Anda di halaman 1dari 51

Makalah SGD Keperawatan Komunitas III

Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Inkontinensia Urine

Fasilitator :

Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep.

Oleh: Kelompok 2-A2

Siska Kusuma Ningsih (131511133037)

Rizka Maudy Julianti (131511133051)

Alip Nur Apriliyani (131511133063)

Siti Lusiyanti (131511133073)

Rahmadanti Nur Fadilla (131511133074)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat
dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan
Keperawatan pada Lansia dengan Inkontinensia Urine” dengan baik dan tepat waktu.
Adapun pembuatan makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan nilai tugas dari mata
kuliah Keperawatan Komunitas III. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan
untuk memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya ilmu
keperawatan.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan
yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama
penyusunan makalah ini sehingga semua dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
Secara khusus rasa terimakasih tersebut penulis sampaikan kepada :

1. Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku dosen mata kuliah Keperawatan
Komunitas III serta dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan
dorongan dalam penyusunan makalah ini.

2. Rekan-rekan di jurusan S-1 Pendidikan Ners, Universitas Airlangga, yang juga


telah banyak membantu penulis.

Penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun


terhadap kekurangan dalam makalah agar selanjutnya penulis dapat memberikan
karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pengetahuan pembaca.

Surabaya, Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA INKONTINENSIA URINE ......................... 4
2.1 Definisi Inkontinensia Urine ........................................................................... 4
2.2 Klasifikasi Inkontinensia Urine ...................................................................... 4
2.3 Etiologi Inkontinensia Urine ........................................................................... 5
2.4 Patofisiologi Inkontinensia Urine ................................................................... 6
2.5 WOC Inkontinensia Urine .............................................................................. 9
2.6 Manifestasi Klinis Inkontinensia Urine .......................................................... 10
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Inkontinensia Urine ................................................. 10
2.8 Penatalaksanaan Inkontinensia Urine ............................................................. 12
2.9 Komplikasi Inkontinensia Urine ..................................................................... 14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS.......................................... 15
3.1 Pengkajian ....................................................................................................... 15
3.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................... 17
3.3 Intervensi Keperawatan ................................................................................... 17
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS ................................................ 25
4.1 Kasus ............................................................................................................... 25
4.2 Pengkajian ....................................................................................................... 25
4.3 Analisa Data .................................................................................................... 31
4.4 Diagnosa Keperawatan.................................................................................... 33
4.5 Intervensi Keperawatan ................................................................................... 33
4.6 Evaluasi ........................................................................................................... 38

iii
BAB V KESIMPULAN ...................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak
terkendali atau terjadi diluar keinginan. Jika inkontinensia urine terjadi akibat
kelainan inflamasi (sistitis), mungkin sifatnya hanya sementara. Namun jika
kejadian ini timbul karena kelainan neurologi yang serius (paraplegia),
kemungkinan besar sifatnya akan permanen (Brunner & Suddarth, 2002).
Inkontinensia urine lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan
daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Angka kejadian bervariasi,
karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat,
diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini.
Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan
meningkat dengan bertambahnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih
didapatkan kejadian10%, sedangkan pada usia 35-65 tahun mencapai 12%.
Prevalensi meningkat sampai16% pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Pada
nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10%
dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak.
Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15 – 30% usia
lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di
rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah
berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun. Masalah
inkontinensia urin ini angka kejadiannya meningkat dua kali lebih tinggi
pada wanita dibandingkan pria. Perubahan-perubahan akibat proses
menua mempengaruhi saluran kemih bagian bawah. Perubahan tersebut
merupakan predisposisi bagi lansia untuk mengalami inkontinensia, tetapi
tidak menyebabkan inkontinensia. Jadi inkontinensia bukan bagian normal
proses menua.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan inkontinensia urine?
1.2.2 Apa saja penyebab terjadinya atau etiologi inkontinensia urine?
1.2.3 Bagaimana patofisiologi dari inkontinensia urine?
1.2.4 Bagaimana WOC dari inkontinensia urine?
1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis dari inkontinensia urine?
1.2.6 Bagaimana klasifikasi dari inkontinensia urine?
1.2.7 Apa saja pemeriksaan diagnostik yang digunakan pada inkontinensia
urine?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan dari inkontinensia urine?
1.2.9 Apa saja komplikasi dari inkontinensia urine?
1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan inkontinensia urine?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu memahami
konsep dan teori serta mampu mengaplikasikan dalam asuhan
keperawatan pada klien dengan inkontinensia urine.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami definisi dari inkontinensia
urine.
b. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami etiologi dari inkontinensia
urine.
c. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami patofisiologi dari
inkontinensia urine.
d. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami WOC dari inkontinensia
urine.
e. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami manifestasi klinis dari
inkontinensia urine.

2
f. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami klasifikasi dari
inkontinensia urine.
g. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami pemeriksaan diagnostik
yang digunakan pada inkontinensia urine.
h. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami penatalaksanaan
inkontinensia urine.
i. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami komplikasi dari
inkontinensia urine.
j. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami asuhan keperawatan pada
klien dengan inkontinensia urine.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA INKONTINENSIA URINE

2.1 Definisi Inkontinensia Urine


Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak
terkendali atau terjadi diluar keinginan. (Brunner & Suddart. 2002).
Inkontinensia urine merupakan urine yang keluar tidak terkendali dan tidak
diduga. (Mary Barader, dkk. 2009).
Inkontinensia urine adalah kehilangan kontrol berkemih yang dapat bersifat
sementara atau menetap. (Potter & Perry. 2006). Jika inkontinensia urine terjadi
akibat kelainan inflamasi (sistitis), mungkin sifatnya hanya sementara. Namun
jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis serius (paraplegia)
kemungkinan besar sifatnya akan permanen.

2.2 Klasifikasi Inkontinensia Urine


Klasifikasi Inkontinensia Urine menurut H. Alimun Azis (2007) yaitu:
1. Inkontinensia urin akut (Transient incontinence)
Inkontinensia urin ini terjadi secara mendadak, terjadi kurang dari 6
bulan dan biasanya berkaitan dengan kondisi sakit akut atau problem
iatrogenic dimana menghilang jika kondisi akut teratasi.
2. Inkontinensia urin kronik (persisten)
Inkontinensia urin ini tidak berkaitan dengan kondisi akut dan
berlangsung lama (lebih dari 6 bulan). Inkontinensia urin kronik ini
dikelompokkan menjadi beberapa tipe:
a. Inkontinensia urin tipe stress
Terjadi apabila urin tidak terkontrol keluar akibat peningkatan
intraabdomen, melemahnya otot dasar panggul, operasi, dan penurunan
estrogen. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan,

4
tertawa, bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada
rongga perut.
b. Inkontinensia urin tipe urgensi
Timbul pada keadaan otot detrusor kandung kemih yang tidak stabil,
yang mana otot ini bereaksi secara berlebihan. Ditandai dengan
ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi berkemih muncul.
c. Inkontinensia urin tipe overflow
Ditandai oleh elimnasi urin yang sering dan kadang-kadang terjadi
hampir terus-menerus dari kandung kemih. Kandung kemih tidak dapat
mengosongkan isinya secara normal dan mengalami distensi yang
berlebihan. Meskipun eliminasi urin terjadi dengan sering, kandung
kemih tidak pernah kosong. Inkontinensia ini disebabkan oleh kelainan
neurologi (tumor, hiperplasi prostat)
d. Inkontinensia urin fungsional
Fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tetapi ada faktor yang
menyebabkan inkonensia, seperti gangguan kognitif berat yang membuat
pasien sulit untuk mengidentifikasi perlunya urinasi (misalnya alzheimer)
atau gangguan fisik yang menyebabkan pasien kesulitan melakukan
urinasi
e. Inkontinensia tipe campuran (mixed)
Merupakan kombinasi dari setiap jenis inkontinensia

