Anda di halaman 1dari 42

TEORI AKUNTANSI

SISTEM PENGUKURAN AKUNTANSI

DISUSUN OLEH:
1. MAYA SINTA
2. YOLANDA MONIKA PERMATASARI
(1611070148)
3. SYLVINA

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


PERBANAS INSTITUTE

JAKARTA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

Pengukuran merupakan bagian yang penting dari suatu penyelidikan

sains (Godfrey : 134). Pengukuran dibuat, seperti yang ditunjukkan dalam

akuntansi, karena data kuantitatif dapat memberikan informasi yang lebih besar

dibandingkan dengan data kualitatif dalam banyak hal. Pengukuran atas suatu

atribut yang dilaporkan dalam suatu laporan keuangan (seperti aktiva, pendapatan,

kewajiban) merupakan bagian penting dari akuntansi itu sendiri. Dengan kata lain,

dapat dinyatakan bahwa sejatinya akuntansi merupakan pengukuran

perusahaan/entitas bisnis dari sudut pandang keuangan. Hal ini bukan merupakan

sesuatu yang baru. Hubungan antara akuntansi dan pengukuran sebagai berikut:

“Accounting is the art of measuring and communicating financial information.

This statement is not shocking or even surprising, yet the acknowledgment that

accounting is concerned with measurement is a first necessary step towards a

long awaited revolution in accounting”. Dengan demikian, akan sangat baik bagi

kita untuk memahami teori pengukuran dan menguraikan sejumlah asumsi yang

menjadi dasar pengukuran pada akuntansi. Konsep pengukuran sendiri tumbuh

dari evolusi “teori bilangan dan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan fisik”. Teori

pengukuran berfokus pada pengembangan suatu alat ukur atau instrumen dengan

bantuan seorang analis atau peneliti yang dapat mengukur atribut dari suatu

entitas, fenomena, atau sistem yang dapat diteliti. Pengukuran merupakan suatu

proses yang melibatkan penetapan simbol, pengukuran terhadap orang, objek,

peristiwa, atau atribut- atribut berdasarkan peraturan yang telah ditentukan.

2
Elemen atau pos harus diukur untuk membawa informasi semantik.

Menurut Suwardjono(2010:192), pengukuran adalah penentuan besarnya unit

pengukur (jumlah rupiah) yang akan dilekatkan pada suatu objek (elemen atau

pos) yang terlibat dalam suatu transaksi, kejadian, atau keadaan untuk

mempresentasikan makna atau atribut objek tersebut. Atribut yag dimaksud

adalah sesuatu yang melekat pada suatu objek yang menggambarkan sifat atau ciri

yang dikandung oleh objek tersebut. Atribut pengukuran suatu elemen/pos adalah

dasar pengukuran yanng harus dilekatkan pada suatu elemen/pos untuk

mempresentasikan secara tepat atribut yang ingin diungkapkan dari elemen/pos

tersebut dalam pelaopran keuangan. Misalnya, tujuan pelaopran pos mesin adalah

untuk menunjukkan sisa potensi jasa mesin (bukan harga jual mesin). Sisa potensi

jasa merupakan atribut mesin yang ingin disampaikan sehingga atribut

pengukuran yang relevan adalah kos historis.

Proses pengukuran ini mirip dengan pendekatan untuk perumusan dan

pengujian teori. Aturan semantik (operasi) dirancang untuk menghubungkan

simbol pernyataan untuk objek tertentu atau kejadian. Ketika aturan semantik

ditunjukkan bahwa hubungan dalam pernyataan matematis berkorelasi dengan

hubungan objek atau peristiwa maka pengukuran aspek tertentu dari objek atau

peristiwa telah dibuat. Dalam akuntansi kita mengukur laba dengan terlebih

dahulu menetapkan nilai untuk modal dan kemudian menghitung keuntungan

sebagai perubahan modal selama periode setelah akuntansi untuk semua peristiwa

ekonomi yang mempengaruhi kekayaan perusahaan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pentingnya Pengukuran

Campbell mendefiniskan pengukuran adalah : “the assignment of

numerals to represent properties of material systems other than numbers,

in virtue of the laws governing these properties” Sedangkan menurut

Stevens: “assignment of numerals to objects or events according to the

rules” Dalam pengertian Campbell, “The System” sama dengan “object or

events” dalam pengertian Steven. Dalam hal ini contohnya adalah : meja,

manusia, aset, atau jarak perjalanan. “Properties” yaitu spesifikasi atau

karakteristik dari “The System” dalam perngertian Campbell. Dalam hal

ini maka Teori Pengukuran menurut Campbell lebih tepat. Ketika kita

melihat hubungan antara pernyataan secara matematika yang berkolerasi

dengan hubungan dari objek atau kejadian, maka pengukuran atas objek

atau kejadian tersebut telah terjadi.

Dalam Akuntansi, kita mengukur laba dengan langkah pertama yaitu

menghitung atau menilai modal dan kemudian mengkalkulasikan laba

sebagai pertukaran dalam modal selama periode akuntansi untuk semua

kejadian ekonomi yang mempengaruhi perusahaan (Godfrey, dkk. 2010).

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit

analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep Atribut adalah

sesuatu yang melekat pada suatu objek yang menggambarkan sifat atau

cirri yang dikandung objek tersebut (Suwardjono, 2010).

4
Dalam setiap aktivitas manusia, pengukuran senantiasa terjadi. Dapat

berupa penilaian subyektif, misalnya persepsi seseorang tentang orang

lain, yang dapat menentukan bentuk hubungan antar keduanya pada masa

mendatang, dapat pula berupa pengukuran yang lebih obyektif ataupun

data statistik. Saat transaksi jual-beli, merupakan situasi yang tepat sebagai

contoh tentang pengukuran. Sekantung gula yang kita beli, mungkin

berukuran satu kilogram, atau setengah kilogram, itulah pengukuran yang

nyata sehari-hari. Sedangkan dalam akuntansi contoh pengukuran yang

dilakukan adalah ketika kita mengukur keuntungan dengan terlebih dahulu

menetapkan nilai terhadap modal dan kemudian menghitung keuntungan

sebagai perubahan modal selama periode setelah memperhitungkan semua

peristiwa ekonomi yang mempengaruhi kekayaan perusahaan.

Seluruh pengukuran dalam kehidupan itu memiliki tujuan-tujuan

khusus untuk menentukan langkah berikutnya. Pengukuran sangat penting

dilakukan karena dengan mengukur suatu objek, maka kita dapat

mengetahui nilai suatu objek sehingga dapat menjadi acuan untuk dapat

menentukan kebijakan yang berkaitan dengan objek tersebut. Untuk

memudahkan kita melakukan suatu pengukuran sehingga memperoleh

suatu hasil yang akurat dan dapat diandalkan maka kita dapat

menggunakan skala dan memilih tipe pengukuran yang sesuai dengan

karakteristik objek yang kita ukur.

Suwardjono (2010:260) menyatakan bahwa pengukuran lebih

kepada kriteria pengakuan aset daripada suatu kriteria untuk mendefinisi

aset. Beliau juga menambahkan bahwa aliran fisis suatu objek harus

5
direpresentasikan dalam jumlah rupiah sehingga hubungan antarobjek

bermakna sebagai informasi dan kos merupakan representasi kuantitatif

suatu objek. Godfrey et al (2010:134) menjelaskan bahwa data kuantitatif

dapat memberikan informasi yang berdampak lebih besar daripada data

kualitatif dalam banyak hal karena pengukuran atribut yang dilaporkan

dalam akuntansi adalah fungi penting dalam akuntansi. Definisi atribut

(makna) ini menurut Suwardjono (2010:274) antara lain berupa nilai, luas,

berat, volume, tinggi, umur, indeks prestasi, dan sebagainya. Menurut

Campbell dalam Godfrey et al (2010:134), yaitu salah satu orang pertama

yang mendalami masalah pengukuran, pengukuran didefinisikan sebagai

penetapan angka untuk merepresentasikan properti selain angka,. Sistem

dalam definisi campbell adalah mencakup rumah, meja, orang, aset atau

jarak tempuh. Properti adalah aspek-aspek tertentu atau karakteristik dari

sistem seperti berat, lebar, panjang, atau warna. Godfrey berpendapat lebih

memilih untuk mengukur sifat (properti) dan bukan sistem itu sendiri dan

juga menyatakan bahwa definisi pengukuran menurut Campbell

merupakan yang paling tepat.

