Anda di halaman 1dari 208

APLIKASI ETABS PADA

PERANCANGAN GEDUNG
15 LANTAI DENGAN
STRUKTUR BETON
BERTULANG MENGGUNAKAN
SISTEM GANDA SEBAGAI
PENAHAN BEBAN GEMPA
SESUAI SNI 1726:2012

M. Hamzah Fadli, ST., MT


KATA PENGANTAR

Mulai berlakunya SNI 1726 – 2012 tentang Perancangan Ketahanan Gempa untuk
Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung sebagai terapan dari ASCE 7 -10,
telah menggantikan peraturan gempa terdahulunya yaitu SNI 1726 – 2002.
Peraturan gempa sekarang ini menghasilkan peta gempa terbaru Indonesia dengan
parameter percepatan batuan dasar pada perioda pendek dan perioda 1,0 detik
dalam peta gerak tanah seismik dengan kemungkinan 2% terlampaui selama umur
bangunan 50 tahun (MCE, 2475 tahun) sebagai pengganti peta zona gempa
wilayah Indonesia pada SNI Gempa 2002.

Pada SNI 1726 – 2012 banyak parameter tertentu mengalami perubahan, seperti
pembatasan waktu getar struktur dan adanya syarat untuk penetapan gaya geser
dasar minimum untuk struktur yang memiliki perioda panjang. Angka faktor
reduksi gempa juga mengalami perubahan sesuai dengan sistem struktur yang
akan digunakan dalam perancangan.

Pada e-book ini akan dijelaskan perancangan struktur gedung dengan


menggunakan sistem ganda (dual system) sebagai penahan beban gempa sesuai
acuan SNI 1726 – 2012 dimulai dari langkah-langkah pembuatan model, analisis
gempa, penulangan struktur sampai perencanaan pondasi. Semoga adanya e-book
ini dapat bermanfaat dalam aplikasi perancangan bangunan tinggi dan penulis
mengharapkan kritik, saran maupun koreksi demi penyempurnaan e-book ini.

Jakarta, September 2015

Penulis

ii
RESUME E-BOOK

“APLIKASI ETABS PADA PERANCANGAN GEDUNG 15 LANTAI DENGAN


STRUKTUR BETON BERTULANG MENGGUNAKAN SISTEM GANDA (DUAL
SYSTEM) SEBAGAI PENAHAN BEBAN GEMPA SESUAI STANDARD CODE SNI
1726 : 2012”
Oleh : M. Hamzah Fadli, ST., MT. (Structure Engineer)

E-book ini memberikan step/langkah-langkah dengan jelas dalam pembuatan


model struktur dengan program ETABS beserta analisanya. Pembuatan model
struktur pada ETABS dapat dibilang “susah-susah-gampang”, oleh karena itu
penulis mencoba memaparkan dengan berbagai pilihan dan rincian/alasan dalam
mengambil judgement pada saat pembuatan model.

Pemilihan struktur sistem ganda (dual system) sebagai pemodelan diambil karena
kebanyakan bangunan bertingkat yang dibuat dewasa ini menggunakan sistem
ganda sebagai penahan beban gempa. E-book ini juga memaparkan dengan jelas
fasilitas ETABS dalam mendesain gempa rencana yang disesuaikan dengan
peraturan pembebanan gempa terbaru Indonesia yaitu SNI 1726 – 2012.
Tahapan analisis juga disesuaikan dengan perencanaan di konsultan struktur
sebagai acuan namun tetap terkorelasi dengan code yang berlaku.

Penulangan elemen struktur sebagai output desain juga dijelaskan dengan


menggunakan parameter peraturan beton terbaru Indonesia yaitu SNI 2847–
2013. Perhitungan penulangan dijelaskan dengan rumus-rumus yang sesuai dan
juga menggunakan analisis ETABS untuk perbandingan maupun desain.

Desain pondasi juga diberikan dalam e-book ini dengan memperhatikan aspek
daya dukung tanah. Pembebanan yang diperoleh langsung dari ETABS dapat
mempercepat desain pondasi. Kondisi gempa yang ditekankan dalam desain
pondasi ini adalah hasil Running gempa nominal dan gempa ultimit.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

RESUME E-BOOK ...................................................................................... iii

DAFTAR ISI ................................................................................................. iv

(#1) MODEL

1. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... 1

2. STANDARD DESIGN ............................................................ 2

3. DATA STRUKTUR ............................................................... 2

3.1 Material Properties ....................................................... 2

3.2 Dimensi Elemen Struktur (units : cm) ............................ 2

3.3 Denah Struktur Model ................................................... 3

4. MODELLING ETABS 2013 V.13 .......................................... 6

4.1 Jendela Awal ................................................................. 6

4.2 Konversi Satuan ............................................................ 9

4.3 Input Material Properties .............................................. 10

4.4 Input Dimensi Elemen Struktur...................................... 12

4.4.1 Input Dimensi Kolom.......................................... 12

4.4.2 Input Dimensi Balok ........................................... 15

iv
4.4.3 Input Dimensi Pelat ............................................. 16

4.4.4 Input Dimensi Shear Wall ................................... 18

4.5 Penggambaran Elemen Struktur pada Denah .................. 19

4.5.1 Penggambaran Elemen Kolom ............................ 19

4.5.2 Penggambaran Elemen Shear Wall ...................... 23

4.5.3 Penggambaran Elemen Balok .............................. 27

4.5.4 Penggambaran Elemen Pelat ............................... 31

4.6 Hasil Pemodelan Elemen Struktur ................................. 34

4.7 Input Beban Statik (Beban Mati dan Beban Hidup) ........ 35

4.7.1 Perhitungan dan Input Beban Mati Tambahan ..... 38

4.7.2 Perhitungan dan Input Beban Hidup .................... 40

4.8 Asumsi dalam Perancangan ........................................... 42

4.8.1 Taraf Penjepitan Lateral ...................................... 42

4.8.2 Rigid Zone Factor ............................................... 43

4.8.3 Diafragma ........................................................... 44

4.8.4 Mass Source........................................................ 45

4.8.5 Modal ................................................................. 47

(#2) PEMBEBANAN GEMPA SISTEM GANDA (DUAL SYSTEM)

BERDASARKAN SNI 1726 : 2012

1. RUN ANALYSIS AWAL (RUN DINAMIK) ......................... 50

2. ANALISIS MODE RAGAM ................................................. 51

3. PARAMETER GEMPA RENCANA .................................... 53

v
4. PEMBEBANAN GEMPA STATIK MANUAL.................... 56

4.1 Kategori Risiko Bangunan (Risk Category) ................... 56

4.2 Kategori Desain Seismik (SDC) .................................... 56

4.3 Sistem Struktur dan Parameternya ................................. 56

4.4 Penentuan Perioda Desain.............................................. 58

4.5 Penentuan Koefisien Respons Seismik ........................... 60

4.6 Berat Seismik Efektif..................................................... 62

4.7 Gaya Geser Dasar (Base Shear) ..................................... 63

4.8 Distribusi Gaya Gempa Statik Tiap Lantai ..................... 64

4.9 Gaya Geser Statik Tiap Lantai ....................................... 65

5. PEMBEBANAN GEMPA STATIK OTOMATIS ETABS .. 66

6. PEMBEBANAN GEMPA DINAMIK RESPON SPEKTRA 73

7. RELASI BEBAN GEMPA STATIK – DINAMIK ............... 83

8. BEBAN GEMPA DESAIN .................................................... 91

9. GAYA GEMPA LATERAL DESAIN .................................. 93

10. KONTROL DESAIN ............................................................. 96

11. ANALISIS SISTEM GANDA (DUAL SYSTEM) ................. 103

(#3) PENULANGAN STRUKTUR DUAL SYSTEM

1. KOMBINASI PEMBEBANAN ............................................. 117

2. CONCRETE FRAME DESIGN – CODE .............................. 121

3. DESIGN/CHECK STRUCTURE ........................................... 122

4. PENULANGAN LENTUR BALOK .................................... 123

vi
5. PENULANGAN GESER BALOK ....................................... 136

6. PENULANGAN LONGITUDINAL KOLOM ..................... 149

7. STRONG COLUMN WEAK BEAM (BEAM SWAY) ............ 158

8. PENULANGAN GESER/SENGKANG KOLOM ............... 162

9. ANALISIS SHEAR WALL .................................................... 168

(#4) PONDASI DARI ASPEK DAYA DUKUNG TANAH

1. JUMLAH KEBUTUHAN PONDASI .................................... 180

2. CHECK PILE FORCE ........................................................... 186

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... viii

vii
(#1) – MODEL
APLIKASI ETABS PADA PERANCANGAN GEDUNG 15 LANTAI
DENGAN STRUKTUR BETON BERTULANG MENGGUNAKAN SISTEM
GANDA (DUAL SYSTEM) SEBAGAI PENAHAN BEBAN GEMPA
SESUAI STANDARD CODE SNI 1726 : 2012
Oleh : M. Hamzah Fadli ST., MT.
Contact : hamzah.fadlii@gmail.com

1. TINJAUAN PUSTAKA
Pada perencanaan struktur gedung, sistem gabungan antara portal rangka
pemikul momen (frame) dan dinding geser dalam menahan beban lateral disebut
sebagai sistem ganda (dual system). Sistem ganda dapat memberikan kemampuan
yang lebih baik dalam menahan beban lateral khususnya beban gempa untuk
bangunan-bangunan yang sudah menjulang tinggi. Penggunaan sistem ganda
dapat diaplikasikan pada bangunan hingga mencapai 40 tingkat.
Interaksi antara portal dan dinding geser pada sistem ganda memiliki
perilaku yang cukup unik, dimana gaya geser pada bagian bawah akan dominan
dipikul oleh dinding geser sedangkan frame memikul gaya geser pada bagian atas.
Hal ini dikarenakan kedua sistem tersebut memiliki perilaku defleksi yang
berbeda. Akibat dari beban lateral, dinding geser akan berperilaku bending mode
sedangkan frame akan berdeformasi secara shear mode.
Berdasarkan SNI 1726-2012 dalam sistem ganda, rangka pemikul momen
harus memikul sekurang-kurangnya 25% gaya gempa desain dimana hal ini
merupakan antisipasi kondisi setelah gempa terjadi setidaknya frame masih harus
kuat menahan beban gravitasi. Pengecekan terhadap rangka pemikul momen harus
dilakukan terpisah apabila frame menahan lebih dari 10% beban geser desain.
Syarat-syarat dalam perencanaan struktur menggunakan sistem ganda
adalah : memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap, beban
gempa ditahan oleh dinding geser atau bresing dengan rangka pemikul momen,
dimana rangka pemikul momen harus direncanakan terpisah menahan minimal
25% beban gempa, dan kedua sistem harus direncanakan mampu memikul beban
gempa dengan memperhatikan interaksi sistem ganda.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 1


2. STANDARD DESIGN
Peraturan yang digunakan sebagai acuan dalam perancangan ini adalah :
a. SNI 1726:2012, Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.
b. SNI 2847:2013, Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan
Gedung.
c. SNI 1727:2013, Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan
Gedung dan Struktur Lain.
d. ASCE 7 – 10, Minimum Design Loads for Building and Other
Structures.
e. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, 1983.

3. DATA STRUKTUR
3.1 Material Properties
Mutu Beton yang digunakan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
K-400 (untuk struktur kolom dan dinding geser/shear wall) :
f’c = 400 x 0,083 = 33,2 Mpa
E = 4700 x (33,2)1/2 = 27081,137 Mpa
K-300 (untuk struktur balok dan pelat) :
f’c = 300 x 0,083 = 24,9 Mpa
E = 4700 x (24,9)1/2 = 23452,953 Mpa

Mutu baja tulangan yang digunakan sesuai SNI 2847:2013 adalah :


Fy = 420 Mpa
Fu = 620 Mpa
Fye = 1,1 x 420 = 462 Mpa
Fue = 1,1 x 620 = 682 Mpa

3.2 Dimensi Elemen Struktur (units : cm)


KOLOM : - K 60 x 110 (Lt. 1 – Lt. 5 Tipikal)
- K 60 x 90 (Lt. 6 – Lt. 10 Tipikal)
- K 60 x 60 (Lt. 11 – Lt. 15/atap Tipikal)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 2


WALL : - Frame Wall (A)
L, panjang = 800
t, tebal = 35
- Frame Wall (B)
L, panjang = 500
t, tebal = 35

BALOK : - B 35 x 70 ( Balok Induk arah memanjang)


- B 30 x 60 (Balok Induk arah memendek)
- B 25 x 60 (Balok Anak)
- B 25 x 50 (Balok void lift dan tangga)

PELAT : - Lantai, t = 13
- Atap, t = 13

3.3 Denah Struktur Model


Berikut ini adalah gambar denah tipikal dari struktur model rancangan
yang akan digunakan :

Gambar 1.1. Denah Rencana (Units : cm)

Cat : Ketinggian antar lantai adalah 4 m tipikal dari dasar sampai atap.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 3


Gambar 1.2. Kolom dan Shear Wall Layout

Gambar 1.3. Denah Struktur Lt. 1 – 5 (Tipikal)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 4


Gambar 1.4. Denah Struktur Lt. 6 – 10 (Tipikal)

Gambar 1.5. Denah Struktur Lt. 11 – 15/Atap (Tipikal)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 5


4. MODELLING ETABS 2013 V.13
4.1 Jendela Awal
Buka Software ETABS 2013 pada komputer, untuk memulai/start page
klik menu File – New Model. Tampak kotak dialog tampilan awal ETABS seperti
gambar di bawah ini.

Gambar 1.6. Model Initialization

Pada Initialization Options pilih Use Built-in Settings With untuk


menentukan standard code maupun units yang akan kita gunakan dalam
pembuatan model rancangan. Pada bagian Display Units pilih Metric SI untuk
satuan internasional dan untuk perencanaan beton bertulang pada Concrete
Design Code pilih ACI 318-11 yang merupakan acuan SNI beton Indonesia
terbaru 2847:2013. Kemudian klik OK.

Standard Code yang digunakan pada Steel Design Database dan Steel
Design Code merupakan default. Kita juga dapat menggantinya jika ingin
menggunakan acuan tertentu, misal dalam perencanaan gedung/struktur baja.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 6


Gambar 1.7. Model Grid

Perhatikan bagian Uniform Grid Spacing :


a. Number of Grid Lines in X Direction : 6 (jumlah Grid/As pada arah X)
b. Number of Grid Lines in Y Direction : 5 (jumlah Grid/As pada arah Y)
c. Spacing of Grids in X Direction : 8 m (jarak antar Grid/As arah X)
d. Spacing of Grids in Y Direction : 6 m (jarak antar Grid/As arah Y)

Sesuai dengan gambar denah rencana pada grid/As arah Y terdapat jarak
yang berbeda, oleh karena itu kita dapat pilih atau klik Custom Grid Spacing –
Edit Grid Data untuk merubah jarak yang sebenarnya.
Setelah muncul kotak dialog Grid System Data, kemudian pilih Display
Grid Data as Spacing untuk mengubah jarak spasi grid arah y sesuai denah
rencana. Jika kita ingin merubahnya dalam hitungan ordinat maka pilih Display
Grid Data as Ordinates.
Pada bagian Y Grid Data, ubah Y spacing Grid ID 2 menjadi 1,5 m dan Grid
ID 3 menjadi 3,5 m. Visible Yes berarti Grid akan ditampilkan pada tampilan
ETABS dan kita juga dapat mengganti posisi nomor/kode Grid/As pada bagian
Bubble Loc.
Pada bagian X Grid Data sudah sesuai dengan jarak antar As denah rencana.
Perubahan jarak Grid pada arah sumbu Y dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 7


Gambar 1.8. Edit Grid Arah Y

Gambar 1.9. Edit Story Dimensions

Selanjutnya perhatikan bagian Story Dimensions – Simple Story Data :


a. Number of Stories : 15 (sesuai dengan jumlah tingkat)
b. Typical Story Height : 4 m (tinggi antar lantai tipikal)
c. Bottom Story Height : 4 m (tinggi story 1 dari lantai base/dasar)

Pada bagian Add Structural Objects pilih Grid Only – OK.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 8


Gambar 1.10. Tampilan Grid dan Story

4.2 Konversi Satuan


Untuk merubah konversi satuan kita dapat mengaturnya pada bagian pojok
kanan bawah dengan cara klik Units – Show Units Form.

Gambar 1.11. Units

Misal perjanjian tanda/satuan untuk model ini adalah :


Force : Force Units = kgf, Units Label = kgf
Mass : Force Units = N, Units Label = kg
Force/Area : Force Units = kgf, Units Label = kgf/m2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 9


4.3 Input Material Properties
Pilih menu Define – Material Properties – pilih 4000psi (untuk beton) –
Modify/Show Material.

Gambar 1.12. Mutu Beton K-400

Contoh untuk mutu beton K-400 :


- Ganti Material Name dengan K-400 untuk memudahkan dalam pembedaan
mutu beton yang akan digunakan.
- Isikan Modulus of Elastisity, E sesuai dengan modulus elastisitas mutu beton
rencana K-400 pada perhitungan data struktur sebelumnya.
- Pada bagian Design Property Data pilih Modify/Show Material Property Data
untuk mengganti nilai f’c (kuat tekan beton dalam konversi silinder) sesuai
dengan mutu yang digunakan (f’c 33,2 Mpa).
- Pilih OK.

Untuk mutu beton lainnya yaitu K-300, hanya tinggal menambahkan


dengan cara Add Copy of Material. Cara input data mutu beton K-300 sama
dengan langkah-langkah di atas.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 10


Masih dalam kotak dialog Define Materials, untuk memasukkan data mutu
baja tulangan pilih A615Gr60. Kode penamaan tersebut menandakan bahwa baja
tulangan yang digunakan sesuai dengan ASTM A 615 Grade 60. Dalam
perancangan ini mutu baja tulangan yang digunakan sesuai dengan SNI 2847 :
2013 adalah Grade 420 dengan nilai Fy = 420 Mpa.
Pilih A615Gr60 – Modify/Show Material – Material Name ganti dengan
“Baja Tulangan” – Material Type : Rebar – Modify/Show Material Property
Design Data – Isi kotak dialog Material Property Design Data sesuai dengan
mutu baja tulangan yang akan digunakan seperti tampak gambar di bawah ini –
OK.

Gambar 1.13. Mutu Baja Tulangan

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 11


4.4 Input Dimensi Elemen Struktur
4.4.1 Input Dimensi Kolom
Pilih Menu Define – Section Properties – Frame Sections – maka akan
tampil kotak dialog Frame Properties.
Jika ingin menghapus properti frame default ETABS yang harus dilakukan
adalah : pilih Delete Multiple Properties pada bagian kanan – Select Sections to
Delete (pilih semua tipe) – Delete Selected Frame Sections – Pilih semua frame –
Delete Selected Frame Sections – OK. (akan hanya tersisa satu frame default
ETABS).
Contoh pembuatan dimensi kolom untuk Lt. 1 – Lt. 5 dengan tipe K 60 x
110 cm adalah : masih dalam kotak dialog Frame Properties – pilih Add New
Property – muncul kotak dialog Frame Property Shape Type – Section Shape
pilih Concrete Rectangular – pada bagian Concrete klik bentuk persegi panjang.

Gambar 1.14. Section Shape Concrete

Pada kotak dialog Frame Section Property Data :


- Property Name : ganti sesuai kode kolom, misal K 60 x 110
- Material : pilih K-400 (sesuai mutu beton untuk kolom)
- Display Color : klik change untuk merubah warna
- Section Dimensions : isikan dimensi kolom sesuai arah sumbu.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 12


-
Gambar 1.15. Input Dimensi Kolom K 60 x 110 cm

Untuk memasukkan efektifitas momen inersia penampang dari frame yang


dibuat, pilih Modify/Show Modifiers – untuk perencanaan gempa digunakan
asumsi penampang utuh, maka semua nilai Property/Stiffness Modifiers for
Analysis = 1 – OK.

Gambar 1.16. Efektifitas Penampang Utuh

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 13


Kemudian klik Modify/Show Rebar, maka akan tampil kotak dialog seperti
gambar di bawah ini.

Gambar 1.17. Reinforcement Data Column

- Design Type : P – M2 – M3 (untuk kolom)


- Rebar Material : pilih “Baja Tulangan”
- Reinforcement Configuration : Rectangular (untuk kolom segi-empat)
- Confinement Bars : Ties (untuk tulangan sengkang kotak)
- Check/Design : Reinforcement to be Designed
- Clear Cover for Conf. Bars : 40 mm (selimut beton minimal)

Pada bagian Check/Design, pemilihan Reinforcement to be design berarti


menandakan bahwa penulangan akan dihitung tersendiri setelah analisis struktur
mendapatkan nilai-nilai gaya dalam atau data luas kebutuhan tulangan, oleh
karena itu angka-angka/nilai lainnya yang berisikan informasi tulangan boleh
dihiraukan saja sesuai dengan default ETABS.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 14


4.4.2 Input Dimensi Balok
Sama halnya seperti membuat dimensi kolom, pada kotak dialog Frame
Section Property Data :
- Property Name : ganti sesuai kode balok, misal B 35 x 70
- Material : pilih K-300 (sesuai mutu beton untuk balok)
- Display Color : klik change untuk merubah warna
- Section Dimensions : Width, untuk lebar balok = 350 mm
Depth, untuk tinggi balok = 700 mm
Kemudian klik Modify/Show Rebar, maka akan muncul tampilan kotak
dialog Frame Section Property Reinforcement Data – Design Type (pilih M3
Design Only (Beam)) – OK.

Gambar 1.18. Reinforcement Data Beam

- Design Type : M3 Design Only (Beam)


- Rebar Material : “Baja Tulangan”
- Cover to Longitudinal Rebar Group Centroid : Top Bars = 60 mm*
Bottom Bars = 60 mm*
- Reinforcement Area Overwrites for Ductile Beams : 0 cm2

*Asumsi jarak antara selimut beton sampai ke pusat tulangan longitudinal/utama


balok.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 15


Gambar 1.19. Dimensi Balok dan Kolom Rencana

4.4.3 Input Dimensi Pelat


Pilih menu Define – Section Properties – Slab Sections – Add New
Property – Input Data – OK.

Gambar 1.20. Input Data Slab Lantai

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 16


Perhatikan bagian General Data :
- Property Name : “LANTAI” (untuk pelat lantai tipikal)
- Slab Material : K-300 (sesuai mutu beton pelat rencana)
- Modelling Type : Membrane
a. Shell
Pelat menahan dalam 2 gaya yaitu bending forces/momen dan shear
forces/geser. Pelat akan menahan beban lentur akibat gravitasi dan juga
geser serta akan ikut berdeformasi bersama balok terhadap beban gravitasi.
b. Membrane
Pelat hanya menahan dalam shear forces/geser saja. Modelling membrane
berarti mendistribusikan beban pelat ke balok terdekat dengan sistem
distribusi 450. Pelat tidak ikut berdeformasi bersama balok saat dikenai
beban gravitasi. Hal ini dapat mengakibatkan lendutan balok yang sedikit
lebih besar dan “safety” untuk perencanaan.

Perhatikan bagian Property Data :


- Type : Slab
- Thickness : 130 mm

Gambar 1.21. Input Data Slab Atap

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 17


4.4.4 Input Dimensi Shear Wall
Pilih menu Define – Section Properties – Wall Sections – Add New
Property – Input Data – OK.

Gambar 1.22. Wall Property Data

Perhatikan kotak dialog diatas :


- Property Name : “FWALL” (Frame Wall)
- Property Type : Specified
- Wall Material : K-400 (sesuai mutu rencana)
- Modeling Type : Shell-Thin (dinding geser tipis)
- Thickness : 350 mm

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 18


4.5 Penggambaran Elemen Struktur pada Denah
4.5.1 Penggambaran Elemen Kolom
Penggambaran elemen kolom harus disesuaikan dengan denah lantai,
berhubung pada denah rencana kolom berubah disetiap 5 lantai maka terdapat 3
zona yang berbeda untuk masing-masing dimensi kolom. Hal ini dapat kita atur
terlebih dahulu pada fasilitas Similar Stories dengan cara :
Pilih menu Edit – Edit Stories and Grid Systems – Modify/Show Story Data –
muncul tampilan kotak dialog Story Data.

Gambar 1.23. Kotak Dialog Story Data

Pada keadaan awal, Story 15 (lantai teratas) menjadi Master Story untuk
semua lantai sehingga kita perlu menggantinya menjadi No dengan cara klik
kotak Yes pada Master Story kemudian ganti dengan No.
Pembagian Master Story untuk penggambaran kolom adalah :
a. Zona 1 = Lt 1 – Lt 5, dengan Master Story adalah Story 1
b. Zona 2 = Lt 6 – Lt 10, dengan Master Story adalah Story 6
c. Zona 3 = Lt 11 – Lt 15, dengan Master Story adalah Story 11

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 19


Gambar 1.24. Edit Master Story

Setelah membuat Master Story untuk setiap zona lantai, selanjutnya klik
OK dan kita akan memulai penggambaran elemen kolom. Aktifkan fungsi Similar
Stories pada bagian kanan bawah jendela ETABS seperti gambar di bawah ini.

Gambar 1.25. Similar Stories

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 20


Penggambaran elemen kolom dapat melalui menu pada ETABS ataupun
icon yang berada pada sebelah kiri jendela ETABS. Sebagai contoh untuk
penggambaran elemen kolom K 60 x 110. Pertama-tama pilih plan untuk
menampilkan Story 1 pada jendela ETABS dengan cara klik View – Set Plan View
– pilih Sory 1 – OK.
Untuk menggambar elemen kolom dengan pilihan menu, kita dapat klik
Draw – Draw Beam/Column/Brace Objects – Quick Draw Columns (Plan,3D).
Jika ingin menggunakan icon pada ETABS kita dapat memilih icon di sebelah kiri

jendela ETABS Kemudian akan muncul tampilan seperti di bawah ini :

Gambar 1.26. Menggambar Elemen Kolom

Perhatikan kotak dialog Properties of Object :


- Property : pilih frame yang akan digambar, K 60 x 110
- Moment Releases : pilih “Continuous” untuk momen jepit
- Angle, deg : 0 (jika tidak ada perputaran arah kolom terhadap sumbu)
- Cardinal Point : 5 (Middle Center)
- Draw Object Using : Grid

Kemudian arahkan kursor mouse ke titik pertemuan Grid/As untuk posisi


center of column sesuai dengan denah rencana. Hasil penggambaran elemen
kolom dengan Similar Story dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 21


Story 1

Gambar 1.27. Konfigurasi Kolom K 60 x 110 Story 1 (Similar Story)

Story 6

Gambar 1.28. Konfigurasi Kolom K 60 x 90 Story 6 (Similar Story)

Story 11

Gambar 1.29. Konfigurasi Kolom K 60 x 60 Story 6 (Similar Story)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 22


4.5.2 Penggambaran Elemen Shear Wall
Berdasarkan denah rencana, dinding geser yang akan digunakan adalah
tipikal untuk semua lantai dari lantai dasar sampai atap, sehingga kita dapat
mengganti fasilitas Similar Story menjadi All Stories di bagian kanan bawah

jendela ETABS.
Pertama-tama gambar dinding geser tipe FWALL (A) dengan panjang 8
m dan tebal 350 mm. Penggambaran elemen dinding geser/shear wall pada
ETABS V13 ini dapat menggunakan fasilitas Draw Wall Stacks dengan cara klik
menu Draw – Draw Wall Stack – kemudian akan tampil kotak dialog New Wall
Stack – input layout data – OK – arahkan kursor mouse diantara As C-D sesuai
posisi shear wall – klik 1x di tengah-tengah antara As C-D – jika sudah tergambar
tekan Esc pada keyboard.