2.3 Etiologi Inkontinensia Urine


Etiologi inkontinensia urine menurut Soeparman & Waspadji Sarwono (2001)
yaitu:
1. Poliuria, nokturia
2. Gagal jantung
3. Faktor usia : lebih banyak ditemukan pada usia >50 tahun
4. Lebih banyak terjadi pada lansia wanita dari pada pria hal ini disebabkan
oleh:

5
a. Penurunan produksi esterogen menyebabkan atropi jaringan uretra dan
efek akibat melahirkan dapat mengakibatkan penurunan otot-otot dasar
panggul
b. Merokok dan minum alcohol
c. Obesitas
d. Infeksi saluran kemih (ISK)

Penyebab inkontinensia urine juga bisa bersifat akut maupun kronis, yaitu:
1. Inkontinensia urine akut
a. Sembelit
b. Infeksi saluran kemih
c. Konsumsi alkohol berlebih
d. Minum terlalu banyak atau minum cairan yang dapat mengiritasi kandung
kemih
e. Mengkonsumsi obat (obat flu, diuretik, alergi)
2. Inkontinensia urine kronis
a. Otot kandung kemih yang terlalu aktif
b. Terdapat obstruksi pada saluran kemih, seperti terdapat batu dalam saluran
kemih
c. Otot dasar panggul lemah
d. Multiple sklerosis (penyakit kronis pada sistem saraf pusat)
e. Penyakit parkinson
f. Penyakit atau cedera yang mempengaruhi sistem saraf dan otot, termasuk
diabetes.

2.4 Patofisiologi Inkontinensia Urine


Proses berkemih yang normal ialah proses dinamik yang secara fisiologik
berlangsung dibawah kontrol dan koordinasi sistems saraf pusat dan sistem saraf
tepi di daerah sacrum. Sensasi timbul pada saat volume volume kandung kemih
mencapai 300-600 ml. Faktor yang mempengaruhi produksi urin adalah jumlah

6
cairan yang masuk ke tubuh, kondisi hormon, saraf sensori perkemihan, kondisi
sehat sakit, tingkat aktivitas (Ganong W, 2003). Dengan sensasi keinginan untuk
berkemih diantara 150-350 ml. Berkemih dapat ditunda 1-2 jam sejak keinginan
berkemih dirasakan. Ketika keinginan berkemih atau miksi terjadi pada otot
detrusor kontraksi dan sfingter internal dan sfingter ekternal relaksasi yang
membuka uretra. Pada orang dewasa muda hampir semua urine dikeluarkan
dengan proses ini. Pada lansia tidak semua urine dikeluarkan, tetapi residu urine
50 ml atau kurang dianggap adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml
mengindikasikan adanya retensi urine. Perubahan yang lainnya pada proses
penuaan adalah terjadinya kontrasi kandung kemih tanpa disadari. Wanita lansia,
terjadi penurunan produksi esteroge nmenyebabkan atrofi jaringan uretra
dan efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar
(Stanley M & Beare G Patricia, 2007).
Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih
melalui penghambatan kerja syaraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung
kemih yang dipersarafi oleh saraf simpatis serta saraf somatic yang
mempersyarafi otot dasar panggul (Guyton, 1995). Pengosongan kandung kemih
melalui persarafan kolinergik parasimpatis yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung kemih berkurang. Jika kortek
serebri menekan pusat penghambatan, akan merangsang timbulnya berkemih.
Secara umum penyebab inkontinensia dapat berupa penuaan, pembesara kelenjar
prostat, penurunan kesadaran, dan penggunaan obat narkotik atau sedatif.
Perubahan juga dapat disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul, terjadi
kontraksi yang abnormal pada kandung kemih yang menimbulkan rangsangan
berkemih sebelum waktunya dan meninggalkan sisa, pada pengosongan kandung
kemih yang tidak sempurna dapat mengakibatkan urine dalam kandung kemih
yang cukup banyak sehingga dengan pengisian sedikit dapat merangsang untuk
berkemih. Inkontinensia dapat dialami setiap individu pada usia berapapun walau
kondisi ini lebih umum dialami oleh lansia (Setiati, 2000).

7
Inkontinensia urin yang dialami pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan, resiko dekubitus (luka
pada daerah yang tertekan), dan adapat menimbulkan rasa rendah diri pasien.
Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi
pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

8
2.5 WOC Inkontinensia Urine

Hambatan/obstruksi Lesi spinal cord


Obstruksi uretra inkoordinasi Pembedahan Lansia
di bawah S2
kandung kemih antara detrusor uretra
Multiparitas (penurunan
otot dasar panggul) kelamin otot detrusor Komplikasi Kehilangan fungsi
Ketika batuk, bersin, Otot detrusor post op Penuruna otot kognitif
tertawa, mengejan tidak stabil destrusor
Kegagalan
pengeluaran urin Otot detrusor Penurunan fungsi
Tekanan kandung Tekanan intravesika melemah Tidak dapat tubuh
kemih > uretra meningkat mengontrol keluaran
Retensi urine
Inkontinensia Penurunan fungsi
Peningkatan Kontraksi kandung after trauma otot destrusor
Kronis Distensi Inkontinensia
terkanan intra kemih involunter
kandung kemih refleks
abdominal
Keinginan
Tidak dapat berkemih ↑
Kebocoran urine
Otot sfingter mengontrol keluaran Dysuria
involunteer
uretra melemah urine
Inkontinensia
MK: Gangguan fungsional
Inkontinensia Inkontinensia Rasa Nyaman Nyeri
Inkontinensia stress urgensi/dorongan overflow

Mk: Ansietas Perubahan status Gangguan


Inkontinensia Urin
kesehatan tubuh eliminasi urin

Genitalia eksterna basah MK: Risiko Infeksi

Urin yang bersifat asam Urin keluar saat


mengiritasi kulit malam/siang hari

MK: Risiko Kerusakan Mengganggu aktifitas,


Integritas Kulit tidur

MK: Gangguan Pola Tidur

9
2.6 Manifestasi Klinis Inkontinensia Urine
Tanda dan gejala pada pasien dengan inkontinensia urine menurut Uliyah
(2008) yaitu:
1. Ketidak nyamanan daerah pubis
2. Distensi vesika urinaria
3. Ketidaksanggupan untuk berkemih
4. Sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine (20-50 ml)
5. Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya
6. Meningkatkan keresahan dan keinginanan berkemih
7. Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih
8. Tidak merasakan urine keluar
9. Kandung kemih terasa penuh walaupun telah buang air kecil.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik Inkontinensia Urine