Suwardjono (2010:193) menyatakan bahwa pos-pos yang sekarang

dilaporkan dalam statement keuangan diukur dengan berbagai atribut

pengukuran bergantung pada ciri pos-pos tersebut dan keberpautan serta

keterandalan atribut pos-pos yang diukur. Selanjutnya, atribut pengukuran

yang sekarang diterapkan dan masih dilanjutkan penggunaannya yaitu :

1. Kos historis (historical cost)

2. Kos sekarang (current cost)

6
3. Nilai pasar sekarang (current mmarket value)

4. Nilai terealisasi/pelunasan netto (Net Realizable Value/settlement

value)

5. Nilai sekarang atau diskon aliran kas masa datang (present or

discounted value of future cash flows)

B. Skala Pengukuran

Godfrey et al (2010:134) menjelaskan bahwa setiap pengukuran

dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran. Skala ini dibuat

ketika aturan semantik digunakan untuk menghubungkan peryataan

matematik dengan obyek atau peristiwa. Skala menunjukan informasi data

yang diwakili dengan angka-angka dan jenis-jenisnya adalah sebagai

berikut (Godfrey et al,2010:134-135).

1. Skala Nominal

Dalam skala nominal, nomor hanya diigunakan sebagai sebuah

label. Contohnya adalah penomoran pemain sepak bola. Banyak

teori yang tidak sependapat dengan skala nominal. Torgerson

menyatakan sebagai berikut : “Dalam pengukuran, nomor yang

digunakan menunjuk kepada jumlah atau tingkat kepemilikan dari

suatu objek, dan bukan menunjukkan kepada objek itu sendiri.

Sedangkan dalam skala nominal, nomor menunjukkan kepada objek

atau kelompok dari objek.” (Godfrey, dkk. 2010).

7
Skala nominal secara sederhana menunjukan klasifikasi,

dimana tidak ada pengukuran yang diperhitungkan dalam

penggunaan istilah. Sifat utama yang dimiliki angka tesebut

digunakan untuk mengidentifikasi pemain atau obyek. Menurut

Godfrey et al (2010:135) skala ini dapat dilihat dalam sistem

akuntansi, contoh yang mendekati adalah klasifikasi dari asset dan

kewajiban. Menurut penulis hal ini juga dapat kita lihat dari

penomoran kelas aset tetap, dengan header akun dan detail akun

yang dirancang dalam sistem. Penomoran tersebut untuk

menunjukkan klasifikasi kelas aset tetap menurut masa manfaatnya

(biasanya dimulai dengan tanah karena non depreciable asset, lalu

gedung dan aset tetap lain yang berumur lebih pendek)

2. Skala Ordinal

Skala urutan dibuat ketika peringkat operasi dari obyek

dipertanyakan mengenai sifat yang dihasilkan (Godfrey et

al,2010:135). Penulis member contoh, misalnya terkait keputusan

pengadaan aset tetap berupa mesin yang diurutkan berdasarkan

tingkat produktivitasnya, yaitu mesin I, II, dan III. Disini menurut

Godfrey telah menunjukan adanya skala urutan, yaitu dalam

pengaturan penomeran yang terkait dalam alternatif dalam pemilihan

investasi modal. Nomer-nomer tersebut mengindikasikan urutan dari

ukuran produktivitas mesin-mesin tersebut dari yang terproduktif ke

yang tidak produktif (Godfrey et al,2010:135).

8
Kelemahan dari skala urutan adalah adanya selang antara nomer

(1 ke 2, 2 ke 3, dan 1 ke 3) yang tidak dapat menginformasikan apa-

apa mengenai perbedaan kuantitas dari sifat yang ditampilkan

(Godfrey, 2010:135). Penulis memberi contoh terkait aset tetap,

misal Mesin I, II, dan III masing-masing ternyata memiliki tingkat

produktivitas per tahunnya, 2000 ton, 1500 ton, dan 300 ton. Sebagai

contoh, dalam tahap pengukuran aspek produktivitas, pilihan nomer

2 sangat dekat dengan pilihan pada nomer 1 (selisih 500 ton), dan

pilhan pada nomer 3 ternyata jauh lebih kecil daripada pilihan nomer

2 (selisih sampai 1200 ton). Kelemahan yang lainnya menurut

Godfrey et al (2010:135) adalah nomer-nomer tersebut tidak

memperlihatkan seberapa besar proses yang disebabkan dari obyek

tersebut. Penulis dapat melihatnya dari urutan rangking mesin I, II,

dan III yang mana angka tersebut tida memperlihatkan seberapa

besar proses yang disebabkan dari mesin tersebut (karena hanya

angka rangking) Torgerson dalam Godfrey et al (2010:135)

berpendapat bahwa beberapa skala urutan memiliki sifat asal yakni

nilai alami 0, Nilai alami 0 dapat menjadi titik netral dimana dalam

satu arahan telah mencakup alternatif prediksi keuntungan dan dalam

perintah lainnya telah diprediksikan kerugian yang mungkin timbul.

Nomer-nomer tersebut menjadi alternatif pilihan pada titik 0 yang

nantinya akan menjadi pertanda posotif ataupun pertanda negatif.

3. Skala Interval

9
Skala interval menberikan informasi yang lebih daripada

informasi yang diberikan pada skala ordinal. Tidak hanya dalam

penentuan peringkat obyek yang telah diketahui mengenai sifat yang

diberikan tapi juga rentangan jarak antara interval pada skala yang

sama. Pemilihan titik 0 juga ada dalam skala. Sebagai contoh adalah

skala Celcius dalam suhu. Kesamaan interval pada suhu dikenal dari

kesamaan volume pemuaian dengan kesepakatan keputusan dari titik

0 untuk skala. Perbedaan suhu dibagi menjadi titik beku dan titik

didih yaitu 100 , sedangkan titik beku sendiri berada pada suhu 0 .

Jika suhu pada dua kamar yang berbeda diukur dengan thermometer

Cecius menunjukan 22 dan 30 , maka dapat disimpulkan bahwa

ruangan yang kedua lebih panas, karena suhu pada kamar yang

kedua 8 derajat lebih tinggi daripada di kamar yang pertama.

Perbedaan antara angka-angka tersebut dapat diterjemahkan secara

langsung untuk menunjukan perbedaan karakteristik dari obyek

(Godfrey et al, 2010:135-136).

Kelemahan dari skala interval ini adalah titik 0 diputuskan

secara pasti. Sebagai contoh, bagaimana kalau kita mengukur tinggi

badan sekelompok pria pada skala interval dan digunakan angka

untuk setiap berat badan guna mengetahui berat badan rata-rata pada

kelompok tersebut.Rata-rata tersebut menunjukan titik 0 pada skala.

