METODE SEISMIK REFLEKSI
Metode seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada
pengukuran respon gelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam tanah
dan kemudian direleksikan atau direfraksikan sepanjang perbedaan lapisan tanah
atau batas-batas batuan. Sumber seismik umumnya adalah palu godam
(sledgehammer) yang dihantamkan pada pelat besi di atas tanah, benda bermassa
besar yang dijatuhkan atau ledakan dinamit. Respons yang tertangkap dari tanah
diukur dengan sensor yang disebut geofon, yang mengukur pergerakan bumi.
Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang
dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan
dengan menggunakan sumber seismic (palu, ledakan, dll). Setelah usikan diberikan,
terjadi gerakan gelombang di dalam mediu (tanah/batuan) yang memenuhi hukum-
hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan
akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu,
gerakan partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman
inilah dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.
Eksperimen seismik aktif pertama kali dilakukan pada tahun 1845 oleh
Robert Mallet, yang oleh kebanyakan orang dikenal sebagai bapak seismologi
instrumentasi. Mallet mengukur waktu transmisi gelombang seismik, yang dikenal
sebagai gelombang permukaan, yang dibangkitkan oleh sebuah ledakan. Mallet
meletakkan sebuah wadah kecil berisi merkuri pada beberapa jarak dari sumber
ledakan dan mencatat waktu yang diperlukan oleh merkuri untuk be-riak. Pada
tahun 1909, Andrija Mohorovicic menggunakan waktu jalar dari sumber gempa
bumi untuk eksperimennya dan menemukan keberadaan bidang batas antara mantel
dan kerak bumi yang sekarang disebut sebagai Moho.
Pemakaian awal observasi seismik untuk eksplorasi minyak dan mineral
dimulai pada tahun 1920an. Teknik seismik refraksi digunakan secara intensif di
Iran untuk membatasi struktur yang mengandung minyak. Tetapi, sekarang seismik
refleksi merupakan metode terbaik yang digunakan di dalam eksplorasi minyak
bumi. Metode ini pertama kali didemonstrasikan di Oklahoma pada tahun 1921.
Hukum Fisika Gelombang Seismik
Gelombang seismik mempunyai kelakuan yang sama dengan kelakuan
gelombang cahaya, sehingga hukum-hukum yang berlaku untuk gelombang cahaya
berlaku juga untuk gelombang seismik. Hukum-hukum tersebut antara lain:
1. Huygens mengatakan bahwa gelombang menyebar dari sebuah titik sumber
gelombang ke segala arah dengan bentuk bola.
2. Hukum snellius menyatakan bahwa bila suatu gelombang jatuh diatas bidang
batas dua medium yang mempunyai perbedaan densitas, maka gelombang
tersebut akan dibiaskan jika sudut datang gelombang lebih kecil atau sama
dengan sudut kritisnya. Gelombang akan dipantulkan jika sudut datangnya lebih
besar dari sudut kritisnya. Gelombang datang, gelombang bias, gelombang
pantul terletak pada suatu bidang datar.
Terdapat dua macam metoda dasar seismik yang sering digunakan, yaitu
seismik refraksi dan seismik refleksi, khusus pada laporan ini akan membahas
khususnya metode seismik refleksi.
Seismik refleksi
Metode seismik refleksi merupakan metode geofisika aktif yang
memanfaatkan sumber seismik buatan (dapat berupa ledakan, pukulan, dll). Setelah
gelombang buatan tersebut diberikan, maka gelombang tersebut akan merambat
melalui medium tanah/batuan di bawah permukaan, dimana perambatan gelombang
tersebut akan memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami
pemantulan maupun pembiasan sebagai akibat dari adanya perbedaan kecepatan
ketika melalui pelapisan medium yang berbeda. Pada jarak tertentu di permukaan,
gerakan partikel tersebut direkam sebagai fungsi waktu. Berdasarkan data rekaman
tersebut selanjutnya dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan.
