0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan22 halaman

Tugas Macam-Macam Sensor

1. Sensor proximity adalah alat untuk mendeteksi keberadaan objek tanpa kontak fisik dengan mengukur jarak objek tersebut. 2. Terdapat beberapa jenis sensor proximity seperti inductive, capacitive, optic, dan ultrasonic. 3. Sensor cahaya dapat memberikan respon terhadap perubahan intensitas cahaya dan dibedakan menjadi fotovoltaik dan fotokonduktif.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan22 halaman

Tugas Macam-Macam Sensor

1. Sensor proximity adalah alat untuk mendeteksi keberadaan objek tanpa kontak fisik dengan mengukur jarak objek tersebut. 2. Terdapat beberapa jenis sensor proximity seperti inductive, capacitive, optic, dan ultrasonic. 3. Sensor cahaya dapat memberikan respon terhadap perubahan intensitas cahaya dan dibedakan menjadi fotovoltaik dan fotokonduktif.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROXIMITY

A. PENGERTIAN
Proximity Switch atau Sensor Proximity adalah alat pendeteksi ada atau tidak sebuah
obyek tanpa melakukan kontak fisik dengan obyek tersebut. Karakteristik dari sensor
ini adalah mendeteksi obyek benda dengan jarak yang cukup dekat, berkisar antara 1
mm sampai beberapa centi meter saja sesuai tipe sensor yang digunakan.
B. PRINSIP KERJA
Cara kerja sensor ini adalah ketika ada suatu obyek logam maupun non logam
mendekat pada sensor dengan jarak yang cukup dekat maka sensor akan mendeteksi
obyek dan menangkap sinyal sebagai tanda bahwa ada obyek yang melewati sensor.
C. JENIS-JENIS
1. Proximity inductive
Jenis sensor ini digunakan untuk mendeteksi adanya sebuah logam. Sensor ini akan
bekerja apabila terdapat suatu tegangan sumber, dan isolator pada sensor akan
membangkitkan sebuah medan magnet dengan frekuensi tinggi. Dengan proses ini,
apabila terdapat sebuah bahan logam yang terdeteksi oleh permukaan sensor maka
medan magnet yang di hasilkan akan berubah dan perubahan ini yang akan membuat
sensor memberikan sinyal.

Gambar Proximity inductive

2. Proximity capacitive
Sensor ini sedikit berbeda dengan sensor inductive, sensor ini tidak hanya dapat
mendeteksi benda logam saja tetapi juga bisa mendeteksi benda non logam dengan
mengukur perbedaan kapasitansi medan listrik pada kapasitor. Penggunaan sensor ini
biasanya digunakan pada bagian belakang mobil untuk memudahkan mengatur posisi
parker sebuah kendaraan.
Gambar Proximity Capacitive

3. Proximity Optic Sensor


Sensor proximity optik ini mendeteksi keberadaan suatu obyek dengan cahaya
biasnya atau pantulan cayaha(refleksi) yaitu infra red. Bila terdapat benda dengan
jarak yang cukup dekat dengan sensor, maka cahaya yang terdapat pada sensor akan
memantul kembali pada penerima(receptor) sehingga penerima akan menangkap
sinyal tersebut sebagai tanda bahwa ada obyek yang melewati sensor. Salah satu
implementasi sensor proximity optik ini yang paling dekat dengan keseharian kita
adalah pada penggunaan touch screen pada ponsel.

Gambar Proximity sensor pada ponsel

4. Sensor proximity ultrasonic


Sensor Jarak Ultrasonik atau Ultrasonic Proximity Sensor adalah sensor jarak yang
menggunakan prinsip operasi yang mirip dengan radar atau sonar yaitu dengan
menghasilkan gelombang frekuensi tinggi untuk menganalisis gema yang diterima
setelah terpantul dari objek yang mendekatinya. Sensor Proximity Ultrasonik ini akan
menghitung waktu antara pengiriman sinyal dengan penerimaan sinyal untuk
menentukan jarak objek yang bersangkutan. sering digunakan untuk mendeteksi
keberadaan objek dan mengukur jarak objek di proses otomasi pabrik.
Gambar Proximity Ultrasonik
PHOTOELECTRIC SWITCH SENSOR

A. PENGERTIAN

Sensor cahaya adalah komponen elektronika yang dapat memberikan perubahan


besaran elektrik pada saat terjadi perubahan intensitas cahaya yang diterima
oleh sensor cahaya tersebut. Sensor cahaya dalam kehidupan sehari-hari dapat kita
temui pada penerima remote televisi dan pada lampu penerangan jalan otomatis.

