Anda di halaman 1dari 265

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Tabel vi

Daftar Gambar vii


Petunjuk Penggunaan Modul viii
Peta Konsep Modul ix
I. Pendahuluan

1. Deskripsi singkat 1
2. Prasyarat kompetensi : 2
3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 2
4. Relevansi modul 3

II. Kegiatan Belajar 1: Pajak Penghasilan


A. Indikator Keberhasilan 4
B. Uraian Materi, Contoh Dan Non Contoh 4

1. Umum 4
2.Karakteristik Pajak Penghasilan 6
3.Sejarah Perkembangan Pajak Penghasilan Indonesia 8
4. Sistimatika Undang-Undang Pajak Penghasilan 16
C. Latihan 16
D. Rangkuman 16
E. Test Formatif 17
F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 21

III Kegiatan belajar 2 : Subjek Pajak Penghasilan 23


A. Indikator keberhasilan 23
B. Uraian materi, contoh dan non contoh 23
1. Pengenaan pajak penghasilan 23
2. Pengertian subjek pajak 24
ii PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

3. Kelompok subjek pajak 30


4. Perbedaan perlakuan PPh WP DN dengan WP LN. 32
5. Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif 32
6. Tidak termasuk sebagai subjek pajak 33
C. Latihan 34
D. Rangkuman 34
E. Test formatif 36

F. Umpan balik dan tindak lanjut 41

IV Kegiatan belajar 3 : Objek pajak 42


A. Indikator keberhasilan 42
B. Uraian materi, contoh dan non contoh 42
1. Penghasilan sebagai objek pajak penghasilan 42
2. Kelompok objek pajak penghasilan 44
3. Penghasilan yang dikenakan pajak bersifat final 56
4. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak 61
5. Objek PPh bagi bentuk usaha tetap 71
C. Latihan 75
D. Rangkuman 75
E. Test formatif 77
F. Umpan balik dan tindak lanjut 82

V Kegiatan belajar 4 Pengurangan penghasilan bruto dan


pengeluaran yang tidak diperbolehkan dari penghasilan bruto 83
A. Indikator keberhasilan 83
B. Uraian materi, contoh dan non contoh 83
1. Pengurang penghasilan bruto 83

2. Biaya untuk mendapatkan, menagih,


dan memelihara penghasilan 85
3. Pengeluaran / biaya yang tidak boleh dikurangkan 93
4. Kompensasi kerugian 97

iii PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

5. Perlakuan khusus biaya 100


6. Penghasilan tidak kena pajak 104
C. Latihan 104
D. Rangkuman 104
E. Test formatif 106
F. Umpan balik dan tindak lanjut 111

VI Kegiatan belajar 5 : Cara penilaian harta, penyusutan dan


Amortisasi 113
A. Indikator keberhasilan 113
B. Uraian materi, contoh dan non contoh 113

1. Nilai perolehan harta 113


2. Hubungan istimewa 113
3. Penilaian harta 116

iv PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

4. Penilaian persediaan 120


5. Penyusutan dan amortisasi 121
C. Latihan 132
D. Rangkuman 132
E. Test formatif 133
F. Umpan balik dan tindak lanjut 138

VII Kegiatan Belajar 6 Penggabungan Dan Pemisahan Penghasilan


Dalam Keluarga Dan Penghasilan Tidak Kena
Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi 140
A. Indikator Keberhasilan 140
B. Uraian Materi, Contoh Dan Non Contoh 140
1. Penggabungan Dan Pemisahan Penghasilan
2. Penghasilan Wanita Kawin. 140
3. Penghasilan Anak Yang Belum Dewasa. 142
4. Penghitungan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan
Suami Istri Secara Terpisah. 143
5. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 144

C. Latihan 147
D. Rangkuman 147
E. Test formatif 148
F. Umpan balik dan tindak lanjut 151

VIII Kegiatan Belajar 7 : Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


Dan Perhitungan Pajak Terutang 152
A. Indikator Keberhasilan 152
B. Uraian Materi, Contoh Dan Non Contoh 152
1. Penghasilan Kena Pajak 152

2. Perhitungan Penghasilan Kena Pajak Dengan Cara Biasa. 152


3. Norma Penghitungan Khusus 156
4. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak
Bagi Wajib Pajak Luar Negeri. 166
5. Tarif Pajak 171
C. Latihan 175

v PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

D. Rangkuman 175
E. Test Formatif 176

vi PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 182


IX Kegiatan Belajar 8 : Pelunasan Pajak Dalam Tahun Berjalan 183
A. Indikator Keberhasilan 183
B. Uraian Materi, Contoh Dan Non Contoh 183
1. Pelunasan Pajak Dalam Tahun Berjalan 183

2. Pajak Penghasilan Pasal 21 183


3. Pajak Penghasilan Pasal 22 188
4. Pajak Penghasilan Pasal 23 193
5. Pajak Penghasilan Pasal 26 197

6. Kredit Pajak Luar Negeri. 198


7. Pajak Penghasilan Pasal 25 201
C. Latihan 208
D. Rangkuman 208

E. Test Formatif 210


F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 217

X Kegiatan Belajar 9 : Perhitungan Dan Pelaporan Pajak


Pada Akhir Tahun 219
A. Indikator Keberhasilan 219
B. Uraian Materi, Contoh Dan Non Contoh 219
1. Perhitungan Pajak Pada Akhir Tahun 219
2. Pengkreditan Pajak 220

3. Kelebihan Pembayaran Pajak Dan Pelunasan


Pajak Terutang Dalam Satu Tahun Pajak. 221
4. Surat Pemberitahuan. 222
5. Rekonsiliasi Fiskal 223

C. Latihan 226
D. Rangkuman 227
E. Test Formatif 228
F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut 230

vii PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

PENUTUP 231
Test Sumatif 231
Kunci Jawaban Formatif dan Sumatif 237

viii PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Daftar Tabel Tabel I Penerimaan Pajak Tahun 2005 s.d. 2010 Error! Bookmark not defined.

Tabel II Perbedaan Perlakuan Pemajakan 33

Tabel III Saat Dimulai Dan Berakhirnya Kewajiban Pajak 34

Subjekt 34

Tabel IV Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final Atau Bersifat Final ( s.d. Agustus 2011 60

Tabel V Tarif PPh Pasal 22 199

ix PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Daftar Gambar

Bagan 1. Pajak Penghasilan sebagai Pajak Langsung 7


Bagan 2. Perkembangan Pajak Penghasilan 15
Bagan 3. Kelompok Subjek Pajak 31

Bagan 4 Pengurang Penghasilan Bruto 84


Bagan 5 Hubungan Istimewa 114

x PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Untuk lebih optimal dalam mempelajari modul ini disarankan agar peserta
diklat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pahami terlebih dahulu dasar-dasar perpajakan, dasar-dasar hukum pajak,
teori ekonomi dan ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
2. Pelajari secara berurutan tiap-tiap bab dalam modul ini dan ukur tingkat
pemahaman anda dengan cara mengerjakan soal latihan dan test formatif
pada akhir setiap kegiatan belajar.
3. Jika memungkinkan lakukan diskusi dengan peserta diklat lainnya dan
diskusikan pemecahan setiap permasalahan dan kesulitan dalam
melakukan pemahaman.
4. Kerjakan Test Sumatif di bagian akhir modul dan ukur tingkat pemahaman
sesuai kunci jawaban.

PETA KONSEP MODUL

SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PPh

PERHITUNGAN PPh TERUTANG

xi PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

PENGHASILAN DALAM KELUARGA

CARA PENILAIAN HARTA, PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

PENGURANG PENGHASILAN BRUTO

OBJEK PPh

SUBJEK PPh

Latar Belakang PPh


Sejarah perkembangan
Legal karakter
PENDAHULUAN

1. DESKRIPSI SINGKAT

Pajak Penghasilan adalah salah satu yang paling berperan sebagai sumber
pendapatan negara disamping jenis-jenis pajak lainnya. Bahkan dibandingkan
dengan jenis pajak yang lain, Pajak Penghasilan paling dominan dalam
memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara. Dari tahun ke tahun
penerimaan Pajak Penghasilan mengalami kenaikan yang signifikan sesuai
dengan mengikuti perkembangan perekonomian secara keseluruhan.

x PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


ii
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Permasalahan dalam Pajak Penghasilan sangatlah dinamis seiring


perkembangan perekonomian. Demikian juga ketentuan peraturan
perundangundangan dalam Pajak Penghasilan senantiasa dibuat guna
memberikan kepastian hukum bagi masyarakat wajib pajak.
Modul Pajak Penghasilan ini akan mengupas secara luas tentang pajak
penghasilan, mulai dari karakteristik Pajak Penghasilan sebagai jenis pajak yang
berbasis pada penghasilan yang didefinisikan secara luas, sejarah dan
perkembangannya, serta perubahan-perubahan yang terjadi selama masa
perkembangan tersebut. Selanjutnya akan di bahas mengenai Subjek Pajak,
Objek Pajak, Penggabungan penghasilan yang terkait dengan Subjek Pajak
Orang Pribadi, Pengurang Penghasilan bruto dalam menentukan besarnya
penghasilan yang dikenakan pajak, Penilaian harta dan penyusutan atau
amortisasi aktiva, menghitung besarnya pajak terutang, pelunasan pajak dalam
tahun berjalan dan kredit pajak, kewajiban memotong dan memungut pajak
penghasilan dan terakhir dibahas tentang pelaporan Pajak Penghasilan dalam
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan serta rekonsiliasi fiskal.
Dalam modul ini akan dituliskan dalam bab-bab yang dibagi berdasarkan topik
utama bahasan, dan disertai dengan uraian penjelasan dan contoh-contoh.
Ilustrasi juga akan diberikan dalam bentuk bagan-bagan, gambar dan grafik guna
mempermudah pemahaman. Pada setiap bab akan disesuaikan dengan
peraturan terbaru yang tentu saja hanya terbatas sampai dengan saat
pelaksanaan penulisan modul ini.
Pada akhir setiap bab, disajikan rangkuman dan evaluasi yang disediakan bagi
pengguna modul untuk mengukur tingkat pemahaman materi secara mandiri,
pengguna modul dapat melakukan pengukuran tingkat penguasaan modul.

xiii PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

2. PRASYARAT KOMPETENSI :

Untuk lebih memahami modul Pajak Penghasilan ini, pembaca modul


diharapkan telah memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar teori perpajakan,
pengantar hukum pajak, dan penting juga untuk dikuasai dasar-dasar akuntansi
dan ilmu ekonomi secara umum. Konten yang ada pada Pajak Penghasilan, akan
terkait erat dengan pengetahuan hukum, ekonomi, akuntansi. Namun demikian
dalam penulisan modul ini diusahakan agar pembaca akan dapat memahami
Pajak Penghasilan dengan mudah, tanpa harus menguasai dalam tingkat mahir
atas hal-hal tersebut diatas.

3. STANDAR KOMPETENSI (SK) dan KOMPETENSI DASAR (KD)

Standar Kompetensi yang diharapkan adalah setelah mempelajari modul ini,


pembaca modul dapat memahami Pajak Penghasilan dan menjelaskan
pelaksanaan hak dan kewajiban sehubungan dengan Pajak Penghasilan baik
bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan maupun bagi Wajib Pajak
Bentuk Usaha Tetap.
Kompetensi Dasar yang diharapkan akan dengan mempelajari modul ini adalah
bahwa pembaca modul mampu:
1. menjelaskan karakteristik Pajak Penghasilan, sejarah dan perkembangannya.
2. menguraikan pihak-pihak yang menjadi Subjek Pajak, saat dimulai dan
berakhirnya serta pengklasifikasian Subjek Pajak
3. menguraikan Objek Pajak Penghasilan.
4. menjelaskan dan membuat perhitungan tentang penggabungan penghasilan
yang terkait dengan Subjek Pajak Orang Pribadi
5. Menjelaskan tentang transaksi-transaksi yang menjadipengurang penghasilan
bruto.
6. menguraikan tentang metode dalam penilaian harta dan penyusutan atau
amortisasi harta.
7. menghitung besarnya pajak terutang
8. memperhitungkan pelunasan pajak dalam tahun berjalan dan kredit pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

9. Menguraikandan membuat perhitungan kewajiban memotong dan memungut


pajak penghasilan.
10.membuat pelaporan Pajak Penghasilan dalam Surat Pemberitahuan (SPT)
tahunan serta melakuikan rekonsiliasi fiskal

4. RELEVANSI MODUL

a. Setelah mempelajari isi dari modul ini diharapkan pengguna modul dapat
menjelaskan dan menguraikan pelaksanakan kewajiban Pajak Penghasilan
bagi wajib pajak sesuai ketentuan aturan perundang-undangan.
b. Pengguna modul disarankan mempelajari buku, modul, atau bahan
pembelajaran lain yang berkaitan dengan masalah hukum perpajakan,
perekonomian dan akuntasi yang sangat terkait erat dengan
bahasanbahasan tentang Pajak Penghasilan.

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

II. KEGIATAN BELAJAR 1 PAJAK PENGHASILAN A. Indikator


Keberhasilan :

Dalam Kegiatan belajar satu ini, diharapkan peserta diklat dapat menjelaskan
tentang Pengertian Pajak Penghasilan secara umum, karakteristik Pajak
Penghasilan, Sejarah dan perkembangan Pajak Penghasilan, serta sistimatika
Pajak Penghasilan

B. Uraian materi, contoh dan non contoh


1. Umum
Pajak Penghasilan adalah pengenaan pajak yang berbasis pada
penghasilan, yang dikenakan pada subjek pajak atas penghasilan yang diterima
atau diperolehnya pada suatu periode pemajakan. Dalam perkembangannya,
pajak penghasilan memberikan kontribusi yang dominan dan diandalkan sebagai
salah satu satu sumber penerimaan negara. Mengapa harus pajak penghasilan,
apa kelebihan pajak penghasilan dibandingkan dengan jenis pajak lainnya, dan
bagaimana pengenaan pajak penghasilan di Indonesia, hal ini merupakan
pokokpokok bahasan awal dalam modul ini.
Dilihat dari besarnya kontribusi terhadap penerimaan secara nasional dari
tahun–tahun mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dalam tabel
berikut terlihat bahwa Pajak penghasilan mendominasi penerimaan pajak dalam
negeri secara persentase:
Tabel I Penerimaan pajak tahun 2005 s.d. 2010
2005 2006 2007 2008 2009 2009 APBNP 2010

PENERIMAAN 347.031,10 409.203,00 490.988,60 658.700,80 725.843,00 652.121,80 729.165,20


PERPAJAKAN

Pajak dalam Negeri 331.792,00 395.971,50 470.051,80 622.358,70 697.347,00 632.098,70 702.033,90

PPh 175.541,20 208.833,10 238.430,90 327.497,70 357.400,50 340.376,20 340.321,70

PPN 101.295,80 123.035,90 154.526,80 209.647,40 249.508,70 203.084,00 267.028,00

PBB 16.216,70 20.858,50 23.723,50 25.354,30 28.916,30 23.863,60 26.486,60


BPHTB 3.431,90 3.184,50 5.953,40 5.573,10 6.980,00 7.354,80
7.753,6
Cukai 33.256,20 37.772,10 44.679,50 51.251,80 49.494,70 54.545,00 57.026,50

Pajak Lainnya 2.050,20 2.287,40 2.737,70 3.034,40 4.273,20 3.250,00 3.816,30


Sumber : APBN diolah.

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pengenaan pajak yang berbasis pada penghasilan diterapkan pada


banyak negara di dunia karena sifatnya yang lebih mencerminkan keadilan dalam
pengenaannya. Hal ini sejalan dengan teori pengenaan pajak yang banyak
dikemukakan oleh para ahli hukum dan perpajakan yang lebih dikenal dengan
teori gaya pikul. Beberapa pendapat ahli mengenai teori gaya pikul yang dikutip
dari buku Santoso Brotodihardho, S.H. sebagai berikut:
a. Prof. W. J. de Langen, dalam bukunya, De Grondbeginselen van het Ned.
Belastingrecht, Jilid I, 1954, bahwa gaya pikul sampai kini masih tetap
merupakan asas yang terpenting dalam Hukum pajak, walaupun tidak
dapat disangkal, bahwa ada asas-asas lain, yang semenjak tahun 1919
semakin menduduki tempat yang utama dan asas kenikmatan. Definisi
gaya pikul menurut Prof de Langen, adalah besarnya kekuatan seseorang
untuk dapat mencapai pemuasan kebutuhan setinggi-tingginya, setelah
dikurangi dengan yang mutlak untuk kebutuhannya yang primer.
b. Ir. Mr. A. J. Cohen Stuart, sarjana yang telah memperdalam
penyelidikannya mengenai gaya pikul ini, dalam desertasinya menyamakan
gaya pikul dengan sebuah jembatan, yang pertama-tama harus dapat
memikul bobotnya sendiri sebelum dicoba untuk dibebaninya, dan
menyarankan ajaran, bahwa yang sangat diperlukan untuk kehidupan,
harus tidak dimasukkan uang kepada Negara barulah ada, jika
kebutuhankebutuhan primer sudah tersedia untuk hidup. Maka hak
pertama bagi setiap manusia yang dinamakan hak asas “minimum
kehidupan” ini harus pertama-tama diperhatikan, seperti memang ternyata
dengan pajak-pajak atas pendapatan dan kekayaan di hampir semua
Negara.
c. Mr. Dr. J. H. R. Sinninghe Damste, pernah mencoba menguraikan segala
sesuatu semata-mata dengan asas gaya pikul dalam bukunya mengenai
Pajak Pendapatannya (pajak yang penting). Ia menyatakan pendapatannya
(yang juga dikuatkan oleh sarjana-sarjana lain), bahwa gaya pikul ini adalah
akibat dari bermacam-macam komponen, terutama (1) pendapatan, (2)
kekayaan, dan (3) susunan dari keluarga wajib pajak itu dengan mengingat
faktor-faktor yang mempengaruhi keadaanya.

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Dalam penjelasan Undang-undang nomor 7 tahun 1983 dinyatakan


bahwa dalam reformasi perpajakan dilakukan dengan tujuan agar lebih
memberikan kepastian hukum, sederhana, mudah pelaksanaannya, serta lebih
adil dan merata. Pajak Penghasilan yang merupakan salah satu sumber
penerimaan Negara yang berasal dari pendapatan Rakyat, perlu diatur dengan
Undang-undang yang dapat memberikan kepastian hukum sesuai dengan
kehidupan dalam Negara Demokrasi Pancasila. Undang-undang Pajak
Penghasilan ini mengatur materi pengenaan pajak yang pada dasarnya
menyangkut Subyek Pajak (siapa yang dikenakan), Obyek Pajak (penyebab
pengenaan) dan Tarif Pajak (cara menghitung jumlah pajak) dengan pengenaan
yang merata serta pembebanan yang adil. Sedangkan tata cara pemungutannya
diatur dalam Undang-undang tersendiri dalam rangka mewujudkan
keseragaman, sehingga mempermudah masyarakat untuk mempelajari,
memahami serta mematuhinya.

2. Karakteristik Pajak Penghasilan


Karakteristik Pajak penghasilan dipelajari untuk melihat sifat khusus pajak
penghasilan jika dibandingkan dengan jenis-jenis pajak yang lain. Karakteristik
Pajak Penghasilan adalah :

2.1. Pajak Penghasilan sebagai Pajak Subjektif


Sebagai pajak subjektif, pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada
keadaan dan kondisi subjek pajak. Subjek sendiri berarti pihak yang terhadapnya
dikenakan kewajiban atau kepadanya beroleh hak yang diatur dengan ketentuan
hukum. Dengan demikian subjek pajak adalah pihak-pihak yang secara hukum
pajak mempunyai kewajiban melaksanakan kewajiban perpajakan dan memiliki
hak-hak dibidang perpajakan yang dijamin oleh undang-undang perpajakan.
Kondisi subjek pajak yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan dalam
menjalankan kewajiban perpajakan yang dikenakan atas dirinya. Dengan kata
lain daya pikul subjek pajak menjadi landasan pemajakan. Sesuai dengan
penjelasan Ir. Mr. A. J. Cohen Stuart, dalam menjelaskan teori daya pikul, maka
subjek pajak sebelum dikenakan kewajiban memikul beban pajak, maka
kepadanya diperhitungkan terlebih dahulu beban yang harus dipikul atas

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

kepentingannya sendiri. Oleh karena itu dalam Pajak Penghasilan dikenal istilah
Penghasilan Kena Pajak, Pengurang Penghasilan bruto, dan
penguranganpengurangan lain untuk menutupi beban pribadi yang harus
ditanggungnya.

2.2. Pajak Penghasilan sebagai Pajak Langsung.


Sebagai Pajak langsung, Pajak Penghasilan dibebankan secara langsung
kepada Subjek Pajak. John Stuart Mills, seorang ahli perekonomian dan ilmu
sosial berkebangsaan Inggris, pada awal abad ke 19 menjelaskan perbedaan
antara pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung adalah pajak
yang dibayarkan langsung oleh penanggung pajak kepada Pemerintah dengan
tidak menggeser beban pajak tersebut kepada pihak lain. Sedangkan pajak tidak
langsung, dikenakan terhadap pihak penanggung pajak, akan tetapi beban pajak
tersebut dapat dilakukan penggeseran atau dibebankan ke pihak lain. Dengan
demikian pada pajak langsung penanggungjawab pajak secara yuridis formal,
penganggung beban ekonomis, dan tujuan akhir (destinasi) pengenaan pajak
adalah pihak yang sama, sedangkan pada pajak tidak langsung, penetapan
penanggung pajak secara yuridis formal dibebankan kepada wajib pajak,
sedangkan beban pajak secara ekonomis dapat digeser pada pihak lain, dan
tujuan akhir (destinataris) pajak dapat digeserkan (shiffting) kepada pihak yang
lain.
Dengan demikian terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi apakah jenis pajak
termasuk jenis pajak langsung atau tidak langsung yaitu :
1. Penanggung pajak secara yuridis formal, yaitu pihak yang ditunjuk untuk
memenuhi kewajiban perpajakan
2. Penanggung pajak secara ekonomis, yaitu pihak yang sewcara ekonomis
menanggung beban pembayaran pajak
3. Destinataris pajak atau tujuan akhir pengenaan pajak, yaitu pemikul beban
pajak terakhir.
Jika ketiga kriteria di atas terletak pada satu pihak yang menanggung, maka
dapat dikatakan bahwa pajak tersebut adalah pajak langsung, akan tetapi jika
satu kriteria saja dapat dilakukan penggeseran kewajiban kepada pihak lain,
maka pajak tersebut termasuk jenis pajak tidak langsung.

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Bagan 1. Pajak Penghasilan sebagai Pajak Langsung

Subjek PPh Penanggung pajak yuridis formal

Penanggung pajak ekonomis

Destinataris pajak

2.3. Pajak Penghasilan sebagai Pajak Pusat atau Pajak Negara Dilihat dari
otoritas yang berwenang mengadministrasikan pemungutan pajak, maka pajak
Penghasilan dikategorikan sebagai pajak pusat atau pajak negara. Terlihat dari
pembahasan sebelumnya Pajak Penghasilan diadministrasikan sebagai
penerimaan APBN, membuktikan bahwa wewenang pemungutan dan
pengelolaan Pajak Penghasilan terletak pada Pemerintah Pusat. Berbeda
dengan Pajak Daerah, otoritas pemungutan dan pengadministrasian Pajak
Daerah terletak pada Pemerintah Daerah dan diatur dengan Peraturan Daerah.
Pengalokasian hasil pemungutan Pajak Penghasilan memang dialokasikan
kepada daerah yang diatur dalam undang-undang. Pemerintah Daerah juga
membutuhkan pendanaan untuk penyelenggaraan kepemerintahan daerah, akan
tetapi agar tidak terjadi pemungutan pajak berganda antara pemerintah pusat dan
daerah maka, wewenang pemungutan diberikan undangundang kepada
Pemerintah Pusat, sedangkan hasil pemungutannya dialokasikan kepada
daerah, seperti yang diatur dalam Pasal 31C undangundang Pajak Penghasilan,
sebagai berikut :
Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan
Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja dibagi dengan
imbangan 80% (delapan puluh persen) untuk Pemerintah Pusat dan 20% (dua
puluh persen) untuk Pemerintah Daerah tempat Wajib Pajak terdaftar.

3. Sejarah perkembangan Pajak Penghasilan Indonesia


Sebelum berlakunya Undang–undang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 7 Tahun

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1991, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 dan terakhir dengan Undang


undang Nomor 36 Tahun 2008 di Indonesia diterapkan Undang-undang Pajak
Pendapatan 1944 (Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 ) yang berlaku bagi orang
pribadi / perseorangan , Ordonansi Pajak Perseroan 1925 bagi badan
,Undangundang Pajak atas Bunga ,Dividen dan Royalti tahun 1970 (sering
disebut UU PBDR 1970), yang mengatur mengenai materi pengenaan dan tata
cara pengenaan pajak atas penghasilan berupa bunga,dividen dan royalty ,yang
wajib dipotong oleh orang-orang dan badan-badan yang membayarkan jenis
penghasilan yang bersangkutan serta Undang–undang No.8 Tahun 1967 juncto
Peraturan Pemerintah nomor 11 Tahun 1967 yang mengatur mengenai tata cara
pengenaan pajak atas penghasilan, terutama berupa laba usaha, sepanjang
mengenai tata cara pemungutan oleh pihak lain dan pembayaran oleh Wajib
Pajak sendiri yang sering disebut MPS dan MPO.
Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang sepenuhnya berada
pada fiskus dalam hal ini Kepala Inspeksi Pajak (official assessment). Sarana
menetapkan jumlah pajak yang terutang dilakukan melalui penerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Ketentuan formal maupun ketentuan material dalam
pemenuhan kewajiban perpajakannya diatur dalam satu undang-undang, yaitu
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 untuk orang pribadi, dan Ordonansi Pajak
Perseroan 1925 untuk badan.
Tujuan utama dilakukannya pembaharuan sistem perpajakan secara
menyeluruh adalah untuk mencapai pertumbuhan penerimaan yang sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi dengan undang-undang pajak yang berlaku. Hal
tersebut tidak mungkin dapat dilakukan dengan menggunakan sistem official
assessment, mengingat keterbatasan sarana dan prasarana untuk menetapkan
jumlah wajib pajak yang makin bertambah sesuai dengan perkembangan
ekonomi. Sedangkan jumlah pertambahan maupun peningkatan kualitas sumber
daya manusia aparat pajak, tidak memadai untuk mencapai tujuan yang hendak
dicapai tersebut .
Dasar Pengenaan Pajak tidak lagi berdasarkan azas sumber sebagaimana
pendapatan pada Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, atau laba pada Ordonansi
Pajak Perseroan 1925, tetapi didasarkan pada penghasilan dalam arti yang luas.
Penentuannya didasarkan adanya tambahan kemampuan ekonomis yang

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak, dan tambahan kemampuan


ekonomis dalam bentuk apapun, tidak terbatas dalam bentuk uang saja, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak.
Broadbased taxation atau pemajakan dengan objek pajak ekonomis, tanpa
memperhatikan darimana sumber penghasilan itu didapat.
Penegasan pengenaan pajak terhadap orang atau badan, status Wajib Pajak
Luar Negeri, yang menerima atau memperoleh penghasilan, yang bersumber dari
Indonesia. Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri Pajak ruang lingkup penghasilan yang
dikenakan Pajak Penghasilan, adalah semua penghasilan dari manapun diterima
atau diperoleh, baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia (world wide
income), dijumlahkan seluruhnya dan atas seluruh penghasilan kena pajak
tersebut diterapkan tarif progresif .
Pengenaan pajak atas penghasilan bagi wajib pajak orang pribadi maupun
badan diatur oleh 2 (dua) undang-undang yaitu pertama UU NO 7 tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan, yang mengatur mengenai ketentuan materialnya
seperti siapa yang menjadi subjek pajak, apa objeknya, berapa tarifnya dan yang
kedua UU NO 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan,
yang mengatur mengenai ketentuan formalnya, yaitu agar ketentuan materialnya
dapat diwujudkan atau direalisir seperti pendaftaran wajib pajak, kewajiban wajib
pajak, sanksi. Kedua undang-undang tersebut merupakan bagian dari
perubahan mendasar undang-undang dibidang perpajakan, yang dikenal dengan
reformasi dibidang perpajakan tahun 1983, yang mulai diberlakukan tahun 1984.

Dalam perkembangannya, sesuai perkembangan dunia ekonomi dan


moneter, sampai saat ini kedua undang-undang tersebut telah mengalami
beberapa kali perubahan yaitu Undang–undang nomor 7 tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan, perubahannya dengan Undang-undang nomor 7 Tahun
1991, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, Undang-undang Nomor 17 Tahun
2000 dan terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 , yang untuk
selanjutnya dalam bahan ajar Pajak Penghasilan ini akan disebut
UndangUndang Pajak Penghasilan atau disingkat UU PPh . Penyebutan tersebut
hendaknya diartikan Undang-undang Pajak Penghasilan yang berlaku sesuai
dengan masa/tahun pajak yang berkenaan .

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Sedangkan Undang–undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum


dan Tata cara Perpajakan, perubahannya dengan Undang-undang Nomor 9
Tahun 1994 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 dan terakhir dengan
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007, yang untuk selanjutnya dalam bahan ajar
Pajak Penghasilan ini akan disebut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata
cara Perpajakan atau disingkat UU KUP.

3.1. Perkembangan Pengenaan Pajak Atas Penghasilan


3.1.1. Sebelum Reformasi Perpajakan (Tax Reform 1983)
Sebelum berlakunya Undang–undang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 7 Tahun
1991, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 dan terakhir dengan Undang
undang Nomor 17 Tahun 2000 di Indonesia diterapkan Undang-undang Pajak
Pendapatan 1944 (Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 ) yang berlaku bagi orang
pribadi/perseorangan , Ordonansi Pajak Perseroan 1925 bagi badan,
Undangundang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti tahun 1970 (sering disebut
UU PBDR 1970), yang mengatur mengenai materi pengenaan dan tata cara
pengenaan pajak atas penghasilan berupa bunga, dividen dan royalty, yang wajib
dipotong oleh orang-orang dan badan badan yang membayarkan jenis
penghasilan yang bersangkutan serta Undang–undang No.8 Tahun 1967 juncto
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1967 yang mengatur mengenai tata cara
pengenaan pajak atas penghasilan, terutama berupa laba usaha, sepanjang
mengenai tata cara pemungutan oleh pihak lain dan pembayaran oleh Wajib
Pajak sendiri yang sering disebut MPS dan MPO.
Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang sepenuhnya berada
pada fiskus dalam hal ini Kepala Inspeksi Pajak (official assessment). Sarana
menetapkan jumlah pajak yang terutang dilakukan melalui penerbitkan Surat
Ketetapan Pajak. Ketentuan formal maupun ketentuan material dalam
pemenuhan kewajiban perpajakannya diatur dalam satu undang-undang, yaitu
Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 untuk Wajib Pajak orang pribadi, dan
Ordonansi Pajak Perseroan 1925 untuk Wajib Pajak badan.

3.1.2. Pasca Reformasi Perpajakan (Tax Reform 1983)

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Tujuan utama dilakukannya pembaharuan sistem perpajakan secara


menyeluruh adalah untuk mencapai pertumbuhan penerimaan yang sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi dengan undang-undang pajak yang berlaku. Hal
tersebut tidak mungkin dapat dilakukan dengan menggunakan sistem official
assessment, mengingat keterbatasan sarana dan prasarana untuk menetapkan
jumlah wajib pajak yang makin bertambah sesuai dengan perkembangan
ekonomi. Sedangkan jumlah pertambahan maupun peningkatan kualitas sumber
daya manusia aparat pajak, tidak memadai untuk mencapai tujuan yang hendak
dicapai tersebut .
Dasar Pengenaan Pajak tidak lagi berdasarkan azas sumber sebagaimana
pendapatan pada Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, atau laba pada Ordonansi
Pajak Perseroan 1925, tetapi didasarkan pada penghasilan dalam arti yang luas.
Penentuannya didasarkan adanya tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak, dan tambahan kemampuan
ekonomis dalam bentuk apapun, tidak terbatas dalam bentuk uang saja, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak.
Broadbased taxation atau pemajakan dengan objek pajak ekonomis, tanpa
memperhatikan dari mana sumber penghasilan itu didapat.
Penegasan pengenaan pajak terhadap orang atau badan, status Wajib Pajak
Luar Negeri, yang menerima atau memperoleh penghasilan, yang bersumber dari
Indonesia. Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri Pajak ruang lingkup penghasilan yang
dikenakan Pajak Penghasilan, adalah semua penghasilan dari manapun diterima
atau diperoleh, baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia (world wide
income), dijumlahkan seluruhnya dan atas seluruh penghasilan kena pajak
tersebut diterapkan tarif progresif .
Pengenaan pajak atas penghasilan bagi wajib pajak orang pribadi maupun
badan diatur oleh 2 (dua) undang-undang yaitu pertama UU NO 7 tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan, yang mengatur mengenai ketentuan materialnya
seperti siapa yang menjadi subjek pajak, apa objeknya, berapa tarifnya dan yang
kedua UU NO 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan,
yang mengatur mengenai ketentuan formalnya, yaitu agar ketentuan materialnya
dapat diwujudkan atau direalisasikan seperti pendaftaran wajib pajak, kewajiban
wajib pajak, sanksi. Kedua undang-undang tersebut merupakan bagian dari

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

perubahan mendasar undang-undang dibidang perpajakan, yang dikenal dengan


reformasi dibidang perpajakan tahun 1983, yang mulai diberlakukan tahun 1984.

3.2. Perkembangan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983


Sejak Tax Reform tahun 1983 sampai dengan tahun 2009, Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah 4 (empat) kali mengalami
perubahan dan terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, yang
masing-masing perubahan/penyempurnaan tersebut mengikuti situasi
perekonomian/perdagangan yang berkembang di masyarakat.
Pokok–pokok perubahan dari masing masing Undang–undang Pajak
Penghasilan dimaksud adalah :
a. Perubahan pertama dengan Undang-undang No.7 Tahun 1991
Pasal 4 ayat (3) huruf g Undang-Undang nomor 7 Tahun 1983 menetapkan
bahwa dividen yang diterima atau diperoleh suatu perseroan dari penyertaannya
pada perseroan lain bukan merupakan obyek Pajak Penghasilan, sepanjang
penyertaan tersebut meliputi minimal 25% (dua puluh lima persen) dari nilai
saham yang disetor serta kedua badan tersebut mempunyai hubungan ekonomis
dalam jalur usahanya,diatur kembali. Pemberian insentif perpajakan pada
bentuk-bentuk usaha berupa Perusahaan Reksa Dana (Investment Fund) dan
perusahaan Modal Ventura (Venture Capital).
Untuk mendorong perkembangan perekonomian di daerah terpencil termasuk
di Indonesia bagian Timur, perlu diberikan insentif di bidang perpajakan berupa
perlakuan perpajakan atas imbalan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan
tertentu yang dapat lebih menarik orang bekerja di daerah terpencil. Selain itu
untuk meningkatkan penanaman modal di daerah tersebut perlu diberikan
kemudahan berupa keluwesan dalam menggunakan metode penyusutan dan
amortisasi agar lebih menarik bagi para penanam modal.
Guna meningkatkan penanaman modal yang berasal dari luar negeri yang
pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan kerja maka kepada pada para
penanam modal dari luar negeri perlu diberikan kemudahan dalam
penyelenggaraan pembukuan dengan tetap berpegang pada ketentuan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Perubahan kedua dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1994


Ketentuan mengenai Subjek Pajak diatur secara lebih luwes agar dapat
mengikuti perkembangan sosial ekonomi dan perkembangan bentuk-bentuk
aktifitas bisnis yang timbul dan berkembang di masyarakat.Ketentuan mengenai
Obyek Pajak diatur dengan lebih rinci, jelas dan tegas untuk lebih memberikan
kepastian hukum dan keadilan dalam pengenaan pajak. Dalam rangka
menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengeluaran untuk
penelitian dan pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya. Dan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pengeluaran untuk biaya
pelatihan, magang, dan bea siswa dapat dibebankan sebagai biaya;
Dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
pertumbuhan dan pemerataan pembangunan nasional di segala bidang, dapat
diberikan fasilitas perpajakan kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman
modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu;
Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih
dari 10 (sepuluh) tahun yang diatur selaras dengan kebijakan pemerintah dalam
rangka pemerataan pembangunan nasional. Untuk menunjang program
pemerintah dalam pelestarian ekosistem, sumber daya alam dan lingkungan
hidup, ditegaskan bahwa biaya pengolahan limbah boleh dibebankan sebagai
biaya dan diatur mengenai pembentukan atau pemupukan cadangan untuk biaya
reklamasi. Untuk memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak dalam hal
penghitungan penyusutan atas harta yang dimiliki dan digunakan dalam usaha
serta lebih menyelaraskan pembukuan Wajib Pajak untuk kepentingan fiskal,
maka kepada Wajib Pajak diberikan kebebasan untuk memilih metode
penyusutan atas harta berwujud bukan bangunan.
Kebijaksanaan di bidang tarif pajak dilakukan dengan mengatur kembali
besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak dan besarnya lapisan tarif pajak
dengan tetap mempertahankan progresivitas tarif yang diberlakukan terhadap
Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan, dengan mempertimbangkan
kesempatan melakukan pengembangan kegiatan usaha dan persaingan dunia
usaha dalam era globalisasi. Mencegah penghindaran pajak melalui penundaan
pembagian laba dalam waktu yang tidak ditentukan atas penanaman modal di
luar negeri;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Perluasan dalam sistem pemotongan dan pemungutan pajak untuk


meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, menggali potensi fiskal yang tersedia, dan
menunjang sistem "self assessment" melalui pemanfaatan data yang lebih efektif
dan efisien. Dalam rangka kemudahan dan kesederhanaan pengenaan pajak
serta untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, diatur pemungutan pajak yang
bersifat final atas penghasilan-penghasilan tertentu.

c. Perubahan ketiga dengan UU No. 17 Tahun 2000


Perluasan subjek dan objek pajak dalam hal-hal tertentu dan pembatasan
pengecualian atau pembebasan pajak dalam hal lainnya. Struktur tarif pajak yang
berlaku juga perlu diubah dan dibedakan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan
untuk Wajib Pajak Badan, guna memberikan beban pajak yang lebih proporsional
bagi masing-masing golongan Wajib Pajak.
Untuk lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak, sistem self
assessment tetap dipertahankan namun dengan penerapan yang terus menerus
diperbaiki. Perbaikan terutama dilakukan pada sistem dan tatacara pembayaran
pajak dalam tahun berjalan agar tidak mengganggu likuiditas Wajib Pajak yang
menjalankan usaha. Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
perlu didorong untuk melaksanakan kewajiban pembukuan dengan tertib dan taat
asas, namun untuk membantu dan membina para Wajib Pajak pengusaha
dengan jumlah peredaran tertentu, masih diperkenankan penggunaan norma
penghitungan penghasilan neto dengan syarat wajib menyelenggarakan
pencatatan.
Dalam rangka mendorong investasi langsung di Indonesia baik penanaman
modal asing maupun penanaman modal dalam negeri, diatur kembali
bentukbentuk insentif Pajak Penghasilan yang dapat diberikan.

d. Perubahan keempat dengan UU No. 36 Tahun 2008


Perluasan subjek dan objek pajak dalam hal-hal tertentu dan pembatasan
pengecualian atau pembebasan pajak dalam hal lainnya. Perubahan struktur tarif
pajak yang berlaku dan disederhanakan yang meliputi penurunan tarif secara
bertahap, terencana, pembedaan tarif, serta penyederhanaan lapisan yang
dimaksudkan untuk memberikan beban pajak yang lebih proporsional bagi

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

tiaptiap golongan Wajib Pajak tersebut; dan perbaikan terutama dilakukan pada
sistem pelaporan dan tata cara pembayaran pajak dalam tahun berjalan agar
tidak mengganggu likuiditas Wajib Pajak dan lebih sesuai dengan perkiraan pajak
yang akan terutang. Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha
atau pekerjaan bebas, kemudahan yang diberikan berupa peningkatan batas
peredaran bruto untuk dapat menggunakan norma penghitungan penghasilan
neto. Peningkatan batas peredaran bruto untuk menggunakan norma ini sejalan
dengan realitas dunia usaha saat ini yang makin berkembang tanpa melupakan
usaha dan pembinaan Wajib Pajak agar dapat melaksanakan pembukuan
dengan tertib dan taat asas.

Bagan 2. Perkembangan Pajak Penghasilan

Pra tax reform 1983 Pasca Tax reform 1983

 Ordonansi PPs 1925 :  UU No 7 Th tentang Pajak Penghasilan.


badan-badan.  UU No. 7 Tahun 1991
 Ordonansi PPd 1944:  UU No 10 tahun 1994 tentang perubahan kedua
orang-orang pribadi.  UU No 17 tahun 2000 tentang perubahan ketiga
Termasuk pemotongan  UU No 36 tahun 2008 tentang perubahan keempat
pajak oleh pemberi
kerja.
 UU PBDR 1970 :
bunga, dividen dan
royalty,
 UU No. 8 Tahun 1967
jo. PP No. 11 th
1967, MPO, MPS-
Masa dan MPSAkhir
4. SISTIMATIKA UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN

Undang-undang Pajak Penghasilan terdiri dari 9 (sembilan) bab dan 36


(tigapuluh enam) Pasal. Dilihat dari isinya, undang-undang ini termasuk sebagai
sebagai hukum material, Sejak tax reform 1983 terjadi pemisahan undangundang
yang mengatur tentang hukum formal dengan hukum material. Dalam UU PPh ini
mengatur tentang subjek, Objek, Tarif dan pennerapannya, sedangkan tata cara
pelaksanaan administratifnya diatur dalam undang-undang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan. Pasal-pasal dalam UU PPh diatur dalam sistimatika
sebagai berikut:

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

C. LATIHAN:

1. Uraikan pengertian secara umum tentang Pajak Penghasilan dan


bagaimana peran dan kedudukannya sebagai sumber penerimaan
Negara.
2. Jelaskan karakteristik Pajak Penghasilan, sebagai Pajak subjektif, Pajak
langsung dan Pajak Negara.
3. Uraikan sejarah perkembangan Pajak Penghasilan.
4. Jelaskan sistimatika dari Undang-undang Pajak Penghasilan.

D. RANGKUMAN:
Pajak Penghasilan adalah pajak yang berbasis pada penghasilan yang
dikenakan terhadap subjek Pajak atas penghasilan yang diterima atau

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

diperolehnya. Dari tahun ke tahun Pajak Penghasilan memberikan kontribusi yang


signifikan terhadap penerimaan negara.
Karakteristik Pajak Penghasilan adalah Pajak Subjektif artinya sasaran
perngenaan adalah subjek pajak atas objek yang diterima atau diperolehnya, dan
karakter sebagai pajak langsung yang diartikan bahwa penanggungpajak secara
ekonomis, yuridis dan tujuan akhir pengenaan pajak ada pada pihak subjek pajak
dan beban tersebut tidak dapat digeser kepada pihak lain. Sebagai pajak negara,
pengelolaan administrasi pajak penghasilan berada pada Pemerintah Pusat.
Perkembangan Pajak Penghasilan dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu
pada masa sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, dan masa setelah
reformasi perpajakan tahun 1983. Sebelum reformasi pajak 1983, peraturan
perpajakan merupakan warisan kolonial yang dipandang belum berpihak kepada
masyarakat, karena syarat dengan kepentingan pemerintah kolonial, sedangkan
pada masa pasca tax reform 1983, Undang-undang perpajakan senantiasa
mengalami penyesuaian dengan dinamika perekonomian, guna memberikan
kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat. Sistimatika Undang-undang
Pajak Penghasilan terdiri dari 9 (sembilan) bab dan 36 (tigapuluh enam) pasal.

E. TEST FORMATIF :

1. Salah satu bentuk fungsi Pajak Penghasilan adalah sebagai fungsi budgeter
bahwa Pajak Penghasilan berfungsi sebagai: a. Sumber Penerimaan negara
b. Sarana Pemerataan dan distribusi penghasilan
c. Ditetapkan dengan Undang-undang
d. Memberi insentif bagi investasi di daerah tertinggal

2. Pajak Penghasilan bersifat lebih adil dalam pengenaannya dibandingkan


dengan jenis pajak yang lain, hal ini disebabkan antara lain karena:
a. Beban pajak merata kepada semua subjek pajak tanpa pandang
bulu’
b. Ditetapkan dengan Undangundang tanpa ada diskriminasi;
c. Beban pajak dapat disesuaikan dengan gaya pikul subjek pajaknya
d. Undang-undang sudah mendapat persetujuan DPR yang merupakan
representasi dari wakil rakyat.

18 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

3. Yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan sebagai pajak subjektif, adalah:


a. Pajak Penghasilan hanya melihat dari ada tidaknya transaksi yang dimiliki
oleh subjek pajak.
b. Beban pajak Penghasilan bisa dialihkan ke subjek pajak lainya dalam
rantai distribusi barang dan jasa.
c. Pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada keadaan dan kondisi
subjek pajak.
d. Pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada keadaan dan kondisi
objek pajak.

4. Yang dimaksud dengan Subjek Pajak adalah :


a. Transaksi yang dapat dikenakan pajak
b. Penghasilan Kena pajak sebagai dasar Pengenaan Pajak
c. Pihak-pihak yang dengan ketentuan aturan perundang-undangan diberi
hak an kewajiban hukum dibidang perpajakan
d. Orang yang menjadi sasaran pengenaan pajak.

5. Sifat Pajak Penghasilan sebagai Pajak Langsung.


a. Pajak Penghasilan dibebankan secara langsung kepada Subjek Pajak
dan tidak di geser beban pajak tersebut kepada pihak lain.
b. dikenakan langsung terhadap subjek pajak, akan tetapi beban pajak
tersebut dapat dilakukan penggeseran atau dibebankan ke pihak lain.
d. Secara yuridis formal, subjek pajak akan menanggung kewajiban secara
administratif saja, beban secara ekonomis digeser kepada pihak lain.

6. Berikut adalah kriteria yang harus dipenuhi sebagai jenis pajak langsung
kecuali::
a. Penanggung pajak secara yuridis formal, yaitu pihak yang ditunjuk untuk
memenuhi kewajiban perpajakan
b. Penanggung pajak secara ekonomis, yaitu pihak yang sewcara ekonomis
menanggung beban pembayaran pajak

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

c. Destinataris pajak atau tujuan akhir pengenaan pajak, yaitu pemikul


beban pajak terakhir
d. Baik Penanggung pajak secara yurisis formal, secara ekonomis dan
Desnataris pajak dapat ditanggung secara renteng bersama-sama.
.

7. Yang dimaksud dengan destinataris pajak adalah:


a. Pihak yang menjadi sasaran akhir pengenaan pajak
b. Pihak yang secara yuridis bertanggungjawab atas pelunasan pajak
terutang
c. Pihak yang bertanggungjawab atas pemenuhan
administrasi perpajakan
d. Pihak yang dalam secara ekonomis menanggung beban pajak.

8. Pajak Penghasilan dikategorikan sebagai pajak pusat atau pajak negara.


Pengkategorian ini berdasarkan :
a. Dilihat dari otoritas yang berwenang mengadministrasikan pemungutan
pajak,
b. Dilihat dari otoritas yang berwenang mengambil manfaat pemungutan
pajak.
c. Berdasarkan lokasi administratif dari pembayar pajak.
d. Berdasarkan wilayah berlakunya undang-undang atau Peraturan yang
mengaturnya

9. Salah satu hal mendasar dalam reformasi perpajakan tahun 1983 di bidang
pajak penghasilan adalah berubahnya sistem pemungutan pajak dari semula
bersifat official assessment menjadi self assessment. Dengan demikian
tanggung jawab pemenuhan kewajiban perpajakan bagi wajib pajak terletak
pada:
a. Wajib Pajak sepenuhnya
b. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak
c. Hanya pada Pemerintah dalam hal ini DIrektorat Jenderal Pajak.
d. sebagai tanggung jawab bersama Pemerintah dan warganya sebagai
perwujudan tanggungjawab kenegaraan.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

.
10. Berikut ini adalah tujuan utama dilakukannya pembaharuan sistem perpajakan
secara menyeluruh adalah sebagai berikut, kecuali:

a. untuk mencapai pertumbuhan penerimaan yang sejalan dengan


pertumbuhan ekonomi dengan undang-undang pajak yang berlaku.
b. mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana untuk menetapkan jumlah
wajib pajak yang makin bertambah sesuai dengan perkembangan
ekonomi.
c. Tidak memadainya kuantitas dan kualitas kualitas sumber daya manusia
aparat pajakuntuk melakukan penetapan terhadap keseluruhan WP
d. Memberikan kemudahan bagi WP untuk melaksanakan hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan kondisi yang dikehendakinya.
.
11. Pasca reformasi perpajakan 1983 pengenaan pajak tidak lagi menganut azas
sumber, melainkan:
a. Berdasarkan lokasi dari sumber penghasilan;
b. Secara definitif ditetapkan positif list untuk menjamin kepastian hukum
c. didasarkan pada penghasilan dalam arti yang luas. Tidak terbatas nama,
sumber dan bentuk penghasilan
d. Diberikan wewenang pengawasan kepada pemerintah unytuk melakukan
penetapan pajak secara luas.

12. Berikut ini adalah peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku


sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, kecuali : a. Ordonansi Pajak
Perseroan 1925
b. Ordonansi Pajak Pendapatan 1944
c. UU Pajak atas Bunga Dividen dan Royaty 1970
d. Undang-undang Pajak Penjualan tahun 1951

13. Undang-undang No 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah mengalami


perubahan 4 (empat) kali yakni:
a. UU No. 17 Tahun 1991, UU No. 27 Tahun 1994, UU No. 17 Tahun

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

2000, UU No.36 Tahun 2008


b. UU No. 7 Tahun 1991, UU No. 10 Tahun 1994, UU No. 7 Tahun 2000,
UU No. 36 Tahun 2008
c. UU No. 7 Tahun 1991, UU No. 10 Tahun 1994, UU No. 17 Tahun
2000, dan UU No. 36 Tahun 2008
d. UU No. 7 Tahun 1991, UU No. 10 Tahun 1994, UU No. 17 Tahun
2000, dan UU No. 26 Tahun 2008

14. Undang-undang Pajak Penghasilan mengalami banyak perubahan. Berikut


alasan perubahan undang-undang tersebut kecuali:
a. mengikuti dinamika perkembangan perekonomian dan dunia usaha;
b. Untuk lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan;
c. Wujud dari demokrasi, untuk mengikuti kebijakan penguasa.
d. Perluasan cakupan pengenaan pajak dan karena kebutuhan
pembangunan.

