Anda di halaman 1dari 7

Bunda Nabi Musa as

Al-Qur'an sama sekali tidak menyebut sesuatu mengenai ayah Nabi Musa as. Yang disebut secara khusus
hanya bundanya saja. Kepada bundanya itulah, Allah swt memberi kepercayaan kepada untuk
membesarkan calon utusan-Nya. Kepercayaan besar itu diberikan kepada ibu Musa ketika Fir'aun tak dapat
lagi menahan amarahnya melihat tingkah laku dan kejahatan orang-orang Yahudi (Bani Israil).

Dalam riwayat yang lain disebutkan tentang mimpi Fir'aun yang sangat menakutkan. Para ahli nujum dan
juru ramal yang ditanya mengenai arti mimpi itu menjawab, bahwa di kalangan orang-orang Yahudi akan
lahir seorang anak lelaki. Apabila besar ia akan merampas kerajaan dan mengalahkan kekuasaan Fir'aun. Ia
akan mengusir penduduk asli Mesir dan mengganti agama mereka.

Fir'aun sangat percaya dengan pentakwilan mimpinya yang demikian itu. Maka sejak itu Fir'aun
memerintahkan kepada segenap aparatur pemerintah, tentara dan seluruh prajuritnya, untuk membunuh
setiap bayi laki-laki yang lahir dari keluarga Yahudi.

Pada kondisi yang sangat mencekam itulah ibu Musa melahirkan anak lelaki secara sembunyi-sembunyi.
Ketika itu alat kekuasaan Fir'aun sudah membunuh berpuluh ribu anak lelaki Yahudi. Darah bayi-bayi tak
berdosa sudah menggenangi Mesir, yang dibunuh secara sangat sadis.

Kendati melahirkan dengan sembunyi, namun mata-mata Fir'aun yang disebar di segenap penjuru
menciumnya juga. Rumah ibu Musa digrebeg dan bayi yang baru beberapa hari lahir itu nyaris diketahui
oleh mata-mata Fir'aun. Untung saja beberapa saat sebelum mereka sempat masuk ke dalam rumah, kakak
perempuan Musa, Maryam, sempat memberitahu ibunya, bahwa gerombolan mata-mata Fir'aun siap
melakukan menggeledahan.

Di antara rasa takut dan bingung ibu Musa cepat-cepat membungkus bayinya dengan secarik kain, lalu
memasukkan ke dalam sebuah wadah terbuka kemudian disembunyikan dalam tungku. Untung pada saat
tentara-tentara haus darah itu datang, bayi Musa tidak menangis. Di depan para tentara itu ibu Musa
berusaha dengan segenap kemampuannya menenangkan diri hingga tampak tidak terjadi apa-apa. Maryam,
kakak Musa pun tidak tampak resah dan gelisah. Ia bekerja membenahi perkakas rumah dengan tenang,
hingga akhirnya para alat kekuasaan Fir'aun meninggalkan rumah.

Akan tetapi ibu Musa sadar, bahwa bayinya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. Ia mencari
akal untuk menyelamatkan buah hatinya. Pada saat itu datanglah petunjuk dari Allah yang berfirman,
“Taruhlah dia (Musa) dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia di bengawan (Sungai Nil). Air bengawan itu
pasti akan membawanya ke tepi dan dia akan diambil oleh musuh-Ku dan musuhnya.” (QS. Thaha:39).

Bayi Musa akhirnya terdampar di Istana Fir'aun hingga kemudian, ia berhasil menumbangkan
keangkaramurkaan raja yang zhalim itu.

Sumber: Hidayatullah

Siti Hajar
Siapa yang tidak mengenal Siti Hajar? Setiap tahun berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia
yang naik haji menyaksikan buah karyanya, sekaligus merasakan perjalanan pahit yang pernah dirasakan
wanita ini. Siapa gerangan wanita mulia ini? Dia adalah seorang wanita berkulit hitam legam dari Ethiopia,
dan seorang hamba sahaya. Ia tidak berdaya dan tidak berkuasa. Bahkan, dirinya sendiri pun ia tidak
menguasainya.

Ia dibawa oleh Sarah, Istri Nabi Ibrahim as dari Mesir ke tanah Kan'an ( Palestina) untuk membantu di
rumahnya.

