Anda di halaman 1dari 163

Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.

,
ITB

Ba b VI
Lumpur Pemboran
Tujuan :

 Mengenali Komponen-Komponen dari Lumpur Pemboran


 Fasa Cair
 Reactive Solids
 Inert Solids
 Fasa Kimia
 Memahami Fungsi-Fungsi Lumpur Pemboran
 Memahami Rheology Lumpur Pemboran
 Densitas
 Sand Content
 Viscositas
 Gel Strength
 Filtration Loss
 Mud Cake
 Memahami Sifat-Sifat Kimia Lumpur Pemboran
 Memahami Pengaruh Kontaminan Terhadap Sifat Fisik Lumpur Pemboran
 Memahami Sifat-Sifat Pelumasan Lumpur Pemboran
 Memahami Pengaruh Hidrasi Bentonite
 Mengenali Jenis-Jenis Lumpur Pemboran

6.1. Pendahuluan
Pada mulanya orang hanya menggunakan air saja untuk mengangkat serpih
pemboran (cutting). Lalu dengan berkembangnya pemboran, lumpur mulai
digunakan. Untuk memperbaiki sifat-sifat lumpur, zat-zat kimia ditambahkan dan
akhirnya digunakan pula udara dan gas untuk pemboran walaupun lumpur tetap

Page 225 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

bertahan. Dalam bab ini tak akan dibahas fluida pemboran yang berupa udara dan
gas.

Secara umum lumpur pemboran dapat dipandang mempunyai empat komponen


atau fasa :
a. Fasa cair.
Ini dapat berupa minyak atau air. Air dapat pula dibagi dua, tawar dan asin.
Tujuh puluh lima persen lumpur pemboran menggunakan air. Sedang pada air
dapat pula dibagi menjadi air asin tak jenuh dan jenuh. Istilah oil-base
digunakan bila minyaknya lebih dari 95% . Invert emulsions mempunyai
komposisi minyak 50 -70% (sebagai fasa kontinu) dan air 30 - 50% (sebagai
fasa terdispersi).

b. Reactive solids.
Padatan ini bereaksi dengan sekelilingnya untuk membentuk koloidal. Dalam
hal ini clay air tawar seperti bentonite menghisap (absorp) air tawar dan
membentuk lumpur. Istilah "yield" digunakan untuk menyatakan jumlah barrel
lumpur yang dapat dihasilkan dari satu to clay agar viskositas lumpurnya 15
cp.

Untuk bentonite, yieldnya kira-kira 100 bbl/ton. Dalam hal ini bentonite
mengabsorp air tawar pada permukaan partikel-partikelnya, hingga kenaikan
volumenya sampai 10 kali atau lebih, yang disebut "swelling" atau "hidrasi".
Untuk salt water clay (attapulgite), swelling akan terjadi baik diair tawar atau di
air asin dan karenanya digunakan untuk pemboran dengan "salt water muds".
Baik bentonite ataupun attapulgite akan memberi kenaikan viskositas pada
lumpur. Untuk oil base mud, viskositas dinaikkan dengan penaikan kadar air
dan penggunaan asphalt.

c. Inert solids (zat padat yang tidak bereaksi)


Biasanya berupa barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas
lumpur, ataupun galena atau bijih besi. Inert solids dapat pula berasal dari
formasi-formasi yang dibor dan terbawa lumpur seperti chert, pasir atau clay-
clay non swelling, dan padatan-padatan seperti ini secara tidak sengaja
memberikan kenaikan densitas lumpur dan perlu dibuang secepat mungkin
(bisa menyebabkan abrasi, kerusakan pompa dll).

d. Fasa kimia.
Zat kimia merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mengontrol
sifat-sifat lumpur, misalnya dalam dispersion (menyebarnya paritkel-partikel
clay) atau flocculation (berkumpulnya partikel-partikel clay). Efeknya terutama
tertuju pada peng"koloid"an clay yang bersangkutan. Banyak sekali zat kimia
yang digunakan untuk menurunkan viskositas, mengurangi water loss, dan
mengontrol fasa koloid (disebut surface active agent). Zat-zat kimia yang
mendispersi (thinner = menurunkan viskositas/mengencerkan), misalnya :

Page 226 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

 Quebracho (dispersant)
 Phosphate
 Sodium Tannate (kombinasi caustic soda dan tannium)
 Lignosulfonates (bermacam-macam kayu pulp)
 Lignites
 Surfactant (surface active agents)

Sedang zat-zat kimia untuk menaikkan viskositas misalnya adalah :


 C.M.C
 Starch
 Beberapa senyawa polimer

Zat-zat kimia bereaksi dan mempengaruhi lingkungan sistem lumpur tersebut


misalnya dengan menetralisir muatan-muatan listrik clay, menyebabkan
dispersion dan lain-lain.

6.2. Fungsi Lumpur Pemboran


Lumpur pemboran merupakan faktor yang penting dalam pemboran. Kecepatan
pemboran, efisiensi, keselamatan dan biaya pemboran sangat tergantung pada
lumpur ini.

Fungsi lumpur antara lain adalah :


1. Pengangkatan cutting ke permukaan.
Pengangkatan Cutting ke permukaan tergantung dari :
a. Kecepatan fluida di annulus
b. Kapasitas untuk menahan fluida yang merupakan fungsi dari densitas,
aliran (laminer atau turbulen), viskositas. Umumnya kecepatan 100 - 120
fpm telah cukup (kadang-kadang perlu 200 fpm tetapi jarang).

2. Mendinginkan dan melumas bit dan drill string.


Panas dapat timbul karena gesekan bit dan drill string yang kontak dengan
formasi. Konduksi formasi umumnya kecil, sehingga sukar menghilangkan
panas ini. Tetapi umumnya dengan adanya aliran lumpur volume maupun
specific heat lumpur telah cukup untuk mendinginkan sistem serta melumasi.

3. Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake


Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan zat padat tipis di permukaan
formasi yang permeable (lulus air). Pembentukan mud cake ini akan
menyebabkan tertahannya aliran fluida masuk ke formasi untuk selanjutnya.
Adanya aliran yang masuk yaitu cairan plus padatan menyebabkan padatan
tertinggal/tersaring. Cairan yang masuk ke formasi disebut filtrat.

Page 227 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Sifat wall building ini dapat diperbaiki dengan penambahan :


a. Sifat koloid drilling mud dengan bentonite.
b. Memberi zat kimia untuk memperbaiki distribusi zat padat dalam lumpur,
misalnya starch, CMC dan cypan, yang dapat mengurangi filter loss dan
memperkuat mud cake.

4. Mengontrol tekanan formasi.


Tekanan fluida formasi umumnya adalah di sekitar 0.465 psi/ft kedalaman.
Pada tekanan yang normal air dan padatan dipemboran telah cukup untuk
menahan tekanan formasi ini. Untuk tekanan yang lebih kecil dari normal
(subnormal), densitas lumpur harus diperkecil agar lumpur tidak hilang ke
formasi. Sebaliknya untuk tekanan yang lebih besar dari normal (lebih dari
0.465 psi/ft) atau abnormal pressure, maka barite kadang-kadang perlu
ditambahkan untuk memperberat lumpur.

Tekanan yang diakibatkan oleh kolom lumpur pada kedalaman tertentu (D, ft)
dapat dihitung menggunakan rumus :
Pm  0.052d m D
P  Ph  Ploss

dimana
Pm = Tekanan statik lumpur, psi
P = P dinamis
dm = Densitas lumpur, ppg
Ph = P hidrostatik
D = Kedalaman, ft.
Ploss = Kehilangan tekanan selama sirkulasi

Perlu diketahui, bahwa tekanan fluida dinamis (pada saat mengalir) kepada
formasi adalah tekanan statik (menggunakan rumus diatas) ditambah pressure
loss yg terjadi di sepanjang jalur sirkulasi.

5. Membawa cutting dan material-material pemberat pada suspensi bila sirkulasi


lumpur dihentikan sementara.

6. Melepaskan pasir dan cutting di permukaan


Kemampuan lumpur untuk menahan cutting selama sirkulasi dihentikan
terutama tergantung dari gel – strength. Pada saat fluida pemboran menjadi
gel, tahanan terhadap gerakan cutting ke bawah dapat dipertinggi. Cutting
perlu ditahan agar tidak turun kebawah, karena dapat menyebabkan
akumulasi cutting pada annulus dan pipa akan terjepit (pipe sticking). Selain
itu, pengendapan cutting di annulus akan memperberat beban torsi pada saat
rotasi permulaan dan juga memperberat kerja pompa pada saat memulai

Page 228 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

sirkulasi kembali. Akan tetapi gel – strength yang terlalu besar juga tidak
diinginkan karena akan mempersulit proses pembuangan cutting di
permukaan (selain pasir). Penggunaan alat-alat seperti desander atau shale
shaker dapat membantu proses pemisahan cutting/pasir dari lumpur
dipermukaan. Sebagai tambahan, pasir harus dibuang dari aliran lumpur
karena sifatnya yang sangat abrasive (mengikis) pada pompa, fitting
(sambungan- sambungan) dan bit. Untuk ini biasanya kadar pasir maksimal
yang boleh adalah 2%.

7. Menahan sebagian berat drill pipe dan casing (Bouyancy effect).

8. Mengurangi efek negatif pada formasi.

9. Mendapatkan informasi (mud log, sample log).


Dalam pemboran, kadang – kadang lumpur dianalisa untuk mengetahui
apakah lumpur mengandung hidrokarbon atau tidak (mud log). Selain itu
dilakukan pula sample log, yaitu proses analisa cutting yang naik
kepermukaan, untuk menentukan formasi yang sedang dibor.

10. Media logging


Untuk penentuan adanya zona minyak atau gas serta juga zone – zone air dan
juga untuk korelasi dan maksud – maksud lain, diadakan logging (pemasukan
sejenis alat antara lain alat listrik atau gamma ray / neutron) seperti misalnya
electric logging, yang mana memerlukan lumpur sebagai media penghantar
arus listrik di lubang bor.

6.3. Sifat-Sifat Lumpur.


Komposisi dan sifat-sifat lumpur sangat berpengaruh pada pemboran.
Perencanaan casing, drilling rate dan completion dipengaruhi oleh lumpur yang
digunakan saat itu. Misalnya pada daerah batuan lunak pengontrolan sifat-sifat
lumpur sangat diperlukan tetapi di daerah batuan keras sifat-sifat ini tidak terlalu
kritis sehingga air biasapun kadang-kadang dapat digunakan. Dengan ini dapat
dikatakan bahwa sifat-sifat geologi suatu daerah menentukan pula jenis lumpur
yang harus digunakan.

6.3.1 Densitas dan Sand Content


Densitas Lumpur
Lumpur sangat besar peranannya dalam menentukan berhasil tidaknya suatu
operasi pemboran, sehingga perlu diperhatikan sifat-sifat dari lumpur tersebut,
seperti densitas, viskositas, gel strength, atau filtration loss.

Page 229 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Densitas lumpur bor merupakan salah satu sifat lumpur yang sangat penting,
karena peranannya berhubungan langsung dengan fungsi lumpur bor sebagai
pengimbang tekanan formasi. Lumpur dengan densitas yang terlalu besar akan
menyebabkan lumpur hilang ke formasi (lost circulation), sedang densitas yang
terlalu kecil akan menyebabkan "kick". Maka densitas lumpur harus disesuaikan
dengan keadaan formasi yang akan dibor.

Densitas lumpur dapat menggambarkan gradien hidrostatik dari lumpur bor dalam
psi/ft. Tetapi di lapangan biasanya dipakai satuan ppg (pound per gallon) yang
diukur dengan menggunakan alat yag disebut dengan mud balance (Gambar 6.1).
Dalam perhitungan harga ddensitas, asumsi-asumsi yang digunakan :
1. Volume setiap material adalah additive :
Vs  Vml  Vmb .......................................................................................................... (6-1)

2. Jumlah berat adalah additive, maka :


 s  Vs    ml  Vml    mb  Vmb ................................................................... (6-2)

Keterangan :
Vs = Volume solid, bbl
Vml = Volume lumpur lama, bbl
Vmb = Volume lumpur baru, bbl
s = Berat jenis solid, ppg
 ml = Berat jenis lumpur lama, ppg
 mb = Berat jenis lumpur baru, ppg

Gambar 6.1. Mud Balance

Page 230 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dari persamaan (6-1) dan (6-2) didapat :


 mb   ml   Vml
Vs  ................................................................................................... ( 6-3 )
 s   mb 
karena zat pemberat (solid) beratnya adalah :
Ws  Vs   s ...................................................................................................................... (6-4)

Dimasukkan ke dalam persamaan (6-3):


 mb   ml 
Ws     V 
 s   mb  s ml
% Volume solid :
Vs    ml 
 100  mb  100 ..................................................................................... ( 6-5 )
Vmb  s   ml 
% Berat solid :
 s  Vs     ml 
 100  s mb  100 .................................................................... ( 6-6 )
 mb  Vmb  mb  s   ml 

Maka bila yang digunakan sebagai solid adalah barite dengan SG = 4.3 , untuk
menaikkan densitas dari lumpur lama seberat dml ke lumpur baru sebesar  mb
setiap bbl lumpur lama memerlukan berat solid, Ws sebanyak:
 mb   ml 
Ws  684  ................................................................................................ ( 6-7 )
35.8   mb 
Keterangan :
Ws = Berat solid/zat pemberat, kg barite/bbl lumpur.

Sedangkan jika yang digunakan sebagai zat pemberat adalah bentonit dengan
SG = 2.5 , maka untuk tiap barrel lumpur diperlukan :
 mb   ml 
Ws  398  ............................................................................................... ( 6-8 )
20.8   mb 
dimana
Ws = kg bentonite/bbl lumpur lama.

Sand Content
Tercampurnya serpihan – serpihan formasi (cutting) ke dalam lumpur pemboran
akan dapat membawa pengaruh pada operasi pemboran. Serpihan – serpihan
pemboran yang biasanya berupa pasir dapat mempengaruhi karakteristik lumpur
yang disirkulasikan, dalam hal ini akan menambah densitas lumpur yang telah
mengalami sirkulasi. Bertambahnya densitas lumpur yang tersirkulasi ke
permukaan akan menambah beban pompa sirkulasi lumpur. Oleh karena itu

Page 231 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

setelah lumpur disirkulasikan harus mengalami proses pembersihan untuk


menghilangkan partikel-partikel yang masuk ke dalam lumpur selama sirkulasi. Alat
- alat ini, yang biasanya disebut “Conditioning Equipment", adalah:

Shale Saker
Fungsinya membersihkan lumpur dari serpihan-serpihan atau cutting yang
berukuran besar.

Degasser
Untuk membersihkan lumpur dari gas yang masuk.

Desander
Untuk membersihkan lumpur dari partikel-partikel padatan yang berukuran kecil
yang bisa lolos dari shale shaker.

Desilter
Fungsinya sama dengan desander, tetapi desilter dapat membersihkan lumpur dari
partikel-partikel yang berukuran lebih kecil.

Sand content dari lumpur pemboran adalah adalah persen volume dari partikel-
partikel dengan diameternya lebih besar dari 74 mikron. Pengukuran sand content
dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan saringan tertentu. Rumus
untuk menentukan kandungan pasir (sand content) pada lumpur pemboran
adalah :

Vs
n  100 .................................................................................................................... ( 6-9 )
Vm

di mana :
n = Kandungan pasir, %
Vs = Volume pasir dalam lumpur, bbl
Vm = Volume lumpur, bbl

6.3.2. Viskositas dan Gel Strength


Viskositas dan gel strength merupakan bagian yang pokok dalam sifat-sifat
rheology fluida pemboran. Pengukuran sifat-sifat rheology fluida pemboran
penting dilakukan karena efektivitas pengangkatan cutting merupakan fungsi
langsung dari viskositas. Sifat gel pada lumpur juga penting pada saat round trip
sehingga viskositas dan gel strength menjadi salah satu indikator baik tidaknya
suatu lumpur pemboran.

Page 232 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Fluida pemboran dalam percobaan ini adalah lumpur pemboran. Lumpur


pemboran ini mengikuti model – model rheology Bingham Plastic, Power Law dan
Modified Power Law. Diantara ketiga model ini, Bingham Plastic merupakan model
yang sederhana untuk fluida Non-Newtonian.

Yang dimaksud dengan fluida Non-Newtonian adalah fluida yang mempunyai


viskositas tidak konstan, bergantung pada besarnya geseran (shear rate) yang
terjadi. Gambar 6.2 adalah suatu plot pada kertas koordinat rectangular dari
viskositas vs shear rate untuk fluida ini. Pada setiap shear rate tertentu, fluida
mempunyai viskositas yang disebut apparent viscosity.

Gambar 6.2. Plot Koordinat Rectangular Dari Viskositas vs


Shear Rate

Berbeda dengan fluida Newtonian yang mempunyai viskositas konstan, fluida Non-
Newtonian memperlihatkan suatu yield stress - suatu jumlah tertentu dari tahanan
dalam yang harus diberikan agar fluida mengalir seluruhnya. Perhatikan (Gambar
6.3).

Page 233 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.2. Gambar 6.3. Plot Koordinat Shear Stress Vs Shear


Rate

Pengukuran viskositas yang sederhana dilakukan dengan menggunakan alat Marsh


Funnel (Gambar 6.4). dalam perhitungan viskositas ini, didapatkan waktu (detik)
yang dibutuhkan lumpur sebanyak 0.9463 liter (1 quart) untuk mengalir keluar dari
corong Marsh Funnel. Bertambahnya viskositas ini direfleksikan dalam
bertambahnya apparent viscosity. Untuk fluida Non-Newtonian, informasi yang
didapat dengan Marsh Funnel memberikan suatu Gambaran rheology fluida yang
tidak lengkap sehingga harga viskositas yang didapatkan biasanya digunakan
sebagai perbandingan antara fluida yang baru (awal) dengan kondisi sekarang.

Page 234 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.4. Marsh Funnel

Berikut ini adalah beberapa istilah yang selalu diperhatikan dalam penentuan
rheology suatu lumpur pemboran :
 Viskositas plastik (plastic viscosity) seringkali digambarkan sebagai bagian dari
resistensi untuk mengalir yang disebabkan oleh friksi mekanik.
 Yield point adalah bagian dari resistensi untuk mengalir oleh gaya tarik-
menarik antar partikel. Gaya tarik – menarik ini disebabkan oleh muatan-
muatan pada permukaan partikel yang di dispersi dalam fasa fluida.
 Gel strength dan yield point keduanya merupakan ukuran dari gaya tarik
menarik dalam suatu sistem lumpur. Bedanya, gel strength merupakan ukuran
gaya tarik – menarik pada saat statik sedangkan yield point merupakan ukuran
gaya tarik-menarik yang dinamik.

Penentuan harga shear stress dan shear rate didapatkan dari penyimpangan skala
penunjuk (dial reading) dan kecepatan rotasi (RPM) dari Fann VG Viscometer yang
diolah menjadi harga shear stress (dyne/cm2) dan shear rate (sec-1). Dari harga
shear rate dan shear stress tersebut maka akan didapatkan harga apparent
viscosity dalam satuan cp (centipoise).

Adapun persamaan tersebut sebagai berikut :


  5.077  C .................................................................................................................... (6-10)

  1.704  N .................................................................................................................... (6-11)

Page 235 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dimana:
 = Shear stress, dyne/cm2
 = Shear rate, detik-1
C = Dial reading, derajat
N = Rotation per minute RPM dari rotor

Penentuan viskositas nyata (  a ) untuk setiap harga shear rate dihitung


berdasarkan hubungan:

Gambar 6.5. Skema Gambar Fann VG Viscometer


a   100 ..................................................................................................................... (6-12)

a 
300  C 
................................................................................................................ (6-13)
N

Untuk menentukan plastic viscosity (  p ) dan yield point (Yp) dalam field unit
digunakan persamaan Bingham Plastic (Gambar 6.6) berikut :

Page 236 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.6. Persamaan Bingham Plastic

 600   300
p  ............................................................................................................... (6-14)
 600   300

Dengan memasukkan persaman (6-10) dan (6-11) ke dalam persamaan (6-14)


didapat:
 p  C 600  C 300 ............................................................................................................... (6-15)
𝑌𝑏 = 𝐶300 − 𝜇𝑝 ................................................................................................................. (6-16)

dimana :
p = Plastic viscosity, cp
Yb = Yield point Bingham, lb/100 ft2
C 600 = Dial reading pada 600 RPM, derajat
C 300 = Dial reading pada 300 RPM, derajat

Harga gel strength dalam 100 lb/ft2 diperoleh secara langsung dari pengukuran
dengan alat Fann VG. Simpangan skala penunjuk akibat digerakkannya rotor pada
kecepatan 3 RPM, langsung menunjukkan harga gel strength 10 detik atau 10
menit dalam 100 lb/ft2.

Page 237 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.3.3. Filtrasi Dan Mud Cake


Ketika terjadi kontak antara lumpur pemboran dengan batuan porous, batuan
tersebut akan bertindak sebagai “saringan” yang memungkinkan fluida dan
partikel-partikel kecil melewatinya. Fluida yang hilang ke dalam batuan tersebut
disebut "filtrate". Sedangkan lapisan partikel-partikel besar tertahan dipermukaan
batuan disebut "filter cake". Proses filtrasi diatas hanya terjadi apabila terdapat
perbedaan tekanan positif ke arah batuan. Pada dasarnya ada dua jenis filtration
yang terjadi selama operasi pemboran yaitu static filtration dan dynamic filtration.
Static filtration terjadi jika lumpur berada dalam keadaan diam dan dynamic
filtration terjadi ketika lumpur disirkulasikan.

Apabila filtration loss dan pembentukan mud cake tidak dikontrol maka ia akan
menimbulkan berbagai masalah, baik selama operasi pemboran maupun dalam
evaluasi formasi dan tahap produksi. Mud cake yang tipis akan merupakan
bantalan yang baik antara pipa pemboran dan permukaan lubang bor. Mud cake
yang tebal akan menjepit pipa pemboran sehingga sulit diangkat dan diputar
sedangkan filtrat yang masuk ke formasi dapat menimbulkan damage pada
formasi.

Standar prosedur yang digunakan dalam pengukuran volume filtration loss dan
tebal mud cake untuk static filtration adalah API RP 13B untuk LPLT (low pressure -
low temperature) lihat Gambar 3.7. Lumpur ditempatkan dalam silinder standar
yang bagian dasarnya dilengkapi kertas saring dan diberi tekanan sebesar 100 psi
dengan lama waktu pengukuran 30 menit. Volume filtrat ditampung dengan gelas
ukur dengan satuan cubic centimeter (cc).

Gambar 6.7. Rangkaian Peralatan Pengukuran Filtration Loss


LPLT

Page 238 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Persamaan untuk volume filtrat yang dihasilkan dapat diturunkan dari persamaan
Darcy, persamaannya adalah sebagai berikut :
1
  f sc  2
 2k   1tP 
V f  A  
f sm  .................................................................................................. (6-17)
  
 
 

dimana :
A = Filtration area, cm2
k = Permeabilitas cake, darcy
f sc = Volume fraksi solid dalam mud cake
f sm = Volume fraksi solid dalam lumpur
P = Tekanan Filtrasi, atm
t = Waktu filtrasi, menit
 = Viscositas filtrat, cp

Pembentukan mud cake dan filtration loss adalah dua kejadian dalam pemboran
yang berhubungan erat, baik waktu maupun kejadiannya maupun sebab dan
akibatnya. Oleh sebab itu maka pengukurannya dilakukan secara bersamaan.
Persamaan yang umum digunakan untuk static filtration loss adalah:

0 .5
t 
Q2  Q1   2  .................................................................................................................... (6-18)
 t1 

dimana :
Q1 = Fluid loss pada waktu t1, cm3
Q2 = Fluid loss pada waktu t2, cm3
t = waktu filtrasi, min

6.3.4. Sifat-Sifat Lumpur pada Tekanan dan Temperatur Tinggi.


Effisiensi operasi pemboran sangat dipengaruhi oleh sifat- sifat lumpur. Oleh sebab
itu pemeliharaan dan mempelajari sifat-sifat lumpur menjadi sangat penting.

Kondisi lingkungan pemboran, dalam hal ini adalah tekanan dan temperatur, dapat
mempengaruhi sifat-sifat lumpur tersebut. Dimana pada umumnya temperatur
yang tinggi dapat mengurangi efektivitas aditif yang ditambahkan kedalam lumpur
sebagai pembentuk sifat-sifat lumpur. Jika pada kondisi tersebut sifat-sifat lumpur
tidak dapat dikontrol, maka dapat menimbulkan masalah terhadap kecepatan

Page 239 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

pemboran, bit dan hole cleaning, kestabilan lubang bor dan masalah-masalah
lainnya yang cukup serius.

Salah satu sifat lumpur yang akan dipelajari dalam percobaan ini adalah
filtration/water loss pada tekanan dan temperatur tinggi. Pengukuran fluid loss
tersebut menggunakan High -Pressure dan High-Temperature (HPHT) filter press
yang mempunyai prinsip yang sama dengan standart filter press (Gambar 6.8).
Untuk mengindikasikan kecepatan filtrasi pada formasi permeable yang ditutupi
oleh mud cake yang terbentuk setelah pemboran , maka digunakan filter-paper
standar, selain itu pembentukan mud cake harus dibawah kondisi standar test. Dari
penurunan persamaan Darcy, maka didapat hubungan antara volume filtat yang
terkumpul terhadap waktu, yaitu :
0.5
 
0.5
 f t 
V f   2kP sc  1  A  .................................................................................... (6-19)
  f sm  

Persamaan tersebut dapat ditulis sebagai :


V f  c  t 0.5 ................................................................................................................................ (6-20)

dengan :
Vf = volume filtrat lumpur yang terkumpul, cm3
k = Permeabilitas mud cake, darcy
P = Perbedaan tekanan yang melalui mud cake, atm
f sc = Fraksi volume solid pada mud cake
f sm = Fraksi volume solid pada Lumpur
 = Viskositas filtrat, cp
A = Luas filter paper, cm2
t = Waktu, (menit)
c = Konstanta

Page 240 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.8. Skema Alat HP-HT Filter Press

Sifat filtration loss lumpur, dinyatakan dalam API water loss, yaitu volume filtrat
yang dikumpulkan selama 30 menit pada kondisi standar test. Untuk pengukuran
water loss dengan menggunakan HPHT filter press, maka :
APIwaterloss  2  V30

dimana :
V30  2V7.5  Vsp   Vsp
V30 = volume filtrat yang dihasilkan selama 30 menit, cm3
V7.5 = volume filtrat yang dihasilkan selama 7.5 menit, cm3
V sp = volume spurt loss, cm3

Selain sifat water loss dari lumpur, percobaan ini juga mempelajari pengaruh
temperatur terhadap sifat rheology lumpur. Pada umumnya kenaikan temperatur
menyebabkan lumpur menjadi lebih encer, tetapi hal ini tergantung dari tipe dan
total solid di dalam lumpur tersebut. Hal ini mengakibatkan plastic viscositas

Page 241 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

lumpur akan berkurang. Jika dibandingkan dengan fasa liquidnya, dalam hal ini
adalah air, maka penurunan PV tersebut menunjukan trend yang sama sampai
harga temperatur tertentu. Di atas harga tersebut, PV tidak mengalami penurunan
terhadap naiknya temperatur. Keadaan ini diakibatkan oleh meningkatnya efek
friksi/gesekan dari fasa solid jika dibandingkan dengan kecepatan pengenceran
dari fasa liquidnya.

Alat yang digunakan untuk mengetahui sifat rheology adalah fann VG Viscometer
yang dilengkapi cup heater untuk menaikkan temperatur lumpur. Lumpur yang
akan di tes ditempatkan sedemikian rupa sehingga mengisi ruangan antara Bob
dan Rotor sleeve. Pada saat rotor berputar, maka lumpur akan menghasilkan
torque pada Bob sebanding dengan besarnya viskositas lumpur. Dari skala
pembacaan yang dihasilkan,maka dapat dihitung sifat rheology lumpur sebagai
berikut :
a.  p   600   300
b. Y p   300   p
c. P  0.5 600
d. GS   3

dimana :
p = Plastik Viscosity, cp
a = Apparent Viscosity, cp
YP = Yield Point, lb/100 ft2
 300 = Dial Reading pada 300 RPM, derajat
 600 = Dial Reading pada 600 RPM, derajat
GS = Gel Strength, lb/100 ft2
3 = Dial Reading pada 3 RPM, derajat

6.3.5. Analisa Kimia Lumpur Bor


Seperti telah diketahui lumpur bor sangat menentukan keberhasilan suatu operasi
pemboran. Oleh sebab itu penanganan sifat-sifat fisik maupun kimia lumpur bor
harus dilakukan sebaik-baiknya, dengan cara menganalisis perubahan pada sifat-
sifatnya.

Dalam percobaan akan dilakukan analisis kimia lumpur bor dan filtratnya, yaitu:
analisis kimia alkalinitas, analisis kesadahan total, analisis kandungan ion klor (Cl),
ion kalsium (Ca), ion besi (Fe), serta pH lumpur bor (dalam hal ini filtratnya).
Alkalinitas atau keasaman lumpur, ditunjukkan dengan harga pH – nya, tetapi
karakteristik lumpur dapat berfluktuasi meskipun harga pH – nya tetap. Hal ini
berhubungan dengan bervariasinya jenis dan jumlah ion – ion yang terdapat di

Page 242 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dalam lumpur bor (filtrat lumpur), dalam percobaan ini yang akan dianalisis adalah
alkalinitas filtratnya.

Analisa kesadahan total dari lumpur (filtrat lumpur) pemboran dilakukan dengan
menyelidiki kandungan ion Mg+2 dan Ca+2 di dalam lumpur bor (filtrat lumpur).
Analisis ion klor merupakan hal yang penting untuk dilakukan, terutama jika
pemboran dilakukan di daerah yang kemungkinan terkontaminasi oleh ion garam
NaCl sangat besar. Caranya adalah dengan mentitrasi suatu filtrat lumpur dengan
larutan standar perak nitrat.

Adanya ion kalsium dalam jumlah yang banyak dalam lumpur bor juga perlu
dianalisis, hal ini berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kontaminasi lumpur
oleh gypsum yang akan merubah sifat-sifat fisik lumpur seperti besar water loss
dan gel strength-nya. Begitu pula dengan analisis kandungan ion besi di dalam
lumpur bor karena ion besi yang terdapat dalam lumpur dapat mengindikasikan
terjadinya korosi pada peralatan.

6.3.6. Kontaminasi Lumpur Pemboran


Sejak digunakannya teknik rotary drilling dalam operasi pemboran lapangan
minyak, lumpur pemboran menjadi faktor yang penting. Bahkan lumpur pemboran
menjadi salah satu pertimbangan dalam mengoptimasikan operasi pemboran.
Oleh sebab itu perlu dikontrol sifat-sifat fisik lumpur pemboran agar sesuai dengan
yang diinginkan.
Salah satu penyebab berubahnya sifat fisik lumpur adalah adanya material-material
yang tidak dinginkan (kontaminan) yang masuk kedalam lumpur pada saat operasi
pemboran sedang berjalan. Kontaminasi yang sering sekali terjadi adalah sebagai
berikut :
1. Kontaminasi Sodium Chlorida (NaCl)
Kontaminasi ini terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome),
lapisan garam, lapisan batuan yang mengandung konsentrasi garam cukup
tinggi atau akibat air formasi yang berkadar garam tinggi dan masuk ke dalam
sistem lumpur. Akibat adanya kontaminasi ini, akan mengakibatkan
berubahnya sifat lumpur seperti viskositas, yield point, gel strength dan
filtration loss. Kadang-kadang penurunan pH dapat pula terjadi bersamaan
dengan kehadiran garam pada sistem lumpur.
2. Kontaminasi Gypsum.
Gypsum dapat masuk ke dalam lumpur saat pemboran menembus formasi
gypsum, lapisan gypsum yang terdapat pada formasi shale atau limestone.
Akibat adanya gypsum dalam jumlah yang cukup banyak dalam lumpur
pemboran, maka akan merubah sifat-sifat fisik lumpur tersebut seperti
viskositas plastik, yield point, gel strength dan fluid loss.

Page 243 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

3. Kontaminasi Semen
Kontaminasi semen dapat terjadi akibat operasi penyemenan yang kurang
sempurna atau setelah pengeboran lapisan semen dalam casing, float collar
dan casing shoe. Kontaminasi semen akan merubah viskositas, yield point, gel
strength, fluid loss dan pH lumpur.

Selain dari ketiga kontaminasi di atas, bentuk kontaminasi lain yang dapat terjadi
selama operasi pemboran adalah :
a. Kontaminasi "hard water", atau kontaminasi oleh air yang mengandung ion
kalsium dan magnesium cukup tinggi.
b. Kontaminasi Karbon Dioksida
c. Kontaminasi Hidrogen Sulfida
d. Kontaminasi Oksigen.

6.3.7. Sifat Pelumasan Lumpur dengan Metode Multi-Torsi


Sifat pelumasan lumpur adalah kemampuan lumpur untuk melumasi bagian alat-
alat pemboran yang saling bersinggungan atau bergesekan pada saat pemboran
berlangsung. Gesekan -gesekan yang mungkin terjadi pada saat operasi pemboran
adapun seperti berikut :
 Metal to metal : antara drillstring dan casing (cased hole).
 Metal to mineral : antara drillstring dengan borehole wall, borehole solid atau
dengan filter cake (open hole).
 Mineral to mineral : cutting dengan borehole wall.

Sifat pelumasan yang baik terutama diperlukan untuk memperpanjang umur


peralatan (misalnya bit, casing, dll). Selain itu berguna pula untuk melawan efek
side wall sticking, menurunkan efek drillpipe torque (momen puntir) dan drillpipe
drag (seretan).

Dengan berkembangnya teknologi di bidang pemboran maka sifat pelumasan


lumpur semakin penting artinya. Pada pemboran bersudut / miring, torque dan
drag dari drillstring serta keausan (wear) casing sangat tinggi. Hal ini menyebabkan
timbulnya masalah-masalah operasional yang tidak diperkirakan sebelumnya dan
akan meningkatkan biaya pemboran.

Masalah yang sama juga dijumpai pada pemboran sumur - sumur horizontal.
Lumpur yang biasa dipakai pada pemboran vertikal perlu diperbaiki untuk
menghasilkan sifat pelumasan yang sesuai dengan yang dibutuhkan untuk
keperluan pemboran sumur horizontal.

Prinsip untuk melakukan pengujian terhadap sifat pelumasan lumpur pemboran,


digunakan alat Extreme Pressure Lubricity Tester (Gambar 6.9) yang prosedurnya
telah dimodifikasi. Dengan menganggap bahwa dasar yang dipakai untuk

Page 244 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

membuat modifikasi fungsi dasar alat tersebut, sebagaimana tidak lepas dari
pengaruh pelumas di antara dua bidang yang saling bergesekan, maka secara tidak
langsung dengan prosedur yang dibuat kemudian, pengujian dapat dilakukan
untuk mengetahui sifat pelumasan lumpur secara relatif.

