Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat
mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi
berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005).

Asma merupakan penyakit kronik tersering pada anak dan masih tetap
merupakan masalah bagi pasien, keluarga, dan bahkan para klinisi dan peneliti
asma. Mengacu pada data epidemiologi Amerika Serikat pada saat ini
diperkirakan terdapat 4-7% (4,8 juta anak) dari seluruh populasi asma. Selain
karena jumlahnya yang banyak, pasien asma anak dapat terdiri dari bayi , anak,
dan remaja.

Banyak faktor yang dapat mencetuskan penyakit alergi seperti faktor


lingkungan misalnya alergen, infeksi, polusi dan lain-lain yang dapat memulai
sensitisasi alergi dan menimbulkan manifestasi klinis. Pencegahan asma pada
anak yang dapat dilakukan oleh orang tua ataupun pengasuhnya yaitu mengajari
anak-anak bagaimana cara cuci tangan secara benar untuk menjauhkan dari
penyebaran bakteri dan virus penyebab asma dan membatasi anak agar tidak
terlalu terpajan oleh faktor alergen yang emnjadi pemicu asma. Sebagai tenaga
kesehatan harus memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada anak dengan
asma agar komplikasi-komplikasi yang menyertai dapat dicegah sehingga anak
dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.

1.1 Tujuan
Untuk mengetahui asuhan keperawatan apa yang diberikan pada anak
penderita asma bronchial.

1.2 Manfaat
Dapat mengetahui asuhan keperawatan apa yang diberikan pada anak
penderita asma bronchial.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Asma Bronkial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
wheezing (mengi) intermiten yang timbul sebagai respon akibat paparan
terhadap suatu zat iritan atau alergan. (Margaret Varnell Clark, 2013)
Asma Bronkial adalah penyakit kronis dengan serangan nafas pendek,
wheezing dan batuk dari konstriksi dan membran mukosa yang bengkak
didalam bronkus (jalan nafas dalam paru-paru). Hal ini terutama disebabkan
oleh alergi atau infeksi saluran pernafasan. Kedu, asap rokok dapat
mengakibatkan asma pada anak. (Britannica Concise Encyclopedia, 2007)
Asma bronkial adalah gangguan pernafasan ditandai dengan serangan
berulang kesulitan bernafas terutama saat menghembuskan nafas oleh karena
peningkatan ketahanan aliran udara melalui pernafasan bronkeolus. (sport
science and medicine, 2007)
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa asma bronkial
adalah penyempitan sebagian dari otot halus pada bronkus dan bronkiolus
yang bersifat reversible dan disebabkan oleh berbagai penyebab seperti
infeksi, alergi dan lain-lain.

B. Anatomi Fisiologi
Sistem pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang
mengantarkan udara luas agar bersentuhan dengan membran-membran kapiler
alveoli paru. Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah
hidung, pharing, laring, bronkus dan bronkioulus yang dilapisi oleh membran
mukosa bersilia.
a. Hidung
Ketika udara masuk ke rongga hidung udara tersebut disaring, dihangatkan
dan dilembabkan. Partikel-partikel yang kasar disaring oleh rambut-rambut
yang terdapat di dalam hidung, sedangkan partikel halus akan dijerat
dalam lapisan mukosa, gerakan silia mendorong lapisan mukus ke
posterior di dalam rongga hidung dan ke superior di dalam saluran
pernafasan bagian bawah.
b. Pharing
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung
dan mulut setelah depan ruas tulang leher.
Hubungan pharing dengan rongga-rongga lain: ke atas berhubungan
dengan rongga hidung dengan perantaraan lubang yang bernama koana.
Ke depan berhubungan dengan rongga mulut. Tempat hubungan ini
bernama istmus fausium lubang esophagus.
Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat
terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening dinamakan
adenoid. Di sebelahnya terdapat dua buah tonsil kiri dan kanan dari tekak.
Di sebelah belakang terdapat epiglotis (empang tengkorak) yang berfungsi
menutup laring pada waktu menelan makanan.
Rongga tekak dibagi menjadi 3 bagian:
 Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut
nasofaring.
 Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut
orofaring.
 Bagian bawah skali dinamakan laringofaring.
c. Laring
Laring terdiri dari satu seri cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh
otot-otot pita suara. Laring dianggap berhubungan dengan fibrasi tetapi
fungsinya sebagai organ pelindung jauh lebih penting. Pada waktu
menelan laring akan bergerak ke atas glotis menutup.
Alat ini berperan untuk membimbing makanan dan cairan masuk ke dalam
esophagus sehingga kalau ada benda asing masuk sampai di luar glotis
maka laring mempunyai fungsi batuk yang membantu benda dan sekret
dari saluran inspirasi bagian bawah.
d. Trakea
Trakea disokong oleh cincin tulang yang fungsinya untuk
mempertahankan oagar trakea tatap terbuka. Trakea dilapisi oleh lendir
yang terdiri atas epitelium bersilia, jurusan silia ini bergerak jalan ke atas
ke arah laring, maka dengan gerakan ini debu dan butir halus yang turut
masuk bersama dengan pernafasan dapat dikeluarkan.
e. Bronkus
Dari trakea udara masuk ke dalam bronkus. Bronkus memiliki
percabangan yaitu bronkus utama kiri dan kanan yang dikenal sebagai
karina. Karina memiliki syaraf yang menyebabkan bronkospasme dan
batuk yang kuat jika dirangsang. Bronkus utama kiri dan kanan tidak
simetris, bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar yang arahnya hampir
vertikal, sebalinya bronkus ini lebih panjang dan lebih sempit. Cabang
utama bronkus bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian
segmentalis. Percabangan ini berjalan terus dan menjadi bronkiolus
terminalis yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli.
f. Bronkiolus
Saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis merupakan
saluran penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru setelah
bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru yaitu
tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari bronkiolus respiratorik, duktus
alveolaris, sakus alveolaris terminalis, alveolus dipisahkan dari alveolus di
dekatnya oleh dinding septus atau septum.
Alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfaktan yang
dapat mengurangi tegangan pertukaran dalam mengurangi resistensi
pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah kolaps alveolus pada
ekspirasi.
Peredaran Darah Paru-Paru
Paru-paru mendapat dua sumber suplai darah yaitu dari arteri bronkialis
(berasal dari aorta thorakhalis dan berjalan sepanjang dinding posterior
bronkus) dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronchial menyediakan darah
teroksigenasi dari sirkulasi sitemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan
metabolisme paru.
Vena bronkialis besar bermuara pada vena cava superior dan
mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena bronkialis yang lebih kecil
akan mengalirkan darah ke vena pulmonalis. Arteri pulmonalis yang
berasal dari ventrikel kanan jantung mengalirkan darah vena campuran ke
paru-paru. Di paru-paru terjadi pertukaran gas antara alveoli dan darah,
darah yang teroksigenasi dikembalikan ke ventrikel kiri jantung melalui
vena pulmonalis, yang selanjutnya membagikannya melalui sirkulasi
sistemik ke seluruh tubuh.

