0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
867 tayangan25 halaman

Metode Seismik Refleksi: Eksplorasi dan Aplikasi

Metode seismik refleksi menggunakan gelombang seismik buatan yang direkam untuk mengungkap struktur bawah permukaan. Gelombang ini akan dipantulkan pada batas antar lapisan berbeda dan direkam untuk diinterpretasikan. Metode ini memberikan gambaran struktur lateral dan vertikal serta digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas.

Diunggah oleh

Muh Fahmi Alkaf
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
867 tayangan25 halaman

Metode Seismik Refleksi: Eksplorasi dan Aplikasi

Metode seismik refleksi menggunakan gelombang seismik buatan yang direkam untuk mengungkap struktur bawah permukaan. Gelombang ini akan dipantulkan pada batas antar lapisan berbeda dan direkam untuk diinterpretasikan. Metode ini memberikan gambaran struktur lateral dan vertikal serta digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas.

Diunggah oleh

Muh Fahmi Alkaf
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

METODE SEISMIK REFLEKSI

Metode seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada

pengukuran respon gelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam tanah

dan kemudian direleksikan atau direfraksikan sepanjang perbedaan lapisan tanah

atau batas-batas batuan. Sumber seismik umumnya adalah palu godam

(sledgehammer) yang dihantamkan pada pelat besi di atas tanah, benda bermassa

besar yang dijatuhkan atau ledakan dinamit. Respons yang tertangkap dari tanah

diukur dengan sensor yang disebut geofon, yang mengukur pergerakan bumi.

Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang

dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan

dengan menggunakan sumber seismic (palu, ledakan, dll). Setelah usikan diberikan,

terjadi gerakan gelombang di dalam mediu (tanah/batuan) yang memenuhi hukum-

hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan

akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu,

gerakan partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman

inilah dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.

Eksperimen seismik aktif pertama kali dilakukan pada tahun 1845 oleh

Robert Mallet, yang oleh kebanyakan orang dikenal sebagai bapak seismologi

instrumentasi. Mallet mengukur waktu transmisi gelombang seismik, yang dikenal

sebagai gelombang permukaan, yang dibangkitkan oleh sebuah ledakan. Mallet

meletakkan sebuah wadah kecil berisi merkuri pada beberapa jarak dari sumber

ledakan dan mencatat waktu yang diperlukan oleh merkuri untuk be-riak. Pada

tahun 1909, Andrija Mohorovicic menggunakan waktu jalar dari sumber gempa
bumi untuk eksperimennya dan menemukan keberadaan bidang batas antara mantel

dan kerak bumi yang sekarang disebut sebagai Moho.

Pemakaian awal observasi seismik untuk eksplorasi minyak dan mineral

dimulai pada tahun 1920an. Teknik seismik refraksi digunakan secara intensif di

Iran untuk membatasi struktur yang mengandung minyak. Tetapi, sekarang seismik

refleksi merupakan metode terbaik yang digunakan di dalam eksplorasi minyak

bumi. Metode ini pertama kali didemonstrasikan di Oklahoma pada tahun 1921.

 Hukum Fisika Gelombang Seismik

Gelombang seismik mempunyai kelakuan yang sama dengan kelakuan

gelombang cahaya, sehingga hukum-hukum yang berlaku untuk gelombang cahaya

berlaku juga untuk gelombang seismik. Hukum-hukum tersebut antara lain:

1. Huygens mengatakan bahwa gelombang menyebar dari sebuah titik sumber

gelombang ke segala arah dengan bentuk bola.

2. Hukum snellius menyatakan bahwa bila suatu gelombang jatuh diatas bidang

batas dua medium yang mempunyai perbedaan densitas, maka gelombang

tersebut akan dibiaskan jika sudut datang gelombang lebih kecil atau sama

dengan sudut kritisnya. Gelombang akan dipantulkan jika sudut datangnya lebih

besar dari sudut kritisnya. Gelombang datang, gelombang bias, gelombang

pantul terletak pada suatu bidang datar.

