Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bumi adalah tempat dimana manusia melakukan segala aktivitasnya dan
digunakan sebagai sumber untuk kelangsungan hidup manusia dan anak cucunya.
Untuk semakin mengembangkan pendapatan dan penghasilan manusia di bumi
dengan mengeruk potensial bumi untuk kebutuhan sehari hari. Maka dari itu,
disiplin ilmu yang mempelajari bumi sangat dibutuhkan dewasa ini.
Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi mulai dari
pembentukannnya, potensinya dan perubahannya. Seiring dengan
pengembangannya, geologi berkembang dan memiliki tools sebagai ilmu
pendukung, yaitu Geofisika. Geofisika adalah ilmu yang mempelajari bawah
permukaan bumi dengan menggunakan pendekatan fisika seabgai parameter
pengukuran untuk mendapatkan sifat unik lapisan batuan di bawah permukaan.
Parameter fisika yang digunakan seabgai patokan, didapatkan dari adanya
pengukuran dari permukaan dengan menggunakan beberapa metode, bergantung
dari sifat fisika yang akan diukur. Secara umum, metode dalam geofisika dibagi
menjadi 2; metode aktif dan metode pasif. Metode aktif geofisika adalah jenis
metode yang digunakan untuk mengetahui geometri bawah permukaan dengan
memberikan gangguan atau rangsangan ke dalam bumi dan menunggu respon dari
lapisan bawah permukaan. Contohnya adalah metode seismik refraksi, seismik
refleksi, eberapa geolsitrik dan beberapa elektromagnetik.
Metode kedua adalah metode pasif. Metode ini adalah metode yang tidak
memberikan rangsangan ke dalam bumi, hanya melakukan pengukuran sifat fisika
batuan dari permukaannya saja. Contohnya adalah metode magnetic, gravity,
beberapa geolistrik dan beberapa elektromagnetik
Salah satu pemanfaatan metode elektromagnetik adalah untuk
mengidentifikasi benda benda yang memiliki sifat konduktif di bawah permukaan
contohnya adalah logam logaman dan asosiasi emas. Metode elektromagentik yang
bisa digunakan untuk itu adalah metode CMD (Conductivity Meter Depth). Metode
ini banyak digunakan untuk mengukur secara langsung nilai konduktivitas suatu

1
medium di bawa permukaan. Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 14 Hz.
Penetrasi kedalaman yang didapatkan termasuk dangkal yaitu kurang lebih 6 meter.
Investigasi yang biasa menggunakan metode ini adalah untuk pembukaan lahan
perawahan untuk identifikasi sifat fisik tanah yang digunakan dan Analisa arah
orientasi suatu logam konduktif.

1.2. Maksud dan Tujuan


Pembuatan tulisan kali ini sbagai hasil dari akusisi lapangan bermaksud untuk
memberikan pengetahuan epada praktikan bagaimana data yang bagus untuk
diinterpretasi, memberikan pengetahuan bagaimana melakukan pengolahan data
lapangan dan bagaimana menginterpretasi model 3 dimensi dan grafik hasil
pengolahan.
Dengan berlanjutnya pembuatan laporan ini, bertujuan untuk menghasilkan
grafik antara nilai konduktivitas dan inphase lapangan untuk melihat anomali yang
ada, menghasilkan peta persebaran konduktivitas dan inphase pada penetrasi
rendah dan tinggi dan terakhir adalah untuk menghasilkan model 3d imensi untuk
masing masing komponen.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Geologi Lokal


Stratigrafi daerah Bantul dan sekitarnya tersusun oleh batuan tersier yang
terdiri dari batuan sedimen klastik vulkanik, batuan gunung api, dan sedimen klastik
karbonatan, serta endapan permukaan yang berumur Kuarter. Berdasarkan sifat-
sifat batuan dapat diperinci menjadi tujuh formasi yaitu Formasi Yogyakarta (46%),
Formasi Sentolo (18%), Formasi Sambipitu (3%), Formasi Semilir Nglanggran
(24%), Formasi Wonosari (8%), dan gumuk pasir (1%).
Struktur geologi yang berkembang di daerah Opak Pleret adalah sesar geser
dan sesar normal. Di sepanjang Sungai Opak terdapat sesar normal yang berada di
sepanjang hampir 40 km dari pantai selatan Jawa di mulut sungai ke arah
Prambanan Kabupaten Klaten dengan arah 30 sampai 40 derajat ke timur laut. Sesar
Opak memotong Yogya Low dan Wonosari High dengan batuan andesit tua (OAF)
sebagai penyusun struktur pemotongan sesar, sedangkan di timur Opak masih
terdapat Formasi Semilir dan Nglanggran yang juga terlibat dalam sistem sesar.
Kabupaten Bantul sendiri merupakan wilayah yang berada pada dominasi
struktur geologi Young Merapi Volcanic (Quartenary) bagian tengah dan Volcanic
(Miocine dan oligo-micine) pada bagian timur. Struktur-struktur ini sudah berumur
cukup tua (0,8-2,85 juta tahun yang lalu). Secara struktural Kabupaten Bantul diapit
oleh bukit patahan, yaitu lereng barat Pegunungan Batur Agung (Batur Agung
Ranges) pada bagian timur dan bagian Barat berupa bekas laguna. Wilayah yang
berada pada apitan bukit patahan ini disebut dengan graben, maka wilayah
Kabupaten Bantul dalam toponim geologi dan geomorfologi disebut Graben
Bantul. Graben ini terbentuk dari proses diatrofisme tektonisme yang dipengaruhi
oleh aktivitas gunung merapi dan gunung api tua. Selain berada pada apitan bukit
patahan, wilayah Kabupaten Bantul juga berada pada bentang lahan Fluvio-
Marin yang memiliki banyak potensi dan masalah (pada wilayah Bantul Selatan).
Hal ini terjadi karena wilayah Kabupaten Bantul juga merupakan wilayah transisi
antara asal lahan fluvial (proses yang mengerjai air-sungai) dan asal lahan marin
(proses yang mengerjai angin dan gelombang dari Samudra Hindia).

