Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

KONSEP SPGDT, TRIAGE, DAN BENCANA

DISUSUN OLEH :

WIWIE KARTIWIE
240 STYC 16

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI STRATA 1 KEPERAWATAN
MATARAM
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan

karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Makalah SPGDT,

TRIAGE, DAN KONSEP BENCANA”.

Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah

pengetahuan juga wawasan tentang strategi promosi kesehatan

Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak

kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya

kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat di masa yang akan

datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang

khususnya bagi para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat

kata-kata yang kurang berkenan.

Mataram, 14 Januari 2018

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................... 1
Latar Belakang.......................................................................... 1
BAB 2 PEMBAHASAN.............................................................................. 3
SPGDT...................................................................................... 3
TRIAGE.................................................................................... 8
KONSEP BENCANA............................................................... 15
BAB 3 PENUTUP....................................................................................... 24
Kesimpulan............................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejak tahun 2000 Kementerian Kesehatan RI telah mengembangkan
konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) memadukan
penanganan gawat darurat mulai dari tingkat pra rumah sakit sampai tingkat
rumah sakit dan rujukan antara rumah sakit dengan pendekatan lintas program
dan multisektoral. Penanggulangan gawat darurat menekankan respon cepat dan
tepat dengan prinsip Time Saving is Life and Limb Saving. Public Safety Care
(PSC) sebagai ujung tombak safe community adalah sarana publik/masyarakat
yang merupakan perpaduan dari unsur pelayanan ambulans gawat darurat, unsure
pengamanan (kepolisian) dan unsur penyelamatan. PSC merupakan penanganan
pertama kegawatdaruratan yang membantu memperbaiki pelayanan pra RS untuk
menjamin respons cepat dan tepat untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah
kecacatan, sebelum dirujuk ke Rumah Sakit yang dituju.

Pelayanan di tingkat Rumah Sakit Pelayanan gawat darurat meliputi suatu


system terpadu yang dipersiapkan mulai dari IGD, HCU, ICU dan kamar jenazah
serta rujukan antar RS mengingat kemampuan tiap-tiap Rumah Sakit untuk
penanganan efektif (pasca gawat darurat) disesuaikan dengan Kelas Rumah Sakit.

Menurut Depkes tahun 2006 dalam buku pedoman PPGD menyatakan


sistem Penanggulangan Gawat Terpadu adalah sistem yang merupakan
koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai
kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan
pelayanan terpadu bagi penderita gadar baik dalam keadaan bencana
maupun sehari-hari.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)


1. Pengertian
SPGDT adalah sostem penanggulangan pasien gawat darurat terdiri
dari Pra RS, RS, dan antar RS. Berpedoman pada respon cepat yang
menekankan time saving is lifi and limb saving yang melibatkan masyarakat
umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat dan
komunikasi.

2. Tujuan Sistem Penanggulangan Gawat Terpadu


SPGDT bertujuan untuk tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang

optimal, terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada

dalam keadaan gawat darurat. Upaya pelayanan kesehatan pada penderita

gawat darurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang

harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah

kematian atau cacat yang mungkin terjadi.


Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi :
a. Penanggulangan penderita ditempat kejadian
b. Transportasi penderita gawat darurat dari tempat kejadian ke sarana

kesehatan yang lebih memadai


c. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan

penanggulangan penderita gawat darurat


d. Upaya rujukan ilmu pengetahuan, pasien dan tenaga ahli.
e. Upaya penanggulangan penderita gawat darurat ditempat rujukan

(unit gawat darurat dan ICU).


f. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat

2
3. Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Terpadu
a. Fase Deteksi
Fase ini dapat dideteksi dimana sering terjadi kecelakaan seperti

Kecelakaan Lalu Lintas (KLL), derah bekerja di pabrik yang

berbahaya, tempat olahraga/main anak sekolah yang tidak memenuhi

syarat, di daerah mana sering terjadi tindak criminal, gedung umum

mana rawan terjadi rubuh/konstruksi tidak sesuai dengan kondisi

tanah, daerah mana rawan terjadi gempa.