Pada prinsipnya Extreme Pressure Lubricity Tester terdiri atas sebuah ring baja
berputar yang disentuhkan pada sebuah blok yang dapat ditekan pada berbagai
besar harga beban dengan menggunakan pengatur torsi. Ring, dan blok
dibenamkan dalam lumpur pada saar pengujian dan gaya gesek yang terjadi
antara dua benda tersebut dapat diukur / dibaca pada skala. Dalam pengukuran
yang sebenarnya, harga gaya gesek yang diperoleh (pada beban dan RPM
tertentu) dapat dikorelasikan dengan menggunakan grafik untuk mengetahui
koefisien gesek yang terjadi pada suatu jenis fluida pemboran.

Gambar 6.9. Extreme Pressure Lubricity Tester

Dengan pengujian ini, dapat diketahui sifat pelumasan lumpur, relatif terhadap
lumpur lainnya dan kecenderungan perubahan sifat pelumasan lumpur yang
terjadi akibat perubahan harga beban dan jumlah zat aditif. Pada setiap jenis
lumpur dilakukan pengukuran pada berbagai harga beban torsi dan kemudian
direpresentasikan dalam bentuk grafik antara gaya friksi dengan beban torsi.
Gambaran yang dapat dilihat secara tidak langsung adalah bahwa terjadinya gaya
friksi yang lebih besar diakibatkan oleh sifat pelumasan lumpur yang rendah.

Page 245 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.4. Hidrasi Bentonite


Telah diketahui bahwa bentonite menghidrasi dalam air dengan ukuran yang
bervariasi. Hidrasi bentonite terbentuk dalam lembaran-lembaran silica dan
alumina, dengan aturan yang berbeda-beda untuk membentuk lapisan dari
masing-masing mineral clay, lihat (Gambar 6.10).

Gambar 6.10. Hidrasi Bentonite

Partikel clay ini bisa terdiri dari satu macam lapisan atau sampai tak terhingga,
yang saling tumpuk menyerupai sebuah deck kartu-kartu yang diikat bersama-
sama dalam suatu gaya residual. Ketika tersuspensi dalam air, clay akan
memperlihatkan bermacam-macam derajat swelling-nya. Molekul bentonite terdiri
dari tiga layer yaitu : sebuah layer alumina dan layer silika yang berada di atas dan
di bawah layer alumina.

Plate (lempengan) bentonite bermuatan negatif dan mempunyai kation-kation


yang berlawanan dan bergabung dengannya. Jika kation-kation ini adalah sodium
(Na), maka clay tersebut disebut sodium Montmorillonite, jika kalsium (Ca) maka
disebut Calcium Montmorillonite.

Page 246 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Bila suspensi clay dan air dari hasil pengadukan yang sempurna, maka akan
terdapat tiga model ikatan lempeng yaitu :
 Tepi terhadap tepi (edge to egde)
 Tepi terhadap muka (edge to face)
 Muka terhadap muka (face to face)

Mata rantai dari partikel-partikel ini akan terbentuk secara serentak atau hanya
terdapat satu jenis mata rantai yang akan menguasai proses tersebut.
Berdasarkan cara penggabungan lempeng (Gambar 6.11), terdapat empat cara
yang berbeda:
 Dispersi
 Aggregasi
 Flokulasi
 Deflokulasi

Gambar 6.11. Ikatan Lempeng

Page 247 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.4.1. Dispersi
Lempengan-lempengan yang tersuspensi di dalam larutan dalam keadaan tersebar
merata dan tidak terdapat ikatan antara permukaan maupun tepi dari lempengan-
lempengan.

Karena jumlah dari partikel yang tersuspensi besar, maka akan menghasilkan
kenaikan pada viskositas dan gel strength. Biasanya lempengan-lempengan clay
teraggregasi sebelum terhidrasi dan setelah terjadi hidrasi dan diaduk, keadaan ini
berubah menjadi terdispersi.

Derajat terdispersinya tergantung pada kandungan elektrolit dalam fasa cair,


waktu, temperatur, ion-ion yang dapat saling dipertukarkan serta konsentrasi clay.

6.4.2. Flokulasi
Bila lempengan-lempengan clay bergabung satu dengan yang lainnya dimana
didalam sistem akan terdapat ikatan muka dengan tepi lempeng, tepi dengan tepi
lempeng yang tidak tersebar secara merata di dalam fasa cairnya. Flokulasi akan
menghasilkan clay yang menggumpal sehingga akan menghasilkan gel yang
berlebihan.

6.4.3. Aggregasi
Aggregasi terjadi bila muka antar muka atau tepi dengan tepi lempeng clay saling
berikatan satu sama lainnya dan tersebar di dalam fasa cairnya.

6.4.4. Deflokulasi
Deflokulasi terjadi bila dalam larutan yang terflokulasi terjadi pemutusan ikatan
antara tepi dengan muka, yaitu dengan penambahan thinner ke dalam sistem,
sehingga sistem kembali ke dalam fasa terdispersi.

6.5. Jenis-Jenis Lumpur Bor.


ZABA dan DOHERTY ( 1970 ) mengklasifikasikan lumpur bor terutama berdasarkan
fasa fluidanya : air (water base), minyak ( oil base ) atau gas, sebagai berikut :
I. Fresh Water Muds (lumpur air tawar)
a. Spud
b. Natural atau Native (alamiah).
c. Bentonite – treated

Page 248 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

d. Phosphate – treated
e. Organic coloid – treated
f. "Red" atau alkaline - tannate treated
g. Calcium muds.
1. Lime – treated
2. Gypsum – treated
3. Calcium - (selain 1 & 2 ) - treated.

II. Salt Water Muds (air asin)


a. Unsaturated salt water
b. Saturated salt water
c. Sodium silicate

III. Oil in Water Emulsion


a. Fresh Water (air tawar)
b. Salt water (air asin)

IV. Oil Base dan Oil Base Emulsion Muds

V. Gaseous Drilling Fluids


a. Udara atau Natural gas
b. Aerated Muds.

6.5.1. Fresh Water Muds


Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam
yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1% berat garam).
A. Spud Mud.
Spud mud digunakan untuk membor formasi bagian atas bagi conductor casing.
Fungsi utamanya mengangkat cutting dan membuka lubang dipermukaan (formasi
atas). Volume yang diperlukan biasanya sedikit dan dapat dibuat dari air dan
bentonite (yield 100 bbl/ton) atau clay air tawar yang lain (yield 35 - 50 bbl/ton).
Tambahan bentonite atau clay perlu dilakukan untuk menaikkan viskositas dan gel
strength bila membor pada zone-zone loss. Kadang- kadang perlu lost circulation
material. Densitas harus kecil saja.

B. Natural Mud.
Natural mud dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa air. Sifat-
sifatnya bervariasi tergantung dari formasi yang dibor. Umumnya type lumpur
ini digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface
casing (permukaan). Dengan bertambahnya kedalaman pemboran sifat- sifat
lumpur yang lebih baik diperlukan dan natural mud ini ditreated dengan zat-
zat kimia dan aditif-aditif koloidal. Beratnya sekitar 9.1 - 10.2 ppg, dan
viskositasnya 35 - 45 detik.

Page 249 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

C. Bentonite - treated Mud.


Mencakup sebagian besar dari tipe-tipe lumpur air tawar. Bentonite adalah
material yang paling umum digunakan untuk membuat koloid inorganis untuk
mengurangi filter loss dan mengurangi tebal mud cake (ketebalan mud cake).
Bentonite juga menaikan viskositas dan gel yang mana dapat dikontrol
dengan thinner.

D. Phosphate treated Mud.


Mengandung polyphosphate untuk mengontrol viskositas dan gel strength.
Penambahan zat ini akan berakibat pada terdispersinya fraksi-fraksi clay
colloid padat sehingga densitas lumpur dapat cukup besar tetapi viskositas
dan gel strengthnya rendah. Ia mengurangi filter loss serta mud cake dapat
tipis. Tannin sering ditambahkan bersama-sama dengan polyphosphate untuk
pengontrolan lumpur.Polyphosphat tidak stabil pada temperatur tinggi
(sumur-sumur dalam) dan akan kehilangan efeknya sebagai thinner
(poliphosphat akan rusak pada kedalaman 10.000 ft atau temperatur 160 - 180
o
F, karena berubah ke- orthophosphate yang malah menyebabkan terjadinya
flokulasi). Juga phosphate mud sukar dikontrol pada densitas lumpur tinggi
(yang sering berhubungan dengan pemboran dalam). Dengan penambahan
zat-zat kimia dan air, densitas lumpur dapat dijadikan 9 -11 ppg.
Polyphosphate mud juga menggumpal bila terkena kontaminasi NaCl, calcium
sulfate atau kontaminasi semen dalam jumlah banyak.

E. Organic Colloid treated Mud.


Terdiri dari penambahan pregelatinized starch atau carboxymethylcellulose
pada lumpur. Karena organic colloid tidak terlalu sensitif terhadap flokulasi
seperti clay, maka pengendalian filtrasinya pada lumpur yang terkontaminasi
dapat dilakukan dengan organic colloid ini baik untuk mengurangi filtration
loss pada fresh water mud. Dalam kebanyakan lumpur pengurangan filter loss
lebih banyak dilakukan dengan koloid organic daripada dengan inorganic.

F. "Red " Mud.


Red Mud mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment
dengan caustic soda dan quabracho (merah tua). Istilah ini akan tetap
digunakan walaupun nama-nama koloid yang dipakai sekarang ini mungkin
menyebabkan warna-warna abu-abu kehitaman. Umumnya istilah ini
digunakan untuk lignin-lignin tertentu dan humic thinner selain untuk tannin
diatas. Suatu jenis lain lumpur ini adalah alkaline tannate treatment dengan
penambahan polyphosphate untuk lumpur dengan pH dibawah 10.
Perbandingan alkaline, organic dan polyphosphate dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan setempat. Alkaline-tannate treated mud mempunyai range pH 8 -
13.Alkaline tannate dengan pH kurang dari 10 sangat sensitif terhadap
flokulasi karena kontaminasi garam. Dengan naiknya pH maka lebih sukar
untuk flokulasi. Untuk pH lebih dari 11.5, pregelatinized starch dapat
digunakan tanpa bahaya fermentasi. Dibawah pH ini, preservative harus

Page 250 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

digunakan untuk mencegah fermentasi (meragi) pada fresh water mud. Jika
diperlukan densitas lumpur yang tinggi lebih murah bila digunakan treatment
yang menghasilkan calcium treated mud dengan pH yang tingginya 12 atau
lebih.

G. Calcium Mud.
Lumpur ini mengandung larutan calcium (disengaja). Calcium bisa ditambah
dalam bentuk slaked lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) dipasaran atau
CaCl2, tetapi dapat pula karena pemboran semen, anhydrite dan gypsum.
 Lime treated Mud.
Lumpur ini ditreated dengan caustic soda atau organic thinner, hydrated
lime dan untuk mendapat filter loss rendah, suatu koloid organik.
Treatment ini menghasilkan lumpur dengan pH 11.8 atau lebih, dan 60 -
100 (3 - 20 epm) ppm ion Ca dalam filtrat. Lumpur ini menghasilkan
viskositas dan gel strength rendah, memberi suspensi yang baik bagi
material-material pemberat, mudah dikontrol pada densitas sampai 20
ppg, toleran terhadap konsentrasi garam (penyebab flokulasi) yang relatif
besar dan mudah dibuat dengan filter loss rendah. Keuntungannya
terutama pada kemampuannya untuk membawa konsentrasi padatan clay
dalam jumlah besar pada viskositas lebih rendah daripada dengan type-
type lumpur lainnya. Kecuali tendensinya untuk memadat pada
temperatur tinggi, lumpur ini cocok untuk pemboran dalam dan untuk
mendapatkan densitas tinggi. Pilot test dapat dibuat untuk menentukan
tendensinya untuk memadat, dan dengan penambahan zat kimia
pemadatan ini dapat dihalangi sementara waktu untuk memberi
kesempatan pemboran berlangsung beserta test-test sumurnya. Suatu
Lumpur lime treated yang bertendensi memadat tidak boleh tertinggal
pada casing-tubing annulus pada waktu well completion dilangsungkan.
Penggunaan/penyelidikan yang extensif pada lumpur type lime treated ini
menghasilkan variasi-variasi lumpur yang ditujukan pada lumpur yang
sukar memadat. Dengan ini timbul dua jenis lain, yaitu "lime mud" dan
"Low lime mud" yang bedanya hanya pada jumlah excess limenya. "Lime
Mud" umumnya mengandung konsentrasi caustic soda dengan lime yang
tinggi, dengan excess lime bervariasi antara 5 - 8 lb/bbl, sedangkan "Low
lime mud" mengandung caustic soda dan lime lebih sedikit, dengan
excess lime 2 - 4 lb/bbl.Jenis calcium treated mud yang lain adalah "shale
control mud". Pada lumpur ini dianjurkan agar kadar ion Ca-nya pada
filtrat dibuat minimal 400 ppm, dengan excess lime bervariasi antar 1 - 2
lb/bbl. Sifat kimia lumpur dan filtrat memberikan suatu tahanan terhadap
hidrasi/swelling shale dan clay formation. Pada temperatur tinggi (yang
cukup lama waktunya) lumpur ini tidak sesuai untuk ditempatkan pada
casing tubing annulus waktu completion (dimana lumpur ini akan
memadat). Resistivitas listriknya yang umumnya rendah (0.5 - 1.0 ohm-
meter) merugikan SP-logging, sebaliknya toleransinya pada kontaminan

Page 251 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

memberi kemungkinan untuk penambahan garam agar resistivitasnya


sesuai untuk laterolog dan focused electrode log.

 Gypsum treated mud.


Lumpur ini berguna untuk membor formasi anhydrite dan gypsum,
terutama bila formasinya interbedded (selang- seling) dengan garam dan
shale. Treatmentnya adalah dengan mencampur base mud (lumpur dasar)
dengan plaster (CaSO4 dipasaran) sebelum formasi anhydrite dan gypsum
dibor. Dengan penambahan plastre tersebut pada rate yang terkontrol,
maka viskositas dan gel strength yang berhubungan dengan kontaminan
ini dapat dibatasi. Setelah clay dilumpur bereaksi dengan ion Ca, tidak
akan terjadi pengentalan lebih lanjut dalam pemboran formasi gypsum
atau garam. Gypsum treated mud dapat dikontrol filtrate lossnya dengan
organic colloid dan karena pH-nya rendah, maka preservative harus
ditambahkan untuk mencegah fermentasi. Preservasi ini boleh dihentikan
penambahannya bila garam yang dibor cukup untuk memberikan
saturated salt water mud.Suatu modifikasi dari gypsum treated mud
adalah dengan penggunaan chrome lignosulfonate deflocculant yang
memberikan kontrol pada karakteristik flat gels pada lumpur tersebut.
Lumpur gypsum chrom lignosulfonate inimempunyai sifat yang sama
baiknya de- ngan lime treated mud, karena itu ia digunakan pada daerah-
daerah yang sama seperti penggunaan lime treated mud.Penggunaan
non-ionic surfactant dalam gypsum chroms lignosulfonate mud
menghasilkan pengontrolan yang lebih baik pada filtrate loss dan flow
propertiesnya, selain toleransinya yang besar terhadap kontaminasi
garam.

 Calcium salt
Selain hydrated lime dan gypsum telah digunakan tetapi tidak meluas.
Juda zat-zat kimia yang memberi supply cation multivalent untuk base
exchange clay (pertukaran ion-ion pada clay) seperti Ba(OH)2 telah
digunakan.

6.5.2 Salt Water Mud


Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau
salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam
yang terbor. Filtrate lossnya besar dan mud-cakenya tebal bila tidak ditambah
organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu preservative untuk
menahan fermentasi starch. Jika salt mudnya mempu-nyai pH yang lebih tinggi,
fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan
attapulgite sebagai pengganti bentonite.

Page 252 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

A. Unsaturated Salt water mud.


Air laut dari laut lepas atau teluk sering digunakan untuk lumpur yang yang
tak jenuh kegaramannya ini. Kegaraman ( salinity ) lumpur ini ditandai oleh:
1. Filtrate loss besar kecuali ditreated dengan organic colloid.
2. Medium sampai tinggi pada gel strength kecuali ditreated dengan thinner.
3. Suspensi yang tinggi kecuali ditreated dengan attapulgite atau organic
colloid.

Lumpur ini biasa mengalami "foaming", yaitu berbusa (gas menggelembung)


yang bisa direduksi dengan :
1. Menambah soluble surface active agents
2. Menambah zat kimia untuk menurunkan gel strength.

Lumpur yang terkena kontaminasi garam juga ditreatment seperti pada sea
water mud ini.

B. Saturated salt-water mud.


Fasa cair lumpur ini dijenuhkan dengan NaCl. Garam-garam lain dapat pula
berada disitu dalam jumlah yang berlain-lainan. Saturated salt water mud
dapat digunakanuntuk membor formasi-formasi garam dimana rongga-
rongga yang terjadinya karena pelarutan garam dapat menyebabkan
hilangnya lumpur, dan ini dicegah oleh penjenuhan garam terlebih dahulu
pada lumpurnya.

Lumpur ini juga dibuat dengan menambahkan air garam yang jenuh untuk
pengenceran dan pengaturan volume.

Filtrate loss yang rendah pada saturated salt organik colloid mud
menyebabkan tidak perlunya memasang casing diatas salt beds (formasi
garam). Filtrate loss-nya bisa dikontrol sampai 1 cc API dengan organic
colloids. Saturated salt water muds bisa dibuat berdensitas lebih dari 19 ppg.
Dengan menambahkan organic colloid agar filtration lossnya kecil, lumpur ini
bisa untuk membor formasi dibawah salt beds, walaupun resistivitynya yang
rendah buruk bagi electric logs.

Gabungan dari ion-ion surfactant menyebabkan pengontrolan filtrasi dan flow


properties yang lebih mudah dan murah, terutama pada densitas tinggi.

Saturated salt muds ini dapat pula dibuat dari fresh water atau brine mud. Jika
dibuat dari fresh water mud maka paling tidak sebagian dari lumpur semula
harus dibuang. Ini diperlukan untuk pengenceran dengan air tawar dan
penambahan lebih kurang 125 lb garam/bbl lumpur. Jika dikehendaki
pengontrolan filtration loss, suatu organic colloid dan preservative dapat
ditambahkan.

Page 253 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Jika lumpurnya dibuat dari saturated brine (air garam yang jenuh) sekitar 20
lb/bbl attapulgite ditambahkan bersama dengan organic colloid dan mungkin
preservative. Lumpur ini densitasnya 10.3 ppg dan akan naik sampai sekitar 11
ppg selama pemboran berlangsung. Pemeliharaannya termasuk penambahan
air asin untuk mengurangi viscositas, attapulgite untuk menambah viskositas
dan organic colloids untuk mengontrol filtrasi. Jika saturated salt water muds
digunakan untuk membor shale maka kontrol viskositas, gel dan filtrasi dapat
diperoleh dengan penambahan alkaline-tannate solution, atau sedikit lime.

Emulsified salt water muds telah umum digunakan di Kansas dan Dakota. Ini
mempunyai sifat-sifat baik dari conventional emulsion muds. Lumpur ini
menunjukkan tendensy foaming (berbusa) yang bisa dicegah dengan
penambahan surfactant.

C. Sodium-Silicate Muds.
Fasa cair Na-silicate mud mengandung sekitar 65% volume larutan Na-sillicate
dan 35% larutan garam jenuh. Lumpur ini dikembangkan untuk digunakan
bagi pemboran heaving shale, tetapi telah terdesak penggunaannya oleh lime
treated gypsum lignosulfonate, shale control, dan surfactant muds (lumpur
yang diberi DAS dan DME) yang lebih baik, murah dan mudah dikontrol sifat-
sifatnya.

6.5.3. Oil-in-Water Emultion Muds (Emulsion Mud)


Pada lumpur ini minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai fasa
kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dasar dapat
digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi
emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan.
Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss berkurang. Keuntungannya adalah bit yang
lebih tahan lama, penetration rate naik, pengurangan korosi pada drill string,
perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat
dikurangi, water loss turun, mud cake turun, mud cake tipis) dan mengurangi
balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drill string. Viskositas dan gel
lebih mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner.

Umumnya oil-in-water emulsion mud dapat bereaksi dengan penambahan zat dan
adanya kontaminasi seperti juga lumpur asalnya.

Semua minyak (crude) dapat digunakan tetapi lebih baik bila digunakan minyak
refinery(refinery oil) yang mempunyai sifat-sifat sbb:
1. Uncracked (tidak terpecah-pecah molekulnya), supaya stabil.
2. Flash point tinggi, untuk mencegah bahaya api.
3. Aniline number tinggi (lebih dari 155) agar tidak merusakkan karet-karet di
pompa/circulation system.

Page 254 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

4. Pour point rendah, agar bisa digunakan untuk bermacam-macam temperatur.

Suatu keuntungan lainnya adalah bahwa karena bau serta fluorescene-nya lain
dengan crude oil (mungkin yang berasal dari formasi), maka ini berguna untuk
pengamatan cutting oleh geologist dalam menentukan adanya minyak di
pemboran tersebut. Adanya karet-karet yang rusak dapat juga dicegah dengan
penggunaan karet sintetis.

Fresh water oil-in-water emulsion muds adalah lumpur yang mengandung NaCl
sampai sekitar 60,000 ppm. Lumpur emulsi ini dibuat dengan menambahkan
emulsifier (pembuat emulsi) ke water base mud diikuti dengan sejumlah minyak
yang biasanya 5 - 25% volume. Jenis emulsifier bukan sabun lebih disukai karena ia
dapat digunakan dalam lumpur yang mengandung larutan Ca tanpa memperkecil
emulsifiernya dalam hal efisiensi. Emulsifikasi minyak dapat bertambah dengan
agitasi (diaduk).

Pemeliharaannya terdiri dari penambahan minyak dan emulsifier secara periodik.


Jika sebelum emulsifikasi lumpurnya mengandung persentase clay yang tinggi,
pengenceran dengan sejumlah air perlu dilakukan untuk mencegah kenaikan
viskositas. Karena keuntungan dalam pemboran dan mudahnya pengontrolan
maka lumpur ini disukai orang.

Salt water oil-in water absorbtion mud mengandung paling sedikit 60,000 ppm
NaCl dalam fasa airnya. Emulsifikasi dilakukan dengan emulsifier agent-organik.
Lumpur ini biasanya mempunyai pH dibawah 9, dan cocok digunakan untuk
daerah-daerah dimana perlu dibor garam massive atau lapisan-lapisan garam,
seperti di Kansas, Rocky Mountain, Dakota dan Canada Barat. Emulsi ini
mempunyai keuntungan-keuntungan seperti juga pada fresh water emulsion,yaitu :
1. densitasnya kecil
2. filtrate loss sedikit, mud cake tipis dan lubrikasi lebih baik.

Lumpur demikian mempunyai tendensi untuk foaming yang bisa dipecahkan


dengan penambahan surface active agent tertentu. Pemeliharaan lumpur ini sama
seperti pada salt mud biasa kecuali perlunya menambah emulsifier, minyak dan
surface active defoamer (anti foam).

6.5.4. Oil Base dan Oil Base Emulsion Mud


Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur
agar kadar airnya rendah (3 - 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap
kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi
kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength,
mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan
zat-zat kimia.

Page 255 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak
karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap
formasi biasa maupun formasi produktif (jadi ia juga untuk completion mud).
Kegunaan terbesar adalah pada completion dan workover sumur. Kegunaan lain
adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit, mempermudah pemasangan
casing dan liner.

Oil base mud ini harus ditempatkan pada suatu tanki besi untuk menghindarkan
kontaminasi air. Rig harus dipersiapkan agar tidak kotor dan bahaya api berkurang.
Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu
dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion mud mempunyai
manfaat yang sama seperti oil base-mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu
tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya dengan oil base
mud adalah bahwa air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan
kontaminan). Air yang teremulsi dapat antara 15 - 50% volume, tergantung
densitas dan temperatur yang di inginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air
merupakan bagian dari lumpur ini, maka lumpur ini mempunyai sifat-sifat lain dari
oil base mud yaitu ia dapat mengurangi bahaya api, toleran pada air, dan
pengontrolan flow propertisnya dapat seperti pada water base mud.

6.5.5. Gaseous Drilling Fluid


Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas
atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor.

Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air
dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan-padatan) yang
merugikan. Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya
cara ini. Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada
bahaya api. Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan
tekanan rendah.

Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling
dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk
memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat
pemboran dan mengurangi biaya pemboran.

Page 256 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.6. Contoh Soal


Contoh 1:
1. Hitung densitas suatu lumpur yang diperoleh dengan menambahkan 40 lbm
bentonite (SG=2.60) dan 150 lbm barite (SG=4.20) ke dalam 1 bbl air.

2. Drilling Mud Design


Given:
Mud Weight = 10 ppg
Solid content = 3.9 %
Volume of mud in mud pit = 100 bbls

Determine:
a. Number of sacks barite will be required and volume (bbl) of mud must be
reduced to increase mug weight to 13 ppg if volume of muf in mud pit is
constant
b. Number of sacks barite will be required and increase of mud (bbl) in mud
pit if density of mud change to 12 ppg.
c. Number of sacks barite will be required, volume (bbl) of mud must be
reduced and volume (bbl) of water must be added to increase mud weight
to 13 ppg and reduce solid content 3.5%
d. Volume of water must be added to decrease density of mud to 9.5 ppg.

Contoh 2: Desain Lumpur


Untuk melakukan pemboran suatu sumur diperlukan 100 bbl lumpur pada kondisi
formasi yang akan ditembus, sbb:

Depth(feet) Pressure(Psi)
5000 2340
5100 2390
5200 2435
5300 2480
5400 2660
5500 2775
5600 2850
5700 2970
5800 3320
5900 3375
6000 3200
6100 3015
6200 3120

Berapakah kebutuhan Bentonite (SG=2.65), Air, dan Barite (SG=4,9), bila dibatasi
Low Solid Content maksimum hanya 6%.

Page 257 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Contoh 3:
Untuk menaikkan densitas 700 bbl lumpur dari 13 ppg menjadi 15 ppg diperlukan
penambahan barite (SG=4.20). Agar kekentalan lumpur tetap terjaga, maka tiap
penambahan 100 lbm barite akan ditambah 1 galon air. Jika volume akhir tidak
terbatas, hitung jumlah air dan barite yang diperlukan.

Contoh 4:
Untuk menaikkan densitas sejumlah 1000 bbl lumpur dari 10 ppg menjadi 13 ppg
diperlukan penambahan barite. Jika volume total lumpur dibatasi hingga 1000 bbl,
hitung jumlah lumpur lama yang harus dibuang dan barite (SG=4.20) yang harus
ditambahkan.

Contoh 5:
Untuk menaikkan densitas sejumlah 1000 bbl lumpur dari 10 ppg dengan kadar
solid 6% menjadi 13 ppg dengan kadar solid 3.5% diperlukan penambahan air dan
barite. Jika volume total lumpur dibatasi hingga 1000 bbl, hitung jumlah lumpur
lama yang harus dibuang serta air dan barite (SG=4.20) yang harus ditambahkan.

Page 258 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.7. Aditif Lumpur Pemboran

6.7.1. Aditif Lumpur Pemboran Water-base

6.7.1.1. Fluid Loss Control


Fluid Loss Control digunakan untuk:
a. Menjaga integritas lubang
1. Melindungi shale yang sensitif terhadap air
2. Meminimalkan hole washout untuk mencapai casing-cement job yang
lebih baik
b. Mengurangi fluid loss dalam formasi produktif
1. Mengurangi problem analisa log
2. Meminimalkan kerusakan formasi yang dapat menurunkan produksi

Secara umum, filtrat loss dalam formasi permeabel adalah tergantung pada
distribusi ukuran partikel dan kandungan koloid yang relatif tinggi dalam range
60% kandungan padatan lumpur dalam ukuran diameter 0 - 1 mikron. Sebagai
contoh, dispersi lumpur bentonite pada suatu sumur akan mempengaruhi filtrate
loss lebih rendah karena konsentrasinya lebih besar dari ukuran partikel-partikel
koloid dibanding dengan lumpur kaolinite atau attapulgite clay. Akan tetapi, clay
tidak dapat digunakan semata-mata untuk mengontrol fluid loss karena merusak
lumpur, dimana viskositas flluida akan naik dengan naiknya kandungan clay.

Ada beberapa aditif lumpur yang digunakan untuk mengontrol fluid loss. Pada
umumnya aditif ini digunakan bersama-sama dengan bentonite, sementara
sebagian kecil dapat digunakan secara terpisah pada setiap kandungan clay dalam
lumpur. Pada umumnya aditif-aditif tersebut mempunyai beberapa keuntungan
dan kerugian.

Sifat-Sifat Fisik
Appearance powder
Warna Coklat Tua
Moisture 6%
Kelarutan Air 99 %
pH, kandungan 10 % 8.5

Rekomendasi penggunaan:
 Additive pengontrol filtrasi pada temperatur tinggi
 Penstabil rheologi
 Dapat Digunakan pada setiap lumpur berdasarkan air dengan pH system
mendekati netral
 Dapat digunakan pada lumpur dengan densitas tinggi

Page 259 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Keuntungan Utama:
 Dapat mengontrol sampai dengan temperatur 400 oF (205 oC)
 Relatif stabil dengan kehadiran kontaminasi dari kalsium, magnesium, solids
dan chloride.
 Compatible dengan berbagai type fluida pemboran yang lain larut sempurna
dalam air.
 Harga relatif Murah
 Mempunyai sifat racun yang rendah

a. Wyoming Bentonite
Keuntungan:
1. Merupakan aditif multiguna yang membantu dalam mengontrol fluid loss,
suspensi barite, dan viskositas untuk kemampuan pembersihan lubang
bor.
2. Dalam penambahan yang sedikit, pada range 6% berat cocok untuk
mengurangi fluid loss sampai 10 - 12 cc.

Kerugian:
1. Bentonite tidak cocok digunakan pada konsentrasi ion sodium, kalsium,
atau potassium yang tinggi tanpa prehidrasi.
2. Bentonite rentan terhadap kontaminasi pada saat pemboran formasi-
formasi, seperti garam atau anhydrite (CaSO4)
3. Lumpur clay rentan terhadap panas dalam bentuk flokulasi clay yang
meningkatkan fluid loss

b. Starch (Pregelantized)
Keuntungan:
1. Strarch dapat berfungsi dengan baik sebagai fluid loss control agent
dengan hadirnya ion kalsium atau sodium. Oleh karena itu, aditif ini cocok
digunakan untuk lumpur saltwater atau lumpur lime.
2. Jika digunakan pre-treated non-fermenting starch, maka tidak perlu
digunakan bactericide

Kerugian:
1. Kenaikan viskositas sering terjadi jika menggunakan starch
2. Harus digunakan bactericide untuk mencegah degradasi jika starch bukan
pre-treated
3. Starch rentan terhadap panas diatas 250oF

c. Sodium Carboxymethylcellulose - CMC


CMC paling terkenal, adalah merupakan produk dari tumbuhan gum yang
digunakan sebagai fluid loss control dan sebagai viscosifier.
Keuntungan:
1. CMC sangat aktif meskipun terkontaminasi oleh konsentrasi ion tinggi,
yang membuat CMC ini sangat cocok digunakan pada inhibited muds.

Page 260 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

2. Technical grade dan high viscosity grade dapat digunakan tergantung dari
besarnya kenaikan viskositas yang diinginkan. Technical grade biasanya
lebih banyak digunakan karena pengaruh kenaikan viskositasnya lebih
rendah
3. Aditif ini stabil sampai temperatur diatas 350oF.

Kerugian :
CMC perlu menggunakan thinner untuk mengatasi pengaruh viskositas aditif

d. Acrylonitrite (Cypan)
Keuntungan :
Cypan stabil pada temperatur sampai 400oF.

Kerugian :
Cypan sangat sensitif terhadap kontaminasi ion kalsium.

e. X-C Polymer
Bacterially produced polysaccaride gum. Stabil terhadap kehadiran larutan
garam.
1. Membangun viskositas
2. Struktur gel
3. Viskositas rendah pada shear rate yang tinggi

f. Ben-Ex
Suatu rantai panjang polimer yang dirancang penggunaannya untuk low solid
muds. Ben-Ex mengikat partikel clay bersama-sama pada shear rate rendah.

g. Lignins, Tannins, dan Lignosulfonates


Semuanya memberikan sifat fluid loss control karena sifat kimia alamiahnya,
ukuran, dan dengan peranannya sebagai dispersant untuk partikel-partikel
koloid clay. Kemampuan pendispersian setiap aditif dibahas pada bagian
terpisah.
Keuntungan :
1. Produk-produk ini mempunyai stabilitas yanng baik pada range
temperatur antara 350 oF - 400 oF. Formulasi khusus lignite akan
menghasilkan stabilitas sampai temperatur 450oF.
2. Lignins mempunyai struktur koloid yang membantu dalam mengontrol
fluid loss.
3. Aksi ganda sebagai fluid loss control dan pendispersian cenderung
menyebabkan produk-produk ini cocok digunakan dalam banyak kasus.

Kerugian :
Lignins rentan terhadap kontaminasi ion kalsium dan berikutnya terjadi
flokulasi. Lignins cenderung menangkap ion kalsium yang dapat mengurangi
keefektifan lignite sebagai fluid loss agent.

Page 261 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

h. Diesel Oil
Telah sering digunakan untuk mengurangi API filter loss lumpur pemboran.
Akan tetapi, diesel oil ini telah terbukti bahwa meskipun prinsipnya dapat
mengurangi water loss, tetapi pada temperatur dan tekanan tinggi water loss
tidak terpengaruh oleh minyak.

i. Thermex
Thermex syntetic resin additive digunakan secara luas untuk menstabilkan
rheologi dan filtrasi dari lumpur pemboran berdasar air pada berbagai elevate
temperatur. Thermex merupakan chrome bebas, non viscosifying solution
polymer yang mengurangi fluida loss dan mengontrol kestabilan lumpur tanpa
menambah viskositas dari fasa air serta relatif stabil pada temperatur di atas
400 oF (204 oC). Thermex dapat digunakan pada semua jenis lumpur berdasar
air.
Type Sifat-Sifat Fisik Additive :
Appearance : Burgundy Liquid
Specific gravity : 1.13 @ o F (21 o C)
Kelarutan dalam air tawar : 100 %
Flash Joint : > 200oF (93oC) PMCC
pH : 10.7
pour point : 25 oF ( -4 oC)

Applikasi
Thermex merupakan non viscosifying, high temperatur rheology stabilizer dan
additive pengontrol fluid loss yang digunakan untuk lumpur jenis fresh water,
sea water, salt water atau calsium based muds.

Thermex merupakan komponen essensial dalam high temperatur chrome free


fluida pemboran yang didesain untuk kondisi yang merugikan di area yang di
lingkungan yang sensitif. Dengan catatan effektif pada densitas yang tinggi
untuk mengontrol terjadinya gel pada temperatur tinggi dimana fluid loss
dapat diterima tanpa menambah viskositasnya. Karakter tidak memviscous
merupakan kelebihan dibandingkan additive lain.

Normal treatment yang disarankan berkisar 4-12 lbm/bbl (11.4 - 34.2 kg/m3)
tergantung kebutuhan untuk mengurangi fluid loss lumpur, fasa kimia lumpur
serta aplikasi pada lingkungan sekitarnya. Thermex compatible untuk berbagai
jenis lumpur anionic dan non anionic.
Keuntungan:
 Thermex mengurangi terjadinya penggumpalan lumpur dan pembentukan
gel akibat beban temperatur.
 Mengurangi fluid loss tanpa menambah viskositas dari fasa cairan.
 Membentuk filter cake serta mengurangi permeabilitasnya.
 Menjaga fluid loss lumpur pada temperatur di atas 400oF (204 oC)
 Relatif solid untuk kondisi yang sensitif.