3
Selain berada pada apitan bukit patahan dan bentuk lahan dataran fluvio-marin,
Kabupaten Bantul juga berada pada wilayah transisi yaitu dataran yang asal
prosesnya dari aktivitas Vulkanis dan endapan sungai (Fluvio-Vulcan).
Bentuklahan fluvial disebabkan oleh akibat aktivitas aliran sungai. Aktivitas aliran
sungai tersebut berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi)
sehingga membentuk bentangan dataran aluvial dan bentukan lain dengan struktur
horisontal yang tersusun oleh material sedimen . Bentukan-bentukan ini
berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan seperti lembah-lembah sungai
besar dan dataran aluvial. Bentukan-bentukan lain dalam skala kecil yang mungkin
terjadi dapat berupa dataran banjir, tanggul alam, teras sungai dan kipas aluvial.

2.2. Penelitian Mengenai Benda Terpendam Menggunakan Elektromagnetik

Investigasi Tangki Bawah Permukaan dengan Menggunakan


Conductivity Multi Depth (CMD) di Perta Arun Gas (PAG)
Lhokseumawe
Oleh :
Asrillah1, Marwan1,2, Muzakir Zainal1
1
Jurusan Teknik Kebumian Prodi Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Unsyiah
2
Jurusan Fisika FMIPA Unsyiah

Investigasi keberadaan tank/bunker yang tertimbun telah dilakukan dibagian area


PT Perta Arun Gas (PAG)Lhokseumawe dengan menggunakan metode
Conductivity Multi Depth (CMD) yang dilengkapi dengan satuset alat CMD. Enam
buah lintasan pengukuran yang memiliki panjang 66 m dan memiliki spasi
diantaranya1 m telah didesain untuk mecakup area dugaan target. Hasil investigasi
menunjukkan bahwa adanyakeberadaan tangki/bunker. Keberadaan tangki/bunker
tersebut sebagai hasil interpretasi nilai-nilaikonduktivitas listrik yang bervariasi
mulai dari 1210-1320 mS.m-1 atau setara dengan -227,26 sampaidengan -227,82
ppt. Dari variasi nilai konduktivitas listrik, maka dapat disketsa dimensi dari
tangki/bunkerdimana tangki tersebut terdiri dari 3 bagian dengan ukuran yang
berbeda. Bagian pertama memiliki diameter1 m dan panjang 8 m. Bagian kedua
memiliki diameter 2,8 m dan panjang 11 m, sedangkan bagian terakhirmemiliki

4
diameter 2,5 m dan panjannya 19 m, sehingga panjang keseluruhan tangki adalah
38 m.Kedalaman tangki tersebut dari bagian yang paling kecil ke besar secara
berturut-turut adalah 1 m, 3 m dan4 m. Secara umum dapat dikatakan bahwa metode
ini berhasil diaplikasikan untuk mendeteksi benda-bendalogam yang tertanam.

5
BAB III
DASAR TEORI

3.1. Pengertian dan Prinsip Dasar CMD


CMD (Electromagnetic Conductivity Meter Depth) adalah suatu alat yang
dapat mengukur secara cepat nilai konduktivitas benda memanfaatkan induksi
elektromagnetik dari aliran listrk yang dipancarkan ke bawah permukaan hingga
kedalaman 6 meter dengan frekuensi 14.6 kHz. Proses kerja dari instrumen CMD
(Electromagnetic Conductivity Meter Depth) ini yaitu dengan mengirim sinyal
berupa gelombang elektromagnetik baik yang dibuat sendiri maupun yang berasal
dari alam melalui suatu transmiter (Tx), material bawah permukaan bumi merespon
gelombang elektromagnetik tadi dan menginduksi arus eddy. Gelombang S
(sekunder) yaitu induksi medan magnet terhadap arus eddy. Kemudian, di
permukaan, gelombang S yang datang ini di terima oleh reciever (Rx) secara
langsung dari pemancar. Arus Eddy berbanding lurus dengan konduktivitas
batuan.Sehingga dalam pengukuran arus eddy, secara tidak langsung mendapatkan
nilai konduktivitas batuan.