Gambar 1.30. Layout Data FWALL A

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 23


Gambar 1.31. Penggambaran Shear Wall tipe FWALL A

Selanjutnya penggambaran tipe Shear Wall FWALL B dengan panjang 5


m dan tebal 350 mm. Lakukan hal yang sama untuk penggambaran FWALL B
hanya saya dimensi/ukurannya yang berbeda dengan tipe sebelumnya. Letak
posisi FWALL B sejajar dengan sumbu – y pada ETABS sehingga sebelum kita
arahkan ke posisi shear wall pada grid denah, terlebih dahulu kita ganti sudut
(Angle, deg) pada kotak dialog Properties of Object menjadi 90 kemudian tekan
enter selanjutnya arahkan mouse ke grid shear wall yang sesuai. Sehingga
hasilnya akan terlihat seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.32. Penggambaran Shear Wall tipe FWALL B

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 24


Gambar 1.33. Layout Tampilan Kolom dan Shear Wall

Jika penggambaran elemen shear wall menggunakan fasilitas draw wall


stacks, maka kita perlu mendefinisikan shear wall tersebut sesuai dengan mutu
beton yang akan digunakan dengan cara, klik ke-3 shear wall pada tampilan 2D
(masih dalam fasilitas All Stories) – pilih menu Assign – Shell – Wall Section –
pilih FWALL – Apply – OK.

Gambar 1.34. Assign FWALL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 25


Kita juga dapat mengasumsikan pemodelan shear wall sebagai Pier, yang
artinya shear wall berperilaku sama dengan kolom yaitu memiliki kemampuan
untuk menahan lentur dan geser. Dari ke-3 shear wall tersebut kita akan memberi
nama Pier dengan label masing-masing P1, P2, dan P3 dengan perincian sebagai
berikut :
- Label Pier P1 untuk shear wall yang berada di sebelah kiri
- Label Pier P2 untuk shear wall yang berada di sebelah kanan
- Label Pier P3 untuk shear wall yang berada di bagian tengah-bawah denah

Contoh cara medefinisikan shear wall sebagai Pier P1 adalah : klik shear
wall sebelah kiri (masih dalam fasilitas All Stories) – Assign – Shell – Pier Label
– pilih P1 – Apply – OK. Lakukan langkah yang sama untuk mendefinisikan
shear wall yang lain sebagai Pier P2 dan P3.
Jika ingin melihat hasil pendefinisian pier, pilih menu View – Set Display
Options – pilih Other Assigments – pada bagian Pier Assigments ceklis Labels –
OK. Hasil input pier untuk masing-masing shear wall dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 1.35. Label Name Pier

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 26


4.5.3 Penggambaran Elemen Balok
Pada perancangan ini, dimensi balok yang digunakan untuk semua lantai
disamakan sesuai dengan tipenya masing-masing, sehingga kita dapat
menggunakan fasilitas All Stories. Sebelum memulai penggambaran elemen
balok, terlebih dahulu kita merubah tampilan frame agar lebih jelas perbedaan
warna tiap tipe frame yang telah kita buat dengan cara : pilih menu View – Set
Display Options – pada View by Colors of pilih Section Properties – kemudian
pilih Object Assigments pada tab paling atas – pada bagian Frame Assigments
ceklis/pilih Sections – OK.

a) Elemen Balok Induk B 35 x 70 Arah X (Arah Memanjang)


Untuk penggambaran balok induk B 35 x 70 ini kita akan menggunakan
menu Draw – Draw Beam/Column/Brace Objects – Quick Draw
Beam/Columns (Plan, Elev, 3D) – perhatikan kotak dialog dibawah ini.

Gambar 1.36. Properties B 35 x 70

- Property : pilih B 35 x 70
- Moment Releases : “Continuous”, pemilihan continuous untuk
meneruskan momen ke frame yang ada disebelahnya, jika memilih
pinned maka asumsi ujung-ujung frame adalah sendi dimana momen
ujung bernilai 0. Untuk balok induk yang dihubungkan oleh kolom-
kolom, asumsi yang tepat untuk momen releases adalah continuous
sesuai perilaku tumpuan jepit dan rigid.

Arahkan kursor mouse ke garis Grid denah hingga muncul garis putus-
putus seperti gambar berikut ini, kemudian klik 1 kali pada garis tersebut.
Gambar semua elemen balok B 35 x 70 yang sejajar dengan sumbu-X
pada denah.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 27


Gambar 1.37. Penggambaran Balok B 35 x 70 pada Denah Lantai

b) Elemen Balok Induk B 30 x 60 arah Y (Arah Memendek)


Pada penggambaran balok B 30 x 60 kita coba untuk menggunakan
fasilitas lain pada menu Draw. Pilih menu Draw – Draw
Beam/Column/Brace Objects – Draw Beam/Column/Brace Objects (Plan.
2D, Elev, 3D) – arahkan kursor mouse ke titik tengah kolom kemudian
tarik sejajar sumbu-Y sampai bertemu titik tengah kolom berikutnya.
Lakukan untuk semua grid sumbu-y sesuai dengan posisi balok pada
denah rencana.

Gambar 1.38. Penggambaran Balok B 30 x 60 pada Denah Lantai

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 28


c) Elemen Balok Anak B 25 x 60 dan B 25 x 50
Balok anak B 25 x 60 dipasang sejajar dengan sumbu Y pada denah
rencana. Untuk memudahkan penggambaran balok anak, sebaiknya grid
yang bukan merupakan grid utama antar kolom dapat kita hide terlebih
dahulu karena biasanya balok anak akan membagi sama balok induk yang
didudukinya sebagai perletakan.
Untuk menghilangkan tampilan grid nomor 3 pada denah pilih menu Edit
– Edit Stories and Grid Systems – Modify/Show Grid System – pada Grid
ID nomor 3 dibagian kotak Visible ganti Yes menjadi No – OK.

Penggambaran balok anak dapat menggunakan menu Draw – Draw


Beam/Column/Brace Objects – Quick Draw Secondary Beams (Plan, 3D).

Gambar 1.39. Properties B 25 x 60

- Property : pilih tipe B 25 x 60


- Moment Releases : Continuous
- Spacing : No. of Beams
- No. of Beams : 1 (jumlah balok induk yang akan dibuat)
- Approx. Orientation : Parallel to Y or R (arah sumbu balok anak)

Cat : pemilihan moment releases untuk perlakuan balok anak merupakan


engineering judgement. Ada yang mengasumsikan sebagai pinned/sendi
atau continuous. Pada dasarnya balok anak merupakan balok yang duduk
di balok induk sehingga perletakannya memang tidak sekaku balok induk
pada kolom. Balok anak bertugas membantu balok induk dalam menahan
beban gravitasi agar pembebanan merata. Namun pada kenyataannya
balok anak juga menyatu bersama balok induk seperti perletakan jepit

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 29


sehingga asumsi continuos masih relevan digunakan. Asumsi continuous
pada balok anak juga digunakan untuk mendapatkan distribusi momen
yang bagus di sepanjang frame (dengan momen ujung ≠ 0).

Gambar 1.40. Penggambaran Balok Anak B 25 x 60 pada Denah Lantai

Untuk penggambaran balok anak B 25 x 50 kita boleh memunculkan


kembali grid yang telah kita hide dan kemudian menggambar elemen
balok anak B 25 x 50 pada area tangga dan lift dengan cara-cara yang telah
dijelaskan sebelumnya, sehingga tampak konfigurasi balok tipikal lantai
seperti gambar di bawah ini.

Gambar 1.41. Konfigurasi Balok-Balok pada Lantai

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 30


4.5.4 Penggambaran Elemen Pelat
Pada perancangan ini terdapat 2 tipe pelat yang akan digunakan yaitu pelat
untuk lantai dan pelat untuk atap, oleh karena itu kita dapat mengatur kembali ke
bagian Similar Story seperti cara sebelumnya dan menonaktifkan semua Master
Story terkecuali Story 1. Story 1 akan tetap menjadi Master Story namun kali ini
untuk semua lantai terkecuali Story 15 karena sebagai lantai atap.

Gambar 1.42. Master Story untuk Pelat

Cara penggambaran pelat lantai dapat dibedakan berdasarkan area pelat


yang akan dibuat, jika ingin menggambar area polygon kita dapat memilih icon

seperti ini pada sebelah kiri jendela ETABS, namun jika area yang akan dibuat

berbentuk segiempat atau rectangular kita dapat memilih icon seperti ini .
Selain itu kita juga dapat menggambar elemen pelat pada menu Draw – Draw
Floor/Wall Objects – pilih cara penggambaran sesuai bentuk area pelat.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 31


Penggambaran elemen pelat dalam perencanaan ini menggunakan tipe
rectangular dimana pelat akan digambar berdasarkan area yang dibatasi antar
balok induk dan balok anak. Aktifkan fasilitas Similar Story – pilih icon Draw
Rectangular Floor/Wall – pada kotak dialog Properties of Object bagian property
pilih “LANTAI” untuk penggambaran elemen pelat lantai (untuk lantai atap pilih
“ATAP”) – arahkan kursor mouse ke denah sesuai area pelat, kemudian klik dari
ujung kiri atas area rectangular pelat dan drag sampai bertemu di ujung kanan
bawah rectangular area pelat.

Gambar 1.43. Penggambaran Elemen Pelat Lantai

Gambar 1.44. Pelat Lantai Tipikal

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 32


Untuk menggambar void/area lubang lift dan tangga kita dapat
menggunakan cara yang sama seperti penggambaran pelat, namun bedanya adalah
pada bagian Property di kotak dialog Properties Of Object pilihannya adalah
“Opening”. Terlebih dahulu kita tambahkan balok separator lift untuk
memisahkan kedua lubang lift sebagai void dengan menggunakan fasilitas
secondary beam arah X seperti balok anak.

Gambar 1.45. Void Lift dan Tangga

Gambar 1.46. Pelat Atap

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 33


4.6 Hasil Pemodelan Elemen Struktur
Setelah menggambar semua elemen kolom, shear wall, balok dan pelat
maka kita dapat melihatnya dalam tampilan 2D maupun 3D seperti tampak pada
gambar di bawah ini.

Gambar 1.47. Plan of 2D Model 15 Stories

Gambar 1.48. Plan of 3D Model 15 Stories

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 34


4.7 Input Beban Statik (Beban Mati dan Beban Hidup)
Pembebanan untuk analisis struktur adalah Beban Mati Struktur +
Beban Mati Tambahan + Beban Hidup (reduksi untuk gempa). Beban mati
struktur adalah beban gravity yang diakibatkan oleh elemen struktur penyusun
bangunan seperi kolom, shear wall, balok, dan pelat. Beban mati tambahan adalah
beban gravity yang diakibatkan elemen tambahan sehubungan dengan finishing
bangunan karena sifatnya yang permanen. Beban hidup adalah beban gravitity
yang diambil berdasarkan fungsi bangunan.
Pendefinisian beban statik pada ETABS terdapat pada menu Define –
Load Patterns – perhatikan kotak dialog Define Load Patterns di bawah ini.

Gambar 1.49. Define Load Patterns

- Pada Load : Dead, kita dapat mengganti nama Dead menjadi DL (Dead Load)
kemudian click to Modify Load. Type untuk beban mati adalah Dead dan Self
Weight Multiplier untuk beban mati adalah 1 (untuk beban mati struktur yang
akan otomatis dihitung oleh ETABS dan juga input beban mati tambahan yang
akan kita masukan sendiri).
- Pada Load : Live, kita juga dapat mengganti nama Live menjadi LL (Live
Load) kemudian click to Modify Load. Type untuk beban hidup adalah Live
dengan Self Weight Multiplier = 0 (karena akan kita input sendiri beban hidup
sesuai dengan fungsi bangunan).
- Jika ingin membedakan beban mati tambahan sebagai beban statik tersendiri,
kita dapat input beban SDL dengan Type Super Dead dan Self Weight
Multiplier = 0 kemudian kita tambahkan dengan cara klik Add New Load.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 35


Gambar 1.50. Pendefinisian Beban Mati dan Hidup

Setelah mendefinisikan beban pada load patterns kita dapat mengecek


hasil input pada menu Define – Load Cases.
- Pilih Load Case Name Dead – Modify/Show Case – pada kotak dialog Load
Case Data di bagian Load Case Name ganti menjadi DL agar sesuai dengan
nama pada Load Patterns sebelumnya – OK.

Gambar 1.51. Load Case Data : DL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 36


- Pilih Load Case Name Live – Modify/Show Case – pada kotak dialog Load
Case Data di bagian Load Case Name ganti menjadi LL agar sesuai dengan
nama pada Load Patterns sebelumnya – OK.

Gambar 1.52. Load Case Data : LL

Cat : jika pada bagian Load Patterns sebelumnya kita membedakan untuk
beban mati tambahan (SuperDead) maka untuk pendefinisian Load Case tersebut
juga dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti langkah-langkah di atas.
Namun pada contoh ini kita mendefinisikan beban mati hanya dengan Case –
Dead Load (DL) saja dimana case tersebut digunakan untuk perhitungan otomatis
beban struktur dari ETABS dan juga sekaligus sebagai case untuk input beban
mati tambahan.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 37


4.7.1 Perhitungan dan Input Beban Mati Tambahan
Asumsi beban mati tambahan dihitung berdasarkan Peraturan Pembebanan
Indonesia untuk Gedung 1983, yang perinciannya adalah sebagai berikut :

Beban Mati Tambahan untuk Lantai :


- Finishing = 0,04 x 2100 + 0,01 x 2400 kg/m3 = 108 kg/m2
- Plafon + Penggantung = 18 kg/m2
- Dinding rebah* = 180 kg/m2
- ME (Mekanikal dan Elektrikal) = 10 kg/m2
TOTAL = 316 kg/m2

Beban Mati Tambahan untuk Atap :


- Finishing = 0,04 x 2100 + 0,01 x 2400 kg/m3 = 108 kg/m2
- Plafon + Penggantung = 18 kg/m2
- ME = 10 kg/m2
TOTAL = 136 kg/m2

Setelah melakukan perhitungan untuk beban mati tambahan, kita dapat


mendistribusikannya serbagai beban area pada pelat dengan cara :
- Beban Mati Tambahan Lantai :
Pilih menu Select – Select – Properties – Slab Sections – pilih LANTAI –
Select – Close.
Pilih menu Assign – Shell Loads – Uniform – input beban – Apply – OK.

Gambar 1.53. Input Beban Mati Tambahan Lantai

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 38


- Beban Mati Tambahan Atap :
Pilih menu Select – Select – Properties – Slab Sections – pilih ATAP – Select
– Close.
Pilih menu Assign – Shell Loads – Uniform – input beban – Apply – OK.

Gambar 1.54. Input Beban Mati Tambahan Atap

*Ket : Pembebanan dinding didistribusikan ke pelat lantai sebagai dinding rebah,


yang artinya dinding seakan-akan diproyeksikan sebagai beban merata pelat, hal
ini untuk mengantisipasi letak dinding yang acak pada denah lantai arsitek.
Artinya ada dinding yang tidak tepat jatuh di balok-balok, namun jika memiliki
denah arsitek yang akurat tiap lantai, maka pembebanan dinding aktual dapat
dibuat diatas balok sebagai beban merata sesuai posisi dinding-dinding dengan
cara mengalikan beban asumsi dinding dengan tinggi bersih antara lantai sehingga
menjadi beban distribusi merata di atas balok, dengan cara klik tipe balok yang
dibebani dinding – pilih menu Assign – Frame Loads – Distributed – pilih DL
pada Load Pattern Name – input beban Uniform Load sesuai hitungan – OK.
Pada perancangan ini asumsi yang digunakan untuk beban dinding adalah sebagai
dinding rebah yang sudah dihitung bersama beban pelat lainnya.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 39


4.7.2 Perhitungan dan Input Beban Hidup
Besarnya beban hidup lantai ditentukan berdasarkan fungsinya sesuai
dengan acuan SNI 1727-2013 Tabel 4-1.

Gambar 1.55. Beban Hidup untuk Lantai Kantor

Gambar 1.56. Beban Hidup untuk Lantai Atap

- Beban hidup lantai = 2,40 kN/m2 = 2,40 x 1000/9,81 = 245 kg/m2


- Beban hidup atap datar = 0,96 kN/m2 = 0,96 x 1000/9,81 = 98 kg/m2

Setelah melakukan perhitungan untuk beban hidup, kita dapat


mendistribusikannya serbagai beban area pada pelat dengan cara :
- Beban Hidup Lantai :
Pilih menu Select – Select – Properties – Slab Sections – pilih LANTAI –
Select – Close.
Pilih menu Assign – Shell Loads – Uniform – input beban – Apply – OK.

Gambar 1.57. Input Beban Hidup Lantai

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 40


- Beban Hidup Atap :
Pilih menu Select – Select – Properties – Slab Sections – pilih ATAP – Select
– Close.
Pilih menu Assign – Shell Loads – Uniform – input beban – Apply – OK.

Gambar 1.58. Input Beban Hidup Atap

Cat : Pada bagian Options, Add to Existing Loads digunakan untuk menambahkan
nilai beban yang akan dimasukan pada Load Pattern Name yang sama. Replace
Existing Load digunakan untuk mengubah nilai beban pada Load Pattern Name
yang sama, sedangkan Delete Existing Loads untuk menghapus nilai beban yang
telah dimasukkan. Jika kita ingin meng-input nilai beban dengan Load Pattern
yang masing-masing berbeda pilihan Add atau Replace dapat kita gunakan,
asalkan Load Pattern Name yang digunakan sesuai dengan nilainya.

Jika ingin melihat hasil input masing-masing beban yang telah kita berikan
pada pelat, kita dapat memilih menu Display – Load Assigns – Shell – pilih Load
Pattern yang ingin dilihat – OK.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 41


4.8 Asumsi dalam Perancangan
4.8.1 Taraf Penjepitan Lateral
Untuk analisis gempa dan penulangan, struktur atas dapat dianggap
terjepit pada lantai base/dasar. Perletakan jepit dipilih karena memiliki
kemampuan menahan momen, gaya horizontal, dan gaya vertikal. Pada bangunan
tinggi juga digunakan pondasi dalam sehingga asumsi perletakan jepit dapat
diterima.
Perletakan jepit pada lantai base/dasar dapat diberikan dengan cara :
Aktifkan fasilitas One Story pada bagian kanan bawah jendela ETABS – pilih
menu View – Set Plan View – pilih Base – OK – blok seluruh denah pada lantai
base – pilih menu Assign – Joint – Restraints – pada bagian Fast Restraints pilih
jepit (kotak pertama) – Apply – OK.

Gambar 1.59. Perletakan Jepit

Cat : Perletakan jepit biasanya dilakukan untuk analisis struktur, untuk bangunan
baja tingkat rendah misalnya, perletakan sendi juga dapat diasumsikan pada taraf
penjepitan lateralnya atau untuk bangunan-bangunan yang menggunakan pondasi
dangkal. Untuk menganalisis pondasi akibat beban gravity terkadang engineer
memberikan perletakan sendi agar tidak timbul momen hanya sebatas gaya
vertikal Fz saja, namun perletakan sendi memberikan hasil waktu getar/perioda
yang lebih panjang dibandingkan dengan perletakan jepit.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 42


4.8.2 Rigid Zone Factor
Rigid Zone Factor merupakan angka asumsi untuk mengukur tingkat
kekakuan suatu elemen struktur frame kolom dan balok. Penentuan rigid zone
factor sepenuhnya merupakan engineering judgement. Namun untuk
mempertimbangkan pemberian rigid zone factor ini kita dapat melihat dari
kapasitas momen yang ingin dicapai dalam suatu analisis struktur, seperti
perincian di bawah ini :
-  M  1,2 M
COL BEAM , zcol = 1 dan zbeam = 0 (Strong Column Weak Beam)

- 0,8 M  M
BEAM COL  1,2 M BEAM , zcol = 0,5 dan zbeam = 0,5

-  M  0,8 M
COL BEAM , zcol = 0 dan zbeam = 1 (Strong Beam Weak Column)

Pada perancangan bangunan tinggi untuk mendapatkan keruntuhan yang


daktail atau sendi plastis terjadi hanya pada komponen lemah balok-balok maka
digunakanlah konsep Kolom Kuat Balok Lemah (Strong Column Weak Beam).
Pada ETABS nilai default rigid zone factor tiap frame adalah 0, sehingga kita
hanya perlu mengganti nilai rigid zone factor kolom menjadi 1 dengan cara : pilih
menu Select – Select – Properties – Frame Sections – pilih semua tipe kolom –
Select – Close – pilih menu Assign – Frame – End Length Offsets – ganti rigid
zone factor menjadi 1 – Apply – OK.

Gambar 1.60. Rigid Zone Factor Kolom

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 43


4.8.3 Diafragma
Sesusi dengan SNI 1726 – 2012, analisis struktur harus memperhitungkan
kekakuan relatif diafragma dan elemen vertikal sistem penahan gaya gempa.
Pemilihan tingkat fleksibilitas diafragma dapat dengan jelas dilihat pada pasal 7.3
SNI 1726 – 2012.
Asumsi diafragma untuk lantai tiap tingkat adalah kaku (rigid), untuk
input diafragma lantai kita dapat pilih menu Select – Select – Properties – Slab
Sections – pilih tipe Slab (LANTAI dan ATAP) – Select – Close – pilih menu
Assign – Shell – Diaphragms – pilih D1 – Modify/ Show Definitions – pilih D1 –
click to Modify/Show Diaphragm – pada bagian Rigidity pilih Rigid – OK.

Gambar 1.61. Rigid Diaphragm

Asumsi diafragma rigid pada joint juga dapat dilakukan dengan cara :
aktifkan fasilitas All Stories – pilih salah satu lantai dan blok denah lantai tersebut
sehingga semua elemen frame terpilih (kita juga dapat menggunakan pilihan
Select – ALL) – pilih menu Assign – Joint – Diaphragms – pilih D1 – Apply –
OK.
Selain persyaratan pemodelan, tujuan dari diafragma lantai dan joint
adalah untuk mendapatkan nilai massa total aktual tiap lantai yang akan
digunakan untuk menentukan berat total struktur dalam perencanaan pembebanan
gempa.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 44


Gambar 1.62. 3D Diaphragms

4.8.4 Mass Source


Mass Source menetukan jumlah massa yang akan dihitung oleh ETABS
untuk analisis waktu getar, beban total untuk pembebanan gempa, dsb. Pemilihan
mass source/pendefinisian massa dapat dilihat pada menu Define – Mass Source –
kemudian akan tampil kotak dialog secara default seperti gambar di bawah ini.

Gambar 1.63. Pendefinisian Mass Source

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 45


- Element Self Mass : massa total hanya dihitung berdasarkan berat mati
beban elemen struktur saja, seperti kolom, shear wall, balok, dan pelat.
- Additional Mass : massa struktur hanya berdasarkan beban tambahan
yang kita input ke dalam elemen struktur tertentu.
- Specified Load Patterns : massa total dapat kita input berdasarkan case
beban tertentu dengan faktor pengali yang juga dapat ditentukan sendiri.

Pendefinisian Mass Source dengan Specified Load Patterns dapat


memberikan total massa aktual yang akan direncanakan dalam pembebanan
gempa sehingga ETABS otomatis sudah menghitung massa perlantai sesuai Load
Patterns yang kita berikan, hal ini sangat membantu sehingga kita tidak perlu
menghitung manual untuk mendapatkan berat/massa lantai.
Pemilihan Mass Source dengan metode Specified Load Patterns dapat
dilakukan dengan cara : beri tanda ceklis pada bagian Specified Load Patterns –
un-checklist pada bagian Element Self Mass dan Additional Mass – kemudian
isikan tabel Define Mass Multiplier for Loads dengan beban DL dan LL seperti
gambar berikut ini – OK.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 46


Gambar 1.64. Mass Souce by Load Patterns

Berdasarkan perencanaan pembebanan gempa pada SNI 1726 – 2012,


Berat Seismik efektif adalah Wt = DL + αLL. Reduksi beban hidup untuk ruang
penyimpanan diatur minimal 25% dari beban hidup yang bekerja, sehingga nilai
faktor pengali pada LL dapat kita ambil 0,25.

4.8.5 Modal
Modal merupakan analisis dinamik untuk mengetahui perilaku ragam
gerak struktur di setiap mode-modenya. Analisis ini harus menyertakan jumlah
modal yang cukup agar tercapai partisipasi massa ragam minimal 90% pada
analisis dinamik, untuk analisis statik pembebenan gempa mengikuti pola ragam
gerak di mode-mode awal (ragam fundamental pertama) yang memberikan arah
translasi dominan untuk kedua arah sumbu orthogonal.
Penentuan jumlah mode untuk analisis struktur secara dinamik biasanya
merupakan judgement awal dengan melihat jumlah lantai bangunan. Jumlah
modal yang berkontribusi ≥ jumlah tingkat/lantai bangunan. Pada perancangan ini

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 47


lantai gedung berjumlah 15 tingkat sehingga judgement untuk jumlah mode yang
diambil adalah ≥ 15, yaitu 20.
Cara menambahkan jumlah mode adalah : pilih menu Define – Modal
Cases – Modify/Show Case – Maximum Number of Modes = 20 – OK.

Gambar 1.65. Asumsi Jumlah Mode yang Berkontribusi

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 48


Gambar 1.66. 3D MODEL – STRUCTURE

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 49


(#2) – PEMBEBANAN GEMPA SISTEM GANDA (DUAL SYSTEM)
BERDASARKAN SNI 1726:2012
Oleh : M. Hamzah Fadli, ST., MT.

1. RUN ANALYSIS AWAL (RUN DINAMIK)


Setelah selesai modelling struktur di pembahasan sebelumnya, maka untuk
mendapatkan nilai waktu getar alami fundamental serta mengetahui analisis gerak
ragam yang berkontribusi kita dapat melakukan Run Analysis dengan mengecek
model terlebih dahulu sebagai berikut :
Pilih menu Analyze – Check Model – beri tanda ceklis untuk semua options
pengecekan – OK.

Gambar 2.1. Check Model

Setelah itu pilih Analyze kembali – Set Active Degrees of Freedom – pilih
Full 3D – OK. Pilih kembali menu Analyze – Set Load Cases to Run – beri tanda
ceklis pada Calculate Diaphragm Centers of Rigidity – Run Now.

Gambar 2.2. Run Analysis

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 50


2. ANALISIS MODE RAGAM
Pola gerak ragam fundamental struktur pada mode tertentu dapat dilihat
dengan gerak animasi pada layar komputer dengan cara : pilih menu Display –
Deformed Shape – klik pilihan modal case – pilih Mode Number 1 untuk ragam 1
(ragam pertama) – OK – klik pilihan Start Animations pada bagian kanan bawah.

Ty

Gambar 2.3. Gerak Ragam Mode 1

Berdasarkan animasi pada layar komputer, gerak ragam pertama struktur


menunjukan gerak translasi sejajar dengan sumbu-Y dan memberikan waktu
getar alami fundamental sebesar Ty = 2,233 detik.
Dengan cara yang sama kita dapat melihat gerak ragam di mode ke 2,3, dst
dengan cara yang sama seperti di atas.

Tx

Gambar 2.4. Gerak Ragam Mode 2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 51


Berdasarkan animasi pada layar komputer, gerak ragam kedua struktur
menunjukan gerak translasi sejajar dengan sumbu-X dan memberikan waktu
getar alami fundamental sebesar Tx = 2,057 detik.

Gambar 2.5. Gerak Ragam Mode 3

Pada mode ke-3 ini gerak struktur sudah menunjukan rotasi karena telah
mengalami puntir terhadap sumbu lokal Z.
Selain dari animasi layar komputer, kita juga dapat melihat pola gerak
ragam dari hasil output analisis ETABS dengan cara pilih menu Display – Show
Tables – klik kotak kecil paling kiri dari pilihan Analysis – klik kotak kecil paling
kiri Results – klik kotak kecil paling kiri Modal Results – beri tanda ceklis pada
bagian Modal Participating Mass Ratios dan Modal Load Participation Ratios –
maka pada jendela ETABS akan tampil pilihan tabel tersebut.
Jika ingin mendapatkan output dalam bentuk Microsoft Excel, klik kanan
pada tabel, kemudian pilih Export to Excel. Sehingga hasilnya dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.