Page 262 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

 Mengurangi filtrat fluida di bawah kondisi yang tidak menguntungkan.


 Merupakan Chrome free (Material logam berat tidak digunakan dalam
produk ini.

Limitasi Penggunaan:
 Konsentrasi elektrolit tinggi (>dari 100000 mg/l) memerlukan
penambahan konsentrasi additive ini.
 Konsentrasi yang optimum disarankan untuk pemakaian produk ini.

j. Resinex
Resinex merupakan non viscosifying fluid loss dan mengontrol rheology yang
effektif untuk temperatur tinggi serta kompatible dengan adanya konsentrasi
tinggi dari elektrolit. Diaplikasikan secara luas pada berbagai type dari water
base muds. Pada aplikasi di lapangan hasil yang excelent untuk lebih fresh
water, brackish water, sea water, salty water, lime, gyp, lignosulfonate, polymer,
non dispersed dan berbagai sistem lain. Relatif stabil pada temperatur di atas
400oF. Non viscousifying dari resinex dipromosikan untuk menambah
keuntukan dari operasi pengeboran terutama pada lumpur dengan densitas
yang tinggi dimana penambahan viskositas akan berakibat merugikan.

Aplikasi
Minimum pemakaian sekitar 2 lbs/bbl. Penambahan konsentrasi dilakukan
tergantung dari sifat-sifat lumpur yang diinginkan. Konsentrasi optimum
sekitar 1-6 lbs/bbl.

Konsentrasi calsium sekitar 200 ppm atau lebih diperlukan resinex untuk
mengontrol fluid loss dan rheologi dari lumpur.
Keuntungan
 Non viscousifying. Penambahan viskositas air hanya sebanding dengan
kandungan lignosulfonat. Penggunaan normal dilakukan dalam
konsentrasi kecil dari pada lignosulfonate.
 Mengurangi permeabilitas filter cake. Kebanyakan dari additive
pengontrolan fluid loss mengentalkan air atau menyebabkan bentonit
mempunyai daya kontrol yang lebih baik dengan jalan deflokulasi atau
dengan meremove kandungan kesadahan dari air.
 Resinex secara independen mengurangi permeabilitas dari filter cake,
mengeliminir high solid, meninggikan viskositas filtrat serta mengontrol
sifat kimia air.
 Mengurangi pembentukan gel akibat beban temperatur. Menstabilkan
sifat rheologi dari lumpur berdasar air.

Stabil pada temperatur tinggi. Relatif mempunyai filtrat yang stabil diatas
temperatur 400oF.

Page 263 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Resistan terhadap salinitas garam. Dalam lumpur dengan kadar chloride diatas
110000 ppm mengurangi permeabilitas dari filter cake dan mendekati jenis
fresh water muds.

Resistant terhadap calsium dan magnesium. Karakteristik dari pengontrolan


fluid loss secara aktual meningkat dengan kandungan konsentrasi calsium atau
magnesium di atas 2000 ppm. Menyimpulkan bahwa resinex relatif kompatible
dengan sea water muds, gyp muds, serta lime muds.

Lebih ekonomis, dibanding lignite, lignosulfonate, dan sea water muds.


Secara general dengan bertambahnya salinity, kesadahan serta temperatur
yang semakin tinggi, pemakaian resinex sangat dipertimbangkan.

k. Sodium Carboxyl Methyl Cellulose


CMC merupakan organic kolloid yang digunakan untuk mengontrol laju
filtrasi. Struktur dari CMC mempunyai rantai molekul yang panjang yang
dipolymerkan ke dalam berbagai panjang yang berbeda. Terdiri dari tiga
bagian, merupakan variasi dari viskositas, suspensi dan pengontrol fluid loss.
Dibedakan dalam berbagai tingkatan, CMC HV, CMC LV, serta medium CMC.

CMC merupakan additive fluid loss yang efektif pada berbagai lumpur
berdasar air, terutama untuk lumpur jenis Calsium treated muds. Menstabilkan
Calsium dan Sodium yang terkandung dalam lumpur. Memberikan hasil yang
baik pada semua range alkaline pH. Keefektifan berkurang dengan konsentrasi
garam di atas 50000 ppm. CMC. Tejadi degradasi dengan adanya pembebanan
temperatur ketika mencapai 250 oF. Penggunaan CMC tergantung dari sifat
yang dikehendaki. Untuk mengurangi sifat fluid loss dari lumpur digunakan
CMC-HV dan medium CMC. Bila dikehendaki pengurangan sifat viscous dan
fluid loss ditambahkan CMC-LV.

Polyonic Cellulose (Drispac).


Drisprac merupakan organic fluid loss agent. Material ini merupakan polymer
polyanionic rantai panjang yang mempunyai berat molekul yang besar.
Aplikasi
Didesain terutama untuk aplikasi lumpur yang mengandung konsentrasi
garam yang tinggi untuk jenis low solids drilling fluids. Drispac memberikan
sifat viscositas dan fluid loss untuk mengontrol lumpur jenis fresh dan salt.
Drisprac yang diperlukan dalam konsentrasi kecil.
Drisprac efektif untuk meningkatkan serta memelihara low solids muds (jenis
attapulgite clay).

l. Baranex
Baranex merupakan modifikasi dari lignin polymer berfungsi sebagai additive
pengontrol filtrat dari lumpur berdasar air. Sifat powder polymernya effektif
untuk mengurangi fluid loss yang terjadi akibat pembebanan temperatur di

Page 264 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

atas 400oF (205 oC) dalam berbagai jenis fluida. Penambahan Baranex tidak
mengakibatkan terjadinya kenaikan viscositas lumpur dan secara aktual
menstabilkan rheologi lumpur.

Dalam fungsinya sebagai pengontrol laju filtrasi pada temperatur tinggi,


Baranex merupakan anionic polymer yang mempunyai reaksi hubungan
sulfonat yang radikal yang merupakan bagian dari polymer, selain itu dapat
menghandel kontaminasi yang terjadi terutama Calsium chloride. Baranex
tidak memerlukan penambahan caustic untuk solubilize, lumpur dapat
dipelihara mendekati pH netral, dapat digunakan untuk lumpur berdasar air
serta lumpur dengan densitas yang tinggi.

Aplikasi
Variasi yang dipakai dari 1 - 10 lbs/bbl (2.9 - 28.6 kb/m3. Baranex merupakan
polymer yang compatible dengan lignosulfonate dan lignit. Kandungan
additive ini mempunyai mineral besi yang rendah serta mempunyai kadar
racun yang rendah.

6.7.1.2. Thinner (Pengencer)


a. Thinner (dispersant)
Adalah merupakan senyawa (agent) yang menurunkan viskositas fluida
pemboran. Viskositas, seperti yang dibahas dimuka, dapat dihubungkan
dengan semua konsentrasi padatan atau interaksi antar partikel padatan.
Setiap senyawa yang efektif dapat mengurangi viskositas fluida.

b. Air
Telah lama digunakan sebagai pengencer yang efektif pada lumpur pemboran.
Efek pengenceran diperoleh dengan mengurangi total konsentrasi padatan
lumpur pemboran. Karena penambahan drilled solid pada sistem lumpur
sudah menjadi sifat yang umum, maka diperlukan pencairan dengan air atau
mengambil padatan-padatan tersebut secara mekanis.

Perlu dicatat bahwa air biasanya ditambahkan pada lumpur water-base untuk
menggantikan air yang hilang kedalam formasi. Jika air yang hilang tersebut
tidak digantikan dengan penambahan air, maka akan menaikan viskositas
karena konsentrasi padatan bertambah dan treatment kimia akan
membuktikan tidak efektifannya menurunkan viskositas dalam situasi ini.

c. Phosphates
Phosphate bekerja dengan pengabsorbsian pada valensi tepi partikel clay yang
terputus, sehingga menghasilkan keseimbangan listrik dan memungkinkan
partikel-partikel mengambang dengan bebas dalam larutan. Pengaruh
pendispersian phosphate ini adalah karena muatan negatif plat-plat clay, yang
memungkinkan plat-plat menolak satu dengan yang lain setelah semua valensi

Page 265 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

tepi putus. Phosphate penggunaannya terbatas dalam lingkungan kontaminasi


ion. Jika terdapat ion kalsium atau magnesium, bentuk kompleks
polyphosphate atau terbentuk suatu ion metal orthophosphate yang tidak
larut.

Phosphate yang umum digunakan dalam aplikasi praktis pada lumpur


pemboran ditunjukkan pada Tabel berikut :

Nama Kimia Nama Umum pH Aditif Batasan temperatur

Sodium Acid Pyrophosphat SAAP 4.8 130oF


o
Sodium Hexametaphosphate Calgon 6.8 130 F
o
Sodium Tetraphosphat Barafos 7.5 130 F
o
Tetra Sodium Pyrophosphat TSPP 10 130 F

Keuntungan :
1. Phosphate sangat berguna karena merupakan thinner yang efektif untuk
gel mud pada pemboran dangkal.
2. Sedikit saja thinner sudah efektif.

Kerugian :
1. SAPP mempunyai pH 4.8. Oleh karena itu, perlu ditambahkan caustic
soda,NaOh, atau beberapa aditif hidroksil untuk menjaga pH lumpur
diatas 7.0
2. Pada umumnya Phosphate hanya dapat stabil pada temperatur rendah
3. Phosphate tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol fluid loss,
seperti halnya thinner yang lain

d. Lignins
Merupakan thinner dan fluid loss control agent yang efektif. Produk Lignin
dapat diperoleh dari humic acid extract, tetapi biasanya berbentuk kepingan
lignite coal.

Keuntugan :
1. Lignite stabil pada temperatur 4000F, dan dapat stabil pada temperatur
4500F dengan menggunakan aditif-aditif khusus.
2. Lignites (lignins) berfungsi sebagai dispersant dengan memenuhi valensi
tepi yang terputus dan sebagai fluid loss control agent karena struktur
koloidal-nya.
3. Walaupun lignins mempunyai pH asam, produk pre-causticized dapat
diperoleh yang mempunyai 1 - 6, caustic-lignin ratio, yang dapat
digunakan tanpa pH adjuster.

Page 266 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Kerugian :
Lignin tidak cocok untuk fluida dengan kandungan garam yang tinggi karena
lignite tidak larut dalam garam.

e. Tannin
Diperoleh dari ekstrak tumbuhan. Tannin yang paling banyak dijumpai adalah
quebracho, yang diperoleh dari pohon quebracho di Argentina.
Keuntungan :
1. Tannin merupakan bahan dengan fungsi ganda sebagai dispersant dan
fluid loss control agent.
2. Tannins, terutama quebracho efektif untuk pengencer lumpur lime dan
lumpur yang terkontaminasi semen.

f. Lignosulfonates
Adalah campuran lignin sulfonate yang diperoleh dari sulfite liquor. Berbagai
macam jenis dan sejumlah ion-ion metal ditambahkan dalam campuran
tersebut untuk meningkatkan kemampuannya dalam menetralisir valensi tepi
yang terputus. Ion-ion yang ditambahkan adalah kalsium, besi, dan chrome.
Keuntungan :
1. Calsium lignosulfonate adalah thinner yang efektif untuk lumpur lime.
2. Ferrochrome lignosulfonate, dengan berbagai jumlah besi dan chrome,
merupakan thinner yang efektif untuk tujuan umum karena adanya ion-
ion metal berat.
3. Lignosulfonates mempunyai stabilitas sampai temperatur 400 oF.
4. Lignosulfonate merupakan aditif fungsi ganda baik sebagai dispersant
maupun fluid loss control agent.

Kerugian :
Ada beberapa spekulasi bahwa dibawah kondisi temperatur tekanan yang
sangat tinggi, lignosulfonate dapat terdegradasi dan mengembangkan racun
gas H2S.

g. XP-20/Spersence System
Jenis Calsium treated muds mempunyai limitasi pemakaian, terutama pada
temperatur di atas 275 oF. Jenis Calcium tretated muds tidak selalu membuat
lubang bor yang stabil sama seperti pada temperatur rendah. Jenis lumpur
surfactan dibuat untuk menanggulangi limitasi dari calsium muds pada
temperatur tinggi. Jenis surfaktan mud baik kelemahan dikarenakan cost yang
tinggi sifat kimia yang kompleks serta filtrat lossnya.

Jenis lignosulfonate (XP-20/Spersence) system menanggulangi banyak limitasi


yang terdapat pada system calsium treated muds serta surfaktan muds.
Demonstrasi dari lignosulfonate muds mempunyai sifat yang lain yang tidak
terdapat pada jenis calsium treated muds. Inhibition merupakan mud yang
mempunyai sifat kimia simple, stabil terhadap pembebanan temperatur,

Page 267 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

exelent flitrat loss, resistance terhadap kontaminasi. Pada masa sekarang jenis
lignosulfonate muds dipergunakan secara luas pada inhibitive water based
muds, dan dapat menggantikan jenis calsium treated muds dan jenis surfaktan
muds.

h. XP-20
XP-20 mempunyai pH 10, merupakan prereacted chrome lignit yang
digunakan terutama dengan Spersene (Chrome Lignosulfonate). Selain sebagai
penstabil dan pengemulsi, juga menurunkan fluid loss dan mengkontribusi
sifat inhibitive lumpur. Pada penggunaannya tidak hanya terbatas pada system
XP-20/Spersene tetapi dapat juga digunakan untuk lumpur berdasar air
dengan pH rendah.

i. Spersene
Spersene merupakan deflokulasi dan protektive koloid
Aplikasi
Konsentrasi minimum yang dipakai untuk system XP-20/Spersene sekitar 12
lbs/bbl dengan ratio pemakaian 1-2 lbs/bbl. XP-20/Spersene dapat digunakan
untuk berbagai jenis densitas dan berbagai variasi pembebanan temperatur,
problem shale serta kontaminasi yang eksestif lainnya.

Limitasi
Jenis material lignit tidak efektif untuk kandungan konsentrasi garam calsium
tinggi dan relatif moderat untuk kandungan salt tinggi.

j. CC-16
CC-16 merupakan dispersant jenis garam sodium larut dari material asam.
Effisient untuk mengontrol viskositas dan gel strength lumpur. CC-16 exelent
untuk mengemulsi oil dalam lumpur pemboran.
Sifat Fisik
Wet screen analysis (325 mesh) 10 - 20 %
Bulk Density (lb/ft3), Compacted/Uncompacted 62/52
Appearance Blck Powder
pH, 10% dalam air 9 - 10
Treatment yang Direkomendasikan

CC-16 dispersant dapat ditambahkan langsung ke dalam lumpur, dan relatif


larut dengan cepat dalam air.
Berfungsi Sebagai
 Mengurangi viskositas dan gel dari banyak lumpur berat
 Mengurangi laju filtrasi dari lumpur pada kondisi tekanan dan temperatur
tinggi dengan membentuk mud cake yang tipis dan liat.
 Mengurangi effek kontaminasi yang terjadi pada lumpur dengan jalan
deflokulasi

Page 268 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

 Mengentalkan dan mengemulsi minyak yang terdapat pada lumpur


berdasar air
 Memelihara karakteristik lumpur akibat kondisi HTHP

Aplikasi
CC-16 dispersant dapat digunakan untuk mentreatment lumpur dari pH
normal sampai pH tinggi termasuk lime muds. CC-16 dispersant dapat
emnghandel kontaminasi akibat garam dan cement.
Keuntungan Utama
 Larut cepat dalam air
 Harga relatif murah (penggunaan dalam jumlah kecil)
 Tidak memerlukan pengemulsi tambahan serta relatif bagus untuk
mengemulsi minyak dalam lumpur
 Mempunyai total mud cost yang rendah, effektif dalam menghandel
berbagai kontaminan
 Overtreatment tidak mempengaruhi kondisi lumpur

6.7.1.3. Bahan-bahan Pemberat (Weighting Material)


Material pemberat adalah bahan-bahan yang mempunyai specific gravity tinggi
yang ditambahkan kedalam cairan untuk menaikkan densitas fluida. Biasanya,
material pemberat ditambahkan kedalam lumpur pemboran untuk mengontrol
tekanan formasi.
a. Barite (Barium Sulfate)
Barite adalah merupakan bahan pemberat yang paling umum digunakan
dalam fluida pemboran. Barite mempunyai specific gravity 4.2, yang mampu
menaikkan densitas sampai 22 ppg. Barite merupakan padatan inert, sehingga
tidak mempengaruhi aktivitas aditif dalam sistem lumpur.
Keuntungan :
 Barite akan menaikkan densitas lumpur sehingga cukup untuk mengontrol
tekanan formasi.
 Butiran-butiran yang kasar dapat diperoleh untuk tujuan penyumbatan.
Butiran-butiran khusus tidak dapat melalui 80 mesh screen, sehingga akan
terekstraksi pada awal sirkulasi.

Kerugian :
Pada umumnya suspensi barite memerlukan viskositas yang lebih tinggi.
Barite, dalam packer fluid yang tinggi akan menyebabkan pengendapan,
sehingga menyebabkan kesulitan dalam pekerjaan workover.

b. Galena
Galena mempunyai specific gravity 3.8 dan digunakan dalam pengontrolan
problem-problem sumur khusus. Galena mampu menaikkan densitas lumpur
sampai 32 ppb. Galena umumnya tidak cocok dalam operasi pemboran karena
adanya problem suspensi.

Page 269 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

c. Calsium Carbonate
Adalah merupakan aditif yang digunakan dalam fluida workover dan packer
fluids utuk menaikkan densitas fluida. Calsium carbonate mempunyai specific
gravity 2.7 dan dapat menghasilkan densitas lumpur 12.0 ppg.
Keuntungan :
1. Calcium carbonate lebih ekonomis dari pada agent-agent lainnya.
2. Lebih mudah tersuspensi daripada barite.
3. Calcium carbonate lebih mudah diambil dari formasi untuk mengurangi
kerusakan formasi.

Kerugian :
Densitas maksimum yanng diperoleh hanya 12.0 ppg.

d. Brine Solution
Diperoleh dengan menggunakan berbagai macam garam. Tabel berikut
menyajikan densitas maksimum yang dapat dicapai dari setiap jenis garam :

Densitas
Garam
Maksimum (ppg)

Sodium Chloride (NaCl) 10.8

Calcium Chloride (CaCl) 11.7


2 2
Zinc Chloride & Calsium Chloride (ZnCl dan CaCl ) 14.0
2
Zinc Chloride (ZnCl ) 17.0

Keuntungan :
1. Sodium Chloride dapat digunakan secara ekonomis karena densitas agent
tanpa perlu penambahan bentonite untuk kemampuan suspensinya.
Lumpur ini efektif digunakan pada pemboran atau packer fluid.
2. Calcium Chloride umumnya digunakan sebagai density material dalam
packer fluids.

Kerugian :
1. Larutan sodium chloride jenuh pada 10.8 ppg.
2. Calcium chloride menndatangkan problem ketika digunakan sebagai
lumpur pemboran karena laju korosinya cukup menyolok jika
berhubungan dengan udara.
3. Zinc Chloride mahal
4. Zinc chloride sangat korosif terhadap tubing dan casing.

Page 270 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.7.1.4. Pengatur pH (pH Adjuster)


Karena beberapa aditif lumpur pH-nya rendah dan karena pengoperasian optimum
range pH sistem lumpur, sehingga pada suatu saat perlu menambahkan bahan-
bahan yang akan merubah pH sistem lumpur. Karena pada umumnya aditif secara
alamiah bersifat asam, maka jarang bahwa pH-nya tinggi. Sebaliknya, biasanya pH
yang terlalu rendah harus dinaikkan.

pH adjuster harus ditangani dengan hati-hati, dengan menggunaan suatu chemical


barrel. Tidak menggunakan hopper atau dump secara langsung kedalam sistem.
Secara umum, ada tiga macam pH adjuster, yaitu Sodium Hydroxide (Caustic soda),
Potassium Hydroxide, dan Calcium Hydroxide. Sodium Hydroxide adalah
merupakan pH adjuster yang umum digunakan, sedangkan lainnya biasanya
digunakan untuk tujuan khusus.
Keuntungan :
1. Ketiga macam aditif tersebut dapat menaikan pH.
2. Sodium Hydroxide, karena tingginya tingkat aktivitas ion sodium, cenderung
menyebabkan jumlah terkecil clay inhibition.

Kerugian :
1. Semuanya dapat menyebabkan kulit terbakar.
2. Semuanya sangat korosif terhadap peralatan.
3. Potassium Hydroxide dan Calcium Hydroxide mempunyai karakteristik ihibitive
(menghalangi) yang kuat karena adanya ion-ion potassium dan calcium. Kedua
produk ini biasanya digunakan dalam lumpur untuk clay hidration inhibition.

6.7.2. Penggunaan Aditif-aditif Khusus


Lost Circulation Materials
Adalah merupakan material yang ditambahkan baik untuk mencegah lost
circultation atau untuk mendapatkan kembali sirkulasi setelah terjadi hilang
sirkulasi. Pada umumnya material-material ini digunakan tanpa pandang bulu dan
tanpa pemikiran-pemikiran sebelumnya.

Problem lost circulation secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
 Pertama, adalah problem hilang lumpur kedalam rongga-rongga, seperti zona
porous, vuggy limestone, shell reefs, gravel beds, atau gua-gua alami.
 Kedua, adalah lost circulation yang terjadi karena terlampauinya compressive
strength formasi. Kemungkinan penanganan untuk kategori pertama akan
tidak menyelesaikan problem rekah formasi. Maka, aditif lumpur harus dibagi
menjadi kelompok-kelompok yang dapat diterapkan pada setiap jenis lost
circulation tersebut.

Secara umum, tidak ada aditif lumpur yang dapat diaplikasikan dalam rongga-
rongga yang besar seperti gua-gua dibawah tanah. Drilling ©blindª dan setting

Page 271 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

casing string sering digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akan tetapi,
dalam rongga-rongga yang kecil, material penyumbat dapat secara efektif
menutup zona-zona tersebut.
Fibrous Materials - seperti ground leather atau ground sugar dari batang rotan
paling efektif pada rongga-rongga yang besar karena serat kasar tersebut dapat
memberikan kemampuan membungkus dengan baik. Problem lain yang mungkin
terjadi adalah penyumbatan bit jet dengan material ini.

Walnut Shells dan Ground Mica - dapat diperoleh dalam ukuran yang halus,
medium dan kasar dan biasanya cocok untuk menutup zona porous.

Cellophane Flakes - juga bekerja dalam cara yang sama dalam zona-zona porous.
Barite dan Bentonite - biasanya sangat efektif untuk penutupan formasi yang
porous.

Squeeze Techniques - mungkin efektif untuk menyelesaikan problem-problem lost


circulation ini. Squeeze adalah setiap material yang didesak masuk kedalam
formasi sebagai usaha untuk menutup formasi dari dalam. Setiap bahan yang
disebutkan diatas dapat digunakan dalam squeeze dan biasanya dalam jumlah
yang cukup banyak per barrel-nya.

Squeeze khusus menggunakan diesel-oil sebagai carrying agent yang dicampur


dengan bentonite atau semen sangat efektif. Semen atau bentonite tidak bereaksi
dengan minyak, tetapi akan bereaksi dengan lumpur atau air formasi.

Spotting Fluids - Fluida harus mempunyai sifat basah minyak (oil wetting). Hal ini
akan merusak water base filter cake.

Bahan-bahan :
 Minyak - biasanya diesel oil
 Surfactant - oil wetting purposes
 Suspension material to support barite.

6.7.3. Bahan-bahan Aditif Lumpur Minyak (Oil Based Mud)


(a). Oil Base
1. Biasanya berupa diesel oil
2. Dapat juga menggunakan minyak mentah (crude oil)

(b). Water in Emulsified Phase 5 - 50%


1. Surfactant menyebabkan tegangan permukaan
2. Berlaku sebagai material padat

Page 272 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

(c). Emulsifiers
1. Heavy molecular weight soap
3. Menaikkan tegangnan permukaan
4. Menghasilkan emulsi yang stabil
5. Cairan emulsifier bekerja lebih cepat, tetapi tidak membentuk emulsi yang
ketat.
6. Harus mempunyai stabilitas listrik 350 - 400 volt.

(d). Filtration Control Agent


1. Blown Asphalt - biasanya pada oil base muds
2. Organophillic atau hydrophobic clays (amine-treated clay).

(e). Suspension Agent dan Gelling Agent

(f). Clays-organophillic

(g). Calcium Chloride


Sebagai dehidrator formasi dan menjaga ukuran lubang.

6.7.4. Pengaruh Elektrolit terhadap Karateristik dan Sifat Fisik


Lumpur Pemboran
Kontaminasi oleh NaCl ( Sodium Chlorida ) akan merubah sifat fisik Lumpur.
Kontaminasi jenis ini terjadi jika terdapat air laut/garam atau pemboran lapisan
garam atau karena tekanan air garam yang lubang sumur selama operasi
pemboran berlangsung. Konsentrasi garam yang tinggi akan menimbulkan fluid
loss yang tinggi akibat pencegahan dehidrasi dan dispersi dari bentonit. Jika
konsentrasi sangat besar maka lumpur akan berubah menjadi lumpur jenis air asin
( Salt Water Type ).

Elektrolit NaCl merupakan material yang terdiri dari ionion positip dan negatip. Jika
Elektrolit NaCl ini dimasukkan ke dalam air maka ion positip dan ion negatip akan
tersebar.

Dengan adanya Elektrolit NaCl dalam sistem lumpur air tawar, keadaan ini akan
mempengaruhi Karakteristik dan Sifat-sifat Fisik dari Lumpur tersebut.

6.7.5. Pengaruh Temperatur terhadap Karakteristik dan Sifat Fisik


Lumpur.
Temperatur pengaruhnya sangat kuat terhadap kekentalan lumpur bor. Lumpur
bor menjadi encer dengan kenaikkan temperatur. Pengaruh temperatur ini
ditentukan oleh jenis dan kandungan padatan di dalam lumpur bor. Beberapa

Page 273 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

komponen dari lumpur pemboran stabil pada temperatur permukaan, tetapi pada
temperatur tinggi akan bereaksi secara cepat satu terhadap yang lain. Apabila
terjadi kontaminasi pada lumpur pemboran, maka reaksi kontaminant pada sistem
lumpur akan menjadi lebih cepat jika temperatur meningkat. Fluid loss akan
menjadi masalah jika temperatur lubang tinggi, dan ini akan menimbulkan masalah
lain seperti terjepitnya pipa bor serta problem shale. Temperatur tinggi dijumpai
pada pemboran sumur-sumur dalam, sehingga untuk mengontrol terhadap sifat-
sifat lumpur menjadi sulit. Ada beberapa dispersant dan fluid loss additive akan
terurai dan menjadi tidak efektif pada temperatur tinggi. Pengontrolan pada
karakteristik dan sifat-sifat lumpur pada temperatur tinggi adalah dengan menjaga
harga viskositas dan Gel Strengthnya agar tetap mampu menahan material
pemberat serta membersihkan lubang.

Pengaruh temperatur terhadap kekentalan lumpur dapat dilihat pada Gambar 6.12,
kurva 1 menunjukkan konsentrasi padatan berada pada titik B dan selanjutnya
dengan kenaikkan temperatur dispersi dari clay akan menghasilkan flokulasi dan
lumpur yang kental. Jika dibandingkan dengan kurva 2 kenaikkan temperatur akan
menghasilkan lumpur yang encer. Beberapa peneliti telah menyelidiki hasil test-
test laboratorium yang mengGambarkan kelakuan lumpur bor pada
temperaturtemperatur yang tinggi. Keadaan ini diselidiki oleh Barlett sebagai yang
ditunjukkan pada Tabel 6-1. Dari Tabel dapat dicatat Viskositas Plastik turun secara
drastis dengan kenaikkan temperatur. Pada Tabel 6-1 dapat juga menunjukkan
kelakuan Yield Point sebagai fungsi dari kenaikkan temperatur yang tidak teratur.

Tabel 6-1. Data Fann Yang Tersimulasi

Temp oF Reading at Reading at Plastic Yield Point


1022 sec-1 511 sec-1 Viscosity.Cps 16/100 ft2
68 136 70 66 4
72 11 62 49 13
120 83 47 36 11
160 62 34 27 7
220 40 25 15 10
320 32 22 10 12

Page 274 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.12. Viscositas Tehadap Kandungan Padatan

Penurunan Viskositas Plastik dengan naiknya temperatur akan menyebabkan makin


encernya lumpur bor. Prinsip ini dikuat pada Gambar 6.13 yang Viskositas air yang
telah ternormalisasi sebagai bandingan terhadap Viskositas Plastik dari lumpur
terhadap temperatur, pada Gambar ini juga memperlihatkan kekentalan dari air
dan lumpur akan mengalami penurunan yang sama dengan kenaikkan temperatur
sampai temperatur 220 oF dicapai. Mulai titik ini dan seterusnya Viskositas Plastik
dari lumpur bor tidak turun terhadap Kenaikkan temperatur. Dan akan tergantung
pada jenis dari lumpur itu. Pada Tabel (6.1) Viskositas Plastik lumpur bor sebesar 10
cp

Gambar 6.13. Pengaruh Temperatur Pada Viskositas Plastik


dari Water Base Mud pada 320oF dan 50 cp
pada 220oF

Page 275 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Temperatur mempunyai akibat yang kuat pada sifat-sifat aliran dari lumpur bor.
Tabel (6.1) dapat digunakan untuk memperkirakan pengaruh temperatur pada
kekentalan lumpur bor jika tidak terjadi flokulasi pada lumpur bor. Data dari Tabel
(6.1) didasarkan secara lengkap pada pengaruh temperatur pada keenceran air
yang ditunjukkan pada Gambar (6.13).

Temperatur akan mempengaruhi besarnya viskositas lumpur pemboran. Besarnya


temperatur mempengaruhi jarak intermolekul. Untuk cairan, jarak antara molekul-
molekul naik dengan naiknya temperatur, yang akan menurunkan gayagaya kohesi
sehingga viskositas fluida akan turun.

Untuk gas, temperatur naik menyebabkan gaya-gaya getaran dari molekul-molekul


naik dan gaya kohesi turun. Pada prakteknya gaya-gaya vibrasi (getaran) dari gas
melampaui gaya kohesi, sehingga menghasilkan kenaikkan viskositas dengan
naiknya temperatur.

6.7.6. Perhitungan Additive lumpur


1. Hukum Konsentrasi Massa :
M3 = M1 + M2 ................................................................................................................ (6-21)
V3 = V1 + V2 .................................................................................................................... (6-22)
M 3 M1  M 2
3   ................................................................................................. (6-23)
V3 V1  V 2

2. Untuk meningkatkan densitas dari ke per 1 bbl volume lumpur awal:


a. Masa barite yang dibutuhkan, M:
(  3  1) barite
M  1491 lb / bbl lumpur ...................................................... (6-24)
(35.5   3)

dimana densitas dalam ppg, 1 ppg = 1/7.48 pcf.


b. Jumlah Sack barite, S:
 3  1
S  15.9 sk / bbl / bbl lumpur ............................................................. (6-25)
35.5   3

c. Penambahan volume pit dalam satuan barrel, V:


(  3  1)
bbl
V  / bbl lumpur ......................................................................... (6-26)
(35.5   3)

3. Untuk Menurunkan desitas dari volume Lumpur awal


a. Volume liquid (air atau diesel oil) V2 dalam bbl yang dibutuhkan :
(  3  1)
V 2  V1 ............................................................................................... (6-27)
(  2   3)

Page 276 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dimana :
V1 = Volume lumpur awal, bbl
V3 = Volume lumpur akhir, bbl
1 = densitas lumpur awal
2 = densitas dari penambahan liquid
3 = densitas akhir campuran

(  3  1)
V1  V 3 ............................................................................................... (6-28)
(  2   3)
( 1   3)
V2  V3 ............................................................................................... (6-29)
( 1   2)

b. Densitas akhir lumpur


V2
 3  1  ( 1   2) ………………………………………………………………….. (6-30)
V3
V2
3  ( 1   2) ………………………………………………………………….. (6-31)
V1  V 2

Menaikan Densitas Lumpur


Contoh 1.
Hitung Jumlah penambahan barite (sk/100 bbl) untuk menambah densitas dari 100
bbl lumpur dengan densitas 12.0 ppg (W1) menjadi 14.0 ppg (W2)

Rumus :
1470(W 2  W 1)
Barite, sk/100 bbl =
35  W 2

Contoh 2.
Hitung pertambahan volume, ketika menaikan densitas dari 12.0 ppg (W1) menjadi
14.0 ppg (W2) dengan menambahkan barite (SG=4.2).
100(W 2  W 1)
Pertambahan volume/100 bbl =
35  W 2

Contoh 3.
Hitung volume awal (bbl) dari 12 ppg (W1) lumpur, apabila diketahui 100 bbl (VF),
14.0 ppg (W2) lumpur dengan barite (SG=4.2).
Rumus :
VF (35  W 2)
Volume awal, bbl =
35  W 1

Page 277 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Menurunkan Densitas
Contoh 1a.
Hitung Jumlah air yang diperlukan (bbl), untuk menurunkan 100 bbl (V1) lumpur
dari 14.0 ppg (W1) menjadi 12.0 ppg (W2) diketahui densitas air 8.33 ppg (DW).
Rumus :
V 1(W 1  W 2)
Air, bbl =
W 2  DW

Contoh 1b.
Hitung jumlah diesel yang diperlukan untuk mengurangi densitas 100 bbl (V1),
14.0 ppg (W1) lumpur menjadi 12.0 ppg (W2), diketahui densitas diesel 7.0 ppg
(DW).
Rumus :
V 1(W 1  W 2)
Diesel, bbl =
W 2  DW

Contoh 2.
Tentukan jumlah barite yang dibutuhkan untuk mengubah densitas dari 12.53 ppg
ke 13.7 ppg. Hitung peningkatan volume di pit yang disebabkan karena
penambahan barite untuk menaikan densitas tersebut. Volume lumpur awal
diketahui 63 bbl.

Contoh 3.
Tentukan densitas lumpur dasar air (water base mud) yang mengandung 5 % berat
bentonite. Densitas bentonite adalah 20.8 ppg.

Contoh 4.
Dibutuhkan fluida untuk mengurangi densitas dari 25.1 ppg ke 22.6 ppg agar
mengurangi permasalahan loss sirkulasi. Hitung volume air dan oil yang
dibutuhkan untuk membawa densitas lumpur turun sesuai dengan yang
diinginkan.
Apabila oil yang digunakan, berapa persenkah oil di dalam lumpur jika volume
lumpur awal adalah 629 bbl. Densitas adalah 3.87 ppg.

Menaikan Densitas
Contoh 5.
Hitung densitas suatu lumpur yang diperoleh dengan menambahkan 40 lbm
bentonite (SG=2.60) dan barite (SG=4.20) ke dalam 1 bbl air.

Contoh 6.
Untuk menaikan densitas 700 bbl lumpur dari 13 ppg menjadi 15 ppg diperlukan
penambahan barite (SG=4.20). Agar kekentalan lumpur tetap terjaga, maka tiap
penambahan 100 lbm barite akan ditambah 1 galon air. Jika volume akhir tidak
terbatas, hitung jumlah air dan barite yang diperlukan.

