Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pitiriasis Versikolor


2.1.1 Definisi
Pitiriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi
disebabkan oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit
kronis yang ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan
ini umumnya menyerang badan dan kadang- kadang terlihat di ketiak, sela
paha,tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala. Nama lainnya adalah tinea
versikolor atau panu.1
Pitiriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi
disebabkan oleh Malasezia furfur dan pityrosporum orbiculare. Infeksi ini
bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan. Pityriasis
versikolor ini mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha, dan
lipatan paha.2
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur supervisial yang ditandai
dengan adanya makula dikulit, skuama halus disertai rasa gatal. 2

2.1.2 Epidemiologi
Pitiriasis versikolor lebih sering terjadi di daerah tropis dan
mempunyai kelembaban tinggi. Walaupun kelainan kulit lebih terlihat pada
orang berkulit gelap, namun angka kejadian pityriasis versikolor sama di
semua ras. Beberapa penelitian mengemukakan angka kejadian pada pria dan
wanita dalam jumlah yang seimbang. Di Amerika Serikat, penyakit ini
banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun, dimana kelenjar sebasea (kelenjar
minyak) lebih aktif bekerja. Angka kejadian sebelum pubertas atau setelah
usia 65 tahun jarang ditemukan.2,3
Pitiriasis versikolor terdistribusi ke seluruh dunia, tetapi pada daerah
tropis dan daerah subtropis. Didaerah tropis insiden dilaporkan sebanyak
40%, sedangkan pada daerah yang lebih dingin angka insiden lebih rendah,

3
4

sekitar 3% pasien mengunjungi dermatologis. Di Inggris, insiden dilaporkan


sekitar 0,5% sampai 1% diantara penyakit kulit. Pityriasis versikolor
kebanyakan menyerang orang muda. Grup umur yang terkena 25-30 tahun
pada pria dan 20-25 pada wanita.2,3
Penyakit ini menyerang semua ras, tidak terdapat perbedaan frekuensi
pada laki-laki dan perempuan, namun beberapa pendapat mengatakan bahwa
rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 3:2, menyerang semua umur
terutama dewasa muda, sedangkan umur kurang dari 1 tahun sangat jarang di
temukan M. furfur, hal ini disebabkan pada anak-anak terdapat produksi
sebum yang rendah.3

2.1.3 Etiologi dan patogenesis


Penyebab penyakit ini adalah Malassezia furfur (Pityrosporum
orbiculare) yang merupakan “lipophilic yeast”, dimana dalam keadaan biasa
adalah flora normal yang terdapat pada permukaan kulit. Malassezia furfur
yang berbentuk ragi / spora dapat berubah menjadi patogen dalam bentuk
filamen / hifa oleh faktor predisposisi sebagai berikut
 Endogen : defisiensi immun (immunodeffisiensi), kulit berminyak,
hiperhidrosis, genetika, dan malnutrisi.
 Eksogen : suhu tinggi, kelembapan udara, keringat, higiene, oklusi pakaian
dan penggunaan emolient yang berminyak.2

Gambar : malassezia furfur


5

Patogenesis
Sebagian kecil dari jumlah jamur yang biasanya ada pada kulit semua
orang tapi selama bulan musim panas dan kelembaban yang tinggi, jamur dapat
meningkat. Jamur yang berlebih di kulit dapat mencegah proses pigmentasi
normal, sehingga menghasilkan warna yang lebih terang dan gelap. 2
Tinea versicolor disebabkan oleh organisme dimorfik lipofilik, dalam
genus Malassezia, sebelumnya dikenal sebagai Pityrosporum. Sebelas spesies
diakui dalam klasifikas jamur ini, Malassezia globosa dan Malassezia furfur
adalah spesies dominan terisolasi di tinea versicolor. Malassezia sangat sulit untuk
dilakukan kultur di laboratorium dan hanya dapat dikultur dalam media diperkaya
denganu asam lemak asam C12 dan C14. Malassezia secara alami ditemukan
banyak pada permukaan kulit binatang, termasuk manusia. Memang, dapat
dipisahkan dalam 18% bayi dan 9-10% dari orang dewasa. 2
Organisme ini dapat ditemukan pada kulit yang sehat dan pada daerah
kulit yang menunjukkan penyakit kulit. Pada pasien dengan penyakit klinis,
organisme ditemukan di kedua tahap yaitu jamur (spora) dan bentuk berserabut
(hyphal). Faktor-faktor yang mengarah pada konversi jamur saprophytic ke
bentuk, morfologi parasit miselium termasuk kecenderungan genetik; hangat,
lingkungan lembab; imunosupresi, malnutrisi, dan penyakit Cushing. Human
peptide cathelicidin LL-37 berperan dalam pertahanan kulit terhadap organisme
ini. Meskipun Malassezia adalah komponen flora normal, juga bisa menjadi
patogen oportunistik. 2
Organisme ini dianggap sebagai faktor dalam penyakit kulit lainnya,
termasuk Pityrosporum folikulitis, anak sungai dan retikular papillomatosis
dermatitis seboroik, dan beberapa bentuk dermatitis atopik . 2
Kulit penderita tinea versicolor dapat mengalami hipopigmentasi atau
hiperpigmentasi. Pada kasus hipopigmentasi, inhibitor tyrosinase [hasil dari
aksi/kerja inhibitor tyrosinase dari asam dicarboxylic yang terbentuk melalui
oksidasi] beberapa asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids) pada lemak di
permukaan kulit secara kompetitif menghambat enzim yang diperlukan dari
pembentukan pigmen melanocyte. Pada kasus panu dengan makula
6

