Anda di halaman 1dari 90

ALAT UKUR

SISTEM PENGUKURAN MINYAK

PENGUKURAN DILAKUKAN UNTUK MENDAPATKAN DATA YANG


DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGETAHUI KUALITAS DAN
MENGHITUNG KUANTITAS MINYAK PADA SETIAP PERGERAKANNYA

CARA
PENGUKURAN MINYAK

STATIC DYNAMIC
MEASUREMENT SYSTEM MEASUREMENT SYSTEM
STATIC
STATIC MEASUREMENT
MEASUREMENT
SYSTEM
SYSTEM

PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA


SAAT MINYAK DALAM KEADAAN DIAM (STATIC) DAN
MEMERLUKAN WAKTU PENGENDAPAN (SETTLING TIME)
YANG CUKUP
PERALATAN UTAMA
MERUPAKAN ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR
SIFAT FISIKA DARI PRODUK MINYAK BUMI, DI LAPANGAN MAUPUN DI
DALAM LABORATORIUM, SESUAI DENGAN METODE STANDARD YANG
TELAH DITENTUKAN ATAU DIGUNAKAN

BAN UKUR
ASTM D. 1085 ATAU API 2545

BAN UKUR DILENGKAPI DENGAN


PEMBERAT RUNCING YANG BERSKALA

DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR


KETINGGIAN CAIRAN ( MINYAK DAN AIR )
YANG TERDAPAT DI DALAM TANGKI
TIMBUN.

BAN UKUR INI BISA DIGUNAKAN UNTUK


MENGUKUR AIR BEBAS JIKA TIDAK
TERSEDIA WATER STICK BAR
WATER STICK BAR
ASTM D. 1085

ADALAH TONGKAT YANG BERSKALA


MEMPUNYAI PANJANG ± 1 METER

DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR KETINGGIAN


AIR BEBAS DITANGKI DARAT ATAU TANKER

CUP/FLUSHING
CASE ASSEMBLY
(ASTM D. 1086 ATAU API 2543)

SUATU ALAT UKUR SUHU MINYAK DALAM


TANGKI BERUPA THERMOMETER YANG
BERSKALA ºC ATAU ºF

PADA BAGIAN BAWAHNYA DILENGKAPI


DENGAN BEJANA KECIL 200 ML, GUNA
MENAMPUNG CAIRAN YANG HENDAK
DIUKUR SUHUNYA
HYDROMETER
(ASTM D. 1298 ATAU API 2547)

HYDROMETER CYLINDER DARI TABUNG GLASS


DENGAN INSIDE DIAMETER TABUNG TIDAK KURANG
DARI 25 MM, YANG DIPAKAI UNTUK MENGUKUR
KERAPATAN CAIRAN DENSITY, SPECIFIC GRAVITY
DAN ºAPI GRAVITY CAIRAN

WEIGHTED BREAKER/BOTTLE
ASTM D. 270 ATAU API 2545

ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGAMBIL


CONTOH MINYAK YANG TERDAPAT DIDALAM
TANGKI

CENTRIFUGE
ASTM D.96 ATAU API 2542

ALAT UNTUK MENGANALISA KADAR AIR DAN


SEDIMEN ATAU ALAT PEMUTAR TABUNG
CENTRIFUGE(KERUCUT/PEAR) YANG TERBUAT
DARI GLASS BERSKALA MM ATAU %
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG)

ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA


TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT
MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR DAN DENSITY
HASIL PENGUKURANNYA AKAN DI OLAH OLEH
KOMPUTER
OIL INDICATING PASTE

PASTA MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA


BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR

WATER INDICATING PASTE

PASTA AIR YANG MEMBERIKAN TANDA


BATAS LEVEL ATAS BOB PITA UKUR ATAU
WATER STICK BAR
PERSYARATAN ALAT UKUR
1. PITA UKUR DAN BANDUL
a. PENGUKURAN DENGAN METODE INNAGE ATAU OUTAGE
* JENIS PITA UKUR SESUAI STANDAR ASTM D. 1085-API 2545
* PANJANG PITA UKUR DISESUAIKAN DENGAN TINGGI TANKI

b. STANDAR BANDUL
* BERUJUNG RUNCING
* BERSKALA
* LEVEL CAIRAN LEBIH DARI 12 m, BERAT BANDUL 800 GRAM
* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 m, BERAT BANDUL 600 GRAM

2. RANGE HYDROMETER DENSITY

a. PERTAMAX, PERTAMAX PLUS 0.700 s/d 0.750


b. PREMIUM, AVGAS 0.700 s/d 0.750
c. KEROSINE, AVTUR 0.750 s/d 0.800
d. MINYAK SOLAR 0.800 s/d 0.850
e. MINYAK DIESEL 0.850 s/d 0.900
f. MINYAK BAKAR 0.900 s/d 0.950
ANGKA KETELITIAN HASIL PEMBACAAN ± 0.0001
MINISCUS CORECTION FACTOR TABEL-1 ASTM D.1298
3. GELAS UKUR (MAT GLASS)
a. TEMBUS PANDANG
b. BERSKALA
c. UKURAN 1000 mL

4. PASTA MINYAK DAN PASTA AIR (COLOR KIT)


PERUBAHAN WARNA (COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS

5. THERMOMETER
a. STANDAR IP64C
b. RANGE – 20 ºC SAMPAI DENGAN 102 ºC
DYNAMIC
DYNAMICMEASUREMENT
MEASUREMENTSYSTEM
SYSTEM

ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG


DIGUNAKAN SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH)

POSITIVE DISPLACEMENT
FLOW METER

TURBINE FOLW METER

METER PROVER

INSTALASI
WATER
DRAW
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL
DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
(ASTM D.1085 – API 2545)

1. INNAGE METHOD
PADA METODE INI YANG DIUKUR KETINGGIAN CAIRANNYA

2. ULLAGE ATAU OUTAGE METHOD


PADA METODE INI YANG DIUKUR RUANG KOSONG DALAM TANKI
ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK
BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE POINT)
GAGING TAPE GAGING TAPE

REFERENCE REFERENCE POINT READING


DIP
POINT HATCH
READING

REFERENCE POINT
READING GAGING TAPE

TAPE
CUT
LIQUID
LEVEL
TANK ROOF
OUTAGE

BOB
CUT LIQUID
LEVEL
INNAGE

INNAGE BOB CUT


BOB

DATUM DATUM
PLATE PLATE

INNAGE METHOD OUTAGE METHOD


PERSIAPAN SEBELUM PENGUKURAN

YAKINKAN PERALATAN UKUR DALAM KEADAAN BERSIH DAN KERING


SERTA LENGKAP

YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK YANG AKAN DIUKUR

PERIKSA SEMUA KERANGAN TANKI HARUS DALAM KEADAAN TERTUTUP


RAPAT

YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP

FORMULIR TANK TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT DATA HASIL


PENGUKURAN

SEBELUM NAIK KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI MASIH DALAM


KEADAAN BAIK

PERIKSA GROUNDING CABLE DITANKI YANG HENDAK DIUKUR MASIH


DALAM KEADAAN TERSAMBUNG (TIDAK PUTUS)
TATACARA PENGUKURAN LEVEL CAIRAN
DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545)

1
PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE
INNAGE

2
PENGUKURAN DILAKSANAKAN MELALUI
LOBANG DIP HATCH ATAU SLOT DIPPING
DEVICE

3
PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA
UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN
DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN
CAIRAN
4
SELAMA PENGUKURAN, PITA UKUR HARUS
SELALU MENEMPEL PADA BIBIR
LOBANG TITIK UKUR ATAU REFERENCE
POINT

5
PENURUNAN PITA UKUR HARUS
DILAKSANAKAN SECARA PELAN-PELAN
DAN PADA PERMUKAAN CAIRAN TIDAK
BOLEH TERJADI RIAK HINGGA UJUNG
BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR
ATAU DATUM PLATE

6
WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR
a. MINYAK PREMIUM ANTARA 5 - 10 DETIK
b. MINYAK KEROSINE ANTARA 5 - 10 DETIK
c. MINYAK SOLAR ANTARA 5 - 10 DETIK
d. MINYAK DIESEL ANTARA 10 - 30 DETIK
e. MINYAK BAKAR ANTARA 30 - 60 DETIK
7
TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA
HARUS TETAP MENEMPEL PADA
REFERENCE MARK

8
ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN BILA
PERBEDAAN HASLNYA LEBIH KECIL
DARI 3 MM MAKA DICATAT SEBAGAI HASIL
PENGUKURAN

9
APABILA HASILNYA SAMA ATAU LEBIH
BESAR DARI 3 MM HARUS DILAKUKAN
PENGUKURAN ULANG SAMPAI
MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK

10
TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA
HARUS TETAP MENEMPEL PADA
REFERENCE MARK
CONTOH

a. PENGUKURAN PERTAMA 6831 MM


PENGUKURAN KEDUA 6833 MM Lebih Kecil 2 mm dari 6831 mm
PENGUKURAN KETIGA 6831 MM
UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM

b. PENGKURAN PERTAMA 6831 MM


Lebih Kecil 3 mm dari 6831 mm
PENGUKURAN KEDUA 6834 MM
PENGUKURAN HARUS DIULANG

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

c. PENGUKURAN PERTAMA 6831 MM


PENGUKURAN KEDUA 6834 MM Lebih Kecil 2 mm dari 6834 mm
PENGUKURAN KETIGA 6836 MM
UKURAN YANG DIPAKAI 6834 MM
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL
DI TANGKI KAPAL
TATACARA PENGUKURAN LEVEL CAIRAN
DI TANKI KAPAL (ASTM D.1085 – API 2545)

PADA DASARNYA TATA CARA PENGUKURAN


1 LEVEL DI TANKI KAPAL SAMA DENGAN TATA
CARA PENGUKURAN DI TANKI DARAT

2 PENGUKURAN MENGGUNAKAN
METODE OUTAGE

3 BEBERAPA YANG PERLU


DIPERHATIKAN

POSISI KAPAL FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL


• EVEN KEEL (SAMA RATA) PADA TABEL KALIBRASI KAPAL
• TRIM ATAU SELISIH DRAFT DEPAN (FORE (CORECTION FACTOR)
DRAFT) DAN DRAFT BURITAN (AFTER
DRAFT)
• HEEL ATAU KEMIRINGAN KAPAL, KEKIRI
(PORT) ATAU KEKANAN (STARBOARD)
ALAT UKUR KAPAL TANKER