Page 278 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Contoh 7.
Untuk menaikan densitas sejumlah 1000 bbl lumpur dari 10 ppg menjadi 13 ppg
diperlukan penambahan barite. Jika volume total lumpur dibatasi hingga 1000 bbl,
hitung jumlah lumpur lama yang harus dibuang dan barite (SG=4.20) yang harus
ditambahkan.

Volume lumpur lama yang diperlukan


 (4.20 x8.33)  13 
 1000 x    880
 4.20 x8.33)  10 

Volume lumpur lama yang harus dibuang = 1000 - 880 = 120 bbl
Massa barite yang diperlukan = (4.20 x 8.33) x (42 x 120 ) = 176400 lbm

Contoh 8.
Untuk menaikan densitas sejumlah 1000 bbl lumpur dari 10 ppg dengan kadar
solid 6% menjadi 13 ppg dengan kadar solid 3.5% diperlukan penambahan air dan
barite. Jika volume total lumpur dibatasi hingga 1000 bbl, hitung jumlah lumpur
lama yang harus dibuang serta air dan barite (SG=4.20) yang harus ditambahkan.
Volume lumpur yang diperlukan
Volume lumpur lama yang harus dibuang = 1000 - 583 = 417 bbl
Jumlah air yang ditambahkan
  (4.20 x8.33)  13) x1000  left (4.20 x8.33)  10x583 
 
 (4.20 x8.33)  8.33 
Massa barite yang diperlukan = (4.20 x8.33) x [42 x (1000 - 583 - 278)]
= 204330 lbm

6.8 Teknik Pemboran AERASI (Lumpur + Udara)

6.8.1. Pendahuluan
Pemboran aerasi adalah pemboran yang menggunakan lumpur aerasi sebagai
fluida pemboran. Pemboran aerasi merupakan salah satu metoda pemboran
underbalanced dengan tujuan utama mencegah masalah hilang sirkulasi. Metoda
ini pertama kali dilakukan oleh Philip Petroleum Company pada tahun 1953 di
Emory County, Utah8).

6.8.2. Pengertian Lumpur Aerasi


Lumpur aerasi adalah lumpur pemboran yang terdiri dari dua fasa yaitu lumpur
biasa sebagai fasa kontinu dan udara sebagai fasa diskontinu. Penambahan udara

Page 279 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

ke dalam lumpur akan memperbesar volume cairan sehingga densitas lumpur


aerasi lebih kecil dari lumpur biasa.

Penurunan densitas tergantung dari perbandingan udara dan cairan dalam lumpur
aerasi, semakin besar volume udara maka densitas lumpur aerasi makin rendah.
Menurut Zhou11), densitas lumpur aerasi berkisar 0,45 - 1,2 gr/cc atau 28,1 - 74,9
pcf.

Lumpur aerasi digunakan pada pemboran di daerah yang mempunyai masalah


hilang sirkulasi. Lumpur aerasi lebih diharapkan sebagai pencegah terjadinya hilang
sirkulasi untuk menekan biaya pemboran daripada sebagai penanggulangan
masalah tersebut. Penanggulangan hilang sirkulasi lebih mudah pelaksanaannya
dengan menggunakan LCM, blind drilling, dan cement plug.

6.8.3. Komponen Lumpur Aerasi


Komponen lumpur aerasi terdiri dari dua bagian utama yaitu udara dan lumpur
biasa. Dalam lumpur aerasi, kedua komponen ini bercampur dengan perbandi-
ngan tertentu sehingga lumpur aerasi mempunyai sifat-sifat turunan dari kedua
komponen tersebut.

6.8.3.1. Udara
Udara di alam terbentuk dari campuran gas-gas dengan komposisi tertentu, yaitu
78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% gas-gas lain seperti argon, neon, dan lain-lain.
Karena udara tersedia di bumi dalam jumlah banyak, maka biaya penyediaan udara
sangat murah. Udara juga tidak beracun sehingga setelah digunakan sebagai
campuran lumpur aerasi dapat dibuang langsung ke alam tanpa merusak
lingkungan.

Keuntungan menggunakan udara sebagai fluida sirkulasi dalam pemboran antara


lain:
 meningkatkan laju penetrasi karena udara mengurangi tekanan hidrostatis
pada formasi yang sedang dibor, sehingga batuan lebih mudah terlepas untuk
menyeimbangkan perbedaan tekanan. Laju penetrasi di kebanyakan formasi
dapat meningkat 100% dibandingkan menggunakan fluida pemboran yang
lain.
 tidak menyebabkan kerusakan formasi, karena udara memiliki berat yang
sangat ringan dibandingkan fluida pemboran lain.
 fluida formasi dapat diketahui seketika karena udara membentuk sistem
underbalanced di depan formasi sehingga fluida formasi masuk ke dalam
sumur.
 udara dapat digunakan untuk pemboran formasi batuan kering atau formasi
batuan basah. Penginjeksian udara ke dalam lumpur bertujuan mengimbangi

Page 280 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

tekanan formasi sehingga tidak terjadi masalah hilang sirkulasi atau masalah
kick.

Udara merupakan fluida kompresibel yang volumenya dipengaruhi tekanan dan


temperatur. Karena densitas lumpur aerasi dipengaruhi oleh volume udara maka
densitas lumpur aerasi berbeda disetiap kedalaman.

6.8.3.2. Lumpur Biasa


Lumpur biasa digunakan dalam pemboran overbalanced, dimana komponen
utamanya adalah air (water-base mud), atau minyak (oil-base mud). Komponen lain
adalah aditif yang membentuk sifat-sifat lumpur seperti densitas, viskositas, gel
strength, dan lain-lain.

Kebanyakan pemboran menggunakan air sebagai bahan dasar utama lumpur,


karena lebih mudah diperoleh dan murah dibandingkan dengan minyak. Lumpur
berbahan dasar minyak, khusus dipakai untuk membatasi pengembangan shale.

Pada beberapa daerah operasi pemboran, terdapat formasi-formasi bertekanan


rendah, memiliki permeabilitas tinggi, atau rekahan dan patahan, dimana lumpur
biasa tidak efisien digunakan sebagai fluida pemboran. Ketidakefisienan lumpur
biasa karena tekanan hidrostatis yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hilang
sirkulasi. Udara merupakan fluida yang memiliki densitas jauh lebih ringan dari air,
dan ditinjau dari segi biaya, penggunaan udara sangat ekonomis. Tapi karena
formasi yang hendak ditembus memiliki fluida formasi yang banyak, maka
penerapan udara sebagai fluida pemboran hanya pada daerah-daerah tertentu.

Minyak memiliki densitas lebih rendah dari air, sehingga bisa digunakan sebagai
komponen utama lumpur menggantikan air. Karena dalam pemboran memerlukan
jumlah lumpur yang banyak maka dari segi biaya pemboran, penggunaan minyak
tidak ekonomis.

Lumpur aerasi merupakan pilihan terbaik pada daerah-daerah yang memiliki


masalah hilang sirkulasi. Lumpur aerasi terdiri dari lumpur pemboran biasa
ditambah penginjeksian udara kedalamnya. Ditinjau dari segi biaya, lumpur aerasi
menghemat biaya karena tidak membutuhkan pembuatan lumpur baru
menggantikan lumpur pemboran yang sedang dipakai, dan hanya membutuhkan
beberapa peralatan tambahan untuk proses penginjeksian udara.

6.8.4. Kelebihan dan Kekurangan Lumpur Aerasi


Lumpur aerasi mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan fluida
pemboran yang lain seperti udara, gas, busa, atau cairan (lumpur biasa).

Page 281 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Setelah bersirkulasi sebagai lumpur pemboran, lumpur aerasi melalui separator


udara-lumpur untuk proses pemisahan udara dan lumpur biasa. Kemudian lumpur
aerasi dibersihkan dari cutting, dan lumpur aerasi kembali menjadi lumpur biasa.
Lumpur biasa akan membentuk kembali menjadi lumpur aerasi dengan
menginjeksikan udara. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh pemboran busa yang
menggunakan busa sebagai fluida pemboran, dimana setelah bersirkulasi busa
tidak bisa digunakan lagi.

Lumpur aerasi dapat digunakan untuk pemboran di formasi-formasi bertekanan


rendah dimana masalah hilang sirkulasi terjadi jika menggunakan lumpur biasa
walau hanya menggunakan air ditambah viscosifier. Lumpur aerasi juga dapat
digunakan pada formasi yang mengandung fluida formasi yang banyak dimana
pemboran air/gas tidak dapat berfungsi dengan efisien.

Kemampuan udara/gas dalam meningkatkan laju penetrasi pada pemboran air/gas


juga dimiliki oleh lumpur aerasi dibandingkan laju penetrasi pada pemboran
konvensional yang menggunakan lumpur biasa.

Kemudahan dan kecepatan menembus suatu formasi ketika pemboran merupakan


fungsi dari tekanan hidrostatis terhadap formasi seperti ditunjukkan Gambar 6.14.
Fenomena ini ditunjukkan oleh Murray dan Cunningham8).

Kerusakan formasi produktif lebih kecil jika tekanan hidrostatis sirkulasi lumpur
lebih besar sedikit daripada tekanan formasi. Jadi lumpur aerasi dapat berfungsi
sebagai fluida pemboran pada pemboran overbalanced atau pemboran
underbalanced, hanya dengan mengatur perbandingan udara dan lumpur biasa.

Gambar 6.14. Hubungan Laju Penetrasi dan Tekanan


Hidrostatis

Ukuran cutting yang diperoleh dari pemboran dengan menggunakan lumpur


aerasi hampir sama dengan ukuran cutting dari pemboran yang menggunakan
lumpur biasa, dibandingkan ukuran cutting pemboran air/gas yang berbentuk

Page 282 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

serbuk. Ukuran cutting ini memudahkan untuk dianalisa dan dijadikan petunjuk
formasi yang sedang ditembus.

Pemboran aerasi tidak menyebabkan terjadinya pembesaran lubang (washout)


dibandingkan dengan pemboran yang menggunakan lumpur biasa. Hambatan
pada dinding lubang sumur akan diperkecil dengan adanya udara dalam lumpur
aerasi.

Masalah korosi yang terjadi pada pemboran lumpur aerasi merupakan masalah
korosi paling besar dalam pemboran underbalanced, karena adanya udara dan
cairan dalam lumpur aerasi.

Dengan penanganan yang memadai seperti pemilihan dan penggunaan air,


pengaturan pH > 8, dan penggunaan korosi inhibitor maka masalah korosi dapat
dikurangi, sehingga pemboran dengan menggunakan lumpur aerasi dapat
dijadikan alternatif pemilihan teknik pemboran yang baik.

Masalah keselamatan juga perlu menjadi perhatian karena penggunaan udara yang
mengandung oksigen jika bertemu dengan hidrokarbon dan panas yang cukup
akan mengakibatkan bahaya kebakaran dan ledakan, walaupun masalah ini lebih
kecil daripada pemboran udara/gas karena adanya lumpur biasa.

Pemboran aerasi membutuhkan peralatan tambahan seperti kompresor


penginjeksi udara, penyekat drillstring, pipa udara, dan separator udara-lumpur.
Tetapi biaya pengadaan peralatan tambahan ini bisa ditekan karena penggunaan
udara dan ketersediannya di alam, membuat lumpur aerasi lebih ekonomis
dibandingkan jika penggunaan gas-gas pada pemboran udara/gas.

Pemboran aerasi tidak menjamin proses penyemenan biasa berjalan lancar tanpa
terjadi hilang semen. Hal ini karena lumpur aerasi tidak membentuk penyekat pada
zona loss. Penggunaan Lost Circulating Material (LCM), penyemenan dengan foam
cement, dan mengatur densitas lumpur aerasi agar lebih tinggi dari tekanan
formasi tanpa menyebabkan hilang sirkulasi akan mengatasi masalah ini.

6.8.5. Distribusi Gelembung dalam Lumpur Aerasi


Penginjeksian udara kedalam lumpur akan membentuk distribusi gelembung udara
yang berukuran makin kecil jika berada semakin dalam karena pengaruh tekanan
dan temperatur.

Distribusi gelembung dalam lumpur aerasi terbagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Ketika lumpur aerasi bersirkulasi
2. Ketika lumpur aerasi tidak bersirkulasi

Page 283 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.8.5.1. Lumpur Aerasi ketika Bersirkulasi


a. Di dalam drillstring.
Distribusi gelembung dalam drillstring terjadi ketika udara pertama kali
diinjeksikan ke dalam lumpur di permukaan hingga ke dasar sumur.
Gelembung udara cenderung bergerak ke atas karena densitas yang lebih kecil
daripada densitas lumpur. Kecepatan slip gelembung udara dalam pipa adalah
selisih kecepatan lumpur menuju ke dasar sumur terhadap kecepatan
gelembung untuk bergerak ke permukaan. Perubahan tekanan dan temperatur
yang semakin tinggi ke arah bawah, menyebabkan volume gelembung akan
semakin kecil, sehingga kecepatan slip masing-masing gelembung akan
berbeda. Kecepatan slip harus lebih besar dari nol pada gelembung berukuran
paling besar, sehingga gelembung akan mengikuti aliran lumpur ke bawah.

b. Di anulus
Ketika lumpur aerasi keluar dari bit, terjadi penurunan tekanan yang besar
sehingga menimbulkan efek pengembangan gelembung udara yang
terkompresi. Setelah mengembang, gelembung udara akan terkompresi
kembali menjadi gelembung udara berukuran kecil dan bergerak ke
permukaan bersama dengan aliran lumpur dan cutting.

Gelembung udara bergerak menuju ke permukaan bersama dengan aliran


lumpur sehingga kecepatan gelembung bergerak ke atas merupakan
penjumlahan dari kecepatan slip gelembung terhadap aliran lumpur dan
kecepatan aliran lumpur. Kecepatan gelembung ini akan makin besar bila
ukuran gelembung makin besar. Jika pola aliran slug terbentuk, maka
kecepatan gelembung udara akan makin besar dan memberikan efek piston
terhadap lumpur di atasnya sehingga dapat membahayakan keselamatan
disamping terbatasnya kemampuan BOP dalam menahan tekanan dari dasar
sumur.

Cutting bergerak ke bawah dengan kecepatan terminalnya melawan arus


pergerakan gelembung udara dan aliran lumpur. Kecepatan aliran lumpur
aerasi harus lebih besar dari kecepatan slip dan terminal cutting.

6.8.5.2. Lumpur Aerasi dalam Keadaan Tidak Bersirkulasi


a. Di dalam drillstring
Lumpur tidak bersirkulasi ketika pemboran sedang melakukan penyambu-
ngan atau pelepasan drillstring (proses tripping). Gelembung udara yang
berdensitas ringan cenderung bergerak ke atas dan menimbulkan pergerakan
permukaan lumpur ke bawah sementara gelembung udara terus keluar dari
lumpur.

Keluarnya gelembung udara dari lumpur tidak diinginkan, karena


menyebabkan densitas lumpur di bagian bawah makin berat dan tekanan

Page 284 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

udara yang besar dari gelembung yang keluar dapat membahayakan proses
tripping tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mengurangi bahaya adalah dengan


memompakan lumpur biasa saja (tanpa injeksi udara) hingga minimal
mencapai satu joint atau mencapai check valve. Tujuan pemasukan lumpur
biasa adalah untuk memberikan tekanan terhadap lumpur sehingga
gelembung akan bergerak lambat ketika menuju permukaan.

b. Dianulus
Berhentinya sirkulasi lumpur aerasi dapat menyebabkan cutting turun ke dasar
sumur. Kecepatan cutting untuk turun (kecepatan terminal) diperkecil karena
sifat gel strength dari lumpur dan gerakan gelembung udara ke permukaan
yang menabrak cutting.

6.8.5.3. Pengaruh Tekanan Permukaan terhadap Distribusi Gelembung


Distribusi gelembung dan pola aliran dalam drillstring berbeda daripada di anulus
seperti ditunjukkan dalam Gambar 6.15.
Perbedaan distribusi gelembung dan pola aliran tersebut disebabkan:
 Perbedaan arah aliran di dalam drillstring dan anulus
 Perbedaan tekanan di permukaan, dimana tekanan di dalam drillstring
dipengaruhi tekanan lumpur sedangkan tekanan di permukaan anulus (blooie
line) dipengaruhi tekanan udara.
 Adanya cutting dalam aliran lumpur di anulus yang mempe-ngaruhi densitas
lumpur aerasi.

Gambar 6.15. Pengaruh Tekanan terhadap Distribusi


Gelembung Udara

Perhitungan parameter-parameter di anulus tergantung pada hasil perhitu-ngan


parameter-parameter di dalam drillstring. Di dalam drillstring, perhitu-ngan
dilakukan dengan menggunakan metoda White15) untuk mengetahui densitas

Page 285 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

lumpur aerasi di setiap kedalaman. Tekanan hidrostatis dalam drillstring di setiap


kedalaman, volume udara, dan temperatur dapat diketahui. Perhitungan di anulus,
menggunakan data-data dari dalam drillstring dan dengan menggunakan
hubungan PV/T = konstan, dapat diketahui densitas lumpur aerasi dan pola aliran
di anulus.

6.8.6. Pola Aliran Dua Fasa


Aliran lumpur aerasi ketika bersirkulasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu di dalam
drillstring dan di dalam anulus. Pola aliran dua fasa terjadi di dalam drillstring
sedangkan di anulus akan terbentuk aliran tiga fasa, karena adanya cutting yang
ikut mengalir bersama lumpur aerasi.

Karena konsentrasi cutting dalam lumpur aerasi sangat kecil (kurang dari 4%) maka
pola aliran dua fasa dapat juga berlaku di dalam anulus.

Ada empat pola aliran dua fasa, yaitu :


1. Pola aliran Bubble, dimana perbandingan gas dan cairan rendah dan gradien
tekanan alir mula-mula adalah tekanan statis ditambah hambatan cairan. Besar
hambatan tergantung pada kecepatan. Pada pola ini, densitas lumpur sudah
berkurang, namun sifat-sifat cairan masih mendominasi. Pola aliran bubble
adalah pola aliran yang diinginkan. Ciri-ciri pola aliran bubble adalah distribusi
gelembung merata untuk kedalaman yang sama, aliran lumpur ketika keluar
dari anulus tidak terputus-putus (kontinu), densitas lumpur aerasi yang keluar
lebih rendah dari yang masuk.

2. Pola aliran Slug, berlaku untuk kecepatan cairan kurang dari 79 ft/min dan
kecepatan gas lebih cepat sehingga gelembung bergabung dan membentuk
pola aliran slug yang berukuran mendekati diameter pipa. Kecepatan cairan
tidak konstan, kerena slug selalu bergerak ke atas; pada kecepatan tinggi
cairan ikut bergerak ke atas, tetapi pada kecepatan rendah, cairan bergerak ke
bawah. Ciri pola aliran slug antara lain: distribusi gelembung pada pola aliran
ini tidak merata, aliran lumpur yang keluar dari anulus terputus-putus dan
menyebar. Karena terjadi pemisahan antara udara dan lumpur pada pola aliran
ini, maka densitas lumpur yang keluar dari anulus lebih besar diban-dingkan
jika pola aliran lumpur adalah bubble.

3. Pola aliran Transisi Slug-Anular, ketika kecepatan alir udara makin cepat, maka
pola aliran slug akan pecah dan membentuk pola aliran transisi slug-anular.
Pada pola aliran slug dan transisi slug-anular, hambatan dinding pipa
diabaikan. Volume udara yang terkandung dalam slug atau transisi slug-anular
jauh lebih besar dari pada volume udara pada gelembung, hal ini akan
mempertinggi kecepatan gelembung untuk bergerak ke atas sehingga terjadi
perbedaan densitas lumpur aerasi pada bagian slug atau transisi slug-anular

Page 286 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dan bagian bawah slug. Pada pipa vertikal, makin dalam terbentuknya pola
aliran slug atau transisi slug-anular, maka kecepatan slip makin tinggi, dan
mendorong lumpur di atasnya sehingga tekanan lumpur di permukaan akan
lebih tinggi. Hal ini dapat membahayakan operasi pemboran.

4. Pola aliran Mist, jika aliran cairan masih kurang dari 79 ft/min, tetapi kecepatan
aliran udara lebih dari 2953 ft/min, maka pola aliran slug akan berubah
menjadi pola aliran mist. Pada pola aliran ini, fasa gas akan menjadi fasa
kontinu dan cairan akan berbentuk butiran halus (droplet) dan menempel di
dinding membentuk film, pada pola aliran ini hambatan dinding merupakan
faktor terbesar penyebab kehilangan tekanan.

Kecepatan gelembung berukuran kecil untuk bergerak ke atas lebih kecil daripada
gelembung yang berukuran lebih besar. Berdasarkan persamaan Stoke15) di
bawah ini dapat diketahui hubungan diameter gelembung (dianggap berbentuk
bola) dan kecepatan slip gelembung terhadap cairan dalam keadaan statis (tidak
bersirkulasi).

138x( a  m) xdb2


Vslip  .......................................................................................... (6-32)
m

dimana :
vslip = kecepatan slip (ft/s)
a = densitas udara (ppg)
m = densitas lumpur (ppg)
db = diameter gelembung (ft)
m = viskositas lumpur (cp)

Harga vslip akan negatif yang menunjukkan gelembung bergerak menuju ke atas.
Ketika bersirkulasi harus diperhitungkan juga kecepatan aliran lumpur dan pe-
ngaruh dari putaran drillstring.

Page 287 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.16. Pola Aliran Dua Fasa dalam Pipa Vertikal

Untuk mengetahui pola aliran yang terjadi dalam pipa, dapat menggunakan
bilangan Froude sebagai berikut :
 
 
 Qa  Qm 
Fr  ................................................................................................................... (6-33)
 Aa 
 
 g c xd av 

dimana :
Fr = bilangan Froude (tak berdimensi)
Aa = luas anulus (sq ft)
gc = percepatan gravitasi = 32,174 ft/sec2 = 115826,4 ft/min2
dav = diameter rata-rata = (D1 + D2)/2 , ft

Perbandingan laju aliran udara di dalam lumpur aerasi diketahui dengan


persamaan :
Qa
Xa  ....................................................................................................................... (6-34)
Qa  Qm

Bilangan Froude dan fraksi udara kemudian diplotkan pada Gambar 6.17. di bawah
ini untuk mengetahui pola alirannya.

Page 288 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.17. Chart Froude Untuk Pola Aliran Dua Fasa


dalam Pipa Vertikal

6.8.7. Sifat-sifat Lumpur Aerasi


Pada dasarnya penginjeksian udara ke dalam lumpur tidak mengubah sifat-sifat
kimia dari lumpur, tetapi hanya sifat fisika. Setelah bersirkulasi, lumpur aerasi
kembali menjadi lumpur biasa. Sifat-sifat fisika yang perlu dibahas antara lain :
densitas, viskositas, dan gel strength.

6.8.7.1. Densitas
Densitas lumpur aerasi tergantung dari densitas lumpur awal, volume lumpur,
densitas udara, volume udara, tekanan, dan temperatur. Densitas terendah dicapai
ketika lumpur aerasi terbentuk pertama kali di permukaan, ketika bersirkulasi ke
bawah, densitas lumpur akan semakin besar. Hal ini disebabkan distribusi
gelembung yang tidak merata dalam lumpur aerasi. Karena gelembung udara
berdensitas lebih kecil dari densitas lumpur, maka gelembung cenderung bergerak
ke atas.

Berdasarkan persamaan White15) jika Qa, Qm, dan densitas lumpur awal tetap,
maka terdapat hubungan antara densitas lumpur aerasi terhadap kedalaman,
seperti ditunjukkan pada Gambar 6.18.

Page 289 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.18. Perubahan Densitas Lumpur Aerasi terhadap


Kedalaman

Udara merupakan fluida kompresibel, sedangkan lumpur merupakan fluida yang


inkompresibel. Kompresibilitas berhubungan dengan perubahan tekanan dan
volume seperti yang ditunjukkan persamaan kompresibilitas di bawah ini21) :
1 dV
cx   x ........................................................................................................................ (6-35)
V dP

Ketika lumpur aerasi bergerak ke bawah, tekanan sirkulasi lumpur aerasi akan
semakin besar, sehingga ukuran gelembung akan mengecil. Ukuran gelembung
yang mengecil dalam lumpur aerasi menyebabkan volume lumpur akan bertambah
besar dibandingkan volume udara yang semakin kecil, sehingga densitas lumpur
aerasi akan semakin besar bila tekanan dinaikkan.

Setelah melewati bit, lumpur aerasi mengalir melalui anulus dengan densitas
lumpur aerasi yang lebih besar karena adanya cutting dalam lumpur. Penurunan
tekanan sirkulasi lumpur aerasi ketika menuju permukaan menyebabkan
gelembung udara berekspansi memperbesar volume lumpur aerasi sehingga
densitas lumpur aerasi akan turun kembali dan setelah melalui separator udara-
lumpur dan peralatan pembersih cutting, densitas lumpur akan kembali seperti
semula (densitas lumpur biasa).

6.8.7.2. Viskositas
Viskositas lumpur aerasi didefinisikan sebagai ketahanan lumpur aerasi terhadap
aliran, dengan menggunakan satuan centipoise. Adanya gelembung udara dalam
lumpur mempengaruhi viskositas lumpur aerasi. Hal ini karena gelembung udara
akan memperkecil gesekan. Besarnya perubahan viskositas ini tergantung pada

Page 290 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

fraksi udara dalam lumpur aerasi. Asumsi yang digunakan adalah viskositas udara
dan lumpur biasa bersifat konstan.

Karena fraksi udara aliran lumpur aerasi berbeda-beda tergantung ke dalamannya,


maka viskositas lumpur aerasi memiliki sifat yang sama dengan sifat densitas
lumpur aerasi, dimana semakin dalam letak satu bagian lumpur aerasi, maka
viskositas lumpur akan semakin mendekati viskositas lumpur biasa, dan viskositas
terkecil terjadi ketika lumpur aerasi berada di permukaan.
f  X udara x udara  (1  X udara ) x lumpurbiasa .................................................................. (6-36)
dimana :
f = viskositas lumpur aerasi (cp)
Xudara = fraksi udara dalam lumpur aerasi
 udara = viskositas udara (cp)
 lumpur biasa = viskositas lumpur awal (cp)

Viskositas berpengaruh terhadap kecepatan slip lumpur untuk mengangkat cutting


ke permukaan, seperti yang ditunjukkan persamaan Stoke (1). Makin besar
viskositas maka kecepatan slip makin kecil sehingga cutting lebih mudah terbawa
aliran lumpur ke permukaan.

Karena viskositas lumpur aerasi makin kecil ketika mengalir ke permukaan, dan
berpengaruh terhadap kemampuan lumpur membawa cutting, maka viskositas
lumpur awal perlu menjadi perhatian dalam pemboran aerasi ini.

6.8.7.3. Gel Strength


Sifat gel strength lumpur adalah suatu kemampuan lumpur untuk tetap menahan
cutting ketika sirkulasi dihentikan. Kestabilan gelembung dan kecepatan lumpur
aerasi membentuk gel, tergantung pada gel strength lumpur awal. Gel strength
lumpur aerasi tidak mengalami perubahan berarti dibandingkan gel strength
lumpur awal, karena ketika berhenti sirkulasi dan gelembung bergerak ke atas,
maka komponen lumpur awal lebih mendominasi sifat-sifat gel strength lumpur
aerasi ini.

6.8.8. Kapasitas Pengangkatan Cutting


Kapasitas pengangkatan cutting tergantung dari laju alir fasa cair/lumpur.
Penurunan jumlah cairan dalam aliran lumpur akan meningkatkan kecepatan slip
cairan terhadap aliran udara. Karena cairan merupakan media pembawa cutting,
penurunan laju injeksi cairan akan berpengaruh pada kemampuan pengangkatan
cutting oleh lumpur aerasi.

Ketika bersirkulasi aliran lumpur di anulus berfungsi membawa cutting, sehingga


diperlukan perhitungan kecepatan minimum yang diperlukan untuk membawa

Page 291 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

cutting ke permukaan. Kecepatan slip adalah kecepatan cutting melawan aliran


lumpur ke arah dasar sumur.

Perhitungan kecepatan slip dapat menggunakan persamaan Rittenger12) dimana


drag koefisien diasumsikan = 0,94 , yaitu :
Dc ( c  f )
Vs  7.3x ..................................................................................................... (6-37)
f

dimana :
Vs = kecepatan slip (ft/s)
Dc = ekivalen diameter cutting (ft)
 c = densitas cutting (pcf)
f = densitas lumpur campuran (pcf).

Selain persamaan Rittenger di atas, kecepatan slip bisa dihitung berdasarkan


persamaan Stoke (1), dengan kondisi ekstrim dan memperhitungkan pengaruh
viskositas lumpur pemboran.

Ukuran maksimum cutting dapat diketahui dari laju penetrasi (ft/jam), dan
kecepatan putaran (RPM), sehingga 10):
ROPP
Dc  ........................................................................................................................ (6-38)
RPMx 60

Kecepatan cutting tergantung pada laju penetrasi dan konsentrasi cutting dalam
lumpur, seperti yang ditunjukkan persamaan di bawah ini 10):
ROP
vt  .......................................................................................................................... (6-39)
Ccx3600

dimana :
vt = laju untuk membawa cutting (ft/s)
ROP = laju penetrasi pemboran (ft/jam)
Cc = konsentrasi cutting (%)

Kecepatan lumpur di anulus merupakan kecepatan fluida 3 fasa dan dapat dihitung
denan menggunakan persamaan 10):
M
vf  ............................................................................................................................. (6-40)
FxAa

Qm
Qa   Qc
vf  7.48 ........................................................................................................... (6-41)
Aa

Page 292 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dimana :
vf = kecepatan lumpur (ft/s)
M = laju alir massa lumpur (lb/s)
Qa = laju volume udara (cfpm)
Qm = laju volume lumpur (gpm)
Qc = laju volume cutting (cfpm)
Aa = luas anulus (ft2).

Cutting akan terbawa ke permukaan, jika kecepatan lumpur di anulus lebih besar
dari kecepatan slip ditambah kecepatan cutting atau vf > vs + vt. Kecepatan aliran
lumpur di anulus ini harus pula didukung dengan viskositas lumpur yang tinggi.
Dengan meningkatnya viskositas lumpur maka efek pembersihan lubang sumur
dapat lebih baik. Menurut Williams18), rotasi drillstring dapat memperbesar efek
pembersihan cutting.

Kecepatan lumpur di anulus harus dibatasi agar tidak membentuk pola aliran
turbulen. Aliran turbulen di anulus dapat mengikis mud-cake pada dinding sumur
yang belum diberi casing. Pencegahan aliran turbulen dapat diindikasikan dengan
bilangan Reynolds dengan tidak lebih dari 2000. Batas ini dijadikan pegangan
untuk menentukan kecepatan maksimum aliran lumpur di anulus yang disebut
kecepatan kritik18).
8000 xf
Vca  ...................................................................................................... (6-42)
fxx(dh 2  dp 2 )

dimana :
vca = kecepatan kritik (ft/s)
mf = viskositas lumpur (cp)
dh = diameter lubang (ft)
dp = diameter luar drillpipe (ft)

6.8.9. Volume Udara Injeksi


Penentuan volume udara yang harus diinjeksikan sangat penting dalam
keberhasilan pelaksanaan pemboran aerasi, dimana jika terlalu sedikit maka
densitas lumpur aerasi tidak serendah yang diharapkan, dan masalah hilang
sirkulasi tidak dapat dicegah. Jika volume udara terlalu banyak, maka densitas dan
viskositas lumpur aerasi akan terlalu rendah, disamping dapat membahayakan
peralatan permukaan, juga dapat merusak dinding sumur karena aliran yang terjadi
makin cepat.

Makin besar volume udara, maka lumpur aerasi akan kehilangan kapasitas
pengangkatan cutting, karena viskositas lumpur akan makin kecil dan kecepatan
slip cutting terhadap aliran lumpur makin besar.

Page 293 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Metoda yang digunakan untuk menentukan jumlah udara yang diinjeksikan, antara
lain:
1. Metoda Poettmann & Begman
2. Metoda White
3. Metoda PV = konstan
4. Metoda PV/T = konstan

6.8.9.1. Metoda Poettmann & Begman


Penentuan jumlah udara yang diinjeksikan berdasarkan kedalaman sumur, densitas
lumpur sebelum dijadikan lumpur aerasi, dan selisih dari densitas lumpur aerasi
dan densitas lumpur biasa. Metoda ini menggunakan grafik yang dibuat oleh
Poettmann dan Begman, dan sudah umum digunakan dalam pemboran aerasi.
Menurut Rovig17), hasil perhitungan dari grafik Poetmann & Begman ini harus
dikurangi 10 - 15% ketika diterapkan di lapangan. Kelemahan grafik ini adalah
tidak ada grafik untuk kedalaman dibawah 3000 ft, sehingga tidak cocok
diterapkan di lapangan Duri.

Cara menggunakan grafik Poettmann & Begman :


1. Tentukan kedalaman pemboran dalam satuan feet pada skala bagian bawah
2. Tentukan densitas lumpur aerasi yang diinginkan (Wd)
3. Tentukan selisih densitas lumpur biasa dan densitas lumpur aerasi (Wa - Wd)
4. Tentukan jumlah udara yang dibutuhkan kubik kaki perbarel lumpur pada
skala bagian atas.

Gambar 6.19. Grafik Poettmann & Begman

Page 294 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.8.9.2. Metoda White


Tekanan dasar sumur atau tekanan di depan zona loss harus diturunkan dengan
menginjeksikan udara dalam jumlah tertentu. R.J. White15) telah membuat suatu
hubungan kedalaman (H, ft), densitas lumpur mula-mula (ri, pcf), dan densitas
lumpur di kedalaman tersebut (rf, pcf). Persamaan itu adalah:
n
4.72 x10  4 x( i  f )  x log( 4.72 x10  4.h.f  1) ...................................... (6-43)
100  n

n adalah fraksi udara dalam lumpur, dari fraksi ini dapat diketahui volume udara
yang harus diinjeksikan dalam volume lumpur tertentu.
n Qm
Qa  x ............................................................................................................ (6-44)
100  n 7.48

Dimana:
Qa = laju volume udara (cfpm)
Qm = laju volume lumpur (gpm)

Persamaan (6-43) digabungkan dengan persamaan (6-44) sehingga persamaan


White menjadi:
6.31x10 5.H .( i   pf )
Qa  xQm ...................................................................... (6-45)
(2.30.lo (4.72 x10 4.h.f  1)

Volume udara yang diinjeksikan akan menurunkan densitas lumpur, tetapi jumlah
yang diinjeksikan harus memperhatikan kemampuan aliran lumpur di anulus untuk
membawa cutting. Jika laju aliran lumpur lebih besar dari dari kecepatan kritik akan
membuat aliran turbulen dalam anulus, sementara jika lebih kecil dari kecepatan
slip dan kecepatan cutting, maka cutting tidak terbawa ke permukaan dan
mengendap di dasar sumur.

