Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ELEMEN MESIN 2

Transmisi Sabuk - V

Disusun Oleh :

FRANSISCUS XAVERIUS GUWOWIJOYO

(4312216252)

Universitas Pancasila
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin
1

ABSTRAK
Jarak yang jauh antara dua buah poros sering tidak memungkinkan transmisi langsung
dengan roda gigi. Dalam hal demikian, cara transmisi putaran atau daya yang lain dapat
diterapkan, dimana sebuah sabuk luwes atau rantai dibelitkan sekeliling puli atau sproket pada
poros.
Transmisi dengan elemen mesin yang luwes dapat digolongkan atas transmisi sabuk,
transmisi rantai, dan transmisi kabel atau tali. Dari macam-macam transmisi tersebut, kabel
atau tali hanya dipakai untuk maksud khusus. Transmisi sabuk dapat dibagi atas tiga
kelompok. Dalam kelompok pertama, sabuk rata dipasang pada puli silinder dan meneruskan
momen antara dua poros yang jaraknya dapat sampai 10 (m) dengan perbandingan putaran
antara 1/1 sampai 6/1. Dalam kelompok kedua, sabuk dengan penampang trapezium dipasang
pada puli dengan alur dan meneruskan momen antara dua poros yang jaraknya sampai 5 (m)
dengan perbandingan putaran antara 1/1 sampai 7/1. Kelompok yang terakhir terdiri atas
sabuk dengan gigi yang digerakkan dengan sproket pada jarak pusat sampai mencapai 2 (m),
dan meneruskan putaran secara tepat dengan perbandingan antara 1/1 dan 6/1. Sabuk rata
yang banyak ditulis dalam buku-buku lama belakangan ini pemakaiannya tidak seberapa luas
lagi. Namun akhir-akhir ini dikembangkan sabuk rata untuk beberapa pemakaian khusus.
Sebagian besar transmisi sabuk menggunakan sabuk-V karena mudah penanganannya
dan harganya pun murah. Kecepatan sabuk direncanakan untuk 10 sampai 20 (m/s) pada
umumnya, dan maksimum sampai 25 (m/s). daya maksimum yang dapat ditransmisikan
kurang lebih sampai 500 (kW).
Karena dengan slip antara puli dan sabuk, sabuk-V tidak dapat meneruskan putaran
dengan perbandingan yang tepat. Dengan sabuk gilir transmisi dapat dilakukan dengan
perbandingan yang tepat. Dengan sabuk gilir transmisi dapat dilakukan dengan perbandingan
putaran yang tepat seperti pada roda gigi. Karena itu sabuk gilir telah digunakan secara luas
dalam industry mesin jahit, computer, mesin fotokopi, mensin tik listrik. Dsb.

*Note : Sebagai pembatasan karena yang paling sering digunakan adalah v-belt maka untuk
pembahasan perhitungan hanya akan dibahas perhitungan v-belt

BAB I PENDAHULUAN
Jenis Sabuk
Ada tiga jenis belt ditinjau dari segi bentuknya adalah sebagai berikut:
1. Flat belt (belt datar). Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 (a), adalah banyak digunakan
pada pabrik atau bengkel, dimana daya yang ditransmisikan berukuran sedang dari pulley
yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah tidak melebihi 8 meter. Daya
yang ditansmisikan dari satu pulley ke pulley lain oleh beberapa jenis belt sebagai berikut:
a. Open belt drive (penggerak belt terbuka). Seperti ditunjukkan pada Gambar 2, belt

jenis ini digunakan dengan poros sejajar dan perputaran dalam arah yang sama.
Dalam kasus ini, penggerak A menarik belt dari satu sisi (yakni sisi RQ bawah) dan
meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM atas). Jadi tarikan pada sisi bawah akan
lebih besar dari pada sisi belt yang atas (karena tarikan kecil). Belt sisi bawah
(karena tarikan lebih) dinamakan tight side sedangkan belt sisi atas (karena tarikan
kecil) dinamakan slack side, seperti pada Gambar 2.
b. Crossed atau twist belt drive (penggerak belt silang). Seperti ditunjukkan pada
Gambar 3, belt jenis ini digunakan dengan poros sejajar dan perputaran dalam arah
yang berlawanan. Dalam kasus ini, penggerak menarik belt dari satu sisi (yakni sisi
RQ) dan meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM). Jadi tarikan dalam belt RQ akan
lebih besar dari pada sisi belt LM. Belt RQ (karena tarikan lebih) dinamakan tight
side sedangkan belt LM (karena tarikan kecil) dinamakan slack side, seperti pada
3

