Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Zat-zat psikoaktif yang beredar luas di pasar dewasa ini, dikenal dengan nama NPS (New
Psychoactive Substances) adalah berbagai jenis zat (drugs), yang didesain untuk menyamarkan
dan membedakan, dengan berbagai jenis narkoba yang telah dikenal luas, seperti ganja, kokain,
heroin, shabu, ekstasi, yang diatur di dalam perundang-undangan tentang narkotika di berbagai
negara. Proses manufaktur NPS menggunakan berbagai bahan kimia untuk menggantikan bahan
baku pembuatan narkotika (prekursor narkotika), guna menghindari tujuan pengaturan prekursor,
sebagaimana diatur di dalam Bab VIII (Pasal 48 s/d 52) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika. Penggunaan berbagai bahan kimia tersebut, secara konstan merubah struktur
kimia NPS, sehingga produksi dan predarannya (NPS) tidak termasuk dalam kategori zat-zat yang
diatur dan dilarang oleh peraturan perundang-undangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Penyebutan NPS bukan berarti “zat-zat psikoaktif tersebut baru ditemukan” (karena
sebagian dari zat-zat psikoaktif tersebut telah ditemukan sejak ribuan tahun yang lalu, seperti
kebiasaan mengunyah buah pinang dan buah/daun sirih di Timor, kebiasaan mengunyah daun koka
oleh komunitas di kawasan pengunungan Andes, kebiasaan mengunyah daun khat di Ethiopia,
penggunaan ganja di Cina telah berlangsung pada 3000 tahun SM, dsb.), tetapi lebih ditekankan
pada metode pemasarannya yaitu menggunakan Internet untuk memasarkan berbagai produk NPS
tersebut secara massif kepada konsumen.

World Drug Report 2014 melaporkan tantangan yang dihadapi masyarakat dunia dalam
menanggulangi permasalahan narkoba menjadi semakin kompleks, terutama terkait dengan
semakin maraknya peredaran NPS (New Psychoactive Substances) atau yang dikenal dengan nama
Synthetic drugs, Legal Highs, Herbal highs, dan dipasarkan secara massif melalui Internet (sulit
terdeteksi karena karakteristik Internet yaitu “anonimous”, sehingga sulit diketahui siapa penjual
dan siapa pembeli), serta maraknya penyalahgunaan obat-obatan yang dibeli berdasarkan resep
dokter. Pada tahun 2011 terdapat 243 jenis NPS yang beredar di berbagai negara, jumlah tersebut
meningkat menjadi 251 jenis pada tahun 2012, dan meningkat lagi menjadi 348 jenis pada tahun

1
2013, yang belum masuk dalam kontrol internasional (Single Convention on Narcotic Drugs 1961
dan Convention on Psychotropic Substances 1971).1

Di Indonesia, awalnya BNN telah menemukan 46 jenis NPS, dan sebagian dari NPS yang
beredar di Indonesia (18 jenis NPS) telah dimasukan ke dalam lampiran Peraturan Menteri
Kesehatan, dan menjadi lampiran yang tidak terpisahkan dengan Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan demikian, penyalahgunaan 18 jenis NPS tersebut di
Indonesia menjadi illegal dan si penyalah guna dapat dihukum. Terdapat 9 (sembilan) kategori
NPS yang diperjual-belikan di pasaran yaitu: 1.Aminoindanes; 2. Synthetic Cannabinoids (nama
jalanan: spice, K2, kronik); 3. Synthetic Cathinones; 4.Ketamine and Phencyclidine-Type
Substance; 5.Phenethylamines; 6.Piperazines; 7.Plant-Based Substances (tanaman Kratom di Asia
Tenggara, Salvia Divinorum di Meksiko, tanaman Khat di Afrika dan jazirah Arab);
8.Tryptamines; 9.Kategori lain yang tidak termasuk dalam nomor 1 – 8.

Terdapat persepsi yang salah tentang NPS, karena meskipun terkadang dalam pengiklanan
untuk penjualan dinyatakan sebagai “produk yang legal” (sah), ini tidak berarti produk tersebut
aman. Sangat sulit untuk memastikan apakah berbagai produk NPS tersebut aman untuk
dikonsumsi, karena kebanyakan produk-produk NPS tidak mencantumkan keterangan tentang
aspek farmakologi dan aspek toksikologi, serta tidak mencantumkan rekomendasi penggunaan
(dosis) pada label produk tersebut. Artinya produk-produk NPS tersebut tidak diatur dan belum
dilakukan pengetesan oleh lembaga yang berwenang (di Indonesia, pengetesan dilakukan oleh
Badan POM), sehingga dapat disimpulkan produk-produk seperti ini, tidak aman untuk
dikonsumsi.