Gambar 3.1. Sistem Induksi Elektromagnetik

3.2. Perambatan Medan Elektromagnetik


Penjalaran gelombang elektromagnetik bisa terjadi melalui dua cara yakni
horisontal dipol dan vertikal dipol. Pada penelitian metode EM-Conductivity

6
menggunakan CMD ini menjalarkan gelombang secara vertical dipole, berikut
ilustrasi penjalaran gelombangnya.

Gambar 3.2. Penjalaran Gelombang Elektromagnetik (Vertical Dipole)

Sedangkan persamaan untuk harga konduktivitas dapat diperoleh dari :


Hs 0 2
(III.1)
4

Keterangan :
Hs = medan magnet sekunder pada koil penerima
Hp = medan magnet primer pada koil penerima
=2f
f = frekuensi (Hz)
o = permeabilitas ruang hampa
= konduktivitas (mS/m)
s = intercoil spacing
i = 1
Jadi persamaan untuk mendapatkan harga konduktivitas (a) suatu medium
yakni :
4
= 2 () (III.2)
0

3.3. Konduktivitas
Konduktivitas merupakan parameter utama yang terukur dari instrumen
CMD, hal ini dikarenakan adanya proses induksi gelombang elektromagnetik di
bawah permukaan bumi yang menginduksi material yang bersifat konduktif.

7
Konduktivitas itu sendiri merupakan kemampuan material atau bahan yang terdapat
di bawah permukaan untuk menghantarkan arus ataupun panas. Konduktivitas
didefinisikan sebagai kuantitas dalam mS/m.

3.4. Inphase
Parameter kedua yang diukur secara simultan dengan konduktivitas jelas
adalah In Phase. Hal ini didefinisikan sebagai kuantitas relatif dalam ppt dari medan
magnet primer dan terkait erat dengan kerentanan magnetik bahan diukur. Jadi peta
InPhase dapat membantu membedakan struktur buatan dari geologi alam di peta
konduktivitas terlihat jelas.

3.5. Moving Average


Moving Average dapat diartikan sebagai perubahan harga rata rata dari suatu
time frame tertentu. MA berfungsi mengkompensasi noise acak yang muncul
selama pengukuran akibat aktivitas kelistrikan maupun ketidakhomogenan bawah
permukaan.
Dalam pengolahan data CMD, data yang diperoleh dilapangan adalah data
konduktivitas serta data inphase. Data data tersebut tak lepas dari gangguan atau
noise, maka pengolahan data MA ini sangat diperlukan. Dalam pengolahan data
EM terdapat langkah ini, yang sebenarnya disebut dengan filter moving average
atau dapat diartikan sebagai rata rata nilai anomali, yang kemudian dibagi dengan
jumlah jendela yang digunakan. Hal ini digunakan untuk memisahkan data yang
mengandung frekuensi yang tinggi dan rendah. Setelah dilakukannya tahap ini,
diharapkan sinyal yang ada benar benar menggambarkan anomali yang
disebabkan oleh benda benda konduktif dibawah permukaan.
MA Xn =X(n-1)+2Xn + X(n+1)/4.

8
BAB IV
METODOLOGI

4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian


Pelaksanaan lapangan akuisisi Elektromagnetik CMD dilakukan di daerah
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan koordinat
427984.17 mE 428234.00 Me sampai 9134725.89 Mn 9134863 Mn. Akuisisi
dilakukan pada tanggal 15 sampai 16 September dengan durasi waktu 8 jam untuk
masing masing hari.

4.2. Desain Survei

Gambar 4.1. Desain Survei


Gambar di atas adalah gambar Design Survei untuk akuisisi data
elektromagentik metode CMD. Pengukuran menggunakan 6 lintasan utama
dikarenakan waktu dan kondisi alat yang kurang memadai, maka hanya 6 lintasan
yang terbentuk. Arah orientasi dari lintasan adalah timur barat dengan aazimuth
yang digunakan adalah 100 derajat E. Design survei ini bertujuan untuk
mendapatkan geometri dari pipa bawah permukaan. Jarak antar titik berkisar antara

9
2 meter dengan panjang 1 lintasan adalah 70 meter. Total titik yang didapatkan
untuk masing masing lintasan adalah 35 titik.

