Anda di halaman 1dari 7

PERMASALAHAN METABOLISME LIPID KELOMPOK 8

1. Pada saat kita berolahraga, tubuh kita membutuhkan banyak energi, yang salah satu nya
dapat diperoleh dari lemak. Bagaimana metabolisme lipid yang terjadi sehingga pada
saat berolahraga, tubuh kita tidak kekurangan energi?

Jawab :
Untuk proses lipogenesis (sintesis lipid) pada jaringan adiposa, triasilgliserol disuplai dari
hati dan usus dalam bentuk lipoprotein, VLDL dan kilomikron. Asam lemak dari lipoprotein
dilepaskan oleh lipoprotein lipase yang berlokasi pada permukaan sel-sel endotelial pembuluh
kapiler darah. Asam lemak kemudian diubah mejadi triasilgliserol. Proses lipolisis (degradasi
lipid) pada jaringan adiposa dikatalisis oleh Hormonesensitive lipase, yang dikontrol oleh
hormon, dengan mobilisasi sebagai berikut

1) Jika glukosa dalam darah rendah, akan memicu pelepasan epinefrin atau glukagon.
Kedua hormon meninggalkan aliran darah dan mengikat molekul reseptor yang ditemui
di dalam membran adipocyte atau sel lemak.
2) Hal ini menyebabkan adenilat siklase melalui protein G mengubah ATP menjadi cAMP.
3) cAMP kemudian mengaktifkan protein kinase. Protein kinase aktif mengaktifkan
triasilgliserol lipase (Hormone-sensitive lipase) melalui forforilasi.
4) Protein kinase aktif juga mengkatalisis fosforilasi molekul perilipin pada permukaan
butiran lemak (lipid droplet) sehingga triasilgliserol lipase dapat mengakses permukaan
butiran lemak.
5) Selanjutnya triasilgliserol diuraikan menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh
triasilgliserol lipase.
6) Molekul asam lemak yang dihasilkan dilepaskan dari adipocyte dan diikat oleh protein
serum albumin dalam darah untuk diangkut melalui pembuluh darah menuju myocyte (sel
otot) jika dibutuhkan. Jumlah asam lemak yang dilepaskan oleh jaringan adiposa ini
tergantung pada aktivitas triasilgliserol lipase. Hanya asam lemak rantai pendek yang
dapat larut dalam air, sedangkan asam lemak rantai panjang tidak. Oleh karena itu untuk
pengangkutannya asam lemak rantai panjang diikatkan pada serum albumin.
7) Asam lemak tersebut dilepaskan dari albumin dan masuk ke myocyte melalui transport
khusus.
8) Di myocyte asam lemak mengalami ß-oksidasi yang menghasilkan CO2 dan energi ATP
(Sumber: Jurnal Dr. rer. nat. Sri Mulyani, M.Si.)

2. Seperti yang kita ketahui, kolestrol sangat berperan penting dalam tubuh kita, salah satu
fungsinya sebagai sumber energi, tapi di masyarakat masih banyak yang beranggapan
bahwa kolesterol itu tidak baik bagi tubuh. Bagaimana mekanisme pengubahan kolesterol
jahat menjadi kolesterol baik?

Jawab :
Karena tubuh membuat sendiri kolesterol yang dia butuhkan, masuknya kolesterol yang
berlebihan mengakibatkan muatan kolesterol dalam darah melewati batas dan memberikan beban
yang terlalu berat dalam darah, sehingga dapat merusak arteri.

Mekanisme penganturan kompleks memastikan bahwa kolesterol disintesis hanya ketika