Efek NPS beragam, tergantung komposisi kimiawi di dalam produk NPS yang
bersangkutan. Namun rangkuman efek negatifnya antara lain: kehilangan memori, bingung,
cemas, depresi, halusinasi, paranoid, psikosis, sulit tidur, aktif bicara, keracunan pada jantung
(cardio toxic), darah tinggi, detak jantung menjadi cepat dan tidak beraturan (khusus untuk orang
tua). Adapun resiko penggunaan NPS antara lain: meningkatkan suhu tubuh, komplikasi jantung,
serangan jantung, stroke, kerusakan otak, kematian dan bunuh diri, depresi, mengurangi aliran
darah ke jantung. Pada banyak kasus, si pengguna NPS mengalami gangguan mental, bahkan
mengarah pada bunuh diri.2

2
Kasus temuan NPS dengan jumlah paling besar yang berhasil diungkap oleh BNN yaitu
pada bulan Juni tahun 2012 dengan sitaan 1,4 juta butir tablet ekstasi dengan TKP Pelabuhan
Tanjung Priok di dalam container yang berasal dari Tiongkok yang berusaha diselundupkan
melalui laut BNN. Tablet yang disita terdiri dari tiga jenis yaitu warna erah, orange dan kuning
dengan logo strip atau “-“ dan setelah dilakukan pemeriksaan di Balai Laboratorium Narkoba
BNN, tablet tersebut mengandung NPS jenis phenethylamine yaitu PMMA atau para-
methoxymethamphetamine. Kandungan lain dari tablet tersebut adalah MDMA atau 3,4-
methylenedioxymethamphetamine. Kandungan PMMA dala tablet MDMA tersebut memiliki efek
yang sinergis yaitu sebagai stiulan dan halusinogen sehingga akan meningkatkan efek stimulan
dan halusinogen yang telah ada karena pengaruh MDMA. Hasil profil untuk ketiga jenis tablet
tersebut menunjukkan kandungan zat yang sama dan ketiganya memiliki kesamaan profil sehingga
dimungkinkan berasal dari tempat yang sama.3

Gbr 1. Tablet yang disita terdiri dari tiga jenis yaitu warna erah, orange dan kuning dengan
logo strip atau “-“3

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017 tentang penambahan daftar lampiran
UU Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2017 tentang penambahan daftar
lampiran UU Psikotropika baru saja dikeluarkan awal Januari Tahun 2017, namun sepertinya
penambahan jenis zat NPS yang terdeteksi di Indonesia masih bertambah yaitu dari 46 zat, saat ini
sudah bertambah lagi sebanyak 7 zat dengan rincian 4 zat jenis sintetik cathinone, 1 zat jenis
phenethylamine dan 2 zat jenis sintetik cannabinoid sehingga total yang beredar di Indonesia
adalah sebanyak 53 zat.4

3
Gbr 2. Tambahan NPS di Indonesia 4

Perkembangan synthetic phenethylamine di dunia pertama kali ketika seorang


pharmacologist yang bernama Alexander Theodore “Sasha” Shulgin mulai memperkenalkan MDMA
pada klinik terapi psikologis dan melakukan sintesa metode baru untuk MDMA. MDMA sendiri
sebenarnya sudah lama disintesa pada tahun 1912, namun belum pernah dilakukan uji coba pada
manusia. Sashalah yang pertama kali memeperkenalkan MDMA di klinik-klinik terapi psikologis.
Kemudian synthetic phenethylamine ini mulai pesat perkembangannya ketika Sasha melakukan
riset tentang phenethylamines dan mempublikasikan bukunya yang bernama PIHKAL
(phenethylamine, i have known and i love it) pada tahun 1991, termasuk di dalamnya adalah
senyawa 2-C series dan DO-family.5

Perkembangan selanjutnya adalah riset phenethylamine mengenai kelompok halusinogen


yaitu 2-CB dan DOB yang memiliki kemiripan efek dengan golongan mescaline yaitu senyawa
benzodifuranyl yang dikenal dengan FLY (tetrahydrobenzodifuranyl) dan dragonfly (benzodifuranyl
aminoalkanes).

4
Kemudian yang berkembang selanjutnya dalah PMMA yang merupakan perkembangan dari
PMA dalam bentuk tablet ekstasi. Kasus PMMA di Indonesia pertama kali trejadi di tahun 2012 yaitu
kiriman tablet ekstasi yang diselundupkan dalam container melalui pelabuhan Tanjung Priok yang
merupakan kasus NPS dengan jumlah sitaan paling besar yaitu 1,3 juta butir tablet ekstasi. Tablet
ekstasi tersebut memiliki dua kandungan utama yaitu MDMA dan PMMA sehingga penggunaan
lebih dari satu senyawa phenethylamine berpotensi mengakibatkan efek ganda halusinogen dan
toksisitas yang membahayakan bagi kesehatan tubuh.

