Anda di halaman 1dari 19

DI SUSUN OLEH :

Asmarita (09220170009)
Mutiah Alfirah ( 09220170010 )
Nur Azizah Ismail ( 09220170011 )
Nur Amelia D Djuanda ( 09220170012)
Muslindah Muharram ( 09220170015 )
RYZKA DZULHIJAH ( 09220170016 )
Nur Amalia Husna ( 09220170017 )
Nadya Amelia ( 09220170018)
NURLAELAH ( 09220170019 )
Ridwan ( 09220170020 )

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaiakan makalah ini
dengan judul IODIMETRI. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
kelompok dalam mata kuliahan KIMIA ANALISIS I.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna bagi kami
semua dalam memenuhi salah satu syarat tugas kami di perkuliahan. Makalah ini
diharapkan bisa bermanfaat dengan efisien dalam proses perkuliahan.
Dalam menyusun makalah ini kami telah berusaha dengan segenap kemampuan
dan kerjasama kami untuk membuat makalah yang sebaik-baiknya.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya . Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah yang berjudul “IODIMETRI ” dapat
memeberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Makassar, 01 Mei 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Titrasi Iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi
oksidasi reduksi. Metode ini lebih banyak digunakan dalam analisa jika
dibandingkan dengan metode lain. Alasan dipilihnya metode ini karena
perbandingan stokiometri yang sederhana pelaksanaannya, praktis dan tidak
banyak masalah dan mudah.
Iodimetri adalah jika titrasi terhadap zat-zat reduktor dengan titrasi langsung
dan tidak langsung. Dilakukan percobaan ini untuk menentukan kadar-kadar zat
oksidator secara langsung, seperti kadar yang terdapat pada serbuk vitamin C.
Dalam bidang farmasi metode ini digunakan untuk menentukan kadar zat-
zat yang mengandung oksidator, misalnya Cl2, Fe(III), Cu(II) dan sebagainya.
Sehingga mengetahui kadar suatu zat berarti mengetahui mutu dan kualitasnya.
(Nurirjawati El Ruri, 2012)

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang di atas, kita bisa menentukan rumusan masalah yang
akan dibahas dalam makalah ilmiah ini, yaitu :

1. Prinsip iodimetri
2. Perhitungan iodimetri
3. Contoh titrasi secara iodimetri

1.3 TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ilmiah ini, yaitu :

1. Kita dapat mengetahui prinsip iodimetri


2. Mengetahui perhitungan iodimetri
3. Mengetahui contoh titrasi pada iodimetri

1
1.4 MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dalam penulisan makalah ilmiah ini, yaitu :
1. Sebagai pedoman untuk menambah pengetahuan dalam membuat makalah
2. Untuk menambah pengetahuan tentang iodimetri pada kimia analisis
3. Sebagai bahan bacaan.

1
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 TEORI UMUM IODIMETRI


Iodimetri merupakan metode titrasi atau volumetri yang pada penentuan
atau penetapan berdasar pada jumlah I2(Iodium) yang bereaksi dengan sampel
atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel atau terbentuk dari hasil reaksi
antara sampel dengan ion iodide (I).
Metode ini tergolong titrasi langsung, berbeda dengan metode iodometri
yang sama-sama menggunakan I2 sebagai dasar penetapannya.Iodimentri
termasuk titrasi redoks dengan I2 sebagai titran sepetri dalam reaksi redoks
umumnya yang harus selalu ada oksidator dam reduktor, sebab bila suatu unsur
bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan electron), maka harus ada suatu
unsure yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (Menangkap electron),
jadi tidak mungkin hanya ada oksidator atau reduktor saja. Dalam metode analisis
ini analit dioksidasikan oleh I2, sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodide, dengan
kata lain I2 bertindak sebagai oksidator dengan reaksi :
I2 + 2e- 2l-
Indikator yang digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi biasanya
adalah kanji atau amilum 0,5-1%, karbon tetraklorida atau kloroform dapat
mengetahui titik akhir titrasi akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan
(disperse koloidal) kanji. Warna yang terjadi adalah biru tua hasil reaksi I2 –
Amilum. Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran
asam lemah dan basa lemah. pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami
reaksi disproporsionasi menjadi hipoidat.
-
I2 + 2OH IO3- + I- + H2O (Hamdani, 2012)
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi
(iodimetri). Relatiff beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat
untuk dititrasi secara langsung dengan iodium, maka jumlah penentuan penentuan
iodimetrik adalah sedikit, akan tetapi banyak pereaksi oksidasi yang cukup kuat
untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses

1
iodimetrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi
yang ditentukan, dengan pembahasan iodium yang kemudian dititrasi dengan
larutan natrium tiosulfat.
Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri)
mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan ion standar. Metode titrasi tak
langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi
dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia.
Iodium merupakan oksidator yang relatif kuat dengan nilai potensial
oksidasi sebesar +0,535√. Pada saat reaksi oksidasi, iodium akan direduksi
menjadi iodida sesuai dengan reaksi.
I2 + 2e 2 l-
Iodium akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang mempunyai potensial
reduksi yang lebih kecil dibanding iodium. Vitamin C mempunyai reduksi yang
lebih kecil daripada iodium sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan
iodium.
Larutan baku iodium yang telah dibakukan dapat digunakan untuk
membakukan larutan natrium tiosulfat. Deteksi titik akhir pada iodimetri ini
dilakukan dengan menggunakan indikator amilum yang akan memberikan warna
biru pada saat tercapainya titik akhir.
Pada farmakope indonesia, titrasi iodimetri digunakan untuk menetapkan
kadar asam askorbat, natrium tiosulfat, metampiron (antalgin), serta natrium
tiosulfat dan sediaan injeksi.
Larutan I2 digunakan untuk mengoksidasi reduktor secara kuantitatif pada
titik ekuivalennya. Namun, cara pertama ini jarang diterapkan karena
I2 merupakan oksidator lemah, dan adanya oksidator kuat akan memberikan reaksi
samping dengan reduktor. Adanya reaksi samping ini mengakibatkan
penyimangan hasil penetapan.

1
2.2 PRINSIP IODIMETRI

Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi


(iodimetri). Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda
penentuan atau penetapan kuantitatif yang pada dasar penentuannya adalah
jumlah I2 yang bereaksi dengan sample atau terbentuk dari hasil reaksi antara
sample dengan ion iodida . Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai
penitar.

Titrasi iodimetri merupakan titrasi langsung terhadap zat – zat yang


potensial oksidasinya lebih rendah dari sistem iodium – iodida, sehingga zat
tersebut akan teroksidasi oleh iodium. Cara melakukan analisis dengan
menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung disebut
iodimetri, dimana digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-
reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya.

Iodimetri adalah oksidasi kuantitatif dari senyawa pereduksi dengan


menggunakan iodium. Iodimetri ini terdiri dari 2, yaitu (2);

a. Iodimetri metode langsung, bahan pereduksi langsung dioksidasi


dengan larutan baku Iodium. Contohnya pada penetapan kadar Asam
Askorbat.

b. Iodimetri metode residual ( titrasi balik), bahan pereduksi dioksidasi


dengan larutan baku iodium dalam jumlah berlebih, dan kelebihan iod
akan dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat. Contohnya pada
penetapan kadar Natrium Bisulfit.

Dalam titrasi iodimetri, iodin dipergunakan sebagai sebuah agen


pengoksidasi, namun dapat dikatakan bahwa hanya sedikit saja substansi yang
cukup kuat sebagai unsur reduksi yang dititrasi langsung dengan iodin. Karena
itu jumlah dari penentuan-penentuan iodimetrik adalah sedikit. Substansi-
substansi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur reduksi untuk dititrasi
langsung dengan iodin yaitu zat-zat dengan potensial reduksi yang jauh lebih

1
rendah adalah tiosulfat, arsenik (III), antimon (III), sulfida, sulfit, timah (II) dan
ferosianida, zat-zat ini bereaksi lengkap dan cepat dengan iod bahkan dalam
larutan asam. Dengan zat pereduksi yang agak lemah, misal arsen trivalen atau
stibium trivalen, reaksi yang lengkap hanya akan terjadi bila larutan dijaga tetap
netral atau sangat sedikit asam, pada kondisi ini potensial reduksi dari zat
pereduksi adalah minimum atau daya mereduksinya adalah maksimum.