B. PRINSIP KERJA
Sensor ini menggunakan elemen peka cahaya untuk mendeteksi benda-benda dan
terdiri dari transmitter/emitor (sumber cahaya) dan penerima (receiver). Tipe
keluaran sensor fotoelektrik terbagi menjadi dua yaitu: Light ON - Receiver
menerima sinar maka output/keluaran ON, ketika sinar terpotong oleh obyek
maka output/keluaran OFF. Tipe kedua adalah Dark ON - Receiver menerima
sinar maka output/keluaran OFF, ketika sinar terpotong oleh obyek maka
output/keluaran ON.
C. JENIS-JENIS
Berdasarkan tipe pemantulan cahayanya, sensor ini dibagi menjadi 4 yaitu:
1. Pemantulan Langsung (Direct Reflection).
Transmitter dan receiver ditempatkan bersama-sama dan menggunakan cahaya
yang dipantulkan langsung dari objek untuk melakukan deteksi. Pemilihan
photosensor jenis ini harus mempertimbangkan warna dan tipe permukaan
objek (kasar, licin, buram, terang). Dengan permukaan buram, jarak sensing
akan dipengaruhi oleh warna objek. Warna-warna terang berpengarh terhadap
jarak sensing maksimum dan warna gelap berpengaruh terhadap jarak sensing
minimum. Jika permukaan obyek mengkilap, efek permukaan yang lebih
penting daripada warna. Pada data tehnik (katalog), jarak sensing yang tertera
merupakan uji dengan menggunakan kertas putih (matte).
2. Pemantulan dengan reflektor (Reflection with Reflector).
Transmitter dan receiver ditempatkan bersama-sama dan membutuhkan
reflektor. Obyek terdeteksi karenan memotong cahaya antara sensor dan
reflektor sehingga receiver tidak menerima cahaya. Sensor ini memungkinkan
jarak sensing lebih jauh. Dengan adanya reflector sinar yang dipancarkan akan
dipantulkan sepenuhnya ke receiver.
3. Pemantulan terpolarisasi dengan reflektor (Polarized Reflection with
Reflector).
Mirip dengan Pemantulan dengan reflektor, sensor fotoelektrik ini
menggunakan perangkat anti-refleks. Jadi reflector tidak mengkilap. Sensor ini
mendasarkan fungsi pada sebuah pita cahaya terpolarisasi, memberikan
keuntungan dan deteksi akurat bahkan ketika permukaan obyek sangat
mengkilap. Data teknik tidak ada karena sangat dipengaruhi oleh pemantulan
acak (benda apa saja).
4. Pemantulan terpolarisasi dengan reflektor (Polarized Reflection with
Reflector).
Mirip dengan Pemantulan dengan reflektor, sensor fotoelektrik ini
menggunakan perangkat anti-refleks. Jadi reflector tidak mengkilap. Sensor ini
mendasarkan fungsi pada sebuah pita cahaya terpolarisasi, memberikan
keuntungan dan deteksi akurat bahkan ketika permukaan obyek sangat
mengkilap. Data teknik tidak ada karena sangat dipengaruhi oleh pemantulan
acak (benda apa saja).

Berdasrkan perubahan output sensor cahaya maka sensor cahaya dapat dibedakan
kedalam 2 tipe yaitu :

1. Sensor cahaya tipe fotovoltaik

Sensor cahaya tipe fotovolataik adalah sensor cahaya yang dapat memberikan
perubahan tegangan pada output sensor cahaya tersebut apabila sensor tersebut
menerima intensitas cahaya. Salah satu contoh sensor cahaya tipe fotovoltaik
adalah solar cell atau sel surya.

Sensor cahaya tipe photovoltaic adalah alat sensor sinar yang mengubah
energi sinar langsung menjadi energi listrik. Sel solar silikon yang modern
pada dasarnya adalah sambungan PN dengan lapisan P yang transparan. Jika
ada cahaya pada lapisan transparan P akan menyebabkan gerakan elektron
antara bagian P dan N, jadi menghasilkan tegangan DC yang kecil sekitar 0,5
volt per sel pada sinar matahari penuh. Berikut konstruksi dari sensor cahaya
tipe fotovoltaik.