PADA KAPAL TANKER BESAR PADA KOMPARTEMEN


DILENGKAPI SARANA ALAT UKUR AUTOMATIC YANG
DIPASANG SECARA PERMANEN.
DATA HASIL PENGUKURANNYA SECARA AUTOMATIC
DIOLAH OLEH KOMPUTER

PADA TANKER KECIL PENGUKURAN LEVEL


MENGGUNAKAN ALAT MARINE MOISTURE
CONTROL (MMC)
TATACARA PENGUKURAN
SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
DI TANKI DARAT DAN KAPAL
(ASTM D.1085 – API 2543)

PENGUKURAN SUHU HARUS DILAKSANAAN SETELITI MUNGKIN, TEPAT


DAN AKURAT KARENA SANGAT BERPENGARUH LANGSUNG TERHADAP
HASIL PERHITUNGAN MINYAK

THERMOMETER YANG DIGUNAKAN MEMUNYAI TINGKAT


KETELITIAN +25° C

SEBELUM DIGUNAKAN DIPERIKSA TERHADAP KELAIKANNYA


DENGAN MEMBANDINGKAN DENGAN THERMOMETER
STANDARD

THERMOMETER YANG DIGUNAKAN ADALAH THERMOMETER


ASTM YANG BERSKALA °C DAN °F

JENIS ADALAH CUP CASE ATAU FLUSHING CASE ASSEMBLY


WAKTU YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCELUPKAN
THERMOMETER TERGANTUNG PADA JENIS PRODUK

a. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL


DIBAWAH 100 DETIK PADA SUHU 100 °F SELAMA 5 MENIT

b. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL


ANTARA 100 SAMPAI DENGAN 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
SELAMA 15 MENIT

c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL


DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F SELAMA 39 MENIT
JUMLAH MINIMUM PENGUKURAN SUHU YANG DIPERLUKAN
UNTUK BERBAGAI KEDALAMAN CAIRAN

TINGGI MINYAK POSISI KEDALAMAN SUHU HASIL


DALAM TANKI PENGUKURAN PENGUKURAN

a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN a+b+c


LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH
c. 1 M DIATAS DASAR 3

a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN b+c


ANTARA 3 – 5 M
b. 1 M DIATAS DASAR 2

KURANG DARI 3 M a. DI TENGAH a


TATACARA PENGUKURAN
DENSITY
TATA CARA PENGUKURAN DENSITY/SG/API
ASTM D. 1298 - API 2547

UNTUK MENGUKUR
TIGA MACAM
HYDROMETER 1. DENSITY (METRIC SYSTEM)
2. SPECIFIC GRAVITY (BRITISH SYSTEM)
3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)

BERAT SUATU MASSA CAIRAN DALAM VACUM PADA


DENSITY
VOLUME TERTENTU DALAM SUHU 15 °C (Kg/Ltr)

SPECIFIC PERBANDINGAN ANTARA BERAT SUATU MASSA DALAM


GRAVITY (SG) VOLUME TERTENTU PADA SUHU 60 °F DENGAN BERAT
MASA AIR MURNI PADA VOLUME YANG SAMA DAN
SUHU YANG SAMA PULA (60 °F/60 °F)

FUNGSI DARI 141,5


API
SPECIFIC API 60 °F/60 °F = { } – 131,5
GRAVITY SG 60 °F/60 °F
GRAVITY
ALAT UKUR

1. HYDROMETER (DENSITY/SG API)


2. STANDARD HYDROMETER
3. THERMOMETER
4. HYDROMETER CYLINDER

RANGE DENSITY YANG DIPERGNAKAN


TERGANTUNG DARI JENIS MINYAK YANG
DIUKUR

RANGE DENSITY (KG/LITER)


a. MINYAK PREMIUM : 0.700 S/D 0.750
b. MINYAK KEROSINE : 0.750 S/D 0.800
c. MINYAK SOLAR : 0.800 S/D 0.850
d. MINYAK DIESEL : 0.850 S/D 0.900
e. MINYAK BAKAR : 0.900 S/D 0.950
TATACARA PENGUKURAN

1. HYDROMETER DALAM KONDISI BERSIH DAN KERING


2. HYDROMETER TERLEBIH DAHULU DIUJI DENGAN STANDARD HYDROMETER
3. PERBEDAAN SUHU SAMPEL DENGAN SUHU DALAM TANKI + 3 OC
4. SAMPEL MINYAK DITUANG KEDALAM HYDROMETER CYLINDER TANPA
MENIMBULKAN BUIH DAN GELEMBUNG UDARA
5. MASUKAN THERMOMETER KEDALAM HYDROMETER CYCLINDER
6. POSISI HYDROMETER HARUS TEGAK LURUS DAN TERLINDUNG DARI ANGIN
7. CELUPKAN HYDROMETER PERLAHAN LAHAN DAN BIARKAN SAMPAI DALAM
KEADAAN TENANG LALU TEKAN KEBAWAH KIRA-KIRA 2 SKALA
8. JIKA HYDROMETER SUDAH DALAM KEADAAN TENANG BACA SKALANYA
KEMUDIAN BACA PULA TEMPERATUR SAMPLE
9. CARA PEMBACAAN UNTUK MINYAK TEMBUS PANDANG PADA GARIS DATAR
PERMUKAAN MINYAK
10. CARA PEMBACAAN UNTUK MINYAK TIDAK TEMBUS PANDANG PADA ANGKA
PUNCAK MINICUS YANG MENEMPEL PADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI
DIKOREKSI DENGAN MINISCUS CORRECTION FACTOR TABEL 1 ASTM D 1298
TATACARA PENGAMBILAN CONTOH
DI TANKI DARAT DAN TANKI KAPAL

