kafir dan penolak dalil dimana pikiran-
pikiran rasional tidak mempunyai pilihan selain untuk menegaskan dan dimana tidak ada
pikiran logis yang dapat menolaknya. Allah maha mulia berfirman:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu (sebab)pun ataukah mereka telah menciptakan (diri
mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan seluruh langit dan bumi itu? Namun
mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. Ath-Thur: 35-36).

Al-Qur’an mengatakan kepada mereka, “Kamu ada dan kamu tidak dapat mengingkari
hal ini, langit dan bumi ada diluar keraguan apapun”, ini semata-mata merupakan persoalan
yang masuk akal terhadap pikiran yang rasional bahwa hal-hal yang ada pasti memiliki sebab-
sebab keberadaannya. Hukum ini menyatakan bahwa suatu hal mungkin tidak dapat terjadi
dengan sendirinya, dan sesuatu itu tidak dapat dengan sendirinya tanpa hal lain yang
menyebabkannya. Karena sesuatu itu tidak memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri untuk
eksis dengan sendirinya. Dan sesuatu itu tidak dapat dengan sendirinya menyebabkan sesuatu
yang lain untuk eksis. Karena sesuatu itu tidak dapat memberikan suatu lainnya apa yang ia
sendiri tidak miliki.
Kaum muslimin pada abad hijriyah kalau bertemu dengan ayat-ayat yang
membicarakan sifat-sifat tuhan, seperti tempat yang berisi tangan tempat bagi tuhan, tidak mau
membicarakan isinya juga tidak mau menukilkan isinya meskipun ia berpendirian seharusnya
tidak diartikan menurut lahirnya, karna tuhan maha suci dan tidak bisa disamakan dengan
mahluk. Dengan kata lain tidak ada persamaan antara alam lahir dengan alam ghaib, karena itu
persoalan sifat tidak pernah menjadi pembicaraan pada masa sahabat dan tabi’in. akan tetapi
pada masa sesudah mereka timbullah persoalan sifat dan menjadi pembicaraan golongan-
golongan islam.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Kata at-tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan. Kata wahhadamemiliki makna
kesendirian sesuatu dengan dzat, sifat atau af’alnya dan tidak adanya sesuatu yang
menyerupainya dan menyertainya dalam hal kesendiriannya.
2. Tauhid rububiyah ialah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam dunia beserta isinya
ini hanyalah Allah sendiri tanpa bantuan siapapun
3. Tauhid uluhiyah adalah mengiktikadkan bahwa Allah sendirilah yang berhak disembah dan
berhak dituju oleh semua hambanya
4. Iman kepada asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an
dan Al-Hadis yaitu mengimani semua asma-asma dan sifat-sifat Allah secara utuh tanpa
menyamakannya dengan sifat dan nama manusia.

B. Saran
Demikian makalah ini kami buat. Semoga apa yang kami diskusikan dapat menambah
rasa syukur kita kepada Allah dan menambah pengetahuan kami. Adapun dalam penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan yang masih perlu kami sempurnakan. Untuk itu kritik
dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan kami ucapan terima
kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Aqil, Muhammad bin A.W. 2009. Manhaj ‘Aqiqah Imam Asy-Syafi’I, Jakarta: Pustaka Imam
Asy-Syafi’I.

Al-Asyqar, Umar. 2008. Belajar Tentang Allah, Jatiwaringin: Sahara intisains.

Al Jazairi, Abu Bakar. 2002. Akidah Mukmin, Jakarta : Pustaka Al Kautsar

Hanafi. 1980. Teologi Islam (Ilmu Kalam), Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Zakaria, A. 2008. Pokok-pokok Ilmu Tauhid. Garut: IBN AZKA.

https://abu0mushlih.wordpress.com/2013/10/05/kaitan-tauhid-rububiyah-dan-tauhid-
uluhiyah diakses pada tanggal
http://hd578w9wer.blogspot.co.id/2013/01/makalah-tafsir-tuhid-rububiyahuluhiyah di akses pada
tanggal

[1]). Sayid Sabiq, Aqaid A-sIlamiya ,1993, CV. Diponegoro: Bandung, hlm. 15
[2] ). Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqiqah Imam Asy-Syafi’I, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I,
2009, hal. 279.

[3] ). Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 97


[4] ). Fath al-Bari [13/556]
[5]) . Fath al-Majid, hal. 15-16
[6]). Syarh Kasyf asy-Syubuhat, hal. 24-25
[7]). Syarh al-Qawa’id al-Hisan, hal. 21
[8]). Al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/8]
[9] ). Al-Manhaj as-Salafi, Ta’rifuhu, Tarikhuhu, Majalatuhu, Qawa’iduhu wa Khasha’ishuhu, hal. 134 oleh Dr.
Mafrah bin Sulaiman al-Qusi, cet. Darul Fadhilah, 1422 H
[10]). Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16
[11]). Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqiqah Imam Asy-Syafi’I, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I,
2009

http://iqraku.blogspot.com/2009/08/tauhid-rububiyah-uluhiyah-mulkiyah.html

Tauhid Rububiyah : Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala perbuatanNya,
dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


"Artinya : Allah menciptakan segala sesuatu ..." [Az-Zumar: 62]

Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rizkinya, ..." [Hud : 6]

Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan
menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi
siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada
orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan
Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan
malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup
dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang
Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." [Ali Imran: 26-27]

Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan
adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh
sembahan-sembahan (mu) selain Allah ..." [Luqman: 11]

"Artinya : Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?" [Al-Mulk: 21]

Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." [Al-Fatihah: 2]

"Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya
dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk
kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah,
Tuhan semesta alam." [Al-A'raf: 54]

Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan
orang-orang musyrik yang menye-kutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.