Kasus phenethylamine lainnya di Indonesia adalah temuan sampel berbentuk kertas


perangko yang bergambar warna-warni pada tahun 2013. Hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan bahwa kandungan kertas tersebut mengandung senyawa NBOMe- series. Selanjutnya
adalah temuan kertas yang mengandung DOC yang sering disebut di media sebagai CC4.
Penyalahgunaan kertas tersebut berpotensi membahayakan karena dosisnya yang cukup kecil
namun sudah mengakibatkan gejala toksisitas.5

Gambar 3. Tablet ekstasi mengandung 2-CB Gambar 4. Tablet ekstasi mengandung PMMA

Gambar 5. kertas mengandung 25B-NBOMe Gambar 6. Kertas mengandung 25C-NBOMe

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Synthetic phenethylamine merupakan senyawa yang memiliki struktur utama phenyl dan
amine atau yang lebih dahulu dikenal adalah golongan ATS (amphetamine type stimulant). Contoh
zat ATS yang lebih dahulu berkembang adalah golongan sabu seperti amphetamine dan
methamphetamine dan golongan ekstasi seperti MDMA, MDA, MDEA dan lain-lain. Zat ini
dalam perkembangannya ternyata banyak menghasilkan variasi produk lainnya dengan tujuan
memiliki efek yang sama yaitu stimulan dan halusinogen diantaranya adalah seri 2C seperti 2-CB,
2-CC, kemudian D-seri seperti DOC, DOB dan lain-lain seperti PMMA dan seri NBOMe.6

Gambar 1. Struktur Utama Phenethylamine

Golongan phenethylamine selain berefek stimulan dan euphoria, efek lain yang dihasilkan
adalah halusinogen. Selain itu efek yang sering dilaporkan adalah kram jantung dan toksisitas yang
berlanjut dengan kematian.β-phenylethylamine (2-phenylethylamine) adalah amina kecil yang
mengandung alkaloid yang identik dengan phenethylamine dan singkatan PEA; dalam tubuh
manusia memiliki peran neurotransmitter dan dikenal sebagai amina karena jumlah relatif rendah
dibandingkan dengan asam amino bioaktif lainnya.

2.2 Struktur Kimia

Secara struktural, phenethylamine (2-phenylethylamine) mengandung cincin benzena


dengan satu kelompok nitrogen terikat melalui dua rantai karbon pendek; jika metilasi terjadi pada

6
karbon akhir yang dilekatkan pada kelompok nitrogen maka struktur yang dihasilkan adalah
struktur dasar amfetamin. Dasar phenylethylamine berbeda dari katekolamin karena tidak terjadi
hidroksilasi. Modifikasi sintetis hidroksilasi dan metilasi dalamstruktur phenethylamine akan
menghasilkan obat sintetis feniletilamin dengan efek halusinogen (yaitu mescaline).

2.3 Neurotransmitter ß-phenylethylamine

ß-phenylethylamine diproduksi dalam tubuh manusia setelah proses dekarboksilasi dari


asam amino L-fenilalanin, diketahui dimediasi oleh asam aromatik dekarboksilase aromatik
(AADC).

ß-phenylethylamine dihasilkan dari L-fenilalanin, yang juga diketahui dengan diubah


menjadi L-Tyrosin melalui enzim fenilalanin hidroksilase. Penghambatan kronis enzim atau
insufisiensi genetik ini menghasilkan backlog L-fenilalanin, yang menghasilkan
hiperfenilalaninemia dan terlibat dalam beberapa kasus fenilketonuria (PKU). Orang dalam situasi
ini cenderung lebih sensitif terhadap kebanyakan amina biogenik termasuk β-phenylethylamine.

R-β-Methylphenylethylamine (1-amino-2-fenilpropana), juga dikenal hanya sebagai β-


Methylphenethylamine atau β-Me-PEA, adalah struktur PEA dimana gugus metil terjadi pada
karbon pertama yang keluar dari cincin benzena; Karena karbon yang ditempatkan di sini daripada
karbon kedua, tidak diklasifikasikan sebagai amfetamin dan telah diisolasi dari daun akasia
berlandieri (Guajillo, bukan lada).

N-Methylphenethylamine (NMPEA; N-Methyl-β-phenylethylamine) adalah metabolit


PEA yang berbeda terstruktur dimana metilasi terjadi pada amina itu sendiri, dan NMPEA juga
tidak diklasifikasikan sebagai amfetamin.