Sebagaimana diketahui, Sarah hingga berusia lanjut tetap mandul hingga hampir putus asa untuk dapat
melahirkan anak yang diidam-idamkan suaminya. Oleh sebab itu dengan suka rela ia menyerahkan hamba
sahaya yang dibawanya dari Mesir itu kepada suaminya untuk dijadikan istri kedua.
Sarah berharap dari rahim Hajar akan lahir seorang putera bagi Nabi Ibrahim as. Harapan itu terkabul.
Namun sebagai wanita, Sarah merasakan cemburu juga. Ia jadi tidak enak, cemburu dan gundah gulana.
Puncak kesabaran Sarah menjadi habis manakala Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang mungil.

Sarah terus menerus mendesak suaminya supaya menjauhkan Hajar dari pandangan matanya. Pada
akhirnya Nabi Ibrahim as pergi mengembara ke arah selatan, diikuti Siti Hajar, sambil mengendong bayinya.
Nabi Ibrahim hendak menempatkan puteranya di bawah naungan sisa-sisa bangunan purba, tempat
pertama di muka bumi, di mana manusia bersembah sujud kepada Allah, Rabbul alamin.

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, tibalah Nabi Ibrahim bersama istri dan puteranya di
sebuah dataran tandus dan gersang. Tidak terdapat seorang manusia pun yang tinggal di kawasan itu. Di
dekat sisa-sisa bangunan purba, Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah meninggalkan Hajar bersama
puteranya, Ismail as. Ibu dan anak balita itu hanya dibekali sekantong kurma dan sewadah (qirbah) air
minum untuk bertahan hidup.

Setelah membuat sebuah `arisy (semacam tenda) beliau berangkat ke tempat asalnya. Sudah barang tentu
Hajar ketakutan, ditinggal seorang diri bersama bayi merahnya di tengah gurun. Ia meminta agar suaminya
menghentikan langkah dan tidak meninggalkannya. Akan tetapi Nabi Ibrahim yang dipanggil-panggil tidak
menoleh dan tidak menjawab, seolah-olah beliau khawatir kalau-kalau tekadnya menjadi goyah.

Hajar mengulang kembali permohonannya dengan suara memelas, tetapi Ibrahim as terus berjalan, tidak
menoleh dan tidak menjawab. Setelah sampai di bagian lembah yang agak tinggi beliau mendengar suara
Hajar bertanya: “Apakah Allah memerintahkan kanda meninggalkan diriku bersama bayi ini di tempat yang
mengerikan seperti ini?”. Beliau menjawab: “Ya...! sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Setelah
mendengar jawaban seperti itu, Hajar terasa memiliki kekuatan untuk menerima kenyataan. Hajar
menyerahkan nasib bersama bayinya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Sementara dipandangnya
terus-menerus langkah kaki Ibrahim as hingga hilang setelah melewati belokan di belakang pasir. Setibanya
dibelokan itu Nabi Ibrahim dengan khusyu berdoa, “Ya, Allah Tuhan kami, kutempatkan sebagian dari
keturunanku pada sebuah lembah yang tidak terdapat tetumbuhan, dekat rumah suci-Mu. Ya Tuhan kami,
agar mereka menegakkan shalat dan semoga Engkau membuat hati sebagian manusia condong kepada
mereka, serta karuniailah mereka berbagai buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(QS.Ibrahim:37)

Puncak kegundahan Hajar adalah manakala perbekalannya sudah habis, sementara air teteknya tidak lagi
mengeluarkan air susu. Bayi Ismail kini mulai berteriak-teriak kehausan. Tangisnya semakin melengking,
kemudian menurun dan terus menurun. Wajah Ismail semakin pucat pasi. Setelah berlari bolak-balik antara
bukit shafa dan Marwah, dan tidak mendapatkan apa-apa, Hajar mencobanya lagi memasukkan teteknya ke
dalam mulut anaknya secara berulangkali. Akan tetapi setiap kali putingnya dimasukkan ke dalam mulut,
bayi itu tambah kuat jeritannya.

Merasa tidak ada harapan menolong bayinya yang malang itu, Hajar menjauhkan diri dari anaknya yang
dianggap tak akan dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Ia menjauh karena tidak ingin menyaksikan bayinya
mati di depan matanya. Sambil menutup muka dengan tangannya dan meratap, “Tidak..aku tidak mau
melihat kematian darah dagingku!”