dibutuhkan. Acetil CoA adalah prazat utama dalam biosintesis kolesterol. Asetil CoA ini
terutama diperoleh dari hasil proses glikolisis dan oksidasi asam lemak.
Kilomikron menangkap kolesterol dan lemak dari usus. Kilomikron adalah butir-butir
lemak yang mengandung sedikit protein. Lemak dikirim ke jaringan adipose meninggalkan sisa
kilomikron (Chylomicron remnants) yang mengandung sebagian besar kolesterol. Sisa kolesterol
ini di bawa menuju hati. Di dalam hati kolesterol dari sisa kilomikron digabungkan dengan
kolesterol yang disintesis oleh hati menjadi partikel VLDL. VLDL ini kemudian digunakan
untuk transport lemak-lemak ke jaringan-jaringan.
VLDL masuk aliran darah dan memulai penyaluran lemak-lemak ke jaringan sel tepi
sepanjang dinding pembuluh darah. Dalam proses perjalanannya itu, VLDL mengalami proses
penguraian lipid secara bertahap. Ketika lemak-lemak disalurkan ke jaringan, VLDL menjadi
lebih diperkaya kolesterol dan secara bertahap berubah menjadi partikel LDL. Dalam hal ini
kehilangan lemak menurunkan ukuran partikel dan menaikkan konsentarsi kolesterol. LDL
adalah pembawa kolesterol utama dalam darah. Jika sel-sel sudah cukup kolesterol, maka LDL
diblok masuk ke dalam sel jaringan dan kolesterol dikumulasi dalam darah membentuk plak
arteri (atherosclerosis). Oleh karena itu LDL disebut juga kolesterol jelek karena mereka
membawa kelebihan kolesterol untuk ditimbun pada dinding arteri dan menyebabkan penyakit
jantung.

(Sumber : Jurnal Dr. rer. nat. Sri Mulyani, M.Si.).

3. Beraktivitas tidak menutup kemungkinan membutuhkan banyak energi, begitu juga saat
kita sedang berfikir (belajar) membutuhkan energi yang tidak sedikit pula. Mengapa
ketika kita berpikir energi yang kita keluarkan itu lebih besar di bandingkan energi yang
di keluarkan saat beraktivitas. bagaimana metabolisme lipid yang terjadi?

Jawab :
Saat kita berfikir, sel-sel otak membutuhkan glukosa lebih banyak dan akan menarik aliran darah ke arah
area otak spesifik yang paling aktif. Misalnya saja saat kita memusatkan perhatian pada suatu gambar,
aliran darah akan meningkat ke area otak yang terlibat dalam proses penglihatan. Sebaliknya, saat kita
sulit berkonsentrasi, darah tidak mengalir ke area yang sangat membutuhkan, namun menyebar ke seluruh
bagian otak sehingga kita sulit untuk fokus. Selain glukosa otak juga sangat membutuhkan air karena
sekitar 80% penyusun otak adalah air. Untuk bekerja optimal otak harus selalu dalam keadaan ‘basah’.
Oksigen juga mutlak diperlukan oleh otak. Kekurangan oksigen akan menyebakan kantuk dan sulit
berkonsentrasi.Berfikir adalah proses biokimia. Untuk mengantarkan pesan/signal antara sel-sel otak
dibutuhkan jembatan penghubung yang lebih dikenal dengan neurotransmiter. Suplai neurotransmiter
yang cukup dan seimbang membuat otak kita tetap aktif., sebaliknya ketidakseimbangan neurotransmiter
dapat menurunkan kinerja otak kita. Neurotransmiter terbentuk dari asam amino, vitamin dan mineral.
Pembentukannya sangat tergantung dari apa yang kita makan.