2. Sensor cahaya tipe fotokonduktif

Sensor cahaya tipe fotokonduktif akan memberikan perubahan resistansi


pada terminal outputnya sesuai dengan perubahan intensitas cahaya yang
diterimanya. Sensor cahaya tipe fotovoltaik ini ada beberapa jenis
diantaranya adalah :

a. LDR (Light Depending Resistor)

5.

6. LDR (Light Depending Resistor)

LDR adalah sensor cahaya yang memiliki 2 terminal output, dimana kedua
terminal output tersebut memiliki resistansi yang dapat berubah sesuai dengan
intensitas cahaya yang diterimanya. Dimana nilai resistansi kedua terminal
output LDR akan semakin rendah apabila intensitas cahya yang diterima oleh
LDR semakin tinggi.

b. Photo Transistor
7.

8. Photo transistor

Photo transistor adalah suatu transistor yang memiliki resistansi antara kaki
kolektor dan emitor dapat berubah sesuai intensitas cahaya yang diterimanya.
Photo transistormemiliki 2 terminal output dengan nama emitor dan colektor,
dimana nilai resistansi emeitor dan kolektro tersebut akan semakin rendah
apabila intensitas cahaya yang diterim photo transistor semnakin tinggi.

c. Photo Dioda

9.

10. Photo dioda

Photo dioda adalah suatu dioda yang akan mengalami perubahan resistansi
pada terminal anoda dan katoda apabila terken cahaya. Nilai resistansi anoda
dan katoda pada photo dioda akan semakin rendah apabila intensitas cahaya
yang diterima

Berdasarkan cahaya yang diterima sensor cahaya tersebut, maka sensor cahaya dapat
dibagi dalam beberapa tipe sebagai berikut :

1. Sensor Cahaya Infra Merah


Sensor cahaya infra merah adalah sensor cahaya yang hanya akan merespon
perubahan cahaya inframerah. Sensor cahaya infra merah pada umumnya berupa
photo ttransistor atau photo dioda. Dimana apabila sensor cahaya infra merah ini
menerima pancaran cahaya infra merah maka pada terminal outputnya akan
memberikan perubahan resistansi. Akan tetapi ada juga sensor cahaya yang telah
dibuat dalam bentuk chip IC penerima sensor infra merah seperti yang digunakan
pada penerima remote televisi. Dimana chip IC sensor infra merah ini akan
memberikan perubahan tegangan output apabila IC sensor infra merah ini
menerima pancaran cahaya infra merah. Berikut adalah bentuk dari IC sensor infra
merah tersebut.

2.

3. Sensor Cahaya Ultraviolet


Sensor cahaya ultraviolet merupakan sensor cahaya yang hanya merespon
perubahan intensitas cahaya ultraviolet yang mengenainya. Seonsor cahaya
ultraviolet ini akan memberikan perubahan besaran listrik pada terminal outputnya
pada saat menerima perubahan intensitas pancaran cahaya ultraviolet. Sensor
cahaya yang populer salah satunya UVtron. Modul sensor cahaya UVtron akan
memberikan perubahan tegangan output pada saat sensor UVtron menerima
perubahan intensitas cahaya ultraviolet. Berikut adalah bentuk modul sensor
cahaya UVtron.

Modul sensor cahaya ultraviolet UVtron


SENSOR TEMPERATURE

A. PENGERTIAN

Sensor Suhu atau Temperature Sensors adalah suatu komponen yang dapat
mengubah besaran panas menjadi besaran listrik sehingga dapat mendeteksi
gejala perubahan suhu pada obyek tertentu. Sensor suhu melakukan
pengukuran terhadap jumlah energi panas/dingin yang dihasilkan oleh suatu
obyek sehingga memungkinkan kita untuk mengetahui atau mendeteksi gejala
perubahan-perubahan suhu tersebut dalam bentuk output Analog maupun
Digital. Sensor Suhu juga merupakan dari keluarga Transduser.

B. JENIS-JENIS

a. Thermostat

Termostat adalah suatu perangkat yang dapat memutuskan dan menyambungkan


arus listrik pada saat mendeteksi perubahan suhu di lingkungan sekitarnya sesuai
dengan pengaturan suhu yang ditentukan.