hiperpigmentasi, organisme memicu pembesaran melanosom yang dibuat oleh


melanosit di lapisan basal epidermis. 2
Dalam kondisi yang belum sepenuhnya dijelaskan, jamur mengalami
konversi ke bentuk miselium, yang kemudian dapat menyerang stratum korneum,
penetrasi baik melalui corneocytes. Bagaimanapun, telah ditemukan bahwa tidak
semua isolat Malassezia dapat mengalami transformasi yeastmycelium ini. 2,
Perubahan bentuk Malassezia dari blastospora menjadi miselium
dipengaruhi oleh berbagai faktor predisposisi. Asam dikarboksilat, yang dibentuk
oleh oksidasi enzimatis asam lemak pada lemak di permukaan kulit, menghambat
tyrosinase pada melanosit epidermis dan dengan demikian memicu
hipomelanosis. Enzim ini terdapat pada organisme (Malassezia). 4
Penyakit ini sering kambuh. Menimbulkan bekas berwarna putih pada
kulit yang terkena jamur setelah pengobatan. Kadang sulit dibedakan dengan
alergi. Padahal jika jamur ini diberi obat anti inflamasi golongan steroid, awalnya
seolah membaik, tapi sebenarnya akan bertambah luas karena anti alergi anti-
inflamasi golongan steroid tidak boleh diberikan (kontra indikasi) pada penyakit
jamur.1,2

2.1.4 Manifestasi Klinis


Daerah kulit yang sering terlibat adalah bagian tubuh, punggung, perut,
dan ekstremitas proksimal. Wajah, kulit kepala, dan alat kelamin umumnya
kurang terlibat.1
Biasanya timbul makula dalam berbagai ukuran dan warna. Warna setiap
lesi bervariasi dari hampir putih sampai coklat kemerahan atau berwarna
coklat kekuningan dengan kata lain terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-
warni.2
Lesi berbentuk tidak teratur sampai teratur, berbatas jelas sampai difus,
ditutupi sisik halus dengan rasa gatal (ringan), atau asimtomatik (tanpa gejala
atau tanpa keluhan), dan hanya gangguan kosmetik saja. Pasien sering
melaporkan bahwa lesi kulit yang terlibat tidak menjadi gelap seperti kulit
7

pada bagian tubuh yang lain di musim panas. Keluhan gatal, meskipun ringan,
merupakan salah satu alasan penderita datang berobat. 2

Gambar Pitiriasis versicolor menunjukkan lesi hiperpigmentasi dalam lesi


Kaukasia (kiri) dan hipopigmentasi dalam Aborijin Australia (kanan). 5

2.1.5 Diagnosis
Dugaan diagnosa PV jika ditemukan gambaran klinis adanya lesi
di daerah predileksi berupa makula berbatas tegas berwarna putih,
kemerahan, sampai dengan hitam, yang berskuama halus, pemeriksaan
dengan lampu Wood untuk melihat fluoresensi kuning keemasan akan
membantu diagnosis klinis. Konfirmasi diagnosis dengan didapatkannya
hasil positif pada pemeriksaan mikologis kerokan kulit.