C. Etiologi Asma
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun, belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial. Jika terpapar dengan faktor pencetus.
Selain itu hipersensivitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan
(Smeltzer, 2002 : 611).
b. Faktor Presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :
a) Inhalan yang masuk melalui saluran pernapasan.
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi.
b) Ingestan yang masuk melalui mulut.
Ex : makanan dan obat-obatan.
c) Kentraktan yang masuk kontak dengan kulit
Ex : perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca
Perubahan tahanan : perubahan suhu udara, angin dan kelembaban
udara dihubungkan dengan percepatan dan terjadinya serangan asma
(Ngastiyah, 1997 : 68).
2) Infeksi
Pilek dan infeksi virus lain, serangan seringkali dicetuskan oleh infeksi
pada sinus atau cabang bronchus (Barbara C. Long : 509).
3) Stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma.
Selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita
asma yang mengalami stress atau gangguan emosi perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya, karena jika stressnya belum
diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4) Kegiatan olahraga atau jasmani yang berat
Kegiatan jasmani berat misalnya berlari atau naik sepeda dapat
memicu serangan asma. Bahkan tertawa dan menangis yang berlebihan
dapat merupakan pencetus (Ngastiyah, 1997 : 68).
5) Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang
yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik absbes,
polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

D. Mekanisme Klinis
Gejala-gejala asma berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas
bronkus.
Menurut Barbara C. Long 1996, gejala-gejala asma antara lain :
1. Serangan seering terjadi pada malam hari
2. Pasien terbangun dan merasa tercekik
3. Bronkospasme dan penyempitan jalan nafas menyebabkan wheezing saat
ekshalasi
Sedangkan menurut Arif Mansjoer 1999, gejala-gejala asma antara lain :
1. Bising mengi ( wheezing ) yang terdengar dengan cara tanpa stetoskop
2. Batuk produktif sering pada malam hari
3. Nafas atau dada seperti tertekan
4. Gejala bersifat paroksimal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk
pada malam hari
Dan menurut Linda & Sawden 2002, gejala asma antara lain :
1. Bukti klinis obstruksi jalan nafas. Obstruksi dapat terjadi secara bertahap
atau akut dan perkiraan keparahan eksaserbasi akut disebut ringan,sedang
dan berat
2. Dispnea dengan ekspirasi memanjang
3. Mengi waktu ekspirasi
4. Pernapasan cuping hidung
5. Batuk
6. Memakai obat pernafasan tambahan
7. Ansietas, iritabilitas sampai penurunan tingkat kesadaran
8. Asianosis
9. Penurunan PCO2 pada awalnya, akibat hiperventilasi kemudian naiknya
PCO2 saat obstruksi menghebat

E. Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan nafas difus riversibel obstruksi
disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini (1) konstraksi otot-otot
yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan nafas, (2) pembengkakan
membran yang melapisi bronik, dan (3) pengisian dengan mukus yang kental.
Selain itu, otot-otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang
kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiper inflasi dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini
tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem
immunologis dan sistem saraf otonom. ( C. Long, 1996 )
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk
terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian
menyerang sel-sel masa dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan
produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A).
Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polis dan
kelenjar jalan nafas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran
mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak. ( C. Smeltzer, 2000 )
Sistem saraf otonom mempersarafi paru, tonus otot bronkial diatur
oleh impuls saraf legal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau
non alergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor, seperti
infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan polutan. Jumlah asetilkolin yang
dilepaskan meningkat pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan
bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi yang
dibahas diatas. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah
terhadap respons parasimpatis. ( C. Smeltzer, 2000 )
Selain itu reseptor  dan  adrenergik dari sistem saraf simpatis
terletak dalam bronki. Ketika reseptor  adrenergik dirangsang, terjadi
bronkokonstriksi; bronkodilatasi terjadi ketika reseptor  adrenergik yang
dirangsang. Keseimbangan antara reseptor  -  adrenergik dikendalikan
terutama oleh siklik adenosia monofosfat (c Amp).Stimulasi reseptor alfa
mengakibatkan penurunan (c Amp), yang mengarah pada peningkatan
mediator kimian, yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi.
Stimulasi reseptor-beta mengakibatkan peningkatan tingkat c Amp yang
mengambat pelepasan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi.
Teori yang diajukan adalah bahwa penyekatan  adrenergik terjadi pada
individu dengan asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan
mediator kimiawi dan konstruksi otot polos. ( C. Smeltzer, 2000 )

F. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Lemone & Burke (2000) cara untuk melakukan pemeriksaan
penunjang pada penyakit asma bronkhiale adalah sebagai berkut:
1. ABGs (Analisis Blood Gas) atau analisa gas darah selama serangan
akut menggambarkan untuk mengevaluasi ph darah, tekanan
oksigen, dan menunjukkan hipoksemia karbon dioksida. ABGs
awalnya menunjukkan hipoksemia dengan PO2 o1eh karenanya
pasien takipnea.
Bila aliran udara dan ventilasi terjadi hipoxemia dan asidosis
respiratory yang berarti (ph < 7,35 dan P CO2 > 42 mmHg).
Gangguan respirasi mengindikasikan kebutuhan venstilasi secara
mekanik.
2. Pemeriksaan sputum pada klien asma menunjukkan adanya
eosinofil yang banyak dan sel darah putih lainnya.
3. Percobaan klien mungkin dilakukan untuk mengidentifikasi alergen
secara spesifik jika dicurigai alergi sebagai pencetus terjadinya
serangan asma.
4. Tes fungsi paru digunakan untuk mengetahui derajat obstruksi jalan
napas. Test fangsi paru dilakukan sebelum dan sesudah penggunaan
aerosol bronkodilator penting untuk menentukan reservibilitas
obstruksi jalan napas.
Volume residu mungkin meningkat dan kapasitas vital
menurun/berkurang atau normal terjadi selama periode remisi.
Forced expiratory flow rate (PEFR) adalah sebagian besar fungsi
paru yang penting dipelajari untuk mengetahui berbagai serangan
asma dan untuk mengukur keefektifan pengobatan.
5. Tes profokasi bronkial digunakan untuk mendapat diagnosis asma
oleh karena hiperaktivitas jalan napas. Substansi seperti
methacholine atau histamia inhaled, dan tes fungsi paru dilakukan
untuk mengetahui responsivitas jalan nafas.
6. CBC dengan WBC differential sering menunjukkan tingginya
hitung eosinofil. Peningkatan eosinofil mungkin berhubungan
dengan serangan asma.
7. Sinar X dada : dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru,
peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkhitis), hasil selama
periode remisi dari Asma (Doenges, 1999).

Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Doengoes 2000, antara lain :
1. Sinar X dada
Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi / bula (
emfisema ) ; peningkatan tanda bronkovaskuler ( bronchitis ) ; hasil
normal selama periode remisi ( asma )
2. Tes fungsi paru
Digunakan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi. Untuk
memperkirakan derajat difungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi.
Misalnya : bromkodilator.
3. TLC ( kapasitas paru total )
Peningkatan pada luasnya bronchitis dan kadang-kadang pada asma;
penurunan emfisema.
4. Kapasitas inspirasi
Menurun pada emfisema
5. Volume residu
Meningkat pada emfisema, bronchitis kronis dan asma
6. FEV1/FVC
Rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat. Menurun pada
bronchitis dan asma
7. GDA ( gas darah arteri )
Memperkirakan progesi proses penyakit kronis. Misalnya : paling PaO2
menurun, dan PaO2 normal atau meningkat ( bronchitis kronis dan
emfisema ). Tetapi sering menurun pada asma; PH normal atau asidotik,
alkalosis respiratorik ringan sekunder terhadap hiperventilasi ( emfisema
sedang atau asma ).
8. Bronkogram
Dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi; kolaps
bronchial pada ekspirasi kuat ( emfisema ); pembesaran duktus mukosa
yang terlihat pada bronkitis.
9. JDL dan differensial
Haemoglobin meningkat ( emfisema luas ), peningkatan eosinofil ( asma ).
10. Kimia darah
Alfa I-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa
emfisema primer.
11. Sputum
Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen;
pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
12. EKG
Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P ( asma berat ); disritmia
atrial ( bronchitis ), peninggian gelombang P pada lead I, III, AVF (
bronchitis, emfisema ); aksis vertical QRS (emfisema ).
13. EKG latihan, tes stress
Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi
keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan / evaluasi program latihan.

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis
1. Pencegahan terhadap pemajanan allergen
2. Pencegahan juga mencakup memantau ventilasi, terutama selama waktu-
waktu puncak serangan asma. Misalnya musim dingin
3. Pemakaian obat-obat anti inflamasi pada permulaan serangan atau terapi
steroid inhalasi untuk menghentikan rangkaian proses peradangan
4. Golongan metal-xantin juga menghilangkan spasme
5. Obat-obat antikolinergik dapat diberikan untuk mengurangi efek
parasimpatis sehingga melemaskan otot polos bronkhiolus
6. Antihistamin diberikan untuk mengurangi peradangan
7. Intervensi farmakologis selama serangan akut, mencakup inhalasi obat-
obat simpatis B2, melemaskan jalan nafas dan meningkatkan ventilasi
8. Intervensi perilaku, yang ditujukan untuk menenangkan pasien agar
rangsangan parasimpatis ke jalan nafas berkurang
Penatalaksanaan keperawatan menurut C. Long 1996 antara lain :
1. Mempermudah pernafasan
a. Tempatkan pasien pada posisi high fowler
b. Bantu pasien untuk membatukkan secret
Sumbatan mucus merupakan masalah yang lazim
- Obat pengencer
- Humudifikasi
- Cairan dengan bebas
2. Membantu kenyamanan dan ADL
a. Jangan meniggalkan pasien sendirian selama serangan asma, dia
mungkin ketakutan dan perlu mendapat perhatian dan perlindungan
terus-menerus
b. Pada akhir serangan
- Seka pasien dan berikan gosokan punggung
- Mengganti baju pasien dan sprei yang biasanya basah karena
diaphoresis
- Menemani pasien sampai ia tidur
3. Konseling dan pendidikan
a. Pasien dengan asma immunologic
- Ajari pasien cara mempersiapkan lingkungan tempat tidur yang
terkontrol
- Ajari pasien untuk menghindari allergen
b. Penderita asma non immunologic
- Ajari pasien cara mencegah infeksi
- Perlu segera mendapat pertolongan medis bila terdapat infeksi
saluran pernafasan atas

H. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :
a. Status asmatikus
Suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai
beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang
lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat
kematian, oleh karena itu :
- Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan
diutamakan terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran
pernapasan.
- Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor
yang merangsang timbulnya serangan (debu, serbuk, makanan tertentu,
infeksi saluran napas, stress emosi, obat-obatan tertentu seperti aspirin,
dan lain-lain)
b. Atelektasis
Pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran
udara (bronkus maupun bronkiolus ) atau akibat pernafasan yang sangat
dangkal
c. Hipoksemia
Hipoksemia (atau Hypoxaemia) secara umum didefinisikan sebagai
penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah, kadang-kadang khusus
kurang dari yang, tanpa spesifikasi lebih lanjut, akan mencakup baik
konsentrasi oksigen terlarut dan oksigen yang terikat pada hemoglobin.
d. Pneumothoraks
 Kolaps paru-paru / pneumothoraks (Pneumothorax) adalah
penimbunan udara atau
 Gas di dalam rongga pleura yang dapat mengakibatkan tekanan udara
meningkat dan
 enurunnya kapasitas vital paru-paru sehingga akan menyebabkan
kegagalan pernafasan.
e. Emfisema
Empesema adalah suatu kelainan anatomik paru yang ditandai oleh
pelebaran secara abnormal saluran napas bagian distal broncus terminalis,
disertai dengan kerusakan alveoli yang irreversible.
2.6 Prognosis
Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir
menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi beresiko
yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara
umum angka kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma
pria. Juga kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia
tua lebih banyak, kalau serangan asma diketahui dan dimulai sejak kanak –
kanak dan mendapat pengawasan yang cukup kira-kira setelah 20 tahun,
hanya 1% yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering
mengalami serangan common cold 29% akan mengalami serangan ulang.11
Pada penderita yang mengalami serangan intermitten angka
kematiannya 2%, sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan
serangan terus menerus angka kematiannya 9%.
Allergen (debu,bulu,serbuk sari)