7
β-phenylethylamine dianggap terkait dengan kecanduan karena, dalam pengobatan
kecanduan kokain, 'terapi agonis' (menggunakan agen yang meningkatkan dopamin sinaptik)
tampaknya bermanfaat namun agonis dopaminergik murni memiliki potensi kecanduan sendiri
karena aktivasi jalur mesolimbik. Seiring serotonin menekan aspek aktivitas dopaminergik ini,
agonis campuran yang bekerja pada serotonin dan dopamin dianggap bermanfaat untuk
pengobatan stimulan stimulan dan alkohol; β-phenylethylamine diketahui memiliki sifat agonistik
terhadap kedua neurotransmiter ini.7

2.4 Turunani Phenethylamines

Phenethylamines mengacu pada kelas zat dengan efek psikoaktif dan stimulan yang
terdokumentasi dan termasuk amfetamin, metamfetamin dan MDMA, yang semuanya dikontrol
berdasarkan Konvensi 1971. [1] Fenethylamines juga mencakup zat tersubstitusi cincin seperti
'seri 2C', cincin amfetamin tersubstitusi seperti 'seri D' (egDOI, DOC), benzodifuran (misalnya
Bromo-Dragonfly, 2C-B-Fly) dan lainnya (misalnya p-methoxymethamphetamine (PMMA)).

Kejang phenethylamines pertama kali dilaporkan dari Amerika Serikat dan negara-negara
Eropa dan sejak 2009 zat seperti 2C-E, 2C-I, 4-FA dan PMMA telah umum dilaporkan oleh
beberapa negara di berbagai wilayah. Fenetilamina lainnya yang dilaporkan ke UNODC sejak
2011 meliputi 4-FMA, 5-APB, 6-APB dan 2C-C-NBOMe.

Sejumlah penelitian telah melaporkan sintesis beberapa substitusi phenethylamines dan


amfetamin. Pada tahun 1980an dan 1990an, Alexander Shulgin, seorang ahli biokimia dan
farmakologi, melaporkan sintesis berbagai senyawa psikoaktif baru. Ini termasuk seri D (mis.
DOC, DOI) dan 'seri 2C' (misalnya 2C-T -7, 2C-T-2) dari phenethylamines.

8
Variasi sederhana pada molekul mescaline (phenylethylamine alami) menyebabkan
sintesis zat halusinogen kuat, mis. 4-bromo-2,5-dimetoxyphenethylamine (2C-B), disintesis oleh
Shulgin pada tahun 1974. Seri '2C' berbeda dari seri 'D' hanya dengan sedikit modifikasi pada
struktur kimia, dan efek psikoaktifnya telah dilaporkan. untuk menjadi tergantung dosis, mulai dari
efek stimulan belaka pada dosis rendah, dengan efek halusinogen dan entogogenik pada dosis yang
lebih tinggi

Lebih dari dua dekade kemudian, generasi baru phenethylamines diteliti oleh Profesor
David Nichols dan tim peneliti di Purdue University di Amerika Serikat. Tim menemukan potensi
analog sintetis mescaline seperti 2C-B dan DOB, melebihi banyak dari halusinogen alami.
Beberapa zat disintesis, termasuk berbagai macam zat benzodifuranyl, yang kemudian dikenal
sebagai 'FLY'. Benzodifurans, seperti 'FLY' (tetrahydrobenzodifuranyl) dan 'dragonfly'
(benzodifuranyl aminoalkana) adalah halininogen kuat. Bromo-Dragonfly adalah zat yang paling
umum dan ampuh dalam sub kelompok ini.

Fenethylamines lainnya seperti PMMA, yang pertama kali disintesis pada tahun 1938, juga
dijual di pasar obat sebagai pengganti 'ekstasi'. PMMA, yang dikombinasikan dengan PMA (zat
yang tercantum dalam Jadwal I Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Zat Psikotropika
1971), telah sering ditemukan di tablet yang membawa logo serupa dengan 'ekstasi'.

Sedangkan beberapa phenethylamines seperti 2C-B, brolamphetamine (DOB), STP /


DOM, MDE, 4-MTA, tercantum dalam Jadwal I dan II Konvensi 1971, sebagian besar zat baru
seperti seri 2C, D- Seri dan 'lainnya' seperti PMMA tidak berada di bawah kendali internasional.
Beberapa turunan phenethylamine dikendalikan di beberapa negara.