4.3. Peralatan dan Perlengkapan

Gambar 4.2. Peralatan dan Perlengkapan

Gambar di atas adalah gambar peralatan dan perlengkapan untuk melakukan


akuisisi metode CMD. Peralatan tersebut antara lain:
1. Control Unit CMD (Dsiplay): adalah bagian dari main unit untuk
menampikan sifat fisika batuan antara lain konduktivitas dan
inphase dengan menampilkan nilai error lapangan.
2. Koil Satelit: adalah main unti yang digunakan unruk
memberikan signal dan menagkap signal (transmitter dan
receiver) dengna perbedaan, transmitter coil lebih memiliki
dimensi panjang yang lebih.
3. Kabel connector: kabel yang berfungsi untuk menghubungkan
antara oil transmitter, receiver dengan CMD Display.
4. Baterai: adalah catu daya atau sumber daya untuk emnghidupkan
semua komponen komponen pada peralatan akuisisi.

10
5. Meteran: berfungsi untuk mengukur perbedaan perpindahan titik
ukur agar sesuai dengan jarak pada design survei. Dan mengukur
orientasi dari pengukuran.
6. Tabulasi data: untuk mencatat besar nilai nilai sifat fisik yang
diadapatkan. Konduktivitas dan inphase.

11
4.4. Diagram Alir Pengambilan Data

Mulai

Persiapan Alat

Pemasangan Satelit

Penentuan Lintasan Pengukuran dan


Titik Pengukuran

Akuisisi Data

Nilai Konduktivitas,
inphase dan error

Mencatat Hasil

Packing Alat

Selesai

Gambar 4.3. Diagram Alir Pengambilan Data

12
4.5. Pembahasan Diagram Alir Pengambilan Data
Gambar 4.3 adalah gambar diagram alir untuk tata cara pengambilan data
lapangan untuk metode Elektromagnetik CMD. Berikut adalah penjelasannya
secara rinci:
1. Langkah pertama adalah persiapan semua perlengkapan untuk akuisisi
data mulai dari main unit sampai pelengkapnya. Dipastikan semua
komponen dalam keadaan baik dan baterai dapat mencukupi untuk
akuisisi selama seharian.
2. Kemudian, pemasangan main unit (transmitter & receiver)
dihubungkan dengan CMD Display menggunakan kabel connector.
Setelah terpasang untuk semua komponen, lalu alat dipasangkan kepada
operator lapangan yang akan berjalan mengabil data sambal
menggendong alatnya. Pemasangan menggunakan sabuk pengaman
agar tidak jatuh.
3. Untuk memperlancar arah dan titik akuisisi, meteran dibentangkan dan
diberikan tanda pertitik pengukuran agar akuisisi berjalan efisien.
4. Selanjutnya, pengambilan data dilakukan pertitik. Pada setiap titik,
dilakukan dua kali pengambilan data untuk low frequency dan high
frequency. Kedua pengukuran ini menggunakan arah yang berbeda
beda. Antara arah utara dengan selatan. Utara untuk pengukuran low
frequency dan selatan untuk high frequency.
5. Setelah mengukur, catat semua komponen pada masing masing
pengukuran low dan high yaitu konduktivitas dan inphase Data
dikontrol berdasarkan data error yang juga didapatkan pada pengukuran.
Jika terlalu besar error yang didapatkan, maka pengukuran dianjurkan
unruk diulangi.
6. Semua SPO dilakukan untuk setiap titik pengukuran. Setelah sampai
titik terakhir, saatnya mengmasi kembali barang barang dan bersiap
untuk kembali ke tempat semula.
7. Selesai.

13
4.6. Diagram Alir Pengolahan Data

Mulai

Data Lapangan

Design GUI

Load Data CMD

PETA MA Konduk High


dan Konduk Low

Selesai

Gambar 4.4. Diagram Alir Pengolahan Data

14
4.7. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
Data akuisisi yang didapatkan, kemudian dilakukan pengolahan hingga
didapatkan model yang diinginkan. Gambar 4.4 adalah flow diagram untuk
menghasilkan model tersebut. Penjelasan lebih rincinya adalah sebagai berikut:
1. Dat lapanagn yang didapatkan sebenarnya adalah sudah nilai yang
dicari tanpa melakukan pengolahan lebih lanjut. Data dari tabulasi
diinput kedalam ms. Excel.
2. Data yang dianggap berantakan tersebut kemudian di smoothing
dengan cara melakukan mengolahan moving average untuk
mengontrol data yang dianggap terlalu jauh nilainya. Ma dilakukan
pada nilai konduktivitas dan nilai inphase.
3. Lalu, dari nilai tersebut, dibuatlah grafik perbandingan antara nilai
konduktivitas dan iphase pada low dan high Frequency dan grafik
untuk nilai MA konduktivitas vs. inphase pada low & high
frequency.
4. Selanjutnya, setelah didapatkan output grafik, maka selanjutnya
membuat peta nilai MA konduktivitas untuk low & high frequency
dan peta MA inphase pada low & high frequency.
5. Kemudian, output selanjutnya yang dibuat adalah model 3 dimensi
yang dibuat dengan menggunakan software Voxler dari nilai
konduktivitas dan inphase yang didapatkan.
6. Lalu, setelah semua output didapatkan, saatnya melakukan
interpretasi berdasarkan nilai konduktivitas dan inphase yang
dihubungkan dengan geologi lokal daerah penelitian dan
berdasarkan informasi warga sekitar.
7. Kemudian, merangkum semuanya dalam bentuk kesimpulan.
8. Selesai.