Artinya : Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang
besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka
akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu
ditipu?"
[Al-Mu'minun: 86-89]

Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati
manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya.
Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah:
"Artinya : Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan
bumi?" [Ibrahim: 10]

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir'aun. Namun demikian di hatinya masih
tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa alaihis salam kepadanya:
"Artinya : Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan
mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata:
dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa". [Al-Isra': 102]

Ia juga menceritakan tentang Fir'aun dan kaumnya:


"Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati
mereka meyakini (kebenaran) nya." [An-Naml: 14]

Tauhid Uluhiyah : Yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma'bud (yang disembah).
Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia,
tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau
bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan
karenaNya semata.

Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Karena itu seringkali Allah membantah
orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini.
Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu
bagi Allah, padahal kamu mengetahui."
[Al-Baqarah : 21-22]

Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembahNya dan beribadah kepadaNya.
Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap
manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan
hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para
hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainNya; dari
benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat
sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.

Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena
manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan
kemadharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang
bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya. Maka
tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-
orang musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan RasulNya untuk ber-hujjah atas mereka
seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
ingat?" Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengeta-hui?" Mereka
akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu
ditipu?" [Al-Mu'minun : 84-89]

"Artinya : (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; ..." [Al-An'am : 102]

Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang
menjadi tujuan dari pencipta-an manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu."
[Adz-Dzariyat : 56]

Arti " Ya'buduun " adalah mentauhidkanKu dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid
hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta
mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah,
tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki,
Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan mereka,
niscaya mereka menjawab: 'Allah', ..." [Az-Zukhruf : 87]
"Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi?', niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Ma-ha
Mengetahui'." [Az-Zukhruf : 9]

"Artinya : Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah
yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup
dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". [Yunus : 31]

Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur'an. Maka barangsiapa mengira bahwa
tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur
alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para
rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu
yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil
tersebut.

Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela
atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan,
penghormatan, rasa takut, do'a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan
dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara' dan fitrah agar ditujukan
khusus kepada Allah semata. Juga secara akal, syara' dan fitrah, tidak mungkin hal itu boleh ditujukan
kepada selainNya.

Tauhid Mulkiyah : Yaitu mentauhidkan Allah dalam mulkiyahnya bermakna kita mengesakan
Allah terhadap pemilikan, pemerintahan dan penguasaanNya terhadap alam ini. Dialah Pemimpin,
Pembuat hukum dan Pemerintah kepada alam ini. Hanya landasan kepemimpinan yang dituntut oleh
Allah saja yang menjadi ikutan kita. Hanya hukuman yang diturunkan oleh Allah saja menjadi pakaian
kita dan hanya perintah dari Allah saja menjadi junjungan kita.

Katakanlah (wahai Muhammad) : “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan, Engkaulah
yang memberi kuasa pemerintahan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang
mencabut kuasa pemerintahan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan
siapa yang Engkau kehendaki dan Engkaulah yang menghina siapa yang Engkau kehendaki. Dalam
kekuasaan Engkaulah saja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap
sesuatu.
[Ali Imran : 26]

"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" [Al Maidah : 50]

Tauhid Mulkiyah menuntuk adanya ke-wala-an secara totalitas kepada Allah, Rasul dan Amirul
Mukmin (selama tidak bermaksiat kepada Allah SWT)

Pemimpin (wali)
Wali adalah sebahagian dari sifat-sifat mulkiyatullah. Ia membawa arti sifat penguasaan iaitu sebagai
pelindung, penolong dan pemelihara.

"Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an, dan Dia lah jua yang
menolong dan memelihara orang-orang yang berbuat kebaikan." [Al A'raaf : 50]

Pembuat Hukum
Hakiman atau pembuat hukum juga adalah sebahagian dari sifat mulkiyatullah. Ia mesti diikhtiraf oleh
manusia dan tunduk hanya kepada hukum-hukum yang telah diturunkan olehNya saja karena hak
mencipta hukum itu hanya terhadap kepada Allah semata-mata.

"Apa yang kamu sembah, yang lain dari Allah, hanyalah nama-nama yang kamu menamakannya, kamu
dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan sembarang bukti yang membenarkannya.
Sebenarnya hukum (yang menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui." [Yusuf : 50]

Pemerintah
pemerintah satu lagi sifat mulkiyatullah yang perlu diketahui oleh setiap muslim. Allah memiliki Arasy
dan memerintah seluruh mahluk ciptaannya ini dengan ketentuan daripadanya. Dia yang menciptakan
dan Dia yang mengarahkan menurut apa yang dikehendakiNya.

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu. Ia
bersemayam di atas Arasy. Ia melindungi malam dengan siang yang mengiringinya dengan deras (silih
berganti) dan (Ia pula yang menciptakan) matahari dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya)
tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian
mahluk) dan urusan pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam."
[Al A'raaf : 50]