Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

JANUARI 2018

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

CEREBRAL PALSY

Disusun oleh:

Farouq Azhar M. Selomo C014172014

Ummi Pertiwi C014172002

Nurfaidah C111 13 058

Pembimbing:

dr. Anshory Sahlan, Sp.KFR

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FISIK & REHABILITASI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL LAPORAN KASUS: CEREBRAL PALSY


Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
1. Nama : Farouq Azhar M.Selomo
NIM : C014172014
2. Nama : Ummi Pertiwi
NIM : C014172002
3. Nama : Nurfaidah
NIM : C111 13 058
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Januari 2018


Supervisor Pembimbing

dr. Anshory Sahlan, Sp.KFR

Mengetahui,
KPM Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

dr. Husnul Mubarak, Sp.KFR


BAB 1
LAPORAN KASUS

Nama Penderita : An. K


Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 01 Juli 2002
Umur : 15 tahun, 7 bulan
Alamat : Dusun Tamappalalu, Bulukumba
Agama : Islam
No. Rekam Medis : 090731

1.1 Anamnesis
Keluhan Utama : kaku pada anggota gerak bawah
Seorang anak laki-laki berumur 15 tahun dirujuk dari rumah sakit
Bulukumba dengan keluhan kaku pada anggota gerak bawahnya. Menurut
keterangan dari ayah pasien, sejak kecil kedua kaki dan tangan pasien kaku.
Pada usia 2 tahun pasien diajari untuk berjalan, namun pasien tidak dapat
melakukannya. Pasien hanya bisa berteriak jika kesakitan dan hanya bisa
membuka mulut apabila disendokkan makanan. Dan ayah pasien juga
menyadari bahwa anaknya mengalami keterlambatan bicara yang seharusnya
dapat dilakukan sesuai usianya karena pada usia 1-2 tahun pasien diajar bicara
namun pasien tidak bisa mengeluarkan satu suku katapun.
Sampai sekarang pasien harus selalu dibantu bila dari posisi berbaring
ke duduk ataupun sebaliknya. Dari posisi duduk ke berdiri pun harus dibantu
dan tidak bisa berdiri sendiri. Pasien tidak mengalami kaku pada mulutnya.
Pasien tidak merespon bila dipanggil namanya. Pasien tidak memiliki keluhan
buang air kecil dan buang air besar.
Pasien anak ke dua dari tiga bersaudara, semua saudaranya tumbuh
dan berkembang dengan normal seperti anak lainnya.
Riwayat prenatal, perinatal dan postnatal, tidak diketahui. Riwayat
makanan, pasien mendapatkan ASI tetapi tidak eksklusif dan makanan
pendamping asi, sedangkan riwayat imunisasi, pasien tidak pernah
mendapatkan imunisasi.

1.2 Pemeriksaan Fisik


1.2.1 Pemeriksaan Keadaan Umum
Keadaan umum : compos mentis, transfer dependen, gait : sulit dinilai, postur :
sulit dinilai.
Tanda-tanda vital:
• Nadi : 96 x/menit
• Pernapasan : 24 x/menit
• Suhu : 36,5 OC
• Saturasi : 98%
Status nutrisi:
• Berat Badan : 11 kg
• Tinggi Badan : 121 cm
• Lingkar Kepala : 53 cm (Normosefal)
• Lingkar Lengan : 11 cm
BB/TB = 11/23 x 100% = 47,82 (Gizi Buruk)
BB/U = 11/59 x 100% = 18,65
TB/U = 121/173 x 100% = 17,30 (Perawakan Pendek)
Kepala : Konjungtiva tidak pucat, ikterus tidak ada.
Paru : Ada iga gambang.
Bunyi nafas vesikuler, ronkhi dan whezing tidak ada.
Jantung : Bunyi jantung I/II murni reguler. Bising tidak ada
Abdomen : Datar, ikut gerak nafas. Hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas : Otot atrofi, wasting, ada spastik.
1.2.2 Pemeriksaan Muskuloskeletal

ROM MMT
Cervical
Flexion
Extension
Sulit dievaluasi Non-fungsional
Lateral Flexion
Rotation

