Anda di halaman 1dari 8

TRANSPORTASI PASIEN PASCABEDAH

RSKB No Dokumen No. Revisi Halaman


BANJARMASIN A.04.01.01 1 dari 2
SIAGA
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B

Proses perpindahan pasien dari kamar bedah ke ruang rawat khusus dan ruang rawat inap
PENGERTIAN
sesuai dengan kondisi medis pasien.

1. Untuk optimalisasi proses perpindahan pasien.


TUJUAN 2. Untuk memantau kondisi medis pasien selama perpindahan.

1. Transpor pasien pasca bedah ke ruang rawat inap dilakukan oleh perawat ruangan/dokter
ruangan.
KEBIJAKAN 2. Pada kondisi khusus, transportasi pasien didampingi oleh dokter anestesi.
3. Untuk pasien rawat jalan, pasien pulang bersama keluarga.

1. Perawat ruang pulih menghubungi ruang rawat untuk menjemput pasien, pada
kondisi khusus diinformasikan kebutuhan alat medik tambahan seperti; oksigen dan
monitor.
2. Sebelum transportasi pasien, dilakukan serah terima antara staf ruang pulih dengan
penjemput pasien.
3. Penjemputan pasca bedah dilakukan oleh perawat ruangan.
4. Pada kondisi khusus seperti; pasien dengan alat bantu nafas, pasien dengan
pemantauan ketat, transportasi dilakukan oleh dokter Anestesi yang menguasai
PROSEDUR kondisi pasien.
5. Transportasi dilakukan oleh perawat ruangan.
6. Transportasi dari kamar bedah ke ruang RTI/HCU harus dilakukan oleh DPJP atau
residen anestesiologi, tanpa atau dengan oksigen transpor dan monitor transpor bila
diperlukan sesuai indikasi.
7. Transportasi pasien ke ruang rawat inap dilakukan oleh perawat ruangan/dokter
ruangan.
8. Untuk pasien rawat jalan, setelah pembedahan pulang diantar oleh keluarga dan
petugas pengantar pasien.

1. Kamar bedah
UNIT TERKAIT 2. Ruang Rawat Inap
3. ICU
URAIAN TUGAS TIM CODE BLUE DI TIAP UNIT KERJA

RSKB No Dokumen No. Revisi Halaman


BANJARMASIN A.04.01.02 1 dari 2
SIAGA
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B

Tim Code Blue adalah terminologi yang digunakan untuk menyiagakan Tim Code Blue (tim
resusitasi) di unit kerja bila terdapat pasien dengan masalah henti jantung/ napas. Tim yang
PENGERTIAN dibentuk untuk siap siaga dalam menangani masalah kegawatdaruratan dan henti nafas dan
jantung (cardiac arrest)

Untuk menjamin terlaksananya protap-protap tentang penatalaksanaan bantuan hidup dasar


TUJUAN dan bantuan hidup lanjut sesuai dengan standar, baik dari segi personil (SDM) maupun
peralatan.

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Tim Code Blue RSKBB Siaga.