1. Uji urodinamik
Kegagalan dalam menetukan etiologi dan diagnose inkontinensia urin
terjadi pada 50% kasus yang mendasarkan pada anamnesa dan pemeriksaan
fisik saja sehingga perlu dilakukan pemeriksaan urodinamik sebagai uji
tambahan Urodinamik didefinisikan sebagai suatu pengujian factor normal
dan abnormal pada proses pengisian, transport, dan pengosongan urin pada
kandung kemih dan uretra dengan menggunakan metode tertentu.
Pemeriksaan meliputi:
a. Uroflowmetri (mengukur kecepatan aliran)
b. Sistometri (menggambarkan kontraktur detrusor)
c. Sistometri video (menunjukkan kebocoran urin saat mengedan saat
pasien dengan inkontinensia stress)
d. Flowmetri tekanan uretra (mengukur tekanan uretra dan kandung kemih
saat istirahat dan selama berkemih jika penyebab inkontinensia urin
pasien tetap tidak dapat ditentukan, evaluasi urodinamik merupakan

10
langkah selanjutnya yang harus dipertimbangkan). Ujir uro dinamik
bermanfaat pada kondisi:
a) Diagnosis yang belum pasti sehingga akan dapat mempengaruhi
terapi
b) Terapi empiris tidak berhasil mengatasi keadaan dan akan dicoba
pendekatan terapi lain.
c) Obstruksi yang dapat dikoreksi (diduga terjadi pada pasien dengan
overflow incontinence)
d) Pada pasien yang berusia lebih dari 70-75 tahun, uji urodinamik ini
mungkin diperlukan untuk menegakkan diagnosis sebelum
dilakukan terapi invasif (Vitriana. 2002)
2. Q-tip test
Tes ini dilakukan dengan menginsersikan sebuah cotton swab (Q-tip)
yang steril kedalam uretra wanita lalu kekandung kemih. Secara perlahan
tarik kembali hingga leher dari Q-tip berada di leher kandung kemih. Pasien
lalu diminta untuk melakukan Valsavamanuver atau mengkontraksikan otot
abdominalnya. Perubahan sudut Q-tip diukur dan dipergunakan sebagai
ukuran laksiti dasar panggul. Bila sudut yang terjadi lebih dari 35 derajat
dengan melakukan hal tersebut maka hal tersebut mengindikasikan adanya
hipermobilitas uretra (tipe II stress incontinence). Akan tetapi karena laksiti
mempunyai nilai yang kecil dalam menentukan penyebab inkontinensia,
maka kegunaan tes ini untuk diagnostic menjadi sangat terbatas. (Vitriana.
2002)
3. Marshall test (Marshall -Bonney test)
Jika pemeriksa mendeteksi keluarnya urin bersamaan dengan adanya
kontraksi otot abdomen, maka uji ini dapat dilakukan untuk mengetahui
apakah kebocoran dapat dicegah dengan cara menstabilisasi dasar kandung
kemih sehingga mencegah herniasime lalu diafragma urogenital atau tidak.
Dilakukan dengan meletakkan dua jari (jari ke dua dan ketiga) di fornices
lateral vagina (leher kandung kemih) dan meminta pasien untuk batuk.

11
Kandung kemih saat itu haruslah penuh. Dua jari pada leher kandung kemih
itu bertindak sebagai penyokong uretra proksimal selama Valsavamanuver.
4. Pad test
Merupakan penilaian semi objektif untuk mengetahui apakah cairan
yang keluar adalah urin, seberapa banyak keluarnya urin dan dapat digunakan
untuk memantau keberhasilan terapi inkontinensia. Bermanfaat sebagai
tambah anamnesa pasien dan pemeriksaan fisik. Intravesical methylene blue,
oral Pyridium, atau Urised dapat dipergunakan sebagai zat pewarna. Jika
pembalut mengalami perubahan warna maka cairan yang keluar adalah urin.
Pad test ini dapat dilakukan selama 1 jam atau 24 jam. Pad kemudian
ditimbang (1g=1ml) untuk menilai berapa banyak urin yang keluar. (Vitriana.
2002)
5. Standing pelvic examination
Pemeriksaan ini dilakukan jika pemeriksaan pelvis gagal untuk
menampakkan keluarnya urin atau jika diduga terdapat prolaps organ. Jika
tampak prolaps pelvis, dorong organ yang prolapse ke atas dengan pessary
atau gauze kemudian ulangi cough stress test dalam posisi berdiri. (Vitriana.
2002)

2.8 Penatalaksanaan Inkontinensia Urine


Penatalaksanaan inkontiensiaurin adalah untuk mengurangi factor resiko,
mempertahanan homeostasis, mengontrol inkotinensia urin, modifikasi
lingkungan, medikasi, latihn otot pelvis dan pembedahan.
1. Pemanfaatan kartu catatan berkemih yang dicatat pada kartu tersebut
misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik yang keluar
secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan, selain itu dicatat pula
waktu, jumlah, dan jenis minuman yang diminum.
2. Terapi non-farmakologis

12
Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya
inkontinensia urin, seperti hyperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretic,
gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah:
a. Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu
berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi
berkemih 6-7 x/hari.
b. Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksukan otot
dasar panggul secara berulang-ulang
3. Terapi farmakologis
Obat-obtan yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah
antikolinergik seperti Oxybutini, Propantteine, Dicylomine, flavoxate,
imipramine. Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, ayitu
pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada sfingter relax
dibeikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis
seperti prazosin utnuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara
singkat.
4. Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbagkan pada inkontinnsia tipe stress dan
urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil.
Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan
untuk menghilangkan retensiurin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu,
diverticulum, hyperplasia prostat, dan prolapse pelvic (pada wanita)
5. Modalitas lain
Sambal melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang
menyebabkan inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter.
6. Pemantauan asupan cairan
Pada orang dewasa minimal asupan cairan adalah 1500 ml perhari
dengan rentan yang lebih adekuat antara 2500 dan 3500 ml perhari dengan
asumsi tidak ada kondisi kontraindikasi. Lansia yang kontinen dapat
membatasi asupan cairan secara tidak tepat untuk mencegah kejadian-

13
kejadian yang memalukan. Pengurangan asupan cairan sebelum waktu tidur
daoat mengurangi inkontinensia pada malam hari, tetapi cairan harus
diminum lebih banyak selama siang hari sehingga total asupan cairan setiap
harinya tetap sama.

2.9 Komplikasi Inkontinensia Urine


1. Masalah kulit. Inkontinensia urin dapat menyebabkan ruam, infeksi kulit, dan
luka (ulkus kulit) dari kulit selalu basah
2. Infeksi saluran kemih. Inkontinensia meningkatkan risiko infeksi saluran
kemih berulang
3. Gangguan pola tidur

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Pengkajian
A. Karakteristik Demografi
1. Identitas Diri
Terdiri atas nama, tempat tanggal lahir pasien, jenis kelamin, status
perkawinan, agama, suku bangsa, alamat, pendidikan terakhir dan
diagnosa medis
2. Keluarga atau Orang lain yang penting/dekat yang dapat dihubungi:
Berisi data orang yang dapat dihubungi bila terdapat kondisi darurat. Bisa
berupa data keluarga maupun orang lain yang dianggap penting oleh
pasien
3. Riwayat pekerjaan dan Status Ekonomi
Berisi data terkait status ekonomi dan pekerjaan pasien
4. Aktivitas Rekreasi
Berisi data terkait kebiasaan atau hobi yang di sukai pasien
5. Riwayat Keluarga
Terdiri atas jumlah saudara kandung, riwayat kematian keluarga dalam 1
tahun terakhir, dan kunjungan keluarga
B. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi
Data berisi tentang kebiasaan makan pasien, frekuensi makan, jenis
makanan yang biasa dikonsumsi, kebiasaan sebelum makan, apakah
mempunyai alergi terhadap makanan tertentu, apakah mempunyai
pantangan dalam makanan serta adakah keluhan yang dialami pasien saat
makan.
2. Eliminasi
a. BAK