Trunk
Flexion
Extension
Sulit dievaluasi
Lateral Flexion
Non-fungsional
Rotation
Shoulder
Flexion
Extension
Abduction
Sulit dievaluasi Non-fungsional
Adduction
Ext. Rotation
Int. Rotation
Elbow
Flexion Sulit dievaluasi Fungsional
Extention
Forearm Supination
Forearm Pronation
Wrist
Flexion
Extension
Sulit dievaluasi Fungsional
Radial Deviation
Ulnar Deviation
Fingers
Flexion
MCP
PIP
DIP Sulit dievaluasi Fungsional
Extension
Abduction
Adduction

Thumbs
Flexion
MCP
IP
Extension Sulit dievaluasi Fungsional
Abduction
Adduction
Opposition
Hip
Flexion
Extension
Abduction Sulit dievaluasi Fungsional
Adduction
Ext. Rotation
Int. Rotation
Knee
Flexion
Sulit dievaluasi Fungsional
Extension
Ankle
Plantar Flexion
Dorsi Flexion
Sulit dievaluasi Non-fungsional
Inversion
Eversion
Toes
Flexion
MTP
Sulit dievaluasi fungsional
IP
Extension
Big Toe
Flexion
MTP
Sulit dievaluasi fungsional
IP
Extension

1.2.3 Pemeriksaan Neurologis


 DTRs (Deep Tendon Reflexes):
BPR : N /N KPR : N /N
TPR : N /N APR : N / N
 Refleks Patologis : Babinski: + / +,
 Defisit sensoris : Sulit dievaluasi
 Denver Developmental Screening Test :
o Motorik kasar : Sesuai usia 6 bulan
- Supine to prone : tidak bisa
- Prone to supine : tidak bisa
- Supine to sit : dependent
- Sit Tolerance : tidak bisa
o Motorik halus : Sulit dinilai
o Bahasa : Tidak bisa
o Personal sosial : Tidak bisa
 Pemeriksan Spastisitas berdasarkan Ashworth Scale:
o Ektremitas superior : 3 ( peningkatan tonus otot lebih nyata
sepanjang sebagian ROM, tapi sendi masih mudah digerakkan)
o Ekstremitas inferior : 5 (Sendi atau ekstremitas kaku/rigid pada
gerakan fleksi/ekstensi)
1.3 Status Lokalis
 Inspeksi : deformitas (-), udem (-), atrofi (+), bekas luka (+)
 Palpasi : tidak ada nyeri tekan
1.4 Pemeriksaan Khusus
 Refleks Premitif :
No. Refleks Hasil
Level Spinal
1. - Flexi Withdrawal
Suli dinilai
- Extensor Thrust
- Cross Extentuion
Level Brainstem
- Asimetric Tonic Neck Reflex (ATNR)
2. - Simertic Tonic Neck Reflex (STNR) Suli dinilai
- Tonic Labrinthine supine
- Tonic Labrinthine Prone
Level Midbarin
- Neck Righting
3. Suli dinilai
- Body rightingreaction on the body
- Optical righting
Level cortical
4. - Reaksi Keseimbangan Suli dinilai

1.5 Diagnosis
Diagnosis: Speech Delay + Diplegia Spastik et causa Cerebral Palsy
Diagnosis Fungsional
 Impairment : Spastic Extremitas Inferior, Nutrisional Marasmus.
 Disability : Gangguan transfer tanpa bantuan akibat dari spastik otot
pada ke dua ekstremitas bawah , gangguan kognitif.
 Handicap : Gangguan fungsional berat dalam aktivitas sehari-hari
secara mandiri dan kesulitan berinteraksi dengan keluarga