Pada saat yang kritis itulah Allah menurunkan pertolongan-Nya. Secara tiba-tiba Hajar melihat seekor
burung elang yang melayang-layang di udara, kemudian turun dan hinggap di sebuah tempat yang tidak
seberapa jauh dari dirinya. Masya Allah! Pemandangan menakjubkan terjadi di depan matanya. Tanah
kerontang lagi tandus itu memancarkan air di antara hentakan kaki bayi Ismail.

Ujian Hajar tidak sampai di situ. Memasuki usia remaja anaknya, Ismail, datanglah Ibrahim as yang
memberitahukan mimpinya, “ ...Anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu. Pikirkanlah,
bagaimana pendapatmu? Ia (Ismail as) menjawab: ` Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah
kepadamu, insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai seorang yang tabah dan sabar.”

Sumber: Hidayatullah
Maryam
Untuk mengetahui peristiwa kelahiran Nabi Isa as dapat diperoleh informasinya dari ayat berikut, "(Ingatlah)
ketika Malaikat (dahulu) berkata kepada Maryam," Hai Maryam, Allah menggembirakan engkau (dengan
kelahiran) seorang putera yang diciptakan) dengan titah ( "Kun", "jadilah") dari-Nya, bernama Al-Masih Isa
Putra Maryam. Ia seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta merupakan salah satu di antara hamba-
hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya." (QS.Ali Imran: 45)

Islam mengenal Al-Masih dengan nama Isa Putra Maryam berdasar firman Allah tersebut. Yang hendaknya
menjadi kebanggaan kaum ibu di seluruh dunia, Isa as dinasabkan Allah kepada Ibunya, Maryam bukan
kepada ayah sebagai lazimnya seorang wanita yang disucikan dan dipilih Allah dari seluruh wanita di dunia.

Mengenai kelahiran Maryam, al-Qur'an menjelaskan kepada kita sebagai berikut: "(Ingatlah ketika istri Imran
berkata, "Ya Tuhanku, kunadzarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang
shaleh dan berkhidmat (pada baitul Maqdis). Karena itu terimalah nadzarku ini. Sesungguhnya Engkau
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..."

"Ketika istri Imran melahirkan anaknya iapun berucap: Ya Tuhanku, aku melahirkan seorang anak
perempuan! Allah lebih mengetahui anak yang dilahirkannya itu, dan anak lelaki tidak seperti anak
perempuan(selanjutnya ia berkata): Ia kuberi nama Maryam dan ia beserta anak keturunannya
kuperlindungkan kepada-Mu dari godaan (syetan) yang terkutuk."

"Tuhan menerima nadzarnya dengan baik. Tuhan mendidiknya dengan baik dan menjadikan Zakaria
pemelihara (anak perempuan itu, Maryam). Tiap Zakaria masuk ke dalam mihrab (ruang khusus untuk
beribadah) hendak bertemu dengan Maryam , ia selalu mendapati makanan di sisi anak perempuan itu.
Zakaria bertanya, "Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan itu?" Maryam menjawab,
"Makanan itu dari Allah! Allah memberi rezki kepada siapa saja yang dikehendaki tanpa penghitung-hitung."
(QS. Ali Imran:35-37)

Sebagaimana banyak diriwayatkan, kisah keibuan Maryam benar-benar mengesankan. Beliau sosok wanita
yang menghadapi ujian hidup sangat berat. Dia dilahirkan di tengah keluarga yang taat kepada agama dan
dari ayah yang ternama di kalangan Bani Israil (Kaum Yahudi).

Ayah Maryam wafat ketika ia masih anak-anak. Ketika diadakan undian untuk menentukan siapa yang akan
mengasuh Maryam, pilihan jatuh pada Zakaria, suami bibi Maryam yang juga dikenal sebagai seorang Nabi.

Sejak usia remaja Maryam sangat tekun beribadah kepada Allah di dalam mihrab. Sebagaimana yang
dinadarkan ibunya, Maryam rajin mengabdikan diri di rumah peribadatan. Ia tumbuh menjadi wanita shaleh.
Ia dijaga oleh Allah dan dipilih untuk mengemban amanat rahasia kekuasaan Ilahi.

Pada suatu hari datanglah informasi yang sangat mengejutkannya. Bahwa atas perkenan Allah Dia akan
menitipkan seorang utusan lewat rahim Maryam yang terpelihara dari noda dan dosa. Tentu saja Maryam
sangat terkejut dan ketakutan mendengar berita Ilahi yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepadanya. Ia
menengadah ke langit seraya berucap dengan penuh tarharu, "Bagaimana aku akan mempunyai anak,
sedang selama ini tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuh diriku, lagi pula aku bukanlah
wanita jalang!" Namun Malaikat menjawab, "Demikianlah, Tuhanmu telah berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku
(anak itu) akan kami jadikan tanda kekuasaan Kami bagi ummat manusia dan (juga) sebagai rahmat dari
Kami. Ia itu merupakan soal yang menjadi ketetapan Allah."