15
Data berisi tentang frekuensi dan waktu buang air, kebiasaan dan
apakah ada keluhan saat buang air kecil.
b. BAB
Data berisi tentang frekuensi dan waktu buang air, kebiasaan,
konsinstensi dan apakah ada keluhan saat buang air besar
3. Personal Higiene
a. Mandi
Data berisi tentang frekuensi dan waktu mandi serta penggunaan sabun
atau tidak serta kebiasaan yang dilakukan saat mandi
b. Oral Higiene
Data berisi tentang frekuensi dan waktu sikat gigi, menggunakan pasta
gigi atau tidak serta kebiasaan yang dilakukan saat menyikat gigi
c. Cuci Rambut
Data berisi tentang frekuensi dan waktu mencuci rambut,
menggunakan shampoo atau tidak serta kebiasaan yang dilakukan saat
mencuci rambut
d. Kuku dan Tangan
Data berisi tentang frekuensi dan waktu memotong kuku serta
kebiasaan mencuci tangan
4. Istirahat dan tidur
Data berisi tentang frekuensi tidur dan istirahat serta adakah keluhan yang
dialami pasien saat tidur
5. Kebiasaan mengisi waktu luang
Data berisi tentang kebiasaan pasien dalam mengisi waktu luang
6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Data berisi tentang kebiasaan pasien yang dapat mempengaruhi kesehatan
seperti merokok, minum alcohol dan lain-lain
7. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari
Pasien diminta menjabarkan rincian kegiatan yang dilakukan sehari-hari
dimulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.

16
C. Status kesehatan
1. Status kesehatan saat ini
Data berisi tentang keluhan utama selama 1 tahun terakhir, gejala yang
dirasakan, faktor pencetus, kapan timbulnya keluhan, dan upaya mengatasi
keluhan
2. Riwayat kesehatan Masa Lalu
Data berisi tentang penyakit yang pernah di derita, riwayat alergi (obat,
makanan, binatang, debu dan lain-lain), riwayat kecelakaan, riwayat
dirawat di rumah sakit dan riwayat pemakaian obat
3. Pengkajian/pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik menggunakan sistem observasi, pengukuran, auskultasi,
perkusi dan palpasi dengan memeriksa keadaan umum dan pemeriksaan
head to toe

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Domain 3. Eliminasi dan Pertukaran, Kelas 1. Fungsi Urinarius. Gangguan
eliminasi urin berhubungan dengan infeksi saluran kemih (00016)
2. Domain 11. Keamanan/Perlindungan, Kelas 2. Cedera Fisik. Risiko jatuh
(00155)
3. Domain 4. Aktivitas/Istirahat, Kelas 1. Tidur/Istirahat. Gangguan pola tidur
berhubungan dengan kegelisahan dan sering bangun saat malam (00198)
4. Domain 9. Koping/ Toleransi Stress. Kelas 2. Respon Koping. Ansietas b.d
perubahan status kesehatan (00146)

3.3 Intervensi Keperawatan


No. Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Gangguan Setelah dilakukan Bantuan berkemih (0640)
eliminasi urin tindakan keperawatan a. Tetapkan interval untuk
berhubungan selama 3x24 jam, jadwal berkemih,

17
dengan infeksi diharapkan gangguan berdasarkan pola
saluran kemih eliminasi urine klien pengeluaran urin
mulai teratasi. Dengan b. Tetapkan waktu untuk
kriteria hasil: memulai dan mengakhiri
Eliminasi Urine (0503) berkemih dalam jadwal
a. Pola eliminasi urin bantuan berkemih
tidak terganggu c. Berikan privasi pada klien
b. Bau, jumlah, dan saat berkemih
warna urin normal d. Berikan umpan balik positif
c. Intake cairan tidak jika inkontinensia membaik
terganggu
d. Mengenali keinginan Latihan Otot Pelvis (0560)
berkemih dengan baik a. Kaji kemampuan berkemih
e. Nokturia tidak klien
dialami b. Instruksikan klien untuk
menahan otot-otot sekitar
Kontinensia Urin uretra dan anus, kemudian
(0502) relaksasi seolah-olah ingin
a. Mengenali keinginan menahan buang air kecil
berkemih secara c. Instruksikan klien untuk
konsisten melakukan latihan
b. Menjaga pola pengencangan otot, dengan
berkemih teratur melakukan 300 kali
secara konsisten kontraksi setiap hari,
c. Berkemih pada menahan kontraksi selama
tempat yang tepat 10 detik, dan relaksasi
secara konsisten selama 10 menit diantara
d. Tidak ada perembesan sesi kontraksi, sesuai
urin seiring dengan protocol

18
peningkatan tekanan d. Informasikan kepada klien
abdomen (misal jika latihan akan efektif
bersin, tertawa) jika dilakukan 6-12
mingguAjarkan klien untuk
memonitor keefektifan
latihan dengan mencoba
menahan BAK 1x dalam
seminggu
e. Instruksikan klien untuk
mencatat inkontinensia urin
yang terjadi setiap harinya
untuk melihat
perkembangannya.

Perawatan Inkontinensia
Urin (0610)
a. Identifikasi factor yang
menyebabkan inkontinensia
urin pada klien (seperti pola
berkemih, fungsi kognitif,
masalah perkemihan, dll)
b. Jaga privasi klien saat
berkemih
c. Modifikasi pakaian dan
lingkungan untuk
mempermudah akses ke
toilet
d. Bantu klien untuk memilih
diapers atau popok kain

19
yang sesuai untuk
penanganan sementara
selama terapi pengobatan
dilakukan
e. Bersihkan kulit sekitar
genitalia secara teratur
f. Batasi intake cairan 2-3 jam
sebelum tidur
g. Instruksikan klien dan
keluarga untuk mencatat
pola dan jumlah urine
output
3. Risiko Jatuh Setelah dilakukan Manajemen Lingkungan:
tindakan keperawatan Keselamatan (6486)
selama 3x24 jam, a. Identifikasi kebutuhan
diharapkan keamanan keamanan klien berdasarkan
klien terjaga. Dengan fungsi fisik dan kognitif
kriteria hasil: serta riwayat perilaku di
Kejadian Jatuh (1912) masa alalu
a. Klien tidak jatuh saat b. Identifikasi hal-hal yang
berdiri maupun membahayakan di
berjalan lingkungan
b. Klien tidak jatuh saat c. Modifikasi lingkungan
ke kamar mandi untuk meminimalkan
bahaya dan resiko
Perilaku Pencegahan d. Gunakan peralatan
Jatuh (1909) perlindungan (missal
a. Klien meminta pegangan pada sisi, kunci
bantuan jika pintu, pagar,dll)

20
membutuhkan e. Siapkan nomer telepon
b. Klien menggunakan emergensi untuk klien
pegangan tangan jika (missal polisi, dinas
diperlukan kesehatan, dll)
c. Klien mendapat
pencahayaan yang Pencegahan Jatuh (6490)
memadai a. Identifikasi perilaku dan
d. Menyesuaikan factor yang mempengaruhi
ketinggian toilet resiko jatuh
sesuai yang b. Identifikasi karakteristik
diperlukan lingkungan yang mungkin
meningkatkan potensi jatuh
(misal lantai licin)
c. Ajarkan klien bagaimana
jika jatuh untuk
meminimalkan cedera
d. Sediakan pencahayaan yang
cukup untuk meningkatkan
pandangan
e. Sediakan permukaan lantai
yang tidak licin dan anti
selip
f. Ajarkan anggota keluarga
mengenai factor resiko yang
berkontribusi terhadap
kejadian jatuh dan
bagaimana keluarga bisa
menurunkannya
3. Gangguan Pola Setelah dilakukan Peningkatan Tidur (1850)