15
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Tabel Data Kelompok 2


Tabel 5.1. Tabel Data Kelompok 2

16
5.2. Grafik Analisa Lintasan 2
5.2.1. Grafik Konduktivitas Vs. Inphase Low Penetration Lintasan 2

Gambar 5.1. Grafik Analisa Lintasan 2

Gambar di atas (Gambar 5.1) adalah grafik model untuk analisa nilai
konduktivitas yang dibantingkan dengan nilai inphase pada pengukuran low
penetration dengan menggunakan hgh frequency. Grafik ini adalah grafik hasil
akuisisi lintasan 2, terdiri dari 2 grafik. Grafik berwarna biru adalah grafik nilai
konduktivitas dan grafik berwarna orange adalah grafik nilai inphase.
Pada titik 15, 16, 17 dan 18 nilai konduktivitas dan inphase melonjak tinggi
dengan tanda lingkaran berwarna hijau, dibandingkan dengan nilai sekitarnya. Nilai
konduktivitas yang tinggi, merepresentasikan bahwa titk pengukuran tersebut telah
melewati sebuah medium yang memiliki sifat penghantar listrik yang baik
dibandingkan dengan sekitarnya. Medium ini bisa jadi adalah logam atau sejenisnya
yang sudah terpendam di daerah penelitian. Sementara untuk nilai inphase, adalah
nilai yang mewakili sifat kemagnetan sebuah medium yang menandakan jika
nilainya naik secara drastic dibandingkan sekitarnya, maka lintasan tersebut
melewati sebuah medium yang memiliki sifat kemagnetan yang tinggi. Bisa
diasumsikan sebagai logam atau sejenisnya yang terpendam oleh timbunan soil.

17
5.2.2. Grafik MA Konduktivitas Vs. MA Inphase Low Penetration
Lintasan 2

Gambar 5.2. Grafik Analisa Lintasan 2

Gambar 5.2 adalah gambar model grafik untuk analisa nilai konduktivitas
dan inphase yang sudah emngalami smoothing dengan cara moving average.
Perhitungan yang digunakan untuk mendapatkan nilai moving average adalah
dengan memperhitungkan nilai sesudah titik dan setelah titik yang kemudian dibagi
4. Maka, hasil yang didapatka menjadi lebih smooth karena data dikontrol oleh data
data sebelumnya.
Terdapat 2 grafik, grafik berwarna biru adalah grafik nilai moving average
untuk konduktivitas dan grafik berwarna orange untuk nilai mocing average nilai
inphase. Secara kasat mata, bentuk dari grafik data mentah tidak berbeda jauh
dengan grafik nilai hasil moving average. Anomali tetap terdapat pada titik titik
pengukuran 15, 16 17 dan 18. Namun perbedaannya adalah, nilai yang naik secara
ekstrem akan didekatkan dengan nilai yang ada disebelum dan sesudahnya, untuk
mengontrol data agar tidak terlalu banyak noise yang didapatkan.
Nilai yang naik secara signifikan inilah yang diinterpretasikan sebagai
anomali yang disebabkan oleh adanya medium logam padat degnan sifat fisik
konduktif dan memiliki nilai kemagnetan yang tinggi.

18
5.2.3. Grafik Konduktivitas Vs. Inphase High Penetration Lintasan 2

Gambar 5.3. Grafik Analisa Lintasan 2

Gambar di atas adalah gambar model grafik untuk nilai konduktivitas dan
inphase pada pengukuran high Penetration low frequency. Pada model grafik ini,
didapatkan 2 jenis grafik, grafik pertama adalah grafik berwarna biru sebagai
representasi dari nilai konduktivitas dan grafik berwarna orange sebagai
representasi dari nila inphase. Grafik ini masih menunjukkan nilai konduktivitas
dan inphase pada lintasan 2 dengan menggunakan frekuensi rendah agar didapatkan
penetrasi kedalaman yang lebih dari sebelumnya.
Jika dilihat dengna saksama, maka bentuk grafik antara penetrasi kedalaman
yang dangkal dan yang dalam, memiliki trendline yang sama, yaitu terdapat
beberapa titik yang nilai konduktivitas dan inphasenya meningkat drastis. Namun,
ada perbedaan pada pengukuran yang ini pada grafik konduktivitas yang mana pada
titik 5 dan titik 20, 21, dan 22 ada kenaikan yang tidak begitu tinggi namun sangat
signifikan diantara yang lainnya. Maka dari itu, ini juga dianggap sebagai anomali
dari sifat fisik bawah permukaan. Diinterpretasikan ini sebagai komponen
batulempung daerah penelitian mengandung logam. Untuk daerah titik 15, 16, 17
dan 18 pada nilai konduktivitas dan inphase, masih diinterpretasikan sebagai jalur
terlewatinya pipa logam yang besar.