b. Fase Supresi
Kalau kita dapat mendeteksi apa yang menyebabkan kecelakaan atau

diamana dapat terjadi bencana/korban maka kita dapat melakukan supresi

:
1. Perbaikan konstruksi jalan (Engineering)
2. Pengetahuan peraturan lalu lintas (Enforcement)
3. Perbaikan kualitas helm
4. Pengetahuan undang - undang lalu lintas
5. Pengetahuan peraturan keselamatan kerja
6. Pengetatan peraturan keselamatan kerja
7. Peningkatan patrol keamanan
8. Membuat “Disaster Mapping”

4. Pembagian SPGDT
a. SPGDT-S (Sehari-Hari)
SPGDT-S adalah rangkaian upaya pelayanan gawat darurat yang saling
terkait yang dilaksanakan ditingkat Pra Rumah Sakit – di Rumah Sakit –
antar Rumah Sakit dan terjalin dalam suatu sistem. Bertujuan agar
korban/pasien tetap hidup. Meliputi berbagai rangkaian kegiatan sebagai
berikut:
1. Pra Rumah Sakit
1. Diketahui adanya penderita gawat darurat oleh masyarakat

3
2. Penderita gawat darurat itu dilaporkan ke organisasi pelayanan
penderita gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan medik

3. Pertolongan di tempat kejadian oleh anggota masyarakat awam


atau awam khusus (satpam, pramuka, polisi, dan lain-lain)

4. Pengangkutan penderita gawat darurat untuk pertolongan lanjutan


dari tempat kejadian ke rumah sakit (sistim pelayanan ambulance)

2. Dalam Rumah Sakit


1. Pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit

2. Pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan)

3. Pertolongan di ICU/ICCU

3. Antar Rumah Sakit


1. Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan)

2. Organisasi dan komunikasi

b. SPGDT-B (Bencana)
SPGDT-B adalah kerja sama antar unit pelayanan Pra Rumah Sakit
dan Rumah Sakit dalam bentuk pelayananan gawat darurat terpadu
sebagai khususnya pada terjadinya korban massal yg memerlukan
peningkatan (eskalasi) kegiatan pelayanan sehari-hari. Bertujuan umum
untuk menyelamatkan korban sebanyak banyaknya.
Tujuan Khusus :
1. Mencegah kematian dan cacat, hingga dapat hidup dan berfungsi
kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
2. Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang
lebih memadai.

4
3. Menanggulangi korban bencana.

Prinsip mencegah kematian dan kecacatan :


1. Kecepatan menemukan penderita.
2. Kecepatan meminta pertolongan

Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :


1. Ditempat kejadian.
2. Dalam perjalanan kepuskesmas atau rumah-sakit.
3. Pertolongan dipuskesmas atau rumah-sakit

5. Kebijakan dan penanganan krisis pada kondisi Gawat Darurat dan Bencana
a. Reevaluasi dalam standarisasi model dan prosedur pelayanan Gawat
Darurat & Bencana dipelbagai strata fasilitas kesehatan secara berjenjang
serta reaktivasi jejaring antar fasilitas kesehatan satu dengan yang lain.

b. Perkuat kemampuan dan aksesibilitas pelayanan Gawat Darurat diseluruh


fasilitas kesehatan dengan prioritas awal di daerah rawan bencana dan
daerah penyangganya.

c. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan SDM di bidang Gawat Darurat


dan manajemen Bencana secara berjenjang.

d. Penanganan krisis menitik beratkan pada upaya sebelum terjadinya


bencana.

e. Optimalisasi pengorganisasian penanganan krisis (gawat darurat dan


bencana) baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten/kota dengan

5
semangat desentralisasi/otonomi daerah serta memperkuat koordinasi dan
kemitraan.

f. Pemantapan jaringan lintas program dan lintas sektoral dalam penanganan


krisis.

g. Membangun jejaring sistem informasi yang terintegrasi dan online agar


diperoleh data yang valid dan real time serta mampu memberikan pelbagai
informasi tentang situasi terkini pada saat terjadi bencana.

h. Setiap korban akibat krisis diupayakan semaksimal mungkin untuk


mendapatkan pelayanan kesehatan cepat, tepat dan ditangani secara
profesional.

i. Memberdayakan kemampuan masyarakat (Community Empowerement)


khususnya para stakeholder yang peduli dengan masalah krisis di bidang
kesehatan dengan melakukan sosialisasi terhadap pengorganisasian,
prosedur, sistem pelaporan serta dilibatkan secara aktif dalam proses
perencanaan, monitoring dan evaluasi.

j. Pemantapan regionalisasi penanganan krisis untuk mempercepat reaksi


tanggap darurat.