21
Tidur tindakan keperawatan a. Tentukan pola
berhubungan selama 3x24 jam, tidur/aktivitas klien
dengan diharapkan pola tidur b. Monitor/catat pola tidur
kegelisahan dan klien mulai normal. klien dan jumlah jam tidur
sering bangun Dengan kriteria hasil: c. Catat kondisi fisik klien
saat malam Tidur (0004) (misal frekuensi BAK)
a. Kualitas tidur baik dan/atau psikologis (missal
b. Jam tidur tidak kecemasan) yang dapat
terganggu mengganggu tidur klien
c. Pola tidur klien tidak d. Sesuaikan lingkungan
terganggu (seperti cahaya, suhu,dll)
d. Kualitas tidur klien untuk meningkatkan tidur
baik e. Monitor makanan dan
e. Klien merasa segar intake minuman yang dapat
setelah bangun tidur mengganggu tidur
f. Tidur klien tidak f. Anjurkan klien untuk
terputus menghindari makanan dan
g. Klien tidak BAK di minuman yang dapat
malam hari mengganggu tidur
h. Merasa segar setelah g. Diskusikan dengan klien
bangun dan keluarga mengenai
teknik untuk meningkatkan
tidur

Manajemen lingkungan:
kenyamanan (6482)
a. Ciptakan lingkungan yang
tenang
b. Sediakan lingkungan yang

22
bersih dan aman
c. Sesuaikan suhu ruangan
yang paling nyaman bagi
klien
Sesuaikan pencahayaan pada
malam hari
4. Ansietas Setelah dilakukan Pengurangan kecemasan
berhubungan tindakan keperawatan (5820)
dengan selama 3x24 jam, a. Berikan informasi faktual
perubahan status diharapkan tingkat mengenai diagnosis,
kesehatan kecemasan klien pengobatan, dan prognosis
berkurang. Dengan b. Ciptakan suasana untuk
kriteria hasil: memfasilitasi kepercayaan
Tingkat Kecemasan c. Dorong verbalisasi
(00004) perasaan, persepsi, dan
a. Kegelisahan ketakutan
berkurang d. Identifikasi saat tingkat
b. Tidak ada rasa cemas kecemasan berubah
yang diungkapkan e. Bantu pasien
secara lisan mengidentifikasi situasi
c. Tidak ada rasa takut yang memicu kecemasan
yang diungkapkan
secara lisan Peningkatan koping (5230)
d. Tidak ada tanda- a. Berikan penilaian pada
tanda klien menarik kemampuan klien dalam
diri dari lingkungan penyesuaian terhadap
perubahan-perubahan
dalam citra tubuh
b. Berikan penilaian mengenai

23
pemahaman klien terhadap
poses penyakit
c. Dukung sikap klien terkait
dengan harapan yang
realistis, sebagai upaya
untuk mengatasi perasaan
ketidakberdayaan
d. Dukung aktivitas-aktivitas
social dan komunitas

24
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Kasus
Ny. A usia 69 tahun seorang janda memiliki 10 orang anak, datang ke RS. B
pada tanggal 17 Februari 2018 diantar keluarga. Keluarga mengatakan Ny. A
sering kencing tanpa disadari (ngompol). Klien sendiri mengatakan tidak bisa
menahan jika sudah terasa ingin BAK. Frekuensi berkemih tiap hari 3-4x/3 jam.
Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar
sedikit air kencing. Sebelumnya Ny. A ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan
mengonsumsi obat diuretik. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data TB dan BB
Ny. A adalah 150 cm, 45 kg, TD 180/140 mmHg, Nadi 80x/menit, repirasi
18x/menit dan suhu 36,5˚C, output 2100 cc. Kegiatan sehari-hari Ny. A adalah
menjadi guru mengaji, akan tetapi semenjak ia sering mengompol sudah tidak
mau mengajar mengaji karena menganggap dirinya tidak suci (bersih) dan juga
berbau pesing. Keluarga juga mengatakan sejak Ny. A tidak mengajak mengaji
sulit diajak berkomunikasi.

4.2 Pengkajian
A. Karakteristik Demografi
1. Identitas Diri
Nama : Ny. A
Tempat/tanggal Lahir : Surabaya, 17 Juli 1952
Jenis Kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Janda
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan Terakhir : Sekolah Rakyat
Diagnosa Medik : Inkontinensia Urine
Alamat : Jln. Merdeka No.5

25
2. Keluarga atau Orang lain yang penting/dekat yang dapat dihubungi:
Nama : Tn.P
Alamat : Jln. Merdeka No.5
No. Telpon : 082153532xxx
Hubugan Dengan Klien : Anak Kandung
3. Riwayat pekerjaan dan Status Ekonomi
Pekerjaan Saat Ini : Guru Mengaji
Pekerjaan Sebelumnya : -
Sumber Pendapatan : Uang dari anak-anaknya
Kecukupan pendapatan : Cukup
4. Aktivitas Rekreasi
Hobi : Tidak Ada
Berpergian/wisata : Tidak Pernah
Keanggotaan organisasi : Tidak tergabung
Lain-lain : -
5. Riwayat Keluarga
a. Saudara kandung
No Nama Keadaan Saat Ini Keterangan
1 Tn. E Sehat, tinggal bersama anak
sulungnya
2 Tn. I Sehat, tinggal bersama anak
bungsunya
b. Riwayat kematian dalam keluarga (1 tahun terakhir)
Nama :-
Umur :-
Penyebab Kematian :-
c. Kunjungan Keluarga :
Anaknya Tn.P dan istri sering mengunjungi ibunya Ny. A
B. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi

26
a. Frekuensi makan : 3 kali sehari
b. Nafsu makan : ada
c. Jenis makanan : nasi, sayur-sayuran dan lauk pauk
d. Kebiasaan sebelum makan : berdoa terlebih dahulu
e. Makanan yang tidak disukai : ada, masakan yang berbau laut
f. Alergi terhadap makanan : tidak ada
g. Pantang makan : tidak ada
h. Keluhan yang berhubungan dengan makan : tidak ada
2. Eliminasi
a. BAK
1) Frekuensi dan waktu : 3-4x/3 jam
2) Kebiasaan BAK dalam malam hari : ya, ada
3) Keluhan yang berhubungan dengan BAK : tidak bisa
menahan keluarnya urine jika terasa ingin BAK
b. BAB
1) Frekuensi dan waktu : 1x sehari
2) Konsistensi :lembek, berwarna kuning
3) Keluhan yang berhubungan dengan BAB : tidak ada
4) Pengalaman memakai Laxantif/Pencahar : tidak pernah
c. Personal Higiene
1) Mandi
a) Frekuensi dan waktu mandi : 2x/sehari, pagi dan sore hari
b) Pemakaian sabun (Ya/Tidak) : ya
2) Oral Higiene
a) Frekuensi dan waktu gosok gigi : 2x sehari, sehabis mandi
dan sebelum tidur
b) Menggunakan pasta gigi : ya
3) Cuci Rambut
a) Frekuensi : 3x seminggu
b) Penggunaan shampo (Ya/Tidak) : ya