Gambar 3.

c. Quarter turn belt drive (penggerak belt belok sebagian). Mekanisme transmisi dapat
dilihat pada Gambar 4. Untuk mencegah belt agar tidak keluar/lepas dari pulley,
maka lebar permukaan pulley harus lebih besar atau sama dengan 1,4b, dimana b
adalah lebar belt.

d. Belt drive with idler pulley (penggerak belt dengan pulley penekan). Dinamakan
juga jockey pulley drive seperti ditunjukkan pada Gambar 5, digunakan dengan
poros parallel dan ketika open belt drive tidak dapat digunakan akibat sudut kontak
yang kecil pada pulley terkecil. Jenis ini diberikan untuk mendapatkan rasio
kecepatan yang tinggi dan ketika tarikan belt yang diperlukan tidak dapat diperoleh
4

dengan cara lain.

e. Compound belt drive (penggerak belt gabungan). Seperti ditunjukkan pada Gambar
6, digunakan ketika daya ditransmisikan dari poros satu ke poros lain melalui
sejumlah pulley

f. Stepped or cone pulley drive (penggerak pulley kerucut atau bertingkat). Seperti
pada Gambar 7, digunakan untuk merubah kecepatan poros yang digerakkan ketika
poros utama (poros penggerak) berputar pada kecepatan konstan.
g. Fast and loose pulley drive (penggerak pulley longgar dan cepat). Seperti pada
Gambar 8, digunakan ketika poros mesin (poros yang digerakkan) dimulai atau
diakhiri kapan saja diinginkan tanpa mengganggu poros penggerak. Pulley yang
dikunci ke poros mesin dinamakan fast pulley dan berputar pada kecepatan yang
sama seperti pada poros mesin. Loose pulley berputar secara bebas pada poros
5

mesin dan tidak mampu mentransmisikan daya sedikitpun. Ketika poros mesin
dihentikan, belt ditekan ke loose pulley oleh perlengkapan batang luncur (sliding
bar).

2. V-Belt (belt bentuk V). Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 (b), adalah banyak digunakan
dalam pabrik dan bengkel dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari
pulley yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah sangat dekat. Menurut
standar India (IS:2494-1974), V-belt dibuat dalam lima tipe yaitu A,B,C,D, dan E. Dimensi
untuk V-belt standar ditunjukkan pada Tabel 1. Pulley untuk V- belt dibuat dari besi cor
atau baja untuk menurunkan berat.

Gbr. 2 Ukuran penampang sabuk-V.

Keuntungan V-belt:
1. Penggerak V-belt lebih kokoh akibat jarak yang pendek diantara pusat pulley.
2. Gerakan adalah pasti, karena slip antara belt dan alur pulley diabaikan.
3. Karena V-belt dibuat tanpa ujung dan tidak ada gangguan sambungan, oleh karena itu
pergerakan menjadi halus.
4. Mempunyai umur yang lebih lama, yaitu 3 sampai 5 tahun.
5. Lebih mudah dipasang dan dibongkar.
6. Belt mempunyai kemampuan untuk melindungi beban kejut ketika mesin di-start.
7. Mempunyai rasio kecepatan yang tinggi (maksimum 10).
8. Aksi desak belt dala alur memberikan nilai rasio tarikan yang tinggi. Oleh karena itu
daya yang ditransmisikan oleh V-belt lebih besar dari pada belt datar untuk koefisien
gesek, sudut kontak dan tarikan yang sama dalam belt.
9. V-belt dapat dioperasikan dalam berbagai arah, dengan sisi tight belt pada bagian atas
atau bawah. Posisi garis pusat bisa horizontal, vertical atau miring.
Kerugian V-belt:
1. V-belt tidak bisa digunakan untuk jarak pusat yang panjang, karena berat per unit
panjang yang besar.
2. V-belt tidak bisa tahan lama sebagaimana pada belt datar.
3. Konstruksi pulley untuk V-belt lebih rumit dari pada pulley dari belt datar.
4. Karena V-belt mendapat sejumlah creep tertentu, oleh karena itu tidak cocok untuk
penerapan kecepatan konstan.
5. Umur belt sangat dipengaruhi oleh perubahan temperature, tarikan belt yang tidak
tepat dan panjang belt yang tidak seimbang.
6. Tarikan sentrifugal mencegah penggunaan V-belt pada kecepatan di bawah 5 m/s dan
di atas 50 m/s.
3. Circular belt atau rope (belt bulat atau tali). Banyak digunakan dalam pabrik dan bengkel
dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari pulley yang satu ke pulley
yang lain ketika jarak dua pulley adalah lebih dari 8 meter.
7

Pada makalah ini hanya sebatas membahas pada klasifikasi transmisi sabuk-V.