Pada akhirnya Maryam berserah diri kepada kehendak Allah yang telah menjadi suratan takdir-Nya. Tidak
lama kemudian setelah itu ia merasakan janin yang di dalam kandungannya mulai bergerak-gerak. Pada
saat itu ia mulai merasakan hinaan dari kaumnya.

Ia berusaha menghindarkan diri dari berbagai tuduhan yang menyakitkan itu dengan pergi ke suatu tempat.
Ketika saat bersalin sudah tiba, ia bersandar pada pohon kurma, kemudian ia melahirkan di sebuah kandang
ternak. Pada saat kritis itu ia berucap, "Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum ini dan diriku dilupakan
orang!"

Akan tetapi keshalehan dan kesucian Maryam yang sudah diakui masyarakat selama ini tidak dapat
mencegah makian dan cercaan semua orang yang menyaksikan Maryam telah melahirkan seorang anak
lelaki. Semua celan, cemoohan, gangguan, kebencian, cacian dan fitnah tersebut diterima Maryam dengan
tabah dan sabar.

Namun sebagai manusia ia memiliki juga keterbatasan. Maka untuk menghindari dari semuanya itu ia pergi
ke Mesir. Ia tinggal di sana selama 10 tahun, hidup dengan bekerja memintal kapas dan memunguti butir-
butir gandum sisa panen. Pekerjaan itu ia lakukan sambil menggendong putranya, Isa Al-Masih. Kasih
sayang Maryam kepada puteranya Isa as tercurah hingga Al-Masih menerima wahyu Ilahi pada usia 30
tahun.

Menyangkut keduanya al-Qur'an menjelaskan, "Kami jadikan dia (Maryam) dan puteranya sebagai tanda
(kekuasaan dan kebesaran-Ku bagi alam semesta."

Sumber: Hidayatullah

Siti Aminah binti Wahb


Kurun kurang lebih 650 tahun kemudian, di bumi Hijaz muncul rangkaian wanita mulia selanjutnya, yakni
ibunda Muhammad Rasulullah Saw, Siti Aminah binti Wahb. Ia adalah wanita suci yang berasal dari
keturunan yang tidak pernah ternoda kehormatannya.

Keterangan mengenahi hal ini dapat disimak dalam hadits Nabi sebagai beriut, "Dan selanjutnya Allah
memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik ke dalam rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang
sulbi itu bercabang menjadi dua. Aku berada dalam yang terbaik dari keduanya itu." (hadits syarif)

Menurut Al Hamid Al-Hamidi dalam Baitun Nubuwwah-nya mengatakan, makna umum dari hadits tersebut
ialah bahwa dari silsilah pihak ayah, Rasulullah saw berasal dari keturunan yang suci dan bersih dari
perbuatan tercela. Demikian pula dilihat dari silsilah ibunya, beliaupun berasal dari keturunan yang tidak
pernah ternoda kehormatannya.

Aminah binti Wahb lahir dari silsilah tua pasangan suami istri bernama Wahb dan Barrah. Yang satu berasal
dari Bani Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab dan yang lain berasal dari bani Abdul Manaf bin Quraisy bin Kilab.
Jadi, pada Kilab-lah akar silsilah ayah dan ibu Aminah binti Wahb.

Suami Aminah binti Wahb, Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pria dari Quraisy yang berbudi luhur. Ayah
Abdullah, Abdul Muthalib adalah pria yang disegani. Bahkan kedudukannya sangat dihormati dan dicintai
oleh semua penduduk Makkah, baik yang berasal dari kabilah Quraisy maupun dari kabilah lain.

Beberapa minggu setelah pernikahan Aminah dengan Abdullah, pada suatu malam ia bermimpi ada cahaya
yang menerangi dirinya. Sungguh terangnya cahaya itu, hingga seolah-olah Aminah dapat melihat istana-
istana di Bushara dan di negeri Syam. Tidak berapa lama sesudah itu, ia mendengar suara yang berkata.
"Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang termulia di kalangan ummat ini."