1. Ketua Tim Code Blue adalah seorang dokter jaga yang bertugas pada hari itu
sebagai Leader Code Blue dalam melakukan tindakan penatalaksanaan.
2. Perawat yang pertama kali menemukan melakukan cek respon dilanjutkan dengan
meminta bantuan atau mengaktifkan code blue system dengan menelpon 117 (ruang
perawatan), kemudian mengecek nadi karotis pasien. Apabila nadi karotis tidak
teraba maka dilakukan kompresi jantung (1 menit 100 kompresi) disertai ventilasi
sebanyak 2 kali dan dilakukan selama 5 siklus. Kemudian setiap 2 menit dilakukan
evaluasi dengan mengecek nadi karotis pasien. Resusitasi jantung paru dilakukan
sesuai dengan indikasi. Apabila nadi karotis teraba dilakukan pengecekan jalan nafas
dengan look (melihat) pergerakan dinding dada, listen (mendengarkan suara nafas),
feel (merasakan hembusan nafas). Apabila pasien tidak bernafas, maka diberikan
rescue breathing (napas buatan) dengan perhitungan 10x/menit. Setelah itu
dilakukan evaluasi kembali nadi karotis dan nafas pasien.
3. Perawat 117 adalah perawat yang merupakan anggota tim code blue yang jaga di
ruang rawat inap dan dibekali kemampuan melakukan bantuan hidup dasar dan
PROSEDUR
bantuan hidup lanjut. Perawat yang apabila menerima informasi kegawatdaruratan
berangkat menuju lokasi kejadian dengan membawa emergency kit.
4. Perawat pembantu 1 & Perawat perawat pembantu 2 adalah perawat yang bertugas
pada hari itu dengan kualifikasi mahir BTCLS atau sejenisnya, yang akan membantu
dokter dan perawat 117 untuk melakukan kompresi jantung dan pernafasan buatan
pada kegiatan penatalaksanaan Code Blue secara bergantian. Perwat pembantu 1 dan
perawat pembantu 2 adalah merupakan bagian dari tim code code blue.
5. Perawat pembantu 3 adalah perawat yang juga membantu menyiapkan alat & obat
tindakan penatalaksanaan Code Blue yang bertugas pada hari itu dan bertugas:
a. Mengecek peralatan dan obat resusitasi di troli emergensi
b. Melaporkan kepada kepala jaga jika membutuhkan upaya penyediaan obat/
alat yang tidak ada atau sudah terpakai.
6. Petugas Satpam dan cleaning service berkewajiban untuk membantu mengamankan
jalur evakuasi/ membuka akses jalan, mengosongkan lift untuk mempermudah
pemindahan pasien ke tempat yang aman apabila diperlukan.

1. Seluruh Instalasi di RSKB Banjarmasin Siaga


UNIT TERKAIT 2. Seluruh Unit Pelayanan RSKB Banjarmasin Siaga
PENANGANAN CARDIAC ARREST OLEH 1 PENOLONG NON TENAGA MEDIS
DAN PARAMEDIS
RSKB
BANJARMASIN No Dokumen No. Revisi Halaman
SIAGA A.04.01.03 1 dari 2
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B
Penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara
cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal
PENGERTIAN untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen

Untuk memberikan resusitasi dan stabilisasi yang cepat bagi korban yang mengalami
TUJUAN
kondisi henti jantung dan henti nafas yang berada dalam kawasan rumah sakit.

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Penanganan Cardiac Arrest

1. Penolong non tenaga medis dan paramedis di RSKB Banjarmasin Siaga adalah
cleaning service, satpam, bagian informasi, staf PT dan sekretariat, tukang parkir,
tenaga Farmasi (Apoteker dan Asisten Apoteker), Radiographer, petugas
laboratorium, House Skipper, staf pegawai keuangan, petugas rekam medik dan
petugas atau staf lainnya yang bukan dokter atau perawat.
2. Penolong 1 mengecek respon pasien dengan menepuk bahu pasien sambil
memanggil pasien dengan suara keras.
3. Apabila pasien unresponsive atau tidak sadar, penolong 1 meminta bantuan kepada
penolong 2 untuk menelpon 117 (ruang perawatan) dengan mengatakan “Code
Blue....Code Blue....Code Blue..tempat kejadian, Dewasa atau anak-anak.”
4. Penolong 1 boleh melakukan resusitasi jantung paru sesuai dengan kompetensi
yang diajarkan kepadanya yaitu dengan mengecek nadi karotis pasien. Apabila nadi
karotis tidak teraba maka dilakukan kompresi jantung (1 menit 100 kompresi)
PROSEDUR
disertai ventilasi (nafas buatan dari mulut ke mulut ) sebanyak 2 kali dan dilakukan
selama 5 siklus. Kemudian setiap 2 menit dilakukan evaluasi dengan mengecek nadi
karotis pasien. Apabila nadi pasien teraba dilakukan pengecekan jalan nafas dengan
look (melihat) pergerakan dinding dada, listen (mendengarkan suara nafas), feel
(merasakan hembusan nafas). Apabila pasien tidak bernafas, maka diberikan rescue
breathing (napas buatan) dengan perhitungan 10x/menit. Setelah itu dilakukan
evaluasi kembali nadi karotis dan nafas pasien.
5. Apabila telah datang tenaga perawat atau tenaga dokter maka penanganan cardiac
arrest yang dilakukan penolong 1 non tenaga medis atau paramedis digantikan oleh
tenaga perawat atau dokter yang datang.
6. Apabila tim Code Blue sudah datang dan kondisi pasien sudah RSOC serta
memerlukan bantuan hidup dasar lanjutan, maka tim boleh mentrasfer pasien
tersebut ke ICU.

1. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga


UNIT TERKAIT 2. Seluruh staf non medis dan paramedis di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
URAIAN PENANGANAN CARDIAC ARREST OLEH 2 PENOLONG NON
TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS
RSKB
BANJARMASIN No Dokumen No. Revisi Halaman
SIAGA A.04.01.04 1 dari 1
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B
Penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara
cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal
PENGERTIAN untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen

Untuk memberikan resusitasi dan stabilisasi yang cepat bagi korban yang mengalami
TUJUAN
kondisi henti jantung dan henti nafas yang berada dalam kawasan rumah sakit.

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Penanganan Cardiac Arrest

1. Penolong non tenaga medis dan paramedis di RSKB Banjarmasin Siaga adalah
cleaning service, satpam, bagian informasi, staf PT dan sekretariat, tukang parkir,
tenaga Farmasi (Apoteker dan Asisten Apoteker), Radiographer, petugas
laboratorium, House Skipper, staf pegawai keuangan, petugas rekam medik dan
petugas atau staf lainnya yang bukan dokter atau perawat.
2. Penolong 1 mengecek respon pasien dengan menepuk bahu pasien sambil
memanggil pasien dengan suara keras (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive).
3. Apabila pasien unresponsive atau tidak sadar, penolong 1 meminta bantuan kepada
penolong 2 untuk menelpon 117 (ruang perawatan) dengan mengatakan “Code
Blue....Code Blue....Code Blue..tempat kejadian, Dewasa atau anak-anak.”
4. Penolong 1 boleh melakukan resusitasi jantung paru sesuai dengan kompetensi yang
diajarkan kepadanya yaitu dengan mengecek nadi karotis pasien. Apabila nadi
karotis tidak teraba maka dilakukan kompresi jantung (1 menit 100 kompresi)
PROSEDUR disertai ventilasi (nafas buatan dari mulut ke mulut ) sebanyak 2 kali dan dilakukan
selama 5 siklus. Kemudian setiap 2 menit dilakukan evaluasi dengan mengecek nadi
karotis pasien. Apabila nadi teraba dilakukan pengecekan jalan nafas dengan look
(melihat) pergerakan dinding dada, listen (mendengarkan suara nafas), feel
(merasakan hembusan nafas). Apabila pasien tidak bernafas, maka diberikan rescue
breathing (napas buatan) dengan perhitungan 10x/menit. Setelah itu dilakukan
evaluasi kembali nadi karotis dan nafas pasien.
5. Apabila telah datang tim code blue atau tenaga dokter maka penanganan cardiac
arrest yang dilakukan penolong 1 digantikan atau diambil alih oleh tenaga perawat
atau dokter yang datang.
6. Apabila tim Code Blue sudah datang dan kondisi pasien sudah RSOC serta
memerlukan bantuan hidup dasar lanjutan, maka tim boleh mentransfer pasien
tersebut ke ICU. Apabila pasien dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, maka
pasien ditransfer ke kamar mayat.
1. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga
UNIT TERKAIT 2. Seluruh staf non medis dan paramedis di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
URAIAN PENANGANAN CARDIAC ARREST OLEH PERAWAT

RSKB No Dokumen No. Revisi Halaman


BANJARMASIN A.04.01.05 1 dari 1
SIAGA
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B
Penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara
cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal
PENGERTIAN untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen

Untuk memberikan resusitasi dan stabilisasi yang cepat bagi korban yang mengalami
TUJUAN
kondisi henti jantung dan henti nafas yang berada dalam kawasan rumah sakit.

