Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUGAS PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES

PEMBUATAN ENGSEL KUPU – KUPU


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pemilihan Bahan dan Proses

Oleh:

Edward Rahadianto 2112142010

Leo Christy 2112142022

JURUSAN S1 TEKNIK MESIN EKSTENSI CIMAHI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah
mengenai “Pembuatan Engsel Kupu - Kupu” dengan baik.

Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pemilihan
Bahan dan Proses dengan mengacu dari buku-buku literatur yang mencakup pada
management teknik pemeliharaan.

Pada kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Kusharjanto. ST., MT. selaku Dosen mata kuliah Metalugi fisik di
Universitas Negeri Achmad Yani Cimahi.

2. Karyawan PT. Krakatau Posko yang telah membantu dalam pengumpulan


data.

3. Rekan Mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan.

Demikian tugas ini kami buat semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Cimahi, Juni 2015

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................................. 1

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB 2 DASAR TEORI .......................................................................................... 4

2.1 Pengertian Pandai Besi ............................................................................. 4

2.1.1 Pemilhan Bahan yang Digunakan ..................................................... 5

2.1.2 Tahapan Proses Manfaktur Memandai Besi ..................................... 5

2.2 Teori Proses Manufaktur .......................................................................... 5

2.2.1 Penempaan (Forging)........................................................................ 5

2.3 Heat Treatment ........................................ Error! Bookmark not defined.

2.3.1 Proses – proses Heat Treatment ....... Error! Bookmark not defined.

2.3.2 Jenis Pengerasan Permukaan ........... Error! Bookmark not defined.

2.3.3 Hal-hal yang Mempengaruhi Laju Pendinginan ... Error! Bookmark


not defined.

BAB 3 PROSES MANUFAKTUR GOLOK .......................................................... 9

3.1 Pemilihan Bahan Baku Golok .................................................................. 9

3.2 Proses Manufaktur Golok ......................................................................... 9

3.2.1 Penempaan (Forging)........................................................................ 9

3.2.2 Pembentukan ................................................................................... 11

3.2.3 Hardening ........................................................................................ 12

ii
3.2.4 Polishing.......................................................................................... 12

3.2.5 Finishing.......................................................................................... 13

3.3 Data dan Analisa .................................................................................... 13

3.3.1 Metalografi ...................................................................................... 13

3.3.2 Uji Keras ......................................................................................... 14

BAB 4 KESIMPULAN ......................................................................................... 17

Kesimpulan dari golok yang kami analisa adalah : ........................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Engsel adalah alat untuk memasang pintu, jendela atau perabot lain pada
kusen maupun media sejenis untuk menciptakan sistem buka tutup. Engsel ini
banyak sekali jenis dan sistem penggunaanya.
Di setiap perabotan baik perabotan rumah tanggan ataupun perabotan
kantor, Engsel biasa dipasang untuk sistem buka tutup pintu, lemari, jendela, dan
masih banyak lagi. Engsel yang biasa digunakan untuk sistem buka tutup ini
adalah engsel kupu – kupu (butterfly) Disebut engsel kupu – kupu sebab
bentuknya memang seperti binatang kupu – kupu. Engsel ini punya tampilan
bermcam – macam dengan pola yang berbeda – beda. Namun pada umumnya
ukurannya hanya kecil saja. Selain bisa dipakai untuk menyatukan dua komponen,
engsel ini juga dapat memunculkan kesan yang lebih artistik sehingga sering
dipasang di bagian luar
Engsel merupakan sebuah hasil atau produk dari pabrik furnitur besi yang
mana dalam pembuatannya melaui tahapan-tahapan proses manufaktur dan
pemilihan bahan yang sesuai untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Jenis dan bentuk engsel sendiri dapat disesuaikan dari permintaan dan
fungsi engsel itu nantinya, karena ada banyak jenis engsel yang memiliki
kelebihan dan kekuranganya masing – masing.
Dari latar belakang tersebut, maka disusunlah makalah ini untuk
mengetahui proses-proses manufaktur yang diterapkan dalam pembuatan engsel
dan dalam pemilihan bahan yang berpariasi

1.2 Identifikasi Masalah

Sehubungan dengan latar belakang yang menjadi pembahasan dalam


makalah ini adalah :

1. Apa itu engsel?


2. Jenis material yang digunakan untuk membuat engsel?

1
3. Proses manufaktur dari pembuatan engsel?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan laporan iniuntuk memenuhi tugas mata kuliah Pemilihan


Bahan Dan Proses Manufaktur. Selain itu laporan ini juga bertujuan untuk
meneliti proses manufaktur pada engsel dan untuk meneliti jenis material yang
digunakannya.