Nama jalan untuk beberapa phenethylamines termasuk 'Europa' untuk 2C-E; '4-FMP',
'para-fluoroamphetamine', 'RDJ' untuk 4-FA; dan '4-MMA', 'Methyl-MA' untuk PMMA.
Phenethylamines biasanya tersedia dalam bentuk pil, namun senyawa FLY biasanya dijual dalam
bentuk bubuk, sedangkan dosis oral (pada selembar kertas blotter) biasanya tersedia untuk 'zat D'.
Penelanan adalah jalur administrasi fenethylamines yang paling umum.

Sebagian besar phenethylamines bertindak sebagai stimulan sistem saraf pusat, atau
sebagai halusinogen. Stimulan memperantarai tindakan dopamin, norepinephrine dan / atau
serotonin, menirukan efek obat tradisional seperti kokain, amfetamin, metamfetamin, dan ekstasi.

9
Halusinogen klasik (psychedelics) memediasi aktivitas reseptor serotonin spesifik dan
menghasilkan halusinasi. Zat dalam kelompok ini meniru efek obat tradisional seperti 2C-B, LSD
dan DMT namun juga memiliki aktivitas stimulan residual.

Phenethylamines yang termasuk dalam seri 'D' digambarkan lebih tahan lama, lebih manjur
dan dilaporkan lebih bertanggung jawab untuk menginduksi vasokonstriksi dibandingkan anggota
keluarga phenethylamine lainnya.

Efek samping yang dilaporkan terkait dengan penggunaan turunan seri D termasuk agitasi,
takikardia, mydriasis, halusinasi, iskemia tungkai parah, kejang, gagal hati dan ginjal. Bromo-
Dragonfly juga dikaitkan dengan sejumlah kematian di Skandinavia. Kasus psikosis akut setelah
konsumsi 2C-T-4 dilaporkan terjadi di Jepang. Tiga kasus fatal yang terkait dengan penggunaan
2C-T-7 telah diidentifikasi, dua di antaranya melibatkan penggunaan poli-narkoba. 8

Berikut adalah NPS turunan Phenethylamine yang sering dilaporkan di Indonesia:

2.4.1 para-Methoxy-N-methylamphetamine (PMMA)

para-Methoxy-N-methylamphetamine (juga dikenal sebagai PMMA, Red Mitsubishi),


yang secara kimia dikenal sebagai methyl-MA, 4-methoxy-N-methylamphetamine, 4-MMA) atau
(4-PMDA, seperti yang tercantum pada nama fisik aslinya. ) adalah obat perangsang dan obat
psychedelic yang terkait erat dengan obat serotonergik amfetamin para-methoxyamphetamine
(PMA). PMMA adalah analog metamfetamin 4-methoxy. Sedikit yang diketahui tentang sifat
farmakologi, metabolisme, dan toksisitas PMMA; Karena kesamaan strukturalnya dengan PMA,
yang memiliki toksisitas pada manusia diketahui, diperkirakan berpotensi menimbulkan efek
samping atau kematian akibat overdosis. Pada awal tahun 2010, sejumlah kematian pada pengguna
obat MDMA dikaitkan dengan tablet dan kapsul PMMA yang salah mengartikan.

Efeknya pada manusia konon mirip dengan PMA, tapi sedikit lebih bersifat empatiogenik.
Memiliki kecenderungan berkurang untuk menghasilkan hipertermia berat pada dosis rendah,
namun pada dosis yang lebih tinggi efek samping dan risiko kematian menjadi serupa dengan
PMA.

10
Sintesis dan efek PMMA dijelaskan oleh ahli kimia eksperimental Amerika Alexander
Shulgin dalam bukunya PiHKAL, yang disebut dengan nama "methyl-MA", sebagai bentuk
termokrom dari 4-MA (PMA) N-methylated. Shulgin melaporkan bahwa PMMA menghasilkan
peningkatan tekanan darah dan denyut jantung pada dosis di atas 100 mg, namun tidak
menyebabkan efek psikoaktif pada tingkat ini.9

Tablets of PMMA recovered by the U.S. Drug Enforcement Administration

2.4.2 D Series (DOC)

DOC adalah phenethylamine alfa-methylated tersubstitusi, kelas senyawa yang biasa


dikenal sebagai amfetamin. Persamaan phenethylamine (kekurangan gugus alfa-metil) adalah 2C-
C. DOC memiliki stereocenter dan (R) - (-) - DOC adalah stereoisomer yang lebih aktif.

DOC bertindak sebagai agonis parsial reseptor selektif 5-HT2A, 5-HT2B, dan 5-HT2C.
Efek psychedelic dimediasi melalui tindakannya pada reseptor 5-HT2A.

Dosis rata-rata DOC yang normal berkisar antara 0,5-7,0 mg efek ambang produksi yang
pertama, dan yang terakhir menghasilkan efek yang sangat kuat. Awitan obat ini adalah 1-3 jam,
puncak dan tinggi 4-8 jam, dan secara bertahap turun dengan rangsangan residual pada suhu 9-
20h. Setelah efek bisa bertahan sampai hari berikutnya.9

Tidak seperti amfetamin sederhana, DOC dianggap bahan kimia yang mempengaruhi
proses kognitif dan persepsi otak. Efek terpenting yang terkuat meliputi visual mata terbuka dan
tertutup, peningkatan kesadaran akan suara dan gerakan, dan euforia. Dalam autobiografi

11
PiHKAL, Alexander Shulgin memasukkan deskripsi DOC sebagai "pola dasar psychedelic"; efek
visual, audio, fisik, dan mentalnya yang diperkirakan menunjukkan kejernihan yang
menggembirakan.

Ada sedikit data tentang toksisitas DOC. Pada bulan April 2013, kasus kematian akibat
DOC dilaporkan terjadi. Sumber tersebut tidak menentukan apakah obat itu sendiri yang
menyebabkan kematian. Pada tahun 2014, sebuah kematian dilaporkan dimana DOC secara
langsung terlibat sebagai satu agen penyebab kematian pengguna. Otopsi menunjukkan edema
paru dan perdarahan subgaleal.

DOC dapat dihitung dalam darah, plasma atau urin dengan kromatografi gas - spektrometri
massa atau kromatografi cair - spektrometri massa untuk mengkonfirmasi diagnosis keracunan
pada pasien rawat inap atau untuk memberikan bukti dalam penyelidikan kematian medicolegal.
Konsentrasi DOC darah atau plasma diperkirakan berada dalam kisaran 1-10 μg / L pada orang
yang menggunakan obat ini secara rekreatif, > 20 μg / L pada pasien yang mabuk dan> 100 μg / L
pada korban overdosis akut.

Meskipun langka di pasar gelap, telah tersedia dalam jumlah besar dan dikirim ke seluruh
dunia oleh pemasok "Penelitian Pasar Grey" elit yang dipilih selama beberapa tahun. Penjualan
DOC di kertas blotting dan kapsul dilaporkan pada akhir tahun 2005 dan lagi di akhir tahun 2007.
Menurut DEA [Desember Microgram], Departemen Kepolisian Concord di Contra Costa County,
California, di AS, menyita "sepotong kecil kertas blotter putih berbingkai kasar tanpa disain,
dicurigai 'asam blotter LSD' ". Mereka menambahkan "Luar biasa, kertas itu tampak dilapisi
dengan tangan dengan dua pena, dalam kotak berukuran kira-kira 6 x 6 milimeter. Kertas tersebut
menampilkan fluoresensi saat diiradiasi pada 365 nanometer, namun pengujian warna untuk LSD
dengan para-dimetillaminobenzaldehida (reagen ehrlich) adalah negatif Analisis ekstrak metanol
oleh GC / MS tidak menunjukkan LSD melainkan DOC (tidak dihitung tapi pemuatan tinggi
berdasarkan TIC) ". DOC kadang disalahartikan sebagai LSD oleh dealer yang tidak bermoral. Ini
sangat berbahaya, karena DOC tidak diketahui memiliki profil keselamatan LSD. Hal ini dapat
sangat tidak aman, dibandingkan dengan LSD, bagi mereka yang menderita hipertensi, karena
senyawa amfetamin diketahui menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik yang tajam.

12
2.4.3 DMA

Dimethylamphetamine (Metrotonin), juga dikenal sebagai dimetamfetamine (INN) dan N,


N-dimethylamphetamine, adalah obat stimulan dari kelas kimia phenethylamine dan amfetamin.
Dimethylamphetamine memiliki efek stimulan yang lebih lemah daripada amfetamin atau
metamfetamin dan sangat kurang adiktif dan kurang neurotoksik dibandingkan dengan
methamphetamine.

Dimethylamphetamine kadang-kadang ditemukan di laboratorium methamphetamine


terlarang, namun biasanya merupakan kenajisan daripada produk yang diinginkan. Ini mungkin
dihasilkan secara tidak sengaja saat metamfetamin disintesis dengan metilasi amfetamin jika suhu
reaksi terlalu tinggi atau kelebihan zat methylating digunakan.10

2.4.4 25C-NBOMe

25C-NBOMe berasal dari phenethylamine psychedelic 2C-C dengan substitusi pada amina
dengan kelompok 2-methoxybenzyl. 25C-NBOMe adalah bubuk putih yang clumpy dengan rasa
pahit dan metalik. 25C-NBOMe telah ditemukan pada tinta tiruan yang dijual sebagai LSD.