SAMPELYANG DIAMBIL SECARA REPRENTATIF HARUS DAPAT


MEWAKILI KESELURUHAN MINYAK YANG DIAMBIL SAMPELNYA

MACAM-MACAM METODE PENGAMBILAN SAMPEL MINYAK UNTUK


KEPERLUAN MENGATAHUI KUALITAS DAN MENGHITUNG KUANTITAS
MINYAK SESUAI STANDAR ASTM D 4057-95

1. ALL LEVEL SAMPLE 9. BOTTOM SAMPLE


2. RUNNING SAMPLE 10. DRAIN SAMPLE
3. SPOT SAMPLE 11. COMPOSITE SAMPLE
4. TOP SAMPLE 12. SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE
5. UPPER SAMPLE 13. MULTI TANK COMPOSITE SAMPLE
6. MIDDLE SAMPLE 14. SURFACE SAMPLE
7. LOWER SAMPLE 15. OUTLET SAMPLE
8. CLEARANCE SAMPLE
ALL LEVEL SAMPLE

1. SAMPEL YANG DIPEROLEH DENGAN MENENGGELAMKAN BOTOL SAMPEL


YANG TERTUTUP KESUATU TEMPAT SEDEKAT MUNGKIN PADA KETINGGIAN
YANG SAMA DENGAN PIPA KELUAR (DRAW OFF LEVEL OUTLET).
2. KEMUDIAN MEMBUKA SUMBAT BOTOL SAMPEL TERSEBUT DENGAN CARA
MENYENTAKKAN TALINYA
3. MENARIK KERAS DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA
BOTOL SAMPEL TERISI SEBANYAK 3/4 BAGIAN (MAX 85%) PADA SAAT
MUNCUL DIPERMUKAAN MINYAK/CAIRAN.

RUNNING SAMPLE.

1. SAMPEL DIPEROLEH DENGAN MENENGGELAMKAN BOTOL SAMPELYANG


TERBUKA MULAI DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI PADA KETINGGIAN YANG
SAMA DENGAN BAGIAN BAWAH DARI LUBANG PIPA KELUAR ATAU LUBANG
PIPA SWING
2. KEMUDIAN MENARIKNYA KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA
SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI
PERMUKAAN CAIRAN.
SPOT SAMPLE.
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI BEBERAPA TITIK TERTENTU DALAM TANGKI
DENGAN MENGGUNAKAN THIEF ATAU BOTOL SAMPEL

TOP SAMPLE.

SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL 6 INCHI (150 MM) DIBAWAH PERMUKAAN CAIRAN

UPPER SAMPLE
SPOT SAMPEL YANG DIAMBIL PADA PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI
MINYAK BAGIAN ATAS

MIDDLE SAMPLE.
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI MINYAK
LOWER SAMPLE

SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL PADA KETINGGIAN YANG SAMA DENGAN LUBANG
PIPA KELUAR ATAU LUBANG PIPA SWING DARI TANGKI BERATAP TETAP (FIXED
ROOF TANK)

LOWER SAMPLE
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL PADA KETINGGIAN YANG SAMA DENGAN LUBANG
PIPA KELUAR ATAU LUBANG PIPA SWING DARI TANGKI BERATAP TETAP (FIXED
ROOF TANK)

CLEARANCE SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
KELUAR (OUTLET)
BOTTOM SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI, TEMPAT PENYIMPANAN ATAU
PADA TITIK TERENDAH DARI SALURAN PIPA.

DRAIN SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI PIPA KELUAR (DRAW - OFF) ATAU KERANGAN
KELUAR (DISCHARGE VALVE).
KADANG - KADANG DRAIN SAMPLE SAMA DENGAN BOTTOM SAMPLE SEPERTI
PADA MOBIL TANGKI.

COMPOSITE SAMPLE

CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH


SPOT SAMPLE YANG DIAM
DRAIN SAMPLE

BIL DARI SEBUAH TANGKI DALAM PERBANDINGAN YANG PROPOSIONAL.


ISTILAH INI JUGA DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK SEJUMLAH CONTOH-CONTOH
MINYAK YANG DIAMBIL DARI ALIRANNYA DALAM PIPA.

SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE


1. SAMPEL YANG DIPEROLEH DENGAN MENCAMPUR UPPER, MIDDLE ATAU
LOWER SAMPLE.
2. UNTUK SEBUAH TANGKI YANG BERPENAMPUNG SERAGAM SEPERTI TANGKI
SILINDER VERTIKAL CAMPURANNYA TERDIRI ATAS VOLUME YANG SAMA
DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS.
3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3 SAMPEL
MULTIPLE TANK COMPOSITE SAMPLE

SAMPEL DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DARI SEMUA ALL LEVEL


SAMPLE DARI KOMPARTEMEN-KOMPARTEMEN YANG BERISI MINYAK DARI
JENIS YANG SAMA SECARA PROPORSIONAL TERHADAP ISI MINYAK DARI
MASING-MASING KOMPARTEMEN