1.4 Metodologi Penelitian


Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metode
yuridis normative dan deskriptif analisis.
Metode yuridis normative dilakukan dengan penelitian kepustakaan
sehingga diperoleh data-data teoritis. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan
menganalisa data atau informasi yang terkumpul pada saat proses pengerjaan.
Langkah awal penelitian dilakukan dengan studi literature baik itu dari
buku ajar, internet ataupun diskusi dilapangan secara langsung sehingga didapat
pengetahuan awal untuk mengkaji objek penelitian pada tahap selanjutnya. Studi
literature juga dilakukan untuk membandingakan dan sebagai sumber utama
proses-proses manufaktur pada objek penelitian yang dapat dan mungkin
dilakukan.
Penelitian yang dilakukan menghasilkan data-data penting yang nantinya
akan memberikan jawaban dari tujuan. Data-data didapatkan dari hasil pengujian
atau pengukuran yang telah dilakukan pada objek penelitian. Data yang
didapatkan antara lain hasil uji keras, dan metalografi.

1.5 Sistematika Pembahasan


Pada Bab 1 dijelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan
penulisan, metodologi penelitian yang memaparkan bagaimana penelitian ini
dilakukan dan sistematika pembahasan yang membahas kerangka penulisan tiap
bab.

2
Pada Bab 2 dipaparkan landasan teori mengenai objek penelitian yang
didapatkan dari
Studi literatur.
Bab 3 dipaparkan proses-proses manufaktur engsel kupu - kupu.
Bab 4 dipaparkan data yang diperoleh dari hasil pengujian atau
pengukuran dan analisis berdasarkan data yang diperoleh.
Bab 5 berisi tentang kesimpulan yang diambil berdasarkan analisa yang
dilakukan pada objek penelitian engsel kupu - kupu.
Lampiran berisi tentang gambar-gambar engsel kupu – kupu.

3
BAB 2
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Engsel


Engsel merupakan bahan material untuk mengangkat daun pintu pada
kusen dan berfungsi untuk meringankan ayunan buka tutup daun pintu. Engsel
juga bisa berperan dalam fungsi tambahan lainnya seperti aspek estetika. Hal ini
tergantung dari tipe engsel yang digunakan.
Engsel yang beredar di pasaran terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran.
Pemilihan engsel yang akan dibeli biasanya tergantung dari daun pintu yang
dipergunakan, apakah daun pintu panel, pintu tripleks, pintu alumunium atau
pintu kaca. Semakin berat pintu seperti pintu panel, maka dibutuhkan engsel yang
kuat dari jenis kuningan atau stainless steel dengan ukuran minimal 5 inch serta
disarankan dipasang 3 buah engsel untuk setiap daun pintu. Sebaliknya bila Anda
memasang pintu kecil untuk keperluan kandang kelinci, maka Anda mungkin
hanya membutuhkan engsel yang tipis dengan ukuran 2 inch.

Gambar 2. 1 Engsel Pantat ( Butt Hinges)

Engsel pantat merupakan engsel paling umum dijumpai di pasaran. Engsel


ini terbuat dari dua piringan logam yang disambung oleh cincin logam. Piringan
logam yang satu dipasang di daun pintu sementara lainnya pada kusen pintu.

4
Engsel ini paling sederhana desainnya dan kuat serta harganya cukup murah.
Rata-rata setiap daun pintu membutuhkan tiga buah engsel pantat untuk
dipasangkan pada kusen pintu. Untuk daun pintu yang lebih berat bisa dibutuhkan
lebih dari tiga buah engsel. Namun kelemahan dari engsel ini adalah kurang
fleksibel karena tidak bisa disesuaikan lagi setelah dipasang. Selain itu
pemasangan engsel ini kurang praktis karena harus membuat takikan (mortise)
pada daun pintu atau kusen. Engsel ini tersedia dalam berbagai ukuran dari 13mm
hingga 150mm.