6. Upaya-upaya Guna mencapai SPDGT dan Penanggulangan Krisis akibat


bencana
a. Reevaluasi terhadap kemampuan dan sumber daya yang ada, serta
sejauhmana sistem tersebut masih berjalan saat ini yang harus
ditindaklanjuti dengan perencanaan dan prioritas dalam penganggarannya.

b. Revisi dan penyempurnaan terhadap peraturan pelaksanaan/pedoman,


standar, SPO, pengorganisasian dan modul pelatihan untuk disesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kondisi

6
lingkungan saat ini yang terkait dengan keterpaduan dalam penanganan
gawat darurat dan manajemen bencana.

c. Meningkatkan upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan penanganan


krisis dan masalah kesehatan lain.

d. Mendorong terbentuknya unit kerja untuk penanganan masalah krisis


kesehatan lain di daerah.

e. Mengembangkan sistem manajemen penanganan masalah krisis dan


masalah kesehatan lain hingga ke tingkat Desa. Setiap Provinsi dan
Kabupaten/Kota berkewajiban membentuk satuan tugas kesehatan yang
memiliki kemampuan dalam penanganan krisis dan masalah kesehatan di
wilayahnya secara terpadu berkoordinasi.

f. Menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung


pelayanan kesehatan bagi korban akibat krisis dan masalah kesehatan lain
dengan memobilisasi semua potensi.

g. meningkatkan pemberdataan dan kemandirian masyarakat dalam


mengenal, mencegah dan mengatasi krisis dan masalah kesehatan lain di
wilayahnya.

h. Mengembangkan sistem regionalisasi penanganan krisis dan masalah


kesehatan lain melalui pembentukan pusat-pusat penanganan regional.

i. Monitoring evaluasi secara berkesinambungan dan ditindak lanjuti dengan


pelatihan dan simulasi untuk selalu meningkatkan profesional dan kesiap
siagaan. Itu sebabnya diperlukan upaya untuk selalu meningkatkan
kualitas dan kuantitas petugas melalui pendidikan dan latihan.

7
j. Pengembangan sistem e-health, secara bertahap disesuai dengan prioritas
kebutuhan khususnya sistem informasi dan komunikasi.

Memperkuat jejaring informasi dan komunikasi melalui peningkatan intensitas


pertemuan koordinasi dan kemitraan lintas program/lintas sektor, organisasi non
Pemerintah, masyarakat dan mitra kerja Internasional secara berkala. Dengan
berjalannya SPGDT tersebut, diharapkan terwujudlah Safe Community yaitu
suatu kondisi/keadaan yang diharapkan dapat menjamin rasa aman dan sehat
masyarakat dengan melibatkan peran aktif seluruh masyarakat khususnya dalam
penanggulangan gawat darurat sehari-hari maupun saat bencana.

B. KONSEP DASAR TRIAGE


1. PENGERTIAN

Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan
suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan
serta fasilitas yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau
menggolongkan semua pasien yang memerlukan pertolongan dan menetapkan
prioritas penanganannya (Kathleen dkk, 2008).

Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan


tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan
prioritas penanganan dan sumber daya yang ada.

