Anda di halaman 1dari 33

“Asuhan Keperawatan pada Klien

dengan Other Urinary Tract Disorders


Hipospadia dan Epispadia”

KELOMPOK 5 A2/2015
Kelompok 5 A2 2015

• Siska Kusumaningsih (131511133037)


• Fitria Kusnawati (131511133038)
• Kifayatus Sa’adah (131511133047)
• Elly Ardianti (131511133058)
• Asti Pratiwi (131511133069)
• Alfian Gafar (131511133121)
• Dewita Pramesti S. (131511133125)
DEFINISI HIPOSPADIA

Hipospadia berasal dari istilah Yunani, yaitu “hypo” yang berarti “dibawah”
dan “spadon” yang berarti celah. Hipospadia merupakan suatu kelainan
bawaan dimana meatus uretra eksternus (lubang kencing) terletak di bagian
bawah dari penis dan letaknya lebih kearah pangkal penis dibandingkan
normal.

Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak di


sebelah ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis (Muttaqin & Sari,
2011).
KLASIFIKASI HIPOSPADIA
Menurut letak orifisium uretra eksternum,hipospadia dibagi menjadi beberapa
tipe sebagai berikut:
1.Tipe Sederhana/Tipe Anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini,
meatus terletak pada pangkal glands penis.
2.Tipe Penil
Terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini,
meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Pada kelainan tipe ini,
diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap.
3.Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida,
meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun(Purnomo, 2011).
KLASIFIKASI HIPOSPADIA
KLASIFIKASI HIPOSPADIA
Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi chordee, Browne
1936 dalam Purnomo (2011), membagi hipospadia dalam tiga bagian besar,
yaitu:
1.Hipospadia anterior terdiri atas tipe granular, subkoronal, dan penil distal.
2.Hipospadia medius terdiri atas: midshaft dan penis proksimal.
3.Hipospadia posterior terdiri atas: penoskrotal, skotal, dan perineal
ETIOLOGI HIPOSPADIA
1. Faktor Genetik
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
dari gen tersebut tidak terjadi.
2. Faktor Hormon
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat
yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
4. Embriologi
Secara embriologis hipospadia disebabkan oleh sebuah kondisi dimana bagian
ventral lekuk uretra gagal untuk menutup dengan sempurna.
PATOFISIOLOGI HIPOSPADIA

Hipospadia merupakan cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa embrio
selama perkembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Hipospadia di mana
lubang uretra terletak pada perbatasan penis dan skortum, ini dapat berkaitan
dengan chordee kongenital. Penyebab dari hipospadia belum diketahui secara
jelas dan dapat dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh hormonal. Pada
usia gestasi Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada Minggu
ke VII terjadi agenesis pada mesoderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk,
bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul
hipospadia.
Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, menyebabkan lengkungan
(kurvatura) pada penis. Pada orang dewasa, chordee tersebut akan menghalangi
hubungan seksual, infertilisasi (hipospadia penoskrota atau perineal),
menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur
aliran urine.
WOC HIPOSPADIA
MANIFESTASI KLINIS HIPOSPADIA
Menurut Suriardi (2006;142) Manisfestasi klinis dari hipospadia adalah
1.Terbuka uretral pada saat lahir, posisi ventral atau dorsal.
2.Adanya chordee (penis melengkung ke bawah ) dengan atau tanpa ereksi.
3.Adanya lekukan pada ujung penis.
4.Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang
menyerupai meatus uretra eksternus.
5.Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
6.Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke
glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
7.Kulit penis bagian bawah sangat tipis. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak
ada.
8.Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
9.Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
10.Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
11.Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir
melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.
12.Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis
keatas.
13.Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIPOSPADIA

1. USG
2. CT Scan
3. MRI
4. Sistogram mikturasi
5. Kultur urin
6. Sistografi
7. BNO-IVP
Pemeriksaan fisik pada bayi :
• Inspeksi : Genitalia, bentuk dan ukuran penis yang sesuai. Penis harus
berada di garis tengah
Pemeriksaan :
• Pegang prepusium (kulup) ke depan untuk memeriksa meatus sentral.
• Jangan menarik kulup karena kulup menempel pada glans penis dan harus
menutupinya dengan sempurna
• Periksa apakah bayi sudah berkemih dan bagaimana jenis alirannya
• Urin tidak boleh menyemprot dan kulup tidak boleh terisi urin sewaktu
berkemih
• Dengan meraba sepanjang kanalis inguinalis, kita dapat merasakan ada
tidaknya testis di dalam kanalis inguinal.
• Palpasi untuk memastikan bahwa testis berada di dalam kantung skrotum,
dimulai dari puncak kedua skrotum kearah bawah dengan ibu jari dan jari
telunjuk
• Testis yang tidak turun harus dicatat
PENATALAKSANAAN HIPOSPADIA
Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan
penis menjadi lurus dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat
dengan normal sehingga arah aliran urin ke depan dan dapat melakukan koitus
dengan normal.
Berikut adalah tahap pembedahan yang dilakukan pada hipospadia:
1. Tahap 1
Pembedahan tahap pertama mencakup pembuangan jaringan ikat (chordee
release), pembuatan lubang kencing pada ujung kepala penis sesuai dengan
bentuk anatomi yang baik dan membuat saluran kencing baru (tunneling) di
dalam kepala penis yang dindingnya dibentuk dari kulit tudung (preputium)
kepala penis.
2. Tahap 2
Pembedahan tahap kedua dilakukan setelah proses penyembuhan pembedahan
tahap pertama tuntas, paling dini 6 bulan setelah pembedahan pertama.
Pembedahan tahap kedua membentuk saluran kencing baru (urethroplasty) di
batang penis yang menghubungkan lubang kencing abnormal, saluran kencing
di dalam kepala penis, dan lubang kencing baru di ujung penis
KOMPLIKASI HIPOSPADIA
1. Disfungsi ejakulasi
2. Pseudohermatroditisme
3. Saat dewasa akan mengalami kesulitan berhubungan seksual apabila tidak
segera dioperasi.
4. Infertilitas.
5. Risiko hernia inguinal
6. Gangguan psikososial
Komplikasi pascaoperasi yang mungkin dapat terjadi :
1. Edema
2. Striktur
3. Infeksi saluran kencing
4. Fistula uretrokutan
5. Residual chordee/rekuren chrodee
6. Divertikulum
ASKEP TEORITIS HIPOSPADIA
DEFINISI EPISPADIA

• Epispadia merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan adanya


lubang uretra disuatu tempat pada bagian permukaan dorsum penis,
kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
terjadi pada laki-laki (Dorland, 2011).

• Menurut Kamus Keperawatan halaman 217 dikutip oleh Nurhamsyah


(2012), epispadia merupakan malformasi kongenital dimana uretra
bermuara pada pada permukaan dorsal penis. Kelainan ini biasanya tidak
berdiri sendirian, namun disertai dengan anomali saluran kemih.
EPISPADIA
KLASIFIKASI EPISPADIA
Epispadia dikelompokkan berdasarkan letak meatus kemih di sepanjang batang
penis (Price, 2005):
1.Epispadia glandular (pada glans bagaian dorsal)
Epispadia glandular merupakan malformasi terbatas pada kelenjar, meatus
terletak pada permukaan, alur dari meatus di puncak kepala penis. Ini adalah
jenis epispadia kurang sering dan lebih mudah diperbaiki.
2.Epispadia penis (antara simfisis pubis dan sulkus koronarius)
Epispadia penis adalah derajat pemendekan lebih besar dengan meatus uretra
terletak di titik variabel anatara kelenjar dan simfisis pubis.
3.Epispadia penopubis (pada permukaan antara penis dan pubis)
Epispadia penopubis adalah varian yang lebih parah dan lebih sering. Uretra
terbuka sepanjang perpanjangan seluruh hingga leher kandung kemih yang
lebar dan pendek.
ETIOLOGI EPISPADIA
Menurut (J Corwin Elizabeth, 2009), penyebab dari epispadia antara lain:
1.Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Hormone yang berperan adalah hormone androgen, dimana hormone ini
mengatur organogenesis kelamin pria atau dapat juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Maka hormon
androgen yang telah terbentuk cukup akan tetapi karena reseptornya tidak cukup
maka tidak memberikan suatu efek yang semestinya.
2.Genetik atau idiopatik
Hal ini disebabkan karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi
karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga
ekspresi gen tidak terjadi.
3.Lingkungan
Biasanya factor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
PATOFISIOLOGI EPISPADIA

Epispadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra


dalam utero. Pada anak laki-laki yang terkena, penis biasanya luas,
dipersingkat dan melengkung ke arah perut (chordee dorsal). Pada anak laki-
laki normal, meatus terletak di ujung penis, namun anak laki-laki dengan
epispadia, terletak di atas penis. Dari posisi yang abnormal ke ujung, penis
dibagi dan dibuka, membentuk selokan. Epispadia digambarkan seolah-olah
pisau dimasukkan ke meatus normal dan kulit dilucuti di bagian atas penis.
Klasifikasi epispadias didasarkan pada lokasi meatus pada penis. Hal ini dapat
diposisikan pada kepala penis (glanular), di sepanjang batang penis (penis)
atau dekat tulang kemaluan (penopubic). Posisi meatus penting dalam hal itu
memprediksi sejauh mana kandung kemih dapat menyimpan urin
(kontinensia). Semakin dekat meatus (dasar atas penis), semakin besar
kemungkinan kandung kemih tidak akan menahan kencing.
WOC EPISPADIA
MANIFESTASI KLINIS EPISPADIA
Menurut (Price, 2005), tanda dan gejala epispadia adalah sebagai berikut:
1.Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal.
2.Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi
berdiri.
3.Meatus uretra meluas dan perluasan alur dorsal dari meatus terletak di atas
glans.
4.Prepusium menggantung dari sisi ventral penis.
5.Terdapat penis yang melengkung kea rah dorsal, tampak jelas pada saat
ereksi.
6.Penis pipih, kecil dan mungkin akan melengkung ke dorsal akibat adanya
chordae.
7.Terdapat lekukan pada ujung penis.
8.Inkontinensia urin timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%)
karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK EPISPADIA

1. Radiologis (IVP)
2. USG system kemih-kelamin
3. Pembedahan.
PENATALAKSANAAN EPISPADIA
Penatalaksanaan pada pasien dengan epispadia adalah dengan pembedahan,
pembedahan ini dilakukan bertujuan agar penis menjadi lurus dengan meatus
uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya
ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal.
Ada beberapa tahap pembedahan menurut (Price, 2005):
1.One Stage Uretroplasty
Merupakan Teknik operasi sederhana yang sering dilakukan untuk epispadia
tipe distal. Tipe distal ini meatusnya terletak di anterior atau midle. Meskipun
sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat, sehingga banyak
dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap.
2.Operasi epispadia 2 tahap
Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunnelling dilakukan untuk
meluruskan penis supaya posisi meatus letaknya lebih proksimal (mendekati
letak normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian
ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan uretroplasty (pembuatan
saluran kencing buatan/uretra) sesudah 6 bulan.
KOMPLIKASI EPISPADIA
Komplikasi yang dapat ditimbulkan akibat epispadia (Corwin, 2009), adalah
sebagai berikut:
1.Disfungsi ejakulasi pada pria dewasa
2.Ekstrofi (pemajanan melalui kulit) kandung kemih.
3.Edema atau pembengkakan
4.Striktur, pada proksimal anastomosis
5.Fitula uretrokutan
6.Residual chordee/rekuren chorde
7.Diverticulum
PENCEGAHAN EPISPADIA