2.1.1 Pemilhan Bahan yang Digunakan


Pemilihan Bahan Baku, dalam pemilihan bahan baku dasar biasanya
menggunakan bahan baku dari :
a. Stainless Steel
b. Mild Steel
c. Kuningan
2.1.2 Tahapan Proses Manufaktur Engsel
Dalam pembuatan produk yang dilakukan pabrikan engsel terdiri dari :
1. Pemotongan plat besi (cutting), stainless steel atau kuningan, proses ini
merupakan tahapan awal dari rangkaian proses manufaktur.
2. Pembentukan (forming) , proses ini dilakuan setelah pemotongan baja
besi.
3. Polishing/penghalusan, proses ini penghalusan yang dilakukan dengan
menggerinda atau mengikir, yang kemudian dilakukam pemolesan
untuk membuat engsel menjadi mengkilat disertai pelapisan atau
coating.

2.2 Teori Proses Manufaktur


2.2.1 Proses Cutting

Proses pemotongan adalah proses dimana material di potong sesuai

dengan ukuran yang diinginkan agar material tersebut dapat dikerjakan kedalam

proses berikutnya. Jenis – jenis proses pemotongan antara lain :

5
a. Blanking

Blanking adalah proses persiapan material, material dipotong sesuai

dengan yang dibutuhkan. Proses blanking bertujuan agar mendapatkan hasil

potongnya atau blank, sedangkan sisanya akan dibuang sebagai sampah atau

disebut scrap.

b. Cutting

Yaitu suatu proses pemotongan material yang masih berbentuk lembaran

(blank material). Proses cutting merupakan proses pemotongan beberapa bagian

dari suatu part. Sisa pemotongan dibuang sebagai scrap.


c. Trimming

Yaitu sutu proses pemotongan material pada bagian tepi. Biasanya proses

ini adalah lanjutan dari proses sebelumnya seperti draw, stamp dan sebagainya.

d. Notching.

Notching adalah proses pemotongan pada bagian pinggir material part,

biasanya pada progressive dies. Dengan pemotongan tersebut, part berangsur

terbentuk walaupun masih menempel pada scrap skeleton.


e. Parting atau Separating

Parting atau separating adalah proses pemisahan suatu part menjadi dua

bagian atau beberapa bagian dari sheet metal strip sehingga menghasilkan part

yang dikehendaki. Pada proses separating terdapat scrap yang tidak terpakai.

2.2.2 Proses Forming (pembentukan)


mendapatkan contour yang diinginkan. Proses forming, tidak

menghasilkan pengurangan atau penghilangan material seperti yang terjadi pada

proses cutting. Maka untuk istilah pembentukan juga berbeda-beda agar tidak

salah pengertian. Jenis-jenis proses pembentukan tersebut antara lain:

6
a. Bending

Bending adalah proses penekukan plat dimana hasil dari penekukan ini

berupa garis sesuai dengan bentuk sudut yang diinginkan.

b. Flanging.

Flanging adalah sama seperti bending namun garis bending yang

dihasilkan tidak lurus melainkan mengikuti bentuk part yang bersangkutan. Proses

ini dimaksudkan untuk memperkuat bagian sisi dari produk atau untuk alasan,

keindahan.

c. Forming.
Forming mengacu pada pengertian yang lebih sempit yang artinya adalah

deformasi dari sheet metal yang merupakan kombinasi dari proses bending dan

flanging. Proses forming menghasilkan bentuk yang sangat kompleks dengan

tekukan-tekukan serta contour part yang rumit.

d. Drawing.

Drawing adalah forming yang cukup dalam sehingga proses

pembentukannya memerlukan blank holder atau stripper dan air cushion / spring
untuk mengontrol aliran dari material. Untuk bentuk yang tidak beraturan

diperlukan bead untuk menyeimbangkan aliran material. Untuk menghasilkan

produk yang baik, sebaiknya digunakan steel sheet khusus proses drawing dan

menggunakan mesin press hidrolik.

e. Deep Drawing.