2.1.6 Diagnosis Banding


Beberapa kelainan dengan klinis yang mirip dan perlu dibedakan
dari PV, antara lain pitiriasis alba, eritrasma, vitiligo, dermatitis seboroik,
pitiriasis rosea, morbus Hansen tipe tuborlukoid, dan tinea. Perbedaan
karakteristik klinis perlu dicermati dan pemeriksaan penunjang yang sesuai
dapat membantu untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis.1

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


 Wood lamp yang menghasilkan cahaya dapat digunakan untuk
menunjukkan fluoresensi tembaga-jingga atau juga keemasan
(coppery-orange) pada tinea versicolor. Namun, dalam beberapa
8

kasus, lesi tampak lebih gelap dari kulit yang tidak terpengaruh di
bawah lampu Wood, tetapi mereka tidak berpendar.2
 Diagnosis biasanya dikonfirmasi dengan pemeriksaan kerokan kulit
dengan kalium hidroksida (KOH), yang menunjukkan karakteristik
pendek, hifa cerutu-but. Hasil pemeriksaan dengan KOH tampak
spora dengan miselium pendek telah disebut sebagai spaghetti and
meatballs. Untuk visualisasi yang lebih baik dapat ditambahkan tinta
biru, tinta Parker, methylene blue, atau cat Swartz-Medrik dengan
persiapan KOH 20%.2
 Karena biasanya diagnosis klinis dicurigai dan dapat dikonfirmasi
dengan persiapan KOH, kultur jarang diperoleh.
 Dengan pemeriksaan darah, tidak ada penurunun antibodi pada pasien
dengan tinea versicolor
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong
pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media
buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar
dekstrosa Sabouraud.5

Gambar . meatball and spaghetti appearance

2.1.8 Tatalaksana
Pasien harus diberitahu bahwa tinea versikolor disebabkan oleh jamur
yang biasanya hadir di permukaan kulit dan tidak menular. Kekambuhan
adalah umum, dan terapi profilaksis dapat membantu mengurangi
kekambuhan.2
9

I. Non Medikamentosa
1. Edukasi
Menyarankan kepada pasien agar menghindari faktor pencetus terjadinya
pitiriasis versicolor. Pasien dinasehatkan supaya tidak berada di lingkungan
yang panas dan lembab supaya tidak kambuh setelah pengobatan..2

II. Medikamentosa
 Sistemik
Obat sistemik dipertimbangkan pada lesi luas, kambuhan, dan
gagal dengan terapi topikal, antara lain dengan ketokonazol 200 mg/hari
selama 5-10 hari atau itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari. Pengobatan
rumatan (maintanance) dipertimbangkan untuk menghindari kambuhan
pada pasien yang sulit menghindari faktor predisposisi, antara lain dengan
sampo selenium sulfide secara periodis atau dengan obat sistemik
ketokonazol 400 mg sekali setiap bulan atau 200 mg sehari selama 3 hari
tiap bulan.1

 Topikal
Selenium sulfide bentuk shampo 1,8% atau bentuk losio 2,5% yang
dioleskan tiap hari selama 15-30 menit kemudian dibilas. Aplikasi yang
dibiarkan sepanjang malam dengan frekuensi 2 kali seminggu juga
digunakan , dengan perhatian akan kemungkinan reaksi iritasi. Pengolesan
dianjurkan di seluruh badan selain kepala dan genitalia.1
Ketokonazol 2% bentuk sampo juga dapat digunakan serupa
dengan sampo selenium sulfid.1
Alternatif lain adalah solusio natrium hiposulfit 20%, solusio
propilen glikol 50%.1
Untuk lesi terbatas, berbagai krim derivat azol misalnya
mikonazol, klotrimazol, isokonazol, ekonazol dapat digunakan. Demikian
juga krim tolsiklat, tolnaftat, siklopiroksolamin, dan haloprogin.1
10

Obat topikal sebaiknya diteruskan 2 minggu setelah hasil


pemeriksaan dengan lampu Wood dan pemeriksaan mikologis langsung
kerokan kulit negatif.1