2.3 PERHITUNGAN IODIMETRI

Iodium merupakan oksidator yang relatif lemah. Oksidasi potensial


sistem yodium yodida ini dapat dituliskan sebagai reaksi berikut ini :
I2 + 2 e- 2 I- Eo = + 0,535 vol

1. Iodimetri dengan I2 sebagai Titran


Metode titrasi iodimetri adalah titrasi redoks yang menggunakan larutan
standar iodium sebagai titran dalam suasana netral atau sedikit asam. Titrasi
ini diebut juga dengan titrasi langsung karena dalam proses titrasi ini
I2 berfungsi sebagai pereaksi. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator
dan reduktor, sebab bila suatu unsur bertambah bilangan
oksidasinya (melepaskan electron ), maka harus ada suatu unsur yang
bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron), jadi tidak
mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja. Dalam metoda
analisis ini , analat dioksidasikan oleh I2 , sehingga I2 tereduksi menjadi ion
iodida :

A ( Reduktor ) + I2 → A ( Teroksidasi ) + 2 I -

Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah) ,


sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat
dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amilum yang akan
memberikan warna biru pada titik akhir penitaran .

I2 + 2 e - → 2 I-

1
Larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 murni selanjutnya
distandarisasi dengan Na-tiosulfat. I2 merupakan oksidator yang bersifat
moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat
terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri
adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena
sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif
dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat.

Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan menggunakan


standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan
kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan
iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan
I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang
dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.

Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam


kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka
iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.

2. Indikator dalam Iodimetri

Pada titrasi iodimetri ini dilakukan dalam keadaan netral atau


dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa
kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi
hipoiodat.

I2 + 2OH- <-> IO3- + I- + H2O

Sedangkan pada keadaan asam kuat maka biasanya indikator


yang digunakan adalah kanji/amilum. Indikator yang digunakan pada
titrasi iodimetri dan iodometri adalah larutan kanji .Kanji atau pati
disebut juga amilum yang terbagi menjadi dua yaitu: Amilosa (1,4) atau
disebut b-Amilosa dan Amilopektin (1,4) ; (1,6) disebut a-Amilosa.
Namun untuk indicator, lebih lazim digunakan larutan kanji, karena

1
warna biru tua kompleks pati – iod berperan sebagai uji kepekaan
terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit
asam daripada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion
iodida. Molekul iod diukat pada permukaan beta amilosa, suatu
konstituen kanji. Indikator kanji yang dipakai adalah amilosa, karena jika
dipakai amilopektin, maka akan membentuk kompleks kemerah-merahan
(violet) dengan iodium, yang sulit dihilangkan warnanya karena
rangkaiannya yang panjang dan bercabang dengan Mr= 50.000 –
1.000.000. Warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga
iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga
memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut
seperti karbon tetraklorida dan kloroform dan terkadang kondisi ini
dipergunakan dalam mendeteksi titik akhir dari titrasi-titrasi. Namun,
pada percobaan iodimetri kali ini kita menggunakan larutan kanji sebagai
indikator. Kanji bereaksi dengan iod, dengan adanya iodida membentuk
suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada
konsentrasikonsentrasi iod yang sangat rendah. Kepekaan reaksi warna
ini adalah sedemikian rupa sehingga warna biru akan terlihat bila
konsentrasi iod adalah 2 x 10-5 M dan konsentrasi iodida lebih besar
daripada 4 x 10-4 M pada 20oC. Kepekaan warna berkurang dengan
naiknya temperatur larutan. Kanji tidak dapat digunakan dalam medium
yang sangat asam karena akan terjadi hidrolisis pada kanji itu sendiri.
Keunggulan pada pemakaian kanji ini yaitu bahwa harganya murah,
namun terdapat kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut : (i) bersifat
tidak dapat larut dalam air dingin; (ii) ketidak stabilan suspensinya dalam
air; (iii) dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat larut dalam
air, sehingga kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi
(karena itu, dalam titrasiiod larutan kanji hendaknya tak ditambahkan
sampai tepat sebelu m titik akhir, ketika warna mulai memudar). Iodida
pada konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum.
Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.