Terdapat dua macam metoda dasar seismik yang sering digunakan, yaitu

seismik refraksi dan seismik refleksi, khusus pada laporan ini akan membahas

khususnya metode seismik refleksi.


Seismik refleksi

Metode seismik refleksi merupakan metode geofisika aktif yang

memanfaatkan sumber seismik buatan (dapat berupa ledakan, pukulan, dll). Setelah

gelombang buatan tersebut diberikan, maka gelombang tersebut akan merambat

melalui medium tanah/batuan di bawah permukaan, dimana perambatan gelombang

tersebut akan memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami

pemantulan maupun pembiasan sebagai akibat dari adanya perbedaan kecepatan

ketika melalui pelapisan medium yang berbeda. Pada jarak tertentu di permukaan,

gerakan partikel tersebut direkam sebagai fungsi waktu. Berdasarkan data rekaman

tersebut selanjutnya dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan.

Bumi sebagai medium rambat gelombang seismik tersusun dari perlapisan

batuan yang memiliki sifat fisis yang berbeda-beda, terutama sifat fisis densitas

batuan (ρ) dan cepat rambat gelombang (v). Sifat fisis tersebut adalah sifat fisis

yang mempengaruhi refleksivitas seismik. Dengan berdasar konsep tersebut

sehingga dapat dilakukan perkiraan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan.

Penerapan konsepnya kemudian disebut sebagai Impedansi Akustik, dimana

sebagai karekteristik akustik suatu batuan dan merupakan perkalian antara densitas

dan cepat rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai :


Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan dan memiliki

perbedaan nilai impedansi akustik, maka refleksi gelombang seismik dapat terjadi

pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Besar nilai refleksi yang terjadi

kemudian dinyatakan sebagai Koefisien Refleksi :

Gambar . Skema pemantulan gelombang seismik pada batas dua medium berbeda

nilai AI-nya.
Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi)

gelombang pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar amplitudo seismik

yang terekam maka semakin besar koefisien refleksinya.

Gambar .Ilustrasi survey metode seismik.

Dalam penerapannya, metode seismik refleksi memiliki beberapa

keunggulan dibandingkan dengan metode geofisika lainnya. Dengan seismik dapat

diketahui dan dipetakan gambaran kondisi struktur bawah permukaan secara lateral

maupun vertikal, dapat digunakan dalam studi stratigrafi dan beberapa kenampakan

pola pengendapan, dapat digunakan dalam studi petrofisika (porositas,

permeabilitas, kompaksi batuan), hingga memungkinkan untuk mendeteksi

langsung keberadaan hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Sehingga metode ini

dijadikan sebagai salah satu garda terdepan dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.

Namun, keunggulan tersebut juga diimbangi dengan beberapa kelemahan,

mengingat survey seismik refleksi umumnya dilakukan dalam skala yang besar.

Sehingga akan membutuhkan teknologi, biaya, waktu, dan tenaga yang relatif

besar.
Kegiatan survey seismik (eksplorasi) dapat dikelompokkan dalam tiga

serangkaian kegiatan/tahapan utama, yaitu :

1. Akuisisi Data Seismik

Akuisisi data seismik, tidak lain adalah tahapan pengukuran guna

mendapatkan data seismik berkualitas baik di lapangan. Data seismik yang

diperoleh dari tahapan ini akan menentukan kualitas hasil tahapan berikutnya.

Sehingga, dengan data yang baik akan membawa hasil pengolahan yang baik pula,

dan pada akhirnya, dapat dilakukan interpretasi yang akurat, yang menggambarkan

kondisi bawah permukaan sebagaimana mestinya.

Untuk memperoleh data berkualitas baik perlu diperhatikan pemilihan desain

survey dan beberapa faktor terkait. Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi pada

khususnya, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan yang akan

mempengaruhi kegiatan survey, termasuk juga kualitas data, yaitu :

 Kedalaman jebakan hidrokarbon yang menjadi target

 Resolusi vertikal

 Kualitas refleksi pada batuan

 Sumber gangguan/noise yang dominan

 Ciri-ciri jebakan hidrokarbon

 Kemiringan target paling curam

 Kemungkinan adanya proses lain yang perlu dilakukan


Medan pengukuran seismik mencakup pengukuran di darat, di laut, dan di

lingkungan transisi. Selain itu, survey seismik juga dapat dilakukan secara 2

dimensi maupun 3 dimensi. Masing-masing kondisi tersebut akan memerlukan

desain survey dan teknologi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan

tujuannya.

