Anda di halaman 1dari 82

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK TEGANGAN TINGGI

NAMA : YOGI WIBOWO


NIM : 03041281520082
KELOMPOK : IX (SEMBILAN)
ANGGOTA : 1. DODO NUGRAHA (03041181520105)
2. ASYEF MARLOKI A (03041281520079)
3. AS’AT RAHMAT S (03041281520080)
TANGGAL : 6 MARET 2018

KEPALA LAB : PROF. Ir. H. ZAINUDDIN NAWAWI, PH.D


DOSEN : DR. MUHAMMAD IRFAN JAMBAK, S.T, M.ENG
ASISTEN : LUKMANUL HAKIM, S.T.

LABORATORIUM TEKNIK TEGANGAN TINGGI


DAN PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK TEGANGAN TINGGI

PERCOBAAN I
Pembangkitan dan Pengukuran Tegangan Tinggi AC

NAMA : YOGI WIBOWO


NIM : 03041281520082
KELOMPOK : IX (SEMBILAN)
ANGGOTA : 1. DODO NUGRAHA (03041181520105)
2. ASYEF MARLOKI A (03041281520079)
3. AS’AT RAHMAT S (03041281520080)
TANGGAL : 6 MARET 2018

KEPALA LAB : PROF. Ir. H. ZAINUDDIN NAWAWI, PH.D


DOSEN : DR. MUHAMMAD IRFAN JAMBAK, S.T, M.ENG
ASISTEN : LUKMANUL HAKIM, S.T.

LABORATORIUM TEKNIK TEGANGAN TINGGI


DAN PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
PERCOBAAN 1

I. Nama Percobaan : Pembangkitan dan Pengukuran Tegangan Tinggi AC

II. Tujuan Percobaan :

1. Mempelajari dan mengamati cara-cara pembangkitan tegangan tinggi


dengan menggunakan transformator tegangan tinggi satu fasa.
2. Mempelajari dan mengamati cara-cara pengukuran tegangan tinggi
bolak-balik dengan menggunakan metode-metode
- Sela bola,
- Pembagi tegangan kapasitif.
3. Mempelajari dan mengamati karakteristik tembus dari beberapa
elektroda yang diberi tegangan tinggi bolak-balik.
4. Mempelajari cara menentukan tegangan tembus dengan menggunakan
konsep efisiensi medan.

III. Alat-alat Yang digunakan


1. Trafo Pembangkit Tegangan Tinggi 220V/60 kV, 5 kV A
2. Elektroda-elektroda Bola, Piring, Jarum, Batang
3. Instrumen Ukur dan Panel Kontrol
4. Barometer
5. Voltmeter AC

IV. Teori Dasar

Umumnya pada laboratorium-Iaboratorium, tegangan tinggi bolak-balik


diperoleh dengan cara menaikkan tegangan jala-jala dengan menggunakan
transformator penguji tegangan tinggi satu phasa. Untuk memperoleh harga
tegangan yang melebihi batas rating tegangan dari sebuah transformator, maka
dibuatlah suatu susunan cascade dari beberapa buah transformator.
A. Metode Pengukuran Tegangan Tinggi Bolak-Balik Dengan Sela Bola

Pada gambar (1) diperlihatkan prinsip pengukuran tegangan puncak dengan


menggunakan susunan elektroda bola. Salah satu bola diketanahkan dan bola yang
lain diberi tegangan bolak-balik U(t).

Untuk suatu sela S tertentu, terdapat suatu harga puncak U(t) yang dapat
menyebabkan tembus pada sela, sehingga terjadi breakdown pada beda tegangan
U , dim ana sesaat sebelum breakdown, harga U(t) sama dengan harga U .
Gejala breakdown ini dipengaruhi oleh suatu kelambatan waktu statistik yang
singkat yang merupakan waktu penantian timbulnya sebuah eIektron untuk
mengawali suatu lompatan elektron, dan suatu kelarnbatan waktu formatif yang
sarna singkatnya yang diperlukan agar terjadi breakdown tegangan atau kenaikan
arus yang cepat pada jalur lompatan elektron.
Agar hasil pengukuran tegangan cukup baik, rnaka harus diusahakan
Jangan sampai terjadi gejala "Pre-Discharge" dan gejala korona sebelum
breakdown, dengan cara membatasi lebar sela S sedemikian rupa, sehingga medan
listrik pada sela bola bersifat homogen.
Tegangan breakdown pada sela bola dengan isolasi udara dapat ditentukan
berdasarkan rumus berikut :
Ud = kd Udo ..........................................................................(1)
Dimana:
Kd adalah faktor koreksi yang harganya ditentukan oleh kerapatan udara relatif
(RAD), yang dapat ditentukan harganya berdasarkan rumus :
P(273  t o )
Kd  .
Po (273  t)

B. Metode Pengkuran Tegangan Tinggi Bolak-Balik Dengan Pembagi


Tegangan Kapasitif

Pembagi tegangan kapasitif berfungsi menurunkan harga tegangan yang


tinggi ke harga tegangan yang dapat diukur dengan aman. Proses pengukuran
dapat dijelaskan dengan menggunakan keterangan seperti gambar (2).

Dengan mengabaikan arus-arus yang mengalir pada cabang-cabang CM1


dan CM2, maka didapatkan harga tegangan U2 sebagai berikut :

C4
U2  .............................................................................................. (3)
C1  C 4  C5

Kapasitor CM2 diisi melalui dioda D2 sampai ke harga tegangan puncak


dari U2 ke U2 maks. Galvanometer G akan menunjukkan harga rata-rata dari UG
dimana:

U G  U 2 maks  U 2 ........................................................................................... (4)

Sedangkan

t
U t  U 1 maks . Sin ........................................................................................ (5)
Substitusikan persamaan (1.2) clan 1.4) ke persamaan (1.3) akan menghasilkan :

C4
U2  (U t  U 1 maks )
C1  C 4  C 5


C4
U 1 maks
1  Sin  t dt
C1  C 4  C 5

Jadi :

1  Sin  t dt
T
1 C4
UG    U 1 maks
T C1  C 4  C 5

C4
 U 1 maks ........................................................................(6)
C1  C 4  C 5

V. Prosedur Percobaan :
A. Pembangkit dan Pengukuran Tegangan Tinggi Bolak Balik
1. Rangkaian Percobaan :

TH = Transformator tegangan tinggi, 100 kV rms , 5 kVA


CST = Pembagi tegangan kapasitif, 100 kV rms , 500 pF
CWS = Bagian pengukuran dari pembagi tegangan kapasitif
SB = Voltmeter AC pada kontrol box
TSM = Pengukur arus AC pada sisi sekunder transformator tegangan tinggi
S = Sela bola
R6 = Tahanan peredam tegangan AC
R7 = Tahanan peredam tegangan impuls
F = Arrester

2. Kalibrasi
1. Catat temperatur dan tekanan udara sekeliling.
2. Buat rangkaian pereobaan seperti diatas.
3. Atur lebar sela S pada harga tertentu.
4. Atur trafo pengatur, sehingga harga tegangan pada sela S dapat
menyebabkan tembus.
5. Catat penunjukkan voltmeter pada SB sesaat sebelum terjadi tembus.
6. Atur kembali sela S untuk beberapa harga, dan untuk setiap harga S Inl
diulangi pereobaan diatas.
7. Gunakan elektroda bola dengan D = 10 em dan pereobaan dilakukan untuk
nilai S = 1,0; 1,5 ; 2,0; 2,5 ; 3,0 em.
8. Matikan sumber listrik.
9. Bandingkan nilai yang ditunjukkan pada voltmeter.