Daftar Masalah
 Surgical: -
 Medical:
- spastik otot
- gangguan duduk, berdiri dan berjalan
- gangguan berbicara
- imobilisasi lama
1.6 Target / Goals
 Jangka Pendek : mencegah komplikasi imobilisasi lama,
meringankan spastisitas.
 Jangka Panjang : dapat duduk secara aktif, dapat memahami
komunikasi satu arah.
1.7 Planning
Perencanaan
 Perencanaan diagnostik: CT-Scan Kepala tanpa Kontras
 Perencanaan terapi:
Latihan:
 Speech therapy
- Oral Moral Stimulation
- Latihan vocalisasi
- Latihan konsep bahasa
 Stretching tendon and muscle
 Latihan ROM aktif asistif anggota gerak atas dan bawah, dextra dan
sinistra
 Latihan supine to prone, prone to supine, supine to sitting, sitting
balance and tolerance training
 Perencanaan pengawasan : Activity of Daily Living (ADL)
 Perencanaan edukasi : penjelasan kondisi pasien
home exercise program

1.8 Prognosiso
 Advitam : dubia
 Sanationam : dubia
 Et fungsionam : dubia
1.9 Resume

Seorang anak laki-laki berumur 15 tahun dirujuk dari rumah sakit


Bulukumba dengan keluhan kaku pada anggota gerak bawahnya. Menurut
keterangan dari ayah pasien, sejak kecil kedua kaki dan tangan pasien kaku.
Pada usia 2 tahun pasien diajari untuk berjalan, namun pasien tidak dapat
melakukannya. Pasien hanya bisa berteriak jika kesakitan dan hanya bisa
membuka mulut apabila disendokkan makanan. Dan ayah pasien juga
menyadari bahwa anaknya mengalami keterlambatan bicara yang seharusnya
dapat dilakukan sesuai usianya karena pada usia 1-2 tahun pasien diajar bicara
namun pasien tidak bisa mengeluarkan satu suku katapun.
Sampai sekarang pasien harus selalu dibantu bila dari posisi berbaring ke
duduk ataupun sebaliknya. Dari posisi duduk ke berdiri pun harus dibantu dan
tidak bisa berdiri sendiri. Pasien tidak mengalami kaku pada mulutnya. Pasien
tidak merespon bila dipanggil namanya. Pasien tidak memiliki keluhan buang
air kecil dan buang air besar.
Pasien anak ke dua dari tiga bersaudara, semua saudaranya tumbuh dan
berkembang dengan normal seperti anak lainnya.
Riwayat prenatal, perinatal dan postnatal, tidak diketahui. Riwayat
makanan, pasien mendapatkan ASI tetapi tidak eksklusif dan makanan
pendamping asi, sedangkan riwayat imunisasi, pasien tidak pernah
mendapatkan imunisasi.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum pasien yaitu sakit
berat, gizi buruk, transfer dependen, postur dan gait sulit dinilai. Pada thorax
didapatkan iga gambang, dan ada wasting. Pada ekstremitas atas dan bawah
didapatkan otot atrofi dan spastik. Pada pemeriksaan Range of Motion sulit
dievaluasi dan Manual Muscle Test yaitu cervical dan thrunk sulit dinilai non-
fungsional,shoulder, elbow, wrist, finger dan thumbs sulit dinilai dan
fungsional. Hip, knee, finger dan big toe sulit dinilai dan fungsional.
Pemeriksaan neurologi didapatkan refleks patologis (babinski) positif, refleks
premitif tidak ada, refleks fisiologi meningkat, defisit sensoris sulit dievaluasi.
Pada pemeriksaan Denver Developmental Screening Test tidak sesuai dengan
usianya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Definisi Cerebral Palsy adalah kelainan gerak dan postur akibat dari lesi
yang tidak progresif pada otak yang belum matur. Abnormalitas neurologi
menghasilkan pola gerak abnormal yang dikenal khas pada CP. Kelainan
motorik dari CP sering diikuti oleh gangguan sensori, kognisi, komunikasi,
persepsi, kejang dan atau perilaku. Gangguan motorik ini seringkali disertai
dengan gangguan sensoris, persepsi, kognisi, komunikasi, dan perilaku serta
juga epilepsi dan masalah sekunder muskuloskeletal. Cerebral Palsy
disebabkan oleh berbagai etiologi dari perkmebangan, genetik, metabolik,
iskemik, infeksius, dan etiologi didapat lainnya yang menghasilkan fenotipe
yang sama.
2.2 Epidemiologi
Cerebral Palsy merupakan penyebab utama disabilitas pada anak. Insidensi
dari Cerebral Palsy sebanyak 2 kasus per 1000 kelahiran hidup, dimana 5 dari
1000 anak memperlihatkan defisit motorik yang sesuai dengan cerebral palsy.
Sekitar 50% kasus termasuk ringan dan 10% kasus termasuk kasus berat.
Sejumlah 25% memiliki intelegensia (IQ) rata-rata normal sementara 30%
kasus menunjukan IQ dibawah 70. Sebanyak 35% disertai kejang dan 50%
menunjukan gangguan bicara. Laki-laki lebih banyak dari perempuan (1,4 :
1,0), dengan rata-rata 70 % ada pada tipe spastik, 15% tipe atetotik, 5%
ataksia, dan sisanya campuran.
2.3 Etiologi
Penyebab lesi otak pada Cerebral Palsy terjadi selama fase prenatal,
perinatal dan pascanatal. Hampir 70-80% penyebab Cerebral Palsy terjadi
pada fase prenatal. Berikut daftar faktor risiko yang berkaitan dengan Cerebral
Palsy.
Prenatal Perinatal Pascanatal
 Malformasi  Prematur <32 minggu  Cidera dan infeksi
kongenital
 Faktor sosioekonomi  BBL <2500 gram  Perdarahan
 Infeksi dalam rahim  Retardasi pertumbuhan intrakranial
 Toksik atau obat  Presentasi abnormal  Koagulopati
teratogenik  Perdarahan intrakranial
 Ibu menderita  Cidera
retardasi mental,  Infeksi
kejang, dan  Hipoksia dan
hipertiroid bradikardi
 Komplikasi plasenta  Kejang
 Cidera perut  Hiperbilirubinemia
 Kelahiran yang
berulang