6.8.9.3. Metoda PV = konstan


Karena menggunakan gas (udara) untuk membentuk lumpur aerasi dan gas adalah
fluida kompresibel, maka hukum-hukum gas dapat digunakan untuk menentukan
jumlah udara yang diinjeksikan. Metoda ini dibahas oleh Fatah14).
Hukum gas ideal :
PxV  ZxRxT ......................................................................................................................... (6-46)

Dimana :
P = tekanan (psia)
V = volume (cuft)
Z = faktor kompresibilitas (untuk udara Z = 1)
R = konstanta gas = 10,732 psia.cuft/lb-mole.o
RT = temperatur (oR), yang diasumsikan berharga tetap untuk sumur dangkal.

Page 295 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Persamaan diatas dapat ditulis menjadi :


PxV  Kons tan ..................................................................................................................... (6-47)

Konstanta ditentukan dari harga tekanan dan volume udara di permukaan, dan
digunakan untuk memperhitungkan distribusi tekanan, volume, densitas udara, dan
densitas lumpur aerasi di setiap kedalaman sumur.
mxVm  axVa
f  ........................................................................................................ (6-48)
Vm  Va

dimana :
f = densitas lumpur aerasi (pcf)
 m = densitas lumpur biasa (pcf)
Vm = volume lumpur biasa (cuft)
 a = densitas udara (pcf)
Va = volume udara (cuft).

Dari densitas lumpur aerasi ini, dapat ditentukan gradien perubahan densitas,
sehingga bisa diketahui tekanan hidrostatik pada kedalaman tertentu, seperti
ditunjukkan pada persamaan:
 f (i  1) 
Pf i   Pf (i  1)    Di  Di  1 ............................................................. (6-49)
 144 

dimana :
Di = kedalaman i (feet).

Volume udara pada kedalaman i ditentukan berdasarkan sifat persamaan (6-46)


yang berharga konstan.
Psurf  Vsurf
Vai  ............................................................................................................. (6-50)
Pf (i)

Laju alir massa udara ditentukan berdasarkan persamaan berikut :


Wa ( surf )  a( surf ) xQa( surf ) ...................................................................................... (6-51)

dimana :
Wa(surf) = laju alir massa udara di permukaan (lb/min)
ra(surf) = densitas udara di permukaan (pcf)
Qa(surf) = laju alir volume udara di permukaan (scfm).

Laju alir ini bersifat konstan dan berlaku dalam penentuan densitas udara di setiap
kedalaman.

Kecepatan lumpur aerasi di anulus ditentukan berdasarkan persamaan berikut.

Page 296 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

 Qm 
   Qa
Vta   7.48 
................................................................................................................ (6-52)
Aa

dimana :
vfa = kecepatan lumpur aerasi di anulus (ft/min)
Qm = laju alir lumpur biasa (gpm)
Qa = laju alir udara (cuft)
Aa = luas anulus (sqft).

6.8.9.4. Metoda PV/T = konstan


Metoda ini tidak jauh berbeda dengan metoda PV = konstan, hanya terdapat
perbedaan variabel temperatur yang dianggap tidak konstan untuk setiap
kedalaman.

Persamaan (6-46) dapat ditulis menjadi :


PxT
............................................................................................................................................ (6-53)
T

Konstanta ditentukan dari harga tekanan, volume, dan temperatur udara di


permukaan, dan digunakan untuk memperhitungkan distribusi tekanan, volume,
temperatur, densitas udara, dan densitas lumpur aerasi di setiap kedalaman sumur.
Dari densitas lumpur aerasi ini, dapat ditentukan gradien perubahan densitas,
sehingga bisa diketahui tekanan hidrostatik pada kedalaman tertentu, seperti
ditunjukkan pada persamaan (6-49).

Ketika sumur di bor makin dalam, maka terjadi perubahan tekanan dan temperatur
untuk setiap kedalaman. Pada metoda ini diasumsikan gradien perubahan
temperatur (GT) bersifat tetap dalam satuan oF/100 ft.
Ti  Ti  1GT xDi .................................................................................................................... (6-54)

PsurfxVsurfxTf (i )
Va(i )  ................................................................................................ (6-55)
P(i ) xTsurf

Kecepatan lumpur aerasi di anulus ditentukan berdasarkan persamaan (6-52).


Metoda penentuan volume injeksi yang biasa dilakukan di dunia internasional
adalah metoda Poettmann & Begman, tetapi karena keterbatasan metoda ini untuk
Lapangan Duri (dengan kedalaman reservoir kurang dari 3000 ft), maka metoda
White digunakan untuk penentuan volume udara injeksi yang dibutuhkan pada
pemboran aerasi di Lapangan Duri ini.

Page 297 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Perbedaan volume udara injeksi yang dibutuhkan, berdasarkan keempat metoda


tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.2. Jumlah udara yang dibutuhkan diperoleh dari
data-data berikut :
Qm = 350 GPM ;
ri = 8,6 ppg = 64,3 pcf;
rf = 8,09 ppg = 60,5 pcf;
D = 8500 ft.

Tabel 6-2. Perbandingan Metoda Penentuan Volume Udara Injeksi

Perbedaan dari Metode


Metoda Qa(SCFM)
Poetman & Begman
Poetman & Begman 107.9 0%
White 130.44 20.90%
PV = konstan 688.8 519.80%
PV/T = konstan 546 406%

Menurut Rovig17), ketika melakukan pemboran aerasi, lebih baik kekurangan


jumlah udara daripada kelebihan udara yang diinjeksikan, untuk menjaga agar
tekanan hidrostatis tidak terlalu rendah sehingga terlalu banyak fluida formasi yang
masuk dan dinding sumur lebih mudah runtuh.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dan pendapat Rovig, maka metoda White
lebih baik digunakan daripada metoda PV = konstan atau PV/T = konstan.
Penerapan metoda White dapat dilakukan di Lapangan Duri dimana formasi
produktif terletak pada kedalaman kurang dari 1000 ft.

6.8.10. Metoda Pembuatan Lumpur Aerasi


Pembuatan lumpur aerasi terbagi menjadi 3 jenis berdasarkan cara menginjeksikan
udara kedalam lumpur, yaitu :
1. Penginjeksian melalui standpipe Metoda yang paling umum dilakukan pada
pemboran aerasi yaitu dengan menginjeksikan udara melalui standpipe.

Page 298 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.20. Penginjeksian Udara Melalui Standpipe

Faktor pembatas metoda ini adalah kemampuan memampatkan udara pada


peralatan permukaan dimana tekanan injeksi operasional terbatas pada
tekanan 1250 psi. Tekanan injeksi ini dapat mencapai kedalaman sumur bor
8000 - 9000 ft. Dibawah tekanan operasional ini, tekanan injeksi pada
standpipe akan terlalu tinggi untuk diatasi tekanan udara dari kompresor.

2. Penginjeksian melalui parasite stringParasite string adalah pipa tambahan


yang menempel pada casing intermediate dan berfungsi menginjeksikan
udara kedalam anulus diantara casing dan drillpipe.

Page 299 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6-21. Penginjeksian Udara Melalui Parasite String

Penentuan kedalaman titik injeksi parasite string berdasarkan antisipasi


penurunan tekanan maksimum untuk mencegah terjadinya hilang sirkulasi.
Total penurunan tekanan adalah fungsi dari kedalaman tubing, perbandingan
udara dan lumpur, dan densitas lumpur.

3. Penginjeksian melalui jet subsMetoda penginjeksian melalui jet subs


merupakan kombinasi dua cara penginjeksian di atas. Penginjeksian dilakukan
melalui beberapa jet sub pada drillstring. Penempatan jet sub berdasarkan
perbedaan densitas lumpur dan kedalaman sumur total dan pada posisi
drillstring masih berada di dalam casing intermediate. Menempatkan jet sub
ketika drillstring berada di anulus terbuka (tanpa casing) akan menyebabkan
wash out.

Page 300 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.22. Penginjeksian Udara Melalui Jet Subs

Untuk sumur yang dalam (10000 feet atau lebih) memerlukan dua atau lebih subs,
tergantung berapa tekanan dasar sumur yang diinginkan.

6.8.11. Peralatan Pemboran


Sebagai fluida pemboran, lumpur aerasi berbeda dengan lumpur biasa. Peralatan-
peralatan yang digunakan pada pemboran aerasi hampir sama dengan peralatan
pada pemboran konvensional. Penambahan peralatan terutama pada proses
penginjeksian udara dan penanganan lumpur aerasi setelah bersirkulasi, seperti
kompresor udara bertekanan tinggi, rotating head, dan separator udara-lumpur.
Peralatan tambahan tersebut antara lain :
a. Kompresor UdaraVolume udara yang dikeluarkan kompresor dapat diketahui
dengan menggunakan persamaan Moss, S.A.16):
axCxP1
W  0.5303x .................................................................................................. (6-56)
T1
dimana :
W = laju alir massa (lb/sec)
a = luas orifice (sq. in.)
C = konstanta aliran
P1 = tekanan total upstream (lbs/sq. in.)
T1 = temperatur upstream (oR)

Page 301 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

untuk orifice berbentuk bulat C = 0,95 sedangkan jika berbentuk sudut tajam
(sharp edge) C = 0,65 . P1 = tekanan alat ukur (psig) + 14,7 psia. Harga W
dikonversi menjadi satuan cu. ft per menit dengan menggunakan densitas
udara kering pada kondisi standar (14,7 psi dan 70oF) = 0,07494 lbs/cu. ft.
Sehingga keluaran dari kompresor adalah :
axCxP1
Qak  424.58 x ................................................................................................ (6-57)
T1

Volume udara yang dihasilkan kompresor berdasarkan batas keluaran pada


kondisi ideal di permukaan laut, sehingga volume udara yang keluar dari
kompresor perlu dikoreksi karena adanya efek dari temperatur, tekanan, dan
kelembaban udara.

Tekanan, temperatur dan kelembaban udara di lapangan tergantung pada


ketinggian tempat dari permukaan laut, dan iklim. Ketika menghitung volume
udara maksimum yang dihasilkan kompresor, tekanan, temperatur, dan
kelembaban udara ditentukan pada harga maksimum yang ada di lapangan.
Penentuan koreksi :
1. Koreksi tekanan, Pkor = (Pudara - 0,1) : 14,7 psia (6-48)
tekanan udara di lapangan dapat diketahui dengan menggunakan
barometer.
2. Koreksi temperatur,
Tkor = (460o + 60o) : (460o + Tudara, oF) ………………………………………... (6-58)
3. Koreksi kelembaban,
Kkor = (Pudara - Kudara x 0, 5068) / Pudara ............................................ (6-59)

sehingga laju volume maksimum yang bisa dihasilkan kompresor adalah :


Qak max  Qak  Pkor  TkorKkor ..................................................................... (6-60)

b. Booster berfungsi sebagai penguat aliran udara yang dikeluarkan oleh


kompresor, sehingga tekanan udara yang terkompres mampu memasuki aliran
lumpur. Bila volume udara dari kompresor sebesar 650 scfm dan tekanan 250
psi, maka booster dapat memperbesar tekanan menjadi 1000 psi dengan
volume udara 650 scfm.

c. Pipa Saluran Udara dari kompresor disalurkan ke standpipe melalui sebuah


pipa yang berukuran cukup besar (biasanya 2") untuk mengurangi masalah
friksi. Pada pipa ini terdapat cek valve untuk mencegah aliran balik udara dan
lumpur ke kompresor. Pipa ini juga harus mempunyai pressure gauge untuk
mengetahui tekanan udara yang masuk, dan mempunyai release valve untuk
mengeluarkan udara yang termampatkan ketika proses penyambungan pipa
sedang dilakukan. Manifold juga harus ada sehingga pompa lumpur dapat
digunakan terus jika udara dari kompresor tidak digunakan.

Page 302 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.23. Posisi Pipa Saluran Udara di Standpipe

d. Rotating Head dipasang di atas BOP. Berfungsi menyekat anulus dan


melindungi seluruh komponen yang berputar di drillstring kecuali bit dan
reamer yang berukuran besar. Lumpur keluar dari anulus, langsung menuju
separator udara-lumpur melalui blooie line.

Gambar 6.24. Rotating Head

Page 303 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

e. Blooie LineBlooie line adalah pipa yang terletak di bawah rotating head
berfungsi menyalurkan lumpur aerasi yang keluar dari anulus menuju
separator udara-lumpur atau langsung menuju kolam lumpur jika lumpur
aerasi yang keluar tidak dibutuhkan lagi. Panjang blooie line harus cukup jauh
dari sumur, mencegah bahaya kebakaran yang disebabkan kandungan
hidrokarbon dalam lumpur.

f. Separator Udara-Lumpur berfungsi memisahkan udara dan lumpur dari


lumpur aerasi yang keluar dari anulus. Peralatan ini menggunakan prinsip gaya
sentrifugal yang memisahkan udara dan lumpur berdasarkan perbedaan
densitas. Setelah lumpur bebas dari udara, lumpur mengalir ke shale shaker
untuk memisahkan cutting, dan selanjutnya ke tangki lumpur.

Gambar 6.25. Separator Udara-Lumpur

g. Unit AerasiUnit aerasi adalah kendaraan yang mengangkut peralatan


tambahan seperti kompresor dan booster, sehingga peralatan ini dapat
dipindah-pindahkan dengan cepat.

Page 304 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.26. Skema Unit Aerasi

Gambar 6.27. Skema Pemboran Aerasi

Page 305 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.8.12. Prosedur Pemboran


Prosedur pemboran dengan menggunakan lumpur aerasi berbeda sedikit dari
pemboran biasa. Perbedaan tersebut antara lain adanya sambungan pipa udara
pada stand pipe. Ketika proses tripping, aliran udara ke stand pipe dihentikan dan
lumpur dipompakan hingga mencapai string check valve yang berada dibagian
bawah sambungan pertama drillpipe dibawah kelly atau untuk lebih aman, lumpur
disirkulasikan hingga mencapai bit. Standpipe harus mempunyai bleed valve yang
dapat dibuka untuk memastikan tidak adanya udara bertekanan tinggi yang
tersekat dalam hose hingga kelly, kemudian proses penyambungan atau pelepasan
pipa dilakukan seperti biasa.

6.8.13. Operator
Keberhasilan pemboran aerasi ditentukan dari kerjasama tiga pihak yaitu operator
pemboran, operator unit aerasi, dan operator lumpur. Operator pemboran
bertindak melakukan pemboran, dan memerlukan bantuan dari operator lumpur
untuk kebutuhan sirkulasi lumpur seperti laju volume lumpur (GPM) dan tekanan
pompa lumpur. Operator pemboran juga membutuhkan bantuan operator unit
aerasi, ketika proses pelepasan dan penyambungan pipa sedang dilakukan, dimana
operator unit aerasi harus menghentikan injeksi udara, dan ketika pemboran
berlangsung, operator unit aerasi harus mengatur jumlah udara injeksi yang
dibutuhkan.

Operator unit aerasi memerlukan informasi tekanan lumpur dari operator lumpur,
selama pemboran berlangsung. Informasi tekanan lumpur ini penting karena
pengaturan jumlah udara yang perlu diinjeksikan bergantung pada tekanan udara
yang harus diberikan agar valve standpipe (check valve) terbuka dan udara dapat
masuk ke dalam lumpur. Ketika proses triping hendak berlangsung, operator unit
aerasi harus menghentikan aliran udara injeksi.
ra(surf) = densitas udara di permukaan (pcf)
Qa(surf) = laju alir volume udara di permukaan (scfm).
vfa = kecepatan lumpur aerasi di anulus (ft/min)
Qm = laju alir lumpur biasa (gpm)
Qa = laju alir udara (cuft)
W = laju alir massa (lb/sec)
a = luas orifice (sq. in.)
C = konstanta aliran
P1 = tekanan total upstream (lbs/sq. in.)
T1 = temperatur upstream (oR)

Page 306 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.9. Lumpur Inhibitif

6.9.1. Pendahuluan
Untuk pengelompokan lumpur, pembagian garis antara lumpur freshwater dan
saltwater ditentukan oleh kadar garam. Jika konsentrasi garam sebesar 10.000 ppm
atau kurang, maka lumpur tersebut disebut sistem freshwater, sedangkan diatas
10.000 ppm sistem lumpur tersebut diformulasikan dan dirawat sebagai salt mud
(lumpur garam). Ada beberapa jenis salt mud, yaitu : brackish-water mud dengan
konsentrasi garam dari 10.000 sampai 20.000 ppm; seawater mud mengandung
garam 20.000 sampai 40.000 ppm; cut-brine mud dibuat dari oilfield brines dan
berbagai konsentrasi garam dari 40.000 ppm sampai mendekati batas saturasi
(jenuh); saturated salt muds dengan kadar garam maksimum 315.000 ppm. Lumpur
pemboran yang mengandung garam lebih dari 10.000 ppm biasanya
diklasifikasikan secara salah sebagai freshwater mud. Sebagai contoh, lime mud
yang mengandung garam 40.000 ppm masih disebut sebagai lime mud, atau gyp
mud yang mempunyai kadar garam 50.000 ppm tetapi disebut gyp mud, bukan
sebagai gyp-salt mud. Tetapi pada kenyataannya, berdasarkan klasifikasi diatas
lumpur tersebut adalah merupakan salt mud.

Salt mud digunakan jika memperbaiki air yang mengadung konsentrasi garam
tinggi, jika aliran air garam menghambat penggunaan freshwater system, jika
menembus salt stringer atau formasi garam masif, dan untuk menghambat hidrasi
formasi yang sensitif terhadap air. Beberapa atau semua faktor diatas terlibat
dalam pemilihan salt mud yang dapat digunakan pada pemboran ditempat
tertentu.

Chapter ini akan membahas faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis-


jenis salt mud, penggunaan salt mud secara efektif untuk pemboran pada
lingkungan tertentu, dan perawatan salt mud secara umum.

6.9.2. Seawater Mud


Penggunaan seawater mud semakin meningkat pada beberapa tahun terakhir,
disebabkan karena dapat diperolehnya organic polymer untuk memperbaiki
formulasi dan perawatan lumpur tersebut. Semula seawater mud dipersiapkan dan
dirawat dengan attapulgite dan asbestos untuk membangun kekuatan struktur
untuk mengangkat cutting dan starch untuk mengontrol fluid loss. Lumpur ini
mempunyai viskositas rendah, sukar mengangkat cutting, dan laju penembusannya
rendah. Sebagian besar seawater mud saat ini menggunakan bahan polimer seperti
xanthan gum dan polyanionic cellulose atau prehydrated bentonite untuk
membangun viskositas dan mengurangi fluid loss. Lumpur ini lebih efisien
dibandingkan dengan lumpur attapulgite-asbestos-starch yang pada awalnya
digunakan karena komposisinya memberikan stabilitas formasi yang lebih baik

Page 307 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

melalui proses pembungkusan polimer. Potassium chloride sering ditambahkan


dalam sistem lumpur ini untuk menghambat hidrasi bentonit yang terkandung
didalam formasi secara efektif. Kunci sukses dari lumpur polymer seawater untuk
menjaga kadar padatan tetap minimum dengan menggunakan high-speed shaker
dengan saringan halus, desilter, dan desander.

6.9.3. Lumpur Prehydrated Bentonite-polyanionic Cellulose


(CMC)
Lumpur prehydrated bentonite seawater relatif mudah perawatannya, dan
menghasilkan laju penembusan yang lebih tinggi dari sistem lumpur awal
attapulgite-starch. Cutting lebih mudah dipisahkan dengan peralatan pemisah
padatan karena viskositasnya lebih rendah. Lumpur seawater memerlukan tangki
tambahan untuk prehydrating bentonite yang dapat merugikan untuk lokasi
pemboran di lepas pantai karena lokasinya yang terbatas.

6.9.3.1 Formulasi Lapangan


1. Tentukan volume dengan air laut
2. Prehydrate bentonite sebagai berikut :
a. Test perbaikan air untuk total hardness (Ca++ dan Mg++). Pada umumnya
hardness akan berasal dari magnesium. Treatment dengan caustic soda
untuk menekan kelarutan.
b. Tambahkan 20 sampai 30 lb/bbl bentonit untuk memperbaiki air;
campurkan semuanya, dan jika mungkin aduk slurry tersebut selama 16
jam.
c. Tambahkan 1 - 2 lb/bbl lignosulfonate, dicampur dan pH diatur sekitar
9,5.
3. Tambahkan prehydrated bentonite slurry untuk memperbaiki air dengan
menggunakan volume ratio dari 1 : 3 sampai 1 : 2 prehydrated slurry sampai 2
: 3 sampai 1 : 2 air yang diperbaiki (Ratio tergantung pada kualitas bentonit
dan waktu hidrasi)
4. Tambahkan dari 0,25 - 0,5 lb/bbl polyanionic cellulose pada sistem untuk
mengurangi fluid loss dan untuk membungkus cutting dan formasi yang
terbuka.

6.9.3.2 Perawatan
1. Jika viskositas terlalu rendah, tambahkan prehydrated bentonite, polyanionic
cellulose, atau CMC.
2. Jika viskositas naik diatas range yang diinginkan, encerkan dengan air laut dan
tambahkan lignosulfonate

Page 308 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

3. Menjaga kadar padatan tetap rendah (total low-density solids content, lb/bbl
bentonite-eqivalent content, MBT) dengan pemrosesan lumpur melalui
peralatan pemisahan padatan
4. Menjaga total hardness level (Ca++ dan Mg++) dibawah 200 ppm
5. Menaikkan densitas lumpur dengan barite jika diperlukan.

6.9.3.3. Mengantisipasi Sifat-sifat Lumpur


Karena banyaknya variabel yang terlibat, maka sangat sukar untuk menentukan
sifat-sifat lumpur secara pasti. Jika formulasi dan prosedur perawatan dilakukan
secara memadai, maka dapat diperoleh range sifat-sifat berikut :
 Yield point 6 - 10 lb/100sqft
 10-det gel strength 2 - 5 lb/100sqft
 10-mnt gel strength 5 - 6 lb/100sqft
 API fluid loss 15 - 30 ml
 pH 9,5
 API MBT (CEC) bentonite 10 - 15 lb/bbl

6.9.4. Lumpur Xanthan Gum Polymer


Lumpur xanthan gum polymer banyak digunakan pada operasi pemboran di lepas
pantai, karena dapat memberikan hidrolika yang baik yang dihasilkan dari sifat
viscoelastic dari gum tersebut. Dapat menghasilkan laju penembusan yang cukup
tinggi jika kadar padatan tetap terjaga rendah.

6.9.4.1 Formulasi Lapangan


1. Siapkan volume yang diinginkan dengan air laut
2. Tambahkan 1 lb/bbl xanthan gum melalui hopper
3. Setelah semuanya tercampur, harus mempunyai sifat-sifat dengan range :
Yield point 6 - 10 lb/100sqft
10-det gel strength 2 - 5 lb/100sqft
10-mnt gel strength 3 - 6 lb/100sqft
API fluid loss 20 - 30 ml
pH 7-9
4. Jika diperlukan, harga yield point dan gel strength dapat dinaikkan dengan
menambahkan xanthan gum dengan kenaikan 0,25 lb/bbl sampai diperoleh
harga yang diinginkan 5. Fluid loss xanthan gum dapat diperbaiki dengan
menambahkan bentonit kering dari 2 - 5 lb/bbl melalui hopper atau dengan
menambahkan prehydrated bentonite slurry
5. Mengatur pH antara 7 dan 9 dengan caustic soda
6. Menambahkan 0,25 sampai 0,50 lb/bbl paraformaldehyde untuk menghambat
fermentasi xanthan gum.

Page 309 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.9.4.2 Perawatan
Tambahkan air laut kedalam sistem untuk menjaga volume, gunakan high-speed
shaker dengan ukuran saringan yang halus, desander, dan desilter untuk
membersihkan sistem lumpur dari padatan yang terikut.

Menjaga total hardness (Ca++ dan Mg++) kurang dari 100 ppm dengan soda ash
dan caustic soda.

Jika sifat aliran tidak dapat dikontrol dengan pengenceran, flokulasi, atau secara
mekanis, tambahkan 2 sampai 4 lb/bbl lignosulfonate.
Untuk menaikkan densitas, tambahkan barite.

6.9.5. Lumpur Jenuh Garam (salt-saturated Mud)


Lumpur jenuh garam digunakan untuk membor formasi garam atau stringer, shale
inhibition, dan sebagai fluida workover. Lumpur ini disiapkan dengan
menambahkan garam kedalam air tawar atau air asin atau dari saturated brine
yang diperoleh dari lokasi setempat. Tabel 6.3 menunjukkan banyaknya garam
dalam pound per barrel (lb/bbl) yang diperlukan untuk densitas sampai 9,97 lb/gal.
Air tawar memerlukan 123 lb.bbl garam untuk mencapai saturasi, yang setara
dengan 311.300 ppm garam. Ada beberapa kerancuan dalam laporan kadar garam
terlarut dibandingkan dengan larutan jenuh. Pada konsentrasi rendah - 10.000
ppm sebagai contoh, dengan 1 wt%, tetapi larutan jenuh garam dilaporkan sebagai
311.300 ppm bukan 31,13 wt%, yang kenyataannya 31,13 Ã 1,1972 (sp gr) atau 26
wt%.

Ada banyak jenis lumpur jenuh garam yang digunakan secara rutin. Dalam
pembahasan ini hanya dibatasi untuk jenis sistem lumpur paling baru yang
ditekankan pada konsep low-solid. Lumpur lama, yaitu lumpur attapulgite-starch
saturated-salt telah digunakan lebih dari 50 tahun. Formulasi dan perawatannya
telah banyak ditulis dalam berbagai literatur tidak akan diulang disini.

Page 310 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.3 Data kelarutan garam

6.9.5.1. Formulasi Lapangan


1. Siapkan volume yang diinginkan dengan air yang dijenuhi garam atau
saturated brine
2. Prehydrate bentonite menggunakan prosedur seperti yang dijelaskan pada
bagian seawater
3. Tambahkan prehydrate bentonite slurry kedalam air jenuh garam, campurkan
semuanya, dan selanjutnya cek sifat-sifat fisiknya. Campuran 50 : 50
prehydrates bentonite dan air jenuh garam harus menghasilkan sifat-sifat
sebagai berikut :
Yield point 6 - 10 lb/100sqft
10-det gel strength 2 - 3 lb/100sqft
10-mnt gel strength 3 - 5 lb/100sqft
API fluid loss 40 - 50 ml
pH 8 - 10
4. Tambahkan dari 0,25 sampai 0,50 lb/bbl polyanionic cellulose untuk
menurunkan fluid loss dan sebagai pelindung koloid.

6.9.5.2. Perawatan
1. Untuk menaikkan viskositas, tambahkan prehydrated bentonite
2. Tambahkan hanya dengan saturated brine kedalam sistem untuk menjaga
volume
3. Menjaga total hardness kurang dari 100 ppm dengan menggunakan caustic
soda dan soda ash
4. Gunakan selective flocculant, desander, dan desilter untuk menjaga kadar
padatan minimum

Page 311 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

5. Menjaga fluid loss dalam range yang diinginkan dengan menambahkan


prehydrated bentonite dan polyanionic cellulose
6. Jika viskositas naik sampai diatas batas yang ditentukan akibat
terakumulasinya padatan, maka tambahkan lignosulfonate barite untuk
menaikkan densitas.

6.9.6. Xanthan Gum Dan Hydroxypropyl Guar


Xanthan gum dan campuran xanthan gum dengan hydroxypropyl guar (HPG) gum
digunakan untuk menyiapkan lumpur jenuh garam dimasukkan sebagai salah satu
jenis lumpur karena formulasi dan prosedur perawatannya sama.

6.9.6.1. Formulasi Lapangan


1. Siapkan volume yang diinginkan dengan air laut
2. Tambahkan 1 lb/bbl xanthan gum atau dari 1 sampai 1,5 lb/bbl xanthan gum
HPG saturated salt water melalui hopper
3. Setelah semuanya tercampur, harus mempunyai sifat-sifat dengan range :
Yield point 6 - 10 lb/100sqft
10-det gel strength 2 - 4 lb/100sqft
10-mnt gel strength 3 - 6 lb/100sqft
API fluid loss 20 - 40 ml
pH 7 - 9 (diatur dengan caustic soda)
4. Untuk menaikkan viskositas dan mengurangi fluid loss, tambahkan xanthan
gum atau xanthan gum-HPG dengan kenaikan 25 lb/bbl sampai diperoleh
sifat-sifat yang diinginkan
5. Untuk menurunkan fluid loss yang diperoleh dari polimer, maka tambahkan
bentonit kering dari 2 - 5 lb/bbl untuk memberikan range ukuran partikel
koloid yang lebih besar.

6.9.6.2. Perawatan
1. Air jenuh garam digunakan untuk menjaga volume sistem lumpur
2. Karena kunci keefektifan kinerja lumpur ini adalah solids control, maka rig
harus dilengkapi dengan high-speed shale shaker, desander, dan desilter.
Tambahkan selective flocculant dalam flowline untuk mempermudah
pemisahan padatan yang terikut dalam lumpur
3. Jika viskositas yang dihasilkan dari akumulasi padatan tidak dapat dirawat
dalam range yang diinginkan dengan peralatan pemisah padatan dan bahan
kimia flokulan, maka tambahkan lignosulfonate antara 2 sampai 4 lb/bbl
4. Menjaga total hardness (Ca++ dan Mg++) kurang dari 100 ppm dengan soda
ash dan caustic soda
5. Untuk menaikkan densitas, tambahkan barite.

Page 312 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.9.7. Lumpur Potassium-base


Potassium chloride digunakan untuk mensuplai kation potassium, yang
menghasilkan cation exchange capacity paling efektif untuk mencegah swelling
(pengembangan) dan hidrasi clay. Potassium chloride digunakan dalam konsentrasi
yang bervariasi dari 3 wt% sampai 15 wt% (11 - 53 lb/bbl). Salah satu keuntungan
lumpur potassium adalah bahwa densitas rendah dapat dijaga sementara clay
swelling dapat dicegah. Konsentrasi potassium chloride diselaraskan dengan
tingkat pengembangan dan hidrasi clay. Dengan rumus jempol, jika cutting yang
keluar dari shaker screen adalah bulat-bulat, maka konsentrasi potassium chloride
harus dinaikkan. Jika cutting tersebut brittle, maka konsentrasi potassium chloride
harus diturunkan.

Ammonium sulfate dengan konsentrasi yang sama dengan potassium chloride


adalah efektif untuk mengurangi clay swelling. Ammonium sulfate mudah didapat
tetapi dapat menimbulkan problem yang serius karena dengan penambahan
sodium hydroxide akan melepaskan uap ammonia.

Pemilihan lumpur inhibitive salt berdasarkan pada tingkat pengembangan clay.


Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, maka potassium chloride
adalah merupakan pilihan terbaik untuk mencegah clay swelling. API MBT (CEC)
test dapat digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat pengembangan clay. Harga
MBT 6 - 10 menunjukkan ketidak-stabilan formasi yang kecil, MBT dari 10 - 20
menunjukkan ketidak-stabilan menengah, sedangkan MBT dari 20 - 40
menunjukkan ketidak-stabilan yang sangat berbahaya.

Ada berbagai macam lumpur potassium di pasaran yang diproduksikan oleh


berbagai mud company. Semua sistem lumpur yang menggunakan potassium
chloride sebagai inhibiting salt dan polimer atau gum untuk membungkus
padatan. Gilsonite juga direkomendasikan sebagai komponen ketiga untuk
menyekat microfracture dalam formasi shale. Berikut adalah sistem lumpur
gabungan dari ketiga komponen tersebut.

6.9.7.1. Kebutuhan Sistem Lumpur


1. Polimer - dari 0,5 sampai 1,5 lb/bbl xanthan gum akan menghasilkan sifat-sifat
yang diperlukan untuk membersihkan lubang dan menahan cutting pada saat
lumpur diam.
2. Potassium chloride - jumlahnya bervariasi, tergantung dari hasil MBT formasi
shale.
3. Gilsonite - penggunaannya berdasarkan asumsi adanya microfracture dalam
formasi shale. Konsentrasi yang direkomendasikan adalah dari 2 sampai 4
lb/bbl.
4. FL-1 - adalah merupakan getah (gum) alami yang dihasilkan dari tepung rami
(flax meal), berfungsi sebagai encapsulating agent (senyawa pembungkus).

Page 313 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Jumlah yang diperlukan bervariasi dari 3 sampai 6 lb/bbl, tergantung dari shale
MBT. Konsentrasi tinggi (6 lb/bbl) digunakan untuk MBT rendah (6 - 10),
sedangkan konsentrasi rendah digunakan untuk MBT yang tinggi (20 - 40).

6.9.7.2. Menaikkan Densitas


Barite dapat digunakan untuk menaikkan densitas lumpur sesuai dengan
keperluan. Penambahan polyanionic cellulose, baik reguler (jika viskositas terlalu
rendah) maupun super low (jika viskositas naik), diperlukan untuk memberikan
filtration control dalam lumpur yang diperberat. Secara rumus jempol, 0,25 - 1,0
lb/bbl akan menghasilkan API fluid loss dalam range 10 - 20 ml.

6.9.7.3. Perawatan
Penambahan harian bahan-bahan xanthan gum, KCl, FL-1, dan gilsonite
berdasarkan kedalaman lubang bor karena bahan-bahan tersebut mengisap atau
menempel pada cutting dan menutupi formasi. Oleh karena itu, penting sekali
adanya pemantauan kandungan ion potassium seperti metoda yang distandarkan
dalam API-RP-13.

6.9.7.4. Calcium-Treated Mud


Ada 2 kelompok dasar calcium-treated system, yaitu lime mud dan gyp mud.
Penamaan tersebut menunjukkan sumber dari ion kalsium yang terlarut. Lumpur
kalsium berguna pada daerah yang mengalami problem sloughing dan aliran air
garam yang ditandai dengan berat lumpur yang tinggi. Lumpur kalsium tidak
dapat mencapai harga viskositas dan gel strength yang memadai ketika
terkontaminasi dengan garam yang konsentrasinya sampai 50.000 ppm. Cutting
kurang berpengaruh karena tidak mudah terdispersi dalam lumpur kalsium seperti
pada lumpur sodium-base.

Lime-treated mud semula adalah merupakan lumpur kalsium, dan telah digunakan
dalam sumur-sumur dalam di Gulf Coast. Lumpur lime dapat terjadi ketika membor
semen, yang ditandai adanya sejumlah lime yang dapat menghambat kenaikan
viskositas dan gel strength. Dengan menjaga pH 11,5 atau lebih besar sebelum
membor semen, maka kelarutan ion kalsium dapat ditekan, sehingga sifat-sifat
lumpur tetap relatif baik. Aditif yang digunakan pembuatan lumpur lime-treated
adalah caustic soda, organic dispersant, lime dan fluid loss control agent.

Ada tiga jenis lumpur lime yang dikembangkan selama 30 tahun terakhir, yaitu
low-lime/low-alkalinity mud, conventional atau medium-lime mud, and high-
lime/high-lime alkalinity mud. Ketiga jenis lumpur tersebut pada prinsipnya sama,
perbedaannya hanya pada kadar lime dan alkalinitasnya. High-lime mud dan
conventional-lime mud digunakan terutama pada daerah yang mengalami
problem aliran air garam dan terbentuknya lumpur dari formasi. Sedangkan low-

Page 314 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

lime mud dikembangkan terutama untuk menghindari problem gelasi pada


temperatur tinggi yang berasosiasi dengan high-lime mud.
Dari segi optimasi pemboran , ada beberapa kerugian dari penggunaan lumpur
lime, yaitu :
(1) bersifat shear thickening, yang dapat menghalangi optimasi hidrolika,
(2) mempunyai kecenderungan memadat pada temperatur tinggi diatas 250oF,
(3) menampung low-density solid pada konsentarsi yang tinggi, sehingga dapat
menurunkan laju penembusan.