Non allergen(emosi,pollutan,merokok)

Masuk ke dalam paru

Respons imun yang buruk

Pembentukan antibody Ig E Impuls saraf simpatis

Menuju sel-sel mast dalam paru


Pelepasan asetilkolin

Pelepasan produk sel mast/mediator


(histamine,bradikinin,prostlagandin)
Menyempitkan saluran bronkokonstriksi
pernafasan
Pembengkakan membran mukosa
dispnea

hiperventilasi Penurunan kerja silia

Ketidakmampuan membuang sekret RESTI INFEKSI O2 tidak adekuat


CO2 meningkat dan O2 untuk aktivitas
turun
Akumulasi sekret
kelelahan
penurunan nafsu makan
KERUSAKAN PERTUKARAN BERSIHAN JALAN NAFAS Rangsang batuk
GAS TAK EFEKTIF

DEFISIT PERAWATAN
GANGGUAN POLA DIRI
TIDUR Sumber :

- C. Smeltzer, 2000
- C. Long, 1996
I. ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengumpulan Data.
1) Identitas klien.
Pengkajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin perlu di kaji pada penyakit status
asthmatikus. Alamat menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien berada, dapat
mengetahui kemungkinan faktor pencetus serangan asthma. Status perkawinan,
gangguan emosional yang timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan faktor
pencetus serangan asthma, pekerjaan, serta bangsa perlu juga digaji untuk mengetahui
adanya pemaparan bahan elergen. Hal lain yang perlu dikaji tentang : Tanggal MRS,
Nomor Rekam Medik, dan Diagnosa medis.

2) Riwayat penyakit sekarang.


Klien dengan serangan asthma datang mencari pertolongan dengan keluhan, terutama
sesak napas yang hebat dan mendadak kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain
yaitu : Wheeezing, Penggunaan otot bantu pernapasan, kelelahan gangguan kesadaran,
sianosis serta perubahan tekanan darah. Perlu juga dikaji kondisi awal terjadinya
serangan.

3) Riwayat penyakit dahulu.


Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti infeksi saluran napas
atas, sakit tenggorokan,tonsillitis, sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asthma
frekuensi, waktu, alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan serta
riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asthma.

4) Riwayat kesehatan keluarga.


Pada klien dengan serangan status asthmatikus perlu dikaji tentang riwayat penyakit
asthma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena
hipersensitifitas pada penyakit asthma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik.

5) Riwayat spikososial
Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan
asthma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar sampai
lingkungan kerja.
6) Pola fungsi kesehatan

a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat


Gejala asthma dapat membatasi manusia untuk berprilaku hidup normal sehingga
klien dengan asthma harus merubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang
memungkinkan tidak terjadi serangan asthma

b) Pola nutrisi dan metabolisme


Perlu dikaji tentang status nutrisi klien meliputi, jumlah, frekuensi, dan kesulitan-
kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. (Hudak dan Gallo;1997)

c) Pola eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna bentuk,
konsentrasi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam melaksanakannya.

d) Pola tidur dan istirahat


Perlu dikaji tentang bagaimana tidur dan istirahat klien meliputi berapa lama klien
tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami klien. Adanya
wheezing, sesak dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien

e) Pola aktifitas dan latihan


Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian klien seperti olah raga, bekerja dan
aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat menjadi faktor pencetus terjadinya asthma
yang disebut dengan Exercise Induced Asthma.

f) Pola hubungan dan peran


Gejala asthma sangat membatasi gejala klien untuk menjalani kehidupan secara
normal. Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran klien
baik dilingkungan rumah tangga, masyarakat ataupun lingkungan kerja.

g) Pola persepsi dan konsep diri


Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap penyakitnya. Persepsi yang salah dapat
menghambat respon kooperatif pada diri klien. Cara memandang diri yang salah
juga akan menjadi stresor dalam kehidupan klien. Semakin banyak stresor yang ada
pada kehidupan klien dengan asthma meningkatkan kemungkinan serangan asthma
yang berulang.
h) Pola sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri klien dan
akhirnya mempengaruhi jumlah stressor yang dialami klien sehingga kemungkinan
terjadi serangan asthma yang berulang akan semakin tinggi.

i) Pola reproduksi seksual


Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan ini tidak
terpenuhi akan terjadi masalah dalam kehidupan klien. Masalah ini akan menjadi
stressor yang akan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan asthma.

j) Pola penangulangan stress


Stress dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik pencetus serangan
asthma maka perlu dikaji penyebab terjadinya stres. Frekuensi dan pengaruh
terhadap kehidupan klien serta cara penanggulangan terhadap stresor.

k) Pola tata nilai dan kepercayaan


Kedekatan klien pada sesuatu yang ia yakini dunia percayai dapat meningkatkan
kekuatan jiwa klien. Keyakinan klien terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta
pendekatan diri pada Nya merupakan metode penanggulangan stres yang
konstruktif dan adaptif.

7) Pemeriksaan fisik
a) Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara bicara,
tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang meningkatan, penggunaan otot-otot
pembantu pernapasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket dan posisi istirahat
klien
b) Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit,
kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya
bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis pada rambut di kaji warna rambut,
kelembaban dan kusam.
c) Kepala.
Dikaji tentang bentuk kepala, simetris adanya penonjolan, riwayat trauma, adanya
keluhan sakit kepala atau pusing, vertigo kejang ataupun hilang kesadaran.
d) Mata.
Adanya penurunan ketajaman penglihatan akan menambah stres yang di rasakan
klien.
e) Hidung
Adanya pernafasan menggunakan cuping hidung, rinitis, alergi dan fungsi olfaktori.
f) Mulut dan laring
Dikaji adanya perdarahan pada gusi. Gangguan rasa menelan dan mengunyah, dan
sakit pada tenggorok serta sesak atau perubahan suara.
g) Leher
Dikaji adanya nyeri leher, kaku pada pergerakaan, pembesaran tiroid serta
penggunaan otot-otot pernafasan.
h) Thorak
(1) Inspeksi
Dada diinspeksi terutama postur bentuk dan kesimetrisan, adanya peningkatan
diameter anteroposterior, retraksi otot-otot interkostalis, frekuensi, irama dan
kedalaman pernafasan.
(2) Palpasi.
Pada palpasi di kaji tentang kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus.
(3) Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor.
(4) Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4
detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan Wheezing.
i) Kardiovaskuler.
Jantung di kaji ada atau tidaknya pembesaran jantung dan suara jantung melemah.
Tekanan darah dan nadi yang meningkat serta adanya pulsus paradoksus.
j) Abdomen.
Perlu di kaji tentang bentuk, nyeri, serta tanda-tanda infeksi (Hudak dan
Gallo;1997)
k) Ekstrimitas.
Di kaji adanya edema extremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada extremitas.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan tachipnea, peningkatan
produksi mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler – alveolar
3) Kurangnya perawatan diri ( mandi, hygiene, berpakaian, makan dan toileting )
4) Nyeri akut; ulu hati berhubungan dengan proses penyakit.
5) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
psikologis dan biologis yang mengurangi pemasukan makanan