Bumi sebagai medium rambat gelombang seismik tersusun dari perlapisan
batuan yang memiliki sifat fisis yang berbeda-beda, terutama sifat fisis densitas
batuan (ρ) dan cepat rambat gelombang (v). Sifat fisis tersebut adalah sifat fisis
yang mempengaruhi refleksivitas seismik. Dengan berdasar konsep tersebut
sehingga dapat dilakukan perkiraan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan.
Penerapan konsepnya kemudian disebut sebagai Impedansi Akustik, dimana
sebagai karekteristik akustik suatu batuan dan merupakan perkalian antara densitas
dan cepat rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai :
Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan dan memiliki
perbedaan nilai impedansi akustik, maka refleksi gelombang seismik dapat terjadi
pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Besar nilai refleksi yang terjadi
kemudian dinyatakan sebagai Koefisien Refleksi :
Gambar . Skema pemantulan gelombang seismik pada batas dua medium berbeda
nilai AI-nya.
Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi)
gelombang pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar amplitudo seismik
yang terekam maka semakin besar koefisien refleksinya.
Gambar .Ilustrasi survey metode seismik.
Dalam penerapannya, metode seismik refleksi memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan dengan metode geofisika lainnya. Dengan seismik dapat
diketahui dan dipetakan gambaran kondisi struktur bawah permukaan secara lateral
maupun vertikal, dapat digunakan dalam studi stratigrafi dan beberapa kenampakan
pola pengendapan, dapat digunakan dalam studi petrofisika (porositas,
permeabilitas, kompaksi batuan), hingga memungkinkan untuk mendeteksi
langsung keberadaan hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Sehingga metode ini
dijadikan sebagai salah satu garda terdepan dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.
Namun, keunggulan tersebut juga diimbangi dengan beberapa kelemahan,
mengingat survey seismik refleksi umumnya dilakukan dalam skala yang besar.
Sehingga akan membutuhkan teknologi, biaya, waktu, dan tenaga yang relatif
besar.
Kegiatan survey seismik (eksplorasi) dapat dikelompokkan dalam tiga
serangkaian kegiatan/tahapan utama, yaitu :
1. Akuisisi Data Seismik
Akuisisi data seismik, tidak lain adalah tahapan pengukuran guna
mendapatkan data seismik berkualitas baik di lapangan. Data seismik yang
diperoleh dari tahapan ini akan menentukan kualitas hasil tahapan berikutnya.
Sehingga, dengan data yang baik akan membawa hasil pengolahan yang baik pula,
dan pada akhirnya, dapat dilakukan interpretasi yang akurat, yang menggambarkan
kondisi bawah permukaan sebagaimana mestinya.
Untuk memperoleh data berkualitas baik perlu diperhatikan pemilihan desain
survey dan beberapa faktor terkait. Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi pada
khususnya, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan yang akan
mempengaruhi kegiatan survey, termasuk juga kualitas data, yaitu :
Kedalaman jebakan hidrokarbon yang menjadi target
Resolusi vertikal
Kualitas refleksi pada batuan
Sumber gangguan/noise yang dominan
Ciri-ciri jebakan hidrokarbon
Kemiringan target paling curam
Kemungkinan adanya proses lain yang perlu dilakukan
Medan pengukuran seismik mencakup pengukuran di darat, di laut, dan di
lingkungan transisi. Selain itu, survey seismik juga dapat dilakukan secara 2
dimensi maupun 3 dimensi. Masing-masing kondisi tersebut akan memerlukan
desain survey dan teknologi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan
tujuannya.
Survey seismik refleksi darat.
Survey seismik refleksi laut.
2. Pengolahan Data Seismik
Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data
seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian
dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik
adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise
ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan
refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi
keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti
kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan
sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.
