LAPORAN DipoleFEBBIL
LAPORAN DipoleFEBBIL
Oleh :
FEBBIL ZIAN FAHMI
115.180.013
KELOMPOK 06
i
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM GEOLISTRIK
Asisten Geolistrik
( )
ii
KATA PENGANTAR
Pertama dan yang paling utama penulis mengucapkan puji syukur kehadirat
Allah SWT karena rahmat, karunia, dan hidayah-Nya menyusun laporan
Praktikum Geolistrik mengenai Metode Geolistrik konfigurasi dipole-dipole”.
Dalam menyelesaikan laporan ini, penyusun tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak, untuk itu tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Allah Allah SWT, dengan segala nikmat dan karunianya saya diberi
kesehatan yang luar biasa sampai saat ini.
2. Kedua orang tua yang selalu mengirimkan do’a dan selalu mendukung
kegiatan perkuliahan saya
3. Segenap dosen pengajat Teknik Geofisika UPN “Veteran” Yogayakarta dan
staf yang setiap hari selalu memberikan ilmu yang sangat berharga
Laporan ini disusun sebagai tugas untuk mengimplementasikan pemahaman
penulis mengenai Metode Geolistrik konfigurasi dipole-dipole. Penulis
mengucapkan sebesar besarnya terimaksih kepada semua pihak yang terlibat
dalam proses penyusunan laporan. Harapan penulis semoga laporan ini memiliki
impact yang positif bagi pembacanya.
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
DAFTAR TABEL.................................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................vii
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG.....................................................viii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan............................................................................................1
iv
4.2 Pengolahan Data................................................................................................9
4.2.1 Diagram Alir Pengolahan Data...................................................................
4.2.2 Penjelasan Diagram Alir Pengolahan Data.................................................
4.3. Interpretasi Data..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
v
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR LAMPIRAN
vii
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
Singkatan Nama
mV : millivolt
mA : miliAmpere
Lambang
Ω : Ohm
Ρ : resistivitas (Ω.m)
K : factor geometric konfigurasi
Π : phi (konstanta 22/7 atau 3.14)
V : data potensial (mV)
I : arus listrik (mA)
R : hambatan (Ω)
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1
mengisi dan kandungan garam. Metode resistivitas mapping dengan konfigurasi
dipole dipole adalah metode yang cocok digunakan untuk penelitian gua bawah
tanah pada daerah karst. Gua bawah tanah memiliki nilai resistivitas yang cukup
rerndah karena pada daerah gua tersebut terkandung air didalamnya. Sehingga
eksplorasi gua bawah tanah sangat gencar dilakukan pada derah karst untuk
mengidentifikasikan adanya sungai bawah tanah yang dapat dijadikan sebagai
pembangkit listrik pada suatu daerah
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
2. Formasi Kebo Butak
Formasi Kebo Butak memiliki satuan batuan yang terdiri dari batupasir
berlapis baik, batulanau, batubreksi, serpih, tuf, aglomerat pada bagian
bawah dengan ketebalan 650 meter. Pada bagian atas terdiri dari perselingan
batupasir dan batubreksi dengan sisipan tipis tuf.
3. Formasi Semilir
Formasi Semilir memiliki satuan batuan yang terdiri dari tuf, tuf lapilli,
lapilli batubreksi, breksi, batuapung, dan serpih. Dibagian bawah satuan
batuan inni, yaitu Sungai Opak, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto,
Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, terdapat andesit basal sebagai aliran
lava bantal (Bronto & Hartono, 2001).
4. Formasi Nglanggran
Formasi Nglanggran memiliki satuan batuan yang terdiri dari breksi
gunungapi, aglomerat, tuf, aliran lava andesit-basal, lava andesit dengan
sisipan batupasir.
5. Formasi Sambipitu
Formasi Sambipitu memiliki satuan batuan yang terdiri dari batupasir kasar
berangsur halus berselingan serpih, batulanau, dan batubreksi. Formasi ini
terletak di Desa Sambipitu.
6. Formasi Oyo
Formasi Oyo memiliki satuan batuan yang terdiri dari tuf dan napal tufan,
batugamping berlapis sisipan batubreksi karbonatan dengan ketebalan lebih
dari 140 meter. Formasi ini terletak di sepanjang Kali Oyo.
7. Formasi Wonosari
Formasi Wonosari satuan batuan yang terdiri dari batugamping berlapis dan
batugamping terumbu dengan sisipan napal dan tuf. Memiliki ketebalan
lebih dari 800 meter. Formasi ini terletak di daerah Wonosari dan sekitarnya.
8. Formasi Kepek
Formasi Kepek memiliki satuan batuan yang terdiri dari napal dan
batugamping berlapis dengan ketebalan kurang lebih 200 meter. Formasi ini
terletak di Desa Kepek.
4
Secara morfologi, pegunungan selatan yang memiliki morfologi sebagai
berikut:
1. Morfologi fluvial
Berupa dataran banjir, lembah sungai dengan stadium erosi pada sungai
tua seperti Sungai Oyo dan Sungai Opak.
2. Morfologi alluvial
Pada dataran aluvial Sungai Opak banyak mengandung pasir yang berasal
dari Gunung Merapi sedangkan pada muara Sungai Opak banyak
mengandung breksi yang berasal dari material alluvial pegunungan
sebelah timur.
3. Morfologi eolian
Terbentuk akibat tiupan angina dan adanya endapan material pasir yang
membentuk dune, contohnya bukit pasir di Parangtritis.
4. Morfologi karst
Terdapat di Gunung sewu yang terbentuk akibat pengikisan dan
pengangkatan batuan kapur serta di tepian pantai Parangtritis .
5. Morfologi struktural
Terletak disekitar Sungai Opak yang ditandai adanya perlipatan dan sesar,
yaitu Sesar Opak yang sejajar dengan Sungai Opak.
6. Morfologi vulkanik
Material dari Gunung Merapi yang menyebabkan daerah Sungai Opak
tertutup oleh endapan Gunung Merapi.
Geologi lokal ?
5
6.4 Penelitian Terdahulu
Judul : “Deteksi Gua Bawah Tanah dengan Metode Tahanan Jenis:Studi Kasus
Gua Bribin, Kabupaten Gunung Kidul Underground Cave Detection
Based on Resistivity Methods” Case Study of Bribin Cave, Gunung
Kidul Regency
Tahun : 2019
Abstrak :
Eksplorasi air tanah daerah karst menggunakan metode tahanan jenis
memiliki tantangan utama berupa latar belakang tahanan jenis batuan yang tidak
homogen dikarenakan banyaknya variasi morfologi dan litologi sehingga anomali
sasaran pengukuran tidak dapat terlihat dengan jelas. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui efektivitas deteksi gua bawah tanah menggunakan metode
tahanan jenis dengan konfigurasi dipoledipole yang dikombinasikan dengan
konfigurasi schlumberger di Gua Bribin, Kabupaten Gunung Kidul. Lintasan
pengukuran sepanjang 1000 m dibuat memotong gua bribin, dengan jarak
antartitik 50 m. Pengukuran dilakukan dengan ABEM SAS 1000 dan diolah
dengan bantuan software RES2DINV dan WinSev6. Nilai resistivitas rendah pada
batugamping dibandingkan dengan latar belakang mengindikasikan adanya fitur
geologi mengandung air, sedangkan tahanan jenis tinggi mengindikasikan adanya
rongga berisi udara di bawah permukaan tanah. Pada penampang pseudo section
tahanan jenis yang dihasilkan dari pengukuran, terlihat pola kontur setengah
lingkaran dengan lebar anomali ini 40-60 meter yang memiliki nilai tahanan jenis
di bawah nilai tahanan jenis rata-rata yaitu pada kedalaman 70 m–90 m. Anomali
diinterpretasikan sebagai gua bawah tanah yang berair karena letaknya tepat di
bawah titik pengukuran A8, A9, A10 yang menurut koordinat berada di atas gua.
Hasil analisis satu dimensi dari data tahanan jenis Schlumberger dititik A10
menunjukkan adanya anomali dengan tahanan jenis tinggi (206–12431 m), yaitu
pada kedalaman antara 6–95 m. Hal ini menunjukkan bahwa konfigurasi dipole-
dipole dinilai sensitif dalam merefleksikan posisi dan dimensi gua bawah tanah
pada daerah karst. Sementara itu Schlumberger cukup baik untuk merefleksikan
kedalaman gua dan nilai tahanan jenis sebenarnya.
Benerin lagi penelitian dahulu berbentuk paragraf
6
BAB III
DASAR TEORI
7
pada tahanan jenisnya. Pada metode ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam
bumi melalui dua buah elektrode arus dan beda potensial yang terjadi diukur
melalui dua buah elektrode potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda
potensial untuk setiap jarak elektrode berbeda kemudian dapat diturunkan
variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan bawah permukaan
bumi, dibawah titik ukur (sounding point).
Metode ini lebih efektif bila dipakai untuk eksplorasi yang sifatnya
relatif dangkal. Metode ini jarang memberikan informasi lapisan kedalaman
yang lebih dari 1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang
digunakan untuk eksplorasi hidrokarbon, tetapi lebih banyak digunakan
untuk bidang geologi seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian
reservoir air, eksplorasi geothermal, dan juga untuk geofisika lingkungan.
Jadi metode resistivitas ini mempelajari tentang perbedaan resistivitas
batuan dengan cara menentukan perubahan resistivitas terhadap kedalaman.
Setiap medium pada dasarnya memiliki sifat kelistrikan yang dipengaruhi
oleh batuan penyusun/komposisi mineral, homogenitas batuan, kandungan
mineral, kandungan air, permeabilitas, tekstur, suhu, dan umur geologi.
Beberapa sifat kelistrikan ini adalah potensial listrik dan resistivitas listrik.
Geolistrik resistivitas memanfaatkan sifat konduktivitas batuan untuk
mendeteksi keadaan bawah permukaan. Sifat dari resistivitas batuan itu sendiri
ada 3 macam, yaitu :
1. Medium konduktif
Medium yang mudah menghantarkan arus listrik. Besar
resistivitasnya adalah 10-8 ohm m sampai dengan 1 ohm.m.
2. Medium semi-konduktif
Medium yang cukup mudah untuk menghantarkan arus listrik.
Besar resistivitasnya adalah 1 ohm m sampai dengan 107 ohm.m.
3. Medium resistif
Medium yang sukar untuk menghantarkan arus listrik. Besar
resistivitasnya adalah lebih besar 107 ohm.m.
8
Dalam batuan, atom-atom terikat secara kovalen, sehingga batuan
mempunyai sifat menghantar arus listrik. Aliran arus listrik didalam
batuan/mineral dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :
1. Konduksi secara elektronik
Terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus
listrik dapat mengalir karena adanya elektron bebas.
2. Konduksi elektrolitik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat porous/pori-pori tersebut terisi oleh
cairan-cairan elektrolit dimana arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit
secara perlahan-lahan.
3. Konduksi dielektrik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik,
yaitu terjadi polarisasi saat bahan-bahan dialiri arus listrik.
Batuan yang mempunyai resistivitas (tahanan jenis) tinggi maka
konduktivitasnya (kemampuan mengahantarkan arus listrik) akan semakin kecil,
demikian pula sebaliknya bila batuan dengan resistivitas rendah maka
konduktivitasnya akan semakain besar. Sifat kelistrikan batuan itu sendiri
digolongkan menjadi 3, yaitu :
1. Resisitivitas
Batuan dianggap sebagai medium listrik yang mempunyai tahanan listrik.
Suatu arus listrik berjalan pada suatu medium/batuan akan menimbulakn
densitas arus dan intensitas arus.
2. Aktivitas elektro kimia
Aktivitas elektro kimia batuan tergantung dari komposisi mineralnya serta
konsentrasi dan komposisi elektrolit yang terlarut dalam air tanah (ground
water) yang kontak dengan batuan tersebut.
3. Konstanta dielektrik
Konstanta dielektrik pada batuan biasanya berhubungan dengan permeabilitas
dalam material/batuan yang bersifat magnetik.
Kita juga dapat melihat bahwa sifat kelistrikan batuan dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain adalah :
1. Kandungan mineral logam
9
2. Kandungan mineral non logam
3. Kandungan elektrolit padat
4. Kandungan air garam
5. Perbedaan tekstur batuan
6. Perbedaan porositas batuan
7. Perbedaan permeabilitas batuan
8. Perbedaan temperatur
Keuntungan dari metode resistivity (tahanan jenis) ini adalah :
1. Dapat membedakan macam-macam batuan tanpa melakukan pengeboran
2. Biayanya relatif murah
3. Pemakaiannya mudah.
10
Dimana :
ρ = resistivitas
k = faktor geometri
v = beda potensial
I = kuat arus
Karena dalam medan homogen, maka resistivitas semu adalah resistivitas
yang berasal dari batuan secara rata-rata, dan merupakan resistivitas yang
sebenarnya. Disini resistivitas yang terukur (apparent resistivity) bukan
resistivitas sebenarnya dan tergantung dari spasi elektrodanya. Karena tidak
homogen maka kenyataan di lapangan bahwa bumi berlapis-lapis, lapisan batuan
dan masing-masing perlapisan mempunyai harga resistivitas tertentu. Keadaan
bumi yang berlapis-lapis dapat digambarkan sebagai berikut :
11
dibandingkan dengan konfigurasi wenner atau schlumberger. Karena tanpa
memperpanjang kabel bisa mendeteksi batuan yang lebih dalam. Dalam hal ini
diperlukan alat pengukur tegangan yang ‘high impedance’ dan ‘high accuracy’.
Ada alat dengan merk tertentu yang bisa menggunakan multi ‘potenTial
electrode’ dan dapat menampilkan hasilnya langsung pada layar monitor. Dalam
hal ini yang tergambar adalah ‘apparent resistivity’ dan bukan ‘true resistivity’
serta mengabaikan persyaratan pengukuran geolistrik yaitu homogenitas batuan,
karena dalam konfigurasi dipole-dipole tidak ada fasilitas untuk membuat batuan
yang tidak homogen menjadi seakan - akan homogen. Sedangkan pada
konfigurasi schlumberger bisa dibuat data yang diperoleh dari batuan yang tidak
homogen menjadi seakan-akan homogen.
12
r2 = C2 sampai P1
r3 = C1 sampai P2
r4 = C2 sampai P2
∆V =
ρI
2π {( 1
−
1
r1 r2)(
−
1
−
r3 r4
1
)}
(2)
k =π ( 2+ n )( 1+n ) n . r (4)
Dimana :
I = arus listrik (mA) pada transmitter
∆V = beda potensial (mV) pada receiver
ρ = resistivitas semu
k = faktor geometris
r = jarak elektrode
n = bilangan pengali
13
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
5 8
3 9
4 1
7
6
2
Gambar
1 4.1. Instrumen Penelitian.
14
Pada saat akuisisi data, payung berfungsi untuk melindungi alat dari
paparan sinar matahari, sehingga alat dapat menghasilkan kualitas data yang
baik tanpa gangguan dari luar.
4. Elektroda
Elektroda yang digunakan terdiri dari elektroda arus dan elektroda
potensial yang masing masing sebanyak 2 elektroda yang disusun sesuai
dengan konfigurasi yang telah ditentukan.
5. Meteran
Meteran fungsinya adalah untuk mengukur Panjang dari bentangan yang
diinginkan.
6. Kabel
Kabel berfungsi untuk menjalarkan arus, kabel yang digunakan ada 5
kabel. Terdiri dari 2 buah kabel potensial yang gunanya sebagai penghubung
dengan elektroda potensial dan juga ada 2 buah kabel arus yang gunanya
adalah sebagai penghubung dengan elektroda arus. Dan 1 lagi adalah kabel
konektor yang fungsinya adalah untuk menghubungkan dengan accu
7. Palu
Palu gunanya adalah untuk menancapkan setiap elektroda ketanah dengan
cara memukul elektroda.
8. Tabulasi data
Berisi parameter parameter yang akan diukur, seperti spasi elektroda,
Panjang bentangan, kuat arus dan sebagainya.
15
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Diagram Alir Pengolahan Data
Mulai
Tinjauan
Pustaka
Data Sekunder
MS Excel
RES2DINV
Inversi
Include Topography
Penampang Resistivitas
Dengan Topografi
Pembahasan
Kesimpulan 16
Selesai
4.2.2 Penjelasan Diagram Alir Pengolahan Data
Dapat dijabarkan sesuai dengan diagram alir pengolahan data diatas adalah
sebagai berikut.
1. Data sintetik yang sudah didapatkan dilapangan berupa panjang spasi antar
elektroda, elevasi, nilai kuat arus, dan nilai beda potensial sehingga
didapatkan nilai hambatan listriknya, lalu dapat mencari faktor konfigurasi
dari konfigurasi dipole-dipole, sehingga didapatkan nilai resistivitas semu
dalam pengolahan Microsoft excel.
2. Setelah mendapatkan nilai resistivitas semu, langkah selanjutnya adalah
dengan menyusun data data tersebut sesuai dengan format konfigurasi dipole
dipole untuk dapat dilakukan pengolahan pada software res2dinv, data data
yang perlu diurutkan diantaranya adalah nilai datum point, panjang spasi,
resistivitas semu dan nilai elevasi serta beberapa seperti kode-kode yang akan
digunakan dalam konfigurasi dipole-dipole. Dimana pada tahap pengolahan
dengan menggunakan software ini akan didapatkan nilai true resistivity
3. Setelah diurutkan, lalu menyimpan file dalam bentuk .txt dengan
menggunakan notepad. Lalu selanjutnya adalah menginput data tersebut lalu
dilakukan inversi, inversi yang digunakan adalah least squares inversion.
4. Lalu didapatkan 3 penampang dari data yang telah diolah, yaitu penampang
measured apparent, penampang calculated apparent dan penampang depth
iteration.
5. Setelah menentukan iterasi yang digunakan, Langkah selanjutnya adalah
dengan memasukkan efek topografi pada penampang tersebut, sehingga
jadilah penampang true resistivity daerah penelitian
6. Membahas penampang yang telah dibuat sesuai dengan target penelitian yang
telah ada
7. Membuat kesimpulan dari hasil akuisisi, pengolahan data dan interpretasi
data yang telah dilakukan.
Buat dengan kalimat kerja yang baik, dan rincikan lagi.
17
4.3 Interpretasi Data
Interpretasi data adalah kegiatan menganalisa atau menafsirkan data yang
telah didapatkan dari hasil akuisisi lapangan, dengan memperhatikan berbagai
parameter, baik itu secara geologi, kondisi alat, cuaca, peneliti dan sebagainya,
demi mendapatkan hasil interpretasi yang mendekati keadaan yang sebenarnya
dibawah permukaan. Interpretasi secara umum dapat dibagi menjadi 2 bagian
utama, yaitu interpretasi yang dilakukan secara kuantitatif dan juga interpretasi
secara kualitatif.
Yang pertama interpretasi kuantitatif adalah interpretasi yang dilakukan
dengan menghubungkan dengan nilai-nilai yang ada baik itu berupa angka, satuan
dan sebagainya. Sedangkan interpretasi kualitatif adalah interpretasi yang
dilakukan dengan membahas hasil yang ingin dicapai biasanya dihubungkan
dengan kondisi geologi, juga kualitas data. Baik interpretasi kuantitatif maupun
interpretasi kualitatif harus dilakukan secara bersamaan untuk mendukung dari
pembahasan yang akan dilakukan.
Tabel 4.1. Tabel Resistivitas (Telford,1990)
18
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
19
Gambar 5.1. Penampang Resistivitas Lintasan 6
20
bagian kiri dari penampang semantara nilai yang sedang terdapat pada bagian
tengah bentangan dengan kedalaman 12-20 meter. Pada penampang resistivitas
semu hasil pseudoaction ini memiliki Panjang 90 meter dan memiliki kedalaman
22 meter dibawah permukaan bumi.
Penampang kedua merupakan hasil kalkulasi penampang yang pertama
dan merupakan perhitungan dari resistivitas semu dengan menggunakan software
res2dinv, karna resistivitas semu maka dapat diartikan nilai nya masih dipengaruhi
oleh lapisan yang ada dibawahnya. Tidak jauh berbeda dengan penampang yang
pertama nilai yang tinggi terdapat pada bagian kanan penampang, nilai yang
rendah terdapat pada bagian kiri penampang semantara nilai yang sedang terdapat
pada bagian tengah penampang dengan kedalaman 12 – 20 meter dibawah
permukaan. . Pada penampang resistivitas semu hasil kalkulasi pseudoaction ini
memiliki Panjang 90 meter dan memiliki kedalaman 22 meter dibawah permukaan
bumi. Penampang 1 dan 2 merupakan penampang hasil forward modelling yaitu
merubah model menjadi data yang artinya pada kedua penampang tersebut
diasumsikan bahwa bentuk bumi adalah sebagai modelnya, lalu didapatkan data
hasil pengukuran sebagai data.
Penampang 3 merupakan penampang hasi inverse modelling yaitu
merubah data menjadi sebuah model, penampang yang ke 3 berasal dari data
lapangan yang didapatkan lalu diinversi menjadi sebuah model resistivitas.
Menghasilkan model penampang dalam bentuk true resistivity. Proses inversi
adalah proses pembalikan yang artinya adalah dari sebuah data diubah menjadi
sebuah penampang yang sudah dapat diinterpretasikan. Sehingga pada penampang
ketiga merupakan hasil inversi modelling dengan menggunakan least squares
inversion yang mengubah data atau pada penampang 1 dan 2 menjadi sebuah
model yang sudah dapat diinterpretasi. Pada penampang yang ketiga ini nilai
resistivitas yang tinggi berada pada bagian kanan penampang dengan nilai
resistivitas berkisar antara 204 Ωm sampai dengan 643 Ωm. Sementara nilai
resistivitas yang rendah berada pada bagian kanan atas penampang yang
membentuk sebuah pola horizontal dengan nilai 11,6 Ωm sampai dengan 20,5
Ωm. Respon nilai resistivitas gua bawah tanah yang mengandung air adalah
rendah, pada penampang 3 ini terlihat terdapat nilai rendah yang dapat
21
diindikasikan adanya hampatan yang renda yang disebabkan oleh air. Namun pada
penampang ini tidak membentuk sebuah pola yang menggambarkan bahwa daerah
tersebut terdapat gua bawah tanah, sehingga dapat diidentifikasi nilai rendah pada
penampang ini merupakan daerah resapan air yang menuju kebawah tanah karena
pada penampang rendah bagian tengah terlihat aka nada kemenerusan dari resapan
air tersebut, namun gua bawah tanah tidak dapat terlihat pada penampang ini
karena kedalaman yang didapat hanya 22 meter.
Penampang yang keempat adalah penampang hasil inversi yang telah
dimasukkan efek topografi daerah penelitian. Daerah penelitian berada di Daerah
Istimewa Yogyakarta. Pada penampang yang keempat yang telah dengan
topografi merupakan penampang yang memiliki kedalaman 30 meter, dan
didapatkan dari iterasi ke 5 yaitu sebesar 14,1 % RMS error. Nilai error pada
penampang ini sangat kecil yang menandakan bahwa data hasil pengukuran daeah
tersebut kualitas datanya cukup baik. Pada penampang yang keempat tidak
terdapat perbedaan yang signifikan dengan penampang yang ketiga sebelumnya.
Pada penampang yang keempat sudah dimasukkan topografi dari daerah
penelitian, sehingga lebih menggambar keadaan yang ada dilapangan sebenarnya.
Pada penampang yang keempat terlihat kedalaman nya bertambah karena efek
topografi. Namun pada penampang yang keempat juga tidak dapat diidentifikasi
adanya gua bawah tanah, yang dapat terlihat juga hanya ada daerah resapan air
yang menuju kedalama yang lebih dalam yang kemungkinan daerah tersebut
adalah gua bawah tanah, namun belum dapat dibuktikan karena pengaruh
kedalaman yang masih terbilang dangkal ini.
Pembahasan hanya penampang 3 dan ada topo saja, tidak usah yang lain dibahas.
Kalo sebutkan gpp.
22
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Pada pembahasan yang telah dilakukan, banyak hal menarik yang dapat
diambil saat pengolahan maupun interpretasi dan dijadikan inti pembahasan,
kesimpulannya adalah sebagai berikut :
Pada penampang lintasan 6 terdapat nilai true resitivity yang beragam yaitu
ada nilai yang rendah sedang dan tinggi.
Kedalaman dari penampang terbilang cukup rendah yaitu berada pada
kedalaman dibawah 30 meter.
Pada penampang, terdapat daerah resapan air yang melampar pada
bentangan bagian kiri, dengan nilai resistivitas yang rendah. Namun daerah
23
resapan ini menerus kebawah permukaan dengan terlihatnya pola
kemenerusan pada bagain bawah penampang
6.2 Saran
Pada saat melakukan pengolahan, harus memilih iterasi yang disesuaikan
dengan kondisi litologinya, sehingga diketahui kesesuain nilai resistivitas
penampang dengan keadaan bawah permukaan
24
DAFTAR PUSTAKA
Maulana, Try Fanny Poerna (2015), Pengolahan Data Manual Metode Geolistrik
dengan Menggunakan Konfigurasi Wenner Alpha. Yogyakarta:
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Mulia, R.M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Edisi pertama. Graha
Ilmu.Yogyakarta
Purwanto, Heru Sigit. 1997. Analisis dan Genesa Pembentukan Struktur Geologi
pada Batuan Berumur OligosenMiosen, di Daerah Pacitan dan Sekitarnya
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur : Thesis. Bandung : ITB.
Pujianiki, Ni Nyoman, dan I Nengah Simpen. Aplikasi Geolistrik pada Pemetaan
Daerah Intrusi Air Laut di Pantai Candidasa. Media Komunikasi Teknik
Sipil, Vol. 24, No. 1, Pp. 29-34, Aug. 2018.
Riyadi. Agung. 2004. Informasi Deteksi Sumberdaya Air Tanah Antara Sungai
Progo-Serang. Kabupaten Kulon Progo Dengan Metode Geolistrik.
Yogyakarta: J. Tek. Ling. P3TL-BPPT.5(1)
Samodra, dkk. 1992. Geologi Lembar Pacitan, Jawa Timur, Departemen
Pertambangan dan Energi.Direktorat Jendaral Geologi dan Sumber Daya
Mineral, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Santoso, Agus. et al. 2015. Buku Panduan Praktikum Geolistrik.Yogyakarta UPN
Veteran Yogyakarta.
Sedana, D., As’ari, A., & Tanauma, A. (2015). Pemetaan akuifer air tanah di
jalan ringroad kelurahan malendeng dengan menggunakan metode
geolistrik tahanan jenis. Jurnal ilmiah sains, 15(2), 33-37. Soeria-Atmadja,
R., Maury, R.C., Bellon, H., Pringgoprawiro, H., dan Priadi, B., 1994.
Tertiary magmatic belts in Java. Journal of South East Asian Earth
Sciences, 9, h.13-12.
Sutanto, 2003. Himpunan Batuan dan Keanekaragaman Proses pada Busur
Vulkanik di Lingkungan Busur Kepulauan dan Tepi Benua Aktif, Jurnal
Ilmu kebumian Buletin Teknologi Mineral, UPN “Veteran”.
Sudarmadji, 1990. Agihan geografi sifat kimiawi airtanah bebas di Kotamadya
Yogyakarta, disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Suhartono, E. 2011. Model Intrusi Air Laut Terhadap Air Tanah Pada Akuifer di
Kota Semarang, Online, Vol 9, No. 1, http://eprints.undip.ac.id, diakses 19
Agustus 2014.
Telford, W. M. Sheriff, R. E., & Geldart, L. P., 1990, Applied Geophysics, 2nd
Edition, Cambridge University Press, Cambridge
Wahyuni, Sri , Gusfan Halik, Wiwik Yunarni dan M. Riduwan. Identifikasi
Potensi Air Tanah Menggunakan Uji Resistivity Ves (Vertical Electrical
Sounding). Konferensi Nasional Teknik Sipil dan Infrastruktur – I Jurusan
Teknik Sipil Universitas Jember, 30 Oktober 2017
Wijaya, Lean 1 , Budi Legowo 2 , Ari Handono Ramelan. Identifikasi
Pencemaran Air Tanah Dengan Metode Geolistrik Di Wilayah Ngringo
Jaten Karanganyar Prosiding Seminar Nasional Ke-15 Teknologi Dan
Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir ISSN : 0854 - 2910 Surakarta,
17 Oktober 2009
Todd,D.K. 1959. Ground Water Hydrology.John Willey & Sons Inc. London,
New York.