Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

KELAINAN DEFORMITAS SPINAL :


SKOLIOSIS
Kelompok 2
• Siska Kusuma Ningsih 131511133037
• Lely Suryawati 131511133049
• Elly Ardianti 131511133058
• Prisdamayanti Ayuningsih 131511133067
• Rahmadanti Nur Fadilla 131511133074
• Nopen Tri Jatmiko 131511133123
Anatomi Fisiologi Tulang Belakang
• Tulang belakang adalah susunan terintegrasi dari jaringan tulang, ligamen, otot,
saraf dan pembuluh darah yang terbentang mulai dari dasar tengkorak (basis
cranii), leher, dada, pinggang bawah hingga panggul dan tulang ekor.
Fungsinya adalah sebagai penopang tubuh bagian atas serta pelindung bagi
struktur saraf dan pembuluh-pembuluh darah yang melewatinya.

• Tulang belakang tersusun dari tulang-tulang pendek berupa ruas-ruas tulang


sejumlah lebih dari 30 buah. Tulang-tulang tersebut berjajar dari dasar
tengkorak sampai ke tulang ekor dengan lubang di tengah-tengah setiap ruas
tulang (canalis vertebralis), sehingga susunannya menyerupai seperti
terowongan panjang. Saraf dan pembuluh darah tersebut berjalan melewati
canalis vertebralis dan terlindung oleh tulang belakang dari segala ancaman
yang dapat merusaknya.
Definisi Skoliosis
Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan,
mengandung arti kondisi patologi. Merupakan deformitas tulang
belakang yang menggambarkan deviasi vertebra ke arah lateral dan
rotasional.

Skoliosis adalah penyimpangan tulang belakang ke lateral


dari garis tengah atau terjadi lengkungan yang abnormal pada
vertebra kearah lateral. (Suratun, 2008) Kongenital skoliosis adalah
suatu kondisi perubahan kurvatura spina kearah lateral yang
disebabkan oleh anomali dari perkembangan tulang belakang.
(Helmi, 2013).
Klasifikasi Skoliosis
a. Nonstruktural
Nonstruktural adalah skoliosis yang bersifat reversibel (dapat
dikembalikan ke bentuk semula), dan tanpa perputaran (rotasi)
dari tulang punggung. Terdiri dari :
1. Skoliosis postural
2. Spasme otot dan rasa nyeri
3. Perbedaan panjang antara tungkai bawah
b. Sruktural
Struktural adalah skoliosis yang bersifat irreversibel dan dengan
rotasi dari tulang punggung
1. Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
2. Osteopatik
3. Neuropatik
Etiologi Skloliosis
1. Kelainan fisik
2. Gangguan pada kelenjar Endokrin
3. Faktor Keturunan
4. Masalah pada Saraf
5. Kebiasaan atau sikap tubuh yang buruk
Patofisiologi Skoliosis
Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini
berawal dari adanya syaraf-syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang
menarik ruas-ruas tulang belakang. Tarikan ini berfungsi untuk menjaga
ruas tulang belakang berada pada garis yang normal. Yang bentuknya
seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal diantaranya kebiasaan
duduk yang miring membuat syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini
terus berulang menjadi kebiasaan maka syaraf itu bahkan mati. Ini
berakibat pada ketidakseimbangan tarikan pad aruas tulang belakang. Oleh
karena itu, tulang belakang yang menderita skoliosis itu bengkok atau
seperti huruf S atau huruf C.
Manifestasi Klinis Skoliosis
Ketidaklurusan tulang belakang ini akhirnya akan menyebabkan nyeri
persendian di daerah tulang belakang pada usia dewasa dan kelainan
bentuk dada, hal tersebut mengakibatkan :
1. Penurunan kapasitas paru, pernafasan yang tertekan, penurunan
level oksigen akibat penekanan rongga tulang rusuk pada sisi
yang cekung.
2. Pada skoliosis dengan kurva kelateral atau arah lengkungan ke
kiri, jantung akan bergeser kearah bawah dan ini akan dapat
mengakibatkan obstruksi intrapulmonal atau menimbulkan
pembesaran jantung kanan, sehingga fungsi jantung akan
terganggu.
Pemeriksaan Diagnostik Skoliosis
Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan
sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi. Pemeriksaan
neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan :
1.Skoliometer
2.Rontgen tulang belakang
3.MRI (jika di temukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen)
4.Mielografi
5.Computed tomography
Penatalaksanaan Skoliosis
Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting :

•Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan

•Mempertahankan fungsi respirasi

•Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis

•Kosmetik

Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai “The three O’s” adalah:

1.Observasi

2.Orthosis

3.Operasi
1. Observasi
Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25o pada
tulang yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti
pertumbuhannya.
2. Orthosis
Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal
dengannama brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah :
– Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 30-40
derajat.
– Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat.
Jenis dari alat orthosis ini antara lain: Milwaukee, Boston, Charleston bending
brace
3. Operasi
– Indikasi dilakukannya operasi padaskoliosis adalah :
– Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa
– Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 derajat
pada anak yang
– Sedang tumb
– Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis.
Komplikasi Skoliosis
• Kerusakan paru-paru dan jantung. Ini boleh berlaku jika tulang
belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang rusuk akan
menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar
bernafas dan cepat capai.