Jika A 3cm lebih tinggi dari rata-rata kemudian kita menandainya

dengan +3 dan jika B 5cm lebih rendah dari rata-rata,maka kita

menandainya dengan -5. Pada skala ini, kita tidak tahu berapa tinggi

10
A dan B secara pasti. B mungkin orang terpendek dalam kelompok

itu, tapi kelompok itu bisa jadi terdiri dari para pemain basket yang

tinggi-tinggi. Contoh skala interval ini terkait akuntansi piutang

dagang, seperti pengukuran beban kerugian piutang untuk

perusahaan yang menggunakan allowance method dengan jumlah

cadangan ditentukan berdasarkan analisis umur piutang. Kita bisa

melihat interval waktu jatuh tempo (belum jatuh tempo, 1-30 hari,

31-60 hari, 61-90 hari, dan lain-lain) untuk mengukur beban

kerugian piutang dan cadangannya, Walaupun penetapan umur

tersebut lebih bersifat arbiter manajemen.

4. Skala Rasio

Skala rasio adalah skala yang:

 Memberikan peringkat kepada objek atau kejadian

 Interval antar objek diketahui dan sama

 Asal yang unik, titik nol yang alami, dimana jaraknya

dengan objek terakhir diketahui.

Contohnya adalah pengukuran panjang. Ketika panjang A

adalah 10 meter dan panjang B adalah 20 m, kita tak hanya bisa

mengatakan bahwa B 10 meter lebih panjang dari A, tetapi B juga

dua kali lebih panjan dari A. Invarian dalam skala berarti bahwa

apapun metode pengukuran yang digunakan, maka sistem

pengukuran akan menghasilkan format yang sama dari variabel-

variabel yang digunakan dan pengambil keputusan akan membuat

keputusan yang sama juga. Tapi hal ini tidak berlaku dalam

11
akuntansi, setiap sistem yang berbeda akan berbeda juga variable-

variabelnya. Pengukuran pendapatan dengan cara yang berbeda akan

menghasilkan keputusan yang berbeda juga. Metode-metode

pengukuran yang berbeda tersebut tidak memberikan informasi yang

sama.

C. Tipe-tipe Pengukuran

Menurut Godfrey et al (2010:138) Harus ada aturan untuk

menetapkan angka-angka sebelum pengukuran dapat dilakukan. Aturan

ini biasanya berbentuk seperangkat operasi yang harus diciptakan untuk

suatu tugas yang diberikan. Perumusan aturan menimbulkan skala.

Pengukuran dapat dilakukan hanya pada skala-skala (Godfrey et al,

2010:138). Campbell dalam Godfrey et al (2010:138) telah

menyebutkan dua jenis pengukuran, yaitu: pengukuran dasar

(fundamental) dan turunan (derived measurement). Campbell

menambahkan pernyataan bahwa angka tersebut ditetapkan sesuai

dengan 'hukum' yang mengatur terkait dengan properti (atribut, bila

mengacu pada definisi Suwardjono) dan pengukuran hanya dapat

dilakukan ketika terdapat teori empiris yang telah dikonfirmasi (hukum)

untuk mendukung pengukuran.

Torgerson dalam Godfrey et al (2010:138) menambah satu lagi jenis

pengukuran disamping fundamental dan turunan. Jenis selanjutnya, yaitu

pengukuran fiat, disebut-sebut beliau sebagai tambahan untuk pengukuran

12
fundamental dan turunan yang telah dibahas oleh Campbell. Penjelasan

terkait ketiga jenis pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran-pengukuran Fundamental

Sebuah pengukuran mendasar adalah di mana angka

ditetapkan ke properti dengan mengacu pada hukum alam dan

yang tidak tergantung pada pengukuran atas variabel lain. Sifat

seperti panjang, hambatan listrik, jumlah dan volume secara

fundamental terukur. Sebuah skala rasio dapat dirumuskan untuk

masing-masing properti berdasarkan ketentuan-ketentuan yang

berkaitan dengan ukuran yang berbeda (jumlah) dari harta yang

diberikan. Penafsiran angka tergantung pada teori empiris yang

telah dikonfirmasi yang mengatur operasi pengukuran (Godfrey et

al,2010:138). Berdasarkan definisi diatas, penulis dapat melihat

karakteristik pengukuran fundamental adalah:

1) Penetapan angka ke atribut berdasarkan pada hukum alam

atas atribut tersebut.

2) Penetapan angka tidak didasarkan pada pengukuran variable

lain.

3) Penafsiran angka tergantung pada teori empiris yang telah

dikonfirmasi (confirmed empirical theory) yang mengatur

operasi pengukuran.

Godfrey et al (2010:138) menyatakan bahwa ternyata sifat

fundamental adalah bersifat saling menambah dan operasi aritmatika

dapat dilakukan secara mudah dengan pemantauan secara fisik.

13
2. Pengukuran-pengukuran Turunan

Menurut Campbell dalam Godfrey et al (2010:139), pengukuran

turunan berasal dari salah satu yang tergantung pada pengukuran atas

dua atau lebih besaran lainnya. Pengukuran kepadatan adalah sebuah

contoh. Hal ini tergantung pada baik pengukuran massa dan volume.

Operasi pengukuran terderivasi tergantung pada hubungan yang

diketahui atas sifat-sifat dasar suatu properti. Mereka didasarkan

pada teori empiris yang telah dikonfirmasi terkait properti diberikan

untuk memperoleh properti lainnya. Operasi matematika dapat

dilakukan pada angka-angka dari pengukuran terderivasi (Godfrey et

al, 2010:139).

3. Pengukuran-pengukuran Fiat

Torgerson dalam Godfrey et al (2010:139) berpendapat bahwa

salah satu kategori lain dari pengukuran harus ditambahkan ke daftar

Campbell tentang pengukuran dengan fiat. (Fiat berarti dekrit,

dekrit) untuk membenarkan sebagian besar pengukuran dalam ilmu

sosial. Pengukuran tersebut akan mencakup yang didasarkan pada

definisi secara arbiter (misalnya pengukuran laba akuntansi). Penulis

melihat bahwa definisi secara arbiter ini merupakan definisi yang

ditetapkan dalam accounting regulation dan mungkin saja tidak

berdasarkan suatu teori empiris yang telah dikonfirmasi, karena

ukuran laba adalah ukuran yang sulit untuk dijelaskan secara tepat,

karena laba akuntansi merupakan laba akrual (secara riil laba sulit

dijelaskan). Torgerson dalam Godfrey et al (2010:139)

14
menunjukkan bahwa masalah utama dengan pengukuran dengan

fiat adalah berbagai skala pengukuran dapat dibangun akibat tidak

didasarkan pada teori yang telah dikonfirmasi. Torgerson

menambahkan, dalam akuntansi, misalnya, berbagai dewan standar

akuntansi menentukan skala akuntansi dengan fiat, bukan dengan

mengacu pada teori pengukuran yang telah dikonfirmasi. Godfrey et

al (2010:139) memberikan penjelasan terkait keterbatasan

pengukuran ini dengan pernyataan ‘’apakah kita tahu, misalnya,

bahwa cara tertentu yang kita gunakan untuk mengukur profit

adalah valid?, hal ini mungkin saja salah satu dari ratusan cara

untuk mengukur profit sepanjang cara tersebut berdasarkan teori

yang telah dikonfirmasi, disini juga tidak ada alasan yang baik

untuk yakin dengan hasilnya’’.

D. Keandalan dan Keakuratan

Apa yang dimaksud dengan keandalan dan ketepatan dari kegiatan

pengukuran? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus

menyatakan terlebih dahulu bahwa tidak ada pengukuran yang bebas

dari kesalahan kecuali perhitungan. Kita bisa mengukur jumlah kursi di

ruangan tertentu dan dengan benar. Untuk semua pengukuran

mengandung kesalahan atau eror.

Menurut Suwardjono (2010:171), Keterandalan adalah

kemampuan informasi untuk memberi keyakinan bahwa informasi

tersebut benar atau valid. Beliau juga menambahkan bahwa

15
keterandalan sangat erat kaitannya dengan sumber informasi dan cara

merepresentasi, mendeskripsi atau menyimbolkannya. Sedangkan

Godfrey et al (2010:140) berpendapat terkait dengan apa yang dimaksud

keandalan dalam pengukuran atau ke akuratan pengukuran, bahwa

semua pengukuran tidak bebas dari error, kecuali dalah hal menghitung

dan semua pengukuran melibatkan error.

Sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran menurut Godfrey et

al (2010:140) adalah sebagai berikut :

1. Operasi pengukuran dinyatakan secara tidak tepat

Aturan untuk menetapkan angka atas atribut yang diberikan

biasanya terdiri dari serangkaian operasi. Sebuah aset operasi

bisa saja dinyatakan secara tidak tepat dan bisa diinterpretasikan

dengan salah oleh pihak yang mengukur. Sebagai contoh

perhitungan keuntungan melibatkan beberapa operasi, seperti

klasifikasi biaya dan alokasi antara aset-aset dan biaya –biaya

yang sering diinterpretasikan secara berbeda oleh Akuntan yang

berbeda (Godfrey et al,2010:140).

2. Pengukur

Pengukur mungkin salah menafsirkan aturan, bias, atau

menerapkan atau membaca instrumen secara tidak benar. Satu

perhatian dalam akuntansi adalah bahwa manajer memiliki bias

tertentu untuk meningkatkan laba tercatat atau aset dan

kemudian manajer ini melakukan tekanan pada akuntan untuk

membiaskan akun-akun terkait (Godfrey et al,2010:140).

16
3. Instrumen

Banyak operasi pengukuran meminta penggunaan instrumen

fisik, seperti penggaris atau termometer atau barometer, yang

mungkin cacat. Ada potensi untuk kesalahan bahkan ketika

instrumen tersebut bukan alat fisik tetapi , misalnya, grafik,

tabel, tabel angka atau indeks harga.misalnya (Godfrey et

al,2010:140)

4. Lingkungan

Keadaan di mana pengukuran dilakukan dapat mempengaruhi

hasil. Sebagai contoh kondisi cuaca dapat mempengaruhi

instrumen atau pengukuran, kebisingan dapat mengalihkan

perhatian pengukuran atau, dalam akuntansi ,tekanan dari

manajemen dapat mempengaruhi keputusan akuntan, tekanan

(misalnya dari beban kerja yang berat) menyebabkan

penyimpangan konsentrasi dan gangguan, sumber kesalahan

dapat diberi label’ lingkungan’.Kesalahan acak biasanya

disebabkan oleh faktor lingkungan. Faktor lain adalah

lingkungan dimana manajemen perusahaan beroperasi (Godfrey

et al,2010:140).

5. Atribut tidak jelas

Apa yang diukur mungkin tidak jelas khususnya jika

pengukuran melibatkan sebuah konsep yang tidak dapat diukur

secara langsung..Masalah ketidak jelasan atribut tidak jarang di

akuntansi. Berapa nilai dari aktiva tidak lancar? Apakah nilai

17
sekarang, biaya akuisisi, biaya saat ini atau harga jual?

mengingat bahwa tujuan utama akuntansi adalah untuk

mencerminkan nilai, penting untuk secara jelas mendefinisikan

nilai Apakah nilai pakai, nilai tukar, atau beberapa atribut lain

yang akuntan harus mengukur? Masalahnya terletak dalam

menetukan atribut yang akan diukur (Godfrey et al,2010:140-

141).

6. Risiko dan ketidakpastian

Hal ini berkaitan dengan distribusi pengembalian aset nyata.

Misalya, keuntungan masa mendatang pada aset berwujud

seperti gedung adalah beresiko tetapi mereka homogen(lebih

kurang) dan harganya dapat diamati. Yaitu ketika harga satu aset

mungkin dibawah atau overestimate jumlah pengembalian yang

belum pasti (Godfrey et al,2010:141).

E. Pengukuran dalam Akuntansi

Rerangka pengukuran dan pengakuan sebagaimana telah dimuat

dalam SFAC No.5 telah dikembangkan dan dilengkapi dengan SFAC

No. 7 tentang penggunaan informasi aliran kas dan nilai sekarang dalam

pengukuran akuntansi. Sebagai komponen rerangka konseptual, SFAC

No. 7 memberi pedoman yang berisi: (Suwardjono,2010:196)

1. Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi

18
2. Prinsip-prinsip umum yang melandasi pengggunaan niai

sekarang, terutama bila jumlah rupiah aliran kas masa datang,

saat terjadinya (timing), atau keduanya tidak pasti

Saat pengukuran akuntansi terdiri dari pengukuran saat pengakuan

mula-mula, dan pengukuran baru mulai (Suwardjono,2010:196).

Pengukuran saat pengakuan mula-mula adalah pengukuran pada suatu

elemen atau pos timbul dan dicatat pertama kali akibat transasksi,

kejadian, atau keadaan (Suwardjono,2010:196). Penulis memberi

contoh yaitu saat pengakuan awal aset tetap pada kos-nya saat

terjadinya transaksi (accrual basis). Sedangkan pengukuran baru mulai

merupakan pengukuran dalam periode-periode setelah pengakuan mula-

mula untuk menentukan jumlah rupiah bawaan baru yang tidak

berkaitan dengan jumlah-jumlah rupiah sebelumnya

(Suwardjono,2010:196), contohnya seperti pengukuran nilai buku aset

dan beban depresiasi yang dibebankan pada perioda pelaporan.

Tujuan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi adalah untuk

menangkap/merefleksikan sedapat mungkin perbedaan ekonomik antara

sehimpunan aliran kas masa datang dan untuk mengestimasi nilai wajar

(Suwardjono,2010:199). Menurut SFAC No.7, paragraph 23 dalam

Suwardjono (2010:200), nilai sekarang dapat menangkap perbedaan

ekonomik antara aliran kas jika unsur-unsur berikut dipertimbangkan.

1. Suatu estimasi aliran kas masa dating atau, dalam beberapa

kasus yang kompleks, serangkaian kas masa dating yang tiba

pada saat berbeda

19
2. Harapan-harapan tentang variasi yang mungkin terjadi dalam

jumlah dan saat tibanya aliran kas tersebut

3. Nilai waktu uang yang ditunjukkan dengan oleh bunga bebas

resiko

4. Harga atau nilai penanggungan resiko atau ketidakpastian

yang melekat pada aset dan kewajiban

5. Faktor-faktor lain termasuk ilikuiditas dan ketaksempurnaan

pasar

Godfrey et al (2010:145) menjelaskan terkait pengukuran bahwa

pengukuran dalam akuntansi termasuk dalam kategori

pengukuran yang didasarkan pada modal dan keuntungan. Laba

akuntansi, sesuai dengan standar akuntansi Internasional, merupakan

perubahan modal selama periode dari semua kegiatan termasuk

kenaikan dan penurunan nilai wajar aktiva bersih, tidak termasuk

transaksi dengan pemilik. Modal berasal dari pengukuran 'nilai wajar'

antara aktiva dan kewajiban. Hal itu berarti harus dilakukan

pengukuran nilai modal awal, jumlah penghasilan yang diterima, jumlah

pemakaian modal, dan perubahan nilai wajar aktiva bersih. Peningkatan

modal selama periode kemudian akan mengukur jumlah laba dari

berbagai sumber termasuk operasi dan pengukuran kembali (setelah

disesuaikan dengan suntikan modal baru atau pembayaran dividen).

Nilai wajar aktiva bersih disajikan kembali dan kemudian akan menjadi

modal pembukuan pada periode berikutnya (Godfrey et al,2010:145)

Terdapat tiga sistem pengukuran modal dan laba, yaitu :

20
1. Kos historis (Historical Cost)

1.1 Tujuan akuntansi

Pertumbuhan perusahaan selama setengah abad terakhir, telah

menunjukkan bahwa informasi akuntansi mengambil makna lebih

penting sebagai sumber informasi tentang perusahaan. Salah satu

alasan untuk ini adalah bahwa bentuk perusahaan untuk sebuah bisnis

besar menyebabkan pemisahan kepemilikan usaha dan control bisnis.