B. Karakteristik Tembus Beberapa Elektroda


1. Ganti susunan bola pada gambar (3) dengan elektroda yang lain seeara
bergantian, seperti piring-piring, jarum-jarum, batang-batang.
2. Untuk setiap susunan elektroda, atur lebar S dan naikkan harga tegangan
selasela, dengan mengatur transformator pengatur, sampai terjadi tembus.
3. Catat penunjukkan SB sesaat sebelum terjadi tembus.
4. Lakukan pereobaan ini dengan lebar sela seperti diatas.
5. Setelah percobaan seperti diatas dilakukan dengan semua elektroda, maka
turunkan tegangan sampai minimum dan matikan sumber listrik.

Catatan:
Untuk setiap elektroda, maka harga-harga lebar sela S harus sama
VI. Pertanyaan dan Jawaban

Pertanyaan :

1. Jelaskan cara kerja alat ukur tegangan SB.


2. Buat tabel-tabel yang berisi hasil-hasil percobaan tegangan oleh alat ukur
SB dan harga tegangan yang dihitung dari pengukuran sela bola.
3. Jelaskan kegunaan dan prinsip kerja arrester yang dipasang pada SISI
tegangan rendah transformator.
4. Gambarkan kurva tegangan tembus Ub sebagai fungsi dari setiap
elektroda.
5. Jelaskan proses terjadinya tembus pada elektroda dan bandingkan serta
jelaskan perbedaan antara elektroda-elektroda tersebut.

Jawaban :
1. Cara kerja alat ukur tegangan SB adalah berdasarkan prinsip pembagi
tegangan kapasitif. Kapasitor CS dan CWS diberi tegangan puncak Vs, dimana
karakteristik tegangan AC berbentuk sinusoidal, CS dan CWS akan melepaskan
muatan yang melalui sela pada saat tegangan puncak pelepasan kapasitor telah
mencapai harga tegangan tersebut maka akan terjadi flash over pada sela bola.
Harga dari tegangan puncak pada tegangan tembus sama dengan tegangan jatuh
pada CWS yang terukur pada voltmeter SB.

2. Tabel hasil percobaan tegangan oleh alat ukur SB dan harga tegangan
yang dihitung dari pengukuran sela bola dapat dilihat di halaman Data Hasil
Percobaan.

3. Berikut adalah kegunaan dan prinsip kerja arrester :

Kegunaan arrester :
a. Untuk menjaga kumparan tegangan rendah dari pengukuran perubahan
tegangan yang besar secara tiba-tiba pada saat melakukan percobaan.
b. Arrester dipasang di sisi sekunder agar sisi belitan primer tidak terbakar
akibat lonjakan pada saat terjadi tegangan tembus.
c. Arrester akan bekerja dengan tahanan non linear, jadi saat terjadi lonjakan
arrester akan memotong lonjakan arus tersebut, sehingga alat akan normal
kembali.

Prinsip kerja arrester : Melewatkan arus lebih ke sistem


pentanahan/grounding, sehingga tidak menimbulkan tagangan lebih yang dapat
merusak isolasi peralatan listrik. Pada saat keadaan normal arrester berlaku sebagai
konduktor dengan pentanahan relatif rendah.

4. Gambar kurva tegangan tembus Ub sebagai fungsi dari setiap elektroda terlampir
di halaman lampiran grafik.

5. Proses terjadinya tembus pada elektroda dan serta perbedaan antara elektroda-
elektroda tersebut :
Bila sisi primer transformator disuplay oleh tegangan, maka phasa sisi sekunder
terdapat tegangan yang besarnya dapat dilihat pada voltmeter. Pada sisi primer ini
terdapat dua ujung yang bermuatan listrik tidak sama. Apabila diantara kedua
ujung diberi sela yang kecil, maka akan terjadi perpindahan muatan listrik atau
loncatan energi listrik. Perpindahan muatan inilah yang menyebabkan tembus
elektroda.

Perbedaan tembus pada setiap elektroda :


a. Elektroda bola
Kuat medan yang terbentuk pada elektroda bola belum hampir
merata. Hal ini menyebabkan diperlukannya muatan yang cukup besar
terkumpul pada sekitar elektroda untuk menghasilkan tegangan tembus.

b. Elektroda Piring
Proses tembus udara diantara dua elektroda terjadi melalui proses
ionisasi tumbukan dari molekul yang jumlahnya bertambah secara
eksponensial. Oleh karena itu, elektroda ini mempunyai medan yang
homogen yang berarti tembus pada elektroda piring lebih sulit dan
membutuhkan tegangan tembus yang besar.

c. Elektroda Jarum
Dengan menggunakan elektroda jarum akan terbentuk ketidak
homogenan medan, sehingga tegangan tembus pada elektroda jarum akan
lebih mudah tembus dengan tengangan yang rendah dan arus yang sangat
tinggi yang dikarenakan luas penampang nya kecil.

d. Elektroda Batang
Adanya ketidak homogenan membuat medanya lebih sedikit berbeda,
sehingga pembentukan avalanche lebih lambat. Tegangan tembus pada
elektroda batang akan lebih besar daripada tegangan tembus elektroda
jarum.
VII. Data Hasil Percobaan

Parameter

Elek- Jarak
No.
troda (mm)
Teg. Teg. Suhu
Arus Tekanan Kelembaban
Input Tembus (°F) Strip Keterangan
(mA) (Atm) (%)
(V) (kV)

10 4 18 984 78 80 14
1 10 3,8 18 984 78 80 21
10 3,8 18 984 78 80 22
14 5 26 984 76 78 23
2 15 5 24 983 76 80 25
17 6 28 983 76 78 25 Dengan
1. Bola
22 7,5 46 983 78 80 35 Pengotoran
3 21 7 46 983 78 80 36
20 8 46 983 78 80 35
29 9 ~ 983 78 80 40
4 29 10 ~ 983 80 80 41
29 9 ~ 983 80 80 41
Parameter

Elek- Jarak
No.
troda (mm)
Teg. Teg. Suhu
Arus Tekanan Kelembaban
Input Tembus (°F) Strip Keterangan
(mA) (Atm) (%)
(V) (kV)

8 2 2 984 81 80 20
1 8 2 2 984 81 80 19
8 2 2 984 81 80 19
10 3,8 20 984 81 80 20
2 10 3,8 20 984 81 80 20
10 3,8 20 984 81 80 20 Dengan
2. Piring
19 6 34 984 81 80 30 Pengotoran
3 19 6 34 984 81 80 30
19 6 34 984 81 80 30
22 7,4 42 984 81 80 38
4 22 7,4 43 984 81 80 38
22 7,4 44 984 81 80 38
Parameter

Elek- Jarak
No.
troda (mm)
Teg. Teg. Suhu
Arus Tekanan Kelembaban
Input Tembus (°F) Strip Keterangan
(mA) (Atm) (%)
(V) (kV)

8 1,9 12 984 81 80 20
1 9 2 12 984 81 80 20
8 2,1 12 984 81 80 19
12 4,5 22 984 81 80 28
2 12 4,5 22 984 81 80 22
12 4,5 22 984 81 80 28 Dengan
3. Batang
20 6,8 39 984 81 80 30 Pengotoran
3 20 6,8 39 984 81 80 30
20 6,8 39 984 81 80 30
28 8,5 48 984 81 80 40
4 28 8,5 48 984 81 80 40
28 8,5 48 984 81 80 40
Parameter

Elek- Jarak
No.
troda (mm)
Teg. Teg. Suhu
Arus Tekanan Kelembaban
Input Tembus (°F) Strip Keterangan
(mA) (Atm) (%)
(V) (kV)

