Anda di halaman 1dari 22

Pengolahan Data Conductivity Meter (CM) Pada Intrusi

Diabas Daerah Karangsambung, Jawa Tengah

1. Tinjauan Pustaka
 Pengertian Elektromagnetik
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode
pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang
dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan
gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Sedangkan
sumber-sumber yang digunakan dalam pengukuran tersebut diantaranya ada- lah
gelombang elektromagnetik, getaran, sifat kelistrikan, sifat kemagnetan, dan lain-
lain. Metode EM adalah salah satu metode geofisika untuk mengetahui anomali di
bawah permukaan yang memanfaatkan sifat medan magnet dan medan listrik
(Buttler, 2010).
Survei elektromagnetik (EM) pada dasarnya diterapkan untuk mengetahui
respons bawah permukaan menggunakan perambatan gelombang elektromagnetik
yang terbentuk akibat adanya arus bolak-balik dan medan magnetik. Medan
elektromagnetik primer dihasilkan oleh arus bolak-balik yang melewati sebuah
kumparan yang terdiri dari lilitan kawat. Respons bawah permukaan berupa
medan elektromagnetik sekunder dan resultan medan terdeteksi sebagai arus
bolak-balik yang menginduksi arus listrik pada koil penerima (receiver) sebagai
akibat adanya induksi elektromagnetik.
Jenis-jenis Metode Elektromagnetik
Metode elektromagnetik yang digunakan umumnya terbagi menjadi 2, yaitu
metode pasif dan metode aktif. Metode elektromagnetik pasif menggunakan
sumber gelombang elektromagnetik yang berasal dari alam, contoh dari metode
elektromagnetik ini antara lain Metode ektromagnetik VLF (Very Low Frequency)
dan Metode Elektromagnetik Magnetotelurik. Sedangkan metode elektromagnetik
aktif, menggunakan sumber gelombang elektromagnetik buatan yang di
pancarkan oleh transmitter, salah satu contohnya adalah metode
Conductifitymeter (CM).
 CM (Conductivity Measurement Depth)

CM adalah salah satu instrument dari metode elektromagnetik yang


mengukur sifat konduktivitas material bawah permukaan bumi yang
meliputi batuan, soil, air tanah dan material lainnya yang terkubur di bawah
permukaan bumi. Metode ini bersifat pasif, yaitu energi yang digunakan telah ada
secara alamiah di alam. CM dari GF instrument merupakan salah perangkat dari
metode Elektromagnetik yang memiliki prinsip kerja membangkitkan gelombang
elektromagnetik sebagai konduktiviti meter dengan menggunakan frekuensi tetap
dan jarak koil yang terpisah sejauh 3,66 meter. Perangkat ini dioperasikan dengan
tenaga 8 sel alkalin C yang mampu bertahan 15 hingga 30 jam. Pada kedua ujung
terpisah sejauh 3,66 meter terdapat transmitter dan sebuah receiver (Frohlich,
1986).

 Hubungan Metode CM Terhadap Tanah

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan melakukan akuisisi data


menggunakan satu GF instrument (Conductivity Meter) guna memperoleh nilai
konduktivitas bawah permukaan berkisar 2-5 meter. Konduktivitas tanah jenuh
selalu lebih tinggi dari konduktivitas dari tanah tak jenuh. Hal ini disebabkan oleh
dua faktor utama, yaitu pada tanah jenuh pengaruh-pengaruh gaya gravitasi jauh
lebih dominan dibandingkan pada tanah tak jenuh dan ukuran pori-pori pada
tanah jenuh lebih besar dari pori-pori tanah tak jenuh.