Akuntabilitas, oleh karena itu dipandang menjadi tujuan paling

penting dari fungsi pelaporan. Khususnya fungsi pengarahan yang

dilakukan manajer dipandang sebagai focus perhatian akuntan dalam

pelaporan keuangan kepada pihak eksternal.

Tujuan pengarahan historical cost menekankan kontrak'

konservatif dan hubungannya antara perusahaan dan mereka yang

menyediakan sumber daya untuk itu dengan membentuk manajemen

bertanggung jawab untuk memasukan aset operasi dan output

berikutnya pada nilai bersih dari ekuitas operasi. Dengan demikian,

laporan laba rugi adalah kunci mekanisme komunikasi.

Kritik historical cost berpendapat bahwa laporan penghasilan

saja (yang cocok dengan masukan pada konsep biaya historis / biaya

perolehan) tanpa pengakuan perubahan nilai aktiva dan kewajiban

adalah menyesatkan dan menghasilkan kebijakan dividen tidak benar.

Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan kerugian atau

keuntungan hanya dari menahan asset atau kewajiban, dan hal ini

harus diakui ketika mengevaluasi kinerja secara teratur. Sebaliknya,

21
dibawah pandangan nilai historis, perubahan nilai asset pada dasarnya

diabaikan sampai saat asset tersebut dijual atau dilepaskan melalui

penjualan atau write-off/write-down. Singkatnya, teori historical cost

menentukan residual “net value” perusahaan.

1.2 Modal dan Laba (Capital and Profit)

Dalam rangka untuk keuntungan biaya historis akan ditentukan,

entitas akuntansi harus terlebih dahulu mempertahankan jumlah modal

yang sama (aset dikurangi kewajiban) yang dimiliki pada awal periode

- di mana semua aset dan kewajiban dinilai berdasarkan biaya

pembelian historisnya. Sehingga pendapatan adalah kenaikan modal

biaya historis pada akhir periode akuntansi. Pendapatan menunjukkan

prestasi perusahaan untuk periode tertentu, biaya merupakan upaya

dikeluarkan (dalam hal biaya historis yang disesuaikan) dan laba

berkorelasi dengan efektivitas perusahaan sebagai unit operasi.

Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang penting, karena

mengungkapkan hasil operasi bisnis. Neraca tidak terlalu signifikan

yang berfungsi sebagai link yang menghubungkan gabungan laba rugi

menjadi gambar komposit dari aliran pendapatan. Aliran laba usaha

yang permanen mencerminkan nilai fundamental dari perusahaan

dalam analisis yang merupakan dasar nilai.

1.3 Dua Konsep dasar Historical Cost revenue-expense

1.3.1 Pencocokan teori biaya (Matching of Costs Theory)

Akuntan historical cost melacak aliran biaya. Sebagai

perusahaan pembelian barang dan jasa, tugas akuntan adalah

22
untuk melacak pergerakan biaya dan melampirkannya ke

pendapatan yang diterima karena biaya – biaya tersebut

mengalir melalui bisnis. Dengan kata lain, akuntan harus

menentukan biaya yang “Jatuh tempo” dan oleh karena itu harus

dicocokan dengan pendapatan dalam laporan laba rugi dan biaya

yang masih “belum Jatuh tempo” harus ditempatkan pada neraca

sebagai (aset tak tertandingi) sisa / residual. Teori pencocokan

biaya dapat dilihat laporan laba rugi. Dengan demikian, kita

dapat melihat konsep ini sangat penting dalam akuntansi biaya

historis. Karena konsep ini yang memandu akuntan dalam

menentukan mana biaya yang harus dipertimbangkan sebagai

beban/expense. Istilah seperti biaya yang telah jatuh tempo

untuk expense dan biaya amortisasi untuk aset non-moneter

berasal dari biaya melampirkan teori yang diterapkan pada

alokasi biaya historis.

Dilihat dari historical cost : dilihat dari pendapatan masa

lampau dan di bandingkan dengan profit sehingga dapat

menentukan laba rugi. Matching cost berhubungan historical

cost untuk melihat sejarah dari akuntansi keuangan dari masa

lampau sehingga dapat melihat apa yang terjadi. Hubungan

dengan historical cost untuk mengetahui bahwa assets tersebut

dapat didepersiasikan.

1.3.2 Konservatisme

23
Komponen lain yang penting adalah penerapan prosedur

pencocokan konservatif. Beban harus dialokasikan sesegera

mungkin, sedangkan pendapatan tidak harus diakui sampai ada

kemungkinan besar bahwa pendapatan akan diterima. Artinya,

ada bias terhadap pengakuan beban dan pengakuan pendapatan.

Selain itu, konsep konservatisme menyatakan bahwa

peningkatan nilai aset tidak harus diakui, namun penurunan nilai

harus menjadi lebih rendah dari aturan biaya atau pasar harus

diakui. Penerapan prosedur tersebut berarti bahwa laba dihitung

secara konservatif dan berarti bahwa setiap aliran pendapatan

potensial mengalir ke laporan laba rugi perlahan seiring waktu.

Misalnya, jika nilai aset meningkat karena peningkatan aliran

potensi masa depan ekonomi kas, maka hanya diakui secara

perlahan dalam pendapatan sebagai potensi peningkatan arus

pendapatan mereka direalisasikan. Dengan demikian, konsep

konservatisme memperkuat pendekatan transaksi dengan

akuntansi (transaksi harus dibuktikan oleh baik kredit atau uang

tunai) dan pengakuan yang tidak dihasilkan dalam transaksi

(seperti kenaikan harga). Contoh : utang garansi, kegiatan yang

meyakinkan bahwa produknya tersebut bagus, memungkinkan

utang tersebut tidak tertagih.

1.4 Argumen untuk Historical Cost Accounting

Akuntansi historical cost telah ditentang oleh banyak orang,

terutama atas dasar bahwa historical cost tidak melaporkan realitas

24
komersial atau memberikan penilaian up-to-date dari kekayaan bersih.

Pembela / pendukungnya telah menyajikan argumen berikut:

a) Biaya historis relevan dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Sebagai seorang manajer yang mengambil keputusan, kita

harus konsentrasi terhadap komitmen di masa akan datang.

Manajer membutuhkan data transaksi di masa lampau. Kita

harus melihat kembali upaya – upaya di masa lampau dan

pengukuran upaya – upaya di masa lampau (konsep biaya

historis).

b) Biaya historis didasarkan pada aktual (kenyataan), bukan hanya

kemungkinan transaksi.

Catatan pendukung dari angka-angka pada laporan keuangan

adalah penting. Karena itu disediakan dan diamati. Ini tidak

terjadi pada “fair value” dimana mengakui harga saat ini

sebagai nilai.

c) Sepanjang sejarah, laporan keuangan berdasarkan biaya historis

telah ditemukan dan menjadi hal yang berguna.

Littleton berpendapat bahwa praktik akuntansi industri modern

dan manajerial adalah hasil langsung dari bertahun-tahun

percobaan trial and error yang dihabiskan oleh data pemilik

pengembangan operasional yang akan berguna bagi mereka

dalam menjalankan bisnis mereka.

d) Konsep terbaik memahami laba adalah kelebihan harga jual

atas biaya historis.

25
Pengertian tentang keuntungan diterima sebagai ukuran

keberhasilan kinerja. keputusan manajer apakah akan

melanjutkan lini produk atau divisi atau memperbesar pabrik

bergantung besar pada apakah ada penyebaran menguntungkan

antara pendapatan dan biaya. Orang – orang memahami

gagasan dasar kesuksesan bisnis.

e) Akuntan harus menjaga integritas data mereka terhadap

modifikasi internal.