Tabel 2.1. Modal Load Participation Ratios


Static Dynamic
Case Item Type Item
% %
Modal Acceleration UX 100 98.66
Modal Acceleration UY 100 97.76
Modal Acceleration UZ 0 0

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 52


Tabel 2.2. Modal Participating Mass Ratios
Period
Case Mode UX UY UZ Sum UX Sum UY RZ Sum RZ
sec
Modal 1 2.233 0 0.7131 0 0 0.7131 0 0
Modal 2 2.057 0.5641 7.482E-07 0 0.5641 0.7131 0.1573 0.1573
Modal 3 1.617 0.1488 0 0 0.7129 0.7131 0.5435 0.7008
Modal 4 0.638 0 0.1315 0 0.7129 0.8446 0 0.7008
Modal 5 0.596 0.0981 0 0 0.811 0.8446 0.0311 0.7319
Modal 6 0.424 0.04 0 0 0.851 0.8446 0.1089 0.8407
Modal 7 0.297 0 0.0569 0 0.851 0.9015 0 0.8407
Modal 8 0.284 0.0422 0 0 0.8933 0.9015 0.0151 0.8559
Modal 9 0.185 0.0214 0 0 0.9147 0.9015 0.042 0.8978
Modal 10 0.17 0 0.0325 0 0.9147 0.934 0 0.8978
Modal 11 0.166 0.0199 6.88E-07 0 0.9346 0.934 0.012 0.9098
Modal 12 0.111 0.0201 6.864E-06 0 0.9548 0.934 0.0009 0.9107
Modal 13 0.111 7.07E-06 0.0204 0 0.9548 0.9543 0 0.9107
Modal 14 0.104 0.0039 0 0 0.9587 0.9543 0.029 0.9397
Modal 15 0.081 0.0116 0 0 0.9702 0.9543 0.0016 0.9413
Modal 16 0.079 0 0.0136 0 0.9702 0.9679 0 0.9413
Modal 17 0.068 0.0038 0 0 0.974 0.9679 0.0169 0.9582
Modal 18 0.063 0.0071 0 0 0.9811 0.9679 0.0016 0.9598
Modal 19 0.059 0 0.0097 0 0.9811 0.9776 0 0.9598
Modal 20 0.052 0.0055 0 0 0.9866 0.9776 0.0004 0.9602

Dari hasil tabel 2.1 dapat dilihat bahwa untuk analisis statik partisipasi
massa sudah mencapai 100% di kedua arah orthogonal dan untuk analisis dinamik
partisipasi massa telah mencapai lebih dari 90%, hal ini sudah sesuai dengan
persyaratan. Jika tidak tercapai tambahkan jumlah mode yang berkontribusi.
Dari hasil tabel 2.2 dapat dilihat bahwa pada mode 1 nilai faktor translasi
UY memberikan angka yang paling besar/dominan yaitu 71,31% hal ini
menunjukan bahwa gerak translasi arah Y terjadi pada mode ini sesuai dengan
animasi layar komputer. Pada mode 2 nilai faktor translasi UX memberikan angka
yang paling besar/dominan yaitu 56,41% hal ini menunjukan bahwa gerak
translasi arah X terjadi pada mode ini sesuai dengan animasi layar komputer. Pada
mode 3 nilai RZ dominan yaitu 54,35% hal ini menunjukan bahwa pada mode ini
gerak struktur sudah dominan dalam rotasi. Persyaratan gerak ragam sudah sesuai.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 53


3. PARAMETER GEMPA RENCANA
Pada perancangan ini akan dibuat gedung perkantoran 15 lantai yang
diasumsikan berlokasi di kota Semarang, Jawa Tengah dan berdiri di atas tanah
sedang. Parameter gempa sesuai dengan peraturan gempa terbaru SNI 1726 –
2012 bisa kita dapatkan di website berikut ini :
http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Gambar 2.6. Desain Spektra Indonesia

Pada bagian Jenis Input pilih Nama Kota, kemudian ketik Semarang lalu
klik kotak Hitung dan klik Lihat Hasil.

Gambar 2.7. Parameter kelas situs SD (Tanah Sedang)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 54


Penentuan klasifikasi jenis tanah diatur pada SNI 1726 – 2012 Pasal 5.3.
klasifikasi kelas situs tanah dibagi menjadi 5, yaitu SA (batuan keras), SB
(batuan), SC (tanah keras), SD (tanah sedang), SE (tanah lunak), dan SF (tanah
khusus) yang didapat berdasarkan perhitungan 3 parameter yaitu kecepatan rata-
rata gelombang geser, tahanan penetrasi standar lapangan rata-rata dan tahanan
penetrasi standar rata-rata untuk lapisan tanah non-kohesif, serta kuat geser niralir
rata-rata. Pada perancangan ini diasumsikan gedung berdiri di atas tanah sedang di
wilayah kota Semarang.
Parameter spektral tanah sedang Kota Semarang berdasarkan web Desain
Spektra Indonesia adalah :
- PGA (g) = 0,435
- SS (g) = 0,970
- S1 (g) = 0,328
- CRS = 0,891
- CR1 = 0,950
- FPGA = 1,065
- FA = 1,112
- FV = 1,744
- PSA (g) = 0,463
- SMS (g) = 1,078
- SM1 (g) = 0,572
- SDS (g) = 0,719
- SD1 (g) = 0,3813
- T0 (detik) = 0,106
- TS (detik) = 0,531

Dengan menggunakan web tersebut kita langsung secara otomatis


mendapatkan data lengkap dari parameter spektral yang dibutuhkan untuk
perencanaan gempa. Untuk perhitungan manual, penentuan parameter desain
spektral dijelaskan dalam SNI 1726 – 2012 Pasal 6.1 – Pasal 6.3.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 55


4. PEMBEBANAN GEMPA STATIK MANUAL
Pembebanan gempa mengacu pada peraturan SNI 1726 – 2012 dengan
rincian sebagai berikut (keterangan tabel dalam pembahasan ini disesuaikan
dengan nomor tabel pada SNI 1726-2012) :

4.1 Kategori Risiko Bangunan (Risk Category)


Berdasarkan Pasal 4.1.2, Gedung Perkantoran masuk kedalam kategori
risiko II dengan nilai faktor keutamaan gempa, Ie = 1,0 (Tabel 2-Faktor
Keutamaan Gempa).

4.2 Kategori Desain Seismik (SDC = Seismic Design Category)


Kategori Desain Seismik akan menentukan tingkat keparahan suatu
wilayah gempa. Terdapat 6 jenis kateori desain seismik, yaitu Kategori Desain
Seismik A, B tergolong dalam tingkat risiko kegempaan yang rendah, Kategori
Desain Seismik C tergolong dalam tingkat risiko kegempaan menengah, dan
Kategori Desain Seismik D, E, F tergolong dalam tingkat risiko kegempaan yang
tinggi.
Berdasarkan Pasal 6.5 penentuan tingkat keparahan daerah gempa/kategori
desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan SDS dan SD1. Nilai SDS =
0,719 dengan kategori risiko II maka sesuai Tabel 6 masuk dalam Kategori
Desain Seismik D. Nilai SD1 = 0,3813 dengan kategori risiko II maka sesuai
Tabel 7 masuk dalam Kategori Desain Seismik D. Maka Kategori Desain Seismik
yang digunakan dalam perancangan adalah KDS D, jika didapat 2 jenis KDS dari
hasil analisa diatas maka yang dipilih adalah KDS dengan risiko terparah.

4.3 Sistem Struktur dan Parameternya


Pemilihan sistem struktur berhubungan dengan elemen penahan beban
lateral dan juga Kategori Desain Seismik yang direncanakan. Pada perancangan
ini akan digunakan sistem ganda sebagai penahan beban lateral.
Asumsi pemilihan sistem struktur dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
misalnya berhubungan dengan ketinggian bangunan, untuk bangunan rendah
sampai menengah dibawah 10 lantai biasanya digunakan sistem rangka pemikul

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 56


momen. Pada bangunan tinggi untuk mengantisipasi perilaku gempa secara
dinamik biasanya sistem ganda yang merupakan gabungan antara dinding geser
dengan rangka pemikul momen banyak digunakan. Selain dari ketinggian
bangunan, wilayah dimana gedung berdiri juga dapat menjadi pertimbangan. Pada
daerah yang terletak di zona rawan gempa harus memiliki elemen penahan beban
lateral yang lebih baik dibandingkan dengan daerah yang bukan rawan gempa.

Tabel 2.3. Parameter Sistem Struktur

Pada tabel diatas, terdapat 2 jenis sistem ganda, yaitu sistem ganda yang
menggunakan rangka pemikul momen khusus (point D) dan rangka pemikul
momen menengah (point E). Untuk Kategori Desain Seismik D penggunaan
sistem ganda dengan rangka pemikul momen menengah dan dinding geser beton
bertulang khusus dibatasi sampai 48 m (gedung rencana memiliki tinggi 60 m)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 57


sedangkan penggunaan sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus dan
dinding geser beton bertulang khusus Tidak diBatasi (TB), bila menggunakan
dinding geser beton bertulang biasa Tidak diIzinkan (TI). Maka dalam
perancangan ini sistem struktur untuk kedua arah orthogonal X dan Y
menggunakan Sistem Ganda dengan Rangka Pemikul Momen Khusus yang
mampu menahan paling sedikit 25% gaya gempa yang ditetapkan dan
Dinding Geser Beton Bertulang Khusus.
Berdasarkan sistem struktur yang akan digunakan, maka parameter faktor
gempa yang digunakan adalah :
- Koefisien Modifikasi Respons, R = 7
- Faktor Kuat Lebih Sistem, Ω0 = 2,5
- Faktir Pembesaran Defleksi, Cd = 5,5

4.4 Penentuan Perioda Desain


Waktu Getar/Perioda alami fundamental struktur merupakan waktu yang
dibutuhkan struktur untuk menempuh satu siklus gerakan yang nilainya
dipengaruhi oleh fungsi massa dan kekakuan. Nilai perioda desain akan
digunakan untuk mendapatkan beban gempa rencana.
Penentuan perioda desain dalam SNI 1726 – 2012 berbeda dengan SNI
1726 – 2002 sebagai peraturan terdahulunya, dalam SNI 1726 – 2002
perioda/waktu getar suatu struktur dibatasi oleh nilai hasil perkalian antara suatu
koefisien berdasarkan zona gempa dengan jumlah lantai tingkatnya. Pada SNI
1726 – 2012 nilai perioda struktur dibatasi oleh batas bawah perioda (perioda
fundamental pendekatan) dengan batas atas perioda (perioda maksimum).
Penentuan perioda diatur dalam pasal 7.8.2.
Perioda Fundamental pendekatan atau batas perioda minimum adalah :
Ta = Cthnx
Keterangan :
hn adalah ketinggian struktur (m) dari taraf penjepitan lateral/lantai dasar
sampai tingkat tertinggi struktur dan koefisien Ct dan x ditentukan dari
tabel berikut ini :

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 58


Tabel 2.4. Nilai Parameter Perioda Pendekatan

Tipe struktur yang digunakan adalah “Semua Sistem Struktur Lainnya”


karena menggunakan sistem ganda dan ketinggian total dari dasar = 60 m.
Ta = Cthnx
Ta = 0,0488 x 600,75
Ta = 1,052 detik . ………. Batas bawah
Jika tidak digunakan analisis struktur dengan bantuan program untuk
mendapatkan waktu getar alami struktur yang akurat, maka nilai perioda
pendekatan diatas dapat digunakan untuk menghitung beban gempa statik
rencana. Jika telah dilakukan analisis struktur dengan program dan mendapatkan
waktu getar yang akurat sesuai massa dan kekakuan struktur, maka harus
dilakukan pengecekan terhadap batas atas perioda, yaitu :
T = CuTa, dengan nilai Cu berdasarkan tabel berikut ini :

Tabel 2.5. Koefisisen Batas Atas Perioda

SD1 = 0,3813 (g)

T = 1,4 x 1,052 detik


T = 1,4728 detik. ………. Batas atas

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 59


Berdasarkan program ETABS, didapat nilai perioda berdasarkan mode
untuk masing-masing arah adalah sebagai berikut :
Tx = 2,057 detik (mode – 2)
Ty = 2,233 detik (mode – 1)
Maka perioda desain yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan
berikut ini :
Jika Tc < Ta, T = Ta,
Jika Ta < Tc < CuTa, T = Tc,
Jika Tc > CuTa, T = CuTa
Keterangan :
T : Perioda Desain
Tc : Perioda hasil analisa komputer/ETABS
Ta : Batas Bawah/Minimum Perioda
CuTa : Batas Atas/Maksimum Perioda

Jadi Perioda Desain yang akan digunakan adalah :


Tx = 2,057 detik > 1,4728 detik…… Tx = 1,4728 detik
Ty = 2,233 detik > 1,4728 detik…… Ty = 1,4728 detik

4.5 Penentuan Koefisien Respons Seismik


Perhitungan koefisien respon seismik diatur dalam pasal 7.8.1.1 dengan
perincian sebagai berikut :
- SDS (g) = 0,7190
- SD1 (g) = 0,3813
Karena perioda desain arah x = arah y, maka hanya dilakukan 1 kali
penghitungan Cs, namun jika diperoleh perioda desain yang berbeda maka dapat
dilakukan perhitungan secara terpisah antara arah x dan arah y.

S DS 0,719
Cs    0,1027 , nilai Cs yang dihitung tidak perlu melebihi
R 7
   
 Ie  1

daripada nilai Cs berikut ini :

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 60


S D1 0,3813
Cs    0,036985 , nilai Cs harus tidak kurang dari :
R 7
T   1,4728 
 Ie  1

C S min  0,044S DS I e  0,01


C S min  0,044  0,719  1  0,01
C S min  0,031636  0,01

Jadi : Csx = Csy = 0,03699 (koefisien gaya geser untuk arah x dan y)

Cat : Perbedaan dari SNI 1726 – 2002 sebelumnya dengan SNI 1726 – 2012
yang digunakan sekarang adalah dengan adanya penetapan gaya geser dasar
minimum, peraturan sebelumnya tidak menetapkan nilai gaya geser minimum
suatu bangunan sehingga gedung-gedung dengan perioda panjang dapat memiliki
gaya geser dasar yang kecil, namun tidak pada SNI 1726 – 2012 yang
menetapkan gaya geser dasar minimum suatu gedung yang memiliki perioda
panjang, sehingga perlu ada “koreksi darurat” tentang desain gaya geser gedung-
gedung tinggi dengan peraturan terdahulu jika dibandingkan dengan peraturan
sekarang.
Batasan perioda untuk penggunaan nilai gaya geser minimum dapat diturunkan
dengan persamaan berikut ini :
S D1
 0,044 S DS I e
R
T  
 Ie 
S D1
I e  0,044 S DS I e
TR
S D1
 0,044 S DS
TR
S D1 TS S
T  , dengan Ts  D1
0,044 S DS R 0,044 R S DS

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 61


4.6 Berat Seismik Efektif
Berat Sesimik Efektif merupakan berat total desain hasil penjumlahan dari
beban mati struktur + beban mati tambahan + beban hidup yang tereduksi. Berat
Seismik per-lantai dapat langsung kita peroleh melalui program ETABS dengan
cara sebagai berikut : pilih menu Display – Show Tables – Analysis – Results –
Structure Results – beri tanda ceklis pada Centers of Mass and Rigidity – OK –
Export to Excel.

Gambar 2.8. Mass Output

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 62


Tabel 2.6. Berat Struktur tiap Lantai

Mass X Mass Y XCM YCM Cumulative X Cumulative Y


Story Diaphragm
Kg Kg m M kg kg
Story15 D1 510589.23 510589.23 19.9939 8.0559 510589.23 510589.23
Story14 D1 691060.16 691060.16 19.9955 7.9766 1201649.39 1201649.39
Story13 D1 691060.16 691060.16 19.9955 7.9766 1892709.55 1892709.55
Story12 D1 691060.16 691060.16 19.9955 7.9766 2583769.71 2583769.71
Story11 D1 691060.16 691060.16 19.9955 7.9766 3274829.87 3274829.87
Story10 D1 705073.11 705073.11 19.9934 8.0064 3979902.99 3979902.99
Story9 D1 720643.06 720643.06 19.9935 8.0375 4700546.05 4700546.05
Story8 D1 720643.06 720643.06 19.9935 8.0375 5421189.11 5421189.11
Story7 D1 720643.06 720643.06 19.9935 8.0375 6141832.17 6141832.17
Story6 D1 720643.06 720643.06 19.9935 8.0375 6862475.23 6862475.23
Story5 D1 729985.03 729985.03 19.9922 8.0558 7592460.26 7592460.26
Story4 D1 740364.99 740364.99 19.9923 8.0753 8332825.25 8332825.25
Story3 D1 740364.99 740364.99 19.9923 8.0753 9073190.25 9073190.25
Story2 D1 740364.99 740364.99 19.9923 8.0753 9813555.24 9813555.24
Story1 D1 740364.99 740364.99 19.9923 8.0753 10553920.24 10553920.24

Pada tabel hasil output ETABS di atas, didapat data berat total per-lantai
dari mass source yang sudah dimasukkan sebelumnya. Berat keseluruhan struktur
juga dapat dilihat pada kolom Cumulative. Jadi total berat seismik efektif untuk
desain adalah :

WTOTAL = 10553920,24 Kg

4.7 Gaya Geser Dasar (Base Shear)


V = CsW, dimana :
V = Geser dasar seismik
Cs = Koefisien respons seismik desain
W = Berat seismik efektif total

Vx = 0,03699 x 10553920,24 Kg = 390389,5097 Kgf


Vy = 0,03699 x 10553920,24 Kg = 390389,5097 Kgf

Gaya Geser Statik

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 63


4.8 Distribusi Gaya Gempa Statik Tiap Lantai
Distribusi gaya gempa lateral (F) pada setiap lantai diatur dalam Pasal
7.8.3 dengan rumus seperti dibawah ini :
F  CV  V , dan
k
wi hi
CV  n

w h
k
i i
i 1

Interpolasi nilai k untuk nilai perioda desain pada rentang 0,5 < T < 2,5
adalah :
k= 0,5 T + 0,75
k = 0,5 (1,4728) + 0,75
k = 1,4864

Tabel 2.7. Distribusi Gaya Gempa Statik Ekivalen Tiap Lantai

Story hi Wi K Wihik Cv Fx = Fy
(m) (Kg) (Kgf-m) (Kgf)
Story15 60 510589.230 224447963.087 0.1157 45177.800
Story14 56 691060.160 274171646.226 0.1414 55186.386
Story13 52 691060.160 245574476.180 0.1266 49430.231
Story12 48 691060.160 218028281.459 0.1124 43885.621
Story11 44 691060.160 191577241.100 0.0988 38561.448
Story10 40 705073.110 169643069.930 0.0875 34146.448
Story9 36 720643.060 148254623.330 0.0764 29841.295
Story8 32 720643.060 1.4864 124444336.461 0.0642 25048.663
Story7 28 720643.060 102041282.034 0.0526 20539.285
Story6 24 720643.060 81145828.411 0.0418 16333.363
Story5 20 729985.030 62685188.992 0.0323 12617.530
Story4 16 740364.990 45629931.425 0.0235 9184.578
Story3 12 740364.990 29753693.025 0.0153 5988.945
Story2 8 740364.990 16285415.015 0.0084 3277.995
Story1 4 740364.990 5812297.629 0.0030 1169.923
JUMLAH 10553920.210 1939495274.304 1.000 390389.510

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 64


4.9 Gaya Geser Statik Tiap Lantai
Gaya geser tiap lantai akibat beban gempa desain dapat dihitung sesuai
pasal 7.8.4 dengan menggunakan persamaan :
n
V x   Fi , gaya geser merupakan kumulatif dari penjumlahan gaya
i x

gempa statik ekivalen tiap lantai.

Tabel 2.8. Gaya Geser Statik Tiap Lantai

Fx Vx Fy Vy
Story
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
Story15 45177.800 45177.800 45177.800 45177.800
Story14 55186.386 100364.186 55186.386 100364.186
Story13 49430.231 149794.417 49430.231 149794.417
Story12 43885.621 193680.038 43885.621 193680.038
Story11 38561.448 232241.485 38561.448 232241.485
Story10 34146.448 266387.934 34146.448 266387.934
Story9 29841.295 296229.228 29841.295 296229.228
Story8 25048.663 321277.891 25048.663 321277.891
Story7 20539.285 341817.176 20539.285 341817.176
Story6 16333.363 358150.539 16333.363 358150.539
Story5 12617.530 370768.069 12617.530 370768.069
Story4 9184.578 379952.648 9184.578 379952.648
Story3 5988.945 385941.592 5988.945 385941.592
Story2 3277.995 389219.587 3277.995 389219.587
Story1 1169.923 390389.510 1169.923 390389.510

Contoh perhitungan :
Gaya Geser Story 15, V15 = F15 = 45177,800 Kgf
Gaya Geser Story 14, V14 = V15 + F14 = 100364,186 Kgf
Gaya Geser Story 13, V13 = V14 + F13 = 149794,417 Kgf
Dst…..

Gaya Geser Story 1, V1 = V2 + F1 = 390389,510 = VBASE SHEAR

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 65


5. PEMBEBANAN GEMPA STATIK OTOMATIS ETABS
Sebelum memulai input gempa statik ekivalen secara otomatis dengan
program ETABS, terlebih dahulu buka kunci jendela ETABS karena sebelumnya
telah dilakukan proses Run Analysis dengan cara klik icon seperti gambar di
bawah ini sehingga menjadi Unlock Model.

Gambar 2.9. Unlock Model

Kemudian pilih menu Define – Load Patterns – Input Gaya Lateral Arah
X (EX) seperti gambar berikut ini – Click To Add New Load.

Gambar 2.10. Input Gaya Lateral EX

- Load = isikan EX sebagai gempa statik arah x


- Type = Seismic (gempa)
- Self Weight Multiplier =0
- Auto Lateral Load = ASCE 7 – 10 (perlu diketahui bahwa code ASCE
7 – 10 merupakan payung/dasar dari peraturan gempa SNI 1726 – 2012
sehingga analisa perhitungannya akan sama dengan yang dipakai di Indonesia)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 66


Kemudian klik Modify Lateral Load sehingga tampil kotak dialog seperti
dibawah ini.

Gambar 2.11. ASCE 7 – 10 Seismic Loading X-Direction (Time Period Program


Calculated)

- Direction and Eccentricity : pilih X Dir


- Metode Pemilihan Time Period :
a. Approximate = jika memilih metode ini maka perhitungan Time Period
program berdasarkan formula perioda pendekatan atau perioda minimum
sesuai dengan fungsi Ct (ft), x.
b. Program Calculated = jika memilih metode ini maka program akan
langsung menghitung otomatis waktu getar/perioda desain dengan
mempertimbangkan batas atas dan batas bawah perioda .
c. User Defined = Jika memilih metode ini kita dapat langsung memberikan
nilai perioda desain yang telah kita hitung sebelumnya.
Untuk metode pertama kita pilih dengan Program Calculated dengan fungsi
Ct (ft), x sesuai dengan sistem ganda. Pemilihan fungsi Ct (ft), x pada program

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 67


ETABS sesuai dengan kode ASCE 7 – 10 yang dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 2.9. Parameter Perioda Pendekatan Ct dan x

Sumber : ASCE 7 – 10

Berdasarkan tabel diatas, untuk All other structural systems nilai Ct = 0,02
dengan nilai metric ekuivalen (0,0488) dan x = 0,75. Maka untuk sistem ganda
dalam program, fungsi perioda pendekatannya adalah Ct (ft), x = 0,02; 0,75.
- Story Range :
a. Top Story for Seismic Loads = Story 15 (Lantai paling atas)
b. Bottom Story for Seismic Loads = Base (Lantai dasar penjepitan lateral)
- Factors :
Nilai faktor diisi sesuai dengan parameter jenis sistem struktur, dalam hal ini
adalah sistem ganda dan faktor keutamaan bangunan, yaitu
a. Response Modification, R =7
b. System Overstrength, omega = 2,5
c. Deflection Amplification, Cd = 5,5
d. Occupancy Important, Ie =1
- Seismic Coefficients :
a. 0,2 Sec Spectral Accel, SS = 0,970
b. 1 Sec Spectral Accel, S1 = 0,328
c. Long Period-Transition Period = 8 sec, diambil dari peta Long Period-
Transtition Period untuk wilayah Pulau Jawa*
d. Site Class = D (Situs SD, Tanah Sedang)

Lakukan hal yang sama untuk membuat beban gempa statik arah-Y.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 68


Gambar 2.12. Input Gaya Lateral EY

Gambar 2.13. ASCE 7 – 10 Seismic Loading Y-Direction (Time Period Program


Calculated)

Setelah input beban EX dan EY melalui otomatis program, lakukan


analisis dengan pilih menu Analyze – Set Load Cases To Run – Run Now. Setelah
prose run analysis selesai, pilih Display – Show Tables – Analysis – Results –
Reactions – beri tanda centang pada Base Reactions – OK – klik kanan pada tabel
output – Export To Excel.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 69


Gambar 2.14. Output Base Reactions

Tabel 2.10. Base Reactions Time Period Program Calculated

Load FX FY FZ MX MY MZ
Case/Combo kgf kgf kgf kN-m kN-m kN-m
DL 0 -0.0000432 10253097 808743.703 -2010971 -0.000008525
LL 0 -0.00001283 2140516 169645.3301 -419826 -0.000002531
EX -390737 0.000004308 0 -0.00000188 -165725 30693.8075
EY 0 -390737 0.00001082 165725.4787 -0.000001757 -76614.9399

Dari hasil analisis program dengan menggunakan ASCE 7 – 10


berdasarkan metode Time Period Program Calculated didapat :

Vx = 390737 Kgf
Vy = 390737 Kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 70


Pada metode kedua ini akan dijelaskan input beban gempa statik ekivalen
dengan Time Period User Defined.
Kembali pada jendela ETABS klik icon Unlock Model (Buka Kunci) –
pilih kembali menu Define – Load Patterns – pilih Loads EX – klik Modify
Lateral Load – pada bagian Time Period pilih User Defined dan isi nilai T =
TDESAIN = 1,4728 sec – OK. Lakukan hal yang sama untuk memilih Loads EY.

Gambar 2.15. ASCE 7 – 10 Seismic Loading X-Direction (Time Period User


Defined)

Gambar 2.16. ASCE 7 – 10 Seismic Loading Y-Direction (Time Period User


Defined)

Setelah itu lakukan analisis kembali dengan pilih menu Analyze – Set Load
Cases To Run – Run Now. Setelah proses run analysis selesai, pilih Display –
Show Tables – Analysis – Results – Reactions – beri tanda ceklis pada Base
Reactions – OK – klik kanan pada tabel output – Export To Excel.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 71


Tabel 2.11. Base Reactions Time Period User Defined

Load FX FY FZ MX MY MZ
Case/Combo kgf kgf kgf kN-m kN-m kN-m
DL 0 -0.0000432 10253097 808743.703 -2010971 -0.000008525
LL 0 -0.00001283 2140516 169645.3301 -419826 -0.000002531
EX -390392 0.000004305 0 -0.000001879 -165592 30666.6931
EY 0 -390392 0.00001081 165591.9768 -0.000001756 -76547.3114

Dari hasil analisis program dengan menggunakan ASCE 7 – 10


berdasarkan metode Time Period User Defined didapat :

Vx = 390392 Kgf
Vy = 390392 Kgf

Maka hasil analisis nilai Gaya Geser Statik dengan menggunakan 3


metode yaitu perhitungan manual, ASCE 7 – 10 Time Period Program Calculaed,
dan ASCE 7 – 10 Time Period User Defined dapat dilihat pada tabel
perbandingan dibawah ini.