Deep Drawing merupakan proses drawing yang dalam sehingga untuk

mendapatkan bentuk dan ukuran produk akhir diperlukan beberapa kali proses

drawing. Blank holder / stripper mutlak diperlukan dan hanya dapat diproses pada

mesin press hidrolik dan menggunakan sheet metal khusus untuk deep drawing.

7
Tahapan dalam proses pembuatan hot element dan intermediate elemen
adalah sebagai berikut:
1. Proses Blanking yaitu proses persiapan material, dimana material dipotong
sesuai dengan yang dibutuhkan.
2. Proses Forming yaitu proses pembetukan dimana material yang sudah
dipersiapkan kemudian dibentuk agar mempunyai alur diagonal sesuai
dengan pesanan konsumen, dengan menggunakan dies dan mesin press.
3. Proses Trimming setelah dilakukan proses pembentuk maka proses
selanjutnya adalah proses trimming yaitu melakukan pemotongan pada
daerah pinggir benda kerja sebagai proses finishing agar produk lebih rapi.

2.3 Pelapisan ( Coating )

Dalam bidang material, coating merupakan salah satu teknik perlakuan


permukaan (surface treatment). Bila di terjemahkan bebas coating berarti
“pelapisan”. Dengan coating, permukaan suatu material dilapisi dengan material
yang lain, dengan tujuan “memperbaiki” sifat base-materialnya, seperti:
meningkatkan ketahanan aus, ketahanan korosi, fatigue life, sebagai thermal
barrier dll. Coating juga dapat memperindah bentuk karena lapisanya yang
membuat benda awal terlapisi.
Pada engsel pelapisan dilakukan untuk menghindari korosi dan juga
karena engsel biasa diaplikasikan pada perabotan rumah tangga sehingga harus
terlibah lebih bagus.

8
BAB 3
PROSES MANUFAKTUR ENGSEL

3.1 Pemilihan Bahan Baku Engsel


Dalam pemilihan bahan baku Engsel yang kami analisa menggunakan
bahan baku dari Mild Steel. Pemilihan bahan baku dari Mild Steel karena
memiliki komposisi yang tepat untuk sebuah engsel, selain itu Mild Steel
harganya lebih murah dibandingkan material lainya, karena pada engsel tidak
dibutuhkan material khusus atau material yang memeliki kekerasan yang tinggi,
terkecuali ada permintaan dari pelanggan yang megharuskan engsel memiliki
kekerasan tinggi atau spesifikasi lainya.

3.2 Proses Manufaktur Engsel


Pembuatan engsel ini terdiri dari beberapa proses manufaktur, yaitu :
1. Pemotongan
2. Pembentukan
3. Pengeboran
4. Coating

3.2.1 Penempaan (Forging)


Pada proses awal yaitu mengubah bahan baku menjadi lempengan baja
untuk dijadikan engsel. Proses manufaktur yang digunakan untuk mengubah
bahan baku adalah proses penempaan (forging).
Pada proses ini menggunakan metoda warm or hot forging, dimana proses
tempa yang dilakukan di atas temperatur kamar. Menggunaka metoda ini
dilakukan untuk mempermudah penempaan, karena pada proses penempaan ini
tidak memerlukan gaya yang lebih besar dibandingkan dengan metoda cold
forging.
Untuk pembuatan engsel jenis tempa yang digunakan adalah jenis open die
forging. Penempaan yang digunakan open die forgimg secara manual, yaitu
penempaan dengan palu atau martil.

9
Pada proses manufaktur ini bahan baku yang berasal dari bantalan
(bearing) yang biasa berbahan dasar material carbon steel, sehingga temperatur
kerja tempanya berkisar antara 850oC – 1150oC yang bisa dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Temperatur kerja hot forging
Metal or alloy Approximate range of hot
forging temperature (°C)

Aluminum alloys 400–550


Magnesium alloys 250–350
Copper alloys 600–900
Carbon and low–alloy steels 850–1150
Martensitic stainless steels 1100–1250
Austenitic stainless steels 1100–1250
Titanium alloys 700–950
Iron-base superalloys 1050–1180
Cobalt-base superalloys 1180–1250
Tantalum alloys 1050–1350
Molybdenum alloys 1150–1350
Nickel-base superalloys 1050–1200
Tungsten alloys 1200–1300