Dengan gembira Aminah menceritakan mimpinya itu kepada suaminya. Betapa gembiranya Abdullah
mendengar kabar tersebut. Akan tetapi rasa gembira itu hanya berlangsung sejenak, yang disusul dengan
kesedihan, karena ia harus bergabung dengan kafilah dagang Quraisy. Tidak diketahui entah untuk berapa
lama perpisahan itu harus terjadi.

Bahkan ketika sebulan sudah berlalu Abdullah belum juga pulang. Hari berganti hari dan minggu berganti
bulan, Aminah tetap tinggal di rumah, bahkan lebih sering di tempat tidur. Satu-satunya yang menghibur
adalah keluarga Abdul Muthalib yang bertutur kata manis dan meriangkan.

Sebagaimana lazimnya wanita yag mengandung, Aminah juga mengidam. Namun keidaman yang
dirasakannya itu tidak seberat yang dirasakan wanita lain. Dengan kehamilannya itu Aminah makin
merindukan suaminya yang sedang bepergian jauh.

Pada suatu pagi, rombongan kafilah berjalan memasuki kota Makkah. Betapa senangnya Aminah karena
beberapa saat lagi ia akan bertemu kembali dengan suami terkasihnya. Tapi hingga rombongan terakhir ia
tidak mendapati Abdullah. Setengah berputus ada, ia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Baru beberapa
saat ia merebahkan diri, tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk orang. Adakah yang datang suaminya?
Ia pun segera bangun membuka pintu, ternyata yang datang bukan Abdullah, melainkan mertuanya, Abdul
Muthalib bin Hasyim, ditemani ayahnya sendiri, Wahb, dan beberapa orang dari bani Hasyim. Dengan penuh
perhatian Aminah mendengarkan kata-kata ayahnya. "Aminah, tabahkan hatimu menghadapi soal-soal yang
mencemaskan. Kafilah yang kita nantikan kedatangannya telah tiba kembali di Makkah. Ketika kami
tanyakan kepada mereka tentang keberadaan suamimu, mereka memberitahu, bahwa suamimu mendadak
sakit dalam perjalanan pulang. Setelah sembuh ia akan segera kembali dengan selamat..." hiburnya.

Dua bulan Aminah menunggu, diutuslah Al-Harits oleh Abdul Muthalib untuk menyusul Abdullah ke Yatsrib
(Madinah) yang sedang sakit. Akan tetapi kedatangan Al-Harits dari Yatsrib (Madinah) disambut duka cita
yang mendalam setelah mengabarkan, bahwa Abdullah telah wafat, di tengah kaum kerabatnya, Bani
Makhzum.

Betapa hancur hati Aminah mendengar berita yang sangat menyedihkan itu. Dua bulan ia menunggu
kedatangan suaminya yang meninggalkan rumah dalam keadaan pengantin baru, tetapi yang datang bukan
Abdullah, melainkan berita wafatnya.

Akan tetapi akhirnya Aminah menyadari setelah ia memahami hikmah kejadian yang memilukan itu. Pada
waktu masih jejaka, Abdullah nyaris dikorbankan nyawanya untuk memenuhi nadzar ayahnya, Abdul
Muthalib. Ia selamat berkat perubahan sikap ayahnya yang bersedia menebus nadzarnya dengan
menyembelih seratus ekor unta. Tampaknya Allah memberi kesempatan hidup sementara kepada Abdullah
hingga ia meninggalkan janin dalam kandungan istrinya.

Beberapa minggu menjelang kelahiran Muhammad, kota Makkah akan diserbu oleh Abrahah, penguasa dari
Yaman yang akan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi sebagaimana diketahui, sebelum niatnya terwujud,
Abrahah beserta beserta seluruh bala tentaranya dihancurkan oleh Allah swt.

Aminah melahirkan puteranya menjelang fajar hari Senin bulan Rabi'ul Awwal tahun Gajah. Saat itu ia
berada seorang diri di dalam rumah, hanya ditemani seorang pembantunya, Barakah Ummu Aiman. Karena
kondisi kesehatnnya yang memburuk, Aminah tidak dapat mengeluarkan air susu. Penyusuan bayi yang
oleh kakeknya diberi nama Muhammad diserahkan kepada Tsuaibah Al-Aslamiyah. Selanjutnya penyusuan
berpindah kepada Halimah as- Sa'diyah, seorang wanita yang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr.