19
5.2.4. Grafik MA Konduktivitas Vs. MA Inphase High Penetration
Lintasan 2

Gambar 5.4. Grafik Analisa Lintasan 2

Gambar 5.4 adalah gambar model grafik untuk nilai konduktivitas dan
inphase yang mengalami perhitungan agar nilai yang didapatkan tidak terlalu jauh
dengna nilai nilai yang didapatkan disekitarnya. Perhitungan ini dilakukan agar
nilai dari suatu anomali tidak terganggu oleh adanya noise lapangan yang tidak
terkontrol secara langsung.
Grafik diatas terdiri atas 2 grafik, yaitu grafik konduktivitas dan grafik
inphase, Grafik konduktivitas diawakili oleh warna biru, sedangkan nilai inphase
diwakili dengan warna orange. Jika dilihat secara keseluruhan, letak anomali dari
nilai konduktivitas dan inphase tidak berbeda jauh dari grafik nilai konduktivitas
dan inphase tanpa moving average.
Pada grafik ini, nilai nilai yang dianggap noise udah diperkecil, sehingga
grafik yang memperlihatkan nilai yang semakin naik yang awalnya berantakan akan
menjadi lebih halus dan menghasilkan trendline yang lebih mudah untuk
diinterpretasikan karena sudah tepat pada posisi dimana anomali berada. Pada
grafik ini, nilai anomali yang melonjak tinggi untuk masing masing sifat fisik
berada pada titik 14, 15, 16, 17 dan 18. Variasi nilai inphase dan konduktivitas
untuk titik titik yang tidak termasuk kedalam anomali memiliki variasi nilai yang
cenderung tidak fluktuatif karena litologi pada kedalaman yang dangkal tersebut,

20
tidak terlalu bervariatif dan kandungan mineral logamnyapun sudah berkurang
karena adanya pelapukan.

21
5.3. Pembahasan Peta
5.3.1. Peta MA Konduktivitas Low Penetration

Gambar 5.5. Peta MA Konduktivitas Low Penetration

Gambae di atas adalah gambar untuk persebaran nilai konduktivitas yang


duah mengalami perhiutungan moving average pada masing masing lintasan daerah
penelitian.Titik pengukuran masing masing lintasan ditunjukkan dengan lambing
plus (+) dan terkhusus untuk lintasan 2, dilambangkan dengan garis berwarna
kuning. Masing masing lintasan berorientasi pengukuran dari barat laut tenggara.
Nilai konduktivitas pada peta ini untuk nilai yang tinggi, direpresentasikan
dengan warna orange sampai merah tua, nilail konduktivitas yang sedang
direpresentasikan dengan warna hijau sampai kuning dan nilai konduktivitas yang
rendah direpresentasikan dengan warna ungu hingga biru tua.
Daerah tim ur dan barat peta, didominasi oleh nilai konduktivitas yang
rendah, namun dipotong dengan nilai konduktivitas yang tinggi pada daerah tengah
yang membentuk panjang linear dengan arah orientasi barat laut selatan. Untuk
bagian utara peta, nilai konduktivitas yang mendominasi adalah nilai konduktivitas
yang sedang, yang ditandai dengan warna hijau hingga kuning.

22
Bagian yang memanjang berwarna merah dengan nilai konduktivitas tinggi
ini diinterpretasikan sebagai pipa dengan bahan material logam, yang tertanam di
daerah warga, sementara untuk bagian yang memiliki nilai konduktivitas
yangrendah adalah bagian soil yang tidak mengandung mineral logam yang
konduktif.
Untuk lintasan pengukuran kelompok 2. Lintasan tersebut melewati daerah
dengan nilai konduktivitas yang tinggi tersebut pada titik 13 smpai 17 dan
selebihnya dalah daerah yang bernilai konduktivitas rendah. Satuan yang digunakan
adalah (millisecond).