Proses pengolahan data, dan data seismik mentah (raw data). (sumber:various)
3. Interpretasi Data Seismik
Dari pengolahan data seismik, hasilnya yang berupa penampang seismik
kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan. Tujuan interpretasi seismik adalah
menggali dan mengolah berbagai informasi-informasi geologi bawah permukaan
dari penampang seismik. Pada eksplorasi minyak dan gas bumi, interpretasi
ditujukan untuk mengetahui lokasi reservoar hidrokarbon di bawah permukaan.
Pada umumnya, penampang seismik ditampilkan sebagai penampang waktu (time
section), namun dapat juga ditampilkan sebagai penampang kedalaman (depth
section) setelah melalui beberapa tahapan perhitungan tertentu.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Seismik Refleksi
Kelebihan
- pengukuran seismik pantul menggunakan offset yang lebih kecil
- seismik pantul dapat bekerja bagaimanapun dalam perubahan kecepatan
sebagai fungsi kedalaman
- seismik pantul lebih mampu melihat struktur yang lebih kompleks
- seismik pantul merekam dan menggunakan semua medan gelombang yang
terekam
- bawah permukaan dapat tergambar secara langsung dari data terukur
Kekurangan
- Biaya pengoperasian seismic refleksi lebih mahal dibandingkan metode lain
kecuali metode logging geofisika.
- karena lokasi sumber dan penerima yang cukup lebar untuk memberikan citra
bawah permukaan yang lebih baik, maka biaya akuisisi menjadi lebih mahal
- prosesing seismik refleksi memerlukan komputer yang lebih mahal, dan system
data base yang jauh lebih handal
- karena banyaknya data yang direkam, pengetahuan terhadap database harus
kuat, diperlukan juga beberapa asumsi tentang model yang kompleks dan
interpretasi membutuhkan personal yang cukup ahli.
Alat atau Instrument
Metode seismik memanfaatkan fenomena rambat gelombang seismik, yang
merupakan gelombang usikan mekanis yang menjalar dari suatu tempat ke tempat
yang lain melalui lapisan batuan bawah permukaan bumi. Gelombang ini dapat
mengalami pemantulan oleh perlapisan batuan yang memiliki perbedaan densitas
dan kecepatan dalam merambatkan gelombang, dan kemudian terekam sebagai
fungsi waktu.
Sebagai unit perekam fenomena seismik tersebut, dalam dunia seismik
eksplorasi pada khususnya, digunakan suatu sensor perekaman/receiver khusus,
yang juga jenisnya berbeda sesuai dengan daerah/lingkungan pengukuran. Untuk
survey seismik darat, alat ini berupa geophone, dan untuk survey seismik laut
berupa hydrophone.
Gambar 6.3 Fenomena pemantulan gelombang seismik
Sensor geophone umumnya berjenis moving coil, yang bekerja atas prinsip
fisika Hukum Lenz, yang berupa kumparan kawat yang bergerak di dalam medan
magnet). Sedangkan hydrophone, sensornya berupa kristal piezo elektrik yang peka
terhadap perubahan tekanan.
Gambar. Sensor geophone.
Gambar. Sensor hydrophone.
Pengolahan Data dan Software
Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data
seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian
dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik
adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise
ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan
refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi
keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti
kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan
sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.
Pengolahan data seismik dilakukan melalui serangkaian tahapan-tahapan.
Oleh karena geologi setiap medan survey seismik berbeda-beda, yang secara umum
dapat dibedakan menjadi lingkungan laut (marine), lingkungan darat (land), dan
transisi (transition), perbedaan ini akan menghasilkan data dengan karakteristik
yang berbeda-beda dan akan menyebabkan tahapan-tahapan pengolahan data
seismik pun berbeda-beda. Selain itu, urutan/tahapan dalam pengolahan data
seismik juga dipertimbangkan atas dasar kualitas data lapangan yang terekam,
hingga kemampuan/pengalaman orang yang mengerjakan, dan biaya.