Survey seismik refleksi darat.

Survey seismik refleksi laut.

2. Pengolahan Data Seismik

Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data

seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian

dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik

adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise


ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan

refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi

keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti

kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan

sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.

Proses pengolahan data, dan data seismik mentah (raw data). (sumber:various)

3. Interpretasi Data Seismik

Dari pengolahan data seismik, hasilnya yang berupa penampang seismik

kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan. Tujuan interpretasi seismik adalah

menggali dan mengolah berbagai informasi-informasi geologi bawah permukaan

dari penampang seismik. Pada eksplorasi minyak dan gas bumi, interpretasi

ditujukan untuk mengetahui lokasi reservoar hidrokarbon di bawah permukaan.

Pada umumnya, penampang seismik ditampilkan sebagai penampang waktu (time

section), namun dapat juga ditampilkan sebagai penampang kedalaman (depth

section) setelah melalui beberapa tahapan perhitungan tertentu.


Kelebihan dan Kekurangan Metode Seismik Refleksi

 Kelebihan

- pengukuran seismik pantul menggunakan offset yang lebih kecil

- seismik pantul dapat bekerja bagaimanapun dalam perubahan kecepatan

sebagai fungsi kedalaman

- seismik pantul lebih mampu melihat struktur yang lebih kompleks

- seismik pantul merekam dan menggunakan semua medan gelombang yang

terekam

- bawah permukaan dapat tergambar secara langsung dari data terukur

 Kekurangan

- Biaya pengoperasian seismic refleksi lebih mahal dibandingkan metode lain

kecuali metode logging geofisika.

- karena lokasi sumber dan penerima yang cukup lebar untuk memberikan citra

bawah permukaan yang lebih baik, maka biaya akuisisi menjadi lebih mahal

- prosesing seismik refleksi memerlukan komputer yang lebih mahal, dan system

data base yang jauh lebih handal

- karena banyaknya data yang direkam, pengetahuan terhadap database harus

kuat, diperlukan juga beberapa asumsi tentang model yang kompleks dan

interpretasi membutuhkan personal yang cukup ahli.

Alat atau Instrument

Metode seismik memanfaatkan fenomena rambat gelombang seismik, yang

merupakan gelombang usikan mekanis yang menjalar dari suatu tempat ke tempat
yang lain melalui lapisan batuan bawah permukaan bumi. Gelombang ini dapat

mengalami pemantulan oleh perlapisan batuan yang memiliki perbedaan densitas

dan kecepatan dalam merambatkan gelombang, dan kemudian terekam sebagai

fungsi waktu.

Sebagai unit perekam fenomena seismik tersebut, dalam dunia seismik

eksplorasi pada khususnya, digunakan suatu sensor perekaman/receiver khusus,

yang juga jenisnya berbeda sesuai dengan daerah/lingkungan pengukuran. Untuk

survey seismik darat, alat ini berupa geophone, dan untuk survey seismik laut

berupa hydrophone.

Gambar 6.3 Fenomena pemantulan gelombang seismik

Sensor geophone umumnya berjenis moving coil, yang bekerja atas prinsip

fisika Hukum Lenz, yang berupa kumparan kawat yang bergerak di dalam medan

magnet). Sedangkan hydrophone, sensornya berupa kristal piezo elektrik yang peka

terhadap perubahan tekanan.


Gambar. Sensor geophone.

Gambar. Sensor hydrophone.

Pengolahan Data dan Software

Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data

seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian

dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik

adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise


ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan

refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi

keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti

kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan

sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.

Pengolahan data seismik dilakukan melalui serangkaian tahapan-tahapan.