Catatan transaksi masa lalu yang diperlukan untuk akuntan

selama akuntabilitas adalah penting. Ini menjadi tujuan utama

untuk memahami fungsi pengarahan, dimana biaya historis

harus digunakan

f) Seberapa bergunanya informasi laba terhadap current cost atau

exit price? Apakah hal tersebut berguna untuk menunjukkan

keuntungan peningkatan nilai asset yang dimiliki oleh

perusahaan yang tidak bernilai menjual?

Misalkan sebuah perusahaan memiliki investasi jangka panjang

dalam sekuritas lain, hal ini dilakukan agar perusahaan bisa

menjamin pasokan bahan baku.

g) Perubahan harga pasar dapat diungkapkan sebagai data

pelengkap/ data tambahan.

Tambahan data pada harga saat ini adalah cara yang praktis dan

efisien berkaitan dengan informasi tersebut, tanpa harus

mengubah biaya historis menjadi dasar biaya saat ini.

26
h) Ada bukti cukup untuk membenarkan akuntansi biaya historis.

Akuntan tradisional berpendapat bahwa tidak ada bukti empiris

meyakinkan yang menunjukkan bahwa biaya saat ini atau

Informasi akuntansi harga keluar lebih berguna daripada

informasi biaya historis.

1.5 Criticisms of Historical Cost Accounting

1.5.1 Tujuan akuntansi

Dalam akuntansi biaya historis, tujuan untuk menyediakan

informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi

diartikan memberikan informasi mengenai fungsi pelayanan

manajemen. Meskipun penting, ini adalah interpretasi yang

relative sempit dari tujuan. Sejarah akuntansi mengungkapkan

bahwa peran lain dari akuntansi adalah untuk memenuhi

pengambilankeputusan yang dibutuhkan pengguna.

Para kritikus akuntansi biaya historis telah berulang

menyarankan bahwa system gagal dalam fungsi yang

mendasarinya memeberikan informasi objektif. Ada begitu

banyak keputusan yang berkaitan dengan pengukuran,

pencatatan dan pelaporan informasi, diaman system biaya

historis itu jauh dari objektif dan terbuka untuk manipulasi. Pada

tahun 1998 AARP menulis Accounting Theory Monograph 10.

Measurement in financial accounting. Monograph 10 (p22)

mempertanyakan validitas informasi biaya historis dan

27
menentang prinsip dasar dan system yaitu bahwa informasi

sejarah menjamin pemeliharaan modal dasar entitas.

1.5.2 Informasi untuk pengambilan keputusan

Pendukung historical cost berpendapat bahwa manajer

membutuhkan data historis dalam rangka mengevaluasi

keputusan masa lalunya ketika mereka memikirkan komitmen

masa depan. Apakah keputusan masa lalu adalah benar atau

salah pada akhirnya harus dipastikan oleh apa yang ada di pasar.

Biaya historis tidak cukup untuk evaluasi bisnis. Asset

tetap yang diperoleh, biaya historis relevan karena mengacu

pada kejadian saat ini. Namun, satu periode akuisisi telah berlalu

dan artinya tidak baru lagi dan tidak konsekuensial. Laba pada

tahun tertentu seharusnya mewakili kenaikan bersih nilai modal

entitas untuk tahun itu, yaitu kegiatan yang terjadi pada tahun

tertentu yang meningkatkan modal entitas. Modal dapat

didefenisiskan dalam beberapa cara :

a) Agar berguna dalam pengambilan keputusan, modal berarti

kemampuan operasi perusahaan (kemampuannya untuk

mempertahankan produksi)

b) Dalam daya beli perusahaan, modal berarti kemampuan

untuk bertransaksi di pasar

c) Dalam biaya historis, modal adalah moneter asli dalam

perusahaan

28
Kritikus berpendapat keuntungan dilaporkan dalam harga

perolehan tidak memiliki semacam interpretasi prospektif.

Sebaliknya, keuntungan tersebut sepenunya retrospektif.

Akuntansi biaya harus mengadopsi konsep modal keuangan,

dimana modal dianggap sebagai nominal dasar pembelian

investasi, biaya historis tidak berkorelasi dengan peristiwa tahun

lalu. Untuk mencocokkan harga perolehan terhadap pendapatan

saat ini, tidak memungkinkan untuk pembagian total ke

untungan dalam aktivitas operasi dan holding componens. Biaya

historis mungkin lebih objektif dari pada harga sat ini, tetapi

kritikus menyatakan bahwa relevansinya untuk pengambilan

keputusan dipertanyakan.

1.5.3 Dasar biaya historis

Salah satu justifikasi untuk penggunaan biaya historis

adalah asumsi going concern. Anggapan bahwa kehidupan

prusahaan tidak terbatas, sehingga perkiraan normal mengenai

item non moneter akan terpenuhi. Persediaan diharapkan akan

dijual, dan asset non lancer sepenuhnya digunakan dalam bisnis.

Oleh karena itu, biaya historis asset atau sebagian alokasinya

adalah jumlah yang sesuai drngan pendapatan.

1.5.4 Matching

Pada pemeriksaan lebih dekat tentang teori konvensional,

kita menemukan bahwa asumsi going concern tidak

menggarisbawahi penggunaan biaya historis. Konsep matching

29
mensyaratkan bahwa ketika pendapatan diperoleh, biaya

ditanggung oleh pendapatan tersebut untuk mencocokan

pendapatan dalam menghitung keuntungan. Akuntansi

konvensonal menempatkan penekanan pada memutuskan

apakah biaya harus dikurangkan dari pendapatan periode

berjalan atau di tangguhkan dimasa yang akan datang.

1.5.5 Gagasan kebutuhan investor

Pendapat tentang akuntansi biaya historis yang berfokus

pada penentuan laba bersih, menyebabkan distorsi atau

penyembunyian pengungkapan perusahaan yang penting.

Whitman dan shubik berpendpat bahwamasalah ini muncul

karena tujuan dariakuntansi biaya konvensional historis yang

salah dipahami bahwa :

a) Akuntansi memiliki pandangan naïf, pandangan sederhana

terhadap investor dan kebutuhan investor.

b) Akuntan menerima gaya kuno, pandangan fundamental

tentang bagaimana perusahaan-perusahaan dan saham-saham

dianalisis.

Diketahui bahwa adanya perbedaan antara analisis pangsa

pasar dan analisis perusahaan. Untuk analisis pangsa pasar

sebagian besar menentukan apakah investor lain berfikir tentang

ilmu psikologi pasar. Mereka tertarik pada “pendapat rata –

rata” dari pendapat rata – rata menurut Whitman dan subik, alas

30
an penekanan pada psikologis investor daripada kenyataan yang

terjadi diperusahaan karena :

a) Investor biasanya memiliki sedikit pengetahuan tentang

perusahaan, manajemen, kebijakan, dan tujuan perusahaan,

peluang, dan masalahnya.

b) Investor adalah para pemegang saham yang mengambil peran

pasif karena mereka tidak dalam posisi untuk mengubah cara

sumber daya perusahaan di gunakan.

c) Investor mengembangkan pandangan jangka pendek karena

ekonomi industry pada pasar saham diarahkan untuk tujuan

itu. Psikologi memiliki efek lebih besar daripada harga pasar

dalam jangka pendek

Untuk alasan –alasan diatas, banyak investor yang tidak

tertarik atau tidak percaya pada analisis perusahaan dari nilai-

nilai yang mendasarinya.Whitman dan subik berpendapat bahwa

akuntansi harus menyediakan informasi bagi investor yang

sophiscared dan cerdas yang tertarik pada apa yang sebenarnya

terjadi dalam bisnis.

