Anda di halaman 1dari 4

Review Buku/Jurnal Minggu Ke-3

Shallima Nada Puspa – 165060600111015 – Kelas D

Adisasmita, Rahardjo. 2010. Pembangunan Kawasan dan Tata Ruang. Yogyakarta: Graha
Ilmu Hal 12-15, 22-39
A. Perkembangan Pemikiran Ekonomi mengenai Lokasi
Permasalahan lokasi pada setiap pembangunan perlu dipertimbangkan secara matang
agar kegiatan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Teori lokasi yang dikemukakan para
ahli menjelaskan hubungan antara tata ruang dengan faktor jarak yang dibandingkan dengan
unsur waktu dalam analisis ekonomi. Seiring dengan perkembangan zaman, maka unsur
geografis dan lansekap ekonomi menjadi variabel dalam tata ruang.
Sir William Petty (1662) menjelaskan bahwa terdapat perebedaan harga sewa tanah
akibat perebedaan lokasi. Richard Cantillon (1730) menjelaskan bahwa terjadi perubahan pasar
yang awalnya tidak teratur menjadi teratur pada kota-kota yang telah berkembang. Von Thunen
(1826) mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara lokasi dengan pola penggunaan tanah,
dimana jenis penggunaan tanah didasarkan pada tingkat sewa tanah dan aksesibiltas. J.S Mill
(1893) melanjutkan teori dari Von Thunen bahwa tanah non pertanian memiliki sewa tanah
yang berbeda akibat dari perbedaan penghasilan suatu lokasi yang sudah dianggap tepat. A.
Weber (1909) mengembangkan teori Von Thunen bahwa pada teori lokasi juga
dipertimbangkan transportasi dan tenaga kerja dan juga membahasa tentang aslomerasi industri
secara eksplisit. W.J Reilly (1929) mengukur gaya gravitasi pada suatu pusat perdangan.
Hukum gaya tarik pada perdagangan menyatakan bahwa arus perdagangan diantara dua kota
proporsional terhadap jumlah penduduknya.
B. Teori dan Konsep Pertumbuhan Kawasan
Francois Perroux (1950) mengemukakan sebuah teori pertumbuhan kawasan yaitu teori
kutub pertumbuhan (growth pole theory). Dalam teori ini dijelaskan bahwa pertumbuhan atau
perkembangan suatu lokasi tidak terjadi di semua tempat. Pertumbuhan hanya akan terjadi pada
tempat yang memiliki kegiatan pembangunan dengan intensitas tinggi karena adanya industri
pendorong. Industri pendorong merupakan insustri dengan skala besar, bersifat oligopolistik,
berpeluang untuk melakukan inovasi, dan memiliki hubungan mata rantai ke depan dan ke
belakang.
Kegiatan produksi yang terjadi pada kutub pertumbuhan akan memberikan dampak
pada lokasi-lokasi di sekitarnya. Hal ini terjadi melalui pengembangan kegiatan-kegiatan pada
lokasi tersebut yang mendukung industri pendorong. Industri pendorong membutuhkan bahan
baku yang diproduksi oleh industri di lokasi-lokasi sekitarnya. Kemudian industri pendorong
akan menghasilkan produk yang didistribusikan ke pasar-pasar. Sehingga industri pendorong
memiliki daya pancaran ke luar.
Pada pertumbuhan wilayah maka harus terdapat “pusat”, “wilayah pengaruh”, dan
“jaringan transportasi” yang menghubungkannya. Walter Christaller (1933) mengeluarkan
sebuah teori tempat sentral. Teori ini menjelaskan bahwa suatu wilayah akan lebih efisien
apabila hekasagonal. Pada setiap wilayah heksagonal terdapat pusatnya sendiri. Wilayah
heksagonal tersebut akan membentuk hierarki dimana pusat besar akan mensubordinasi pusat
menengah dan kecil. Kemudian Albert Hirschman memperkenalkan konsep dampak tetesan ke
bawah. Pada konsep ini pusat-pusat pertumbuhan akan menyebarkan pembangunan dan hasil
pembangunan pada wilayah-wilayah pengaruhnya.
Poernomosidi Hadjisarosa menjelaskan tentang pentingnya pusat-pusat pertumbuhan
yang disebut simpul jasa distribusi. Wilayah pembangunan dibedakan menjadi wilayah
pengembangan dan wilayah administrasi. Wilayah pembangunan ini terkait dengan SDM,
SDA, sumberdaya modal, teknologi, kelembagaan, dan sumberdaya pembangunan lainnya.
Luas wilayah pembangunan dapat lebih kecil dari wilayah administrasi apabila terdapat bagian
dari wilayah administrasi yang tidak terjangkau pelayanan distribusi barang dan jasa. Namun
dapat juga menjadi lebih luas apabila wilayah administrasi berbentuk dataran rata sehingga
kegiatan ekonomi dan pembangunan terjadi secara insentif.
Teori simpul jasa distribusi mengemukakan penentuan arah orientasi pemasaran secara
geografis. Ketika wilayah-wilayah pengembangan dengan pusatnya tersusun secara hierarki,
maka orientasi pemasaran secara geografis dapat ditentukan. Hal ini memudahkan dalam
penyediaan sarana prasarana transportasi yang dapat memudahkan arus barang dan penumpang
dari sumpul jasa distribusi “asal” ke “tujuan”.
C. Dimensi Kawasan Telah Menarik Perhatian dalam Analisis Ekonomi
Perencanaan kawasan merupakan hal yang sangat berhubungan dengan ilmu ekonomi.
Pada awalnya, teori ekonomi tradisional tidak memperhatikan aspek tata ruang, melainkan
bersifat statis dan umum bagi seluruh kawasan. Kemudian Friedrich List melalui Mazhab
Historis menentang teori tersebut. Menurut Mazhab Historis, hukum ekonomi tidak dapat
disama ratakan antar wilayah dan bersifat relaitf.
Pada pandangan teori pembangunan, kawasan memiliki peran yang penting dalam
perencanaan pembangunan. Issu pengembangan kawasan berasal dari keinginan dalam
mencapai sasaran-sasaran nasional dan keingan untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan
dan kemunduran sub-sub nasional secara efektif. Awal mula tata ruang masuk ke dalam
pertimbangan pembangunan ekonomi adalah ketika para politis, administrator, ahli ekonomi,
dan perencana membutuhkan suatu kawasan untuk kebijakan pembangunan.
Struktur spasial pembangunan ekonomi secara fisik berhubungan dengan tata ruang
permukiman, fasilitas sarana prasarana permukiman, tata guna lahan, dll. Hal ini diperlukan
untuk menghitung kebutuhan investasi. Lalu pola kegiatan spasial seperti asrus modal, tenaga
kerja, komoditas, dan lain-lain dibutuhkan sebagai aspek yang menunjang pembangunan suatu
kawasan. Sehingga struktur spasial pada kegiatan ekonomi terbentuk karena adanya interaksi
pola fisik dengan pola kegiatan.
D. Problema Utama Ekonomi Kawasan
Ekonomi kawasan merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia di
dalam tata ruang. Ekonomi kawasan memiliki kelebihan dari klasik, yaitu penambahan variabel
tata ruang pada kerangka teori ekonomi. Teori ini mempertimbangkan pentingnya dimensi tata
ruang meliputi lima permasalahan utama ekonomi kawasan, yaitu:
1. Persebaran ekonomi dalam tata ruang
2. Konsep kawasan (sub sistem spasial dari ekonomi nasional) dalam analisis teoritik
3. Analisis interaksi antar kawasan dalam hal arus pergerakan faktor produksi dan
pertukaran komoditas
4. Permasalahan analisis optimum/equilibrum antar kawasan dimana memperinci pola
optimal dari produksi, lokasi, dan perdagangan
5. Persoalan kebijakan kawasan dimana memperhitungkan pengaruh perilaku ekonomi
dalam suatu tata ruang
E. Pertumbuhan Ekonomi Kawasan
Pertumbuhan ekonomi kawasan merupakan peningkatan volume variabel ekonomi dari
sub sistem spasial suatu negara. Peningkatan yang dimaksud merupakan peningkatan keluaran
kawasan meliputi kapasitas produksi ataupun volume riil produksi. Selain itu dapat diartikan
juga sebagai peningkatan jumlah komoditas yang dapat digunakan atau diperoleh suatu
kawasan.
F. Pendekatan Alokasi Sumberdaya secara Spasial (Tata Ruang)
Alokasi sumberdaya secara spasial memiliki prinsip dasar yaitu mencapai manfaat
secara optimal dengan memperhatikan aspek lingkungan hidup. Alokasi spasial disusun
dengan beberapa prinsip, yaitu:
1. Kesesuaian: pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memperhatikan
kesesuaian antara kegiatan yang dengan kapasitas spasial yang tersedia. Selain itu,
pembangunan juga harus menyesuaikan karakteristik sosial maupun ekonomi
kawasan yang dikembangkan.
2. Kesinambungan SDA dan lingkungan hidup: pembangunan harus dilaksanakan
dengan menentukan fungsi perlindungan wilayah dan kawasan sebagai fungsi
dominan.
3. Demokratisasi alokasi spasial: pemanfaatan ruang harus memperhatikan penyediaan
aksesibiltas yang proporsional untuk masyarakat agar dapat memanfaatkan
sumberdaya yang ada. Alokasi ruang harus direncanakan secara optimal agar dapat
menjadi pemacu pembangunan di kawasan tersebut.
4. Sinergi regional: kemampuan suatu wilayah mengembangkan kegiatan
pembangunan karena interaksi fungsional secara optimal pada wilayah sekitarnya.