15. Undang-undang Pajak penghasilan terdiri dari:


a. 9 (sembilan) bab dan 37 (tiga puluh tujuh ) pasal b 9 (sembilan)
bab dan 36 (tiga puluh enam) pasal c. 8 (delapan) bab dan 37 (tiga
puluh tujuh) pasal
d. 8 (delapan) bab dan 36 (tiga puluh enam) pasal.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :

Jumlah jawaban yang benar


Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan
ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 1 ini.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

III KEGIATAN BELAJAR 2

SUBJEK PAJAK PENGHASILAN

A. Indikator Keberhasilan :

Dalam Kegiatan belajar dua, diharapkan peserta diklat dapat menjelaskan


pengenaan Pajak Penghasilan, menyebutkan pihak-pihak yang ditetapkan
sebagai subjek pajak, menguraikan pengelompokan subjek pajak, membedakan
kewajiban perpajakan subjek pajak dalam negeri dan luar negeri, menjelaskan
saat dimulainya kewajiban pajak subjektif dan berakhirnya kewajiban pajak
subjektif, serta menjelaskan pihak-pihak yang tidak ditetapkan sebagai subjek
pajak

B. Uraian materi, contoh dan non contoh

SUBJEK PAJAK

1. Pengenaan Pajak Penghasilan


Pasal 1 Undang Undang No. 7 Tahun 1983 diatur bahwa:

Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh dalam tahun pajak

Dari rumusan di atas terlihat bahwa sifat Pajak Penghasilan sebagai pajak
subjektif, karena pajak penghasilan pada dasarnya dikenakan terhadap subjek
pajak. setelah subjek pajak ditetapkan, maka atas objek pajak yakni penghasilan
yang diterima atau diperoleh oleh subjek pajak tersebut dikenakan pajak. Jika
kewajiban subjektif tidak dipenuhi, walaupun terdapat objek pajak maka
pengenaan pajak penghasilan tidak dapat dilakukan.
Dari ketentuan tersebut diatas dapat disimpulkan untuk dapat dikenakan pajak
harus dipenuhi 2 unsur, yaitu:
• subjek pajak
• penghasilan dalam tahun pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Sesuai dengan Penjelasan pasal ini dalam undang-undang perubahan ke


empat Undang-undang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, yang
dimaksud dengan “Tahun Pajak” adalah tahun kalender, namun Wajib Pajak dapat
menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender, sepanjang tahun
buku tersebut meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Penentuan jangka waktu
dalam penerapan pajak penghasilan sangatlah penting. Pada dasarnya Pajak
Penghasilan terutang selama satu tahun pajak. Dengan demikian pajak terutang
dihitung dengan menjumlahkan semua objek pajak yang diterima atau diperoleh
dalam satu tahun.
Jika dimulainya atau berakhirnya persyaratan subjektif berada pada tahun
berjalan, maka jangkawaktu pemajakannya tidak meliputi seluruh tahun pajak,
akan tetapi meliputi bagian tahun pajak. Bagian tahun pajak dianggap sebagai 1
(satu) tahun pajak.

2. Pengertian Subjek Pajak

Penentuan Subjek Pajak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan siapa yang


ditunjuk untuk melaksanakan kewajiban dan menjalankan hak-hak sebagaimana
dikehendaki oleh undang-undang perpajakan. Dapat diartikan pengertian Subjek
Pajak adalah pihak-pihak pembawa kewajiban dan hak perpajakan sebagaimana
diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.
Subjek Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1)
Undang-undang Pajak Penghasilan adalah:

a. Orang pribadi;
b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak,
c. Badan;dan
d. Bentuk Usaha Tetap (BUT).

2.1. Subjek Pajak Orang Pribadi


Ketentuan tentang subjek pajak orang pribadi merujuk pada pengertian subjek
hukum orang pribadi sebagaimana diatur dalam hukum perdata, dikenal dengan
istilah natruliijk persoon. Orang pribadi menjadi subjek pajak dimulai pada saat
dilahirkan di Indonesia sampai dengan meninggal dunia. Dengan ditetapkan

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

sebagai subjek pajak, maka orang pribadi mempunyai hak dan kewajiban
perpajakan sesuai undang-undang perpajakan.
Jika dua orang pribadi menikah, hal ini akan menghapus salah satu kewajiban
subjektif WP orang pribadi. Pada dasarnya undang-undang perpajakan mengacu
kepada undang-undang yang lain, baik itu undangundang perdata (Burgerlijke
Wetboek voor Indonesie) maupun undang-undang perkawinan, UU no.1 tahun
1974, yang menyatakan bahwa ketika terjadi suatu perkawinan, maka harta benda
yang diperoleh dalam perkawinan menjadi harta bersama. Sama halnya dengan
Undang-undang perpajakan yang memandang suatu keluarga sebagai satu
entitas ekonomi, sehingga pada dasarnya hanya memiliki satu kewajiban
subjektif. Akan tetapi ada pengecualian atas ketentuan ini jika dikehendaki oleh
yang bersangkutan, misalnya Perjanjian Kawin (berlaku bagi golongan Tionghoa)
Pasal 139 KUH Perdata diatur bahwa para calon suami istri, dengan perjanjian
kawin dapat menyimpang dari peraturan undang-undang mengenai harta
bersama, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan tata susila yang baik atau
dengan tata tertib umum. Perjanjian kawin ini dibuat dengan akta notaris sebelum
pernikahan berlangsung dan akan menjadi batal bila tidak dibuat secara demikian.
Perjanjian kawin ini mulai berlaku pada saat pernikahan dilangsungkan dan tidak
boleh ditentukan saat lain untuk itu.

2.2. Warisan belum terbagi sebagai satu kesatuan


menggantikan yang berhak.

Ketika subjek pajak orang pribadi meninggal dunia maka kewajiban


subjektif perpajakannya menjadi berakhir. Penetapan warisan sebagai satu
kesatuan sebagai subjek pajak dimaksudkan agar kewajiban perpajakan dari si
orang pribadi yang meninggal tersebut tidak menjadi terhenti, hanya karena
warisan tersebut belum beralih kepada pihak lainnya, yang menjadi pewarisnya.
Warisan belum terbagi, karena sesuatu sebab misalnya para ahli warisnya
tidak diketahui dimana mereka berada, atau belum ada kesepakatan antara para
ahli warisnya mengenai harta warisan yang mana yang menjadi haknya, maka
warisan itu dianggap sebagai satu kesatuan dan dikenakan pajak sebagai ganti
mereka yang berhak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Pemenuhan kewajiban perpajakannya, dilakukan oleh salah seorang ahli


warisnya, pelaksana wasiatnya atau pihak yang mengurus harta peninggalannya.
Ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 32 ayat (1) huruf e Undang-undang
Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan yang berbunyi:

Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan


peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili, dalam
hal suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya,
pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya.

Contoh:
Tn. Wijaya adalah Wajib Pajak Orang Pribadi pada bulan Juli 2011 meninggal
dunia. Tn Wijaya meninggalkan warisan berupa kepemilikan saham pada
beberapa perusahaan, rumah dan restoran. Sampai dengan bulan Maret 2012
karena suatu sebab, belum dilakukan pembagian warisan kepada ahl iwarisnya.
Dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan, atas penghasilan yang diperoleh dari
warisan yang ditinggalkan tersebut dilaksanakan dengan status, mengikuti status
pewaris dan dianggap sebagai satu kesatuan, walaupun pada dasarnya
seharusnya ketika pewaris meninggal dunia, hak atas harta yang ditinggalkan
jatuh kepada ahli waris, hanya saja karena faktor administrasi dan yuridis, maka
pembagian tersebut tidak dapat dilaksanakan.Dengan demikian pelaporan dan
pemenuhan kewajiban tetap dengan status almarhum si pewaris, akan tetapi
karena pada dasarnya harta tersbut jatuh kepada ahli waris, maka pengurangan
seperti PTKP, menjadi hilang karena tergabung dengan PTKP ahliwarisnya.

Ilustrasi di atas sejalan dengan penegasan dalam Surat Edaran Direktur


Jenderal Pajak Nomor SE - 10/PJ.41/1996 tentang PTKP bagi subjek pajak
dalam negeri berbentuk warisan Yang belum terbagi (seri pph umum nomor 27)
sebagai berikut :
Subjek Pajak adalah Warisan yang belum terbagi sebagai satu-kesatuan,
menggantikan yang berhak. Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh
Orang Pribadi Subjek Pajak dalam negeri dianggap sebagai Subjek Pajak dalam
negeri dalam pengertian Undang-undang mengikuti status pewaris. Adapun
untuk pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakannya, Warisan tersebut
menggantikan kewajiban ahli waris yang berhak. Warisan yang belum terbagi

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

tidak dapat diberikan pengurangan berupa PTKP, karena PTKP tersebut pada
prinsipnya telah tergabung dengan PTKP ahli waris yang berhak.

2.3. Badan
Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan
umum dan Tatacara Perpajakan dan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) b. Undang-
undang Pajak Penghasilan diberikan definisi Badan adalah sekumpulan orang
dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun
tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,
perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah
dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak
investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
Pengertian badan sejalan dengan yang diatur dalam pengertian badan hukum
sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perdata, bahwa badan hukum (recht
persoon/legal person), merupakan personifikasi dari kumpulan orang-orang ata
kepentingan untuk mencapai suatu tujuan. Frasa ‘badan hukum’ mengandung dua
dimensi, yakni badan hukum publik dan badan hukum perdata. Contoh yang
paling nyata dari badan hukum publik adalah negara yang lazim juga disebut
badan hukum orisinil, propinsi, kabupaten dan kotapraja. Sedangkan badan
hukum perdata terdiri dari beberapa jenis diantaranya perkumpulan (Pasal 1653
KUH Perdata, Stb. 1870-64, Stb. 1939-570), PT (Pasal 36 KUHD dan UU No. 1
Tahun 1995 jo. UU No. 40 Tahun 2007), rederij (Pasal 323 KUHD),
kerkgenootschappen (Stb. 1927-156), Koperasi (UU No. 12 Tahun 1967), dan
Yayasan (UU No. 28 Tahun 2004).
Badan hukum publik diatur tersendiri penetapannya sebagai subjek pajak.
Hal yang membedakan adalah berkaitan dengan kegiatan badan-badan tersebut
apakah untuk memperoleh penghasilan atau tidak. Badan usaha milik negara
atau, badan usaha milik daerah merupakan subjek pajak tanpa memperhatikan
nama dan bentuknya, sehingga setiap unit tertentu dari badan Pemerintah,
misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak. Dalam pengertian


perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan, perhimpunan, atau ikatan dari
pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.
Badan atau Instansi Pemerintah yang bertugas menjalankan kegiatan
layanan publik dikecualikan dari penetapan sebagai subjek pajak. Dalam
Penjelasan penjelasan pasal 2 ayat (3) huruf b Undang-undang Pajak
Penghasilan, badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia,
kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundangundangan;
2. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
3. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau
Pemerintah Daerah; dan
4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional Negara;

Apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka badan/lembaga tersebut adalah


Subjek Pajak Penghasilan.

2.4. Bentuk Usaha Tetap ( BUT)


Dalam Undang-undang Pajak Penghasilan, bentuk usaha tetap ditentukan
sebagai Subjek Pajak tersendiri, terpisah dari badan. Oleh karena itu, walaupun
perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan Subjek Pajak Badan, untuk
pengenaan Pajak Penghasilan, Bentuk Usaha Tetap mempunyai eksistensinya
sendiri dan tidak termasuk dalam pengertian badan.
Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang
dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha dan melakukan
kegiatan di Indonesia.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Berdasarkan penjelasan pasal 2 ayat (5) UU Pajak Penghasilan , suatu


bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place
of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga
mesin-mesin, peralatan, gudang dan computer atau agen elektronik atau
peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa atau digunakan
oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha
melalui internet.
Bentuk usaha tetap dapat berupa:
a. tempat kedudukan manajemen;
b. cabang perusahaan;
c. kantor perwakilan;
d. gedung kantor;
e. pabrik;
f. bengkel;
g. Gudang
h. ruang untuk promosi dan penjualan;
i. pertambangan dan penggalian sumber alam;
j. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang
dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12
(dua belas) bulan;
n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
o. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung risiko di Indonesia; dan
p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau
digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan
usaha melalui internet.

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

3. Kelompok Subjek Pajak

Pengelompokan subjek pajak ini berdasarkan teori tentang yurisdiksi


pemajakan dari pajak penghasilan, bahwa pajak penghasilan dapat dikenakan
terhadap subjek pajak berdasarkan azas domisili/residen, azas sumber dan azas
kewaganegaraan. UU PPh tidak mengenakan pajak berdasarkan azas
kewarganegaraan, melainkan berdasarkan azas domisili atau residen. Sehingga
penetapan wajib pajak ditentukan berdasarkan status penduduk subjek pajak
tersebut, bukan status kewarganegaraannya. Azas sumber diterapkan kepada
subjek pajak yang tidak memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai penduduk
(residen), karena jangkauan yurisdiksi pemajakan terbatas pada wilayah yurisdiksi
dalam negeri Indonesia.
Subjek Pajak Penghasilan dilihat dari pemenuhan kewajiban
perpajakannya kelompokkan menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek
Pajak Luar Negeri. Subjek pajak dalam negeri menjadi wajib pajak apabila telah
memenuhi persyaratan objektif yaitu menerima atau memperoleh penghasilan,
sedangkan subjek pajak luar negeri sekaligus menjadi wajib pajak, sehubungan
dengan penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan di Indonesia atau
diperoleh melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

3.1. Subjek Pajak Dalam Negeri

Yang dimaksud dengan Subjek Pajak Dalam Negeri berdasarkan Undangundang


Pajak Penghasilan adalah :
a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada
di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di
Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
b. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.
c. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.

3.2. Subjek Pajak Luar Negeri

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Subjek pajak luar negeri adalah orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal
atau bertempat kedudukan di luar Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia, baik melalui maupun tanpa melalui bentuk usaha tetap.

Sesuai Pasal 2 ayat (4) Undang-undang Pajak Penghasilan adalah:


a. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan
yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia;
b. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia

tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak

didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia dan yang dapat menerima
atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia

Contoh
Penetapan Warga Negara Indonesia sebagai Wajib Pajak Luar Negeri :
Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri melebihi jangka waktu
183 hari dalam 12 bulan, sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-02/PJ.2009 termasuk dalam kategori sebagai Subjek
Pajak Luar Negeri. Sebagai Subjek Pajak Luar negeri, atas penghasilan yang
diperolehnya diluar negeri dan telah dikenai pajak di luar negeri, maka tidak
dikenakan pajak di Indonesia. Hal yang sama adalah ketika pekerja indonesia
tersebut menerima penghasilan dari Indonesia, maka akan berlaku sebagaimana
ketentuan bagi subjek pajak luar negeri lainnya.

Bagan 3. Kelompok Subjek Pajak

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Orang pribadi :
S ‐ bertempat tinggal / berada di indonesia >
U DN 183 hari dlm 12 bulan; atau
‐ Dalam suatu tahun pajak berada di
B indonesia dan mempunyai niat bertempat
J tinggal di indonesia
E Badan Yang didirikan atau bertempat
K kedudukan di indonesia
Warisan yang belum terbagi sbg satu kesatuan
P menggantikan yg berhak
A LN • Orang pribadi yg tidak bertempat tinggal di indonesia / berada
di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam 12 bulan
J • Badanyg tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
A •
indonesia
menjalankanUsaha atau kegiatan melalui BUT di indonesia
K • Yang menerima atau memper oleh penghasilan dari indo nesia
bukan dari menjalan kan usaha atau kegiatan melalui but di
indonesia

4. Perbedaan perlakuan PPh WP dalam negeri dengan WP luar negeri.

Perbedaan yang penting antara wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak luar
negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain dapat terlihat
pada table dibawah ini :
TABEL II PERBEDAAN PERLAKUAN PEMAJAKAN
Uraian WP Dalam Negeri WP Luar Negeri
1. Ruang lingkup Penghasilan yang di- Penghasilan yang
penghasilan terima atau diperoleh dari berasal dari sumber
yang dapat Indonesia maupun dari penghasilan di
dikenakan pajak luar Indonesia Indonesia
Penghasilan Neto
2. Tarif Umum
Dasar pengenaan pajak Penghasilan bruto
3. Wajib menyampaikan
Tarif Tarif sepadan
4. SPT Tahunan
SPT Tahunan Tidak Wajib
menyampaikan SPT
Tahunan

Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban
perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib
Pajak dalam negeri sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Pajak
Penghasilan dan Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.

5. Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif diatur dalam pasal 2A
Undang-undang Pajak Penghasilan. Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak
subjektif dapat dilihat pada table dibawah ini.

TABEL III SAAT DIMULAI DAR BERAKHIRNYA KEWAJIBAN PAJAK


SUBJEKTIF
Subjek Pajak Mulai Berakhir
Dalam Negeri
Orang Pribadi
• Bertempat tinggal di Indnesia Saat dilahirkan saat meninggal dunia

• Berada di Indonesia lebih dari Sejak hari pertama Saat meninggal kan
183 hari / Berada di Indonesia berada di Indonesia Indonesia untuk
dan punya niat untuk bertempat selamalamanya
tinggal di Indonesia

Warisan yang belum terbagi


Saat meninggal pewaris Saat warisan dibagikan.
Badan
Pada saat badan tsb Pada saat dibubarkan
didirikan atau bertempat atau tidak lagi bertempat
kedudukan di Indonesia kedudukan di Indonesia.

Luar Negeri
Orang Pribadi tidak bertempat tinggal
atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia.
Saat ditiadakannya BUT
• Menjalankan usaha /me-lakukan
kegiatan melalui BUT Saat berada di Indonesia

• Tidak menjalankan usaha /melkkn Saat putusnya hubungan


kegiatan melalui BUT Saat adanya hubungan ekonomis dengan
ekonomis dengan Indonesia
Indonesia

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

6. TIDAK TERMASUK SEBAGAI SUBJEK PAJAK


Kantor perwakilan diplomatik negara lain, pejabat diplomatik dan organisasi
internasional ditetapkan sebagai bukan subjek pajak. Penetapan dalam pasal ini
didasarkan pada kelaziman internasional, sehingga terjadi perlakuan yang sama
terhadap kepentingan Republik Indonesia. Lebih lanjut dalam pasal 3 diatur bahwa
yang tidak termasuk sebagai subjek pajak adalah: a. kantor perwakilan negara asing;
b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain
dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang
bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat
bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau
memperoleh penghasilan lain diluar jabatan dan pekerjaannya tersebut, serta
negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
c. organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan, dengan syarat :
1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut ;
2. tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan
dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya
berasal dari iuran para anggota;
d. pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan oleh Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara
Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Sedangkan yang dimaksud dengan pejabat perwakilan organisasi


internasional adalah pejabat yang diangkat langsung oleh induk organisasi
internasional yang bersangkutan untuk menjalankan tugas atau jabatan dalam
organisasi internasional tersebut di Indonesia.

Organisasi internasional dan pejabat-pejabat perwakilan


organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak ditetapkan dengan PMK
Nomor 215/PMK.03/2008, tanggal 16 Desember 2008 sebagaimana telah diubah
dengan PMK Nomor 15/PMK.03/2010. Dalam Peraturan Menteri ini Organisasi
internasional yang dimaksud terdiri dari 13 Badan Internasional dari Perserikatan

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Bangsa-Bangsa, 12 Organisasi Kerjasama Teknik, 4 Organisasi Kerjasama


Kebudayaan, dan 63 Organisasi-Organisasi Internasional Lainnya.

C. LATIHAN:

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan subjek pajak.


2. Pihak-pihak mana yang ditetapkan undang-undang sebagai subjek pajak
3. Apa perbedaan kewajiban dan perlakuan terhadap subjek dalam negeri dan
subjek pajak luar negeri
4. Jelaskan kapan saat dimulai dan saat berakhirnya kewajiban subjektif.
5. Sebutkan pihak-pihak yang dikecualikan dari kewajiban pajak subjektif

D. Rangkuman

Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif, oleh karena itu diidentifikasi subjek
pajak terlebih dahulu dilakukan sebelum pajak dikenakan atas objek yanhg dimiliki
subjek pajak. Subjek Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat
(1) Undang-undang Pajak Penghasilan adalah:Orang pribadi; Warisan yang belum
terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak; Badan dan Bentuk Usaha
Tetap (BUT).
Badan hukum publik diatur tersendiri penetapannya sebagai subjek pajak.
Badan atau Instansi Pemerintah yang bertugas menjalankan kegiatan layanan
publik dengan kriteria-kriteria tertentu dikecualikan dari penetapan sebagai subjek
pajak. Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh subjek
pajak luar negeri untuk menjalankan usaha dan melakukan kegiatan di Indonesia.
Subjek Pajak Penghasilan terdiri dari Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek
Pajak Luar Negeri. Terdapat Perbedaan perlakuan antara subjek pajak dalam
negeri dan luar negeri antara lain kalau Subjek Pajak dalam negeri dikenakan PPh
atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia terhadap Penghasilan Neto dan menggunakan tarif Tarif Umum serta
melaporkan dalam SPT Tahunan. Sedangkan Kalau Subjek Pajak Luar Negeri
dikenakan atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia
dan dasar pengenaannya adalah penghasilan bruto, dikenakan dengan tarif
sepadan dan tidak wajib menyam-paikan SPT Tahunan.

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif bagi subjek pajak
dalam negeri orang pribadi dimulai saat dilahirkan di Indonesia dan berakhir saat
meninggal dunia. WP OP yang tidak dilahirkan di Indonesia adalah sejak hari
pertama berada di Indonesia dan berakhir saat meninggal kan Indonesia untuk
selama-lamanya. Warisan tidak terbagi adalah saat meninggalnya si pewaris dan
berakhir Saat warisan dibagikan.
Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif bagi subjek pajak luar
terbagi menjadi subjak pajak luar negeri yang menjalankan usaha melalui BUT
atau tidak, jika melalui BUT maka kewajiban subjektif dimulai saat BUT didirikan
di Indonesia, dan berakhir pada saat tidak lagi mempunyai BUT di Indonesia.
Sedangkan jika subjek pajak Luar negeri tersebut tidak mempunyai BUT, maka
kewajiban subjektif timbul saat terdapat hubungan ekonomis dan Indonesia dan
berakhir saat tidak ada lagi hubungan ekonomis dengan Indonesia.
Dikecualikan sebagai subjek pajak adalah Kantor perwakilan diplomatik negara lain,
pejabat diplomatik dan organisasi internasional ditetapkan sebagai bukan subjek
pajak. Penetapan dalam pasal ini didasarkan pada kelaziman internasional, sehingga
terjadi perlakuan yang sama terhadap kepentingan Republik Indonesia.

E. TEST FORMATIF :

1. Dua unsur utama yang harus ada dalam pengenaan Pajak Penghasilan:
a. Orang dan badan sebagai subjek pajak dan penghasilan sebagai objek
pajak.
b. Pengusaha sebagai subjek pajak dan penghasilan sebagai objek pajak;
c. Pengusaha sebagai subjek pajak dan Penyerahan sebagai objek pajak;
d. Orang pribadi dan badan sebagai subjek pajak dan transaksi sebagai
objek pajak
2. Yang dimaksud sebagai subjek pajak Penghasilan adalah sebagai berikut,
kecuali:
a. Orang pribadi; dan Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak,
b. Badan
c. Bentuk Usaha Tetap
d. Orang atau badan yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

3. Berikut ini pernyataan yang tidak tepat mengenai subjek pajak orang pribadi
adalah:
a. Orang pribadi menjadi subjek pajak dimulai pada saat dilahirkan di
Indonesia.
b. Karena keluarga sebagai satu entitas ekonomi, sehingga pada dasarnya
hanya memiliki satu kewajiban subjektif.
c. Jika tidak ada perjanjian pisah harta, maka wanita yang menikah
kewajiban subjektif perpajakannya digabung dengan suaminya.
d. Kewajiban subjektif identik dengan kewarganegaraan, karena pajak
adalah kewajiban sebagai warga negara.
4. Kewajiban pajak subjektif berakhir ketika orang pribadi meninggal dunia.
Kewajiban subjektifnya dilanjutkan oleh:
a. Warisan yang ditinggalkan sebagai satu kesatuan.
b. Ahliwaris dari almarhum,
c. pewaris, dapat berupa orang pribadi lainnya atau badan yang menerima
warisan.
d. Pihak yang tercantum dalam surat wasiat.
5. Tn Al Marhum, meninggal dunia, meninggalkan warisan berupa rumah, hotel
melati, dan sebuah toserba. Terjadi sengketa dalam pembagian harta warisan
oleh para ahli waris yang ditangani oleh pengadilan Agama. Selama proses
hukum berlangsung maka pemenuhan kewajiban perpajakan atas penghasilan
yang diperoleh dari harta warisan tersebut dilaksanakan oleh:
a. Salah satu Ahli waris yang syah;
b. Pengurus harta warisan.
c. Bebas dari pajak, karena tidak terpenuhinya kewajiban subjektif
d. Tertangguh sampai terbaginya warisan tersebut.

6. Salah satu unit yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan berdasarkan Perda,
melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin. Dalam pelayanan
kesehatan tersebut masyarakat hanya membayar biaya administrasi yang
diterima oleh Kas Daerah, sedangkan untuk operasional unit tersebut didanai
oleh APBD. Sebagai pertanggungjawaban, setiap tahun dilakukan audit oleh
Badan Pengawas Daerah. Status perpajakan unit tersebut adalah:

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

a. Wajib Pajak badan karena merupakan sekumpulan orang dan/atau modal


b. Wajib Pajak Badan karena memperoleh penghasilan dari pungutan
administrasi.
c. Bukan wajib pajak karena bergerak di bidang sosial dan
merupakanlembaga non profit.
d. Bukan wajib pajak.
7. Bentuk usaha tetap adalah:
a. Badan usaha yang didirikan di Indonesia oleh orang atau badan subjek
pajak luar negeri untuk menjalankan usaha di Indonesia secara tetap
b. bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi subjek pajak luar
negeri atau badan luar negeriuntuk menjalankan usaha dan melakukan
kegiatan di Indonesia.
c. Orang pribadi atau Badan usaha luar negeri yang menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia.
d. Bentuk kerjasama antara wajib pajak luar negeri dan wajib pajak dalam
negeri dalam melakukan kegiatan usaha di Indonesia.
8. Yang dimaksud dengan Subjek Pajak Dalam Negeri berdasarkan
Undangundang Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut kecuali:
a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang
berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu
tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat
tinggal di Indonesia.
b. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang
berhak.
c. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
d. Orang Pribadi warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia, walaupun
tidak bertempat tinggal di Indonesia.
9. Tn. Partijosejak tahun 2007 telah tinggal di Arab Saudi sebagai Tenaga Kerja
Indonesia. Setiap tahun menjalankan cuti selama 2 bulan dan tinggal di
Indonesia. Status subjektif Tn. Partijo adalah: a. Subjek Pajak Luar Negeri
b. Subjek Pajak dalam Negeri.

3 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

c. Subjek Pajak Luar Negeri dan beralih menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri
pada saat menjalani cuti di Indonesia.
d. Bukan subjek pajak.
10. Perbedaan yang penting antara wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak luar
negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain
a. WP Dalam Negeri dikenakan pajak atas penghasilan yang diterima dari
dalam dan luar negeri, sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan
pajak hanya atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia.
b. WP Dalam Negeri wajib melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT),
sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri tidak wajib SPT
c. WP Dalam Negeri wajib tunduk pada aturan perundang-undangan
perpajakan Indonesia, sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri tidak tunduk
pada aturan perundang-undangan perpajakan Indonesia.
d. WP Dalam Negeri wajib dikenakan pajak atas penghasilan neto ,
sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan pajak atas penghasilan
bruto
11. Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif Wajib Pajak Dalam Negeri
adalah sebagai berikut kecuali:
a. Bagi Orang Pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia kewajiban
subjektif dimulai saat dilahirkan di Indonesia, dan berakhir saat meninggal
dunia.
b. Bagi Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia kewajiban
subjektif dimulai Berada di Indonesia lebih dari 183 hari / Berada di
Indonesia dan punya niat untuk bertempat tinggal di Indonesia, dan
berakhir saat meninggal kan Indonesia untuk selamalamanya
c. Bagi Warisan yang belum terbagi kewajiban subjektif dimulai saat
meninggalnya si pewaris, dan berakhir saat dibagikannya warisan
d. Bagi Wajib Pajak Badan luar negeri kewajiban subjektif dimulai saat
didirikan, dan berakhir saat dibubarkan.
12. Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif Wajib Pajak Luar Negeri
adalah sebagai berikut kecuali:

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

a. Orang Pribadi tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari yang menjalankan usaha /melakukan kegiatan melalui BUT,
dimulai saat berada di Indonesia, dan berakhir saat ditiadakannya BUT.
b. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia,
yang menjalankan usaha/melakukan kegiatan melalui BUT, dimulai saat
berada di Indonesia, dan berakhir saat ditiadakannya BUT.
c. Orang Pribadi tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari yang tidak menjalankan usaha /melakukan kegiatan melalui
BUT, dimulai saat berada di Indonesia, dan berakhir saat ditiadakannya
BUT.
d. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia,
yang tidak menjalankan usaha/melakukan kegiatan melalui BUT, dimulai
terdapat hubuingan ekonomis dengan Indonesia, dan berakhir putusnya
hubungan ekonomis dengan Indonesia.
13. Kantor perwakilan diplomatik negara lain, pejabat diplomatik dan organisasi
internasional ditetapkan sebagai bukan subjek pajak. Landasan penetapan ini
adalah sebagai berikut, kecuali: a. Kelaziman internasional
b. Perlakuan yang sama terhadap kepentingan Republik Indonesia
c. Fasilitas kepada negara lain
d. Terbatas pada organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan.
14. organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan, dengan syarat :
a. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut dan tidak menjalankan
usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia
selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal
dari iuran para anggota;
b. Bersifat Organisasi sosial dan keagamaan;
c. Memberi manfaat bagi pembangunan Indonesia
d. Memberikan kompensasi lain diluar perpajakan.
15. Yang ditetapkan sebagai bukan subjek pajak adalah sebagai berikut kecuali
a. kantor perwakilan negara asing;

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat


lain dari negara asing
c. organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan
dengan
Keputusan Menteri Keuangan
d. Warga Negara Indonesia yang menjadi pejabat-pejabat perwakilan
organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan oleh Menteri
Keuangan.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.
Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal
Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan
ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 2 ini.

IV KEGIATAN BELAJAR 3

OBJEK PAJAK

A. Indikator Keberhasilan :

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam kegiatan belajar tiga ini, diharapkan peserta diklat dapat menjelaskan
tentang Objek Pajak Penghasilan, pengertian penghasilan berdasarkan Undang
undang pajak penghasilan, kelompok penghasilan, Penghasilan yang dikenakan
pajak, Penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final, penghasilan yang
bukan merupakan objek pajak serta penghasilan yang tidak termasuk sebagai
objek pajak penghasilan.

B. Uraian materi, contoh dan non contoh

1. Penghasilan sebagai Objek Pajak Penghasilan

Dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Pajak penghasilan diatur bahwa:

Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan


kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas penghasilan dipandang dalam arti


yang luas, dengan tidak dibatasi dengan nama dan bentuk. Ada beberapa hal
yang menjadi unsur dalam definisi penghasilan yaitu: Setiap Tambahan
kemampuan ekonomis
• Diterima atau diperoleh Wajib Pajak
• Berasal dari Indonesia maupun berasal dari luar Indonesia Dapat dipakai
untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak .
• Dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Tambahan kemampuan ekonomis merupakan jumlah selisih dari suatu
periode. Karena berupa tambahan berarti kondisi di awal lebih kecil jika
dibandingkan dengan kondisi diakhir periode. Oleh karena itu jika melihat pada
definisi Pajak Penghasilan yang menekankan adanya periode waktu 1 (satu)
tahun pajak atau bagian tahun pajak, maka dengan adanya tambahan
kemampuan ekonomis, yang disebut penghasilan adalah jumlah pertambahan
kekayaan dan jumlah yang telah dikonsumsi selama dalam periode tersebut.

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Penghasilan diterima dan diperoleh mengandung pengertian bahwa penghasilan


tidak membatasi apakah kemampuan ekonomis tersebut sudah nyata, nyata
secara fisik berada dalam penguasaan wajib pajak, atau masih merupakan hak.
Dalam metode pembukuan dan akuntasi terdapat metode berdasarkan akrual dan
metode berdasarkan kas (accrual based methods and Cash based methods).
Pengertian penghasilan tidak terbatas pada metode tersebut, maka baik atas
dasar kas maupun akrual, keduanya dalam pengertian penghasilan.
Sumber penghasilan tidak dibatasi apakah berasal dari Indonesia atau dari luar
negeri. Semua baik yang berasal dari Indonesia maupun yang diterima atau
diperoleh dari luar Indonesia (world wide income) merupakan objek Pajak
Penghasilan. Konsekuensi dari pengertian yang bersifat luas ini adalah bahwa
keseluruhan penghasilan tersebut digabungkan termasuk kerugian, yang
mengurangi penghasilan. Pengecualian adalah jika kerugian tersebut berasal dari
luar Indonesia, maka kerugian tidak diperbolehkan untuk dikurangkan dari
penggabungan penghasilan. Namun demikian karena pajak penghasilan juga
mengenakan pajak penghasilan yang bersifat final dan ada juga penghasilan yang
bukan merupakan objek pajak, serta ada penghasilan yang dikenakan pajak
dengan cara khusus, maka dalam penghitungan pajak penghasilan yang terutang,
tidak dilakukan penggabungan atas objek-objek tertentu dimaksud.
Dilihat dari pemanfaatannya, maka penghasilan dapat dipergunakan untuk
konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak. Oleh karena itu besarnya
penghasilan sebanding dengan jumlah konsumsi dan pertambahan kekayaan
dalam satu periode. Hal ini dapat dinotasikan dengan rumus Y = C + I, dimana Y
adalah penghasilan (income) = konsumsi (consumption) + tambahan harta
(investation).
Pengertian penghasilan tidak dibatasi dengan nama dan bentuknya. Sesuai
prinsip materialitas, penghasilan lebih dipandang dari segi substansi bukan dari
nama maupun bentuknya. Penghasilan dapat diberi nama apapun, dan berbentuk
apapun baik itu uang maupun harta lainnya, namun jika secara substansi adalah
merupakan tambahan kemampuan ekonomis, maka akan menjadi objek Pajak
Penghasilan, kecuali jika peraturan perundangundangan menentukan lain.

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

2. Kelompok Objek Pajak Penghasilan

Pengertian penghasilan yang akan dikenakan pajak tidak memperhatikan


adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan
kemampuan ekonomis. Konsisten bahwa Undang-undang Pajak Penghasilan
tidak menggunakan azas sumber, yaitu tidak membatasi penghasilan dari sumber-
sumber penghasilan tertentu sebagaimana diberlakukan pada perundang-
undangan sebelum tax reform 1983, penghasilan dikelompokkan berdasarkan
pengamatan pada mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis. Walaupun
sebenarnya melihat penghasilan dari sudut mengalirnya tambahan kemampuan
ekonomis, tidak jauh berbeda dengan memandang dari sumber penghasilan
tersebut.
Rumusan ini terdapat dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) Undang-undang
Pajak Penghasilan, yang menjelaskan bahwa dilihat dari mengalirnya tambahan
kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan
menjadi:
• penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas,
• penghasilan dari usaha dan kegiatan;
• penghasilan dari modal penghasilan lain-lain.

Dalam Pasal 4 ayat (1) diberikan contoh-contoh penghasilan, namun


contoh tersebut tidak mengikat dan tidak terbatas pada contoh dimaksud. Berikut
adalah uraian dari contoh penghasilan yang disusun berdasarkan aliran tambahan
kemampuan ekonomis, yaitu:

a. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan


bebas.

Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang


diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam Undang-undang ini. Semua pembayaran atau imbalan
sehubungan dengan pekerjaan, seperti upah, gaji, premi asuransi jiwa, dan

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja, atau imbalan dalam bentuk
lainnya adalah Objek Pajak. Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk
imbalan dalam bentuk natura yang pada hakekatnya merupakan penghasilan.

Dalam kelompok ini lebih banyak mengarah pada penghasilan dalam


hubungan kerja antara pemberi kerja dengan penerima penghasilan orang pribadi,
baik dalam hubungannya sebagai pegawai maupun bukan pegawai seperti tenaga
ahli, jasa perorangan dan kegiatan lain yang dilakukan oleh orang pribadi.

Contoh :
• Tn Nakula adalah pegawai dari PT Amarta, dalam hal ini PT Amarta adalah
pemberi kerja dan Tn Nakula adalah pegawai / karyawan dari perusahaan
tersebut. Imbalan yang diperoleh Tn Nakula seperti gaji, honorarium, bonus
dan imbalan lainnya adalah objek pajak bagi Tn Nakula. Termasuk imbalan
lain yang berupa tunjangan, asuransi dan pensiun. Imbalan berupa natura
atau kenikmatan, pada dasarnya termasuk penghasilan bagi Tn,. Nakula.
• Tn Nakula mendapat hadiah dari PT. Amarta atas prestasinya dalam
membuat suatu desain produk. Hadiah ini merupakan objek pajak
penghasilan bagi Tn. Nakula
• Dokter Yudistira adalah seorang dokter yang berpraktek sebagai dokter ahli
pada sebuah Rumah sakit. Dokter ini bukan pegawai dari rumah sakit
tersebut, akan tetapi menerima imbalan dari jasa dokter yang diberikan
kepada pasien pada rumahsakit. Imbalan yang diberikan termasuk objek
pajak bagi dokter Yudistira.

b. Penghasilan dari usaha dan kegiatan;

Penghasilan yang diperoleh dari usaha dan kegiatan adalah laba usaha
yang merupakan selisih lebih antara hasil usaha atau kegiatan dikurangi dengan
biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka melakukan usaha dan kegiatan atau
dalam rangka mendapatkan, memperoleh, menagih dan memelihara penghasilan
tersebut. Selisih lebih ini disebut dengan laba. Laba dari usaha dan kegiatan
merupakan objek pajak.

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Usaha wajib pajak dapat dikategorikan sebagai industri manufaktur,


perdagangan dan jasa. Namun dalam perkembangannya jenis-jenis usaha wajib
pajak dipetakan secara spesifik sesuai karakteristik usaha wajib pajak, seperti
usaha perbankan konvensional, perbankan syariah, asuransi, dana pensiun, dan
leasing.
Dalam perhitungan laba usaha harus dilakukan pembukuan yang terpisah
antara jumlah pendapatan dari usaha yang merupakan objek pajak dibedakan
antara:
a. memiliki usaha yang penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final dan tidak final;
b. menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pajak dan
bukan objek pajak; atau
c. mendapatkan dan tidak mendapatkan fasilitas perpajakan sebagaimana diatur
dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Sedangkan jika terjadi joint cost atau biaya bersama yang tidak dapat
dipisahkan dalam rangka penghitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak,
pembebanannya dialokasikan secara proporsional. (Pasal 27 Peraturan
Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010)
Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah juga termasuk dalam
kelompok objek pajak yang berasal dari usaha. Kegiatan usaha berbasis syariah
memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang bersifat
konvensional. Namun demikian, penghasilan yang diterima atau diperoleh dari
kegiatan usaha berbasis syariah tersebut tetap merupakan objek pajak menurut
Undang-Undang ini.

c. Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta


tak gerak, seperti bunga, dividen, royalti, sewa, dan keuntungan
penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha;

c.1. bunga

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam pengertian bunga termasuk pula premium, diskonto dan imbalan


sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. Premium terjadi apabila
misalnya surat obligasi dijual di atas nilai nominalnya sedangkan diskonto terjadi
apabila surat obligasi dibeli di bawah nilai nominalnya. Premium tersebut
merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan
penghasilan bagi yang membeli obligasi.
Contoh :
Sebuah obligasi dengan nilai nominal Rp. 100.000.000 tenor 5 tahun dan bunga
setiap tahun adalah 9%. Jika tingkat bunga perbankan pada saat penerbitan
obligasi adalah 11%, maka jika dihitung present value /aliran tunai kas dengan
menggunakan tingkat bunga saat penerbitan adalah :
Nilai pokok utang :
100.000.000 X 0,59345 *) Rp. 59.345.000
Nilai sekarang bunga :
9.000.000,- X 3,69590*) Rp. 33.263.100 Nilai tunai obligasi sekarang
Rp, 92.608.100
Obligasi akan dijual dengan diskonto Rp. 7.391.900 (100.000.000-92.608.100).
dengan asumsi jika tingkat bunga 11% per tahun, maka saat pelunasan obligasi
investor akan mendapat imbalan bunga sebesar 11 % setahun. Diskonto
merupakan penghasilan bagi investor yang membeli obligasi.

Premium terjadi jika bunga obligasi berada diatas bunga pasar/bank.. misalnya
dengan contoh yang sama akan tetapi bunga bank sebesar 7%.

Nilai Pokok utang :

100.000.000 X 0,713 Rp. 71.300.000


Nilai sekarang bunga :
9.000.000,- X 4,100 Rp. 36.900.000

Nilai Tunai Obligasi sekarang Rp. 108.200.000

Premium adalah Rp. 8.200.000 (108.200.000-1.000.000) merupakan penghasilan


bagi penerbit obligasi.
Baik Penerbit obligasi maupun investor mencatat obligasi sesuai dengan nominalnya.
*) data dari tabel present value

c.2. Dividen

Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi. Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang
diperoleh anggota koperasi. Termasuk dalam pengertian dividen sebagaimana
duraikan dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-undang PPh adalah:
1. pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan
dalam bentuk apapun;
2. pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;
3. pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham
bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;
4. pembagian laba dalam bentuk saham;
5. pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;
6. jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh
pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang
bersangkutan;
7. pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika
dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran
kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan
secara sah;
8. pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima
sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;
9. bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;
10. bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;
11. pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;
12. pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang
dibebankan sebagai biaya perusahaan.
Namun demikian atas penjelasan pasal Undang-undang PPh sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah nomor 94 tahun 2010 sebagai
berikut:
Objek pajak berupa dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
huruf g Undang-Undang Pajak Penghasilan tidak termasuk pemberian saham
bonus yang dilakukan tanpa penyetoran yang berasal dari:

a. kapitalisasi agio saham kepada pemegang saham yang telah menyetor


modal atau membeli saham di atas harga nominal, sepanjang jumlah nilai
nominal saham yang dimilikinya setelah pembagian saham bonus tidak
melebihi jumlah setoran modal; dan

4 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b. kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Undang--Undang Pajak Penghasilan.

Karena pada dasarnya agio saham dan disagio saham adalah bentuk ekuitas / modal
usaha sehingga tidak terdapat tambahan kemampuan ekonomis jika agio/disagio
dikonversikan menjadi saham. Sedangkan konversi saham yang berasal dari selisih
penilaian kembali aktiva tetap telah dijadikan objek pajak tersendiri, sehingga pada
saat dikonversikan, telah dikenakan pajak pada saat dilakukannya penilaian kembali
(revaluasi) aktiva tetap.

Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran dividen secara


terselubung, misalnya dalam hal pemegang saham yang telah menyetor penuh
modalnya dan memberikan pinjaman kepada perseroan dengan imbalan bunga
yang melebihi kewajaran. Apabila terjadi hal yang demikian maka selisih lebih
antara bunga yang dibayarkan dengan tingkat bunga yang berlaku di pasar,
diperlakukan sebagai dividen. Bagian bunga yang diperlakukan sebagai dividen
tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya oleh perseroan yang
bersangkutan.

c.3. Royalty

Pada dasarnya imbalan berupa royalti terdiri dari tiga kelompok, yaitu imbalan
sehubungan dengan penggunaan:
1. hak atas harta tak berwujud, misalnya hak pengarang, paten, merek dagang,
formula, atau rahasia perusahaan;
2. hak atas harta berwujud, misalnya hak atas alat-alat industri, komersial, dan
ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan alat-alat industri, komersial dan
ilmu pengetahuan adalah setiap peralatan yang mempunyai nilai intelektual,
misalnya peralatan-peralatan yang digunakan di beberapa industri khusus
seperti anjungan pengeboran minyak (drilling rig), dan sebagainya;
3. informasi, yaitu informasi yang belum diungkapkan secara umum, walaupun
mungkin belum dipatenkan, misalnya pengalaman di bidang industri, atau
bidang usaha lainnya. Ciri dari informasi dimaksud adalah bahwa informasi
tersebut telah tersedia sehingga pemiliknya tidak perlu lagi melakukan riset
untuk menghasilkan informasi tersebut. Tidak termasuk dalam pengertian

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

informasi di sini adalah informasi yang diberikan oleh misalnya akuntan


publik, ahli hukum, atau ahli teknik sesuai dengan bidang keahliannya, yang
dapat diberikan oleh setiap orang yang mempunyai latar belakang disiplin
ilmu yang sama.

c.4. Sewa

Dalam pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh


dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan penggunaan harta
gerak atau harta tak gerak, misalnya sewa mobil, sewa kantor, sewa rumah, dan
sewa gudang.
Pengertian sewa diberikan penegasan dalam Surat Edaran Dirjen Pajak
Nomor: SE - 35/PJ/2010 tanggal 9 Maret 2010 sebagai berikut :
Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta merupakan
penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan kesepakatan
untuk memberikan hak menggunakan harta selama jangka waktu tertentu baik
dengan perjanjian tertulis maupun tidak tertulis sehingga harta tersebut hanya
dapat digunakan oleh penerima hak selama jangka waktu yang telah disepakati.

c.5. Keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan


untuk usaha

Termasuk penghasilan yang diperoleh ketika wajib pajak mengalihkan harta


yang dimiliki atau dikuasainya kepada pihak lain, jika harga penggantian melebihi
harga perolehan setelah penyusutan, maka selisih lebih tersebut merupakan
penghasilan termasuk :
• keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.
• keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu,
atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
• keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan
dalam bentuk apapun.

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

• keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau


sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan
dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara
pihakpihak yang bersangkutan; dan
• keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan
dalam perusahaan pertambangan

Apabila Wajib Pajak menjual harta dengan harga yang lebih tinggi dari nilai
sisa buku atau lebih tinggi dari harga atau nilai perolehan, maka selisih harga
tersebut merupakan keuntungan. Dalam hal penjualan harta tersebut terjadi
antara badan usaha dan pemegang sahamnya, maka harga jual yang dipakai
sebagai dasar untuk penghitungan keuntungan dari penjualan tersebut adalah
harga pasar. Ketentuan ini diberlakukan karena antara badan usaha dengan
pemegang sahamnya terdapat hubungan istimewa, yang akan dapat
mem,pengaruhi harga penyerahan tersebut. Pemilihan harga pasar sebagai dasar
perhitungan penyerahan, karena harga pasar terjadi karena titik temu antara
permintaan dan penawaran yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa.
Contoh :
PT S memiliki sebuah mobil yang digunakan dalam kegiatan usahanya.
nilai sisa buku kendaraan Rp 40.000.000,00 harga jual
Rp 60.000.000,00 Keuntungan PT S Rp 20.000.000,00

Apabila Dijual kepada pemegang saham dengan harga Rp55.000.000,00.


Keuntungan PT S Rp 20.000.000,00 keuntungan pemegang
Rp 5.000.000,00

Badan dilikuidasi, keuntungan dari penjualan harta, yaitu selisih antara


harga jual berdasarkan harga pasar dan nilai sisa buku harta tersebut, merupakan
objek pajak. Demikian juga selisih lebih antara harga pasar dan nilai sisa buku
dalam hal terjadi penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan
pengambilalihan usaha merupakan penghasilan. Khusus dalam rangka

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

perusahaan melakukan Go Publik dengan persyaratan tertentus Sebagaimana


Diatur Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.03/2008 Tentang
Penggunaan Nilai Buku Atas Pengalihan Harta Dalam Rangka Penggabungan,
Peleburan, Atau Pemekaran Usaha, yang akan dibahas lebih lanjut dalam bab
berikutnya.

Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham atau


penyertaan modal, maka keuntungan berupa selisih antara harga pasar dari harta
yang diserahkan dan nilai bukunya merupakan penghasilan, bagi pihak yang
menyerahkan barang. Sedangkan bagi perusahaan yang menerima penyerahan
akan dicatat sebesar harga pasar barang yang diserahkan dan selisih antara
nominal saham yang diserahkan dengan harga pasar barang tersebut dicatat
sebagai Agio saham atau disagio, yang bukan merupakan objek pajak.
Keuntungan berupa selisih antara harga pasar dan nilai perolehan atau nilai
sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan
merupakan penghasilan bagi pihak yang mengalihkan harta. kecuali harta
tersebut dihibahkan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat. Demikian juga, keuntungan berupa selisih antara harga pasar dan nilai
perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa bantuan atau
sumbangan dan hibah kepada badan keagamaan, badan pendidikan, badan
sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha
mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri
Keuangan bukan merupakan penghasilan, sepanjang tidak ada hubungannya
dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak
yang bersangkutan.
Dalam hal Wajib Pajak pemilik hak penambangan mengalihkan sebagian
atau seluruh hak tersebut kepada Wajib Pajak lain, maka keuntungan yang
diperoleh merupakan objek pajak. Perhitungan keuntungan dengan cara yang
sama yaitu selisih harga pasar dengan harga perolehan hak setelah dikurangi
dengan amortisasi.

Dalam hal terjadi pengalihan harta kepada pegawai berdasarkan Pasal 3


Peraturan Pemerintah Nomor 94 tahun 2010 diatur sebagai berikut:

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam hal terjadi pengalihan harta perusahaan kepada pegawainya, maka


keuntungan berupa selisih antara harga pasar harta tersebut dengan nilai sisa
buku merupakan penghasilan bagi perusahaan.

Contoh :
Kendaraan Minibus yang telah berumur 10 tahun dihibahkan kepada Tn. Citrakso
karyawan dari PT. Pringgodani sebagai hadiah prestasi. Harga Pasar kendaraan
tersebut adalah Rp. 45.000.000,- Nilai sisa buku kendaraan adalah Rp. 0,-
Keuntungan dari pengalihan kendaraan tersebut adalah Rp. 45.000.000,- karena
harga sisa buku kendaraan tersebut Rp. 0.

D. penghasilan lain-lain.

• penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. Penerimaan berupa


pembayaran berkala, misalnya "alimentasi" atau tunjangan seumur hidup yang
dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.
Alimentasi biasaya terjadi jika ada kewajiban yang diputuskan pengadilan
untuk memberikan tunjangan seumur hidup kepada pihak lain karena suatu
peristiwa hukum. Misalnya dalam hal terjadi perceraian, seorang mantan
suami diberi kewajiban untuk memberkan nafkah dalam jumlah tertentu
kepada mantan istrinya yang bersifat fakultatif dan kepada anaknya bersifat
tetap. Dalam hal ini jika termasuk dalam pengertian hibah dalam hubungan
keluarga segaris satu derajat, maka dikecualikan sebagai objek pajak.
lainhalnya dicontohkan sebagai tunjangan seumur hidup atas suatu
kompensasi kecelakaan kerja, hadiah karena suatu prestasi luar biasa, dan
bentuk alimentasi lainnya, adalah bentuk alimentasi yang merupakan
penghasilan kena pajak bagi yang menerimanya.

• penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai


biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak. Hal ini terkait dengan
pajak-pajak yang menurut ketentuan fiskal memang dapat dibebankan sebagai
biaya perusahaan seperti Pajak Bumi dan Bangunan. Jika karena suatu hal
misalnya karena , dikabulkannya permohonan keberatan, yang mengakibatkan
dikembalikannya pajak yang telah dibayar, maka hal ini termasuk objek pajak.

• keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah


tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 130 tahun 2000 Tentang


Pengecualian sebagai Objek Pajak atas Keuntungan Karena Pembebasan
Utang Debitur Kecil yaitu Debitur Kecil adalah utang usaha yang jumlahnya
tidak lebih dari Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah),
termasuk:

a. Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), yaitu kredit lunak


untuk usaha ekonomi produktif yang diberikan kepada Keluarga
Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I (alasan ekonomi hasil
pendataan KS) yang telah menjadi peserta Takesra dan tergabung
dalam kegiatan kelompok Prokesra-OPPKS;
b. Kredit Usaha Tani (KUT), yaitu kredit modal kerja yang diberikan oleh
bank kepada koperasi primer baik Sebagai pelaksana (executing)
maupun penyalur (channeling) atau kepada Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) sebagai pelaksana pemberian kredit, untuk
keperluan petani yang tergabung dalam kelompok tani guna
membiayai usaha taninya dalam rangka intensifikasi padi, palawija
dan hortikultura;
c. Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS), yaitu kredit
yang diberikan oleh bank kepada masyarakat untuk pemilikan
rumah sangat sederhana (RSS);
d. Kredit Usaha Kecil (KUK), yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah
usaha kecil; dan
e. Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan Bank
Indonesia dalam mengembangkan usaha kecil dan koperasi.

• keuntungan selisih kurs mata uang asing


Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing adalah keuntungan
jika menghasilkan selisih lebih, dan menjadi kerugian jika nilai terjadi selisih
kurang. Akan tetapi penerapannya dilakukan secara proporsional,
tergantung dari kaitan valuta tersebut dengan harta atau kewajiban wajib
pajak dalam menghasilkan penghasilan, apakah penghasilan tersebut
termasuk sebagai objek Pajak yang dikenakan tarif umum, ataukah

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

penghasilan baik yang merupakan objek pajak final, maupun yang bukan
merupakan objek pajak. (Pasal 9 PP 94 tahun 2010)

• selisih lebih karena penilaian kembali aktiva


Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva merupakan penghasilan. Dalam
Pasal 19 Undang-undang PPh diberikan wewenang kepada Menteri Keuangan
untuk menetapkan pengaturan mengenai pelaksanaan revaluasi aktiva tetap.
Penghasilan yang dtimbul dalam revaluasi aktiva tetap pada dasarnya
disebabkan karena perubahan dalam satuan moneter yang berakibat naiknya
harga nominal suatu aset.

• premi asuransi
Premi asuransi termasuk premi reasuransi termasuk penghasilan bagi
perusahaan penyelenggara jasa asuransi.

• iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang


terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

Sejak tahun 2000 dengan diterbitkannya perubahan ke tiga undang-undang


pajak penghasilan, UU nomor 17 tahun 2000 tidak lagi diatur bahwa iuran
anggota harus didikaitkan dengan kegiatan usaha anggotanya, seperti
yang ditur dalam UU nomor 10 tahun 1994 bahwa termasuk objek pajak
adalah iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya
yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas, sepanjang iuran tersebut ditentukan berdasarkan volume kegiatan
usaha atau pekerjaan bebas anggotanya;.
Syarat yang bahwa anggota adalah wajib pajak yang menjalan usaha atau
pekerjaan bebas, dikarenakan perlakuan iuran bagi anggota perkumpulan
adalah biaya dan bagi perkumpulan tersebut merupakan penghasilan.

• tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum


dikenakan pajak

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Tambahan kekayaan neto pada hakikatnya merupakan akumulasi


penghasilan baik yang telah dikenai pajak dan yang bukan Objek pajak
serta yang belum dikenai pajak. Apabila diketahui adanya tambahan
kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenai
pajak dan yang bukan objek pajak, maka tambahan kekayaan neto tersebut
merupakan penghasilan.
• imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang
mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.

Imbalan bunga diberikan berkenaan dengan Surat Keputusan Keberatan,


Putusan Apabila pengajuan keberatan, permohonan banding, atau
permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya,
selama pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih
Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak,
kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan
bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh
empat) bulan. Imbalan bunga yang diterima wajib pajak adalah objek Pajak
Penghasilan.

• surplus Bank Indonesia


Pasal 7 Peraturan Pemerintah nomor 94 tahun 2010 mengatur bahwa
Surplus Bank Indonesia yang merupakan objek Pajak Penghasilan adalah
surplus Bank Indonesia menurut laporan keuangan audit setelah dilakukan
penyesuaian atau koreksi fiskal sesuai dengan Undang-Undang Pajak
Penghasilan dengan memperhatikan karakteristik Bank Indonesia.

3. Penghasilan yang dikenakan Pajak bersifat Final

Penghasilan-penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan


objek pajak. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain:
- perlu adanya dorongan dalam rangka perkembangan investasi dan tabungan
masyarakat;

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

- kesederhanaan dalam pemungutan pajak;


- berkurangnya beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat
Jenderal Pajak;
- pemerataan dalam pengenaan pajaknya; dan
- memerhatikan perkembangan ekonomi dan moneter,
atas penghasilan-penghasilan tersebut perlu diberikan perlakuan tersendiri dalam
pengenaan pajaknya. Perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajak atas jenis
penghasilan tersebut termasuk sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan

5 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

pembayaran, pemotongan, atau pemungutan diatur dengan Peraturan


Pemerintah.

Dasar pertimbangan dikenakan pajak bersifat final antara lain tercantum dalam
masing-masing penjelasan Peraturan pemerintah sebagai berikut:

- Pelaksanaan pembangunan membutuhkan dana yang semakin meningkat.


- Meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak,
- Dalam rangka mendorong perkembangan Usaha: Pasar modal, konstruksi,
reksadana pemupukan modal masyarakat
- Untuk memberikan kepastian hukum, kesederhanaan dan kemudahan bagi
wajib pajak,
- Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengenaan pajak,
- Menyesuai dengan perkembangan ekonomi
- Tidak menambah beban administrasi Wajib Pajak dan Direktorat Jenderal
Pajak,

Dalam Undang-undang Pajak Penghasilan, terdapat beberapa jenis


penghasilan yang berdasarkan ketentuan dikenakan pajak bersifat final.
Ketentuan yang mengatur pengenaan penghasilan yang bersifat final tidak hanya
terdapat dalam Pasal 4 ayat (2), akan tetapi juga dalam Pasal 15, Pasal 19 ayat
(1), Pasal 21 ayat (1), dan Pasal 22. Pemenuhan kewajiban pajaknya dapat
dilakukan melalui pemotongan atau pemungutan oleh pihak lain yang ditunjuk
maupun dibayar sendiri.
Karakteristik pengenaan Pajak penghasilan secara final antara lain adalah
sebagai berikut :
• Pengenaannya dipisahkan dengan penghasilan yang dikenakan tarif PPh
umum.
• Terutang pada setiap transaksi atau tanpa diakumulasikan pada periode
tahun pajak
• Pelunasannya dapat menggunakan mekanisme witholding, atau disetor
sendiri oleh Wajib Pajak

59 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Pajak Penghasilan Final atau yang bersifat final tidak dapat


diperhitungkan/dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang
• Biaya/pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final tidak dapat dikurangkan
dalam rangka penghitungan Penghasilan Kena Pajak yang bersifat umum.
• Biasanya Tarif pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang pengenaan
pajaknya bersifat final adalah tarif tunggal dan ada juga yang bersifat
progresif.
• Dilakukan pembukuan terpisah dengan yang dikenakan tarif pajak bersifat
umum, ata yang bukan merupakan objek pajak, serta yang medapatkan
fasilitas perpajakan ( Pasal 27 Peraturan Pemerintah No. 94 tahun 2010)

Jenis penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final ,besarnya tarif PPh
serta dasar hukumnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

TABEL IV Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final atau Bersifat


Final ( s.d. Agustus 2011 )

No Perihal Tarif Keterangan Dasar Hukum

1. Bunga Deposito / 20% Jumlah bruto bagi Wajib Pajak • Psl 4 ayat (2)
Tabungan Dan Dalam Negeri • PP No.131 th.
Diskonto Sertifikat 20% Jumlah bruto bagi W.P. Luar 2000
Bank Indonesia (SBI) negeri atau tarif berdasarkan • 51/KMK.04/01
perjanjian penghindaran pajak • PER 39/PJ/10
berganda yang berlaku (P3B)
2 Hadiah Undian 25% Jumlah bruto nilai hadiah yang • Psl 4 ayat (2)
dibayarkan atau nilai pasar • PP No 132 /
hadiah berupa natura atau 2000
kenikmatan. • KEP-395/PJ./
2001

3. Bunga Simpanan 0 % s/d Rp.240.000,00 per bulan Psl 4 ayat (2)


Anggota Koperasi 10 % Lebih dari Rp.240.000,00 per PP No.15 /2009
bulan

4 Bunga Obligasi 15% dari bruto bunga sesuai masa • Psl 4 ayat (2)
Diskonto Obligasi kepemilikan Obligasi Bunga • PP 16 Thn 2009
bagi WP DN dan BUT WP LN
non BUT / P3B
20%

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Bunga diskonto dari 0% Tahun 2009 s.d. tahun 2010


Obligasi yg diperoleh 5% tahun 2011 s.d. tahun 2013
WP reksadana cfm 15% tahun 2014 dan seterusnya.
BAPEPAM-LK
5 Diskonto Surat 20% Jumlah Diskonto SPN Psl 4 ayat (2)
Perbendaharaan PP.27 Th 2008
Negara ( SPBN & ORI)

5 Saham di Bursa Efek 0,1% bruto nilai transaksi saham • Psal 4 ayat (2)
Tambahan saham • PPNo.41/1994
0,5% pendiri, dari harga IPO • PPNo.14/1997
• 282/KMK.04/97
perdana
6 Transaksi Derivatif 2,5% Margin awal Psl 4 ayat (2)
Berupa Kontrak PP.17 Th 2009
Berjangka Yang
Diperdagangkan Di
Bursa
7. Pengalihan Hak Atas 5% bruto nilai • Psl 4 ayat (2)
Tanah / Bangunan penjualan/pengalihan tanah • PP 48/1994
dan/atau bangunan • PP 27/1996
• PP 79/1999
1%
Rumah susun dan rumah • PP 71/08
• 243/PMK33/08
susun sederhana
• PER30/PJ/09
(243/PMK.33/2008)
8. Persewaan Tanah dan 10% Jumlah bruto nilai persewaan • Psl 4 ayat (2)
/atau Bangunan tanah dan/atau bangunan baik • PP.29/1996
yang diterima /diperoleh W P • PP.5/2002
Orang Pribadi maupun • 120/KMK.03/02
WP Badan • KEP-227/PJ/02

9 Usaha Jasa Konstruksi 2% Pelaksana konstruksi yg oleh • Psl 4 ayat (2)


penyedia jasa yg memiliki • PP No 51 Th
kualifikasi usaha kecil 2008,20/7/08

4% Pelaksana kontruksi
oleh penyedia jasa
yg tidak
memiliki kualifikasi usaha
3% Pelaksana konstruksi oleh
penyedia jasa kualifikasi non
kecil.
4% Perencanaan / pengawasan
konstruksi yg dilakukan oleh
penyedia jasa yg memiliki
kualifikasi usaha
Perencanaan/ pengawasan
6% konstruksi yg dilakukan oleh
penyedia jasa yg tidak
memiliki kualifikasi usaha

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

10 Penjualan Saham Milik 0,1% Jumlah bruto nilai transaksi • Psl 4 ayat (2)
Perusahaan Modal penjualan saham atau • PP No.4/1995
Ventura pengalihan penyertaan modal • 250/KMK.04/95

11 Uang pesangon, yang 0% s.d Rp. 50 juta • UU PPh Psl 21


dibayarkan sekaligus 5% Ph bruto diatas Rp.50 juta • PP 68 th 2009;
s.d. Rp.100 juta
15% Ph bruto diatas Rp.100 juta s.d
Rp.500 juta
Ph bruto diatas Rp.500 juta
25%

Uang manfaat 0% s.d Rp. 50 juta


pensiun; 5% Ph. bruto diatas Rp.50 juta
Tunjangan Hari Tua
atau Jaminan Hari Tua
yang dibayarkan
sekaligus

12 BBM, Gas, Pelumas 0,25% Migas SPBU Pertamina • Pasal 22


dari Importir /produsen 0,3% Migas SPBU non Pertamina • 154/PMK/2010.
0,3% BBG
0,3%
Pelumas

13 Penghasilan Wajib 1,2% Peredaran bruto Pasal 15.


Pajak yang bergerak 416/KMK.04/ 1996
dibidang usaha (Norma Khusus)
pelayaran dalam
negeri.

14 Penghasilan Wjib 2,64% Peredaran bruto Pasal 15.


Pajak yang bergerak di 417/KMK.04/ 1996
bidang usaha (Norma Khusus)
pelayaran atau
penerbangan luar
negeri

15 Penghasilan WP luar 0,44% Nilai ekspor bruto Pasal 15.


negeri yang 634/KMK.04/
mempunyai kantor 1994;Kep-667/PJ.
(Norma Khusus)
perwakilan dagang di /2001
Indonesia

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

`16 Honorarium dan 0% PNS Gol I dan II, TNI / POLRI • Psl 21 UU PPh
imbalan lain dengan Tamtama dan Bintara, dan • PP 80/2010
nama apapun atas Pensiunannya
beban APBN/APBD PNS Gol III, TNI/ POLRI
5%
yang diterima Pejabat Perwira Pertama, dan
Negara,PNS,angg. pensiunannya
TNI , POLRI PNS Gol IV, TNI/POLRI perwira
dan pensiunan. 15% Menengah dan
; Tinggi/ Pensiunan
17 Transaksi Bangun 5% Nilai penyerahan bangunan • Psl 15 UU PPh
Guna Serah (BOT) • 248/KMK04/95
• SE-38/PJ.4/95

18 Selisih penilaian 10% Selisih lebih penilaian kembali • Psl 19 ayat (1)
kembali aktiva tetap setelah dikurangi dgn • 79/PMK.03/08
kompensasi kerugian fiskal

19 Dividen yang diterima 10% Jumlah bruto dividen • Pasal 17 (2c)


oleh WP orang pribadi UU PPh
• PP no.19 tahun
2009

20 Penghasilan istri Ps.17 Penghasilan Kena Pajak Pasal 8 ayat (1) UU


semata mata dari satu UU PPh PPh
pemberi kerja.

4. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak

Pasal 4 ayat (3) Undang-undang Pajak penghasilan menetapkan jenis-jenis


penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. Pertimbangan-pertimbangan
penghasilan tersebut dikecualikan karena alasan alasan tertentu antara lain:
- Penghasilan yang bersifat sosial, keagamaan atau karena hubungan
keluarga;
- Menghindari pengenaan pajak berganda secara yuridis dan ekonomis;
- Penggeseran pembebanan pajak ke pihak lain
- Kewajaran dan kelaziman dalam dunia usaha
- Alasan praktis
- sebagai Fasilitas dan insentif perpajakan.

Pasal 4 ayat (3) undang-undang PPh juga bersifat sebagai negative list , yaitu
memberikan daftar nominatif jenis-jenis penghasilan yang ditetapkan sebagai
bukan objek pajak. Dengan adanya negative list ini berarti penghasilan di luar
Pasal 4 ayat (3) ini adalah objek pajak, yang dapat dikenakan PPh bagik bersifat

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

umum, maupun diatur tersendiri dengan perhitungan khusus, maupun dikenakan


PPh final atau bersifat final.

Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak adalah:

a. Bantuan dan sumbangan


1) bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
Pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia,yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima
sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah;
2) harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat, badan keagamaan atau badan pendidikan ,badan sosial
termasuk yayasan,koperasi,atau orang pribadi yang menjalankan usaha
mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2009 memberikan batasan
tentang batuan, sumbangan termasuk zakat dan sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. Jika bersifat zakat
maka zakat tersebut bukanlah obyek pajak bagi penerimanya yaitu badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;
dan penerima zakat Yang berhak.Sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib
bagi pemeluk agama yang akui di Indonesia adalah sumbangan keagamaan yang
diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah
dan penerima sumbangan yang berhak. Bantuan atau sumbangan adalah
pemberian dalam bentuk uang atau barang.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 245/PMK.03/2008 Tentang
BadanBadan Dan Orang Pribadi Yang Menjalankan Usaha Mikro Dan Kecil Yang

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Menerima Harta Hibah, Bantuan, Atau Sumbangan Yang Tidak Termasuk


Sebagai Objek Pajak Penghasilan.
Dikecualikan sebagai objek pajak yaitu pemberian Harta hibah, bantuan, atau
sumbangan yang diterima oleh :
1. keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat;
2. badan keagamaan;
3. badan pendidikan;
4. badan sosial termasuk yayasan dan koperasi; atau
5. orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,

Selanjutnya dalam keputusan Menteri Keuangan ini ditentukan bahwa :


• Keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat adalah orang
tua dan anak kandung.
• Badan keagamaan adalah badan keagamaan yang kegiatannya
sematamata mengurus tempat-tempat ibadah dan/atau menyelenggarakan
kegiatan di bidang keagamaan, yang tidak mencari keuntungan.
• Badan pendidikan adalah badan pendidikan yang kegiatannya sematamata
menyelenggarakan pendidikan yang tidak mencari keuntungan.
• Badan sosial termasuk yayasan dan koperasi adalah badan sosial yang
kegiatannya semata-mata menyelenggarakan pemeliharaan kesehatan,
pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo), pemeliharaan anak
yatimpiatu, anak atau orang terlantar, dan anak atau orang cacat, santunan
dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam, kecelakaan, dan
sejenisnya, pemberian beasiswa, pelestarian lingkungan hidup; dan/atau
kegiatan sosial lainnya, yang tidak mencari keuntungan.
• Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan usaha kecil adalah orang
pribadi yang menjalankan usaha mikro dan usaha kecil yang memiliki dan
menjalankan usaha produktif yang memenuhi kriteria memiliki kekayaan
bersih paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau memiliki hasil penjualan
tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miyar lima ratus juta
rupiah).
b. Warisan .

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
Pada prinsipnya harta, termasuk setoran tunai, yang diterima oleh badan
merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi badan tersebut. Namun
karena harta tersebut diterima sebagai pengganti saham atau penyertaan
modal, maka berdasarkan ketentuan ini, harta yang diterima tersebut bukan
merupakan Objek Pajak.
d. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib
Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak
yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh
Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan berkenaan
dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima bukan dalam bentuk uang. Penggantian atau imbalan dalam
bentuk natura seperti beras, gula dan sebagainya, dan imbalan dalam
bentuk kenikmatan, seperti penggunaan mobil, rumah, dan fasilitas
pengobatan bukan merupakan objek pajak.
Apabila yang memberi imbalan berupa natura atau kenikmatan tersebut bukan
Wajib Pajak atau Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final dan Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan norma
penghitungan khusus deemed profit, maka imbalan dalam bentuk natura
atau kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerima
atau memperolehnya.
Contoh :
seorang penduduk Indonesia menjadi pegawai pada suatu perwakilan
diplomatik asing di Jakarta. Pegawai tersebut memperoleh kenikmatan
menempati rumah yang disewa oleh perwakilan diplomatik tersebut atau
kenikmatan-kenikmatan lainnya. Kenikmatan-kenikmatan tersebut
merupakan penghasilan bagi pegawai tersebut, sebab perwakilan
diplomatik yang bersangkutan bukan merupakan Wajib Pajak.

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan


dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa.
Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi bukan sebagai
objek pajak karena dalam penghitungan pajak penghasilan yang terutang
atas WP orang pribadi premi asuransi yang dibayar oleh Wajib Pajak orang
pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan. Sehingga
pengenaan atas penghasilan ini dilakukan saat diterimanya penghasilan
yang dipergunakan untuk membayar premi asuransi. Peraturan Menteri
Keuangan Nomor P247/PMK.03/2008 tentang Bantuan Atau Santunan
Yang Dibayarkan Oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kepada
Wajib Pajak Tertentu Yang Dikecualikan Dari Objek Pajak Penghasilan
Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial kepada Wajib Pajak tertentu dikecualikan dari Objek Pajak
Penghasilan.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang dimaksud adalah :
a. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK);
b. Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan dan Asuransi Pegawai
Negeri (TASPEN);
c. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi
Sosial Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI);
d. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia
(ASKES); dan/atau
e. badan hukum lainnya yang dibentuk untuk menyelenggarakan
Program Jaminan Sosial.

Wajib Pajak tertentu dimaksud adalah :


a. Wajib Pajak atau anggota masyarakat yang tidak mampu;
Wajib Pajak dan/atau masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan
sesuai dengan kriteria dan data yang ditetapkan oleh Biro Pusat
Statistik.

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Wajib Pajak atau anggota masyarakat yang sedang mengalami


bencana alam;
Wajib Pajak dan/atau masyarakat yang sedang tertimpa bencana yang
diakibatkan peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin
topan dan tanah longsor
c. Wajib Pajak atau anggota masyarakat yang tertimpa masalah.
Wajib Pajak atau masyarakat yang tertimpa musibah adalah Wajib
Pajak dan/atau masyarakat yang tertimpa kecelakaan yang tidak
dapat diperkirakan sebelumnya dan membahayakan atau
mengancam keselamatan jiwa.

f. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara,
atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2. Bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha
Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang
disetor.

Yang dimaksud dengan “badan usaha milik negara” dan “badan usaha milik
daerah” antara lain, adalah perusahaan perseroan (Persero), bank
pemerintah, dan bank pembangunan daerah.
Dalam hal penerima dividen atau bagian laba adalah Wajib Pajak selain
badan-badan tersebut di atas, seperti orang pribadi baik dalam negeri
maupun luar negeri, firma, perseroan komanditer, yayasan dan organisasi
sejenis dan sebagainya, maka penghasilan berupa dividen atau bagian
laba tersebut tetap merupakan objek pajak

Ketentuan ini merupakan upaya penghindaran pengenaan pajak berganda


secara ekonomis, dan batasan 25% mengacu pada batasan hubungan
istimewa. Deviden yang diterima oleh PT lain, dalam transaksi

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

intercorporate dividen pada dasarnya adalah satu kesatuan laba


konsolidasi.
Sangat disayangkan pada penjelasan tentang dividen yang diterima
koperasi tidak diatur secara tegas, apakah memerlukan syarat kepemilikan
paling rendah 25% apa tidak. Namun di penjelasan selanjutnya mengenai
bentuk-bentuk usaha yang menerima ditetapkan dividen sebagai objek
pajak, koperasi tidak disebutkan.
Namun demikian dalam surat Direktur Jenderal Pajak nomor S -
354/PJ.313/2002, di tegaskan bahwa jika kepemilikan koperasi kurang dari
25%, maka dividen yang diterima termasuk objek pajak.
g. iuran yang diterima atau yang diperoleh dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh
pemberi kerja maupun pegawai.
Pengecualian sebagai Objek Pajak berdasarkan ketentuan ini hanya
berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan
dari Menteri Keuangan. Yang dikecualikan dari Objek Pajak adalah iuran
yang diterima dari peserta pensiun, baik atas beban sendiri maupun yang
ditanggung pemberi kerja. Pada dasarnya iuran yang diterima oleh dana
pensiun tersebut merupakan dana milik dari peserta pensiun, yang akan
dibayarkan kembali kepada mereka pada waktunya. Pengenaan pajak atas
iuran tersebut berarti mengurangi hak para peserta pensiun, dan oleh
karena itu iuran tersebut dikecualikan sebagai Objek Pajak.
h. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun
sebgaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu
yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 234/PMK.03/2009
tentang Bidang Penanaman Modal tertentu yang memberikan
penghasilan kepada Dana Pensiun yang dikecualian sebagai Objek
Pajak Pajak Penghasilan, bidang-bidang tertentu dimaksud ditetapkan
sebagai berikut:

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari penanaman modal berupa:

6 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1. bunga, diskonto, dan imbalan dari deposito, sertifikat deposito, dan


tabungan, pada bank di Indonesia yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, serta Sertifikat
Bank Indonesia;
2. bunga, diskonto, dan imbalan dari obligasi, obligasi syariah (sukuk),
Surat Berharga Syariah Negara, dan Surat Perbendaharaan Negara,
yang diperdagangkan dan/atau dilaporkan perdagangannya pada bursa
efek di Indonesia; atau
3. dividen dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat pada bursa
efek di Indonesia,
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan

i. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan


komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi;

Untuk kepentingan pengenaan pajak, badan-badan tersebut diatas


yang merupakan himpunan para anggotanya dikenakan pajak sebagai
satu kesatuan, yaitu pada tingkat badan tersebut .Oleh karena itu
bagian laba yang diterima oleh para anggota badan tesebut bukan lagi
merupakan Objek Pajak.

j. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura


berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan
pasangan tersebut merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah,
atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang yang
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 250/KMK.04/1995
Tentang Perusahaan Kecil Dan Menengah Pasangan Usaha Dari
Perusahaan Modal Ventura Dan Perlakuan Perpajakan Atas
Penyertaan Modal Perusahaan Modal Ventura diatur bahwa :

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha perusahaan


modal ventura adalah perusahaan yang penjualan bersihnya
setahun tidak melebihi Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
• Penyertaan modal perusahan modal ventura pada setiap
perusahaan pasangan usaha dilakukan selama perusahaan
pasangan usaha tersebut belum menjual saham di bursa efek dan
untuk jangka waktu tidak melebihi 10 (sepuluh) tahun.
• Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura dan penyertaan modal pada perusahaan
pasangan usaha bukan merupakan Obyek Pajak Penghasilan.
• Apabila perusahaan pasangan usaha menjual sahamnya di bursa
efek, perusahaan modal ventura harus menjual sahamnya pada
perusahaan pasangan usaha selambat-lambatnya 36 (tiga puluh
enam) bulan sejak perusahaan pasangan usaha tersebut diizinkan
oleh Badan Pengawas Pasar Modal menjual sahamnya di bursa
efek.
• Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura dari penyertaan modal pada perusahaan
pasangan usaha setelah lewat jangka waktu merupakan Obyek
Pajak Penghasilan kecuali apabila kepemilikan sahan
sekurangkurangnya 25%. (Pasal 4 angka (3) huruf f UU PPh)
• Perusahaan modal ventura wajib membukukan secara terpisah
penghasilan yang merupakan Obyek Pajak penghasilan, dan
penghasilan yang bukan merupakan Obyek Pajak Penghasilan.

k. bea siswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya


diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008
Tanggal 31 Desember 2008 Tentang Beasiswa Yang Dikecualikan Dari
Objek Pajak Penghasilan, yang diubah dengan 154/PMK.03/2009 sebagai
berikut:

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh


Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam
rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau pendididikan
nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.
• Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang yang terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi.
• Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
• Ketentuan dimaksud tidak berlaku apabila penerima beasiswa
mempunyai hubungan istimewa dengan: a. Pemilik;
b. Komisaris;
c. Direksi; atau
d. Pengurus,
dari Wajib Pajak pemberi beasiswa.
• Komponen beasiswa terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan
ke sekolah (tuition fee), biaya ujian, biaya penelitian yang berkaitan
dengan bidang studi yang diambil, biaya untuk pembelian buku,
dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat
belajar.

l. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba
yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang
membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak
diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
Bahwa dalam rangka mendukung usaha peningkatan kualitas sumber daya
manusia melalui pendidikan serta penelitian pengembangan diperlukan

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

sarana dan prasarana yang memadai. Untuk itu dipandang perlu


memberikan fasilitas perpajakan berupa pengecualian pengenaan pajak
atas sisa lebih yang diterima atau diperoleh sepanjang sisa lebih tersebut
ditanamkan kembali dalam bentuk pembangunan dan pengadaan sarana
dan prasarana kegiatan dimaksud. Penanaman kembali sisa lebih
dimaksud harus direalisasikan paling lama dalam jangka waktu 4 (empat)
tahun sejak sisa lebih tersebut diterima atau diperoleh.

Persyaratan untuk mempergunakan fasilitas ini :


- lembaga atau badan yang menyelenggarakan pendidikan harus bersifat
nirlaba.
- Pendidikan, penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan bersifat
terbuka kepada siapa saja
- dan telah mendapat pengesahan dari instansi yang membidanginya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2009


tentang Sisa Lebih yang Diterima atau Diperoleh Badan Lembaga atau
Nirlaba yang Bergerak dalam Bidang Pendidikan dan/atau Bidang
Penelitian dan Pengembangan yang Dikecualikan dari Objek Pajak
Penghasilan diatur bahwa :
• Sisa lebih yang diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang ditanamkan
kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan bersifat
terbuka kepada pihak manapun, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut dikecualikan
sebagai objek Pajak Penghasilan
• Sisa lebih adalah selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan objek
Pajak Penghasilan selain penghasilan yang dikenakan Pajak
Penghasilan tersendiri, dikurangi dengan pengeluaran untuk biaya
operasional sehari-hari badan atau lembaga nirlaba
• Badan atau lembaga nirlaba adalah badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang
membidanginya.

73 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan


pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
- Pembelian atau pembangunan gedung dan prasarana pendidikan,
penelitian dan pengembangan termasuk pembelian tanah sebagai
lokasi pembangunan gedung dan prasarana tersebut;
- pengadaan sarana dan prasarana kantor, laboratorium dan
perpustakaan;
- pembelian/pembangunan asrama mahasiswa, rumah dinas guru,
dosen atau karyawan, dan sarana prasarana olahraga, sepanjang
berada di lingkungan/lokasi lembaga pendidikan formal
• Apabila setelah jangka waktu terdapat sisa lebih yang tidak digunakan
untuk pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau
penelitian dan pengembangan, sisa lebih tersebut diakui sebagai
penghasilan dan dikenai Pajak Penghasilan pada tahun pajak
berikutnya, setelah jangka waktu 4 (empat) tahun tersebut ditambah
dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
• Apabila dalam jangka waktu 4 tahun tsb terdapat sisa lebih yang
digunakan selain untuk pengadaan sarana dan prasarana, sisa lebih
tersebut diakui sebagai penghasilan dan dikenai Pajak Penghasilan
ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

m. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan


Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

5. Objek PPh bagi Bentuk Usaha Tetap


Secara umum, obyek pajak diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU PPh. Obyek
pajak bentuk usaha tetap secara umum diatur dalam Pasal 5 UU PPh, namun
bagi wajib pajak bentuk usaha tetap tertentu obyek pajaknya berupa penghasilan
neto/laba usaha diatur dalam Pasal 15 UU PPh dengan menggunakan Norma
Penghitungan Khusus.
Yang menjadi obyek pajak bentuk usaha tetap, berdasarkan Pasal 5 ayat
(1) UU PPh adalah :

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1. penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari
harta yang dimiliki atau dikuasai;
2. penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau
pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia;
3. penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 UU PPh yang diterima
atau diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara
bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
dimaksud.
Selanjutnya, berdasarkan Pasal 5 ayat (2) UU PPh, biaya-biaya yang
berkenaan dengan penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan
barang, atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan
atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia dan penghasilan
sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 UU PPh yang diterima atau diperoleh
kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap
dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud boleh
dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap.
Dalam menentukan besarnya laba suatu bentuk usaha tetap, Pasal 5 ayat
(3) UU PPh mengatur sebagai berikut:
1. biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah
biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap, yang
besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak (Keputusan Dirjen Pajak
nomor KEP - 62/PJ./1995 tanggal 24 Juli 1995);
2. pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan
sebagai biaya adalah :
a. royalti atau imbalan lainnya sehubungan penggunaan harta, paten, atau
hak-hak lainnya;
b. imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya;
c. bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan;
3. pembayaran sebagaimana tersebut pada angka 2 yang diterima atau
diperoleh dari kantor pusat tidak dianggap sebagai obyek pajak, kecuali bunga
yang berkenaan dengan usaha perbankan.

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan
dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, dikenakan
pajak di Indonesia melalui bentuk usaha tetap tersebut.
Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal dari
usaha atau kegiatan dan dari harta yang dimiliki atau dikuasainya. Dengan
demikian semua penghasilan tersebut dikenakan pajak di Indonesia.
Penghasilan kantor pusat yang berasal dari usaha atau kegiatan, penjualan
barang dan pemberian jasa, yang sejenis dengan yang dilakukan oleh bentuk
usaha tetap dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap (force of attraction
concept), karena pada hakekatnya usaha atau kegiatan tersebut termasuk dalam
ruang lingkup usaha atau kegiatan dan dapat dilakukan oleh bentuk usaha tetap.
Usaha atau kegiatan yang sejenis dengan usaha atau kegiatan bentuk
usaha tetap, misalnya terjadi apabila sebuah bank di luar Indonesia yang
mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia, memberikan pinjaman secara
langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada perusahaan di Indonesia.
Penjualan barang yang sejenis dengan yang dijual oleh bentuk usaha tetap,
misalnya kantor pusat di luar negeri yang mempunyai bentuk usaha tetap di
Indonesia menjual produk yang sama dengan produk yang dijual oleh bentuk
usaha tetap tersebut secara langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya
kepada pembeli di Indonesia.
Pemberian jasa oleh kantor pusat yang sejenis dengan jasa yang diberikan
oleh bentuk usaha tetap, misalnya kantor pusat perusahaan konsultan di luar
Indonesia memberikan konsultasi yang sama dengan jenis jasa yang dilakukan
bentuk usaha tetap tersebut secara langsung tanpa melalui bentuk usaha
tetapnya kepada klien di Indonesia.
Penghasilan seperti dimaksud dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh
kantor pusat dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap di Indonesia,
apabila terdapat hubungan efektif (effectively connected) antara harta atau
kegiatan yang memberikan penghasilan dengan bentuk usaha tetap tersebut.
Contoh:
X Inc. menutup perjanjian lisensi dengan PT Y untuk mempergunakan merek
dagang X Inc. Atas penggunaan hak tersebut X Inc. menerima imbalan berupa
royalti dari PT Y. Sehubungan dengan perjanjian tersebut X Inc. juga

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

memberikan jasa manajemen kepada PT Y melalui suatu bentuk usaha tetap di


Indonesia, dalam rangka pemasaran produk PT Y yang mempergunakan merek
dagang tersebut. Dalam hal demikian, penggunaan merek dagang oleh PT Y
mempunyai hubungan efektif dengan bentuk usaha tetap di Indonesia, dan oleh
karena itu penghasilan X Inc. yang berupa royalti tersebut diperlakukan sebagai
penghasilan bentuk usaha tetap.
Biaya-biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat sepanjang
digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap di
Indonesia, boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap tersebut.
Jenis serta besarnya biaya yang boleh dikurangkan tersebut ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
Pada dasarnya bentuk usaha tetap merupakan satu kesatuan dengan
kantor pusatnya, sehingga pembayaran oleh bentuk usaha tetap kepada kantor
pusatnya, seperti royalti atas penggunaan harta kantor pusat, merupakan
perputaran dana dalam satu perusahaan. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan
ini pembayaran bentuk usaha tetap kepada kantor pusatnya berupa royalti,
imbalan jasa, dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha
tetap. Namun apabila kantor pusat dan bentuk usaha tetapnya bergerak dalam
bidang usaha perbankan, maka pembayaran berupa bunga pinjaman dapat
dibebankan sebagai biaya.
Sebagai konsekuensi dari perlakuan tersebut, pembayaran-pembayaran
yang sejenis yang diterima oleh bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya tidak
dianggap sebagai obyek pajak, kecuali bunga yang diterima oleh bentuk usaha
tetap dari kantor pusatnya yang berkenaan dengan usaha perbankan.
Biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan
sebagai biaya berdasarkan Keputusan Dirjen Pajak nomor KEP-62/PJ./1995
tanggal 24 Juli 1995 diatur sebagai berikut:
1. Biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari
penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh suatu bentuk usaha tetap di
Indonesia adalah biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat yang
berkaitan dan dalam rangka untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk
usaha tetap yang bersangkutan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan.
2. Besarnya biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk
dikurangkan dari penghasilan bruto di Indonesia sebagaimana dimaksud

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

dalam angka 1 setinggi-tingginya adalah sebanding dengan besarnya


peredaran usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap di Indonesia terhadap
seluruh peredaran usaha atau kegiatan perusahaan di seluruh dunia.
3. Bentuk usaha tetap di Indonesia yang mengurangkan biaya administrasi
kantor pusat sebagaimana dimaksud dalam angka 1, wajib menyampaikan
laporan keuangan konsolidasi atau kombinasi dari kantor pusat yang meliputi
seluruh usaha dan/atau kegiatan perusahaan di seluruh dunia untuk tahun
pajak yang bersangkutan sebagai lampiran Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan.
4. Laporan Keuangan konsolidasi atau kombinasi sebagaimana dimaksud pada
angka 3 harus sudah diaudit oleh akuntan publik dan mengungkapkan rincian
peredaran usaha atau kegiatan perusahaan serta jenis dan besarnya biaya
administrasi yang dibebankan kepada masing-masing bentuk usaha tetap di
negara tempat perusahaan yang bersangkutan melakukan usaha atau
kegiatan.
Wajib pajak bentuk usaha tetap tertentu yang obyek pajaknya berupa
penghasilan neto/laba usaha diatur dalam Pasal 15 UU PPh dengan
menggunakan Norma Penghitungan Khusus adalah:
a. Penghasilan Perusahan Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri (KMK
nomor 417/KMK.04/1996 tanggal 14 Juni 1996).
b. Bentuk Usaha Tetap Kantor Perwakilan Dagang di Indonesia (KMK nomor
634/KMK.04/1994 tanggal 1 Januari 1995).

C. LATIHAN:
1. Apa yang menjadi Objek Pajak penghasilan
2. Apa pengertian penghasilan menurut Undang-undang pajak penghasilan,
uraikan penertian penghasilan tersebut.
3. Sebutkan kelompok-kelompok penghasilan jika dilihat dari mengalirnya
tambahan kemampuan ekonomis, serta contoh-contoh penghasilan dalam
kelompok tersebut.
4. Sebutkan penghasilan-penghasilan yang dikenakan tarif pajak final atau
dikenakan PPh yang bersifat final.
5. Sebutkan penghasilan-penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

D. RANGKUMAN:
Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan
dalam bentuk apapun
Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib
Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi:
• penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas,
• penghasilan dari usaha dan kegiatan;
• penghasilan dari modal penghasilan lain-lain.
Penghasilan-penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan
objek pajak. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain:
- perlu adanya dorongan dalam rangka perkembangan investasi dan tabungan
masyarakat;
- kesederhanaan dalam pemungutan pajak;
- berkurangnya beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat
Jenderal Pajak;
- pemerataan dalam pengenaan pajaknya; dan
- memerhatikan perkembangan ekonomi dan moneter,
Jenis-jenis penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.
Pertimbangan-pertimbangan penghasilan tersebut dikecualikan karena alasan
alasan tertentu antara lain:
- Penghasilan yang bersifat sosial, keagamaan atau karena hubungan
keluarga;
- Menghindari pengenaan pajak bergansda secara yuridis dan ekonomis;
- Penggeseran pembebanan pajak ke pihak lain
- Kewajaran dan kelaziman dalam dunia usaha
- Alasan praktis
- sebagai Fasilitas dan insentif perpajakan.

Obyek pajak Bentuk Usaha Tetap adalah penghasilan dari usaha atau
kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai,

7 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau
pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia dan penghasilan sebagaimana
yang diterima atau diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif
antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan
penghasilan

E. TEST FORMATIF :

1. Objek Pajak Penghasilan adalah Penghasilan yang diartikan secara luas.


Berikut adalah unsur-unsur yang terdapat dalam pengertian penghasilan
menurut UU PPh, kecuali:
a. Setiap Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak
b. Berasal dari Indonesia maupun berasal dari luar Indonesia, dengan
mana dan dalam bentuk apapun.
c. Dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak.
d. Yang diterima atau diperoleh dari sumber-sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan.

2. Walaupun UU PPh tidak mengenal azas sumber, tapi berikut adalah


pengelompokan berdasarkan aliran tambahan kemampuan ekonomis
kepada Wajib Pajak kecuali:
a. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan
bebas,
b. penghasilan dari usaha dan kegiatan
c. penghasilan dari modal
d. penghasilan dari dalam negeri dan dari luar negeri.

3. Termasuk dalam pengertian penggantian atau imbalan berkenaan dengan


pekerjaan atau jasa adalah:
a. gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, bunga,
natura, hibah.

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang


pensiun, hadiah, sewa.
c. gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun, natura
d. gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun, royalty.

4. Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam bentuk


natura (kenikmatan) yang pada hakekatnya merupakan penghasilan.
Berikut pernyataan yang benar tentang natura:
a. Natura pada dasarnya adalah penghasilan, namun merupakan
penghasilan yang bukan objek PPh.
b. Natura adalah bukan penghasilan bagi penerima natura.
c. Perlakuan natura bagi yang menerima bukan sebagai objek pajak,
kecuali jika diberikan oleh bukan wajib pajak, yang dikenakan PPh
bersifat final atau wp yang menggunakan norma perhitungan
penghasilan neto.
d. Natura dianggap bukan jika yang menerima adalah wajib pajak badan.

5. laba usaha adalah :


a. Penerimaan bruto dari suatu usaha atau kegiatan
b. Selisih lebih antara penerimaan bruto usaha dikurangi dengan biaya-
biaya yang dikeluarkan dalam rangka melakukan usaha dan kegiatan.
c. Hasil dari modal yang diinvestasikan
d. Imbalan dari pemakai harta.
.
6. Dalam perhitungan laba usaha harus dilakukan pembukuan yang terpisah
antara jumlah pendapatan dari usaha yang merupakan objek Pajak
dibedakan antara:
a. yang penghasilannya dikenai PPh yang bersifat final dan tidak final;
b. menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pajak
dan bukan objek pajak; atau

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. mendapatkan fasilitas perpajakan dan tidak mendapatkan fasilitas


perpajakan
d. kegiatan usaha di luar negeri dan di dalam negeri.

7. Surat hutang atau obligasi yang dijual diatas nilai nominalnya, akan
menghasilkan:
a. Premium yang merupakan penghasilan bagi pembeli surat hutang
atau obligasi
b. Premium yang merupakan penghasilan bagi penerbit surat hutang
atau obligasi
c. Diskonto yang merupakan penghasilan bagi penerbit surat hutang
atau obligasi.
d. Diskonto yang merupakan penghasilan bagi penerbit surat hutang
atau obligasi.

8. Berikut ini yang tidak termasuk dalam pengertian dividen adalah :


a. pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung,
dengan nama dan dalam bentuk apapun;
b. pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal
yang disetor
c. pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk
saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;
d. pembagian laba dalam bentuk saham;

9 Termasuk dalam pengertian objek Pajak Penghasilan dari Bentuk Usaha Tetap
adalah sebagai berikut, kecuali:
a. Hasil dari kegiatan usaha dan modal BUT tersebut di Indonesia,
b. Hasil dari kegiatan usaha dan modal yang dilakukan Kantor Pusat
BUT tersebut di Indonesia
c. Hasil dari kegiatan usaha dan Modal yang dilakukan BUT di luar
Negeri
d. Hasil dari jasa yang dilakukan oleh kantor Pusat BUT di Indonesia
secara langsung tanpa melalui BUT.

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

10. PT Dadap Mekar menjual aktiva perusahaan, sebuah mobil yang sudah
tidak digunakan dalam kegiatan usahanya. Nilai sisa buku kendaraan Rp
40.000.000,00, dijual kepada pemegang saham (Tn DD) dengan harga
Rp55.000.000,00. Harga pasar kendaraan tersebut adalah 60.000.000,-
Objek Pajak penghasilan atas transaksi tersbut adalah:
a. Keuntungan bagi PT Dadap Mekar adalah Rp 15.000.000,00
dan keuntungan pemegang Rp 5.000.000,00
b. Keuntungan bagi PT Dadap Mekar adalah Rp 20.000.000,00 dan
keuntungan pemegang Rp 5.000.000,00
c. Keuntungan bagi PT Dadap Mekar adalah Rp 20.000.000,00.
d. Keuntungan bagi PT Dadap Mekar adalah Rp 20.000.000,00 dan
keuntungan pemegang Rp 15.000.000,00

11. Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham atau
penyertaan modal:
a. keuntungan berupa selisih antara harga pasar dari harta yang
diserahkan dan nilai bukunya merupakan penghasilan, bagi pihak
yang menyerahkan barang.
b. keuntungan berupa selisih antara harga pasar dari harta yang
diserahkan dan nilai nominal saham merupakan penghasilan, bagi
pihak yang menerima penyerahan barang.
c. Tidak terdapat objek pajak bagi yang menyerahkan barang, karena
selisih lebih dari harga pasar dan nilai nominal akan dicatat sebagai
capital gain.
d. Selihih antara harga pasar barang dengan nilai nominalk saham
adalah merupakan agio saham atau disa agio yang merupakan objek
pajak atau kerugian.

12. Kendaraan Minibus yang telah berumur 3 tahun dihibahkan kepada Tn.
Citrakso karyawan dari PT. Pringgodani sebagai hadiah prestasi. Harga
Perolehan kendaraan tersebut Rp. 200.000.000, Harga sisa buku Rp.
125.000.000. Harga Pasar kendaraan tersebut adalah Rp. 145.000.000.
Atas transaksi tersebut;

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

a. Merupakan penghasilan yang merupakan objek PPh bagi Tn Citrakso


sebesar Rp. 145.000.000,-
b. Keuntungan pengalihan harta bagi PT. Pringgodani sebesar Rp.
20.000.000,-
c. Kerugian pengalihan harta yang dapat dibiayakan sebesar Rp.
125.000.000,-
d. Tidak terdapat objek pajak penghasilan karena pemberian tersebut
termasuk dalam pengertian pemberian natura.

13. Karakteristik pengenaan Pajak penghasilan secara final antara lain adalah
sebagai berikut :
a. Pengenaannya dipisahkan dengan penghasilan yang dikenakan tarif
PPh umum.
b. Terutang pada setiap transaksi atau tanpa diakumulasikan pada
periode tahun pajak.
c. Pelunasannya hanya dapat dilakukan oleh pihak lain sebagai
pemungut atau pemotong pajak.
d. Pajak Penghasilan Final atau yang bersifat final tidak dapat
diperhitungkan/dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang

14. Dibawah ini adalah jenis-jenis penghasilan yang dikecualikan sebagai objek
pajak kecuali:
a. Bantuan dan sumbangan, Warisan
b. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
c. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau
kenikmatan.
d. pembayaran dari perusahaan asuransi kerugian kepada perusahaan
kejadian kebakaran gedung pabrik.

15. Yang menjadi obyek pajak bentuk usaha tetap, berdasarkan Pasal 5 ayat
(1) UU PPh adalah sebagai berikut kecuali:

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

a. penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut


dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai;
b. penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang,
atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang
dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia
c. penghasilan sebagaimana yang diterima atau diperoleh kantor pusat,
sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap
dengan harta atau kegiatan dimaksud.
d. Penghasilan Kantor Pusat BUT yang sejenis dengan yang dilakukan
BUT tersebut di Luar Negeri.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :

Jumlah jawaban yang benar


Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat
melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah
70% maka pelajari kembali materi pada kegiatan belajar 3 ini.

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

V KEGIATAN BELAJAR 4

PENGURANGAN PENGHASILAN BRUTO DAN PENGELUARAN YANG


TIDAK DIPERBOLEHKAN DARI PENGHASILAN BRUTO.

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mempelajari kegiatan belajar empat ini, diharapkan peserta diklat dapat
menjelaskan tentang pengeluaran-pengeluaran wajib pajak atau biaya-biaya
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, Pengeluaran yang tidak boleh
dikurangkan dari penghasilan bruto dan kompensasi kerugian serta perlakuan
khusus terhadap pengeluaran-pengeluaran tertentu yang diatur tersendiri.

B. Uraian materi, contoh dan non contoh

1. Pengurang Penghasilan Bruto


Penghasilan bruto atau pendapatan kotor, adalah nilai atas penggantian atau
imbalan yang diminta, ditagih atau seharusnya diminta atas penyerahan barang,
barang tidak berwujud, jasa atau hak atas penggunaan harta. Nilai yang
digunakan diwujudkan dalam satuan uang. Penghasilan bruto belum menjadi
objek Pajak Penghasilan, karena belum berupa tambahan kemampuan
ekonomis. Untuk memperoleh penghasilan dibutuhkan pengeluaran biaya-biaya.
Pasal 6 Undang-undang Pajak Penghasilan mengatur pengurang
penghasilan bruto, yang terbagai dalam 3 (tiga) ayat, yaitu :
a. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
b. Kompensasi kerugian
c. Penghasilan Tidak Kena Pajak.

Pengurangan penghasilan bruto di atas diterapkan dengan melihat kondisi


wajib pajak. Penerapan dilakukan secara berurutan/hierarkis. Bagi Wajib Pajak
badan dan Orang Pribadi yang menjalankan usaha dan pekerjaan bebas yang
menyelenggarakan pembukuan dapat mengurangkan biaya sebagai pengurang
penghasilan bruto. Dari Pengurangan tersebut didapatkan penghasilan neto. Jika
WP mempunyai cadangan kerugian yang dapat dikompensasikan, maka
Penghasilan neto tersebut di dikurangi dengan kompensasi kerugian, dan bagi

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

wajib pajak menghasilkan Penghasilan Kena Pajak. Bagi wajib pajak orang
pribadi, terlebih dahulu dikurangkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak
kemudian hasil pengurangan tersebut adalah Penghasilan Kena Pajak. Selain itu
ada pengurangan bagi WP OP adalah Zakat dan sumbangan keagamaan, jika
Wajib Pajak badan dapat gabungkan dalam Pengurang Penghasilan bruto, akan
tapai bagi WP OP yang tidak menyelenggarakan pembukuan, pengurangannya
adalah pada penghasilan neto. Bagi WP OP yang tidak menyelenggarakan
pembukuan, maka Penghasilan neto langsung dikurangi dengan PTKP untuk
menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak.

Hal ini dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

Bagan 4 Pengurang Penghasilan Bruto

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

2. Biaya Untuk Mendapatkan, Menagih, dan Memelihara


Penghasilan.

Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk
usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Beban-beban yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan: - Biaya
yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun
- Biaya mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun merupakan
biaya pada tahun yang bersangkutan dan dikurangkan dalam tahun pajak yang

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

bersangkutan, misalnya gaji, biaya administrasi dan bunga, biaya rutin


pengolahan limbah dan sebagainya. Sedangkan biaya atau pengeluaran yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, pembebanannya dilakukan
melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Penyusutan dan amortisasi
dimaksudkan agar pembebanan biaya tersebut disesuaikan dengan pengakuan
penghasilan pada periode tahun pajak. Pada dasarnya hal ini sesuai dengan
prinsip penyesuaian pengakuan biaya dan penghasilan (matching of costs
againts revenues)

Biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto antara lain:

a. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan


kegiatan usaha,
Biaya-biaya ini disebut sebagai biaya sehari-hari yang boleh dibebankan
pada tahun pengeluaran. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya,
pengeluaranpengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung
maupun tidak langsung dengan kegiatan usaha atau kegiatan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek
pajak. termasuk dalam pengertian biaya ini adalah:
1. biaya pembelian bahan;,
2. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,
honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk
uang;
3. bunga, sewa, dan royalti;
4. biaya perjalanan;
5. biaya pengolahan limbah;
6. premi asuransi;
7. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan
8. biaya administrasi; dan
9. pajak kecuali Pajak Penghasilan;
Biaya ini harus dibuat pembukuan terpisah antara yang dilakukan untuk
mendapatkan penghasilan yang merupakan objek pajak yang dikenakan tarif
umum, objek pajak final, bukan objek pajak, maupun yang mendapat fasilitas

8 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

perpajakan. Jika terjadi joint cost yang tidak dapat dipisahkan maka pembebanan
biaya dibuat dengan proporsional. (Pasal 27 PP94 tahun 2010).
Pengeluaran-pengeluaran harus terkait dengan upaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek
pajak yang dikenakan tarif pajak umum dan bukan objek pajak final. Jika tidak
berkaitan dengan penghasilan yang merupakan objek PPh umum, tidak boleh
dibebankan sebagai biaya.

Contoh:
Dana Pensiun A yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri
Keuangan memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari:
a. penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak sesuai
Pasal 4 ayat (3) huruf h sebesar Rp
100.000.000,00 b. penghasilan bruto lainnya sebesar Rp
300.000.000,00 Jumlah penghasilan bruto
Rp 400.000.000,00
===============
Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp 200.000.000,00, maka biaya yang boleh
dikurangkan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan adalah sebesar
3/4 x Rp 200.000.000,00 = Rp 150.000.000,00
.
Pajak-pajak yang menjadi beban perusahaan dalam rangka usahanya selain
Pajak Penghasilan, misalnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Meterai
(BM), Pajak Hotel dan Restoran, dapat dibebankan sebagai biaya. Pembayaran
premi asuransi oleh pemberi kerja untuk kepentingan pegawainya boleh
dibebankan sebagai biaya perusahaan ,dan bagi pegawai yang bersangkutan
premi tersebut merupakan penghasilan objek pajak.

b) Penyusutan dan amortisasi


Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Pembebanan biaya
penyusutan dan amortisasi didasarkan penghitungan bulanan, penyusutan dan
amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran.
Pengeluaran yang menurut sifatnya merupakan pembayaran dimuka,
misalnya sewa untuk beberapa tahun yang dibayar sekaligus, pembebanannya
dapat dilakukan melalui alokasi .
Contoh
PT. HBK menyewa bangunan untuk keperluan penyimpanan arsip kantor selama 2 tahun
dimulai 1 Juli 2009 sampai dengan 30 Juni 2011, dengan nilai sewa sebesar

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Rp100.000.000,00.Pembebanannya melalui alokasi,


- beban biaya tahun 2009: 6/24 x Rp100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
- beban biaya tahun 2010: 12/24 x Rp100.000.000,00 = Rp 50.000.000,00; -
beban biaya tahun 2011: 6/24 x Rp100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00.

Penyusutan dan Amortisasi akan dibahas lebih lanjut pada bab yang lain
secara khusus pada materi Penyusutan dan Amortisasi.

c) Iuran Pensiun

Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan boleh dibebankan sebagai biaya, sedangkan iuran yang dibayarkan
kepada dana pensiun yang pendiriannya tidak atau belum disahkan oleh Menteri
Keuangan tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

Perlakuan PPh terhadap (JAMSOSTEK), SE Direktur Jederal Pajak No. SE-


02/PJ.31/1996 tgl. 5 Juni 1996
Program PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), meliputi:
a. Jaminan Kecelakaan
Kerja; b Jaminan Kematian;
c Jaminan Hari Tua;
d Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.

Perlakuan Pajak Penghasilan terhadap PT JAMSOSTEK berkenaan dengan


penyelenggaraan program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan disamakan dengan perlakuan perusahaan
asuransi.
PT JAMSOSTEK disamakan dengan perlakuan terhadap Dana Pensiun yang telah
memperoleh persetujuan Menteri Keuangan.
Dengan demikian bagi pemberi kerja, baik yang mengikuti program Jamsostek, perlakuan
Pajak Penghasilannya adalah sebagai berikut :
Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian; Jaminan Pemeliharaan Kesehatan yang
dibayar pemberi kerja ,bagi karyawan merupakan penghasilan objek pemotongan PPh Pasal
21 dan bagi pemberi kerja pengeluaran/biaya tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto pemberi kerja.
Jaminan Hari Tua yang dibayar oleh pemberi kerja, bagi pemberi kerja pengeluaran /biaya
tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja, sedangkan bagi karyawan
merupakan penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 karena pengenaan
pajaknya ditangguhkan.
d) Kerugian penjualan/pengalihan harta

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang menurut tujuannya


semula tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialihkan yang dimiliki dan
dipergunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto.
• Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki tetapi tidak
digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki tetapi tidak digunakan
untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan tidak boleh
dikurangkan dari penghasilan bruto.

e) Kerugian dari selisih kurs mata uang asing;


Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. Perlakuan PPh terhadap
kerugian selisih mata uang asing telah diberikan penegasan dalam surat edaran
Dir.Jen.Pajak nomor SE-03/PJ.31/1997, yang pada dasarnya mengacu pada
pasal 6 (1) huruf e UU PPh, kerugian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi
kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh
Wajib Pajak dan dilakukan secara taat azas. Apabila Wajib Pajak menggunakan
sistim pembukuan berdasarkan :
• Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir
tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan
kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir
tahun.
• Kurs tetap,pembebanannya dilakukan pada saat terjadinya realisasi
perkiraan mata uang asing tersebut
Dalam Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf e diberikan penjelasan bahwa
Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK) nomor 10 tentang
Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK no. 52 tentang Mata Uang
peraturan, ditegaskan bahwa :

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Untuk transaksi awal Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan
menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi
• pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke
dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca.
Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka
dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang
obyektif
Dengan demikian mengacu pada ketentuan Pasal 6 (1) huruf e dan Pernyataan
pada PSAK, maka metode yang diperkenankan adalah pencatatan pada saat
perolehan adalah kur yang terjadi pada saat tanggal transaksi dan dilakukan
penyesuaian pada saat penyusunan neraca komersial.

f) Biaya penelitian dan pengembangan

Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia


dalam jumlah yang wajar untuk menemukan teknologi atau sistem baru bagi
pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan.

Perlakuan perpajakan atas biaya penelitian dan pengembangan


Keputusan Menteri Keuangan No.769/KMK.04/90.Tanggal 14-07-1990.dan SE -
22/PJ.31/1990
• Biaya biaya penelitian dan pengembangan adalah biaya yang nyata-nyata
dikeluarkan untuk pengembangan produksi (product development), serta biaya
untuk meningkatkan efisiensi perusahaan termasuk teknologi untuk
pengembangan proses (process technology).
• Pembebanan biaya melalui penyusutan/ amortisasi
• Biaya sehari-hari untuk litbang.. sesuai Ps 6 (1) UU PPh
• Biaya diluar butir 1 dan 2 diatas , antara lain biaya konsultan, perlakuan
perpajakan sesuai akuntansi yang berlaku

g) Bea siswa, magang dan pelatihan

Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan beasiswa, magang dan pelatihan


dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dibebankan
sebagai biaya perusahaan, dengan memperhatikan kewajaran, termasuk
beasiswa yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah beasiswa yang diberikan
kepada pelajar, mahasiswa, dan pihak lain.

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Bagi penerima beasiswa bukan merupakan objek pajaksesuai dengan


bahasan pada bab sebelumnya sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam
Keputusan Menteri keuangan nomor 246/PMK.03/2008. j.o.154/PMK.03/2009

h) Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat :


1. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak ;
3. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara ; atau adanya perjanjian
tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur
dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan
umum atau khusus ;atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya
telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu ;
4. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk
penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat(1) huruf k; Yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ;
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya
sepanjang Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba rugi
komersial dan telah melakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau
terakhir.
Yang dimaksud dengan penerbitan tidak hanya berarti penerbitan berskala
nasional, namun dapat juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya. Tata
cara pelaksanaan persyaratan yang ditentukan dalam ayat (1) huruf h ini diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . ( PER 105
/PMK.03/ 2009 );

i. Sumbangan

Sumbangan-sumbangan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah meliputi :


- Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional
- sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di
Indonesia

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- biaya pembangunan infrastruktur sosial


- sumbangan fasilitas pendidikan
- sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2010 Tentang


Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional, Sumbangan Penelitian Dan
Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan Pembinaan
Olahraga, Dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat
Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto

Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah


tertentu dari Penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena
pajak bagi wajib pajak terdiri atas:
a. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional, yang
merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan
secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau
disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah
mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan
dana penanggulangan bencana;
b. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan, yang
merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang
dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui
lembaga penelitian dan pengembangan;
c. Sumbangan fasilitas pendidikan, yang merupakan sumbangan berupa
fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan;
d. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga, yang merupakan
sumbangan untuk membina, mengembangkan dan mengoordinasikan
suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang
disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga; dan
e. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan
untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan
umum dan bersifat nirlaba.

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Sumbangan dan/atau biaya dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan


syarat:
a. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya;
b. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada
Tahun Pajak sumbangan diberikan;
c. didukung oleh bukti yang sah; dan
d. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor
Pokok Wajib Pajak, kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan.
- Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur
sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun
dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun
Pajak sebelumnya.
- Sumbangan dan/atau biaya tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada
pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
- Sumbangan dapat diberikandalam bentuk uang dan/atau barang.
- Biaya pembangunan infrastruktur sosial diberikan hanya dalam bentuk
sarana dan/atau prasarana.
- Nilai sumbangan dalam bentuk barang ditentukan berdasarkan nilai
perolehan, apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan, nilai
buku fiskal, apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan; atau
harga pokok penjualan, apabila barang yang disumbangkan merupakan
barang produksi sendiri
- Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosialberdasarkan jumlah yang
sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana.
- Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib
dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan.
Bagi Penerima sumbangan dan bantuan berlaku ketentuan sebagai berikut:
- Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima
sumbangan harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran
sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan.

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- Lembaga penerima sumbangan wajib menyampaikan laporan penerimaan


sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir
Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya.
- Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor
Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagai
lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan.

3. Pengeluaran / biaya yang tidak boleh dikurangkan

Pasal 9 ayat (1) UU PPh mengatur tentang Pengeluaran / biaya yang tidak
boleh dikurangkan terhadap penghasilan bruto. Dasar pertimbangan biaya
tersebut tidak dapat dikurangkan karena:
- Bersifat pembagian laba;
- tidak berkaitan dengan upaya memperoleh, menagih dan memelihara
penghasilan yang merupakan objek pajak
- bersifat pemberian Natura;
Termasuk pengeluaran yang tidak dapat dibebankan sebagai pengurang
penghasilan bruto adalah :
a. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada
pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
b. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
pemegang saham,sekutu atau anggota;
c. pembentukan atau pemupukan dana cadangan,
Dikecualikan usaha-usaha tertentu yang memang memerlukan pembentukan
cadangan dalam rangka mempertahankan penghasilannya yaitu
- cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain
yang menyalurkan kredit , sewa guna usaha dengan hak opsi,
- perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang ;
- cadangan untuk usaha asuransi, termasuk
- cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial ;

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan ;


- cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
- cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan ;
- cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan
limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri ,
yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan .Peraturan Menteri Keuangan. (PMK. No.
81/PMK.03/2009)
d. Premi untuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa yang dibayar sendiri oleh Wajib
Pajak orang pribadi tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto, dan pada
saat orang pribadi dimaksud menerima penggantian atau santunan asuransi,
penerimaan tersebut bukan merupakan Objek Pajak. Apabila premi asuransi
tersebut dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja, maka bagi pemberi
kerja pembayaran tersebut boleh dibebankan sebagai biaya dan bagi
pegawai yang bersangkutan merupakan penghasilan yang merupakan Objek
Pajak
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali :
a. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah terpencil,
dalam rangka menunjang kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong
pembangunan di daerah tersebut;
b. pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena
sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya, seperti pakaian dan peralatan
untuk keselamatan kerja, pakaian seragam petugas keamanan (Satpam),
antar jemput karyawan serta penginapan untuk awak kapal dan yang
sejenisnya ;dan
c. pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi seluruh
pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan,

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Natura dan kenikmatan tersebut diatas dapat dikurangkan dari penghasilan


bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan pegawai yamg
menerimanya , yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. (83/PMK.03/2009,)

Natura dan kenikmatan yang diberikan kepada pegawai atau karyawan,


diatur dalam PMK No. 83/PMK.03/2009 tentang Makanan Dan Minuman
Bagi Seluruh Pegawai Serta Penggantian Atau Imbalan Dalam Bentuk Natura
Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang Berkaitan Dengan
Pelaksanaan Pekerjaan Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto
Pemberi Kerja

dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan


merupakan penghasilan bagi Pegawai yang menerimanya adalah:
a. Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi seluruh
Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
pemberian makanan dan/atau minuman yang disediakan oleh pemberi kerja
di tempat kerja, atau pemberian kupon makanan dan/atau minuman bagi
Pegawai yang karena sifat pekerjaannya tidak dapat memanfaatkan
pemberian sebagaimana dimaksud pada huruf a, meliputi Pegawai
bagian pemasaran, bagian transportasi, dan dinas luar lainnya.
b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu
dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong
pembangunan di daerah tersebut.
Penggantian atau imbalan adalah sarana dan fasilitas di lokasi kerja
untuk :
a. tempat tinggal, termasuk perumahan bagi Pegawai dan keluarganya;
b. pelayanan kesehatan;
c. pendidikan bagi Pegawai dan keluarganya;
d. peribadatan;
e. pengangkutan bagi Pegawai dan keluarganya;
f. olahraga bagi Pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf, power
boating pacuan kuda, danterbang layang

9 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

sepanjang sarana dan fasilitas tersebut tidak tersedia, sehingga pemberi


kerja harus menyediakannya sendiri.
Daerah tertentu adalah daerah yang secara ekonomis mempunyai
potensi yang layak dikembangkan tetapi keadaan prasarana ekonomi
pada umumnya kurang memadai dan sulit dijangkau oleh transportasi
umum, baik melalui darat, laut maupun udara, sehingga untuk
mengubah potensi ekonomi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi
yang nyata, penanam modal menanggung risiko yang cukup tinggi dan
masa pengembalian yang relatif panjang, termasuk daerah perairan laut
yang mempunyai kedalaman lebih dari 50 (lima puluh) meter yang dasar
lautnya memiliki cadangan mineral.Pengeluaran untuk pembangunan
sarana dan fasilitas yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun disusutkan sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
c. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena
sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya.
Pemberian natura dan kenikmatan meliputi pakaian dan peralatan untuk
keselamatan kerja, pakaian seragam petugas keamanan (satpam),
sarana antar jemput Pegawai, serta penginapan untuk awak kapal, dan
yang sejenisnya.

f) jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham


atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;

Dalam hubungan pekerjaan, kemungkinan dapat terjadi pembayaran


imbalan yang diberikan kepada pegawai yang juga pemegang saham.
Karena pada dasarnya pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto
adalah pengeluaran yang jumlahnya wajar sesuai dengan kelaziman usaha,
maka berdasarkan ketentuan ini, jumlah yang melebihi kewajaran tersebut
tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Contoh :
seorang tenaga ahli yang adalah pemegang saham dari suatu badan, memberikan
jasa kepada badan tersebut dengan memperoleh imbalan sebesar Rp 5.000.000,00
(lima juta rupiah) . Apabila untuk jasa yang sama yang diberikan oleh tenaga ahli lain
yang setara hanya dibayar sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah), maka jumlah
sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
Bagi tenaga ahli yang juga sebagai pemegang saham tersebut jumlah sebesar Rp
3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dimaksud dianggap sebagai dividen.

g) harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU PPh , kecuali
sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat(1) huruf I, huruf j,
huruf k, huruf l, dan huruf m UU PPh serta zakat yang diterima oleh badan
amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
Pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan
yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang diatur dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Dengan prinsip deductible vs. taxable dan non deductible non taxable
pada dasarnya setiap Pengeluaran yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto, maka akan menjadi objek penghasilan bagi penerimanya. Sebaliknya
jika termasuk tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto maka bagi
penerima harta bukan merupakan penghasilan. Dikecualikan dari prinsip ini
adalah sumbangan dan bantuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 (1)
huruf ui,j,k,l, dan m serta zakat kepada badan amil zakat atau lembaga amil
zakat dimana bagi pemberi sumbangan dan bantuan merupakan biaya dan
bagi penerima bantuan dan sumbangan bukan sebagai penghasilan.

h) Pajak Penghasilan; Yang dimaksudkan dengan Pajak Penghasilan dalam


ketentuan ini adalah Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang
bersangkutan
.

i) Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib


Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
Biaya tersebut pada hakekatnya merupakan penggunaan penghasilan oleh
Wajib Pajak yang bersangkutan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

j) gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan,firma,atau perseroan


komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;
Anggota firma ,persekutuan dan perseroan komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham diperlakukan sebagai satu kesatuan ,sehingga tidak ada
imbalan sebagai gaji.

k) sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi


pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan
perundangundangan di bidang perpajakan.

4. Kompensasi Kerugian

Kerugian dapat dikompensasikan terhadap perolehan penghasilan netto lainnya


melalui 2 (dua) cara, yaitu kompensasi horisontal dan kompensasi vertikal.
Kerugian fiskal dimaksud adalah kerugian komersial menurut pembukuan wajib
pajak setelah dilakukan penyesuaian-penyesuai berdasarkan peraturan
perundang undangan dibidang perpajakan.

a. Kompensasi horisontal
Kompensasi horisontal terjadi apabila dalam satu tahun pajak suatu usaha atau
kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan
(digabungkan) dengan penghasilan lainnya, untuk mendapatkan dasar
pengenaan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Penggabungan tidak dapat
dapat dilakukan jika kerugian itu diperoleh dari luar Indonesia (Pasal 24 UU PPh).
Penggabungan juga tidak dilakukan terhadap Penghasilan telah dikenakan
pajak bersifat final dan penghasilan yang bukan merupakan objek PPh.

b. Kompensasi vertikal
Kerugian yang diderita dalam suatu tahun pajak dikompensasikan dengan
laba fiskal dalam tahun tahun pajak berikutnya, sebagaimana diatur dalam Pasal
6 ayat (2) bahwa “ apabila penghasilan bruto setelah dikurangi biaya-biaya yang
boleh dikurangkan didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan
dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan
5 (lima) tahun”

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Kerugian yang boleh dikompensasi bukan kerugian komersial tetapi kerugian


fiskal. Jangka waktu yang diperkenankan untuk mengkompensasi kerugian fiskal
adalah 5 tahun, dihitung mulai tahun pajak berikutnya sejak diderita kerugian
fiskal. Sedangkan kompensasinya dilakukan dengan penghasilan/laba fiskal
yang diperoleh dalam tahun pajak selama lima tahun tersebut.

Contoh dalam penjelasan pasal yang bersangkutan adalah sebagai berikut :


PT A dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar
Rp.1.200.000.000,00.Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT A
sebagai berikut:
2010 :laba fiskal Rp 200.000.000,00
2011 :rugi fiskal (Rp 300.000.000,00)
2012 :laba fiskal Rp 50.000.000,00
2013 :laba fiskal Rp 100.000,000,00 2014
:laba fiskal Rp 800.000.000,00
Kompensasi kerugian dilakukan sebagai
berikut :
Rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1.200.000.000,00 )
Laba fiskal tahun 2010 Rp 200.000.000,00
Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1.000.000.000,00 )
Rugi fiskal tahun 2011 ( Rp 300.000.000,00 )
Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1.000.000.000,00 )
Laba fiskal tahun 2012 Rp 50.000.000,00
Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 950.000.000,00 )
Laba fiskal tahun 2013 Rp 100.000.000,00
Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 850.000.000,00 )
Laba fiskal tahun 2014 Rp 800.000.000,00
Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 50.000.000,00 )

Rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp 50.000.000,00 yang masih tersisa pada
akhir tahun 2014 tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun
2015,sedangkan rugi fiskal tahun 2011 sebesar Rp 300.000.000,00 hanya boleh
dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2015 dan tahun 2016 ,karena jangka
waktu lima tahun yang dimulai sejak tahun 2012 berakhir pada akhir tahun 2016.

Apabila Laba fiskal tahun 2015 :


Rp.200.000.000,00 tahun 2016 : Rp.400.000.000,00
tahun 2017 : Rp.500.000.000,00

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Maka Sisa Rugi Tahun 2009 sebesar Rp. 50.000.000,00 tidak dapat
dikompensasikan dengan Laba fiskal tahun 2015 sebesar
Rp.200.000.000,00.Yang dapat dikompensasikan dengan Laba Fiskal tahun
2015 adalah Rugi tahun 2011 Rp.300.000.000,00. Sisa Rugi tahun 2011 pada
akhir tahun 2015 sebesar Rp.100.000.000,00 dapat dikompensasikan dengan
Laba fiskal tahun 2016, yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini

( dalam jutaan Rp ,00)


NPWP : Nama WP :
Rugi/Laba neto Kompensasi Kerugian Fiskal
fiskal
Tahun Jumlah 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
2009 (1.200) 200 - 50 100 800 50
2010 200 - - - - - - - -
2011 (300) - - - - - 200 100
2012 50 - - - - - - - -
2013 100 - - - - - - - -
2014 800 - - - - - - - -
2015 200 - - - - - - - -
2016 400 - - - - - - - -
2017 500 - - - - - - - -
Jumlah 200 - 50 100 800 200 100 -

5. Perlakuan khusus biaya

5.1. Perlakuan biaya bunga pinjaman apabila terdapat penghasilan bunga


deposito

Perlakuan biaya bunga yang dibayar atau terutang dalam hal wajib pajak
menerima atau memperoleh penghasilan berupa bunga deposito atau tabungan
lainnya, berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE46/PJ.4/1995,tgl 5 Oktober 1995 Perlakuan biaya bunga yang dibayar atau
terutang dalam hal wajib pajak menerima atau memperoleh penghasilan berupa
bunga deposito atau tabungan lainnya,diberikan penegasan sebagai berikut:

(1). Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil
dari jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atu

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

tabungan lainnya, maka bunga yang dibayar atau terutang atas pinjaman
tersebut seluruhnya tidak dapat dibebankan sebagi biaya
(2). Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang
ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya,maka bunga atas
pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau
terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana yang
ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya. Menyimpang
dari ketentuan tersebut diatas, bunga yang terutang atas pinjaman Wajib Pajak
dari pihak ketiga dapat dibebankan sebagai biaya, dalam hal:
(a) Dana pinjaman tersebut disimpan/ditempatkan dalam bentuk rekening giro
yang atas jasanya dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final
(b) Adanya ketentuan bagi Wajib Pajak untuk menempatkan dana dalam jumlah
tertentu pada suatu bank dalam bentuk deposito berdasarkan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, sepanjang jumlah deposito dan
tabungan tersebut semata-mata untuk memenuhi keharusan tersebut:
misalnya cadangan biaya reklamasi yang harus ditempatkan dalam bentuk
deposito atau tabungan di Bank Pemerintah
(c) Dapat dibuktikan bahwa penempatan deposito atau tabungan tersebut
dananya berasal dari tambahan modal dan sisa laba setelah kena pajak.

Contoh
Pada tahun 2005 PT AA mendapat pinjaman dari pihak ketiga dengan batas
maksimum sebesar Rp.200.000.000,00 dan tingkat bunga pinjaman 20 % .Dari
jumlah tersebut telah diambil pada bulan Pebruari sebesar Rp.175.000.000,00
pada bulan Juni diambil sebesar Rp. 25.000.000,00 dan sisanya
Rp.50.000.000,00 diambil pada bulanpada bulan Agustus. Disamping itu Wajib
Pajak mempunyai dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito dengan
perincian sebagai berikut :
Bulan Pebruari s/d Maret sebesar Rp. 25.000.000,00 Bulan
April s/d Agustus sebesar Rp. 46.000.000,00
Bulan September s/d Desember sebesar Rp, 50.000.000,00
Dengan demikian bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah sebagai
berikut :
Rata-rata pinjaman
Pinjaman Jangka waktu

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Bulan Januari Rp. 0,00 1 bulan Rp. 0,00


Bulan Pebruari s/d Mei Rp. 125.000.000,00 4 bulan Rp. 500.000.000,00
Bulan Juni s/d Juli Rp. 150.000.000,00 2 bulan Rp. 300.000.000,00 5
Bulan Agustus s/d Desember Rp. bulan Rp.1.000.000.000,00
200.000.000,00
Jumlah Rp.1.800.000.000,00
Rata-rata pinjaman per bulan Rp.1.800.000.000,00 : 12 = Rp. 150.000.000,00

Rata-rata dana berupa deposito


Deposito Jangka waktu
Bulan Januari Rp. 0,00 1 bulan Rp. 0,00
Bulan Pebruari s/d Maret Rp .25.000.000,00 2 bulan Rp. 50.000.000,00
Bulan April s/d Juli Rp. 46.000.000,00 5 bulan Rp. 230.000.000,00
Bulan Agustus s/d Desember Rp. 50.000.000,00 4 bulan Rp. 200.000.000,00
Jumlah Rp. 480.000.000,00
Rata-rata pinjaman per bulan Rp.480.000.000,00 : 12 = Rp. 40.000.000,00
Bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya = 20% x (Rp. 150.000.000,00-Rp.
40.000.000,00) =Rp. 22.000.000,00

5.2. Perlakuan Pajak Penghasilan atas pengeluaran untuk BPHTB

Perlakuan Pajak Penghasilan atas pengeluaran untuk Bea Perolehan Hak


atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE01/PJ.42/2002 tanggal 18 Pebruari 2002, dimaksudkan untuk memberikan
kepastian dalam pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan, yang memberikan
penegasan sebagai berikut:

BPHTB PBB
- pajak yang dibayar dalam rangka dan - pajak yang dibayar sehubungan dengan
merupakan bagian dari biaya pemilikan hak atau perolehan manfaat
pengeluaran untuk memperoleh hak atas tanah dan atau pemilikan,
atas tanah dan atau bangunan penguasaan, atau perolehan manfaat
atas bangunan, yang merupakan biaya/
pengeluaran rutin setiap tahun
- hak atas tanah yang dimiliki dan - PBB atas tanah dan bangunan yang
dipergunakan dalam perusahaan, atau dimiliki dan dipergunakan dalam
dimiliki untuk mendapatkan, menagih perusahaan, atau dimiliki untuk
dan memelihara penghasilan, dapat mendapatkan, menagih, dan
dikurangkan sebagai biaya dalam memelihara penghasilan, dapat
penghitungan Penghasilan Kena Pajak dikurangkan sekaligus sebagai biaya
melalui amortisasi hak atas tanah dalam penghitungan Penghasilan Kena
sepanjang hak atas tanah tersebut Pajak;
dapat diamortisasi sesuai ketentuan
Pasal 11A Undang-undang Pajak
Penghasilan;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- hak atas bangunan yang dimiliki dan


dipergunakan dalam perusahaan, atau
dimiliki untuk mendapatkan, menagih
dan memelihara penghasilan dapat
dikurangkan sebagai biaya dalam
penghitungan Penghasilan Kena Pajak
melalui penyusutan bangunan tersebut
sesuai ketentuan Pasal 11 Undang–
undang Pajak Penghasilan;

5.3. Biaya Promosi

PMK No. 2/pmk.03/2010 dan Surat Edaran DJP No SE - 9/PJ/2010 tentang


biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
• Biaya Promosi adalah bagian dari biaya penjualan yang dikeluarkan oleh
Wajib Pajak dalam rangka memperkenalkan dan/atau menganjurkan
pemakaian suatu produk baik langsung maupun tidak langsung untuk
mempertahankan dan/atau meningkatkan penjualan.
• Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
merupakan akumulasi dari jumlah :
1) biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya;
2) biaya pameran produk;
3) biaya pengenalan produk baru; dan/atau
4) biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.

c. Tidak termasuk Biaya Promosi adalah :


1) pemberian imbalan berupa uang dan/atau fasilitas, dengan nama dan
dalam bentuk apapun, kepada pihak lain yang tidak berkaitan langsung
dengan penyelenggaraan kegiatan promosi.
2) Biaya Promosi untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang bukan merupakan objek pajak dan yang telah dikenai
pajak bersifat final.
d. Dalam hal promosi dilakukan dalam bentuk pemberian sampel
produk, besarnya biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto adalah sebesar harga pokok sampel produk yang diberikan,
sepanjang belum dibebankan dalam perhitungan harga pokok
penjualan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

e. Biaya Promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain dan merupakan


objek pemotongan Pajak Penghasilan wajib dilakukan pemotongan
pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
f. Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif yang paling sedikit harus
memuat data penerima berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak,
alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti
pemotongan dan besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong dengan
format tertentu
g. Daftar nominatif dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak
menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan.
h. Dalam hal ketentuan huruf f dan g di atas tidak dipenuhi, Biaya
Promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto harus
memperhatikan hal-hal 1) untuk mempertahankan dan atau meningkatkan
penjualan;2) dikeluarkan secara wajar; dan 3) menurut adat kebiasaan
pedagang yang baik.

5.4. Biaya bersama atau joint cost

Berdasarkan Pasal 27 PP nomor 94 tahun 2010, Wajib Pajak harus


menyelenggarakan pembukuan secara terpisah dalam hal:
a. memiliki usaha yang penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final dan tidak final;
b. menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pajak dan
bukan objek pajak; atau
c. mendapatkan dan tidak mendapatkan fasilitas perpajakan sebagaimana diatur
dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Biaya bersama yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka penghitungan


besarnya Penghasilan Kena Pajak, pembebanannya dialokasikan secara
proporsional.

5.5. Biaya telephon seluler dan kendaraan yang dibawa pulang

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP - 220/PJ./2002 dan SE -


09/PJ.42/2002 mengatur Perlakuan pajak penghasilan atas biaya pemakaian
telepon seluler dan kendaraan perusahaan sebagai berikut:
• Atas biaya perolehan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui penyusutan aktiva tetap
kelompok I dan biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan
telepon seluler dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50%
• Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan bus
dan biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin, minibus, atau yang sejenis yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput para pegawai, dapat
dibebankan seluruhnya melalui penyusutan aktiva tetap.

• Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar dan dan biaya
pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan kendaraan sedan atau yang
sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan
atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva tetap
kelompok II
• Apabila atas penghasilan Wajib Pajak dikenakan PPh yang bersifat final atau
berdasarkan norma penghitungan khusus, maka pembebanan biaya-biaya
tersebut telah termasuk dalam penghitungan Pajak Penghasilan yang bersifat
final atau berdasarkan norma penghitungan khusus.
• Yang dimaksud dengan :
- Telepon seluler, termasuk juga alat komunikasi berupa pager;
- Sedan atau yang sejenis, termasuk juga kendaraan jenis minibus sepanjang
digunakan hanya untuk seorang pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjaannya, dan penggunaannya full-time baik untuk kepentingan
perusahaan maupun keperluan pribadi dan keluarga pegawai yang
bersangkutan.
6. Penghasilan Tidak Kena Pajak

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan


pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak. Dalam menghitung Laba
Kena Pajak Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, kepadanya diberikan
pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang merupakan
interpretasi dari kebutuhan biaya hidup minimal yang diakui secara fiscal. Lebih
lanjut mengenai PTKP akan dibahas secara tersendiri dalam bab selanjutnya.

C. LATIHAN:

1. Berikan penjelasan tentang biaya-biaya yang menjadi pengurang


penghasilan bruto.
2. Berikan penjelasan tentang biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan dari
penghasilan bruto
3. Bagaimana pembebanan kerugian pada suatu tahun pajak secara
horisontal pada tahun yang sama, maupun secara vertikal,
dikompensasikan dengan tahun-tahun setelah terjadinya kerugian fiskal.
4. Bagaimana perlakuan biaya-biaya:
- Biaya bunga bagi usaha yang memiliki deposito
- Biaya BPHTB dan PBB
- Join cost
- Biaya Promosi
- Biaya kendaraan dinas dan telephon selular

D. RANGKUMAN:

Penghasilan bruto dikurangi dengan pengurang penghasilan bruto hasilnya


adalah penghasilan neto. Penghasilan neto dikurangi dengan kompesnsasi
kerugian dan PTKP akan mendapatkan jumlah Penghasilan Kena Pajak.
Penghasilan bruto dikurangi pengurang penghasilan bruto akan mendapatkan
penghasilan neto, dan dikurangi dengan kompensasi kerugian dan khusus WP
OP dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak, maka akan mendapatkan
Penghasilan Kena Pajak.
Pengurang penghasilan bruto adalah biaya-biaya untuk
mendapatkan/memperoleh, memelihara dan menagih penghasilan. Biaya ini
terbagi menjadi dua golongan yaitu biaya yang mempunyai masa manfaat tidak
lebih dari 1 (satu) tahun dan biaya mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun.
Undang-undang PPh juga mengatur tentang biaya/pengeluaran yang tidak
boleh dikurangkan dari penghasilan bruto, yang secara umum bersifat:

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- pembagian laba;
- tidak berkaitan dengan upaya memperoleh, menagih dan memelihara
penghasilan yang merupakan objek pajak
- bersifat pemberian Natura;

Kerugian dapat dikompensasikan terhadap perolehan penghasilan netto lainnya


melalui 2 (dua) cara, yaitu kompensasi horisontal dan kompensasi vertikal.
Kompensasi horisontal terjadi apabila dalam satu tahun pajak suatu usaha atau
kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan
(digabungkan) dengan penghasilan lainnya, untuk mendapatkan dasar
pengenaan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Penggabungan tidak dapat
dapat dilakukan jika kerugian itu diperoleh dari luar Indonesia (Pasal 24 UU PPh).
Penggabungan juga tidak dilakukan terhadap Penghasilan telah dikenakan pajak
bersifat final dan penghasilan yang bukan merupakan objek PPh. Kerugian yang
diderita dalam suatu tahun pajak dikompensasikan dengan laba fiskal mulai
tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun”
Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan
berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak. PTKP merupakan interpretasi dari
kebutuhan biaya hidup minimal yang diakui secara fiskal.

E. TEST FORMATIF :

1. Secara umum, berikut ini adalah pengurang penghasilan bruto untuk


menghitung besarnya penghasilan netto kecuali:
a. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
b. Kompensasi kerugian
c. Setoran modal sebagai bentuk penyertaan dalam badan usaha lain
d. Penghasilan Tidak Kena Pajak.
2. Berikut ini termasuk biaya-biaya ini disebut sebagai biaya sehari-hari yang
boleh dibebankan pada tahun pengeluaran, kecuali:
a. biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa
termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan
yang diberikan dalam bentuk uang;
b. Biaya pembangunan infrastruktur, sarana pengolahan limbah.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. bunga, sewa, royalti, premi asuransi;


d. biaya promosi dan biaya penjualan
3. PT. Abadi Nusa memperoleh pinjaman sebesar Rp. 10.000.000.000,-
dengan bunga yang dibayarkan setiap tahun sebesar Rp. 1.200.000.000,-
Pinjaman tersebut dipergunakan untuk membeli 50% PT Nusa Indah
dengan harga perolehan saham sebesar Rp. 8.000.000.000,- dan
dipergunakan untuk menambah perluasan gedung kantor sebesar Rp.
2.000.000.000,- biaya bunga yang dapat dibebankan sebagai pengurang
penghasilan bruto dari pinjaman ini adalah : a. 1.200.000.000,-
b. 240.000.000,-
c. 9.960.000.000,-
d. 6.100.000.000,-
4. Perlakuan perpajakan atas Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan Kematian;
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan yang dibayar pemberi kerja, dan
Jaminan Hari Tua , Iuran pensiun yang dibayar oleh pemberi kerja adalah:
a. bagi karyawan bukan merupakan objek Pajak Penghasilan dan bagi
pemberi kerja merupakan biaya yang tidak dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto
b. bagi karyawan merupakan objek Pajak Penghasilan dan bagi pemberi
kerja merupakan biaya yang tidak dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto.
c. bagi karyawan bukan merupakan objek Pajak Penghasilan dan bagi
pemberi kerja merupakan biaya yangdapat dikurangkan dari
penghasilan bruto.
d. bagi karyawan merupakan objek Pajak Penghasilan dan bagi pemberi
kerja merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto.

5. berikut pernyataan yang tidak benar atas kerugian karena penjualan atau
pengalihan harta
a. merupakan pengurang penghasilan bruto jika harta yang menurut
tujuannya semula tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialihkan
b. merupakan pengurang penghasilan bruto jika harta tersebut yang
dimiliki dan dipergunakan dalam kegiatan usaha untuk mendapatkan,

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari


penghasilan bruto.
c. Dapat dikurangkan dari penghasilan bruto jika wajib pajak
menyelenggarakan pembukuan
d. hanya untuk wajib pajak badan
6. Berikut pernyataan tentang kerugian dan keuntungan karena fluktuasi kurs
mata uang asing adalah sebagai berikut kecuali:
a. sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di
Indonesia.
b. Dapat berdasarkan pada Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang
sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya dilakukan
pada setiap akhir tahun buku
c. Kurs tetap perhitungan pembebanan dilakukan pada saat terjadinya
realisasi perkiraan mata uang asing tersebut.
d. Dapat disesuaikan sesuai perkembangan ekonomi dan kondisi usaha
wajib pajak secara fleksibel

7. Syarat biaya penelitian dan pengembangan perusahaan dapat dibebankan


sebagai pengurang penghasilan bruto adalah:
a. Penelitian dan pengembangan dilakukan di Indonesia
b. dalam jumlah yang wajar untuk c menemukan teknologi atau sistem
baru yang berguna untuk pengembangan per-usahaan
d. Dilaksanakan oleh tenaga kerja Indonesia

8. Penghapusan piutang yang tergolong bukan debitur kecil dapat dibebankan


sebagai biaya pengurang penghasilan bruto jika memenuhi persyaratan
sebagai berikut kecuali:
a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial
daftar piutang yang dihapuskan diserahkan kepada Direktorat
Jenderal Pajak ;
b. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri
atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. adanya perjanjian tertulis mengenai tatacara pelunasan hutang


antara kreditur dan debitur yang bersangkutan;
e. telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus atau
adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu ;

9. Sumbangan atau bantuan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto


dengan syarat sebagai berikut, kecuali:
a. Wajib Pajak mempunyai Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak
sebelumnya;
b. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada
Tahun Pajak sumbangan diberikan;
c. didukung oleh bukti yang sah; dan
d. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor
Pokok Wajib Pajak, kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek
pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak
Penghasilan.
10. pembentukan atau pemupukan dana cadangan kerugian tidak
diperkenankan dikurangkan dari pengurang penghasilan bruto akan tetap
terdapat usaha-usaha tertentu yang memang memerlukan pembentukan
cadangan dalam rangka mempertahankan penghasilannya. Berikut adalah
jenis usaha yang diperkenankan untuk memupuk cadangan kerugisa,
kecuali
a. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha
lain yang menyalurkan kredit ,sewa guna usaha dengan hak opsi,
perusahaan pembiayaan konsumen , perusahaan anjak piutang.
b. cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial dan cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin
Simpanan
c. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan dan cadangan
biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan ;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan


limbah industri untuk usaha yang menghasilkan limbah berbahaya.

11. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan tidak dapat dibebankan
sebagai biaya. Akan tetapi dalam hal tertentu natura dapat dibebankan
sebagai biaya. Berikut adalah natura yang dapat dibebankan sebagai
biaya, kecuali :

a. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang


diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah
terpencil, dalam rangka menunjang kebijaksanaan pemerintah untuk
mendorong pembangunan di daerah tersebut;
b. pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan keharusan
dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja
atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya, seperti
pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam
petugas keamanan (Satpam), antar jemput karyawan serta
penginapan untuk awak kapal dan yang sejenisnya ;dan
c. pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi
seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan,
d. Pemberian Natura dan Kenikmatan kepada Wajib Pajak Luar Negeri,
karena wajib pajak luar negeri tidak melaporkan sebagai penghasilan
yang dikenakan PPh.

12. PT Highrisk dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar


Rp.1.800.000.000,00.Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT
Hihgrisk adalah 2010 laba fiskal Rp 300.000.000,00, 2011 rugi fiskal
(Rp 400.000.000,00) 2012 laba fiskal Rp 150.000.000,00, 2013 laba fiskal Rp
200.000,000,00 dan 2014 laba fiskal Rp 600.000.000,00. Berdasarkan data di
atas maka penghasilan kena pajak tahun 2014 adalah: a. Rp 0,-
b. Rp. 50.000.000,-
c. Rp. 75.000.000,-
d. (Rp. 75.000.000,-)

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

13. Pada tahun 2010 PT. Highdebt memiliki pagu hutang jangka panjang
dengan tingkat bunga 15% per tahun sebesar Rp. 300.000.000.000,00.
Atas pagu kredit tersebut dipergunakan rata-rata setiap bulan adalah Rp.
180.000.000,000,- Disamping itu rata-rata penempatan deposito setiap
bulan adalah Rp. 30.000.000.000,- Berapa biaya bunga yang dapat
dibebankan sebagai biaya tahun 2010:

a. 27.000.000.000,-
b. 22.500.000.000,-
c. 31.500.000.000,-
d. 4.500.000.000,-
14. Biaya promosi dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto,
memenuhi persyaratan sebagai berikut, kecuali:
a. Dibuatkan daftar nominatif dan dilaporkan sebagai lampiran saat
Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan.
b. Pengeluaran Biaya Promosi dalam rangka mempertahankan
dan/atau meningkatkan penjualan;
c. dikeluarkan secara wajar sesuai adat kebiasaan pedagang yang
baik.
d. Tidak melebihi 3% dari peredaran usaha
15. Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan secara terpisah dalam
hal Wajib Pajak memiliki usaha yang penghasilannya dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final dan tidak final, yang merupakan objek pajak
dan bukan objek pajak serta yang mendapatkan dan tidak mendapatkan
fasilitas perpajakan. Jika terdapat pengeluaran biaya bersama yang tidak
dapat dipisahkan dalam rangka penghitungan besarnya Penghasilan Kena
Pajak, pembebanannya dilakukan dengan cara:
a. Dialokasikan secara proporsional dengan ukuran yang objekif.
b. Tidak dapat dibebankan sebagai biaya; c, Dibebankan pada usaha
yang memiliki omset tertinggi.
d. Proprosional sesuai peredaran usaha masing-masing yang dihasilkan

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal
Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat
melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah
70% maka pelajari kembali materi pada kegiatan belajar IV ini.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

VI. KEGIATAN BELAJAR 5

CARA PENILAIAN HARTA, PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mempelajari kegiatan belajar enam ini, diharapkan peserta diklat dapat
menjelaskan metode penilaian harta, hubungan istimewa, penilaian persediaan,
pembebanan biaya perolehan melalui penyusutan dan amortisasi

B. Uraian materi, contoh dan non contoh

1. Nilai Perolehan harta

Nilai perolehan harta merupakan dasar yang penting dalam ketentuan


perpajakan. Nilai perolehan harta diperlukan sebagai dasar untuk melakukan
pembebanan suatu pengeluaran atau harga perolehan menjadi biaya dalam
menghitung besarnya penghasilan kena pajak.
Penentuan nilai perolehan harta diberikan landasan ketentuan dalam
peraturan perundang-undangan, dengan maksud memberikan kepastian hukum,
karena ada banyak metode untuk menentukan harga perolehan. Akan tetapi
penilaian harta untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak diatur
tersendiri berdasarkan prinsip kewajaran dan kelaziman (arm’s length principle).
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penetapan nilai harga perolehan
(transfer pricing) adalah adanya hubungan istimewa. Dengan adanya hubungan
istimewa penentuan harga dari pihak yang melakukan penyerahan kepada pihak
yang menerima penyerahan dapat ditetapkan berdasarkan kesepakatan untuk
tujuan tertentu, misalnya dalam rangka menciptakan suatu unit usaha menjadi
cost center, atau unit lain sebagai profit center.
Harga wajar sebenarnya terbentuk dari titik temu antara harga penawaran
dan harga permintaan. Harga wajar ini terbentuk dalam keadaan bebas tanpa
dipengaruhi hubungan istimewa.

2. Hubungan istimewa

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Dalam Pasal 18 ayat (4) UU PPh diatur mengenai hubungan istimewa,


sebagai berikut:.
• Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung
paling rendah 25 % pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib
Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% pada dua Wajib pajak atau
lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang
disebut terakhir; atau
• Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib
Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun
tidak langsung; atau
• Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat.

Bagan 5 Hubungan Istimewa

Faktor keluarga

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Hubungan Istimewa Faktor Kepemilikan

2.1. Hubungan Istimewa karena penyertaan


Hubungan istimewa dianggap ada apabila terdapat hubungan kepemilikan yang
berupa penyertaan modal sebesar 25% atau lebih secara langsung ataupun
tidak langsung.

Contoh
PT. A menguasai 80% saham PT. B
PT. A menguasai 50% saham PT. C
Antara PT A dengan PT B dan PT C terdabat hubungan istimewa karena penyertaan
langsung.
Antara PT B dan PT C terdapat hubungan istimewa karena penguasaan yang sama.

PT B menguasai 90 % saham PT D
Antara PT B dan PT D terdapat hubungan istimewa karena penyertaan langsung. Antara
PT A dengan PT D terdapat hubungan istimewa karena penyertaan tidak langsung, efektif
kepemilikan adalah 72%

PT. C menguasai 20 % saham PT E


Antara PT C dan PT E tidak terdapat hubungan istimewa karena penyertaan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Antara PT A dengan PT E tidak terdapat hubungan istimewa karena penyertaan Antara


PT B dengan PT E tidak terdapat hubungan istimewa karena penguasaan saham.

2.2. Hubungan Istimewa karena faktor manajemen atau teknologi.

Hubungan istimewa antara Wajib Pajak dapat juga terjadi karena penguasaan
melalui manajemen atau penggunaan teknologi, walaupun tidak terdapat
hubungan kepemilikan. Hubungan istimewa dianggap ada apabila satu atau lebih
perusahaan berada di bawah penguasaan yang sama. Demikian juga hubungan
antara beberapa perusahaan yang berada dalam penguasaan yang sama
tersebut.

Dari gambar di atas misalnya PT E walaupun secara kepemilikan saham tidak


terdapat hubungan istimewa, akan tetapi jka kebijakan yang ada dalam
manajemen PT E dapat dipengaruhi oleh PT A, maka antara PT E dengan PT A,
PT B dan PT C serta PT D terdapat hubungan istimewa karena manajemen.
Demikian juga jika terjadi jabatan rangkap, misalnya Tn AA menjabat sebagai
direktur pada PT A sekaligus sebagai komisaris pada PT E.

2.3. Hubungan Istimewa karena hubungan keluarga.

Yang dimaksud dengan hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan


lurus satu derajat adalah ayah, ibu, dan anak, sedangkan hubungan keluarga
sedarah dalam garis keturunan kesamping satu derajat adalah saudara. Yang
dimaksud dengan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat
adalah mertua dan anak tiri, sedangkan hubungan keluarga semenda dalam garis
keturunan kesamping satu derajat adalah ipar.

3. Penilaian Harta

Tata cara penilaian harta sebagaimana dimaksud pasal 10 Undang-undang


Pajak Penghasilan mengatur tentang Cara Penilaian Harta, termasuk penilaian
persediaan, alam rangka menghitung penghasilan sehubungan dengan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

penggunaan harta dalam perusahaan, menghitung keuntungan atau kerugian


apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta dan penghitungan dari penjualan
barang dagangan.

3.1. Transaksi jual beli

a. Dipengaruhi hubungan istimewa


Dalam jual beli yang dipengaruhi hubungan istimewa, bagi pihak pembeli nilai
perolehannya adalah jumlah yang seharusnya diterima. Adanya hubungan
istimewa antara pembeli dan penjual dapat menyebabkan harga perolehan
menjadi lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan jika jual beli tersebut
tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. Oleh karena itu dalam ketentuan ini
diatur bahwa nilai perolehan atau nilai penjualan harta bagi pihak-pihak yang
bersangkutan adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau yang seharusnya
diterima.

b. Tidak dipengaruhi hubungan istimewa


Harga perolehan perolehan harta bagi pihak pembeli adalah harga yang
sesungguhnya dibayar dan harga penjualan bagi pihak penjual adalah harga
yang sesungguhnya diterima. Termasuk dalam harga perolehan adalah harga
beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut, seperti
bea masuk, biaya pengangkutan dan biaya pemasangan.

3.2. Transaksi tukar-menukar


Harta yang diperoleh berdasarkan transaksi tukar-menukar dengan harta
lain, nilai perolehan atau nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya
dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.

Contoh:

PT. AA (Harta X) PT. BB (Harta Y)

Nilai sisa buku Rp 10.000.000,00 Rp 12.000.000,00

Harga pasar Rp 20.000.000,00 Rp 20.000.000,00

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Antara PT. AA dan PT. BB terjadi pertukaran harta. Walaupun tidak terdapat realisasi
pembayaran antara pihak-pihak yang bersangkutan, namun karena harga pasar harta
yang dipertukarkan adalah Rp20.000.000,00 maka jumlah sebesar Rp20.000.000,00
merupakan nilai perolehan yang seharusnya dikeluarkan atau nilai penjualan yang
seharusnya diterima.
Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dipertukarkan merupakan
keuntungan yang dikenakan pajak.
PT. AA memperoleh keuntungan Rp10.000.000 ;(Rp20.000.000 - Rp10.000.000)
PT. BB memperoleh keuntungan Rp 8.000.000 ; (Rp20.000.000 -
Rp12.000.000).

3.3. Transaksi pengalihan harta rangka likuidasi, penggabungan,


peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha
Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka
likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau
diterima berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan.
Pada prinsipnya apabila terjadi pengalihan harta, penilaian harta yang
dialihkan dilakukan berdasarkan harga pasar. Selisih antara harga pasar dengan
nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan penghasilan yang dikenakan
pajak.

Contoh :
PT. AC dan PT. BD melakukan peleburan dan membentuk badan baru, yaitu
PT. ABCD. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut
adalah sebagai berikut:
PT. AC PT. BD

Nilai sisa buku Rp 200.000.000,00 Rp 300.000.000,00

Harga pasar Rp 300.000.000,00 Rp 450.000.000,00


Pada dasarnya, penilaian harta yang diserahkan oleh PT. AC dan PT. BD
dalam rangka peleburan menjadi PT. ABCD adalah harga pasar dari harta.
Dengan demikian PT. AC mendapat keuntungan sebesar Rp100.000.000,00
(Rp300.000.000,00 - Rp200.000.000,00) dan PT. BD mendapat keuntungan
sebesar Rp150.000.000,00 (Rp450.000.000,00 - Rp300.000.000,00).
Sedangkan PT. ABCD membukukan semua harta tersebut dengan jumlah
Rp750.000.000,00 yang berasal dari hasil (Rp300.000.000,00 + Rp
450.000.000,00).