2. PRINSIP DAN TIPE

Time Saving is Life Saving (waktu keselamatan adalah keselamatan


hidup), The Right Patient, to The Right Place at The Right Time, with The
Right Care Provider.

a. Triase seharusnya dilakukan segera dan tepat waktu

8
Kemampuan berespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit yang
mengancam kehidupan atau injuri adalah hal yang terpenting di
departemen kegawatdaruratan
b. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat
Ketelitian dan keakuratan adalah elemen yang terpenting dalam proses
interview.
c. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian
Keselamatan dan perawatan pasien yang efektif hanya dapat direncanakan
bila terdapat informasi yang adekuat serta data yang akurat.
d. Melakukan intervensi berdasarkan keakutan dari kondisi
Tanggung jawab utama seorang perawat triase adalah mengkaji secara
akurat seorang pasien dan menetapkan prioritas tindakan untuk pasien
tersebut. Hal tersebut termasuk intervensi terapeutik, prosedur diagnostic
dan tugas terhadap suatu tempat yang diterima untuk suatu pengobatan.
e. Tercapainya kepuasan pasien
 Perawat triase seharusnya memenuhi semua yang ada di atas saat
menetapkan hasil secara serempak dengan pasien
 Perawat membantu dalam menghindari keterlambatan penanganan
yang dapat menyebabkan keterpurukan status kesehatan pada
seseorang yang sakit dengan keadaan kritis.
 Perawat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga
atau temannya.

3. KLASIFIKASI DAN PENENTUAN PRIORITAS

Berdasarkan Oman (2008), pengambilan keputusan triage didasarkan


pada keluhan utama, riwayat medis, dan data objektif yang mencakup keadaan
umum pasien serta hasil pengkajian fisik yang terfokus. Menurut
Comprehensive Speciality Standart, ENA tahun 1999, penentuan triase
didasarkan pada kebutuhan fisik, tumbuh kembang dan psikososial selain
pada factor-faktor yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan serta alur
pasien lewat system pelayanan kedaruratan. Hal-hal yang harus

9
dipertimbangkan mencakup setiap gejala ringan yang cenderung berulang atau
meningkat keparahannya.

Beberapa hal yang mendasari klasifikasi pasien dalam system triage


adalah kondisi klien yang meliputi :

a. Gawat, adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa dan kecacatan


yang memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat.
b. Darurat, adalah suatu keadaan yang tidak mengancam nyawa tapi
memerlukan penanganan cepat dan tepat seperti kegawatan.
c. Gawat darurat, adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa disebabkan
oleh gangguan ABC (Airway / jalan nafas, Breathing / Pernafasan,
Circulation / Sirkulasi), jika tidak ditolong segera maka dapat meninggal
atau cacat (Wijaya, 2010

Berdasarkan prioritas keperawatan dapat dibagi menjadi 4 klasifikasi :


Tabel 1. Klasifikasi Triage
KLASIFIKASI KETERANGAN
Gawat darurat (P1) Keadaan yang mengancam nyawa / adanya
gangguan ABC dan perlu tindakan segera,
misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran,
trauma mayor dengan perdarahan hebat

Gawat tidak darurat (P2) Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak


memerlukan tindakan darurat. Setelah
dilakukan resusitasi maka ditindaklanjuti oleh
dokter spesialis. Misalnya : pasien kanker tahap
lanjut, fraktur, sickle cell dan lainnya
Darurat tidak gawat (P3) Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi
memerlukan tindakan darurat. Pasien sadar,
tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung
diberikan terapi definitive. Untuk tindak lanjut
dapat ke poliklinik, misalnya laserasi, fraktur
minor / tertutup, otitis media dan lainnya
Tidak gawat tidak darurat (P4) Keadaan tidak mengancam nyawa dan tidak

10
memerlukan tindakan gawat. Gejala dan tanda
klinis ringan / asimptomatis. Misalnya penyakit
kulit, batuk, flu, dan sebagainya.

Tabel 2. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Prioritas (Labeling)


KLASIFIKASI KETERANGAN
Prioritas I (MERAH) Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi
dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan
hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan
bersifat segera yaitu gangguan pada jalan nafas,
pernafasan dan sirkulasi. Contohnya sumbatan jalan
nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka
terpotong pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar
tingkat II dan III > 25 %

Prioritas II (KUNING) Potensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila


tidak segera ditangani dalam jangka waktu singkat.
Penanganan dan pemindahan bersifat jangan
terlambat. Contoh : patah tulang besar, combutio
(luka bakar) tingkat II dan III < 25 %, trauma thorak /
abdomen, laserasi luas, trauma bola mata.
Prioritas III (HIJAU) Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu
segera. Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir.
Contoh luka superficial, luka-luka ringan.

