Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

TEKNOLOGI KATALIS

Disusun Oleh:
WINDA NOVIA 09220150011
SRI HARDYANTI 09220150012
HENDRA 09220150024
IKBAL JAFAR 09220150043
MARWA S RAMMANG 09220150039

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan begitu banyak nikmat yang diberikan kepada kita semua.Selain
itu,kami juga merasa bersyukur karena telah diberikan nikmat hidayah-Nya baik
iman maupun islam.

Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan


makalah ini yang merupakan tugas mata kuliaH. Kami menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah yang bersangkutan dan
semua pihak yang turut membantu penyusunan makalah ini.

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih begitu banyak


kekurangan dan kesalahan baik dari isinya maupun struktur penulisanya, oleh
karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran .

Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat umumnya pada para


pembaca dan kami sendiri. Amin.

Makassar, Maret 2018

penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu katalis sangat dipengaruhi oleh teknologi. Katalisis tersebut
memainkan peranan dominan dalam industri kimia. Banyak proses
manufaktur melibatkan kimia katalitik. Perkembangan kimia katalitik akan
terus ditingkatkan dalam berbagai penelitian, terutama yang dikaitkan dengan
kimia anorganik dan organologam.

Katalis meningkatkan laju reaksi kimia tanpa mempengaruhi


keseimbangan. Katalis biasanya membentuk ikatan dengan reaktan dan
membuka urutan langkah-langkah reaksi baru. Katalisis diklasifikasikan
menurut fasa dari campuran reaktan-katalis. Dikatakan katalis homogen
bilamana katalis dan reaktan berada dalam fasa yang sama, dan dikatakan
katalis heterogen bilamana katalis dan reaktan berada dalam fasa terpisah
(berbeda). Katalis heterogen biasanya melibatkan katalis padat, dan reaktan
terikat ke permukaan katalis melalui proses chemisorption.

Kinerja katalis berkaitan dengan kinetika kimia. Aktivitas adalah ukuran


dari seberapa cepat reaksi katalitik terjadi (mungkin aktivitas laju reaksi,
dengan laju konstan, atau konversi); selektivitas adalah ukuran distribusi
produk, seperti rasio tingkat laju kehilangan kegiatan atau selektivitas selama
operasi sebagai katalis mengalami perubahan struktur dan komposisi.
Permukaan katalisis sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

Katalis padat diklasifikasikan berdasarkan jenis bahan katalisnya, yang


terdiri dari jenis logam, oksida logam, dan logam sulfida. Selanjutnya,
klasifikasi juga dapat didasarkan pada reaksi katalisis dan struktur peralihan.
Sebagai contoh, katalitik yang melibatkan transfer proton dengan donor proton
(akseptor) adalah molekul atau ion yang larut atau kelompok fungsional pada
permukaan. Contoh lain, katalisis yang melalui perantara organologam
mungkin melibatkan larut kompleks logam transisi, metaloenzim, atau
permukaan logam.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui beberapa metode dalam pembuatan katalis.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Proses pembuatan katalis heterogen terdiri atas 4 macam yaitu metode


impregnasi, pertukaran ion, kopresipitasi, dan deposisi. Dua metode yang paling
umum digunakan adalah impregnasi dan pertukaran ion, dimana kedua metode ini
digunakan untuk mendapatkan katalis bimetal. Prinsip dasar metode impregnasi
adalah dengan memasukan katalis logam secara paksa ke dalam pori-pori support.
Sedangkan metode pertukaran ion terjadi pertukaran ion-ion yang terdapat pada
situs aktif support dengan katalis logam. Salah satu metode yang banyak
dilakukan dalam preparasi katalis adalah metode impregnasi, dikarenakan proses
sintesis lebih praktis, keberhasilan proses lebih besar, dan menghasilkan limbah
yang sedikit. Deposisi atau desublimasi adalah proses pengkristalan dimana hal
ini terjadi karena proses mengerasnya/membekunya suatu benda yang memiliki
zat-zat tertentu dan memiliki unsur-unsur zat yang memungkinkan terjadinya
perubahan warna disaat mengeras (mengkristal).
1. Metode impregnasi
Metode impregnasi merupakan metode yang paling mudah dalam
proses pembuatan katalis berpenyangga, dimana metode ini berhubungan
erat dengan proses pertukaran ion/adsorpsi dan cenderung memiliki
interaksi yang dominan terhadap zat penyangga. Dalam metode
impregnasi, mekanisme penjerapan (adsorpsi) sangat dipengaruhi oleh
gaya elektrostatis, dimana gaya ini sendiri bergantung kepada kondisi
operasi yang digunakan.
Terdapat dua jenis metode impregnasi yang sering digunakan. Dimisalkan
terdapat larutan senyawa yang mengandung senyawa aktif katalis logam
dipertemukan dengan penyangga berpori-pori, apabila jumlah larutan yang
digunakan sesuai dengan jumlah larutan yang dibutuhkan untuk mengisi
seluruhpori-pori bahan penyangganya maka proses tersebut disebut dengan
impregnasi kering. Namun apabila jumlah larutan yang digunakan lebih
besar dibandingkan volume pori-pori bahan penyangganya maka proses
tersebut disebut impregnasi basah.
Berikut mekanisme yang terjadi dalam proses impregnasi:
a. Larutan yang mengandung senyawa aktif katalis disatukan
dengan bahan penyangga yang sebelumnya telah dikalsinasi
atau dikeringkan
b. Terjadi proses impregnasi, dimana senyawa aktif katalis mulai
menetap pada permukaan katalis. Proses ini dapat berlangsung
ketika terjadinya proses pertukaran gugus OH- yang terdapat
pada bahan penyangga atau dengan proses adsorpsi.
c. Larutan lalu dibiarkan selama kurang lebih satu malam.
d. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan, kalsinasi,
dan aktivasi (misal dengan proses hidrogenasi menggunakan
katalis logam).
Beberapa keuntungan proses impregnasi yaitu:
i. Tidak terbentuknya air limbah.
ii. Tidak ada bagian aktif katalis yang hilam selama proses
berlangsung.
iii. Dapat digunakannya padatan penyangga yang sebelumnya
sudah dibentuk. Hal ini dapat menambah fleksibilitas desain
luas permukaan katalis yang hendak dibuat.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses impregnasi
adalah pentingnya proses pengeringan, dimana apabila proses ini tidak
berjalan dengan sesuai maka akan berakibat pada distribusi senyawa aktif
katalis yang tidak merata.
Salah satu contoh penggunaan metode impregnasi dalam
pembuatan katalis terdapat dalam pembuatan katalis MoO3/Al2O3, dengan
langkah sebagai berikut:
a. Disproporsionasi katalis
b. Impregnasi gamma-Al2O3 dengan larutan amoniak yang terdiri dari
ammonium dimolybdate (ADM).
c. Senyawa berubah menjadi basa, molekul MoO42- mulai bermunculan
d. Dengan adanya proses pengeringan, amonia bebas, pH dalam pori
mulai turun, ion heptamolybdate (HM):
7MoO42- + 4H2O ↔ Mo7O246- + 8OH-
e. Ion HM bereaksi dengan gugus permukaan zat penyangga