2.4 Klasifikasi Cerebral Palsy


Canbars & Paine mengembangkan suatu sistem dengan menggunakan
model spastisitas dan ekstrapiramidal. Modifikasi sistem ini paling sering
dipakai oleh para klinisi. Manifestasi Cerebral Palsy bisa berubah seiring
dengan usia anak. Klasifikasi awal mungkin berubah setelah anak matur.
Modifikasi klasifikasi neurologic membagi pasien ke dalam beberapa kategori
:
1. Cerebral Palsy Spastik (Piramidal)
Merupakan bentukan cerebral palsy terbanyak (70-80%), otot
mengalami kekakuan dan secara permanan akan menjadi kontraktur.
Spastisitas akibat dari kerusakan sistem pyramidal terutama korteks motor
di otak. Cerebral Palsy spastik ini menunjukkan gejala upper motor
neuron (UMN) :
 Hiperefleksia
 Klonus (normal ada klonus pada neonatus)
 Refleks Babinski positif (abnormal setelah usia 2 tahun)
 Refleks primitive yang menetap
 Overflow reflexes seperti crossed adductor
Tipe spastik ini dibagi ke dalam distribusi topografi atau bagian tubuh
yang terlibat :
 Monoplegia (satu anggota gerak yang terlibat, lengan atau tungkai)
 Diplegia (anggota gerak bawah yang terlibat)
 Triplegia (mengenai tiga anggota gerak)
 Quadriplegia (mengenai empat anggota gerak dan togok)
 Hemiplegia (mengenai satu sisi tubuh termasuk anggota gerak atas
dan bawah)
2. Cerebral Palsy Diskinetik (Ekstrapiramidal)
Cereberal Palsy diskinetik terjadi pada 10-20% penderita cereberal
palsy. Tipe ini ditandai dengan adanya gerakan ekstrapiramidal. Gerakan
abnormal ini akibat adanya regulasi tonus, control postur dan koordinasi
yang abnormal. Gerakan diskinetik digambarkan sebagai berikut :
 Atetosis yaitu pelan, writhing, gerak involunter terutama di bagian
distal ekstremitas, otot agonis dan antagonis sama-sama aktif,
intensitas meningkat dengan emosi dan aktifitas yang bertujuan.
Atetosis akibat dari kerusakan basal ganglia. Sering akibat Kern
Icterus.
 Chorea yaitu gerak tiba-tiba, tidak teratur, gerakan biasanya terjadi di
kepala, leher dan ekstremitas
 Choreoatetoid yaitu kombinasi gerak atetosis dan chorea, pada
umumnya didominasi oleh gerak atetosis.
 Distonia yaitu pelan, gerakan ritmik dengan tonus otot yang berubah-
ubah ditemukan pada ekstremitas dan togok, postur abnormal.
Distonia digambarkan sebagai peningkatan tonus yang tidak
tergantung pada kecepatan atau lead pipe artinya bahwa tonus tidak
akan menurun dengan peregangan pelan-pelan.
 Ataxia yaitu koordinasi dan balans jelek, sering berhubungan dengan
nistagmus, dismetria dan pola jalan yang wide base, jarang terjadi
kontraktur
3. Tipe Campuran
Sering ditemukan pada seseorang penderita mempunyai lebih dari
satu bentuk Cerebral palsy yang dijabarkan diatas. Bentuk campuran yang
sering dijumpai adalah spastik dan gerakan diskinetik.
Menurut derajat kecacatan , cerebral Palsy dapat digolongkan atas:
- Golongan ringan adalah golongan yang dapat berjalan tanpa
menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri
dalam kehidupan sehari-hari. Kelainan yang dimilikinya tidak
menggangggu kehidupan dan pendidikannya.
- Golongan sedang adalah golongan yang membutuhkan treatment