11
Prioritas 0 (HITAM) Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat
parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh henti
jantung kritis, trauma kepala kritis.

4. PROSES TRIAGE

Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat


triage harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat
singkat dan melakukan pengkajian, misalnya terlihat sekilas kearah pasien
yang berada di brankar sebelumm mengarahkan ke ruang perawatan yang
tepat.
Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan
cepat, tidak lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk
pengkajian perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk
menempatkan pasien di area pengobatan yang tepat, misalnya bagian trauma
dengan peralatan khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan
darah, dll. Tanpa memikirkan dimana pasien pertama kali ditempatkan setelah
triage, setiap pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya
sekali setiap 60 menit.

Untuk pasien yang dikategorikan sebagai pasien yang mendesak atau


gawat darurat, pengkajian dilakukan setiap 15 menit/lebih bila perlu. Setiap
pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis. Informasi baru
dapat mengubah kategorisasi keakutan dan lokasi pasien di area pengobatan.
Misalnya kebutuhan untuk memindahkan pasien yang awalnya berada di area

12
pengobatan minor ke tempat tidur bermonitor ketika pasien tampak mual atau
mengalami sesak nafas, sinkope, atau diaphoresis (Iyer, 2004).
Bila kondisi pasien ketika datang sudah tampak tanda-tanda objektif
bahwa ia mengalami gangguan pada airway, breathing, dan circulation, maka
pasien ditangani terlebih dahulu. Pengkajian awal hanya didasarkan atas data
objektif dan data subjektif sekunder dari pihak keluarga. Setelah keadaan
pasien membaik, data pengkajian kemudian dilengkapi dengan data subjektif
yang berasal langsung dari pasien (data primer)
Alur dalam proses Triage
a. Pasien datang diterima petugas / paramedic UGD
b. Diruang triase dilakukan anamneses dan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
c. Bila jumlah penderita / korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase
dapat dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD)
d. Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan memberi kode warna
 Segera – Immediate (MERAH). Pasien mengalami cedera mengancam
jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera.
Misalnya : Tension pneumothorax, distress pernafasan
(RR<30x/menit), perdarahan internal, dsb
 Tunda – Delayed (KUNING). Pasien memerlukan tindakan definitive
tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi
terkontrol, fraktur tertutup pada ekstremitas dengan perdarahan
terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh, dsb.
 Minimal (HIJAU). Pasien mendapat cidera minimal, dapat berjalan
dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya :
laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.
 Expextant (HITAM). Pasien mengalami cidera mematikan dan akan
meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : luka bakar derajat
3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.
 Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan
warna : merah, kuning, hijau, hitam.
 Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan
pengobatan diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan tindakan

13
medis lebih lanjut, penderita/korban dapat dipindahkan ke ruang
operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
 Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan
medis lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan
menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triase merah selesai
ditangani.
 Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat
jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka
penderita/korban dapat diperbolehkan untuk pulang.
 Penderita kategori triase hitam (meninggal) dapat langsung
dipindahkan ke kamar jenazah (Rowles, 2007).

14
C. KONSEP DASAR BENCANA
1. Pengertian Bencana
Definisi Bencana menurut WHO (2002) adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau
memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan dalam skala
tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat dan wilayah yang
terkena.
Bencana dapat juga didefinisikan sebagai situasi dankondisi yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat. Beberapa jenis bencana:
1. Bencana alam (natural disaster), yaitu kejadian-kejadian alami seperti
banjir, genangan, gempa bumi, gunung meletus dan lain sebagainya.
2. Bencana ulah manusia (man-made disaster), yaiut kejadian-kejadian
karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau kendaraan,
kebakaran, ledakan, sabotase dan lainnya.
3. Bencana berdasarkan cakupan wilayahnya terdiri atas:
a. Bencana Lokal, bencana ini memberikan dampak pada wilayah
sekitarnya yang berdekatan, misalnya kebakaran, ledakan, kebocoran
kimia dan lainnya.
b. Bencana regional, jenis bencan ini memberikan dampak atau pengaruh
pada area geografis yang cukup luas dan biasanya disebabkan leh faktor
alam seperti alam, banjir, letusan gunung dan lainnya.