2. Metode Penelitian

Survei metode elektromagnetik (EM) diterapkan untuk mengetahui respon


bawah permukaan menggunakan perambatan gelombang elektromagnetik. Medan
magnet primer dihasilkan oleh arus bolak-balik yang melewati sebuah kumparan
yang berbentuk lilitan kawat (koil Transmitter, Tx). Medan ini akan menginduksi
lapisan konduktif yang berada di bawah permukaan tanah. Interaksi antara medan
magnet primer dan lapisan koduktif akan membangkitkan arus Eddy di dalam
lapisan ini. Kemunculan arus Eddy akan membangkitkan medan magnet skunder
dari lapisan konduktfif ke segala arah. Pada koil receiver (Rx) kedua jenis medan
ini akan terdeteksi. Resultan medan terdeteksi sebagai arus bolak-balik yang
menginduksi arus listrik pada koil receiver

Gambar 1. Mekanisme Induksi Elektromagnetik

Gambar 2 : Induksi medan elektromagnetik Sumber: Kearey (2002)


Survey EM-Conductivity biasanya digunakan untuk menemukan dan
memetakan objek yang berada di lapisan dangkal seperti patahan, landfill, plums
dan lain-lain. Metode ini juga dapat dimanfaatkan untuk menemukan objek bawah
tanah seperti tangki, pipa, intrusi air laut dan studi konduktivitas tanah.

Metode akuisisi EM-Conductivity terbagi menjadi 2 metode akusisi, yang


pertama adalah metode akuisisi data vertical loop coplanar (VCP) dan metode
horizontal loop coplanar (HCP). Tiap metode memiliki kemampuan penetrasi
yang berbeda. Hal ini disebabkan : jarak antara antenna transmitter dan antenna
receiver telah disetting konstan.

Pada metode VCP koil dihadapkan tegak lurus dengan arah permukaan tanah
sehingga kedalaman maksimum yang dapat diterobos oleh gelombang EM hanya
berjarak 3m dari permukaan tanah. Pada metode horizontal loop coplanar (HCP)
koil diposisikan sejajar dengan permukaan tanah sehingga medan EM yang
terbentuk bergarak tegak lurus terhadap muka tanah. Pada metode ini kedalaman
maksimum yang dapat dijangkau oleh medan EM adalah 6m dari permukaan
tanah. Karena spasi data yang digunakan dalam survey ini sangat rapat (3m),
maka data konduktivitas yang diperoleh dari lapangan (konduktifitas semu)
langsung diinterpretasi tanpa dilakukan inversi.
Metodologi

Pengukuran conductifitymeter (CM) dilakukan menggunakan alat CM


310.Proses kerja dari instrumen CDM (Electromagnetic Conductivity Meter) ini
yaitu dengan mengirim sinyal berupa gelombang elektromagnetik baik yang
dibuat sendiri maupun yang berasal dari alam melalui suatu transmitter (Tx),
material bawah permukaan bumi merespon gelombang elektromagnetik tadi dan
menginduksi arus eddy. Gelombang S (sekunder) yaitu induksi medan magnet
terhadap arus eddy. Kemudian, di permukaan, gelombang S yang datang ini di
terima oleh reciever (Rx) secara langsung dari pemancar. Arus Eddy berbanding
lurus dengan konduktivitas batuan. Sehingga dalam pengukuran arus eddy, secara
tidak langsung mendapatkan nilai konduktivitas batuan. Instrumen CDM
(Electromagnetic Conductivity Meter) mengukur sifat kondiktivitas material
bawah permukaan bumi yang meliputi soil, air tanah, batuan, dan material lainnya
yang terkubur bawah permukaan bumi, Pada tujuan pengukuran kali adalah untuk
mengetahui batas antara intrusi batuan diabas dan batuan pasir, dimana batas
batuan tersebut dapat terlihat dari perbedaan nilai konduktifitas yang diperoleh.

Wilayah Pengukuran

Gambar : wilayah pengukuran pada google earth


3. Pengukuran Conductifity Meter

Tahapan pengukuran adalah sebagai berikut :

a. Medan EM primer dihasilkan dengan melewatkan arus AC melalui kumparan


kawat (transmitter).

b. Medan EM yang dihasilkan akan merambat di atas dan di bawah permukaan.

c. Jika ada material konduktif di bawah permukaan, komponen magnetik dari


gelombang EM menginduksi arus eddy (AC) di dalam konduktor.

d. Arus eddy menghasilkan medan EM sekunder yang terdeteksi oleh penerima.

e. Penerima juga mendeteksi medan primer (medan yang terdeteksi adalah


kombinasi dari medan primer dan sekunder yang memiliki fase dan amplitudo
berbeda).

f. Setelah kompensasi pada bidang utama (yang dapat dihitung dari posisi relatif
dan

orientasi dari kumparan), baik besaran dan fase relatif bidang sekunder dapat
diukur.