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Penanganan Cardiac Arrest

1. Penolong 1 mengecek respon pasien dengan menepuk bahu pasien sambil


memanggil pasien dengan suara keras apakah pasien AVPU (alert, verbal, pain,
unresponsive)
2. Apabila pasien unresponsive atau tidak sadar, penolong 1 meminta bantuan kepada
penolong 2 untuk meminta bantuan ke 117 (ruang perawatan) dengan mengatakan
“Code Blue....Code Blue....Code Blue..tempat kejadian, Dewasa atau anak-anak.”
(sesuai prosedur memberikan informasi)
3. Penolong 1 melakukan perabaan nadi karotis selama 10 detik
4. Apabila nadi pasien tidak teraba, penolong melakukan pijat jantung 30 kali dengan
kedalaman tekanan 4-5 cm pada posisi dua jari diatas tulang sternum, untuk
kecepatan melakukan pijat jantung minimal 100 kali/menit dan membuat adanya
recoil dada sempurna. kemudian dievaluasi dengan meraba nadi karotis pasien.
Kemudian dilanjutkan dengan pemberian ventilasi 2 kali, dilanjutkan dengan
mengevaluasi nadi karotis dan pernapasan pasien. Apabila nadi karotis teraba
PROSEDUR
dilakukan pengecekan jalan nafas dengan look (melihat) pergerakan dinding dada,
listen (mendengarkan suara nafas), feel (merasakan hembusan nafas). Apabila
pasien tidak bernafas, maka diberikan rescue breathing (napas buatan) dengan
perhitungan 10x/menit. Setelah itu dilakukan evaluasi kembali nadi karotis dan nafas
pasien.
5. Apabila pasien nadi karotis pasien belum teraba, penolong kembali melakukan pijat
jantung 30 kali dilanjutkan 2 kali nafas bantuan secara mouth-to-mouth atau back
valve mask (bila alat sudah tersedia) selama 5 siklus dan dievaluasi selama 2 menit
sampai tim code blue datang.
6. Untuk pemberian obat ephineprine, diberikan dosis 1 mg setiap 3-5 menit.
7. Apabila tim Code Blue sudah datang maka posisi penolong sebelumnya digantikan
oleh tim dan bila kondisi pasien sudah RSOC serta memerlukan bantuan hidup dasar
lanjutan, maka tim boleh mentrasfer pasien tersebut ke ICU.
8. Apabila status pasien meninggal, maka pasien ditransfer ke instalasi kamar mayat.

1. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga


UNIT TERKAIT 2. Seluruh staf perawat di berbagai unit di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) PADA SITUASI PASIEN HARUS SEGERA
DITRANSFER KE ICU ATAU IGD
RSKB
BANJARMASIN No Dokumen No. Revisi Halaman
SIAGA A.04.01.06 1 dari 1
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B

Resusitasi jantung paru adalah tindakan penanganan pasien yang mengalami henti nafas dan
PENGERTIAN jantung.

Untuk menstabilkan kondisi menjadi RSOC (respon spontaneous of circulation) atau


TUJUAN kembalinya sirkulasi pasien ke kondisi normal (nafas pasien spontan, nadi karotis pasien
teraba).

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Penanganan Cardiac Arrest
1. Cek respon pasien
2. Minta bantuan (mengaktifkan sistem code blue) dengan menelpon 117 (ruang rawat
inap)
3. Lakukan cek nadi karotis < 10 detik. Bila nadi karotis pasien negatif lakukan RJP
atau dengan kompresi jantung 30x dan ventilasi (nafas buatan) 2x
4. Kemudian raba nadi karotis pasien, bila negatif lanjutkan RJP sampai 4 siklus
5. Evaluasi nadi pasien selama 2 menit
PROSEDUR 6. Bila tim code blue datang untuk menstransfer pasien, RJP tetap dilakukan sesuai
dengan target siklus RJP.
7. Untuk mentransfer pasien RJP dihentikan selama 10 detik.
8. Setiap 10 detik dalam perjalanan mentransfer pasien, transfer pasien harus
dihentikan kemudian dilanjutkan melakukan RJP pasien..
9. Cek nadi karotis pasien selama 2 menit selama pasien transfer.
10. Untuk melakukan transfer harus memakai alas yang keras agar mudah melakukan
RJP.
3. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga
UNIT TERKAIT 4. Seluruh staf non medis dan paramedis di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
TATA CARA MEMINTA BANTUAN APABILA TERJADI KASUS-KASUS
KEGAWATDARURATAN
RSKB
BANJARMASIN No Dokumen No. Revisi Halaman
SIAGA A.04.01.07 1 dari 1
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B
Call for help atau meminta bantuan adalah rangkaian proses komunikasi yang dilakukan
oleh penolong yang menemukan kepada penolong lainnya atau tim agar membantu dirinya
PENGERTIAN dalam menangani kasus-kasus kegawatdaruratan utamanya kasus-kasus henti nafas dan
jantung