10 3,8 14 983 80 80 22
1 10 4 14 983 81 80 21
10 3,9 14 983 81 80 21
15 4,1 22 983 81 80 24
2 15 4,2 22 983 81 80 26
15 4,2 22 983 81 80 25 Dengan
4. Jarum
15 4,6 24 983 81 80 29
Pengotoran
3 15 4,6 24 983 81 80 29
15 4,6 24 983 81 80 28
17 5 26 983 81 80 30
4 17 5 26 983 81 80 30
17 5 26 983 81 80 31
VIII. Pengolahan Data

a. Elektroda Bola

1. Jarak 1 mm

a). V input

10+10+10
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 10

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|10−10|+|10−10|+|10−10|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 10
Kesalahan Absolut = 0 + 10 = 10
Kesalahan Absolut = 0 – 10 = -10

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 10 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

4+3,8+3,8
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 3,86


|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |
2). ΔV output rata-rata = 3
|4−3,86|+|3,8−3,86|+|3,8−3,86|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,086

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,086 ± 3,86
Kesalahan Absolut = 0,086 + 3,86 = 3,92
Kesalahan Absolut = 0,086 – 3,86 = -3,8

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0,086
Kesalahan Relatif = x 100%
3,86

Kesalahan Relatif = 2,23 %

c). I output

18+18+18
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 18

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
0
ΔI output rata-rata =3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 18
Kesalahan Absolut = 0 + 18 = 18
Kesalahan Absolut = 0 – 18 = -18

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = I output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 18 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

2. Jarak 2 mm

a). V input

14+15+17
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 15,3

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|14−15,3|+|15−15,3|+|17−15,3|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata = 1,1

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 1,1 ± 15
Kesalahan Absolut = 1,1 + 15,3 = 16,4
Kesalahan Absolut = 1,1 – 15,3 = -14,2

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
1,1
Kesalahan Relatif = x 100%
15,3

Kesalahan Relatif = 7,19 %

b). V output

5+5+6
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 5,3


|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |
2). ΔV output rata-rata = 3
|5−5,3|+|5−5,3|+|6−5,3|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,43

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,43 ± 5,3
Kesalahan Absolut = 0,43 + 5,3 = 5,73
Kesalahan Absolut = 0,43 – 5,3 = -4,87

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0,43
Kesalahan Relatif = x 100%
5,3

Kesalahan Relatif = 8,11 %

c). I output

26+24+28
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 26

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|26−26|+|24−26|+|28−26|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata = 1,3

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 1,3 ± 26
Kesalahan Absolut = 1,3 + 26 = 27,3
Kesalahan Absolut = 1,3 – 26 = -25,3

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = I output rata−rata
x 100%
1,3
Kesalahan Relatif = x 100%
26

Kesalahan Relatif = 5,12 %

3. Jarak 3 mm

a). V input

22+21+20
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 21

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|22−21|+|21−21|+|20−21|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata = 0,6

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,6 ± 21
Kesalahan Absolut = 0,6 + 21 = 21,6
Kesalahan Absolut = 0,6 – 21 = -20,4

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0,6
Kesalahan Relatif = x 100%
21

Kesalahan Relatif = 2,85 %

b). V output

7,5+7+8
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 7,5


|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |
2). ΔV output rata-rata = 3
|7,5−7,5|+|7−7,5|+|8−7,5|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,3

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,3 ± 7,5
Kesalahan Absolut = 0.3 + 7,5 = 7,8
Kesalahan Absolut = 0,3 – 7,5 = -7,2

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0,3
Kesalahan Relatif = 7,5 x 100%

Kesalahan Relatif =4%

c). I output

46+46+46
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 46

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|46−46|+|46−46|+|46−468|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 46
Kesalahan Absolut = 0 + 46 = 46
Kesalahan Absolut = 0 – 46 = -46

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = I output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 46 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

4. Jarak 4 mm

a). V input

29+29+29
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 29

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|29−29|+|29−29|+|29−29|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 29
Kesalahan Absolut = 0 + 29 = 29
Kesalahan Absolut = 0 – 29 = -29

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = x 100%
29

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

9+10+9
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 9,3


|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |
2). ΔV output rata-rata = 3
|9−9,3|+|10−9,3|+|9−9,3|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,43

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,43 ± 9,3
Kesalahan Absolut = 0,43 + 9,3 = 9,76
Kesalahan Absolut = 0,43 – 9,3 = -8,87

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0,43
Kesalahan Relatif = x 100%
9,3

Kesalahan Relatif = 4,66 %

c). I output

Arus Output lebih dari 50 mA, maka dianggap tak terhingga (~).

b. Elektroda Piring

1. Jarak 1 mm

a). V input

8+8+8
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata =8

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|8−8|+|8−8|+|8−8|
ΔV input rata-rata = 3
ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut =0±8
Kesalahan Absolut =0+8=8
Kesalahan Absolut = 0 – 8 = -8

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 8 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

2+2+2
1). V output rata-rata =
3

V output rata-rata =2

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|2−2|+|2−2|+|2−2|
ΔV output rata-rata =
3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut =0±2
Kesalahan Absolut =0+2=2
Kesalahan Absolut = 0 – 2 = -2

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 2 x 100%

Kesalahan Relatif =0%


c). I output

2+2+2
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata =2

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|2−2|+|2−2|+|2−2|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata = 0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut =0±2
Kesalahan Absolut =0+2=2
Kesalahan Absolut = 0 – 2 = -2

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 2 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

2. Jarak 2 mm

a). V input

10+10+10
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 10

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|10−10|+|10−10|+|10−10|
ΔV input rata-rata = 3
ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 10
Kesalahan Absolut = 0 + 10 = 10
Kesalahan Absolut = 0 – 10 = -10

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 10 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

3,8+3,8+3,8
1). V output rata-rata =
3

V output rata-rata = 3,8

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|3,8−3,8|+|3,8−3,8|+|3,8−3,8|
ΔV output rata-rata =
3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 3,8
Kesalahan Absolut = 0 + 3,8 = 3,8
Kesalahan Absolut = 0 – 3,8 = -3,8

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 3,8 x 100%

Kesalahan Relatif =0%


c). I output

20+20+20
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 20

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|20−20|+|20−20|+|20−20|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 20
Kesalahan Absolut = 0 + 20 = 20
Kesalahan Absolut = 0 – 20 = -20

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 20 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

3. Jarak 3 mm

a). V input

19+19+19
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 19

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|19−19|+|19−19|+|19−19|
ΔV input rata-rata = 3
ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 19
Kesalahan Absolut = 0 + 19 = 19
Kesalahan Absolut = 0 – 19 = -19

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 19 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

6+6+6
1). V output rata-rata =
3

V output rata-rata =6

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|6−6|+|6−6|+|6−6|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut =0±6
Kesalahan Absolut =0+6=6
Kesalahan Absolut = 0 – 6 = -6

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 6 x 100%

Kesalahan Relatif =0%


c). I output

34+34+34
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 34

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|34−34|+|34−34|+|34−34|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 34
Kesalahan Absolut = 0 + 34 = 34
Kesalahan Absolut = 0 – 34 = -34

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 34 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

4. Jarak 4 mm

a). V input

22+22+22
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 22

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|22−22|+|22−22|+|22−22|
ΔV input rata-rata = 3
ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 22
Kesalahan Absolut = 0 + 22 = 22
Kesalahan Absolut = 0 – 22 = -22

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 22 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

7,4+7,4+7,4
1). V output rata-rata =
3

V output rata-rata = 7,4

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|7,4−7,4|+|7,4−7,4|+|7,4−7,4|
ΔV output rata-rata =
3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 7,4
Kesalahan Absolut = 0 + 7,4 = 7,4
Kesalahan Absolut = 0 – 7,4 = -7,4

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 7,4 x 100%

Kesalahan Relatif =0%


c). I output

42+43+44
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 43

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|42−43|+|43−43|+|44−43|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata = 0,6