2. Metode kopresipitasi
Dalam ilmu kimia, kopresipitasi merupakan proses pengendapan
senyawa yang biasanya terlarut apabila dihadapkan pada kondisi normal.
Dalam metode kopresipitasi, lebih dari satu logam diendapkan bersama
dengan zat penyangga atau senyawa aktif katalis.
Berikut mekanisme yang terjadi dalam proses impregnasi:
a. Persiapan logam super jenuh yang terdapat dalam larutan
garam.
b. Terjadi proses presipitasi secara fisis yang dapat disebabkan
oleh evaporasi ataupun presipitasi kimia yang disebabkan oleh
penambahan agen pengendap berupa basa.
c. Terbentuk endapapan.
d. Dengan proses penyaringan, didapatkan senyawa aktif katalis
yang sudah kering.
e. Untuk proses selanjutnya, terdapat dua opsi:
- Dibentuk dahulu, kemudian dikalsinasi hingga
terbentuk katalis berpenyangga, dan
- Dikalsinasi dahulu hingga terbentuk katalis aktif,
kemudian dibentuk sesuai kebutuhan, dan jadilah
katalis berpenyangga
Salah satu contoh penggunaan metode kopresipitasi dalam
pembuatan katalis terdapat dalam pembuatan katalis alumina, dengan
langkah sebagai berikut:
a. Persiapan reaktan dalam larutan garam
- Aluminium sulfat dan amonium hidroksida
- Presipitasi dan kristalisasi Al(OH)3, proses ini sangat dipengaruhi
pH, suhu, dan waktu proses.
o Dengan pH 7-12
o Suhu dinaikkan, pH meningkat, terbentuk bayerite
(Al(OH)3)
o Apabila pH turun, maka akan terbentuk senyawa
pseudoboehmite dan apabila kondisi ini terus berlanjut
maka akan terbentuk larutan boehmite (AlOOH)
b. Hidrolisis aluminiumalcoholates
- Al(OR)3 + (2+x)H2O → 3 ROH + AlOOH.xH2O
- Didapat Pseudoboehmite dengan kemurnian tinggi
c. Pengeringan
d. Kalsinasi
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Proses pembuatan


katalis heterogen terdiri atas 4 macam yaitu metode impregnasi, pertukaran ion,
kopresipitasi, dan deposisi. Dua metode yang paling umum digunakan adalah
impregnasi dan pertukaran ion, dimana kedua metode ini digunakan untuk
mendapatkan katalis bimetal. Prinsip dasar metode impregnasi adalah dengan
memasukan katalis logam secara paksa ke dalam pori-pori support. Sedangkan
metode pertukaran ion terjadi pertukaran ion-ion yang terdapat pada situs aktif
support dengan katalis logam.
DAFTAR PUSTAKA

David, L. and Breeden, M.R.L. (2005). Ester- Containing Downhole Drilling


Lubricating Composition and Processes Therefore and Therewith,US Patent
6,884,762.
Endalew, K., Yohannes, K., Rolando, Z. (2011). Inorganic Heterogeneous
Catalysts for Biodiesel Production from Vegetable Oils, Biomass and
Bioenergy, 35:3787-3809.
Faishol, M.M.A.A.F. (2015). Thesis: Sintesis Katalis Heterogen Ca/MgO
Menggunakan Metode Sol Gel Untuk Pembuatan Monogliserida, Teknik
Kimia, Universitas Diponegoro, Semarang.
Helmut Knözinger, Karl Kochloefl "Heterogeneous Catalysis and Solid
Catalysts" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry 2002, Wiley-
VCH, Weinheim.
L. Keith Hudson, Chanakya Misra, Anthony J. Perrotta, Karl Wefers, F. S.
Williams “Aluminum Oxide” in Ullmann's Encyclopedia of Industrial
Chemistry 2002, Wiley-VCH, Weinheim.
Patnaik, P. Dean's Analytical Chemistry Handbook, 2nd ed. McGraw-Hill, 2004.