Tabel 2.12. Perbandingan Nilai Base Shear Statik

Vx Vy
No METODE
Kgf Kgf
1 Perhitungan Manual 390390 390390
2 ASCE 7-10 Time Period Program Calculated 390737 390737
3 ASCE 7-10 Time Period User Defined 390392 390392

Berdasarkan tabel di atas, perbandingan antara nilai base shear statik


dengan perhitungan manual dan metode ASCE 7-10 time period user defined
memberikan hasil yang terbaik dimana keduanya memberikan angka yang sangat
dekat. Dari hasil ke-3 analisis ini dapat membuktikan bahwa analisis base shear
dengan program ETABS berdasarkan ASCE 7 – 10 sudah sangat relevan dengan
peraturan gempa Indonesia SNI 1726 – 2012, sehingga dapat digunakan untuk
desain ataupun sekedar pengecekan terhadap perhitungan manual.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 72


6. PEMBEBANAN GEMPA DINAMIK RESPONS SPEKTRA
Pembebanan gempa dengan respons spektra berguna untuk melihat
perilaku dinamik dari pola gaya geser bangunan-bangunan tinggi yang
dipengaruhi oleh banyak mode/modal yang berkontribusi. Bangunan-bangunan
yang memiliki sisi ketidakberaturan/irregurality juga harus menyertakan analisis
gempa dinamik dalam perencanaan. Semakin tinggi bangunan dan semakin
banyak mode yang berkontribusi maka perilaku dinamik akan menentukan dan
dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendapatkan nilai gaya geser rencana
yang juga dibandingkan dengan analisis statik ekivalennya, sehingga didapat
nilai-nilai gaya geser dengan distribusi yang bagus sepanjang tinggi gedung.
Pembebanan gempa dinamik respons spektra dapat dianalisis langsung
menggunakan program ETABS dengan terlebih dahulu membuat kurva respons
spektrum sesuai parameter spektral wilayah tempat gedung berdiri dan jenis
tanahnya.
Kurva Spektrum Respons Desain merupakan fungsi percepatan spektral
(Sa) terhadap perioda (T), kurva ini digunakan dalam analisis dinamik untuk
mendapatkan nilai percepatan tanah desain dari masing-masing modal yang ada.
Perhitungan Kurva Spektrum Respons Desain diatur dalam Pasal 6.4.

Gambar 2.17. Respons Spektrum Desain

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 73


Respons Spektrum Desain dapat langsung dibuat dengan menggunakan
Microsoft Excel dengan memperhatikan nilai-nilai berikut ini :
a. Untuk perioda yang lebih dari T0 (T < T0), spektrum respons desain (Sa) :
 T 
S a  S DS  0.4  0,6 
 T0 

b. Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T 0 dan lebih kecil dari atau
sama dengan TS (T0 ≤ T ≤ TS) , spektrum respons desain (Sa) :
S a  S DS

c. Untuk perioda yang lebih besar daripada TS (T > TS), spektrum respons desain
(Sa) :
S D1
Sa 
T

Keterangan :
S D1
T0  0,2
S DS

S D1
TS 
S DS

Nilai SDS = 0,7190 detik


Nilai SD1 = 0,3813 detik
Nilai T0 = 0,106 detik
Nilai T S = 0,530 detik

Buat kolom T dan Sa di ms.excel dengan


interval 0,01 detik dimulai dari 0 detik
sampai asumsi 4 detik (nilai asumsi harus
lebih dari nilai TDESAIN).

Buat fungsi Sa sesuai dengan rentang perioda


yang telah ditentukan pada poin-poin diatas.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 74


Berikut ini akan ditampilkan kurva respons desain dengan SNI 1726 –
2012 dan sebagai perbandingan juga akan ditambahkan kurva respons spektrum
dengan wilayah dan jenis tanah yang sama menggunakan SNI 1726 – 2002.

0.8

0.7

0.6
Rasio Kenaikan SDS = 1,89
0.5
SPEKTRA SEMARANG
0.4 2002
Sa,

SPEKTRA SEMARANG
0.3
Rasio Kenaikan SD1 = 1,66 2012
0.2

0.1

0
0 1 2 3 4 5 T, detik

Gambar 2.18. Perbandingan Kurva Spektrum Desain Kota Semarang pada Tanah
Sedang dengan SNI 1726 – 2012 dan SNI 1726 - 2002

Setelah melakukan perhitungan kurva spektrum desain berdasarkan SNI


1726 – 2012 dengan menggunakan Microsoft Excel. Copy – paste nilai T dan Sa
menjadi 2 kolom ke dalan Notepad pada komputer dan save dengan hasil seperti
di bawah ini.

Gambar 2.19. Spektrum Desain dalam Notepad

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 75


Setalah membuat spektrum desain, kembali pada jendela ETABS pilih
Unlock Model – Define – Functions – Response Spectrum – Choose Functions
Type to Add pilih From File – pilih Add New Function – Browse – OK.

Gambar 2.20. Spektrum Respons Desain From File

- Function Name : ganti menjadi “SPEKTRA SEMARANG”


- Function Damping Ratio : 5% Damping
- Values are : Period vs Value
- Browse : Cari file notepad spektrum yang telah dibuat
- Function Graph : Lihat hasil kurva T vs Sa

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 76


Setelah input kurva spektrum, pendefinisian beban gempa dinamik dapat
dilakukan dengan cara : pilih menu Define – Load Cases – Click To Add New
Case – Isi kotak dialog Load Case Data – OK.

Gambar 2.21. Load Case Data SPEC-X

Beban Gempa Dinamik Respons Spektrum Arah X :


- Load Case Name : SPEC-X
- Load Case Type : pilih Response Spectrum
- Loads Applied : pilih Add pada sebelah kanan tabel.
a. Load Type = Acceleration
b. Load Name = U1 (arah X)
c. Function = pilih sesuai nama spektrum, “SPEKTRA SEMARANG”
d. Scale Factor = G x Ie/R = 9810 mm/sec2 x 1/7 = 1401,43

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 77


- Other Parameters :
a. Modal Load Case = Modal
b. Modal Combination Method = pilih asumsi CQC
c. Directional Combination Type = pilih asumsi SRSS
d. Modal Damping = Constant at 0,05 (5%)

Dengan cara yang sama lakukan untuk mendefinisikan beban gempa


dinamik respons spektrum arah Y seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.22. Load Case Data SPEC-Y

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 78


Setelah input beban gempa dinamik respons spektrum arah x dan arah y,
lakukan Run Analysis. Pilih menu Analyze – Set Load Cases to Run – Run Now.
Untuk melihat hasil gaya geser dinamik pilih menu Display – Show Tables –
Analysis – Results – Reactions – beri tanda ceklis pada Base Reactions – OK –
klik kanan pada tabel output pilih Export To Excel.

Tabel 2.13. Gaya Geser Dinamik


Load FX FY FZ MX MY MZ
Case/Combo kgf kgf Kgf kN-m kN-m kN-m
SPEC-X Max 217304.51 220.399 0 62.9301 71292.442 29777.2859
SPEC-Y Max 220.3981 233184.02 4.897E-06 75631.438 61.8506 45703.438

VSPEC-X = 217304,51 Kgf


VSPEC-Y = 233184,02 Kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 79


Pembebanan gempa dinamik respons spektrum juga dapat dilakukan
dengan menggunakan kurva respons spektrum secara otomatis pada program
ETABS. Seperti halnya pembebanan gempa statik ekivalen otomatis, kurva
respons spektrum juga didapat dengan menggunakan metode ASCE 7 – 10
dengan cara : Unlock Model – menu Define – Functions – Response Spectrum –
pada bagian Choose Function Type to Add pilih ASCE 7-10 – Click To Add New
Function – isi kotak dialog Response Spectrum ASCE 7-10 – OK.

Gambar 2.23. Respon Spektrum dengan ASCE 7-10

- Function Name : ASCE 7-10 SPEKTRA SEMARANG


- Damping Ratio : 0,05 (5%)
- 0,2 Sec Spectral Accel, SS : 0,970 (sesuai data)
- 1 Sec Spectral Accel, S1 : 0,328 (sesuai data)
- Site Class : D (tanah sedang, situs SD)
- Plot Options : Linear X – Linear Y

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 80


Untuk mengganti pembebanan gempa dinamik dari kurva spektrum yang
sebelumnya menggunakan fasilitas from file dengan kurva spektrum otomatis
ASCE 7 – 10, kembali ke menu Define – Load Cases – pilih beban gempa SPEC-
X – Click To Modify/Show Case – pada pilihan Function pilih ASCE 7 – 10
SPEKTRA SEMARANG – OK – lakukan hal yang sama untuk beban gempa
SPEC-Y – OK.

Gambar 2.24. Input Function ASCE 7 – 10 arah X

Gambar 2.25. Input Function ASCE 7 – 10 arah Y

Tabel 2.14. Gaya Geser Dinamik Spektrum Otomatis

Load FX FY FZ MX MY MZ
Case/Combo Kgf kgf kgf kN-m kN-m kN-m
SPEC-X Max 219327.09 223.5824 0 63.3258 71615.328 30090.2807
SPEC-Y Max 223.5815 237528.35 4.959E-06 76573.471 62.2392 46554.6707

VSPEC-X = 219327,09 Kgf


VSPEC-Y = 237528,35 Kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 81


Hasil perbandingan gaya geser dengan menggunakan spektrum manual
dan otomatis ETABS dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.15. Hasil Perbandingan Gaya Geser Dinamik

Vx Vy
No METODE
Kgf Kgf
1 Respons Spektrum Input Manual 217304.51 233184.02
2 Respons Spektrum Otomatis ASCE 7 - 10 219327.09 237528.35

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 82


7. RELASI BEBAN GEMPA STATIK – DINAMIK
Berdasarkan SNI 1726 – 2012, beban gempa dinamik tidak boleh kurang
dari 85% beban gempa statik, atau dengan kata lain VDINAMIK ≥ 0,85VSTATIK ,
jika syarat tersebut tidak terpenuhi maka beban gempa dinamik harus dikalikan
dengan faktor skala sebesar :
0,85  VBASE STATIK
scale factor 
VBASE DINAMIK

Pada analisis sebelumnya sudah didapatkan nilai beban gempa


menggunakan metode gaya lateral statik ekivalen dan dinamik respons spektra
dengan berbagai metode. Dalam perhitungan desain ini akan digunakan nilai
beban gempa statik ekivalen hasil dari perhitungan manual berdasarkan tabel 2.8
dan beban gempa dinamik respons spektrum dengan metode ASCE 7 – 10
berdasarkan tabel 2.14.
Gaya geser statik ekivalen tiap lantai didapat berdasarkan hasil
perhitungan dari tabel 2.8. Gaya geser dinamik tiap lantai dapat dilihat dari hasil
output ETABS dengan cara pilih menu Display – Story Response Plot – akan
tampak kotak dialog Story Response seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.26. Gaya Geser Dinamik Arah X

- Display Type : pilih Story Shears


- Case/Combo : pilih SPEC-X untuk melihat gaya geser arah X

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 83


Untuk menampilkannya dalam format Microsoft Excel pilih icon seperti
gambar dibawah ini.

Gambar 2.27. Formatted Tabel

Gambar 2.28. Story Response Dinamik Arah X (XLS)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 84


Tabel 2.16. Gaya Geser Dinamik – X Tiap Lantai
Elevation X-Dir Y-Dir
Story Location
m kgf kgf
Top 36925.02 52.56
Story15 60
Bottom 36925.02 52.56
Top 71127.11 92.93
Story14 56
Bottom 71127.11 92.93
Top 94763.79 114.63
Story13 52
Bottom 94763.79 114.63
Top 110613.21 126.12
Story12 48
Bottom 110613.21 126.12
Top 120927.44 130.88
Story11 44
Bottom 120927.44 130.88
Top 128809.03 132.35
Story10 40
Bottom 128809.03 132.35
Top 136512.17 134.75
Story9 36
Bottom 136512.17 134.75
Top 144757.08 138.81
Story8 32
Bottom 144757.08 138.81
Top 154260.03 144.85
Story7 28
Bottom 154260.03 144.85
Top 165307.75 154.18
Story6 24
Bottom 165307.75 154.18
Top 177825.43 167.74
Story5 20
Bottom 177825.43 167.74
Top 190884.46 184.75
Story4 16
Bottom 190884.46 184.75
Top 203301.80 202.19
Story3 12
Bottom 203301.80 202.19
Top 213680.88 216.74
Story2 8
Bottom 213680.88 216.74
Top 219327.09 223.58
Story1 4
Bottom 219327.09 223.58
Top 0.00 0.00
Base 0
Bottom 0.00 0.00

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 85


Dengan cara yang sama, maka output nilai gaya geser dinamik arah Y tiap
lantai dapat dilihat sebagai berikut.

Gambar 2.29. Gaya Geser Dinamik Arah Y

Gambar 2.30. Story Response Dinamik Arah Y (XLS)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 86


Tabel 2.17. Gaya Geser Dinamik – Y Tiap Lantai
Elevation X-Dir Y-Dir
Story Location
m kgf kgf
Top 53.13 45641.34
Story15 60
Bottom 53.13 45641.34
Top 92.84 83997.20
Story14 56
Bottom 92.84 83997.20
Top 113.01 107969.86
Story13 52
Bottom 113.01 107969.86
Top 124.07 123650.05
Story12 48
Bottom 124.07 123650.05
Top 130.04 134081.89
Story11 44
Bottom 130.04 134081.89
Top 132.61 141801.19
Story10 40
Bottom 132.61 141801.19
Top 134.42 148973.08
Story9 36
Bottom 134.42 148973.08
Top 137.30 156925.64
Story8 32
Bottom 137.30 156925.64
Top 142.87 166471.94
Story7 28
Bottom 142.87 166471.94
Top 151.96 178262.35
Story6 24
Bottom 151.96 178262.35
Top 165.30 192090.69
Story5 20
Bottom 165.30 192090.69
Top 181.96 207013.96
Story4 16
Bottom 181.96 207013.96
Top 199.67 221103.44
Story3 12
Bottom 199.67 221103.44
Top 215.32 232347.54
Story2 8
Bottom 215.32 232347.54
Top 223.58 237528.35
Story1 4
Bottom 223.58 237528.35
Top 0.00 0.00
Base 0
Bottom 0.00 0.00

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 87


Tabel 2.18. Gaya Geser Statik dan Dinamik Tiap Lantai
STATIK DINAMIK
Story VX VY VSPEC-X VSPEC-Y
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
Story15 45177.80 45177.80 36925.02 45641.34
Story14 100364.19 100364.19 71127.11 83997.20
Story13 149794.42 149794.42 94763.79 107969.86
Story12 193680.04 193680.04 110613.21 123650.05
Story11 232241.49 232241.49 120927.44 134081.89
Story10 266387.93 266387.93 128809.03 141801.19
Story9 296229.23 296229.23 136512.17 148973.08
Story8 321277.89 321277.89 144757.08 156925.64
Story7 341817.18 341817.18 154260.03 166471.94
Story6 358150.54 358150.54 165307.75 178262.35
Story5 370768.07 370768.07 177825.43 192090.69
Story4 379952.65 379952.65 190884.46 207013.96
Story3 385941.59 385941.59 203301.80 221103.44
Story2 389219.59 389219.59 213680.88 232347.54
Story1 390389.51 390389.51 219327.09 237528.35

Tabel 2.19. Relasi Gaya Gempa Statik – Dinamik

GAYA VX VY
GEMPA (Kgf) (Kgf)
STATIK 390389.51 390389.51
85% STATIK 331831.08 331831.08
DINAMIK 219327.09 237528.35

Berdasarkan tabel diatas, VDINAMIK < 85% VSTATIK, maka faktor skala gaya
yang harus diberikan adalah :

331831,08
Scale factor arah X =  1,513
219327,09

331831,08
Scale factor arah Y =  1,397
237528,35

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 88


Nilai faktor skala gaya yang telah didapat kemudian input ke load case
spectrum pada ETABS dengan cara : klik icon Unlock Model – pilih menu Define
– Load Cases – pilih SPEC-X (contoh untuk arah X) – Modify/Show Case – pada
kotak Scale Factor kalikan skala sebelumnya dengan faktor skala gaya untuk arah
X (1,513) – OK.

Gambar 2.31. Edit Skala Gaya Arah X

Scale Factor Arah X = 1401,43 x 1,513 = 2120,36

Dengan cara yang sama, input nilai skala gaya (scale factor) untuk gempa
dinamik arah Y seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.32. Edit Skala Gaya Arah Y

Scale Factor Arah Y = 1401,43 x 1,397 = 1957,8

Setelah itu lakukan proses Run Analysis dan lihat hasil gaya geser
dinamik terkoreksi dengan menggunakan cara yang sama seperti melihat hasil
gaya geser dinamik awal.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 89


Tabel 2.20. Gaya Geser Dinamik Terkoreksi (Dinamik Correction)
DINAMIK
STATIK DINAMIK SKALA GAYA CORRECTION
Story
VX VY VSPEC-X VSPEC-Y VSPEC-X VSPEC-Y
X - Dir Y - Dir
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
Story15 45177.80 45177.80 36925.02 45641.34 55865.74 63761.72
Story14 100364.19 100364.19 71127.11 83997.20 107611.82 117345.50
Story13 149794.42 149794.42 94763.79 107969.86 143372.95 150835.70
Story12 193680.04 193680.04 110613.21 123650.05 167352.34 172741.20
Story11 232241.49 232241.49 120927.44 134081.89 182957.27 187314.64
Story10 266387.93 266387.93 128809.03 141801.19 194881.73 198098.63
Story9 296229.23 296229.23 136512.17 148973.08 206536.19 208117.89
Story8 321277.89 321277.89 144757.08 156925.64 1.51295 1.39702 219010.33 219227.74
Story7 341817.18 341817.18 154260.03 166471.94 233387.83 232564.09
Story6 358150.54 358150.54 165307.75 178262.35 250102.48 249035.48
Story5 370768.07 370768.07 177825.43 192090.69 269041.13 268353.91
Story4 379952.65 379952.65 190884.46 207013.96 288798.79 289201.97
Story3 385941.59 385941.59 203301.80 221103.44 307585.61 308885.21
Story2 389219.59 389219.59 213680.88 232347.54 323288.65 324593.41
Story1 390389.51 390389.51 219327.09 237528.35 331831.08 331831.08

Nilai gaya geser dinamik terkoreksi tiap lantai juga dapat dihitung secara
langsung seperti tabel di atas dengan contoh perhitungan sebagai berikut :

Arah X :
V (dinamik terkoreksi) Story 15 = VDINAMIK x Skala Gaya Arah X
= 36925,02 x 1,51295
= 55865,7
Arah Y :
V (dinamik terkoreksi) Story 15 = VDINAMIK x Skala Gaya Arah Y
= 45641,34 x 1,39702
= 63761,7

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 90


8. BEBAN GEMPA DESAIN
Dari hasil relasi antara gempa statik dan dinamik, kita dapat menentukan
gaya gempa desain dengan distribusi yang baik dan sesuai sepanjang tinggi
gedung. Gaya gempa desain mempertimbangkan nilai antara gaya geser statik
minimal yang disyaratkan (85%) dan gaya gempa dari hasil dinamik respons
spektra yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.21. Gaya Geser Desain Tiap Lantai


GAYA GESER
STATIK 85% STATIK DINAMIK CORRECT. DESAIN
Story
VX VY VX VY VSPEC-X VSPEC-Y VX VY
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
Story15 45177.80 45177.80 38401.13 38401.13 55865.74 63761.72 55865.74 63761.72
Story14 100364.19 100364.19 85309.56 85309 .56 107611.82 117345.50 107611.82 117345.50
Story13 149794.42 149794.42 127325.25 127325.25 143372.95 150835.70 143372.95 150835.70
Story12 193680.04 193680.04 164628.03 164628.03 167352.34 172741.20 167352.34 172741.20
Story11 232241.49 232241.49 197405.26 197405.26 182957.27 187314.64 197405.26 197405.26
Story10 266387.93 266387.93 226429.74 226429.74 194881.73 198098.63 226429.74 226429.74
Story9 296229.23 296229.23 251794.84 251794.84 206536.19 208117.89 251794.84 251794.84
Story8 321277.89 321277.89 273086.21 273086.21 219010.33 219227.74 273086.21 273086.21
Story7 341817.18 341817.18 290544.60 290544.60 233387.83 232564.09 290544.60 290544.60
Story6 358150.54 358150.54 304427.96 304427.96 250102.48 249035.48 304427.96 304427.96
Story5 370768.07 370768.07 315152.86 315152.86 269041.13 268353.91 315152.86 315152.86
Story4 379952.65 379952.65 322959.75 322959.75 288798.79 289201.97 322959.75 322959.75
Story3 385941.59 385941.59 328050.35 328050.35 307585.61 308885.21 328050.35 328050.35
Story2 389219.59 389219.59 330836.65 330836.65 323288.65 324593.41 330836.65 330836.65
Story1 390389.51 390389.51 331831.08 331831.08 331831.08 331831.08 331831.08 331831.08

Nilai gaya geser desain didapat dari nilai maksimum antara gaya gempa
85% statik dan gaya gempa dinamik correction (dinamik terkoreksi). Sebagai
contoh, penentuan gaya geser desain pada Story 15 adalah sebagai berikut :

Arah X :
Gaya Geser Desain Story 15 = MAX (38401,13 ; 55865,74) = 55865,74

Arah Y :
Gaya Geser Desain Story 15 = MAX (38401,13 ; 63761,72) = 63761,72

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 91


15

13

11
Gempa Statik
9
85% Gempa Statik
7
Gempa Dinamik Correct.
5
Gempa Desain
3

1
0 100000 200000 300000 400000 500000

Gambar 2.33. Distribusi Gaya Geser Gempa Arah X Setinggi Gedung

15

13

11
Gempa Statik
9
85% Gempa Statik
7 Gempa Dinamik Correct.

5 Gempa Desain

1
0 100000 200000 300000 400000 500000

Gambar 2.34. Distribusi Gaya Geser Gempa Arah Y Setinggi Gedung

Dari gambar distribusi gaya geser di atas dapat dilihat bahwa gempa
dinamik correction memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap gaya
geser pada lantai-lantai paling atas karena nilai gaya gesernya lebih besar daripada
gaya gempa statiknya, sedangkan pada lantai bawah nilai gaya geser desain sudah
memenuhi syarat minimal 85% statik. Hal itulah yang menyebabkan perlunya
pertimbangan antara relasi gempa statik dan dinamik, karena semakin tinggi
bangunan dapat mempengaruhi perilaku dinamiknya yang bisa lebih dominan.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 92


9. GAYA GEMPA LATERAL DESAIN
Gaya gempa lateral desain tiap lantai didapat dari gaya geser tiap lantai
desain hasil analisis sebelumnya. Gaya gempa pada suatu lantai merupakan selisih
dari gaya geser antar lantai tersebut, sehingga nilainya masing-masing dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.22. Gaya Gempa Desain
GAYA GESER DESAIN F, GEMPA DESAIN
Story VX VY FX FY
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
15 55865.74 63761.72 55865.74 63761.72
14 107611.82 117345.50 51746.08 53583.78
13 143372.95 150835.70 35761.13 33490.20
12 167352.34 172741.20 23979.39 21905.50
11 197405.26 197405.26 30052.92 24664.07
10 226429.74 226429.74 29024.48 29024.48
9 251794.84 251794.84 25365.10 25365.10
8 273086.21 273086.21 21291.36 21291.36
7 290544.60 290544.60 17458.39 17458.39
6 304427.96 304427.96 13883.36 13883.36
5 315152.86 315152.86 10724.90 10724.90
4 322959.75 322959.75 7806.89 7806.89
3 328050.35 328050.35 5090.60 5090.60
2 330836.65 330836.65 2786.30 2786.30
1 331831.08 331831.08 994.43 994.43

Contoh perhitungan Gaya Gempa Desain arah X (F X) :


F15 = V15 = 55865,74
F14 = V14 – V15 = 107611,82 – 55865,74 = 51746,08
F13 = V13 – V14 = 143372,95 – 107611,82 = 35761,13
F12 = V12 – V13 = 167352,34 – 143372,95 = 23979,39
F11 = V11 – V12 = 197405,26 – 167352,34 = 30052,92
F10 = V10 – V11 = 226429,74 – 197405,26 = 29024,48
F9 = V9 – V10 = 251794,84 – 226429,74 = 25365,10
F8 = V8 – V9 = 273086,21 – 251794,84 = 21291,36
F7 = V7 – V8 = 290544,60 – 273086,21 = 17458,39
F6 = V6 – V7 = 304427,96 – 290544,60 = 13883,36……. Dst.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 93


Setelah mendapatkan nilai gaya gempa desain, input gaya-gaya tersebut ke
program ETABS dengan cara sebagai berikut :
a. Gaya Gempa Desain Arah X :
Unlock Model – pilih menu Define – Load Patterns – pada kotak dialog Define
Load Patterns pilih Load “EX” – pada kotak pilihan Auto Lateral Load pilih
User Loads – Click To Modify Load.

Gambar 2.35. User Loads Gempa EX

Setelah mengganti Auto Lateral Load menjadi User Loads, klik Modify
Lateral Load di sebelah kanan kemudian masukkan nilai gempa F X desain ke
dalam kotak tabulasi atau gunakan copy – paste dari Excel yang dibuat.

Gambar 2.36. Input Gaya Gempa Desain FX

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 94


b. Gaya Gempa Desain Arah Y:
Unlock Model – pilih menu Define – Load Patterns – pada kotak dialog Define
Load Patterns pilih Load “EY” – pada kotak pilihan Auto Lateral Load pilih
User Loads – Click To Modify Load.

Gambar 2.37. User Loads Gempa EY

Setelah mengganti Auto Lateral Load menjadi User Loads, klik Modify
Lateral Load di sebelah kanan kemudian masukkan nilai gempa FY desain ke
dalam kotak tabulasi atau gunakan copy – paste dari Excel yang dibuat.

Gambar 2.38. Input Gaya Gempa Desain FY

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 95


10. KONTROL DESAIN
Kontrol desain struktur dilakukan terhadap pengecekan batas simpangan
antar lantai yang diatur dalam pasal 7.8.6 dan 7.12.1 serta kestabilan akibat efek
P-Delta yang diatur dalam pasal 7.8.7. Setelah input gaya gempa desain arah x
dan arah y, lakukan kembali proses Run Analysis. Untuk melihat nilai simpangan
maksimum tiap lantai pilih menu Display – Story Response Plots – kemudian isi
kotak dialog seperti tampak pada gambar di bawah ini – Formatted ke dalam
bentuk excel.