BAB II PEMBAHASAN
Sabuk-V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapezium. Tenunan tetoron
dan semacamnya dipergunakan sebagai inti sabuk untuk membawa tarikan yang besar
(Gambar 1). Sabuk-V dibelitkan di keliling alur puli yang berbentuk V pula. Bagian sabuk
yang sedang membelit puli ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan
bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji, yang akan
menghasilkan transmisi daya yang besar pada

1. Terpal
2. Bagian penarik
3. Karet Pembungkus
4. Bantal karet
Gbr. 1 Konstruksi sabuk-V.

Gbr. 2 Ukuran penampang sabuk-V.

Gbr. 3 Diagram pemilihan sabuk-V.

tegangan yang relatif rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan sabuk-V dibandingkan
dengan sabuk rata.
Dalam Gambar 2 diberikan berbagai proporsi penampang sabuk-V yang umum
dipakai.
Atas dasar daya rencana dan putaran poros penggerak, penampang sabuk-V yang
Tabel. 1 Faktor koreksi

sesuai dapat diperoleh dari Gambar 3. Daya rencana dihitung dengan mengalikan daya yang
akan diteruskan dengan faktor koreksi dalam Tabel 1. Diameter nominal puli-V dinyatakan
sebagai diameter dp (mm) dari suatu lingkaran di mana lebar alurnya di dalam Gambar 4
menjadi l0 dalam Tabel 2 Transmisi sabuk-V hanya dapat menghubungkan poros-poros yang
sejajar dengan arah putaran yang sama. Dibandingkan dengan transmisi roda gigi atau rantai,
sabuk-V bekerja lebih halus dan tak bersuara. Untuk mempertinggi daya yang ditransmisikan,
dapat dipakai beberapa sabuk-V yang dipasang sebelah-menyebelah.

Gbr. 4 Profil alur sabuk-V.

Tabel 1. Faktor Koreksi

Tabel 2. Ukuran pulley-V.


Penampang

Diameter Nominal (diameter

sabuk-V

lingkaran jarak dp)


71 100

D
E

()

W*

34

11,95

101 125

36

12,12

126 atau lebih


125 160

38
34

12,30
15,86

161 200

36

16,07

201 atau lebih


200 250

38
34

16,29
21,18

251 315

36

21,45

316 atau lebih


355 450

38
36

21,72
30,77

451 atau lebih


500 630

38
36

31,14
36,95

631 atau lebih

38

37,45

Lo

Ko

9,2

4,5

8,0

15,0

10,0

12,5

5,5

9,5

19,0

12,5

16,9

7,0

12,0

25,5

17,0

24,6

9,5

15,5

37,0

24,0

28,7

12,7

19,3

44,5

29,0

* Harga-harga dalam kolom W menyatakan ukuran standar.

10

Jarak sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai 2 kali diameter puli besar. Di dalam
perdagangan terdapat berbagai panjang sabuk-V. Nomor nominal sabuk-V dinyatakan dalam
panjang kelelilingnya dalam inch. Tabel 3(a) dan (b) menunjukkan nomor-nomor nominal dari
sabuk standar utama. Dalam Tabel 3(c) diperlihatkan panjang keliling sabuk-V sempit yang
akan dibahas kemudian. Diameter puli yang terlalu kecil akan memperpendek umur sabuk.
Dalam Tabel 4 diberikan diameter puli minimum yang diizinkan dan dianjurkan menurut jenis
sabuk yang bersangkutan.
Sekarang lihatlah Gambar 5 di mana putaran puli penggerak dan di gerakkan berturutturut adalah n1 (rpm) dan n2 (rpm), dan diameter nominal masing-masing adalah dp (mm) dan
Dp (mm), serta perbandingan putaran u dinyatakan dengan n2|n1 ata dp|Dp. Karena sabuk_V
biasanya dipakai untuk menurunkan putaran, maka perbandingan yang umum dipakai ialah
perbandingan reduksi I (i > l), dimana

(1)

Kecepatan linear sabuk-V (m/s) adalah


(2)