g. Resultan dari medan primer dan sekunder memberikan informasi tentang


geometri, ukuran dan sifat listrik dari konduktor bawah permukaan.
4. Diagram Alir Penelitian

Mulai

Data Lapangan

Pengolahan Data Excel (Conductifity


dan In Phase)

Grafik Conductivity vs
Inphase

Peta Conductivity Surfer Peta In Phase

Analisa

Kesimpulan

Selesai

Gambar : Diagram alir penelitian


Pengambilan Data

Alat-Alat Yang Digunakan

1. Transmiter (pemancar)
2. Reciver (penerima)
3. Display
4. Kabel data
5. Bolt holder
6. Pengait
7. Meteran
8. GPS

Langkah Kerja Pengambilan Data

Informasi Geologi Studi Literatur


Mulai

Menentukan Lintasan

Mempersiapkan Alat
yang akan digunakan

Akusisi Data

Conductivity, In-Phase

Selesai

Gambar : Diagram Alir Pengambilan Data


Tabel Data

Data Conductivity Meter

1. Data Kelompok 2

Lintasan 1
no koordinat Elevasi IF SZ rata-rata
long (X) latt (Y) IF SZ
1 353304 9166367 125 3665 67,2 30,99 69,76667
3045 70
2587 72,1
2 353303 9166370 123 3509 68,5 30,21333 70,53333
3045 70,3
2510 72,8
3 353303 9166373 123 2661 71,5 21,37667 71,63333
2064 75,7
1688 67,7
4 353303 9166376 123 3509 68,4 30,20667 70,8
3044 70,5
2509 73,5
5 353303 9166379 123 3665 67,5 31,73667 69
3197 67,8
2659 71,7
6 353303 9166382 124 3582 66,6 29,84 68,4
2878 68,6
2492 70
7 353303 9166385 130 3594 71,2 31,37 73,93333
3134 74,2
2683 76,4
8 353303 9166388 129 3517 72,1 31,12 74,5
3135 73,9
2684 77,5
9 353303 9166391 126 3522 75,3 30,01667 79,9
2996 79,2
2487 85,2
10 353303 9166394 125 3524 76 30,03667 80,53333
2998 79,9
2489 85,7
11 353303 9166397 124 3679 77,3 31,16333 82,8
3085 82,9
2585 88,2
12 353303 9166400 124 3550 79,8 31,85333 83,26667
3182 82,7
2824 87,3
13 353303 9166403 123 3611 80,6 32,25 85,6
3245 85,4
2819 90,8
14 353303 9166406 123 3688 82,3 32,58 87,83333
3253 87,5
2833 93,7
15 353303 9166409 123 3757 78 32,68667 83,73333
3240 84,2
2809 89
16 353303 9166412 116 3641 95,2 30,04 101,1667
2977 106
2394 102,3
17 353303 9166415 115 3257 105,3 25,36667 116,9667
2117 115,6
2236 130
18 353303 9166418 115 3850 89,1 34,02667 98,73333
3373 100
2985 107,1
19 353303 9166421 113 3713 95 32,73667 102,2333
3243 101,7
2865 110
20 353303 9166424 112 3508 98 29,45667 105,1333
3048 104,2
2281 113,2
21 3910 79 34,31333 95
353303 9166427 111 3426 95,5
2958 110,5
22 353303 9166430 111 3493 92,6 28,03667 106,1333
2632 109,1
2286 116,7
23 353303 9166433 107 3545 86,4 27,22667 99,66667
2771 95,4
1852 117,2
24 353303 9166436 105 2279 107,4 16,62 111,8333
1094 118,4
1613 109,7
25 353303 9166439 103 3840 82,2 33,01333 90,93333
3270 91,8
2794 98,8
26 353303 9166442 96 3702 88,1 31,13667 97,86667
3012 99,7
2627 105,8
27 353303 9166445 94 3843 84,4 29,77667 100,6667
2814 101,9
2276 115,7
28 353303 9166448 93 3862 84,5 33,51 99,23333
3381 101,4
2810 111,8
29 353303 9166451 91 3860 88 33,47 103,9
3380 107,4
2801 116,3
30 353303 9166454 90 3790 97,5 32,27 109,5333
3238 112,4
2653 118,7
31 353303 9166457 90 3710 93,8 32,25333 68,8
3232 101,4
2734 11,2

Lintasan 2
no koordinat Elevasi IF SZ rata-rata
long (X) latt (Y) IF SZ
1 353259 9166444 102 1369 64,4 13,65 63
1364 62,5
1362 62,1
2 353259 9166447 102 2714 98,4 20,84333 108,9
1940 112,3
1599 116
3 353259 9166450 103 3339 90,3 28,90333 97,86667
2858 98
2474 105,3
4 353259 9166453 103 3842 77,1 32,66667 92,9
3345 91,7
2613 109,9
5 353259 9166456 104 3771 86,4 36,76667 84,9
3347 92,9
3912 75,4
6 353259 9166459 105 3269 90,7 33,23333 90,33333
2858 97
3843 83,3
7 353259 9166462 105 3418 92,2 26,29 93,86667
3007 97,2
1462 92,2
8 353259 9166465 106 1459 90,6 22,53333 88,26667
1459 91,3
9 353259 9166468 106 3842 82,9
3415 91,9 31,755 95,56667
2936 97,4
97,4
10 353259 9166471 107 3042 76,9 25,63333 100,3333
2740 101,9
1908 122,2
11 353259 9166474 107 3917 79,8 34,57 92,06667
3428 94,8
3026 101,6
12 353259 9166477 108 3915 95,3 34,48333 94,83333
3488 90,1
2942 99,1
13 353259 9166480 108 3838 74,2 33,36667 85,83333
3330 88,9
2842 94,4
14 353259 9166483 109 3839 75 34,10333 86,2
3407 89,4
2985 94,2
15 353259 9166486 109 3912 62,3 33,67 83,4
3336 91,1
2853 96,8
16 353259 9166489 110 3765 80,4 29,98667 93,9
2778 97,1
2453 104,2
17 353259 9166492 110 3832 76 32,66333 82,6
3236 83,6
2731 88,2
18 353259 9166495 110 3905 67,7 33,59333 79,33333
3603 81,9
2570 88,4
19 353259 9166498 111 3980 56,3 36,52333 71,06667
3601 77,1
3376 79,8
20 353259 9166501 112 3981 57 34,60667 64,26667
3384 50,8
3017 85
21 353259 9166504 112 1331 26,2 18,67 55,3
1312 29,2
2958 110,5
22 353259 9166507 112 1297 26,4 23,83333 56,03333
3275 69,3
2578 72,4
23 353259 9166510 112 2578 72,4 23,89 73,45
2200 74,5

5. Grafik Hasil Pengukuran

Lintasan 1

Grafik IF dan SZ terhadap jarak


140
120
100
80
IF
60
SZ
40
20
0
0 5 10 15 20 25 30 35

Gambar 2 : Grafik Konduktivitas dan Imphase terhadap Jarak Pengukuran


pada Lintasan 1
Lintasan2

Grafik IF dan SZ terhadap jarak


120
100
80
60 IF
40 SZ
20
0
0 5 10 15 20 25

Gambar 2 : Grafik Konduktivitas dan Imphase terhadap Jarak Pengukuran


pada Lintasan 2

6. Kontur Lintasan Pengukuran

Gambar 3 : Sebaran nilai conductifity dan lintasan pengukuran pada


daerah Karangsambung, Jawa Tengah
Gambar 4 : Sebaran nilai imphase dan lintasan pengukuran pada daerah
Karangsambung, Jawa Tengah

Gambar 5 : Perbandingan nilai sebaran Conductifity, Imphase serta lintasan


pengukuran pada daerah Karangsambung, Jawa Tengah
Analisa :

Pada pengukuran nilai conductifity dan nilai Inphase yang dilakukan pada
daerah intrusi batuan diabas dan dilakukan pengukuran sebanyak 2 lintasan pada
masing masing kelompok dengan total sebanyak 10 lintasan yang di harapkan
dapat mengcover wilayah intrusi diabas, sehingga dapat diperoleh output batas
antara intrusi batuan diabas dan batuan pasir yang ada disekitarnya.