23
5.3.2. Peta MA Konduktivitas High Penetration

Gambar 5.6. Peta MA Konduktivitas High Penetration

Gambar di atas adalah gambar persebaran nilai konduktivitas yang sudah


mengalami perhitungan moving average sebagai kontrol data secara tidak langsung
dari noise noise permukaan. Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran high
penetration dengan menggunakan low frequency. Jadi, kedalaman yang didapatkan
sedikit lebih dalam daripada pengukuran sebelumnya.
Pada peta ini juga sama, nilai konduktivitas tinggi, direpresentasikan dengna
warna orange sampai merah, nilai konduktivitas yang sedang direpresentasikan
dengan warna hijau hingga kuning dan nilai konduktivitas yang rendah
direpresentasikan dengan warna ungu hingga biru tua.Titik pengukuran untuk
masing masing lintasan ditandai dengan symbol plus sedangkan khusus untuk
kelompok 2, ditandai dengan garis berwarna kuning.
Pada peta persebaran nilai MA Konduktivitas high npenetration ini, tidak
banyak mengalami letak persebaran nilai konduktivitas. Anomali berupa nilai
konduktivitas yang membentuk panjang linear tetap pada posisinya yaitu dari barat
laut ke selatan dengan memperjelas letak anomali sedang berwarna hijau pada

24
daerah utara peta yang dianggap sebagai rembesan air yang ikut terbawa oleh
pernjalaran pipa logam tersehut. Satuan yang digunakan adalah ms (millisecond).

25
5.3.3. Peta MA Inphase Low Penetration

Gambar 5. 7. Peta MA Inphase High Penetration

Gambar di atas adalah gambar persebaran nilai nphase yang mewakili sifat
kemagnetan suatu medium pada daerah tertentu. Nilai inphase yang ditunjukkan
pada peta ini adalah nilai yang sudah mengalami perhitungan moving average yang
mana perhitungan ini akan emminimalisir nilai noise yang ada pada permukaan
yang merusak interpretasi.
Nilai inphase yang rendah pada peta ini ditunjukkan dengan warna ungu
hingga biru tua, nilai inphase yang sedang ditunjukkan dengan warna hijau hingga
kuning dan nilai inphase yang tinggi ditunjukkan dengan warna orange hingga
merah.
Nilai konduktivitas yang naik, akan diikuti oleh nilai inphase yang tinggi
pula, karena kedua sifat fisik batuan ini berbanding lurus pada suatu medium. Pada
peta ini, nilai yang tinggi letak dan geometrinya sama dengan letak anomali nilai
konduktivitas. Nilai inphase yang tinggi, diperlihatkan dengan bentuk yang linear
dengan arah orientasi dari barat laut hingga selatan. Sementara untuk nilai yang
rendah, berada pada daerah barat dan timur peta dengan persebaran yang terbilang
sangat luas.

26
Nilai inphase yang tinggi yang membentuk linear panjang, mewakili
anomali yang disebabkan oleh sifat kemagnetan sudatu medium yang tinggi, dalam
hal ini diinterpretasikan sebagai pipa logam yang tertimbun, sedangkan untuk nilai
inphase yang rendah, mewakili litologi soil basha dan kering yang ada dipermukaan
dan penetrasinyapun tidak begitu dalam. Satuan yang digunakan adalah ppt (parts
per thousands)

27
5.3.4. Peta MA Inphase High Penetration

Gambar 5.8. Peta MA Inphase High Penetration

Gambar 5.8 adalah gambar peta persebaran nilai inphase dengan perhitungan
moving average dengan pengukuran menggunakan frekuensi yang rendah untuk
mendapatkan kedalaman yang lebih dalam daripada kedalaman pengukuran sebelumnya.
Nilai inphase pada peta ini mewakili nilai kemagnetan suatu medium bawha permukaan
yang mirip dengan pengukuran pada metode magnetik.
Pada peta ini, ditunjukkan nilai inphase medium mulai dari nilai inphase yang
rendah dengna representasi warna ungu sampai bitu tua, nilai inphase yang sedang dengan
representasi warna hijau hingga kuning dan nilai inphase yang tinggi dengan representasi
warna orange hingga merah.
Pada peta nilai inphase ini, masih menunjukkan bentuk geometri yang sama
dengan bentuk yang didapatkan pada peta sebelumnya yang menggunakan penetrasi yang
dangkal dan frekuensi yang tinggi. Bentuk geometri linear ayng memanjang dari barat laut
hingga ke selatan. Sifat kemagnetan yang diukur ini, menunjukkan bahwa kandungan
logam yang ada pada anomali tinggi ini adalah bahan logam yang padat. Sementara di
daerah sekitarnya, memiliki nilai inphase yang rendah yang menunjukkna daerah tersebut
tidak memiliki kandungan mineral logam yang signifikan atau bisa dibilang hanyalah
litologi soil kering dan basah.

28
Lintasan 2 yang digunakan seabgai bahan pembahasan dan penelitian kelompok 8,
memotong bentuk geometri dari medium logam tersebut. Nilai inphase yang diukur,
memiliki satuan ppt (part per thousands)

29
5.4. Permodelan 3D
5.4.1. Permodelan 3D Konduktivitas

Gambar 5.9. Pemodelan 3-D Konduktivitas.