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,6 ± 43
Kesalahan Absolut = 0,6 + 43 = 43,6
Kesalahan Absolut = 0,6 – 43 = -42,4

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0,6
Kesalahan Relatif = x 100%
43

Kesalahan Relatif = 1,4 %

c. Elektroda Batang

1. Jarak 1 mm

a). V input

8+9+8
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 8,3


|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |
2). ΔV input rata-rata = 3
|8−8,3|+|9−8,3|+|8−8,3|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata = 0,43

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,43 ± 8,3
Kesalahan Absolut = 0,43 + 8,3 = 8,73
Kesalahan Absolut = 0,43 – 8,3 = -7,87

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V input rata−rata
x 100%
0,43
Kesalahan Relatif = x 100%
8,3

Kesalahan Relatif = 5,22 %

b). V output

1,9+2+2,1
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata =2

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|1,9−2|+|2−2|+|2,1−2|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,06

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,06 ± 2
Kesalahan Absolut = 0,06 + 2 = 2,06
Kesalahan Absolut = 0,06 – 2 = -1,94

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0,06
Kesalahan Relatif = x 100%
2

Kesalahan Relatif =3%

c). I output

12+12+12
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 12

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|12−12|+|12−12|+|12−12|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 12
Kesalahan Absolut = 0 + 12 = 12
Kesalahan Absolut = 0 – 12 = -12

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = I output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 12 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

2. Jarak 2 mm

a). V input

12+12+12
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 12
|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |
2). ΔV output rata-rata = 3
|12−12|+|12−12|+|12−12|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 12
Kesalahan Absolut = 0 + 12 = 12
Kesalahan Absolut = 0 – 12 = -12

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 12 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

4,5+4,5+4,5
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 4,5

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|4,5−4,5|+|4,5−4,5|+|4,5−4,5|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 4,5
Kesalahan Absolut = 0 + 4,5 = 4,5
Kesalahan Absolut = 0 – 4,5 = -4,5

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 4,5 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

c). I output

22+22+22
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 22

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|22−22|+|22−22|+|22−22|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 22
Kesalahan Absolut = 0 + 22 = 22
Kesalahan Absolut = 0 – 22 = -22

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 22 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

3. Jarak 3 mm

a). V input

20+20+20
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 20
|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |
2). ΔV input rata-rata = 3
|20−20|+|20−20|+|20−20|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 20
Kesalahan Absolut = 0 + 20 = 20
Kesalahan Absolut = 0 – 20 = -20

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V input rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 20 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

6,8+6,8+6,8
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 6,8

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|6,8−6,8|+|6,8−6,8|+|6,8−6,8|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 6,8
Kesalahan Absolut = 0 + 6,8 = 6,8
Kesalahan Absolut = 0 – 6,8 = -6,8

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 6,8 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

c). I output

39+39+39
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 39

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|39−39|+|39−39|+|39−39|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 39
Kesalahan Absolut = 0 + 39 = 39
Kesalahan Absolut = 0 – 39 = -39

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 39 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

4. Jarak 4 mm

a). V input

28+28+28
1). V input rata-rata = 3

V input rata-rata = 28
|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |
2). ΔV input rata-rata = 3
|28−28|+|28−28|+|28−28|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 28
Kesalahan Absolut = 0 + 28 = 28
Kesalahan Absolut = 0 – 28 = -28

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V input rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 28 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

8,5+8,5+8,5
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 8,5

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata = 3
|8,5−8,5|+|8,5−8,5|+|8,5−8,5|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 8,5
Kesalahan Absolut = 0 + 8,5 = 8,5
Kesalahan Absolut = 0 – 8,5 = -8,5

ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = V output rata−rata
x 100%
0
Kesalahan Relatif = 8,5 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

c). I output

48+48+48
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 48

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|48−48|+|48−48|+|48−48|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 48
Kesalahan Absolut = 0 + 48 = 48
Kesalahan Absolut = 0 – 48 = -48

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 48 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

d. Elektroda Jarum

1. Jarak 1 mm

a). V input

10+10+10
1). V input rata-rata = 3
V input rata-rata = 10

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|10−10|+10−10+|10−10|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 10
Kesalahan Absolut = 0 + 10 = 10
Kesalahan Absolut = 0 – 10 = -10

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 10 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

3,8+4+3,9
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 3,9

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata =
3
|3,8−3,9|+|4−3,9|+|3,9−3,9|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,06

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,06 ± 3,9
Kesalahan Absolut = 0,06 + 3,9 = 3,96
Kesalahan Absolut = 0,06 – 3,9 = -3,84
ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0,06
Kesalahan Relatif = x 100%
3,9

Kesalahan Relatif = 1,53 %

c). I output

14+14+14
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 14

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|14−14|+|14−14|+|14−14|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 14
Kesalahan Absolut = 0 + 14 = 14
Kesalahan Absolut = 0 – 14 = -14

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 14 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

1. Jarak 2 mm

a). V input

15+15+15
1). V input rata-rata = 3
V input rata-rata = 15

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|15−15|+|15−15|+|15−15|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 15
Kesalahan Absolut = 0 + 15 = 15
Kesalahan Absolut = 0 – 15 = -15

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 15 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

4,1+4,2+4,2
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 4,16

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata =
3
|4,1−4,16|+|4,2−4,16|+|4,2−4,16|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata = 0,16

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,16 ± 4,16
Kesalahan Absolut = 0,16 + 4,16 = 4,32
Kesalahan Absolut = 0,16 – 4,16 = -4
ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0,16
Kesalahan Relatif = 4,16 x 100%

Kesalahan Relatif = 3,85 %

c). I output

22+22+22
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 22

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|22−22|+|22−22|+|22−22|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 22
Kesalahan Absolut = 0 + 22 = 22
Kesalahan Absolut = 0 – 22 = -22

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 22 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

2. Jarak 3 mm

a). V input

15+15+15
1). V input rata-rata = 3
V input rata-rata = 15

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|15−15|+|15−15|+|15−15|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 15
Kesalahan Absolut = 0 + 15 = 15
Kesalahan Absolut = 0 – 15 = -15

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 15 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

4,6+4,6+4,6
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata = 4,6

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata =
3
|4,6−4,6|+|4,6−4,6|+|4,6−4,6|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 4,6
Kesalahan Absolut = 0 + 4,6 = 4,6
Kesalahan Absolut = 0 – 4,6 = -4,6
ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 4,6 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

c). I output

22+22+22
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 22

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|22−22|+|22−22|+|22−22|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 22
Kesalahan Absolut = 0 + 22 = 22
Kesalahan Absolut = 0 – 22 = -22

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 22 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

3. Jarak 4 mm

a). V input

17+17+17
1). V input rata-rata = 3
V input rata-rata = 17

|V1 − Vinrt |+|V2 −Vinrt |+|V3 −Vinrt |


2). ΔV input rata-rata = 3
|17−17|+|17−17|+|17−17|
ΔV input rata-rata = 3

ΔV input rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV input rata-rata ± V input rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 17
Kesalahan Absolut = 0 + 17 = 17
Kesalahan Absolut = 0 – 17 = -17

ΔV input rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V input rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 17 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

b). V output

5+5+5
1). V output rata-rata = 3

V output rata-rata =5

|V1 − Voutrt |+|V2 −Voutrt |+|V3 −Voutrt |


2). ΔV output rata-rata =
3
|5−5|+|5−5|+|5−5|
ΔV output rata-rata = 3

ΔV output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔV output rata-rata ± V output rata-rata