SURFACE SAMPLE

SPOT SAMPLE YANG DISENDOK DARI PERMUKAAN CAIRAN DALAM TANGKI

OUTLET SAMPLE

SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK
UNTUK TIPE FIXED ATAU FLOATING TANK
6"

TOP SAMPLE
UPPER SAMPLE
UPPER THIRD

TANK CONTENTS MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE

LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE


BOB

OUTLET SAMPLE DATUM


PLATE

BOTTOM SAMPLE
PENGAMBILAN SAMPEL DI TANKI DARAT

1. ALAT YANG DIGUNAKAN


a. WEIGHTED BREAKER/BOTTLE
b. SAMPLE CONTAINER

2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE

TINGGI MINYAK POSISI KEDALAMAN SAMPELYANG


DALAM TANKI PENGUKURAN DIPERIKSA

a. UPPER SAMPLE
LEBIH DARI 5 M b. MIDDLE SAMPLE a+b+c
c. LOWER SAMPLE

a. UPPER SAMPLE
ANTARA 3 – 5 M
b. LOWER SAMPLE
a+b

KURANG DARI 3 M a. MIDDLE SAMPLE a


PENGAMBILAN SAMPEL DI TANKI KAPAL

1. ALAT YANG DIGUNAKAN


a. WEIGHTED BREAKER/BOTTLE
b. SAMPLE CONTAINER

2. PENGAMBILAN SECARA ALL LEVEL ATAU RUNNING SAMPLE

JUMLAH
SAMPEL YANG DIAMBIL
KOMPARTEMEN

1 S/D 2 PADA SETIAP KOMPARTEMEN

3 KOMPARTEMEN TERHADAP
3 S/D 6
MINYAK ANG SEJENIS

7 S/D 12 5 KOMPARTEMEN TERHADAP


MINYAK ANG SEJENIS

LEBIH DARI 12 7 KOMPARTEMEN TERHADAP


MINYAK ANG SEJENIS
DYNAMIC
DYNAMIC MEASUREMENT
MEASUREMENT
SYSTEM
SYSTEM

METERING SYSTEM

PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA SAAT


MINYAK DALAM KEADAAN MENGALIR DAN SEHINGGA TIDAK
MEMERLUKAN WAKTU PENGENDAPAN (SETTLING TIME)

FLOW METER
METERING SYSTEM

MEERING SYSTEM ADALAH SALAH SATU JENIS ALAT UKUR YANG


DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI PENETAPAN TITIK SERAH (COSTUDY
TRANSFER) DALAM MELAKSANAKAN SERAH TERIMA SUATU
PRODUK (PENGALIHAN HAK)

BESARAN ANGKA YANG DITUNJUKAN DALAM METERING SYSTEM


INI DIPAKAI SEBAGAI PEDOMAN DALAM MENETAPKAN JUMLAH
ATAU VOLUME PRODUK YANG DISERAH TERIMAKAN

AGAR PENUNJUKAN METERING SYSTEM INI AKURAT ATAU TIDAK


TERJADI DEVIASI YANG BESAR MAKA SEBELUM DIOPRASIKAN
TERLEBIH DAHULU HARUS DILAKUKAN PENGUJIAN DENGAN
MASTER METER ATAU METER PROVER
APLIKASI METERING SYSTEM

TRANSIT TERMINAL M
M
M
M
M
M M M

M
KILANG

M
M

PENGEBORAN

M
FLOW METERS

 Turbine meter

 PD meter

 Coriolis

 Ultrasonic
PD METER - LIQUID
TURBINE METER FOR LIQUID
ULTRASONIC METER
MEASUREMENT
l
tU =
c  v  cos 
U
Transducer B

l = 400mm 
cdu
c = 400m/s 
V•COS
t = ?1ms l
v d

T,P, = constant < 20ms


Transducer A CD = CU

l l  1 1
tD = v=  - 
c + v  cos 
D 2  cos   t D tU 
ADVANTAGES:
• DOUBLE PATH LENGTH
• SWIRL COMPENSATION

vs
v
c1 c2

C1 + VS + C2 - VS = C
Advantages:
• custody transfer accuracy
• detecting velocity profile
CheckSonic-1H

Q.Sonic-5S

CheckSonic-1S
Allocation metering

flow line measurement

Custody transfer
Conventional Flow Control Loop

Set
point

Water from FRC


supply Flow
controller
Flow
transmitter

A.O

To
process
Computer-controlled Flow
Loop
3 to 15 4 to 20 mA
psig
Control
P/I computer
Water from 4 to 20 mA
supply tranducer
I/P tranducer
Flow 3 to 15 psig
transmitter

orifice A.O

To
process
Electronic System
MOV’s

FT-01
PT-01
TT-01

ZS-01
ZS-02
PT-03
TT-03

FT-01
PT-01
TT-01
METER PROVER

FUNGSI UNTUK MENGKALIBRASI FLOW METER AGAR HASIL


PENGUKURAN LEBIH AKURAT SEHINGGA DEVIASI YANG
TERJADI DALAM PROSES PENGUKURAN MENJADI LEBIH
KECIL
Small Volume Prover
Typical Installation