2. Fase-fase bencana
Menurut Barbara santamaria (1995),ada tiga fase dapat terjadinya
suatu bencana yaitu fase pre impact,impact dan post impact.
a. Fase pre impact merupakan warning phase,tahap awal dari
bencana.Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi
cuaca.Seharusnya pada fase inilah segala persiapan dilakukan dengan baik
oleh pemerintah,lembaga dan masyarakat.

15
b. Fase impact Merupakan fase terjadinya klimaks bencana.inilah saat-saat
dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup.fase impact
ini terus berlanjut hingga tejadi kerusakan dan bantuan-bantuan yang
darurat dilakukan.
c. Fase post impact merupakan saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan
dari fase darurat.Juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali
pada fungsi kualitas normal.Secara umum pada fase post impact para
korban akan mengalami tahap respons fisiologi mulai dari penolakan
(denial),marah (angry),tawar –menawar (bargaing),depresi
(depression),hingga penerimaan (acceptance).

3. Permasalahan dalam penanggulangan bencana


Secara umum masyarakat Indonesia termasuk aparat pemerintah
didaerah memiliki keterbatasan pengetahuan tentang bencana seperti berikut :
a. Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya
b. Sikap atau prilaku yang mengakibatkan menurunnya kualitas SDA
c. Kurangnya informasi atau peringatan dini yang mengakibatkan
ketidaksiapan
d. Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman
bahaya

4. Perawat Dalam Tanggap Bencana


Pelayanan keperawatan tidak hanya terbatas diberikan pada instansi
pelayanan kesehatan seperti rumah sakit saja. Tetapi, pelayanan keperawatan
tersebut juga sangat dibutuhkan dalam situasi tanggap bencana.
Perawat tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan
dasar praktek keperawatan saja, Lebih dari itu, kemampuan tanggap bencana
juga sangat di butuhkan saaat keadaan darurat. Hal ini diharapkan menjadi
bekal bagi perawat untuk bisa terjun memberikan pertolongan dalam situasi
bencana.

16
Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda, kita lebih
banyak melihat tenaga relawan dan LSM lain yang memberikan pertolongan
lebih dahulu dibandingkan dengan perawat, walaupun ada itu sudah terkesan
lambat.

5. Jenis Kegiatan Siaga Bencana


Kegiatan penanganan siaga bencana memang berbeda dibandingkan
pertolongan medis dalam keadaan normal lainnya. Ada beberapa hal yang
menjadi perhatian penting. Berikut beberapa tnidakan yang bisa dilakukan
oleh perawat dalam situasi tanggap bencana :
a. Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik
Bencana alam yang menimpa suatu daerah, selalu akan memakan korban
dan kerusakan, baik itu korban meninggal, korban luka luka, kerusakan
fasilitas pribadi dan umum, yang mungkin akan menyebabkan isolasi
tempat, sehingga sulit dijangkau oleh para relawan. Hal yang paling urgen
dibutuhkan oleh korban saat itu adalah pengobatan dari tenaga kesehatan.
Perawat bisa turut andil dalam aksi ini, baik berkolaborasi dengan tenaga
perawat atau pun tenaga kesehatan profesional, ataupun juga melakukan
pengobatan bersama perawat lainnya secara cepat, menyeluruh dan merata
di tempat bencana. Pengobatan yang dilakukan pun bisa beragam, mulai
dari pemeriksaan fisik, pengobatan luka, dan lainnya sesuai dengan profesi
keperawatan.
b. Pemberian bantuan
Perawatan dapat melakukan aksi galang dana bagi korban bencana,
dengan menghimpun dana dari berbagai kalangan dalam berbagai bentuk,
seperti makanan, obat obatan, keperluan sandang dan lain sebagainya.
Pemberian bantuan tersebut bisa dilakukan langsung oleh perawat secara
langsung di lokasi bencana dengan memdirikan posko bantuan. Selain itu,
Hal yang harus difokuskan dalam kegiatan ini adalah pemerataan bantuan
di tempat bencana sesuai kebutuhan yang di butuhkan oleh para korban
saat itu, sehinnga tidak akan ada lagi para korban yang tidak mendapatkan