Gyp-treated mud digunakan untuk pemboran di daerah yang dijumpai formasi


anhydrite dan gypsum. Aditif yang digunakan untuk pembuatan dan perawatan
gyp-mud adalah caustic soda, ferrochrome lignosulfonate dan fluid loss reducer.

6.10. Deskripsi Material Clay

6.10.1. Deskripsi Material Clay


Clay (lempung) adalah batuan sedimen klasik artinya berasal dari pelapukan
batuan beku atau metamorf. Clay berbutir baik, dengan ukuran butir lebih kecil
dari l/256 mm menurut skala Wenworth, karena itu clay sukar dideskripsi. Material
clay hadir di dalam batuan sebagai campuran martiks dan semen, bahkan kadang-
kadang mendominasi batuan sebagai claystone (batu lempung). Proses
geologisnya menyangkut sedimentasi, sementasi, kompaksi dan distribusinya di
dalam batuan khususnya batuan reservoir minyak.

6.10.1.1 Genesa Mineral Clay


Mineral clay berasal dari penghancuran, pelapukan batuan induk (batuan beku dan
metamorf), mengalami transportasi (oleh air dan angin) dan diendapkan. Material
hancuran tadi disebut "rock flour", dan biasanya terdiri dari mineral-mineral:
kuarsa, felspar, muskovit dan biotit. Adanya air memungkinkan terjadinya reaksi
kimia dan pertukaran katioan di dalam material hancuran tadi dan ia juga
diperkaya oleh Hydroxides Aluminium dan Ferric Iron serta beberapa mineral
tambahan (accessory) seperti gamping magnesium dan alkali tergantung dari
lingkungannya. Jadi mineral clay berasal dari penghancuran mekanis yang
kemudian diperkaya oleh proses kimiawi dan material tersebut mengalami
dekomposisi.
a). Sedimentasi
Ukuran butir clay yang kecil (fraksi halus) menyebabkan ia ditransport
tersuspensi dalam media air, sehingga membentuk koloid mengstabil yang
sangat tergantung dari muatan listrik partikel, sehingga diperlukan elektrolit
untuk menstabilkannya, tetapi bila konsentrasi elektrolit tidak berlebihan maka
koloid yang tadi akan diendapkan. Faktor lain yang berpengaruh terhadap

Page 315 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

sedimentasi clay adalah reaksi kimia dan kuat lemahnya arus transport. Arus
yang terlalu kecil akan mengakibatkan terendapkannya koloid tadi sedangkan
untuk beberapa koloid misalnya koloid humus hanya stabil oleh adanya zat-
zat kimia.

b). Sementasi
Ukuran butir clay yang halus dan kemampuannya membentuk koloid
menyebabkan ia bertindak sebagai semen pada batuan sedimen. Proses ini
terjadi dimana koloid, fragmen batuan dalam air setelah ditrasport lalu
diendapkan dan diakumulasi pada suatu tempat dan terkompaksi sehingga air
terperas keluar. Pengaruh dan penyesuaian dengan lingkungan, membentuk
diri sebagai bahan perekat fragmen-fragmen batuan sedimen.

c). Kompaksi
Proses kompaksi ini menyebabkan air terperas keluar, makin besar tekanan
overburder kompaksi akan semakin kuat sehingga porositas dari batuan yang
terbentuk akan makin berkurang demikian pula permeabilitasnya. Kecepatan
sedimentasi yang tinggi akan menyebabkan air terjebak didalam material clay
sehingga seolah-olah butiran-butirannya terapung di dalam air (air formasi).
Proses kompaksi juga mungkin akan menyebabkan perubahan mineralogi clay.
Dari proses kompaksi ini dapat diketahui terjadinya tekanan abnormal pada
formasi shale yaitu dengan melihat bahwa tekanan geostatik sebagian besar
didukung oleh air formasi (formasi shale), sedangkan air tersebut sebagian
terjebak di dalam material clay sehingga perhitungan tekanan formasi
berdasarkan tekanan hidrostatik akan lebih kecil dari tekanan yang
sebenarnya.

d). Distribusi Mineral Clay Dalam Batuan Reservoir


Kehadiran mineral clay akan memengaruhi sifat batuan seperti: porositas,
permeabilitas, saturasi dan dalam interpretasi electric logging. Distribusi dalam
batuan reservoir teutama dalam batu pasir (sandstone) dan tig keadaan:
1. Continuous (laminasi), diman clay terdistribusi dal bentuk lapisan-lapisan
yang kontinu diantara lapisan pasir secara selang-seling. Lapisan clay yang
tidak terlalu tebal tidak mempengaruhi Porositas dan permebilitas batuan.
2. Dispersed (menyebar), material clay menyebar tak beraturan diseluruh
badan batuan dan bentuk distribusi inilah yang paling mempengaruhi
porositas dan permeabilitas batuan.
3. Structural, Yaitu bentuk distribusi penyebaran teratur hampir mendekati
distribusi continuous.

Ketiga bentuk distribusi diatas ditunjukan oleh Gambar 6.28 dibawah ini.

Page 316 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.28. Distribusi material clay dalam batu pasir.

Tubuh batuan dengan distribusi continuous dan structural clay akan mengalami
tekanan overburden yang sama seperti pada lapisan clay diatasnya dengan kadar
air yang sama pula. Sedangkan tubuh batuan dengan distribusi dispersed clay akan
mengalami tekanan hidrostatik yang lebih dominan dibandingkan disebabkan
banyak air yang akan bereaksi dengan material clay membentuk semacam koloid
sehingga disebut juga sebagai distribusi colloidal clay sand.

6.10.1.2 Klasifikasi Material Clay


Material clay merupakan bongkahan yang terdiri dari beberapa material dan zat
pembentuk koloid. Ukuran clay yang lebih kecil dari 1/256 mm me-ngakibatkan
sulitnya dideskripsi. Untuk melakukan determinasi mineral clay dipergunakan sinar
X, tetapi ada beberapa mineral clay yang hanya dapat diselidiki secara mendetail
dengan menggunakan mikroskop elektron de-ngan pembesaran sampai 5000 kali.
Namun demikian karena sulitnya menyelidiki karakteristik material clay
menimbulkan perbedaan dalam melakukan klasifikasi mineral clay tersebut. Berikut
adalah salah satu cara klasifikasi mineral clay yang dilakukan oleh R.E. Grimm
(Tabel 6.3), klasifikasi yang berdasarkan atas :
 Bentuk (morfologi) mineral clay
 Sistem lapisan unit silika dan Aluminium
 Sifat mengembang (swelling) dari mineral clay
 Mengenai morfologi mineral clay dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Morfologi Mineral Clay


Untuk dapat melihat morfologi mineral clay digunakan alat yang disebut
scanning electron microscop.

Berikut adalah morfologi beberapa mineral clay:


Mineral Allophone berbentuk bulatan dan seperti bulu halus pada
permukaannya, kadang-kadang berbentuk serpih atau fibrous. Dapat dilihat
pada Gambar 6.29.

Page 317 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Halloyite mempunyai bentuk memanjang dan seperti tabular (Gambar6.30),


tetapi ada juga yang berbentuk serabut dan kristal memanjang, merupakan
transisi dari Alophane ke Halloyite.

Tabel 6.4 Klasifikasi Mineral Clay Menurut RE. Grimm

Gambar 6.29. Electron Micrograph Minerla Allophone

Page 318 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.30. Electron Micrograph Mineral Haloysite

Gambar 6.31. Electron Micrograph Minerla Kaolinite

Page 319 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.32. Electron Micrograph Mineral Dickite

Gambar 6.33. Elektron Micrograph Mineral Attapulgite

Page 320 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.34. Electron Micrograph Mineral Nacrite

Gambar 6.35. Electron Micrograph Mineral Sauconite

Page 321 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.36. Electron Micrograph Mineral Illite

Gambar 6.37. Electron Micrograph Mineral Anaucite

Page 322 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.38. Electron Micrograph Mineral Montmorillonite

Gambar 6.39. Electron Micrograph Mineral Kaolinite

Page 323 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Kaolinite memiliki kristal dan sudut sisi yang baik (Gambar 6.31), namun ada
juga yang berbentuk kristal tidak sempurna dengan tepi yang bergigi.
Mineral dickite berbentuk hexagonal yang memanjang pada arah tertentu.
Morfologi mineral lainnya dapat dilihat pada Gambar berikutnya.

b. Struktur Kristal Mineral Clay.


Ada dua unit yang termasuk pada struktur atom pada kebanyakan mineral-
mineral clay. Unit yang pertama terdiri dari dua muatan tertutup oksigen atau
gugusan hidroksil dimana atom-atom Aluminium, besi atau magnesium
terkungkung pada sistem karbonat octrahedral, sedemikian rupa sehingga
atom-atom logam tersebut terletak pada jarak yang sama terhadap enam atom
oksigen atau gugus hidroksil; Hal tersebut dapat kita lihat pada Gambar 6.40
dibawah ini.

Gambar 6.40. Struktur Kristal Mineral Clay

Keseimbangan struktur ditentukan oleh penempatan posisi oleh atom logam.


Sebagai contoh gibsite dengan rumus molekul AL2(OH)6 memungkinkan
pengisian 2/3 dari jumlah posisi agar struktur atomnya seimbang.

Ketebalan unit octahedral untuk meneral clay adalah 5.05 A (Angstrom)


denganjarak normal antara atom oksigen 2.6 A dan jarak antara gugus hidroksil
umumnya 3.0 A,. Tetapi pada struktur ini jarak antara gugus hidroksil adalah
2.94 A dan jarak atom yang dapat ditempati 0.61 A.

Unit yang kledua adalah silika tetrahedron, dimana atom silika terletak dipusat
struktur dengan jarak yang sama terhadap keempat atom oksigen atau gugus
hidroksil sehingga struktur ini seimbang. Group silika tetrahedral ini membentuk
jaringan hexsagonal serta membentuk mineral dengan komposisi Si4O6(OH)4
seperti terlihat pada Gambar 6.41 dibawah ini.

Page 324 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.41. Group Silika Tetrahedral

Bila tidak mengalami invasi maka struktur tetrahedral dapat dilukiskan sebagai
bidang oksigen yang dilubangi dengan bidang dasr yang terdiri dari atom
silikon dengan tiap atom silikon terpadat pada tempat yang kosong di antara
sambungan tiga atom oksigen sehingga akan membentuk jaringan hexagonal.

Sedangkan bidang gugus hidroksil terdapat di ujung tetrahedral dimana tiap


gugusan tepat berada diatas atom silikon. Ketebalan tiap unit ini untuk mineral
clay adalah 4.93 A. Sedangkan jaringan hexagonal itu dilukiskan sendiri sebagai
gabungan tiap untai atom oksigen yang saling berpotongan dengan sudut 120o.
Jarak antara atom oksigen adalah 2.55A, sedangkan antara gugus hidroksil
merupakan ruangan yang dapat dipakai antar susunan dengan jarak kira-kira
0.55 A.

Selain memiliki struktur seperti diatas, ada beberapa mineral clay yang memiliki
gabungan dua struktur di atas. Mineral-mineral tersebut menyerupai amphibole
pada karakteristik srtukturnya dengan dasar unit strukturnya adalah gabungan
dari silica tetrahedral yang disusun dua rantai dengan komposisinya Si4O11
seperti terlihat pada Gambar 6.42. Kedua rantai terikat bersama dengan atom
alumunium atau magnesium, sehingga tiap-tiap bentuk itu dikelilngi oleh enam
atom Oksigen yang aktif.

Gambar 6.42. Diagram double rantai silica tetrahedral.

Page 325 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Berikut ini uraian mengenai beberapa mineral clay.


1) Mineral Allophane. Struktur mineral allophane amorp seperti gelas,
sehingga sulit untuk mengetahui kehadiran dan jumlah kandungannya di
dalam materail clay. Pada deskripsi komposisi material clay, bila tidak 100 %
kristalin, maka sisanya dianggap mineral allophane. Struktur kristalnya
terdiri dari silica pada struktur tetrahedral dan metalic ion pada struktur
octahedral, misalnya pada phosphate tetrahedron.

2) Mineral Kaolinite. Strukturnya merpakan gabungan dari satu sheat silica


tetrahedral dan satu sheet alumina octahedral dalam satu unit sehingga
ujung dari sheet tetrahedral dan octahedral membentuk struktur seperti
yang terlihat pada Gambar 6.43.

Gambar 6.43. Diagram Struktur Mineral Kaolinite

Formula dari struktur ini adalah Al2S12O5(OH)4 dan dari perhitungan teoritis
struktur ini memiliki komposisi 43.54 % SiO2, 39,50 % Al2O3 dan 26,96 %
H2O. Sedangkan ketebal;annya adalah kira-kira 7 Angstrom.Dikarenakan
adanya superposisi dari atom-atom oxigen dengan gugus hidroksil pada
batas unit, maka masing- masing unit akan saling berikatan, sedangkan
atom hidrogen berada diantara laipsan-lapisan, dengan ini mineral tersebut
tidak cepat larut dalam air.Anggota dari group kaolinite ini antara lain
adalah dickite dan nacrite. Keduanya memiliki bentuk dan struktur kristak
yang mirip dengan struktur kristal yang diterangkan di atas. Perbedaannya
terletak pada posisi dan aturan unit silicate. Kedua mineral tersebut di atas
(dickite dan nacrite) jarang atau sukar sekali ditemukan didalam material
clay. Electron micrograph mineral kaolinite (Gambar 4) menunjukan unit-
unit pelapisan yang agak memanjang dan berbentuk baik. Sering pula
ditemukan sisi-sisi yang agak melengkung. Dimensi memanjang tadi
besarnya kira-kira 0,35 micron dengan tebal 0,5-2 micron.

3). Mineral Halloysite. Struktur dari mineral ini menyerupai kaolinite, hanya
perbedaannya pada mineral halloysite terdapat kelebihan air. Kelebihan ini

Page 326 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

disebabkan ikatan pada tiap-tiap lapisan mineral halloysite lebih lemah


dibandingkan ikatan pada kaolinite. Dengan demikian struktur dari mineral
halloysite terbentuk dari urutan-urutan lapisan yang disisipi lapisan air.
Diagram strukturnya dapat kita lihat pada Gambar 6.44.

Gambar 6.44. Diagram Struktur Mineral Halloysite

4). Mineral Montmorillonite. Konsep mengenai struktur montmorillonite


dikemukakan oleh Maacgdefrau dan Hormann (1937), Marshal (1935) dan
Hendricks (1942) yang menyatakan bahwa struktur kristal montmorillonite
terdiri dari dua unit silica tetrahedral sheet dengan pusatnya adalah
alumina octahedral sheet, dimana semua ujung dari unit tetrahedral menuji
ke pusat unit sehingga masing-masing bertemu dengan satu gugusan
hidroksil dari unit octahedral, dengan demikian tetrahedral bergabung
dengan octahedral dan membentuk satu lapisan. Diagram struktur
kristalnya dapat kita lihat pada Gambar 3.45.Analisa mineralogi memberikan
hasil bahwa montmorillonite terdiri dari : 66,7% SiO2, 28,3 % Al2O3, dan 5%
H2O. Pergantian kation terjadi di antara bidang pelapisan silica yang
mengalami hidrasi denga sempurna. Di dalam air montmorillonite akan
menyebar rata dalam bentuk partikel-partikel yang sangat kecil terutama
bila ion natrium yang diganti. Ketebalan dari bidang pelapisan air diatara
unit-unit silica juga tergantung dari sifat-sifat kation yang diganti pada
harga tekanan uap air tertentu.

5). Mineral Illite. Struktur dasar dari mineral ini dari satu unit bidang pelapisan
berupa octahedral sheet sebagai pusat serta dua unit silica tetrahedral
menuju ke pusat unit dan bergabung dengan octahedral sheet pada suatu
bidang pelapisan dimana terjadi pergantian hidroksil dengan oksigen.
Secara keseluruhan sifat-sifat kristalnya mirip dengan struktur kristal mica,
diagram dapat kita lihat pada Gambar 6.45.

Page 327 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.45. Diagram Struktur mineral montmorillonite

Gambar 6.46. Diagram Gambar Struktur Mineral Illite

6). Mineral Chlorite.Mineral ini tidak kompak dan memiliki butiran-butiran yang
halus, akibatnya bentuk kristalnya sukar diamati. Kebanyakan mineral clay
chlorite memiliki struktur kristal trioctahedral,tetapi ada juga yang
mempunyai struktur dioctahedral. Secara keseluruhan mirip struktur kristal
(trioctahedral) mica dengan komposisi umumnya (OH)4(SiAl)8(MgFe) 6020,
dan untuk yang berstruktur mirip brucite mempunyai komposisi umum
(MgAl)6(OH)12. Diagram struktur mineral chlorite tersebut dapat dilihat
pada Gambar 6.47.

Page 328 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

7). Mineral Velmiculite.Mineral ini mempunyai struktur yang dibentuk oleh


selang-seling lapisan air dengan struktur mica dengan jarak 4.98A. (tebal
dua molekul air), dimana struktur mika tadi berupa lapisan-lapisan
trioctahedral. Mineral vermiculite dengan komposisi (OH)4 (MgAl)x(Si5-
xALx) (Mg.Fe)6020.yH2O dengan x=1 sampai 1.4 dan y=8, mempunyai
kapasitas pergantian kation yang cukup besar. Diagram dari struktur
kristalnya dapat dilihat pada Gambar 6.48.

Gambar 6.47. Diagram Struktur Mineral Chlorite

Gambar 6.48. Diagram Struktur Mineral Vermiculite

Page 329 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

8). Mineral Clay Lainnya. Mineral clay lainnya adalah mineral attapulgite,
palygorskite, sepiolite dan beberapa mineral lainnya yang tercampur dalam
satu mineral clay secara biasa (diskrite) yang tidak menunjukan orientasi
tertentu serta tercampur secara interstratitifikasi membentuk perlapisan
yang uniform, tetapi ada juga yang tidak uniform dimana satu lapisan
terdiri dari berbagai jenis mineral clay.Struktur mineral attapulgite
pertamakali dipelajari oleh De Lapparent (1938) dan dilanjutkan oleh
Bradley (1940) yang menyatakan bahwa attapulgite terdiri dari double
rantai silica yang terikat bersama atom oksigen membentuk struktur
octahedral yang mirip dengan mineral clay lainnya. Diagram strukturnya
dapat kita lihat pada Gambar 6.49.

Gambar 6.49. Diagram Struktur Mineral Attapulgite

Mineral sepiolite mempunyai struktur kristal yang memiliki sifat-sifat umum


yang sama dengan struktur attapulgite. Perbedaannya terutama pada
jumlah pergantian atom-atom magnesium atau silica yang lebih kecil, tetapi
mempunyai ukuran bentuk bijih yang lebih besar dari pada attapulgite. Hal
ini berlaku pula untuk mineral palygorskite. Hal ini berlaku pula untuk
mineral palygorskite yang tercampur dengan mineral-mineral clay lainnya.

c. Jenis-jenis Mineral Clay dan Komposisinya


Telah diuraikan bahwa mineral clay pada umumnya terdiri dari pelapisan-
pelapisan yang dibentuk oleh unit-unit silica dan alumina. Tiap susunan unit
tersebut specific untuk jenis mineral clay tertentu. Selain itu mineral clay juga
mengandung magnesium, besi, alkali dalam jumlah yang cukup besar, serta
beberapa unsur tambahan yang berupa mineral non-clay seperti kwarsa, calcite,

Page 330 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

felspar, pyrite dan beberapa bahan organik. Susunan unit untuk tiap jenis
mineral clay ini dapat kita lihat pada Gambar 6.50. Jenis-jenis mineral clay yang
berbeda serta komposisinya ini dimasukan ke dalam group seperti yang dapat
kita lihat pada Tabel 6.4.

Gambar 6.50. Susunan Unit Silica Alumina Untuk Beberapa


Jenis Mineral Clay.

Page 331 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.5. Jenis-jenis Mineral Clay dan Komposisinya

6.10.1.3 Sifat-sifat Kimia Mineral Clay


Sifat kimia mineral clay yang penting adalah kemampuan menyerap anion-anion
dan kation tertentu dan merubahnya ke lain anion dan kation dengan pereaksi
dengan suatu ion dalam air (ionic exchange). Reaksi pertukaran ini berlangsung
secara stoichiometric, dan terjadi di sekitar sisi luar dari unit srtuktur silica-alumina
clay. Reaksi pertukaran ini biasanya tidak mempengaruhi struktur mineral clay yang
tersebut.

Kapasitas penggantian ion dari mineral clay ini diukur dalam satuan milliequivalent
per-gram atau perseratus gram pada kondisi PH = 7.0 . Dibawah ini akan dijelaskan
mengenai pergantian kation dan anion (Cation and anion exchange) dan
kapasitasnya.

a). Cation Exchange (pergantian kation)


Mineral-mineral clay bukan satu-satunya jenis komponen material clay yang
tidak memiliki kapasitas pergantian kation, melainkan ada material organic

Page 332 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

didalannya yang memiliki sifat tersebut meskipun sangat kecil sebagai akibat
dari terlepasnya ikatan atom disekeliling material tersebut. Kapasitas
pergantian ini bertambah dengan berkurangnya ukuran partikel, tetapi untuk
material-material non-clay yang memiliki ukuran partikel yang kecil kapasitas
pergantian kationnya tidak berarti, kecuali pada mineral zeolite yang sering
ditemukan dalam material-material clay mempunyai kapasitas pergantian
kation antara 100 - 300 milliequivalent/100 gram. Berikut Tabel 6 yang
meperlihatkan kapasitas pergantian kation beberapa mineral clay.

Berdasarkan atas kemampuan menggantikan, kation-kation dapat diurutkan


dalam suatu deret yang tergantung pada jenis mineral dan ion yang akan
digantikan. Deret kation berdasarkan makin bertambahnya kemampuan
menggantikan (replacing power) tersebut dapat dilihat dibawah ini.
Li+ < Na+ < H+ < K+ < NH4+ < Mg2+ < Ca2+ << Al3+

Jumlah dari pergantian kation ternyata tergantung kada konsentrasi ion dalam
larutan. Beberapa persamaan telah dikembangkan, tetapi yang paling
sederhana dan paling umum digunakan pertama kali dikemukan oleh Gapon,
yaitu :
Me n1 n1
Mo n1
K ......................................................................................................... (6-61)
Ne n 2 n2
Mo n 2

Dimana M dan N adalah kation masing-masing bervalensi n1 dan n2, subskrip


"e" menunjukan kation yang dapat diganti (exchangeeable) dan "o" untuk ion
bukan di dalam larutan, K adalah konstanta yang tergantung pada spesifik
efek absorbsi kation. Untuk pergantian ion-ion monovalent sodium dan
divalent calcium persamaan menjadi:
Nae Nsa o
K ............................................................................................................... (6-62)
Cae Cao

Harga kapasitas pergantian kation pada range yang rendah biasanya dimiliki
oleh mineral-mineral authigenic, yakni mineral clay yang terbentuk dari proses
kimiawi. Sedangkan harga yang tinggi pada sutu range biasanya dimiliki oleh
mineral-mineral allogenic, yakni mineral yang berasal dari pecahan batuan
induk. Tetapi ini sulit ditentukan, sebab selain pada kedua sebab di atas,
kapasitas pergantian kation juga tergantung pada :
 Jenis dan kristallinitas mineral clay. Mineral clay yang berukuran kecil
biasanya memiliki kapasitas pergantian kation akan makin kecil bila
kristallinitas suatu mineral makin baik.
 PH pelarut.

Makin besar PH larutan, makin besar kapasitas pergantian kationnya.


 Jenis kation yang dipertukarkan.
 Kadar atau konsentrasi mineral clay.

Page 333 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Sedangkan laju reaksi pergantian kation tergantung pada jenis kation yang
dipertukarkan dan jenis serta kadar mineral clay (konsentrasi kation).

Adapun hal yang menyebabkan mineral clay memiliki kapasitas pergantian


kation adalah adanya ikatan yang putus disekeliling sisi unit silica – alummina,
akan menimbulkan mutanyang tidak seimbang sehingga agar seimbang
kembali harus bervalensi rendah terutama magnesium di dalam menyerap
kation.

Adanya substitusi alumunium bervalensi 3 di dalam kristal untuk silicon


quadrivalent, serta ion-ion bervalensi rendah terutama magnesium didalam
struktur tetrahedral.

Pergantian hydrogen yang muncul dari gugusan hydroksil yang muncul oleh
kation-kation yang dapat ditukar-tukarkan (exchangeable). Namun untuk
faktor yang ketiga ini ada keraguan karena pada kondisi pertukaran ini
hidrogen tidak akan dapat diganti oleh kation secara normal.

Reaksi pergantian kation kadang-kadang bersamaan dengan swelling. Bila


permukaan clay kontak dengan air dan dengan menganggap bahwa satu plat
clay terpisah dari matriknya, maka ion-ion yang bermuatan positif (kation)
akan meninggalkan plat clay tersebut. Karena molekul air adalah polar maka
molekul air akan ditarik balik oleh kation yang terlepas maupun oleh plat clay,
dan molekul air yang bermuatan positif akan ditarik oleh plat claynya sendiri,
sehingga keseluruhan clay akan mengembang.

Masalah lain dari pergantian kation ini adalah pengaruhnya terhadap


permeabilitas clay, sebagaimana dapat ditunjukan sebagai contoh pada
Gambar 24 dibawah ini. Jumlah kation yang diabsorbsi tergantung pada jenis
mineral clay, konsentrasi air, jenis kation dan konsentrasi relatif dari kation.
Namun menurut Marshal sebagian dari kation yang diabsorbsi mengalami
ionisasi.

b). Anion Exchange (pergantian anion)


Reaksi pergantian anion sangat sulit diselidiki dikarenakan adanya
kemungkinan mineral clay akan mengurai salama reaksi berlangsung. Kasus ini
ditemukan pada absorbsi phospate olek kaolinite, dimana terjadi pengrusakan
struktur kaolinite yang disebabkan bereaksinya ion phosphate dengan alumina
pada struktur kristalnya disamping pergantian gugusan hidroksil dephosphate.
Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab terjadinya pergantian anioan.
1. Adanya rantai ikatan yang putusditepi partikel mineral clay. Rantai yang
putus tadi diperkirakan akanmenyediakan tempat (muatan) negatif
sebanyak tempat (muatan) positif sekeliling sisi mineral clay, sehingga
diharapkan kapasitas pergantian anion sama dengan kapasitas pergantian
kation.

Page 334 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

2. Perpindahan ion hidroksil pada permukaan partikel mineral clay.


3. Geometri dari anion-anion dalam hubungannya dengan geometri struktur
mineral clay. Anion-anion seperti phosphate, arsenate, borate yang
mempunyai ukuran dan geomerti yang sama seperti pada silica dengan
struktur tetrahedral, mungkin terserap secara sempurna pada pinggir silica
tersebut.

Gambar 6.51. Pengaruh kation-kation yang dapat diganti


terhadap permeabelitas beberapa jenis clay yang
berbeda.

Pada kenyataannya kapasitas pergantian anion tidak sama besar dengan kapasitas
pergantian kation. pada mineral kaolinite dimana pergantian kation disebabkan
oleh putusnya ikatan, maka kapasitas pergantian anionnya. Sedangkan pada
smectite dan vermiculite dimana pergantian kation disebabkan oleh substitusi,
maka kapasitas pergantian anionnya jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas
pergantian kationnya; Begitu juga halnya pada mineral Illite, Chlorite, sepiolite dan
palygorskite. Kapasitas pergantian anion beberapa mineraldapat dilihat pada Tabel
6.6 di bawah ini :

Page 335 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.6. Kapasitas pergantian anion mineral clay.


(milliequivalent/100 gram)

Mineral (mec/100 gr)


Monmorillonite, Geisenhein 31
Monmorillonite, Wyoming 23
Beidellite, Unterrupsroth 21
Nontronite, Untergriesbach 20
Nontronite, Pfreindtal 12
Saponite 21
Vermiculite 4
Kaolinite 20

c). Sistem air-clay


Sifat menghidrate mineral clay memungkinkan mineral tersebut menarik ion-
ion melalui permukaannya, menyebabkan terserapnya air dalam beberapa
cara,yakni:
1). Bersifat mengikat untuk menahan partikel clay bersama atau membatasi
jarak sejauh masih dapat dipisahkan.
2). Menyerap kation dan menghidratenya, yaitu menyelimutinya dengan
molekul-molekul air yang mungkin akan mempengaruhi konfigurasi
molekul air yang diserap di dekatnya.
3). Ukuran dan geometri ion yang terserap akan mempengaruhi bagaimana
terbentuknya konfigurasi molekul air yang terserap serta sifat-sifatnya.

Suatu bentuk konfigurasi molekul-molekul air yang diserap oleh mineral clay
dikemukan oleh Hendricks dan Jefferson (1938) yang didasarkan pada orientasi
srtuktur dan konfigurasi molekul yang mengikat oksigen atau gugusan hidroksil
pada permukaan lapisan basalt dalam satuan cell mineral clay. Konfigurasi molekul
air tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.52 dan Gambar 6.53. Pada Gambar 6.52
ditunjukan bahwa lapisan air tersusun atas molekul air yang berhubungan dengan
jaringan struktur hexagonal. Struktur ini sebagian adalah akibat dari distribusi
muatan dari molekul air yang berbentuk tetrahedral, dimana dua sudut dari
struktur ini diisi oleh kelebihan electron.

Page 336 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.52. Susunan Oksigen dan Hidrogen pada jaringan


molekul air.

Tiap sisi dari jaringan hexagonal harus dihubungkan dengan ikatan dari molekul air
yang langsung menuju muatan negatif dari molekul disampingnya.

Gambar 6.53. Konfigurasi jaringan molekul air yang terikat pada


permukaan mineral clay.

Page 337 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.53 menunjukan bahwa pengikatan terjadi karena gaya tarik antar atom-
atom hidrogen yang tidak termasuk dalam jaringan ikatan molekul air dan
permukaan lapisan oksigen dari mineral clay. Disini dianggap bahwa atom- atom
oksigen terletak sebidang, dan konfigurasi ini relatif terbuka pada molekul-molekul
air. Kemantapan dari bidang lapisan molekul air dapat dilihat dari hubungan
geometris dari atom-atom oksigen atau gugusan hidroksil terhadap kerangka
silica.

Air yang diserap oleh mineral clay tersebut akan bertahan pada temperatur yang
relatif rendah, karena dengan pemanasan pada temperatur 100o sampai 150o air
tersebut akan dilepaskan. Kondisi air yang terikat ini dibagi tiga kategori, yaitu :
1). Air yang berada dipori-pori, dipermukaan dan disekeliling partikel-partikel
mineral clay.

2). Air yang berupa sisipan-sisipan diantara bidang pelapisan unit silicate yang
dapat menyebabkan pengembangannya (swelling) mineral clay tersebut. Hal
tersebut terjadi pada mineral montmorillonite, Vermiculite dan halloysite.

3). Air terdapat dalam tabung-tabung terbuka diantara perpanjangan unit-unit


strukturnya, yang mana hal ini terjadi pada mineral sepolite dan attapulgite. Energi
untuk pemindahan air pada kategori 1sangat kecil dan temperatur peneringannya
sedikit diatas temperatur ruangan. Sedangkan air pada kategori 2 dan 3
memerlukan energi tertentu untuk memindahkannya yang sempurna.

Kecepatan pemindahan lapisan-lapisan air bertambah sebanding dengan naiknya


temperatur. Untuk halloysite reaksi tidak reversible, dan mineral yang mengalami
hidrasi biasanya tidak dapat mengembalikan sifat semulanya. Vermiculite dan
montmorillonite akan mengalami hidrasi kembali dengan susah-payah, apabila
proses dehidrasinya berlangsung dengan sempurna, tetapi ini akan mudah apabila
masih ada bekas-bekas air yng tinggal diantara unit-unit pelapisan mineral
tersebut.

6.10.1.4. Sifat-sifat Listrik Mineral Clay


Sifat mengabsorbsi kation-kation dan pertukarannya dari mineral clay,
menyebabkan ia memiliki sifat kelistrikan. Sifat tersebut dapat ditunjukan dengan
adanya membrane potensial yaitu perbedaan potensial antara suspensi clay
dengan larutan. Sifat lainnya dari mineral clay adalah sifat konduktifnya.
a). Membrane Potensial
Membrane potensial timbil deangan adanya arus listrikyang disebabkan oleh
adanya gerakan ion bermuatan listrik positif (kation) dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah. Hal ini dapt kita lihat bila mineral

clay ditempatkan pada larutan elektrolit NaCl. Mineral clay mengabsorbsi Na+,
sebaliknya mineral clay menolak ion Cl-. Bila mineral clay dimisalkan larutan

Page 338 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

NaCl pada konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, dengan demikian akan


timbul arus listrik. Dengan demikian maka membrane potensial yang ada
merupakan perbedaan potensial antara suspensi clay yang mengabsorbsi
kation Na+ dengan larutannya.

Pada formasi dilapangan, membrane potensial berupa lapisan shale yang


bertindak sebagai membrane pemisah ion-ion. Membrane ini berfungsi untuk
melewatkan kation yang bergerak dari air formasi dapat lapisan pasir sebagai
lingkungan konsentrasi tinggi ke fresh-water dalam lumpur pemboran sebagai
lingkungan konsentrasi rendah. Keadaan tersebut menyebabkan adanya
perbedaan potensial, beda potensial inilah yang dicatat atau dideteki pada
spontaeous-potensial log (SP-log).

b. Sifat Konduktif Mineral Clay


Sifat konduktif mineral clay juga disebabkan oleh adanya penarikan kation-
kation serta mepertukarkannya oleh mineral clay tersebut.

Permukaan koloid mineral clay mempunyai muatan atau sifat negatif sehingga
ia menarik kation-kation membentuk lapisan atau membrane difusi ion yang
juga diffuse ion-layers. Interaksi diffuse ion-layers pada partikel yang
berdekatan memberikan petunjuk mengenai sifat-sifat swelling, plasticity dan
kandungan air dari clay.

Konduktifitas layer dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, dimana konduktivitas


merupakan fungsi dari kation dan anion, atau z1-z2, dimana z1 adalah jumlah
kation dan z2 adalah jumlah anion. Selain itu juga dipengaruhi oleh mobilitas
anion.

Pada konsentrasi rendah, kenaikan akan menyebabkan penurunan yang besar


pada obilitas. Dengan demikian pada konsentrasi rendah, kation lebih bersifat
monil dan mudah menghantarkan arus listrik, berarti konduktivitasnya menjadi
tinggi.

Selain konsentrasi larutan, ternyata konsentrasi clay juga mempengaruhi


konduktivitas diffuse ion layers. Konsentrasi clay yang tinggi akan
memperbesar mobilitas pertukaran kation sehingga konduktivitas diffuse ion
layers akan meningkat pula.

Dari uraian di atas dapat dirangkumkan bahwa sifat konduktif mineral clay
dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, jenis serta konsentrasi mineral clay yang
bersangkutan.

Page 339 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.10.2. Terjadinya Swelling


Adanya fasa cair dari lumpur pemboran (mud-filtrate) serta mineral clay yang bisa
mengembang (exspandable), adalah merupakan faktor utama penyebab terjadinya
swelling clay. Masalah ini terjadi disebabkan oleh adanya invasi mud filtrate yang
kemudian dihidrasi oleh mineral clay yang terdistribusi di dalam formasi.

6.10.2.1. Invasi Mud Filtrate


Invasi mud filtrate atau filtration rate, didefinisikan sebagai kecepatan masuknya
sebagian fasa cair ke dalam formasi sebagai akibat dari filtrasi lumpur pemboran.
Filtrasi tersebut terutama disebabkan oleh terlalu besarnya tekanan kolom
hidrostatik lumpur dibandingkan dengan tekanan formasi. Rate dari filtrasi atau
water loss tergantung pada lumpur yang digunakan, temperatur serta besarnya
tekanan differensial.

Selama pemboran berlangsung, lumpur pemboran dapat bersentuhan langsung


dengan dinding lubang sumur yang berlangsung selama beberapa hari bahkan
lebih lama lagi, dan selama itu mud filtrate dapat terinvasikan ke dalam formasi.
Invasi mud filtrate tersebut dapat menimbulkan beberapa masalah yang tidak
diinginkan dalam teknik pemboran dan produksi, dalam hal ini terutama terjadinya
pengembangan clay (clay Swelling).

Invasi mud filtrate ke dalam formasi produktif berlangsung dengan aliran radial.
Invasi tersebut melalui suatu lapisan yang disebut mud-cake. Mud cake ini
mempunyai permeabilitas dan berfungsi sebagai filter untuk mengurangi invasi
yang terjadi (dengan permeabilitas yang kecil) serta untuk mencegah terjadinya
keguguran formasi.

Rate dari filtration loss tergantung dari komposisi lumpur pemboran yang
digunakan, temperatur, dan tekanan differensial. Pengukuran filtration loss di
laboratorium dilakukan dengan menggunakan standard filter pressure, dimana
lumpur ditempatkan pada sebuah silinder yang pada dasarnya dipasang kertas
filter, sedangkan diatasnya dikenakan tekanan udara atau gas. Hasil dari percobaan
ini adalah dapat dilaporkan volume filtrate dan tebal mud cake yanmg terbentuk.
API filtration rate (statik) adalah cc filtrate/30 menit pada tekanan differensial 100
psig. Sedangkan mud cake diukur tebalnya dalam satuan per tigapuluh dua inchi.
Pengukuran tersebut mempunyai sifat kondisi yang statik yaitu bila pemboran
berhenti, yang sudah tentu akan berbeda bila dalam kondisi dinamik yaitu bila
terjadi sirkulasi dan penghancuran mud cake atau filter cake yang terbentuk oleh
bit.
a. Filtrasi Statik
Fluida loss melalui filter cake dapat dirumuskan sebagai berikut :

Page 340 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

2 LP1b t
V .................................................................................................................... (6-63)
 b ro W
V  Konst. t ...................................................................................................................... (6-64)

Persamaan di atas menyatakan bahwa volume filtrate sebanding dengan akar


pangkat dua dari waktu filtrasinya.

Dimana :
L = konsentrasi yang sebanding dengan filtration area
P = Tekanan pendorong (driving pressure)
 = viskositas liquid filtrate
ro = konstanta yang dipengaruhi oleh tahanan pengaliran
filtrate per-unit berat solid dalam filter cake
b = Konstanta kompressible
t = waktu filtrasi
w = berat dari bahan padat per-unit volume dari filtrasi yang dihasilkan
V = volume dari filtrate yang dihasilkan

Dari prakteknya ternyata untuk filtrasi statik berlaku hubungan :


t2
V2  V1
t1

dimana :
V1, V2 = filtration loss pada waktu
t1 dan t2 (cc).t1, t2 = waktu filtration test, menit.

Rumus diatas berlaku bila spurt atau semprotanf filtrate sebelum terbentuk mud
cake tidak diperhitungkan, dan temperatur kedua test sama. Bila temperatur
kedus test tidak sama, maka perlu koreksi sebagai berikut :
1
V2 V1
2

dimana :
 2 ,1 = viscositas cairan pada temperatur T1 dan T2.

Hubungan antara volume filtrate dengan waktu filtrasinya dapat dilihat pada
Gambar 6.55. Gambar 6.54 menunjukkan hubungan antara fluid loss dengan
tekanan filtrasinya.

Pada filtrasi statik dimana filtrasi berlangsung sewaktu tidak ada sirkulasi lumpur
pemboran dan rotasi drill string, mud cake terbentuk secara sempurna sehingga
invasi mud filtrate-nya kecil, dengan perkataan lain volume filtratenya kecil,

Page 341 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

dengan perkataan lain volume filtratenya akan lebih kecil dibandingkan volume
filtrate dinamik. Faktor-faktor yang mempengaruhi filtrasi statik lain adalah
 Jenis lumpur pemboran yang digunakan
 Tekanan Filtrasi
 Viscositas dan Temperatur

Gambar 6.54. Pengaruh tekanan Pada Filtration Loss.

Page 342 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.55. Hubungan volume Filtrat dengan Waktu Filtrasi


(metoda standar API water loss).

b. Filtrasi Dinamik
Filtrasi dinamik adalah filtrasi yang berlangsung sewaktu adanya sirkulasi
lumpur dan rotasi drill string. Filtrasi dinamik merupakan hasil yang paling
besar, yang mana akan tercapai sewaktu adanya aktivitas pemboran. Pada saat
itu terjadi penggabungan filtrasi dinamik dan filtrasi di bawah bit.

Suatu persamaan mengenai filtrasi dinamik sehubungan dengan lossfluida


setelah mud cake mencapai ketebalan tertentu (keseimbangan ketebalan) telah
diturunkan oleh Outman's sebagai berikut :

dimana :
V = Rate aliran fluida
kf = permeabilitas filter cake (diukur dari statik filtration loss).
b = viskositas filtrate cairan)
F = koefisien internal friction antara partikel padat dengan filter cake,
empiris.
d = ketebalan lapisan permukaan filter cake setelah tercapai
keseimbangan dengan erosi yang dideritanya, empiris.

Page 343 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

-v+1 = Compaction coeficient, angka yang menunjukkan kesen


sitifan tekanan pada kompresibilitas filter cake (antara 0.10 - 0.15)
F = shear force; Harga ini dapat diperoleh dengan rumus :

Dimana :
D = diameter saluran
Y = Yield point, lb/100 ft2
v = Kecepatan fluida mengalir, ft/sec
 = Viscositas plastik, cp

Pada filtrasi dinamis mud cake yang terbentuk sangat mungkin untuk rusak
akibat gesekan denganm drill string, atau kena erosi oleh fluida pemboran. Hal
tersebut akan menambah filtrate yang masuk ke dalam filtrasi yang masuk ke
dalam formasi. Apabila pemboran menembus formasi shale dimana di dalamnya
terdistribusi mineral clay yang swelling maka akan terjadi hidrasi mud filtrate
tadi oleh clay sehingga terjadi pembengkakan lempung (clay swelling) di dalam
formasi, dan ini tidak dikehendaki, karena dapat menyebabkan tidak stabilnya
formasi (sumur pemboran) tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
filtrasi dinamik antara lain adalah:
 kecepatan sirkulasi lumpur pemboran
 jenis lumpur pemboran yang digunakan
 tekanan filtrasi
 Viskositas dan temperatur

Hubungan antara rate filtrasi dinamik dengan waktu filtrasi untuk beberapa jenis
lumpur pemboran dapat dilihat pada Gambar berikut ini :

Gambar 6.56. Filtrasi dinamik dari lumpur bentonite

Page 344 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.57. Filtrasi dinamik dari oil base mud

Gambar 6.58. Filtrasi dari Emulsion Mud

c. Filtasi dari bawah bit


Yang dimaksud dengan filtrasi dari bawah bit adalah sejenis filtrasi dinamik
yang bervariasi melalui bagian bawah bit, dimana disana tidak terdapat filter
cake karena dihancurkan oleh putaran bit dan sirkulasi lumpur pemboran, fluida

Page 345 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

yang terinvasi dari bagian bawah bit terdiri dari mud filtrate dan fluida dari
dalam formasi. Aliran pada invasi ini adalah aliran radial dan vertikal terhadap
lubang bor, seperti ditunjukkan oleh Gambar 6.59 .

Gambar 6.59. Jalur aliran Filtrate dari Bagian Bawah Bit.

Penentuan volume filtrate yang melalui bagian didapat dengan persamaan


berikut :
Q f  Q  Ah Vd 

dimana :
Qf = rate aliran filtrate melalui dasar sumur, cc/menit.
Q = Rate aliran fluida yang melaui dinding formasi yang tegak lurus terhadap
sumur yang dianggap berbentuk silinder,cc/menit.
Ah = Luas dasar lubang sumur, inch2
Ud = Drilling rate, ft/jam
 = Porositas, fraksi

Kedalaman invasi mud filtrate dapat ditentukan berdasarkan persamaan :


J X Q/ E
 1 
rw E Ah  U d

dimana:
J = dalamnya invasi mud filtrate terhadap formasi produktif, inch.
rw = jari-jari sumur, inch
X = Fraksi connate water atau fluida yang terdesak ke bawah permukaan
dasar sumur dan tidak masuk ke dalam arus lumpur.
E = Effisiensi, fraksi daro connate water yang didesak oleh fluida di depannya.

Page 346 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa :


 Harga J/rw akan maximum pada harga X=0, artinya seluruh connate water
terdesak merembes ke dalam formasi produktif.
 Harga J/rw akan minimum pada harga X=1. artinya seluruh connite water
masuk ke dalam aliran lumpur.

Ketergantungan jarak invasi mud filtrate ke dalam formasi dapat dijelaskan


sebagai berikut :
Jika cutting yang terjadi besar-besar maka hampir seluruh liquid yang berada
dalam pori-pori cutting akan tercampur dengan lumpur dan tidak terdesak
masuk ke dalam lubang sumur, sehingga harga X akan kecil. Sebaliknya bila
cutting yang dihasilkan berukuran kecil, maka liquid dan pori-pori antara
butiran dapat didesak masuk ke dasar lubang sumur, sehingga harga X akan
mendekati satu. Harga tersebut dapat ditunjukkan oleh Gambar 6.60

Gambar 6.60. Aliran filtrate dan connate water.

Sebagai contoh data experimen untuk perbandingan invasi mud filtrate dapat
dilihat pada Gambar 6.61, sedangkan pada Gambar 6.62 ditunjukkan hubungan
antara volume filtrasi dengan waktu untuk beberapa jenis lumpur.

Page 347 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.61. Invasi mud filtrate karena filtrasi dari bawah bit.

Gambar 6.62. Filtrasi dari bawah bit dari jenis lumpur yang
berbeda.

6.10.2.2. Hidrasi Clay


Proses hidrasi air (air filtrat lumpur pemboran dan air formasi) oleh clay yang
mengakibatkan clay tersebut mengembang (swelling), tergantung dari jenis air
yang terhidrasi (asin atau tawar) serta struktur mineral clay yang dapat
mengembang (clay swelling) dan clay yang dapat mengembang (clay non-
swelling). Sedangkan proses hidrasinya berlangsung dengan dua mekanisme, yaitu
hidrasi osmosis dan hidrasi permukaan.

Page 348 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

a. Clay Swelling
Clay yang dapat mengembang ini (expandable clays) terdiri dari kelompok
mineral smectites (monmorillonite) dan mineral vermiculite.
1. Mineral-mineral smectites terdiri dari :
 Montmorrilonite
 Saponite
 orite
 Beidellite
2. Mineral Vermiculite

Mineral-mineral di atas mampu menyerap air (terutama air tawar) dalam


jumlah yang besar sehingga volumenya akan membesar secara keseluruhan
(swelling). Pada prosesnya ia akan membagi diri menjadi partikel-partikel clay
yang berukuran lebih kecil selama proses hidrasi.

Sebagai contoh kasus diambil sodium montmorrilonite(bentonite) yang


strukturnya terdiri dari dua silica tetrahedral dan satu alumina octahedral,
dapat dilihat pada Gambar 6.63.

Gambar 6.63. Struktur plat mineral bentonite

Gamabar 6.64. Struktur plat mineral bentonite yang telah diubah

Page 349 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Mengingat muatan listrik yang sama akan saling tolak menolak dan sebaliknya,
dan dengan ikatan oleh ion Na+, maka ikatan antar platnya akan lemah,
sehingga bila dimasukan ke dalam air, ia akan mengurangi dan air akan
terhisap ke permukaan clay sebagai proses hidrasi, sehingga akan
menyebabkan mineral tersebut membengkak (swelling).

b. Clay Non-Swelling
Clay non-swelling (unexpandable clays), pada pokoknya ia menyerap air hanya
saja dalam jumlah yang sangat kecil. Kelompok mineral ini terdiri dari:
 mineral Illite
 mineral Chlorite
 mineral Kaolinite

Sebagai contoh jenis mineral yang sering dijumpai dalam operasi pemboran
adalah mineral kaolinite. Struktut mineral ini terdiri dari satu perlapisan silica
octahedral dan diagramnya (sengle kaolinite plate) dapat dilihat pada Gambar
6.65.

Gambar 6.65. Struktur plate mineral kaolinite

Gambar 6.66. Struktur plate mineral kaolinite yang telah diubah.

Page 350 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Pada mineral kaolinite kationnya adalah + yang daya ikatnya sangat kuat
seperti kation yang divalent, disamping plate yang di seberangnya yang
mengandung ion hidroksil menambah kekuatan tarinknya. Dengan demikian ia
sukar terdispersi dalam air.

c. Hidrasi Permukaan dan Hidrasi Osmosis


Telah kita ketahui bahwa proses pada mineral-mineral clay dapat berlangsung
dengan dua mekanisme yaitu hidrasi permukaan dan hidrasi osmosis.

Hidrasi permukaan dicirikan oleh penyerapan air dalam jumlah kecil, yang
secara normal menyerap empat lapisan molekul air. Bila permukaan clay
kontak dengan air dan dengan menganggap bahwa satu plat clay terpisah dari
matriknya, maka ion-ion yang bermuatan positif (kation) akan meninggalkan
plat clay tersebut. Karena molekul air adalah polar, maka ia akan ditarik baik
oleh kation yang terlepas maupun oleh plete claynya sendiri. Kombinasi dari
dua plate clay ini disebut sebagai "Diffuse double layer". Proses hidrasi
permukaan plate clay dalam air untuk berbagai konsentrasi garam ditunjukan
oleh gamabar 6.40. Pada higrasi permukaan ini meskipun penyerapan airnya
kecil dan tidak mengembang, namun memiliki energi hidrasi yang cukup
tinggi, yaitu:
He = G - Pp

Harga diatas sama besarnya dengan gaya kompaksi effektif dari serpih yang
bersangkutan dimana :
He = Tekanan hidrasi, psi
G = Tekanan overburden (umumnya diambil 1 psi/ft)
Pp = Tekanan pori-pori batuan, psi

Dapat dilihat bahwa energi hidrasi permukaan dipengaruhi oleh sejarah


terbentuknya clay melalui proses sedimentasi.

Gambar 6.67. Sifat clay di dalam air dengan konsentrasi garam


yang berbeda-beda.

Page 351 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Hydrasi osmosis terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi ion yang ada
pada permukaan plat clay dengan konsentrasi ion dalam lumpur. Karena itu
hidrasi clay tergantung pada konsentrasi electrolit dalam cairan pemboran.
Hidrasi osmosis ini dapat menyerap air dalam jumlah yang besar, yang akan
menyebabkan lemahnya ikatan-ikatan ion yang ada pada kisi-kisi mineral yang
bersangkutan, sehingga volumenya dapat membengkak (swelling).
Berdasarkan konsep kelembaban relatif dalam termodinamika, Chevenet telah
menurunkan persamaan untuk menentukan tekanan osmosis dari dua larutan
sebagai berikut:
Po  RT 1 C1 V1  2 C2 V2 

Dimana :
Po = Tekanan osmosis, atm
R = Konstanta gas
T = Temperatur Absolut, oK
 = Koefisien dari larutan
c = Konsentrasi garam dalam larutan, molal
v = Jumlah ion dalam larutan per-mol

Energi hidrasi berbeda-beda untuk ion-ion yang berbeda pula, baik untuk clay
yang swelling maupun yang non swelling.

Terjadinya swelling sampai pada batas tertentu akan menyebabkan terdispersinya


clay yang bersangkutan. Dispersi adalah peristiwa terlepasnya plate-plate (partikel-
partikel) clay dari permukaannya secara kontinyu disebabkan berkurangnya daya
ikat antar plate pada permukaan clay tersebut. Meskipun masalah dispersi clay
sangat erat hubungannya dengan clay yang swelling (Expandable clays) tetapi
harus ditinjau secara terpisah, sebab pada kenyataanya beberapa clay yang
menunjukan sifat swelling (expandable clay) tetapi harus ditinjau secara terpisah,
sebab pada kenyataannya sifat swelling yang tinggi dapat disertai oleh sifat
dispersi yang rendah saja. Sebaliknya pada beberapa clay yang keras, meskipun
sifat swellingnya rendah, ternyata sifat dispersinya menunjukan derajat yang tinggi.
Peristiwa dispersi kadang-kadang berlangsung sangat cepat bila terjadi kontak
antara clay dengan fluida pemboran yang fasa utamanya adalah air (water base
drilling fluids).

Agregasi adalah bertambahnya daya ikat antar plat pada permukaan clay yang
menyebakan clay bersangkutan memiliki kecenderungan untuk lebih menyatu.
Agregasi (Aggregation) merupakan kebalikan dari sifat dispesi yang dimiliki oleh
clay yang swelling (Expandable clays). Pada Gambar 6.68 ditunjukan sifat dispersi
dan agregasi dari bentonite dalam air. Sifat lain dari clay yang swelling dalam air
adalah flokulasi dan deflokulasi (flocculation dan deflocculation). Floculation berarti
bertambahnya sifat mengikat antar tepi dari plate-plate clay. Gambar 6.68 juga
dapat menunjukkan sifat-ifat tersebut.

Page 352 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Dalam dunia perminyakan khususnya dalam teknik pemboran, jenis clay yang
dapat mengembang atau menghidrat (swelling clay) yang paling umum ditemui
adalah montmorrilonite, sehingga seringkali nama montmorrilonite digunakan
untuk mewakili semua jenis clay yang mengembang (swelling). Semakin dalam
penguburan batu serpih(siltstone), semakin sedikit jumlah mineral clay yang
montmorrilonite di dalamnya, sebalinya akan bertambah clay yang kaolitik. Karena
kedalaman berhubungan dengan usia geologi, maka jumlah fraksi clay dalam batu
serpih (formasi shale) juga bervariasi terhadap perioda geologi, seperti ditunjukan
oleh Gambar 3.69. Pada Gambar tersebut ditunjukan bahwa pada perioda Tersier
mineral montmorrilonite mempunyai distribusi terbesar, sedangkan pada periode
pre-Upper Mississippian jumlah terbesar dimiliki oleh gabungan (mix-layer) mineral
montmorrilonite-Illite.

Gambar 6.68. Sodium dan Calcium bentonite dalam air.

Page 353 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.69. Distribusi relatif dari empat jenis mineral clay dalam
formasi-formasi shale pada perioda geologi.

6.10.3. Prinsip Pengukuran


Ada dua macam yang biasa dipakai untuk mengukur swelling clay dilaboratorium
yaitu Geonor swelling atest dan CBR Test. Pada prinsipnya pengukuran swelling
dengan dua alat tersebut adalah sama, dimana pengembangan sample (clay)
setelah terjadi hidrasi (clay mengabsorbsi air) menimbulkan menyimpangan "dial
swell" sedangkan besarnya tekanan swelling dari suatu sample adalah tekanan
yang dihasilkan dari gaya persatuan lias plate untuk mengembalikan sample ke
keadaan/ketinggian awal (elevasi awal, dial swell = ho) dan ini diwakili oleh gaya
yang maximum, yaitu ketika swelling mencapai maximum pada akhir percobaan.
Gaya untuk mengembalikan sample evaluasi awal pada Geonor Swelling Test
dimobilisasikan dengan kedua alat tersebut adalah harga "dial swell" yang
menunjukkan besarnya swelling sample dan tekanan swelling yaitu tekanan untuk
melawan agar sample tidak mengembang (swelling).

6.10.3.1. Pengukuran dengan Alat Geonor Swelling Test


Parameter yang diukur dengan alat ini adalah : dial swell, tekanan swelling dan
waktu.

Page 354 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

a. Dial Swell
Dial swell dalam posisi awal adalah ketika sample mempunyai ketinggia ho,
yang diperoleh melalui proses kompaksi dan expansi berdasarkan prinsip
sedimentasi.

Dial swell akan bekerja beberapa saat setelah sample kontak dengan air
(mengabsorbsi air) skala yang terbaca pada dial swell ini adalah besarnya
swelling sample yang perbandingannya terhadap ho memberikan persentase
swelling sample.

b. Tekanan Swelling
Tekanan swelling adalah besarnya tekanan untuk menjaga agar sample tidak
mengembang (swelling).

Pada prakteknya tekanan swelling merupakan gaya persatuan luas plate


(diatas sampl untuk mengembalikan sample ke evaluasi awal yaitu ho. Jadi
tekanan swelling disini adalah gaya persatuan luas untuk melawan
pengembangan atau desakan swelling. Gaya ini dimobilisasikan melalui alat
yang disebut "warm gear" dan besarnya terbaca pada "dial swell" tekanan
swelling yang representatif untuk suatu sample adalah tekanan swelling
maximum yaitu pada akhir percobaan.

c. Waktu
Pengukuran kedua parameter di atas dilakukan untuk interval waktu yang
umum yaitu pada tiap :
(15,30) detik, (1,2,4,8,15 dan 30 ) menit, (1,2,4 dan 24) jam untuk tiap sample.

6.10.3.2. Peralatan
Gambar alat Geonor Swelling Test dapat dilihat pada Gambar 6.69. Bagian-bagian
terpentingnya adalah :
1. Lucite Cylinder yang di dalamnya terdiri dari:
 silinder sample
 filter paper
 filter keramik
 filter stone
2. Dial Swell
3. Dial Gouge
4. Warm Gear
5. Pengontrol Dial Reading

Page 355 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.70. Geonor Swelling Test Apparatus

6.10.3.3 Cara dan Hasil Pengukuran


a. Cara Pengukuran
1. Menempatkan silinder sample di atas filter keramik bagian bawah,
gunakan filter paper di bagian atasnya untuk menjaga peralatan tetap
bersih
 Mengisi silinder sample dengan sample kering sebanyak 20 gram.
Pengambilan dilakukan dengan metoda sedimentasi sampai setinggi
silinder sample.
 Mengangkat sample dengan "Clamping ring" ke dalam lucite
cylinder. Pasang filter paper, keramik, stone dan tutup diatas sample.
2. Preconsolidation, yaitu :
 Mengatur dial gouge dan mengenakan gaya sebesar 200 t/m2
melalui "warm gear" untuk konsolidasi sample. Keseimbangan pada
sample akan dicapai selama 4 sampai 10 jam.
 Lepaskan gaya (dial gouge = 0) dan biarkan mengembang sampai
pada ketinggian konstan (ho). Pengembangan akan berkisar antara
0.5 sampai 1 mm untuk montmorrilonite dan berlangsung selama 8
sampai 16 jam. Catat ho = h silinder - h comp + hexpansi
3. Absorbsi, yaitu :
 Air yang telah disaring dimasukan ke dalam lucite cylinder setinggi
sample. Absorbsi akan berlangsung melalui filter. Waktu mulai
dicatat.
4. Tekanan Swelling
 Pengembangan (swelling) akan terjadi setelah sample kontak
dengan air (absorbsi). Dial swell serempak bekerja.

Page 356 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

 Gaya akan bekerja melalui warm gear untuk mengembalikan ke


evaluasi awal ho. Gaya ini yang terbaca pada dial gouge dan
menggambarkan 1.10 tekanan swelling sample.

b. Hasil pengukuran :
Sesuai dengan waktu pengukuran yang dibaca, diperoleh hasil secara tabulasi
sebagai berikut

Tabel 6.7. Hasil pengukuran Swelling dengan Alat Geonor Swelling Test

Tekanan Swelling
Waktu Dial Gauge Dial Swell
Swelling (%)

 Tekanan Swelling = 10 x (dial gouge)

Dial Swell H 


Swelling SampleS s  
Tinggi Awal Tinggi mold 

Hubungan antara tekanan swelling sample dengan waktu dapat dilihat pada
Gambar 6.71. Sedangkan untuk hubungan antara swelling sample dengan waktu
dapat dilihat pada Gambar 6.70. Secara keselurhan prinsip pengukuran swelling
sample dengan menggunakan alat Geonor Swelling Test, dapat digambarkan
secara grafis pada Gambar 6.71.

Gambar 6.71. Kurva Tekanan Swelling Sample Terhadap Waktu

Page 357 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.72. Kurva Swelling Sample Terhadap Waktu

Gambar 6.73. Prinsip Pengukuran Swelling Dengan alat Geonor


Swelling Test.

Page 358 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.10.4. Pengukuran dari Alat CBR

6.10.4.1. Parameter Yang Diukur


Parameter yang diukur melalui alat ini adalah dial swell untuk beban kerja tertentu
dan waktu tertentu pula. Prinsipnya sama dengan pengukuran Geonor Swelling
Test, hanya berbeda pada hal beban kerja pada periode pengukuran tertentu
adalah tetap. Periode waktu pengukuran untuk alat ini lebih panjang (berhari-hari).
Sedangkan hasil pengukurannya kurang teliti dibandingkan dengan hasilo
pengukuran pada alat Geonor Swelling Test.

6.10.4.2. Peralatan
Bagian-bagian penting alat dapat dilihat pada Gambar 3.74- 3.75. Bagian-bagian
tersebut yaitu :
1. Silinder
2. Ring logam
3. Batu porous
4. Plat logam (besi atau kuningan)
5. Beban kerja/rencana
3. Dial-swell

6.10.4.3. Cara dan Hasil Pengukuran


a. Cara Pengukuran
1. Persipan bahan:
Sample didapatkan dengan metoda sedimentasi di dalam mold silinder
atas beberapa lapisan. Dipotong setinggi mold, lalu dipasang diatasnya.
2. Pengukuran:
Beban kerja/rencana dikenakan di atas alat tadi. Dial Swell diatur de
keadaan awal, kemudian semua sistem alat tadi dimasukan ke dalam
silinder berisi air sampai terendam.

Dial swell akan mulai bekerja karena swelling, pengukuran/pembacaan


dimulai sesuai interval waktu tertentu.

Page 359 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.74. Mold Silinder dari CBR Test Appartue

Gambar 6.75. Swelling Sample Terhadap Waktu Untuk Satu Jenis


Sample Pada Tiap beban Kerja.

b. Hasil pengukuran dengan alat inisecara tabulasi adalah sebagai berikut :

Tabel 6.8. Hasil Pengukuran Swelling Dengan Alat CBR Test.

Waktu Beban Kerja Dial Swell Tekanan Swelling


Swelling %

Page 360 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tekanan swelling sample (Pss) diperoleh dari beban kerja maksimum (Bms), yaitu
dimana pada beban kerja tersebut sample tidak mengembang lagi.
Bms
Pss 
As
dimana
As = Luas permukaan plat di atas sample
Dial Swell H 
Swelling SampleS s  
Tinggi Awal Tinggi mold 
dimana
Ho = Tinggi awal sample (tinggi mold CBR).
H
Ss  x 100%
Ho

6.11. Lumpur Dasar Minyak (Oil Base Mud)

6.11.1. Oil Base Mud


Pengembangan oil-base mud dimulai pada awal tahun 1920 ketika para engineer
menyadari bahwa dengan terbukanya formasi tertentu maka filtrat yang dihasilkan
dari water-base mud hilang dalam formasi produktif. Oil-base mud pertama kali
digunakan sebagai fluida komplesi dan workover. Para peneliti mencatat bahwa
produksi sumur dapat diperbaiki jika dibandingkan dengan sumur yang dibor
dengan water-base mud. Kemudian, dari hasil uji laboratorium dapat
dikonfirmasikan apa yang terjadi. Jika formasi produktif mengandung clay yang
dapat menghidrat berhubungan dengan air akan menyebabkan clay mengembang
dan terdispersi. Ketika terdispersi clay berpindah dengan fluida kedalam ruang pori
sampai mencapai menyumbat pori dan membentuk suatu penutup (bridge),
sehingga dapat menghentikan atau menghalangi aliran. Mekanisme ini disebut
clay blocking. Tetesan air dan padatan yang larut dalam air menyebabkan naiknya
apparent viscosity minyak dan mengurangi kemampuan untuk mengalir, kondisi ini
disebut sebagai water blocking atau solid blocking. Dari hasil studi core telah
didokumentasikan bahwa kapasitas produktif dapat berkurang sebanyak 90%
akibat pengaruh intrusi air tawar kedalam formasi yang sensitif.

Crude oil digunakan secara efektif pada awal penggunaan lumpur ini, tetapi
dengan penggunaan yang terus-menerus mempunyai beberapa kerugian yang
serius, yaitu :
1. Material pemberat tidak dapat tersuspensi karena kurangnya struktur gel
2. Viskositas bervariasi, tergantung dari tempat diperolehnya crude oil
3. Fluid loss ke dalam formasi berlebihan
4. Dapat terjadi bahaya kebakaran karena terdiri dari unsur-unsur yang volatil
dalam crude oil

Page 361 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

5. Keefektifan penyekatan formasi jelek karena tidak adanya padatan koloid yang
dapat menghasilkan wall cake.

Untuk mengatasi kerugian-kerugian tersebut, peneliti melakukan pengembangan


sistem yang sifat-sifatnya telah diprediksi sehingga dapat menjaga keefektifan
selama operasi pemboran atau komplesi. Penelitian ini dilakukan terhadap dua
front utama. Usaha pertama adalah mentreatment minyak sehingga material
pemberat dapat tersuspensi. Kedua melibatkan sejumlah emulsifying air yang
relatif besar kedalam minyak. Penelitian terhadap kedua front tersebut
menghasilkan dua sistem oil-base, yang secara umum disebut sebagai true-oil
mud dan invert emulsion. Kedua sistem tersebut diperoleh dari mud service
company. Sistem ini sangat komplek, dan harus diawasi oleh orang-orang yang
terlatih dalam semua tahap operasi termasuk formulasi, pendesakan, perawatan,
prosedur test khusus, peralatan yang hanya digunakan untuk oil-base mud, dan
awal pengenalan problem.

Teknologi oil-base mud sangat berbeda dengan water-base mud. Pemantauan


terhadap sifat-sifat lumpur bukan sebagai sesuatu yang dapat diprediksi, terutama
jika pengguna lumpur (mud user) tersebut tidak mengerti atau mengetahui sifat-
sifat kimia dari produk yang digunakan atau jika bahan-bahan kimia dari yang
digunakan berasal dari berbagai suplayer. Keaneka-ragaman bahan-bahan kimia
yang digunakan untuk oil-base mud tampaknya sedikit, akan tetapi sebenarnya
dapat merusak sistem lumpur jika penggunaannya tidak sesuai. Dalam sistem
water-base, pada umumnya dapat diprediksi pengaruh treatment kimia dan
kontaminan terhadap sifat-sifat fisik lumpur, tetapi untuk oil-base mud tidak selalu
mungkin, terutama jika orang yang bertugas sebagai pengawas belum
mendapatkan latihan yang memadai.

Meskipun sistem lumpur oil-base relatif mahal dibanding dengan lumpur water-
base, penggunaannya telah semakin meningkat pada dasa warsa yang lalu.
Penggunaan sistem lumpur oil-base terutama adalah :
1. Pemboran yang mengalami problem shale
2. Pemboran dalam, dan bertemperatur tinggi
3. Fluida komplesi
4. Fluida workover
5. Fluida packer
4. Fluida perendam untuk pipa terjepit
6. Pemboran zona garam yang masif
7. Fluida coring
8. Pemboran formasi yang mengandung hydrogen sulfide dan karbon dioksida.

Page 362 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.11.2. Teori Emulsi


Emulsi didefinisikan sebagai dispersi suatu fluida, yang disebut fasa internal dalam
fluida yang lain, yang disebut sebagai fasa eksternal atau fasa kontinyu. Dua
macam cairan yang tidak tercampur , tetapi fasa internal tetap terdispersi dalam
fasa kontinyu dalam bentuk butiran-butiran kecil (lihat Gambar 6.76). Jika butir-
butir air terdispersi dalam minyak, maka akan terbentuk water-in-oil emulsion. Jika
butir-butir minyak terdispersi dalam air, maka akan menghasilkan oil-in water
emulsion.

Gambar 6.76. Skema Yang Merepresentasikan Suatu Emulsi


Dengan butir-butir Yang tidak Seragam

Ada tiga istilah yang sering muncul dalam literatur lumpur pemboran, yaitu : oil-
emulsion mud, oil-base mud, dan invert emulsion mud. Istilah ©oil-emulsion mudª
hanya digunakan untuk oil-in-water system. Oil-base mud biasanya mengandung 3
- 5% air yang teremulsi dalam minyak sebagai fasa kontinyu. Invert-emulsion mud
dapat mengandung sampai 80% air (walaupun secara umum sekitar 50%) teremulsi
dalam minyak. Sedangkan dua yang terakhir adalah water-in-oil emulsion.

Jenis emulsi yang terbentuk ketika dua macam cairan yang tidak tercampur secara
mekanis terpotong akibat penambahan bahan kimia emulsifier. Gambar 6.77
menunjukkan bentuk struktur dari emulsifier strearic acid. Polar head dari molekul
ini larut dalam air, sementara non polar tail larut dalam media organik, seperti
diesel oil. Jika strearic acid terlarut, hidrogen menjadi terpisah dari kelompok
hidroksil pada polar head. Jika kation sodium bebas (Na+) hadir, maka terbentuk
oil-in-water emulsion. Jika kation divalen seperti kalsium (Ca++) hadir, akan
menghasilkan suatu struktur yang bercabang dua. Hal ini cenderung membentuk
suatu permukaan minyak yang cembung yang membentuk water-in-oil emulsion.

Page 363 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Pemotongan mekanis dari campuran diesel oil, air, dan emulsifier dengan struktur
yang bercabang dua memecah air menjadi butir-butir yang lebih kecil dari
gabungan dengan suatu film molekuler pada setiap butiran tersebut. Film tersebut
adalah merupakan bidang kontak antar permukaan antara minyak dan air dimana
emulsifying agent terkonsentrasi. Fungsi dari emulsifier adalah untuk mengurangi
tegangan antar permukaan, yang secara alamiah butir-butir air cenderung akan
bergabung. Dengan mengkonsentrasikan emulsifier pada bidang antar permukaan
molekuler antara butir-butir minyak dan air, maka tegangan permukaan akan
berkurang. Butir-butir air yang telah berkurang menjadi kecil oleh adanya energi
mekanis, maka tidak akan membentuk kembali menjadi butir-butir yang lebih
besar jika emulsifier yang digunakan sudah mencukupi.