Gambar di atas adalah gambar pemodelan 3 dimensi yang dilakukan dengan
menggunakan bantuan software Voxler dengan memasukkan parameter koordinat
masing masing titik pengukuran dan nilai kedalaman kavling yang didapatkan dari
high penetration.
Pemodelan ini dilakukan untuk semakin menunjukkan bentuk geometri dari
target anomali yaitu pipa logam yang terpendam dengan menggunakan parameter
nilai konduktivitas medium.
Bentuk geometri dari anomali linear panjang pada peta 2 dimensi dengan
model 3 dimensi, tidak memiliki banyak perubahan posisi dan bentuk. Pada
pemodelan ini, arah orientasi anomali teteap berarah dari barat laut hingga ke
selatan model. Diperkirakan, letak kedalaman anomali ini terdapat pada kedalaman
2 hingga 6 meter di bawah permukaan. Nilai anomali sedang yang berwarna hijau
pada permukaan, diinterpretasikan sebagai soil basah hasil rembesan dari pipa
logam tersebut. Anomali linear tersebut, diinterpretasikan sebagai medium pipa
logam. Nilai konduktivitas yang tinggi direpresentasikan dengan warna orange
hingga merah, nilai konduktivitas yang sedang direpresentasikan dengan warna

30
hijau hingga kuning dan nilai yang rendah direpresentasikan dengan warna ungu
hingga biru tua dengan satuan ayng digunakan untuk model 3 dimensi ini adalah
siemens/m.

31
5.4.3. Permodelan 3D Inphase

Gambar 5.10. Pemodelan 3-D Inphase.


Gambar 5.10 adalah gambar pemodelan 3 dimensi dengan menggunakan
parameter inphase atau sifat kemagnetan medium sebagai tolak ukurnya.
Pemodelan 3 dimensi ini, menggunakan bantuan software Voxler sebagai
pembentuk bantuan modelnya. Parameter yang digunakan untuk pembentukan
model ini adalah koordinat masing masing titik pengukuran dan menggunakan
informasi kedalaman hasil penetrasi metode CMD. Parameter yang dimasukkan
pada model ini adalah nilai inphase yang mewakili sifat kemagnetan medium
bawah permukaan
Secara geometri, bentuk dari anomali dari perbandingan parameter
konduktivitas dan inphase tidak jauh beda. Arah orientasi dari anomali ini tetap
pada arah barat laut hingga selatan. Untuk daerah yang memiliki nilai inphase yang
rendah, adalah litologi soil yang basah dan kering. Nilai inphase yang tinggi
direpresentasikan dengan warna orange hingga merah, nilai inphase yang sedang
diinterpretasikan dengan warna hijau hingga kuning dan nilai inphase yang rendah
diinterpretasikan dengan warna ungu hingga biru tua. Satuan yang digunakan
adalah siemens/m.

32
BAB VI
PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Pembahasan yang sudah dilakukan pada bab sebelumnya, memiliki beberapa
point penting yang menjadi garis besar yang menjadi kesimpulan. Berikut adalah
beberapa kesimpulan yang didapatkan:
1. Anomali pada pembahasan grafik antara nilai konduktivitas dan inphase
menunjukkan letak anomali bawah permukaan pada titik pengukuran
lintasan 2 pada titik 14, 15, 16, 17 dan 18.
2. Perbedaan antara peta nilai konduktivitas dan inphase, terletak pada
persebaran nilai anomaly yang sedang, pada peta konduktivitas nilai sedang
adalah litologi soil soil yang basah sedangkan pada peta inphase tidak
menunjukkan anomaly sedang, hanya pada kontak antara pipa logam dan
soil.
3. Anomali yang bernilai tinggi pada masing masing masing peta (peta
konduktivitas, inphase, MA konduktivitas dan inphase) dan model
(konduktivitas dan inphase) menunjukkan anomali bernilai tinggi yang
diinterpetasikan sebagai pipa logam.
4. Nilai konduktivitas dan inphase memiliki perbandingan yang lurus untuk
medium bawah permukaan.
5. Model 3 dimensi dibuat, untuk menunjukkan geometri serta kedalaman dari
taret anomali yaitu pipa logam tersebut.

6.2. Saran
Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode elektromagnetik
CMD ini, memiliki beberapa kelebihanyang dapat dipakai untuk penelitian
selanjutnya. Namun pula tak terlepas dari kekurangan yang harus diperbaiki agar
kedepannya menjadi lebih baik lagi. Berikut adalah beberapa saran yang dapat
digunakan untuk penelitian selanjutnya:

33
1. Penggunaan alat untuk akuisisi, harus sesuai dengan SOP yang berlaku
dan mempersiapkan segalakeperluan yang dibutuhkan termasuk
baterai.
2. Cek kelayakan alat sebelum akuisisi.
3. Menggunakan informasi geologi lokal dan regional sebagai bahan
bantuan untuk interpretasi.
4. Jangan lupa berdoa dan makan sebelum akuisisi dilakukan.

34