17
bantuan tersebut dikarenakan bantuan yang menumpuk ataupun tidak tepat
sasaran.
c. Pemulihan kesehatan mental
Para korban suatu bencana biasanya akan mengalami trauma psikologis
akibat kejadian yang menimpanya. Trauma tersebut bisa berupa kesedihan
yang mendalam, ketakutan dan kehilangan berat. Tidak sedikit trauma ini
menimpa wanita, ibu ibu, dan anak anak yang sedang dalam massa
pertumbuhan. Sehingga apabila hal ini terus berkelanjutan maka akan
mengakibatkan stress berat dan gangguan mental bagi para korban
bencana. Hal yang dibutukan dalam penanganan situasi seperti ini adalah
pemulihan kesehatan mental yang dapat dilakukan oleh perawat. Pada
orang dewasa, pemulihannya bisa dilakukan dengan sharing dan
mendengarkan segala keluhan keluhan yang dihadapinya, selanjutnya
diberikan sebuah solusi dan diberi penyemangat untuk tetap bangkit.
Sedangkan pada anak anak, cara yang efektif adalah dengan
mengembalikan keceriaan mereka kembali, hal ini mengingat sifat lahiriah
anak anak yang berada pada masa bermain. Perawat dapat mendirikan
sebuah taman bermain, dimana anak anak tersebut akan mendapatkan
permainan, cerita lucu, dan lain sebagainnya. Sehinnga kepercayaan diri
mereka akan kembali seperti sedia kala.
d. Pemberdayaan masyarakat
Kondisi masyarakat di sekitar daerah yang terkena musibah pasca bencana
biasanya akan menjadi terkatung katung tidak jelas akibat memburuknya
keaadaan pasca bencana., akibat kehilangan harta benda yang mereka
miliki. sehinnga banyak diantara mereka yang patah arah dalam
menentukan hidup selanjutnya. Hal yang bisa menolong membangkitkan
keadaan tersebut adalah melakukan pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat perlu mendapatkan fasilitas dan skill yang dapat menjadi
bekal bagi mereka kelak. Perawat dapat melakukan pelatihan pelatihan
keterampilan yang difasilitasi dan berkolaborasi dengan instansi ataupun
LSM yang bergerak dalam bidang itu. Sehinnga diharapkan masyarakat di

18
sekitar daerah bencana akan mampu membangun kehidupannya kedepan
lewat kemampuan yang ia miliki.

Untuk mewujudkan tindakan di atas perlu adanya beberapa hal yang


harus dimiliki oleh seorang perawat, diantaranya:
a. Perawatan harus memilki skill keperawatan yang baik
b. Perawat harus memiliki jiwa dan sikap kepedulian
c. Perawatan harus memahami managemen siaga bencana

6. Managemen Bencana
Ada 3 aspek mendasar dalam management bencana, yaitu:
a. Respons terhadap bencana
b. Kesiapsiagaan menghadapi bencana
c. Mitigasi efek bencana
Managemen siaga bencana membutuhkan kajian yang matang dalam
setiap tindakan yang akan dilakukan sebelum dan setelah terjun kelapangan.
Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman, yaitu:
a. Mempersiapkan bentuk kegiatan yang akan dilakukan
Setelah mengetahui sebuah kejadian bencana alam beserta situasi di
tempat kejadian, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah memilih
bentuk kegiatan yang akan diangkatkan, seperti melakukan pertolongan
medis, pemberian bantuan kebutuhan korban, atau menjadi tenaga
relawan. Setelah ditentukan, kemudian baru dilakukan persiapan mengenai
alat alat, tenaga, dan juga keperluan yang akan dibawa disesuaikan dengan
alur dan kondisi masyarakat serta medan yang akan ditempuh.