Gambar 2.39. Maximum Story Displacement Akibat Gempa EX

Gambar 2.40. Maximum Story Displacement Akibat Gempa EY

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 96


Tabel 2.23. Simpangan Maksimum Lantai Akibat Gempa Arah X

Elevation X-Dir Y-Dir


Story Location
m mm mm
Story15 60 Top 73.20 18.70
Story14 56 Top 69.50 18.20
Story13 52 Top 65.40 17.50
Story12 48 Top 60.80 16.70
Story11 44 Top 55.90 15.70
Story10 40 Top 50.60 14.50
Story9 36 Top 45.00 13.20
Story8 32 Top 39.00 11.70
Story7 28 Top 32.80 10.00
Story6 24 Top 26.60 8.30
Story5 20 Top 20.40 6.50
Story4 16 Top 14.60 4.70
Story3 12 Top 9.20 3.10
Story2 8 Top 4.70 1.60
Story1 4 Top 1.50 0.50
Base 0 Top 0.00 0.00

Tabel 2.24. Simpangan Maksimum Lantai Akibat Gempa Arah Y

Elevation X-Dir Y-Dir


Story Location
m mm mm
Story15 60 Top 6.3 94.4
Story14 56 Top 6 89.1
Story13 52 Top 5.6 83.4
Story12 48 Top 5.3 77.2
Story11 44 Top 4.8 70.6
Story10 40 Top 4.4 63.5
Story9 36 Top 3.9 56.1
Story8 32 Top 3.4 48.4
Story7 28 Top 2.8 40.5
Story6 24 Top 2.3 32.6
Story5 20 Top 1.8 24.8
Story4 16 Top 1.3 17.5
Story3 12 Top 0.8 11
Story2 8 Top 0.4 5.5
Story1 4 Top 0.1 1.6
Base 0 Top 0 0

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 97


Tabel 2.25. Simpangan Antar Tingkat Ijin X – Dir

hsx δe Δ Δi Δijin
Story Ket
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
15 4000 73.20 402.60 20.35 80 OK
14 4000 69.50 382.25 22.55 80 OK
13 4000 65.40 359.70 25.30 80 OK
12 4000 60.80 334.40 26.95 80 OK
11 4000 55.90 307.45 29.15 80 OK
10 4000 50.60 278.30 30.80 80 OK
9 4000 45.00 247.50 33.00 80 OK
8 4000 39.00 214.50 34.10 80 OK
7 4000 32.80 180.40 34.10 80 OK
6 4000 26.60 146.30 34.10 80 OK
5 4000 20.40 112.20 31.90 80 OK
4 4000 14.60 80.30 29.70 80 OK
3 4000 9.20 50.60 24.75 80 OK
2 4000 4.70 25.85 17.60 80 OK
1 4000 1.50 8.25 8.25 80 OK

Tabel 2.26. Simpangan Antar Tingkat Ijin Y – Dir

hsx δe Δ Δi Δijin
Story Ket
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
15 4000 94.4 519.20 29.15 80 OK
14 4000 89.1 490.05 31.35 80 OK
13 4000 83.4 458.70 34.10 80 OK
12 4000 77.2 424.60 36.30 80 OK
11 4000 70.6 388.30 39.05 80 OK
10 4000 63.5 349.25 40.70 80 OK
9 4000 56.1 308.55 42.35 80 OK
8 4000 48.4 266.20 43.45 80 OK
7 4000 40.5 222.75 43.45 80 OK
6 4000 32.6 179.30 42.90 80 OK
5 4000 24.8 136.40 40.15 80 OK
4 4000 17.5 96.25 35.75 80 OK
3 4000 11 60.50 30.25 80 OK
2 4000 5.5 30.25 21.45 80 OK
1 4000 1.6 8.80 8.80 80 OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 98


Contoh perhitungan penentuan simpangan antar tingkat/lantai 15 (Story
15) untuk gempa arah Y adalah sebagai berikut :

C d  e15
 15 
Ie
5,5  94,4
 15 
1
 15  519,20 mm

C d  e14
 14 
Ie
5,5  89,1
 14 
1
 14  490,05 mm

15   15   14
15  519,20  490,05
15  29,55 mm

Berdasarkan tabel 16 Simpangan antar lantai ijin SNI 1726 – 2012 untuk
jenis struktur yang masuk kedalam tipe semua struktur lainnya dan berada pada
kategori risiko II, batas simpangan antar lantai ijin adalah 0,020 h sx, dimana hsx
merupakan tinggi antar tingkat. Maka dari perhitungan diatas didapat :

 ijin  0,020  hsx


 ijin  0,020  4000
 ijin  80

Maka 15   ijin …………..OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 99


Pada analisis kontrol selanjutnya yaitu pengecekan kestabilan bangunan/
efek P-Delta, dibutuhkan nilai beban kumulatif gravity pada tiap lantai dengan
faktor beban individu tidak melebihi 1,0. Oleh karena itu diambil kombinasi untuk
pengecekan P-Delta adalah :
CombP-delta = 1,0 DL + 0,3 LL
Untuk memasukkan kombinasi ke dalam ETABS adalah dengan cara pilih
menu Define – Load Combination – klik Add New Combo – Buat kombinasi
seperti gambar dibawah ini – OK.

Gambar 2.41. Kombinasi Beban Gravity P-Delta

Setelah itu pilih menu Display – Show Tables – Analysis – Results –


Structure Results – Story Forces – klik kanan pada tabel output – Export To Excel
– Sort and Filter berdasarkan Comb P-Delta dengan Location Bottom.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 100


Tabel 2.27. Beban P (Gravity) Kumulatif

Story Load Case/Combo Location P (Kgf)


Story15 Comb P-Delta Bottom 583513
Story14 Comb P-Delta Bottom 1290409
Story13 Comb P-Delta Bottom 1997304
Story12 Comb P-Delta Bottom 2704200
Story11 Comb P-Delta Bottom 3411096
Story10 Comb P-Delta Bottom 4149132
Story9 Comb P-Delta Bottom 4887167
Story8 Comb P-Delta Bottom 5625203
Story7 Comb P-Delta Bottom 6363239
Story6 Comb P-Delta Bottom 7101274
Story5 Comb P-Delta Bottom 7860070
Story4 Comb P-Delta Bottom 8618865
Story3 Comb P-Delta Bottom 9377661
Story2 Comb P-Delta Bottom 10136457
Story1 Comb P-Delta Bottom 10895252

Tabel 2.28. Cek Kestabilan Akibat Gempa X

hsx Δi P VX
Story θ θmax Cek
(mm) (mm) (Kgf) (Kgf)
15 4000 20.35 583513 55865.74 0.009662 0.090909 STABIL
14 4000 22.55 1290409 107611.82 0.012291 0.090909 STABIL
13 4000 25.30 1997304 143372.95 0.01602 0.090909 STABIL
12 4000 26.95 2704200 167352.34 0.019794 0.090909 STABIL
11 4000 29.15 3411096 197405.26 0.022896 0.090909 STABIL
10 4000 30.80 4149132 226429.74 0.025654 0.090909 STABIL
9 4000 33.00 4887167 251794.84 0.029114 0.090909 STABIL
8 4000 34.10 5625203 273086.21 0.031928 0.090909 STABIL
7 4000 34.10 6363239 290544.60 0.033947 0.090909 STABIL
6 4000 34.10 7101274 304427.96 0.036156 0.090909 STABIL
5 4000 31.90 7860070 315152.86 0.036164 0.090909 STABIL
4 4000 29.70 8618865 322959.75 0.036028 0.090909 STABIL
3 4000 24.75 9377661 328050.35 0.032159 0.090909 STABIL
2 4000 17.60 10136457 330836.65 0.024511 0.090909 STABIL
1 4000 8.25 10895252 331831.08 0.012313 0.090909 STABIL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 101


Tabel 2.29. Cek Kestabilan Akibat Gempa Y

hsx Δi P VY
Story θ θmax Cek
(mm) (mm) (Kgf) (Kgf)
15 4000 29.15 583513 63761.72 0.012126 0.090909 STABIL
14 4000 31.35 1290409 117345.50 0.015670 0.090909 STABIL
13 4000 34.10 1997304 150835.70 0.020524 0.090909 STABIL
12 4000 36.30 2704200 172741.20 0.025830 0.090909 STABIL
11 4000 39.05 3411096 197405.26 0.030671 0.090909 STABIL
10 4000 40.70 4149132 226429.74 0.033900 0.090909 STABIL
9 4000 42.35 4887167 251794.84 0.037363 0.090909 STABIL
8 4000 43.45 5625203 273086.21 0.040682 0.090909 STABIL
7 4000 43.45 6363239 290544.60 0.043255 0.090909 STABIL
6 4000 42.90 7101274 304427.96 0.045487 0.090909 STABIL
5 4000 40.15 7860070 315152.86 0.045516 0.090909 STABIL
4 4000 35.75 8618865 322959.75 0.043367 0.090909 STABIL
3 4000 30.25 9377661 328050.35 0.039306 0.090909 STABIL
2 4000 21.45 10136457 330836.65 0.029873 0.090909 STABIL
1 4000 8.80 10895252 331831.08 0.013133 0.090909 STABIL

Contoh perhitungan kontrol efek P-Delta pada Story 5 akibat gempa Y


adalah sebagai berikut :
Px I e

V x hsx C d
7860070  40,15  1

315152,86  4000  5,5
  0,0455

0,5
 max   0,25
C d
0,5
 max   0,25
1  5,5
 max  0,091  0,25

Karena nilai θ < 0,1 maka tidak disyaratkan untuk diperhitungkan terhadap
pengaruh P-Delta, dan nilai θ < θmax, sehingga struktur masih dalam kondisi stabil.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 102


11. ANALISIS SISTEM GANDA (DUAL SYSTEM)
Pengecekan terhadap gaya geser desain yang ditahan oleh pemikul momen
dan dinding geser (shear wall) harus dilakukan sebagai syarat Sistem Ganda.
Gaya geser desain selanjutnya akan digunakan untuk tahap perhitungan
penulangan, sehingga pengaruh efektifitas penampang retak (cracked) harus
diperhatikan dan ditinjau untuk setiap komponen elemen struktur penahan beban
gempa sesuai acuan pada SNI Beton 2847 – 2013.

a. Icracked Balok
Pilih menu Define – Section Properties – Frame Sections – pilih salah satu
tipe balok – Modify/Show Property – pilih Modify/Show Modifiers – ganti
nilai Moment of Inertia about 3 axis menjadi 0,35 – OK. Lakukan hal yang
sama untuk tipe balok lainnya.

Gambar 2.42. Icracked Balok

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 103


b. Icracked Kolom
Pilih menu Define – Section Properties – Frame Sections – pilih salah satu
tipe kolom – Modify/Show Property – pilih Modify/Show Modifiers – ganti
nilai Moment of Inertia about 2 axis dan Moment of Inertia about 3 axis
menjadi 0,7 – OK. Lakukan hal yang sama untuk tipe kolom lainnya.

Gambar 2.43. Icracked Kolom

c. Icracked Shear Wall


Pilih menu Define – Section Properties – Wall Sections – pilih tipe shear wall
– Modify/Show Property – pilih Modify/Show Modifiers – ganti nilai
Membrane F11 Direction menjadi 0,7 (kondisi uncracked) dan Bending M11
Direction menjadi 0,35 (kondisi cracked) – OK.

Setelah mengganti efektifitas penampang utuh menjadi kondisi cracked,


lakukan kembali proses Run Analysis.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 104


Untuk mengetahui distribusi beban gempa pada kolom dan shear wall agar
diketahui masing-masing persentasenya, kita dapat lihat pada tabel Reactions
namun sebelumnya kita harus mengetahui joint label masing-masing titik kolom
dan shear wall terlebih dahulu dengan cara : tampilkan plan 2D Base dengan
memilih menu View – Set Plan View – pilih Base – OK – kemudian pilih menu
View – Set Display Options – pada kotak dialog Set View Options pilih Object
Assignments – pada bagian Joint Assignments beri tanda ceklis pada Labels – OK.

Gambar 2.44. Joint Label

Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa label titik untuk shear wall
berturut-turut adalah 19, 20, 21, 22, 23, dan 24. Untuk mengetahui besarnya gaya
geser yang diterima pada titik-titik tersebut pilih menu Display – Show Tables –
Analysis – Results – Reactions – beri tanda ceklis pada pilihan Design Reactions –
OK – klik kanan pada tabel output tersebut – Export to Excel.
ETABS akan memberikan semua informasi nilai gaya dalam dari hasil
Run masing-masing Load Case/Combo, untuk memudahkan mengetahui reaksi
dari pembebanan gempa desain, pilih sort & filter pada Microsoft excel kemudian
select hanya untuk pembebanan gempa X (EX) dan gempa Y (EY). Hasil design
reaction masing-masing joint dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 105


Tabel 2.30. Joint Reactions Akibat Gempa EX

Story Joint Label Load Case/Combo FX


Base 1 EX -1539.830
Base 2 EX -2395.90
Base 3 EX -1581.54
Base 4 EX -1581.54
Base 5 EX -2395.90
Base 6 EX -1539.83
Base 7 EX -2252.79
Base 8 EX -2149.70
Base 9 EX -2149.70
Base 10 EX -2252.79
Base 11 EX -1963.50
Base 12 EX -1928.46
Base 13 EX -1928.46
Base 14 EX -1963.50
Base 15 EX -1177.03
Base 16 EX -1966.11
Base 17 EX -1966.11
Base 18 EX -1177.03
Base 19 EX -1214.34
Base 20 EX -1794.72
Base 21 EX -145952.00
Base 22 EX -145952.00
Base 23 EX -1214.34
Base 24 EX -1794.72
Jumlah -331831

Berdasarkan tabel diatas, akibat gempa arah X (EX) shear wall dan
kolom menahan gaya geser pada lantai base/dasar sebesar :

Vshear wall = 297922,11 Kgf


% Vshear wall = 89,78 %

Vkolom = 33909,72 Kgf


% Vkolom = 10,22 %

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 106


Tabel 2.31. Joint Reactions Akibat Gempa EY

Story Joint Label Load Case/Combo FY


Base 1 EY -1779.32
Base 2 EY -1688.60
Base 3 EY -1627.16
Base 4 EY -1675.76
Base 5 EY -1880.65
Base 6 EY -2143.54
Base 7 EY -2386.69
Base 8 EY -2472.18
Base 9 EY -2569.79
Base 10 EY -2675.18
Base 11 EY -2390.26
Base 12 EY -2566.47
Base 13 EY -2681.20
Base 14 EY -2679.30
Base 15 EY -1779.27
Base 16 EY -1681.49
Base 17 EY -1875.25
Base 18 EY -2142.95
Base 19 EY -64471.45
Base 20 EY -64953.56
Base 21 EY -1820.67
Base 22 EY -1981.82
Base 23 EY -80166.06
Base 24 EY -79742.46
Jumlah -331831

Berdasarkan tabel diatas, akibat gempa arah Y (EY) shear wall dan
kolom menahan gaya geser pada lantai base/dasar sebesar :

Vshear wall = 293136,02 Kgf


% Vshear wall = 88,34 %

Vkolom = 38695,06 Kgf


% Vkolom = 11,66%

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 107


Tabel 2.32. Interaksi Sistem Ganda (Dual System) Akibat Gempa Arah X

Story Vx design Vshear wall Vkolom Vshear wall + Vkolom % Vshear wall % Vkolom
15 55865.74 -76078.35 131944.09 55865.74
14 107611.82 17027.37 90584.45 107611.82 15.82 84.18
13 143372.95 37679.84 105693.11 143372.95 26.28 73.72
12 167352.34 58039.44 109312.90 167352.34 34.68 65.32
11 197405.26 90533.18 106872.08 197405.26 45.86 54.14
10 226429.74 100805.73 125624.00 226429.74 44.52 55.48
9 251794.84 130275.87 121518.97 251794.84 51.74 48.26
8 273086.21 149686.04 123400.16 273086.20 54.81 45.19
7 290544.60 168957.85 121586.74 290544.59 58.15 41.85
6 304427.96 190154.45 114273.50 304427.95 62.46 37.54
5 315152.86 201195.34 113957.51 315152.85 63.84 36.16
4 322959.75 226338.44 96621.30 322959.74 70.08 29.92
3 328050.35 246911.27 81139.07 328050.34 75.27 24.73
2 330836.65 272408.30 58428.34 330836.64 82.34 17.66
1 331831.08 297922.11 33909.72 331831.84 89.78 10.22

Tabel 2.33. Interaksi Sistem Ganda (Dual System) Akibat Gempa Arah Y

Story Vy design Vshear wall Vkolom Vshear wall + Vkolom % Vshear wall % Vkolom
15 63761.72 -67125.02 130886.74 63761.72
14 117345.50 29104.66 88240.84 117345.50 24.80 75.20
13 150835.70 45959.71 104875.99 150835.70 30.47 69.53
12 172741.20 60436.04 112305.16 172741.20 34.99 65.01
11 197405.26 99277.78 98127.50 197405.27 50.29 49.71
10 226429.74 89721.81 136707.94 226429.75 39.62 60.38
9 251794.84 122596.53 129198.33 251794.85 48.69 51.31
8 273086.21 139007.66 134078.56 273086.21 50.90 49.10
7 290544.60 157430.85 133113.75 290544.61 54.18 45.82
6 304427.96 176125.43 128302.54 304427.97 57.85 42.15
5 315152.86 162079.32 153073.55 315152.87 51.43 48.57
4 322959.75 206223.09 116736.66 322959.76 63.85 36.15
3 328050.35 221502.74 106547.61 328050.36 67.52 32.48
2 330836.65 239179.23 91657.43 330836.66 72.30 27.70
1 331831.08 293136.02 38695.06 331831.09 88.34 11.66

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 108


Gaya Geser Negatif
Shear Wall

Tinggi Bangunan

Gaya Geser
Frame

Gaya Geser
Shear Wall

V Base Desain Total

Gambar 2.45. Proporsi Gaya Geser Interaksi Ganda Akibat Gempa X (EX)

Pada gambar tampak proporsi gaya geser yang masing-masing ditahan


oleh shear wall dan kolom akibat gempa EX. Jika dilihat pada lantai-lantai bawah
shear wall masih sangat dominan menahan gaya gempa desain, hal ini sesuai
dengan perilaku bending mode shear wall jika dibebani gaya lateral, sedangkan
pada lantai-lantai teratas gaya geser dominan ditahan oleh frame. Gambar tersebut
menunjukan bahwa akibat dari interaksi shear wall dan frame akan memberikan
distribusi tahanan gempa sedemikian rupa dimana gaya geser pada lantai-lantai
bawah banyak dipikul oleh shear wall/dinding geser dan frame/kolom memikul
gaya geser di bagian atas.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 109


Gambar 2.46. Diagram Momen Frame Akibat Beban Mati (DL)

Gambar 2.47. Diagram Momen Frame Akibat Beban Hidup (LL)

Gambar 2.48. Diagram Momen Frame Akibat Beban Gempa X (EX)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 110


Gambar 2.49. Diagram Momen Frame Akibat Beban Gempa Y (EY)

Gambar 2.50. Diagram Momen Shear Wall Akibat Beban Gempa X (EX)

Gambar 2.51. Diagram Momen Shear Wall Akibat Beban Gempa Y (EY)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 111


Berdasarkan tabel nilai gaya geser dari interaksi sistem ganda, pada lantai
terbawah persentase beban gempa yang dipikul oleh frame akibat gempa X
sebesar 10,22 % dan akibat gempa Y sebesar 11,66 %, karena frame telah
menahan > 10 % gaya geser desain oleh karena itu perlu dilakukan analisis
terpisah terhadap rangka pemikul momen yang harus disediakan mampu menahan
25 % dari nilai beban gempa desain.
Save file analisis pemodelan pertama (pemodelan interaksi ganda lengkap
dengan shear wall dan kolom) dan untuk melakukan analisis pemodelan ke-2 ini,
maka shear wall yang telah terpasang harus dihapus dan digantikan dengan
boundary element shear wall yaitu kolom yang akan diletakkan di ujung-ujung
titik shear wall. Boundary Element seringkali diperlukan pada sebuah struktur
dinding geser/shear wall, karena :
a. Sebagai tempat penjangkaran tulangan balok yang tegak lurus terhadap
dinding;
b. Tempat tulangan utama terhadap lentur;
c. Stability terhadap buckling dalam arah out of plane forces/bending momen,
pada thin wall sections;
d. Memungkinkan pengekangan yang efektif dari daerah yang dominan
mengalami tekan.

Cara untuk menghapus elemen shear wall adalah : pilih menu Select –
Select – Object Type – pilih Walls – Select – Close – kemudian pilih menu Edit –
Delete.
Asumsikan dimensi Boundary Element untuk masing-masing shear wall
arah X dengan panjang total 8 m dan shear wall arah Y dengan panjang total 5 m.
Asumsi dimensi boundary element untuk shear wall arah X adalah 35 cm x 150
cm dan boundary element untuk shear wall arah Y adalah 35 cm x 130 cm.
Boundary Element dipasang dari dasar hingga puncak dinding geser.
Penggambaran boundary elements sama halnya dengan elemen kolom seperti
contoh-contoh sebelumnya yang telah dijelaskan. Hubungkan kedua boundary
element pada masing-masing ujung titik shear wall menggunakan balok
induk/utama sesuai dengan arahnya masing-masing.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 112


Gambar 2.52. Dimensi Boundary Element 1 (BE1)

Gambar 2.53. Dimensi Boundary Element 2 (BE2)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 113


Gambar 2.54. Penggambaran Boundary Elements

Setelah mengganti shear wall dengan boundary elementsnya di setiap


lantai, maka sama halnya dengan struktur kolom pada lantai base diberi
perletakan jepit untuk ke-6 boundary elements tersebut. Efektifitas penampang
retak/cracked juga dapat ditambahkan sama seperti struktur kolom lainnya dan
nilai rigid zone factor untuk boundary elements diambil sama dengan kolom.

Gambar 2.55. 3D View Analisis 25% Beban Gempa

Selanjutnya lakukan perhitungan untuk beban gempa frame dimana setiap


25% gempa desain pada lantai tersebut harus dikenakan pada rangka pemikul
momen. Perhitungan gaya gempa untuk frame ini dapat dilihat pada rincian tabel
berikut ini.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 114


Tabel 2.34. 25% Beban Gempa Desain
V DESAIN 25% V DESAIN F' FRAME
Story VX VY 25% VX 25% VY F'X F'Y
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
15 55865.74 63761.72 13966.43 15940.43 13966.43 15940.43
14 107611.82 117345.50 26902.95 29336.38 12936.52 13395.94
13 143372.95 150835.70 35843.24 37708.92 8940.28 8372.55
12 167352.34 172741.20 41838.08 43185.30 5994.85 5476.37
11 197405.26 197405.26 49351.32 49351.32 7513.23 6166.02
10 226429.74 226429.74 56607.44 56607.44 7256.12 7256.12
9 251794.84 251794.84 62948.71 62948.71 6341.28 6341.28
8 273086.21 273086.21 68271.55 68271.55 5322.84 5322.84
7 290544.60 290544.60 72636.15 72636.15 4364.60 4364.60
6 304427.96 304427.96 76106.99 76106.99 3470.84 3470.84
5 315152.86 315152.86 78788.21 78788.21 2681.23 2681.23
4 322959.75 322959.75 80739.94 80739.94 1951.72 1951.72
3 328050.35 328050.35 82012.59 82012.59 1272.65 1272.65
2 330836.65 330836.65 82709.16 82709.16 696.57 696.57
1 331831.08 331831.08 82957.77 82957.77 248.61 248.61

Nilai F’x dan F’y didapat dari selisih gaya geser antar lantai, dimana gaya
geser tiap lantai disediakan sebesar 25% dari gaya geser desain. Input gaya gempa
tersebut ke dalam Load Patterns untuk EX dan EY dengan cara yang sama seperti
sebelumnya. Lakukan Run Analysis untuk pemodelan terpisah ini dan bandingkan
nilai bending momen pada lantai-lantai yang framenya menahan kurang dari 25%
gempa desain akibat interaksi dari sistem ganda pada anaisis sebelumnya.

Tabel 2.35. 25% Gaya Geser untuk Frame


Load FX FY FZ MX MY MZ
Case/Combo kgf Kgf Kgf kN-m kN-m kN-m
DL 0 0.0001 9894124 793962.5568 -1940564 0.00002269
LL 0 0.00003122 2140516 169645.3301 -419826 0.000006158
EX -82957.7697 0.000001529 0 -6.715E-07 -35762.1273 7327.7424
EY -6.463E-07 -82957.7726 0 36061.0477 0 -17892.9928

V’X = 82957,7697 Kgf


V’Y = 82957,7726 Kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 115


Gambar 2.56. Perbandingan Momen Frame Akibat 25% Gempa Desain X dan
Interaksi Sistem Ganda 100% Gempa Desain X

Perhatikan gambar diatas, diagram momen diambil dari kolom pada As


2/C-D pada lantai base. Dapat dilihat bahwa akibat 25% gempa desain, frame
memikul momen sebesar 142,6347 Kn-m sedangkan akibat interaksi sistem ganda
dimana gaya gempa yang diterapkan sebesar 100%, frame hanya memikul momen
sebesar 108,1671 Kn-m. Kenaikan nilai momen frame jika dibandingkan dengan
pemodelan sebelumnya dengan shear wall adalah sebesar 31,86%. Hal ini
membuktikan bahwa analisis terpisah untuk frame yang menahan 25% gempa
desain memang perlu dilakukan guna memenuhi syarat dari sistem ganda agar
frame memiliki tahanan yang lebih baik selain dari tahanan akibat interaksi shear
wall dengan frame (interaksi ganda) itu sendiri.
Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas perhitungan penulangan untuk
elemen struktur dengan memperhatikan 2 pemodelan ini, yaitu pemodelan 1
terhadap interaksi ganda yang dikenai 100% gempa desain dan pemodelan 2
terhadap analisis terpisah untuk frame yang memikul 25% gempa desain. Hasil
penulangan akhir dilihat dari perhitungan yang memberikan nilai maksimum dari
kedua pemodelan tersebut.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 116


(#3) PENULANGAN STRUKTUR SISTEM GANDA (DUAL SYSTEM)
Oleh : M. Hamzah Fadli, ST., MT.

Pada analisis pembebanan gempa sistem ganda, telah didapat gaya gempa
desain untuk perencanaan struktur. Setelah dilakukan analisis untuk persyaratan
sistem ganda (dual system) maka diperlukan 2 pemodelan, yaitu untuk Interaksi
Sistem Ganda lengkap dengan elemen struktur penahan gempa yang dibebani
100% gaya geser gempa desain, selanjutnya disebut sebagai Model 1 dan analisis
terpisah untuk frame yang menahan 25% gaya geser gempa desain, selanjutnya
disebut sebagai Model 2. Gaya-gaya dalam untuk penulangan struktur frame
diambil berdasarkan kondisi yang memberikan nilai paling maksimum.

1. KOMBINASI PEMBEBANAN
Kombinasi Permbebanan untuk setiap elemen struktur diatur dalam SNI
1726 – 2012 Pasal 7.4. Berikut ini adalah kombinasi pembebanan yang akan
digunakan untuk analisis struktur :
SDS (g) = 0,719 (Semarang, Tanah Sedang)
ρ = 1,3 (faktor redundansi, lihat pasal 7.3.4.2)

U1 = 1,4 DL
U2 = 1,2 DL + 1,6 LL
U3 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U4 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U5 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U6 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U7 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U8 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U9 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 ρ Ex – ρ Ey
U10 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 ρ Ex – ρ Ey
U11 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U12 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U13 = (0,9 – 0,2 SDS) DL – ρ Ex + 0,3 ρ Ey

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 117


U14 = (0,9 – 0,2 SDS) DL – ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U15 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U16 = (0,9 – 0,2 SDS) DL – 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U17 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + 0,3 ρ Ex – ρ Ey
U18 = (0,9 – 0,2 SDS) DL – 0,3 ρ Ex – ρ Ey

Dengan menggunakan nilai SDS dan ρ, maka hasil perhitungan kombinasi


pembebanan yang akan digunakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.1. Kombinasi Pembebanan


Comb. 1 = 1.4 DL
Comb. 2 = 1.2 DL + 1.6 LL
Comb. 3 = 1.3438 DL + 1 LL + 1.3 Ex + 0.39 Ey
Comb. 4 = 1.3438 DL + 1 LL + 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 5 = 1.3438 DL + 1 LL - 1.3 Ex + 0.39 Ey
Comb. 6 = 1.3438 DL + 1 LL - 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 7 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 8 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 9 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.39 Ex - 1.3 Ey
Comb. 10 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.39 Ex - 1.3 Ey
Comb. 11 = 0.7562 DL + 1.3 Ex + 0.39 Ey
Comb. 12 = 0.7562 DL + 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 13 = 0.7562 DL - 1.3 Ex + 0.39 Ey
Comb. 14 = 0.7562 DL - 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 15 = 0.7562 DL + 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 16 = 0.7562 DL - 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 17 = 0.7562 DL + 0.39 Ex - 1.3 Ey
Comb. 18 = 0.7562 DL - 0.39 Ex - 1.3 Ey

Kombinasi pembebanan tersebut akan digunakan untuk mencari nilai


gaya-gaya dalam struktur, oleh karena itu input kombinasi pembebanan ini
pada kedua pemodelan struktur yang masing-masing akan dianalisis.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 118


Cara membuat kombinasi pembebanan dalam ETABS adalah : pilih menu
Define – Load Combinations – klik Add New Combo – pada kotak Define
Combination of Load Case/Combo Results masukkan nilai scale factor pada
masing-masing load case sesuai koefisien beban yang telah dihitung, untuk
menambahkan load case lainnya pilih Add di sebelah kanan – OK. Buat 18
kombinasi pembebanan sesuai perhitungan di atas, untuk menambahkan
kombinasi lainnya klik Add New Combo pada kotak dialog Load Combinations.

