Anda di halaman 1dari 3

Khutbah Pertama

‘amma ba’du

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri serta para jamaah shalat
jumat yang dirahmati oleh Allah swt, marilah kita selalu senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan
ketakwaan kita kepada Allah swt, tuhan semesta alam yang selalu melimpahkan kepada kita keberkahan
dan kenikmatan yang tiada hentinya. Shalawat serta salam marilah pula selalu senantiasa kita sampaikan
kepada Nabi Muhammad saw, sang pembawa risalah dan rahmat kepada seluruh alam, serta keluarga,
sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, serta seluruh umat Islam yang selalu meneladani ustawtun hasanah dari
junjungan nabi Muhammad saw.

Dalam keyakinan umat Islam, tersimpan di dalam alam bawah sadar kekuatan luar biasa di luar batas
kemampuan dan kekuatan normal manusia yaitu doa. Doa adalah media komunikasi yang dilakukan oleh
hamba Allah swt kepada Rabb-nya yang menunjukkan kerendahan dirinya serta jalan untuk mengetuk
pintu kuasa Allah swt.

Hadirin shalat jumat yang dirahmati oleh Allah swt

Doa adalah sarana untuk memperoleh kekuatan dalam mencapai tujuan hidup yang ditujukan kepada
Allah swt, bagi seorang yang beriman, doa adalah rutinitas yang senantiasa dilakukan karena menyadari
sifat diri sebagai manusia yang lemah tanpa daya kecuali dari Allah swt. Allah swt telah berfirman,

    


     
   
   

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran,” (Qs. al-Baqarah: 186)

Di dalam ayat ini secara tersirat bahwa Allah swt telah menegaskan bahwa Allah swt adalah dekat dengan
hamba-hambanya, Allah swt akan senantiasa tidak mengecewakan hamba-hambanya yang berdoa serta
tidak ada satupun yang menyibukkan-Nya, sehingga Allah swt selalu melihat dan mendengar doa hamba-
hambanya.

Kenyataanya memang banyak doa yang belum terkabul, banyak pula umat Islam yang merasa bahwa
Allah hanya mengabulkan sebagian doa’doa hambanya. Apabila memang Allah swt tidak senantiasa
selalu mengabulkan doa hamba-hambanya, apakah Allah swt sungguh telah ingkar pada janjinya?

Hadirin shalat jumat yang berbahagia

Sungguh tidak wajar apabila kita mempertanyakan kehendak dan kuasa tuhan karena diperlukan kearifan
dalam memahami setiap kehendak tuhan dalam kehidupan, namun terkadang tidak terkabulnya doa-doa
itu justru seringkali karena kelalaian dan kesalahan kita sendiri yang menghalangi dari terlakabulnya doa
kita.
Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi yang terkenal zuhud, melewati pasar di sebuah desa.
Selang beberapa saat kemudian Ibrahim bin Adhan dikerubutin oleh masyarakat sekitar dan menanyakan
sebuah persoalan yang dirasakan oleh masyarakat setempat, salah seorang dari mereka bertanya, “Wahai
guru, sesungguhnya Allah swt telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia pasti akan mengabulkan doa-doa
hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa hingga saat ini doa kami
masih belum terkabulkan?”

Mendengar pertanyaan tersebut Ibrahim bin Adham terdiam sejenak lalu berkata, “Saudaraku sekalian,
sesungguhnya ada sepuluh hal dari kalian yang menghalangi terkabulnya doa dari Allah swt; pertama,
kalian mengenal Allah swt tapi tidak menunaikan hak-hak-Nya; kedua, kalian membaca al-Quran tapi
tidak mengamalkan isinya; ketiga, kalian mengakui bahwa syetan adalah musuh yang nyata, tapi kalian
justru mengikuti jalan mereka; keempat, kalian mengaku cinta pada Rasulullah, tapi kalian meninggalkan
ajaran dan sunnahnya; kelima, kalian menginginkan surga, tapi kalian justru menjauhinya dengan amalan
kalian dari surga; keenam, kalian takut masuk neraka, tapi kalian justru mendekatkan diri dengan
perbuatan kalian pada neraka; ketujuh, kalian percaya mati pasti datang, tapi kalian tidak pernah
mempersiapkan diri menyambutnya; kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain tapi justru lupa
dengan cacat diri sendiri; kesembilan, kalian selalu menikmati rizki Allah swt, tapi kalian sering lupa
mensyukurinya; dan kesepuluh, kalian sering mengantarkan jenazah ke kuburan, tapi kalian tidak pernah
mengambil hikmah bahwa kalian pun akan mengalaminya.

Setelah mendengar penjelasan dari Ibrahim bin Adham itu, orang-orang pun menangis, mereka mengakui
dan menyadari kesalahan mereka bahwa terhalangnya doa-doa yang selalu mereka panjatkan adalah
karena kelalaian dari diri mereka sendiri.

Hadirin shalat jumat yang diberkahi oleh Allah swt

Doa adalah senjata bagi umat beriman untuk mengetuk kekuasaan Allah swt, selain doa adalah ibadah
kepada Allah swt, namun kekuatan dan keampuhan doa akan selalu berjalan seirama dengan orang yang
memanjatkannya. Doa adalah bagaikan pedang, apabila seseorang yang menggunakannya adalah seorang
yang kuat dan hebat maka pedang akan menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menebas musuh-
musuhnya, maka keampuhan doa akan selalu berjalan paralel bergantung bagaimana kualitas keimanan
dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah swt. Apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi, niscaya Allah
swt pun akan lebih mudah mengabulkan doa-doa hambanya dengan tiga cara; mengabulkannya,
menundanya dan mengabulkan di saat yang tepat, atau menolaknya dan menggantinya dengan yang lebih
baik.

Allah swt berfirman ;

   


     
  
 
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam
keadaan hina” (Qs. al-Mu’min, 60)

Jamaah shalat jumat rahimatukumullah

Doa yang dipanjatkan hendaklah diiringi dengan kualitas diri dengan keimanan dan ketakwaan kepada
Allah swt, selain itu doa pun dipanjatkan dengan penuh kerendahan dan keyakinan bahwa Allah swt maha
mendengar dan maha member, namun tentu doa yang dipanjatkan harus disertai dengan usaha (ikhtiyar)
yang sungguh-sungguh. Perumpamaannya buatlah sketsa permintaan hidup dengan sebuah pensil di atas
kertas, dan berikan penghapusnya kepada Allah swt, biarlah Allah swt yang akan menilai usaha kita,
mendelete sebagian yang kita rencanakan, dan menggantinya dengan yang lebih baik dan bermakna.