Kesalahan Absolut =0±5
Kesalahan Absolut =0+5=5
Kesalahan Absolut = 0 – 5 = -5
ΔV output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
V output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 5 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

c). I output

26+26+26
1). I output rata-rata = 3

I output rata-rata = 26

|I1 − Ioutrt |+|I2 −Ioutrt |+|I3 −Ioutrt |


2). ΔI output rata-rata = 3
|26−26|+|26−26|+|26−26|
ΔI output rata-rata = 3

ΔI output rata-rata =0

3). Kesalahan Absolut = ΔI output rata-rata ± I output rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 26
Kesalahan Absolut = 0 + 26 = 26
Kesalahan Absolut = 0 – 26 = -26

ΔI output rata−rata
4). Kesalahan Relatif = x 100%
I output rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 26 x 100%

Kesalahan Relatif =0%


IX. Analisa Hasil Percobaan

Pada percobaan mengenai Pembangkitan dan Pengukuran Tegangan


Tinggi AC sudah melakukan pengamatan, penelitian dan perhitungan secara
manual sehingga didapatkan analisa yaitu dengan percobaan menggunakan empat
elektroda yakni elektroda berbentuk bola, piring, batang dan jarum dengan jarak
yang diatur adalah 1 mm, 2 mm, 3 mm, 4 mm dan 5 mm masing-masing diberikan
tiga kali percobaan untuk menentukan beberapa parameter diantaranya tegangan
tembus (tegangan output), arus, tekanan, kelembaban dan suhu. Tujuan dari
melakukan tiga kali percobaan tersebut untuk mendapatkan hasil yang tepat dan
akurat.
Pada percobaan dengan elektroda bola dengan meningkat jarak antar
elektroda bola akan meningkatkan pula tegangan tembus, hal ini menunjukkan
jarak antar elektroda yang semakin besar, membuat loncatan bunga api terjadi
lebih besar daripada jarak sebelumnya. Kondisi tekanan, kelembaban dan suhu
disekitar ruangan akan berkisar sema dan cenderung meningkat.
Pada percobaan dengan elektroda piring dan elektroda jarum menunjukkan
hal yang sama seperti elektroda bola, namun pada elektroda batang hal yang sama
terjadi akan tetapi arus keluaran (mA) mampu mencapai 50 mA atau dianggap tak
terhingga.
Elektoda bola memiliki tegangan tembus paling besar disbandingkan tiga
elektroda lainnya, berbeda dengan elektroda jarum yang tegangan tembusnya
kecil dipengaruhi bentuk geometrisnya. Tegangan tembus disebabkan oleh
kumpulan electron disekitar sudut elektroda (sesuai bentuk) sehingga butuh
tegangan keluaran yang besar untuk memunculkan lompatan bunga api khususnya
pada jarak tersebut.
X. Kesimpulan

1. Bentuk dari elektroda yang digunakan mempengaruhi besanya tegangan


tembus.
2. Penentuan dari jarak antar elektroda yang digunakan akan sebanding
dengan nilai tegangan tembus.
3. Elektroda bola memiliki tegangan tembus lebih besar daripada elektroda
lainnya.
4. Elektroda jarum memiliki tegangan tembus lebih kecil daripada elektroda
lainnya.
5. Kumpulan elektroda pada sudut-sudut elektroda dapat memutuskan
loncatan bunga api sehingga membutuhkan tegangan tembus yang
sebanding.
LAMPIRAN GRAFIK
VOUT TERHADAP JARAK ELEKTRODA

1. Elektroda Bola

Elektroda Bola
10
9
Tegangan Output Rata-rat (kV)

8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak (mm)

2. Elektroda Piring

Elektroda Piring
10
9
Tegangan Output Rata-rat (kV)

8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak (mm)
3. Elektroda Batang

Elektroda Batang
10
9
Tegangan Output Rata-rat (kV)

8
7
6
5
4
3
2
1
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak (mm)

4. Elektroda Jarum

Elektroda Jarum
6
Tegangan Output Rata-rat (kV)

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jarak (mm)
LAMPIRAN GAMBAR

1. Elektroda-elektroda yang digunakan:

A. Elektroda bola
B. Elektroda batang
C. Elektroda piring
D. Elektro jarum

2. High Voltage Testing Unit


3. Hygrometer, Pressuremeter dan Thermometer

4. Rangkaian Pembangkitan dan Pengukuran Tegangan Tinggi AC


LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK TEGANGAN TINGGI

PERCOBAAN II

Tegangan Tinggi Impuls

NAMA : YOGI WIBOWO


NIM : 03041281520082
KELOMPOK : IX (SEMBILAN)
ANGGOTA : 1. DODO NUGRAHA (03041181520105)
2. ASYEF MARLOKI A (03041281520079)
3. AS’AT RAHMAT S (03041281520080)
TANGGAL : 6 MARET 2018

KEPALA LAB : PROF. Ir. H. ZAINUDDIN NAWAWI, PH.D


DOSEN : DR. MUHAMMAD IRFAN JAMBAK, S.T, M.ENG
ASISTEN : LUKMANUL HAKIM, S.T.

LABORATORIUM TEKNIK TEGANGAN TINGGI


DAN PENGUKURAN BESARAN LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
PERCOBAAN II

I. Nama Percobaan : Tegangan Tinggi impuls

II. Tujuan Percobaan :


1. Mempelajari dan memahami pembangkitan tegangan impuls dan
pengukurannya
2. Mempelajari kemungkinan (probabilitas) tembus tegangan tinggi
impuls pada elektroda.

III. Alat – alat Yang Digunakan :


1. Trafo penaik tegangan 60 KV, 5 KVA
2. Generator Marx.
3. Cathode Ray Oscilloscop.
4. Instrumen Pengukuran.

IV. Teori Dasar


Dalam keadaan kerja, peralatan – peralatan elektik selain dapat
dibebani tegangan kerjanya, juga harus memiliki ketahanan terhadap
pembebanan tegangan lebih impuls akibat sambaran petir maupun akibat
proses pengoperasian saklar daya. Penguasaan cara pembangkitan
tegangan tinggi impuls diperlukan, agar dapat dihasilkan bentuk tegangan
yang mendekati kejadian pembebanan transien yang terjadi di jaringan dan
agar dapat dilakukan penelitian dasar tentang tembus elektrik.
Bentuk–bentuk gelombang tegangan tinggi impuls diperlihatkan pada
gambar (1)

Gambar 1. Bentuk-bentuk gelombang tegangan impuls


Tegangan impuls terpotong adalah tegangan impuls yang tiba – tiba
menjadi nol pada saat mencapai puncak atau sewaktu di muka atau ekor.
Tegangan impuls eksponensial ganda dipergunakan untuk peniruan
teganagn surja petir dan tegangan surja hubung. Perbedaan antara tegangan impuls
surja petir dan surja hubung ditentukan pada lama waktu muka dan waktu ekor,
seperti terlihat pada gambar ( 2 ). Tegangan impuls surja petir memiliki bentuk
1,2/50 yang berarti waktu muka T1 = 1,2 µ s dan waktu setengah ekor T2 = 50 µ s.
Tegangan impuls surja hubung memiliki bentuk 250/2500 yang berarti waktu
mencapai puncak T1 = 250 µ s dan setengah ekor T2 = 2500 µ s.

a. Tegangan impuls surja petir

b. Tegangan impuls surja hubung


Gambar 2. Bentuk gelombang tegangan impuls
4.1. Pembangkitan Tegangan Terpadu
Rangkaian dasar pembangkitan tegangan impuls surja petir dan surja hubung
adalah sama, hanya berbeda besar elemen-elemen rangkaiannya. Rangkaian
dasar yang biasa digunakan adalah seperti pada gambar (3).