Terdapat dua jenis thermostat, yaitu

1. Thermostat Strip Bimetal ( Bimetallic Strips Thermostat)

Sebuah Termostat mekanikal terdiri dari dua jenis logam yang berbeda dan
ditempel bersama sehingga menjadi bentuk yang disebut dengan Bi-Metallic
strip (atau Bi-Metal Strip). Dua Strip tersebut akan berfungsi menjadi
jembatan untuk menghantarkan atau memutuskan arus listrik ke rangkaian
sistem pemanas atau pendinginnya.
Pada saat Normal, Strip yang berfungsi sebagai jembatan tersebut akan selalu
dalam kondisi terhubung dan mengaliri arus listrik, rangkaian yang
terhubungnya akan dalam kondisi ON juga. Ketika Strip tersebut menjadi
panas, salah satu logam diantaranya akan mengembang dan merubah bentuk
menjadi sedikit melekuk dan akan semakin melekuk seiring dengan semakin
panasnya strip tersebut yang pada akhirnya akan memisahkan hubungan strip
dengan rangkaiannya sehingga aliran listrik ke rangkaian sistem pemanas atau
pendingin juga menjadi terputus atau menjadi kondisi OFF. Termostat
kemudian berubah menjadi kondisi OFF (Switch OFF) atau terjadi pemutusan
arus listrik ke sistem pemanas atau pendingin yang terhubung ke Termostat
tersebut..

Pada saat kondisi OFF, tidak ada arus listrik yang mengalir melewat strip
Bimetal tersebut. Secara bertahap Strip Bimetal tersebut akan kembali menjadi
dingin. Logam yang melekuk tadi akan mulai berubah bentuk menjadi bentuk
semula sehingga terhubung kembali dan arus listrik mulai mengalir melewati
strip bimetal lagi. Kondisi Termostat menjadi ON kembali dan rangkaian
sistem pemanas ataupun pendingin menjadi ON lagi.

2. Thermostat Elektronik (Electronic Thermostat)

Termostat Elektronik pada dasarnya berbentuk rangkaian elektronika yang


terdiri dari berbagai komponen-komponen elektronika. Komponen utama
untuk mendeteksi perubahan suhu adalah Thermistor yaitu resistor yang nilai
hambatannya dapat dipengaruhi oleh suhu (Temperature) sekitarnya.
Pada saat Thermistor mendeteksi adanya suhu tinggi, resistansi atau hambatan
Thermistor juga akan berubah sehingga rangkaian elektronikanya akan
memutuskan hubungan listrik ke sistem pemanas ataupun pendingin yang
terhubung tersebut. Pada saat Thermistor menjadi dingin kembali, resistansi
pada thermistor tersebut juga akan berubah menjadi normal kembali sehingga
rangkaian elektronika yang berfungsi sebagai pengendali tersebut akan
kembali menyambung aliran arus listrik ke sistem pemanas dan pendingin
sehingga menjadi ON kembali.

Kelebihan dari Termostat Digital atau Elektronik ini adalah lebih hemat energi
dan mencegah pemborosan pada penggunaan listrik. Termostat jenis ini dapat
diprogram sehingga kita dapat melakukan pengaturan suhu sesuai dengan
periode yang kita inginkan.

b. Restive Temperature Detector (RTD)

RTD yang merupakan singkatan dari Resistance Temperature Detector adalah


sensorsuhu yang pengukurannya menggunakan prinsip perubahan resistansi atau
hambatan listrik logam yang dipengaruhi oleh perubahan suhu.Resistive
Temperature Detector pada umumnya terbuat dari bahan Platinum sehingga
disebut juga dengan Platinum Resistance Thermometer (PRT).

Prinsip kerja RTD yaitu ketika suhu elemen RTD meningkat, maka resistansi
elemen tersebut juga akan meningkat. Dengan kata lain, kenaikan suhu logam
yang menjadi elemen resistor RTD berbanding lurus dengan resistansinya. elemen
RTD biasanya ditentukan sesuai dengan resistansi mereka dalam ohm pada nol
derajat celcius (0⁰ C). Spesifikasi RTD yang paling umum adalah 100 Ω (RTD
PT100), yang berarti bahwa pada suhu 0⁰ C, elemen RTD harus menunjukkan
nilai resistansi 100 Ω.