Secara prinsip, tahapan dalam pengolahan data seismik dapat dikelompokkan
dalam :
Pre Processing/Editing (Conditioning Data)
Main Processing
Post Processing
Secara garis besarnya, serangkaian tahapan pengolahan data seismik dapat
disajikan sebagai berikut :
Gambar . Diagram alir tahapan Pengolahan Data Seismik secara umum
1. Demultiplexing
Demultiplexing, suatu tahapan untuk mengatur kembali atau mengurutkan
data berdasarkan kelompok trace/channel-nya. Gelombang seismik yang diterima
oleh sensor geophone pada mulanya berbentuk analog, yang kemudian
dilakukan sampling dan digitalisasi dengan menggunakan multiplexer pada
interval tertentu saat perekaman berlangsung. Ketika sampling dimulai
dari channel A hingga channelterakhir dan kembali ke channel A dan seterusnya,
sehingga akan diperoleh sampel data 1 dari channel A, sampel data 1 channel B,
hingga sampel 1 channel terkahir (n), dan kemudian terulang kembali untuk sampel
data 2 dengan waktu sampling Δt.
Gambar. Proses demultiplexing dari data berdasarkan sampling time ke
berdasarkan trace.
2. Trace Gathering
Merupakan tahapan pengelompokan berdasarkan kesamaan dari masing-
masing channel/trace. Pengelompokan tersebut dapat berupa :
1. Common Source Point (CSP)
2. Common Depth Point (CDP)
3. Common Offset
4. Common Receiver
Gambar. Ilustrasi berbagai trace gathering beserta respon seismiknya.
3. Editing dan Muting
Tahapan editing merupakan tahapan untuk mengkoreksi amplitudo-
amplitudo yang dianggap buruk pada setiap trace seismiknya. Sedangkan
muting adalah tahapan untuk menghapus sinyal-sinyal gelombang langsung (direct
wave) yang terekam selama pengukuran dan gelombang-gelombang refraksi yang
tidak dibutuhkan.
Gambar. Perbedaan dari sebelum proses muting (gambar kiri) dan setelah
prosesmuting (gambar kanan).
Gambar .Kiri: hasil proses editing, gambar kanan: sebelum proses editing.
4. Gain Recovery
Ketika perekaman berlangsung, data yang terekam telah diberikan
penguatan (gain), namun dengan fungsi yang bersifat instantaneous floating
point yang dapat menyebabkan adanya distorsi pada data. Fungsi penguatan
tersebut kemudian dapat dikoreksi dengan cara mengalikan nilai-nilai trace seismik
dengan inversi dari fungsi penguatan, dan nilai rata-rata amplitudo trace seismik
dikalkulasi sebagai fungsi waktu, sehingga hasilnya dapat diketahui parameter-
parameter fungsi penguatan yang baru.
Fungsi penguatan yang benar akan menghasilkan trace seismik dengan
perbandingan amplitudo-amplitudo yang sesuai dengan perbandingan dari masing-
masing koefisiensi refleksinya, sehingga akan mempermudah dalam interpretasi.
Fungsi penguatan g(t) secara dapat dinyatakan sebagai :
Gain (dB) = A.t + B.20 log (t) + C
dimana t merupakan waktu, A sebagai faktor atenuasi, B sebagai faktorspherical
divergence, dan C adalah nilai tetapan penguatan.
Dalam penerapannya, terdapat beberapa jenis penguatan, yaitu :
Programmed Gain Control (PGC); fungsi penguatan berdasarkan
interpolasi antara nilai skalar amplitudo sampel pada laju samplingdengan
satu window tertentu.
Automatic Gain Control (AGC); fungsi penguatan berdasarkan root mean
square (RMS), dimana dikalkulasikan RMS dari kuadrat amplitudo di tiap
sampel pada satu window tertentu.