2. Kos sekarang (Current Cost)

Ada dua system, dimulai dengan system yang ditawarkan oleh

Edwards dan Beil yang didasarkan pada konsep pemeliharaan modal

keuangan, kemudian beralih ke system biaya yang digunakan saat

pemeliharaan modal fisik dan konsep entitas.

31
2.1 Tujuan dari akuntansi biaya saat ini (current cost

accounting)

Current cost accounting (CCA) adalah system akuntansi dimana

asset dinilai berdasarkan harga beli pasar saat ini dan keuntungan

ditentukan oleh alokasi berdasarkan pada biaya saat ini (biaya saat

membeli). Untuk mengetahui tujuan CCA, perlu adanya pertimbangan

jenis manajer yang dihadapkan dengan keputusan untuk menjalankan

bisnis. Satu asumsi yang dibuat adalah manajer perusahaan untuk

memaksimalkan keuntungan. Edward dan Bell mengungkapkan

masalah mendasar ke dalam 3 pertanyaan :

1. Berapa jumlah asset yang harus ditambah pada waktu

tertentu? Ini merupakan masalah ekspansi

2. Apa yang harus menjadi bentuk asset saat ini? Ini merupakan

masalah komposisi

3. Bagaimana seharusnya asset akan dibayar? Ini adalah

masalah pembiayaan

Manajer membuat keputusan berdasarkan tiga pertanyaan diatas

berdasarkan ekspansi masa depan. Manajer harus mengevaluasi

kegiatan masa lalu dan mengambil keputusan yang digunakan sebagai

alat evaluasi adalah perbandingan data akuntansi untuk suatu periode

tertentu dengan penentuan harapan awal untuk periode tersebut. Jika

perbandingan ini menunjukkan bahwa harapan tersebut tidak akurat,

kejadian terkini atau harapan harus di ubah. Informasi akuntansi

32
berguna dalam pengambilan keputusan harus bias mengukur

peristiwa-peristiwa aktual suatu periode seakurat mungkin.

Jika informasi yang mencangkup kejadian periode sebelumnya

digabung dengan kejadian terkini, atau menghilangkan kejadian

terkini, proses evaluasi menjadi ragu dan berkurang.Edward dan Bell

mempertimbangkan pergerakan harga dalam suatu periode tertentu

yang merupakan peristiwa – peristiwa penting bagi manajemen,

mereka berpendapat bahwa banyak data yang juga relevan untuk

pihak eksternal seperti pemegang saham dan kreditur, karena mereka

juga tertarik dalam mengevaluasi kinerja manajer dan perusahaan.

Berdasarkan teori ini, informasi akuntansi melayani dua tujuan :

1. Evaluasi keputusan masa lalu perusahaan oleh manajer untuk

membuat keputusan terbaik untuk masa depan perusahaan.

2. Evaluasi manajer oleh pemegang saham, kreditiur dan lain-

lain.

Evaluasi yang dilakukan oleh dua pihak (internal dan eksternal) akan

menyediakan sarana untuk keberhasilan fungsi ekonomi karenan

secara teoritis sumber daya akan dialokasikan lebih efisien.

2.2 Konsep laba usaha dan modal keuangan

Berkaitan dengan laba, manajemen sering dihadapkan pada dua

keputusan :

a) memegang keputusan tentang apakah asset dan kewajiban

akan ditahan atau akan digunakan (misalnya penjualan asset

atau pembayaran utang).

33
b) operasi keputusan tentang bagaiamana menggunakan dan

membiayai operasi entitas.

Untuk mengevaluasi baik induk dan operasi keputusan manajer,

Edwards dan Bell menawarkan konsep keuntungan yang disebut

dengan “keuntungan bisnis”, yaitu :

a) laba operasi saat ini (nilai output – nilai input saat ini)

b) penghematan biaya realisasi (peningkatan nilai aset yang

dimiliki badan usaha)

2.3 Holding gains and losses

Memegang komposisi tertentu dari aktiva dan kewajiban adalah

salah satu cara manajemen untuk meningkatkan posisi pasar

perusahaan. Dalam akuntansi biaya historis, keuntungan dicatat hanya

pada saat asset dilepaskan. Oleh karena itu, menentukan apakah

kegiatan pengelolaan memang berhasil atau tidak adalah hampir tidak

mungkin kecuali untuk aktiva yang dibeli atau dijual pada periode

yang sama.

2.4 Why holding gains are a component of profit?

Reusine berpendapat bahwa komponen laba likuidasi

berorientasi konsisten dengan informasi kebutuhan investor. Investor

khawatir dengan arus kas masa depan perusahaan. Terutama dalam hal

dividend an hasil penjualan sahamnya. Argument Reusine

menyiratkan bahwa arus keuntungan biaya adalah indicator utama

arus kas mas depan dan adanya hubungan antara laba saat ini dan

keuntungan ekonomi. Keuntungan ekonomi adalah selisih antara nilai

34
saat ini dari arus kas yang diharapkan oleh perusahaan pada waktu

tertentu, tidak termasuk investasi tambahan oleh pemilik dan distribusi

kepada pemilik.

Keuntungan ekonomi dapat dibagi dalam dua bagian : arus kas

didistribusikan atau keuntungan yang diharapakan dan keuntungan

yang tidak terduga. Komponen ini di defenisikan sebagai :

Laba yang diharapkan = tingkat pengembalian pasar x niali awal

ativa bersih

Laba tidak terduga = kenaikan sparadis atau penurunan nilai

saat ini dari aktiva bersih karena perubahan ekspektasi mengenai

arus kas masa depan

Keuntungan yang diharapakan dalam mengukur perubahan arus

kas perusahaan dimasa depan tidak terbatas, sedangkan keuntungan

tak terduga mengukur perubahan arus kas karena factor lingkungan

yang tidak diperkirakan pada awal periode. Holding gain termasuk

komponen laba mencerminkan pandangan model keuangan. Setiap

jumlah akhir periode yang melebihi jumlah yang diinvestasikan di

awal periode, tidak termasuk investasi tambahan dan distribusi kepada

pemilik adalah keuntungan atau laba. Oleh karena itu, holding gain

adalah bagian dari keuntungan. Laba investasi adalah jumlah uang

yang melebihi jumlah yang diinvestasikan (disesuaikan dengan

inflasi).

3. Exit Price Accounting

3.1 Pendapatan dan Modal

35
Exit price accounting merupakan sistem akuntansi yang

menggunakan harga jual pasar untuk mengukur posisi keuangan

perusahaan dan kinerja keuangan.

Memiliki dua keberangkatan utama dari biaya historis konvensional:

a) Nilai aktiva non-moneter disesuaikan untuk mengukur

perubahan harga jual pasar khusus untuk aktiva dan mereka

dimasukkan dalam pendapatan sebagai keuntungan yang

belum direalisasi.

b) Perubahan daya beli umum yang dipertimbangkan ketika

mengukur modal keuangan dan hasil usaha

Aset di neraca disajikan kembali sebesar nilai keluar (harga jual)

sehingga mereka mewakili 'nilai pasar wajar' perusahaan dalam

likuidasi tertib, yaitu tidak dalam situasi 'fire-sale'. Laporan laba rugi

merupakan keuntungan (kerugian) dari operasi serta disesuaikan

dengan inflasi keuntungan dari memegang aset. Oleh karena itu, laba

diukur berdasarkan konsep yang komprehensif yang mengukur

perubahan nyata total nilai dari semua elemen yang diakui dan

mewakili surplus bersih akuntansi.