Flow
FlowProver
Prover

Pressure & Temperature


Transmiters
METER PROVER
METER PROVER
INSTALASI UJI METER PROVER
TIPE WATER DRAW
CONTOH

Liquid metering system, crude oil, 4-streams turbine meters,


complete with bi-directional prover, FPSO installation
CONTOH

Liquid metering system, refined product, domestic use, PD


meters, low capacity and low pressure  Fuel dispenser
FLOW METER

MIGAS Approval Oil Gas


PD Meter Yes No

Turbine Meter Yes Yes

Orifice (Dual Chamber) No Yes

Ultrasonic Meter No Yes


PERBEDAAN METERING SYSTEM VS
MANUAL TANK GAUGING
METERING SYSTEM TIDAK ADA PENGARUH KETELITIAN SDM , TANGKI, PIPA DAN
ALAT UKUR
MANUAL TANK GAUGING SANGAT BERPENGARUH

METERING SYSTEM MEMPUNYAI AKURASI SAMPAI 99.975 %


MANUAL TANK GAUGING HARUS DITOLERANSI SEBESAR 0.5
%
METERING SYSTEM DAPAT DIBUKTIKAN KEBENARANNYA DENGAN PROVING
SYSTEM
MANUAL TANK GAUGING SUKAR DIBUKTIKAN

METERING SYSTEM JIKA DIRAGUKAN DAPAT DIBUKTIKAN (TRACEABLE )


MANUAL TANK GAUGING SUKAR DIBUKTIKAN

METERING SYSTEM DAPAT DILAKUKAN QUALITY INSURANCE THD PROVER DAN


INSTRUMENT ACCESSORIES.
MANUAL TANK GAUGING SUKAR MENCARI YANG MAU

METERING SYSTEM REPEATABILITY PENGUKURAN < 0.05 %


MANUAL TANK GAUGING REPEATABILITY SAMPAI DENGAN 0. 5
%
METERING SYTEM REPEATABILITY < 0.02 % DAN LINIERITY OPERASI 0. 15
%
MANUAL TANK GAUGING TIDAK ADA HITUNGANNYA
PENGOPERASIAN METERING SYSTEM

PADA DASARNYA PENGOPERASIAN METERING SYSTEM ADALAH


MENJALANKAN PERINTAH ATAU KETENTUAN YANG ADA DI DALAM
SOP PENGOPERASIAN METERING ITU SENDIRI

TINGKAT KEBERHASILAN DALAM MENGOPERASIKAN


METERING SYSTEM INI SANGAT DIPENGARUHI

SOP SDM
YANG JELAS DAN BENAR YANG TRAMPIL
PENYUSUNAN SOP METERING SYSTEM

1. MENGGUNAKAN BAHASA YANG MUDAH DIMENGERTI


2. LANGKAH-LANGKAH PENGOPERASIAN HARUS JELAS
3. PRAKTIS DAN MUDAH DIPAHAMI
4. HINDARI MENGGUNAKAN BAHASA ASING
5. DILENGKAPI GAMBAR PETUNJUK
6. DICANTUMKAN PROSEDUR UNTUK MENGATASI BILA TERJADI
KEGAGALAN
a. PERALATAN
b. SYSTEM
c. POWER.
7. DLL
KONTRIBUSI METERING PADA LOSSES
DI DERMAGA

SECARA UMUM FREKUENSI TANKER YANG MELAKSANAKAN


LOADING DI DERMAGA UNIT PENGIRIM SANGAT TINGGI,
SEHINGGA KEMUNGKINAN DAPAT TERJADI LOSSES

PENYEBAB

1. TINGKAT KEHANDALAN FLOW METER MENURUN


2. KALIBRASI METER PROVER KURANG TELITI
3. TIDAK MELAKSANAKAN PENGOPERASIAN METER SESUAI
DENGAN PROSEDUR
4. KURANGNYA PENGAWASAN
5. KONDISI LINGKUNGAN
KONTRIBUSI METERING PADA LOSSES
DI TANKER

DALAM MENGUKUR LEVEL DISETIAP KOMPARTEMEN KAPAL


MENGGUNAKAN ALAT UKUR MARINE MOISTURE CONTROL (MMC)

PADA PRINSIPNYA CARA KERJA MMC INI SAMA DENGAN CARA KERJA
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG) DAN MENGGUNAKAN METODE
PENGUKURAN OUTAGE

BILAMANA BANDUL MMC MENYENTUH PERMUKAAN MEDIA YANG


DIUKUR MAKA SENSOR YANG TERDAPAT DI DALAMNYA AKAN
MENGIRIMKAN SIGNAL KE COMPUTER SYSTEM

KESALAHAN YANG SERING TERJADI DAN BERDAMPAK TERJADINYA


LOSSES ADALAH :
1. KURANG TEPATNYA DALAM MENETAPKAN REFERENCE POINT
2. PERALATAN MMC DALAM KONDISI TIDAK STANDAR
MARINE MOISTURE CONTROL
(MMC)

BERAT BANDUL TERLALU KECIL


(350 GRAM)
DI LEM
REFERENCE POINT
KONTRIBUSI METERING PADA LOSSES
DI PENYALURAN

METERING DI PENYALURAN INI PALING BANYAK DIGUNAKAN UNTUK


PENGISIAN PADA MOBIL TANKI, RTW DAN JALUR PIPA
DALAM MELAKSANAKAN OPERASI MEMILIKI SERVICE LEVEL YANG
CUKUP TINGGI TINGGI, SEHINGGA KEMUNGKINAN DAPAT TERJADI
LOSSES KARENA :
1. TINGKAT KEHANDALAN FLOW METER MENURUN
2. TIDAK ADANYA RECHECK SAAT BEROPERASI SEHINGGA TIDAK
TAHU BILAMANA TERJADI PENYIMPANGAN
3. TIDAK MELAKSANAKAN PENGOPERASIAN METER SESUAI DENGAN
PROSEDUR
4. KURANGNYA PENGAWASAN
5. PENERAAN ULANG DIDASARKAN WAKTU OPERASI (5 TAHUN)
6. BANYAKNYA PIPE FITTING (BEND, VALVE, REDUCER DLL)
FLOW PROFILE

1
SEMUA TURBINE METER AKAN MEMBERI PENGARUH
TERHADAP BEBERAPA BESARAN DARI UPSTREAM, UNTUK
PERUBAHAN KECIL, DOWNSTREAM FITTING.