Oleh karena geologi setiap medan survey seismik berbeda-beda, yang secara umum

dapat dibedakan menjadi lingkungan laut (marine), lingkungan darat (land), dan

transisi (transition), perbedaan ini akan menghasilkan data dengan karakteristik

yang berbeda-beda dan akan menyebabkan tahapan-tahapan pengolahan data

seismik pun berbeda-beda. Selain itu, urutan/tahapan dalam pengolahan data

seismik juga dipertimbangkan atas dasar kualitas data lapangan yang terekam,

hingga kemampuan/pengalaman orang yang mengerjakan, dan biaya.

Secara prinsip, tahapan dalam pengolahan data seismik dapat dikelompokkan

dalam :

 Pre Processing/Editing (Conditioning Data)

 Main Processing

 Post Processing

Secara garis besarnya, serangkaian tahapan pengolahan data seismik dapat

disajikan sebagai berikut :


Gambar . Diagram alir tahapan Pengolahan Data Seismik secara umum

1. Demultiplexing

Demultiplexing, suatu tahapan untuk mengatur kembali atau mengurutkan

data berdasarkan kelompok trace/channel-nya. Gelombang seismik yang diterima

oleh sensor geophone pada mulanya berbentuk analog, yang kemudian

dilakukan sampling dan digitalisasi dengan menggunakan multiplexer pada

interval tertentu saat perekaman berlangsung. Ketika sampling dimulai


dari channel A hingga channelterakhir dan kembali ke channel A dan seterusnya,

sehingga akan diperoleh sampel data 1 dari channel A, sampel data 1 channel B,

hingga sampel 1 channel terkahir (n), dan kemudian terulang kembali untuk sampel

data 2 dengan waktu sampling Δt.

Gambar. Proses demultiplexing dari data berdasarkan sampling time ke

berdasarkan trace.

2. Trace Gathering

Merupakan tahapan pengelompokan berdasarkan kesamaan dari masing-

masing channel/trace. Pengelompokan tersebut dapat berupa :

1. Common Source Point (CSP)

2. Common Depth Point (CDP)

3. Common Offset

4. Common Receiver
Gambar. Ilustrasi berbagai trace gathering beserta respon seismiknya.

3. Editing dan Muting

Tahapan editing merupakan tahapan untuk mengkoreksi amplitudo-

amplitudo yang dianggap buruk pada setiap trace seismiknya. Sedangkan

muting adalah tahapan untuk menghapus sinyal-sinyal gelombang langsung (direct

wave) yang terekam selama pengukuran dan gelombang-gelombang refraksi yang

tidak dibutuhkan.

Gambar. Perbedaan dari sebelum proses muting (gambar kiri) dan setelah

prosesmuting (gambar kanan).


Gambar .Kiri: hasil proses editing, gambar kanan: sebelum proses editing.

4. Gain Recovery

Ketika perekaman berlangsung, data yang terekam telah diberikan

penguatan (gain), namun dengan fungsi yang bersifat instantaneous floating

point yang dapat menyebabkan adanya distorsi pada data. Fungsi penguatan

tersebut kemudian dapat dikoreksi dengan cara mengalikan nilai-nilai trace seismik

dengan inversi dari fungsi penguatan, dan nilai rata-rata amplitudo trace seismik

dikalkulasi sebagai fungsi waktu, sehingga hasilnya dapat diketahui parameter-

parameter fungsi penguatan yang baru.

Fungsi penguatan yang benar akan menghasilkan trace seismik dengan

perbandingan amplitudo-amplitudo yang sesuai dengan perbandingan dari masing-

masing koefisiensi refleksinya, sehingga akan mempermudah dalam interpretasi.

Fungsi penguatan g(t) secara dapat dinyatakan sebagai :

Gain (dB) = A.t + B.20 log (t) + C

dimana t merupakan waktu, A sebagai faktor atenuasi, B sebagai faktorspherical

divergence, dan C adalah nilai tetapan penguatan.


Dalam penerapannya, terdapat beberapa jenis penguatan, yaitu :

 Programmed Gain Control (PGC); fungsi penguatan berdasarkan

interpolasi antara nilai skalar amplitudo sampel pada laju samplingdengan

satu window tertentu.