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 43/PMK.03/2008 Tentang


Penggunaan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan,
peleburan, atau pemekaran usaha, dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
nomor: PER - 28/PJ./2008 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pemberian Izin
Penggunaan Nilai Buku Atas Pengalihan Harta Dalam Rangka Penggabungan,
Peleburan, atau Pemekaran Usaha diatur sebagai berikut:

• Wajib Pajak yang melakukan merger dapat menggunakan nilai buku.


• Merger meliputi penggabungan usaha atau peleburan usaha
• Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih Wajib
Pajak Badan yang modalnya terbagi atas saham dengan cara tetap
mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha yang tidak
mempunyai sisa kerugian atau mempunyai sisa kerugian yang lebih kecil.
• Sisa kerugian adalah sisa kerugian fiskal dan komersial.
• Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih Wajib Pajak
Badan yang modalnya terbagi atas saham dengan cara mendirikan badan
usaha baru.
• Wajib Pajak yang melakukan pemekaran usaha yang dapat menggunakan
nilai buku adalah :

- Wajib Pajak yang belum Go Public yang akan melakukan penawaran


umum perdana (Initial Public Offering);
- atau wajib Pajak yang telah Go Public sepanjang seluruh badan usaha
hasil pemekaran melakukan penawaran umum perdana (Initial Public
Offering).

• Pemekaran usaha adalah pemisahan satu Wajib Pajak Badan yang


modalnya terbagi atas saham menjadi dua Wajib Pajak Badan atau lebih
dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian
harta dan kewajiban kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan
tanpa melakukan likuidasi badan usaha yang lama.
• Wajib Pajak wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. mengajukan
permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan alasan
dan tujuan melakukan merger dan pemekaran usaha; b. melunasi seluruh

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait; dan c. memenuhi
persyaratan tujuan bisnis (business purpose test).

Pelunasan seluruh utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b


wajib dipenuhi oleh Wajib Pajak yang mengalihkan harta dan Wajib Pajak yang
menerima harta, termasuk utang pajak dari cabang atau perwakilan yang
terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak dilokasi.

Wajib Pajak memenuhi persyaratan business purpose test apabila :

a. tujuan utama dari merger dan pemekaran usaha adalah menciptakan


sinergi usaha yang kuat dan memperkuat struktur permodalan serta tidak
dilakukan untuk penghindaran pajak;
b. kegiatan usaha Wajib Pajak yang mengalihkan harta masih berlangsung
sampai dengan tanggal efektif merger;
c. kegiatan usaha Wajib Pajak yang mengalihkan harta sebelum merger
terjadi wajib dilanjutkan oleh Wajib Pajak yang menerima pengalihan
harta paling singkat 5 (lima) tahun setelah tanggal efektif merger;
d. kegiatan usaha Wajib Pajak yang menerima harta dalam rangka merger
tetap berlangsung paling singkat 5 (lima) tahun setelah tanggal efektif
merger;
e. kegiatan usaha Wajib Pajak yang menerima harta dalam rangka
pemekaran usaha wajib berlangsung paling singkat 5 (lima) tahun setelah
tanggal efektif pemekaran usaha; dan
f. harta yang dimiliki oleh Wajib Pajak yang menerima harta setelah
terjadinya merger atau pemekaran usaha tidak dipindahtangankan oleh
Wajib Pajak yang menerima harta paling singkat 2 (dua) tahun setelah
tanggal efektif merger atau pemekaran usaha.

3.4. Hibah bantuan, sumbangan, warisan

a. Yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a


Nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa buku harta
dari pihak yang melakukan penyerahan. Apabila Wajib Pajak tidak

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

menyelenggarakan pembukuan sehingga nilai sisa buku tidak diketahui,


maka nilai perolehan atas harta ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

b. Yang tidak memenuhi syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a


Nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah harga pasar.

4. Penilaian Persediaan

Pada umumnya terdapat 3 (tiga) golongan persediaan barang, yaitu


barang jadi atau barang dagangan, barang dalam proses produksi, bahan baku
dan bahan pembantu. Persediaan dan pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan
secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh
pertama.
Ketentuan pada ayat ini mengatur bahwa penilaian persediaan barang
hanya boleh menggunakan harga perolehan. Penilaian pemakaian persediaan
untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata
atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama ("first-in
firstout atau disingkat FIFO"). Sesuai dengan kelaziman, cara penilaian tersebut
juga diberlakukan terhadap sekuritas.
Contoh :
1. Persediaan Awal 100 satuan @ Rp 9,00
2. Pembelian 100 satuan @ Rp 12,00
3. Pembelian 100 satuan @ Rp 11,25
4. Penjualan/dipakai 100 satuan
5. Penjualan/dipakai 100 satuan

Penghitungan harga pokok dan nilai persediaan dengan menggunakan cara rata-rata
misalnya sebagai berikut :
No. Didapat Dipakai Sisa/Persediaan
1. 100s @Rp 9,00 = Rp 900
2. 100s @Rp 12,00 = Rp 1.200
200s @Rp 10,50 =
Rp 2.100
3. 100s @Rp 11,25 = Rp 1.125
300s @Rp 10,75 =
Rp 3.225
4. 100s @Rp 10,75 = Rp 1.075
200s @Rp 10,75 = Rp 2.150 5.
100s @Rp

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

10,75 = Rp 1.075 100s @Rp


10,75 = Rp 1.075

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan


menggunakan cara FIFO misalnya sebagai berikut :
No. Didapat Dipakai Sisa/Persediaan
1. - 100s @Rp 9,00 =
Rp 900
2. 100s @Rp 12,00 = Rp 1.200 100s @Rp
9,00 = Rp 900
100s @Rp 12,00 = Rp 1.200
3. 100s @Rp 11,25 = Rp 1.125 100s @Rp
9,00 = Rp 900
100s @Rp 12,00 = Rp.1.200
100s @Rp 11,25 = Rp 1.125
4. 100s @Rp 9,00 = Rp 900 100s @Rp 12,00 = Rp 1.200
100s @Rp 11,25 = Rp 1.125
5. 100s @Rp 12,00 = Rp 1.200 100s @Rp 11,25 = Rp 1.125

Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara penilaian pemakaian persediaan
untuk penghitungan harga pokok tersebut, maka untuk tahun-tahun
selanjutnya harus digunakan cara yang sama.

5. Penyusutan dan Amortisasi

Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta


tak berwujud serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari
1(satu) tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi,
sebagaimana diatur dalam pasal 11 dan 11 A Undang-undang Pajak
Penghasilan.
5.1. Penyusutan

Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa


manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya dengan cara
mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut
melalui penyusutan.

a. Metode dan dasar penyusutan


Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan ini adalah:

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1) dalam bagian - bagian yang sama besar selama masa manfaat yang
ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus atau straight-line
method); atau
2) dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku (metode saldo menurun atau declining
balance method ).
Dalam hal Wajib Pajak memilih menggunakan metode saldo menurun, nilai
sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus.

Pengeluaran–pengeluaran untuk memperoleh tanah berstatus hak milik,


untuk memperoleh tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha dan hak
pakai yang pertama kali, tidak boleh disusutkan, kecuali apabila tanah tersebut
dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan
dengan syarat nilai tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk
memperoleh penghasilan, misalnya tanah dipergunakan untuk perusahaan
genteng, perusahaan keramik atau perusahaan batu bata .
Yang dimaksud dengan pengeluaran untuk memperoleh tanah yang
berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha dan hak pakai yang pertama kali
adalah biaya perolehan tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha
atau hak pakai dari pihak ketiga dan pengurusan hak-hak tersebut dari instansi
yang berwenang untuk pertama kalinya Sedangkan biaya perpanjangan hak
guna bangunan, hak guna usaha dan hak pakai diamortisasikan selama jangka
waktu hak-hak tersebut.

b. Saat dimulainya penyusutan


Saat dimulainya penyusutan pada bulan dilakukannya pengeluaran untuk
memperoleh harta berwujud tersebut atau pada bulan selesainya pengerjaan
suatu harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro-rata.

Contoh:
Seperangkat komputer dibeli 5 Pebruari 2008, perhitungan bulan untuk
keperluan penyusutan tahun 2008 adalah 11 bulan.demikian pula apabila

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

seperangkat komputer dibeli tidak pada tanggal 5 Pebruari 2008, tetapi tanggal
26 Pebruari 2008, perhitungan bulan untuk keperluan penyusutan tahun 2005
adalah sama, yaitu 11 bulan.

Saat mulainya penyusutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut


digunakan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan, tetapi harus
mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Direktur Jenderal Pajak.Yang
dimaksud dengan mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat
mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya
penghasilan.

c. Masa manfaat dan tarif


Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta
berwujud ditetapkan sebagai berikut :

Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Tarif Penyusutan


Garis Lurus Saldo
Menurun
I. Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
Kelompok 2 8 tahun 16 12,5 % 25 %
Kelompok 3 tahun 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %
II. Bangunan
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak Permanen 10 tahun 10% -
Kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan. ”Jenis-jenis harta yang termasuk dalam
kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009;.
PER55/PJ/2009.

Contoh penyusutan bangunan:


Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah Rp1.000.000.000,00.
Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2008 dan selesai untuk digunakan pada
bulan April 2009.
Penyusutan atas harga perolehan bangunan gedung tersebut dimulai pada bulan April
tahun pajak 2009. Bangunan termasuk kelompok bangunan permanen.Tarif
ditetapkan 5%, dan masa manfaatnya 20 tahun.
Penyusutan tahun 2008 : 9/12 x 5% x Rp1.000.000.000,00 = Rp37.500.000,00.
Penyusutan tahun 2009 : 5% x Rp1.000.000.000,00 = Rp.50.000.000,00

Contoh penyusutan harta berwujud bukan bangunan


Satu unit mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2008.
Harga perolehan sebesar Rp100.000.000,00.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan tentang penetapan. Jenis-jenis harta


yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan
penyusutan mesin kantor tersebut termasuk kelompok 1. Berdasarkan tabel
penyusutan harta kelompok 1, masa manfaatnya 4 (empat) tahun, tarif penyusutan
apabila menggunakan metode saldo menurun 50%, dan apabila menggunakan
metode garis lurus 25%. Penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut :

Apabila menggunakan metode saldo menurun:

Tahun Tarif Penyusutan Rp.- Niali Sisa Buku


,00 Rp.-,00
Harga perolehan 100.000.000

2008 6/12 x 50% 25.000.000 75.000.000


2009 50% 37.500.000 37.500.000
2010 50% 18.750.000 18.750.000
2011 50% 9.375.000 9.375.000
2012 Disusutkan 9.375.000 0
sekaligus
Apabila menggunakan metode garis lurus
Tahun Tarif Penyusutan Rp.- Niali Sisa Buku
,00 Rp.-,00
Harga perolehan 100.000.000
6
2008 /12 x 25% 12.500.000 87.500.000
2009 25% 25.000.000 62.500.000
2010 25% 25.000.000 37.500.000
2011 25% 25.000.000 12.500.000
6/
2012 12 x 25% 12.500.000 0

Apabila terjadi pengalihan harta, seperti penjualan, sehingga harta tersebut


pada akhir bulan penjualan tidak lagi dilakukan penyusutan, maka o jumlah nilai
sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dan o jumlah harga jual
atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai
penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut.
Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta, seperti penjualan, musibah
kebakaran, kecelakaan yang menyebabkan harta perusahaan tersebut
dikeluarkan dari perusahaan.
o jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian, dan
o jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh
dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta
tersebut. Dalam hal hasil penggantian asuransi yang akan diterima jumlahnya

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian, maka dengan


persetujuan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar kerugian dibukukan
sebagai beban masa kemudian tersebut.

Contoh
PT. PJT yang bergerak dibidang perdagangan besar alat tulis kantor, dalam laporan
keuangannya tahun 2008 memiliki data aktiva antara lain sebagai berikut : Perabot
kantor dibeli awal tahun 2004 seharga Rp. 150.000.000,00 secara akuntansi
taksiran umur 6 tahun, taksiran niali residu 10 % dari harga perolehan.
Mesin kantor dibeli awal tahun 2006 seharga Rp100.000.000,00 taksiran umur 5
tahun taksiran nilai residu Rp5.000.000,00. Pada tanggal 20 Desember 2008. Mesin
kantor tersebut dijual tunai Rp 45.000.000,00 dan pada tanggal yang sama dibeli
mesin kantor baru seharga Rp120.000.000,00 taksiran umur 4 tahun dan taksiran
nilai residu 10% dari harga perolehan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 520/KMK.04/2000 dan Nomor
138/KMK.03/2002 tentang Jenis-jenis Harta yang termasuk dalam Kelompok harta
Berwujud bukan Bangunan untuk Keperluan Penyusutan, Perabot kantor, termasuk
kelompok harta golongan 2, Mesin kantor, termasuk kelompok harta golongan 1.
Penyusutan fiskal untuk kelompok bukan bangunan dengan metode garis lurus.
Perhitungan penyusutan fiskal sebagai berikut :
a) Perabot Kantor termasuk harta kelompok 2, metode penyusutan garis lurus, tarif
12,5%. Penyusutan setiap tahun sebesar 12,5% x Rp150.000.000,00 = Rp
8.750.000,00.
b) Mesin Kantor termasuk harta kelompok 1, metode penyusutan garis lurus, tarif
25%
Penyusutan pertahun = 25% x Rp100.000.000,00 = Rp25.000.000,00

Harga jual mesin Rp 45.000.000,00


NSBF Rp 27.083.334,00
Laba Penjualan Rp 17.916.666,00

Mesin Kantor Lama Penyusutan Fiskal


2006 Rp25.000.000,00
2007 Rp25.000.000,00
2008 Rp22.916.666,00
Akumulasi Penyusutan Rp72.916.666,00
Penyusutan fiskal mesin lama tahun 2008 = 25% x Rp100.000.000,00 x 11/12 = Rp
22.916.666,00
Penyusutan fiskal mesin baru tahun 2008 = 25% x Rp120.000.000,00 x 1/12 = Rp
2.500.000,00

Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b Undang-undang Pajak
Penghasilan, yang berupa harta berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta
tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.
Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva berdasarkan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 Undang-undang Pajak
Penghasilan, maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan
penilaian kembali aktiva tersebut.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

5.2. Amortisasi

Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan


pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak
guna usaha, dan hak pakai ,dan muhibah ( goodwill) yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagian-bagian yang
sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat,
yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran
tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi
sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas.
Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk
perpanjangan hak-hak atas tanah (seperti hak guna usaha, hak guna bangunan
dan hak pakai) dan muhibah ( goodwill ) yang mempunyai masa manfaat lebih
dari satu tahun, diamortisasi dengan metode:
a. dalam bagian-bagian yang sama setiap tahun selama masa manfaat, atau;
b. dalam bagian-bagian yang menurun setiap tahun dengan cara menerapkan
tarif amortisasi atas nilai sisa buku.
Khusus untuk amortisasi harta tak berwujud yang menggunakan metode saldo
menurun, pada akhir masa manfaat nilai sisa buku harta tak berwujud atau
hakhak tersebut diamortisasi sekaligus.
Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran,sehingga amortisasi
pada tahun pertama dihitung secara pro-rata a. Metode amortisasi
Terdapat tiga metode amortisasi dalam menghitung pajak penghasilan, yaitu
metode garis lurus, metode saldo menurun dan metode satuan produksi.
Metode amortisasi yang digunakan terhadap pengeluaran untuk memperoleh
harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya, pengeluaran untuk biaya pendirian
dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dan pengeluaran yang dilakukan
sebelum operasi komersial, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun, adalah metode garis lurus dan saldo menurun. Sedangkan metode satuan
produksi digunakan untuk amortisasi terhadap pengeluaran untuk memperoleh
hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari (satu) tahun
di bidang penambangan minyak dan gas bumi, pengeluaran untuk memperoleh

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

hak pengusahaan hutan,dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam
lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.
Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial,
adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial, misalnya biaya
studi kelayakan dan biaya produksi percobaan yang mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisir, selanjutnya pembebanannya melalui
amortisasi. Sedangkan biaya operasional yang sifatnya rutin, seperti gaji
pegawai, biaya rekening listrik dan telpon, dan biaya kantor lainnya tidak boleh
dikapitalisir tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.
Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase
amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan
antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang
bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi
di lokasi tersebut yang dapat diproduksi. Apabila ternyata jumlah produksi yang
sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa
pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain, maka atas sisa
pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang
bersangkutan.
Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain
minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, atau hasil alam lainnya seperti
hak pengusahaan hasil laut, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun, dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi paling tinggi
20% setahun.

b. Masa manfaat dan tarif amortisasi


Untuk penghitungan amortisasi harta tak berwujud dibagi kedalam 4 (empat)
kelompok sebagai mana terlihat pada tabel dibawah ini
Kelompok Harta Tak Tarip Amortisasi
Berwujud Masa Manfaat Garis Lurus Saldo menurun
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
Kelompok 2 8 tahun 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %
Tabel tersebut diatas selain dipergunakan untuk penghitungan amortisasi
terhadap pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

lainnya, juga dipergunakan untuk penghitungan amortisasi terhadap pengeluaran


biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dan amortisasi
terhadap pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
Penentuan masa manfaat dan tarif amortisasi atas pengeluaran harta tak
berwujud dimaksudkan untuk memberikan keseragaman bagi Wajib Pajak dalam
melakukan amortisasi. Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan
metode yang dipilihnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan
masa manfaat yang sebenarnya dari tiap harta tak berwujud. Tarif amortisasi
yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat sebagaimana yang
diatur dalam ketentuan ini. Untuk harta tidak berwujud yang masa manfaatnya
tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada, maka Wajib Pajak
menggunakan masa manfaat yang terdekat .
Misalnya harta tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6
(enam) tahun dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun
atau 8 (delapan) tahun. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5 (lima) tahun,
maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok
masa manfaat 4 (empat) tahun.

Contoh Amortisasi mengunakan metode garis lurus


Kontrak kerja hak penggunaan merk dagang selama 5 tahun. Biaya yang
dikeluarkan untuk pengunaan merk dagang tersebut sebesar Rp
500.000.000,00, Masa manfaat yang ditetapkan sebagaimana tercantum
pada tabel masa manfaat dan tarif penyusutan adalah 4 tahun, 8 tahun, 16
tahun dan 20 tahun. Masa manfaaf 5 (lima) tahun dekat dengan 4 (empat)
tahun, maka untuk keperluan amortisasinya penggunaan merk dagang
dimasukkaan dalam harta kelompok 1. Apabila wajib pajak menggunakan
metode garis lurus, besarnya amortisasi setiap tahun adalah 25% x
Rp500.000.000,00 = Rp125.000.000,00

Contoh Amortisasi mengunakan metode satuan produksi


Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan, yang mempunyai
potensi 10.000.000 ton kayu, sebesar Rp1.500.000.000,00 diamortisasi
sesuai dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun
yang bersangkutan. Jika dalam satu tahun pajak ternyata jumlah produksi
mencapai 3.000.000 ton yang berarti 30% dari potensi yang tersedia, maka
walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai 30% dari jumlah
potensi yang tersedia, besarnya amortisasi yang diperkenankan untuk
dikurangkan dari penghasilan bruto pada tahun tersebut adalah 20% dari
pengeluaran atau Rp300.000.000,00.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud atau hak-hak yang dapat
diamortisasi, maka nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan
sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan
penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut.

Ketentuan khusus yang berkaitan dengan penyusutan /amortisasi

1. Perlakuan PPh atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan Kendaraan


Perusahaan yang sebelumnya tidak dibebankan

Perlakuan PPh atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler dan Kendaraan


Perusahaan ber dasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor
KEP220/PJ/2002 tanggal 18 April 2002,Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
nomor SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002 diatur sebagai berikut :
a. Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan di
pergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari
jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui penyusutan aktiva tetap
kelompok I.
b. Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon
seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan
sebesar 50% dari jumlah biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan
perbaikan dalam tahun pajak yang bersangkutan
c. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan atau perbaikan besar
kendaraan bus,minibus,atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk antar jemput para pegawai ,dapat dibebankan seluruhnya
sebagai biaya perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II .
d. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan bus,minibus,atau
yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput
para pegawai ,dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan dalam
tahun pajak yang bersangkutan
e. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan atau perbaikan besar
kendaraan sedan, atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya
perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva
tetap kelompok II.
f. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan sedan ,atau yang
sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan
sebesar 50% dari jumlah iaya pemeliharaan atau perbikan rutin dalam tahun
pajak yang bersangkutan
g. Apabila atas penghasilan Wajib Pajak yang dapat dibebani biaya-biaya
dikenakan PPh yang bersifat Final atau berdasekan Norma Perhitungan
Khusus,maka pembebanan biaya biaya tersebut telah termasuk dalam
penghitungan PPh Final atau berdasarkan Norma Peghitungan khusus
h. Atas biaya biaya yang dapat dibebankan tersebut tidak merupakan penghasilan
bagi para pegawai perusahaan yang bersangkutan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

2. Perlakuan PPh atas biaya perolehan Perangkat Lunak (Software) Komputer

Perlakuan PPh atas pengeluaran/ biaya perolehan Perangkat Lunak (Software)


Komputer Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-316/PJ./ 2002 tanggal
17 Juni 2002, yang mulai berlaku pada tahun pajak 2002, diatur sebagai berikut :
a. Perangkat lunak komputer merupakan harta tak berwujud yang mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun dan termasuk dalam kelompok I ,Pasal 11
A ayat (2) Undang undang PPh
b. Perangkat lunak komputer berupa program aplikasi umum diperlakukan
sebagai pengeluaran atau biaya operasional rutin.
c. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer
berupa program aplikasi umum yang dimiliki dan digunakan untuk
mendapatkan ,menagih dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak
berdasarkan ketentuan umum UU Pajak Penghasilan,pembebanannya
dilakukan sekaligus dalam bulan pengeluaran
d. Dalam hal program aplikasi umum tersebut diperoleh sebagai bagian dari
harga pembelian perangkat keras komputer,maka pembebanannya sudah
termasuk dalam penyusutan perangkat keras komputer tersebut ( kelompok I).
e. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer
berupa program aplikasi khusus yang dimiliki dan digunakan untuk
mendapatkan ,menagih dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak
berdasarkan ketentuan umum UU Pajak Penghasilan,pembebanannya
dilakukan melalui amortisasi harta tak berwujud ( kelompok I)
f. Dalam hal pengeluaran/biaya upgrade program aplikasi khusus ,
pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer
pengeluaran tersebut terlebih dahulu ditambahkan pada nil;ai sisa buku fiskal
yang masih ada dan amortisasinya dilakukan dengan masa manfaat
baru/penuh terhitung mulai bulan dilakukan upgrade.
g. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer
berupa program aplikasi khusus yang diperoleh sebelum berlakunya
Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini,sepanjang belum dibebankan atau baru
dibebankan sebagian melalui amortisasi,dapat diamortisasi mulai tahun pajak
2002 berdasarkan sisa masa manfaat untuk kelompok I
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 249/PMK.03/2008 Tentang Penyusutan
atas pengeluaran untuk memeperoleh harta berwujud Yang dimiliki dan
digunakan dalam bidang usaha tertentu

Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang usaha tertentu dapat melakukan
penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dalam
bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah
ditentukan bagi harta tersebut.
 Bidang usaha tertentu meliputi
- bidang usaha kehutanan, yaitu bidang usaha hutan, kawasan hutan, dan
hasil hutan yang tanamannya dapat berproduksi berkali-kali dan
baru menghasilkan setelah ditanam lebih dari1 (satu) tahun;
- bidang usaha perkebunan tanaman keras, yaitu bidang usaha
perkebunan yang tanamannya dapat berproduksi berkali-kali dan baru
menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 (satu) tahun;
- bidang usaha peternakan, yaitu bidang usaha peternakan dimana ternak
dapat berproduksi berkali-kali dan baru dapat dijual setelah dipelihara
sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

 Harta berwujud berupa aktiva tetap yang dimiliki dan digunakan serta
merupakan komoditas pokok dalam bidang usaha tertentu, yaitu:
- bidang usaha kehutanan, meliputi tanaman, kehutanan, kayu;
- bidang usaha industri perkebunan tanaman keras meliputi tanaman
keras; - bidang usaha peternakan meliputi ternak, termasuk ternak sapi
pejantan.
• Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dimaksud dimulai
pada bulan produksi komersial yaitu bulan dimana penjualan mulai dilakukan.
Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 termasuk biaya pembelian bibit, biaya untuk membesarkan dan
memelihara bibit.
• Tidak termasuk sebagai pengeluaran adalah biaya yang berhubungan dengan
tenaga kerja.
• Dalam hal harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 dijual, maka
harga jual merupakan penghasilan dan nilai sisa buku merupakan kerugian
.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pasal 10 PP 94 Tahun 2010

Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8)
Undang--Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sepanjang dapat dibuktikan Pajak
Masukan tersebut:
a. benar-benar telah dibayar; dan
b. berkenaan dengan pengeluaran yang berhubungan dengan kegiatan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

Berdasarkan Pasal 9 ayat (8) UU PPN, Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan adalah:
- perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak
- perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan
langsung dengan kegiatan usaha
- perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;
- pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari
luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak;
- perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) atau
tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena
Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak
- pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari
luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6);
- perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih
dengan penerbitan ketetapan pajak
- perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan
pada waktu dilakukan pemeriksaan
- perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum
Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).

Pajak Masukan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sehubungan dengan
pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan/atau harta tidak berwujud serta biaya
lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dikapitalisasi
dengan pengeluaran atau biaya tersebut dan dibebankan melalui penyusutan atau
amortisasi.
C. LATIHAN:

1. apa yang dimaksud dengan harga perolehan


2. Apa yang dimaksud dengan hubungan istimewa, bagaimana bisa terjadi
dan pengaruhnya terhadap penilaian harta.
3. Bagaimana cara melakukan penilaian terhadap persediaan
4. Bagaimana cara melakukan penyusutan terhadap harta berwujud
5. Bagaimana cara melakukan amortisasi terhadap harta tidak berwujud

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

6. Bagaimana melakukan amortisasi terhadap hak penambangan dengan


menggunakan metode satuan produksi.

D. RANGKUMAN:
Penentuan nilai perolehan harta untuk menentukan besarnya penghasilan
kena pajak harus berdasarkan prinsip kewajaran dan kelaziman (arm’s length
principle).Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penetapan nilai harga
perolehan (transfer pricing) adalah adanya hubungan istimewa. Hubungan
istimewaterjadi karena Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau
tidak langsung paling rendah 25 % pada Wajib Pajak lain, atau Wajib Pajak
menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah
penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung atauTerdapat
hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
dan atau ke samping satu derajat.
Penilaian harta dil;akukan dalam rangka menghitung penghasilan
sehubungan dengan penggunaan harta dalam perusahaan, menghitung
keuntungan atau kerugian apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta dan
penghitungan dari penjualan barang dagangan. Dalam jual beli yang dipengaruhi
hubungan istimewa, bagi pihak pembeli nilai perolehannya adalah jumlah yang
seharusnya dibayar sedangkan bagi penjual adalah nilai yang seharusnya
diterima.Dalam hal tidak dipengaruhi hubungan istimewa. harga perolehan
perolehan harta bagi pihak pembeli adalah harga yang sesungguhnya dibayar
dan harga penjualan bagi pihak penjual adalah harga yang sesungguhnya
diterima.
Harta yang diperoleh berdasarkan transaksi tukar-menukar dengan harta
lain, nilai perolehan atau nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya
dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. Demikian juga dalam hal
terjadi pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan,
peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha adalah jumlah
yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar, kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan.
Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan


yang didapat pertama ("first-in first-out atau disingkat FIFO").

Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa


manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya dengan cara
mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut
melalui penyusutan. Metode penyusutan yang dibolehkan adalah dalam bagian -
bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta
tersebut (metode garis lurus atau straight-line method); atau dalam bagianbagian
yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku
(metode saldo menurun atau declining balance method
Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan
pengeluaran lainnya dilakukan dengan metode garis lurus atau saldo menurun
dengan taat azas. pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus
Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase
amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan
antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang
bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi
di lokasi tersebut yang dapat diproduksi. Apabila ternyata jumlah produksi yang
sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa
pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain, maka atas sisa
pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang
bersangkutan.

E. TEST FORMATIF :

1. Harga wajar adalah :


a. Harga perolehan bagi pembeli dan harga penyerahan bagi penjual.
b. Harga perolehan atau harga penyerahan yang tidak dipengauhi
hubungan istimewa

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

c. Harga beli bagi pembeli dan harga jual bagi penjual.


d. Harga yang terjadi sebagai kesepakatan antara penjual dan pembeli.

2. Indikasi adanya hubungan istimewa adalah:


a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung
paling rendah 25 % pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib
Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% pada dua Wajib pajak atau
lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib
Pajak atau lebih yang disebut terakhir; atau
b. Adanya kesamaan produk yang dihasilkan, saluran distribusi dan model
manajemen yang dterapkan wajib pajak.
c. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib
Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun
tidak langsung;
d. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat.

3. PT. Duta Wahana menukarkan 1 unit bus yang dimilikinya dengan 3 unit
minibus dari CV. Mobilindo sebuah perusahaan perdagangan mobil bekas.
Harga perolehan Bus adalah Rp. 1.000.000.000,- dan telah disusutkan
secara fiskal sebesar Rp. 720.000.000,- Harga 1 unit minibus adalah Rp.
130.000.000,- dan CV Mobilindo membeli minibus tersebut dengan harga
100.000.000 per unit.
Laba dan rugi dari transaksi di atas adalah:
a. Keuntungan pertukaran buat PT wahana adalah Rp. 110.000.000,- dan
laba CV. Mobilindo adalah Rp. 330.000.000,-
b. Keuntungan pertukaran buat PT wahana adalah Rp 280.000.000,- dan
laba cv. Mobilindo adalah Rp. 90.000.000,-
c. Keuntungan pertukaran buat PT wahana adalah Rp. 110.000.000,- dan
laba CV. Mobilindo adalah Rp. 90.000.000,-
d. Keuntungan pertukaran buat PT wahana adalah Rp. 280.000.000,- dan
laba CV. Mobilindo adalah Rp. 90.000.000,-

141 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

4. PT. AC dan PT. BD melakukan peleburan dan membentuk badan baru,


yaitu PT. ABCD. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan
tersebut adalah sebagai berikut:
PT. AC PT. BD
Nilai sisa buku Rp 200.000.000,00 Rp 300.000.000,00
Harga pasar Rp 300.000.000,00 Rp 450.000.000,00
Pernyataan yang tidak tepat sehubungan dengan transaksi di atas adalah:

a. PT. AC mendapat keuntungan sebesar Rp100.000.000,00


b. PT. BD mendapat keuntungan sebesar Rp150.000.000,00
c. PT. ABCD mendapat keuntungan sebesar Rp250.000.000,00
d. PT. ABCD membukukan harta Rp750.000.000,00

5. Pengalihan harta rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran usaha


diatur sebagai berikut dapat menggunakan nilai buku dengan syarat
a. Wajib Pajak yang belum Go Public yang akan melakukan penawaran
umum perdana (Initial Public Offering);
b. Wajib Pajak yang telah Go Public sepanjang seluruh badan usaha hasil
pemekaran melakukan penawaran umum perdana
c. Wajib pajak belum go public mengakuisisi peusahaan lain, dan
membentuk badan baru yang go publik;
d. Wajib Pajak go publik memekarkan salah satu unit usahanya menjadi satu
anak perusahaan.
.
6. Wajib Pajak harus memenuhi persyaratan berikut, jika akan menggunakan
nilai buku dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran usaha,
kecuali:
a. mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan
melampirkan alasan dan tujuan melakukan merger dan pemekaran usaha;
b. melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait; dan
c. memenuhi persyaratan tujuan bisnis (business purpose test).
d. Melakukan revaluasi aktiva tetap
7. Metode penilaian persediaan barang boleh digunakan dalam penghitungan
dipergunakan dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah:

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

a. metode penilaian rata-rata dan cara mendahulukan persediaan yang


didapat pertama, dan dapat diterapkan sesuai kondisi wajib pajak.
b. metode dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama,
atau mendahulukan yang terakhir, sepanjang dilakukan dengan taat azas
dan konsisten.
c. metode penilaian rata-rata atau cara mendahulukan persediaan yang
didapat pertama, dan diterapkan secara taat azas dan konsisten.
d. metode penilaian rata-rata atau cara mendahulukan persediaan yang
didapat pertama atau persediaan yang didapat terakhir, sepanjang
dilakukan dengan taat azas dan konsisten.

.
8. Jika persediaan awal 25 unit @ Rp. 240 : Pembelian April 100 unit @ Rp.
250 ; Oktober 150 unit @ Rp. 260 ; Nopember 125 unit @ 275 ; dan
Penjualan dalam periode Mei 75 unit @ Rp. 300; Nopember 175 unit @ Rp.
315 ; Desember 100 unit @ Rp. 325. maka nilai persediaan akhir fiskal
adalah ; (penilaian persediaan fiscal FIFO) a. Rp. 13.750,00
b. Rp. 12.831,00
c. Rp. 13.047,00
d. Rp. 13.060,00

9. PT. Sarana Jaya Textile membangun sebuah gedung pabrik baru yang
dimulai dibangun bulan Maret 2007. Bangunan tersebut operasikan sejak
tanggal 1 Juli 2009. Harga perolehan bangunan berdasarkan kontrak
dengan perusahaan konstruksi yang melaksanakan pembangunan tersebut
adalah Rp. 3.500.000.000,- Berapa biaya penyusutan untuk bangunan pada
tahun 2009 dan tahun 2010?
a. tahun 2009 Rp. 87.500.000,- dan tahun 2010 Rp. 175.000.000,-
b. tahun 2009 Rp. 175.000.000,- dan tahun 2010 Rp. 175.000.000,-
c. tahun 2009 Rp. 87.500.000,- dan tahun 2010 Rp. 87.500.000,-
d. tahun 2009 Rp. 175.000.000,- dan tahun 2010 Rp. 350.000.000,-

10. Satu unit mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2008.
Harga perolehan sebesar Rp100.000.000,00. Berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan untuk keperluan penyusutan mesin kantor tersebut

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

termasuk kelompok 1. Dan disusutkan dengan metode saldo menurun.


Berapa biaya penyusutan pada tahun 2010? a. Rp.18.750.000,-
b. Rp. 37.500.000,-
c. Rp. 75.000.000,-
d. Rp. 80,000.00,-
11. PT. Cantikarya membayar royalty atas pemakaian sebuah merk hotel
ternama “Hilitony Hotel” sebesar Rp 1.500.000.000,- selama 15 tahun sejak
Bulan April 2010. Royalty tersebut diamortisasikan dengan menggunakan
saldo menurun. Berapa biaya amortisasi pada tahun 2010? a. Rp.
187.500.000,-
b. RP. 93.750.000,-
c. Rp. 46.875.000,-
d. Rp. 140.625.000,-

12. PT. Anaktambang pada tahun 2009 memperoleh hak atas penambangan
Batu Kapur pada sebuah pegunungan kapur di Jawa Barat. Pengeluaran
untuk memperoleh hak penambangan kapur tersebut adalah Rp,
1.250.000.000,- Perkiraan potensi batu kapur yang dapat ditambang adalah
20.000.000 ton. Pada tahun 2011 berhasil mengangkat batu kapur
5.000.000 ton Berapa biaya amortisasi atas biaya perolehan hak
penambangan tahun 2011? a. Rp. 312.500.000,-
b. Rp. 250.000.000,-
c. Rp. 234.375.000,-
d. Rp. 156.250.000,-

13. Pada tanggal 20 Juli 2010 PT. Prikitiew membeli sebuah mobil sedan untuk
kendaraan dinas yang diserahkan kepada Tn. Suleevan sebagai kedaraan
dinas sehari-hari. Harga perolehan mobil tersebut adalah Rp 300.000.000
belum termasuk PPN 10% dan PPn BM 30%. Kendaraan ini termasuk
golongan II dan disusutkan dengan metode saldo menurun. Berapa biaya
penyusutan yang dapat dibebankan sebagai biaya pada tahun 2011 atas
perolehan mobil tersebut.
a. Rp. 91.875.000
b. Rp. 68.906.250
c. Rp. 52.500.000

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

d. Rp. 45.937.500

14. PT. Ariratch membeli seperangkat komputer pada bulan April 2011 dengan
harga perolehan Rp. 40.000.000,- dan sofware yang ter-install didalamnya
seharga 20.000.000,- Komputer termasuk sebagai aktiva golongan I dan
disusutkan dengan metode saldo menurun. Berapa biaya penyusutan
dan/atau amortisasi tahun 2010?
a. Biaya penyusutan komputer termasuk soft ware 30.000.000
b. Biaya penyusutan komputer termasuk software 22.500.000
c. Biaya Penyusutan komputer Rp. 15.000.000 dan amortisasi soft ware
7.500.000,-
d. Biaya Penyusutan komputer Rp. 20.000.000 dan amortisasi soft ware
10.000.000,-

15. Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan dapat dibebankan sebagai
biaya. Berikut adalah pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan dan dapat
dibebankan sebagai biaya kecuali:
a. Pajak Masukan yang dibayar sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak
b. Pajak Masukan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan
kegiatan usaha;
c. Pajak Masukan atas perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor
berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan
atau disewakan;
d. Pajak Masukan perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang
Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Jumlah jawaban yang benar


Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan
ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 3 ini.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

VII KEGIATAN BELAJAR 6

PENGGABUNGAN DAN PEMISAHAN PENGHASILAN DALAM


KELUARGA DAN
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK BAGI WAJIB PAJAK ORANG
PRIBADI

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mempelajari materi dalam kegiatan belajar ini, diharapkan peserta diklat
memahami dan mampu menjelaskan tentang penggabungan dan pemisahan
penghasilan dalam keluarga, Penghasilan wanita yang menikah, Istri yang
menjalankan kewajiban perpajakan secara terpisah, penghasilan istri dan anak
pada usaha keluarga, dan penghasilan tidak kena pajak.

B. Uraian materi, contoh dan non contoh

1. Penggabungan dan Pemisahan Penghasilan

Undang-undang Pajak Penghasilan memandang bahwa pada dasarnya


keluarga merupakan satu kesatuan, penghasilan keluarga suami, istri serta anak
yang belum dewasa adalah satu kesatuan ekonomis. Tanggung jawab atas
pemenuhan kewajiban pajak atas keseluruhan penghasilan terletak pada kepala
keluarga (suami atau ayahnya). Sebagai satu kesatuan ekonomis, maka seluruh
penghasilan yang ada dalam keluarga tersebut harus digabungkan. Penghasilan
dapat berasal dari usaha keluarga, penghasilan suami, penghasilan istri dan
penghasilan anak yang masih menjadi tanggungan. Kerugian usaha yang terjadi
dalam keluarga tersebut dapat dkurangkan terhadap keseluruhan penghasilan
keluarga.
Karena satu keluarga merupakan satu entitas ekonomi, hanya perlu satu
kewajiban subjektif sehingga hanya memerlukan satu nomor pokok wajib pajak.
Akan tetapi karena suatu alasan yang dikehendaki bersama atau karena
keputusan pengadilan, maka dalam suatu keluarga dapat terjadi lebih dari satu
subjek pajak.

2. Penghasilan Wanita Kawin.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam pemenuhan kewajiban pajaknya dapat dibedakan menjadi 2 kondisi, yaitu


kondisi umum dan kondisi khusus.
a. Kondisi Umum
Penghasilan wanita yang telah kawin diatur dalam pasal 8 ayat (1) Undang undang
Pajak Penghasilan, yang berbunyi sebagai berikut :
Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal
tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yang
berasal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan dianggap
sebagai penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan tersebut
semata-mata diterima atau diperoleh dari satu pemberi kerja yang telah
dipotong pajak berdasarkan ketentuan pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak
ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota
keluarga lainnya [Pasal 8 ayat (1)]
Keadaan yang menentukan adalah keadaan pada awal tahun pajak, yaitu
tanggal 1 Januari. Kewajiban pajak objektif wanita yang sudah kawin sejak awal
tahun pajak beralih ke suaminya. Sedangkan kewajiban pajak subjektifnya masih
tetap ada. Jika pada awal tahun pajak wanita sudah kawin, maka penghasilan
atau kerugian wanita itu digabungkan dengan penghasilan atau kerugian suami,
dan yang dikenakan pajak adalah suami atas penghasilan atau kerugian yang
digabungkan tersebut.
Awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, berkaitan dengan
masalah kewajiban pajak subjektif. Bagi Orang Pribadi yang kewajiban pajak
subjektifnya dimulai sejak lahir, perkawinan setelah permulaan tahun pajak atau
masa pajak tidak akan merubah pengenaan pajak yang sedang berlaku.

Contoh
Suami istri masing-masing mempunyai usaha sendiri sendiri. Kawin tanggal 1
Mei 2005. Untuk tahun pajak 2005 mereka tetap dikenakan pajak sendiri-sendiri
dari penghasilan kegiatan usahanya masing masing.
Tahun 2006 atas penghasilan suami istri digabungkan menjadi satu.
Dalam hal wanita kawin, penghasilan dari pekerjaan yang diterima atau diperoleh
semata mata dari satu pemberi kerja, perlakuan perpajakannya berbeda antara
yang telah dipotong pajak dan yang tidak dipotong pajak ditempat kerja. Untuk
lebih jelasnya, mari kita lihat contoh berikut :

Contoh

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Hastuti, status kawin, bekerja pada Kantor Kedutaan Besar Australia, maka
penghasilan Hastuti tersebut digabungkan dengan penghasilan suaminya,
karena Kantor Kedutaan Besar bukan subjek pajak dan dikecualikan sebagai
pemotong pajak.

Contoh lain yang berbeda dengan Hastuti ,


Ira, status kawin, bekerja pada PT GM industri otomotif, dalam hal ini
penghasilan Ira tidak digabungkan dengan penghasilan suaminya. Karena
walaupun Hastuti dan Ira sama-sama bekerja pada satu pemberi kerja, namun
Hastuti tidak dipotong PPh Pasal 21 oleh Kantor Kedutaan Besar, sedangkan Ira
dipotong PPh Pasal 21 oleh PT GM dan pengenaan pajaknya bersifat final.

Tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami, artinya
bahwa penghasilan istri dari pekerjaan tersebut diperoleh karena yang
bersangkutan bekerja pada perusahaan yang pemberi kerjanya bukan suaminya.

b. Kondisi Khusus
Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila: a.
suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim;
b. dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan.
c. dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban
perpajakannya sendiri .
Dalam hal suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan keputusan hakim ,
penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan pengenaan pajaknya dilakukan
sendiri-sendiri. Namun, apabila suami-isteri mengadakan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan secara tertulis, atau jika isteri menghendaki untuk
menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri, penghitungan pajaknya
dilakukan berdasarkan penjumlahan penghasilan neto suami-isteri dan
masingmasing memikul beban pajak sebanding dengan besarnya penghasilan
neto.

3. Penghasilan Anak yang belum dewasa.


Penghasilan anak yang belum dewasa dari manapun sumber
penghasilannya dan apapun sifat pekerjaannya digabung dengan penghasilan
orang tuanya dalam tahun pajak yang sama. Yang dimaksud dengan anak yang
belum dewasa adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

belum pernah menikah. Apabila seorang anak belum dewasa, yang orang tuanya
telah berpisah, menerima atau memperoleh penghasilan, pengenaan pajaknya
digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya berdasarkan keadaan yang
sebenarnya.

Sebelum UU Nomor 36 Tahun 2008, Penghasilan suami-isteri dikenakan


pajak secara terpisah apabila : Suami-istri telah hidup terpisah;

Dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan


harta dan penghasilan.
Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan
orang tuanya,kecuali penghasilan dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya
dengan usaha orang yang mempunyai hubungan istimewa.

4. Penghitungan Pajak Penghasilan Atas penghasilan suami istri secara terpisah.

Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila terdapat kondisi


bahwa :
a. suami-isteri telah hidup berpisah karena perceraian berdasarkan putusan hakim;
b. dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan.
c. dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban
perpajakannya sendiri.

Kondisi bahwa suami istri yang telah hidup terpisah berdasarkan keputusan
pengadilan, membawa akibat hukum bahwa suami dan istri tersebut tidak lagi
menjadi satu entitas ekonomi, dengan demikian hak dan kewajiban perpajakan
juga tidak lagi menjadi satu. Kewajiban Pajak Penghasilan di laksanakan secara
tersendiri, dan PTKP juga bukanlah suatu kesatuan. Anak yang menjadi
tanggungan ditentukan pada kondisi realita yang sebenarnya, apakah menjadi
tanggungan ayah atau ibu si anak tersebut. Demikian juga jika perlakuan
penghasilan yang diterima atau diperoleh anak yang masih dalam tanggungan,
akan digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya dimana PTKP anak
tersebut diakui.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Kondisi adanya perjanjian pranikah untuk melakukan pisah harta dan jika istri
menghendaki menjalankan kewajiban perpajakannya sendiri, pada dasarnya
dalam keluarga tersebut masih merupakan satu kesatuan ekonomis. hal ini
mengakibatkan perhitungan PTKP dan perhitungan pajak terhutang masih
dilakukan sebagai satu kesatuan. Akan tetapi karena dikehendapi terjadi
pemisahan harta, atau istri akan melakukan kewajiban perpajakan sendiri, maka
setelah pajak terutang dihitung sebagai satu kesatuan, untuk pemenuhan dan
pelunasannya dilakuakn secara proporsional sesuai kontribusi suami dan istri
tersebut dalam memperoleh penghasilan neto. Lebih lanjut mengenai perhitungan
pajak panghasilan atas pemisahan harta akan di bahas lebih lanjut dalam bab
tersendiri.

5. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam dalam negeri mulai
tahun pajak 2009 diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak
yang besarnya per tahun sebesar:
a. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu
rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
b. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan
untuk Wajib Pajak yang kawin;
c. Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu
rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung
dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(1);dan
d. Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan
untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi
tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap
keluarga.

Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang
pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah Penghasilan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Tidak Kena Pajak. Disamping untuk dirinya, kepada Wajib Pajak yang sudah
kawin diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak.
Bagi Wajib Pajak yang isterinya menerima atau memperoleh penghasilan
yang digabung dengan penghasilannya, maka Wajib Pajak tersebut mendapat
tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk seorang isteri sebesar
Rp15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah).
Wajib Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam
garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya, misalnya orang tua,
mertua, anak kandung, anak angkat, diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena
Pajak untuk paling banyak 3 (tiga) orang.
Yang dimaksud dengan “anggota keluarga yang menjadi tanggungan
sepenuhnya” adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan
seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.

Contoh:

Wajib Pajak A mempunyai seorang isteri dengan tanggungan 4 (empat) orang


anak. Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang
sudah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada
hubungannya dengan usaha suami atau anggota keluarga lainnya, besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A adalah
sebesar Rp21.120.000,00 {Rp15.840.000,00 + Rp1.320.000,00 + (3 x
Rp1.320.000,00)}, sedangkan untuk isterinya, pada saat pemotongan Pajak
Penghasilan Pasal 21 oleh pemberi kerja diberikan Penghasilan Tidak Kena Pajak
sebesar Rp15.840.000,00. Apabila penghasilan isteri harus digabung dengan
penghasilan suami, besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan
kepada Wajib Pajak A adalah sebesar Rp36.960.000,00 (Rp21.120.000,00 +
Rp15.840.000,00).

Saat yang menentukan untuk menghitung besarnya penghasilan tidak kena


pajak adalah awal Tahun Pajak atau saat mulainya menjadi subyek pajak dalam
negeri dalam Tahun Pajak.

Catatan:
• Keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus, misalnya
sedarah : orang tua, ,anak kandung,; semenda : mertua , anak tiri.
• Anggota keluarga yang menjadi tanggunan sepenuhnya adalah anggota
keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya
ditanggung oleh Wajib Pajak .
• Tetapi pengertian anak angkat dalam perundang undangan pajak dengan
kriteria sebagai berikut :
o Seseorang yang belum dewasa ;
o Yang tidak tergolong keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus
dari Wajib Pajak;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

o Dan menjadi tangggungan sepenuhnya dari Wajib Pajak.


• Pengertian dewasa ,sudah berumur 18 tahun,atau belum 18 tahun sudah
menikah
• Pengertian menjadi tanggungan sepenuhnya menurut Undang-undang PPh
berdasarkan keadaan yang dapat terlihat dari keadaan yang nyata ,yaitu :
o Tinggal bersama-sama dengan Wajib Pajak; o Nampak secara nyata tidak
mempunyai penghasilan sendiri; o Tidak pula turut dibantu oleh lain-lain anggota
keluarga atau orang tuanya sendiri.

Penerapan Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi:


a. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak
sebagai subjek pajak.
Menggunakan NPWP dari Wajib Pajak yang meninggal dunia .
Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak nya, tidak diberikan
pengurangan berupa PTKP, karena warisan yang belum terbagi sebagai
pengganti ahli waris yang berhak itu, dalam menghitung Penghasilan Kena
Pajak, masing-masing ahli waris telah memperoleh pengurangan berupa
PTKP.Ketentuan tersebut ditegaskan dalam surat edaran Direktur Jenderal
Pajak nomor: SE-10 / PJ. 41 / 1996 tanggal 12 Februari 1996.
b. Wajib Pajak ,Suami dan Istri dalam kondisi Hidup Berpisah ‘
Masing masing mempunyai NPWP sendiri sendiri
Tambahan untuk WP kawin ditiadakan dan dianggap tidak kawin
.Sedangkan untuk tambahan tanggungan anak diberikan kepada Wajib
Pajak (Suami atau Istri ) yang berdasarkan kenyataan yang ada ,benar
benar menanggung.
c. Karyawati kawin
Menggunakan NPWP suami atau identitas nomor NPWP sama dengan
nomor NPWP suami, tetapi untuk identitas nama menggunakan namanya
istri. PTKP hanya untuk dirinya sendiri yaitu sebagaimana dimaksud huruf
a. untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi /karyawati/pegawai..
d. Wajib Pajak , Suami dan Istri dalam kondisi Pisah Harta dan Penghasilan
Masing masing mempunyai NPWP sendiri sendiri
PTKP penuh sesuai kondisi, dikurangkan dari penggabungan penghasilan
suami dan istri.
e. Bagi Wajib Pajak yang kawin pisah harta dan penghasilan serta isteri yang
menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri, baik

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

suami maupun isteri PTKP dalam SPT Tahunan dengan tanda strip (-) dan
membuat lembar penghitungan penghasilan serta PPh terutang tersendiri.