Jarak sumbu poros dan panjang keliling sabuk berturut-turut adalah C (mm) dan L (mm).
aO1A = bO2B = 2y

11

Tabel 2 (a)

Sabuk-V standar (bertanda*)

13

Penampang A
*65

117

16

Penampang B
*68

*120

14

*66

*118

17

*69

121

15

*67

119

18

*70

*122

16

*68

*120

19

*71

123

*17

*69

121

20

*72

124

*18

*70

*122

21

*73

*125

*19

*71

123

22

*74

126

*20

*72

124

23

*75

127

*21

*73

*125

24

*76

*128

*22

*74

126

*25

*77

129

*23

*75

127

*26

*78

*130

*24

*76

*128

*27

*79

131

*25

*77

129

*28

*80

*132

*26

*78

*130

*29

*81

133

*27

*79

131

*30

*82

134

*28

*80

132

*31

*83

*135

*29

*81

133

*32

*84

136

*30

*82

134

*34

*85

137

*31

*83

*135

*35

*86

*138

*32

*84

136

*36

*87

139

*33

*85

137

*37

*88

*140

*34

*86

138

*38

*89

141

*35

*87

139

*39

*90

*142

*36

*88

*140

*40

*91

143

*37

*89

141

*41

*92

144

*38

*90

142

*42

*93

*145

*39

*91

143

*43

*94

146

*40

*92

144

*44

*95

147

*41

*93

*145

*45

*96

*148

*42

*94

146

*46

*97

149

*43

*95

147

*47

*98

*150

*44

*96

148

*48

*99

151

*45

*97

149

*49

*100

152

*46

*98

*150

*50

101

153

*47

*99

151

*51

*102

154
12

*48

*100

152

*52

103

*155

*49

101

153

*53

104

156

*50

*102

154

*54

*105

157

*51

103

*155

*55

106

158

*52

104

156

*56

107

159

*53

*105

157

*57

*108

*160

*54

106

158

*58

109

161

*55

107

159

*59

*110

162

*56

*108

*160

*60

111

163

*57

109

161

*61

*112

164

*58

*110

162

*62

113

*165

*59

111

163

*63

114

166

*60

*112

164

*63

*115

167

*61

113

*165

*64

116

168

*62

114

166

*65

117

169

*63

*115

167

*66

*118

*170

*64

116

168

*67

119

171

Tabel 3 (b) Panjang Sabuk-V standar.


Nomor Nominal
(inch)
(mm)
10
254

Nomor nominal
(inch)
(mm)
45
1143

Nomor nominal
(inch)
(mm)
80
2032

Nomor nominal
(inch)
(mm)
115
2921

11

279

46

1168

81

2057

116

2946

12

305

47

1194

82

2083

117

2972

13

330

48

1219

83

2108

118

1997

14

356

49

1245

84

2134

119

3023

15

31

50

1270

85

2159

120

3048

16

406

51

1295

86

2184

121

3073

17

432

52

1321

87

2210

122

3099

18

457

53

1346

88

2235

123

3124

19

483

54

1372

89

2261

124

3150

20

508

55

1397

90

2286

125

3175

21

533

56

1422

91

2311

126

3200

22

559

57

1448

92

2337

127

3226

23

584

58

1473

93

2362

128

3251

24

610

59

1499

94

2388

129

3277

25

635

60

1524

95

2413

130

3302

26

660

61

1549

96

2438

131

3327

27

686

62

1575

97

2464

132

3353

28

711

63

1600

98

2489

133

3378
13

29

737

64

1626

99

2515

134

3404

30

762

65

1651

100

2540

135

3429

31

787

66

1676

101

2565

136

3454

32

813

67

1702

102

2591

137

3480

33

838

68

1727

103

2616

138

3505

34

864

69

1753

104

2642

139

3530

35

889

70

1778

105

2667

140

3556

36

914

71

1803

106

2692

141

3581

37

940

72

1829

107

2718

142

3607

38

965

73

1854

108

2743

143

3632

39

991

74

1880

109

2769

144

3658

40

1016

75

1905

110

2794

145

3683

41

1041

76

1930

111

2819

146

3708

42

1067

77

1956

112

2845

147

3734

43

1092

78

1981

113

2870

148

3759

44

1118

79

2007

114

2896

149

3785

Gbr. 5 Perhitungan panjang keliling


sabukkeliling

Tabel 3 (c)