c. NANDA, NOC, NIC


DIAGNOSA KRITERIS/HASIL INTERVENSI
1. Bersihan jalan napas Status pernafasan (0415) Manajemen Jalan Nafas
tidak efektif berhubungan Definisi : (3140)
dengan peningkatan produksi Proses keluar masuknya Definisi :
sekret udara ke paru-paru serta Fasilitasi kepatenan jalan
Defenisi : pertukaran karbondioksida nafas
Ketidakmampuan dan oksigen di alveoli Aktivitas-Aktivitas :
membersihkan sekresi atau
 Frekuensi pernafasan  Buka jalan nafas dengan
obstruksi dan saluran napas
(041501) teknik chin lift atau jaw
untuk mempertahankan jalan
 Irama pernafasan thrust, sebagaimana
napas
(041502) mestinya
Batasan Karakteristik :
 Kedalaman inspirasi  Posisikan pasien untuk
 Batuk yang tidak efektif
(041503) memaksimalkan ventilasi
 Dispnea
 Suara auskultasi nafas  Identifikasi kebutuhan
 Gelisah aktual/ potensial pasien
( 041504)
 Penurunan bunyi napas
 Kapasitas vital untuk memasukkan alat
 Perubahan frekuensi napas (041507) membuka jalan nafas
 Perubahan pola napas  Saturasi oksigen  Buang sekret dengan
 Sputum dalam jumlah (041508) memotivasi pasien untuk
yang berlebihan  Penggunaan otot bantu batuk atau menyedot
 Suara napas tambahan nafas (041510) lendir
Faktor yang berhubungan :
 Mukus berlebihan  Retraksi dinding dada  Monitor status pernafasan
 Sekresi yang tertahan (041511) dan oksigenasi,
 Spasme jalan napas  Dispnue saat istirahat sebagaimana mestinya
Asma (041514)
 Perasaan kurang
istirahat (041516)
 Suara nafas tambahan
(041522)
 Demam (041530)
2. Ketidakefektifan pola Status pernafasan: Bantuan Ventilasi (3390)
napas 00032 Ventilasi (0403) Definisi :
Defenisi : Definisi : Peningkatan suatu pola
Inspirasi dan/ atau ekspirasi Keluar masuknya udara pernafasan spontan optimal
yang tidak memberi ventilasi dari dan ke dalam paru yang memaksimalkan
adekuat  Frekuensi pernafasan pertukaran oksigen dan
Batasan Karakteristik :  Irama pernafasan karbondioksida dalam paru
 Dispnea  Kedalaman inspirasi paru.
 Penggunaan otot bantu  Suara auskultasi nafas Aktivitas-aktivitas :
pernapasan  Kapasitas vital  Pertahankan kepatenan
 Peningkatan diameter  Tes faal paru jalan nafas
anterior-posterior  Hasil rontgen dada  Posisikan pasien untuk
 Penurunan tekanan  Retraksi dinding dada mengurangi dyspnea
ekspirasi  Dispnue saat istirahat  Bantu dalam hal perubahan
 Penurunan tekanan posisi dengan sering dan
inspirasi tepat
 Pernapasan cuping hidung  Posisikan untuk
 Pola napas abnormal meminimalkan upaya
Faktor yang berhubungan : bernafas

 Hiperventilasi  Monitor efek perubahan

 Keletihan posisi pada oksigenasai

 Keletihan otot pernapasan  Anjurkan pernapasan yang


 Posisi tubuh yang dalam, berbalik dan batuk
menghambat ekspansi  Bantu dengan
paru menggunakan spitrometer
yang sesuai
 Moitor pernapasan dan
status oksigenasi
 Auskultasi suara nafas

3. Gangguan pertukaran Status pernafasan : Terapi oksigen 3320


gas berhubungan dengan Pertukaran gas ( 0402) Defenisi :
gangguan suplai oksigen Definisi : Pemberian oksigen dan
00030 pemantauan mengenai
Pertukaran
Defenisi : karbondioksida dan efektivitasnya
Kelebihan atau defisit oksigen di alveoli untuk Aktivitas-aktivitas :
oksigenasi dan/ atau eliminasi mempertahankan  Bersihkan mulut, hidung
karbon dioksida pada mebran konsentrasi darah arteri dan sekresi trakea dengan
elveolar-kapiler Dengan kriteria hasil : tepat
Batasan Karakteristik :
 Tekanan PaO2 di  Pertahankan kepatenan
 Dispnea darah arteri jalan nafas
 Gelisah  Tekanan PaCO2 di  Berikan oksigen tambahan
 Hipoksemia darah arteri seperti yang dibutuhkan
 Napas cuping hidung  pH arteri  Monitor aliran oksigen
 Pola napas abnormal  Saturasi oksigen  Pantau adanya tanda-
 pH arteri abnormal  Hasil rontgen dada tanda keracunan oksigen
Faktor yang berhubungan : dan kejadian atelektasis
 Keseimbangan
 Ketidakseimbangan  Sediakan oksigen ketika
ventilasi dan perfusi
ventilasi perfusi pasien dibawa/
 Mengantuk
 Perubahan mebran  Sianosis
dipindahkan
alveolar-kapiler