27
4) Kuku dan Tangan
a) Frekuensi gunting kuku : 2x dalam sebulan
b) Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun : ya.
5) Istirahat dan tidur
a) Lama tidur malam : 5 jam sehari
b) Tidur siang : 1 jam sehari
c) Keluhan yang berhubungan dengan tidur : tidur terganggu
sering ke WC karna mau kencing
6) Kebiasaan mengisi waktu luang
Klien mengatakan mengisi waktu luangnya dengan membaca al-
quran dan berdoa
7) Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
(jenis/frekuensi/ljumlah/lama pakai)
a) Merokok (Ya/Tidak) : tidak
b) Minuman keras (Ya/Tidak) : tidak
c) Ketergantungan terhadap Obat (Ya/Tidak) : ya
8) Uraian kronologis kegiatan sehari-hari
No Jenis Kegiatan Lama Waktu untuk
Setiap kegiatan
1 Merapikan tempat tidur 3 menit
2 Sholat subuh 10 menit
3 Mandi pagi 20 menit
4 Sarapan 10 menit
5 Berkebun 1 jam
6 Istirahat 5 menit
7 Mandi 20 menit
8 Menonotn tv 30 menit
9 Tidur siang 2 jam
10 Bersih-bersih panti 30 menit

28
11 Istirahat 5 menit
12 Mandi 20 menit
13 Mengajar ngaji 1 jam
14 Berkumpul bersama teman panti 1 jam
15 Makan malam 10 menit
16 Menonton tv 30 menit
17 Tidur malam 5 jam

C. Status Kesehatan
1. Status Kesehatan Saat Ini
a. Keluhan utama selama 1 tahun terakhir
Ny. A mengatakan 1 tahun terakhir sering mengeluh nyeri saat
berkemih, kalau bersin atau batuk kencing keluar secara tiba-tiba,
nokturia.
b. Gejala yang dirasakan
Kencing dalam sehari 3-4x/ 3 jam
c. Faktor pencetus
Dimensia, ISK
d. Timbulnya keluhan
 Bertahap ( ) Mendadak
e. Waktu mulai timbulnya keluhan
Satu tahun
f. Upaya mengatasi
Pergi ke RS/klinik pengobatan/dokter praktik
2. Riwayat kesehatan Masa Lalu
a. Penyakit yang pernah di derita
Klien mengatakan dua tahun lalau terkena hipertensi dan rutin
mengonsumsi obat diuretik
b. Riwayat alergi (obat,makanan, binatang, debu dan lain-lain)
Tidak ada alergi

29
c. Riwayat kecelakaan
Tidak pernah mengalami kecelakaan
d. Riwayat dirawat di rumah sakit
Klien mengatakan tidak pernah dirawat dirumah sakit karena sering
berobat ke dokter klinik
e. Riwayat pemakaian obat
Klien mnegatakan rutin mnegonsumsi obat diuretik
3. Pemeriksaan Fisik
(Observasi, pengukuran, auskultasi, perkusi dan palpasi)
a. Keadaan umum (TTV) : TD 180/140 mmHg, Nadi 80x/menit,
Pernapasan 18x/menit, Suhu 36oC
b. BB/TB : 45 Kg, 150 cm
c. Rambut : bersih, berwarna putih, tidak ada ketombe
d. Mata : simetris, palpebrae gelap, sclera anikterik
e. Telinga : bersih, tidak ada benda asing
f. Mulut, gigi dan bibir : bersih, tidak berbau, gusi tidak ada
peradangan, tidak ada karies, tidak
ada gigi palsu, lidah bersih, mampu
untuk mengunyah keras
g. Dada : bentuk dada simetris, getaran dinding kiri dan kanan sama,
tidak ada suara tambahan, payudara menyusut, tidak teraba
massa, tidak ada suara tambahan
h. Abdomen : datar, tidak ada bendungan vena pada abdomen, tidak
ada striae, kendung kemih teraba keras, tidak ada
mengalami usus buntu, tidak ada pembesaran limfe
i. Kulit : tekstur kulit terhilat kendur, keriput, tugor kulit jelek,
terdapat ruam dan kemerahan disekitar genetalia
j. Ekstremitas atas : tonus otot baik, kekuatan otot tangan kiri kanan
sama yaitu pada skala 5

30
k. Ekstremitas bawah : kekuatan otot kaki kiri dan kanan sama yaitu
pada skala 5, tidak ada nyeri persendian,
tidak terjadi osteoporosis, dan tidak ada
kelainan tulang
D. Hasil Pengkajian Khusus (Format Terlampir)
1. Masalah kesehatan Kronis :6
2. Fungsi kognitif :6
3. Status fungsional : 13
4. Status psikologis (skala depresi) : 3
5. Dukungan keluarga :
E. Lingkungan Tempat Tinggal
1. Kebersihan dan kerapian ruangan : Bersih
2. Penerangan : listrik, kurang terang
3. Sirkulasi udara : ada, baik
4. Keadaan kamar mandi dan WC : ada, toilet jongkok
5. Pembuangan air kotor : ada
6. Sumber air minum : ada, sumber dari PAM
7. Pembuangan sampah : ada, tertutup, diambil petugas
di depan panti
8. Sumber pencemaran : tidak ada
9. Penataan halaman (kalau ada) : rapi, bersih
10. Privasi : Aman
11. Risiko jatuh : tinggi

4.3 Analisa Data


No Data Etiologi Masalah
Keperawatan
1 DS: Kehilangan Gangguan Eliminasi
a. Keluarga mengatakan Ny. kemampuan Urine

31
A sering kencing tanpa untuk
disadari (ngompol). menghambat
b. Klien juga mengatakan saat kontraksi
dia bersin, membungkuk, kandung
batuk tiba-tiba keluar kemih
sedikit kencing.
c. Anak Ny. A mengatakan
bahwa sebelumnya Ny. A
ada riwayat hipertensi 2
tahun lalu dan
mengonsumsi obat diuretik.

DO :
a. Terdapat distensi kandung
kemih.
b. Bau pesing
2 DS : Modifikasi Risiko Jatuh
a. Klien sendiri mengatakan lingkungan
tidak bisa menahan jika
sudah terasa ingin BAK.
b. Klien juga mengatakan
frekuensi berkemih tiap
hari 3-4x/3 jam.
c. Klien juga mengatakan,
sering bolak-nalik WC.