3.2 Tujuan dari Akuntansi

Chambers melihat bahwa perusahaan sebagai suatu entitas bisnis

yang adaptif yang terlibat dalam membeli dan menjual barang dan

jasa. Gagasan perilaku adaptif menyiratkan upaya terus menerus untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnis yang kompetitif demi

kelangsungan usaha. Untuk melanjutkan bisnis, perusahaan harus

36
mampu terlibat dalam transaksi pasar dan diungkapkan dalan laporan

posisi keuangan. Dalam pasar, nilai moneter aset dan kewajiban dapat

ditentukan secara objektif dengan mengacu pada harga pasar, yaitu

harga beli dan harga jual.

Ketika perusahaan membeli aktiva tidak lancar, ia

akan mengubah kemampuannya untuk beradaptasi. Jika aset tersebut

dibeli untuk kas, penurunan saldo kas perusahaan berkurang

kebebasannya untuk lay out kas untuk investasi lainnya. Jika aset

tersebut dibeli secara kredit, hal ini mengurangi kemampuan

perusahaan untuk memperoleh kredit lebih lanjut.

3.3 Argumen untuk akuntansi Exit Price

a. Memberikan informasi yang berguna

Perusahaan bisnis terutama yang dimiliki oleh orang atau

mitra kelompok kecil. Akuntan yang menyiapkan laporan

keuangan memiliki kewajiban untuk hanya pada dua pihak yang

berkepentingan : pemilik, yang mengelola bisnis dan

mengetahui semua rincian, kreditur, yang tertarik terutama

dalam kemampuan pemilik untuk membayar rekening atau

pinjaman saat jatuh tempo. Solusi ideal dipandang akuntan

untuk melaporkan semua keuntungan dan kerugian nilai yang

ditentukan dalam pasar kompetitif. Namun tidak semua aset

memiliki pasar yang siap.

MacNel menyarankan kompromi yang bisa diterapkan

harus dinilai :

37
 Efek aset pada harga pasar

 Non-marketable reproducible aset pada biaya

penggantian

 Occasional non-marketbale, non-reproducible aset pada

biaya historis

Laba harus mencakup semua keuntungan yang diakui dan

tidak diakui, dan rugi sesuai dengan prinsip surplus bersih.

b. Informasi Relevan yang dapat diandalkan

Untuk menjadi relevan, informasi harus berguna dalam

mode keputusan pengguna laporan akuntansi. Model keputusan

memungkinkan pengguna untuk menentukan tindakan dari

beberapa alternatif tindakan. Jika tidak ada kendala, informasi

dapat dikumpulkan dan relevan untuk setiap pengguna. Namun

kendalanya adalah dalam memilih model yang tepat untuk

memprediksi konsekuensi dari program alternatif yang tersedia.

c. Aditivitas

Chombers mempertimbangkan aditivitas menjadi faktor

kunci dalam mendukung akuntansi. Jika kita memebrikan nilai

yang berbeda dengan karakteristik yang relatif kecil dari fakta

dan menggunakan skala pengukura relatif kecil, maka tidak ada

arti tertentu atau komersial dapat dideduksi yang tidak dapat

secara logis ditambahkan bersama. Contoh : kita tidak bisa

menilai kewajiban sebesar harga perolehan (surat hutang),

38
beberapa aset sebesar biaya penggantian (persediaan) yang

lainnya sebesar nilai saat ini (sewa aset).

d. Alokasi

Thomas mengeluhkan kenyataan bahwa sistem biaya

akuntansi sangat tergantung pada alokasi biaya untuk penilaian

aset dan penentuan laba. Dia berpendapat bahwa fitur positif

akuntansi exit price adalah bahwa laporan keuangan bebas

alokasi. Laporan keuangan tidak dapat melaporkan perubahan

dalam jumlah yang dialokasikan, tapi melaporkan arus masuk

aktiva dan perubahan nilai-nilai keluar dari aset perusahaan dan

kewajiban dalam suatu periode tertentu.

e. Kenyataan/realitas

Akuntansi exit-price melibatkan referensi pada angka yang

mengacu pada harga pasar saat ini yang sebenarnya. Penyusuran

tidak didefinisikan dengan cara konvensional, namun dalam arti

ekonom penurunan harga pasar. Penyusutan tidak mungkin

terjadi dalam bebrapa tahun jika harga naik atau tetap konstan.

Jika tidak ada nilai realisasi yang dapat dikaitkan dengan item,

maka item tersebut akan memiliki saldo nol.

f. Objektivitas

Hal ini sering dikatakan bahwa harga pasar saat ini tidak

objektif. Namun, beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa

harga pasar relatif lebih objektif daripada kebanyakan. Parker

melakukan studi penelitian tentang perbandingan relatif dan

39
objektivitas untuk nilai keluar dan jumlah biaya historis tercatat.

Objektivitas didefinisikan sebagai konsensus di antara penilai.

Komparatif didefinisikan sebagai sebuah konsensus dalam

pengukuran.

g. Ukuran risiko

Harga keluar dan perubahan harga keluar juga bisa menjadi

indikasi risiko keuangan pembelian aset. Jika harga keluar

meningkat secara drastis, biaya peluang meningkat kembali dan

harus dioperasikan dengan lebih efisien.

Untuk memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk

mengevaluasi posisi risiko dan kinerja dalam mengelola risiko

keuangan yang signifikan rancangan standar akan

membutuhkan:

1. Deskripsi dari setiap risiko keuangan yang signifikan

terhadap tujuan perusahaan dan kebijakan untuk mengelola

risiko tersebut.

2. Informasi tentang dampak risiko tersebut terhadap laporan

posisi keuangan (neraca) dan laporan kinerja keuangan.

3. Informasi mengenai metode dan asumsi utama yang

digunakan untuk memperkirakan nilai wajar instrumen

keuangan.

3.4 Kritik Terhadap Exit-Price Accounting

a. Konsep laba

40
Argumen versus harga keluar akuntansi harus mampu

mengukur peristiwa masa lalu, peristiwa – peristiwa yang

benar – benar terjadi, daripada peristiwa yang mungkin

terjadi jika perusahaan melakukan sesuatu yang lain dari

apa yang direncanakan semula.

b. Aditivitas

Nilai realisasi untuk sebuah aset yang harus dijual segera

mungkin dalam likuidasi memaksa sangat menyimpang

dalam likuidasi dan bertahap teratur. Jika, pada

kenyataannya, antisipasi tidak dapat dihindari dalam setara

kas saat ini, maka model harga keluar sendiri melanggar

prinsip eksklusi perhitungan antisipatif.

c. Penilaian kewajiban

Chambers berpendapat bahwa hutang obligasi secara efektif

bentuk modal dan harus dinyatakan sebesar nilai nominal,

bukan di nilai pasar. ini telah membuat sebagian untuk

mengisi Chambers dengan inkonsistensi pengobatan, karena

obligasi sebagai aktiva harus dinyatakan sebesar nilai pasar.

dalam pertahanan, Chambers menyatakan bahwa pada

waktu tertentu, terlepas dari harga di pasar, perusahaan

berutang pemegang obligasi hanya jumlah kontrak obligasi,

karena itu adalah jumlah kontrak yang relevan dalam

menilai posisi keuangan saat ini.

3.5 Current Cost atau exit price

41
Pertanyaan yang sangat penting dalam memutuskan apakah akan

menggunakan biaya saat ini. Ditahap mana dari siklus operasi harga

keluar harus mendominasi penilaian aset?

1. Menggunakan exit-price menyebabkan revolusi anomali pada

akusisi karena segera setelah nilai pembelian jatuh sehingga

kurang dari biaya akuisisi

2. Menggunakan exit price menyiratkan pendeketan jangka pendek

untuk operasi bisnis karena salah satu yang tertarik dalam

disposisi dan nilai likuidasi

3. Menggunakan exit-price untuk persediaan barang jadi mengarah

pada antisipasi laba usaha sebelum titik penjualan karena

persediaan tersebut lebih dari biaya saat ini

42