Panjang sabuk-V sempit


3V

5V
Panjang

Panjang

Nomor

Panjang

keliling pada

Nomor

Panjang

keliling pada

nominal sabuk

keliling (mm)

jarak bagi

nominal sabuk

keliling (mm)

jarak bagi

3V 250

635

sabuk (mm)
631

5V 500

1270

sabuk (mm)
1262

3V 265

673

669

5V 530

1346

1338

3V 280
3V 300

711
762

707
758

5V 560
5V 600

1422
1542

1414
1516

3V 315

800

796

5V 630

1600

1592

3V 355
3V 355

851
902

847
898

5V 670
5V 710

1702
1803

1694
1795
14

3V 375

953

949

5V 750

1905

1897

3V 400
3V 425

1016
1080

1012
1076

5V 800
5V 850

2032
2159

2024
2151

3V 450

1143

1139

5V 900

2286

2278

3V 475
3V 500

1207
1270

1203
1266

5V 950
5V 1000

2413
2540

2405
2532

3V 350

1346

1342

5V 1060

2692

2684

3V 560

1422

1418

5V 1120

2845

2839

Tabel 4

Diameter minimum puli yang diizinkan dan dianjurkan (mm)

Penampang
Diameter min. yang
diizinkan
Diameter min. yang
dianjurkan

65

115

175

300

450

95

145

225

350

550

Maka

Oleh karena

Maka
(3)

Dalam perdagangan terdapat bermacam-macam ukuran sabuk. Namun, mendapatkan


sabuk yang panjangnya sama dengan hasil perhitungan umumnya sukar.

15

Jarak sumbu poros C dapat dinyatakan sebagai


(4)

Di mana

(5)

Sudut lilit atau sudut kontak dari sabuk pada alur puli penggerak harus diusahakan
sebesar mungkin untuk memperbesar panjang kontak antara sabuk dan puli. Gaya gesekan
berkurang dengan mengecilnya sehingga menimbulkan slip antara sabuk dan puli. Jika jarak
poros adalah pendek sedangkan perbandingan reduksinya besar, maka sudut kontak pada puli
kecil (puli penggerak) akan menjadi kecil. Dalam hal ini dapat dipakai dalam sebuah puli
penegang seperti dalam Gambar 7 untuk memperbesar sudut kontak tersebut.

Gbr. 6 Sudut kontak

Bila sabuk-V dalam keadaan diam tidak meneruskan momen, maka tegangan
diseluruh panjang sabuk adalah sama. Tegangan ini disebut tegangan awal. Bila sabuk bekerja

16

meneruskan momen, tegangan akan bertambah pada sisi tarik (bagian pangjang sabuk yang
menarik) dan berkurangnya pada sisi kendor (bagian panjang sabuk yang tidak menarik).
Jika tarikan pada sisi tarik dan sisi kendor berturut-turut adalah F 1 dan F2 (kg), maka
(6)

besarnya gaya tarik efektif Fe (kg) untuk menggerakkan puli yang digerakkan adalah

Fe adalah gaya tangensial efektif yang bekerja sepanjang lingkaran jarak bagi alur puli. Jika
koefisien gesek nyata antara sabuk puli adalah , maka

(7)

Persamaan ini disebut persamaan Eytelwein. Besarnya daya dapat ditransmisikan oleh satu
sabuk

(kW) diberikan oleh persamaan berikut ini.

(8)

Dimana Fe (kg) gaya tarik yang diizinkan untuk setiap sabuk, dan n1 (rpm) adalah putaran puli
penggerak. Dalam praktek, persamaan di atas harus dikoreksi terhadap faktor-faktor yang
bekerja pada sabuk seperti gaya sentrifugal, lenturan, dll.
Persamaan berikut ini biasanya dipakai untuk sabuk-V standar.
(9)
17

dimana C1 sampai C3 adalah konstanta-kontanta.


Untuk menyederhanakan perhitungan, setiap produsen sabuk mempunyai katalog yang
berisi daftar untuk memilih sabuk. Tabel 5 menunjukkan daftar kapasitas dari daya yang
ditransmisikan untuk sabuk bila dipakai puli dengan diameter minimum yang dianjurkan.
Tabel 5 Kapasitas daya yang ditransmisikan untuk satu sabuk tunggal, Po (kW)

Sabuk-V sempit akan menjadi lurus pada kedua sisinya bila dipasang pada alur puli
(Gambar 8). dengan demikian akan terjadi kontak yang merata dengan puli sehingga keausan
pada sisinya dapat dihindari. Ada tiga macam proporsi penampang untuk sabuk-V sempit
seperti dalam gambar 9

Gbr. 9 Ukuran penampang sabuk-V sempit

18

Kapasitas transmisi daya Po (kW) untuk satu sabuk dapat dihitung dari
(10)

di mana C1 sampai C5 adalah konstanta-konstanta. Seperti juga pada sabuk-V standar, daya Po
tersebut juga dapat ditemui dalam daftar perhitungan yang terdapat dalam katalog produsen.
Tabel 6 memberikan kapasitas daya yang ditransmisikan dan faktor tambahan untuk masingmasing perbandingan reduksi untuk sabuk tipe 3V dan 5V yang mempunyai puli dengan
diameter minimum yang dianjurkan.
Tabel 6 Kapasitas daya yang ditransmisikan untuk satu sabuk-V sempit tunggal, Po (kW).

Persamaan-persamaan di atas hanya sesuai untuk sudut kontak = 180o. untuk


perbandingan reduksi yang besar dan sudut kontak lebih kecil dari 180 o menurut perhitungan
dengan rumus (11), kapasitas daya yang diperoleh harus dikalikan dengan faktor koreksi yang
bersangkutan K seperti diperlihatkan dalam Tabel 7. Besarnya sudut kontak diberikan oleh
(11)

Jumlah sabuk yang diperlukan dapat diperoleh dengan membagi Pd dengan Po . K


atau
(12)

19

Harga N yang relative besar akan menyebabkan getaran pada sabuk yang
mengakibatkan penurunan efisiensinya. Dalam hal demikian perencanaan harus diperbaiki
dengan menggunakan sabuk yang lebih besar penampangnya. Dalam hal transmisi dengan
lebih dari satu sabuk perlu diperhatikan bahwa panjang, mutu, dll., dari masing-masing sabuk
dapat akan mengakibatkan tegangan yang berbeda pula.
Untuk dapat memelihara tegangan yang cukup dan sesuai pada sabuk, jarak poros puli
harus dapat disetel ke dalam aupun ke luar (Gambar 10). Daerah penyetelan untuk masingmasing penampang penampang sabuk diberikan dalam Tabel 8. Tegangan sabuk dapat diukur
dengan timbangan di mana sabuk ditarik pada titik tengah antara kedua
Tabel 7

Faktor koreksi K.
Sudut kontak puli kecil ()

Faktor koreksi K

0,00

180

1,00

0,10

174

0,99

0,20

169

0,97

0,30

163

0,96

0,40

157

0,94

0,50

151

0,93

0,60

145

0,91

0,70

139

0,89

0,80

133

0,87

0,90

127

0,85

1,00

120

0,82

1,10

113

0,80

1,20

106

0,77

1,30

99

0,73

1,40

91

0,70

1,50

83

0,65

20

Tabel 8

Daerah peyetelan jarak sumbu poros

(Satuan : mm)

Ke sebelah dalam dari

Ke sebelah luar dari letak


standar Ci (umum untuk

280-970

letak standar Ci
A B C D E
20 25

38-60

970-1500

20

25 40

40

60-90

1500-2200

20

35 40

50

90-120

2200-3000

25

35 40

65

120-158

3000-4000

25

35 40 50

75

Nomor nominal

Panjang keliling

sabuk

sabuk

11-38

Tabel 9

semua tipe)
25

Daerah beban untuk tegangan sabuk yang sesuai.


Penampang

Beban minimum

0,68

1,58

2,93

5,77

9,60

Beban maksimum

1,02

2,38

4,75

8,61

14,30

puli seperti dalam Gambar 11. Jika beban untuk melenturkan sabuk sebesar 1,6 (mm) setiap
100 (mm) jarak bentaengan terletak antara harga maksimum dan minimum yang diberikan
dalam Tabel 9, maka besarnya tegangan sabuk dianggap sesuai.
Jika transmisi sabuk diperlengkapi dengan puli pengikut untuk memelihara tegangan
sabuk, maka puli ini harus dipasang di sebelah dalam dari sisi kendor dekat pada puli besar,
seperti Gambar 12. Dipandang dari segi ketahanan sabuk, dianjurkan untuk tidak menekan
sabuk dari sebelah luarnya.

Gbr. 12 Kedudukan yang baik untuk puli


pengikut

Sudut antara kesua sisi penampang sabuk yang dianggap sesuai adalah sebesar 30
sampai 40 derajat. Semakin kecil sudut ini, gesekan akan semakin besar karena efek baji,
sehingga perbandingan tarikan F1|F2 akan lebih besar. Namun demikian, kadang-kadang sudut
yang kecil pada sabuk yang sempit atau sabuk standar dapat menyebabkan terbenamnya
sabuk ke dalam alur puli. Akhir-akhir ini dalam perdagangan diperkenalkan sabuk-V dengan
21

sudut lebar, yaitu 60 derajat. Untuk sabuk ini dipakai bahan dengan perpanjangan yang kecil
untuk memperbaiki sifat buruk diatas. Tetapi dengan kondisi semacam ini, gesekan dan
perbandingan tarikan yang dicapai menjadi lebih rendah.
Sifat penting dari sabuk yang perlu diperhatikan adalah perubahan bentuknya karena
tekanan samping, dan ketahanannya terhadap panas. Bahan yang biasa dipakai sebagai adalah
karet alam atau sintesis. Pada masa sekarang, telah banyak dipakai karet neoprene. Sebagai
inti untuk menahan tarikan terutama dipergunakan rayon yang kuat. Tetapi akhir-akhir ini
pemakaian inti tetoron semakin popular untuk memperbaiki sifat perubahan panjang sabuk
karena kelembaban dan karena pembebanan. Dalam prose pembuatan sabuk, inti tetoron
dapat

mengerut

pada

waktu

pendinginan,

sehingga

perlu

proses

khusus

untuk

memperbaikinya. Ada juga proses yang membarkan pengerutan panas dan memulihkan
bentuknya ke keadaan semula.
Pada umumnya puli dibuat dari besi cor kelabu FC20 atau FC30. Untuk puli kecil
dipakai konstruksi plat karena lebih murah.
Pembatasan ukuran puli sering dikenakan pada panjang susunan puli atau lebar puli.
Panjang maksimum susunan puli Lmax adalah perlu untuk memenuhi persamaan berikut ini.

(13)

(14)

Jika dB dan DB berturut-turut adalah diameter bos atau naf puli kecil dan puli besar, ds1 dan ds2
berturut-turut adalah diameter poros penggerak dan yang digerakkan, maka

(15)

22

Jika naf tidak dapat dibuat cukup besar untuk memenuhi persamaan tersebut, ambillah bahan
poros yang lebih kuat untuk mengecilkan diameternya, atau ambil cara lain untuk memasang
poros pada naf.

Diagram aliran untuk memilih sabuk-V

S T A R
T
1. Daya yang akan ditransmisikan
P (kW) Putaran poros n1 (rpm)
Perbandingan putaran I Jarak
sumbu poros C (mm)

2. Faktor koreksi

fc

a
13. Pemilihan sabuk-V
(standar daya sempit ?)
Kapasitas daya transmisi
Dari satu sabuk Po (kW)
14. Perhitungan panjang
Keliling L (mm)

3. Daya rencana Pd (kW)


4. Momen rencana
T1, T2 (kg mm)
5. Bahan poros dan
Perlakuan kasar
6. Perhitungan diameter
poros ds1, ds2 (mm)
7. Pemilihan penampang sabuk

15. Nomor nominal dan panjang


Sabuk dalam Perdagangan
L (mm)

16. Jarak sumbu poros


C (mm)

17.
Sudut kontak ()
Faktor koreksi K

8. Diameter minimum puli

18. Jumlah sabuk N

9. Diameter lingkarang
Jarak bagi puli dp, Dp (mm)
Diameter luar puli
dk, Dk (mm)
Diameter naf dB, Db (mm)

19. Daerah penyetelan jarak poros


Ci(mm), Ct(mm)

10. Kecepatan sabuk v (m/s)

11 v: 30

>

12.

Contoh
Soal

20 Penampang sabuk
Panjang keliling L (mm)
Jumlah sabuk N
Jarak sumbu poros C(mm)
Daerah penyetelan
Ci(mm), Ct(mm)
Diameter luar puli
dk, Dk (mm)

S T OP
>

END
a

23

Sebuah kompressor kecil digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan daya 3,7
kW, 4 kutup, 1450 rpm dan diameter poros 25 mm. Diameter poros dan putaran
kompressor yang dikehendaki adalah 30 mm dan 870 rpm. Kompressor bekerja
selama 8 jam sehari. Carilah sabuk-v dan puli yang sesuai.
Penyelesaian:
I.