5. Koreksi Statik
Koreksi static dilakukan untuk mengembalikan waktu penjalaran
gelombang seismik yang bergeser karena adanya perbedaan ketinggian antara
sumber seismik dan geophone. Selain itu juga karena adanya lapisan lapuk dengan
ketebalan yang bervariasi, sekaligus cepat rambat gelombang yang variatif dalam
lapisan lapuk tersebut. Koreksi static ini dilakukan sedemikian hingga sumber
seismik dan penerima/geophoneberada pada satu garis horisontal (datum), sehingga
dapat diperoleh bentuk refleksi yang kurang lebih sesuai dengan kenyataannya dan
diperoleh sinyal yang sefase yang saling memperkuat pada saat proses
stacking dilakukan.
Gambar. Kanan : hasil koreksi static, gambar kiri : data sebelum koreksistatic
6. Filtering
Definisi data dalam geofisika adalah suatu hasil pengukuran terhadap suatu
objek dimana data belum mengalami proses/pengolahan dan masih mengandung
sinyal dan gangguan (noise). Sinyal adalah data yang membawa informasi dari
objek yang diukur, sedangkan noise merupakan data yang mengganggu hasil
pengukuran dan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pengukuran.
Dalam seismik refleksi, data lapangan yang terekam juga mengandung
sinyal dan noise. Untuk menghilangkan noise tersebut dan untuk memperkuat
sinyal maka dilakukan tahapan filtering. Filter yang biasa digunakan dalam tahap
ini antara lain :
a. Filter Frekuensi (1D); filter yang bekerja meredam noise frekuensi tertentu. Filter
frekuensi berupa :
Low Pass Filter
Hi-Pass Filter
Band Pass Filter
Notch Filter
Gambar. Berbagai jenis filter frekuensi 1D
b. Filter F-K (2D); filter yang digunakan untuk meredam noise frekuensi tertentu
yang sama dengan frekuensi sinyal data namun dengan bilangan gelombang yang
berbeda.
7. Dekonvolusi
Gelombang seismik yang merambat dari sumber seismik melalui medium
akan mengalami konvolusi hingga terekam oleh geophone. Oleh karena itu,
medium (bumi) memiliki sifat filtering terhadap energi gelombang seismik,
sehingga mengakibatkan wavelet seismik dari sumber seismik yang semula tajam
dan memiliki amplitudo tinggi (dalam fungsi waktu) menjadi lebih lebar, dengan
amplitudo yang berkurang.
Dekonvolusi merupakan tahapan untuk melakukan koreksi terhadap efek
filter bumi tersebut sehingga diperoleh hasil dimana wavelet yang terekam dapat
dikembalikan menjadi tajam dan dengan amplitudo yang tinggi.
Gambar. Model konsep konvolusi.
8. Normal Move Out
Koreksi Normal Move Out (NMO) merupakan tahapan yang diterapkan
guna mengkoreksi adanya efek yang disebabkan oleh jarak offset antara sumber
gelombang seismik dengan geophone pada suatu trace yang berasal dari satu CMP
(Common Mid Point) atau CDP (Common Depth Point). Oleh karena efek tersebut,
maka untuk satu titik CMP atau CDP akan terekam oleh sejumlah penerima sebagai
garis lengkung (hiperbola). Dengan menerapkan koreksi NMO ini maka gelombang
pantul yang terekam akan seolah-olah datang dalam arah vertikal (normal incident),
sehingga dalam tahap stacking berikutnya akan diperoleh hasil yang maksimal.
Gambar. Konsep koreksi NMO pada CMP gather.
9. Stacking
Stacking merupakan proses penjumlahan trace seismik dalam
satu gatherdata yang bertujuan untuk meningkatkan S/N ratio. Setelah
semua tracedilakukan koreksi-koreksi, maka dalam format CDP gather setiap
refleksinya menjadi horisontal, dan apabila trace-trace yang telah menjadi
horisontal tersebut dilakukan stacking dalam tiap-tiap CDP maka akan mampu
meningkatkan S/N ratio.