atau latihan khusus untuk bicara, berjalan dan mngurus dirinya
sendiri. Golongan ini mebutuhkan alat bantu gerak seperti brace,
tongkat dan lain-lain.
- Golongan berat adalah golongan yang membutuhkan perawatan
dalam ambulasi, bicara dan menolonng dirinya. Golongan yang
tidak dapat mandiri ditengah-tengah masyarakat.
2.5 Diagnosis
2.5.1 Diagnosis Medis
Diagnosis dilakukan melalui riwayat penyakit dan pemeriksaan
fisik sebaiknya menghindari sebuah gangguan progresif dari sistem
saraf pusat, termasuk penyakit degeneratif, gangguan metabolik, tumor
sum-sum tulang belakang, atau distrofi otot. Kemungkinan anomali
pada basis kranium atau gangguan lainnya yang memengaruhi spinal
cervical perlu dipertimbangkan pada pasien dengan sedikit keterlibatan
dari saraf tangan dan saraf kranialis. Sebuah MRI otak diindikasikan
untuk menentukan lokasi dan luas dari lesi struktural atau malformasi
kongenital; sebuah MRI spinal diindikasikan jika ada kecurigaan
patologis sum-sum tulang belakang. Tambahan pemeriksaan seperti tes
pendengaran dan fungsi visual mungkin perlu dilakukan. Evaluasi
genetik perlu dipertimbangkan pada pasien dengan malformasi
kongenital (kromosom) atau bukti adanya gangguan metabolik (seperti
asam amino, asam organik, MR spectroscopy). Karena Cerebral palsy
biasanya berhubungan dengan spektrum luas gangguan perkembangan,
pendekatan multidisiplin sangat menolong untuk menilai diagnosis dan
menatalaksana anak-anak dengan Cerebral palsy.
2.5.2 Diagnosis Fungsional
Merupakan sistem klasifikasi alternatif berdasarkan pada fungsional
dan beratnya Cerebral Palsy. Secara sederhana dibedakan menjadi ringan,
sedang dan berat.
 Ringan, yaitu tidak ada keterbatasan aktifitas.
 Sedang, yaitu ada kesulitan dalam aktifitas sehari-hari, memerlukan
alat bantu/ortesa.
 Berat, yaitu keterbatasan aktivitas sehari-hari sedang sampai berat.
Kemudian sistem fungsional ini dikembangkan berdasarkan fungsi
motorik kasar, yaitu dengan Gross Motor Function Classification System
(GMFCS). Pengelompokan ini berdasarkan pada kemampuan dan
keterbatasannya.
 Level I yaitu jalan tanpa keterbatasan di dalam atau di luar rumah
juga naik tangga. Anak mampu berlari dan melompat,
limitasi/gangguan pada koordinasi, keseimbangan dan kecepatan
pada aktifitas yang lebih sulit.
 Level II yaitu jalan di dalam dan luar rumah dan naik tangga dengan
pegangan rail, limitasi jalan pada permukaan tidak rata, tanjakan,
dan jalan di tempat yang berjubel atau tempat terbatas/sempit.
 Level III yaitu jalan dengan alat bantu mobilitas di permukaan
datar. Anak mampu mendorong kursi roda secara manual. Kesulitan
jalan di luar rumah dan di permukaan tidak rata.
 Level IV yaitu jalan jarak dekat dengan menggunakan alat mobilitas
walker atau menggunakan kursi roda di rumah, di sekolah atau di
luar rumah.
 Level V yaitu mobilitas sangat terbatas walaupun dengan alat bantu
canggih.
2.6 Evaluasi Anak Cerebral Palsy
2.6.1 Anamnesis
Riwayat adalah komponen kunci dalam evaluasi anak dengan
disabilitas. Informasi yang baik bisa menuntun seseorang dalam
menentukan penyebab, masalah medik yang mendasari, menentukan