Kurangnya perawatan diri ( Setelah dilakukan Self Care assistane : ADLs


mandi, hygiene, tindakan keperawatan (1805)
berpakaian, makan dan selama 3 x 24 jam, pasien Definisi :
toileting ) mampu : Membantu dan
Definisi : Self care : Activity of menginstruksikan seseorang
Hambatan kemampuan untuk Daily Living (ADLs) untuk melakukan aktivitas
melakukan atau (0300) instrumental sehari-hari yang
menyelesaikan aktivitas ( Definisi : dipergunakan untuk
mandi, hygiene, berpakaian, Tindakan seseorang untuk memenuhi fungsi di rumah
makan dan toileting ) secara melakukan tugas fisik dan di komunitas
mandiri paling dasar dan aktivitas Aktivitas-aktivitas :
Batasan karakteristik : perawatan diri secara  Monitor kemempuan klien
 Ketidakmampuan mandiri tanpa bantuan untuk perawatan diri yang
membasuh tubuh, ke oarang atau alat mandiri.
kamar mandi Dengan Kriteria Hasil :  Monitor kebutuhan klien
 Hambatan mengenakan a. Klien terbebas dari bau untuk alat-alat bantu
pakaian badan untuk kebersihan diri,
 Ketidakmampuan b. Menyatakan berpakaian, berhias,
melakukan higiene kenyamanan terhadap toileting dan makan.
eliminasi secara komplet kemampuan untuk  Sediakan bantuan sampai
 Ketidakmampuan melakukan ADLs klien mampu secara utuh
memakan makanan dalam c. Dapat melakukan untuk melakukan self-
cara dalam cara yang ADLS dengan bantuan care.
dapat diterima d. Klien bisa melakukan  Dorong klien untuk
Faktor berhubungan : kegiatan sehari hari melakukan aktivitas
 Anisietas sehari-hari yang normal
 Kelemahan sesuai kemampuan yang
 Kendala lingkungan dimiliki.

 Penurunan motivasi  Dorong untuk melakukan

 keletihan secara mandiri, tapi beri


bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.

e. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan,
mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarakan analisis dan kesimpulan perawatan dan bukan atas petunjuk
tenaga kesehatan lain. Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang
berdasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain
(Mitayani, 2010). Implementasi juga dimaksudkan untuk pengelolaan dan perwujudan
dari renvcana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Nasrul,1995).
Berdasarkan terminologi NIC, implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasi
tindakan yang merupakan tindakan keperawatan khusus yang diperlukan untuk
melaksanakan tindakan intervensi (atau program keperawatan ) (Kozier,2011).

f. Evaluasi
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan
dalampencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan
atau intervensi keperawatan ditetapkan(Brooker, 2001). Sedangkan menurut (Asmadi,
2008), evaluasi adalah tahap akhir dari proses kperawatan yang merupakan perbandingan
yang sistematis danterencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil
yang dibuat pada tahap perencanaan. Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan
didasarkan pada perubahan prilaku dari kriteria hasil yang telah ditetapkan, yaitu
terjadinya adaptasi pada individu (Nursalam, 2003)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS KELOLAAN
PADA ANAK ASMA

A. FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN


 Tanggal Klien Masuk RS : 20-11-2018
 Tanggal Pengkajian : 20-11-2018
 No. RM : 1000707840

I. IDENTITAS KLIEN
 Nama Anak : Jannatul Laili BB/TB : 21kg / 98cm
 TTL/ Usia : 30-05 2010 / 8 tahun 6 bulan
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Pendidikan Anak : SD
 Anak ke :1
 Nama Ibu/Ayah : Elsa. F / Firdaus
 Pekerjaan Ibu/Ayah :
 Pendidikan Ibu/Ayah :
 Alamat : Perum Kehutanan, Gunung Sarik, Kuranji, Padang
 Diagnosis Medis : Asma Bronchial dalam serangan ringan

II. KELUHAN UTAMA


Pasien datang diantar orang tuanya dengan keluhan sesak nafas sejak 6 jam sebelum
masuk rumah sakit, sudah mendapatkan nebulizer di IGD , dan diberi obat . dipulangkan
tetapi kembali sesak (RR: 90*/i), orang tua mengatakan pasien demam ( S : 37,7 C ) dan
batuk berdahak sejak 4 hari yang lalu, pasien sebelumnya mempunyai riwayat asma.

III. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


Klien mengatakan saat ini masih sering batuk , dahak susah keluar, klien mengatakan
kalau semalam dia tidak tidur karena terus batuk, klien mengatakan sesak sudah berkurang
IV. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

Postnatal :

V. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


1. Penyakit yang diderita sebelumnya : Asma
2. Pernah dirawat di : RSUD dr. Rasidin Padang
3. Alergi : Tidak ada

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Keluarga klien menngatakan kalau keluarga tidak ada yang mengalami penyakit asma

VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Kemandirian dan bergaul : keluarga klien mengatakan klien mudah berteman
dengan orang lain dan klien orangnya mandiri
2. Motorik Kasar : Keluarga klien mengatakan klien anak yang aktif dan
suka bermain , klien cukup aktif saat 4 hari setelah rawatan klien ingin cepat
beraktivitas keluar seperti berjalan-jalan
3. Motorik Halus : keluarga klien mengatakan kalau klien anak yang
pintar dia sering menulis
4. Kognitif dan Bahasa : bahasa klien mudah di mengerti dan klien mau
berkenalan dengan perawat
5. Psikososial : keluarga klien mengatakan klien orang yang sangat
mudah akrab dengan orang lain

VIII. RIWAYAT SOSIAL


1. Yang mengasuh klien : yang menjaga klien selama di rumah sakit
adalah nenek klien karena ibu klien harus menjaga adiknya dirumah. Biasanya
dirumah klien diasuh ibu dan nenek klien
2. Hubungan dengan anggota keluarga : keluarga klien mengatakan hubungan dengan
keluarga baik dan klien juga menjadi perhatian keluarganya
3. Hubungan dengan teman sebaya : keluarga klien mengatakan kalau klien
memiliki cukup banyak teman , dan klien akrab dengan teman sebaya
4. Pembawaan secara umum : secara umum klien sedikit tampak pemalu
namun mau berbicara denganm orang lain
5. Lingkungan rumah : klien tinggal di dekat jalan raya

IX. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan umum : Lemah, sesak nafas

2. TB/ BB : 115/ 21 kg

3. Kepala : tidak ada lesi dan tidak oedema di kepala klien


a. Lingkar kepala : TAK
b. Rambut : TAK (hitam dan ikal)
Kebersihan : Sedikit kotor
Warna : Hitam
Tekstur : Halus
Distribusi rambut : Penyebaran merata dan Kuat