1
Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air
sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi amilum yang
dipakai sebagai indikator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini
iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya
O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.

4I- + O2 + 4H+ -> 2I2 + 2H2O

Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator


dimana titik akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-
I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi penentuan denga iodimetri
ditulis dalam reaksi berikut:

H2S + I2 -> S + 2I- + 2H+

SO32- + I2 + H2O -> SO42- + 2I- + 2H+

Sn2+ + I2 -> Sn4+ + 2I-

H2AsO3 + I2 + H2O -> HAsO42- + 2I- + 3H+

3. Penentuan Titik Akhir Titrasi Iodimetri


Seperti yang telah kita ketahui bahwa titik akhir titrasi (TAT)
redoks dapat dilakukan dengan megukur potensial larutan dan dengan
menggunakan indikator. Penentuan titik akhir titrasi didasarkan adanya
I2 yang bebas. TAT dengan mengukur potensial memerlukan peralatan
yang agak lebih banyak deperti penyediaan voltameter dan elektroda
khusus, dan kemudian diikuti dengan pembuatan kurva titrasi redoks
maka dengan alasan kemudahan dan efisiensi maka TAT dengan
menggunakan indikator yang lebih banyak untuk diaplikasikan.

2.4 TITRASI PADA IODIMETRI

1. Alat yang digunakan:

a. Buret 50ml

1
b. Corong

c. Erlenmeyer 250 ml

d. Gelas ukur 50 ml dan 10 ml

e. Gelas kimia 500 ml dan 100 ml

f. Labu ukur 100 ml

g. Pipet tetes

h. Sendok tanduk

i. Timbangan analitik

j. Aluminium foil

2. Bahan yang digunakan:

a. Aquadest

b. Asam sulfat 10% 5 ml

c. Indikator kanji 1%

d. Larutan baku I2 0,1 N

e. Vitamin C 0,2 g

3. Prosedur kerja percobaan

Penetaapan kadar vitamin C

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Ditimbang 400 mg asam askorbat dan dilarutkan dalam 100

ml aquadest bebas CO2 dan 5 ml H2SO4 dalam erlenmeyer

c. Ditambahkan indikator kanji 2-3 tetes kedalam erlenmeyer

d. Dititrasi dengan I2 yang telah dibakukan sampai terjadi

perubahan warna biru ke bening (hilang)

1
e. Diulangi percobaan sebanyak 2 kali

Pembuatan larutan baku I2 0,01 N

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Ditimbang dengan teliti 7 g I2 murni dengan botol timbang,

dimasukkan kedalam gelas piala

c. Ditimbang sampai 18 g KI dan larutkan dalam 50 ml air.

Ditambahkan dalam gelas piala yang berisi 7 g. I2 diaduk

dengan baik hingga homogen.

d. Dipindahkan kedalam labu ukur, diencerkan dengan air suling

sehingga volumenya menjadi 500 ml (sampai tanda batas)

sambil dikocok dengan baik hingga homogen.

e. Disimpan didalam botol yang tertutup berwarna coklat dalam

tempat yang gelas dan diberi etiket.

Cara kerja pembuatan kanji 5%

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Ditimbang 5 g kanji (amylum)

c. Dipanaskan aquadest 100 ml kemudian dimasukkan kanji

kedalam gelas kimia 100 ml sambil diaduk hingga homogen

d. Dimasukkan kedalam botol coklat dan diberi etiket

Cara kerja pembuatan H2S04 10%

a. Disiapkan alat dan bahan

b. Diukur 10,2 ml H2SO4

c. Dilarutkan dengan aquadest secukupnya dalam labu takar

1
100 ml dan dihomogenkan

d. Dicukupkan volumenya hingga 100 ml dan dihomogenkan

e. Dimasukkan kedalam botol pereaksi dan di beri etiket

4.Hasil Pengamatan

A. Tabel Pengamatan

No. Perlakuan Volume titrasi % kadar Perubahan warna

1. Erlenmeyer I 5 ml 40 % Biru – bening

(hilang)

2. Erlenmeyer II 7 ml 56,2 % Biru – bening

(hilang)

3. Erlenmeyer III 6,5 ml 49,8 Biru – bening

(hilang)

B. Pembahasan

Pada percobaan iodimetri menggukana metode titrasi

langsung yang mana dilakukan untuk zat-xat dengan oksidasi

potensial yang rendah dari sistem iodida, iodida dengan

menggunakan larutan baku adalah (I2), zat uji yang digunakan

pada percobaan ini adalah serbuk vitamin C.