Sehingga urutan tahanpan proses penempaan awal yaitu :


1. Pemisahan ball dari bearing.
2. Memanaskan bahan baku di tungku dengan suhu kira-kira yang sesuai
dengan jenis materialnya yang dapat dilihat pada tabel 3.1.
3. Penempaan bahan baku yang sudah dipanaskan tersebut menggunakan
palu atau martil di atas baja tempa seperti pada Gambar 4.1.
4. Proses ke-2 dan ke-3 bisa dilakukan berulang sampai terbetuk
lempengan.
5. Lempengan yang terbuat dari bahan baku bantalan (bearing) disatukan
menjadi bentuk engsel, yang kemudian dilakukan kembali penempaan
seperti pada langkah ke-4 sampai bentuk diinginkan sesuai yang akan
dibuat.

10
Gambar 4.1 Proses penempaan bearing

3.2.2 Pembentukan
Pada proses pembentukkan ini dilakukan dengan proses cutting plat baja
dari bahan baku bearing tadi menjadi benuk kasar engsel yang diinginkan.
Yang sering digunakan dalam proses cutting ini menggunakan las, proses
ini menggunakan prinsip memotong besi atau baja dengan menggunakan panas
yang dihasilkan dari pembakaran reaksi kimia berupa gas. Teknik pemotongan
dengan cara ini memotong dengan cara memanaskan logam sampai mendekati
titik lumer (cair) kemudian ditekan dengan semburan gas pada tekanan tertentu
sehingga logam yang akan mencair tersebut terbuang sehingga logam terpotong.

Gambar 4.2 Proses Cutting dengan metode las

11
3.2.3 Hardening
Setelah pembentukan maka tahapan selanjutnya dilakukan proses
perlakuan panas untuk melakukan Hardening, hardening ini dilakukan dengan
cara quenching yaitu pemanas kembali dengan waktu tertentu kemudian
dilakuakan pendingan dengan cepat, dan pada proses pembuatan engsel ini
pendinginannya menggunakan media pendinginan air, sehingga engsel
mempunyai sifat yang keras.
Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan engsel pada temperatur
850oC sampai engsel berwarna oranye menyala pada proses pemanasan selama
setengah jam, kemudian engsel yang sudah dipanaskan tersebut didinginkan
secara perlahan dengan cara mencelupkan ke dalam air seperti pada gambar 4.3.

Gambar 4.3 Proses quenching


Pencelupan ini dilakukan untuk mendapatkan kekerasan yang maksimal,
sehingga engsel yang dihasilkan tidak mudah tumpul.

3.2.4 Polishing
Polishing adalah tahapan proses manufaktur ketika engsel yang dibuat
hampir selesai dimana bentuk dan sifat engsel yang diingikan telah selesai. Proses
ini dilakukan untuk menghaluskan bagian luar dari engsel dan membuatnya lebih
mengkilat.
Tahapan proses polihing yang dilakukan adalah :
1. Pembersihan kotoran yang terdapat pada engsel menggunakan air.

12
2. Setelah dibersihkan mulai amplas permukaan dari engsel, pada proses
pertama penggunakan amplas dengan grit 400, amplas sampai
permukaan engsel mulai mengkilau.
3. Setelah mulai terlihat mengkilau engsel kemudian di amplas dengan
grit 600 dan hasilnya akan lebih mengkilau dan jelas, maka lanjutkan
dengan amplas grit 1000.
4. Jika ingin mendapak hasil yang lebih mengklat proses ini bisa sampai
dengan amplas dengan grit 2000.

3.2.5 Finishing
Proses akhir yaitu finishing, finishing ini proses akhir dari pembuatan
engsel dengan perangkaian engsel menjadi produk yang utuh, yaitu perakitan mata
engsel dengan gagang atau pegangan engsel.
Setelah perakitan maka mata engsel diasah dengan sedut ketajaman
tertentu untuk menghasilkan ketajaman yang diinginkan.
Proses pengasahan engsel ini bisa menggunakan gerinda atau sharpmaker.
Setelah engsel sudah terlihat seutuhnya penambahan sarung engsel akan
menambah kesempurnaan dari engsel yang dibuat.