Pencegahan epispadia dapat dilakukan dengan mencegah adanya pemaparan


lingkungan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma psikis saat
wanita dalam keadaan hamil. Karena penyebab dari epispadia adalah bisa
karena kelainan kongenital yang berkaitan dengan sekresi hormone, genetik
dan lingkungan yang menyebabkan pembentukan meatus uretra pada janin
abnormal.
ASKEP TEORITIS EPISPADIA
ASKEP KASUS HIPOSPADIA

An. R berusia 4 tahun dibawa oleh ibunya ke RS UNAIR pada tanggal 25


Februari 2018 dengan keluhan gangguan pada lubang berkemih sejak bayi
yaitu letak lubang kencing tidak seperti umumnya. Ibu An. R terlihat cemas
dengan kondisi anaknya. Setelah dilakukan pemeriksaan medis An. R
mengalami kelainan urinarius yaitu lubang uretra terletak pada pangkal glans
penis. Diagnosa medis : Hipospadia. Pada tanggal 1 Maret 2018 An. R
menjalani operasi pada penis yaitu one stage urethroplasty, pada hari pertama
post operasi An. R mengatakan terasa nyeri pada luka, sering terbangun pada
malam hari karena nyeri, An. R tampak meringis kesakitan. Ibu An. R
mengatakan An. R hanya dapat tidur 6 jam per hari. Ibu An. R juga
mengatakan An. R mengalami penurunan nafsu makan. Saat dipalpasi badan
An. R teraba hangat. Klien terlihat kesusahan saat berubah posisi, An. R juga
terbatas untuk berjalan. Dari hasil pengkajian TTV, Suhu 37,60C, Nadi
100x/menit, RR 22x/menit, TD 120/80mm/Hg.
PENGKAJIAN
Anamnesa
a.Biodata :
Nama : An. R
Usia : 4 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : PAUD
Pekerjaan : Pelajar
Status pernikahan: Belum menikah
Alamat : Surabaya
Diagnosa medis : Hipospadia
Tanggal masuk RS: 25 Februari 2018
b.Keluhan Utama
•Pre operasi : lubang uretra terletak pada pangkal glans penis
•Post operasi : nyeri pada luka operasi.
PENGKAJIAN
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu klien mengatakan anaknya mengalami gangguan berkemih sejak bayi yaitu
letak lubang kencing tidak seperti umumnya. Setelah dilakukan pemeriksaan
medis An. R mengalami kelainan urinarius yaitu lubang uretra berada di
pangkal glans penis. Pada tanggal 1 Maret 2018 An. R menjalani operasi pada
penis yaitu one stage urethroplasty, hari pertama post operasi An. R
mengatakan terasa nyeri pada luka, sering terbangun pada malam hari karena
nyeri, An. R tampak meringis kesakitan. Ibu An. R mengatakan An. R hanya
dapat tidur 6 jam per hari. Ibu An. R juga mengatakan An. R mengalami
penurunan nafsu makan. Saat dipalpasi badan An. R teraba hangat. Klien
terlihat kesusahan saat berubah posisi, An. R juga terbatas untuk berjalan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat riwayat penyakit keluarga
PENGKAJIAN
Pemeriksaan Fisik
1.B1 (Breath):
RR 22 x/menit
2.B2 (Blood):
TD : 120/80 mmHg, Nadi : 100x/menit, Suhu 37,6oC
3.B3 (Brain):
Compos mentis, GCS 456, nyeri pada luka, sering terbangun di malam hari
karena nyeri
4.B4 (Bladder):
Gangguan berkemih sejak bayi yaitu lubang kencing tidak seperti umumnya,
lubang uretra terletak pada pangkal glans penis
5.B5 (Bowel):
Nafsu makan menurun
6.B6 (Bone):
Klien terlihat kesusahan saat berubah posisi, terbatas untuk berjalan.
ANALISA DATA, INTERVENSI, IMPLEMENTASI
EVALUASI