Contoh : K/ 0 adalah kawin tanpa tanggungan K/ 2 adalah kawin + 2 orang


tanggungan K/I/ 3 adalah kawin + isteri mempunyai penghasilan sesuai
ketentuan huruf c, ditambah dengan tanggungan 3 orang.
f. PTKP bagi Wajib Pajak masing-masing suami isteri yang telah hidup berpisah
untuk diri masing-masing Wajib Pajak diperlakukan seperti Wajib Pajak Tidak
Kawin sedangkan tanggungan sesuai dengan kenyataan sebenarnya yang
diperkenankan.(sesuai dengan Pasal 7 UU PPh)
Notasi PTKP
TK/2 : Tidak kawin,ditambah dengan banyaknya tanggungan 2 (dua)
yang berhak atas PTKP
K/2 : Kawin,ditambah banyaknya tanggungan 2 (dua) yang berhak atas
PTKP
K/ I/2 : Kawin, penghasilan istri digabung dengan penghasilan
suami,
ditambah banyaknya tanggungan 2 (dua) yang berhak atas
PTKP
PH : Wajib Pajak kawin,kondisi Pisah Harta dan Penghasilan
HB/2 : Wajib Pajak kawin kondisi Hidup Berpisah, ditambah banyaknya
tanggungan 2 (dua) yang berhak atas PTKP

C. LATIHAN:

1. Bagaimana penghitungan penghasilan yang diterima atau diperoleh wanita yang


berstatus kawin.
2. Bagaimana perlakuan penghasilan dari keluarga yang berasal dari anggota-
anggota keluarga
3. Jelaskan tentang penggabungan dan pemisahaan penghasilan antara suami istri
dalam sebuah keluarga.
4. Jelaskan notasi penulisan PTKP dan jelaskan berapa besaran PTKP dalam
keluarga
5. Bagaimana penghitungan pajak terhutang dalam hal penghasilan Suami dan Istri
digabungkan, dan dipisahkan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

D. RANGKUMAN:

Undang-undang Pajak Penghasilan memandang bahwa pada dasarnya


keluarga merupakan satu kesatuan, penghasilan keluarga suami, istri serta anak
yang belum dewasa adalah satu kesatuan ekonomis. Karena satu keluarga
merupakan satu entitas ekonomi maka hanya perlu satu nomor pokok wajib pajak.
Akan tetapi karena suatu alasan yang dikehendaki bersama atau karena
keputusan pengadilan, maka dalam suatu keluarga dapat terjadi lebih dari satu
subjek pajak.
Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal
tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yang
berasal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan dianggap
sebagai penghasilan atau kerugian suaminya. Penghasilan anak yang belum
dewasa dari manapun sumber penghasilannya dan apapun sifat pekerjaannya
digabung dengan penghasilan orang tuanya dalam tahun pajak yang sama.

Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila terdapat kondisi


bahwa :
a. suami-isteri telah hidup berpisah karena perceraian berdasarkan putusan hakim;
b. dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan.
c. dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban
perpajakannya sendiri.
Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam dalam negeri mulai
tahun pajak 2009 diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak
yang besarnya per tahun sebesar Rp 15.840.000,00, Rp 1.320.000,00, Rp
15.840.000,00 dan Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah)
tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam
garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya,
paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

E. TEST FORMATIF :

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Berilah jawaban B jika pernyataan berikut benar dan S Jika salah

1 B. S Undang-undang Pajak Penghasilan memandang bahwa pada dasarnya


keluarga merupakan satu kesatuan, penghasilan keluarga suami, istri serta
anak yang belum dewasa adalah satu kesatuan ekonomis.
2 B S. Walaupun keluarga merupakan satu entitas ekonomi, tetapi jika anggota
keluarga baik istri maupun anak memiliki penghasilan sendiri diatas PTKP,
wajib untuk memiliki NPWP sendiri.

3 B. S Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada
awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya
yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan
dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya.
4 B S. Suami istri masing-masing mempunyai usaha sendiri sendiri. Kawin
tanggal 1 Mei 2005. Untuk tahun pajak 2005 penghasilan suami istri tersebut
digabungkan untu menghitung kewajiban perpajakan dan dilaporkan pada
SPT Tahunan 2005 dan dilaporkan pada tahun 2006.
5 BS Devi Lestari, status kawin, bekerja pada hanya satu pemberi kerja,
yaitu Kantor Kedutaan Besar Australia, maka penghasilan Hastuti tersebut
bersifat final dan tidak perlu digabung dengan
pengahasilan suaminya..
6 B. S Suami dan istri memiliki kewajiban pajak subjektif yang terpisah jika
dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan.
7 B S. Penghasilan anak yang belum dewasa dari manapun sumber
penghasilannya dan apapun sifat pekerjaannya digabung dengan
penghasilan orang tuanya dalam tahun pajak yang sama. Yang dimaksud
dengan anak yang belum dewasa adalah anak yang belum berumur 25 (dua
puluh lima) tahun dan belum pernah menikah.
8. B S Sejak tahun pajak 2009 diberikan pengurangan berupa
Penghasilan Tidak Kena Pajak yang besarnya per tahun sebesar:
Rp 15.840.000,00 untuk diri Wajib Pajak orang pribadi; Rp
1.320.000,00 tambahan untuk status kawin; Rp 15.840.000,00
tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung
dengan suami dan Rp 1.320.000,00 tambahan untuk setiap anggota

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan


lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya,
paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.
9. B. S Wajib Pajak A mempunyai seorang isteri dengan tanggungan 4 (empat)
orang anak. Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi
kerja yang tidak ada hubungannya dengan usaha suami atau anggota
keluarga lainnya, besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan
kepada Wajib Pajak A adalah sebesar Rp 21.120.000,00
10. B S. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak sebagai subjek pajak.Menggunakan NPWP dari Wajib Pajak yang
meninggal dunia dan , diberikan pengurangan berupa PTKP seperti semula
dikurangi PTKP pewaris yang meninggal dunia.
11. B S Karyawati kawin Menggunakan NPWP suami atau identitas nomor NPWP
sama dengan nomor NPWP suami, tetapi untuk identitas namaistri PTKP
hanya untuk dirinya sendiri.
12. B S Wajib Pajak, Suami dan Istri dalam kondisi Pisah Harta dan
Penghasilan Masing masing mempunyai NPWP sendiri-sendiri, PTKP
dihitung penuh sesuai kondisi, dikurangkan dari
penggabungan penghasilan suami dan istri.
13. B.S Anggota keluarga sedarah adalah misal ayah, ibu atau anak kandung dan
semenda misal mertua dan anak tiri dalam garis keturunan lurus, serta anak
angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak tiga orang
untuk setiap keluarga. Saat yang menentukan untuk menghitung besarnya
penghasilan tidak kena pajak adalah awal Tahun Pajak atau saat mulainya
menjadi subjek pajak dalam negeri dalam Tahun Pajak.
14. B S Jika Notasi PTKP adalah HB/3 berarti Wajib Pajak terdapat suami
istri yang menjalankan kewajiban perpajakan secara terpisah dan
memiliki tanggungan 3 orang
15. B.S PTKP bagi Wajib Pajak masing-masing suami isteri yang telah hidup
berpisah untuk diri masing-masing Wajib Pajak diperlakukan seperti Wajib
Pajak Tidak Kawin sedangkan tanggungan sesuai dengan kenyataan
sebenarnya yang diperkenankan.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir
modul, Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah
rumus dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan ke
kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 6 ini.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

VIII KEGIATAN BELAJAR 7

PENGHASILAN KENA PAJAK TARIF PAJAK DAN PERHITUNGAN


PAJAK TERUTANG

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mengikuti kegiatan belajar ini, diharapkan peserta diklat mampu melakukan

penghitungan penghasilan kena pajak dengan cara biasa, dengan menggunakan norma
penghitungan penghasilan neto, norma khusus, menetapkan besarnya pajak terutang
bagi Bentuk Usaha Tetap, menerapkan tarif umum Pajak penghasilan bagi Wajib Pajak
Badan, Wajib Pajak Orang pribadi dan fasilitas tarif pajak bagi pengusaha kecil menengah.

B. Uraian materi, contoh dan non contoh:

1. Penghasilan Kena Pajak

Penghasilan Kena Pajak adalah dasar untuk menentukan besarnya pajak


yang terutang. Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan tarif pajak, akan
diperoleh jumlah pajak yang terutang. Ada beberapa cara untuk menghitung
besarnya penghasilan kena pajak, yaitu untuk wajib pajak dalam negeri dan untuk
wajib pajak luar negeri. Bagi wajib pajak dalam negeri, perhitungan Penghasilan
kena pajak dapat dibedakan menjadi:
- Perhitungan penghasilan neto dengan cara biasa;
- Perhitungan penghasilan neto dengan menggunakan norma Wajib Pajak Orang
pribadi;
- Perhitungan penghasilan neto dengan cara penerapan norma penghitungan
khusus jenis usaha WP tertentu
Bagi Wajib Pajak luar negeri penentuan besarnya Penghasilan Kena Pajak
dibedakan antara:
- Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia; - Wajib Pajak luar negeri lainnya.

2. Perhitungan Penghasilan Kena Pajak dengan Cara Biasa.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Perhitungan dengan cara ini diperuntukkan bagi wajib pajak yang menyelenggarakan
pembukuan, baik itu wajib pajak badan, BUT maupun wajib pajak orang pribadi yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran bruto pertahun
Rp. 4.800.000.000, (empat milyar delapan ratus juta rupiah) ke atas. Kelompok wajib
pajak ini adalah kelompok wajib pajak yang diwajibkan untuk menyelenggarakan
pembukuan sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UU KUP sebagai berikut:

Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan
Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan

Pasal 16 ayat (1) UU PPh, tentang penghitungan penghasilan kena pajak diatur
sebagai berikut :

Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif bagi Wajib Pajak dalam
negeri dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari
penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dengan
pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
7 ayat (1), dan Pasal 9 ayat (1) huruf c,huruf d,huruf e dan huruf g.

Sebagai wajib pajak yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan,


dasar perhitungan penghasilan kena pajak adalah perhitunagn penghasilan neto
komersial, dimana dalam tahap pelaporan ini wajib pajak melaporkan semua
penghasilan baik yang merupakan objek pph, Objek PPh final maupun yang
bukan objek PPh, serta penghasilan yang mendapat fasilitas pajak penghasilan.
Perhitungan penghasilan Kena Pajak WP bAdan Dalam negeri adalah sebagai
berikut :

a. Wajib Pajak Badan

PENGHASILAN NETO KOMERSIAL DALAM NEGERI:


PEREDARAN USAHA………………………………………………………………… XXXX
HARGA POKOK PENJUALAN ……………………………………………………. ( XXXX)
BIAYA USAHA LAINNYA ……………………………………………………………… (XXXX)
PENGHASILAN NETO DARI USAHA ……………………………………………….. XXXX
PENGHASILAN DARI LUAR USAHA ……………………………………………… XXXX
BIAYA DARI LUAR USAHA ………………………………………………………… (XXXX)
PENGHASILAN NETO DARI LUAR USAHA …………………………………….. XXXX
PENGHASILAN NETO KOMERSIAL LUAR NEGERI………………………….. XXXX
JUMLAH PENGHASILAN NETO KOMERSIAL ………………………………….. XXXX
PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PPH FINAL

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

DAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK………………………… (XXXX)


JUMLAH .. …………………………………………………………………………….. XXXX
PENYESUAIAN FISKAL POSITIF ………………………………………………. XXXX
PENYESUAIAN FISKAL NEGATIF. ……………………………………………… (XXXX)
JUMLAH ……………………………………………………………………………… XXXX
FASILITAS PENANAMAN MODAL
BERUPA PENGURANGAN PENGHASILAN NETO ……………………… XXXX

PENGHASILAN NETO FISKAL …………………………………………….. XXXX


KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL …………………………………………… (XXXX)
PENGHASILAN KENA PAJAK ………………………………………………… XXXX
b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menyelenggarakan pembukuan.

Perhitungan di atas berlaku juga bagi wajib pajak Orang pribadi yang
menyelenggarakan pembukuan. Perbedaan adalah pada penghasilan neto fiskal
WP OP, terdiri dari berbagai sumber, dan terdapat pengurang berupa zakat dan
sumbangan wajib serta PTKP, sebagai berikut:

PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS XXXX
PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN……….. XXXX
PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI LAINNYA……………………. XXXX PENGHASILAN NETO
LUAR NEGERI……………………………………. XXXX
JUMLAH PENGHASILAN NETO
ZAKAT / SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG BERSIFAT WAJIB ………………….. (XXXX) JUMLAH
PENGHASILAN NETO SETELAH PENGURANGAN ZAKAT /SUMBANGAN WAJIB XXXX
KOMPENSASI KERUGIAN ………………………………… (XXXX)
JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH KOMPENSASI KERUGIAN ………….. XXXX
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (XXXX) PENGHASILAN KENA PAJAK ………………………….
XXXX

c. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menggunakan norma penghitungan


penghasilan neto.

Dari ilustrasi perhitungan WP OP pada huruf b di atas, penentuan penghasilan


neto yang berasal dari usaha atau pekerjaan bebas dapat juga dihitung dengan
menggunakan norma penghitungan penghasilan neto sebagaimana diatur dalam
pasal 14 UU PPh.
Penghitungan penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto, hanya diperuntukkan bagi wajib pajak orang pribadi yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, yang memenuhi syarat-syarat yang
telah ditentukan yaitu ::
- Peredaran bruto dalam satu tahun kurang dari Rp 4.800.000.000,00
- Wajib menyelenggarakan pencatatan,
- Wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga)
bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Syarat tersebut diatas merupakan syarat komulatif yang harus dipenuhi.

Cara Penghitungannya dapat diformulasikan sebagai berikut


Peredaran/Penerimaan bruto xxx
% Norma Perhitungan r %
Penghasilan Neto = r % X Peredaran/Penerimaan bruto xxx

Tata cara pencatatan bagi WP OP diatur dalam PerMen Keu No. 197/PMK.03/2007
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 4/PJ/2009

Wajib Pajak orang pribadi yang tidak wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib

menyelenggarakan pencatatan adalah: a. WPOP yang melakukan kegiatan usaha dan/atau

pekerjaan bebas memilih untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto; dan
b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas.

Pencatatan meliputi : peredaran dan/atau penerimaan bruto yang penghasilannya merupakan objek

pajak yang tidak dikenai pajak bersifat final; penghasilan bruto yang diterima dari luar kegiatan usaha

dan/atau pekerjaan bebas yang penghasilannya merupakan objek pajak yang tidak dikenai pajak

bersifat final, termasuk biaya yang dikeluarkan

untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan tersebut; penghasilan yang bukan
objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final, baik yang berasal dari
kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas maupun dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan
bebas. Wajib Pajak orang pribadi harus menyeleggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban baik
yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas maupun yang tidak
digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha,
pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha dan/atau

tempat usaha yang bersangkutan.

Pencatatan harus dibuat dalam suatu Tahun Pajak, yaitu jangka waktu 1 (satu) tahun kalender mulai
tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
Pencatatan harus dibuat secara kronologis dan sistematis berdasarkan urutan tanggal diterimanya
peredaran dan/atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto
Pencatatan dilakukan dengan menggunakan mata uang Rupiah sebesar nilai yang sebenarnya
terjadi dan disusun dalam bahasa Indonesia.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

sebenarnya serta didukung dengan dokumen yang menjadi dasar pencatatan Pencatatan harus
diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan yang

Catatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan ditempat tinggal Wajib Pajak
dan/atau tempat kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas dilakukan selama 10 (sepuluh) tahun
terhitung sejak berakhirnya Tahun Pajak

Norma penghasilan neto bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri diatur dengan
denganKeputusan Direktur
Jenderal Pajak Nomor KEP - 536/PJ./2000, tanggal 29 Desember 2000, Tentang Norma
Penghitungan Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Yang Dapat Menghitung Penghasilan Neto
Dengan Menggunakan Norma Penghitungan.
• Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto sebesar Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) atau lebih dalam 1
(satu) tahun wajib menyelenggarakan pembukuan, sedangkan jika di bawah Rp.
600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) menyelenggarakan pencatatan, kecuali memilih
menyelenggarakan pembukuan
• Untuk penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto wajib memberitahukan
kepada Direktur Jenderal Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal tahun pajak yang
bersangkutan, jika tidak diangap menyelnggarakan pembukuan.
• Pemberitahuan yang disampaikan dalam jangka waktu di atas dianggap disetujui kecuali
berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak memenuhi persyaratan untuk menggunakannya
• Wajib Pajak wajib pembukuan dan yang memilih menyelenggarakan pembukuan dan
yang dianggap memilih
menyelenggarakan pembukuan ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan
pembukuan, penghasilan netonya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima
puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam tahun pajak
yang bersangkutan.
• Norma Penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan menurut wilayah :
- 10 (sepuluh)
ibukota propinsi yaitu
Medan, Palembang,
Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya,
Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak
- ibukota propinsi
lainnya - daerah
lainnya
• Penghitungan yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha atau pekerjaan bebas,
dilakukan terhadap
masing-masing jenis usaha dengan memperhatikan pengelompokan wilayah,
3. Norma Penghitungan Khusus

Pasal 15 Undang undang Pajak Penghasilan diatur bahwa untuk golongan


Wajib Pajak tertentu seperti perusahaan pelayaran atau penerbangan
internasional, perusahaan asuransi luar negeri, perusahaan pengeboran minyak,
gas dan panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan yang melakukan
investasi dalam bentuk bangun guna serah (built, operate, and transfer). Maksud
pengatur ini adalah untuk meberi kemudahan dalam menghitung besarnya

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Penghasilan Kena Pajak, pertimbangan praktis,atau sesuai dengan kelaziman


pengenaan pajak dalam bidang bidang usaha tesebut.
Wewenang pengaturan lebih lanjut ada pada Menteri Keuangan. Berikut jenis
usaha yang penhasilan neto dan pajak terutang dihitung dengan menggunakan
norma penghitungan khusus:

1. Pelayaran Dalam Negeri


Perlakuan PPh atas penghasilan Wajib Pajak yang bergerak dibidang usaha
pelayaran dalam negeri diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No.416
/KMK.04/1996 yang mulai berlaku tahun 1996 dan Surat Edaran Dijen Pajak
Nomor: SE - 29/PJ.4/1996.

Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri adalah orang yang bertempat
tinggal atau badan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia yang melakukan
usaha pelayaran dengan kapal yang didaftarkan baik di Indonesia maupun di luar
negeri atau dengan kapal pihak lain
World wide income, Objek pengenaan PPh termasuk penghasilan penyewaan kapal
yang dilakukan dari:
- pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan lainnya di Indonesia;
- pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar Indonesia;
- pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan di Indonesia; dan - pelabuhan di luar
Indonesia ke pelabuhan lainnya di luar Indonesia peredaran bruto adalah semua
imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau nilai uang yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri dari pengangkutan
orang dan/atau barang yang dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di
Indonesia dan/atau dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan luar negeri
dan/atau sebaliknya.
Penghasilan neto = 4% (empat Persen) dari peredaran bruto
Pajak Penghasilan = 1,2% (satu koma dua persen) dari peredaran bruto dan bersifat
final

Pelunasan PPh yang terutang sebagaimana dimaksud pada butir 4 dilakukan sebagai
berikut:

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Dalam hal penghasilan diperoleh berdasarkan perjanjian persewaan atau charter


dengan pemotong pajak, maka pihak yang membayar atau terutang hasil tersebut
wajib memotong PPh yang terutang, memberikan Bukti Pemotongan, menyetor
PPh yang terutang, Melaporkan pemotongan dan penyetoran. Jika tidak dengan
pemotong maka dilaksanakan self assessment.

Dalam hal Wajib Pajak membayar pajak di Luar negeri (PPh Pasal 24), dapat
diperhitungkan dengan PPh, untuk masing-masing negara
setinggitingginya 1,2% (satu koma dua persen) dari penghasilan yang
diterima atau diperolehnya diluar negeri tersebut.

Dalam hal Wajib Pajak juga menerima atau memperoleh penghasilan lainnya
selain penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 3 di atas, maka atas
penghasilan lainnya dikenakan PPh berdasarkan ketentuan perpajakan yang
berlaku

Surat Dirjen Pajak Nomor S - 852/PJ.341/2003 Tentang Penegasan Perlakuan PPh


Atas Sewa Kapal:
Dalam terminologi jasa angkutan kapal (lautan dan udara), dikenal beberapa jenis
charter/sewa, yaitu:
a. Sewa berdasarkan pemakaian ruang (space charter);
b. Sewa berdasarkan pemakaian waktu (time charter);
c. Sewa kapal tanpa awak (bareboat charter);
d. Sewa kapal dengan awak (fully-manned basis).

• Apabila charter/sewa atas pemakaian ruang, waktu dan/atau sewa dengan


awaknya dan digunakan untuk pengangkutan orang dan atau barang yang
dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di Indonesia dan/atau dari
pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar negeri, maka perlakuan
perpajakannya sesuai ketentuan Pasal 15 UU PPh jo Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 417/KMK.04/1996 sebagaimana ditegaskan lebih lanjut
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-32/PJ.4/1996.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

• Apabila charter/sewa kapal didasarkan atas sewa kapal tanpa awak, maka
perlakuan perpajakannya sesuai ketentuan Pasal 23 Ayat (1) Huruf c UU
PPh.

2. Pelayaran atau Penerbangan LN

.Keputusan Menteri Keuangan RI No .417/KMK.04/1996 yang mulai berlaku 14


Juni 1996 Besarnya PPh bagi perusahaan pelayaran atau penerbangan luar
negeri adalah sebesar 2,64% dari peredaran bruto dan bersifat final .

Peredaran bruto adalah semua imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau
nilai uang yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran
dan/atau Penerbangan luar negeri dari pengangkutan orang dan/atau barang
yang dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di Indonesia dan/atau
dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar negeri

PPh = 30% X 6% = 1,8%


PPh Pasal 26 = 20% X 1,8% = 0,84%
PPh JPLN = 2,64%

3. Kantor perwakilan dagang asing di Indonesia

Perlakuan PPh atas penghasilan Wajib Pajak luar negeri yang mempunyai kantor
perwakilan dagang (representative office/liaison office )di Indonesia diatur
dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No.634/KMK.04/1994 yang mulai berlaku
1-1-1995 serta Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-
667/PJ./2001,tanggal 9 Oktober 2001
Nilai ekspor bruto adalah semua nilai pengganti atau imbalan yang diterima atau
diperoleh WPLN yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia dari
penyerahan barang kepada orang pribadi atau badan yang berada atau bertempat
kedudukan di Indonesia.
Tarif PPh : 0,44% dari nilai ekspor bruto dan bersifat final.

Dengan perhitungan :

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

Penghasilan neto : 1% X Nilai ekspor bruto


Tarif PPh 30% : 1% X 30% = 0,3%
PPh pasal 26 : 20% X (1-0,3)% = 0,14%
PPh tarif khusus : 0,44%

Tarif ini berlaku bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang mempunyai Kantor Perwakilan
Dagang, di Indonesia yang berasal dari negara yang belum mempunyai
Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia. Jika
transaksi dilakukan oleh negara mitra P3B dengan Indonesia, yang dipergunakan
adalah tarif P3B.

4. Premi Asuransi Dan Premi Reasuransi Yang Dibayar Kepada Perusahaan


Asuransi Di Luar Negeri

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 624/KMK.04/1994 dan Suret Edaran Direktur


Jenderal Pajak nomor SE - 25/PJ.4/1995.

Objek : pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi kepada perusahaan


asuransi di luar negeri dikenakan pemotongan

Tarif : PPh Pasal 26 : 20% X dari perkiraan penghasilan neto.

Perkiraan penghasilan neto :


a. atas premi dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri
baik secara langsung maupun melalui pialang, sebesar 50% (lima puluh
persen) dari jumlah premi yang dibayar;
b. atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di
Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung
maupun melalui pialang, sebesar 10% (sepuluh persen) dari jumlah premi
yang dibayar;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. atas premi yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang


berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri
baik secara langsung maupun melalui pialang, sebesar 5% (lima
persen) dari jumlah premi yang dibayar.

Tarif PPh
a. premi perusahaan asuransi di luar negeri = 50% X 20% X premi
= 10% X Premi
b. perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan
asuransi di luar negeri
= 10% X 20% X Premi
= 2% X Premi
c. atas premi yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan
di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri
= 5% X 20% X premi
= 1 % X Premi
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-
Nomor Pembayar Premi Perkiraan Penghasilan Neto Tarif efektif PPh
Pasal 26
di Indonesia dari jumlah premi dari jumlah premi
yang dibayar yang dibayar
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-
1. Tertanggung 50%
10%
2. Perusahaan Asuransi 10% 2% 3. Perusahaan Reasuransi 5% 1%
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-

Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1


dilakukan oleh :
a. tertanggung,
b. perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia
c. perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia

Contoh :

168 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

a. Suatu perusahaan penyewaan gedung kantor, PT A, mengasuransikan bangunan


bertingkat ke perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar jumlah premi
selama tahun 1995 sebesar Rp. 1 milyar.
Perkiraan penghasilan = 50% x Rp 1 milyar = Rp. 500.000.000,00.
PPh Pasal 26 = 20% x Rp. 500.000.000,00 = Rp. 100.000.000,00 (10% x
Rp. 1 milyar).
b. Jika PT A mengasuransikan kepada perusahaan asuransi di dalam negeri, PT B,
dengan membayar jumlah premi yang sama sebesar Rp. 1 milyar, dan kemudian
PT.B mereasuransikan sebagian polis asuransi tersebut kepada perusahaan
asuransi luar negeri dengan membayar premi sebesar Rp. 500 juta.\
perkiraan penghasilan neto = 10% x Rp. 500 juta = Rp. 50.000.000,00 PPh
Pasal 26 yang wajib dipotong oleh PT B adalah : 20% x Rp. 50 juta = Rp.
10.000.000,00 (2% x Rp. 500.000.000,00).

Pembayaran premi asuransi atau premi reasuransi dapat dilakukan oleh


pembayar premi diIndonesia secara langsung kepada perusahaan asuransi di
luar negeri atau melalui pialang.
Pihak pembayar premi atau pemotong pajak di Indonesia wajib memotong PPh
Pasal 26 atas premi asuransi atau premi reasuransi yang dibayarkan kepada
perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi di luar negeri.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan pihak pembayar premi atau pemotong
PPh Pasal 26 adalah :
a. Tertanggung yaitu pemegang polis yang membayar premi asuransi kepada
perusahaan asuransi di luar negeri; atau
b. Perusahaan asuransi di Indonesia yang mereasuransikan sebagian atau
seluruh tanggungannya kepada perusahaan asuransi di luar negeri; atau
c. Perusahaan reasuransi di Indonesia yang mereasuransikan kembali
sebagian atau seluruh tanggungannya kepada perusahaan asuransi di luar
negeri.

5. BUT Yang Melakukan Pengeboran Minyak, Gas dan Panas Bumi

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


6
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 628/KMK.04/1991 Tentang Norma


Penghitungan Khusus Penghasilan Netto Bagi Wajib Pajak Badan Yang
Melakukan Kegiatan Usaha Di Bidang Pengeboran Minyak Dan Gas Bumi Serta
Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan Oleh Wajib Pajak Sendiri.

Perhitungan penghasilan netto dari Bentuk Usaha Tetap yang melakukan


kegiatan usaha di bidang pengeboran minyak dan gas bumi secara internasional,
sukar dilaksanakan dengan seksama karena adanya kesulitan untuk menghitung
besarnya penyusutan atas peralatan pengeboran (drilling rings) dan biaya
operasional lainnya, sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut, penghitungan
penghasilan netto tersebut perlu diadakan pengaturan tersendiri berupa Norma
Penghitungan Khusus berdasarkan ketentuan Pasal 15 UU PPh.

Penghasilan netto Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap dari kegiatan Usaha
pengeboran minyak dan gas bumi dihitung dengan menggunakan Norma
Penghitungan Khusus sebesar 15% (lima belas persen) dari penghasilan bruto.
Penghasilan bruto adalah penghasilan bruto dari jenis-jenis penghasilan yang
tercantum dalam kontrak pengeboran minyak dan gas bumi yang bersangkutan.

Wajib Pajak Badan yang didirikan di Indonesia yang melakukan usaha di bidang
pengeboran minyak dan gas bumi wajib menghitung penghasilan netto
berdasarkan pembukuan yang wajib diselenggarakan sesuai dengan ketentuan
dalam Pasal 28 Undang-undang KUP.
Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap diwajibkan untuk menyelenggarakan
pencatatan penghasilan bruto dan pengeluaran-pengeluaran yang wajib
dilakukan pemotongan pajak cfm Pasal 23 dan Pasal 26 UU PPh., dan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap dari
Usaha lain selain usaha pengeboran minyak dan gas bumi wajib diselenggarakan
pembukuan yang terpisah.
Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 setiap bulan bagi Wajib
Pajak Bentuk Usaha Tetap, adalah jumlah yang dihasilkan dari penerapan tarif
menurut Pasal 17 UU PPh atas Penghasilan Netto dari usaha di bidang

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

pengeboran minyak dan gas bumi yang dihitung dengan menggunakan Norma
Penghitungan Khusus ditambah penghasilan netto dari kegiatan usaha lain ayat
(3) yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).

6. Bangun Guna dan Serah (Build Operate and Transfer)

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 248/KMK.04/1995 Surat Edaran Direktur


Jenderal Pajak Nomor SE - 38/PJ.4/1995 Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan
Atas Penghasilan Sehubungan Dengan Perjanjian Bangun Guna Serah.
BOT adalah bentuk perjanjian kerja sama yang dilakukan antara pemegang hak
atas tanah dengan investor yang menyatakan bahwa pemegang hak atas tanah
memberikan hak kepada investor untuk mendirikan bangunan selama masa
perjanjian bangun guna serah, dan mengalihkan kepemilikan bangunan tersebut
kepada pemegang hak atas tanah setelah masa bangun guna serah berakhir.
Bangunan yang didirikan oleh investor dapat berupa gedung perkantoran,
apartemen, pusat perbelanjaan, rumah toko (ruko), hotel, dan/atau bangunan
lainnya.
Pihak-pihak yang melakukan perjanjian bangun guna serah adalah investor yang
diberikan hak untuk mendirikan bangunan dan menggunakan atau
mengusahakan bangunan tersebut selama masa perjanjian bangun guna serah,
dan pemegang hak atas tanah yang memberikan hak kepada investor.

Penghasilan dan biaya bagi investor

1. Penghasilan
Penghasilan investor sehubungan dengan perjanjian bangun guna serah
adalah penghasilanyang diterima atau diperoleh investor dari pengusahaan
bangunan yang didirikan antara lain :
a. sewa dan penghasilan sehubungan dengan penggunaan harta;
b. Penghasilan sehubungan dengan hak pengusahaan bangunan seperti
penghasilan dari pengusahaan hotel, pusat fasilitas olah raga ("Sport
center"), tempat hiburan, dan sebagainya;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. penggantian atau imbalan yang diterima atau diperoleh dari pemegang hak
atas tanah apabila masa perjanjian bangun guna serah diperpendek dari
masa yang telah ditentukan.

2. Biaya
a. Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto bagi investor adalah
biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan dengan
memperhatikan pasal 9 ayat (1) Undang-undang PPh berkenaan dengan
pengusahaan bangunan yang didirikan berdasarkan perjanjian bangun
guna serah tersebut.
b. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh investor untuk mendirikan bangunan
merupakan nilai perolehan investor untuk mendapatkan hak menggunakan
atau hak mengusahakan bangunan tersebut, dan nilai perolehan tersebut
oleh investor diamortisasi dalam jumlah yang sama besar setiap tahun
selama masa perjanjian bangun guna serah

Contoh 1 :
Investor PT ABC mendirikan bangunan gedung perkantoran 12 lantai atas
tanah milik PT PG berdasarkan perjanjian bangun guna serah dengan
biaya Rp 30.000.000.000,00 untuk masa selama 15 tahun. Amortisasi yang
dilakukan oleh PT ABC setiap tahun adalah sebesar Rp. 2.000.000.000,00
(Rp.30.000.000.000,00 : 15)

c. Apabila masa perjanjian bangun serah guna menjadi lebih pendek dari
masa yang telah ditentukan dalam perjanjian maka sisa biaya
pembangunan yang belum diamortisasi, amortisasi sekaligus oleh investor
pada tahun berakhirnya masa bangun guna serah yang lebih pendek
tersebut.
Contoh 2 : Berdasarkan contoh 1.
PT ABC pada akhir tahun ke dua belas menyerahkan bangunan kepada PT
PG .dengan diperpendeknya masa perjanjian tersebut kepada PT ABC
diberikan imbalan oleh PT PG sebesar Rp 5.000.000.000,00 pada akhir
tahun ke dua belas (tahun berakhirnya masa perjanjian bangun guna serah)
PT ABC memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp
5.000.000.000,00 (Rp 30.000.000.000,00 - (12x Rp 2.000.000.000,00).

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. Apabila masa perjanjian bangun guna serah menjadi lebih panjang dari
masa yang telah ditentukan dalam perjanjian karena adanya penambahan
bangunan, maka biaya penambahan tersebut ditambahkan dengan sisa
biaya yang belum diamortisasi dan oleh investor jumlah tersebut
diamortisasi hingga berakhirnya masa bangun guna serah yang lebih
panjang tersebut.
Contoh 3 Berdasarkan Contoh 1,
PT ABC pada tahun ke sebelas menambah bangunan dengan biaya Rp
20.000.000.000,00 dan masa bangun guna serah diperpanjang 5 tahun
sehingga menjadi 20 tahun. Penghitungan amortisasi PT ABC mulai tahun
ke sebelas sebagai berikut :
- sisa yang belum diamortisasi pada awal tahun ke
sebelas Rp.10.000.000.000,-
- Nilai perolehan hak atas penambahan bangunan pada tahun ke sebelas
Rp.20.000.000.000.00
- dasar amortisasi yang baru Rp.30.000.000.000,00
- masa amortisasi adalah 10 tahun (20 tahun - 10 tahun)
- Amortisasi setiap tahun mulai tahun ke sebelas (Rp.30.000.000.000,00 :
10) = Rp.3.000.000.000,00

e. Amortisasi biaya mendirikan bangunan dimulai pada tahun bangunan


tersebut digunakan atau diusahakan. Apabila pembangunan tersebut
meliputi masa lebih dari satu tahun sebelum dapat digunakan atau
diusahakan, maka biaya yang telah dikeluarkan harus dikapitalisasi.

Penghasilan dan biaya bagi pemegang hak atas tanah

1. Penghasilan
Penghasilan yang terima atau diperoleh pemegang hak atas tanah sehubungan
dengan perjanjian bangun guna serah dapat berupa :
a. pembayaran berkala yang dilakukan oleh investor kepada pemegang hak
atas tanah dalam atau selama masa bangun guna serah;
b. bagian dari uang sewa bangunan ;
c. bagian keuntungan dari pengusahaan bangunan dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang telah diberikan oleh investor;
d. Penghasilan lainnya sehubungan dengan perjanjian bangun guna serah
yang terima atau diperoleh pemegang hak atas tanah.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

2. Dalam hal bangunan yang didirikan investor tidak seluruhnya menjadi hak
investor tetapi sebagian diserahkan kepada pemegang hak atas tanah,
maka bagian bangunan yang diserahkan merupakan penghasilan bagi
pemegang atas tanah dalam tahun pajak yang bersangkutan.
Atas penyerahan tersebut terutang pajak Penghasilan sebesar 5% (lima persen)
dari jumlah bruto nilai yang tertinggi antara lain pasar dengan Nilai Jual
Obyek Pajak (NJOP) bagian bangunan yang diserahkan, dan harus dilunasi
selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya setelah penyerahan.
3. Bangunan yang diserahkan oleh investor kepada pemegang hak atas tanah
setelah masa Perjanjian bangunan serah berakhir merupakan penghasilan
baik pemegang hak atas tanah, dan terutang Pajak penghasilan sebesar
5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai yang tertinggi antara nilai pasar
dengan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) bangunan yang telah diserahkan,
dan harus dilunasi oleh pemegang hak atas tanah selambat-lambatnya
tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa bangun guna serah berakhir.
4. Nilai bangunan yang diterima oleh pemegang hak atas tanah merupakan
nilai perolehan bangunan apabila bangunan tersebut dialihkan kepada
pihak lain.

2. Biaya

Biaya yang dapat dikurangkan oleh pemegang hak atas tanah selama masa
bangun guna serah adalah biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
dan dengan memperhatikan Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Pajak
Penghasilan.
Pembayaran Pajak Penghasilan sebesar 5% (lima persen) yang dilakukan
oleh pemegang hak atas tanah atas penyerahan bangunan yang dilakukan oleh
investor orang pribadi bersifat final dan bagi Wajib Pajak badan adalah kredit
pajak Pasal 25
Dikecualikan dari pengenaan Pajak Penghasilan sebesar 5% (lima persen)
tersebut di atas apabila pemegang hak atas tanah adalah badan pemerintah.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Transaksi BOT semua menjadi final dengan diberlakukan PP Nomor 27


Tahun 1996 tentang PerubahanPeraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994,
termasuk dalam pengertian penyerahan tanah dan bangunan dengan tarif 5%
final dari hari harga tertinggi antara harga jual dengan NJOP.

4. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Luar


Negeri.

Wajib Pajak Luar Negeri dapat dibedakan menjadi Wajib Pajak Luar Negeri
yang menjalankan kegiatan dan melakukan usaha di Indonesia melalui BUT, dan
Wajib PAjak luar negeri yang tidak. menjalankan kegiatan dan melakukan usaha
di Indonesia melalui BUT akan tetapi menerima penghasilan yang bersumber dari
Indonesia.

a. Bentuk Usaha Tetap

Dalam Pasal 2 ayat (1 a) UU PPh diatur bahwa Bentuk Usaha Tetap


merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan
subjek pajak badan. Penetapan penghasilan neto bagi BUT sama seperti WP
badan lainnya, akan tetapi karena adanya beberapa pengecualian terutama
terkait dengan penghasilan kantor pusat BUT yang termasuk sebagai objek bagi
BUT dan biaya yang terkait dengan penghasilan tersebut yang termasuk
pengurang penghasilan bruto bagi BUT. Secara umum penghitungan
penghasilan kena pajak bagi BUT adalah sebagai berikut:

Penghasilan,pasal 4 (1) xxx


Pengurangan penghasilan bruto,
pasal 6 ayat (1) xxx
pasal 9 ayat (1) hrf.c,d,e,g xxx (xxx )
xxx
Penghasilan penjualan langsung barang
oleh kantor pusat yang sejenis dengan

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

barang yang dijual BUT xxx


Penghasilan lain yang diterima atau
diperoleh kantor pusat yang mempu
nyai hubungan efektif dengan BUT xxx xxx
xxx
Biaya administrasi kantor pusat
yang diperbolehkan /Pasal 5 ayat (3) (xxx)
xxx
pasal 6 ayat (2) (xxx)
Penghasilan Kena Pajak xxx
===

b. Wajib Pajak Luar Negeri yang tidak menjalankan usaha dan


pekerjaan melalui BUT.

Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas di indonesia melalui BUT, akan tetapi
menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia,
pengenaannya diatur dalam Pasal 26 UU PPh.

Pemenuhan kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar negeri yang


menjalankan usaha atau melakukan kegiatan tanpa melalui suatu bentuk usaha
tetap di Indonesia dilakukan dengan cara pemotongan oleh pihak yang wajib
membayar bagi Wajib Pajak luar negeri tersebut..
Penghasilan Kena Pajak yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak Bagi WP Luar
Negeri yang tidak mempunyai BUT di Indonesia adalah Penghasilan bruto.

Dalam Pasal 26 UU PPh diatur sebagai berikut:

Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar
negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh
pihak yang wajib membayarkan:

a. Dividen
b. bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
jaminan pengembalian utang
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
e. hadiah dan penghargaan
f. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
g. keuntungan karena pembebasan utang

Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali


yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar
negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang
dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri, dipotong pajak 20% (dua
puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.dan bersifat final. Besarnya
perkiraan penghasilan neto adalah 25 % (dua puluh lima persen) dari harga jual.
Penjualan atau pengalihan harta adalah penjualan atau pengalihan harta berupa
perhiasan mewah, berlian, emas, intan, jam tangan mewah, barang antik, lukisan,
mobil, motor, kapal pesiar, dan/atau pesawat terbang ringan.
Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26
oleh pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong pajak dan kepada Wajib Pajak
Luar Negeri selaku penjual diberikan bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal
26. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta yang besarnya tidak
melebihi Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap jenis transaksi,
dikecualikan dari pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 (82/PMK.03/2009).
Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham dipotong pajak sebesar
20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.
NOMOR 258/PMK.03/2008

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara (special purpose company


atau conduit company), dapat ditetapkan sebagai penjualan atau pengalihan
saham badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, atau
penjualan atau pengalihan bentuk usaha tetap di Indonesia. perusahaan antara
(special purpose company atau conduit company) adalah perusahaan antara
(special purpose company atau conduit company) yang di bentuk untuk tujuan
penjualan atau pengalihan saham perusahaan yang didirikan atau bertempat
kedudukan di Negara yang memberikan perlindungan pajak (Tax heaven
Country) yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia.
Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham dipotong Pajak
Penghasilan sebesar 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.
Besarnya penghasilan neto adalah 25% (dua puluh lima persen) dari harga jual.
Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah bersifat final.
Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap
di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan
tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 257/PMK.03/2008 tentang Perlakuan


Perpajakan Atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak Dari Suatu
Bentuk Usaha Tetap.
Atas Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari suatu
Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia dikenai Pajak Penghasilan Pasal 26
kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, dengan
persyaratan sebagai berikut :
1. penanaman kembali dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang
baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta
pendiri;
2. Perusahaan baru yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia harus secara
aktif melakukan kegiatan usaha sesuai dengan akte pendiriannnya, paling
lama 1 (satu) tahun sejak perusahaan tersebut didirikan;

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

3. penanaman kembali dilakukan dalam tahun pajak berjalan atau paling lama
tahun pajak berikutnya dari tahun pajak diterima atau diperolehnya
penghasilan tersebut; dan
4. tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut paling singkat
dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan baru tersebut telah
berproduksi komersial
Dalam hal persyaratan tidak lagi dipenuhi, penghasilan ditetapkan sebagai
Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan atas BUT
bersangkutan terhitung sejak diperolehnya Penghasilan Kena Pajak sesudah
dikurangi Pajak Penghasilan tersebut dan dikenai sanksi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan
Terhadap penjual yang berstatus sebagai Wajib Pajak Luar Negeri yang
merupakan penduduk dari Negara yang telah mempunyai Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia, pemotongan pajak
hanya dilakukan apabila hak pemajakan berdasarkan P3B berada pada pihak
Indonesia.

Contoh :
Suatu badan subjek pajak dalam negeri membayarkan royalti sebesar
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) kepada Wajib Pajak luar negeri, maka
subjek pajak dalam negeri tersebut berkewajiban untuk memotong Pajak
Penghasilan sebesar 20% (dua puluh persen) dari Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).

Seorang atlet dari luar negeri yang ikut mengambil bagian dalam perlombaan lari
maraton di Indonesia, dan kemudian merebut hadiah uang maka atas hadiah
tersebut dikenai pemotongan Pajak Penghasilan sebesar 20% (dua puluh
persen).

Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, adalah
negara tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak luar negeri yang
sebenarnya menerima manfaat dari penghasilan tersebut (beneficial owner).
Pemotongan pajak PPh Pasal 26 bersifat final kecuali penghasilan kantor pusat
dari usaha atau kegiatan yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia dan penghasilan terdapat

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


7
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

hubungan efektif serta pemotongan atas penghasilan yang diterima atau


diperoleh orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi
Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

5. Tarif Pajak

Struktur tarif yang diterapkan dalam undang undang Pajak Penghasilan


dalam menghitung PPh terutang atas berbagai jenis penghasilan dapat
dibedakan menjadi tarif umum dan tarif khusus

5.1. Tarif Umum

Ketentuan yang mengatur tentang tarif umum adalah Pasal 17 UU Pajak


Penghasilan, sebagai berikut:

a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut:

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluhjuta rupiah) 5%
(lima persen)
di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai 15%
dengan Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta (lima belas persen)
rupiah)
di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) 25%
sampai dengan Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) (dua puluh lima persen)

di atas Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) 30%


(tiga puluh persen)

Contoh Perhitungan PPh terutang WP OP :


Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp600.000.000,00.
Pajak Penghasilan terutang:
5% x Rp50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
15% x Rp200.000.000,00 = Rp 30.000.000,00
25% x Rp250.000.000,00 = Rp 62.500.000,00 30%
x Rp100.000.000,00 = Rp 30.000.000,00
PPh Terutang Rp 125.000.000,00
b. Wajib Pajak Badan dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar
28% (dua puluh delapan persen). Tarif ini berlaku tahun 2009 ketika
undangundang di terbitkan. Tarif pajak menjadi 25% (dua puluh lima persen)
yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010. Berbeda dengan tahun pajak
sebelum 2008, Tarif PPh dahulu ditetapkan secara progresif yaitu :
Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) 10% (sepuluh persen)
Di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) s.d. Rp 15 % (lima belas persen)
100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
Di atas Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) 30 % (tiga puluh persen)
Namun dalam memori penjelesan perubahan undang-undang, alasan perubahan
tarif bagi Wajib Pajak Badan dan BUT adalah :
• Tarif Tunggal selaras dengan prinsip netralitas dalam pengenaan pajak atas
badan.
• Tarif diturunkan secara bertahap untuk meningkatkan daya saing dengan
negara lain dalam menarik investasi luar negeri.

c. Pengurangan Tarif PAjak Penghasilan


Pasal 31 E UU PPh memberika pengurangan tarif yang merupakan fasilitas
bagi Pengusaha tertentu. Pengusaha dimaksud adalah Wajib Pajak badan dalam
negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00. Fasilitas
berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena
Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00.
Walaupun sifatnya fasilitas, tapi bersifat wajib, seperti yang ditegaskan dalam
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 66/PJ/2010 Tentang
Penegasan Atas Pelaksanaan Pasal 31e Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa Kali
Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, sebagai
berikut:
Fasilitas pengurangan tarif sesuai dengan Pasal 31E ayat (1) UndangUndang
Pajak Penghasilan dilaksanakan dengan cara self assessment pada saat
penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
Wajib Pajak Badan. Dengan demikian, Wajib Pajak tidak perlu menyampaikan
permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

 Batasan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh


miliar rupiah) adalah sebagai batasan maksimal peredaran bruto yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak badan dalam negeri untuk dapat
memperoleh fasilitas pengurangan tarif
 Peredaran bruto adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh dari
kegiatan usaha sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, meliputi :
1) Penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final; 2)
Penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan tidak bersifat final; dan
3) Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak.

Fasilitas Pasal 31E ayat (1) tersebut bukan merupakan pilihan. Sepanjang
akumulasi peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada huruf c di atas
tidak melebihi Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah), tarif Pajak
Penghasilan yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak badan dalam negeri wajib mengikuti ketentuan fasilitas pengurangan
tarif sesuai dengan Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Contoh:
Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 1.250.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang: 28% x Rp1.250.000.000,00 =
Rp350.000.000,00

Tarif tertinggi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dapat diturunkan menjadi
paling rendah 25% , yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Tarif Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap menjadi 25% yang
mulai berlaku sejak tahun pajak 2010.
Progresifitas tarif PPh Badan dan BUT diberikan dalam bentuk fasilitas bagi
pengusaha kecil. Hal ini diatur dalam Pasal 31 E UU PPh.
Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50%
dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a)
yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto
sampai dengan Rp4.800.000.000,00. (empat milyar delapan ratus juta rupiah).

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Contoh 1:
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 4.500.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 500.000.000,00.
Penghitungan pajak yang terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut
dikenakan tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku
karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp4.800.000.000,00.
Pajak Penghasilan yang terutang:
50% x 28% x Rp500.000.000,00 = Rp70.000.000,00

Contoh 2:
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 30.000.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3.000.000.000,00.
Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang:
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh
fasilitas: Rp 4.800.000.000,00 X Rp3.000.000.000,00 = Rp480.000.000,00
Rp30.000.000.000,00
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas:
Rp3.000.000.000,00 – Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00

Pajak Penghasilan yang terutang:


- 50%x 28% x Rp480.000.000,00 = Rp 67.200.000,00
- 28% x Rp2.520.000.000,00 = Rp 705.600.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang Rp 772.800.000,00
c. Tarif atas Penghasilan Lain

Tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa dividen yang dibagikan


kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10%
dan bersifat final , yang ketentuan lebih lanjut diatur dengan Peraturan
Pemerintah ( PP No.19 tahun 2009).

5.2. Tarif khusus

Berbeda dengan tarif umum, pada dasarnya pengenaan pajak tarif khusus
tidak bertingkat tingkat, tarifnya tarif tunggal berapapun besarnya penghasilan
yang akan dikenakan pajak tarif yang diterapkan adalah sama, sesuai dengan
yang ditetapkan dalam ketentuan yang mengatur tentang tarif khusus tersebut
dan pengenaan pajaknya bersifat final. Pemenuhan kewajiban pajak atas
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final, dilakukan dengan
membayar sendiri atau melalui pemotongan/pemungutan pajak pihak ketiga.
Tarif khusus dalam UU PPh,terdapat pada pasal pasal : Pasal 4 ayat (2)

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

,Pasal 8 ayat (1), Pasal 15, Pasal 19 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 22.

C. LATIHAN:

1. Bagaimana cara melakukan penghitungan penghasilan kena pajak


2. Bagaimana cara Menerapkan Nroma penghitungan penghasilan netto bagi
WP Orang pribadi
3. Bagaimana cara menentukan Penghasilan Kena Pajak bagi WP yang
mengunakan Norma khusus.
4. Bagaimana Pengenaan Pajak Penghasilan bagi WP Perwakilan dagang
asing, Pelayaran dalam negeri, Pelayaran dan penerbangan luar negeri,
BOT, dan BUT dalam bidang Migas
5. Bagaimana penerapan tarif Ph bagi Wajib Pajak Orang pribadi, WP dan, BUT
dan fasilitas tarif pajak bagi pengusaha kecil menengah.

D. RANGKUMAN:

Cara untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak, yaitu untuk


wajib pajak dalam negeri dan untuk wajib pajak luar negeri. Bagi wajib pajak
dalam negeri, Perhitungan Penghasilan kena pajak dapat dibedakan menjadi:
- Perhitungan penghasilan neto dengan cara biasa;
- Perhitungan penghasilan neto dengan menggunakan norma Wajib Pajak
Orang pribadi;
- Perhitungan penghasilan neto dengan cara penerapan norma
penghitungan khusus jenis usaha WP tertentu

Pasal 15 Undang undang Pajak Penghasilan diatur bahwa untuk golongan


Wajib Pajak tertentu seperti perusahaan pelayaran atau penerbangan
internasional, perusahaan asuransi luar negeri, perusahaan pengeboran minyak,
gas dan panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan yang melakukan
investasi dalam bentuk bangun guna serah (built, operate, and transfer). Maksud
pengatur ini adalah untuk meberi kemudahan dalam menghitung besarnya
Penghasilan Kena Pajak, pertimbangan praktis,atau sesuai dengan kelaziman
pengenaan pajak dalam bidang bidang usaha tesebut.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Wajib Pajak Luar Negeri dapat dibedakan menjadi Wajib Pajak Luar Negeri
yang menjalankan kegiatan dan melakukan usaha di Indonesia melalui BUT, dan
Wajib PAjak luar negeri yang tidak. menjalankan kegiatan dan melakukan usaha
di Indonesia melalui BUT akan tetapi menerima penghasilan yang bersumber dari
Indonesia.
Bentuk Usaha Tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan
perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan. Penetapan
penghasilan neto bagi BUT sama seperti WP badan lainnya, akan tetapi karena
adanya beberapa pengecualian terutama terkait dengan penghasilan kantor
pusat BUT yang termasuk sebagai objek bagi BUT dan biaya yang terkait dengan
penghasilan tersebut yang termasuk pengurang penghasilan bruto bagi BUT.
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas di indonesia melalui BUT, akan tetapi
menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia,
pengenaannya diatur dalam Pasal 26 UU PPh.