DO :
a. Skor status fungsional hasil
analisisnya berjumlah 13

32
dikategorikan bahwa
pasien mandiri.
b. WC terpisah dari kamar,
jaraknya sekitar 10 meter.
3 DS : Nokturia Gangguan Pola Tidur
a. Klien mengatakan tidurnya pada malam
tergaggu karna sering hari
kencing pada malam hari

DO :
a. Palpebrae gelap, sering
menguap

4.4 Diagnosa Keperawatan


1. Domain 3. Eliminasi dan Pertukaran, Kelas 1. Fungsi Urinarius. Gangguan
eliminasi urin berhubungan dengan gangguan sensori motorik (00016)
2. Domain 11. Keamanan/Perlindungan, Kelas 2. Cedera Fisik. Risiko jatuh
(00155)
3. Domain 4. Aktivitas/Istirahat, Kelas 1. Tidur/Istirahat. Gangguan pola tidur
berhubungan dengan kegelisahan dan sering bangun saat malam (00198)

4.5 Intervensi Keperawatan


No. Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Gangguan Eliminasi Urine (0503) Latihan Otot Pelvis (0560)
Eliminasi Urin a. Pola eliminasi urin a. Kaji kemampuan berkemih
berhubungan tidak terganggu klien
dengan gangguan b. Bau, jumlah, dan b. Instruksikan klien untuk

33
sensori motorik warna urin normal menahan otot-otot sekitar
c. Intake cairan tidak uretra dan anus, kemudian
terganggu relaksasi seolah-olah ingin
d. Mengenali keinginan menahan buang air kecil
berkemih dengan baik c. Instruksikan klien untuk
e. Nokturia tidak melakukan latihan
dialami pengencangan otot, dengan
melakukan 300 kali
Kontinensia Urin kontraksi setiap hari,
(0502) menahan kontraksi selama
e. Mengenali keinginan 10 detik, dan relaksasi
berkemih secara selama 10 menit diantara
konsisten sesi kontraksi, sesuai
f. Menjaga pola protocol
berkemih teratur d. Informasikan kepada klien
secara konsisten jika latihan akan efektif
g. Berkemih pada jika dilakukan 6-12
tempat yang tepat mingguAjarkan klien untuk
secara konsisten memonitor keefektifan
h. Tidak ada perembesan latihan dengan mencoba
urin seiring dengan menahan BAK 1x dalam
peningkatan tekanan seminggu
abdomen (misal e. Instruksikan klien untuk
bersin, tertawa) mencatat inkontinensia urin
yang terjadi setiap harinya
untuk melihat
perkembangannya.

Perawatan Inkontinensia

34
Urin (0610)
a. Identifikasi factor yang
menyebabkan inkontinensia
urin pada klien (seperti pola
berkemih, fungsi kognitif,
masalah perkemihan, dll)
b. Jaga privasi klien saat
berkemih
c. Modifikasi pakaian dan
lingkungan untuk
mempermudah akses ke
toilet
d. Bantu klien untuk memilih
diapers atau popok kain
yang sesuai untuk
penanganan sementara
selama terapi pengobatan
dilakukan
e. Bersihkan kulit sekitar
genitalia secara teratur
f. Batasi intake cairan 2-3 jam
sebelum tidur
g. Instruksikan klien dan
keluarga untuk mencatat
pola dan jumlah urine
output
2. Resiko Jatuh Kejadian Jatuh (1912) Manajemen Lingkungan:
a. Klien tidak jatuh saat Keselamatan (6486)
berdiri maupun a. Identifikasi kebutuhan

35
berjalan keamanan klien
b. Klien tidak jatuh saat berdasarkan fungsi fisik
ke kamar mandi dan kognitif serta riwayat
perilaku di masa alalu
Perilaku Pencegahan b. Identifikasi hal-hal yang
Jatuh (1909) membahayakan di
a. Klien meminta lingkungan
bantuan jika c. Modifikasi lingkungan
membutuhkan untuk meminimalkan
b. Klien menggunakan bahaya dan resiko
pegangan tangan jika d. Gunakan peralatan
diperlukan perlindungan (missal
c. Klien mendapat pegangan pada sisi, kunci
pencahayaan yang pintu, pagar,dll)
memadai e. Siapkan nomer telepon
d. Menyesuaikan emergensi untuk klien
ketinggian toilet (missal polisi, dinas
sesuai yang kesehatan, dll)
diperlukan
Pencegahan Jatuh (6490)
a. Identifikasi perilaku dan
factor yang mempengaruhi
resiko jatuh
b. Identifikasi karakteristik
lingkungan yang mungkin
meningkatkan potensi jatuh
(misal lantai licin)
c. Ajarkan klien bagaimana
jika jatuh untuk

36
meminimalkan cedera
d. Sediakan pencahayaan yang
cukup untuk meningkatkan
pandangan
e. Sediakan permukaan lantai
yang tidak licin dan anti
selip
f. Ajarkan anggota keluarga
mengenai factor resiko yang
berkontribusi terhadap
kejadian jatuh dan
bagaimana keluarga bisa
menurunkannya
3. Gangguan Pola Tidur (0004) Peningkatan Tidur (1850)
Tidur a. Jam tidur tidak a. Tentukan pola
berhubungan terganggu tidur/aktivitas klien
dengan b. Pola tidur klien tidak b. Monitor/catat pola tidur
kegelisahan dan terganggu klien dan jumlah jam tidur
sering bangun c. Kualitas tidur klien c. Catat kondisi fisik klien
saat malam baik (misal frekuensi BAK)
d. Klien merasa segar dan/atau psikologis (missal
setelah bangun tidur kecemasan) yang dapat
e. Tidur klien tidak mengganggu tidur klien
terputus d. Sesuaikan lingkungan
f. Klien tidak BAK di (seperti cahaya, suhu,dll)
malam hari untuk meningkatkan tidur
e. Monitor makanan dan
intake minuman yang dapat
mengganggu tidur

37
f. Anjurkan klien untuk
menghindari makanan dan
minuman yang dapat
mengganggu tidur
g. Diskusikan dengan klien
dan keluarga mengenai
teknik untuk meningkatkan
tidur

4.6 Evaluasi Keperawatan


1. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan gangguan sensori motorik
S: Klien mengatakan bahwa perlahan-lahan ia mulai mampu mengenali dan
mengontrol keinginan untuk berkemih meskipun hanya dapat menahan
sebentar
O: Klien pergi ke kamar mandi untuk BAK, namun belum sampai di kamar
mandi urin sudah merembes
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan

2. Risiko jatuh
S: Klien mengatakan bahwa ia belum pernah jatuh sebulan terakhir
O: Terdapat pegangan tangan di sekitar kamar klien dan lantai rumah klien
tidak licin
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kegelisahan dan sering bangun saat
malam

38
S: Klien mengatakan bahwa pola tidurnya jauh lebih teratur dari sebelumnya
dan jarang terbangun di malam hari untuk BAK
O: Klien tidur 6-7 jam sehari di malam hari
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

39
BAB V
KESIMPULAN

Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak
terkendali atau terjadi diluar keinginan. Penyebab inkontinensia urine antara lain
poliuria, nokturia, gagal jantung, faktor usia, dan lebih banyak terjadi pada lansia
wanita dari pada pria. Inkontinensia urine dapat ditandai dengan ketidaksanggupan
untuk berkemih, sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine (20-50 ml,
meningkatkan keresahan dan keinginanan berkemih, tidak merasakan urine keluar,
serta kandung kemih terasa penuh walaupun telah buang air kecil. Penataklasanaan
inkontinensia urine dapat berupa terapi farmakologis maupun non farmakologis,
terapi pembedahan, dan pemantauan asupan cairan. Masalah keperawatan yang biasa
muncul pada klien dengan inkontinensia urine yaitu gangguan eliminasi urine,
kerusakan memori, gangguan pola tidur, risiko jatuh, dan ansietas.

40
Daftar Pustaka

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 1.
Jakarta: EGC

Baradero, Marry, dkk. 2009. Seri Asuhan Keperawataan Klien Gangguan Ginjal.
Jakarta: EGC

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. Nursing Diagnoses Definitions and
Classifications (NANDA) 2015-2017. Oxford: Willey Blackwell.

Hidayah, Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan (Edisi 2).
Jakarta: Salemba Medika

M.Bulechek, Gloria,dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC), Sixth


Edition. United States of America: Mosby Elsavier.

Moohead, Sue,dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth Edition.