II.
III.
IV.
V.

VI.
VII.
VIII.
IX.

P = 3,7 kW
n1 = 1450 rpm
i = 1450 / 870
C = 300 mm
fc = 1,4
Pd =1,4 x 3,7 = 5,18 kW
T1 = 9,74 x 105 x (5,18 x 1450) = 3480 kg mm
T1 = 9,74 x 105 x (5,18 x 870) = 5800 kg mm
Bahan poros S30C-D, B =58 kg/mm2
Sf1 = 6 , Sf2 = 2 (dengan alur pasak)
a = 58/(6 x 2) = 4,83 kg/mm2
Kt = 2 untuk beban tumbukan
Cb = 2 untuk lenturan
ds1 = {(5,14/4,83) x 2 x 2 x 3480} 1/3 = 24,5 mm baik
ds2 = {(5,14/4,83) x 2 x 2 x 5800} 1/3 = 29,0 mm baik
Penampang sabuk V: tipe B
dmin = 145 mm
dp = 145 mm , Dp = 145 x 1,67 = 242 mm
dk = 145 + 2 x 5,5 = 156 mm
Dk = 242 + 2 x 5,5 = 253 mm
5/3 ds1 + 10 = 52 dB = 60 mm
5/3 ds2 + 10 = 62,5 DB = 70 mm

X.

v=

XI.

11,4 m/s < 30 m/s, baik

= 11,4 m/s

XII.

300

XIII.

Dipakai tipe standar.

= 95.5 mm, baik

P0 = 3,14 + (3,42-3,14)(

) + 0,41 + (0,47 0,41)(

XIV.

L = 2 x 300 +1,57 (242 + 145) +

XV.
XVI.

Nomor nominal sabuk-V : No. 48 L = 1219 mm


b = 2 x 1219 3,14 (242+145) =1223 mm

XVII.

= 180o -

XVIII.
XIX.
XX.

N=

) = 3,22 kW

= 1215 mm

= 162o K = 0,96
=1,68 2 buah

Ci = 25 mm , Ct = 40 mm
Tipe B, no 48, 2 buah, dk = 156 mm , Dk =253 mm
24

Lubang poros 25 mm, 31,5 mm


Jarak sumbu poros
Jika dipakai sabuk sempit :
vii.
ix.

Penampang sabuk-V : 3V
dp = 67 mm , Dp = 1,67 x 67 = 112 mm

x.

v=

xi.

5,1 m/s < 35 m/s, baik

xii.

300

xiii.

P0 = 2,05 + (2,20 + 2,05)

xiv.

L = 2 x 300 +1,57 (112 + 67) +

xv.
xvi.

3V-355 Panjang keliling kurva jarak bagi sabuk-V L = 898 mm


b = 2 x 898 3,14 (112 + 67) = 1234 mm

xvii.

= 180o -

xviii.

N=

xix.
xx.

= 5,1 m/s

= 210 mm, baik


+ 0,21 + (0,24 0,21)

= 2,31 kW

= 883 mm

= 171o K = 0,97
=2,3 3 buah

Ci = 15 mm , Ct = 25 mm
3V 355, 3 buah,
dk = 67 + 1,2 = 68,2 mm ,
Dk =112 +1,2= 113,2 mm
Jarak sumbu poros

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan

25

Transmisi sabuk, khusus nya sabuk V, merupakan suatu elemen mesin yang
sangat diperlukan karena fungsinya sangat vital, sebagai suatu elemen pemindah daya
yang diperlukan oleh banyak mesin dalam proses Manufaktur.
Pada Transmisi sabuk - V perlu diperhatikan perhitungan yang diperoleh sehingga
perhitungan yang diperoleh dapat diaplikasikan untuk menjadi sebuah desain yang
akurat dan mampu saing dengan produk sejenis lainnya sesuai fungsinya.

B.

Saran
Kami merasa dengan sistim pembelajaran seperti ini, yakni dengan membuat
mahasiswa aktif mencari ilmu dan perkembangan teknologi sekarang ini secara
individu / kelompok tanpa refernsi dari dosen pengajar sangatlah baik khususnya bagi
mahasiswa. Dan dengan sistim seperti itu juga dapat memupuk sikap rasa
keingintahuan yang tinggi dari mahasiswa terhadap perkembangan teknologi sekarang
ini terutama dalam dunia manufaktur yang semakin canggih.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Modul Elemen Mesin 1


http://www.grinding.com
http://www.google.co.id
http://www.youtube.com
26

http://www.howstaffwork.com
http://www.jjjtrain.com/vms
http://www.engineeringfundamentals.com
http://www.123eng.com/seminar/GEAR%20MFG.pdf
http://one.indoskripsi.com

27