Laporan anekdotal dari pengguna menyarankan 25C-NBOMe untuk menjadi halusinogen


aktif dengan dosis sesedikit 300-600 μg (dengan dosis ambang lebih rendah), sehingga hanya
setengah sampai sepertiga potensi dari LSD. Senyawa NBOMe memiliki tingkat penyerapan yang
kurang bila melewati selaput lendir, namun umumnya tetap tidak aktif bila dikonsumsi secara oral.

13
2.4.5 KELAS 2C

2C yang terhalogenasi

Banyak phenethylamines dapat menyebabkan perubahan kesadaran atau terlibat dalam


neurokimia alami otak itu sendiri, seperti dopamin dan norepinephrine. Alexander Shulgin
menggambarkan beragam senyawa ini dalam bukunya "Phenethylamines I Have Known and
Loved", dan satu varian secara khusus tampak menonjol sebagai superstar psikedelik. Jika gugus
metoksi digantikan pada posisi 2 dan 5 cincin benzena, sejumlah besar penggantian pada posisi 3
dan 4 menunjukkan aktivitas psychedelic yang dalam. Kelompok tertentu dijuluki "2C" s, untuk
dua atom karbon antara cincin benzen dan gugus amino.

Sejumlah besar senyawa ini dapat disintesis, dan beberapa kelompok menonjol dengan
karakter psychedelic yang unik. Salah satunya adalah 2C yang terhalogenasi, yang dikenal dengan
pola visual gaya karpet "persia" yang berwarna-warni, efek perifer termasuk stimulasi / sedasi,
durasi medium 4-8 jam, dan nuansa psikedelik "dangkal" umumnya.

2C-F (2,5-dimethoxy-4-fluorophenethylamine) adalah senyawa langka, diuji hanya dengan


beberapa subjek dan mungkin tidak aktif. Hanya dosis yang lebih besar dari 100mg yang
menghasilkan laporan tentang kemungkinan pergeseran kesadaran, namun laporan ini tidak
konsisten dan pergeseran, jika ada, sangat ringan sehingga tidak relevan untuk tujuan penelitian
lebih lanjut.

Gbr. 2C-F
14
2C-C (2,5-dimethoxy-4-chlorophenethylamine) telah diuji lebih luas, namun saat ini tidak
memiliki daya tarik massal karena efeknya yang ringan. Dosis oral dapat berkisar antara 20-80mg,
yang menghasilkan keadaan psikedelik dengan karakter fisik unik yang digambarkan sebagai
"sangat santai", sebuah perubahan dari 2C halogenasi lainnya yang cenderung menghasilkan
keadaan terstimulasi.

Gbr 2C-C

2C-B (2,5-dimethoxy-4-bromophenethylamine) menghasilkan ulasan positif yang paling


konsisten dari 2C halogenasi dalam tes awal, dan merupakan yang pertama mendapatkan
popularitas dengan masyarakat luas. Ini digunakan dalam terapi kejiwaan pada tahun 1980an
setelah pertama kali disintesis oleh Shulgin pada tahun 1974 dan mendapat dukungan sebagai
senyawa yang menghasilkan keadaan yang lebih dapat diprediksi dan berempati daripada
psikedelik lainnya seperti LSD atau psilocybin. Word juga menyebar dengan cepat mengenai efek
samping lainnya, termasuk peningkatan erotis yang berbeda yang menyebabkan penjualan tablet
5mg di seluruh dunia dengan merek Eros dan Nexus. Dosis dari 15-35mg menghasilkan keadaan
psychedelic unik yang ditandai dengan stimulasi ringan dan euforia, dan 2C-B dengan cepat
menjadi obat pilihan di bawah tanah. Peralihan dari bantuan psikiatris ke obat bius ditaklukkan
2C-B sampai akhirnya ilegalitas, karena sekarang dikendalikan secara internasional berdasarkan
Konvensi PBB tentang Zat Psikotropika.

Gbr. 2C-B

2C-I (2,5-dimethoxy-4-iodophenethylamine) pertama kali dijual secara luas oleh toko-toko


pintar Belanda yang mengenalkannya sebagai pengganti pada 2C-B yang baru-baru ini dilarang
pada tahun 2000. Sedikit lebih manjur dengan kisaran dosis 10-25mg, itu pengganti yang bagus

15
tapi tidak "cukup di sana". Dengan karakter stimulan yang jitterier dan efek erotis yang kurang
konsisten, sekali lagi mendapat popularitas di sirkuit klub, namun dengan cepat dilarang di
Belanda pada tahun 2003. Meski masih legal di banyak wilayah di dunia, tidak mungkin lagi
mendapatkan kembali massa kritis popularitas 2C-B dimiliki.11

Gbr. 2C-I

BAB III

KESIMPULAN

Perkembangan NPS selain bertambah jumlahnya tiap tahun juga makin beragam jenisnya,
Keprihatinan terhadap efek yang ditimbulkan dari bahaya pengunaan NPS ini
mendorong beberapa klinis untuk meneliti kandungan apa saja yang terdapat pada suatu produk
yang sedang marak dan berapa banyak dosis dari obat yang memberikan efek psikogenik tersebut.