fungsi dan rencana terapi.
Riwayat / anamnesis meliputi : Prenatal, Intranatal dan Poscanatal
Informasi umum :
 Nutrisi, feeding style, kemampuan oral, parameter pertumbuhan
 Obat-obat dan alergi
 Operasi yang pernah dialami
 Kejang
 Gangguan mata, meliputi strabismus, esotropia dll
 Pendengaran
 Imunisasi, kesehatan umum dan penyakit saluran nafas
 Kontraktur
 Riwayat penyakit lain
2.6.2 Pemeriksaan klinik
1. Pemeriksaan muskuloskeletal
Pemeriksaan muskuloskeletal meliputi evaluasi statik dan
dinamik.
2. Pemeriksaan neurologis
 Asesmen tonus otot, yaitu tonus tergantung pada kecepatan
artinya bahwa bila otot diregangkan secara cepat maka akan
terjadi peningkatan tonus yang lebih daripada bila otot
diregangkan secara pelan atau bertahap (4).
 Asesmen Reflek dan postur
3. Keseimbangan, duduk dan pola jalan.
Keseimbangan, duduk dan pola jalan diperiksa. Bisakah
anak duduk tanpa disangga/pegangan? Bisakah anak bangun ke
posisi duduk tanpa bantuan ? Apakah keseimbangan anak mudah
terganggu saat duduk atau berjalan ?
Pola berjalan diperiksa tanpa alas kaki, anak memakai
rok/celana pendek, pemeriksa pada level yang sama dengan anak.
Bisakah anak melompat, jalan dengan tumit maupun dengan ujung
jari/jinjit/lari. Anak dengan hemiplegi ringan, jalannya tampak
normal tetapi akan menunjukkan gerakan abnormal pada saat lari.
Pola jalan diperiksa dari depan dan dari samping.
4. Pemeriksaan penunjang
 Tes Laboratorium dan tes pencitraan neurologis
 Evoked Potentials/electrodiagnosis
 Electroencephalography (EEG)
2.7 Tatalaksana Medis
2.7.1 Terapi Farmakologi
Obat-obatan yang biasa diberikan pada kasus-kasus CP yang
disetai kejang yang bertujuan mencegah kejangnya. Obat lain yang
mungkin diberikan adalah obat untuk mengontrol spastisita (kekakuan
otot). Bila terjadi gerakan-gerakan abnormal seringkali akan diberikan
obat-obata untuk mengontrol gerakan abnormal tersebut. Untuk
mengobati kejang pada suatu bagian otot dapat diberikan injeksi toksin
botulinum. Efek sampingnya mungkin merasa lemah, sulit bernapas
dan sulit menelan. Indikasi injeksi toksin botulinum:
 Deformitas ekuinus dinamik dan tidak ada kontraktur plantar fleksi
 Equinus gait tanpa multilevel crouch
 Usia kurang dari 4 tahun dimana koreksi dengan AFO gagal oleh
karena adanya ekuinus dinamik
 Menolak operasi tendon lengthening
Sedangkan untuk mengobati kejang di seluruh tubuh, dapat
diberikan diazepam (Intensol Diazepam, Valium), Tizanidine
(Zanaflex), Dantrolene (Dantrium), dan Baclofen. Dengan dosis obat
sebagai berikut :
 Diazepam; dosis 0,5-7,5 mg (2-4x/hari)
 Baclofen; dosis 0,2-2 mg/kgBB/hari (2-3x/hari)
 Dantrolene; dosis 0,5-1mg/kgBB/hari (2x/hari)
Penggunaan diazepam tidak direkomendasikan untuk jangka
panjang sebab ada risiko ketergantungan. Efek sampingnya yaitu
mengantuk, merasa lemah dan banyak ngiler. Efek samping dari
tizanidine bisa mengantuk, merasa lemah, tekanan darah rendah dan
kerusakan hati. Efek samping dantrolene dan baclofen mencakup
kantuk.
Indikasi injeksi toksin botulinum:
 Deformitas equinus dinamik dan tidak ada kontraktur plantar
fleksi
 Equinus gait tanpa multilevel crouch