4. Mata
a. Simetris : Mata simetris kiri dan kanan
b. Konjungtiva : Tidak anemis
c. Sklera : Tidak ikterik
d. Palbebra : Tidak eodema

5. Telinga : TAK
a. Simetris : telinga klien simetris kiri dan kanan
b. Serumen : ada sedikit
c. Pendengaran : baik dan normal

6. Hidung : ada sekret di hidung, nafas cuping hidung

7. Mulut : mulut bersih dan gigi bersih

8. Leher : tidak ada kelainan

9. Dada : Terdengan bunyi suara nafas tambahan mengi


(wheezing)

a. Inspeksi : Tidak terdapat retraksi dinding dada


10. Jantung : bunyi jantung normal

11. Paru-paru : sesak nafas masih ada, takipnea, batuk


produktif, pernapasan tidak teratur/ireguler, ada
sputum/sekret.

Auskultasi : ronchi (+) dan Wizhing (+)

12. Abdomen : Malas minum atau makan, berat badan


menurun, lemah. Sistem eliminasi. Anak
dehidrasi.

13. Punggung : TAK

14. Ekstremitas : CRT < 2 detik, Tonus otot menurun, lemah


secara umum

15. Genitalia : TAK

16. Kulit : Membran mukosa kering, pucat, akral hangat

X. PEMERIKSAAN PERTUMBUHAN

STATUS GIZI : Sulit untuk makan selama dirawat

XI PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL : TAK

XII PEMERIKSAAN CAIRAN : Mendapatkan terapi pemberian cairan infus

XIIIPEMERIKSAAN SPIRITUAL : TAK

XIVPEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium :
Hb = 12,4 g/dL
Leukosit = 15.800/ mm3
Trombosit = 237.000/ mm3
Hematokrit = 38%
GDS = 129 mg/dL

2. Rontgen = Thorax
XVI KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI

NO JENIS KEBUTUHAN DI RUMAH/ SBLM DI RUMAH SAKIT


SAKIT

1 Makan ADA ADA

2 Minum ADA ADA

3 Tidur ADA ADA

4 Mandi ADA ADA

5 Eliminasi ADA ADA

6 Bermain ADA -

XVII RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN


Pasien datang diantar orang tuanya dengan keluhan sesak nafas sejak 6 jam sebelum
masuk rumah sakit, positif demam sejak 4 hari yang lalu, batuk (+), pasien mempunyai
riwayat asma. BB= 21 kg, Tb= 115 cm, N= 90x / menit, T = 37,7 C, ronchi (+), wizhing
(+), akral hangat, CTR < 2 detik.

XVII Diagnosa Keperawatan (NANDA)


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi secret

2. Ketidakefektifan pola napas

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen

XVIII Nursing Otcomes Classification (NOC) dan Nursing Interventions Classification


(NIC)

NANDA NOC NIC

1. Bersihan jalan napas Status pernafasan Manajemen Jalan Nafas (3140)


tidak efektif berhubungan (0415) Definisi :
dengan peningkatan Fasilitasi kepatenan jalan nafas
Definisi :
produksi sekret
Proses keluar masuknya Aktivitas-Aktivitas :
udara ke paru-paru serta
 Buka jalan nafas dengan
pertukaran
teknik chin lift atau jaw
karbondioksida dan
thrust, sebagaimana mestinya
oksigen di alveoli
 Posisikan pasien untuk
 Frekuensi pernafasan memaksimalkan ventilasi
(041501)  Identifikasi kebutuhan aktual/
 Irama pernafasan potensial pasien untuk
(041502) memasukkan alat membuka
 Kedalaman inspirasi jalan nafas
(041503)  Buang sekret dengan
 Suara auskultasi nafas memotivasi pasien untuk
( 041504) batuk atau menyedot lendir
 Kapasitas vital  Monitor status pernafasan dan
(041507) oksigenasi, sebagaimana
 Saturasi oksigen mestinya
(041508)
 Penggunaan otot bantu
nafas (041510)
 Retraksi dinding dada
(041511)
 Dispnue saat istirahat
(041514)
 Perasaan kurang
istirahat (041516)
 Suara nafas tambahan
(041522)
 Demam (041530)

2. Ketidakefektifan pola Status pernafasan: Bantuan Ventilasi (3390)


napas 00032 Ventilasi (0403) Definisi :

Definisi : Peningkatan suatu pola


Keluar masuknya udara pernafasan spontan optimal yang
dari dan ke dalam paru memaksimalkan pertukaran

 Frekuensi pernafasan oksigen dan karbondioksida

(040301) dalam paru paru.

 Irama pernafasan Aktivitas-aktivitas :

(040302)  Pertahankan kepatenan jalan

 Kedalaman inspirasi nafas

(040303)  Posisikan pasien untuk

 Suara auskultasi nafas mengurangi dyspnea

(040318)  Bantu dalam hal perubahan

 Kapasitas vital posisi dengan sering dan tepat

(040324)  Posisikan untuk

 Tes faal paru meminimalkan upaya bernafas

(040327)  Monitor efek perubahan posisi

 Hasil rontgen dada pada oksigenasai

(040326)  Anjurkan pernapasan yang

 Retraksi dinding dada dalam, berbalik dan batuk

(040311)  Bantu dengan menggunakan

 Dispnue saat istirahat spitrometer yang sesuai

(040313)  Moitor pernapasan dan status


oksigenasi
 Auskultasi suara nafas

3. Gangguan Pola Tidur 1850 Peningkatan tidur


tidur berhubungan Definisi : Defenisi :
dengan sesak periode alami memfasilitasi tidur/siklus bangun
mengistirahatkan yang teratur
Definisi :
kesdaran dalam Aktifitas :
Interupsi jumlah waktu
memulihkan tubuh  Tentukan pola tidur/aktivitas
dan kualitas tidur akibat
Indikator : pasien
faktor eksternal
 Jam tidur (000401)  Perkirakan tidur/siklus
Batasan Karakteristik :  Jam tidur yang bangun pasien didalam
 Ketidakpuasan tidur diobservasi (000402) perawatan perencanaan
 Perubahan pola tidur  Pola tidur (000403)  Monitor/catat pola tidur
normal  Kualitas tidur pasien dan jumlah jam tidur
(000404)  Anjurkan pasien untuk
Faktor yang
berhubungan :  Efisiensi tidur memantau pola tidur
(000405)  Sesuaikan lingkungan (
 Halangan lingkungan
 Tidur rutin (000406) misalnya cahaya, kebisingan,
 tidur dari awal sampai suhu, kasur dan tempat tidur )
habis dimalam hari untuk meningkatkan tidur
secara konsisten  Bantu pasien untuk
(000418) membatasi tidur siang dengan
 Perasaan segar setelah menyediakan aktivitas yang
tidur (000408) meningkatkan kondisi terjaga
 Mudah bangun pada dengan tepat
saat yang tepat
(000419)
 Temp t tidur yang
nyaman (000420)
 Apnea saat tidur
(000416)
 Buan g air kecil
dimalam hari
(000423)
 Nyeri (000425)