3.3 Data dan Analisa


3.3.1 Metalografi
Pada spesimen engsel dilakukan metalografi, tahapan-tahapannya akan
dijelaskan sebagai berikut. Bagian dari engsel dipotong dengan menggunakan
gergaji manual. Pengamplasan dilakukan mulai dari nomor 400 sampai nomor
2000 lalu dilanjutkan dengan pemolesan yang dilakukan dengan menggunakan
pasta. Kemudian dilakukan etsa. Etsa dilakukan dengan menggunakan etchen
Nital yaitu HNO3 (asam nitrat) dengan pelarut alkohol dengan konsentrasi 2%
selama kurang lebih 3 detik.

13
Gambar 4.4 Metalografi spesimen dari engsel

Untuk membandingkan struktur mikro spesimen engsel pada gambar 4.4


maka struktur mikro dari bahan baku yaitu bearing juga kami cari melalui data
dari laporan yang telah dilakukan dari berbagai sumber. Dan struktur mikro
bearing dapat dilihat ada gambar 4.5.

Gambar 4.5 Struktur mikro outer bearing

3.3.2 Uji Keras


Dari pengujian kali ini kami menggunakan metode pengujian Rockwell C
yang diamana metoda Rockwell C ini indentornya berbentuk kerucut dan terbuat
dari bahan jenis diamond berikut gambar skema pengujiannya

14
Gambar 4.6 Skema pengujian Rockwell C

Dengan waktu tekan 10 detik melauli pendinginan cepat media air, oli,
udara terbuka, dan tungku dalam keadaan mati kami peroleh data sebagai berikut :

Tabrel 4.1 Hasil Uji Kekerasan Rockwell C

Bagian Engsel yang Bagian Engsel yang tidak


No mendapatkan proses mendapatkan proses
hardening hardening
1 62 46,8
2 52 58,9
3 63 53,2
4 56 53
X 59,5 51,47

Tabel 4.2 Harga Kekerasan Material Engsel

Harga Kekerasan Pengujian Rata-rata kekerasa Bearing


Bagian Rockwell Brinell Brinell

15
D 59,5 HRC 642 HB 201 HB
B 51,47 HRC 534 HB 201 HB

16
BAB 4 KESIMPULAN

Kesimpulan dari engsel yang kami analisa adalah :


1. Engsel bisa memakai bahan baku dari bantalan (bearing)
2. Pembuatan engsel melalui tahapan-tahapan proses manufaktur
penempaan (forging), pembentukkan, hardening, polishing, dan
finishing.
3. Metoda penempaan menggunakan hot forging dengan jeni open die
forging secara manual menggunakan palu.
4. Pembentukkan dengan pengelesan, dan pemotongan dengan
menggunakan weld cutting.
5. Hardening dengan cara quanching yaitu dengan media pendingin air.
6. Proses polishing dengan cara penggerindaan dengan mengamplas
bagian permukaan engsel dengan tahan tingkat grid amplas.
7. Proses finishing dengan perakitan engsel dan pengasahan mata engsel.
8. Harga kekerasan engsel pada bagian yang mengalami proses
hardening yaitu 642 HB
DAFTAR PUSTAKA

1. Modul Panduan Praktikum Metalurgi Fisik, 2014, Bandung :


Laboratorium Material Teknik UNJANI.
2. Modul Praktikum Metalurgi Fisik. 2014. Hardenability. Laboratorium

Material Teknik Mesin Universitas Jenderal Achmad Yani: Cimahi

3. Joe, “Tutorial Mirror Finish 1”. 4 Juni 2015.

http://engselgalonggongmanonjaya.blogspot.com

4. Niko, Hardiananto. “Analisis Struktur Mikro Outer Ring dari Ball

Bearing 6004-2RS”. 4 Juni 2015.

https://hardiananto.wordpress.com/2010/08/20/analisis-struktur-mikro-

outer-ring-dari-ball-bearing-6004-2rs/

5. Sarimin, Dina Restia Ningrum. 2013. Pengaruh Proses Pemanasan


dengan Variasi Media Pendingin. Jurnal.

Anda mungkin juga menyukai