Di dalam tubuh, lemak dalam bentuk trigliserida akan tersimpan dalam jumlah yang terbatas pada
jaringan otot dan akan tersimpan dalam jumlah yang cukup besar pada jaringanadipose. Ketika sedang
berolahraga, trigliserida yang tersimpan ini dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas
(free fatty acid /FFA) untuk kemudian menghasilkan energi.Pada olahraga dengan intensitas rendah sepeti
jalan kaki atau lari-lari kecil, ketika kebutuhan energi rendah dan kecepatan ketersediaan energi bukanlah
merupakan hal yang penting, simpanan lemak akan memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber
energi utama bagi tubuh. Kontribusi simpanan lemak sebagai sumber energi tubuh baru akan berkurang
apabila terjadi peningkatan intensitas dakam berolahraga.Pada saat terjadinya peningkatan intensitas
olahraga yang juga akan meningkatkan kebutuhan energi, pembakaran lemak akan memberikan
kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat untuk memenuhi
kebutuhan energi di dalam tubuh. Walaupun pembakaran lemak ini memberikan kontribusi yang lebih
kecil jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat saat intensitas olahraga meningkat, namun
kuantitas lemak yang terbakar tetap akan lebih besar jika dibandingkan saat berolahraga dengan intensitas
rendah.Pada saat berolahraga kompetitif dengan intensitas tinggi, pengunaan lemak sebagai sumber
energi tubuh akibat dari mulai berkurangnya simpanan glikogen otot dapat menyebabkan tubuh terasa
lelah sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan menurun. Hal ini disebabkan karena
produksienergi melalui pembakaran lemak berjalan lebih lambat jika dibandingkan dengan laju produksi
energi melalui pembakaran karbohidrat walaupun pembakaran lemak akan menghasilkan energi yang
lebih besar (9kkal/gr) jika dibandingan dengan pembakaran karbohidrat (4 kkal/gr). Perlu juga untuk
diketahui bahwa jaringan adipose dapat menghasilkan asam lemak bebas dalam jumlah yang tidak
terbatas, sehingga kelelahan serta penurunan performa yang terjadi pada saat berolahraga tidak akan
disebabkan oleh penurunan simpanan lemak tubuh.

.
4. Pada setiap penggunaan minyak seringkali menyisakan minyak. Sebagian masyarakat masih
menggunakan minyak sisa tersebut hingga beberapa kai pemakaian. Pemakaian minyak berulang
kali akan menyebabkan kerusakan minyak dan meningkatkan bilangan peroksidanya. Bagaimana
mekanisme reaksi yang terjadi ? dan apa akibat yang dapat di timbulkan?
Jawab :
Lemak/minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol dan sering juga disebut trimestergliserol.
Struktur senyawa secara umum dituliskan sebagai berikut:

Pada proses pemanasan sebagian ikatan rangkap akan menjadi jenuh. Penggunaan yang lama dan
berkali-kali menyebabkan ikatan rangkap teroksidasi membentuk gugus peroksida dalam dosisi yang
besar dan dapat merangsang kanker kolon. Dalam jangka waktu yang cukup lama peroksida dapat
mengakibatkan destruksi beberapa macam vitamin dalam bahan pangan berlemak. Peroksida
mempercepat proses timbulnya bau tengik pada bahan pangan dan minyak. Bila jumlah peroksida tersebut
melebihi standar mutu maka akan bersifat racun dan tidak dapat dikonsumsi. Jika dikonsumsi maka akan
timbul gejala diare, kelambatan pertumbuhan, pembesaran organ, deposit lemak tidak normal, control
tidak sempurna pada pusat syaraf dan mempersingkat umur. Niai gizi minyak yang teah teroksidasi lebih
rendah dibandingkan dengan minyak yang masih segar. Gangguan kesehatan lain yaitu gata pada
tenggorokan, iritasi saluran pencernaan, dan kanker.

Reaksi pengoksidasian minyak adalah sebagai berikut:

Minyak sayur (kedelai, jagung, biji bunga matahari dan kanola) mengandung sekitar 87-93% asam
lemak tak jenuh yang sangat peka terhadap pemanasan. Proses menggoreng dengan cara deep
frying,selain menyebabkan pembentukan asam lemak jenuh rantai panjang (LCFA), juga menimbulkan
reaksi polimerisasi termal dan reaksi oksidasi yang membentuk asam lemak trans.
Umumnya kerusakan oksidasi terjadi pada asam lemak tidak jenuh, tetapi bila minyak dipanaskan
pada suhu 100oC atau lebih, asam lemak jenuh pun dapat teroksidasi. Reaksi oksidasi pada penggorengan
suhu 200oC menimbulkan kerusakan lebih mudah pada minyak dengan derajat ketidakjenuhan tinggi,
sedangkan reaksi hidrolisis mudah terjadi pada minyak dengan asam lemak jenuh rantai panjang (LCFA).
Suhu pemanasan yang baik adalah sekitar 95-120oC. Ditinjau dari segi ekonomis, suhu pemanasan yang
tinggi antara 163199oC dapat menekan biaya produksi, karena waktu penggorengan yang relatif lebih
singkat. Untuk makanan pre-cooked sebaiknya digoreng pada suhu 185oC selama 3-5 menit.
Bentuk molekul asam lemak trans yang lurus seperti asam lemak jenuh menyebabkan enzim lipase
menghidrolisis ke arah asam lemak posisi atom C1 dan C3 dengan memperlakukan trans seolah-olah
adalah asam lemak jenuh. Seperti halnya asam lemak jenuh, asam lemak trans juga bersifat aterogenik
(memicu penyempitan, penebalan, dan pengerasan dinding pembuluh darah) serta menginhibisi aktifitas
enzim pada metabolisme lipid (fatty acid desaturase elongasedan Lecithin Choleslerol Acyl
Transferase/LCAT). Enzim ini terlibat dalam metabolisme K-HDL khususnya pada pengangkutan balik
kolesterol dari jaringan ke hati.
Minyak goreng sering digunakan sebagai medium untuk pengolahan makanan, dalam
penggorengan minyak goreng berfungsi sebagai medium penghantar panas, menambah rasa gurih,
menambah nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan. Hal ini dapat meningkatkan peminatgorengan
(Ketaren, 2008). Selama proses pengolahan minyak yaitu penggorengan minyak goreng mengalami
berbagai reaksi kimia diantaranya reaksi hidrolisis, oksidasi, isomerasi dan polimerasi. Reaksi kimia yang
terjadi pada asam lemak contohnya pemanasan minyak pada suhu diatas 200oC dapat menyebabkan
terbentuknya polimer, molekul tak jenuh membentuk ikatan cincin. Pemanasan minyak secara berulang-
ulang pada suhu tinggi dan waktu yang cukup lama, akan menghasilkan senyawa polimer yang berbentuk
padat dalam minyak (akrolein) (Ketaren, 2005). Semakin sering digunakan tingkat kerusakan minyak
akan semakin tinggi. Penggunaan minyak berkali-kali mengakibatkan minyak menjadi cepat berasap atau
berbusa dan meningkatkan warna coklat serta flavor yang tidak disukai pada bahan makanan yang
digoreng. Kerusakan minyak goreng yang berlangsung selama penggorengan juga akan menurunkan nilai
gizi dan berpengaruh terhadap mutu dan nilai bahan pangan yang digoreng dengan menggunakan minyak
yang telah rusak akan mempunyai struktur dan penampakan yang kurang menarik serta citra rasa dan bau
yang kurang enak (Trubusagrisarana, 2005). Asam lemak bebas didalam minyak goreng merupakan asam
lemak berantai panjang yang tidak teresterifikasi. Asam lemak bebas mengandung asam lemak jenuh
yang berantai panjang. Semakin banyak konsumsi asam lemak bebas, akan meningkatkan kadar Low
Density Lipoprotein (LDL) dalam darah yang merupakan kolesterol jahat. Banyaknya asam lemak bebas
dalam minyak menunjukkan penurunan kualitas minyak. Penentuan asam lemak bebas atau biasa disebut
dengan FFA (Free Faty Acid) sangat penting kualitasnya dengan minyak. Semakin besar angka kadar
bilangan asam berarti kandungan asam lemak bebas semakin tinggi, hal ini dapat berasal dari proses
hidrolisis ataupun proses pengolahan yang kurang baik. Karena proses hidrolisis dapat berlangsung
dengan penambahan panas (Adrian, 2005). Berdasarkan SNI batas maksimal kadar asam lemak bebas
pada minyak goreng yaitu 0,3%. Sebaiknya pemakaian minyak goreng disesuaikan dengan keperluan
(tidak terlalu banyak), memakai minyak pada suhu yang tidak terlalu panas (180oC-220oC),
menggunakan minyak 1-2 kali pakai dan menggunakan minyak untuk menggoreng bahan yang sama
(Andriana, 2013).
(Sumber : Afifa Ayu, Farida Rahmawati, Saifudin Zukhri)