Gambar 3.1. Input Combo 4

Gambar 3.2. Load Combination

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 119


Selain dari kombinasi-kombinasi pembebanan tersebut, dibuat juga
kombinasi envelope. Kombinasi envelope bertujuan untuk mendapatkan nilai
maksimum dan minimum dari semua kombinasi yang ada.

Gambar 3.3. Kombinasi Envelope

Pada bagian Combination Type pilih “Envelope” dan isikan load name
sesuai kombinasi – kombinasi yang telah dibuat sebelumnya dengan faktor skala
(scale factor) = 1, dengan kombinasi ini maka ETABS akan mencari otomatis
nilai/output maksimum dan minimum dari 18 kombinasi yang telah dibuat secara
cepat.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 120


2. CONCRETE FRAME DESIGN – CODE
Berdasarkan SNI Beton 2847 – 2013 Pasal 9.3, Kekuatan desain yang
disediakan oleh suatu komponen struktur, sambungannya dengan komponen
strukturr lain, dan penampangnya, sehubungan dengan lentur, beban normal,
geser, dan torsi, harus diambil sebesar kekuatan nominal dihitung sesuai dengan
persyaratan dan asumsi dari standar yang dikalikan dengan faktor reduksi
kekuatan ϕ.
Cara input nilai faktor reduksi kekuatan ini pada ETABS adalah : pilih
menu Design – Concrete Frame Design – View/Revise Preferences.

Gambar 3.4. Concrete Frame Design ACI 318 – 11

- Design Code : ACI 318-11 (SNI Beton 2847-2013)


- Multi-Response Case Design : Step-by-step – All
- Number of Interaction Curves : 24
- Number of Interaction Points : 11

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 121


- Consider Minimum Eccentricity : Yes
- Seismic Design Category : Kategori Desain Seismik D
- Design System Omega0 : 2,5 (over strength factor sistem ganda)
- Design System Rho : 1,3 (faktor redundansi)
- Design System Sds : 0,719 (parameter spektral desain)
- Phi (Tension Controlled) : 0,9
- Phi (Compression Controlled Tied) : 0,65
- Phi (Compression Controlled Spiral) : 0,75
- Phi (Shear and/or Torsion) : 0,75
- Phi (Shear Seismic) : 0,6
- Phi (Joint Shear) : 0,85
- Pattern Live Load Factor : 0,75
- Utilization Factor Limit :1

3. DESIGN/CHECK STRUCTURE
Pilih menu Design – Concrete Frame Design – Select Design
Combinations – pindahkan kombinasi pada list combinations yang ingin dicek ke

kotak design combinations sebelah kanan – klik icon pada jendela atas –
tunggu proses design/check structure.

Gambar 3.5. Cek Struktur Akibat Kombinasi Beban Gravity (1,2 DL + 1,6 LL)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 122


4. PENULANGAN LENTUR BALOK
Contoh perhitungan tulangan lentur balok induk B 35 x 70 akan diambil
sample balok pada As 2/B – C seperti gambar di bawah ini.

Gambar 3.6. B 35 x 70 As 2/B – C (Model 1)

Gambar 3.7. B 35 x 70 As 2/B – C (Model 2)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 123


Untuk menampilkan diagram momen (units untuk momen forces diambil
kgf–m) adalah dengan cara : pilih menu Display – Force/Stress Diagrams –
Frame/Pier/Spandrels/Link Forces – isi kotak dialog seperti gambar di bawah ini
– OK.

Gambar 3.8. Kotak Dialog Diagram Momen Balok

- Load Combination : Comb Envelope (Max and Min)


- Component : Moment 3-3
- Scaling : Automatic untuk skala otomatis
- Display Options : Fill Diagram
- Include : Frames (tipe frame untuk balok)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 124


Arahkan kursor mouse ke frame balok As 2/B – C, kemudian klik kanan
hingga tampil kotak dialog Diagram for Beam.

Gambar 3.9. Diagram Gaya Dalam Frame Balok Comb Envelope

Gambar 3.10. Diagram Momen Balok As 2/B – C pada Story 1 – Model 1

Gambar 3.11. Diagram Momen Balok As 2/B – C pada Story 1 – Model 2

Hasil data momen envelope balok As 2/B – C di semua lantai pada kedua
pemodelan ini dapat dilihat pada tabel di berikut ini.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 125


Tabel 3.2. Momen Ultimit Envelope Tumpuan – Lapangan B 35 x 70 As 2/B – C
Model 1 Model 2

Story Momen Max (+) Momen Min (-) Momen Max (+) Momen Min (-)
Lapangan Tumpuan Lapangan Tumpuan
(kgf - m) (kgf - m) (kgf - m) (kgf - m)
1 26007.9749 33730.1437 26037.7596 34304.2189
2 25897.9705 37633.2030 25939.5248 36695.2528
3 25824.5371 40714.7600 25880.4562 37671.4550
4 25845.1823 43078.9375 25818.5108 37947.9227
5 25849.9804 44650.4291 25767.9997 37852.1973
6 25814.0579 45609.6603 25714.6811 37469.3274
7 25737.5548 46285.0042 25653.2068 37016.5187
8 25664.0715 46492.9728 25604.7498 36415.3459
9 25570.7067 46451.6137 25557.1702 35735.4495
10 25516.5556 45886.5365 25533.1125 34940.4865
11 25511.0242 44738.4753 25538.6628 33847.4442
12 25383.7199 44271.7981 25483.7298 32957.4522
13 25363.8668 43518.5489 25461.1052 32003.0931
14 25325.0243 43288.8502 25434.9967 30904.1014
15 17953.5801 32935.0856 17585.7874 21959.5742

Melihat dari nilai momen balok di setiap lantainya, maka pada perhitungan
penulangan balok ini akan dibuat menjadi 2 tipe yaitu penulangan balok untuk
story 1 – story 14 dan penulangan balok atap/story 15. Tipe penulangan balok
merupakan keputusan engineer dalam desain, oleh karena itu untuk desain aktual
penulangan balok dapat dibagi kedalam beberapa zona lantai dengan distribusi
jumlah tulangan yang halus.
Data momen ultimit didapat dari output gaya dalam ETABS sesuai tabel di
atas. Momen ultimit yang digunakan adalah momen yang menghasilkan nilai
paling besar diantara kedua pemodelan.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 126


Gambar 3.12. Analisis Penulangan Balok

Analisis Balok Persegi Tulangan Tarik Tunggal :


Momen nominal (Mn) :
Mu
Mn  ,

Koefisien tahanan (Rn) :
Mn
Rn 
bd2
Rasio tulangan (ρ) :

0,85. f ' c  2.Rn 


 1  1  
fy  0,85. f ' c 
 
Luas tulangan yang dibutuhkan :
As  .b.d

Momen tahanan nominal (Mn)


 a
M n   . As . f y  d  
 2
As . f y
a
0,85. f ' c .b
Rasio tulangan minimum pada komponen struktur lentur :
1,4
 min 
fy

Rasio tulangan maksimum pada komponen struktur lentur :


 maks  0,75 balance
 0,85. f ' c .1 600 
 maks  0,75  

 fy 600  f y 

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 127


Analisis Balok Persegi Tulangan Rangkap :
Gaya Compressive yang dihasilkan oleh beton tekan adalah :
Cc  0,85 f 'c bamak
Maksimum tinggi stress blok yang diperkenankan :
amak  0,751c
Tinggi garis netral dalam keadaan seimbang batas :
0,003E s
c d , E s  200000 Mpa
0,003E s  f y
600
c d
600  f y

Momen yang ditahan oleh potongan beton tekan dan tulangan tarik adalah :
 a 
M uc  Cc  d  mak 
 2 
Momen yang ditahan oleh tulangan tekan adalah :
M us  M u  M uc

Sehingga tulangan tekan yang diperlukan adalah :


M us
As ' 
f s ' d  d '

 c  d' 
f s '  0,003E s  
 c 
Tulangan tarik yang diperlukan untuk mengimbangi tekanan pada beton adalah :
M uc
As1 
 a 
f y  d  mak 
 2 
dan tulangan tarik untuk mengimbangi tulangan tekan diberikan oleh rumus di
bawah ini :
M us
As 2 
f y d  d '

Sehingga Total Tulangan Tarik, As  As1  As 2


Faktor Reduksi Kekuatan ϕ = 0,90

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 128


Parameter yang digunakan dalam perencanaan tulangan balok adalah
sebagai berikut :
Mutu beton f’c = 24,9 MPa (K-300), β1 = 0,85
Baja tulangan fy = 420 Mpa
Faktor reduksi lentur ϕ = 0,9
Faktor reduksi momen ϕ =1
Faktor reduksi geser ϕ = 0,75
Bentang Balok (L) = 8000 mm
Lebar Balok (b) = 350 mm
Tinggi Balok (h) = 700 mm
Selimut Beton/Cover (p) = 40 mm

a. Penulangan Lentur Balok Story 1 – 14


Mu max = 26037,7596 Kgf – m (Story 1 – Model 2)
Mu min = - 46492,9728 Kgf – m (Story 8 – Model 1)
Momen positif maksimum digunakan untuk penulangan daerah lapangan
sedangkan momen negatif maksimum digunakan untuk penulangan daerah
tumpuan.

- Penulangan Tumpuan Atas


Mu = 46492,9728 Kgf – m
d = 700 mm – 60 mm = 640 mm (60 mm adalah asumsi clear cover to
rebar center)
46492,9728  10 4
Rn 
0,9  350  640 2
Rn  3,6034

0,85  24,9  2  3,6034 


 1  1  
420  0,85  24,9 
 
  0,0095
1,4
 min   0,0033
420

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 129


 0,85  24,9  0,85 600 
 maks  0,75    0,0189
 420 600  420 
Karena nilai ρmin < ρ < ρmaks, maka yang digunakan adalah ρ = 0,0095.
As perlu   .b.d
As perlu  0,0095  350  640
As perlu  2128 mm 2

Gunakan tulangan D22 dengan As = 3,14 x 222/4 = 379,94 mm2


2128
n  5,6 maka digunakan 6 D22 (As aktual = 2279,64 mm2)
379,94
Cek Momen Tahanan Nominal :
2279,64  420
a
0,85  24,9  350
a  129,25 mm

 129,25 
M n  0,9  2279,64  420   640    10
4

 2 
M n  49580,3 kgf  m
Mu < ϕMn
46492,9728 < 49580,3 …… OK

- Penulangan Tumpuan Bawah


As perlu = 0,5 x As perlu tump. atas
As perlu = 0,5 x 2128 mm2
As perlu = 1064 mm2 , maka digunakan 4 D22 (As aktual = 1519,76 mm2)

- Penulangan Lapangan Bawah


Mu = 26037,7596 Kgf – m
d = 700 mm – 60 mm = 640 mm (60 mm adalah asumsi clear cover to
rebar center)
26037,7596  10 4
Rn 
0,9  350  640 2
Rn  2,0180

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 130


0,85  24,9  2  2,0180 
 1  1  
420  0,85  24,9 
 
  0,0051
1,4
 min   0,0033
420
 0,85  24,9  0,85 600 
 maks  0,75    0,0189
 420 600  420 
Karena nilai ρmin < ρ < ρmaks, maka yang digunakan adalah ρ = 0,0051.
As perlu   .b.d
As perlu  0,0051  350  640
As perlu  1142,4 mm 2

Gunakan tulangan D22 dengan As = 3,14 x 222/4 = 379,94 mm2


1142,4
n  3,0071 maka digunakan 4 D22 (As aktual = 1519,76 mm2)
379,94
Cek Momen Tahanan Nominal :
1519,76  420
a
0,85  24,9  350
a  86,166 mm

 86,166 
M n  0,9  1519,76  420   640    10
4

 2 
M n  34291,05 kgf  m
Mu < ϕMn
26037,7596 < 34291,05 …… OK

- Penulangan Lapangan Atas


As perlu = 0,5 x As perlu tump. atas
As perlu = 0,5 x 1519,76 mm2
As perlu = 759,88 mm2 , maka digunakan 3 D22 (As aktual = 1139,82 mm2)

6 D22 3 D22 6 D22

4 D22 4 D22 4 D22

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 131


Kebutuhan luasan tulangan balok maksimum juga dapat dicocokan dengan
hitungan program ETABS menggunakan kombinasi envelope dengan cara : pilih
menu Design – Concrete Frame Design – Select Design Combinations –
pindahkan Comb Envelope pada kotak List of Combinastions ke kotak sebelah
kanan atau kotak Design Combinations – OK – pilih menu Design kembali –
Concrete Frame Design – Start Design/Check.

Gambar 3.13. Kebutuhan Luas Tulangan dari ETABS (Model 1 dan Model 2)

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa :


Daerah tumpuan atas :
As hitung > As ETABS
2128 mm2 > 2075 mm2 ………. OK (desain menggunakan hasil hitungan)
Daerah lapangan bawah :
As hitung > As ETABS
1142,4 mm2 > 1110 mm2……… OK (desain menggunakan hasil hitungan)

b. Penulangan Lentur Balok Story 15/Atap


Mu max = 17953,5801 Kgf – m (Model 1)
Mu min = - 32935,0856 Kgf – m (Model 1)
Momen positif maksimum digunakan untuk penulangan daerah lapangan
sedangkan momen negatif maksimum digunakan untuk penulangan daerah
tumpuan.
- Penulangan Tumpuan Atas
Mu = 32935,0856 Kgf – m
d = 700 mm – 60 mm = 640 mm (60 mm adalah asumsi clear cover to
rebar center)
32935,0856  10 4
Rn 
0,9  350  640 2
Rn  2,5526

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 132


0,85  24,9  2  2,5526 
 1  1  
420  0,85  24,9 
 
  0,0065
1,4
 min   0,0033
420
 0,85  24,9  0,85 600 
 maks  0,75    0,0189
 420 600  420 
Karena nilai ρmin < ρ < ρmaks, maka yang digunakan adalah ρ = 0,0065.
As perlu   .b.d
As perlu  0,0065  350  640
As perlu  1456 mm 2

Gunakan tulangan D19 dengan As = 3,14 x 192/4 = 283,385 mm2


1456
n  5,14 maka digunakan 6 D19 (As aktual = 1700,31 mm2)
283,385
Cek Momen Tahanan Nominal :
1700,31  420
a
0,85  24,9  350
a  96,403 mm

 96,403 
M n  0,9  1700,31  420   640    10
4

 2 
M n  38035,91 kgf  m
Mu < ϕMn
32935,0856 < 38035,91 …… OK

- Penulangan Tumpuan Bawah


As perlu = 0,5 x As perlu tump. atas
As perlu = 0,5 x 1456 mm2
As perlu = 728 mm2 , maka digunakan 4 D19 (As aktual = 1133,54 mm2)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 133


- Penulangan Lapangan Bawah
Mu = 17953,5801 Kgf – m
d = 700 mm – 60 mm = 640 mm (60 mm adalah asumsi clear cover to
rebar center)
17953,5801  10 4
Rn 
0,9  350  640 2
Rn  1,391

0,85  24,9  2  1,391 


 1  1  
420  0,85  24,9 
 
  0,0034
1,4
 min   0,0033
420
 0,85  24,9  0,85 600 
 maks  0,75    0,0189
 420 600  420 
Karena nilai ρmin < ρ < ρmaks, maka yang digunakan adalah ρ = 0,0034.
As perlu   .b.d
As perlu  0,0034  350  640
As perlu  761,6 mm 2

Gunakan tulangan D19 dengan As = 3,14 x 192/4 = 283,385 mm2


761,6
n  2,7 maka digunakan 4 D19 (As aktual = 1133,54 mm2)
283,385
Cek Momen Tahanan Nominal :
1133,54  420
a
0,85  24,9  350
a  64,27 mm

 64,27 
M n  0,9  1133,54  420   640    10
4

 2 
M n  26045,685 kgf  m
Mu < ϕMn
17953,5801 < 26045,685…… OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 134


- Penulangan Lapangan Atas
As perlu = 0,5 x As perlu tump. atas
As perlu = 0,5 x 761,6 mm2
As perlu = 380,8 mm2 , maka digunakan 3 D19 (As aktual = 850,155 mm2)

6 D19 3 D19 6 D19

4 D19 4 D19 4 D19

Cek kebutuhan luas tulangan balok yang ditinjau pada Story 15/Atap
dengan program ETABS adalah sebagai berikut :

Gambar 3.14. Kebutuhan Luas Tulangan dari ETABS

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa :


Daerah tumpuan atas :
As hitung > As ETABS
1456 mm2 > 1425 mm2 ………. OK (desain menggunakan hasil hitungan)
Daerah lapangan bawah :
As hitung > As ETABS
761,6 mm2 > 753 mm2………… OK (desain menggunakan hasil hitungan)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 135


5. PENULANGAN GESER BALOK
Tulangan geser/sengkang daerah tumpuan pada balok induk harus tetap
berperilaku elastis pada saat terjadi sendi plastis maka harus diperhitungkan gaya
lintang tambahan berdasarkan tulangan nominal balok terpasang (Desain
Kapasitas/Capacity Design), sehingga penulangan geser/sengkang didaerah
tumpuan balok induk dihitung berdasarkan gaya lintang :

1   M prkiri  M prkanan 
Ve    q  L    
2   ln 
Atau maksimum diperhitungkan berdasarkan gaya lintang yang timbul
akibat pembebanan : U = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL ± ρ E (dipilih mana yang
lebih kecil). Pada pembebanan tetap harus diperhitungkan juga gaya lintang akibat
pembebanan : U = 1,2 DL + 1,6 LL untuk dipilih yang lebih besar. Step-step
perancangan tulangan geser adalah sebagai berikut :

1) Menentukan gaya geser desain


Veb  max( Veb1 ,Veb 2 )  Vu
 
M pr , I  M pr , J 1
Veb 1   wu Ln
Ln 2
 
M pr , I  M pr , J 1
Veb 2   wu Ln
Ln 2

2) Kuat geser beton Vc


Di daerah sendi plastis : Vc = 0 bilamana :
 
M pr , I  M pr, J
Veb 1   0,5Vu atau
Ln
 
M pr , I  M pr , J
Veb 2   0,5Vu dan
Ln
Pu  Ag f ' c / 20

Di luar daerah sendi plastis atau bilamana kondisi di atas tidak terpenuhi :
 f 'c 
Vc   b d
 6  w
 

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 136


3) Menentukan tulangan geser yang diperlukan
Di daerah sendi plastis (luas/unit panjang) :
Veb
Av 
f ys d
Di luar daerah sendi plastis (luas/unit panjang) :
Veb /   Vc
Av 
f ys d

Faktor reduksi kekuatan :


ϕ = 0,75

4) Persyaratan tulangan geser


Di daerah sendi plastis harus digunakan tulangan sengkang tertutup, yaitu :
- Di daerah 2h dari muka kolom;
- Di daerah 2h pada sendi plastis di tengah bentang
Jarak sengkang di daerah sendi plastis, s, tidak boleh lebih besar dari
persyaratan di bawah ini :
- 16 x diameter tulangan longitudinal
- 48 x hoop bar diameter
- d/4
- 6 x smallest longitudinal bar diameter
- 150 mm

5) Momen Primer (Mpr)


Desain Kapasitas (Capacity Design) – untuk menjamin bahwa struktur
tidak runtuh pada gempa kuat. Momen kapasitas dari sendi plastis atau yang
disebut dengan ‘the probable flexural strength’, Mpr, adalah momen nominal
berdasarkan tulangan yang terpasang. Dalam menghitung momen Mpr didasarkan
pada tegangan tarik fs = 1,25 fy, dimana nilai fy adalah kuat leleh yang disyaratkan
dengan faktor reduksi ϕ = 1. Kedua momen harus diperhitungkan untuk 2 arah,
yaitu searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam.
 a pr  1,25 As f y
M pr  1,25 As f y  d  , dimana a pr 
 2  0,85 f ' c d

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 137


Gaya lintang ultimit akibat pembebanan gempa yang telah dijelaskan di
atas harus dipilih yang lebih kecil, oleh karena itu pada model 1 dan model 2 buat
kombinasi envelope gempa yang terdiri dari Comb. 3 – Comb. 10 dan buat
kombinasi Wu = 1,2 DL + 1,0 LL.

Gambar 3.15. Kombinasi Envelope Gempa untuk Geser Balok

Gambar 3.16. Kombinasi Wu

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 138


Gambar 3.17. Gaya Geser Negatif Max (Vmin) Tumpuan Kiri

Gambar 3.18. Gaya Geser Positif Min (V min) Tumpuan Kanan

Gambar 3.19. Gaya Geser Kombinasi Wu = 1,2 DL + 1,0 LL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 139


Tabel 3.2. Gaya Geser Ultimit Desain Tumpuan B 35 x 70 As 2/B – C
MODEL 1 MODEL 2
Envelope Minimum Wu = 1,2 DL + 1,0 LL Envelope Minimum Wu = 1,2 DL + 1,0 LL
Story
VTump. Kiri VTump. Kanan VTump. Kiri VTump. Kanan VTump. Kiri VTump. Kanan VTump. Kiri VTump. Kanan
(Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf) (Kgf)
1 19194.1023 19382.1367 18829.2619 18829.2619 19127.1915 19144.0099 18867.3012 18867.3012
2 18022.2211 18351.3447 18771.5704 18771.5704 18410.2289 18423.5455 18818.8466 18818.8466
3 17099.6361 17538.4841 18729.2201 18729.2201 18112.1198 18116.5793 18796.4764 18796.4764
4 16375.9642 16897.9202 18686.9425 18686.9425 17996.0919 17993.6435 18770.4387 18770.4387
5 15874.9219 16464.9397 18649.7893 18649.7893 17987.8416 17980.0237 18748.8523 18748.8523
6 15525.9583 16165.6307 18605.6555 18605.6555 18042.1600 18028.5674 18719.9987 18719.9987
7 15270.9351 15930.8937 18565.8367 18565.8367 18122.5290 18095.4187 18693.3877 18693.3877
8 15149.9435 15820.5464 18530.9276 18530.9276 18247.6424 18211.2431 18670.4179 18670.4179
9 15109.5520 15773.4410 18500.6788 18500.6788 18400.0721 18352.5150 18650.3119 18650.3119
10 15209.0250 15877.2683 18474.2304 18474.2304 18584.6467 18538.1913 18633.3063 18633.3063
11 15442.8061 16140.4981 18445.1700 18445.1700 18839.8230 18799.4830 18614.7026 18614.7026
12 15519.9716 16187.7816 18413.0166 18413.0166 19037.3266 18986.3572 18588.4599 18588.4599
13 15700.8146 16336.7956 18399.8212 18399.8212 19284.3671 19219.3797 18580.4278 18580.4278
14 15700.4210 16340.7294 18374.9122 18374.9122 19516.6067 19471.4017 18547.8120 18547.8120
15 10539.7227 11094.5693 12964.8005 12964.8005 14004.4344 13893.4070 13151.8892 13151.8892

a) Penulangan Geser/Sengkang Balok pada Story 1 – 14

6 D22 3 D22 6 D22

4 D22 4 D22 4 D22

As terpasang pada tumpuan atas 6 D22, (As aktual = 2279,64 mm2)

1,25  2279,64  420


a pr 
0,85  24,9  640
a pr  88,354

 a pr 
M n atas  1,25 As f y  d  
 2 
 88,354  4
M n atas  1,25  2279,64  420   640    10
 2 
M n atas  71308,752 kgf  m

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 140


As terpasang pada tumpuan bawah 4 D22, (As aktual = 1519,76 mm2)

1,25  1519,76  420


a pr 
0,85  24,9  640
a pr  58,903

 a pr 
M n bawah  1,25 As f y  d  
 2 
 58,903  4
M n bawah  1,25  1519,76  420   640    10
 2 
M n bawah  48714,077 kgf  m

Kondisi Akibat Gempa ke Arah Kanan (E )

Wu = 1,2 DL + 1,0 LL

(Kondisi Gravity)

18867,30 kgf 18867,30 kgf

48714,07 kgf-m 71308,752 kgf-m

(Kondisi Gempa Kanan)

15002,85 kgf 15002,85 kgf

(Gravity + Gempa)

3864,45 kgf 33870,15 kgf

 (48714,07  71308,752)
Veb 1   18867,30
8
Veb 1  3864,45 kgf
(48714,07  71308,752)
Veb 2   18867,30
8
Veb 2  33870,15 kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 141


Kondisi Akibat Gempa ke Arah Kiri (E )

Wu = 1,2 DL + 1,0 LL
(Kondisi Gravity)

18867,30 kgf 18867,30 kgf

71308,752 kf-m 48714,07 kgf-m


(Kondisi Gempa Kiri)

15002,85 kgf 15002,85 kgf

(Gempa + Gravity)

33870,15 kgf 3864, 45 kgf

(71308,752  48714,07)
Veb 1   18867,30
8
Veb 1  33870,15 kgf
 (71308,752  48714,07)
Veb 2   18867,30
8
Veb 2  3864,45 kgf

Berdasarkan tabel 3.2 Gaya Geser ultimit balok terbesar akibat kombinasi
gempa/envelope minimum gempa dihasilkan oleh balok pada Story 14 Model 2
dengan VTump Kiri = 19516,61 Kgf dan VTump Kanan = 19471,40 Kgf.
Maka gaya geser desain adalah :
Veb > Vu
33870,15 > 19471,40

Veb = 33870,15 kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 142


Ambil nilai maksimum sebagai gaya geser desain, Veb = 33870,15 kgf
Vu = 19471,40 kgf
0,5Vu = 9735,70 kgf
Veb > 0,5 Vu, sehingga nilai Vc pada daerah sendi plastis (2d) = 0.

Tulangan geser pada daerah sendi plastis atau tumpuan :


33870,15  10
Av   1000
0,75  420  640
Av  1680,07 mm 2 / m
Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup
dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2
A
n v
As
1680,07
n
157
n  10,7  11

Jarak sengkang, s dalam 1 meter (1000 mm) :


1000
s
(n  1)
1000
s
10
s  100 mm

Jadi pada daerah sendi plastis/tumpuan digunakan sengkang D10 – 100.

Tulangan geser pada daerah luar sendi plastis :


 24,9 
Vc     350  640  10 1
 6 
 
Vc  18629,3 kgf

(33870,15 / 0,75  18629,3)  10


Av   1000
420  640
Av  987 mm 2 / m

Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup


dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 143


Av
n
As
987
n
157
n  6,3  7
Jarak sengkang, s dalam 1 meter (1000 mm) :
1000
s
(n  1)
1000
s
6
s  166,67 mm
Jadi pada daerah luar sendi plastis digunakan sengkang D10 – 150.

D10-100 D10-150 D10-100

0 Tumpuan
Tumpuan Lapangan

b) Penulangan Geser/Sengkang
0 Balok
0 pada 0Story 15/Atap

6 D19 3 D19 6 D19

4 D19 4 D19 4 D19

As terpasang pada tumpuan atas 6 D19, (As aktual = 1700,31 mm2)

1,25  1700,31  420


a pr 
0,85  24,9  640
a pr  65,9

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 144


 a pr 
M n atas  1,25 As f y  d  
 2 
 65,9  4
M n atas  1,25  1700,31  420   640    10
 2 
M n atas  54189,067 kgf  m

As terpasang pada tumpuan bawah 4 D19, (As aktual = 1133,54 mm2)


1,25  1133,54  420
a pr 
0,85  24,9  640
a pr  43,93

 a pr 
M n bawah  1,25 As f y  d  
 2 
 43,93  4
M n bawah  1,25  1133,54  420   640    10
 2 
M n bawah  36779,788 kgf  m

Kondisi Akibat Gempa ke Arah Kanan (E )

Wu = 1,2 DL + 1,0 LL

(Kondisi Gravity)

13151,89 kgf 13151,89 kgf

36779,79 kgf-m 54189,07 kgf-m

(Kondisi Gempa Kanan)

11371,11 kgf 11371,11 kgf

(Gravity + Gempa)

1780,78 kgf 24523 kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 145


 (36779,79  54189,07)
Veb 1   13151,89
8
Veb 1  1780,78 kgf
(36779,79  54189,07)
Veb 2   13151,89
8
Veb 2  24523 kgf

Kondisi Akibat Gempa ke Arah Kiri (E )

Wu = 1,2 DL + 1,0 LL
(Kondisi Gravity)

13151,89 kgf 13151,89 kgf

54189,07 kf-m 36779,79 kgf-m


(Kondisi Gempa Kiri)

11371,11 kgf 11371,11 kgf

(Gempa + Gravity)

24523 kgf 1780,78 kgf

(54189,07  36779,79)
Veb 1   13151,89
8
Veb 1  24523 kgf
 (54189,07  36779,79)
Veb 2   13151,89
8
Veb 2  1780,78 kgf

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 146


Berdasarkan tabel 3.2 Gaya Geser ultimit balok terbesar akibat kombinasi
gempa/envelope minimum gempa dihasilkan oleh balok atap pada Model 2
dengan VTump Kiri = 14004,4344 Kgf dan VTump Kanan = 13893,4070 Kgf.
Maka gaya geser desain adalah :
Veb > Vu
24523 > 14004,43

Veb = 24523 kgf

Ambil nilai maksimum sebagai gaya geser desain, Veb = 24523 kgf
Vu = 14004,43 kgf
0,5Vu = 7002,215 kgf
Veb > 0,5 Vu, sehingga nilai Vc pada daerah sendi plastis (2d) = 0.

Tulangan geser pada daerah sendi plastis atau tumpuan :


24523  10
Av   1000
0,75  420  640
Av  1216,42 mm 2 / m
Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup
dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2
A
n v
As
1216,42
n
157
n  7 ,7  8

Jarak sengkang, s dalam 1 meter (1000 mm) :


1000
s
(n  1)
1000
s
7
s  142,86 mm

Jadi pada daerah sendi plastis/tumpuan digunakan sengkang D10 – 150.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 147


Tulangan geser pada daerah luar sendi plastis :
 24,9 
Vc     350  640  10 1
 6 
 
Vc  18629,3 kgf

(24523 / 0,75  18629,3)  10


Av   1000
420  640
Av  523,36 mm 2 / m

Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup


dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2
A
n v
As
523,36
n
157
n  3,3  4
Jarak sengkang, s dalam 1 meter (1000 mm) :
1000
s
(n  1)
1000
s
3
s  333 mm
Jadi pada daerah luar sendi plastis digunakan sengkang D10 – 300.

D10-150 D10-300 D10-150

0 Tumpuan
Tumpuan Lapangan

0 0 0

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 148


6. PENULANGAN LONGITUDINAL KOLOM
Penulangan utama kolom pada umumnya di cek berdasarkan diagram
interaksi dimana Mu < ϕMn berdasarkan kombinasi maksimum dan minimum.
Pada pengecekan tulangan utama dengan diagram interaksi akan digunakan
program PCACOL.
Data gaya dalam mayor – minor yang dibutuhkan sebagai pengecekan
kapasitas kuat tulangan kolom pada diagram interasi biaxial momen adalah :
(Pmaks, Mx , My); (P, Mx maks, My); (P, Mx, My maks); dan (Pmin, Mx, My).
Perjanjian tanda untuk gaya aksial P adalah KN (ganti pada unit forces)
dan untuk satuan momen adalah KN – m (ganti pada unit momen).
Untuk mendapatkan gaya-gaya dalam tersebut dapat dilihat dari hasil
output ETABS dengan cara : pilih menu Display – Show Tables – Analysis –
Results – Frame Results – ceklis kotak Column Forces – OK – klik kanan pada
tabel – Export To Excel – Lakukan Sort and Filter untuk mendapatkan nilai gaya
dalam yang dibutuhkan sesuai zona masing-masing kolom.
Penulangan kolom dibagi menjadi 3 zona yaitu, Zona 1 (Story 1 – 5),
Zona 2 (Story 6 – 10), dan Zona 3 (Story 11 – 15). Data gaya dalam maksimum
yang diperlukan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 110 Model 1


P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story 1 C10 Comb8 -9680.99 551.6382 -55.3259
Story2 C6 Comb8 -4687.24 635.6962 40.4812
1
Story5 C8 Comb4 -5476.62 -52.2093 267.734
Story5 C18 Comb16 -12.6506 1.8641 -23.1005

Tabel 3.4 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 110 Model 2


P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story1 C13 Comb9 -9613.32 -392.5 54.8286
Story1 C18 Comb9 -4344.66 -487.931 91.5658
1
Story1 C1 Comb5 -4210.57 58.4094 -233.289
Story5 C6 Comb18 -1033.2 -5.1737 -29.0844

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 149


Tabel 3.5 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 90 Model 1
P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story6 C10 Comb8 -6259.83 263.1949 -70.475
Story10 C9 Comb8 -3016.27 -303.373 130.3506
2
Story10 C8 Comb4 -2822.43 8.3288 -268.104
Story7 C18 Comb16 -0.7363 -98.6694 -16.1659

Tabel 3.6 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 90 Model 2


P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story6 C13 Comb9 -6193.69 -68.8808 22.9185
Story10 C17 Comb9 -2434.45 190.8302 -33.0152
2
Story7 C8 Comb4 -4404.76 -8.7117 -159.604
Story10 C6 Comb18 -560.232 21.7844 -34.9981

Tabel 3.7 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 60 Model 1


P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story11 C10 Comb8 -2943.54 132.2483 -47.2787
Story15 C9 Comb7 -360.637 -309.456 14.0323
3
Story15 C8 Comb4 -339.068 -7.43 -296.376
Story15 C6 Comb18 -3.918 23.3612 -0.8958

Tabel 3.8 Gaya Dalam Desain Kolom K 60 x 60 Model 2


P M2 M3
Zona Story Column Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
Story11 C13 Comb9 -2913.69 -19.5154 12.094
Story15 C17 Comb9 -288.209 166.1744 -29.5825
3
Story15 C1 Comb5 -168.154 -83.9737 146.3218
Story15 C6 Comb18 -71.7081 -14.9939 -59.267

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 150


Berikut ini akan dijelaskan contoh penggunaan program PCACOL V3.63
untuk desain tulangan kolom K 60 x 110 pada Zona 1 (Story 1 – 5).

a) Buka program PCACOL

Gambar 3.20. Tampilan Program PCACOL

b) Pilih menu Input – General Information

Gambar 3.21. General Information

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 151


c) Pilih menu Input – Material Properties

Gambar 3.22. Material Properties

d) Pilih menu Input – Section – Rectangular

Gambar 3.23. Rectangular Section K 60 cm x 110 cm

e) Pilih menu Options – Rebar Database

Gambar 3.24. Bar Set : ASTM A615M

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 152


f) Pilih menu Input – Reinforcement – Sides Different
Asumsi rasio tulangan kolom akibat kombinasi gempa = 1,5% - 3%
As = 1,5% x 600 x 1100
As = 9900 mm2
Gunakan tulangan utama D25 (As = 3,14 x 252/4 = 490,625 mm2)
9900
n
490,625
n  20,17  20 D 25

4+4+6+6 =20

Gambar 3.25. Asumsi Jumlah Tulangan

Rasio 1,5%

Gambar 3.26. Rasio Tulangan Kolom K 60 x 110

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 153


g) Pilih menu Input – Reinforcement – Confinement

Gambar 3.27. Confinement

h) Pilih menu Input – Loads – Factored


(Pmaks, Mx , My) Model 1 dan Model 2

Gambar 3.28. Input Load Koordinat (Pmaks, Mx , My) Model 1 dan Model 2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 154


(P, Mx maks, My) Model 1 dan Model 2

Gambar 3.29. Input Load Koordinat (P, Mxmaks, My) Model 1 dan Model 2

(P, Mx, My maks) Model 1 dan Model 2

Gambar 3.30. Input Load Koordinat (P, Mx, Mymaks) Model 1 dan Model 2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 155


(Pmin, Mx, My) Model 1 dan Model 2

Gambar 3.31. Input Load Koordinat (Pmin, Mx, My) Model 1 dan Model 2

i) Pilih menu Solve – Execute – View – P-M Diagram

Gambar 3.32. Diagram Interaksi K 60 x 110

Titik gaya dalam yang ditinjau berada di dalam diagram interaksi


sehingga kolom masih mampu menahan beban ultimit yang terjadi.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 156


Gambar 3.33. Diagram Interaksi K 60 x 90

Gambar 3.34. Diagram Interaksi K 60 x 60


Hasil Desain :

20 D25 16 D25 14 D22


K 60 x 110 K 60 x 90 K 60 x 60

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 157


7. STRONG COLUMN WEAK BEAM (BEAM SWAY)
Persyaratan mekanisme Strong Column Weak Beam (Kolom Kuat Balok
Lemah) adalah :

M c  1,2 M g

Definisi sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 23 :


∑Mc = jumlah momen pada muka join, yang berhubungan dengan kuat
lentur nominal kolom-kolom yang merangka pada join tersebut, yang
dihitung untuk beban aksial terfaktor, konsisten dengan arah gaya-gaya
lateral yang ditinjau yang menghasilkan kuat lentur yang terendah.
∑Mg = jumlah momen pada muka join, yang berhubungan dengan kuat
lentur nominal balok-balok (termasuk pelat yang berada dalam kondisi
tarik) yang merangka pada join tersebut.

Berikut ini akan diberikan contoh perhitungan cek strong column weak
beam untuk join balok – kolom di tengah-tengah bangunan pada model interaksi
ganda (model 1) akibat gempa arah ke kanan :

Gambar 3.35. Potongan Portal As 2

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 158


Story 9

K 60x90
Kolom Atas
Join
B 35x70 B 35x70
Story 8

Balok Kanan

K 60x90
Balok Kiri
Kolom Bawah

Story 7

Gambar 3.36. Join Balok – Kolom

Kondisi Akibat Gempa ke Arah Kanan (E )

Mn-

Mn+

Gambar 3.37. Momen Balok Akibat Gempa ke Arah Kanan // sb-x (+Ex)

Momen Nominal balok :


Mpr kiri + Mpr kanan = Mn- + Mn+
= 71308,752 kgf-m + 48714,077 kgf-m
= 120022,829 kgf-m
= 1200,23 KN – m

Momen Nominal Kolom :


Pu kolom ≥ 0,1 f’c Ag
Pu kolom ≥ 0,1 x 33,2 x 600 x 900 x 10-3
Pu kolom ≥ 1792,8 KN

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 159


Momen nominal kolom atas dan bawah harus dicek terhadap beban aksial
maksimum dan beban aksial minimum.
Kombinasi beban aksial maksimum :
U3 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U4 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex – 0,3 ρ Ey
Kombinasi beban aksial minimum :
U11 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U12 = (0,9 – 0,2 SDS) DL + ρ Ex – 0,3 ρ Ey

Hasil ETABS kolom atas :


Pu max = 3810,674 KN; Mx = 77,346 KN-m
Pu min = 1677,309 KN; Mx = 41,966 KN-m

Hasil Diagram Interaksi About – X Axis :

1800

1684,7

Gambar 3.38. Diagram Interaksi Kolom Atas

Mn kolom atas = 1684,7 KN – m. (tahanan lentur yang terkecil)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 160


Hasil ETABS kolom bawah :
Pu max = 4346,338 KN; Mx = 75,818 KN-m
Pu min = 1901,035 KN; Mx = 38,788 KN-m

Hasil Diagram Interaksi About – X Axis :

1733,7
1643,9

Gambar 3.39. Diagram Interaksi Kolom Bawah

Mn kolom bawah = 1643,9 KN – m. (tahanan lentur yang terkecil)

Cek Syarat Strong Column Weak Beam :

M c  1,2 M g
1684,7  1643,9  1,21200,23
3328,6  1440,3...................OK!

Cat : pengecekan kapasitas kolom harus dilakukan dalam arah mayor dan minor
kolom sesuai dengan kondisi gempa pada masing-masing arah.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 161


8. PENULANGAN GESER/SENGKANG KOLOM
Gaya lintang yang harus dapat diterima oleh kolom harus diperhitungkan
berdasarkan :
2  M pr kolom
Ve 
hn
Momen primer adalah probable kapasitas momen positive dan negative
pada ujung-ujung kolom menggunakan tegangan yield baja sebesar αfy dan ϕ = 1,
dan α = 1,25, dari komponen struktur tersebut yang terkait dengan rentang beban-
beban aksial berfaktor yang bekerja.
Akan tetapi jika gaya lintang yang timbul akibat kombinasi pembebanan :
U = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL ± ρ E lebih kecil, maka boleh dipilih yang lebih
kecil. Setelah itu dapat juga dibandingkan dengan kombinasi pembebanan gravity:
U = 1,2 DL + 1,6 LL untuk dipilih yang lebih menentukan/lebih besar.
Pada contoh perhitungan akan diambil kolom-kolom pada tengah
bangunan untuk desain tulangan geser seperti tampak gambar di bawah ini.

Gambar 3.40. Tinjauan Tulangan Geser Kolom

Berdasarkan label kolom, maka daerah tengah bangunann memiliki label


kolom C 7 – C 14. Karena ditinjau dalam arah mayor dan minor, maka kombinasi
pembebanan yang digunakan sesuai dengan arah gempa yang ditinjau sehubungan
dengan arah major – minor kolom yang menghasilkan nilai maksimum dan
minimum.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 162


Contoh Penulangan Sengkang Kolom K 60 x 110 (Zona 1)
Data Gaya Dalam ETABS Model 1 akibat kombinasi maksimum –
minimum gempa arah X (kanan-kiri) :
P max = 9502,78 KN ; Mx = 161,155 KN – m (Comb.6)
P min = 2506,10 KN ; Mx = 17,7412 KN – m (Comb.12)
Vu max = 142,474 KN (Comb. 4)

Data Gaya Dalam ETABS Model 2 akibat kombinasi maksimum –


minimum gempa arah X (kanan-kiri) :
P max = 9519,42 KN ; Mx = 122,617 KN – m (Comb.4)
P min = 2578,87 KN ; Mx = 8,2737 KN – m (Comb.12)
Vu max = 97,876 KN (Comb. 4)

Momen Primer Desain dari analisis diagram interaksi :

Range Mpr

Gambar 3.41. Range Momen Primer Kolom (X)

Mpr = Nilai momen maksimum dalam range beban aksial


Dari hasil analisis diagram interaksi, didapat momen nominal maksimum
akibat Pu = 9502,8 KN dengan Mpr = 3720,9 KN – m.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 163


2  M pr kolom
Ve 
hn
2  3720,9
Ve 
(4  0,7)
Ve  2255,1 kN

Nilai Ve > Vu maks, maka untuk desain pakai Vu maks


Vu = 142,474 KN

Pada daerah tumpuan/join dengan menganggap nilai Vc = 0, maka


Kebutuhan tulangan geser :
 Vu 
  Vc  s

Av   
f ys d
 142,474 
  0   1000  1000
Av   
0,75
420  600
Av  753,83 mm 2 / m
Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup
dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2

753,83
n
157
n  4,801
n5

Maka digunakan jarak sengkang = 1000 mm/5 = 200 mm, (D10 – 200).

Data Gaya Dalam ETABS Model 1 akibat kombinasi maksimum –


minimum gempa arah Y (kanan-kiri) :
P max = 9680,99 KN ; My = 55,3259 KN – m (Comb.8)
P min = 2291,24 KN ; My = 5,3704 KN – m (Comb.17)
Vu max = 167,7023 KN (Comb. 8)

Data Gaya Dalam ETABS Model 2 akibat kombinasi maksimum –


minimum gempa arah Y (kanan-kiri) :

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 164


P max = 9613,32 KN ; My = 54,8286 KN – m (Comb.9)
P min = 2507,26 KN ; Mx = 7,7532 KN – m (Comb.17)
Vu max = 80,4766 KN (Comb. 9)

Momen Primer Desain dari analisis diagram interaksi :

Range Mpr

Gambar 3.42. Range Momen Primer Kolom (Y)

Mpr = Nilai momen maksimum dalam range beban aksial


Dari hasil analisis diagram interaksi, didapat momen nominal maksimum
akibat Pu = 9613,3 KN dengan Mpr = 2171,5 KN – m.
2  M pr
Ve 
hn
2  2171,5
Ve 
4  0,6
Ve  1277,35 kN

Nilai Ve > Vu maks, maka untuk desain pakai Vu maks


Vu = 167,7023 KN

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 165


Pada daerah tumpuan/join dengan menganggap nilai Vc = 0, maka
Kebutuhan tulangan geser :
 Vu 
  Vc  s

Av   
f ys d
 167,7023 
  0   1000  1000
Av   
0,75
420  600
Av  887,314 mm 2 / m
Gunakan tulangan ulir sengkang tertutup D10, karena 1 sengkang tertutup
dihitung 2 loop, maka luas sengkang, As = 2 x 3,14 x 102/4 = 157 mm2

887,314
n
157
n  5,65
n6

Maka digunakan jarak sengkang = 1000 mm/6 = 166,67 mm, (D10 – 150).

Dari hasil analisis gempa arah X dan arah Y (arah mayor – minor kolom),
maka jarak sengkang yang digunakan pada daerah tumpuan/join adalah
yang menghasilkan jarak paling rapat, atau dalam hal ini digunakan
sengkang D10 – 150.

Pada daerah dengan nilai Vc ≠ 0, maka Vc harus dihitung berdasarkan :


Kolom tekan :
 N  f ' c 
Vc  1  u  b d
 14 A  6  w
 g  
Dan tidak boleh lebih besar dari :

 
Vc  0,3 f ' c bw d 1 
0,3N u
Ag

Kolom tarik :
 0,3N u  f ' c 
Vc  1   b d  0
 Ag  6  w
  

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 166


Untuk nilai Nu adalah beban aksial terfaktor yang terjadi bersamaan
dengan Vu. Nilai Vu = 167,7023 KN, maka Nu = -6147,3457 KN (gaya
dalam dari ETABS).

  6147,3457  10 3  33,2 
Vc  1     1100  600
   6 
 14 1100 600  
Vc  212,14 kN
Kebutuhan tulangan geser/sengkang :
 Vu 
  Vc  s

Av   
f ys d
 167,7023 
  212,14   1000  1000
Av   
0,75
420  600
Av  48,35 mm 2 / m
Karena hasil sangat minimum maka pada daerah lapangan digunakan
sengkang D10 – 300 (Av pakai > Av hitung).

Cat : untuk daerah persambungan tulangan utama kolom (Tension Lap


Splice) pada daerah lapangan/pertengahan bentang kolom digunakan
sengkang D10 – 150 sesuai persyaratan tulangan transversal – rectangular
hoop reinforcement pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK).

Hasil desain tulangan sengkang kolom K 60 x 110 :

Join
D10 - 150

D10 - 300 Lapangan

Tumpuan
D10 - 150

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 167


9. ANALISIS SHEAR WALL
Penampang dan sengkang shear wall harus diperhitungkan mampu dalam
menahan beban geser berdasarkan kombinasi pembebanan :
U = 1,2 DL + 1,6 LL
U = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL ± ρ E
Tetapi terhadap beban momen lentur harus dilakukan pengecekan
sehingga shear wall tidak akan gagal terlebih dahulu dalam geser dibandingkan
dalam momen. Analisa kekuatan shear wall dilakukan dengan melihat diagram
interaksi dengan mengambil gaya-gaya dalam yang dihasilkan dalam pemodelan.
Vt M
 t
Vu M u
Dimana :
Vt = gaya geser pada penampang shear wall berdasarkan tulangan terpasang
Vu = gaya geser ultimit
Mt = momen pada penampang shear wall berdasarkan tulangan terpasang
Mu = momen ultimit

Analisis Shear Wall dengan program ETABS disebut Wall Pier Design
Sections, yang mencakup 3 metode, yaitu :
1) Simplified C & T
- Planar Piers
- Design Only
2) Uniform Reinforcing
- 3D
- Design or Check
- Uniform Reinforcing
3) General Reinforcing
- 3D
- Design or Check
- Section Designer

Pada analisis ini akan digunakan metode ke-3, yaitu General Reinforcing.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 168


P1 P2
P3

Gambar 3.43. Penamaan Pier Shear Wall

a) Desain Shear Wall P1


Pilih menu Design – Shear Wall Design – Define General Pier Sections –
Click to Add Pier Section – isi kotak dialog di bawah ini.

Gambar 3.44. Pier Section Data P1

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 169


Kemudian pilih Section Designer, masukkan tulangan asumsi yang akan
digunakan untuk penulangan shear wall pier 1. Setelah muncul section
designer pier, hapus gambar shear wall tersebut untuk menggantinya
dengan shear wall boundary elements, dengan cara klik shear wall
tersebut kemudian delete.

Menggambar elemen shear wall dengan boundary adalah sebagai berikut :


Pada kotak dialog Section Designer ini pilih menu Draw – Concrete Shape
– Flanged Wall – gambar di tepat sumbu axis – pilih shear wall yang telah
digambar kemudian klik kanan sehingga muncul kotak dialog Section
Object Data Flanged Wall.

PERHATIKAN !!

Gambar 3.45. Section Data Pier 1

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 170


Boundary 350 x 1300 Boundary 350 x 1300

Gambar 3.46. Section Designer Pier 1

Asumsikan jumlah tulangan yang akan digunakan :


- Tulangan Boundary Element = dengan menganggap tulangan boundary
sama halnya seperti tulangan pada kolom struktur maka diambil rasio
penulangan sekitar 1,5% untuk perkiraan awal.
As = 1,5% x (350 x 1300)
As = 6825 mm2
Gunakan tulangan utama D25, dengan (As = 490,625 mm2)
Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 6825 : 490,625 = 13,9 = 14 D25

Gambar 3.47. Asumsi Tulangan Boundary Element Pier 1

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 171


Left Flange Rebar = Right Flange Rebar
- Tie Bar (Tulangan Ties Geser) = D16
- Corner Bar 1 (Tulangan Pojok 1) = 1 D25
- Corner Bar 2 (Tulangan Pojok 2) = 1 D25
- Corner Bar 3 (Tulangan Pojok 3) = 1 D25
- Corner Bar 4 (Tulangan Pojok 4) = 1 D25
- Edge Bar 1 = 1 D25
- Edge Bar 2 = 7 D25
- Edge Bar 3 = 1 D25 7 + 7 = 14
- Edge Bar 4 = 7 D25
= 20 D25

- Tulangan Web/Badan = asumsi jumlah tulangan utama pada bagian


web/badan dinding geser ditentukan berdasarkan spasi antar tulangan,
pada bagian boundary spasi tulangan yang terpasang adalah 150 mm,
maka untuk tulangan badan diambil spasi tulangan utama 2 x 150 = 300
mm. Klik kanan salah satu tulangan badan – pada kotak dialog Edge
Reinforcing, isikan Max Bar Spacing (mm) = 300 – OK.

Gambar 3.48. Tulangan Web/Badan Dinding Geser Pier 1

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 172


Gambar 3.49. Desain Tulangan Shear Wall P1

Data nilai gaya dalam Envelope untuk shear wall P1 dapat dilihat pada
tabel d ibawah ini.

Tabel 3.9 Gaya Dalam Envelope Max - Min Pier 1


Pu Mu2 Mu3
Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
ENVE MAX 12603.62 947.98 31794.13
ENVE MIN 12381.97 143.41 32300.04

Setelah itu gaya dalam tersebut di plot ke dalam diagram interaksi dinding
dari hasil analisis etabs dengan masing-masing arahnya yaitu Mu2 dan
Mu3. Output diagram interaksi dapat dilihat dengan cara klik icon
Interaction Surface pada kotak dialog Section Designer Shear Wall.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 173


40000

30000

20000
M2-2

10000 Enve Max


Enve Min
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
-10000

-20000

Gambar 3.50. Cek Diagram Interaksi M2-2 Pier 1

40000

30000

20000
M3-3
10000 Enve Max
Enve Min
0
0 10000 20000 30000 40000 50000
-10000

-20000

Gambar 3.51. Cek Diagram Interaksi M3-3 Pier 1

Pada gambar di atas tampak bahwa plot gaya – gaya dalam ultimit yang
terjadi berdasarkan kombo Enve Max dan Enve Min dari semua kombinasi
pembebanan yang diberikan, masih berada di dalam diagram interaksi
kapasitas dinding, sehingga dapat dikatakan bahwa shear wall tersebut
masih mampu menahan beban.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 174


b) Desain Shear Wall P2
Bentuk dan ukuran shear wall P2 sama dengan shear wall PI, oleh karena
itu asumsi tulangan untuk shear wall P2 juga disamakan dengan shear
wall PI sehingga akan menghasilkan diagram interaksi yang sama pula.
Data nilai gaya dalam Envelope untuk shear wall P2 dapat dilihat pada
tabel d ibawah ini.

Tabel 3.9 Gaya Dalam Envelope Max - Min Pier 2


Pu Mu2 Mu3
Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
ENVE MAX 12602.16 143.64 39239.55
ENVE MIN 12380.51 947.54 30166.34

40000

30000

20000
M2-2
10000 Enve Max
Enve Min
0
0 1000 2000 3000
-10000

-20000

Gambar 3.52. Cek Diagram Interaksi M2-2 Pier 2

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa shear wall masih mampu menahan
beban ultimit yang diberikan pada arah sumbu 2-2, karena titik plot beban
envelope max dan envelope min masih berada di dalam diagram interaksi
dinding.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 175


40000

30000

20000
M3-3
10000 Enve Max
Enve Min
0
0 10000 20000 30000 40000 50000
-10000

-20000

Gambar 3.53. Cek Diagram Interaksi M3-3 Pier 2

c) Desain Shear Wall P3

Boundary 350 x 1500 Boundary 350 x 1500

Gambar 3.54. Section Designer Shear Wall Pier 3

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 176


Left Flange Rebar = Right Flange Rebar
- Tie Bar (Tulangan Ties Geser) = D16
- Corner Bar 1 (Tulangan Pojok 1) = 1 D25
- Corner Bar 2 (Tulangan Pojok 2) = 1 D25
- Corner Bar 3 (Tulangan Pojok 3) = 1 D25
- Corner Bar 4 (Tulangan Pojok 4) = 1 D25
- Edge Bar 1 = 2 D25
- Edge Bar 2 = 13 D25
- Edge Bar 3 = 2 D25
- Edge Bar 4 = 13 D25
= 34 D25

Gambar 3.55. Tulangan Web/Badan Shear Wall Pier 3

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 177


Data nilai gaya dalam Envelope untuk shear wall P3 dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 3.10 Gaya Dalam Envelope Max - Min Pier 3


Pu Mu2 Mu3
Combo
(KN) (KN-m) (KN-m)
ENVE MAX 17841.28 279.51 81362.99
ENVE MIN 17486.65 343.49 66454.64

Plot Diagram Interaksi :

70000
60000
50000
40000
30000
M2-2
20000
Enve Max
10000
Enve Min
0
-10000 0 1000 2000 3000 4000 5000

-20000
-30000
-40000

Gambar 3.56. Cek Diagram Interaksi M2-2 Pier 3

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa shear wall masih mampu menahan
beban ultimit yang diberikan pada arah sumbu 2-2, karena titik plot beban
envelope max dan envelope min masih berada di dalam diagram interaksi
dinding.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 178


70000
60000
50000
40000
30000
M3-3
20000
Enve Max
10000
Enve Min
0
-10000 0 50000 100000 150000

-20000
-30000
-40000

Gambar 3.57. Cek Diagram Interaksi M3-3 Pier 3

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa nilai momen 3-3 ultimit masih
berada di dalam diagram interaksi dinding, sehingga shear wall masih
dapat menahan beban envelope max – min yang bekerja.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 179


(#4) PONDASI DARI ASPEK DAYA DUKUNG TANAH
Oleh : M. Hamzah Fadli, ST., MT.