Kelompok 2 melakukan pengukuran Conductifity di lintasan yang berbeda


dari lintasan yang telah di tentukan, pada awalnya plot lintasan pengukuran
kelompok 2 berada di +-20 meter lebih naik dari lintasan yang diukur, namun
dikarenakan ada faktor lapangan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan
pengukuran conductifity,maka lintasan pengukuran digeser ke bawah yang berada
dekat dengan lintasan kelompok 4 (pada peta kontur di lambangkan dengan huruf
D).

Kondisi pengukuran di lapangan cukup terjal. Pada sekitar pengukuran


titik ke-9 dan seterusnya lintasan melewati persawahan dengan bentuk tanah
terasering (tanah terasering merupakan konservasi tanah dan air yang secara
mekanis dibuat untuk memperkecil kemiringan lereng) dengan ketinggian antar
tingkat terasering +- 1 meter. Hal tersebut menyebabkan proses pengukuran
dilakukan dengan lebih hati-hati mengingat alat conductifity meter memiliki
panjang koil dari receiver ke transmiter sebesar 3,66 m.

Pada peta kontur hasil pengkuran terlihat bahwa intrusi diabas terletak
pada wilayah dengan kontur yang cukup rapat, dengan kata lain wilayah tersebut
cukup terjal. Kontur yang cukup rapat tersebut di sebabkan oleh perubahan nilai
conductivitas yang cukup significan dengan wilayah sekitarnya dimana nilai
conductivitas batuan beku bernilai kecil hal tersebut menyebabkan pada peta
kontur digambarkan dengan kontur yang rapat.
Hasil kontur conductifity dan inphase sama-sama menunjukan lokasi
intrusi diabas yang terlihat berwarna ungu dengan rentang nilai skala conductifity
dan inphase yang kecil,batuan diabas merupakan batuan beku. Jika dibandingkan
dengan batuan lainya seperti batuan sedimen atau metamorf, batuan beku
memiliki nilai resistivitas (resisitivitas pada batuan merupakan kemampuan suatu
batuan untuk menghantarkan arus listrik) yang cukup tinggi,hal ini dapat terlihat
pada tabel resistivitas (Tabel 1)

Tabel 1. Resistivitas Batuan Beku dan Metamorf (Telford, dkk., 1976).

Nilai Konductifitas dan resistivitas berbanding terbalik


Daftar Pustaka CM

6 J.M. Reynolds, An Introduction to Applied and Environmental Geophysics,


John Wiley & Sons Ltd,

England (1997)

P. Kearey, M. Brooks, dan I. Hill, An Introduction to Geophysical Exploration,


Edisi ke-3. Blackweell Science Ltd., Malden (2002)

W.N. Telford, L.P. Geldard, R.E. Sherrif, dan D.A. Keys. Applied Geophysics,
Cambridge University Press, Cambridge (1976)
Belum edit

Elektromagnetik Conductivity Meter Metode EM (Elektromagnet) merupakan salah satu