Gambar 3. Rangkaian dasar pembangkitan tegangan impuls

Pertama-tama kondensator impuls Cs diisi muatan dengan tegangan tinggi


searah melalui tahanan tinggi sampai dicapai tegangan pemuat U0. Dengan
penyalaan sela percik F, terjadi pelepasan muatan mengisi kondensatorbeban
Cb. Kemudian ke tahanan pelepas Re. Teganganb impul diperoleh dari
terminal kondensator beban Cb.
Jika diinginkan waktu muka T1 yang singkat, maka pelepasan muatan yang
mengisi kondensator Cb harus secepat mungkin dicapai dengan û, sedang
waktu ekor T2yang lama ditentukan oleh tahanan pelepas Re yang jauh lebih
besar dibanding tahanan peredam Rd. Konstanta waktu pelepasan muatan ke
kondensator Cb, yang menentukan besar waktu muka, besarnya secara
pendekatan adalah Rd x Cb. Waktu muka ekor tegangan impuls ditentukan
oleh pelepasan muatan dari kedua kondensator diaras. Tinggi harga puncak
tegangan impulsdiperoleh dengan pembanding muatan U0 Cs dan Cb. Derajat
efisiensi dari rangkaian pembangkitan adalah :

U Cs
η= 
Uo C a  Cb
Secara umum diharapkan dengan tegangan pemuat U0 yang ada dapat
diperoleh tegangan puncak û yang tinggi, maka biasanyadipilih harga C s
>Cb. Dengan demikian maka waktu ekor tegangan impuls ditentukan oleh
konstanta waktu Cs Re. Besaran lain yang penting pada pembangkitan
tegangan impuls adalah energi impuls yang ditentukan oleh :

W = 1 C sU 0
2
2

Untuk pembangkitan tegangan impuls sangat tinggi biasanya digunakan


rangkaian pelipat ganda Marx, seperti terlihat pada gambar (4). Disini
sejumlah kondensator impuls yang sama, secara paralel menerima pengisian
muatan dan secara seri terjadi pelepasan muatan. Dengan demikian jumlah
keseluruhan tegangan penguat sesuai dengan jumlah tingkatan rangkaian.

Gambar 4. Rangkaian palipat ganda Marx tiga tingkat


Pengisian muatan pada kondensator impuls Cs adalah melalui tahanan yang
tinggi RL yang dipasang paralel, sampai dicapai tegangan pemuat setiap
tingkat sebesar U0. Dengan demikian penyalaan sela percik, maka
kondensator-kondensator Cs terhubung secara seri dan terjadi pelepasan
muatan ke kondensator beban Cbmelalui tahanan-tahanan peredam Rd.
Selanjutnya pelepasan muatandari semua kondensator akan melalui tahanan
pelepas Re dan juga Rd. Rangkaian Cascade Marx n tingkat dapat dibuat
rangkaian pengganti satu tingkatnya, dengan besaran-besarannya menjadi :

U0 = n U0’ Rd = n Rd ’
1
Cs = Cs ' Re = n Re’
n
Denikian juga sama halnya digunakan pembangkit impuls Cascade menurut
rangkaian (3.a).

4.2. Pengukuran Tegangan Impuls


Pengukuran tegangan impuls dapat dilakukan dengan sela percik bola,
karena kejadian tembus elektrik sela udara trejadi beberapa μ s setelah
dicapai tegangan tembus statis. Dengan demikian sela percik bola dapat
dipergunakan untuk pengukuran tegangan puncak impuls yang tidak terlalu
cepat dan untuk waktu ekor T2 50 μ s. Hal ini berlaku dengan mananggap
bahwa di dalam ruang antara sela bola terjadi pembawa muatan yang cukup,
dimana tembus elektrik akan langsung terjadi jika telah dicapai tinggi dan
kuat medan tertentu.

4.2.1.Waktu Keterlambatan Penyalaan


Kejadian tembus elektrik pada gas merupakan akibat perkembangan
“avalance” dengan adanya ionisasi tumbuhan molekul-molekul gas. Paa
sela elektroda di udara. Pelepasan muatan dapat diawali jika terjadi muatan
pembawa pada posisi yang baik di dalam ruang medan listrik. Jika pembawa
muatan tidak berada pada posisi tersebut, maka walaupuntegangan anjak
ionisasi Ue telah dilampaui, pelepasan muatan baru diawali setelah selang
waktuketerlambatan statis ts. Setelah terbentuk avalance elektron pertama
untuk pengembangan kenal pelepasan selanjutnya sampai erjadi tembus
elektrik memerlukan waktu pembentukan ts. Jumlah waktu-waktu tersebut
yaitu setelah sicapai tegangan anjak ionisasi Us pada t1 sampai terjadi tembus
elektrik, disebut waktu kelambatan penyalaan tembus elektrik.
Tv = ta + ts
Waktu keterlambatan penyalaan tersebut dapat dilihat pada gambar (5).

Gambar 5. Penentuan waktu kelambatan penyalaan


Pada tembus elektik tegangan impuls

4.2.2.Probabilitas Tembus Elektrik


Berdasarkan pengertian waktu kelambatan penyalaan seperti yang diuraikan
di atas, maka pada pengukuran tegangan puncak impuls dengan sela percik
bola tidak dapat diketahui besar perbedaan harga puncak tegangan U dengan
tembusnya Ud. Perbedaan ini dapat diketahui hanya jika dilakukan berulang
kali tembus elektrik pada sela bola tersebut.
Syarat terjadinya tembus elektrik, secara pendekatan dapat dipergunakan
kriteria waktu, dimana jika waktu setekah dicapai tegangan anjak ionisasi
melebihi waktu kelambatan penyalaan Tv, maka dapat dipastikan tembus
elektrik akan terjadi. Karena adanya simpangan pada ts dan ta, maka waktu
pembentukan waktu Tv akan tidak konstan. Harga rata-rata dari Tv berarti
juga harga-harga tegangan tembus Ud-50, dimana dalam hal ini dari sekian
kali pembebanan tegangan setengahnya terjadi tegangan tembus elektrik.
Secara umum dikatakan sebagai harga perubahan probabilitas tembus P
untuk harga puncak û atau tegangan impuls. Gambar 6 menjelaskan fungsi
distribusi tegangan tembus impuls pada suatu sela percik bola. Probabilitas
tembus adalah nol untuk û < Us, dimana tegangan tembus memiliki harga
batas bawah Ud-0 dan disebut sebagai tegangan ketahanan yang sangat
penting pengertiannya untuk perhitungan kekuataan elektrik suatu isolasi.
Ud-50 adalah harga tegangan yang dipergunakan untuk pengukuran dengan
sela percik bola. Ud-100 adalah harga tegangan kepastian terjadi tembus
elektik. Hal ini memiliki arti penting untuk sela percik pengaman pada suatu
arrester yang merupakan batas atas daerah simpangan tegangan impuls.
V. Prosedur Percobaan :

A. Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls Petir


1. Buat rangkaian percobaan seperti berikut tanpa obyek pengujian.

2. Catat temperatur dan tekanan udara sekeliling


3. Atur sela bola S dari elektroda bola pada harga tertentu.
4. Naikkan tegangan yang ditunjukkan oleh SM sampai dengan harga
tertentu yang diperkirakan dapat menyebabkan tembus pada sela bola,
bila dilakukan trigger.
5. Lakukan trigger secara manual. Bila belum terjadi tembus naikkan
harga tegangan SM dan di trigger lagi sampai terjadi tembus.
6. Catat harga tegangan yang diunjukkan oleh SM dan SV setiap kali
terjadi tembus.
7. Atur kembali lebar sela S untuk beberapa harga dan untuk setiap harga
S ini dilakukan percobaan seperti di atas.