 Automatic Gain Control (AGC); fungsi penguatan berdasarkan root mean

square (RMS), dimana dikalkulasikan RMS dari kuadrat amplitudo di tiap

sampel pada satu window tertentu.

5. Koreksi Statik

Koreksi static dilakukan untuk mengembalikan waktu penjalaran

gelombang seismik yang bergeser karena adanya perbedaan ketinggian antara

sumber seismik dan geophone. Selain itu juga karena adanya lapisan lapuk dengan

ketebalan yang bervariasi, sekaligus cepat rambat gelombang yang variatif dalam

lapisan lapuk tersebut. Koreksi static ini dilakukan sedemikian hingga sumber

seismik dan penerima/geophoneberada pada satu garis horisontal (datum), sehingga

dapat diperoleh bentuk refleksi yang kurang lebih sesuai dengan kenyataannya dan

diperoleh sinyal yang sefase yang saling memperkuat pada saat proses

stacking dilakukan.

Gambar. Kanan : hasil koreksi static, gambar kiri : data sebelum koreksistatic
6. Filtering

Definisi data dalam geofisika adalah suatu hasil pengukuran terhadap suatu

objek dimana data belum mengalami proses/pengolahan dan masih mengandung

sinyal dan gangguan (noise). Sinyal adalah data yang membawa informasi dari

objek yang diukur, sedangkan noise merupakan data yang mengganggu hasil

pengukuran dan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pengukuran.

Dalam seismik refleksi, data lapangan yang terekam juga mengandung

sinyal dan noise. Untuk menghilangkan noise tersebut dan untuk memperkuat

sinyal maka dilakukan tahapan filtering. Filter yang biasa digunakan dalam tahap

ini antara lain :

a. Filter Frekuensi (1D); filter yang bekerja meredam noise frekuensi tertentu. Filter

frekuensi berupa :

 Low Pass Filter

 Hi-Pass Filter

 Band Pass Filter

 Notch Filter
Gambar. Berbagai jenis filter frekuensi 1D

b. Filter F-K (2D); filter yang digunakan untuk meredam noise frekuensi tertentu

yang sama dengan frekuensi sinyal data namun dengan bilangan gelombang yang

berbeda.

7. Dekonvolusi

Gelombang seismik yang merambat dari sumber seismik melalui medium

akan mengalami konvolusi hingga terekam oleh geophone. Oleh karena itu,

medium (bumi) memiliki sifat filtering terhadap energi gelombang seismik,

sehingga mengakibatkan wavelet seismik dari sumber seismik yang semula tajam

dan memiliki amplitudo tinggi (dalam fungsi waktu) menjadi lebih lebar, dengan

amplitudo yang berkurang.


Dekonvolusi merupakan tahapan untuk melakukan koreksi terhadap efek

filter bumi tersebut sehingga diperoleh hasil dimana wavelet yang terekam dapat

dikembalikan menjadi tajam dan dengan amplitudo yang tinggi.

Gambar. Model konsep konvolusi.

8. Normal Move Out

Koreksi Normal Move Out (NMO) merupakan tahapan yang diterapkan

guna mengkoreksi adanya efek yang disebabkan oleh jarak offset antara sumber

gelombang seismik dengan geophone pada suatu trace yang berasal dari satu CMP

(Common Mid Point) atau CDP (Common Depth Point). Oleh karena efek tersebut,

maka untuk satu titik CMP atau CDP akan terekam oleh sejumlah penerima sebagai

garis lengkung (hiperbola). Dengan menerapkan koreksi NMO ini maka gelombang

pantul yang terekam akan seolah-olah datang dalam arah vertikal (normal incident),

sehingga dalam tahap stacking berikutnya akan diperoleh hasil yang maksimal.
Gambar. Konsep koreksi NMO pada CMP gather.

9. Stacking

Stacking merupakan proses penjumlahan trace seismik dalam

satu gatherdata yang bertujuan untuk meningkatkan S/N ratio. Setelah

semua tracedilakukan koreksi-koreksi, maka dalam format CDP gather setiap

refleksinya menjadi horisontal, dan apabila trace-trace yang telah menjadi

horisontal tersebut dilakukan stacking dalam tiap-tiap CDP maka akan mampu

meningkatkan S/N ratio.