United States of America: Mosby ElsevierPotter & Perry. 2006. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzannce C. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah Brunner & Suddart, Vol.2,
Ed.8. Jakarta: EGC

Stanley, Mickey dan Patricia G. Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi
2. Jakarta: EGC

Syah, Efran. 2014. Penyebab, Jenis, dan Pengobatan Inkontinensia Urine. Medkes

41
Lampiran

Hasil Pengkajian Khusus


1. Masalah Kesehatan Kronis
No Keluhan kesehatan atau gejala yang Selalu Sering Jarang T.Pernah
dirasakan klien dalam waktu 3 bulan (3) (2) (1) (0)
terakhir berkaitan dengan fungsi-
fungsi
A Fungsi Penglihatan
1. Penglihatan Kabur 0
2. Mata berair 0
3. Nyeri pada mata 0
B Fungsi pendengaran
1. Pendengaran berkurang 0
2. Telinga berdenging 0
C Fungsi Paru (Pernapasan)
1. Batuk lama disertai keringat malam 0
2. Sesak napas 0
3. Berdahak/sputum 0
D Fungsi Jantung
1. Jantung berdebar-debar 0
2. Cepat lelah 0
3. Nyeri dada 0
E Fungsi pencernaan
1. Mual muntah 0
2. Nyeri ulu hati 0
3. Makan dan minum banyak 0
(berlebihan)
4. Perubahan kebiasaan buang air 0
besar (mencret atau sembelit)

42
F Fungsi pergerakan
1. Nyeri kaki saat berjalan 0
2. Nyeri pinggang atau tulang 0
belakang
3. Nyeri persendian/bengkak 0
G Fungsi persyarafan
1. Lumpuh/kelemahan pada kaki atau 0
tangan
2. Kehilangan rasa 0
3. Gemetar atau tremor 0
4. Nyeri/pegal pada daerah tekuk 0
H Fungsi saluran perkemihan
1. Buang air kecil banyak 2
2. Sering buang air kecil pada malam 2
hari
3. Tidak mamapu mengontrol 2
pengeluaran urine kemih
(mengompol)
Jumlah 6
Analisa hasil : Skor < 25 : tidak ada masalah kesehatan kronis sampai dengan
masalah kesetahan kronis ringan

2. Fungsi Kognitif
No Item pertanyaan Benar Salah
1 Jam berapa sekarang ? 
Jawab :
2 Tahun berapa sekarang ? 
Jawab :
3 Kapan Bapak/Ibu lahir? 
Jawab :

43
4 Berapa umur Bapak/Ibu sekarang? 
Jawab :
5 Dimana alamatt Bapak/Ibu sekarang ? 
Jawab :
6 Berapa jumlah anggota keluara yang tinggal bersama 
Bapak/Ibu?
Jawab :
7 Siapa nama anggota keluarga yang tinggal bersama 
Bapak/Ibu?
Jawab :
8 Tahun berapa Hari Kemerdekaan Indonesia? 
Jawab :
9 Siapa nama presiden Republik Indonesia ? 
Jawab :
10 Coba hitung terbalik dari angka 20 ke 1 ! 
Jawab :
Jumlah benar 6
Analisa hasil :
Jumlah skor = 6 berarti ada ganggguan

3. Status Fungsional
No Aktivitas Mandiri Tergantung
(Nilai 1) (0)
1 Mandi dikamar mandi (menggosok, membersihkan, dan 1
mengeringkan badan).
2 Menyiapkan pakaian, membuka, dan mengenakannya. 1
3 Memakan makanan yang telah disiapkan 1
4 Memelihara kebersihan diri unruk penampilan diri 1
(menyisir rambut, menggosok gigi, mencukur kumis).

44
5 Bunag air besar di WC (membersihakan dan 1
mnegeringkan daerah bokong).
6 Dapat mnegontrol pengeluaran feses (tinja). 1
7 Buang air kecil di kaamr mandi (membersihkan dan 1
mnegeringkan daerah kemaluan)
8 Dapat mengontrol pengeluaran air kemih. 0
9 Berjalan dilingkungan tempat tinggal atau keluar ruangan 1
tanpa alat bantu, seperti tongkat.
10 Menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang 1
dianut.
11 Melakukan pekerjaan rumah, seperti : merapikan tempat 1
tidur, mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan
ruangan.
12 Berbelanja untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan 1
keluarga.
13 Mengelola keuangan (menyimpan dan menggunakan 0
uang sendiri).
14 Menggunakan sarana transportasi umum untuk 0
berpergian.
15 Menyiapkan obat dan minum obat sesuai dengan aturan 1
(takaran obat dan waktu minum obat tepat)
16 Merencanakan danmengambil keputusan unutk 0
kepeentingan keluarga dalam hal penggunaan uang,
aktivitas sosial yang dilakukan dan kebutuhan akan
pelayanan kesehatan.
17 Melakukan aktivitas diwaktu luang (kegiatan keagamaan, 1
sosial, rekreasi, olahraga dan menyalurkan hobi)
Jumlah Poin Mandiri 13
Analisa hasil : Jumlah skor 13, disimpulkan bahwa klien dapat mandiri

45
4. Status Psikologis
No Apakah Bapak/Ibu dalma satu minggu terakhir ? Ya Tidak
1 Merasa puas dengan kehidupan yang dijalani? ya
2 Banyak meninggalkan kesenangan/minat dan aktivitas tidak
anda?
3 Merasa bahwa kehidupan anda hampa? tidak
4 Sering merasa bosan? tidak
5 Penuh pengharapan akan masa depan? ya
6 Mempunyai semangat yang baik setiap waktu? ya
7 Diganggu oleh pikiran-pikiran yang tidak tepat tidak
diungkapkan?
8 Merasa bahagia disebagian besar waktu? tidak
9 Merasa takut sesuatu yang terjadi pada Anda? tidak
10 Sering kali merasa tidak berdaya? tidak
11 Sering merasa gelisah dan gugup? tidak
12 Memilih tinggal dirumah daripada pergi melakukan ya
sesuatu yang bermanfaat?
13 Sering kali merasa khawatir akan masa depan? tidak
14 Merasa mempunyai lebih banyak masalah dengan daya ya
ingat dibandingkan orang lain?
15 Berfikir bahwa hidup ini sangat menyenangkan sekarang? ya
16 Sering kali merasa merana? tidak
17 Merasa kurang bahagia? tidak
18 Sangat khawatir terhadap masa lalu? tidak
19 Merasakan bahwa hidup ini sangat menggairahkan? ya
20 Merasa berat untuk memulai sesuatu hal yang baru? tidak
21 Merasa dalam keadaan penuh semangat? ya
22 Berfikir bahwa keadaan penuh semangat? tidak
23 Berfikir abhwa banyak orang yang lebih baik daripada tidak

46
anda?
24 Sering kali menjadi kesal dengan hal yang sepele? tidak
25 Sering kali merasa ingin menangis? Tidak
26 Merasa sulit untuk berkonsentrasi? ya
27 Menikmati tidur? tidak
No Apakah Bapak/Ibu dalam satu minggu terakhir:
28 Memilih menghindar dari perkumpulan sosial? tidak
29 Mudah mengambil keputusan? tidak
30 Mempunyai pikiran yang jernih? Ya
Jumlah item yang terganggu
Analisa Hasil :
Jumlah terganggu sebanyak 3. Jadi kesimpulannya Status psikologis dalam
rentang normal.

47