2
BESARNYA PENGARUH, MUNGKIN BISA POSITIVE ATAU
NEGATIVE, BERVARIASI DARI DESIGN KE DESIGN, DARI
INSTALASI KE INSTALASI, TIDAK HANYA BERPENGARUH
TERHADAP UPSTREAM FITTING YANG DEKAT, KONDISI
TERSEBUT HARUS MENJADI PERRTIMBANGAN ADANYA
SAMBUNGAN YANG DEKAT DENGAN UPSTREAM.
3
SAMBUNGAN–SAMBUNGAN PADA PIPA AKAN MENYEBABKAN
PERUBAHAN KECEPATAN ALIRAN FLUIDA DIDALAM PIPA,
SEHINGGA AKAN MENYEBABKAN PERUBAHAN PENUNJUKAN
METER DIBANDINGKAN DENGAN HASIL KALIBRASI, DAN PIPA
YANG LURUS PANJANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK
MENDAPATKAN STANDAR DALAM PENELITIAN KARENA BEBAS
DARI ALIRAN YANG BERPUTAR (SWIRL)

4
PRAKTEKNYA UNTUK INSTALASI DIPERLUKAN PIPA YANG
PANJANG DENGAN BANYAK DIPASANG VALVE, LENGKUNGAN
DAN REDUCER AKAN MENGGANGGU BENTUK ALIRAN FLUIDA,
MUNGKIN BEBAS DARI ARUS YANG BERPUTAR (SWIRL),
KARENA ARUS YANG BERPUTAR AKAN JUGA MENGGANGGU.
EFEK BENDING (BENGKOK)

ADANYA BENGKOKAN (BENDING) PADA JALUR PIPA


AKAN MEMPENGARUHI BENTUK ALIRAN CAIRAN PADA
PIPA, DAN DAPAT MEMPENGARUHI MF (METER FACTOR),
DIREKOMENDASIKAN BENGKOKAN PIPA MEMPUNYAI
RADIUS YANG PANJANG UNTUK MENGHINDARI
PERUBAHAN MF.

DUA ATAU LEBIH KEBENGKOKKAN PADA TEMPAT YANG


BERLAINAN, AKAN MENGAKIBATKAN SWIRL LEBIH DARI
20% PADA FLUIDA, SEBAIKNYA HARUS BERJARAK LEBIH
DARI 100 D (DIAMETER PIPA), SECARA EXTREM SANGAT
SULIT UNTUK MELAKUKAN KOREKSI TANPA PERALATAN
KHUSUS.
EFEK VALVE
EFEK PEMASANGAN VALVE TERGANTUNG DARI TYPE
VALVE DAN LEBAR BUKAAN, APABILA TERTUTUP 30%,
AKAN PENYEBABKAN ASIMETRIC BENTUK ALIRAN, JIKA
TERTUTUP LEBIH 75% AKAN TERJADI SWIRL PADA
OUTLET VALVE, AKAN TERJADI PERUBAHAN SWIRL JIKA
ADA PERUBAHAN BUKAAN VALVE.

EFEK DARI PERUBAHAN PIPA


AKAN TERJADI GANGGUAN ASIMETRIC, JIKA TERJADI
SAMBUNGAN YANG TIDAK SESUAI PADA LOBANG PIPA,
ATAU PEMASANGAN GASKET YANG TIDAK SESUAI PADA
UPSTREAM METER.
REDUCER DAN EXPANDER

KEDUA JENIS FITING TERSEBUT AKAN MENGHASILKAN


PERUBAHAN BENTUK ALIRAN, REDUCER YANG BERBENTUK
CONIS AKAN MEMBERI EFEK YANG RATA PADA ALIRAN,
EXPANDER AKAN MENYEBABKAN AKAN MENGURANGI
KEPADATAN ALIRAN FLUIDA DAN TERPISAH PADA SETIAP
PENAMPANG.

JIKA MEMASANG ECCENTRIC REDUCER ATAU EXPANDER


AKAN MENYEBABKAN PERUBAHAN ALIRAN YANG AKAN
MEMPENGARUHI MF TURBINE METER.
PERLENGKAPAN UNTUK MENGKONDISIKAN
FLOW (FLOW CONDITIONING)

INDUSTRI YANG MENGHASILKAN STRUCTURE PIPING YANG


DIGUNAKAN UNTUK MENGALIRKAN FLUIDA, UMUMNYA DAPAT
MENIMBULKAN GANGGUAN PADA ALIRAN ATAU DISTURBANCE
(ASIMETRIC PROFILE, SWIRL ATAU TURBULENCE), KONDISI INI BISA
DIKURANGI DENGAN MENGGUNAKAN FLOW CONDITIONING SYSTEM

PERLENGKAPAN TERSEBUT ANTARA LAIN :


1 - LOW PERMANEN PRESSURE LOSS (LOW HEAD RATIO)
2 - LOW FOULING RATE.
3 - REGOROUS MECHANICAL DESIGN.
4 - MODERATE COST OF CONSTRUCTION.
5 - ELIMINATION OF SWIRL.
6 - INDEPENDENCE OF TOP SENSING LOCATION.