Gambar. Konsep staking pada CMP gather


1. Analisa Kecepatan

Dengan analisa kecepatan akan diketahui nilai kecepatan yang sesuai dan

cukup akurat untuk menentukan kedalaman, ketebalan, kemiringan dari suatu

reflektor. Namun, nilai kecepatan suatu medium akan dipengaruhi oleh berbagai

faktor seperti litologi batuan, tekanan, suhu, porositas, densitas, kandungan fluida,

umur batuan, ukuran butir, dan frekuensi gelombang itu sendiri.

Pada grup trace dari suatu titik pantul, sinyal refleksi yang dihasilkan akan

mengikuti bentuk pola hiperbola. Sehingga secara prinsipnya, analisa kecepatan

adalah mencari persamaan hiperbola yang tepat sehingga menghasilkan nilai

kecepatan yang sesuai, dan pada tahap stackingberikutnya akan diperoleh hasil

maksimum.

10. Migrasi

Proses migrasi pada penerapannya merupakan satu tahapan alternatif dalam

proses pengolahan data seismik, namun proses migrasi pada umumnya diperlukan

karena perumusan pemantulan yang diturunkan pada CMP berasumsi pada model

lapisan datar (persamaan gelombang Snellius), sehingga apabila terdapat reflektor

miring maka letak titik-titik CMP akan bergeser. Oleh karena itu, proses migrasi

memiliki tujuan untuk memindahkan kedudukan reflektor pada posisi dan waktu

pantul yang sebenarnya, berdasarkan lintasan gelombang. Selain itu, proses migrasi

juga mampu untuk menghilangkan efek difraksi gelombang yang muncul sebagai

akibat dari adanya struktur-struktur seperti patahan, lipatan, dll, sehingga dapat

memperjelas gambaran struktur bawah permukaan secara lebih detail.


Migrasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu :

 Metode Kirchoff

 Metode F-K

 Metode Beda-Hingga (finite-differece)

 Metode Reverse Time

Melalui proses migrasi akan diperoleh beberapa parameter yang berbeda sebagai

koreksi, antara lain :

 Migrasi memperbesar sudut kemiringan

 Migrasi memperpendek reflektor

 Migrasi memindahkan reflektor ke arah up-dip

 Migrasi memperbaiki resolusi vertikal

Gambar. Perbedaan sebelum dilakukan proses migrasi (a), dan sesudah proses

migrasi (b).
6.7 Hasil Interpretasi

Dari pengolahan data seismik, hasilnya yang berupa penampang seismik

kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan. Tujuan interpretasi seismik adalah

menggali dan mengolah berbagai informasi-informasi geologi bawah permukaan

dari penampang seismik. Pada eksplorasi minyak dan gas bumi, interpretasi

ditujukan untuk mengetahui lokasi reservoar hidrokarbon di bawah permukaan.

Pada umumnya, penampang seismik ditampilkan sebagai penampang waktu

(time section), namun dapat juga ditampilkan sebagai penampang kedalaman (depth

section) setelah melalui beberapa tahapan perhitungan tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

Hartantyo, E., 2004, Metode Seismik Bias dan Pantul, Universitas Gajah

Mada,Yogyakarta.

Hampson-Russell Software Service, Ltd., 2006, AVO Workshop: Theory and

Exercises.

Kiswarasari, Primalailia.2012. Analisis Metode Seismik Refraksi Untuk

Mendeteksi Potensi Longsor Di Desa Deliksari Kecamatan Gunungpati

Semarang. Universitas Negeri Semarang : Semarang.

Sanny, T. A., 2004. Panduan Kuliah Lapangan Geofisika Metode Seismik

Refleksi. Depthh. Teknik Geofisika, ITB, Bandung Ratnaningsih

Yilmaz, O., 2001, Seismic Data Analysis: Processing, Interpretation and

Inversion, Society of Exploration Geophysics.

Anda mungkin juga menyukai