Setelah mencapai usia lima tahun Muhammad dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Pada kesempatan itu
Aminah bermaksud mengajak buah hatinya berziarah ke makam ayahnya, Abdullah. Akan tetapi sungguh
malang, dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah, bunda Muhammad saw, ini wafat di sebuah
pedusunan bernama Abwa, terletak di antara Madinah dan Makkah. Selamat jalan ibu dari manusia termulia
Muhammad saw.

Sumber: Hidayatullah

Mush'ab bin Umair


Sepulang dari mengikat janji dengan Rasulullah di lembah Aqabah, ummat Islam Yastrib segera pulang
kembali ke kotanya dan mulai menyusun strategi da'wah yang akan diterapkan di Yastrib. Situasi "ipoleksus"
Yastrib saat itu benar-benar memerlukan pemikiran dan kerja bersama untuk menghadapinya. Saat itu jalur
ekonomi dan politik dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Sistem riba yang diterapkan Yahudi sangat
mengganggu roda perekonomian, dimana kesenjangan antara kaya dan miskin terama t kentara.
Sementara itu kesatuan masyarakat Yastrib yang terdiri dari berbagai suku, selalu dalam kondisi terpecah
dan saling curiga, ditambah dengan intrik-intrik Yahudi yang selalu meniupkan rasa permusuhan di antara
mereka. Opini umum saat itu juga dikuasai Yahudi. Kedaan diperparah dengan kepercayaan tradisi leluhur
dan animisme yang membelenggu cara berpikir masyarakat. Singkatnya, jalan da'wah di Yastrib masih
terasa teramat sulit.

Hasil pengamatan lapangan ini semua memerlukan analisis dan penyusunan strategi yang briliant, dan juga
sekaligus "bil-hikmah" serta "istiqomah". Perlu pendekatan kompromistis tanpa harus menyelewengkan nilai-
nilai al-Islam. Mereka berpikir keras dan menyusun strategi. Akhirnya diputuskan untuk menempuh jalan
da'wah sirriyyah (da'wah secara diam-diam).
Dalam musyawarah pasca Aqabah itu, diputuskan juga untuk menugaskan seseorang untuk menghadap
RasuluLlah, meminta kepada beliau untuk mengirimkan seorang da'i dan instruktur ke Yastrib. Da'i ini
dipandang sangat perlu untuk mengajar "alif-ba-ta"nya ajaran-ajaran Al-Qur'an, sekaligus menjadi "uswah"
mereka dalam cara hidup yang Islami. Menurut mereka inilah cara terbaik untuk meningkatkan akselerasi
da'wah di Yastrib, tanpa harus kehilangan arah.

RasuluLlah sangat menghargai nilai strategis yang telah diputuskan oleh kaum muslimin Yastrib, beliau juga
sangat memahami obsesi yang mereka miliki saat itu. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mengabulkan
permohonan delegasi Yastrib, serta menunjuk Mush'ab al-Khair bin 'Umair RA. Tentunya bukan tanpa alasan
RasuluLlah memilih pemuda pendiam yang satu ini. Beberapa sisi kehidupan yang ada pada diri Mush'ab
sangat menentukan dalam mengantarkannya m enduduki jabatan penting ini. Ia adalah kader RasuluLlah
hasil binaan dan tempaan madrasah Arqom bin Arqom. Dengan begitu kualitas dan taat asasnya sangat
terjamin.

Mush'ab adalah tipe muslim yang mengutamakan banyak kerja. Dengan sikap "sami'na wa atho'na",
Mush'ab menerima tugas yang diamanahkan RasululuLlah ke atas pundaknya. Jadilah ia seorang utusan
dari Sang Utusan. Dengan segera, sesampainya di Yastrib, Mush'ab menemui para naqib (pimpinan
kelompok) yang ditunjuk RasuluLlah di Aqabah. Dengan mereka, Mush'ab membuat koutline langkah-
langkah da'wah yang akan mereka lakukan. Untuk menghindari benturan langsung dengan masyarakat
Yahudi, yang saat itu sangat geram karena mengetahui bahwa Nabi Terakhir ternyata bukan dari kalangan
mereka, Mush'ab menetapkan untuk mempertahankan jalan da'wah secara sirriyyah. Disamping itu,
ditetapkan kuntuk mempertinggi intensitas da'wah kepada beberapa kabilah, terutama Aus dan Khajraj,
karena kedua kabilah ini dinilai sangat potensial dan merupakan kunci dalam memudahkan jalan da'wah.