 Usia kurang dari 4 tahun dimana koreksi dengan AFO gagal oleh
karena adanya equinus dinamik
 Menolak operasi tendon lengthening
2.6.3 Terapi Bedah
Indikasi operasi pada Cerebral Palsy yaitu :
 Memperbaiki fungsi dan penampilan
 Mencegah atau koreksi deformitas
Tindakan bedah yang dilakukan, bisa berupa tendon lengthening,
tenotomy atau transfer, soft tissue release, derotational osteotomy,
arthrodesis, myotomy . Oleh karena perubahan-perubahan gait dan
maturitas sampai pada usia 7 tahun, maka lebih bijaksana bila operasi
dilakukan pada usia tersebut kecuali bila ada subluksasi hip dan anak
yang hampir mencapai kondisi ambulasi tetapi terhambat dengan
adanya kontraktur. Dalam hal ini, Rehabilitasi berperan penting pasca
operasi dan pasca lepas gips dengan sasaran:
 Memperbaiki LGS
 Meningkatkan kekuatan otot
 Memperbaiki kontrol motorik
 Mengurangi nyeri
 Mengurangi spastisitas
 Mencegah kembalinya deformitas.
2.7 Tatalaksana Rehabilitasi
Manajemen Cerebral Palsy memerlukan pengetahuan dasar
abormalitas anatomi dan fisiologi anak, interaksi biologi dan faktor
lingkungan. Dengan integrasi pengetahuan dasar tentang anatomi dan
fisiologi anak yang abnormal, maka tim Rehabilitasi bersama dengan
keluarga berusaha mengembangkan kemampuan anak dengan hendaya ke
level motorik, intelektual dan fungsi sosial yang maksimal.
Cerebral Palsy sering mengalami kelainan multisistem. Rehabilitasi
melibatkan beberapa profesi. Evaluasi ulang dan meresepkan program
baru sangat penting. Sasaran utama program rehabilitasi adalah anatisipasi
komplikasi dan mencapai keterampilan baru.
2.7.1 Intervensi Awal
Setelah diagnosis dibuat, intervensi rehabilitasi dapat segera
dimulai, dengan tujuan memperbaiki fungsi; mengembangkan
fungsi kompensasi; mencapai kemandirian dalam aktifitas sehari-
hari, sekolah, kerja, dan kehidupan sosial. Intervensi awal
merupakan program untuk memperbaiki interaksi pengasuh,
dorongan keluarga untuk bisa menerima, pengetahuan atau
keterampilan merawat anak di rumah, motorik dan perkembangan
lain. Tim tidak hanya bertugas mendidik saja tetapi juga
mendorong keluarga untuk mengidentifikasi dan memfasilitasi
kemampuan dan kebutuhan anak.
Manajemen pada bayi meliputi pemberian posisi dan
alignment yang mencegah bertambahnya postur dan refleks yang
abnormal, rangsangan sensorimotor, dan teknik perawatan yang
benar. Konsep intervensi dini sangat penting bagi anak dengan
disabilitas. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi dini hasilnya
baik dalam perkembangan motorik, kognitif, penerimaan anak
dalam keluraga, keterampilan interpersonal, masalah kesehatan
lebih stabil meskipun dengan beberapa batasan, memaksimalkan
kemampuan untuk mandiri dan produktif saat dewasa.
Gambar 1. Contoh pemberian posisi yang benar (A) dan latihan
luas gerak
sendi (B&C) pada Cerebral Palsy
Alat-alat yang sering dipakai pada Cerebral Palsy adalah alat
untuk mempertahankan posisi, alat mandi, alat bantu modalitas,
kursi roda, alat adaptasi dalam melakukan aktifitas sehari-hari, alat
komunikasi, komputer, alat trasnportasi, ortotik dan sepatu.