B. Tingkat Kemungkinan Terjadinya Tegangan Tembus Pada Beberapa


Elektroda.
Lakukan prosedur percobaan di atas dengan mengganti susunan elektroda
bola-bola, jarum-jarum, piring-piring, batang-batang yang dipasang secara
bergantian.
C. Pengaruh Homogenitas Medan Terhadap Tegangan Impuls Pada Beberapa
Elektroda.
1. Lakukan prosedur percobaan di atas dengan memakai susunan
elektroda bola-piring dan jarum-piring sebagai obyek pengujian (TO).
2. Atur harga sela dari TO untuk harga-harga yang digunakan, sehingga
tembus pada TO adalah 50 % dari tembus pada sela S.
VI. Pertanyaan dan Tugas :

Pertanyaan :

1. Hitung besar waktu muka T1 dan waktu ekor T2.


2. Hitung besar derajat efisiensi η dari rangkaian tersebut berdasarkan
elemen rangkaian.
3. Buat kurva tegangan SV terhadap tegangan SM berdasarkan data
pengamatan pada percobaan tanpa obyek pengujian.
4. Buat kurva tegangan Ud-50 terhadap S dari setiap elektroda yang
digunakan.
5. Berikan analisa dan kesimpulan saudara.

Jawaban :

1. Hitung besar waktu muka T1 dan waktu ekor T2?


Diketahui :
CS = 500 pF = 500 x 10-12 F
CB = 1200 pF = 1200 x 10-12 F

RB = Rp // Rs
= (1,8 X 8,5) / (1,8 + 8,5)
= 1,7627 k

RD = RSL1 + RSL2 + RSL3 +Rk


= 345 + 115 + 115 + 50
= 625

T1 = ( RD + RB ) ( CS X CB )
= ( 625 + 1762,7 ) (( 500 x 10-12 ) x ( 1200 x 10-12 ))
= 2387,7 x (6 x 10-19)
= 1,43262 x 10-19 Sekon

T2 = (( RD x RB ) / ( RD + RB )) x (( CS x CB ) / ( CS + CB )
= (( 625 x 1762,7 ) / ( 625 + 1762,7 )) x (( 500 x 10-19 ) x (
1200 x 10-19 ) / ( 500 x 10-19) + ( 1200 x 10-19 ))

= ( 1101687,5 / 2387,7 ) x (6 x 10-19 / 1700 x 10-19 )

= 461,401 x (3,529 x 10-10)

=1,6283 X 10-7 Sekon

2. Hitung besar derajat efisiensi η dari rangkaian tersebut berdasarkan


elemen rangkaian?
η = CS / (CS + CB )
= 500 / ( 500 + 1200 )
= 0,2941 x 100%
= 29,41 %

3. Buat kurva tegangan (V) terhadap tegangan tembus (Kv)


berdasarkan data pengamatan pada percobaan tanpa obyek
pengujian?
TERLAMPIR

4. Buat kurva tegangan Ud-50 terhadap S dari setiap elektroda yang


digunakan?
TERLAMPIR

5. Berikan analisa dan kesimpulan saudara?


TERLAMPIR
VII. Data Hasil Percobaan

Parameter

Jarak
No.
(mm)
Arus Arus Tegangan
Charging Suhu Tekanan Kelembapan
Sekunder Primer Tembus
Range (°F) (Atm) (%)
(A) (mA) (kV)

8 10 2,4 8 78 984 76
1. 2 8 10 2,4 8 78 984 76
8 10 2,4 8 78 984 76
13 10 2,6 16 78 984 76
2. 4 12 10 2,6 16 78 984 76
12 10 2,8 16 78 984 76
16 10 3,2 14 78 984 76
3. 6 16 10 3,2 14 78 984 76
16 10 3,4 14 78 984 76
19 10 3,6 20 78 984 76
4. 8 19 10 3,6 20 78 984 76
20 10 3,8 21 78 984 76
22 10 4 24 78 984 76
5. 10 22 10 4 24 78 984 76
23 10 4,2 25 78 984 76
VIII. Pengolahan Data

a. Tegangan Tembus

1. Tegangan Tembus pada Jarak 2 mm

8+8+8
a). VB rata-rata = 3

VB rata-rata =8

|V1 − VB rt |+|V2 −VB rt |+|V3 −VB rt |


b). Δ VB rata-rata = 3
|8−8|+|8−8|+|8−8|
Δ VB rata-rata = 3

Δ VB rata-rata =0

c). Kesalahan Absolut = Δ VB rata-rata ± VB rata-rata


Kesalahan Absolut =0±8
Kesalahan Absolut =0+8=8
Kesalahan Absolut = 0 – 8 = -8

ΔVB rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
VB rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 8 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

2. Tegangan Tembus pada Jarak 4 mm

16+16+15
a). VB rata-rata = 3

VB rata-rata = 15,6

|V1 − VB rt |+|V2 −VB rt |+|V3 −VB rt |


b). Δ VB rata-rata = 3
|16−15,6|+|16−15,6|+|15−15,6|
Δ VB rata-rata = 3

Δ VB rata-rata = 0,46

c). Kesalahan Absolut = Δ VB rata-rata ± VB rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,46 ± 15,6
Kesalahan Absolut = 0,46 + 15,6 = 16,06
Kesalahan Absolut = 0,46 – 15,6 = -15,14

ΔVB rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
VB rata−rata
0,46
Kesalahan Relatif = 15,6 x 100%

Kesalahan Relatif = 2,95 %

3. Tegangan Tembus pada 6 mm

14+14+14
a). VB rata-rata = 3

VB rata-rata = 14

|V1 − VB rt |+|V2 −VB rt |+|V3 −VB rt |


b). Δ VB rata-rata = 3
|14−14|+|14−14|+|14−14|
Δ VB rata-rata = 3

Δ VB rata-rata =0

c). Kesalahan Absolut = Δ VB rata-rata ± VB rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 14
Kesalahan Absolut = 0 + 14 = 14
Kesalahan Absolut = 0 – 14 = -14

ΔVB rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
VB rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 14 x 100%
Kesalahan Relatif =0%

4. Tegangan Tembus pada Jarak 8 mm

20+20+21
a). VB rata-rata = 3

VB rata-rata = 20,3

|V1 − VB rt |+|V2 −VB rt |+|V3 −VB rt |


b). Δ VB rata-rata = 3
|20−20,3|+|20−20,3|+|21−20,3|
Δ VB rata-rata = 3

Δ VB rata-rata = 0,43

c). Kesalahan Absolut = Δ VB rata-rata ± VB rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,43 ± 20,3
Kesalahan Absolut = 0,43 + 20,3 = 20,73
Kesalahan Absolut = 0,43 – 20,3 = -19,7

ΔVB rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
VB rata−rata
0,43
Kesalahan Relatif = 20,3 x 100%

Kesalahan Relatif = 2,13 %

5. Tegangan Tembus pada Jarak 10 mm

24+24+25
a). VB rata-rata = 3

VB rata-rata = 24,3

|V1 − VB rt |+|V2 −VB rt |+|V3 −VB rt |


b). Δ VB rata-rata = 3
|24−24,3|+|24−24,3|+|25−24,3|
Δ VB rata-rata = 3

Δ VB rata-rata = 0,43
c). Kesalahan Absolut = Δ VB rata-rata ± VB rata-rata
Kesalahan Absolut = 0,43 ± 24,3
Kesalahan Absolut = 0,43 + 24,3 = 24,73
Kesalahan Absolut = 0,43 – 24,3 = -23,87

ΔVB rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
VB rata−rata
0,43
Kesalahan Relatif = 24,3 x 100%

Kesalahan Relatif = 2,13 %

b. Arus Primer (mA)

1. Arus Primer pada Jarak 2 mm

2,6+2,6+2,8
a). I Primer rata-rata = 3

I Primer rata-rata = 2,6

|I1 − Ipri−rt |+|I−Ipri−rt |+|I3 −Ipri−rt |


b). Δ I Primer rata-rata = 3
0,2
Δ I Primer rata-rata = 3

Δ I Primer rata-rata = 0,06

c). Kesalahan Absolut = ΔI Pri-rata-rata ± I Pri-rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,06 ± 2,6
Kesalahan Absolut = 0,06 + 2,6 = 2,66
Kesalahan Absolut = 0,06 – 2,6 = -2,54