Gambar. Konsep staking pada CMP gather
1. Analisa Kecepatan
Dengan analisa kecepatan akan diketahui nilai kecepatan yang sesuai dan
cukup akurat untuk menentukan kedalaman, ketebalan, kemiringan dari suatu
reflektor. Namun, nilai kecepatan suatu medium akan dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti litologi batuan, tekanan, suhu, porositas, densitas, kandungan fluida,
umur batuan, ukuran butir, dan frekuensi gelombang itu sendiri.
Pada grup trace dari suatu titik pantul, sinyal refleksi yang dihasilkan akan
mengikuti bentuk pola hiperbola. Sehingga secara prinsipnya, analisa kecepatan
adalah mencari persamaan hiperbola yang tepat sehingga menghasilkan nilai
kecepatan yang sesuai, dan pada tahap stackingberikutnya akan diperoleh hasil
maksimum.
10. Migrasi
Proses migrasi pada penerapannya merupakan satu tahapan alternatif dalam
proses pengolahan data seismik, namun proses migrasi pada umumnya diperlukan
karena perumusan pemantulan yang diturunkan pada CMP berasumsi pada model
lapisan datar (persamaan gelombang Snellius), sehingga apabila terdapat reflektor
miring maka letak titik-titik CMP akan bergeser. Oleh karena itu, proses migrasi
memiliki tujuan untuk memindahkan kedudukan reflektor pada posisi dan waktu
pantul yang sebenarnya, berdasarkan lintasan gelombang. Selain itu, proses migrasi
juga mampu untuk menghilangkan efek difraksi gelombang yang muncul sebagai
akibat dari adanya struktur-struktur seperti patahan, lipatan, dll, sehingga dapat
memperjelas gambaran struktur bawah permukaan secara lebih detail.
Migrasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu :
Metode Kirchoff
Metode F-K
Metode Beda-Hingga (finite-differece)
Metode Reverse Time
Melalui proses migrasi akan diperoleh beberapa parameter yang berbeda sebagai
koreksi, antara lain :
Migrasi memperbesar sudut kemiringan
Migrasi memperpendek reflektor
Migrasi memindahkan reflektor ke arah up-dip
Migrasi memperbaiki resolusi vertikal
Gambar. Perbedaan sebelum dilakukan proses migrasi (a), dan sesudah proses
migrasi (b).
6.7 Hasil Interpretasi
Dari pengolahan data seismik, hasilnya yang berupa penampang seismik
kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan. Tujuan interpretasi seismik adalah
menggali dan mengolah berbagai informasi-informasi geologi bawah permukaan
dari penampang seismik. Pada eksplorasi minyak dan gas bumi, interpretasi
ditujukan untuk mengetahui lokasi reservoar hidrokarbon di bawah permukaan.
Pada umumnya, penampang seismik ditampilkan sebagai penampang waktu
(time section), namun dapat juga ditampilkan sebagai penampang kedalaman (depth
section) setelah melalui beberapa tahapan perhitungan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Hartantyo, E., 2004, Metode Seismik Bias dan Pantul, Universitas Gajah
Mada,Yogyakarta.
Hampson-Russell Software Service, Ltd., 2006, AVO Workshop: Theory and
Exercises.
Kiswarasari, Primalailia.2012. Analisis Metode Seismik Refraksi Untuk
Mendeteksi Potensi Longsor Di Desa Deliksari Kecamatan Gunungpati
Semarang. Universitas Negeri Semarang : Semarang.
Sanny, T. A., 2004. Panduan Kuliah Lapangan Geofisika Metode Seismik
Refleksi. Depthh. Teknik Geofisika, ITB, Bandung Ratnaningsih
Yilmaz, O., 2001, Seismic Data Analysis: Processing, Interpretation and
Inversion, Society of Exploration Geophysics.