TYPE FLOW-CONDITIONING :
TUBE BUNDLE; VANE/SCREENS; PERFORATE PLATES; DLL.
Bentuk (gambar) type flow conditioning adalah
sebagai berikut :
PRESSURE DROP

PRESSURE DROP UNTUK SEMUA ALIRAN Q PADA PIPA, FLUIDA YANG


MEMPUNYAI VISCOSITAS , DAN RELATIVE DENSITY D, DAPAT
DIHITUNG DENGAN RUMUS :

P = 3.6 X d X 0.2 X ( Q/Qmax )2

Dimana :
ΔP = Pressure drop (PSI).
d = Relative density.
ν = Kinematic viscosity.
Q = Flowrate.
Qmax = Max. flowrate.
KONVERSI PADA KONDISI REFERENSI

1. FAKTOR KOREKSI

Ada 6 prinsip factor yang diperhitungkan sebagai perhitungan jumlah liquid,


semuanya merupakan factor pengali.
Salah satu factor koreksi adalah Meter Faktor (MF) yang didifinisikan
sebagai berikut :
MF = adalah factor yang tidak berdimensi yang merupakan factor koreksi
terhadap penunjukkan meter ke volume yang sebenarnya (prover).

Faktor berikutnya adalah 4 faktor koreksi sebagai berikut :

CTS = factor koreksi tehadap efek temperature pada steel (prover).


CPS = factor koreksi terhadap efek tekanan (pressure) didalam steel (prover).
CTL = factor koreksi terhadap efek temperature pada cairan (liquid).
CPL = factor koreksi terhadap efek tekanan pada cairan (liquid).

Yang terakhir factor CSW merupakan perhitungan bagian sedimen dan air
didalam crude oil. Sehingga sebagai standart prosedure pehitungan (ISO dan
API), 6 faktor koreksi tersebut adalah : MF; CTS; CPS; CTL; CPL; CSW .
1.1. FAKTOR KOTREKSI CTS

Semua jenis metal untuk kontainer ; sebagai pipa prover, tank


prover, jika ada perubahan temperature, maka akan terjadi perubahan
volume, perubahan volume tegantung perubahan perubaham prover, yang
sebanding dengan koefisient cubical
dari thermal expansion dari pada materialnya.
Faktor koreksi dinamakan CTS, dengan rumus sebagai berikut :

CTS = 1 + ( T – 60 ) . γ

Dimana :
T = temperature pada prover(0F jika referen temperature 0 F).
Y = koefisien cubical expansion per 0F untuk prover.

CTS > 1, jika temperature T >600F dan CTS >1, jika temperature T < 600 F.
Jika volume dari prover mempunyai temperature (600 F), maka
volume prover dapat dihitung dengan rumus : VT = V60 X CTS
1.2. FAKTOR KOREKSI CPS

Suatu metal yang digunakan sebagai bahan container (prover),


tergantung tekanan dari dalam prover, dimana ketebalan dinding
prover yang elastis, akan menyebabkan perubahan volume prover,
factor koreksi terhadap perubahan efek tekanan (pessure) didalam
prover disebut CPS, yang dapat dihitung dengan rumus :

CPS = 1 + P. D/ E.t
Dimana :
P = intenal pressure (PSI)
D = Internal diameter (INCHI)
E = modulus elastisitas metal prover.
T = ketebalan dinding prover.

Jika volume prover tekanan atmosfer diketahui, maka volume pada


tekanan P, dapat dihitung dengan rumus : Vp = Vatm X CPS
1.3. FAKTOR KOREKSI CTL

Jumlah liquid (cairan) merupakan fungsi perubahan temperature,


volume liquid akan bertambah, jika temperature naik, atau
tergantung dengan perubahan temperature.
Perubahan volume akan berubah secara proportional dengan
perubahan temperature, jika volume liquid pada temperature 60 0F
diketahui, maka volume pada temperature T,

Dapat dihitung dengan rumus : V60 = VT X CTL


1.4. FAKTOR KOREKSI CPL

Jika volume liquid ada perubahan pressure, maka volume akan turun
jika tekanan (pressure) naik, sebaliknya volume naik jika pressure
turun.
Perubahan volume akan berubah secara proportional dengan factor
compressibility dari liquid F, dimana tekanan akan tergantung dari
temperature dan relative density.
Faktor koreksi efek terhadap tekanan disebut CPL, dapat dihitung
dengan rumus :
1
CPL = ---------------------------
1 – ( P - Pe ) X F
Dimana :
P = Liquid pressure (PSI)
Pe = keseimbangan tekanan vapor pada temperature pengukuran
liquid (PSI).
Pe diperhitungkan pada keseimbangan tekanan vapor < tekanan
atmosphere (14.7 PSI abs ).
F = factor compressibility hydrocarbon.