Catatan Perkembangan Klien dan Implementasi dan Evaluasi

Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi

Bersihan jalan napas tidak  Buka jalan nafas dengan S : klien mengatakan masih
efektif berhubungan teknik chin lift atau jaw batuk dan sesak nafas
dengan peningkatan
produksi sekret thrust, sebagaimana O : terpasang oksigen nasal 2l
mestinya A : Ketidakefektifan bersihan
 Posisikan pasien untuk jalan nafas
memaksimalkan P : Manajemen oksigen
ventilasi

 Identifikasi kebutuhan
aktual/ potensial pasien
untuk memasukkan alat
membuka jalan nafas

 Lakukan fisioterapi
dada, sebagaimana
mestinya

 Buang sekret dengan


memotivasi pasien untuk
batuk atau menyedot
lendir

 Motivasi psien untuk


bernafas pelan, dalam,
berputar dan batuk

 Instruksikan bagaimana
agar bisa melakukan
batuk efektif

 Kelola pemberian
bronkdilator,
sebagaimana mestinya

 Ajarkan pasien
bagaimana
menggunakan inhaler
sesuai resep,
sebagaimana mestinya

 Kelola pengobatan
aerosol, sebgaimana
mestinya

 Kelola nebulizer,
sebagaimana mestinya

 Monitor status
pernafasan dan
oksigenasi, sebagaimana
mestinya

Ketidakefektifan pola  Pertahankan kepatenan S : klien mengatakan masih


napas jalan nafas batuk dan sesak nafas
 Posisikan pasien untuk O : terpasang oksigen nasal 2l
mengurangi dyspnea
A : Ketidakefektifan bersihan
 Bantu dalam hal
jalan nafas
perubahan posisi dengan
sering dan tepat P : Manajemen oksigen

 Posisikan untuk
meminimalkan upaya
bernafas
 Monitor efek perubahan
posisi pada oksigenasai
 Anjurkan pernapasan
yang dalam, berbalik
dan batuk
 Bantu dengan
menggunakan
spitrometer yang sesuai
 Moitor pernapasan dan
status oksigenasi
 Auskultasi suara nafas

Gangguan pola tidur tidak  Tentukan pola S : klien mengatakan masih


efektif tidur/aktivitas pasien batuk
 Perkirakan tidur/siklus O : terpasang oksigen nasal 2l
bangun pasien didalam
A : pola tidur tidak efektif
perawatan perencanaan
 Monitor/catat pola tidur P : peningkatan tidur

pasien dan jumlah jam


tidur
 Anjurkan pasien untuk
memantau pola tidur
 Sesuaikan lingkungan (
misalnya cahaya,
kebisingan, suhu, kasur
dan tempat tidur ) untuk
meningkatkan tidur
 Bantu pasien untuk
membatasi tidur siang
dengan menyediakan
aktivitas yang
meningkatkan kondisi
terjaga dengan tepat
BAB IV
ANALISA DATA

NO DATA PATOFISIOLOGI MASALAH

1. DO : terdengar ronchi (+) Adanya sumbatan dijalan Ketidakefektifan


dan wishing (+) saat nafas akibat adanya bersihan jalan nafas
dilakukan auskultasi paru akumulasi sekret
dan pasien sering batuk
disertai sekret

DS : klien mengatakan
sesak dan sulit untuk
bernafas serta menangis

2. DO : terdengar ronchi (+) Bronkospasme saluran Ketidakefektifan pola


dan wheezing (+) saat bronkus karna kejang otot napas
dilakukan auskultasi paru, polos di dinding bronkus
dan terdapat perubahan pola
nafas

DS : klien mengatakan
sesak nafas, batuk berdahak
namun susah mengeluarkan
sekretnya

3. Ds : adanya batuk pada malam Gangguan pola tidur


hari ditandai dengan klien
 keluarga klien
tidak bisa tidur
mengatakan pasien tidak
bisa tidur pada malam
hari
 klien mengatakan sering
terbangun di malam hari
karena batuk
Do :

 ada lingkar gelap di


sekitar mata
 klien tampak lemah
 klien tampak gelisah
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Asma bronkial adalah gangguan pernafasan ditandai dengan serangan berulang
kesulitan bernafas terutama saat menghembuskan nafas oleh karena peningkatan
ketahanan aliran udara melalui pernafasan bronkeolus. (sport science and medicine,
2007)
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi
terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma .
Dalam melakukan pengkajian diperlukan adanya ketelitian, kepekaan dan peranan dari
pasien sehingga diperoleh data yang menunjang untuk mengangkat diagnosis
keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada anak dengan asma adalah Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret,
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme, Gangguan pertukaran
gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen, Ansietas berhubungan dengan
kurangnya tingkat pengetahuan, Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang
berlebih, dan Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Implementasi yang biasa dilakukan pada kasus asma ini adalah memberikan terapi
oksigen, pemberian posisi nyaman dan pengeluaran sekret serta pemberian obat sesuai
orderan dokter.

5.2 Saran
Penulis mengharapkan kritikan dan saran pembaca untuk laporan yang telah disusun
ini karena laporan disusun jauh dari kesempurnaan. Dan penulis berharap laporan ini
dapat bermanfaat untuk siapa saja yang membacanya.
DAFTAR PUSTAKA
Long, Barbara, 1996, Perawatan Medical Bedah, Edisi 2, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Tanjung, dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Diakses dari http://google.com.
Tanggal 13 November 2008.
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma Management and
Prevension In Children. www. Dimuat dalam www.Ginaasthma.org
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Linda Jual Carpenito, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
www.Asma.co.id

www.who.co.id