Tarif PPh bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri: adalah progresif:
sampai dengan Rp 50.000.000,00 adalah 5% , di atas Rp 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta
rupiah) adalah 15%, di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
sampai dengan Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) adalah 25%, dan di
atas Rp 500.000.000,00 sebesar 30%. Wajib Pajak badan dalam negeri dan
bentuk usaha tetap sebesar 28 % dan tahun 2010 tarif WP PPh Baan diturunkan
menjadi 25%. Terhadap WP dengan peredaran bruto tertentu berdasarkan Pasal
31 E UU PPh diberikan fasilitas pengurangan tarif PPh.

E. TEST FORMATIF :

1. Berikut adalah cara penghitungan penghasilan Kena pajak kecuali:


a. Perhitungan penghasilan neto dengan cara biasa yaitu Penghasilan
bruto dikurang dengan pengurang penghasilan bruto yang
diperkenankan secara ketentuan fiskal;
b. Perhitungan penghasilan neto dengan menggunakan norma Wajib

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pajak Orang pribadi;


c. Perhitungan penghasilan neto dengan cara penerapan norma
penghitungan khusus jenis usaha WP tertentu.
d. Perhitungan penghasilan netto dengan cara perbandingan dengan
usaha sejenis (benchmarking)

2. Sejak tahun pajak 2009, WP Orang Pribadi yang diperkenankan


menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma perhgitungan
adalah:
a. wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas dengan jumlah peredaran bruto pertahun kurang dari Rp.
4.800.000.000
b. wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas dengan jumlah peredaran bruto pertahun kurang dari Rp.
1.800.000.000
c. wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas dengan jumlah peredaran bruto pertahun kurang dari Rp.
600.000.000
d. wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas.

3. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan
pembukuan. Untuk menghitung penghasilan Kena Pajak dilakukan dengan
urutan sebagai berikut:

a. Peredaran usaha bruto dikurangi dengan pengurang penghasilan


penghasilan bruto, dikurangi dengan PTKP dikurangi dengan
kompensasi kerugian dan dikurangi dengan pembayaran zakat yang
wajib.
b. Peredaran usaha bruto dikurangi dengan pengurang penghasilan
penghasilan bruto, dikurangi dengan dengan kompensasi kerugian,
dikurangi dengan pembayaran zakat yang wajib dan dikurangi
dengan PTKP

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. Peredaran usaha bruto dikalikan dengan norma penghasilan bruto,


ditambah dengan penghasila neto lainnya, dikurangi PTKP.
d. Peredaran usaha bruto dikalikan dengan norma penghasilan bruto,
ditambah dengan penghasila neto dari pekerjaan, ditambbah
[penghasilan neto lainnya, dikurangi pembayaran zakat wajib, dan
dikurangi dengan PTKP..

4. Tn Ivan Gundulawan Wajib Pajak orang pribadi terdaftar di KPP Pratama


Jakarta Gambir Dua, berstatus menikah dan memiliki 2 orang anak. Istri
tidak bekerja. Tn Ivan menjalankan usaha perdagangan komputer. Memiliki
2 tempat usaha toko I : Ivancom-I pertama di kawasan Glodok Jakarta
Pusat dan dan Ivancom-II di kawasan Bogor. Masing masing selama tahun
2010 mendapatkan peredaran usaha Rp. 2.300.000.000,- dan
2.200.,000.000. Norma perhitungan penghasilan neto untuk Perdagangan
komputer 30 % untuk 10 kota propinsi, 25% untuk kota propinsi lainnya dan
20% untuk diluar kota propinsi. Penghasilan neto bagi Tn Ivan Gundulawan
adalah :
a. 1.125.000.000
b. 1.350.000.000
c. 900.000.000 d 1.130.000.000

5. Sehubungan dengan soal nomor 4 di atas, Penghasilan Kena Pajak bagi


Tn. Ivan Gundulawan adalah
a Rp. 1.110.200.000
b Rp. 1.111.520.000
c. Rp. 1.095.680.000
d Rp. 1.094.360.000
6. Sehubungan dengan soal nomor 4 di atas Pajak Penghasilan terutang bagi
Tn Ivan Gundalawan adalah :
a Rp. 278.060.000
b Rp. 278 000.000
c. Rp. 270.000.000
d Rp. 270.560.000

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

7. Berikut adalah jenis usaha yang dalam penghitungan Penghasilan netto


dan penghitungan pajak penghasilan terutang menggunakan norma
penghitungan khusus pasal 15 UU PPh adalah sebagai berikut kecuali: a.
perusahaan pelayaran atau penerbangan internasional,
b. perusahaan nasional asuransi,
c. perusahaan pengeboran minyak, gas dan panas bumi, perusahaan
dagang asing,
d. perusahaan yang melakukan investasi dalam bentuk bangun guna
serah (built, operate, and transfer).

8. Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri adalah :

a. orang yang bertempat tinggal atau badan yang didirikan dan


berkedudukan di Indonesia yang melakukan usaha pelayaran dengan
kapal yang didaftarkan baik di Indonesia maupun di luar negeri atau
dengan kapal pihak lain
b. orang yang bertempat tinggal atau badan yang didirikan dan
berkedudukan baik di Indonesia maupun luar negeri yang melakukan
usaha pelayaran di Indonesia,
c. orang yang bertempat tinggal atau badan yang didirikan dan
berkedudukan di Indonesia yang melakukan usaha pelayaran di
dalam negeri
d. orang yang bertempat tinggal atau badan yang didirikan dan
berkedudukan di Indonesia yang melakukan usaha pelayaran dengan
kapal yang didaftarkan baik di Indonesia.

9. Pelunasan PPh yang terutang dalam oleh perusahaan Pelayaran dalam


negeri adalah sebagai berikut kecuali:
a. Dalam hal penghasilan diperoleh dari pemotong pajak, maka pihak
yang membayar atau terutang hasil tersebut wajib memotong PPh
yang terutang, memberikan Bukti Pemotongan, menyetor PPh yang
terutang, Melaporkan pemotongan dan penyetoran.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Dalam hal penghasilan diperoleh bukan dari pihak pemotong pajak,


maka Perusahaan pelayaran, menyetor sendiri PPh yang
terutangdan melaporkan dalam SPT masa
c. Dalam hal bertindak sebagai agen atau persewaan kapal tanpa awak,
maka perusahaan pelayaran melaporkan sebagai penghasilan yang
dikenakan PPh secara umum dan tidak bersifat final, dan akan
dipotong PPh Pasal 23 jika berhadapan dengan pemotong pajak.
d. Karena semua hal yang terkait dengan perusahaan pelayaran telah
dikenakan PPh yang bersifat final, maka perusahaan pelayaran tidak
perlu melaporkan SPT Tahunan PPh .

10 Besarnya tarif PPh norma khusus bagi perusahaan pelayaran atau


penerbangan luar negeri adalah:
a. sebesar 0,44% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.
b. sebesar 1,8% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.
c. sebesar 2,64% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.
d. sebesar 3,64% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.

11. PPh Terutang berdasarkan Norma Khusus bagi Wajib Pajak luar negeri
yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia adalah a.
sebesar 0,44% dari peredaran bruto dan bersifat final.
b. sebesar 1,8% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.
c. sebesar 2,64% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.
d. sebesar 3,64% dari peredaran bruto dan dipungut oleh pihak yang
membayarkan dan bersifat final.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


8
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

12. Pajak Penghasilan terutang terhadap pembayaran premi asuransi dan


premi reasuransi kepada perusahaan asuransi di luar negeri dikenakan
pemotongan 20% X dari perkiraan penghasilan neto. Sedangkan Perkiraan
penghasilan neto adalah sebesar :
a. 50 % dari Premi yang dibayar tertanggung. 10% dari premi yang
dibayar oleh perusahaan asuransi Indonesia dan sebesar 5% dari
jumlah premi reasuransi yang dibayar.
b. 60 % dari Premi yang dibayar tertanggung, 30% dari premi yang
dibayar oleh perusahaan asuransi Indonesia dan sebesar 15% dari
jumlah premi reasuransi yang dibayar.
c. 70 % dari Premi yang dibayar tertanggung, 35% dari premi yang
dibayar oleh perusahaan asuransi Indonesia dan sebesar 15% dari
jumlah premi reasuransi yang dibayar.
d. 80 % dari Premi yang dibayar tertanggung. 40% dari premi yang
dibayar oleh perusahaan asuransi Indonesia dan sebesar 20% dari
jumlah premi reasuransi yang dibayar.

13 Dalam transaksi namgun guna dan serah (Build Operate and Transfer/
BOT)antara investor dan pemilik lahan, perlakuan perpajakan adalah
sebagai berikut :

a. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh investor diamortisasi dalam jumlah


yang sama besar setiap tahun selama masa perjanjian dan atas
Bangunan yang diserahkan oleh investor kepada pemegang hak atas
tanah terutang Pajak penghasilan sebesar 5% final
b. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh investor diamortisasi kedalam
aktiva tetap tidak berwujud gol. I dan atas Bangunan yang diserahkan
oleh investor kepada pemegang hak atas tanah terutang Pajak
Penghasilan sebesar 5% final.
c. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh investor diamortisasi dalam jumlah
yang sama besar setiap tahun selama masa perjanjian dan atas
Bangunan yang diserahkan oleh investor kepada pemegang hak atas
tanah terutang Pajak penghasilan sebesar 10% final.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh investor diamortisasi kedalam


aktiva tetap tidak berwujud gol. I dan atas Bangunan yang diserahkan
oleh investor kepada pemegang hak atas tanah terutang Pajak
Penghasilan sebesar 10% final.
14. Pengenaan PPh bagi Bentuk Usaha tetap adalah sebagai berikut, kecuali:
a. Pengenaan PPh pada dasarnya diperlakukan sama seperti badan
dalam negeri, akan tetapi penghasilan kantor Pusat BUT yang sejenis
dan penghasilan lain yang mempunyai hubungan efektif dengan BUT
merupakan objek PPh bagi BUT.
b. Penghasilan BUT lain di Luar Indonesia yang sejenis dilakukan oleh
BUT di Indonesia, dapat digabungkan sebagai Objek Pajak
Penghasilan di Indonesia, termasuk biaya-biaya yang berkaitan
dengan usaha untuk mendapatkan menagih dan memelihara
penghasilan.
c. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Kantor Pusat BUT sepanjang
berkaitan dengan penghasilan kantor pusat yang menjadi objek PPh
bagi BUT, dapat dikurangkan sebagai pengurang penghasilan bruto
BUT.
d. Penghasilan Kena Pajak BUT setelah dikurangi PPh terutang
merupakan objek PPh Pasal 26, kecuali ditanamkan kembali di
Indonesia dalam usaha aktif.

15. Pengenaan pajak atas penghasilan berupa dividen yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri diatur sebagai berikut
kecuali:
a. dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% dari jumlah bruto dan
bersifat final.
b. termasuk pengertian dividen adalah dividen dari perusahaan asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
c. pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan melalui pemotongan oleh
pihak yang membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar
dividen dan dilakukan pada saat dividen disediakan untuk dibayarkan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. Dividen tidak perlu dikenakan pemotongan PPh final apabila Wajib


Pajak Orang Pribadi tersebut memiliki penghasilan di bawah PTKP.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal
Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang

Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan ke
kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 7 ini.
IX KEGIATAN BELAJAR 8

PELUNASAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mempelajari materi dalam kegiatan belajar ini, diharapkan peserta diklat
memahami pelunasan pajak dalam tahun berjalan, baik melalui pemotongan dan
pemungutan pihak ketiga maupun dilakukan sendiri, pemungutan pajak atas
imbalan kepada orang pribadi, pemotongan dan pemungutan pajak atas
transaksi barang, pemungutan pajak atas transaksi bunga royalti sewa dan jasa,
pembayaran pajak di luar negeri dan pengkreditannya di Indonesia dan pajak
pasal 25 atas angsuran pajak tahun berjalan.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

B. Uraian materi, contoh dan non contoh:

1. Pelunasan Pajak dalam Tahun Berjalan


Pelunasan pajak dalam tahun berjalan diatur dalam pasal 20 Undangundang
Pajak Penghasilan .Pasal 20 ayat (1),(2), (3). Pelunasan pajak dalam tahun
berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain, serta
pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri, tidak termasuk Pajak Penghasilan
yang pengenaannya bersifat final, merupakan pengurang /kredit pajak terhadap
pajak yang terutang pada akhir tahun pajak. Kredit pajak terdiri dari pajak yang
dipotong oleh pihak lain yaitu PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, pajak yang dipungut
oleh pihak lain yaitu PPh Pasal 22, dan Kredit Pajak Luar Negeri ,yaitu PPh Pasal
24 dan pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak yaitu PPh Pasal 25.

2. Pajak Penghasilan Pasal 21

2.1. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21

Pengenaan PPh Pasal 21 adalah pemotongan pajak atas penghasilan


yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri
sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan. Pihak yang wajib melakukan
pemotongan pajak adalah pemberi kerja, bendahara pemerintah, dana pensiun,
badan, perusahaan, dan penyelenggara kegiatan.

2.2. Pemotong Pajak


Pihak-pihak yang ditunjuk sebagai pemotong pajak sesuai dengan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 31 Tahun 2009 adalah
a. pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan
pusat maupun cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam
bentuk apapun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;
b. bendahara atau pemegang kas pemerintah, termasuk bendahara atau
pemegang kas pada Pemerintah Pusat termasuk institusi TNI/POLRI,

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga


negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri,
yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran
lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan
pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan;
c. dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan
badan-badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua
atau jaminan hari tua;
d. orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar :
1. honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
jasa dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadai dengan
status Subjek Pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang
melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya
sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya;
2. honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status
Subjek Pajak luar negeri;
3. honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan
magang;
e. penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang
bersifat nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta
lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan, yang membayar
honorarium, hadiah, atau penghargaan dalam bentuk apapun kepada
Wajib pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan
2.3. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:

a. penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap, baik berupa


penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
b. penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara teratur
berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
c. penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan
penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau
jaminan hari tua, dan pembayaran lain sejenis;
d. penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah
harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang
dibayarkan secara bulanan;
e. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee,
dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang
dilakukan;
f. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan
nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.
g. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk pula penerimaan dalam
bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan dalam bentuk
apapun yang diberikan olehbukan Wajib pajak, Wajib Pajak yang dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final; atau Wajib Pajak yang dikenakan
Pajak Penghasilan berdasarkan norma penghitungan khusus (deemed
profit).

2.2 Tarif Pemotongan Pajak Dan Penerapannya

a. Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh


• Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak
Penghasilan diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak dari Pegawai tetap,
Penerima pensiun yang dibayarkan secara bulanan, Pegawai tidak tetap
atau tenaga kerja lepas yang dibayarkan secara bulanan.
• Pengenaan PPh Pasal 21 bagi pejabat Negara, PNS anggota TNI, POLRI,
serta para pensiunan atas beban APBN/APBD, diatur berdasarkan
ketentuan yang ditetapkan khusus sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 80 tahun 2010, bahwa PPh Pasal 21 yang terutang atas
penghasilan tetap dan teratur setiap bulan ditanggung pemerintah atas
beban APBN/APBD.

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Selain penghasilan teratur berupa honorarium atau imbalan lain dengan


nama apapun yang menjadi beban APBN atau APBD, dipotong oleh
bendahara pemerintah yang membayarkan honorarium atau imbalan lain
tersebut dan dikenakan bersifat Finalbersifat final dengan tarif:
a. sebesar 0% (nol persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan
lain bagi PNS Golongan I dan Golongan II, Anggota TNI dan Anggota
POLRI Golongan Pangkat Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya;
b. sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan
lain bagi PNS Golongan III, Anggota TNI dan Anggota POLRI
Golongan Pangkat Perwira Pertama, dan pensiunannya;
c. sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto honorarium atau
imbalan lain bagi pejabat Negara, PNS Golongan IV, Anggota TNI
dan Anggota POLRI Golongan Pangkat perwira Menengah dan
perwira Tinggi, dan Pensiunannya.
• Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Pesangon
ditentukan sebagai berikut :
a. sebesar 0% (nol persen) atas penghasilan bruto sampai dengan Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
b. sebesar 5% (lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah);
c. sebesar 15% (lima belas persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah);
d. sebesar 25% (dua puluh lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).

• Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Manfaat


Pensiun, Tunjangan Hari Tua, atau Jaminan Hari Tua sebagaimana diatur
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2009 ditentukan sebagai
berikut:
- sebesar 0% (nol persen) atas penghasilan bruto sampai dengan Rp
50.000.000.00 (lima puluh juta rupiah);

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

- sebesar 5% (lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp


50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
Dan atas Uang Pesangon ditentukan sebagai berikut :
- sebesar 0% (nol persen) atas penghasilan bruto sampai dengan Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
- sebesar 5% (lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 100.000.000,00
(seratus juta rupiah);
- sebesar 15% (lima belas persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah);
- sebesar 25% (dua puluh lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp
500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).
• Tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% (dua puluh persen) dan bersifat final
diterapkan atas penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh sebagai
imbalan atas pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang
pribadi dengan status Subjek Pajak luar negeri dengan memperhatikan
ketentuan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku antara
Republik Indonesia dengan negara domisili Subjek Pajak luar negeri
tersebut.
• Bagi Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21 yang tidak
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, dikenakan pemotongan PPh Pasal 21
dengan tarif lebih tinggi 20% (dua puluh persen) daripada tarif yang
diterapkan terhadap Wajib Pajak yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.

3. Pajak Penghasilan Pasal 22

3.1. Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 22


PPh Pasal 22 adalah Pajak Penghasilan yang dipungut atas transaksi
pembelian barang-barang tertentu dan impor, yang dipungut oleh pemungut PPh

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pasal 22. Pemungutan pajak berdasarkan ketentuan ini, dimaksudkan untuk


meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengumpulan dana melalui sistem
pembayaran pajak dan untuk tujuan kesederhanaan, kemudahan, dan
pengenaan pajak yang tepat waktu. Pemungutan pajak berdasarkan ketentuan
ini dapat bersifat sebagai pelunasan tahun berjalan yang merupakan kredit pajak,
dapat juga bersifat final Pertimbangan dalam penunjukan pemungutan PPh Pasal
22 antara lain:
• penunjukan pemungut pajak secara selektif, demi pelaksanaan
pemungutan pajak secara efektif dan efisien;
• tidak mengganggu kelancaran lalu lintas barang; dan
• prosedur pemungutan yang sederhana sehingga mudah dilaksanakan.

. 3.2. Pemungut PPh Pasal 22

a. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;
b. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai
pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi
atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya
berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;
c. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan
mekanisme uang persediaan (UP);
d. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah
Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada
pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung
(LS);
e. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri
kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala
Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam
negeri;
f. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas
penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas;
g. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan,
perkebunan, pertanian, dan perikanan, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pelayanan Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri


atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul
h. Wajib Pajak badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong
sangat mewah. (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008)

3.3. Tarif PPh Pasal 22:


Besarnya Pungutan PPh Pasal 22 terangkum dalam tabel sebagai berikut:
Tabel V. Tarif PPh Pasal 22
No Jenis Kegiatan Tarif bagi WP Sifat
berNPWP (*)
1 Impor Barang :

- Importir – API 2,5% dari nilai Impor Tidak Final

- Importir – non API 7,5% dari nilai Impor

- Yang tidak dikuasai (Barang 7,5% dari harga jual


Impor yang dilelang DJBC lelang
2 Pembayaran atas pembelian barang 1,5% dari harga Tidak Final
oleh pemungut PPh 22 pembelian
3 Penjualan barang produksi :

- Industri Semen 0,25% dari DPP PPN Tidak Final

- Industri Kertas 0,10% dari DPP PPN

- Industri Baja 0,30% dari DPP PPN

- Industri Otomotif 0,45% dari DPP PPN

4 Penjualan barang produksi oleh SPBU SPBU


produsen/importir BBM, Gas dan Pertamina
pelumas atas penjualan BBM, Gas Swasta
dan Pelumas
- Premium 0,3% 0,25% Penyerahan
kepada Agen
- Solar 0,3% 0,25% bersifat final

- Permix/Super TT 0,3% 0,25%

- Minyak Tanah - 0,3%

- Gas LPG - 0,3%

- Pelumas - 0,3%

5 Pembelian bahan untuk keperluan 0,5% dari harga beli Tidak Final
industri atau ekspor dari pedagang sebelum PPN
pengumpul

1 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


9
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

6 Penjualan barang yang tergolong 5% dari harga jual Tidak Final


sangat mewah **) tidak termasuk PPN

*) Besarnya tarif pemungutan yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak
memiliki NPWP lebih tinggi 100% (seratus persen), kecuali sifat pemungutan
adalah PPh Final.

3.5. Saat terutangnya Pajak Penghasilan Pasal 22


• Pajak Penghasilan Pasal 22 atas impor barang, terutang dan dilunasi
bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan Dalam hal
pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka Pajak
Penghasilan Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian
dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB).
• Pajak Penghasilan Pasal 22 atas pembelian barang oleh bendahara
pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut
pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga
Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan
pembayaran atas pembelian barang; bendahara pengeluaran untuk
pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP)
dan uasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah
Membayar yang diberi delegasi oleh KPA terutang dan dipungut pada saat
pembayaran
• Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan hasil produksi industri semen,
industri kertas, industri baja, dan industri otomotif terutang dan dipungut
pada saat penjualan
• Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan hasil bahan bakar minyak, gas
dan pelumas terutang dan dipungut pada saat penerbitan Surat Perintah
Pengeluaran Barang (delivery order)
• Pajak Penghasilan Pasal 22 atas pembelian bahan-bahan dari pedagang
pengumpul terutang dan dipungut pada saat pembelian.

3.6. Pengecualian dari pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22:

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

a. Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan


peraturan perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan
b. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan atau Pajak
Pertambahan Nilai:
1. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang
bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik;
2. barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang
bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia yang
diakui dan terdaftar dalam peraturan menteri keuangan yang
mengatur tentang tata cara pemberian pembebasan bea masuk dan
cukai atas impor barang untuk keperluan badan internasional beserta
para pejabatanya yang bertugas di Indonesia;
3. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial,
kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan bencana;
4. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi alam
dan tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum;
5. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan;
6. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang
cacat lainnya;
7. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
8. barang pindahan;
9. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas,
dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan kepabeanan;
10. barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah
yang ditujukan untuk kepentingan umum;
11. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku
cadang yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan
keamanan negara;
12. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang
bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

13. vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi


Nasional (PIN);
14. buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran
agama;
15. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, kapal
angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal
penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat
keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor
dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau
perusahaan penangkapan ikan nasional;
16. pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan
atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan
Angkutan Udara Niaga Nasional;
17. kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT
Kereta Api Indonesia;
18. peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan foto
udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh
Tentara Nasional Indonesia; dan/atau
19. barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi yang importasinya
dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama

c. Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan


untuk diekspor kembali;
d. Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah diekspor
kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang
yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian,
yang telah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai
e. Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak eks bendaharawan,
berkenaan dengan:

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta


rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
2. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, pelumas,
air minum/PDAM dan benda-benda pos
f. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh Perusahaan
Umum Badan Urusan Logistik (BULOG)
g. Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan
dari emas untuk tujuan ekspor;
h. Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan
dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Pengecualian dari pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas barang impor


tetap berlaku dalam hal barang impor tersebut dikenakan tarif bea masuk sebesar
0% (nol persen).
Pengecualian atas penyerahan barang yang tidak terutang PPh dan atas impor
emas batangan dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pajak
Penghasilan Pasal 22 yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak, selain hal ini
dilakukan tanpa SKB, sesuai peraturan Ditjen Bea dan Cukai

4. Pajak Penghasilan Pasal 23

4.1. Pemotong PPh Pasal 23


Pemotong PPh Pasal 23 adalah Badan pemerintah, Subjek Pajak badan
dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya dan orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam
negeri yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak. Pemotong PPh Pasal 23 wajib
melakukan pemotongan atas objek PPh Pasal 23 yang dibayarkan , disediakan
untuk dibayarkan ,atau telah jatuh tempo pembayarannya kepada Wajib Pajak
dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

4.2. Objek dan tarif Pajak Penghasilan Pasal 23

a. sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto atas:

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1) dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4ayat(1)huruf g UU PPh;


2) bunga, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4ayat (1) huruf f UU PPh;
3) royalti dan
4) hadiah dan penghargaan, bonus,dan sejenisnya selain yang telah
dipotong PPh Pasal 21 ayat (1);

b. sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas:


1) sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
kecuali sewa dan penghasilan lain sehungan dengan penggunaan harta
yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) ;dan
2) imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong
Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.
Dalam hal Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan tidak
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak ,besarnya tariff pemotongan adalah lebih
tinggi 100 % (seratur persen) daripada tarif sebagaimana dimaksud Pasal 23
ayat (1).

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta


merupakan penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan
kesepakatan untuk memberikan hak menggunakan harta selama jangka waktu
tertentu baik dengan perjanjian tertulis maupun tidak tertulis sehingga harta
tersebut hanya dapat digunakan oleh penerima hak selama jangka waktu yang
telah disepakati

4.3. Jenis jasa lain berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.


244/PMK.03/2008.

Jenis jasa lain dipotong PPh sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk
PPN terdiri dari:
a. Jasa penilai (appraisal);

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Jasa aktuaris;
c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
d. Jasa perancang (design);
e. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas
bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap
(BUT);
f. Jasa penunjang di bidang penambangan migas;
g. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan
selain migas;
h. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
i. Jasa penebangan hutan;
j. Jasa pengolahan limbah;
k. Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services);
l. Jasa perantara dan/atau keagenan;
m. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang
dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI;
n. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh
KSEI;
o. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
p. Jasa mixing film;
q. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan,
pemeliharaan dan perbaikan;
r. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas,
AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang
ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
s. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC, TV kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau
bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
t. Jasa maklon;
u. Jasa penyelidikan dan keamanan;

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

v. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;


w. Jasa pengepakan;
x. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media
luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi;
y. Jasa pembasmian hama;
z. Jasa kebersihan atau cleaning service; aa. Jasa katering atau
tata boga.
Yang dimaksud dengan jumlah bruto adalah seluruh jumlah penghasilan
dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk
dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah,
subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap,
atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri
atau bentuk usaha tetap, tidak termasuk :
a. pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak
penyedia tenaga kerja kepada tenaga kerja yang melakukan pekerjaan,
berdasarkan kontrak dengan pengguna jasa;
b. pembayaran atas pengadaan/pembelian barang atau material;
c. pembayaran kepada pihak kedua (sebagai perantara) untuk selanjutnya
dibayarkan kepada pihak ketiga;
d. pembayaran penggantian biaya (reimbursement) yaitu penggantian
pembayaran sebesar jumlah yang nyata-nyata telah dibayarkan oleh pihak
kedua kepada pihak ketiga.

Pembayaran pembayaran tersebut di atas harus dapat dibuktikan dengan :


a. kontrak kerja dan daftar pembayaran gaji, upah, honorarium,
tunjangan dan pembayaran lain. sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan
b. faktur pembelian barang atau material
c. faktur tagihan dari pihak ketiga disertai dengan perjanjian tertulis
d. faktur tagihan atau bukti pembayaran yang telah dibayarkan oleh
pihak kedua kepada pihak ketiga.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Jumlah Bruto di atas tidak berlaku bagi:


a. atas penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan jasa
katering;atau
b. dalam hal penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan jasa
yang telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final
Jasa maklon adalah pemberian jasa dalam rangka proses penyelesaian
suatu barang tertentu yang proses pengerjaannya dilakukan oleh pihak pemberi
jasa (disubkontrakkan), yang spesifikasi, bahan baku dan atau barang setengah
jadi dan atau bahan penolong/pembantu yang akan diproses sebagian atau
seluruhnya disediakan oleh pengguna jasa, dan kepemilikan atas barang jadi
berada pada pengguna jasa.
Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer adalah kegiatan usaha yang
dilakukan oleh pengusaha jasa penyelenggara kegiatan meliputi antara lain
penyelenggaraan pameran, konvensi, pagelaran musik, pesta, seminar,
peluncuran produk, konferensi pers, dan kegiatan lain yang memanfaatkan jasa
penyelenggara kegiatan.
Jasa teknik merupakan pemberian jasa dalam bentuk pemberian informasi
yang berkenaan dengan pengalaman dalam bidang industri, perdagangan dan
ilmu pengetahuan yang dapat meliputi :
a. pemberian informasi dalam pelaksanaan suatu proyek tertentu,
seperti pemetaan dan/atau pencarian dengan bantuan gelombang
seismik;
b. pemberian informasi dalam pembuatan suatu jenis produk tertentu,
seperti pemberian informasi dalam bentuk gambar-gambar,
petunjuk produksi, perhitungan-perhitungan dan sebagainya; atau
c. pemberian informasi yang berkaitan dengan pengalaman di bidang
manajemen, seperti pemberian informasi melalui pelatihan atau
seminar dengan peserta dan materi yang telah ditentukan oleh
pengguna jasa.

Jasa manajemen pemberian jasa dengan ikut serta secara langsung dalam
pelaksanaan atau pengelolaan manajemen.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Jasa konsultan merupakan pemberian advice (petunjuk, pertimbangan,


atau nasihat) profesional dalam suatu bidang usaha, kegiatan, atau pekerjaan
yang dilakukan oleh tenaga ahli atau perkumpulan tenaga ahli, yang tidak disertai
dengan keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam pelaksanaannya.

4.4. Dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23 :

a. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;


b. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna
usaha dengan hak opsi;
c. dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen
yang dterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (2c);
d. bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i;
e. sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya;
f. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa
keuangan yang berfungsi sebagai penyaluran pinjaman dan/atau
pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan .

5. Pajak Penghasilan Pasal 26


5. 1. Pemotong PPh Pasal 26
Ditunjuk sebagai Pemotong pajak adalah Badan Pemerintah, Subyek
Pajak Dalam Negeri, penyelenggara kegiatan, Bentuk Usaha Tetap, atau
perwakilan perusahaan luar negeri lainnya, yang melakukan pembayaran kepada
subjek pajak luar negeri. Pemotongan pajak dilakukan oleh pemotong yang
melakukan pembayaran kepada Wajib Pajak luar negeri dengan tarif sebesar
20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto.
5. 2. Objek Pajak PPh Pasal 26
Jenis-jenis penghasilan yang wajib dilakukan pemotongan:
a dividen b bunga termasuk premium,diskonto, premi swap dan imbalan karena
jaminan pengembalian utang,

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan


harta; d imbalan sehubungan dengan jasa ,pekerjaan,dan kegiatan; e hadiah
dan penghargaan; f pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

5. 3. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak


Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha
tetap di Indonesia dikenakan pajak sebesar 20% (dua puluh persen),kecuali
penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia yang ketentuannya
ditetapkan lebih lanjut dengan keputusan Menteri Keuangan . (Nomor
257/PMK.03/2008 ).

5.4. Sifat pemotongan:


Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud diatas bersifat final, kecuali :
a pemotongan atas penghasilan atas subjek Pajak Luar negeri yang
mempunyai BUT di Indonesia, karena penghasilan tersebut akan
digabungkan sebagai penghasilan BUT di Indonesia sehingga PPh Pasal 26
yang dipotong adalah kredit pajak bagi BUT;
b pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi
atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam
negeri atau bentuk usaha tetap

6. Kredit Pajak Luar Negeri.

6.1. Kredit Pajak Luar Negeri.


Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar
negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan
terhadap pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama.Besarnya kredit
pajak tersebut adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di
luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang
berdasarkan Undang-undang Pajak Penghasilan.
Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan yang
dibayar atau terutang diluar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


0
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

terutang di Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan


yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.Apabila pajak atas penghasilan dari luar
negeri yang dikreditkan ternyata kemudian dikurangkan atau dikembalikan,maka
pajak yang terutang menurut Undang- undang ini harus ditambah dengan jumlah
tersebut pada tahun pengurangan atau pengembalian itu dilakukan. Ketentuan
mengenai pelaksanaan pengkreditan pajak atas penghasilan dari luar negeri
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan .

6.2. Penggabungan penghasilan


Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai
berikut :
• untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya
penghasilan tersebut;
• untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya
penghasilan tersebut.
• untuk penghasilan berupa dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan, dilakukan dalam tahun pajak
pada saat perolehan dividen tersebut ditetapkan sesuai dengan Keputusan
Menteri Keuangan.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.03/2008 perihal Penetapan


Saat Diperolehnya Dividen Oleh Wajib Pajak Dalam Negeri Atas Penyertaan
Modal Pada Badan Usaha Di Luar Negeri Selain Badan Usaha Yang Menjual
Sahamnya Di Bursa Efek

Penentuan saat diperolehnya dividen terkait dengan ada atau tidaknya


ketentuan batas waktu kewajiban penyampaian SPT Tahunan PPh oleh badan
usaha luar negeri tersebut.Dalam hal dinegara tempat kedudukan badan usaha
luar negeri tersebut tidak ada batas waktu kewajiban penyampaian SPT Tahunan
PPh,maka dividen ditetapkan telah diperoleh pada bulan ke tujuh setelah tahun
pajak berakhir.Sedangkan apabila ada batas waktu kewajiban penyampaian SPT
Tahunan PPh,maka dividen ditetapkan telah diperoleh pada bulan ke empat
setelah batas waktu penyampaiannya

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak kerugian yang diderita oleh


Wajib Pajak di luar negeri tidak boleh dikompensasikan dengan penghasilan
yang diterima atau diperoleh dari Indonesia

6.3. Pengkreditan Pajak yang dibayar atau terutang di Luar Negeri.


Pengkreditan pajak atas penghasilan yang diperoleh dari luar negeri
ditetapkan dengan Keputusan Men Keu RI nomor:164/KMK.03/2002,  Pajak
atas penghasilan di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak adalah pajak atas penghasilan yang
terutang atau dibayar di luar negeri.
 Jumlah kredit pajak tersebut setinggi-tingginya sama dengan jumlah pajak
yang dibayar atau terutang diluar negeri,tetapi tidak boleh melebihi jumlah
yang dihitung menurut perbandingan antara pengha-silan dari luar negeri
terhadap Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas
Penghasilan Kena Pajak,atau setinggi-tingginya sama dengan pajak yang
terutang atas Penghasilan Kena Pajak dalam hal Penghasilan Kena Pajak
lebih kecil dari penghasilan luar negeri.
Pengkreditan Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri dapat
diformulasikan sebagai berikut :
a. Penghasilan dalam negeri dari kegiatan usaha xxx
b. Penghasilan Luar Negeri xxx
c. Jumlah Penghasilan Neto ( a+b) xxx
d Penghasilan Kena Pajak ( = c ) xxx
e. PPh terutang (Tarif Pasal 17 x d ) xxx
f. Pajak di Luar Negeri xxx
g. Maksimum kredit pajak ( b/d x e ) xxx

Dari ketiga unsur yaitu huruf e,f dan g , jumlah yang paling kecil diantara
ketiga unsur tersebut merupakan pajak yang terutang atau dibayar diluar negeri
yang dapat dikreditkan ( PPh Pasal 24 ) dengan PPh terutang atas seluruh
penghasilan ( Dalam Negeri dan Luar Negeri ). Jadi PPh Pasal 24 merupakan
hasil dari perhitungan ,dan bukan semata mata jumlah pajak yang terutang atau
dibayar di luar negeri .

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

 Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka


penghitungan kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara.
 Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri melebihi jumlah kredit pajak yang diperkenankan maka kelebihan
tersebut:
• tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang
tahun berikutnya ,
• tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan ,dan
• tidak dapat dimintakan restitusi.

 Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, Wajib Pajak wajib


menyampaikan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan
dilampiri :
Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri;
Foto copi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar
negeri; Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.
Penyampaian permohonan kredit pajak luar negeri tersebut dilakukan
bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan

6.4. Perubahan besarnya penghasilan luar negeri

 Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar
negeri,Wajib Pajak harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan
Tahunan untuk tahun pajak yang bersangkutan dengan melampirkan
dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut.
 Apabila karena pembetulan tersebut Pajak Penghasilan menjadi kurang
bayar,maka atas kekurangan tersebut tidak dikenakan bunga.
 Apabila karena pembetulan tersebut Pajak Penghasilan menjadi lebih
bayar,maka atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada Wajib Pajak
setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

7. Pajak Penghasilan Pasal 25

7.1. Umum
Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak
Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan :
• Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21,dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ; dan
• Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.(Psl
25 ayat(1).
Contoh :
Data WP Orang Pribadi SPT Tahunan TahunPajak 2009
Penghasilan Kena Pajak Rp. xxxx,00
PPh terutang Rp 50.000.000,00
Kredit Pajak :
a. PPh yang dipotong/ dipungut/ Kredit Pajak LN
• PPh Ps.21 Rp. 15.000.000,00 PPh Ps.22
Rp 10.000.000,00
• PPh Ps.23 Rp. 2.500.000,00
• PPh Ps.24 Rp. 7.500.000,00
Rp. 35.000.000,00
PPh yang harus dibayar sendiri Rp 15.000.000,00

b. PPh yang dibayar sendiri


• PPh Ps.25 Rp.
12.000.000,00
Kurang Bayar (PPh Psala 29) Rp. 3.000.000,00

Apabila periode pembukuannya Januari – Desember ,PPh Pasal 29 harus


dilunasi paling lambat 31 Maret 2010

Penghitungan besarnya angsuran Ph Pasal 25 tahun pajak berikutnya ( th 2010


) adealah sebagai berikut
PPh terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun 2009 Rp 50.000.000,00
dikurangi :

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

PPh yang dipotong pemb kerja(Ps.21) Rp.15.000.000,00


PPh yang dipungut pihak lain( Ps.22) Rp 10.000.000,00
PPh yang dipotong pihak lain ( Ps.23) Rp. 2.500.000,00
Kredit Pajak LN (Ps.24) Rp. 7.500.000,00 Rp. 35.000.000,00
Selisih,PPh yang harus dibayar sendiri Rp. 15.000.000,00
Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun
2010 adalah sebesar Rp. 1.250.000,00 ( Rp.15.000.000,00 dibagi 12 )

Apabila PPh tersebut diatas berkenaan dengan penghasilan yang diterima


atau dipeoleh dalam bagian tahun pajak,misalnya 6 bulan dalam tahun
2009,maka besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan
untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp. 2.500.000,00 (Rp.15.000.000,00 dibagi 6)

Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan


terbatas, yaitu bagi Wajib Pajak orang pribadi adalah akhir bulan ketiga tahun
pajak berikutnya,dan bagi Wajib Pajak badan adalah akhir bulan keempat tahun
pajak berikutnya. Sehingga besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri
oleh Wajib Pajak untuk bulan bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan disampaikan belum dapat dihitung sesuai dengan ketentuan
ayat (1).
Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk
bulan bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
disampaikan, adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari
tahun pajak yang lalu .

Contoh
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan oleh Wajib
Pajak orang pribadi pada bulan Pebruari 2010, maka besarnya angsuran pajak
yang harus dibayar Wajib Pajak tersebut untuk bulan Januari 2010 adalah
sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009, misalnya sebesar Rp
1.000.000,00.
Apabila dalam bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan
angsuran pajak menjadi nihil, sehingga angsuran pajak sejak bulan Oktober
sampai dengan Desember 2009 menjadi nihil, maka besarnya angsuran pajak
yang harus dibayar Wajib Pajak setiap bulan untuk bulan Januari 2010 tetap
sama dengan angsuran bulan Desember yaitu nihil.
Selanjutnya pada pasal 25 ayat ( 4 ) nya menegaskan bahwa apabila dalam
tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu
,maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat
ketetapan pajak.

Contoh:
Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak
2009 yang disampaikan Wajib Pajak dalam bulan Pebruari 2010, perhitungan
besarnya angsuran pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp 1.250.000,00.
Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun pajak 2009
yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp
2.000.000,00.
Besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp
2.000.000,00. Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan
pajak tersebut bisa sama, lebih besar atau lebih kecil dari angsuran pajak
sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan.
Contoh
penghitungan PPh Pasal 25 terdapat kompensasi kerugian,
Penghasilan PT X tahun 2009 Rp 120.000.000,00
Sisa kerugian tahun sebelumnya yang
masih dapat dikompensasikan Rp 150.000.000,00
Sisa kerugian yang belum
dikompensasikan tahun 2009 Rp 30.000.000,00

Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2010 adalah:


Penghasilan yang dipakai dasar penghitungan angsuran Pajak Penghasilan
Pasal 25 = Rp 120.000.000,00 - Rp 30.000.000,00 = Rp 90.000.000,00.
Pajak Penghasilan terutang:
28% x Rp 90.000.000,00. = Rp 25.200.000,00
Apabila pada tahun 2009 tidak ada Pajak Penghasilan yang dipotong atau
dipungut oleh pihak lain dan pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri
sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 24, maka besarnya angsuran pajak
bulanan PT X tahun 2010 = 1/12 x Rp 25.200.000,00 = Rp 2.100.000,00

Contoh penghitungan PPh Pasal 25 terdapat penghasilan tidak teratur,


Dalam tahun 2009 penghasilan teratur Wajib Pajak A dari usaha dagang Rp
48.000.000,00 dan penghasilan tidak teratur sebesar Rp 72.000.000,00.
Penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal
25 dari Wajib Pajak A pada tahun 2010 adalah hanya dari penghasilan teratur
tersebut.
Contoh Perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.
PT B yang bergerak di bidang produksi benang dalam tahun 2009 membayar
angsuran bulanan sebesar Rp 15.000.000,00.
Dalam bulan Juni 2009 pabrik milik PT B terbakar, oleh karena itu berdasarkan
keputusan Direktur Jenderal Pajak mulai bulan Juli 2009 angsuran bulanan PT B
dapat disesuaikan menjadi lebih kecil dari Rp 15.000.000,00.
Sebaliknya apabila PT B mengalami peningkatan usaha, maka kewajiban
angsuran bulanan PT B dapat disesuaikan oleh Direktur Jenderal Pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

7.2 Penghitungan PPh Pasal 25 berdasarkan Peraturan Menteri


Keuangan No. 255/PMK.03/2008

7.2.1. PPh Pasal 25 Wajib Pajak Baru


• Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru
adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan
tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua
belas).
• Penghasilan neto adalah:
a. dalam hal Wajib Pajak batu tersebut menyelenggarakan pembukuan dan
dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap
bulan, penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan pembukuannya;
b. dalam hal Wajib Pajak tersebut menyelenggarakan pencatatan dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau
menyelenggarakan pembukuan tetapi dari pembukuannya tidak dapat
dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal
dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atas
peredaran atau penerimaan bruto.

• Untuk Wajib Pajak Orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal yang
disetahunkan dan dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena
Pajak.
• Dalam hal Wajib Pajak baru berupa Wajib Pajak badan yang mempunyai
kewajiban membuat laporan berkala, besarnya angsuran Pajak Penghasilan
Pasal 25 adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan
penerapan tarif umum atas proyeksi laba-rugi fiskal pada laporan berkala
pertama yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).

7.2.2. PPh Pasal 25 WP Bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak
opsi

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak bank


dan sewa guna usaha dengan hak opsi adalah sebesar Pajak Penghasilan yang
dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan
keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan dikurangi Pajak Penghasilan Pasal
24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi
12 (dua belas).

7.2.3. PPh Pasal 25 WP BUMN/BUMD


Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak badan
usaha milik negara dan badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam
bentuk apapun, kecuali Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi,
adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif
umum atas laba-rugi fiskal menurut Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan
(RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah disahkan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan
Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan Pasal 24 yang
dibayar atau terutang di luar negeri tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua belas).
Dalam hal Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) belum
disahkan, maka besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk
bulanbulan sebelum bulan pengesahan adalah sama dengan angsuran Pajak
Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak sebelumnya.

7.2.4. PPh Pasal 25 WP Masuk Bursa dan WP lainnya yang


diharuskan membuat laporan keuangan berkala.
Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak masuk
bursa dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat
laporan keuangan berkala, adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung
berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan
keuangan berkala terakhir yang disetahunkan dikurangi dengan pemotongan dan
pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pasal 24 yang
dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua
belas).

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

7.2.5. PPh Pasal 25 Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu


(WPOPPT)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.03/2009 menetapkan bahwa


WPOPPT adalah Wajib Pajak Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan
usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai 1 (satu) atau lebih
tempat usaha. Ketentuan ini menjadikan mempersempit pengertian Wajib Pajak
Orang Pribadi dikategorikan sebagai WPOPPT. Undang-undang tidak
memberikan batasan jenis usaha, karena diberikan wewenang kepada Menteri
Keuangan untuk menentukan krtiteria dari Wajib PAjak Orang Pribadi yang
ditunjuk sebagai WPOPPT.

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 32/PJ/2010


Tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak
Orang Pribadi Pengusaha Tertentu diatur tentang pelaksanaan PPh PAsal 25
bagi WPOPPT sebagai berikut:
1. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang
pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai Pedagang Pengecer yang
mempunyai 1 (satu) atau lebih tempat usaha. yang melakukan:
a. penjualan barang baik secara grosir maupun eceran; dan/atau
b. penyerahan jasa, melalui suatu tempat usaha.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu wajib mendaftarkan diri
untuk memperoleh NPWP bagi setiap tempat usaha di Kantor Pelayanan
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat usaha tersebut dan di Kantor
Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib
Pajak. Ketentuan ini juga berlaku dalam hal tempat usaha dan tempat
tinggal Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu berada dalam
wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak yang sama.
3. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu, ditetapkan sebesar 0,75% (nol koma tujuh
puluh lima persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari
masingmasing tempat usaha. Pembayaran angsuran Pajak Penghasilan

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pasal 25 ini merupakan kredit pajak atas Pajak Penghasilan yang terutang
untuk Tahun Pajak yang bersangkutan.
4. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dengan melampirkan daftar
jumlah penghasilan dan pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dari
masing-masing tempat usaha ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha
Tertentu dengan menggunakan formulir
Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak dan telah berusia 21 ( dua puluh satu) tahun yang bertolak ke
luar negeri wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dalam
Peraturan Pemerintah .Pajak yang dibayar Wajib Pajak orang pribadi
tersebut merupakan pembayaran angsuran pajak dalam tahun berjalan .
Angsuran pajak ini dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang
terutang pada akhir tahun bersangkutan setelah Wajib Pajak tersebut
memiliki NPWP .( Pasal 25 Ayat (8))
Ketentuan tersebut diatas berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember
2010 .
C. LATIHAN:

1. Sebutkan pembayaran pajak tahun berjalan yang dipotong dan dipungut


pihak lain maupun yang dibayar sendiri yang dapat dijadikan sebagai kredit
pajak.
2. Bagaimana mekamisme Pengkreditan pajak.
3. Sebutkan objek PPh Pasal 21/26 siap yang menjadi pemotong PPh Pasal
21/26 dan berapa tarif pemotongannya
4. Sebutkan objek PPh Pasal 22 siap yang menjadi pemotong PPh Pasal 22
dan berapa trarif pemotongannya
5. Sebutkan objek PPh Pasal 23 /26siap yang menjadi pemotong PPh Pasal
23/26 dan berapa trarif pemotongannya
6. Berikan penjelasan Kredit pajak luar negeri sebagaimana diatur dalam
PAsal 24 UU PPh.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


1
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

7. Bagaimana menentukan besarnya PPh Pasal 25 secara umum dan


penetapan PPh Pasal 25 dalam hal-hal tertentu,

D. RANGKUMAN:

PPh Pasal 21 dipotong dari penghasilan yang diterima atau diperoleh


Pegawai tetap, baik berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak
teratur yaitu penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara
teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya; penghasilan
sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan
dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon, uang
manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua, dan pembayaran lain
sejenis; penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah
harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan
secara bulanan;imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium,
komisi, fee, dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang
dilakukan;imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama
dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.

Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah Pajak Penghasilan yang dipungut


oleh Pemungut PPh Pasal 22 yang ditunjuk atas transaksi jula beli atau impor
barang Pihak yang dit7unjuk sebagai pemungut adalah: bendahara pemerintah
dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan
lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas
pembelian barang; bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan
dengan mekanisme uang persediaan (UP); Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)
atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA,
untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme
pembayaran langsung (LS);Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha
industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam
negeri;Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas
penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas; Industri dan eksportir yang
bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan, yang
ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk
keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul dan Wajib
Pajak badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
(PER MENKEU Nomor 253/PMK.03/2008)
Pemotong PPh Pasal 23 adalah Badan pemerintah, Subjek Pajak badan
dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya dan orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam
negeri yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak
Pemotong PPh Pasal 23 wajib melakukan pemotongan atas objek PPh Pasal
23 yang dibayarkan , disediakan untuk dibayarkan ,atau telah jatuh tempo
pembayarannya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.
Ditunjuk sebagai Pemotong pajak adalah Badan Pemerintah, Subyek Pajak
Dalam Negeri, penyelenggara kegiatan, Bentuk Usaha Tetap, atau perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya, yang melakukan pembayaran kepada subjek
pajak luar negeri. Pemotongan pajak dilakukan oleh pemotong yang melakukan
pembayaran kepada Wajib Pajak luar negeri dengan tarif sebesar 20% (dua
puluh persen) dari jumlah bruto.Jenis-jenis penghasilan yang wajib dilakukan
pemotongan adalah dividen, bunga termasuk premium,diskonto, premi swap dan
imbalan karena jaminan pengembalian utang, royalti, sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta, imbalan sehubungan dengan jasa,
pekerjaan, dan kegiatan; hadiah dan penghargaan dan pensiun dan pembayaran
berkala lainnya.
Selain itu BUT haru menyetorkan PPh Pasal 26 atas Penghasilan Kena Pajak
sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenakan
pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan
kembali di Indonesia yang ketentuannya ditetapkan lebih lanjut dengan
keputusan Menteri Keuangan . (Nomor 257/PMK.03/2008 ).
Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar
negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

terhadap pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama.Besarnya kredit
pajak tersebut adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di
luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang
berdasarkan Undang-undang Pajak Penghasilan .
Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan
yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun
pajak yang lalu dikurangi dengan PPh yang dipotong sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21,dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ; danPPh yang dibayar atau terutang di
luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan
dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.
Ditetapkan pengecualian penghitungan PPh PAsal 25 atas Wajib Pajak baru ,
WP Bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak opsi, , WP BUMN/BUMD, WP
Masuk Bursa dan WP lainnya yang diharuskan membuat laporan keuangan
berkala. Serta Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WPOPPT)

E. TEST FORMATIF :

1. Berikut adalah penghasilan-penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21


adalah:
a. penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap dan
penerima pensiun baik berupa penghasilan yang bersifat teratur
maupun tidak teratur.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b.
Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan
penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara
sekaligus.
b. penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa
upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah
yang dibayarkan secara bulanan;
c. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium,
komisi, fee, dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan
kegiatan yang dilakukan;
d. Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan
asuransi sehubungan dengan pertanggungan perusahaan asuransi
terhadap yang bersangkutan
2. Pengenaan PPh Pasal 21 bagi pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil,
anggota TNI dan POLRI, serta para pensiunan atas beban APBN/APBD,
diatur sebagai berikut:

a. PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan tetap dan teratur


menjadi beban APBN atau APBD ditanggung oleh pemerintah
meliputi gaji dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur setiap
bulan
b. Honorarium atas beban APBN/APBD dikenai Pajak Penghasilan
pasal 21 bersifat final dengan tarif: sebesar 0% 5% dan 15% dari
jumlah bruto tergantung Pangkat dan golongan sesuai Peraturan
Pemerintah terkait.
c. Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang
Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, atau Jaminan Hari Tua yang
dibayarkan sekaligus adalah 0% atas penghasilan bruto sampai
dengan Rp 50.000.000.00 dan 5% atas penghasilan bruto di atas Rp
50.000.000,00.
d. PPh yang telah diopotong dan dipungut atas penghasilan WP Orang
Pribadi menjadi final jika penghasilan WP Orang pribadi tersebut
semata-mata dari objek PPh pemotongan dan pemungutan.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b.
3. Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak Orang Pribadi dari penghasilan
sehubungan dengan hubungan kerja diatur sebagai berikut:
a. bagi pegawai tetap dan penerima pensiun berkala, sebesar
penghasilan neto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP);
bagi pegawai tidak tetap, sebesar penghasilan bruto dikurangi biaya
jabatan dan iuran yang bersifat pensiun serta PTKP;
c. bagi bukan pegawai sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah
penghasilan bruto dikurangi PTKP per bulan.
d. Penerima penghasilan bukan pegawai dapat memperoleh
pengurangan berupa PTKP sepanjang telah mempunyai NPWP dan
hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan
Pemotong serta tidak memperoleh penghasilan lainnya.