Untuk menginformasikan kepada tim code blue atau penolong lain agar datang membantu
TUJUAN
atau menangani kasus kegawatdauratan yang dihadapi

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Tata Cara Meminta Bantuan Apabila Terjadi
Kasus-Kasus Kegawatdaruratan
1. Apabila terjadi kasus kegawatdaruratan misalnya henti nafas dan henti jantung
maka penolong atau orang yang menemukan pertama kali menghubungi rawat inap
dengan menekan no telpon : 117. Kemudian penolong lainnya menghubungi bagian
informasi agar di umumkan ke seluruh tim code blue.
2. Adapun yang diumumkan oleh bagian informasi bila terjadi kasus-kasus
PROSEDUR
kegawatdarutan adalah :
3. Sebutkan code blue sebanyak 3 kali “code blue...code blue...code blue”
Sebutkan lokasi kejadian, misal : depan depo farmasi, Sebutkan status usia pasien,
Dewasa atau anak ? khusus perawata menyebutkan pasien trauma atau non trauma.
4. Pengumuman tersebut diulang sebanyak 3 kali
1. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga
UNIT TERKAIT 2. Seluruh staf non medis dan paramedis di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
PENANGANAN CARDIAC ARREST OLEH 1 PERAWAT 117 (PERAWAT CODE
BLUE)
RSKB
BANJARMASIN No Dokumen No. Revisi Halaman
SIAGA A.04.01.08 1 dari 2
Ditetapkan,
Tanggal Terbit Direktur RSKB Banjarmasin Siaga
STANDAR
PROSEDUR
25 Mei 2015
OPERASIONAL
dr. M. Noor Amrullah Sp. B
Penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan bereaksi secara
cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal
PENGERTIAN untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen

Untuk memberikan resusitasi dan stabilisasi yang cepat bagi korban yang mengalami
TUJUAN
kondisi henti jantung dan henti nafas yang berada dalam kawasan rumah sakit.

Keputusan Direktur RSKBB Siaga Nomor :


KEBIJAKAN
Tentang Kebijakan Pemberlakukan SPO Penanganan Cardiac Arrest

1. Perawat 117 jaga sendirian yang mendapat telpon bukan dari bagian informasi
lansung menuju lokasi kejadian dengan penolong tersebut meminta kepada
penolong lain untuk menghubungin tim code blue terdekat dengan lokasi kejadian
2. Penolong 1 mengecek kembali nadi karotis pasien.
3. Penolong 1 melakukan resusitasi jantung paru sesuai dengan kompetensi yang
diajarkan kepadanya yaitu dengan mengecek nadi karotis pasien. Apabila nadi
karotis tidak teraba maka dilakukan kompresi jantung (1 menit 100 kompresi)
disertai ventilasi (nafas buatan dari mulut ke mulut ) sebanyak 2 kali dan dilakukan
PROSEDUR selama 5 siklus. Kemudian setiap 2 menit dilakukan evaluasi dengan mengecek nadi
karotis pasien. Apabila nadi pasien teraba dilakukan pengecekan jalan nafas dengan
look (melihat) pergerakan dinding dada, listen (mendengarkan suara nafas), feel
(merasakan hembusan nafas). Apabila pasien tidak bernafas, maka diberikan rescue
breathing (napas buatan) dengan perhitungan 10x/menit. Setelah itu dilakukan
evaluasi kembali nadi karotis dan nafas pasien.
4. Apabila pasien telah dinyatakan meninggal oleh dokter di transfer ke kamar mayat
5. Apabila terdapat tanda-tanda kehidupan yaitu nadi karotis (+), Nafas pasien
spontan pasien dirujuk ke ruang ICU.

1. Seluruh Unit Pelayanan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga


UNIT TERKAIT 2. Seluruh staf non medis dan paramedis di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga