0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
588 tayangan28 halaman

MIKROSEISMIK

Mikrotremor dapat digunakan untuk memetakan karakteristik dinamik tanah permukaan seperti frekuensi resonansi, periode dominan, faktor amplifikasi, dan indeks kerentanan seismik guna memprediksi dampak gempabumi dan mitigasi bencana. Data mikrotremor dapat pula dipakai untuk memprediksi ketebalan lapisan sedimen secara kualitatif.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • karakteristik dinamik tanah,
  • data seismik,
  • frekuensi resonansi,
  • kurva HVSR,
  • kondisi tanah,
  • deformasi tanah,
  • aktivitas manusia,
  • interpretasi data,
  • risiko gempabumi,
  • pengukuran lapisan tanah
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
588 tayangan28 halaman

MIKROSEISMIK

Mikrotremor dapat digunakan untuk memetakan karakteristik dinamik tanah permukaan seperti frekuensi resonansi, periode dominan, faktor amplifikasi, dan indeks kerentanan seismik guna memprediksi dampak gempabumi dan mitigasi bencana. Data mikrotremor dapat pula dipakai untuk memprediksi ketebalan lapisan sedimen secara kualitatif.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • karakteristik dinamik tanah,
  • data seismik,
  • frekuensi resonansi,
  • kurva HVSR,
  • kondisi tanah,
  • deformasi tanah,
  • aktivitas manusia,
  • interpretasi data,
  • risiko gempabumi,
  • pengukuran lapisan tanah

MIKROSEISMIK

Umi Eka Sabrina, S. Si

Stasiun Geofisika Karangkates

E-mail: umi.sabrina@bmkg.go.id

A. PENDAHULUAN

1. Mikrotremor
Rekaman seismogram pada beberapa tempat terhadap aktivitas seismik memperlihatkan
respon yang berbeda-beda. Perbedaan respon getaran pada kondisi geologi yang berbeda ini
merupakan bukti bahwa kondisi geologi ternyata memiliki respon yang berbeda-beda terhadap
gelombang seismik dan menunjukkan antara satu tempat dengan tempat yang lain memiliki
karakteristik dinamik tanah yang berbeda-beda.
Mikrotremor adalah getaran tanah yang disebabkan oleh aktivitas lalu lintas, industri, dan
aktivitas manusia di permukaan bumi. Sumber-sumber getaran tanah yang disebabkan oleh
faktor alam seperti interaksi angin dan struktur bangunan, gempa bumi, arus dan gelombang laut
periode panjang juga dapat mempengaruhi getaran mikrotremor (Motamed, dkk., 2007;
Petermans, dkk., 2006). Survey dan analisis data mikrotremor dapat digunakan untuk
mengidentifikasi variasi karakteristik dinamik pada lapisan tanah permukaan (Nakamura, 1989) .
Metode ini digunakan untuk mengetahui sifat struktur bawah permukaan tanpa menyebabkan
gangguan pada struktur tersebut. Oleh karena itu Mikrotremor merupakan salah satu metode
seismik pasif untuk merekam getaran yang dihasilkan aktivitas bumi , ataupun aktivitas manusia.
Mikrotremor disebut juga dengan ambient vibration, ambient noise, dan seismic noise (Daryono,
2009). Mikrotremor merupakan gelombang seismic dengan amplitudo kurang dari 10-3 cm
(Bullen & Bolt, 1985). Mikrotremor merupakan vibrasi tanah dengan amplitude displacement
sekitar 0,1-1 mikron dengan amplitude velocity 0,001-0,01 cm/s (Mirzaoglu dan Dykmen, 2003).

Berdasarkan periodenya, mikrotremor dibagi menjadi dua, yaitu (S. Koyama, 2006):
1. Mikrotremor periode pendek (short-period microtremor), berdurasi ≤ 1 detik yang
biasanya disebabkan oleh aktivitas manusia.
2. Mikrotremor periode panjang (long-period microtremor), berdurasi > 1 detik yang
biasanya disebabkan oleh aktivitas alam, misalnya gelombang laut.
Tabel 1. Sumber mikrotremor

Data mikrotremor dapat dimanfaatkan diantaranya untuk :


1. Pemetaan Frekuensi Resonansi (fo)
Pengolahan data mikrotremor menghasilkan beberapa nilai, salah satunya adalah
frekuensi resonansi (fo) dari suatu tempat. Nilai fo ini diperlukan untuk mitigasi
bencana gempabumi yaitu untuk perencanaan bangunan tahan gempabumi (Tuladhar
et al., 2004). Apabila bangunan memiliki fo sama dengan nilai fo maka jika terdapat
getaran gempabumi yang menjalar dibawahnya bangunan akan mengalami resonansi.
Efek resonansi akan memperkuat getaran gempabumi sehingga menyebabkan
bangunan roboh saat terjadi getaran gempabumi kuat. Sehingga dengan
menggunakan informasi data mikrotremor dapat memberi petunjuk agar dalam
merancang suatu bangunan tidak sama dengan frekuensi resonansi site guna
menghindari terjadinya efek resonansi saat gempabumi terjadi (Daryono et al.,
2009a; Daryono et al., 2009b). Selain bahaya resonansi getaran gempabumi,
karekteristik dinamik tanah dengan fo sangat rendah sangat rentan terhadap bahaya
vibrasi periode panjang yang dapat mengancam gedung-gedung bertingkat tinggi
(Tuladhar, 202).
Aturan dalam rancang bangunan salah satunya yaitu Rule-of-thumb:

Fn = 10/ n (1)

dengan:
Fn = Natural Frequency
N = number of storeys
Gambar 1. Pengukuran mikrotremor di Manila (Ai Ian, 2006)

2. Pemetaan periode dominan


Pengolahan data mikrotremor menghasilkan data frekuensi dominan, nilai
frekuensi dominan ini di ubah menjadi nilai periode dominan dengan menggunakan
persamaan:
1
𝑇 = (1)
𝑓0

dimana T adalah nilai periode yang dicari dan fo adalah nilai frekuensi input hasil
pengolahan dengan metode HVSR (Butarbutar, 2014).
Rentang periode dominan menurut NEHRP untuk penentukan klasifikasi tanah
dijelaskan pada Tabel 2(Zhao dkk, 2004)

Tabel 2. Klasifikasi tanah menurut NEHRP

Pemetaan periode panjang dapat bermanfaat untuk mitigasi daerah rawan bencana
gempabumi, yaitu dengan mengetahui kawasan periode panjang yang berpotensi
mengalami vibrasi long period saat terjadi gempabumi kuat dari jauh (Daryono,
2009).

Gambar 2. Peta seismik mikrozonasi Greather Bangkok (Tuladhar, 2002)

3. Pemetaan faktor amplifikasi


Penggunaan faktor amplifikasi dapat diaplikasikan dalam upaya pengkajian
bahaya gempabumi. Beberapa peneliti lain seperti Mucciarelli et al. (1998),
Nakamura et al. (2000) dan Cara et al. (2006) menyatakan adanya korelasi yang jelas
antara faktor amplifikasi dengan persebaran kerusakan gempabumi. Panou et al.
(2004) membandingkan nilai frekuensi resonansi dan faktor amplifikasi dengan data
kerusakan gempabumi. Hasil pengamatan menyeluruh menunjukkan adanya korelasi,
dimana pada intensitas kerusakan tinggi terjadi pada zona frekuensi resonansi rendah
dengan nilai faktor amplifikasi yang tinggi, sebaliknya tingkat kerusakan rendah
terjadi pada zona frekuensi resonansi yang tinggi dengan faktor amplifikasi rendah.
Penelitian Qaryouti & Tarazi (2007) menunjukkan bahwa faktor amplifikasi
spektrum HVSR meningkat pada formasi ketebalan sedimen yang lebih tebal dan
halus. Hasil penelitian HVSR yang dilakukan Singh et al. (2003) di kawasan bekas
rawa Mexico juga menginformasikan hal yang serupa, dimana faktor amplifikasi
meningkat pada daerah yang tersusun oleh lapisan sedimen halus bekas rawa.
Mucciarelli et al. (1996) menyatakan bahwa Metode HVSR mampu memprediksi
persebaran kerusakan gempabumi masa lampau dan masa yang akan datang.

4. Pemetaan indeks kerentanan seismik.


Indeks kerentanan seismik (Kg) adalah indeks yang menggambarkan tingkat
kerentanan lapisan tanah permukaan terhadap deformasi saat terjadi gempabumi
(Nakamura, 2008). Penghitungan nilai indeks kerentanan seismik dapat
dimanfaatkan untuk memprediksi zona lemah saat terjadi gempabumi (Saita et al.,
2004; Gurler et al., 2000), memprediksi zona rawan likuefaksi (Huang dan Tseng,
2002), dan rekahan tanah akibat gempabumi (Daryono, 2011), Indeks kerentanan
seismik bersama-sama dengan percepatan basement berguna untuk menghitung nilai
regang-geser lapisan tanah permukaan (Nakamura, 2000). Gempabumi merusak
terjadi bilamana batas regangan geser terlampaui sehingga terjadi deformasi lapisan
tanah permukaan (Nakamura, 2008).
Penghitungan nilai indeks kerentanan seismik yaitu dengan mengkuadratkan
faktor amplifikasi dibagi dengan frekuensi resonansinya (Nakamura et al., 2000).
Semakin unconsolidated suatu tanah maka nilai Kg semakin besar.

Gambar 3. Indeks Kerentanan Seismik di San Fransisco (Nakamura, 2008)


Hasil pemetaan apabila daerah tersebut memiliki nilai indeks kerentanan
seismic (Kg) yang tinggi maka daerah tersebut merupakan daerah yang rawan
seismik tinggi. Artinya apabila ada getaran seismik menjalar di daerah tersebut
(misal getaran gempabumi) maka daerah tersebut akan lebih rawan terhadap
dampak getaran tersebut dibanding daerah yang lain. Hal ini juga bisa
menunjukkan kondisi tanah pada daerah tersebut merupakan kondisi tanah yang
tidak stabil. Kebalikannya apabila nilai Indeks Kerentanan Seismik nya rendah
maka daerah tersebut relatif aman terhadap getaran seismik (Lestari, F. L. , dkk
2016).
𝐴2
𝐾𝑔 = (2)
𝐹
dengan =

Kg = indeks kerentanan seismic


A = amplitude
F = frekuensi

5. Memprediksi ketebalan lapisan sedimen secara kualitatif


Penelitian sebelumnya menggunakan mikrotremor dengan metode HVSR yang
dilakukan oleh Roberta dan Asten (2004), Arai dan Tokimatsu (2008), Arai dan
Tokimatsu (1998), dan Nguyen et al. (2004) mampu memetakan ketebalan material
sedimen secara kualitatif. Data pengolahan mikrotremor yang digunakan untuk
mengetahui kedalaman material secara kualitatif adalah frekuensi resonansi (fo).
Hubungan antara nilai frekuensi resonansi dengan ketebalan sedimen adalah:

𝑉𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
𝑓𝑜 = (3)
4𝐻

dengan:
fo = Frekuensi resonansi
Vrata-rata = Kecepatan gelombang S
H = Ketebalan sedimen
Gambar 4. Contoh pemetaan ketebalan sedimen (Daryono, 2009)

6. Pemanfaatan mikrotremor untuk kajian daerah rawan bencana gempabumi


Efek geologi lokal berpengaruh terhadap tingkat kerusakan akibat gempabumi
yang dialami suatu daerah. Geologi lokal mengubah karakter gelombang seismik
yang datang. Medium yang bersifat unconsolidated sediment menyebabkan
terjadinya perbesaran gelombang seismik saat terjadi gempabumi.

Gambar 5. Ilustrasi proses amplifikasi gelombang seismik (Daryono, 2011)

Dalam medium juga terjadi fenomena resonansi dan Interferensi antar


gelombang-gelombang yang terjebak di lapisan permukaan berkembang menuju pola
resonansi dan pola frekuensi yang berkenaan dengan karakteristik struktur medium
Gambar 6. Ilustrasi proses resonansi terhadap struktur bangunan (Daryono, 2011)

Contoh kasusnya adalah gempabumi Michoacan, Mexico 1985. Gempabumi tersebut


berkekuatan 8.1 SR dan pusat gempabumi berjarak 380 km dari Mexico City. Kerusakan
parah terjadi di Mexico City dengan jumlah korban ± 10.000 tewas. Tingkat kerusakan
gempabumi Michoacan, Mexico 1985 tidak hanya ditentukan oleh magnitudo dan jarak
dari episenter. Lapisan sedimen rawa purba memicu resonansi di Meksiko City.

Gambar 7. Ilustrasi proses resonansi gempabumim Mexico, 1985 (Daryono, 2011)


2. Horizontal To Vertical Spectrum Ratio (HVSR)
Pengolahan data mikrotremor dapat menggunakan metode HVSR. Metoda analisis
Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) yang dikembangkan oleh Nakamura (1989)
yaitu dilakukan dengan menghitung rasio spektrum dari sinyal mikrotremor komponen
horizontal terhadap komponen vertikalnya. Metode HVSR digunakan untuk indikator
struktur bawah permukaan. Metode analisis HVSR diakui secara luas sangat handal dalam
mengestimasi frekuensi resonansi lapisan tanah permukaan lokal (Molnar et al., 2007;
Jensen, 2000). Kelebihan dari metode ini juga dapat mengidentifikasi karakteristik dinamik
tanah penyebab terjadinya local site effect tanpa harus survey data bor yang mahal. Hasil
analisis HVSR akan menunjukkan suatu puncak spectrum pada periode dominan
(Nakamura, 1989). Perbandingan spektrum respon horizontal terhadap spektrum respon
vertikal menghasilkan kurva HVSR yang tetap sama pada berbagai kejadian gempabumi.
Ada kestabilan pola kurva HVSR dari seismogram pada satu stasiun untuk berbagai kejadian
gempabumi. karena pada berbagai kejadian gempabumi menghasilkan kurva HVSR yang
selalu sama, maka kurva spektrum HVSR dapat ditentukan dengan menggunakan data
mikrotremor.
Nakamura (1989) menyatakan bahwa efek sumber dapat dihilangkan dari data mikrotremor
dengan membandingkan spektrum horisontal terhadap spektrum vertikal dari data rekaman
mikrotremor pada satu stasiun pengukuran seismometer tiga komponen. Nakamura (1989)
mengasumsikan bahwa hanya data mikrotremor horisontal saja yang terpengaruh oleh tanah,
sementara karakteristik spektrum sumber tetap terdapat di komponen vertikal.
Site effect (TSITE) pada lapisan sedimen permukaan, biasanya digambarkan dengan cara
membandingkan spektrum (TH) antara komponen horisontal rekaman seismogram pada dataran
aluvial (SHS) dengan komponen horisontal rekaman seismogram pada singkapan batuan keras
(SHB).

(4)

Beberapa asumsi yang digunakan dalam Metode Nakamura disajikan pada gambar 8 sebagai
berikut.
Gambar 8. Model sekungan yang berisi material sedimen halus (Slob, 2007)

1. Data Mikrotremor tersusun atas beberapa jenis gelombang, tetapi utamanya adalah
gelombang Rayleigh yang merambat pada lapisan sedimen di atas batuan dasar.
2. Efek gelombang Rayleigh (TV) pada noise terdapat pada spektrum komponen
vertikal di dataran aluvial (SVS), tetapi tidak terdapat pada spektrum komponen
vertikal di batuan dasar (SVB).

(5)

3. Komponen vertikal mikrotremor tidak teramplifikasi oleh lapisan sedimen di dataran


aluvial.
4. Efek gelombang Rayleigh pada rekaman mikrotremor adalah ekivalen untuk
komponen vertikal dan horisontal. Untuk rentang frekuensi lebar (0,2-20,0 Hz), rasio
spekrum antara komponen horisontal dan vertikal di batuan dasar mendekati nilai
satu.

(6)

5. Pada kondisi tersebut (Rumus 6), rasio spektrum antara komponen horisontal dan
vertikal dari mikrotremor yang terrekam di permukaan memungkinkan efek
Gelombang Rayleigh (ERW) untuk dieliminasi, menyisakan hanya efek yang
disebabkan oleh kondisi geologi lokal. Inilah konsep dasar Metode Horizontal to
Vertical Spectrum Ratio atau yang populer disebut sebagai Metode HVSR:

(7)
maka site effect yang terjadi adalah:

(8)

Rumusan ini menjadi dasar perhitungan rasio spektrum mikrotremor


komponen horizontal terhadap komponen vertikalnya, atau dapat dirumuskan
sebagai berikut:

(9)

Ket: HS (komponen horizontal), VS (komponen vertikal), dan S (sinyal).

Metode HVSR sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi respon resonansi


pada cekungan yang berisi material sedimen. Fenomena resonansi dalam lapisan
sedimen yakni terjebaknya gelombang seismik di lapisan permukaan karena
adanya kontras impedansi antara lapisan sedimen dengan lapisan batuan keras
yang lebih dalam. Interferensi antar gelombang seismik yang terjebak pada
lapisan sedimen berkembang menuju pola resonansi yang berkenaan dengan
karakteristik lapisan sedimen.

Gambar 9. Spektrum HVSR pada beberapa kejadian gempabumi


Gambar 10. Perbandingan spektrum komponen horisontal terhadap
komponen vertikal (HVSR) (Daryono, 2011)

Gambar 11. Diagram Metode HVSR (Bahri, A.S. dkk, 2009)


B. METODE
1. Persiapan Survey Mikrotremor
• Membuat desain survey penelitian
• Studi geologi dan geomorfologi daerah penelitian
• Penentuan jumlah lokasi dan menyusun grid lokasi pengukuran
Bisa menggunakan teknik grid atau teknik proportional purposive sampling
• Memahami dan menguasai beberapa persyaratan teknis survei mikrotremor di
lapangan
Beberapa persyaratan teknis survei mikrotremor di lapangan menurut SESAME
European Research Project

Tabel 3. Persyaratan survey mikrotremor menurut SESAME European Research


Project
• Menyiapkan lembar pengukuran

Tabel 4. Contoh lembar pengukuran mikrotremor


• Menyiapkan kelengkapan peralatan survei
2. ALAT DAN BAHAN PENELITIAN

1. TDS 303S

Gambar 12.Diagram sistem digital seismograph (Kadarisman, A., 2011)

Peralatan TDS 303 S terdiri dari:


a. Seismometer
b. Digitizer (Data Logger)
c. GPS sensor
d. Connector
e. Power Supply
f. Recorder
g. GPS mandiri

Cara instalasi TDS 303S:

1. Keluarkan peralatan dari dalam Packing Bag.

2. Untuk sensor, pasang terlebih dahulu pipa besi pada lubang didasar Sensor, lalu
arahkan pipa tersebut kearah barat dengan bantuan kompas, atau GPS, seperti pada
gambar dibawah ini.
Gambar 13.Peletakkan sensor pada arah mata angin (Kadarisman, A., 2011)

3. Setelah mendapatkan arah barat, kemudian lakukan leveling dengan cara memutar
kaki – kaki sensor secara perlahan dan melihat gelembung yg terdapat disamping
sensor, serta posisi gelembung harus ditengah garis lingkaran.

4. Untuk Logger TDE-324CL, Pasang antenna GPS dengan Dockingnya lalu


Tancapkan menghadap Langit, usahakan tidak terhalang Pohon atau atap bangunan
( clear of sky ), Pasang adaptor ( bila ditempat survey terdapat sumber listrik atau
PLN bila tidak ada, gunakan Solar Panel sebagai sumber tenaga, yang terlebih
dahulu tentukan arah matahari, lalu pasang solar panel tersebut kearah matahari,
dan hubungkan dengan kabel konektornya ). Pasang kabel sensor ( dahulukan
memasang kabel sensor pada Logger TDE-324 lalu hubungkan ke sensor ).

5. Setelah semua terpasang peralatan terpasang dengan baik, hubungkan kabel


konektor ETHERNET/LAN ( RJ-45 ) ke port ETHERNET/LAN pada Laptop, lalu
hubungkan kabel konektor RS-232 dengan port RS232 pada Laptop ( bila Laptop
yang digunkan tidak terdapat port RS232, dapat menggunakan bantuan RS232 to
USB ). Nyalakan Laptop.
Gambar 14. Contong pemasangan TDS 303 S

(a) (b) (c)

(d) (e)

(f) (g)
Gambar 15. Instrumen pada Digital seismograf TDS 303S a. Digitizer (Data logger),
b. GPS sensor, c. Seismometer, d. Power supply (solar panel), e. Connector, f.
Recorder, g. GPS mandiri
3. AKUISISI DATA
Satu buah seismometer short period (velocity sensitive sensor) tipe TDS-303 (3
komponen) dengan Frekuensi sampling 100 Hz. Durasi pengukuran berkisar 30 menit - 1
jam bergantung pada kondisi area penelitian.

Tabel 5. Rekomendadi durasi pengukuran mikrotremor

Alat TDS 303S dilengkapi dengan program program utama yaitu:

a. Monost, yang digunakan untuk penerima sinyal seismograph secara real time.
b. Netrec, yang digunakan untuk mengunduh data yang tersimpan dalam CF Card data
logger.
c. Datapro, yang digunakan untuk analisa data seismic.
d. Map. Yang digunakan untuk menampilkan peta elektronik beserta parameternya.

Untuk mencoba keberhasilan instalasi, dicoba dengan membuka program Monost

Tampilan yang seharusnya muncul adalah:


Gambar 16. Tampilan awal Monost

Klik “OK” maka apabila berhasil akan munculan tampilan sinyal real time sebagai
berikut:

Gambar 17. Tampilan real time sinyal


Gambar 18. Status GPS sensor

4. PENGOLAHAN DATA

Data yang berhasil terekam akan tersimpan dalam CF card digitizer. Data yang terekam
berekstensi .trc dan .evt dan berupaka rekaman sinyal berdasarkan waktu. Data tersebut
selanjutnya dibuka dengan software Datapro untuk dilakukan pemotongan sinyal
berdasarkan waktu perekaman data dan selanjutnya dilakukan penyimpanan ke dalam
format ASCII atau MiniSeed agar dapat diolah menggunakan software lanjutan
GEOPSY.
Proses selanjutnya adalah mengolah data menggunakan metode analisis HVSR
menggunakan perangkat lunak GEOPSY

Gambar 19. Software GEOPSY

Langkah-langkahnya adalah:

1) Buka software Geopsy


2) Ambil data mikrotremor dengan klik pada menu import signal

Bandingkan apakah wave form pada pada perangkat lunak GEOPSY sama dengan
yang ditampilkan raw data pada perangkat lunak DATAPRO (perangkat lunak
TDS) di depan. Jika kedua wave form sama maka berhasil melakukan import
sinyal.
Gambar 20. Import sinyal Geopsy

3) Analisis HVSR dapat klik H/V, selanjutnya klik Stable window

Gambar 21. Pemilihan window sinyal Geopsy


4) Saat pengolahan dalam GEOPSY, data dibagi dalam beberapa window. Untuk
data yang cukup besar dapat dilakukan pemilahan window secara otomatis, yaitu
pemilahan antara sinyal tremor atau event transient. Fungsi pemilahan ini untuk
menghindari pengolahan transient dalam analisis. Selanjutnya klik Start untuk
hasil HVSR.