Gambar 2. Walker sebagai alat bantu ambulasi


2.7.2 Therapeutic Exercise
Beberapa metoda terapi mempengaruhi manajemen anak
Cerebral Palsy. Pada umumnya metoda-metoda tersebut
dikembangkan secara empiris melalui observasi klinis dan
berdasarkan teori neurofisiologis. Metoda-metoda yang dipakai
antara lain Phelps; Deaver; Temple Fay, Doman & Delacato; Rood;
Bobath; Votja. Intervensi yang dipilih disesuaikan untuk masing-
masing anak.
2.7.3 Latihan Fungsional
Latihan memerlukan partisipasi yang kooperatif, maka metode
latihan ini tidak banyak digunakan pada bayi dan anak usia pra-
sekolah. Latihan LGS, latihan penguatan, latihan postural dan
kontrol motorik, balans dan koordinasi. Sasaran jangka pendek
adalah aktifitas fungsional pada akhir latihan. Kemampuan motorik
kasar dan hand dexterity adalah penentu untuk rencana program
ADL.
2.7.4 Ortesa
Ortesa dapat membantu memperbaiki gait saat ambulasi. AFO
paling sering diresepkan untuk mengatur posisi pergelangan kaki
dan kaki pada saat jalan. Ortesa diberikan untuk memberi support,
membatasi gerak, memperbaiki fungsi dan mencegah deformitas.
Ortesa digunakan untuk ekstremitas atas atau bawah. Untuk ortesa
ekstremitas atas digunakan untuk mempertahankan posisi sendi
yang fungsional. Pemilihan ortesa berdasarkan usia anak, kontrol
motorik, tipe deformitas, desain ortesa, prognosis fungsional jangka
pendek dan panjang.
Ortesa sebaiknya sederhana, ringan tapi kuat, dan mudah
dipakai. Yang paling penting adalah brace bisa memberi dan
meningkatkan kemandirian fungsi. Indikasi pemberian ortesa yaitu:
 Anak dengan ekuinus dinamik, untuk mencapai kaki dalam
posisi plantigrade dan mengurangi genu recurvatum,
 Bila ada drop foot, untuk support kaki dalam posisi dorsofleksi
saat fase swing,
 Crouch gait ringan yang bisa membaik dengan AFO,
 Paska operasi.
Gambar 3. Ortesa anggota gerak bawah.
Kiri : ankle foot splint, kanan : sepatu koreksi
2.8 Prognosis
Prognosis penderita dengan gejala motorik yang ringan adalah
baik. Bila semakin banyak gejala penyertanya (retardasi mental,
bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran) dan makin
berat gejala motoriknya, makin buruk prognosisnya.

DAFTAR PUSTAKA

Kliegman, Robert. 2011. Nelson Textbook of Pediatrics, 19th ed. Philadelphia:


Elsevier Saunders.
Frontera, Walter R, et al. 2010. DeLisa’s Physical Medicine and Rehabilitation,
5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Laswati H, Andriati, Pawana A dan Arfianti L. 2015. Buku Ajar Ilmu Kedokteran
Fisik dan

Rehabilitasi. Departemen Ilmu Kedkteran Fisik dan Rehabilitasi. Fakultas


Kedokteran Universitas Airlangga.
Saharso D. 2006. Palsi serebral dalam pedoman diagnosis dan terapi divisi
neuropediatri bagian ilmu kesehatan anak RSU Dr. Soetomo Surabaya.
Surabaya: FK UNAIR/RS Dr. Soetomo.