4. Berikut adalah pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22,
kecuali :
a. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor
barang;
b. Atas pembelian barang oleh bendahara pemerintah dan Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga
Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan
pembayaran atas pembelian barang, bendahara pengeluaran untuk
pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan
(UP) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit
Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk
pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme
pembayaran langsung (LS)
c. Semua badan usaha dalam negeri yang bergerak di bidang industri
semen, industri rokok, industri kertas,industri baja dan industri
otomotif.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b.
d. Pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam bidang
bahan bakar minyak jenis premix ,super TT dan gas,atas penjualan
hasil produksinya;

5. Dikecualikan dari pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah sebagai


berikut, kecuali :
a. Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang Pajak
Penghasilan.
Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan atau
Pajak Pertambahan Nilai.termasuk impor sementara dimaksudkan
untuk diekspor kembali dan reimpor;
c. Pembayaran dari bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan
lembagalembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran
atas pembelian barang, bendahara pengeluaran untuk pembayaran
yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP) dan Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah
Membayar yang diberi delegasi oleh KPA yang jumlahnya paling
banyak Rp.1.000.000,00 ( satu juta rupiah ) dan tidak merupakan
pembayaran yang terpecah pecah.
d. Pembayaran untuk pembelian gabah dan /atau beras oleh BULOG

6. Bendaharawan Universitas Negeri Jakarta membeli 4 unit komputer dan


printer serta software dari CV. Hitech, dengan perincian sebagai berikut:
Harga Komputer Rp. 32.000.000,-
Soft Ware Rp. 12.000.000,-
Jasa teknisi Rp 6.000.000,-
PPN Rp. 5.000.000,-
Jumlah Tagihan Rp. 55.000.000,-
Pajak-pajak yang harus dipungut dari transaksi di atas adalah:
a. PPh Pasal 21 Rp. 300.000,- PPh Pasal 22 Rp. 6.600.000,- dan PPh

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH ADVIANTO

b.
23 Rp. 100.000,-
b. PPh Pasal 22 Rp. 6.600.000,- dan PPh 23 Rp. 120.000,-
c. PPh Pasal 21 Rp. 1500.000,- PPh Pasal 22 Rp. 6.600.000,- dan PPh
23 Rp. 120.000,-
d. PPh Pasal 23 Rp. 480.000,- PPh Pasal 23 Rp. 360.000,-

7. Tarif Pemotongan dan Objek PPh Pasal 23 adalah sebagai berikut:


a. Dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto dividen, bunga
dan royalti dan hadiah/penghargaan bonus, dan sebesar 2% (dua
persen) atas sewa dan imbalan sehubungan pemberian jasa dari
jumlah bruto.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15% dari jumlah bruto dividen,


bunga, royalti . hadiah/penghargaan bonus, dan atas sewa dan
imbalan sehubungan pemberian jasa dari perkiraan penghasilan
neto.
c. Dipotong PPh Pasal 23 Final sebesar 2% dari jumlah bruto dividen,
bunga, royalti, hadiah/penghargaan bonus, dan atas sewa dan
imbalan sehubungan pemberian jasa dari perkiraan penghasilan
neto.
d. Dipotong PPh Pasal 23 Final sebesar 15% dari jumlah bruto dividen,
bunga, royalti, hadiah/penghargaan bonus, dan atas sewa dan
imbalan sehubungan pemberian jasa dari perkiraan penghasilan
neto.

8. PT Sigap Prima merupakan perusahaan penyedia tenaga kerja untuk


keamanan (satpam). mendapat kontrak penyediaan tenaga kerja satpam
sebanyak 20 orang dari PT Perkutut Emas. Dalam Kontrak disepakati
bahwa pembayaran atas penyerahan jasa setiap bulan sebesar Rp.
33.000.000, dengan perincian gaji 20 orang satpam sebesar Rp.
30.000.000,- dan jasa penyediaan tenaga kerja Rp. 3.000.000,- Kontrak
dibuat setiap 6 (enam) bulan sekali dan pembayaran dilakukan pada saat
kontrak ditandatangani. Bagaimana perlakuan PPh Pasal 23 atas kontrak
dimaksud:
a. PT. Perkutut Emas memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp. 360.000,-
b. PT. Perkutut Emas memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp. 60.000,-
c. PT. Perkutut Emas memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp. 660.000,-
b. PT. Perkutut Emas memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp.
3.960.000,-

9. PT Langlang Buana pada tahun 2010 memperoleh penghasilan sebagai


berikut:
• Penghasilan neto dalam negeri Rp. 3.450.000.000,-
• Hasil usaha di Malaysia melalui BUTnya Rp. 2.000.000.000,- telah
dibayar pajak di Malaysia sebesar Rp. 400.000.000,-

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

• Dividen dari Langlang buana Ltd di Singapura Rp. 4.000.000.000,- atas


dividen tersebut telah dibayar PPh kepada pemerintah Singapura
sebesar Rp. 600.000.000,-
• Bunga yang diterima dari Capital Ltd di Australia sebesar Rp.
1.500.000.000, dan pajak atas bunga yang dibayar sebesar Rp.
450.000.000,-
• Anak Perusahaan di Brunei Darusallam menderita kerugian Rp.
1.800.000.000,-
Hitunglah Kredit Pajak Luar Negeri
a. Rp. 1,275.000.000,-
b. Rp 1.375.000.000
c. Rp 1.875.000.000
d. Rp 1.975.000.000

10. Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah:

a. sebesar PPh yang terutang menurut SPT Tahunan Pajak


Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi kredit pajak dan PPh
yang terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan dibagi 12 (dua
belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.
b. Besarnya PPh Pasal 25 sebelum SPT Tahunan di laporkan adalah
sama dengan bulan terakhir tahun sebelumnya.
c. Jika terdapat ketetapan Pajak Penghasilan hasil pemeriksaan, maka
PPh Pasal 25 dihitung berdasarkan ketetapan pajak tersebut.
d. Jika terjadi perubahan keadaan yang menyebabkan kemungkinan
pajak yang harus dibayar akan menjadi lebih kecil atau lebih besar,
PPh Pasal 25 dapat disesuaikan dengan kondisi tersebut.

11. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru


a. adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif
umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12
(dua belas).

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

b. Penghasilan neto dapat ditetapkan berdasarkan pembukuan WP atau


dengan penerapan Norma perhitungan penghasilan netto jika WP
tersebut adalah WP OP yang menyelenggarakan pencatatan dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
c. Untuk Wajib Pajak Orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal
yang disetahunkan dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan
Tidak Kena Pajak
d. Perhitungan PPh Pasal 25 untuk WP baru hanya dilakukan pada
bulan pertama saat pendaftaran Wajib PAjak dan untuk bulan
selanjutnya disamakan dengan perhitungan pertamakali.

12. Pada bulan Mei 2009, Hendra (TK/0) adalah Wajib Pajak Orang Pribadi
Baru terhitung sejak Mei 2010, memperoleh penghasilan dari usaha toko
kelontongnya. Selama bulan Mei 2011 menurut pembukuannya atas
usahanya dapat dihitung laba Rp. 20.000.000,00. Berapa angsuran PPh
pasal 25 harus dibayar sendiri oleh Hendra atas penghasilan masa Mei
2009?
a. Rp. 1.401.000,00
b. Rp. 934.000,00
c. Rp. 2.265.500,00
d. Nihil ,karena belum pernah menyampaikan SPT Tahunan

13. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak


perbankan dan sewa guna usaha dengan hak opsi adalah :

a. Sebesar PPh terutang tahun sebelumnya dikurangi dengan kredit


pajak dibagi dengan 12
b. sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan
tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan triwulan
terakhir yang disetahunkan dikurangi kredit pajak dan PPh Pasal 24
tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua belas).
c. Dihitung berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan
(RKAP) untuk perbankan dan perusahaan leasing.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


2
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. Dihitung berdasarkan Laporan Keuangan Perbangkan dan


perusahaan sewa guna usaha dengan hak opsi yang telah dilakukan
audit oleh Bank Indonesia.

14. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak masuk bursa dan
Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat
laporan keuangan berkala

a. sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas


laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan berkala terakhir yang
disetahunkan dikurangi kredit pajakuntuk tahun pajak yang lalu,
dibagi 12 (dua belas).
b. Sebesar PPh terutang tahun sebelumnya dikurangi dengan kredit
pajak dibagi dengan 12
c. Ditetapkan dengan norma khusus.
d. Dihitung berdasarkan hasil audit oleh lembaga/instansi yang bertugas
mengawasi Wajib Pajak masuk bursa dan Wajib Pajak lainnya yang
berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan
berkala.

15. Berikut adalah ketentuan berkaitan denagn Wajib Pajak Orang Pribadi
Pengusaha tertentu (WPOPPT), kecuali:

a. WPOPPT adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan


usaha sebagai Pedagang Pengecer yang mempunyai 1 (satu) atau
lebih tempat usaha.
b. Yang dimaksud dengan pedagang pengecer adalah yang
melakukanpenjualan barang baik secara grosir maupun eceran;
dan/atau penyerahan jasa, melalui suatu tempat usaha.
c. WPOPPT wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi
setiap tempat usaha di KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
usaha tersebut dan di KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal Wajib Pajak, kecuali dalam hal tempat usaha dan tempat
tinggalnya berada dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak yang
sama.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

d. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk WPOPPT


ditetapkan sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari
jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat
usaha.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :

Jumlah jawaban yang benar


Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan
ke kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka
pelajari kembali materi pada kegiatan belajar 8 ini.

X KEGIATAN BELAJAR 9

PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PADA AKHIR TAHUN

A. Indikator Keberhasilan :

Setelah mempelajari materi dalam Kegiatan belajar ini, diharapkan peserta


diklat dapat menjelaskan kewajiban perpajakan pada akhir tahun,perhitungan

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

pajak pada akhir tahun, pengkreditan pajak, Surat Pemberitahuan dan

rekonsiliasi fiscal.
B. Uraian materi, contoh dan non contoh

1. Perhitungan pajak pada akhir tahun.

Sesuai dengan Pasal 1 undang-undang perpajakan diatur bahwa Pajak


Penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan dalam satu
tahun pajak. Hal ini membawa konsekuensi bahwa penghasilan dalam satu tahun
pajak harus dihitung kembali berapa kewajiban yang terutang dalam satu tahun
pajak dan pajak-pajak yang telah dibayar pada tahun berjalan diperhitungkan
dengan pajak yang terhutang satu tahun tersebut, kecuali pajak-pajak yang telah
dikenakan final atau bersifat final. Batasan tahun pajak memberikan kepastian
hukum tentang jangka waktu periode pengenaan pajak.Yang dimaksud dengan
“tahun pajak” adalah tahun kalender, tetapi Wajib Pajak dapat menggunakan
tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender, sepanjang tahun buku
tersebut meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
Perhitungan pada akhir tahun pajak, bagi wajib pajak dalam negeri dilakukan
dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Tahunan. Sesuai dengan Pasal 1
angka 11 UU KUP, Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak
digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek
pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. SPT ini dibuat secara self
assessment, dibuat sendiri oleh wajib pajak, diisi dengan benar, dilengkapi
dengan lampiran-lampiran yang dipersyaratkan, ditandatangani oleh yang
berwenang oleh WP menandatangani

2. Pengkreditan Pajak

Pajak yang dibayar selama tahun berjalan dapat dikurangkan terhadap pajak
terutang dalam satu tahun pajak. Dengan demikian jumlah yang dibayar adalah
jumlah pajak terutang dikurangi dengan pajak-pajak yang telah dibayar pada
tahun berjalan yang dikategorikan sebagai kredit pajak. Pengurangan tersebut

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

dilakukan hanya untuk wajib pajak dalam negeri, baik itu Orang Pribadi, badan
maupun BUT. Pajak yang dapat dikurangkan dapat berupa :
a. pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
b. pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau
kegiatan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
c. pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden, bunga, royalti, sewa,
hadiah dan penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23;
d. pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang
boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
e. pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25
f. pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26 ayat (5).

Contoh :

Pajak Penghasilan yang terutang Rp 80.000.000,00

Kredit pajak:

Pemotongan pajak dari Rp 5.000.000,00


pekerjaan (Pasal 21)
Pemungutan pajak oleh pihak Rp 10.000.000,00
lain (Pasal 22)
Pemotongan pajak dari modal Rp 5.000.000,00
(Pasal 23)
Kredit pajak luar negeri (Pasal Rp 15.000.000,00
24)
Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak Rp 10.000.000,00
(Pasal 25)
Jumlah Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan Rp 45.000.000,00
Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar Rp 35.000.000,00

3. Kelebihan pembayaran pajak dan pelunasan pajak terutang dalam satu


tahun pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil
dari jumlah kredit pajak, maka setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan
pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak
berikut sanksi-sanksinya. Ketentuan ini sejalan dengan ketentuan dalam UU KUP
bahwa diperlukan pemeriksaan terhadap SPT yang menyatakan terjadi lebih
bayar dan pengembalian atau perhitungan kelebihan pembayaran pajak. Sesuai
dengan ketentuan dalam Pasal 17B ayat (1) Undang-undang tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, Direktur Jenderal Pajak atau pejabat yang
ditunjuk berwenang untuk mengadakan pemeriksaan sebelum dilakukan
pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak.
Hal-hal yang harus menjadi pertimbangan sebelum dilakukan pengembalian atau
perhitungan kelebihan pajak adalah:
a. kebenaran materiil tentang besarnya pajak penghasilan yang terutang;
b. keabsahan bukti-bukti pungutan dan bukti-bukti potongan pajak serta bukti
pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri selama dan untuk tahun pajak
yang bersangkutan.
Oleh karena itu untuk kepentingan pemeriksaan, Direktur Jenderal Pajak atau
pejabat lain yang ditunjuk diberi wewenang untuk mengadakan pemeriksaan atas
laporan keuangan, buku-buku, dan catatan lainnya serta pemeriksaan lain yang
berkaitan dengan penentuan besarnya pajak penghasilan yang terutang,
kebenaran jumlah pajak dan jumlah pajak yang telah dikreditkan dan untuk
menentukan besarnya kelebihan pembayaran pajak yang harus dikembalikan.
Maksud pemeriksaan ini untuk memastikan bahwa uang yang akan dibayar
kembali kepada Wajib Pajak sebagai restitusi itu adalah benar merupakan hak
Wajib Pajak.
Sebaliknya jika kredit pajak lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pajak yang
terutang, maka wajib pajak harus menyetorkan jumlah kekurangan tersebut.
Wajib Pajak untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang
menurut ketentuan Undang-Undang ini sebelum SPT Tahunan Pajak
Penghasilan disampaikan dan paling lambat pada batas akhir penyampaian SPT
Tahunan.
Apabila tahun buku sama dengan tahun kalender maka kekurangan pajak
tersebut wajib dilunasi paling lambat tanggal 31 Maret bagi Wajib Pajak orang

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

pribadi atau 30 April bagi Wajib Pajak badan setelah tahun pajak berakhir,
sedangkan apabila tahun buku tidak sama dengan tahun kalender, misalnya
dimulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 Juni, maka kekurangan pajak wajib
dilunasi paling lambat tanggal 30 September bagi Wajib Pajak orang pribadi atau
31 Oktober bagi Wajib Pajak badan

4. Surat Pemberitahuan.

Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk
melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau
bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Pemberitahuan Tahunan
adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.
Surat Pemberitahuan Tahunan PPh Orang Pribadi terdiri dari tiga formulir,
tergantung dari karakteristik Wajaib Pajak ditetntukan dari jenis kegiatan usaha
dalam mendapatkan penghasilan.

SPT Tahunan PPh Orang Pribadi terdiri dari :

1. Formulir 1770 SS

Bentuk Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi
Sangat Sederhana (Formulir 1770 SS) bagi Wajib Pajak yang mempunyai
penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari
pekerjaan tidak lebih dari Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan
tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan berupa bunga bank
dan/atau bunga koperasi
Dalam hal Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan dengan
menggunakan Formulir 1770 SS maka Lampiran Bukti Pemotongan Pajak
Penghasilan Pasal 21 berupa Bukti Pemotongan 1721 A1 dan/atau 1721 A2
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Formulir 1770 SS.

2. Formulir 1770 S

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Bentuk Formulir SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi Sederhana
(Formulir 1770 S dan Lampiran-Lampirannya) bagi Wajib Pajak yang mempunyai
penghasilan:
a. dari satu atau lebih pemberi kerja;
b. dari dalam negeri lainnya; dan/atau
c. yang dikenakan Pajak Penghasilan final dan/atau bersifat final,

3. Formulir 1770
Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Orang Pribadi (Formulir 1770 dan Lampiran-Lampirannya) bagi Wajib
Pajak yang mempunyai penghasilan:
a. dari usaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau
Norma Penghitungan Penghasilan Neto;
b. dari satu atau lebih pemberi kerja;
c. yang dikenakan Pajak Penghasilan Final dan atau bersifat Final; dan/atau
d. penghasilan lain,

SPT Tahunan PPh Badan terdiri dari :

SPT PPh Badan hanya terdapat satu jenis saja, namun karena wajib pajak
dengan izin dari Direktur Jenderal pajak dapat menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan Bahasa Inggris dan menggunakan mata uang Dolar
Amerika Serikat, maka untuk memfasilitasi hal ini , SPT Tahunan PPh Badan
disediakan dalam dua versi, yaitu dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa
Inggris.

Bentuk Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan adalah
Formulir 1771 dan Lampiran-Lampirannya. Dan bagi Wajib Pajak Badan bagi
Wajib Pajak yang diizinkan menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang
Dollar Amerika Serikat Bentuk Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan
(Formulir 1771/$ dan Lampiran-Lampirannya)

5. Rekonsiliasi Fiskal

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Dalam rangka menghitung pajak penghasilan perlu dilakukan penyesuaian


penyesuaian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku, yang lebih dikenal dengan istilah rekonsiliasi fiskal.
Proses rekonsiliasai fiskal sebagai berikut:
- Penghasilan/pendapatan diklarifikasi antara penghasilan yang bukan objek
dan penghasilan yang merupakan objek pajak.
- Dari penghasilan yang merupakan objek pajak tersebut, Anda tentukan
penghasilan mana yang pengenaan pajaknya bersfat final, selebihnya
merupakan penghasilan objek pajak tidak termasuk penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat final.
- Biaya/pengeluaran diklarifikasi antara biaya/pengeluaran yang boleh
dikurangkan dengan biaya/pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan.
- Maka selisih antara penghasilan yang merupakan objek pajak tidak termasuk
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final dengan
biaya/pengeluaran yang boleh dikurangkan merupakan penghasilan neto
atau rugi fiskalnya.
Untuk memberikan gambaran umum mengenai rekonsiliasi fiskal dibawah akan
diberikan contoh untuk perusahaan yang bergerak dibidang usaha perdagangan
besar.

No. Uraian Komersia Penyesuaian Fiskal


l Fiskal
Positif Negat
if
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A Penjualan neto. x - - x
B H P. Penjualan
1 Persediaan awal x - - x
2 Pembelian neto x - - x
3 Tersedia untuk dijual x - - x
4 Persediaan akhir (x) - - (x)
Jumlah B x - - x
C Laba bruto usaha ( A-B ) x - - x
D Beban Usaha :
1 Gaji/Upah x - - x
2 Tunjangan PPh-21 x - - x

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

3 PPh-21 ditanggung Perusahaan x x - -


4 Tunjangan dalam bentuk uang x - - x
5 Premi Asuransi Jiwa Peg. Yang x - - x
dibayar perusahaan
6 Iuran Pensiun ke Dana Pensiun x - - x
yang disahkan MK Dibayar
Perusahaan
7 THR x - - x
8 Uang lembur x - - x
9 Pengobatan :
a. Cuma-Cuma (langsung ke RS ) x x - -
b. Penggantian x - - x
c. Tunjangan Pengobatan x - - x
10 Pemberian imbalan dalam bentuk x x - -
natura: beras, gula, dsb
11 Perjalanan dinas pegawai : x - - x
12 Biaya seminar, penataran, kursus x - - x
untuk pegawai.
13 Honor/uang saku pegawai yang x - - x
Mengikuti seminar dsb
14 Kendaraan Perusahaan yang
dibawa Pulang & dikuasai
Pegawai
a. Penyusutan x 50 % x - 50 % x
b. Biaya Reparasi/pemeliharaan x 50 % x - 50 % x
15 Uang Pesangon x - - x
16 Beban bunga secara umum x - - x
17 Sanksi perpajakan: denda, Bunga, x x - -
kenaikan
18 Biaya Entertainment:
Dibuat daftar nominatip,terdapat x - x
hubungan dengan kegiatan
usaha
Dibuat daftar nominatip, tidak ada x x -
hubungan dengan kegiatan
usaha
Tidak dibuat daftar nominatip x x -
19 Beban alat tulis kantor x - x
20 Beban listrik, telpon, fax x - x
21 Beban perangko, materai x - x
22 Sumbangan x x - -
Jumlah D x x - x
E Laba bersih usaha (C-D) x x - x
F Penghasilan Diluar Usaha

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1. Keuntungan penjualan kendaraan X - - x


perusahaan
2. Bunga deposito X - x -
3. Sewa bangunan X - x -
Jumlah F X - x x
Jumlah laba bersih penghasilan X - x x
dalam negeri (E+F)
G Penghasilan luar negeri X - - x
Jumlah laba bersih penghasilan X - x x
dalam negeri dan luar negeri
(E+F+G)

Penjelasan:

a. Dalam pengakuan penghasilan, komersial mengunakan metode akrual basis,


penggunaan metode akrual basis diakui secara fiskal.

b. Penjualan adalah penjualan yang riil, penjualan neto, setelah memperhatikan


potongan penjualan, retur penjualan.

c. Secara fiskal, untuk penilaian persediaan berdasarkan harga perolehan,


dalam penghitungan harga pokok metode yang digunakan fifo atau rata rata.

d. Kolom “ Komersial” sesuai apa yang tercantum dalam laporan Laba Rugi
perusahaan

e. Kolom “Penyesuaian Fiskal Positif”. Yang dimaksud dengan penyesuaian


fiskal positif adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto komersial dalam
rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang-undang
Pajak Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat
menambah penghasilan dan atau mengurangi biaya-biaya komersial
tersebut. Dalam hal biaya menurut fiskal pada kolom (6) menjadi lebih kecil
dari biaya menurut komersial pada kolom (3), laba bersih /penghasilan neto
fiskal akan meningkat ( positif).

f. Kolom “Penyesuaian Fiskal Negatif”.Yang dimaksud dengan penyesuaian


fiskal negatif adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto komersial
dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang
undang Pajak Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


3
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

mengurangi penghasilan dan atau menambah biaya-biaya komersial


tersebut.

g. Kolom “Fiskal” setelah dilakukan penyesuaian dengan Undang-undang Pajak


Penghasilan pos-pos/akun/perkiraan pada kolom fiskal ini yang merupakan
dasar penghitungan Penghasilan Kena Pajak.

C. LATIHAN:

1. Sebutkan pembayaran pajak tahun berjalan yang dipotong dan dipungut


pihak lain maupun yang dibayar sendiri yang dapat dijadikan sebagai kredit
pajak.
2. Bagaimana mekamisme Pengkreditan pajak.
3. Sebutkan objek PPh Pasal 21/26 siap yang menjadi pemotong PPh Pasal
21/26 dan berapa tarif pemotongannya
4. Sebutkan objek PPh Pasal 22 siap yang menjadi pemotong PPh Pasal 22
dan berapa trarif pemotongannya
5. Sebutkan objek PPh Pasal 23 /26siap yang menjadi pemotong PPh Pasal
23/26 dan berapa trarif pemotongannya
6. Berikan penjelasan Kredit pajak luar negeri sebagaimana diatur dalam
PAsal 24 UU PPh.
7. Bagaimana menentukan besarnya PPh Pasal 25 secara umum dan
penetapan PPh Pasal 25 dalam hal-hal tertentu,

D. RANGKUMAN:

Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan dalam


satu tahun pajak, sehingga penghasilan dalam satu tahun pajak harus dihitung
kembali berapa kewajiban yang terutang dalam satu tahun pajak dan pajak-pajak
yang telah dibayar pada tahun berjalan, diperhitungkan dengan pajak yang
terhutang satu tahun tersebut, kecuali pajak-pajak yang telah dikenakan final
atau bersifat final.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Pajak yang dibayar selama tahun berjalan dapat dikurangkan terhadap pajak
terutang dalam satu tahun pajak. Kredit Pajak yang dapat dikurangkan dapat
berupa PPh Pasal 21, PPh Pasal Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 24 dan PPh
Pasal 25, serta kredit pajak yang diatur dalam Pasal 26 ayat (5).

Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil
dari jumlah kredit pajak, maka setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan
pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak
berikut sanksi-sanksinya.

Perhitungan pada akhir tahun pajak, bagi wajib pajak dalam negeri dilakukan
dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Tahunan. Surat Pemberitahuan
adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan
dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau
harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Surat Pemberitahuan Tahunan PPh Orang Pribadi terdiri dari tiga
formulir, tergantung dari karakteristik Wajaib Pajak ditentukan dari jenis kegiatan
usaha dalam mendapatkan penghasilan. SPT PPh Badandibuat dengan Bahasa
indonesia dan mata uang rupiah akan tetapi bagi WP yang telah mendapat izin
dari Direktur JEnderal PAjak dapat menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan Bahasa Inggris dan menggunakan mata uang Dolar Amerika
Serikat.
Dalam rangka menghitung pajak penghasilan perlu dilakukan penyesuaian
penyesuaian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku dengan melakukan rekonsiliasi fiskal.

E. TEST FORMATIF :

1. B S Perhitungan pada akhir tahun pajak, bagi wajib pajak dalam negeri
dilakukan dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. SPT
adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan
objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. B S Pajak yang dibayar selama tahun berjalan dapat dikurangkan terhadap


pajak terutang dalam satu tahun pajak. Dengan demikian jumlah yang

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

dibayar adalah jumlah pajak terutang dikurangi dengan kredit pajak yang
telah di bayar.

3. B S Kredit Pajak yang dapat dikurangkan dapat berupa PPh Pasal 21, PPh
Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal, Pasal 24, PPh Pasal 25, dan Pasal 26
ayat (5).

4. B S Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil
dari jumlah kredit pajak, maka setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan
pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak
berikut sanksi-sanksinya.

5. B S Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak


digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak,
objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan perpajakan.

6. B S Formulir 1770 SS dipergunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang


mempunyai penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja dan tidak
mempunyai penghasilan lainnya kecuali bunga bank dan/atau bunga
koperasi.
7. B S Dalam hal Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan
dengan menggunakan Formulir 1770 SS maka Lampiran Bukti Pemotongan
Pajak Penghasilan Pasal 21 berupa Bukti Pemotongan 1721 A1 dan/atau
1721 A2 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Formulir 1770 SS.

8. B S Bentuk Formulir SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi


Sederhana (Formulir 1770 S dan Lampiran-Lampirannya) bagi Wajib Pajak
yang mempunyai penghasilan:
a. dari satu atau lebih pemberi kerja;
b. dari dalam negeri lainnya; dan/atau
c. yang dikenakan Pajak Penghasilan final dan/atau bersifat final

9. B S Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak


Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (Formulir 1770 dan Lampiran-
Lampirannya) bagi Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan:
a. dari usaha/pekerjaan bebas yang
menyelenggarakan pembukuan atau Norma Penghitungan
Penghasilan Neto;
b. dari satu atau lebih pemberi kerja;
c yang dikenakan Pajak Penghasilan Final dan atau bersifat
Final; dan/atau
d. penghasilan lain.

10.B S Bentuk Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak


Badan adalah Formulir 1771 dan Lampiran-Lampirannya. Dan bagi

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Wajib Pajak Badan bagi Wajib Pajak yang


diizinkan menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang
Dollar Amerika Serikat Bentuk Formulir SPT Tahunan Pajak
Penghasilan (Formulir 1771/$ dan Lampiran-Lampirannya).

11.B S Dalam rangka menghitung pajak penghasilan perlu dilakukan


penyesuaian penyesuaian antara laporan keuangan komersial yang
disusun berdasarkan perinsip pembukuan dan akuntasi disesuaikan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku
yang dikenal dengan istilah rekonsiliasi fiskal.

12.B S Rekonsiliasi fiskal dilakukan dengan cara: penghasilan/pendapatan


diklarifikasi antara penghasilan yang bukan objek dan penghasilan
yang merupakan objek pajak; Penghasilan ditentukan penghasilan
mana yang pengenaan pajaknya bersifat final, selebihnya
merupakan penghasilan objek pajak tidak termasuk penghasilan
yang pengenaan pajaknya bersifat final; dan Biaya/pengeluaran
diklarifikasi antara biaya/pengeluaran yang boleh dikurangkan
dengan biaya/pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan dan
.13.B S Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal
positif adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto
komersial dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak
berdasarkan Undang-undang Pajak Penghasilan beserta peraturan
pelaksanaannya, yang bersifat menambah penghasilan dan atau
mengurangi biaya-biaya komersial tersebut.
14.B S Yang dimaksud dengan penyesuaian fiskal negatif adalah
penyesuaian terhadap penghasilan neto komersial dalam rangka
menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang undang
Pajak Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya, yang
bersifat mengurangi penghasilan dan atau menambah biaya-biaya
komersial tersebut.

15.B S Penyebab utama terjadinya koreksi fiskal adalah adanya perbedaan


tetap antara ketentuan peraturan perundang-undangan dengan
metode pancatatan dan akuntansi serta adanya perbedaan waktu
pengakuan pendapatan dan biaya-biaya antara antara ketentuan
peraturan perundang-undangan dengan metode pancatatan dan
akuntansi.

F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT


Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir modul,
Hitunglah jawaban yang menurut anda benar, kemudian pergunakanlah rumus
dibawah ini untuk menghitung tingkat penguasaan anda terhadap modul ini.

Rumus :

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

Jumlah jawaban yang benar


Nilai = ---------------------------------- X 100 %
Jumlah Soal

Klasifikasi penilaian :
a. Nilai > 80% : Sangat Baik
b. Nilai = 70% sampai dengan 79% : Baik
c. Nilai = 60% sampai dengan 69 % : Cukup
d. Nilai < 60% : Kurang
Jika nilai anda berada dalam kualifikasi baik, maka anda dapat melanjutkan ke
kegiatan belajar selanjutnya, akan tetapi jika masih dibawah 70% maka pelajari
kembali materi pada kegiatan belajar 3 ini.
PENUTUP

Test Sumatif :

Soal Pilihan Ganda.

Pilihlah jawaban yang Saudara anggap paling benar,.

1. Salah satu bentuk fungsi Pajak Penghasilan sebagai fungsi budgeter


adalah bahwa Pajak Penghasilan sebagai: a. Sumber Penerimaan negara
b. Sarana Pemerataan dan distribusi penghasilan
c. Ditetapkan dengan Undang-undang
d. Memberi insentif bagi investasi di daerah tertinggal

2. Pajak Penghasilan bersifat lebih adil dalam pengenaannya dibandingkan


dengan jenis pajak yang lain, hal ini disebabkan antara lain karena:
a. Beban pajak merata kepada semua subjek pajak tanpa pandang bulu’
b. Ditetapkan dengan Undangundang tanpa ada diskriminasi;
c. Beban pajak dapat disesuaikan dengan gaya pikul subjek pajaknya
d. Undang-undang sudah mendapat persetujuan DPR yang merupakan
representasi dari wakil rakyat.

3. Yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan sebagai pajak subjektif, adalah:


a. Pajak Penghasilan hanya melihat dari ada tidaknya transaksi yang
dimiliki oleh subjek pajak.
b. Beban pajak Penghasilan bisa dialihkan ke subjek pajak lainya dalam
rantai distribusi barang dan jasa.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

c. Pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada keadaan dan kondisi


subjek pajak.
d. Pengenaan pajak penghasilan dititikberatkan pada keadaan dan kondisi
objek pajak.

4. Berikut pernyataan yang benar tentang Bentuk usaha tetap adalah :


a. bentuk usaha yang dipergunakan oleh subjek pajak luar negeri, untuk
menjalankan usaha dan melakukan kegiatan di Indonesia
b. Suatu badan yang didirikan untuk memperoleh Penghasilan dari
Indonesia
c. Didirikan sebagai badan hukum di indonesia untuk menjalankan usaha
di indonesia
d. Harus berbentuk badan hukum tidak bisa berbentuk perseorangan.

5. Tidak termasuk sebagai subjek pajak adalah:


a. Organisasi non profit Internasional
b. Kantor Perwakilan Diplomatik
c. Pejabat Diplomatik
d. Warga Indonesia yang bekerja pada organisasi non profit internasional,
dimana Indonesia menjadi anggota di dalamnya
6. Sifat Pajak Penghasilan sebagai Pajak Langsung.
a. Pajak Penghasilan dibebankan secara langsung kepada Subjek Pajak
dan tidak di geser beban pajak tersebut kepada pihak lain.
b. dikenakan langsung terhadap subjek pajak, akan tetapi beban pajak
tersebut dapat dilakukan penggeseran atau dibebankan ke pihak lain.
d. Secara yuridis formal, subjek pajak akan menanggung kewajiban secara
administratif saja, beban secara ekonomis digeser kepada pihak lain.

7. Berikut adalah kriteria yang harus dipenuhi sebagai jenis pajak langsung
kecuali::
a. Penanggung pajak secara yuridis formal, yaitu pihak yang ditunjuk untuk
memenuhi kewajiban perpajakan
b. Penanggung pajak secara ekonomis, yaitu pihak yang sewcara
ekonomis menanggung beban pembayaran pajak
c. Destinataris pajak atau tujuan akhir pengenaan pajak, yaitu pemikul
beban pajak terakhir
d. Baik Penanggung pajak secara yurisis formal, secara ekonomis dan
Desnataris pajak dapat ditanggung secara renteng bersama-sama.
.
8. Yang dimaksud dengan destinataris pajak adalah:
a. Pihak yang menjadi sasaran akhir pengenaan pajak
b. Pihak yang secara yuridis bertanggungjawab atas pelunasan pajak
terutang
c. Pihak yang bertanggungjawab atas pemenuhan administrasi perpajakan
d. Pihak yang dalam secara ekonomis menanggung beban pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

9. Pajak Penghasilan dikategorikan sebagai pajak pusat atau pajak negara.


Pengkategorian ini berdasarkan :
a. Dilihat dari otoritas yang berwenang mengadministrasikan pemungutan
pajak,
b. Dilihat dari otoritas yang berwenang mengambil manfaat pemungutan
pajak.
c. Berdasarkan lokasi administratif dari pembayar pajak.
d. Berdasarkan wilayah berlakunya undang-undang atau Peraturan yang
mengaturnya

10. Ny. Parijem bekerja adalah tenaga kerja Indonesia yang sebagai perawat
pada sebuah Rumah sakit di Uni Emirat Arab sejak tahun 2009, setiap
tahun pulang ke tanah air selama 2 bulan dalam rangka cuti tahunan yang
diberikan oleh majikannya. Status`subjektif perpajakan Ny. Parijem adalah:
a. Subjek Pajak Dalam Negeri
b. Subjek Pajak Luar Negeri
c. Warga Negara Indonesia
d. Warga Negara Asing

11. Terkait soal nomor 8 di atas, setiap bulan Ny. Parijem mendapatkan gaji
dan Tunjangan sebesar USD 68.000,- selain itu Ny, Parijem mendapat
kiriman atas sewa rumah yang dimilikinya dari penyewanya PT BCA.
Berkaitan dengan hal ini:
a. Atas penghasilan di luar negeri dikenakan pajak berdasarkan Undang-
undang negara yang bersangkutan, dan atas kiriman sewa dipotong PPh
Pasal 26 atau berdasarkan P3B.
b. Atas penghasilan di luar negeri dan kiriman sewa dikenakan pajak
karena UU Pajak penghasilan menganut penghasilan yang luas yang
berasal dari berbagai sumber (word wide income)
c. Tidak terutang pajak penghasilan karena bukan termasuk sebagai
subjek pajak
d. Semua penghasilan yang diperoleh dilaporkan dalam SPT tahunan PPh.

12. Berikut ini yang tidak termasuk dalam pengertian dividen adalah :
a. pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan
nama dan dalam bentuk apapun;
b. pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang
disetor
c. pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk
saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;
d. pembagian laba dalam bentuk saham;

13. PT. Gara-gara pada tanggal 14 Juli 2009 membeli aktiva kelompok 1
seharga Rp.6.000.000. Jika nilai residu ditaksir Rp. 50.000,- maka beban
penyusutan fiskal untuk tahun pajak 2009 adalah; .( metode penyusutan
fiscal Garis Lurus ) a. Rp.750.000,00.
b. Rp.743.750,00
c. Rp.375.000,00
d. Rp.371.875,00

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

14. PT A melakukan pertukaran mesin alat tenun dengan mesin boiler yang
dimiliki PT B. Harga pasar mesin dan peralatan tersebut masing-masing
Rp. 35.000.000. Harga sisa buku mesin alat tenun tersebut Rp. 24.000.000,
dan harga sisa buku boiler adalah Rp. 20.000.000. pernyataan di bawah ini
benar kecuali:
a. Tidak terdapat objek PPh karena PT A dan PT B harus mencatat mesin
dan peralatan yang diperolehnya berdasarkan harga sisa buku dari
barang yang dipertukarkan.
b. PT. A memperoleh penghasilan yang merupakan objek pajak sebesar
Rp. 11.000.000,-
c. PT. B memperoleh Penghasilan yang merupakan objek pajak sebesar
Rp. 15.000.000,-
d. Mesin dan peralatan yang baru diperoleh dari pertukaran, dicatat
berdasarkan harga pasar.

15. Perusahaan Asuransi menjual produk-produk di bidang perasuransian


melalui jasa agen-agent penjual asuransi. Atas penjualan yang dilakukan
Agent Asuransi mendapat imbal jasa berupa komisi. Perlakuan PPh atas
pembayaran komisi tersebut adalah:
a. Dipotong PPh Pasal 23 atas semua jasa penjualan produk asuransi:
b. Dipungut PPh Pasal 21 karena Agent asuransi pada dasarnya adalah
Karyawan Perusahaan Asuransi.
c. Jika Agent Asuransi berbentuk badan usaha maka dipotong PPh Pasal
23 dan jika Agent Asuransi berbentuk perorangan, maka dipungut PPh
Pasal 21 jasa perseorangan.
d. Tidak perlu dilakukan pemotongan dan pemungutan PPh karena
menggunakan pola bagi hasil.

16. Perlakuan Premi untuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi


jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa yang dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak orang pribadi dan yang dibayarkan oleh pemberi kerja adalah
:
a. jika dibayar sendiri oleh WP OP, tidak boleh dikurangkan dari
penghasilan bruto dan jika dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja
menambah penghasilan yang merupakan Objek Pajak.
b. jika dibayar sendiri WP OP maka boleh dikurangkan dari penghasilan
bruto dan jika dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja menambah
penghasilan yang merupakan Objek Pajak.
c. jika dibayar sendiri WP OP maka akan mengurangi penghasilan bruto
dan jika dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja menambah
penghasilan yang merupakan Objek Pajak
d. jika dibayar sendiri oleh WP OP, tidak boleh dikurangkan dari
penghasilan bruto dan jika dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja
tidak perlu ditambahkan pada penghasilan yang merupakan Objek
Pajak.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

17 Ciri-ciri dari Penghasilan yang dikenakan final adalah sebagai berikut,


kecuali:
a. Penghasilan tidak digabungkan dengan yang dikenakan tarif umum
b. Pajak yang dibayar atau dipotong atau dipungut tidak dapat dikreditkan
c. Harus dilunasi sendiri oleh Wajib Pajak.
d. Biaya terkait mendapatkan, memelihara atau menagih penghasilan
tidak
dapat dikurangkan dalam menghitung penghasilan netto

18. PT ABB, industri kertas memberikan imbalan dalam bentuk natura kepada
karyawannya Pemberian imbalan sebagaimana tersebut dibawah ini , yang
dapat dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak PT ABB
dan bagi karyawan yang menerima natura bukan merupakan objek PPh 21
adalah ….
a. Makan siang untuk semua karyawan
b. Seragam pakaian bagian kantor
c. Fasilitas rumah dinas direksi
d. Jas untuk direksi

19. Perusahaan menyelenggarakan acara family gathering disebuah pulau


kawasan wisata bagi Direksi, Komisaris dan para pemegang saham
beserta keluarganya dan sekaligus merayakan keberhasilan atas
keuntungan yang diperoleh pada tahun 2010. Perlakukan biaya atas acara
tersebut adalah:
a. Dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan, karena secara tidak
langsung berhubungan dengan kinerja perusahaan.
b. Tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan baik secara
komersial maupun fiscal, karena tidak terkait secara langsung dengan
usaha dalam mendapatkan. memperoleh dan memelihara penghasilan.
c. perusahaan harus membuat pemisahaan atas biaya yang dikeluarkan
dalam acara tersebut, antara biaya yang dapat dikurangkan dan yang
tidak dapat dikurangkan.
d. Tidak dapat dikurangkan karena masuk dalam pengertian pemberian
natura.

20. PT Indahtex melakukan pertukaran mesin tenun dengan mesin boiler yang
dimiliki oleh PT Nusantara Tehnik, Harga Pasar Mesin bolier adalah Rp.
35.000.000,- dan harga Pasar mesin tenun Rp. 40.000.000,- PT. Nusantara
Teknik membayar RP. 5.000.000 sebagai tukar tambah selisih harga pasar.
Harga sisa buku mesin tenun adalah Rp. 29.000.000,- dan harga sisa buku
mesin boiler adalah 27.000.000,-
Keuntungan yang diperoleh dari transaksi tukar tambah oleh PT. Indahtex
adalah :
a. Rp. 16.000.000,-
b. Rp. 15.000.000,-
c. Rp. 12.000.000,-
d. Rp. 11.000.000,-

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

21. Sebuah truk tanki yang dibeli tahun 2008 seharga Rp. 250.000.000,
terbakar pada tahun 2010. Truk tersebut telah disusutkan sebesar Rp.
210.000.000. Pada bulan September 2010, perusahaan mendapatkan
pembayaran klaim asuransi sebesar Rp. 75.000.000,-
Perlakukan perpajakan atas kejadian di atas adalah:
a. Perusahaan rugi sebesar Rp. 40.000.000,-
b. Perusahaan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 35.000.000,-
c. Perusahaan mencatatkan kerugian sebesar Rp. 135.000.000
d. Perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp. 35.000.000 dan mencatan
penghasilan sebesar Rp, 75.000.000,-

22. Batasan Wajib Pajak dan peredaran usaha yang diperkenankan untuk
mempergunakan Norma Perhitungan Penghasilan Netto sejak tahun 2009
adalah :
a. Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Peredaran Usaha Rp. 600.000.000,-
b. Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Peredaran Usaha
Rp.1.200.000.000,-
c. Wajib Pajak Orang Orang Pribadi sampai dengan Peredaran Usaha Rp.
4.800.000.000,-
d. Wajib Pajak Orang Orang Pribadi Peredaran Usaha kurang dari Rp.
4.800.000.000,-

23. PT. Prospect International sebuah merupakan perusahaan investasi yang


berkedudukan di Jakarta. Pada tahun pajak 2010 menerima dan
memperoleh penghasilan neto dari sumber luar negeri sebagai berikut:
• Hasil usaha dalam negeri menghasilan laba Fiscal tahun 2010 seberar
Rp. 2.400.000.000,-
• Hasil Investasi melalui unit usaha di Singapura dlm th pajak 2010
sebesar Rp 2.000.000.000,00;
• Dividen atas saham pada "X Ltd." di Australia sebesar Rp
1.200.000.000,00 yaitu berasal dari keuntungan tahun 2009 yang
ditetapkan dalam rapat pemegang saham bulanNovember tahun 2010
dan akan dibayarkan bulan Maret tahun 2011;
• Dividen atas penyertaan saham sebanyak 70% pada "Y Corporation" di
Hongkong , sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek berasal dari
keuntungan 2009 yang berdasarkan Kep Menkeu 256/PMK.03/2008
ditetapkan diperoleh tahun 2010; Rp 750.000.000,00
• Hak atas bunga kwartal IV tahun 2010 sebesar Rp 800.000.000,00 dari
"Z Sdn Bhd" di Kuala Lumpur yang baru akan diterima bulan Juli 2011.

Penghasilan yang diterima dan diperoleh PT Prospect Internasional


Tahun 2010 adalah :
a. Rp. 7.150.000.000,00 b Rp. 6.350.000.000,00
c. Rp. 5.950.000.000,00
d. Rp. 5.150.000.000,00

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


4
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

24. Tn Katon Sugiharto memiliki sebuah usaha percetakan, selama tahun 2010
usaha percetakan memperoleh omset Rp. 1.000.000.000,- norma
perhitungan penghasilan netto untuk usaha percetakan adalah 13,5%.
Selain itu Tn Katon Sugiharto juga berusaha di bidang persewaan alat-alat
pesta, selama tahun 2010 memperoleh omset Rp. 100.000.000,- Norma
untuk usaha persewaan alat-alat pesta adalah 27,5 %. . Selain itu Tn Katon
Sgiharto juga berprofesi sebagai agen asuransi, selama tahun 2010
memperoleh fee dari perusahaan asuransi sebesar 200.000.000,-
Penghasilan netto dari usaha Tn Katon Sugiharto adalah dari usaha dan
pekerjaan bebas selama tahun 2010 adalah: a. Rp 145.000.000,-
b. Rp 235.000.000,-
c. Rp. 162.500.000,-
d. Rp. 262.500.000,-

25. Tn Achmad Sudiro adalah seorang Pegawai pada sebuah bank Swasta,
Istri Tn Achmad, Ny. Sulastri bekerja di sebuah instansi pemerintah. Pada
bulan Februari 2010 yang lalu anak ketiga lahir. Selama tahun 2010
datadata penghasilan ybs adalah sebagai berikut:
• Penghasilan netto Tn Achmad menurut Formulir 1721 A1 adalah sebesar
Rp. 840.000.000,-
• Penghasilan netto Nn Sulastri berdasarkan formulir 1721 A2 adalah Rp.
480.000.000,-
• Hasil menyewakan 2 buah Kendaraan selama tahun 2010 yang dititipkan
pada temannya adalah Rp. 87.000.000,-
• Menyewakan ruko pada Bank BNI dan menyewakan space untuk ATM
Rp. 54.000.000,-
• Ny. Sulastri menjadi pembicara seminar selama tahun 2010 di instansinya
total honorarium yang diterimanya adalah Rp 17.000.000,-
• Bunga deposito yang diperoleh Tn. Achmad Rp. 13.000.000,- dan atas
nama istrinya Rp. 24.500.000,-
• Anak Pertama baru duduk di kelas 4 SD, selama tahun 2010
mendapatkan hadiah dari lomba melukis anak-anak iklan Rp. 5.000.000
dan telah dipotong PPh pasal 21 sebesar Rp 250.000,- oleh PT. Prima
advertising.
Dari uraian di atas jumlah penghasilan netto fiskal tahun 2010 adalah a.
Rp 932.000.000,-
a. Rp. 949.000.000,-
b. Rp. 1.429.000.000,-
c. Rp. 1.412.000.000,-

Kunci Jawaban Formatif dan Sumatif

1. Jawaban Test Formatif

KB I KB II KB III KB IV KB V

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK L.Y. HARI SIH
ADVIANTO

1. a. 1. a. 1. d. 1. c. 1. b.
2. c. 2. d. 2. d 2. b. 2. b
3. c. 3. d. 3. c. 3. b. 3. b
4. c 4. a. 4. c. 4. d. 4. c
5. a 5. b. 5. b 5. a. 5. d
6. d. 6. d. 6. d. 6. d. 6. d.
7. a. 7. b. 7. b. 7. d. 7. c.
8. a. 8. d. 8. c. 8. c. 8. a.
9. d. 9. a. 9. c 9. a. 9. a.
10. d. 10. c. 10. b. 10. d. 10. a
11. c. 11. d. 11. a. 11. d. 11. b.
12. d. 12. c. 12. b. 12. b. 12. b
13. c. 13. c. 13. c. 13. b. 13. d
14. c. 14. a. 14. d. 14. d. 14. b
15. b. 15. d. 15. d. 15. a. 15. b

KB VI KB VII KB VIII KB IX

1 B 1. d 1, d 1. B .
2 S 2. a 2. d 2. B
3 B 3. b 3. b 3. B
4 S 4. d 4. c 4. B
5 S 5. a 5. c 5. B
6 B 6. a 6. b 6. S
7 S 7. b 7. a 7. B
8 B 8. a 8. a 8. B
9 B 9. d 9. b 9. B
10 S 10 c 10. c 10. B
11 B 11. a 11. d 11. B
12 B 12. a 12. b 12. B
13 B 13 a 13. b 13. B
14 S 15 14. b 14. a 14. B
B 15. d 15. c 15. B

Kunci Jawaban Test Sumatif


Pajak Penghasilan
Soal Pilihan Ganda.

1. a. 6 a. 11. a. 16. a. 21. d.


2. c. 7. d. 12. c. 17 c. 22. d.
3. c. 8. a. 13. a. 18. a 23. b
4. a. 9. a. 14. a. 19. d. 24. d.
5. d. 10. b. 15. c. 20. d. 25. a.

2 PAJAK PENGHASILAN @DTS DASAR PAJAK I


5