• Sakit tulang belakang. Semua penderita, baik dewasa atau kanak-


kanak, berisiko tinggi mengalamimasalah sakit tulang belakang
kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akanmenghidap
masalah sakit sendi.
Asuhan Keperawatan
Umum Skoliosis
Asuhan Keperawatan
Kasus Skoliosis
KASUS
Nn. A 20 tahun dirawat di Rumah Sakit Universitas Airlangga pada tanggal 25
Maret 2018 dengan keluhan sesak ketika melakukan aktivitas dan kelelahan pada
tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama. Perawat melakukan anamnesa,
didapatkan hasil sebagai berikut: Orangtua Nn. A mengatakan nenekNn. A juga
mengalami kondisi seperti ini. Hasil observasi terlihat bahu dan pinggul kiri dan
kanan tidak sama tingginya. Dan terkadang merasakan nyeri punggung. Klien
mengatakan terkadang malu bergaul dengan teman-teman karena kondisinya. Hasil
rontgen tulang belakang menunjukkan tulang belakang melengkung secara
abnormal kearah samping sebesar 45 %. Klien direncanakan dilakukan tindakan
pembedahan. Diagnosa medis klien adalah skoliosis.
PENGKAJIAN
A. Anamnesa
a. Identitas Klien
Nama : Nn. A
Usia : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Karangrejo Surabaya
Tanggal masuk RS : 25 Maret 2018
b. Keluhan Utama
Klien mengeluh sesak ketika melakukan aktivitas, nyeri punggung dan
kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien dengan keluhan sesak ketika melakukan aktivitas, kelelahan
pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lamadannyeri
punggungsejak 1 bulan yang lalu. Hasil observasi terlihat bahu dan
pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. Klien mengatakan
terkadang malu bergaul dengan teman-teman karena kondisinya. Hasil
rontgen tulang belakang menunjukkan tulang belakang melengkung
secara abnormal kearah samping sebesar 45 %.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Nenek Nn. A memiliki penyakit yang sama dengan klien. (Skoliosis)
f. Riwayat Psikospiritual
• Pola koping : Klien tidak dapat menerima keadaan penyakitnya.
(merasa malu)
• Harapan klien tentang penyakitnya : Klien berharap cepat sembuh
dan dapat kembali beraktivitas secara normal.
• Faktor stressor : Klien ingin cepat sembuh.
• Konsep diri : Klien merasa terganggu karena penyakit yang
dideritanya.
• Pengetahuan klien : Klien menyatakan bahwa tidak mengetahui
penyakit yang dideritanya.
• Hubungan dengan anggota keluarga : Baik.
• Hubungan dengan masyarakat : Klien kurang berinteraksi dengan
masyarakat.
• Kegiatan keagamaan : Klien rajin ibadah.
g. Kebutuhan Dasar
Pola Makan :
• Sebelum MRS: Klien makan 3x sehari, nafsu makan klien meningkat. BB 55kg.
• Setelah MRS: Nafsu makan menurun 2x sehari porsi kecil. BB 50kg.
Pola Minum
• Klien minum 6-8 gelas sehari.
Pola Eliminasi
• BAK : klien buang air kecil lancar 3-5x sehari.
• BAB :klien BAB 1 x sehari, konsistensi lunak dan tidak ada keluhan saat BAB, warna feses
kuning dan tidak dijumpai kelainan.
Pola Tidur
• Klien tidur tidak teratur karena nyeri yang dirasakan.
Pola Personal Hygiene
• Sebelum masuk rumah sakit klien mandi dengan frekuensi 2 kali/hari, pagi dan sore hari.
• Di rumah sakit klien hanya di seka oleh keluarga 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.
• Oral hygiene sebelum sakit 2 kali sehari setiap setelah mandi pada pagi dan sore.
• Oral hygiene setelah sakit 2 kali sehari setiap setelah diseka pada pagi dan sore.
• Cuci rambut sebelum sakit selalu mencuci rambut ketika mandi pada pagi dan sore hari.
• Setelah sakit tidak pernah mencuci rambut setelah klien masuk rumah sakit.
Pola Istirahat
• Sebelum sakit klien tidur siang 3 jam, dan tidur malam 8 jam, dengan kebiasaan sebelum tidur
berdoa.
B. Pemeriksaan Fisik
• Sistem Pernapasan
Klien merasa sesak, pernapasan cepat dan pendek dengan frekuensi
25x / menit.
• Sistem Kardiovaskuler
Saat pemeriksaan TD = 120/80, Frekuensi jantung 70 x / menit, tidak
ada gangguan berarti.
• Sistem Genitourinaria
Normal
• Sistem Muskoskeletal
Kekuatan otot berkurang, pola aktivitas terganggu. Hasil observasi
terlihat bahu dan pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya. Nyeri
punggung(+).
• Sistem Gastrointestinal
Tidak ditemukan kelainan, mual (-), nyeri epigastrum (-).
• Sistem Neurologi
Kehilangan memori (-), komunikasi lancar dan jelas, orientasi terhadap orang baik,
waktu dan tempat baik, emosi dapat dikendalikan, tenang, tremor (-).
• Sistem Endokrin
Riwayat DM (-) dan riwayat makan berlebih (-), belum pernah dideteksi akibat
gangguan metabolisme lainnya.
• Sistem Pendengaran
Pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
• Sistem Penglihatan
Penglihatan klien baik, tidak menggunakan alat bantu / kacamata
C. Pemeriksaan Diagnostik
Hasil rontgen tulang belakang menunjukkan tulang belakang melengkung secara
abnormal kearah samping sebesar 45 %.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola Napas Tidak Efektif. Kategori: Fisiologis. Subkategori:


Respirasi (D.0005).
2. Nyeri Akut. Kategori: Psikologis. Subkategori:
NyeridanKenyamanan (D.0077).
3. Gangguan Citra Tubuh. Kategori: Psikologis. Subkategori:
Integritas Ego (D.0083).
ANY QUESTION?