Mush'ab bin Umair terjun langsung memimpin para naqib dalam berda'wah. Beliau berda'wah tanpa
membagi-bagikan roti dan nasi atau jampi-jampi. Ia meyakini Islam ini adalah dienul-haq, dan harus
disampaikan dengan haq (benar) pula, bukan dengan bujukan apalagi paksaan. Mush'ab terkenal sangat
lembut namun tegas dalam menyampaikan da'wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan pedang oleh
Usaid bin Khudzair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. Dengan tenang, Mush'ab berkata:
"Mengapa anda tidak duduk dulu bersama kami untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila
tertarik, alhamduliLlah, bila tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai."
Keduanya terdiam dan menerima tawaran Mush'ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. Mereka
ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya bersyahadat ... dan tidak itu saja mereka
kembali kepada kelompok masyarakatnya dan mengajak mereka semua memeluk Islam.

Demikianlah, satu persatu kabilah-kabilah di Yastrib menerima Islam. Hampir semua anggota kedua kabilah
besar: Aus dan Khajraj, mau dan mampu menerima Islam. Gaya hidup terasa mulai berubah di Yastrib.
Lingkaran jamaah muslim semakin melebar, hampir di setiap perkampungan ditemui halaqah-halaqah Al-
Qur'an. Potensi ummat telah tergalang, namun demikian Mush'ab tidak lantas merasa berwenang untuk
memutuskan langkah da'wah selanjutnya. Untuk itu Mush'ab mengirim utusan kepada RasuluLlah untuk
meminta pendapat beliau mengenai langkah da'wah selanjutnya, apakah perlu diadakan "show of force"
dengan sholat berjamaah di Musim haji tiba! Mush'ab bersama tujuh puluh-an muslim Yastrib menuju
Makkah dengan tujuan utama menemui pimpinannya: RasuluLlah SAW, untuk melaporkan hasil dan
problema da'wah di Yastrib, serta mengantarkan para muslimin Yastrib untuk berbai'ah kepada RasuluLlah
SAW. Mush'ab tidak berlama-lama di kampung halamannya, karena tugasnya di Yastrib telah menanti.
Beliau 9ksegera kembali bersama rombongan menuju ke Yastrib untuk semakin menggiatkan aktifitas
da'wah, serta mempersiapkan kondisi bila sewaktu-waktu RasuluLlah dan muslimin Makkah berhijrah ke
Yastrib. Penerapan nilai-nilai Islam di Yastrib berjalan mulus, murni dan konsekuen. Kaum Yahudi tidak
banyak berbicara, mereka melihat kekuatan muslimin yang semakin besar, sulit untuk dipecah. Singkatnya,
saat itu, kota Yastrib dan mayoritas penduduknya telah siap secara aqidah dan siyasah (politik). Mereka
dengan antusias menantikan kedatangan RasuluLlah d an muslimin Makkah.

Akhirnya, sampailah para muhajirrin dari Makkah di Madinah ... Islam berkembang semakin luas dan kuat.
Pada titik ini, bukan berarti Mush'ab minta pensiun, karena beliau menyadari bahwa tugas seorang da'i tak
kenal henti. Beliau tetap terlibat aktif dalam da'wah dan peperangan. Beliau mendapatkan syahid-nya di
medan pertempuran Uhud. RasuluLlah sangat terharu sampai menitikkkan air mata ketika melihat jenazah
Mush'ab. Kain yang dipakai kuntuk mengkafaninya tidak cukup, bila ditarik untuk menutupi kepalanya,
tersingkaplah bagian k akinya, dan bila di tarik ke bawah, tersingkaplah bagian kepalanya. RasuluLlah
terkenang dengan masa muda pemuda Quraisy ini yang mempunyai puluhan pasang pakaian yang indah-
indah. Saat itulah RasuluLlah membaca bagian dari surat al-Ahzab ayat 23:
"Sebagian mu'min ada yang telah menepati janji mereka kepada Allah, sebagian mereka mati syahid,
sebagian lainnya masih menunggu, dan mereka memang tidak pernah mengingkari janji."

Mush'ab bin 'Umair wafat dalam usia belum lagi 40 tahun. Ia masih muda, tidak sempat melihat hasil positif
dari kerja akbar yang telah dilakukannya. Semoga ALlah Rabbul Jalil merahmati Mush'ab al-Khair bin 'Umair.

Anda mungkin juga menyukai