Di Indonesia sendiri juga terdapat beberapa golongan obat yang dapat disintetik sehingga
memberikan efek yang diinginkan pengguna. Salah satunya adalah golongan phenethylamine.

Di Indonesia sendiri sudah terdapat 53 jenis NPS dan 11 diantaranya adalah turunan
golongan phenethylamine.

Phenethylamines mengacu pada kelas zat dengan efek psikoaktif dan stimulan yang
terdokumentasi dan termasuk amfetamin, metamfetamin dan MDMA. Fenethylamines juga
mencakup zat tersubstitusi cincin seperti 'seri 2C', cincin amfetamin tersubstitusi seperti 'seri D'
(egDOI, DOC), benzodifuran (misalnya Bromo-Dragonfly, 2C-B-Fly) dan lainnya (misalnya p-
methoxymethamphetamine (PMMA)).2

Phenethylamines biasanya tersedia dalam bentuk pil, namun senyawa FLY biasanya dijual
dalam bentuk bubuk, sedangkan dosis oral (pada selembar kertas blotter) biasanya tersedia untuk
'zat D'. Penelanan adalah jalur administrasi fenethylamines yang paling umum.

16
Sebagian besar phenethylamines bertindak sebagai stimulan sistem saraf pusat, atau
sebagai halusinogen. Stimulan memperantarai tindakan dopamin, norepinephrine dan / atau
serotonin, menirukan efek obat tradisional seperti kokain, amfetamin, metamfetamin, dan ekstasi.
Halusinogen klasik (psychedelics) memediasi aktivitas reseptor serotonin spesifik dan
menghasilkan halusinasi. Zat dalam kelompok ini meniru efek obat tradisional seperti 2C-B, LSD
dan DMT namun juga memiliki aktivitas stimulan residual. Selain itu, banyak yang melaporkan
bahwa penggunaan amphetamine dapat menyebabkan toksisitas dan kematian. 4

DAFTAR PUSTAKA

1. Y Novi. humas BNN Kepri. New Psychoactive Substance. November 18, 2014; (): .
http://kepri.bnn.go.id/2014/11/new-psychoactive-substances/# (accessed 22 September 2017).
2. UNODC. Early Warning Advisory on New Psychoactive Substance .
https://www.unodc.org/LSS/Page/NPS (accessed 22 September 2017 ).
3. BNN NPS Alert System. KASUS NPS DENGAN JUMLAH SITAAN TERBESAR DI
INDONESIA. http://lab.bnn.go.id/nps_alert_system/10.%20Kasus%20Temuan%20NPS.php
(accessed 22 September 2017 ).

17
4. BNN NPS Alert System. PENAMBAHAN DAFTAR NPS YANG DITEMUKAN DI
INDONESIA SELAMA DUA BULAN TERAKHIR.
http://lab.bnn.go.id/nps_alert_system/15.%20PENAMBAHAN%20DAFTAR%20NPS%20YANG
%20DITEMUKAN%20DI%20INDONESIA%20SELAMA%20DUA%20BULAN%20TERAKHIR.
php (accessed 22 September 2017 ).

5. "Controlled Substances" (PDF). Drug Enforcement Administration. February 2016.


Retrieved April 13, 2016

6 Irsfeld M, Spadafore M, Prüß BM. β-phenylethylamine, a small molecule with a large


impact. Webmedcentral. (2013)

7. Kamal. Phenethylamine. https://examine.com/supplements/phenylethylamine/ (accessed


22 September 2017).
8. UNODC. Phenethylamine.
https://www.unodc.org/LSS/SubstanceGroup/Details/275dd468-75a3-4609-9e96-cc5a2f0da467
(accessed 22 September 2017).

9. Five B.C. deaths linked to lethal chemical PMMA". Vancouver Sun. 13 January 2012.

10. US Drug Enforcement Administration: The Identification of d-N,N-


Dimethylamphetamine (DMA) in an Exhibit in Malaysia. Available at:
https://www.erowid.org/library/periodicals/microgram/microgram_journal_2003-2.pdf

11. . countyourculture rational exploration of the underground. Phenethylamine.


http://countyourculture.com/2010/09/28/the-halogenated-2cs/ (accessed 22 September 2017).

18