Elemen sensor RTD mempunyai dua tipe konfigurasi yang paling umum, yaitu

1. Wire-wound

Seperti yang dijelaskan pada sebelumnya, wire-wound merupakan tipe elemen


yang terdiri dari kumparan kawat logam (platina) yang melilit keramik atau
kaca, yang ditempatkan atau ditutup dengan selubung probe sebagai
pelindung.

2. Thin-film
Thin-film merupakan tipe elemen RTD yang terdiri dari lapisan bahan resistif
yang sangat tipis (umumnya platina), yang diletakkan pada substrat keramik
yang kemudian dilapisi dengan epoxy atau kaca sebagai segel atau
pelindungnya.

RTD memiliki 3 macam konfigurasi koneksi kabel yaitu:


1. RTD 2 Wire

RTD 2 kabel (2 wire) praktis tidak memiliki perhitungan resistansi yang terkait
dengan kabel tembaga, sehingga mengurangi keakuratan pengukuran elemen
sensor suhu RTD.
Akibatnya RTD 2 wire umumnya hanya digunakan untuk kebutuhan pengukuran
suhu perkiraan saja.

2. RTD 3 Wire

RTD 3 kabel (3 wire) adalah spesifikasi yang paling umum yang biasa
digunakan pada aplikasi-aplikasi di industri. RTD 3 wire menggunakan
rangkaian pengukuran jembatan wheatstone untuk mengkompensasi nilai
resistansi kabel

Dalam konfigurasi RTD 3 wire ini, kabel “A” dan “B” harus memiliki
kedekatan atau panjang yang sama. Panjang kabel ini sangat berarti karena
tujuan dari jembatan wheatstone adalah untuk membuat impedansi dari kabel
A dan B. Dan kabel C berfungsi sebagai pembawa arus yang sangat kecil.

3. RTD 4 Wire

RTD 4 kabel (4 wire) adalah konfigurasi yang paling akurat dari yang lainnya.
Karena dalam RTD 4 kabel ini dapat sepenuhnya mengkompensasi resistansi
dari kabel, tanpa perlu memberikan perhatian khusus pada panjang masing –
masing kabel
c. Thermocouple

Termokopel (Thermocouple) adalah jenis sensor suhu yang digunakan untuk


mendeteksi atau mengukur suhu melalui dua jenis logam konduktor berbeda yang
digabung pada ujungnya sehingga menimbulkan efek “Thermo-electric”.

Pada dasarnya Termokopel hanya terdiri dari dua kawat logam konduktor yang
berbeda jenis dan digabungkan ujungnya. Satu jenis logam konduktor yang
terdapat pada Termokopel akan berfungsi sebagai referensi dengan suhu konstan
(tetap) sedangkan yang satunya lagi sebagai logam konduktor yang mendeteksi
suhu panas.

Berdasarkan Gambar diatas, ketika kedua persimpangan atau Junction memiliki


suhu yang sama, maka beda potensial atau tegangan listrik yang melalui dua
persimpangan tersebut adalah “NOL” atau V1 = V2. Akan tetapi, ketika
persimpangan yang terhubung dalam rangkaian diberikan suhu panas atau
dihubungkan ke obyek pengukuran, maka akan terjadi perbedaan suhu diantara
dua persimpangan tersebut yang kemudian menghasilkan tegangan listrik yang
nilainya sebanding dengan suhu panas yang diterimanya atau V1 – V2. Tegangan
Listrik yang ditimbulkan ini pada umumnya sekitar 1 µV – 70µV pada tiap derajat
Celcius. Tegangan tersebut kemudian dikonversikan sesuai dengan Tabel referensi
yang telah ditetapkan sehingga menghasilkan pengukuran yang dapat kita
mengerti.