b. Melakukan tindakan yang telah direncanakan sebelumnya


Hal ini merupakan pokok kegiatan siaga bencana yang dilakukan, segala
hal yang dipersiapkan sebelumnya, dilakukan dalam tahap ini, sampai
jangka waktu yang disepakati.
c. Evaluasi kegiatan

19
Setiap selesai melakukan kegiatan, perlu adanya suatu evaluasi kegiatan
yang dilakukan, evaluasi bisa dijadikan acuan, introspeksi, dan pedoman
melakukan kegiatan selanjutnya. Alhasil setiap kegiatan yang dilakukan
akan berjalan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Peran perawat dalam managemen bencana


a. Peran perawat dalam fase pre-impect
 Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan
dalam penanggulangan ancaman bencana.
 Perawat ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintahan,
organisasi lingkungan, palang merah nasional, maupun lembaga-
lembaga pemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan
simulasi persiapan menghadapi ancaman bencana.
 Perawat terlibat dalam program promosi kesehatan untuk
meningkatkan kesiapan masyarakat dalam mengahdapi bencana.
b. Peran perawat dalam fase impact
 Bertindak cepat.
 Don’t promise. Perawat seharusnya tidak menjanjikan apapun
dengan pasti dengan maksud memberikan harapan yang besar pada
korban yang selamat.
 Berkonsentrasi penuh pada apa yang dilakukan.
 Kordinasi dan menciptakan kepemimpinan.
 Untuk jangka panjang, bersama-sama pihak yang tarkait dapat
mendiskusikan dan merancang master plan of revitalizing,
biasanya untuk jangka waktu 30 bulan pertama.
c. Peran perawat dalam fase post impact
 Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik,
fisikologi korban.
 Stress fisikologi yang terjadi dapat terus berkembang hingga
terjadi post traumatic stress disorder (PTSD) yang merupakan
sindrom dengan 3 kriteria utama. Pertama, gejala trauma pasti
dapat dikenali. Kedua, individu tersebut mengalami gejala ulang
traumanya melalui flashback, mimpi, ataupun peristiwa-peristiwa
yang memacuhnya. Ketiga, individu akan menunjukan gangguan

20
fisik. Selain itu, individu dengan PTSD dapat mengalami
penurunan konsentrasi, perasaan bersalah dan gangguan memori.
 Tim kesehatan bersama masyarakat dan profesi lain yang terkait
bekerja sama dengan unsure lintas sektor menangani maslah
keehatan masyarakat paska gawat darurat serta mempercepat fase
pemulihan (recovery) menuju keadaan sehat dan aman.

21
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

SPGDT adalah sebuah sistem penanggulangan pasien gawat darurat yang


terdiri dari unsur, pelayanan pra Rumah Sakit, pelayanan di Rumah Sakit dan
antar Rumah Sakit. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang
menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh
masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat
darurat dan sistem komunikasi.
Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan
tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan
prioritas penanganan dan sumber daya yang ada.
Definisi Bencana menurut WHO (2002) adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau
memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan dalam skala tertentu
yang memerlukan respon dari luar masyarakat dan wilayah yang terkena.
Bencana dapat juga didefinisikan sebagai situasi dankondisi yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat. Beberapa jenis Bencana alam (natural disaster),
yaitu kejadian-kejadian alami seperti banjir, genangan, gempa bumi, gunung
meletus dan lain sebagainya. Bencana ulah manusia (man-made disaster), yaiut
kejadian-kejadian karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau
kendaraan, kebakaran, ledakan, sabotase dan lainnya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Efendi,Ferry.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan praktik dalam


keperawatan.Jakarta.Penerbit Salemba Medika,2009.

Oman, Kathleen S. 2008. Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC

Wijaya, S. 2010. Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Denpasar : PSIK FK

Mepsa,Putra.2012.Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Tanggap Bencana.


http://fkep.unand.ac.id/images/peran_mahasiswa_keperawatan_dalam_tanggap_
bencana.docx. Diakses pada tanggal 14 Januari 2018.

23