Δ I Primer rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
I Primer rata−rata
0,06
Kesalahan Relatif = x 100%
2,6
Kesalahan Relatif = 2,31 %

2. Arus Primer pada Jarak 4 mm

2,4+2,4+2,4
a). I Primer rata-rata = 3

I Primer rata-rata = 2,4

|I1 − Ipri−rt |+|I−Ipri−rt |+|I3 −Ipri−rt |


b). Δ I Primer rata-rata = 3
0
Δ I Primer rata-rata =3

Δ I Primer rata-rata =0

c). Kesalahan Absolut = ΔI Pri-rata-rata ± I Pri-rata-rata


Kesalahan Absolut = 0 ± 2,4
Kesalahan Absolut = 0 + 2,4 = 2,4
Kesalahan Absolut = 0 – 2,4 = -2,4

Δ I Primer rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
I Primer rata−rata
0
Kesalahan Relatif = 2,4 x 100%

Kesalahan Relatif =0%

3. Arus Primer pada Jarak 6 mm

3,2+3,2+3,4
a). I Primer rata-rata = 3

I Primer rata-rata = 3,26

|I1 − Ipri−rt |+|I−Ipri−rt |+|I3 −Ipri−rt |


b). Δ I Primer rata-rata = 3
0,27
Δ I Primer rata-rata = 3

Δ I Primer rata-rata = 0,09


c). Kesalahan Absolut = ΔI Pri-rata-rata ± I Pri-rata-rata
Kesalahan Absolut = 0,09 ± 3,26
Kesalahan Absolut = 0,09 + 3,26 = 3,35
Kesalahan Absolut = 0,09 – 3,26 = -2,36

Δ I Primer rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
I Primer rata−rata
0,09
Kesalahan Relatif = 3,26 x 100%

Kesalahan Relatif = 2,76 %

4. Arus Primer pada Jarak 8 mm

3,6+3,6+3,8
a). I Primer rata-rata = 3

I Primer rata-rata = 3,6

|I1 − Ipri−rt |+|I−Ipri−rt |+|I3 −Ipri−rt |


b). Δ I Primer rata-rata = 3
0,2
Δ I Primer rata-rata = 3

Δ I Primer rata-rata = 0,06

c). Kesalahan Absolut = ΔI Pri-rata-rata ± I Pri-rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,06 ± 3,6
Kesalahan Absolut = 0,06 + 3,6 = 3,66
Kesalahan Absolut = 0,06 – 3,6 = -3,54

Δ I Primer rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
I Primer rata−rata
0,06
Kesalahan Relatif = x 100%
3,6

Kesalahan Relatif = 1,6 %

5. Arus Primer pada Jarak 10 mm


4+4+4,2
a). I Primer rata-rata = 3

I Primer rata-rata = 4,06

|I1 − Ipri−rt |+|I−Ipri−rt |+|I3 −Ipri−rt |


b). Δ I Primer rata-rata = 3
0,27
Δ I Primer rata-rata = 3

Δ I Primer rata-rata = 0,09

c). Kesalahan Absolut = ΔI Pri-rata-rata ± I Pri-rata-rata


Kesalahan Absolut = 0,09 ± 4,06
Kesalahan Absolut = 0,09 + 4,06 = 4,15
Kesalahan Absolut = 0,09 – 4,06 = -3,97

Δ I Primer rata−rata
d). Kesalahan Relatif = x 100%
I Primer rata−rata
0,09
Kesalahan Relatif = 4,06 x 100%

Kesalahan Relatif = 2,22 %


IX. Analisa Hasil Percobaan

Pada percobaan mengenai Tegangan Tinggi Impuls akan dilakukan


pengamatan, penelitian dan perhitungan manual. Dengan menggunakan rangkaian
seperti pada lampiran terdiri dari trafo, kapasitor sisi primer, diode, kapasitor sisi
sekunder, isolator yang akan dibangkitkan tegangan hingga 100.000 Volt (100
kV). Pada percobaan ini kita akan melakukan dengan perlakuan jarak elektroda
bola yang digunakan adalah 3 mm, 5 mm, 7 mm dan 8 mm. Parameter yang
diukur antara lain arus primer, arus sekunder, tegangan tembus, suhu, tekanan dan
kelembaban. Masing-masing tiap jarak dilakukan tiga kali percobaan agar didapat
data yang akurat.
Ketika percobaan dimulai dengan menentukan charging range maka akan
terlihat pada jaram 3 mm terjadi nilai yang berbeda pada arus primer, arus
sekunder, tegangan tembus. Namun, perbedaan nilai ini disebabkan oleh
kesalahan paralaks dari praktikan yang melihat hasilnya pada layar kontrol panel
dan peak voltmeter. Hal ini juga terjadi pada jarak 5 mm, 7 mm dan 8 mm namun
pada jarak ini nilai dari tegangan tembus akan meningkat dan cenderung sama
pada setiap perlakuannya.
Kenaikan nilai tegangan tembus akan sebanding dengan jarak elektroda
yang diatur hal ini menunjukkan pengaruh jarak membuat elektron-elektron pada
bagian sudut elektroda akan memberikan energy yang besar untuk menimbulkan
loncatan bunga api sehingga tegangan tembusnya pun besar. Nilai arus primer dan
arus sekunder pada masing-masing jarak pun cenderung bear (sebanding). Pada
saat setelah melakukan setiap percobaan, maka peralatan (bagian) harus di-
grounding dengan tongkat Faraday agar aman.
X. Kesimpulan

1. Jarak antar elektroda akan sebanding dengan nilai tegangan tembus.


2. Nilai dari arus primer dan arus sekunder akan sebanding dengan jarak
antar elektroda.
3. Dengan jarak yang cukup jauh antar elektroda mempengaruhi pergerakkan
elektron-elektron untuk menimbulkan loncatan bunga api.
4. Tegangan impuls dapat dibangkitkan hingga 100.000 Volt (100 kV).
5. Peralatan harus di-grouding setelah dilakukan setiap setelah percobaan
agar aman.
LAMPIRAN GRAFIK

1. Grafik Tegangan Tembus

Tegangan Tembus
30
Tegangan Tembus Rata-rat (kV)

25

20

15

10

0
0 2 4 6 8 10 12
Jarak (mm)

2. Grafik Arus Primer

Arus Primer
4.5
4
Arus Primer Rata-rat (mA)

3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0 2 4 6 8 10 12
Jarak (mm)
LAMPIRAN GAMBAR

1. Peak Voltmeter dan AC Peak Voltmeter

2. Kontrol Panel
3. Hygrometer, Pressuremeter dan Thermometer

4. Rangkaian Tegangan Tinggi Impuls


DAFTAR PUSTAKA

Dieter Kind, 1978. “An Introduction to High-Voltage Experimental Technique:


Textbook for Electrical Engineers”, Vieweg Teubner Verlag, Germany.

E. Kuffel, W. S. Zaengl, 2000, “High Voltage Engineering Fundamental” Second


Edition, Butterworth-Heinemann.

M. S. Naidu, V. Kamaraju, 1996, “High Voltage Engineering”, Tata McGraw-


Hill Publishing Company Limited.

Zainuddin Nawawi, 2006, “Petunjuk Praktikum Teknik Tegangan Tinggi”,


Laboratorium Teknik Tegangan Tinggi dan Pengukuran Listrik, Jurusan
Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
IX. Analisa Hasil Percobaan

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
X. Kesimpulan

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
IX. Analisa Hasil Percobaan

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
X. Kesimpulan

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………