2.1.9 Prognosis
Prognosis baik jika pengobatan dilakukan secara tekun dan konsisten,
serta faktor predidposisi dapat dihindari. Lesi hipopigmentasi dapat bertahan
sampai beberapa bulan setelah jamur negatif, hal ini perlu dijelaskan pada
pasien.1
1.2. Pendekatan Kedokteran Keluarga
Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan
pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan
kedokteran, dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan.
Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang yang
membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, gender,
ataupun jenis penyakit. Dikatakan pula bahwa dokter keluarga adalah dokter
yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup
komunitas dari individu tersebut. Tanpa membedakan ras, budaya, dan
tingkatan sosial. Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk menyediakan
pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memerhatikan latar
belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter ini
bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambungan bagi pasiennya.6
Menurut WONCA (1991) dokter keluarga adalah dokter yang
mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua orang yang
mencari pelayanan kedokteran, dan mengatur pelayanan oleh provider lain
bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua
orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan
usia, gender, ataupun jenis penyakit. Dikatakan pula bahwa dokter keluarga
adalah dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan
dalam lingkup komunitas dari individu tersebut. Tanpa membedakan ras,
11

budaya, dan tingkatan sosial. Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk
menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan
memerhatikan latar belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien.
Dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang
komprehensif dan berkesinambungan bagi pasiennya.6
Menurut The American Academy of Family Physician (1969),
pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh
yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, di
mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi
oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak boleh oleh organ
tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.7
Pelaksana pelayanan dokter keluarga dikenal dengan dokter keluarga
(family doctor, family physician). Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
mendefinisikan dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan
pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada
keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit
tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara
pasif, tapi bila perlu aktif mengunjungi penderita dan keluarganya.4
Sedangkan Kolese Dokter Indonesia (KDI, 2003) menterjemahkan
secara kimiawi sebagai berikut:
1. Dokter keluarga adalah dokter yang dididik secara khusus untuk
bertugas di lini terdepan sistem pelayanan kesehatan, bertugas
mengambil langkah awal penyelesaian semua masalah yang
mungkin dipunyai pasien.
2. Melayani individu dalam masyarakat tanpa memandang jenis
penyakitnya ataupun karakter personal dan sosialnya dan
memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia dalam sistem
pelayanan kesehatan untuk semaksimal mungkin kepentingan
pasien.
3. Berwenang secara mandiri melakukan tindak medis mulai dari
pencegahan, diagnosis, pengobatan, perawatan dan asuhan paliatif,
12

menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu biomedis, psikologi


medis dan sosiologi medis.7
Dalam menetapkan masalah serta faktor yang mempengaruhi,
digunakan konsep Mandala of Health.6
Dipahami bahwa dokter tidak dapat melihat pasien hanya fisiknya
saja. Karena setiap manusia juga terdiri dari fisik, jiwa dan spiritnya. Setiap
manusia tinggal bersama manusia lain dan juga berinteraksi dengan
lingkungannya (fisik, tempat tinggal, pekerjaan, lingkungan sosial, budaya
dan sebagainya). Karena itu pada saat pasien mengeluh gangguan kesehatan,
perlu dikaji faktor-faktor disekitarnya yang mungkin memicu atau
menyebabkan gejala tersebut muncul selain kemungkinan masalah pada
biomediknya.4,6
Pendekatan penegakan diagnosis berupa pendekatan multi aspek,
yaitu:
Diagnosis holistik, terdiri dari:
1. Aspek 1 (aspek individu): keluhan utama, harapan, kekhawatiran
pasien ketika datang
2. Aspek 2 (aspek klinik): diagnosis klinis dan diagnosis bandingnya
3. Aspek 3 (aspek internal): faktor internal pasien yg memicu
penyakit/masalah kesehatannya, (misal: usia, perilaku kesehatan,
persepsi kesehatan, dan sebagainya).
4. Aspek 4 (aspek eksternal pasien): dokter menulis (keadaan
keluarga, lingkungan psikososial & ekonomi keluarga, keadaan
lingkungan rumah & pekerjaan yang memicu atau menjadi
hazsard pada penyakit/masalah ini atau kemungkinan dapat
menghambat penatalaksanaan penyakit/masalah kesehatan yang
ada
5. Aspek 5 (aspek fungsional): dokter menilai derajat fungsional
pasien pada saat ini.2,6
13

Begitu pula pada saat perencanaan penatalaksanaan masalah


kesehatan, dengan memperhitungkan faktor-faktor disekitar pasien, dokter
perlu memiliki perencanaan pencegahan mulai dari pencegahan primer,
sekunder, tersier untuk pasien dan keluarganya.12

Gambar 2.4 . The Mandala of HealthA model of human ecosystem

2.2.1. Karakteristik Pelayanan Kedokteran Keluarga


Pelayanan dokter keluarga mempunyai beberapa karakteristik
salah satunya menurut Ikatan Dokter Indonesia melalui Muktamar
ke-18 di Surakarta tahun 1982 sebagai berikut:
1. Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang per orang,
tetapi sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota
masyarakat sekitarnya.
2. Yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
memberikan perhatian kepada penderita secara lengkap dan
sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang
disampaikan.
14

3. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan


derajat kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya
penyakit dan mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.
4. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-
baiknya.
5. Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan
tingkat pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan
kesehatan lanjutan.7

2.2.2. Azas-azas / Prinsip-prinsip Pelayanan Kedokteran Keluarga4


Prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia
mengikuti anjuran WHO dan WONCA. Prinsip-prinsip ini juga
merupakan simpulan untuk dapat meningkatkan kualitas layanan
dokter primer dalam melaksanakan pelayanan kedokteran. Prinsip
pelayanan atau pendekatan kedokteran keluarga adalah memberikan
atau mewujudkan sebagai berikut:
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat holistik
(menyeluruh) yaitu peduli bahwa pasien adalah seorang manusia
seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan spiritual,
serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
Dalam standar Pelayanan dokter Keluarga PDKI 2006
disebutkan terdapat 3 penerapan holistik yaitu pasien sebagai
manusia seutuhnya, pasien sebagai bagian dari keluarga dan
lingkungannya dan pelayanan yang menggunakan segala sumber
disekitarnya. Dengan pengertian dari diagram Mandala of Health
dan system hierarchy (level of organization) yg diambil dari buku
A textbook of Family medicine lan Mc Whinney, 2009.
Pelayanan komprehensif (paripurna) yaitu pelayanan yang
mengandung pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
15

(promotif), pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive


& specific protection), pemulihan kesehatan (curative),
pencegahan kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi
setelah sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan
sosial serta sesuai dengan medikolegal etika kedokteran.
2. Pelayanan yang kontinu.
Pelayanan kontinu (bersinambung) adalah pelayanan
kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus menerus
demi kesehatan pasien.
Ditekankan untuk berpusat pada pasien dibanding berpusat
pada penyakit, karena hubungan bersinambung didasari oleh
hubungan interpersonal antar dokter-pasien bukan sebatas
penyakitnya sudah sembuh atau belum.
Diimbuhi hubungan jangka panjang yang saling percaya
antara dokter-pasien sehingga penatalaksanaan akan ditaati oleh
pasien. Kesinambungan pelayanan yang baik meliputi peniliaian
terhadap risiko penyakit, skrining masalah kesehatan, promosi
kesehatan untuk mencegah sakit dan kecacatan.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
Dokter di layanan primer melaksanakan pencegahan bagi
setiap pasien, pasien yang sehat ditatalaksana pencegahan primer,
pasien yang telah memiliki keluhan ditatalaksana pencegahan
sekunder, pasien yang sakit dan penyakitnya telah diketahui
ditatalaksana pencegahan tersier, pasien yang telah sembuh atau
hidup dengan penyakit ditatalaksana pencegahan kuarterner, serta
keluarga dan komunitas pasien ditatalaksana pencegahan primer
dan sekunder.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
Fungsi dokter di layanan primer pada kolaborasi yaitu siap
untuk bekerja dengan tenaga medis lain, tenaga kesehatan lain
dan pekerja sosial lainnya, berkontribusi dan berpartisipasi aktif
16

dalam tim multidisiplin kesehatan primer untuk melaksanakan


tugas multifungsi dengan baik, dapat menjadi narasumber utama
untuk pasien dan keluarga serta bekerjasama dengan pasien dan
keluarga untuk penatalaksanaan yang komprehensif.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral
dari keluarganya. Metode klinis yang berpusat pada pasien,
membuat dan keputusan klinis yang berpusat pada pasien.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja,
dan lingkungan tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pelayanan primer teraudit yaitu memiliki rekam medik
yang terencana, lengkap dan rapi, memiliki catatan keuangan
yang baik, memiliki catatan fasilitas, sarana dan prasarana yang
lengkap.
9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
Pada hasil penelitian yang membandingkan pelayanan
berbagai spesialis kedokteran, pelayanan yang paling berkualitas
menurut pasien dan masyarakat adalah pelayanan yang mengenal
pasien secara individual sepanjang usianya. Sehingga dokter
mengenal betul pasien, keluarga dan lingkungan
hidupnya.Pelayanan seperti itu adalah pelayanan yang mungkin
dilakukan oleh dokter layanan primer dan sulit dilakukan pada
pelayanan di sekunder atau tersier.