metode geofisika yang bersifat pasif, dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih
dahulu atau alami. Salah satu instrumen elektromagnetik adalah CMD (Electromagnetic
Conductivity MeterGeo Model Inc. sudah memprakarsai sejumlah survei konduktivitas
secara luas menggunakan instrumen elektromagnetik (CDM) untuk bermacam-macam
keuntungan, antara lain: · Cepat dan akurat. · Bersifat portable (alatnya sangat mudah
dibawa di sekitar lokasi dan digunakan untuk berbagai macam tujuan penelitian) · Cost
effective (Biayasurveiterjangkau). Instrument CMD ini sering digunakan untuk mencari
material metal (drum dan tangki penyimpan fluida) yang terkubur, bidang arkeologi
(pencarian situs - situs purbakala). Mengamati perkembangan lingkungan (mendeteksi
limbah cair / pencemaran). Digunakan dalam bidang pertambangan (eksplorasi mineral-
mineral logam) Penjalaran gelombang elektromagnetik bias terjadi melalui dua cara
yakni horizontal dipole dan vertical dipole. Pada penelitian metode EM - Conductivity
menggunakan CMD (Elektromagnetic Conductivity Meter) ini menjalarkan gelombang
secara vertical dipole, berikut ilustrasi penjalaran gelombangnya. Gambar II. 3
Penjalaran Gelombang Elektromagnetik (Vertikal dipole) Sedangkan persamaan untuk
harga konduktivitas dapat diperoleh dari: BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN III.1. Diagram
Alir Pengolahan data CMD Gambar .4. Diagram alir pengolahan data CMD III.2. Tabel
Pengolahan Data Tabel.2. Pengolahan data CMD III.3. Pembahasan dan Analisa Gambar
III.1 Grafik conductivity VS MA conductivity Grafik diatas merupakan hasil pengolahan
data yang diperoleh dari hasil pengukururan menggunakan metode CMD yang
menunjukan nilai konduktivitas yang diperoleh dilapangan (konduktivitas) dan yang
telah dikalkulasi (Ma konduktivitas). Terlihat perbedaan yang relative sama antara kurva
conductivity dan kurva Ma conductivity,akan tetapi setelah dilihat grafik ma
konduktivitas itu merpakan hasil dari smooting dari konduktivitas. nilai maksimum
konduktivitas =80,95% yang berada pada jarak 710 m, sedangkan nilai minimum=13%
pada jarak 250 m, dan nilai maksimum Ma konduktivitas = 77,575% pada lintasan 710 m,
sedangkan nilai minimum= 12,95% pada jarak 250 m. III.3.2 grafik inphase VS ma
inphase Gambar III.2 Grafik inphase VS MA inphase Grafik diatas merupakan hasil
pengolahan data in phase yang ditunjukan dengan warna biru dan Ma in phase yang
ditunjukan dengan warna merah, diperoleh dari pengukuran CMD, terlihat fluktuasi
antara in phase maupun ma in phase, ini dikarenakan ma inphase merupaka hasil dari
smooting inphase. Pada titik pengukuran ini diperoleh nilai maksimum in phase = 4,28 %
pada jarak 580 m, sedangkan nilai minimum= - 9.03% pada jarak 250 m, dan nilai
maksimum ma in phase = 4.28 % pada jarak 580 m ,sedangkan nilai minimum=-6,8%
pada jarak 250m. III.3.3 Grafik ma inphase VS ma konduktivitas Gambar III.3 Grafik MA
inphase VS MA Conductivity Grafik diatas merupakan hasil pengolahan data ma inphase
dan ma konduktivitas yang diperoleh dari diperoleh dari pengukuran CMD dan telah
dihitung sehingga didapat seperti grafik diatas, terlihat fluktuasi antara ma in phase dan
ma konduktivitas pada grafik ini terlihat seperti didalam lingkaran tersebut bahwa
disana diduga adanya anomali, karena konduktivitas itu berbanding terbalik dengan ma
inphase namun pada lingkaran tersebut ma inphase dan ma conductivity berbanding
lurus. Pada jarak 150 – 200 m dan pada jarak 680 – 800 m diduga terdapat indikasi
anomali dikarena kan grafik ma inphase berbanding lurus dengan grafik ma conductivity.
III.3.4 Peta MA Inphase Gambar III.1 Peta MA Inphase Pada peta in phase didapatkan
variasi nilai in phase pada darah penelitian, dimana nilai in phase minimal ditunjukan
dengan warna ungu dengan nilai -80, sedangkan nilai in phase maksimal ditunjukan
dengan warna merah dengan nilai 28. Pada peta in phase dapat dilihat didominasi oleh
warna merah yang memiliki nilai 12 – 20. Pada peta ini didominasi dengan nilai inphase
yang sedangyang di tunjukkan dengan warna kuning. Kemudian pada koordinat x :
463400 – 463600 dan Y : 9140600 memiliki nilai in phase yang rendah yang ditunjukkan
dengan warna ungu. Kemudian yang pada lintasan yang ditandai tersebut bisa
dikorelasikan terhadap fluktuasi nilainya pada grafik. III.3.5 Peta MA Conductivity
Gambar III.2 Peta MA Conductivity Pada peta Conductivity didapatkan variasi nilai
conductivity pada darah penelitian dengan range 0 – 220 ppt, dimana nilai conductivity
minimal ditunjukan dengan warna ungu dengan nilai 0, sedangkan nilai conductivity
maksimal ditunjukan dengan warna merah dengan nilai 220. Pada peta conductivity
dapat dilihat didominasi oleh warna biru yang memiliki nilai 0 hingga 50.