Untuk mentapkan kadar vitamin C digunakan air bebas O2.

Guna untuk menghindarkan tereduksinya vitamin C oleh udara.

Dalam hal ini larutan iodium dapat dunakan sebagai indikator I2

dalam air.

1
Pada percobaan ini diperoleh volume titrasi erlenmeyer I

2,8 ml dengan persen kadar 24,7%, perubahan warna dari biru

menjadi bening (hilang). Pada erlenmeyer II didapat volume titrasi

1,2 ml dengan persen kadar 10,7 % dan terjadi perubahan warna

dari biru menjadi bening hilang.

Telah terjadi perubahan warna pada percobaan ini tetapi

ada yang tidak sesuai dengan literalur hasil yang didapatkan yaitu

perubahan warna dari biru tetapi tidak menjadi bening sempurna.

Rata-rata persen kadar yang di dapat adalah 17,7% ini

menunjukkan hasilnya tidak sesuai dengan literatur pada

farmakope yang menyatakan bahwa kadar dari asam askorbat

tidak kurang dari 99,9%.

Adapun perbedaan yang diperoleh tidak sesuai dengan

literatur. Disebabkan karena beberapa faktor kesalahan, yaitu :

a. Alat yang digunakan kurang steril

b. Kurang ketelitian dalam menimbang sampel

b. Pereaksi yang digunakan telah terkontaminasi

c. Kurangnya ketelitian saat melakukan praktikum

5. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan

bahwa :

1
a. Pada erlenmeyer I, persen kadarnya 24,7 %, berat sampel 200 mg

dan volume titrasi 2,5 ml. Pada erlenmeyer II, persen kadarnya

10,7% dengan volume titrasi 1,2 ml

b. Rata-rata persen kadar yang didapat adalah 17,7 % ini menunjukkan

hasil yang didapat tidak sesuai dengan literatur pada farmakope yang

menyatakan bahwa kadar dari vitamin C tidak kurang dari 99%.

6. Saran

Kami dari praktikan sangat mengharapkan bimbingan kakak

asisten baik saat praktikum maupun dalam pembuatan laporan. Dan

diharapkan alat dan bahan yang rusak mohon diganti/diperbaiki dan

dilengkapi.

1
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Dari bab pembahasan di atas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa


yang dimaksud Titrasi Iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang
didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Metode ini lebih banyak digunakan
dalam analisa jika dibandingkan dengan metode lain. Alasan dipilihnya
metode ini karena perbandingan stokiometri yang sederhana pelaksanaannya,
praktis dan tidak banyak masalah dan mudah.
Iodimetri adalah jika titrasi terhadap zat-zat reduktor dengan titrasi
langsung dan tidak langsung.

3.2 SARAN

Adapun saran yang dapat kami berikan dalam makalah ini yaitu
sebaiknya mahasiswa lebih mendalami pemahaman tentang materi
iodimetri ini karena materi ini merupakan materi dari salah satu mata
kuliah umum yang perlu di luluskan untuk pengambilan sks berikutnya.

1
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2012. //www.iodo-iodimetri.com.2012

Anonim, 2010.//www. Titrasi iodometri dan iodimetri.com

Anonim. 2012.//www. Titrasi iodimetri.com

David. 2010. Analisis farmasi. Buku kedokteran : Jakarta

Direktur jenderal RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departeman RI :

Jakarta

Gholib, ibnu. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka pelajar : Yogyakarta.

Mulyono, 2011. Membuat Reagen Kimia. Bumi Aksara : Jakarta

T im Dosen UIT. 2012. Penuntun praktikum Kimia Analisis. Universitas Indonesia

Timur : Makassar