2.2.3. Pola Pikir dan Pola Tindak Dokter Keluarga/Dokter Layanan Primer 8
Dokter keluarga bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan
mitranya, dan ia berhubungan dengan mitranya di kala sehat maupun di
kala sakit. Tanggung jawab ini mengharuskan dokter keluarga
menyediakan program pemeliharaan kesehatan bagi mitranya yang sehat,
dan program pengobatan atau pemulihan bagi mitranya yang sedang jatuh
17

sakit. Program ini harus spesifik dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
setiap mitranya. Hal ini dapat dipenuhi bila pola pikir dan pola tindaknya
mengacu pada pendekatan Medifa yang menata alur pelayanan dokter
keluarga dalam 4 kegiatan (assessment–targeting–intervention–
monitoring) yang membentuk satu siklus pelayanan terpadu.8
1. Penilaian profil kesehatan pribadi (Assessment)
Dokter keluarga mengawali upaya pemeliharaan mitranya
dengan melakukan penilaian komprehensif terhadap faktor risiko
dan kodisi kesehatan dengan tujuan memperoleh profil kesehatan
pribadi dari mitranya.
2. Penyusunan program kesehatan spesifik (Targeting)
Tersedianya profil kesehatan ini memberi kesempatan kepada
dokter keluarga untuk mempelajari masalah kesehatan yang
dimiliki mitranya, sehingga dokter keluarga dapat menyusun
program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap
mitra.
3. Intervensi proaktif (Intervention)
Dengan demikian setiap mitra, apakah ia dalam kondisi sehat,
menyandang faktor risiko atau sakit, secara proaktif akan diajak
mengikuti program pemeliharaan kesehatan yang sepesifik
dengan kebutuhannya. Melalui program proaktif ini diharapkan
mitra yang sehat dapat tetap sehat, yang saat ini menyandang
faktor risiko dapat dikurangi kemungkinan jatuh sakit berat di
kemudian hari, dan yang saat ini menderita suatu penyakit dapat
segera pulih, dicegah terjadinya komplikasi, atau diupayakan
agar kecacatan seminimal mungkin. Bila diperlukan si mitra akan
dirujuk ke spesialis.
4. Pemantauan kondisi kesehatan (Monitoring)
Selanjutnya pelaksanaan program dan hasilnya akan dipantau dan
dievaluasi terus menerus dan menjadi masukan bagi dokter
18

keluarga untuk meningkatkan kualitas program dan memotivasi


mitranya (monitoring).8,9

2.2.4. Bentuk dan Fungsi Keluarga9


Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari
suami-sitri, atau suami-istri dan anak, atau ayah dengan anak atau ibu
dengan anak.
Bentuk keluarga dibagi menjadi 9 macam menurut Goldenberg
sebagai berikut:
1. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, serta anak-anak kandung.
2. Keluarga besar (extended family)
Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak
kandung, juga terdiri dari sanak saudara lainnya, baik menurut
garis vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, mantu, cucu, cicit) dan
ataupun menurut garis horizontal (kakak, adik, ipar) yang dapat
berasal dari pihak suami atau istri
3. Keluarga campuran (blended family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta
anak-anak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat
dalam perkawinan sah serta anak-anak mereka yang tinggal
bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah
bercerai, berpisah, ditinggal mati atau mungkin tidak pernah
menikah, serta anak-anak mereka tinggal bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family)
19

Keluarga yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak yang


tinggal bersama, berbagi hal dan tanggung jawab serta memiliki
kekayaan bersama.
7. Keluarga serial (serial family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah
dan mungkin telah mempunyai anak, tetapi kemudian bercerai
dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak
dengan pasangan masing-masing, semuanya mengganggap
sebagai satu keluarga.
8. Keluarga gabungan (composite family)
Keluarga yang terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-
anaknya atau istri dengan beberapa suami dan anak-anaknya
yang hidup bersama.
9. Keluarga tinggal bersama (whabilation family)
Pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan
perkawinan.9

2.2.5. Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan Keluarga


Tahapan keluarga sejahtera dibedakan atas 5 tingkatan menurut
BKKBN (2011) sebagai berikut:
1. Keluarga pra sejahtera
Keluarga-keluarga yang belum dapat memenui kebutuhan
dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan agama, pangan,
sandang, papan, kesehatan, dan keluarga berencana.
2. Keluarga sejahtera tahap I
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya secara minimal tetapi belum dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya, seperti
kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi
dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.
20

3. Keluarga sejahtera tahap II


Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan fisik
dan sosial-psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan
untuk menabung dan informasi.
4. Keluarga sejahtera tahap III
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebuthan
fisik, sosial-psikologis, dan pengembangan, namun belum dapat
memberikan sumbangan secara teratur kepada masyarakat
sekitarnya, misalnya dalam bentuk sumbangan materil dan
keuangan, serta secara aktif menjadi pengurus lembaga di
masyarakat yang ada.
5. Keluarga sejahtera tahap III plus
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh
kebutuhannya serta memiliki kepedulian dan kesertaan yang
tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga disekitarnya.9

2.2.6. Penentuan Sehat/Tidaknya Keluarga (APGAR)


Tingkat kepuasan anggota keluar dapat dinilai dengan APGAR
keluarga. APGAR keluarga merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk mengukur sehat tidaknya suatu keluarga yang dikembangkan oleh
Rosen, Geyman, dan Leyton. Lima fungsi pokok yang dinilai dalam tingkat
kesehatan keluarga sebagai berikut:
1. Adaptasi (Adaptation)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima
bantuan yang diperlukannya dan anggota keluarga lainnya.
2. Kemitraan (Partnership)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
berkomunikasi, turun rembuk dalam mengambil keputusan dan
atau menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi dengan
anggota keluarga lainnya.
21

3. Pertumbuhan (Growth)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan
yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan
atau kedewasaan setiap anggota keluarga.
4. Kasih sayang (Affection)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang
serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga.
5. Kebersamaan (Resolve)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan
dalam membagi waktu, kekayaan, dan ruang antar keluarga.7

2.2.7. Keluarga dan Kesehatan


Kesehatan dan penyakit selalu berhubungan dengan keempat hal berikut:
1. Kepribadian
2. Gaya hidup
3. Lingkungan fisik
4. Hubungan antar manusia.7

2.2.8. Pengaruh Keluarga Terhadap Kesehatan


1. Penyakit keturunan
a. Interaksi antara faktor genetik (fungsi reproduksi) dan faktor
lingkungan (fungsi-fungsi keluarga lainnya).
b. Muncul dalam perkawinan (tahap awal dan siklus kehidupan
keluarga).
c. Perlu marriage counseling dan screening
2. Perkembangan bayi dan anak
Jika dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan fungsi-fungsi
yang sakit akan mengganggu perkembangan fisik dan perilaku.
3. Penyebaran penyakit
a. Penyakit infeksi
b. Penyakit neurosis
22

4. Pola penyakit dan kematian


Hidup membujang atau bercerai mempengaruhi angka kesakitan
dan kematian.
5. Proses penyembuhan penyakit
Penyembuhan penyakit kronis pada anak-anak pada keluarga
dengan fungsi keluarga yang sehat lebih baik dibandingkan pada
keluarga dengan fungsi keluarga sakit.7

Bentuk keluarga
a. Infertilitas membentuk keluarga inti tanpa anak
b. Penyakit jiwa (kelainan seksual seperti homoseksual), jika
membentuk keluarga akan terbentuk keluarga non-tradisional
Fungsi keluarga
a. Jika kesehatan kepala keluarga (pencari nafkah)
terganggu,akan mengganggu fungsi ekonomi dan atau fungsi
pemenuhan kebutuhan fisik keluarga.
b. Jika kesehatan ibu rumah tangga terganggu, akan
mengganggu fungsi afektif dan atau fungsi sosialisasi.
Siklus kehidupan keluarga
a. Infertilitas akan mengalami siklus kehidupan keluarga yang
tidak lengkap.
b. Jika kesehatan suami-istri memburuk, kematian cepat masuk
ke dalam tahap lenyapnya keluarga.7,10