Jenis-jenis thermocouple

Terdapat berbagai jenis tipe thermocouble sebagai berikut:


SENSOR TEKANAN

A. PENGERTIAN
Sensor tekanan adalah sensor untuk mengukur tekanan suatu zat. Tekanan (p) adalah
satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A). Satuan tekanan sering
digunakan untuk mengukur kekuatan dari suatu cairan atau gas.
B. PRINSIP KERJA

Prinsip kerja dari sensor tekanan ini adalah mengubah tegangan mekanis menjadi
sinyal listrik. Ukuran Tegangan didasarkan pada prinsip bahwa tahanan pengantar
berubah dengan panjang dan luas penampang.
Perubahan tekanan pada kantung menyebabkan perubahan posisi inti kumparan
sehingga mengakibatkan perubahan induksi magnetik pada kumparan. Kumparan
yang digunakan adalah kumparan CT (center tap), dengan demikian apabila inti
mengalami pergeseran maka induktansi pada salah satu kumparan bertambah
sementara induktansi pada kumparan yang lain berkurang. Kemudian pengubah sinyal
berfungsi untuk mengubah induktansi magnetik yang timbul pada kumparan menjadi
tegangan yang sebanding.
C. JENIS-JENIS
1. Bourdon Tubes
Bourdon tubes adalah sejenis pipa pendek lengkung , dan salah satu ujungnya
tertutup.
Prinsip kerjanya : Jika bourdon tubes diberikan tekanan maka ia akan cenderung
untuk “menegang”. Perubahan yang dihasilkan sebanding dengan besarnya
tekanan yang diberikan
Kelebihan :
a. Tidak mudah terpengaruh perubahan temperatur
b. Baik dipakai untuk mengukur tekanan antara 30-100.000 Psi

Kekurangan : Pada tekanan rendah 0-30 psi kurang sensitive dibanding bellows

2. LVDT (Linier Variable Differential Transformer)


LVDT atau (Linear Variable Differential Transformer) merupakan salah satu
contoh sensor posisi, yang bekerja berdasarkan pada ada tidaknya medan magnet
yang terjadi. LVDT pertama kali di kemukakan oleh G.B.hoadley. pertama kali
digunakan untuk kepentingan militer. Pada tahun 1950-an pengetahuan akan
LVDT ini terus berkembang, hingga dapat digunakan dalam kepentingan industry.
Prinsip kerja LVDT Perubahan tekanan dalam kantung akan mengakibatkan
perubahan posisi inti magnet pada kumparan LVDT, sehingga mengakibatkan
perubahan induksi magnetik pada kumparan sekunder 1 dan 2. Dengan perubahan
induksi magnetik pada kumparan sekunder 1 dan 2 tersebut maka output
kumparan 1 dan 2 akan menghasilkan tegangan induksi magnetik yang besarnya
sebanding perseseran inti magnet LVDT akibat perubahan tekanan pada kantung.
Pergeseran inti magnet (batang magnet) di tengah kumparan tersebut akan
menimbulkan
tegangan output pada kumparan yang mendapat induksi dari inti magnet tersebut.
Contoh Penerapan LVDT : Sensor-sensor (perpindahan, jarak, dan sensor mekanik
lainnya), Level fluida, Automotive Suspension dan Mesin ATM.

3. Sensor Tekanan Semikonduktor (MPX4100)


Sensor tekanan MPX4100 merupakan seri Manifold Absolute Pressure (MAP)
yaitu sensor tekanan yang dapat membaca tekanan udara dalam suatu manifold.
Pada dasarnya sensor tekanan MPX4100 adalah sebuah sensor tekanan yang
sudah dilengkapi dengan rangkaian pengkondisi sinyal dan temperatur kalibrator
yang membuat sensor ini stabil terhadap perubahan suhu.
Prinsip Kerja Sensor Tekanan MPX4100 Prinsip kerja dari sensor tekanan itu
sendiri adalah mengubah tegangan mekanik menjadi listrik. Kurang ketegangan
didasarkan pada prinsip bahwa tahanan pengantar berubah dengan panjang dan
luas penampang. Daya yang diberikan pada kawat itu sendiri menyebabkan kawat
menjadi bengkok. Sehingga menyebabkan ukuran kawat berubah dan mengubah
ketahananya.
4. Contoh Aplikasi Sensor Tekanan MPX4100 yaitu : Pemantau cuaca, Pesawat
terbang, dan Pengukur tekanan ban
SENSOR KECEPATAN

A. PENGERTIAN

Sensor kecepatan atau velocity sensor adalahsuatu sensor yang dipakai untuk
mendeteksi kecepatan gerak benda guna selanjutnya diolah kedalam format sinyal
elektrik. Dalam kenyataannya ada sejumlah sensor yang dipakai untuk sekian
banyak keperluan ini, sensor-sensor itu diantaranya:

 Tachometer dan Stroboscope


 Kabel Piezoelectric
 Muzzle velocity
 Encoder Meter

B. PRINSIP KERJA
Proses penginderaan sensor kecepatan adalahproses kebalikan dari sebuah motor,
dimana sebuah poros/object yang berputar pada suatui generator bakal menghasilkan
sebuah tegangan yang seimbang dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar
tidak jarang pula diukur dengan memakai sensor yang mengindera pulsa magnetis
(induksi) yang timbul ketika medan magnetis terjadi. Lalu tegangan ini di kirim ke
ECM.
Proses penginderaan sensor kecepatan merupakan proses kebalikan dari suatu motor,
dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan
suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar
sering pula diukur dengan menggunakan sensor yang mengindera pulsa magnetis
(induksi) yang timbul saat medan magnetis terjadi. Contohnya pada alat pengukur
kecepatan speedometer. Alat tersebut mengukur kecepatan laju motor dalam kilometer
perjam.
FLOW METER SENSOR

Flow meter adalah alat ukur yang dipakai untuk mengukur laju aliran atau Jumlah sebuah
fluida yeng bergerak mengalir dalam sebuah pipa tertutup atau drainase terbuka laksana
channel atau sungai atau parit atau gorong-gorong. Difinisi flow meter itu sebagai di finisi
flow meter sangat sederhana dan cocok dengan peradaban tekhnology faedah dari flow meter
telah dikenal dan berkembang pesat cocok dengan tujuan, guna dan faedah pemasangan flow
meter. Jenis fluida yang melewati atau diukur oleh flow meter dapat berupa sekian banyak
macam serta spesifikasi cairan, gas maupun solid laksana air mium, air limbah, air lumpur,
susu, madu, kecap, ciaran kimia, air gula, adonan kue, concrete, powder, biji bijian dan lai
lain..

Pada aplikasinya flow meter tidak sedikit digunakan guna mengukur karakter aliran baik
berupa kecepatan aliran, kapasitas aliran maupun volumenya atau dapat juga di hitung mass
flow nya yang berupa berat fluida. Pemilihan jenis serta model dari flow meter tergantung
pada aplikas yang di sesuaikan dengan tujuan, manfaat, tingkat kendala instalasi serta akurasi
yang di inginkan. Karena itu diperlukan rekayasa pemasangan flow meter supaya didapatkan
guna yang optimal, supaya sesuai dengan investasi yang dikeluarkan.
FLAME SENSOR

Flame sensor adalahsensor yang mempunyai faedah sebagai pendeteksi nyala api yang
dimana api itu mempunyai panjang gelombang antara 760nm – 1100nm. Sensor ini memakai
infrared sebagai tranduser dalam mensensing situasi nyala api.
Dalam banyak sekali pertandingan persaingan robot, pendeteksian bakal nyala api misalny
lilin masih tetap jadi di antara aturan yang umum dalam kompetensi lomba yang tidak bakal
pernah ditinggalkan. Dikarena itulah sensor ini memiliki peran yang vital yang bermanfaat
sebagai “mata” untuk robot dalam menuntaskan tugasnya mengejar posisi nyala api.
Biasanya dipakai pada persaingan robot Cerdas Indonesia atau KRCI baik berbentuk laba-
laba maupun laksana tank. Selain tersebut sensor ini tidak jarang juga dipakai untuk
mendeteksi api pada ruangan di perkantoran, apartemen, maupun di perhotelan. Suhu normal
pembacaan normal sensor ini yakni pada 25 – 85°C dengan besar sudut pembacaan pada 60°.
SENSOR PENYANDI (ENCODER)

Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau putaran
menjadi sinyal digital, dimana sensor putaran memonitor gerakan putar dari suatu
alat. Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi, yaitu; Pertama, Penyandi
rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk masing-
masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek yang
diputar. Kedua, Penyandi absolut (yang memperlengkapi kode binary tertentu untuk
masing-masing posisi sudut) mempunyai cara kerja sang sama dengan perkecualian,
lebih banyak atau lebih rapat pulsa gelombang kotak yang dihasilkan sehingga
membentuk suatu pengkodean dalam susunan tertentu. Contoh
pengimplementasiannya yaitu sensor ini dapat dibuat menjadi suatu sistem yang dapat
menghitung kekuatan gempa bumi dengan menggunakan sensor incremental rotary
encoder dan diolah oleh mikrokontroler.

Anda mungkin juga menyukai