Ukuran butir-butir air adalah merupakan kunci stabilitas emulsi dan menentukan
sifat-sifat viskositas dan gel strength. Butir-butir ini karena ukurannya menjadi
kecil, dan seragam ukurannya akibat pemotongan mekanis dan distabilkan dengan
emulsifier, maka ukurannya mendekati koloid yang memberikan kekuatan struktur
untuk mengangkat cutting dari dasar lubang bor dan menahan cutting tersebut
ketika lumpur dalam keadaan diam.

Tiga kriteria dasar untuk pembuatan emulsi, yaitu pemotongan mekanis


(mechanical shearing) yang cukup untuk memperkecil butir-butir air dengan
ukuran yang seragam; emulsifying agent dalam jumlah yang memadai untuk
memisahkan butir-butir air dan mencegahnya agar tidak bersatu lagi; dan minyak
yang viskositasnya rendah sebagai fasa eksternal. Jumlah energi atau kerja yang
diperlukan untuk mendispersikan air ke dalam minyak berhubungan langsung
dengan viskositas cairan fasa kontinyu. Mobilitas (berapa kecepatan emulsifier
sampai ke bidang antar permukaan molekular) juga tergantung dari viskositas fasa
eksternal. Kriteria-kriteria atau faktor-faktor tersebut harus dipertimbangkan pada
saat mencampur oil-base mud, terutama invert emulsion, pada lokasi pemboran
(rig site).

Page 364 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.77. Pembentukan emulsi

6.11.3. Komposisi Lumpur Minyak (Oil Mud)


Produk dasar yang diperlukan untuk formulasi baik oil-base mud ataupun invert
emulsion system adalah sebagai berikut :
1. Diesel oil atau nontoxic mineral oil
2. Air
3. Emulsifier
4. Wetting agent
5. Oil-wettable organophillic clay
6. Lime
7. Barite/Hematite

Page 365 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Produk-produk pelengkap meliputi :


1. Calcium chloride/sodium chloride
2. Asphaltenes
3. Oil-wettable lignites
4. Calcium carbonate
5. Thinner

6.11.4. Formulasi Lapangan


Keberhasilan oil-base mud di lapangan memerlukan persiapan yang lama. Dengan
alasan ini, maka perlu diadakan pertemuan dengan mud company untuk
mendisusikan peralatan pencampur khusus atau bahan-bahan yang diperlukan,
prosedur pencampuran, prosedur pendesakan, spesifikasi sifat-sifat lumpur, dan
tersedianya peralatan test khusus. Perencanaan harus dikembangkan dalam
pertemuan tersebut untuk menangani kemungkinan problem yang akan terjadi,
seperti pipa terjepit, lost circulation, dan gas kick.

Pertemuan juga harus diselenggarakan dengan driiling contractor untuk menyusun


peralatan-peralatan khusus atau modifikasi-modifikasi peralatan yang ada untuk
menangani oil-base mud secara memadai.

6.11.4.1 Prosedur Pencampuran Diesel Oil-Base Mud


Berikut adalah prosedur pencampuran berdasarkan asumsi bahwa fasilitas
penyimpanan dan pencampuran tersedia di lokasi pemboran :
1. Larutkan sodium atau calcium chloride secukupnya dalam air pada tangki
pencampur terpisah
2. Tambahkan volume diesel oil atau nontoxic sesuai dengan kebutuhan ke
dalam tangki pencampur utama
3. Tambahkan sedikit demi sedikit basic emulsifier ke dalam diesel oil atau
nontoxic oil pada waktu sirkulasi melalui hopper
4. Pada waktu sirkulasi, tambahkan sedikit demi sedikit sekitar setengah air
sodium atau calcium chloride dalam campuran diesel oil/nontoxic oil
emulsifier
5. Tambahkan lime melalui hopper
6. Tambahkan emulsifier tambahan dan wetting agent
7. Sirkulasikan sistem dengan kuat, menggunakan lumpur gum sampai test
terbentuk emulsi yang stabil
8. Tambahkan material pemberat secukupnya.

6.11.4.2. Prosedur Pendesakan


Prosedur pendesakan merupakan tujuan utama untuk meminimalkan kontaminasi
oil-base mud dengan lumpur yang sedang didesak (biasanya berupa lumpur

Page 366 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

water-base) dan dengan filter cake dari dinding lubang bor. Langkah pertama
adalah mengkondisikan lumpur yang akan didesak agar harga gel strength dan
yield point berkurang. Langkah berikutnya adalah menyiapkan spacer, yaitu berupa
gelled diesel oil untuk memisahkan fluida pendesak dan lumpur yang akan
didesak. Beberapa perusahaan telah mengembangkan spacer yang dapat
diperperat baik digunakan pada penyemenan maupun pendesakan oil-base mud.
Spacer tersebut kadang-kadang merupakan campuran dari emulsifier dan wetting
agent yang tidak membentuk gel strength yang tinggi pada bidang antar
permukaan antara oil dan water-base mud. Metoda pendesakan yang lainnya
adalah menggunakan spearhead dengan highly viscous bentonite dan diikuti oleh
diesel oil dan fluida pendesak. Faktor ketiga dalam proses pendesakan adalah laju
pemompaan. Pada umumnya, pendesakan harus menggunakan aliran turbulen.
Disamping itu juga dilakukan dengan memutar dan menaik-turunkan drill string.

6.11.5. Sifat-sifat Fisik Lumpur Minyak


Pemantauan sifat-sifat fisik oil-base mud sangat penting. Meskipun sistem lumpur
dipersiapkan secara memadai, tetapi biasanya menunjukkan adanya perubahan
sifat-sifat tersebut. Oleh karena itu, trend sifat-sifat fisik harus dipantau dan jika
perlu dilakukan koreksi-koreksi sebelum terjadi problem yang serius.

6.11.5.1 High-Temperature/High-Pressure (HTHP) Fluid Loss


Pengontrolan fluid loss dari oil-base mud bukan merupakan problem yang umum
karena bahan-bahan yang digunakan formulasi sistem lumpur tersebut dan
micellar emulsion sangat efektif untuk menyekat ruang pori yang sangat kecil. API
fluid loss lumpur minyak biasanya mendekati nol. HTHP fluid loss dari oil mud dan
invert system bervariasi antara 15 sampai 30 cc/menit

Telah lama disadari bahwa bahan-bahan koloid dalam lumpur mempunyai


pengaruh merusak terhadap laju penembusan. Studi microbit oleh FONENOT dan
SIMPSON dan hasil uji lapangan yang dilaporkan oleh O'BRIEN et al. menunjukkan
bahwa pengurangan kadar koloid dari sistem oil-base mud dapat menaikkan laju
penembusan. Karena fluid loss yang sangat rendah dan laju penembusan yang
sangat rendah telah menjadi ciri dari lumpur minyak.

HTHP fluid loss test dilakukan di laboratorium dengan menggunakan tekanan 750
psi pada fluida dengan back pressure 250 psi pada tabung penerima untuk
mencegah flashing atau penguapan dari filtrat minyak. Beberapa peralatan uji
lapangan menggunakan 600 psi dan 100 psi back pressure untuk memperoleh
perbedaan tekanan 500 psi. Penampang melintang HTHP cell adalah setengah dari
regular API fluid loss cell, sehingga volume filtrat yang terkumpul harus dikalikan
dua. Uji temperatur dan tekanan harus selalu dilaporkan dengan volume filtrat
terkoreksi.

Page 367 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.11.5.2 Sifat-sifat Aliran


Sifat-sifat aliran (plastic viscosity, yield point, gel strength) dipengaruhi oleh
banyaknya dan ukuran butir-butir air yang teremulsi dalam minyak; jumlah, ukuran
dan kondisi total padatan yang terkandung didalam sistem lumpur; dan
elektrokimia dan interaksi fisik dari padatan, air, dan hadirnya minyak. Sifat-sifat
aliran lumpur minyak dikembangkan dengan 4 metoda dasar :
 Sabun yang tidak larut, jika dibasahi dengan minyak, membentuk struktur
rantai panjang
 Bahan-bahan asphaltic yang menghasilkan viskositas melalui interaksi
mekanis
 Organophillic clay yang menghasilkan dispersi dalam media mi nyak
 Butir-butir emulsi yang menyerupai struktur micellar yang sangat kecil.

Pengukuran sifat-sifat aliran sistem oil-base pada permukaan dapat memberikan


trend yang baik terhadap perubahan fluida, tetapi dapat menyesatkan/keliru jika
pengaruh kondisi temperatur dan tekanan pada lubang bor tidak diperhitungkan.
Pengukuran sifat-sifat contoh lumpur minyak yang diambil di permukaan juga
dapat memberikan informasi penting terhadap perubahan sistem yang mungkin
terjadi, tetapi kondisi lubang bor yang sesungguhnya dapat menyebabkan harga
pengukuran di permukaan terlalu jauh berbeda dengan kondisi di dasar lubang
bor. Viskositas baik air maupun minyak berkurang dengan naiknya temperatur,
tetapi kedua fasa fluida tersebut perilakunya sangat berbeda dengan naiknya
tekanan. Viskositas air tetap tidak berubah dengan naiknya tekanan, tetapi
viskositas diesel oil, sebagai contoh, naik secara tajam dengan bertambahnya
tekanan.

Gambar 6.78 menunjukkan apparent viscosity diesel oil vs. tekanan pada
temperatur 100oF, 200oF, 300oF, dan 350oF. Dari Gambar tersebut secara mudah
dapat disimpulkan bahwa pada berbagai kombinasi temperatur dan tekanan di
dasar lubang bor apparent viscosity akan bertambah besar. Pada kasus lain,
apparent viscosity berkurang. Hal ini merupakan masalah pokok, mengapa
engineer tidak dapat menggantungkan pengukuran di permukaan ketika
memperkirakan kehilangan tekanan, bit hydraulics, kapasitas pengangkatan
cutting. Beberapa mud company telah mengembangkan metoda dan faktor koreksi
untuk memperkirakan harga apparent viscosity sistem oil-base, sehingga engineer
dapat mentreatment dan melakukan perhitungan hidrolika. Chart-chart dan Tabel-
Tabel yang dikembangkan oleh mud company berdasarkan pada asumsi bahwa
lumpur minyak akan dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan dengan cara yang
sama seperti diesel oil.

6.11.5.3 Oil-Water Ratio


Seperti telah dijelaskan dimuka, bahwa sistem oil-base mempunyai fasa eksternal
minyak dan fasa internal air, yang bervariasi dari 5% vol sampai sekitar 50% vol.
Jika campuran dari kedua fasa tersebut diputus secara mekanis dengan hadirnya

Page 368 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

emulsifier yang memadai, air akan terdispersi kedalam butir-butir yang sangat
kecil, yang disebut sebagai colloidal micelles. Mereka mempunyai pengaruh yang
sama terhadap viskositas yang diperoleh jika koloid ditambahkan kedalam lumpur
water-base. Oleh karena itu, naiknya kadar air atau berkurangnya oil-water ratio
akan menyebabkan naiknya viskositas, sedangkan dengan bertambahnya kadar
minyak akan menurunkan viskositas. Meskipun demikian, manipulasi oil-water ratio
untuk mengatur viskositas oil-base mud biasanya tidak dilakukan kecuali untu
kondisi khusus.

Gambar 6.78. Pengaruh tekanan dan temperatur terhadap


viskositas

Dalam perencanaan oil-base mud, cara terbaik adalah dimulai dengan oil-water
ratio minimum dan mencoba menjaga ratio ini sedekat mungkin selama pemboran
berlangsung.

6.11.5.4 Padatan (Solids)


Padatan halus masuk kedalam oil-base mud selama proses pemboran dan
menaikkan viskositas, berasal dari 3 sumber, yaitu : (1) organophllic clay, (2)
naiknya kadar air yang membentuk colloidal micelles, dam (3) cutting (drilled

Page 369 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

solids). Kelompok pertama, organophllic clay dapat dikontrol. Sumber padatan


kedua, colloidal micelles, dapat dikontrol kecuali dalam kasus aliran air yang
mengkontaminasi sistem. Kelompok ketiga, cutting, merupakan masalah yang
paling besar.

Bahkan dengan sistem solid control yang paling efektifpun, cutting akan tetap
bertambah dalam sistem oil-base. Cutting dalam oil-base mud sering terjadi
terutama karena cutting tidak menghidrat dalam sistem eksternal minyak. Hal ini
menunjukkan bahwa padatan tidak menghidrat dalam sistem lumpur minyak.
Ketika cutting menjadi koloid, tidak dapat dipisahkan dengan peralatan pemisah
padatan. Jika jumlah padatan terlalu banyak, maka akan menaikkan viskositas, dan
hanya treatment dengan minyak untuk menurunkan viskositas tersebut.

6.11.5.5 Penentuan Kadar Padatan


Prosedur untuk menentukan kadar padatan oil-base mud adalah sama seperti yang
digunakan untuk water-base mud. Prosedur ini ditunjukkan dalam API RP13B.
Untuk penentuan kadar padatan dalam lumpur minyak harus diperhatikan
beberapa hal, yaitu :
1) base oil (diesel, mineral oil, dsb.) menggantikan air atau larutan sabun dalam
pembersihan sampel dan peralatan, dan (2) total %volume padatan yang
dilaporkan meliputi kadar garam, bahan pemberat, cutting, dan kadar bentonit
komersial. Menurut
2) hal ini sangat penting untuk mengetahui low specific gravity kadar padatan
sebenarnya untuk menganalisa problem yang ada dalam lumpur. Low gravity
solid disebut LGS dihitung dari data retort seperti ditunjukkan pada Tabel 6.8.
Tabel 6.9 memberikan densitas larutan dan faktor koreksi volume baik untuk
sodium chloride maupun calcium chloride.

Page 370 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.9. Perhitungan padatan dengan specific gravity rendah

Tabel 6.10. Densitas larutan dan faktor koreksi volume

Page 371 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.11 menunjukkan suatu analisa kadar padatan dengan menggunakan harga
specific gravity yang memadai untuk calcium chloride, hematite, dan low-density
solids.

Tabel 6.11. Analisa kadar padatan dalam oil-base mud dari sumur

Page 372 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.79 dan 6.80 menunjukkan kadar padatan terkoreksi vs. densitas untuk
lumpur minyak yang diperberat dengan hematite atau barite. Gambar-Gambar
tersebut telah dikoreksi untuk water-soluble solids, yaitu : sodium chloride, calcium
chloride, atau campuran dalam oil-base mud. Grafik-grafik tersebut sangat
berguna baik di kantor maupun di lokasi pemboran untuk menentukan keefektifan
teknik solid-control yang digunakan dalam menjaga konsentrasi low specific-
gravity solids pada batas yang ditentukan. Tiga garis diplot pada setiap grafik.
Garis di dasar adalah hematite atau barite, minyak, dan 10%, 20%, atau 20% air.
Garis kedua pada semua grafik diberi label ©poor solids aboveª. Garis ketiga dari
dasar diberi label ©maximum allowable solidsª. Engineer mempertahankan oil-
base mud total jumlah padatan yang tidak terlarut tetap berada diantara dasar
(bottom) dan garis kedua, tetapi tidak melebihi maksimum ©allowable solids lineª.

Gambar 6.79. Kadar padatan terkoreksi vs berat lumpur (lumpur


minyak denganmenggunakan hematite)

Page 373 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.80. Kadar padatan terkoreksi vs berat lumpur (lumpur


minyak dengan menggunakan barite)

6.11.6. Pengontrolan Activitas Oil-base Mud Untuk Mencapai


Stablitas Lubang Bor
MONDSHINE mengemukakan bahwa ada dua mekanisme yang diperlukan untuk
mengatasi gaya hidrasi yang dihasilkan oleh formasi shale, yaitu: hidrasi
permukaan dan osmotic swelling. Dalam pembahasan hidrasi permukaan, hal
pertama yang harus dipertimbangkan adalah bahwa shale mempunyai afinitas
terhadap air sama dengan gaya kompaksi. Afinitas ini sering disebut sebagai gaya
hidrasi permukaan, yaitu sama dengan tekanan overburden dikurangi tekanan
formasi. Gaya kompaksi adalah sama seperti formation matrix stress dan dapat
diperkirakan sebagai berikut :
OB = PP + MS
MS = OB - PP

dimana :
OB = tekanan overburden, psi/ft.
PP = tekanan formasi, psi/ft.
MS = matrix stress, psi/ft.

Page 374 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Biasanya, tekanan overburden besarnya 1 psi/ft, sedangkan tekanan formasi dan


matrix stress masing-masing sebesar 0,465 psi/ft dan 0,535 psi/ft. Dapat dilihat
dengan mudah bahwa tekanan formasi lebih tinggi, matrix stress lebih rendah dan
gaya hidrasi permukaan lebih rendah.

Perkembangan gaya hidrasi permukaan dalam shale adalah merupakan alasan


utama mengapa shale menjadi tidak stabil jika berhubungan dengan air tawar.
Penelitian telah dilakukan baik menggunakan pendekatan fisik maupun kimia
untuk mencegah hidrasi shale dalam sistem air tawar. Mekanisme kedua adalah
osmotic swelling merupakan prinsip ketidak-stabilan shale ketika pemboran
menggunakan oil-base mud.

Dengan mendefinisikan bahwa osmosis adalah aliran pelarut dari larutan yang
konsentrasinya kurang kedalam larutan yang kosentrasinya lebih tinggi melalui
selaput (membrane) semipermeable. Hal ini dijelaskan dengan Gambar 6.81. Dalam
oil-base mud, interfacial film disekitar setiap butir-butir air teremulsi beraski
sebagai film semipermeable. Jika fluida yang terdiri dari fasa air (internal) dalam
fasa minyak (eksternal) mengandung salinitas lebih tinggi dari fluida formasi, maka
akan terjadi transfer fluida dari shale, dan akibatnya akan terjadi dehidrasi pada
shale. Sebaliknya jika air bersatu dengan shale yang mempunyai kadar garam lebih
tinggi dari air dalam fasa internal lumpur pemboran, maka akan terjadi transfer
fluida ke dalam shale, sehingga dapat menaikkan gaya hidrasi. Pada saat ini
umumnya oil-base mud mempunyai konsentrasi calcium chloride sebesar 400.000
ppm. Konsentrasi ini dapat menghasilkan tekanan osmotik sebesar 13.100 psi,
merupakan gaya yang cukup untuk memªdesorbª air dari clay yang mengandung
montmorilonite dengan konsentrasi tinggi. Dalam beberapa kasus, tekanan
osmotik turun secara drastis antara 5.000 dan 10.000 psi. Tekanan tersebut dapat
dihasilkan oleh 220.000 sampai 310.000 ppm CaCl2. Larutan jenuh sodium chloride
akan menembangkan tekanan osmotik sebesar 5.800 psi. Maka, dapat terbukti
bahwa mengapa pada umumnya oil-base mud mengandung calcium chloride.

Page 375 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Gambar 6.81. Pengaruh tekanan osmotik, gerakan air berkadar


garam rendah menuju ke kadar garam tinggi

CHENEVERT mengemukakan konsep bahwa tidak ada perpindahan air baik dari
atau ke shale, karena potensi kimia atau aktivitas baik lumpur maupun shale harus
sama. Aktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas air dalam
sistem dengan fugasitas air murni. Untuk tujuan praktis, perbandingan fugasitas
(fugacity ratio) dapat digantikan dengan perbandingan tekanan uap (ratio of vapor
pressure). Karena tekanan uap pada dasarnya sama seperti kelembaban relatif, dan
karena kelembaban relatif air murni adalah 1,0, maka aktivitas setiap sistem secara
relatif dapat ditentukan, yaitu 1,0. Jika aktivitas formasi yang dibor diketahui , maka
sistem lumpur dapat dipersiapkan atau diatur agar mencapai aktivitas yang sama.
MONDSHINE mengemukakan tentang pendekatan secara sederhana untuk
memperkirakan aktivitas formasi shale, dengan asumsi bahwa aktivitas shale
dengan kedalaman dan tekanan formasi (kompaksi) dan dapat diperkirakan dari
matrix stress dan salinitas awal. Mondshine selanjutnya mengemukakan bahwa
matrix stress plus tekanan osmotik dalam formasi mendekati aktivitas formasi
tersebut. Dengan menggunakan berbagai variasi persamaan potensial kimia untuk
menunjukkan bahwa tekanan osmotik yang ada diantara lumpur minyak dikenal
sebagai salinitas dan formasi shale dikenal sebagai aktivitas. Persamaan dan
tekanan osmotik berbagai salinitas lumpur minyak berlawanan dengan shale yang
mengandung air tawar seperti yang disajikan dalam paper-nya. Pada dasarnya, apa
yang dikemukakan Mondshine adalah bahwa jumlah matrix stress dan tekanan

Page 376 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

osmotik sama terhadap aktivitas formasi. Dari data-data yang diplot pada Gambar
6.82, yang menunjukkan bahwa tekanan osmotik tegantung dari kadar garam air
dalam formasi.

Metoda-metoda yang dikemukakan oleh CHENEVERT dan MONDSHINE untuk


memperkirakan aktivitas shale hanya berbeda tingkat ketelitiannya. Hal-hal yang
harus diingat adalah :
1) uji laboratorium untuk menentukan aktivitas langsung tergantung persen
berat air dalam shale yang sedang diuji dan
2) aktivitas shale pada dasarnya merupakan fungsi gaya kompaksi dan tekanan
osmotik dalam formasi.

Gambar 6.82. Kadar garam yang diperlukan untuk


menyeimbangkan tekanan

Berikut adalah petunjuk praktis yang dapat membantu dalam penyiapan dan
perawatan oil-base mud menstabilkan lubang bor yang bermasalah :
1. Shale biasanya mengandung clay yang dapat menghidrat dengan naiknya
kompaksi karena bertambahnya kedalaman, yang berarti bahwa gaya hidrasi
permukaan berkurang.
2. Pada umumnya salinitas yang lebih tinggi diperlukan dengan bertambahnya
kedalaman untuk memerangi pengaruh tekanan osmotik.
3. Pada umumnya shale dapat dikontrol dengan aktivitas antara 0,52 dan 0,53,
yang dihasilkan dari 300.000 sampai 350.000 ppm CaCl2.

Page 377 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

4. Dengan naiknya temperatur aktivitas lumpur juga bertambah, tetapi aktivitas


formasi berkurang.

6.11.7. Low-colloid Oil Mud


Setelah melalui berbagai tahapan pengembangan yang dimulai pada awal tahun
1950, invert emulsion mud yang mengandung sampai 50% air telah
disempurnakan sehingga pada saat ini dapat diandalkan sebagai fluida pemboran.
Kerugian utama dari penggunaan invert emulsion mud, dan juga oil-base mud
adalah tingginya biaya pembuatan awal dan rendahnya laju penembusan. Kerugian
lainnya adalah lumpur tersebut membuat kotor lingkungan seperti lantai bor,
pakaian, dsb., dan crew pemboran tidak menyukainya. Untuk mengatasi hal ini
adalah dengan melakukan penanganan yang lebih baik dan benar.

SIMPSON dan FONTENOT melakukan penelitian pada tahun 1974 dan


menyimpulkan bahwa oil-base mud mengandung sedikit material koloid untuk
penstabil emulsi dan suspensi cutting. Penelitian ini adalah merupakan pendorong
untuk mencapai keberhasilan dalam pengembangan apa yang sekarang dikenal
sebagai ©low-colloid mudª.

Formulasi dari low-colloid oil mud untuk pemboran dalam, bertemperatur tinggi
dengan kestabilan emulsi yang baik dan HTHP loss dibawah 30 cc, adalah sebagai
berikut :
Oil-water ratio 80:20
Calcium soap emulsifier, lb/bbl 2-5
Fatty acid polyamide, lb/bbl 3-7
Lime, lb/bbl 2-4
Organophillic caly, lb/bbl 3-7
CaCl2, ppm 350.000
Barite atau hematite sesuai dengan keperluan

Range sifat-sifat fisik yang diharapkan jika densitas lumpur tersebut 16 lb/gal
adalah:
Densitas, lb/gal 16
Funnel viscosity, det/qt 4-54
Plastic viscosity, cp 25-34
Yield point, lb/100sqft 10-14
10-det ge strength, lb/100sqft 3-8
API fluid loss, cc 2-4
HTHP fluid loss, cc 15-25
Electical stablity 750-1500
Total salinity, ppm CaCl2 350.000

Page 378 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

6.11.8. Logging in Oil-base Mud


Meskipun oil-base mud tidak konduktif terhadap arus listrik biasanya digunakan
dalam logging dan karena tidak dapat menghasilkan self-potensial, maka untuk
pengontrolan kedalaman dan evaluasi formasi dapat dilakukan dengan
menggunakan log yang tidak tergantung dari hadirnya fluida konduktif dalam
lubang bor. Program logging yang disarankan utuk oil-mud disajikan pada Tabel
6.12.

Tabel 6.12. Program logging untuk Lumpur Minyak

Page 379 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Hal-hal penting yang harus diingat untuk logging pada oil-base mud meliputi:
1. Resistivitas formasi dapat ditentukan dengan log induksi
2. Log radiasi dapat dikombinasikan dengan log lain untuk tujuan korelasi
3. Porositas ditunjukkan melalui sonic, densitas, atau log neutron, baik secara
terpisah maupun kombinasi
4. Sidewall core dan wireline formation test dapat dilakukan pada oil-base mud
dengan menggunakan gamma ray tool.

6.11.9. Pemecahan Masalah Dalam Penggunaan Oil-base Mud


Logika yang sama digunakan dalam pendeteksian dan pemecahan masalah
treatment water-base mud digunakan untuk oil-base mud. Data yang diperoleh
dianalisa dan diplot untuk melihat trend atau perubahan sifat-sifat fisik lumpur.
Perubahan sifat-sifat fisik yang mendadak dan tajam akibat adanya kontaminasi
dapat dideteksi dengan menganalisa trend pada plot tersebut dan selanjutnya
dapat dikoreksi sebelum terjadi problem yang serius. Problem tretment lumpur
biasanya terjadi pada oil-base mud adalah berasal dari cutting, karena citting
dan/atau material pemberat menjadi water-wet, atau dari kontaminasi air. Tabel
6.13 menyajikan problem-problem yang biasanya terjadi pada oil-base mud dan
ditunjukkan bagaimana cara mengenali problem dan mengontrolnya.

Teknologi formulasi dan perawatan oil-base mud sangat berbeda dengan water-
base mud. Biasanya lumpur ini dicampur pada lokasi tertentu dan dikapalkan ke
lokasi pemboran dalam kondisi siap untuk didorong (displaced) kedalam lubang
bor. Jika persiapan dilakukan di lokasi pemboran, maka diperlukan peralatan
penyimpanan, dan pembersihan yang memadai.

Page 380 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Tabel 6.13. Pemecahan masalah dalam penggunaan Oil-Base Mud

Page 381 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

Contoh 1 :
Jika Oil Water (O/W) rasio adalah 75/25 (75% oil, V1, dan 25%, V2), hitung densitas
lumpur tersebut.
Diketahui :
Densitas diesel oil, D1 = 7,0 ppg
Densitas air, D2 = 8,33 ppg

Rumus :
(V1) (D1) + (V2) (D2) = (V1 + V2 ) DF

Contoh 2.
Menghitung volume awal dari oil plus water dengan mengetahui densitas akhir
dan volume dari lumpur.
Diketahui :
W1 = 7,33 ppg (o/w ratio -75/25)
W2 = 16,0 ppg
Dv = 100 bbl
Densitas Barite = 4,2 ppg

dimana :
SV = Volume awal, bbl
W1 = Densitas awal dari campuran oil/water, ppg
W2 = Densitas akhir
Dv = Volume akhir

Page 382 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

A = Filtration Area, Cm2


C = Dial Reading, derajat
f sc = Fraksi volume solid pada mud cake
f sm = Fraksi volume solid pada Lumpur
GS = Gel Strength, lb/100 ft2
k = Permeabilitas, darcy
n = Kandungan pasir, %
N = Revolution perminute (RPM)
P = Perbedaan tekanan yang melalui mud cake, atm
Q = Fluid loss pada waktu tertentu, Cm3
SG = Specific gravity
t = Waktu, menit
Vf = Volume filtrat lumpur, Cm3
Vm = Volume lumpur , bbl
Vmb = Volume lumpur baru, bbl
Vml = Volume lumpur lama, bbl
Vs = Volume solid
Yb = Yield point Bingham, lb/100 ft2
Yp = Yield point, lb/100 ft2
 = Dial reading, derajat
 = Viskositas filtrat, cp
a = Apparent viscosity, cp
p = Plastic viscosity, cp
 = Shear rate, detik
 mb = Densitas lumpur baru, ppg
 ml = Densitas lumpur lama, ppg
s = Densitas solid, ppg
 = Shear stress, dyne/Cm2
V1 = Volume lumpur awal, bbl
V3 = Volume lumpur akhir, bbl
ρ1 = densitas lumpur awal
ρ2 = densitas dari penambahan liquid
ρ3 = densitas akhir campuran
vslip = kecepatan slip (ft/s)
ra = densitas udara (ppg)
rm = densitas lumpur (ppg)
db = diameter gelembung (ft)

Page 383 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

mm = viskositas lumpur (cp)


Fr = bilangan Froude (tak berdimensi)
Aa = luas anulus (sq ft)
gc = percepatan gravitasi = 32,174 ft/sec2 = 115826,4 ft/min2
Dav = diameter rata-rata = (D1 + D2)/2 , ft
mf = viskositas lumpur aerasi (cp)
Xudara = fraksi udara dalam lumpur aerasi
mudara = viskositas udara (cp)
mlumpur biasa = viskositas lumpur awal (cp)
vs = kecepatan slip (ft/s)
Dc = ekivalen diameter cutting (ft)
rc = densitas cutting
(pcf)rf = densitas lumpur campuran
(pcf).vt = laju untuk membawa cutting (ft/s)
ROP = laju penetrasi pemboran (ft/jam)
Cc = konsentrasi cutting (%)
vf = kecepatan lumpur (ft/s)
M = laju alir massa lumpur (lb/s)
Qa = laju volume udara (cfpm)
Qm = laju volume lumpur (gpm)
Qc = laju volume cutting (cfpm)
Aa = luas anulus (ft2).
vca = kecepatan kritik (ft/s)
mf = viskositas lumpur (cp)
dh = diameter lubang (ft)
dp = diameter luar drillpipe (ft)
Qa = laju volume udara (cfpm)
Qm = laju volume lumpur (gpm)
P = tekanan (psia)
V = volume (cuft)
Z = faktor kompresibilitas (untuk udara Z = 1)
R = konstanta gas = 10,732 psia.cuft/lb-mole.oR
T = temperatur (oR), yang diasumsikan berharga tetap untuk
sumur dangkal.
rf = densitas lumpur aerasi (pcf)
rm = densitas lumpur biasa (pcf)
Vm = volume lumpur biasa (cuft)
ra = densitas udara (pcf)
Va = volume udara (cuft).
Di = kedalaman i (feet).
Wa(surf) = laju alir massa udara di permukaan (lb/min)
L = konsentrasi yang sebanding dengan filtration area
P = Tekanan pendorong (driving pressure)
π = viskositas liquid filtrate

Page 384 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

ro = konstanta yang dipengaruhi oleh tahanan pengaliran filtrate


per-unit berat solid dalam filter cake
b = Konstanta kompressible
t = waktu filtrasi
w = berat dari bahan padat per-unit volume dari filtrasi yang
dihasilkan
V = volume dari filtrate yang dihasilkan
V1, V2 = filtration loss pada waktu t1 dan t2 (cc)
.t1, t2 = waktu filtration test, menit.
V = Rate aliran fluidak
f = permeabilitas filter cake (diukur dari statik filtration loss)
f = koefisien internal friction antara partikel padat dengan filter
cake, empiris.
d = ketebalan lapisan permukaan filter cake setelah tercapai
keseimbangan dengan erosi yang dideritanya, empiris.
-v+1 = Compaction coeficient, angka yang menunjukkan kesen-
sitifan tekanan pada kompresibilitas filter cake (antara 0.10 - 0.15).
F = shear force;
D = diameter saluran
Y = Yield point, lb/100 ft2
v = Kecepatan fluida mengalir, ft/sec
μp = Viscositas plastik, cp
Qf = rate aliran filtrate melalui dasar sumur, cc/menit.
Q = Rate aliran fluida yang melaui dinding formasi yang tegak
lurus terhadap sumur yang dianggap berbentuk silinder,cc/menit.
Ah = Luas dasar lubang sumur, inch2
Ud = Drilling rate, ft/jam
Ф = Porositas, fraksi
J = dalamnya invasi mud filtrate terhadap formasi produktif, inch.
rw = jari-jari sumur, inch
X = Fraksi connate water atau fluida yang terdesak ke bawah
permukaan dasar sumur dan tidak masuk ke dalam arus
lumpur.
E = Effisiensi, fraksi daro connate water yang didesak oleh
fluida di depannya.
He = Tekanan hidrasi, psi
G = Tekanan overburden (umumnya diambil 1 psi/ft)
Pp = Tekanan pori-pori batuan, psi
Po = Tekanan osmosis, atm
R = Konstanta gas
T = Temperatur Absolut, oK
= Koefisien dari larutan
c = Konsentrasi garam dalam larutan, molal
v = Jumlah ion dalam larutan per-mol
OB = tekanan overburden, psi/ft.

Page 385 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

PP = tekanan formasi, psi/ft.


MS = matrix stress, psi/ft.
SV = Volume awal, bbl
W1 = Densitas awal dari campuran oil/water, ppg
W2 = Densitas akhir
Dv = Volume akhir

Page 386 of 731


Lumpur Pemboran Copyright by Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,
ITB

DAFTAR PUSTAKA

1. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society of


Petroleum Engineers, Richardson TX, 1983.

2. Shale, L.T., "Underbalanced Drilling : Formation Damage Control During Hight


Angle or Horizontal Drilling", SPE paper no. 27351, SPE Inc.,
1994.

3. Rizo, T.M., "Aerated Fluid Drilling Observations in Geothermal Operation in


Luzon, Philipines", SPE paper no. 12455, SPE Inc., 1984.

4. Huddleston, Billy Pete, "The Future of Aerated Fluids in Drilling Industry", SPE
Paper no. 839-G, SPE, Inc., 1957.

5. Guo, Boyun; Rajtar, J.M., "Volume Requerements for Aerated Mud Drilling",
SPE paper no. 26956, SPE Inc., 1994.

6. Rennels, Dale A., "Air Drilling", Energy Air Drilling Service Co., 1991.

Rovig, Joe W., "Air Drilling Handbook", Oiltools International, 1992.

7. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society of


Petroleum Engineers, Richardson TX, 1983.

8. Shale, L.T., "Underbalanced Drilling : Formation Damage Control During Hight


Angle or Horizontal Drilling", SPE paper no. 27351, SPE Inc.,
1994.

9. Rizo, T.M., "Aerated Fluid Drilling Observations in Geothermal Operation in


Luzon, Philipines", SPE paper no. 12455, SPE Inc., 1984.

10. Huddleston, Billy Pete, "The Future of Aerated Fluids in Drilling Industry", SPE
Paper no. 839-G, SPE, Inc., 1957.

11. Guo, Boyun; Rajtar, J.M., "Volume Requerements for Aerated Mud Drilling",
SPE paper no. 26956, SPE Inc., 1994.

12. Rennels, Dale A., "Air Drilling", Energy Air Drilling Service Co., 1991.

13. Rovig, Joe W., "Air Drilling Handbook", Oiltools International, 1992.

Page 387 of 731