Pondasi gedung kantor 15 lantai dengan sistem ganda akan direncanakan


menggunakan tiang pancang 45 cm x 45 cm dengan mutu beton tinggi
kapasitas 1 tiang ( P = 130 ton). Pada aspek daya dukung tanah, beban pondasi
akibat pembebanan nominal tidak boleh melampaui daya dukung yang diizinkan.
Dalam hal ini, daya dukung tiang pondasi dapat dirumuskan sebagai berikut :
P = DL + LL ≤ Pijin
P = DL + LL ± 1,0 Enx ± 0,3 Eny ≤ 1,5 Pijin
P = DL + LL ± 0,3 Enx ± 1,0 Eny ≤ 1,5 Pijin
Persyaratan daya dukung kapasitas (pada saat struktur atas berada di ambang
keruntuhan) adalah sebagai berikut :
P = DL + LL ± Ω0 (1,0 Enx ± 0,3 Eny) ≤ 2,5 Pijin
P = DL + LL ± Ω0 (0,3 Enx ± 1,0 Eny) ≤ 2,5 Pijin

1. JUMLAH KEBUTUHAN PONDASI


Untuk mendapatkan jumlah titik pondasi pada elemen struktur kolom dan
shear wall gunakan model struktur lengkap dengan menambah lantai base/dasar
sebagai lantai struktur lengkap dengan pelat – kolom – balok – shear wall. Oleh
karena itu perlu lakukan modifikasi terlebih dahulu pada ETABS sebagai berikut :
a) Awalnya untuk analisis gempa dan penulangan struktur atas, taraf
penjepitan lateral model struktur pada ETABS berada di lantai base/dasar,
karena pondasi menanggung semua beban lantai dari dasar sampai atap
maka pemodelan struktur juga harus dilakukan pada lantai dasar tersebut
dengan menambah lantai baru diatas base.
b) Taraf penjepitan yang baru diasumsikan 0,1 meter dibawah lantai tersebut
untuk mendapatkan beban total yang akan ditanggung oleh pondasi.
c) Gaya aksial – momen untuk analisis kekuatan pondasi dalam menahan
gempa tetap dilakukan terhadap model struktur yang terjepit di lantai
base/dasar.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 180


Pilih icon Unlock Model – pilih menu Edit – Edit Stories and Grid Systems
– Modify/Show Story Data – di dalam kotak dialog Story Data klik kanan – Add
Story – Keep Existing Story Heights – OK.

Gambar 4.1. Add Story

Tinggi Lantai
Tambahan

Tambahkan diatas
lantai base

Struktur Lantai
Baru = Struktur
Story 1

Gambar 4.2. Tambah Lantai Baru

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 181


Gambar 4.3. Lantai Dasar Tambahan

Setelah menambahkan lantai, buat kombinasi pembebanan gravity tak


berfaktor untuk mendapatkan beban/load pada tiap kolom dan shear wall sebagai
desain awal dengan kombinasi : Combo Pondasi : 1,0 DL + 1,0 LL. Pilih menu
Define – Load Combinations – Add New Combo.

Gambar 4.4. Kombinasi Gravity untuk Jumlah Pondasi

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 182


Setelah membuat kombinasi beban gravity tak berfaktor, untuk
mendapatkan reaksi hasil pembebanan tersebut dalam Fz maka ganti asumsi
penjepitan dengan sendi pada lantai base agar tidak timbul momen hanya reaksi
vertikal dan horizontal saja untuk mendapatkan beban desain dengan cara pilih
menu View – Set Plan View – pilih Base – OK – aktifkan fasilitas One Story pada
bagian kanan bawah pada jendela ETABS – blok keseluruhan lantai base – pilih

menu Assign – joint – Restraints – pilih gambar tumpuan sendi - OK.


Pilih menu Analyze – Set Load Cases to Run (Cases Modal, DL, dan LL
dalam Action Run) – Run Now. Setelah proses Run Analysis lihat hasil load tiap
kolom dan shear wall dengan terlebih dahulu mengganti satuan gaya menjadi tonf
agar sesuai dengan satuan kapasitas tiang. Kemudian pilih menu Display – Show
Tables – Analysis – Results – ceklis Design Reactions – OK – klik kanan pada
tabel – Export to Excel.

Gambar 4.5. Joint Label Titik Pondasi Kolom dan Shear Wall

Untuk menampilkan joint label pada titik kolom dan shear wall pilih menu
View – Set Display Options – pilih kategori Object Assigments – pada bagian
Joint Assigments beri tanda ceklis pada kotak Labels – OK.
Sesuaikan titik kolom dan shear wall dengan joint label pada tabel Design
Reactions untuk mendapatkan beban yang diterima dan menghitung kebutuhan
jumlah pondasi berdasarkan kapasitas efektif tiang kelompok.

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 183


Tabel 4.1. Reaksi Pondasi (dalam satuan tonf)
Story Joint Label Load Case/Combo FZ
Base 1 Comb Pondasi 313.554
Base 2 Comb Pondasi 517.953
Base 3 Comb Pondasi 326.011
Base 4 Comb Pondasi 326.011
Base 5 Comb Pondasi 517.953
Base 6 Comb Pondasi 313.554
Base 7 Comb Pondasi 784.625
Base 8 Comb Pondasi 650.409
Base 9 Comb Pondasi 650.409
Base 10 Comb Pondasi 784.625
Base 11 Comb Pondasi 778.482
Base 12 Comb Pondasi 772.610
Base 13 Comb Pondasi 772.610
Base 14 Comb Pondasi 778.482
Base 15 Comb Pondasi 309.185
Base 16 Comb Pondasi 512.410
Base 17 Comb Pondasi 512.410
Base 18 Comb Pondasi 309.185
Base 19 Comb Pondasi 457.638
Base 20 Comb Pondasi 472.073
Base 21 Comb Pondasi 648.036
Base 22 Comb Pondasi 648.036
Base 23 Comb Pondasi 457.638
Base 24 Comb Pondasi 472.073

Contoh perhitungan kebutuhan pondasi :


Kolom :
C7 = 784,625 tonf
N = 784,625/(0,8 x 130) Kapasitas Efektif Tiang Kelompok (80%)
N = 7,54 ≈ 8 tiang
Shear Wall :
Kiri = Kanan
N = (457,638 + 472,073)/(0,8 x 130)
N = 8,940 ≈ 10 tiang
Bawah
N = (648,036 + 648, 036)/(0,8 x 130)
N = 12,462 ≈ 14 tiang

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 184


Tabel 4.2. Kebutuhan Pondasi (N)
Story Joint Label Load Case/Combo FZ n N
Base 1 Comb Pondasi 313.554 3.015 4
Base 2 Comb Pondasi 517.953 4.980 6
Base 3 Comb Pondasi 326.011 3.135 4
Base 4 Comb Pondasi 326.011 3.135 4
Base 5 Comb Pondasi 517.953 4.980 6
Base 6 Comb Pondasi 313.554 3.015 4
Base 7 Comb Pondasi 784.625 7.544 8
Base 8 Comb Pondasi 650.409 6.254 7
Base 9 Comb Pondasi 650.409 6.254 7
Base 10 Comb Pondasi 784.625 7.544 8
Base 11 Comb Pondasi 778.482 7.485 8
Base 12 Comb Pondasi 772.610 7.429 8
Base 13 Comb Pondasi 772.610 7.429 8
Base 14 Comb Pondasi 778.482 7.485 8
Base 15 Comb Pondasi 309.185 2.973 4
Base 16 Comb Pondasi 512.410 4.927 6
Base 17 Comb Pondasi 512.410 4.927 6
Base 18 Comb Pondasi 309.185 2.973 4
Base 19 Comb Pondasi 457.638
8.940 10
Base 20 Comb Pondasi 472.073
Base 21 Comb Pondasi 648.036
12.462 14
Base 22 Comb Pondasi 648.036
Base 23 Comb Pondasi 457.638
8.940 10
Base 24 Comb Pondasi 472.073

= 6 tiang, = 8 tiang, = 4 tiang, = 10 tiang, = 14 tiang

F4 F6 F4 F4 F6 F4

F8 F8 F8 F8
F10

F10

F8 F8 F8 F8

F14
F4 F6 F6 F4

Gambar 4.6. Kebutuhan Tipe Pondasi

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 185


2. CHECK PILE FORCE
Struktur bawah tidak boleh gagal terlebih dahulu daripada struktur
atas. Cek pile – tiang pancang akan dilakukan terhadap 2 kondisi gempa, yaitu
kombinasi gempa nominal dan kombinasi gempa ultimit dengan parameter gempa
sebagai berikut :
SDS (g) = 0,719 (Semarang, Tanah Sedang)
ρ = 1,3 (faktor redundansi, lihat pasal 7.3.4.2 SNI 1726-2012)
Ω0 = 2,5 (faktor kuat-lebih sistem ganda)

Kombinasi Beban Gempa Nominal adalah :


U3 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U4 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U5 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – ρ Ex + 0,3 ρ Ey
U6 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – ρ Ex – 0,3 ρ Ey
U7 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U8 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 ρ Ex + ρ Ey
U9 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 ρ Ex – ρ Ey
U10 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 ρ Ex – ρ Ey

Kombinasi Beban Gempa Ultimit adalah :


U19 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + Ω0 Ex + 0,3 Ω0 Ey
U20 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + Ω0 Ex – 0,3 Ω0 Ey
U21 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – Ω0 Ex + 0,3 Ω0 Ey
U22 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – Ω0 Ex – 0,3 Ω0 Ey
U23 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 Ω0 Ex + Ω0 Ey
U24 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 Ω0 Ex + Ω0 Ey
U25 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL + 0,3 Ω0 Ex – Ω0 Ey
U26 = (1,2 + 0,2 SDS) DL + 1,0 LL – 0,3 Ω0 Ex – Ω0 Ey

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 186


Tabel 4.3. Kombinasi Beban Gempa Nominal dan Ultimit

Comb. 3 = 1.3438 DL + 1 LL + 1.3 Ex + 0.39 Ey


Comb. 4 = 1.3438 DL + 1 LL + 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 5 = 1.3438 DL + 1 LL - 1.3 Ex + 0.39 Ey
Comb. 6 = 1.3438 DL + 1 LL - 1.3 Ex - 0.39 Ey
Comb. 7 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 8 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.39 Ex + 1.3 Ey
Comb. 9 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.39 Ex - 1.3 Ey
Comb. 10 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.39 Ex - 1.3 Ey
Comb. 19 = 1.3438 DL + 1 LL + 2.5 Ex + 0.75 Ey
Comb. 20 = 1.3438 DL + 1 LL + 2.5 Ex - 0.75 Ey
Comb. 21 = 1.3438 DL + 1 LL - 2.5 Ex + 0.75 Ey
Comb. 22 = 1.3438 DL + 1 LL - 2.5 Ex - 0.75 Ey
Comb. 23 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.75 Ex + 2.5 Ey
Comb. 24 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.75 Ex + 2.5 Ey
Comb. 25 = 1.3438 DL + 1 LL + 0.75 Ex - 2.5 Ey
Comb. 26 = 1.3438 DL + 1 LL - 0.75 Ex - 2.5 Ey

Untuk mendapatkan gaya-gaya reaksi dari kolom dan shear wall akibat
gempa desain, maka model struktur yang diperlukan adalah model dengan taraf
penjepitan lateral pada lantai dasar (model sebelumnya). Input kombinasi beban
gempa ultimit dengan faktor kuat-lebih. Kombinasi beban gempa nominal sudah
dimasukkan pada saat tahap desain penulangan.

Gambar 4.7. Contoh Kombinasi Beban Ultimit

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 187


a) Check Pile Force Pondasi Tipe F4

P1 P2

P4 P3

Gambar 4.8. Pondasi tipe F4

Dimensi kolom = 60 cm x 110 cm


Dimensi pondasi = 45 cm x 45 cm
Kapasitas 1 pile, Pijin = 130 ton
n pile (jumlah tiang) = 4
Jarak antar pile = 2,5 D (2,5 x 0,45 m = 1,125 m)
Jarak pile ke tepi = 1 D (0,45 m)

Koordinat masing-masing pile terhadap pusat kolom adalah :

Tabel 4.4. Koordinat Pile Tipe F4

X Y X2 Y2
Pile No.
(m) (m) (m2) (m2)
p1 -0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p2 0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p3 0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
p4 -0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
∑ (Jumlah) 1.2656 1.2656

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 188


Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 4 tiang (F4)
akibat pembebanan gempa nominal :

Tabel 4.5. Gaya Dalam Maksimum Gempa Nominal Tipe F4


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
18 Comb9 542.5304 -62.8229 -8.2421
6 Comb8 508.0304 63.7987 1.2275
1 Comb5 457.4772 -1.8702 21.7340

Contoh Kombo 9 :
P = 542,5304 tonf
Mx = -62,8229 tonf-m
My = -8,2421 tonf-m
P = 1,5 x 130 ton = 195 ton (kapasitas gempa nominal = 1,5 x Pijin)

Tabel 4.6. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F4 Kombo 9

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 135.63 -27.92 3.66 111.37 OK
p2 135.63 -27.92 -3.66 104.05 OK
p3 135.63 27.92 -3.66 159.89 OK
p4 135.63 27.92 3.66 167.22 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 1 (P1) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
542,5304  62,8229  0,5625  8,2421   0,5625
Ptiang   
4 1,2656 1,2656
Ptiang  111,37

Ptiang = 111,37 ton < 195 ton……… OK. GEMPA NOMINAL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 189


Tabel 4.7. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F4 Kombo 8

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 127.01 28.35 -0.55 154.82 OK
p2 127.01 28.35 0.55 155.91 OK
p3 127.01 -28.35 0.55 99.20 OK
p4 127.01 -28.35 -0.55 98.11 OK

Tabel 4.8. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F4 Kombo 5

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 114.37 -0.83 -9.66 103.88 OK
p2 114.37 -0.83 9.66 123.20 OK
p3 114.37 0.83 9.66 124.86 OK
p4 114.37 0.83 -9.66 105.54 OK

Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 4 tiang (F4) akibat
pembebanan gempa ultimit :

Tabel 4.9. Gaya Dalam Maksimum Gempa Ultimit Tipe F4


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
18 Comb25 691.4595 -118.8785 -11.3981
6 Comb24 620.0930 119.8580 6.8500
4 Comb21 595.4181 38.9853 37.3273

Contoh Kombo 25 :
P = 691,4595 tonf
Mx = -118,8785 tonf-m
My = -11,3981 tonf-m
P = 2 x 130 ton = 260 ton (kapasitas gempa ultimit = 2,0 x Pijin)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 190


Tabel 4.10. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F4 Kombo 25

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 172.86 -52.83 5.07 125.10 OK
p2 172.86 -52.83 -5.07 114.96 OK
p3 172.86 52.83 -5.07 220.63 OK
p4 172.86 52.83 5.07 230.77 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 4 (P4) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
691,4595  118,8785   0,5625  11,3981   0,5625
Ptiang   
4 1,2656 1,2656
Ptiang  230,77

Ptiang = 230,77 ton < 260 ton……… OK. GEMPA ULTIMIT

Tabel 4.11. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F4 Kombo 24

P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang


Pile no. Check
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 155.02 53.27 -3.04 205.25 OK
p2 155.02 53.27 3.04 211.34 OK
p3 155.02 -53.27 3.04 104.80 OK
p4 155.02 -53.27 -3.04 98.71 OK

Tabel 4.12. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F4 Kombo 21

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 148.85 17.33 -16.59 149.59 OK
p2 148.85 17.33 16.59 182.77 OK
p3 148.85 -17.33 16.59 148.12 OK
p4 148.85 -17.33 -16.59 114.94 OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 191


b) Check Pile Force Pondasi Tipe F6

P1 P2

P6 P3
P2

P5 P4

Gambar 4.9. Pondasi tipe F6

Dimensi kolom = 60 cm x 110 cm


Dimensi pondasi = 45 cm x 45 cm
Kapasitas 1 pile, Pijin = 130 ton
n pile (jumlah tiang) = 6
Jarak antar pile = 2,5 D (2,5 x 0,45 m = 1,125 m)
Jarak pile ke tepi = 1 D (0,45 m)

Koordinat masing-masing pile terhadap pusat kolom adalah :

Tabel 4.13. Koordinat Pile Tipe F6

Pile No. X Y X2 Y2
(m) (m) (m2) (m2)
p1 -0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p2 0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p3 1.5368 0.0000 2.3618 0.0000
p4 0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
p5 -0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
p6 -1.5368 0.0000 2.3618 0.0000
∑ (Jumlah) 5.9891 1.2656

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 192


Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 6 tiang (F6)
akibat pembebanan gempa nominal :

Tabel 4.14. Gaya Dalam Maksimum Gempa Nominal Tipe F6


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
5 Comb8 743.0125 61.2900 6.8328
17 Comb9 741.4411 -60.3360 -3.4874
5 Comb5 678.2247 31.9469 18.2769

Contoh Kombo 8 :
P = 743,0125 tonf
Mx = 61,2900 tonf-m
My = 6,8328 tonf-m
P = 1,5 x 130 ton = 195 ton (kapasitas gempa nominal = 1,5 x Pijin)

Tabel 4.15. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F6 Kombo 8

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 123.84 27.24 -0.64 150.43 OK
p2 123.84 27.24 0.64 151.72 OK
p3 123.84 0.00 1.75 125.59 OK
p4 123.84 -27.24 0.64 97.24 OK
p5 123.84 -27.24 -0.64 95.95 OK
P6 123.84 0.00 -1.75 122.08 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 1 (P1) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
743,0125 61,2900  0,5625 6,8328   0,5625
Ptiang   
6 1,2656 5,9891
Ptiang  150,43

Ptiang = 150,43 ton < 195 ton……… OK. GEMPA NOMINAL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 193


Tabel 4.16. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F6 Kombo 9

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 123.57 -26.82 0.33 97.09 OK
p2 123.57 -26.82 -0.33 96.43 OK
p3 123.57 0.00 -0.89 122.68 OK
p4 123.57 26.82 -0.33 150.06 OK
p5 123.57 26.82 0.33 150.72 OK
P6 123.57 0.00 0.89 124.47 OK

Tabel 4.17. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F6 Kombo 5

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 113.04 14.20 -1.72 125.52 OK
p2 113.04 14.20 1.72 128.95 OK
p3 113.04 0.00 4.69 117.73 OK
p4 113.04 -14.20 1.72 100.56 OK
p5 113.04 -14.20 -1.72 97.12 OK
P6 113.04 0.00 -4.69 108.35 OK

Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 6 tiang (F6)
akibat pembebanan gempa ultimit :

Tabel 4.18. Gaya Dalam Maksimum Gempa Ultimit Tipe F6


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
17 Comb25 851.7288 -111.9876 -6.7692
5 Comb24 848.5550 112.9659 13.1264
5 Comb21 723.9629 56.5367 35.1343

Contoh Kombo 25 :
P = 851,7288 tonf
Mx = -111,9876 tonf-m
My = -6,7692 tonf-m
P = 2 x 130 ton = 260 ton (kapasitas gempa ultimit = 2,0 x Pijin)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 194


Tabel 4.19. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F6 Kombo 25

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 141.95 -49.77 0.64 92.82 OK
p2 141.95 -49.77 -0.64 91.55 OK
p3 141.95 0.00 -1.74 140.22 OK
p4 141.95 49.77 -0.64 191.09 OK
p5 141.95 49.77 0.64 192.36 OK
P6 141.95 0.00 1.74 143.69 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 6 (P6) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
851,7288  111,9876  0  6,7692   0,5625
Ptiang   
6 1,2656 5,9891
Ptiang  143,69

Ptiang = 143,69 ton < 260 ton……… OK. GEMPA ULTIMIT

Tabel 4.20. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F6 Kombo 24

P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang


Pile no. Check
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 141.43 50.21 -1.23 190.40 OK
p2 141.43 50.21 1.23 192.87 OK
p3 141.43 0.00 3.37 144.79 OK
p4 141.43 -50.21 1.23 92.45 OK
p5 141.43 -50.21 -1.23 89.99 OK
P6 141.43 0.00 -3.37 138.06 OK

Tabel 4.21. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F6 Kombo 21

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 120.66 25.13 -3.30 142.49 OK
p2 120.66 25.13 3.30 149.09 OK
p3 120.66 0.00 9.02 129.68 OK
p4 120.66 -25.13 3.30 98.83 OK
p5 120.66 -25.13 -3.30 92.23 OK
P6 120.66 0.00 -9.02 111.65 OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 195


c) Check Pile Force Pondasi Tipe F8

P1 P2 P3 P4

P8 P7 P6 P5

Gambar 4.10. Pondasi tipe F8

Dimensi kolom = 60 cm x 110 cm


Dimensi pondasi = 45 cm x 45 cm
Kapasitas 1 pile, Pijin = 130 ton
n pile (jumlah tiang) = 8
Jarak antar pile = 2,5 D (2,5 x 0,45 m = 1,125 m)
Jarak pile ke tepi = 1 D (0,45 m)

Koordinat masing-masing pile terhadap pusat kolom adalah :

Tabel 4.22. Koordinat Pile Tipe F8

Pile No. X Y X2 Y2
(m) (m) (m2) (m2)
p1 -1.6875 0.5625 2.8477 0.3164
p2 -0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p3 0.5625 0.5625 0.3164 0.3164
p4 1.6875 0.5625 2.8477 0.3164
p5 1.6875 -0.5625 2.8477 0.3164
p6 0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
p7 -0.5625 -0.5625 0.3164 0.3164
p8 -1.6875 -0.5625 2.8477 0.3164
∑ (Jumlah) 12.6563 2.5313

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 196


Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 8 tiang (F8)
akibat pembebanan gempa nominal :

Tabel 4.23. Gaya Dalam Maksimum Gempa Nominal Tipe F8


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
10 Comb8 987.1863 56.2514 5.6417
14 Comb8 888.1124 59.2399 3.6353
8 Comb4 776.4300 -9.8593 -20.0562

Contoh Kombo 8 :
P = 987,1863 tonf
Mx = 56,2514 tonf-m
My = 5,6417 tonf-m
P = 1,5 x 130 ton = 195 ton (kapasitas gempa nominal = 1,5 x Pijin)

Tabel 4.24. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F8 Kombo 8

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 123.40 12.50 -0.75 135.15 OK
p2 123.40 12.50 -0.25 135.65 OK
p3 123.40 12.50 0.25 136.15 OK
p4 123.40 12.50 0.75 136.65 OK
p5 123.40 -12.50 0.75 111.65 OK
p6 123.40 -12.50 0.25 111.15 OK
p7 123.40 -12.50 -0.25 110.65 OK
p8 123.40 -12.50 -0.75 110.15 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 1 (P1) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
987,1863 56,2514  0,5625 5,6417   1,6875
Ptiang   
8 2,5313 12,6563
Ptiang  135,15

Ptiang = 135,15 ton < 195 ton……… OK. GEMPA NOMINAL

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 197


Tabel 4.25. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F8 Kombo 8

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 111.01 13.16 -0.48 123.69 OK
p2 111.01 13.16 -0.16 124.02 OK
p3 111.01 13.16 0.16 124.34 OK
p4 111.01 13.16 0.48 124.66 OK
p5 111.01 -13.16 0.48 98.33 OK
p6 111.01 -13.16 0.16 98.01 OK
p7 111.01 -13.16 -0.16 97.69 OK
p8 111.01 -13.16 -0.48 97.36 OK

Tabel 4.26. Check Pile Force Gempa Nominal Pondasi Tipe F8 Kombo 4

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 97.05 -2.19 2.67 97.54 OK
p2 97.05 -2.19 0.89 95.75 OK
p3 97.05 -2.19 -0.89 93.97 OK
p4 97.05 -2.19 -2.67 92.19 OK
p5 97.05 2.19 -2.67 96.57 OK
p6 97.05 2.19 -0.89 98.35 OK
p7 97.05 2.19 0.89 100.14 OK
p8 97.05 2.19 2.67 101.92 OK

Data gaya dalam maksimum kolom dengan tipe pondasi 8 tiang (F8)
akibat pembebanan gempa ultimit :

Tabel 4.27. Gaya Dalam Maksimum Gempa Ultimit Tipe F8


Joint Load FZ MX MY
Label Case/Combo (tonf) (tonf-m) (tonf-m)
10 Comb24 1030.4208 109.1180 11.1773
14 Comb24 846.3105 112.0926 7.6246
8 Comb20 767.9745 -20.1436 -35.0280

Contoh Kombo 24 :
P = 1030,4208 tonf
Mx = 109,1180 tonf-m
My = 11,1773 tonf-m
P = 2 x 130 ton = 260 ton (kapasitas gempa ultimit = 2,0 x Pijin)

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 198


Tabel 4.28. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F8 Kombo 24

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 128.80 24.25 -1.49 151.56 OK
p2 128.80 24.25 -0.50 152.55 OK
p3 128.80 24.25 0.50 153.55 OK
p4 128.80 24.25 1.49 154.54 OK
p5 128.80 -24.25 1.49 106.04 OK
p6 128.80 -24.25 0.50 105.05 OK
p7 128.80 -24.25 -0.50 104.06 OK
p8 128.80 -24.25 -1.49 103.06 OK

Contoh perhitungan untuk pile no. 1 (P1) :


P Mx  y My x
Ptiang   
n  y2  x2
1030,4248 109,1180  0,5625 11,1773   1,6875
Ptiang   
8 2,5313 12,6563
Ptiang  151,56

Ptiang = 151,56 ton < 260 ton……… OK. GEMPA ULTIMIT

Tabel 4.29. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F8 Kombo 24

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 105.79 24.91 -1.02 129.68 OK
p2 105.79 24.91 -0.34 130.36 OK
p3 105.79 24.91 0.34 131.04 OK
p4 105.79 24.91 1.02 131.71 OK
p5 105.79 -24.91 1.02 81.90 OK
p6 105.79 -24.91 0.34 81.22 OK
p7 105.79 -24.91 -0.34 80.54 OK
p8 105.79 -24.91 -1.02 79.86 OK

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 199


Tabel 4.29. Check Pile Force Gempa Ultimit Pondasi Tipe F8 Kombo 20

Pile no. P/n Mx*Y / ∑Y2 My*X / ∑X2 P tiang Check


(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
p1 96.00 -4.48 4.67 96.19 OK
p2 96.00 -4.48 1.56 93.08 OK
p3 96.00 -4.48 -1.56 89.96 OK
p4 96.00 -4.48 -4.67 86.85 OK
p5 96.00 4.48 -4.67 95.80 OK
p6 96.00 4.48 -1.56 98.92 OK
p7 96.00 4.48 1.56 102.03 OK
p8 96.00 4.48 4.67 105.14 OK

d) Hasil Desain
Dari hasil perhitungan didapat bahwa kapasitas pondasi masih memenuhi
syarat untuk kombinasi pembebanan gravity, pembebanan kombinasi dengan
gempa nominal, dan pembebanan kombinasi dengan gempa ultimit. Untuk desain,
kapasitas pondasi dapat dicari sesuai kondisi tanah atau parameter lainnya yang
mengacu pada berbagai metode penentuan daya dukung tiang, sehingga didapat
kapasitas tipe pondasi yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan berbagai
kombinasi pembebanan yang telah ditentukan.

Gambar 4.11. Desain Pondasi Titik Pancang 45 cm x 45 cm

Aplikasi ETABS Struktur Dual System (M. Hamzah F) Page 200


DAFTAR PUSTAKA

ASCE/SEI 7-10 (2010). Minimum Design Loads For Building and Other

Structures, American Society of Civil Engineers, Reston, Virginia.

Desain Spektra Indonesia, diakses Mei 2015,

http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Standar Nasional Indonesia (SNI 1726-2012). Tata Cara Perencanaan Ketahanan

Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, Badan

Standarisasi Nasional, 2012.

Standar Nasional Indonesia (SNI 2847-2013). Persyaratan Beton Struktural untuk

Bangunan Gedung, Badan Standarisasi Nasional, 2013.

Standar Nasional Indonesia (SNI 1727-2013). Beban Minimum untuk

Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Badan Standarisasi

Nasional, 2013.

viii