Gambar 22. Pemilahan sinyal dan proses HVSR

5) Diagram yang menggambarkan prosedur pengolahan data mikrotremor


menggunakan metode analisis HVSR hingga diperoleh frekuensi resonansi (fo),
faktor amplifikasi (A), dan indeks kerentanan seismik (Kg) digambarkan pada
Gambar 23. Proses ini seluruhnya dikerjakan dalam perangkat lunak GEOPSY.
Gambar 23. Diagram analisis horizontal to vertical spectrum ratio (HVSR)

6) Hasil analisis HVSR menggunakan perangkat lunak GEOPSY menghasilkan satu


buah spektrum HVSR yang didalamnya terdapat parameter frekuensi resonansi
(fo), faktor amplifikasi (A), dan indeks kerentanan seismik (Kg) di lokasi
pengukuran.

Gambar 24. Kurva hasil HVSR

Berdasarkan hasil analisis HVSR diketahui:

Frekuensi resonansi (fo) = 1,55 Hz

Faktor amplifikasi (A) = 2,42

Maka indeks kerentanan seismik Kg = A2 / fo = 3,78


C. INTERPRETASI DATA

Tahapan setelah pengolahan data adalah interpretasi data. Interpretasi data bisa dilakukan
dengan interpretasi kuantitatif dan kualitatif.

a) Interpretasi Kuantitatif
……………….
…………………..
………………….

b) Interpretasi Kualitatif
……………………
………………………
……………………..

Nilai keluaran pengolahan data dapat dipetakan dengan bantuan software pemetaan, bisa
menggunakan surfer ataupun GIS. Pemetaan ini akan lebih memudahkan dalam analisis data
hasil penelitian. Dalam interpretasi data juga perlu mempertimbangkan kondisi geologi,
topografi, serta kondisi lingkungan sekitar serta referensi penelitian terdahulu yang mungkin
pernah dilaksanakan. Contoh hasil pengolahan data untuk interpretasi ditunjukkan pada gambar
24 dan 25.

Gambar 25. Peta lokasi likuefaksi (liquefaction) Kabupaten Bantul (Daryono, 2011)
Gambar 26. Diagram kerusakan gempabumi Yogyakarta 2006 (Daryono, 2011)
DAFTAR PUSTAKA

Bahri, AS,dkk. 2011. Penaksiran resonansi tanah dan bangunan menggunakan analisis
mikrotremor untuk aolikasi rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di kota Surabaya.
Jurusan Teknik Geofisika. ITS. Malang.

Daryono, 2011, Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Mikrotremor pada Setiap Satuan
Bentuklahan di Zona Graben Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Disertasi, Program
Pascasarjana Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Daryono dan Prayitno, B.S., 2011. Data mikrotremor dan pemanfaatannya untuk pengkajian
bahaya gempabumi. BMKG. Jakarta.

Irjan dan Bukhori, A.. 2011. Pemtaan wilayah rawan bencana berdasarkan data mikroseismik
menggunakan TDS 303S. Jurnal Neutrino Vol. 3, No. 2, April 2011.

Kadarisman, A. 2011.Operasional seismograph digital.BMKG.Jakarta.

SESAME, 2004, Guidelines for the Implementation of the H/V Spectral Ratio Technique on
Ambient Vibrations Measurements, Processing and Interpretation, European Commission –
Research General Directorate.

Wibowo, B. A. dkk, 2015.Studi pendahuluan mikrozonasi kota Tangerang Selatan melalui


analisi Vs-30 dan periode dominan, Jurnal Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Edisi
Wisuda STMKG) Vol.2 No. 3, Oktober 2015.

Anda mungkin juga menyukai