Anda di halaman 1dari 2

 Gejala LUTS ( lower urinary tract simtop

Gejala ters obstruktif :

1. Sulit memulai aliran urine (hesitancy),


2. pancaran kencing yang lemah (weak stream)
3. kencing tidak lampias (incomplete emptying)
4. mengedan saat kencing (straining)
5. kencing terputus-putus (intermittency)

Gejala iritasi :

1. tidak dapat menunda kencing (urgency),


2. sering kencing (frequency)
3. kencing di malam hari (nocturia)

 Komplikasi TURP

Komplikasi TURP dibagi menjadi komplikasi (1) intraoperatif, (2) perioperatif /segera postoperative
dan (3) komplikasi jangka panjang :

Komplikasi intraoperatif :

1. Perdarahan : Perdarahan arteri dapat terjadi pada infeksi preoperative atau retensi urin
akibat dari kongesti kelenjar
2. Sindrom Reseksi Transurethral ( TURP Sindrom ) : sindroma TUR dikarakteristikan dengan
adanya penurunan status mental, mual, muntah, hipertensi, bradikardia dan gangguan
penglihatan.
Sindrom TURP : hiponatremia, hipoosmolaritas, overload cairan, edema paru, hipotensi, hiperglikemi

Komplikasi perioperatif/postoperative :

1. Tamponade Vesika urinaria : Perdarahan rekuren dan persisten bisa mengakibatkan


terbentuknya formasi klot dan tamponade vesika urinaria, hal ini membutuhkan evakuasi
atau bahkan intervensi kembali
2. Infeksi Traktus Urinarius : infeksi traktus urinarius adalah berasal dari bakterimia
perioperatif, durasi prosedur yang memanjang, penggunaan kateter preoperatif,
pemajangan masa rawat inap di RS dan drainase kateter yang tidak tetap.
3. Retensi Urin : Retensi urin setelah pelepasan kateter terjadi pada sekitar 3-9 % kasus dan
lebih disebabkan karena kegagalan detrusor daripada reseksi inkomplet

KOMPLIKASI JANGKA PANJANG

1. Inkontinensia urine
2. Striktur uretra
3. Stenosis Leher Vesika
4. Disfungsi seksual
 Indikasi pemasangan kateter
1. penderita kehilangan kesadaran,
2. persiapan operasi atau pasca operasi besar
3. terjadinya retensi atau inkontinensia urine

 kontra indikasi pemasangan kateter


1. cedera uretra dan/atau pasien yang mampu untuk berkemih spontan

Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat dan De


jong (2005) secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4 gradiasi :
 Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur
ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan
sisa urin kurang dari 50 ml
 Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok dubur
dan batas atas dapat dicapai, sedangkan sisa volum urin 50-
100 ml.
 Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas
prostat tidak dapat diraba dan sisa volum urin lebih dari
100ml.
 Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total